• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KEUANGAN WILAYAH AUDITED

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN KEUANGAN WILAYAH AUDITED"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN KEUANGAN WILAYAH

AUDITED

UNIT AKUNTANSI KUASA PENGGUNA ANGGARAN

BA.018.12.KD

TAHUN ANGGARAN 2017

Untuk Periode Yang Berakhir 31 Desember 2017

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian – Nusa Tenggara Barat

Sekretariat Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Wilayah (UAPPA-W) Jl. Raya Peninjauan, Narmada, Nusa Tenggara Barat

(2)

Sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara bahwa Menteri/Pimpinan Lembaga sebagai Pengguna Anggaran/Barang mempunyai tugas antara lain menyusun dan menyampaikan laporan keuangan Kementerian Negara/Lembaga yang dipimpinnya.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat adalah salah satu entitas akuntansi di bawah Kementerian Pertanian yang juga merupakan Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran – Wilayah (UAPPA-W), yaitu unit yang mempunyai fungsi koordinator tingkat wilayah yang akan mengkompilasi laporan UAKPA di wilayah kerjanya. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat berkewajiban menyelenggarakan akuntansi dan laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tingkat wilayah. Salah satu pelaksanaannya adalah dengan menyusun laporan keuangan berupa Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Operasi, Laporan Perubahan Ekuitas dan Catatan atas Laporan Keuangan tingkat wilayah.

Penyusunan Laporan Keuangan Wilayah Konsolidasi Unit Eselon 12 periode yang berakhir 31 Desember 2017 dengan Kode Kewenangan KD ini mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan dan kaidah-kaidah pengelolaan keuangan yang sehat dalam pemerintahan. Laporan Keuangan ini telah disusun dan disajikan dengan basis akrual sehingga akan mampu menyajikan informasi keuangan yang lebih transparan, akurat, dan akuntabel.

Laporan Keuangan ini diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna kepada para

pengguna laporan khususnya sebagai sarana untuk meningkatkan

akuntabilitas/pertanggungjawaban dan transparansi pengelolaan keuangan negara pada Unit Eselon 12 periode yang berakhir 31 Desember 2017 dengan Kode Kewenangan KD. Disamping itu, laporan keuangan ini juga dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada manajemen dalam pengambilan keputusan dalam usaha untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance).

Mataram, 19 April 2018 Kuasa Pengguna Anggaran / Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian

Nusa Tenggara Barat

Dr. Ir. M. Saleh Mokhtar, MP NIP. 196607071991031001

(3)

Daftar Isi

Pernyataan Tanggung Jawab Ringkasan

ILaporan Realisasi Anggaran ……… 1

II Neraca………... 1

III Laporan Operasional ……….. 1

IV Laporan Perubahan Ekuitas ………. 2

V Catatan atas Laporan Keuangan ………. 2

A Penjelasan Umum ……… 7

B Penjelasan atas Pos-pos Laporan Realisasi Anggaran B.1 Pendapatan ………. 16

B.2 Belanja ………. 17

B.2.1 Belanja Pegawai ………. 18

B.2.2 Belanja Barang ……… 18

B.2.3 Belanja Modal Peralatan dan Mesin ……… 19

C Penjelasan atas Pos-pos Neraca C.1 Aset Lancar C.1.1 Kas di Bendahara Penerimaan ………... 21

C.1.2 Belanja dibayar di muka (prepaid)………... 21

C.1.3 Persediaan ………... 21

C.2 Aset Tetap C.2.1 Tanah ………... 22

C.2.2 Peralatan dan Mesin ………... 22

C.2.3 Gedung dan Bangunan ………... 23

C.2.4 Jalan, Irigasi dan Jaringan ………... 23

C.2.5 Aset Tetap Lainnya ………... 23

C.2.6 Akumulasi Penyusutan Aset Tetap ……… 23

C.3 Aset Lainnya C.3.1 Aset Tak Berwujud ………... 24

C.3.2 Aset Lain-lain …….………... 24

(4)

C.4 Kewajiban Jangka Pendek

C.4.1 Utang kepada Pihak Ketiga ………... 24

C.5 Ekuitas C.5.1 Ekuitas ………... 24

D Penjelasan atas Pos-pos Laporan Operasional D.1 Pendapatan Negara Bukan Pajak Lainnya ………. 25

D.2 Beban Pegawai ………...………. 25

D.3 Beban Persediaan ………...……… 26

D.4 Beban Barang dan Jasa ………...……….. 27

D.5 Beban Pemeliharaan ………...……… 28

D.6 Beban Perjalanan Dinas ………...……… 28

D.7 Beban Barang Untuk Diserahkan Kepada Masyarakat ……… 29

D.8 Beban Penyusutan dan Amortisasi ………...……. 29

D.9 Surplus/Defisit dari Kegiatan Non Operasional ………. 30

E Penjelasan atas Pos-pos Laporan Perubahan Ekuitas E.1 Ekuitas Awal ………...……… 32

E.2 Surplus/Defisit-LO ………...……….. 32

E.3 Dampak kumulatif perubahan kebijakan akuntansi / kesalahan mendasar ………... 32

E.4 Koreksi Nilai Aset Tetap Non Revaluasi ……….... 32

E.5 Penyesuaian Nilai Aset ………... 32

E.6 Transaksi Antar Entitas ………..………... 33

E.7 Ekuitas Akhir ………... 33

F Pengungkapan-pengungkapan Lainnya F.1 Kejadian-kejadian Penting Setelah Tanggal Neraca……… 34

(5)

PERNYATAAN TANGGUNG JAWAB

Laporan Keuangan Wilayah Konsolidasi Unit Eselon 12 periode yang berakhir 31 Desember 2017 Kode Kewenangan KD ini terdiri dari: (a) Laporan Realisasi Anggaran, (b) Neraca, (c) Laporan Operasional, (d) Laporan Perubahan Ekuitas, dan (e) Catatan atas Laporan Keuangan Tahun Anggaran 2016 sebagaimana terlampir adalah merupakan tanggung jawab kami.

Laporan Keuangan tersebut telah disusun berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai, dan isinya telah menyajikan informasi pelaksanaan anggaran dan posisi keuangan secara layak sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.

Mataram, 19 April 2018 Kuasa Pengguna Anggaran / Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian

Nusa Tenggara Barat

Dr. Ir. M. Saleh Mukhtar, MP NIP. 196607071991031001

(6)

1

RINGKASAN LAPORAN KEUANGAN

Laporan Keuangan Wilayah Konsolidasi Unit Eselon 12 periode yang berakhir 31 Desember 2017 Kode Kewenangan KD ini telah disusun dan disajikan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) dan berdasarkan kaidah-kaidah pengelolaan keuangan yang sehat di lingkungan pemerintahan. Laporan Keuangan ini meliputi:

I Laporan Realisasi Anggaran

Laporan Realisasi Anggaran menggambarkan perbandingan antara anggaran dengan realisasinya, yang mencakup unsur-unsur Pendapatan-LRA dan Belanja selama periode 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2017 .

Realisasi Pendapatan Negara pada TA 2017 adalah berupa Pendapatan Negara Bukan Pajak sebesar Rp1,361,581,855.00 atau mencapai 152% dari estimasi Pendapatan-LRA sebesar Rp896,000,000.00

Realisasi Belanja Negara pada TA 2017 adalah sebesar Rp18,671,287,976.00 atau mencapai 99% dari alokasi anggaran sebesar Rp18,950,344,000.00

II Neraca

Neraca menggambarkan posisi keuangan entitas mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas pada 31 Desember 2017. Nilai Aset per 31 Desember 2017 dicatat dan disajikan sebesar Rp24,132,904,753.00 yang terdiri dari: Aset Lancar sebesar Rp761,131,585.00; Aset Tetap (neto) sebesar Rp23,296,881,667.00; Piutang Jangka Panjang (neto) sebesar Rp0.00; dan Aset Lainnya (neto) sebesar Rp74,891,501.00. Nilai Kewajiban dan Ekuitas masing-masing sebesar Rp2,757,460.00 dan Rp24,130,147,293.00.

III Laporan Operasional

Laporan Operasional menyajikan berbagai unsur pendapatan-LO, beban, surplus/defisit dari operasi, surplus/defisit dari kegiatan non operasional, surplus/defisit sebelum pos luar biasa, pos luar biasa, dan surplus/defisit-LO, yang diperlukan untuk penyajian yang wajar. Pendapatan-LO untuk periode sampai dengan 31 Desember 2017 adalah sebesar Rp1,345,026,715.00, sedangkan jumlah beban adalah sebesar Rp17,817,709,989.00 sehingga terdapat Defisit Kegiatan Operasional senilai Rp-16,472,683,274.00. Kegiatan Non Operasional dan Pos-Pos Luar Biasa masing-masing sebesar Surplus Rp0.00 dan Defisit Rp16,434,504,697.00 sehingga entitas mengalami Defisit-LO sebesar Rp16,434,504,697.00.

(7)

2 IV Laporan Perubahan Ekuitas

Laporan Perubahan Ekuitas menyajikan informasi kenaikan atau penurunan ekuitas tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ekuitas pada tanggal 01 Januari 2017 adalah sebesar Rp23,158,612,930.00 ditambah Defisit-LO sebesar Rp-16,434,504,697.00 kemudian ditambah/dikurangi dengan koreksi-koreksi senilai Rp61,584,989.00 dan ditambah Transaksi Antar Entitas sebesar Rp17,344,454,071.00 sehingga Ekuitas entitas pada tanggal 31 Desember 2017 adalah senilai Rp24,130,147,293.00.

V Catatan atas Laporan Keuangan

Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) menyajikan informasi tentang penjelasan atau daftar terinci atau analisis atas nilai suatu pos yang disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Operasional, dan Laporan Perubahan Ekuitas. Termasuk pula dalam CaLK adalah penyajian informasi yang diharuskan dan dianjurkan oleh Standar Akuntansi Pemerintahan serta pengungkapan-pengungkapan lainnya yang diperlukan untuk penyajian yang wajar atas laporan keuangan.

Dalam penyajian Laporan Realisasi Anggaran untuk periode yang berakhir sampai dengan tanggal 31 Desember 2017 disusun dan disajikan berdasarkan basis kas. Sedangkan Neraca, Laporan Operasional, dan Laporan Perubahan Ekuitas untuk Tahun 2016 disusun dan disajikan dengan menggunakan basis akrual.

(8)

3

I. LAPORAN REALISASI ANGGARAN AUDITED

KONSOLIDASI UNIT ESELON 018.012.KD

LAPORAN REALISASI ANGGARAN

UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016

Uraian Catatan 31 Desember 2017 31 Desember 2016 Anggaran Realisasi %. Realisasi PENDAPATAN Penerimaan Negara Bukan Pajak B.1 896,000,000 1,361,581,855 152 1,101,183,394 Jumlah Pendapatan 896,000,000 1,361,581,855 152 1,101,183,394 BELANJA B.2 Belanja Operasi Belanja Pegawai B.2.1 8,938,998,000 8,821,352,315 99 8,628,108,466 Belanja Barang B.2.2 7,539,919,000 7,406,751,151 99 8,072,767,347 Belanja Modal B.2.3 2,471,427,000 2,443,184,510 99 3,440,617,221 Jumlah Belanja 18,950,344,000 18,671,287,976 99 20,141,493,034

(9)

4

II. NERACA AUDITED

KONSOLIDASI UNIT ESELON 018.012.KD

NERACA

PER 31 Desember 2017 dan 31 DESEMBER 2016

Uraian Catatan 31 Desember 2017 31 Desember 2016 ASET

Aset Lancar

Kas di Bendahara Penerimaan C.1.2 35,000 4,352,776 Belanja dibayar dimuka (prepaid) C.1.3 12,900,142 3,307,775 Persediaan C.1.4 748,196,443 712,519,322

Jumlah Aset Lancar 761,131,585 720,179,873 Aset Tetap

Tanah C.2.1 2,887,550,940 2,887,550,940 Peralatan dan Mesin C.2.2 12,160,202,617 13,154,010,441 Gedung dan Bangunan C.2.3 18,833,559,141 17,466,659,391 Jalan, Irigasi dan Jaringan C.2.4 1,372,761,621 1,189,016,721 Aset Tetap Lainnya C.2.5 9,950,000 9,950,000 Akumulasi Penyusutan C.2.6 (11,967,142,652) (12,146,456,014)

Jumlah Aset Tetap 23,296,881,667 22,560,731,479 Aset Lainnya

Aset Tak Berwujud C.3.1 6,115,000 6,115,000 Aset lain-lain C.3.2 1,879,965,634 0 Akumulasi Penyusutan/Amortisasi Aset Lainnya C.3.3 (1,811,189,133) (1,528,750)

Jumlah Aset Lainnya 74,891,501 4,586,250 Jumlah Aset 24,132,904,753 23,285,497,602 Kewajiban Jangka Pendek

Utang kepada Pihak Ketiga C.4.1 2,757,46 126,884,672

Jumlah Kewajiban Jangka Pendek 2,757,46 126,884,672 Jumlah Kewajiban 2,757,46 126,884,672 Ekuitas

Ekuitas C.5.1 24,130,147,293 23,158,612,930

Jumlah Ekuitas 24,130,147,293 23,158,612,930 Jumlah Kewajiban dan Ekuitas 24,132,904,753 23,285,497,602

(10)

5

III. LAPORAN OPERASIONAL AUDITED

KONSOLIDASI UNIT ESELON 018.012.KD

LAPORAN OPERASIONAL

UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016

Uraian Catatan 31 Desember 2017 31 Desember 2016 KEGIATAN OPERASIONAL

PENDAPATAN

Pendapatan Negara Bukan Pajak Lainnya D.1 1,345,026,715 1,053,071,525

JUMLAH PENDAPATAN 1,345,026,715 1,053,071,525 BEBAN

Beban Pegawai D.2 8,772,304,315 8,677,156,466 Beban Persediaan D.3 763,512,392 900,349,707 Beban Barang dan Jasa D.4 3,533,974,114 3,863,859,917 Beban Pemeliharaan D.5 1,477,792,644 1,371,009,676 Beban Perjalanan Dinas D.6 1,589,734,664 2,086,176,318 Beban Penyusutan dan Amortisasi D.7 1,680,391,860 1,606,310,218

JUMLAH BEBAN 17,817,709,989 18,504,862,302 SURPLUS/DEFISIT DARI KEGIATAN OPERASIONAL (16,472,683,274) (17,451,790,777) KEGIATAN NON OPERASIONAL

Pendapatan dari Kegiatan Non Operasional Lainnya D.8 293,063,690 370,922,008

SURPLUS/DEFISIT DARI KEGIATAN NON OPERASIONAL (16,434,504,697) (17,407,267,365) SURPLUS/DEFISIT - LO (16,434,504,697) (17,407,267,365)

(11)

6

IV. LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS AUDITED

KONSOLIDASI UNIT ESELON 018.012.KD

LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS

UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016

Uraian Catatan 31 Desember 2017 31 Desember 2016

EKUITAS AWAL E.1 23,158,612,930 20,965,304,001

SURPLUS/DEFISIT-LO E.2 (16,434,504,697) (17,407,267,365)

DAMPAK KUMULATIF PERUBAHAN KEBIJAKAN AKUNTANSI/KESALAHAN MENDASAR

E.3

KOREKSI YANG MENAMBAH/MENGURANGI EKUITAS E.4

Koreksi Nilai Aset Tetap Non Revaluasi E.4.1 61,584,989 513,056,654 KOREKSI NILAI PERSEDIAAN E.4.2 17,922,200 5,499,000 Penyesuaian Nilai Aset E.4.3 43,662,789 507,557,653

TRANSAKSI ANTAR ENTITAS E.5 17,344,454,071 19,087,519,640

KENAIKAN PENURUNAN EKUITAS E.6 971,534,363 2,193,308,929

(12)

7

V. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

A PENJELASAN UMUM

A.1. Profil dan Kebijakan Teknis

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat (BPTP-NTB) didirikan sebagai salah satu upaya Kementerian Pertanian untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna pelaksanaan tugas dan fungsi pengkajian teknologi pertanian spesifik lokasi di Era Otonomi Daerah. Sejalan dengan visi Badan Litbang Pertanian, BPTP-NTB bertujuan untuk menjadi lembaga penelitian dan pengembangan pertanian berkelas dunia yang menghasilkan dan mengembangkan inovasi teknologi pertanian untuk mewujudkan pertanian industrial unggul berkelanjutan berbasis sumberdaya lokal. Melalui peranan BPTP-NTB diharapkan mampu melakukan percepatan alih teknologi pertanian, mendukung pembangunan pertanian spesifik lokasi dan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya penelitian pertanian di wilayah Nusa Tenggara Barat.

BPTP-NTB yang merupakan Kantor Wilayah Instansi Vertikal adalah Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Wilayah (UAPPA-W) yaitu unit yang mempunyai fungsi koordinator tingkat wilayah yang akan mengkompilasi laporan UAKPA di wilayah Nusa Tenggara Barat.

Pada akhir Tahun 2017 ini, BPTP-NTB merupakan Sekretariat UAPPA-W dari 29 SATKER dari 10 unit Eselon dengan kode kewenangan DK/TP/KD. Perincian ke 29 SATKER tersebut adalah :

No. KD

Unit Dekon KD SATKER KD Nm SATKER

1 03 DK 239071 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Prov. Nusa Tenggara Barat

2 03 TP 239080 Dinas Pertanian,Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Lombok Barat

3 03 TP 239082 Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Tengah 4 03 TP 239084 Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Timur 5 03 TP 239093 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Sumbawa 6 03 TP 239097 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Dompu 7 03 TP 239101 Dinas Kehutanan, Perkebunan & Pertanian Kabupaten

Sumbawa Barat

8 03 TP 239126 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Prov. Nusa Tenggara Barat

9 03 TP 239265 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Bima 10 04 TP 230453 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Bima 11 04 TP 230576 Dinas pertanian, Tanaman Pangan Kabupaten Sumbawa

(13)

8 No. KD

Unit Dekon KD SATKER KD Nm SATKER

12 04 TP 235158 Dinas Pertanian, Kelautan dan Perikanan Kota Mataram 13 04 DK 239009 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Prov. Nusa

Tenggara Barat

14 04 TP 239037 Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan Kab. Lombok Barat

15 04 TP 239253 Dinas Pertanian Kab. Lombok Timur

16 04 TP 230646 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Dompu

17 04 TP 230738 Dinas Kehutanan,Perkebunan dan Pertanian Kab. Sumbawa Barat

18 04 TP 230819 Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kab. Lombok Utara 19 04 TP 239039 Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Lombok Tengah 20 05 DK 239072 Dinas Perkebunan Prov Nusa Tenggara Barat

21 05 TP 239128 Dinas Perkebunan Prov Nusa Tenggara Barat

22 06 TP 239129 Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Nusa Tenggara Barat

23 08 DK 239011 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Prov. Nusa Tenggara Barat

24 08 TP 239133 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Prov. Nusa Tenggara Barat

25 09 KD 634040 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat 26 10 DK 239224 Sekretariat Badan Koordinasi Penyuluhan

Pertanian,Perikanan dan Kehutanan Prov. NTB 27 11 DK 239220 Badan Ketahanan Pangan Prov. NTB

28 12 KD 499471 Balai Karantina Pertanian Kelas 1 Mataram

29 12 KD 567741 Stasiun Karantinan Pertanian Kelas 1 Sumbawa Besar A.2. Pendekatan Penyusunan Laporan Keuangan

Laporan Keuangan periode yang berakhir 31 Desember 2017 ini merupakan laporan yang mencakup seluruh aspek keuangan yang dikelola oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian - NTB. Laporan Keuangan ini dihasilkan melalui Sistem Akuntansi Instansi (SAI) yaitu serangkaian prosedur manual maupun yang terkomputerisasi mulai dari pengumpulan data, pencatatan dan pengikhtisaran sampai dengan pelaporan posisi keuangan dan operasi keuangan pada Kementerian Negara/Lembaga.

SAI terdiri dari Sistem Akuntansi Instansi Berbasis Akrual (SAIBA) dan Sistem Informasi Manajemendan Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK-BMN). SAI dirancang untuk menghasilkan Laporan Keuangan Satuan Kerja yang terdiri dari

(14)

9

Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Neraca. Sedangkan SIMAK-BMN adalah sistem yang menghasilkan informasi aset tetap, persediaan, dan aset lainnya untuk penyusunan neraca dan laporan barang milik negara serta laporan manajerial lainnya.

A.3. Basis Akuntansi

Balai Pengkajian Teknologi Pertanianmenerapkan basis akrual dalam penyusunan dan penyajian Neraca, Laporan Operasi dan Laporan Perubahan Ekuitas. Basis akrual adalah basis akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya pada saat transaksi dan peristiwa itu terjadi, tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayarkan.

Sedangkan Laporan Realisasi Anggaran basis kas untuk disusun dan disajikan dengan basis kas. Basis kas adalah basis akuntansi yang yang mengakui pengaruhi transaksi atau peristiwa lainnya pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar. Hal ini sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.

A.4. Dasar Pengukuran

Pengukuran adalah proses penetapan nilai uang untuk mengakui dan memasukkan setiap pos dalam laporan keuangan. Dasar pengukuran yang diterapkan Balai Pengkajian Teknologi Pertaniandalam penyusunan dan penyajian Laporan Keuangan adalah dengan menggunakan nilai perolehan historis.

Aset dicatat sebesar pengeluaran/penggunaan sumber daya ekonomi atau sebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aset tersebut. Kewajiban dicatat sebesar nilai wajar sumber daya ekonomi yang digunakan pemerintah untuk memenuhi kewajiban yang bersangkutan.

Pengukuran pos-pos laporan keuangan menggunakan mata uang rupiah. Transaksi yang menggunakan mata uang asing dikonversi terlebih dahulu dan dinyatakan dalam mata uang rupiah.

A.5. Kebijakan Akuntansi

Penyusunan dan penyajian Laporan Keuangan Tahun 2016 telah mengacu pada Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Kebijakan akuntansi merupakan prinsip-prinsip, dasar-dasar, konvensi-konvensi, aturan-aturan, dan praktik-praktik spesifik yang dipilih oleh suatu entitas pelaporan dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan. Kebijakan akuntansi yang diterapkan dalam laporan keuangan ini adalah

(15)

10

merupakan kebijakan yang ditetapkan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanianyang merupakan entitas pelaporan dari Kementerian Pertanian. Disamping itu, dalam penyusunannya telah diterapkan kaidah-kaidah pengelolaan keuangan yang sehat di lingkungan pemerintahan.

Kebijakan-kebijakan akuntansi yang penting yang digunakan dalam penyusunan Laporan Keuangan Balai Pengkajian Teknologi Pertanianadalah sebagai berikut: (1) Pendapatan - LRA

• Pendapatan-LRA adalah semua penerimaan Rekening Kas Umum Negara yang menambah Saldo Anggaran Lebih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah.

• Pendapatan-LRA diakui pada saat kas diterima pada Kas Umum Negara (KUN).

• Akuntansi pendapatan-LRA dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah nettonya (setelah dikompensasikan dengan pengeluaran).

• Pendapatan-LRA disajikan menurut klasifikasi sumber pendapatan. (2) Pendapatan - LO

• Pendapatan-LO adalah hak pemerintah pusat yang diakui sebagai penambah ekuitas dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan dan tidak perlu dibayar kembali.

• Pendapatan-LO diakui pada saat timbulnya hak atas pendapatan dan /atau Pendapatan direalisasi, yaitu adanya aliran masuk sumber daya ekonomi. • Akuntansi pendapatan-LO dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu

dengan membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah nettonya (setelah dikompensasikan dengan pengeluaran).

• Pendapatan disajikan menurut klasifikasi sumber pendapatan. (3) Belanja

• Belanja adalah semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum Negara yang mengurangi Saldo Anggaran Lebih dalam peride tahun anggaran yang bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah.

• Belanja diakui pada saat terjadi pengeluaran kas dari KUN.

• Khusus pengeluaran melalui bendahara pengeluaran, pengakuan belanja terjadi pada saat pertanggungjawaban atas pengeluaran tersebut disahkan oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN).

(16)

11

• Belanja disajikan menurut klasifikasi ekonomi/jenis belanja dan selanjutnya klasifikasi berdasarkan organisasi dan fungsi akan diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

(4) Beban

• Beban adalah penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa dalam periode pelaporan yang menurunkan ekuitas, yang dapat berupa pengeluaran atau konsumsi aset atau timbulnya kewajiban.

• Beban diakui pada saat timbulnya kewajiban; terjadinya konsumsi aset; dan terjadinya penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa.

• Beban disajikan menurut klasifikasi ekonomi/jenis belanja dan selanjutnya klasifikasi berdasarkan organisasi dan fungsi diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

(5) Aset

Aset diklasifikasikan menjadi Aset Lancar, Aset Tetap, Piutang Jangka Panjang dan Aset Lainnya.

a. Aset Lancar

• Kas disajikan di neraca dengan menggunakan nilai nominal. Kas dalam bentuk valuta asing disajikan di neraca dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal neraca.

• Investasi Jangka Pendek BLU dalam bentuk surat berharga disajikan sebesar nilai perolehan sedangkan investasi dalam bentuk deposito dicatat sebesar nilai nominal.

• Piutang diakui apabila menenuhi kriteria sebagai berikut:

a) Piutang yang timbul dari Tuntutan Perbendaharaan/ Ganti Rugi apabila telah timbul hak yang didukung dengan Surat Keterangan Tanggung Jawab Mutlak dan/atau telah dikeluarkannya surat keputusan yang mempunyai kekuatan hukum tetap.

b) Piutang yang timbul dari perikatan diakui apabila terdapat peristiwa yang menimbulkan hak tagih dan didukung dengan naskah perjanjian yang menyatakan hak dan kewajiban secara jelas serta jumlahnya bisa diukur dengan andal

• Piutang disajikan dalam neraca pada nilai yang dapat direalisasikan (net realizable value). Hal ini diwujudkan dengan membentuk penyisihan piutang tak tertagih. Penyisihan tersebut didasarkan atas kualitas piutang yang ditentukan berdasarkan jatuh tempo dan upaya penagihan yang dilakukan pemerintah. Perhitungan penyisihannya adalah sebagai berikut:

(17)

12

Kualitas Piutang Uraian Penyisihan

Lancar Belum dilakukan pelunasan s.d. tanggal jatuh tempo

0,5% Kurang Lancar Satu bulan terhitung sejak tanggal surat

tagihan pertama tidak dilakukan pelunasan

10% Diragukan Satu bulan terhitung sejak tanggal surat

tagihan kedua tidak dilakukan pelunasan

50% Macet 1. Satu bulan terhitung sejak tanggal surat

tagihan ketiga tidak dilakukan pelunasan

100% 2. Piutang telah diserahkan kepada Panitia

Urusan Piutang Negara/DJKN

• Tagihan Penjualan Angsuran (TPA) dan Tuntutan Perbendaharaan/Ganti Rugi (TP/TGR) yang akan jatuh tempo 12 (dua belas) bulan setelah tanggal neraca disajikan sebagai Bagian Lancar TP/TGR atau Bagian Lancar TPA.

• Nilai Persediaan dicatat berdasarkan hasil perhitungan fisik pada tanggal neraca dikalikan dengan:

• harga pembelian terakhir, apabila diperoleh dengan pembelian; • harga standar apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri;

• harga wajar atau estimasi nilai penjualannya apabila diperoleh dengan cara lainnya.

b. Aset Tetap

• Aset tetap mencakup seluruh aset berwujud yang dimanfaatkan oleh pemerintah maupun untuk kepentingan publik yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun.

• Nilai Aset tetap disajikan berdasarkan harga perolehan atau harga wajar. • Pengakuan aset tetap didasarkan pada nilai satuan minimum kapitalisasi

sebagai berikut:

• Tagihan Penjualan Angsuran (TPA) dan Tuntutan Ganti Rugi (TGR) yang akan jatuh tempo 12 (dua belas) bulan setelah tanggal neraca disajikan sebagai Bagian Lancar TPA/TGR.

a. Pengeluaran untuk per satuan peralatan dan mesin dan peralatan olah raga yang nilainya sama dengan atau lebih dari Rp300.000 (tiga ratus ribu rupiah);

b. Pengeluaran untuk gedung dan bangunan yang nilainya sama dengan atau lebih dari Rp10.000.000 (sepuluh juta rupiah);

(18)

13

c. Pengeluaran yang tidak tercakup dalam batasan nilai minimum kapitalisasi tersebut di atas, diperlakukan sebagai biaya kecuali pengeluaran untuk tanah, jalan/irigasi/jaringan, dan aset tetap lainnya berupa koleksi perpustakaan dan barang bercorak kesenian.

• Aset Tetap yang tidak digunakan dalam kegiatan operasional pemerintah yang disebabkan antara lain karena aus , ketinggalan jaman, tidak sesuai dengan kebutuhan organisasi yang makin berkembang, rusak berat, tidak sesuai dengan rencana umum tata ruang (RUTR), atau masa kegunaannya telah berakhir direklasifikasi ke Aset Lain-Lain pada pos Aset Lainnya. • Aset tetap yang secara permanen dihentikan penggunaannya, dikeluarkan

dari neraca pada saat ada penetapan dari entitas sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang pengelolaan BMN/BMD .

c. Penyusutan Aset Tetap

• Penyusutan aset tetap adalah penyesuaian nilai sehubungan dengan penurunan kapasitas dan manfaat dari suatu aset tetap. Kebijakan penyusutan aset tetap didasarkan pada Peraturan Menteri Keuangan No.01/PMK.06/2013 tentang Penyusutan Barang Milik Negara Berupa Aset Tetap pada Entitas Pemerintah Pusat sebagaimana diubah dengan PMK 90/PMK.06/2014 tentang Penyusutan Barang Milik Negara Berupa Aset Tetap pada Entitas Pemerintah Pusat.

• Penyusutan aset tetap tidak dilakukan terhadap: a. Tanah

b. Konstruksi dalam Pengerjaan (KDP)

c. Aset Tetap yang dinyatakan hilang berdasarkan dokumen sumber sah atau dalam kondisi rusak berat dan/atau usang yang telah diusulkan kepada Pengelola Barang untuk dilakukan penghapusan.

• Penghitungan dan pencatatan Penyusutan Aset Tetap dilakukan setiap akhir semester tanpa memperhitungkan adanya nilai residu.

• Penyusutan Aset Tetap dilakukan dengan menggunakan metode garis lurus yaitu dengan mengalokasikan nilai yang dapat disusutkan dari Aset Tetap secara merata setiap semester selama Masa Manfaat.

• Masa Manfaat Aset Tetap ditentukan dengan berpedoman Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 59/KMK.06/2013 tentang Tabel Masa Manfaat Dalam Rangka Penyusutan Barang Milik Negara berupa Aset Tetap pada Entitas Pemerintah Pusat. Secara umum tabel masa manfaat adalah sebagai berikut:

(19)

14

Kelompok Aset Tetap Masa Manfaat

Peralatan dan Mesin 2 s.d 20 Tahun Gedung dan Bangunan 10 s.d 50 Tahun Jalan, Irigasi dan Jaringan 5 s.d 40 Tahun Aset Tetap Lainnya (Alat musik modern) 4 Tahun

d. Piutang Jangka Panjang

• Piutang Jangka Panjang adalah piutang yang diharapkan / dijadwalkan akan diterima dalam jangka waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan .

• Tagihan Penjualan Angsuran (TPA}, Tagihan Tuntutan

Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi (TP/TGR} dinilai berdasarkan nilai nominal dan disaj ikan sebesar nilai yang dapat direalisasikan .

e. Aset Lainnya

• Aset Lainnya adalah aset pemerintah selain aset lancar, aset tetap , dan piutang jangka panjang. Termasuk dalam Aset Lainnya adalah aset tak berwujud, tagihan penjualan angsuran yang jatuh tempo lebih dari 12 (dua belas} bulan , aset kerjasama dengan pihak ketiga (kemitraan), dan kas yang dibatasi penggunaannya.

• Aset Tak Berwujud (ATB) disajikan sebesar nilai tercatat netto yaitu sebesar harga perolehan setelah dikurangi akumulasi amortisasi .

• Amortisasi ATB dengan masa manfaat terbatas dilakukan dengan metode garis lurus dan nilai sisa nihil. Sedangkan atas ATB dengan masa manfaat tidak terbatas tidak dilakukan amortisasi.

• Aset Lain-lain berupa aset tetap pemerintah disajikan sebesar nilai buku yaitu harga perolehan dikurangi akumulasi penyusutan.

(6) Kewajiban

• Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi pemerintah.

• Kewajiban pemerintah diklasifikasikan ke dalam kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang.

a. Kewajiban Jangka Pendek

Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek jika diharapkan untuk dibayar atau jatuh tempo dalam waktu dua belas bulan setelah tanggal pelaporan.

Kewajiban jangka pendek meliputi Utang Kepada Pihak Ketiga, Belanja yang Masih Harus Dibayar, Pendapatan Diterima di Muka,

(20)

15

Bagian Lancar Utang Jangka Panjang, dan Utang Jangka Pendek Lainnya.

b. Kewajiban Jangka Panjang

Kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang jika diharapkan untuk dibayar atau jatuh tempo dalam waktu lebih dari dua belas bulan setelah tanggal pelaporan.

• Kewajiban dicatat sebesar nilai nominal, yaitu sebesar nilai kewajiban pemerintah pada saat pertama kali transaksi berlangsung.

(7) Ekuitas

Ekuitas merupakan merupakan selisih antara aset dengan kewajiban dalam satu periode. Pengungkapan lebih lanjut dari ekuitas disajikan dalam Laporan Perubahan Ekuitas.

(8) Implementasi Akuntansi Pemerintah Berbasis Akrual Pertama Kali

Mulai tahun 2015 Pemerintah mengimplementasikan akuntansi berbasis akrual sesuai dengan amanat PP No.71 Tahun 2010 tentang Akuntansi Pemerintahan. Implementasi tersebut memberikan pengaruh pada beberapa hal dalam penyajian laporan keuangan. Pertama, Pos-pos ekuitas dana pada neraca per 31 Desember 2014 yang berbasis cash toward accrual direklasifikasi menjadi ekuitas sesuai dengan akuntansi berbasis akrual. Kedua, keterbandingan penyajian akun-akun tahun berjalan dengan tahun sebelumnya dalam Laporan Operasional dan Laporan Perubahan Ekuitas tidak dapat dipenuhi. Hal ini diakibatkan oleh penyusunan dan penyaj ian akuntansi berbasis akrual pada tahun 2015 adalah merupakan implementasi yang pertama.

(21)

16

B PENJELASAN ATAS POS-POS LAPORAN REALISASI ANGGARAN

Selama periode berjalan, Unit Eselon 12 di Provinsi Nusa Tenggara Barat telah mengadakan revisi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dari DIPA awal. Hal ini disebabkan oleh adanya perubahan kegiatan sesuai dengan kebutuhan dan situasi serta kondisi pada saat pelaksanaan. Perubahan tersebut berdasarkan sumber pendapatan dan jenis belanja adalah sebagai berikut:

Uraian Anggaran Awal Anggaran

Setelah Revisi Pendapatan Pendapatan Jasa 869,000,000 869,000,000 Jumlah Pendapatan 869,000,000 869,000,000 Belanja Belanja Pegawai 7,439,898,000 8,938,998,000 Belanja Barang 7,539,919,000 7,539,919,000 Belanja Modal 2,471,427,000 2,471,427,000 Jumlah Belanja 17,451,244,000 18,950,344,000 B.1 PENDAPATAN

Realisasi Pendapatan untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2017 adalah sebesar Rp 1,361,581,855 atau mencapai 152% dari estimasi pendapatan yang ditetapkan sebesar Rp896,000,000.00. Rincian estimasi pendapatan dan realisasinya adalah sebagai berikut:

Rincian Estimasi dan Realisasi Pendapatan

Uraian 2016

Akun Pendapatan Anggaran Realisasi .%

Pendapatan sewa tanah, gedung dan bangunan

- 1,088,286 0.00% Pendapatan Sensor/ Karantina, Pengawasan/Pemeriksaan 896,000,000 1,348,173,105 150.47% Pendapatan Denda Keterlambatan Penyelesaian Pekerjaan Pemerintah - 83,100 0.00% Penerimaaan kembali belanja pegawai tahun anggaran yang lalu

- 5,855,314 0.00%

Penerimaaan kembali belanja modal tahun anggaran yang lalu

- 6,382,050 0.00%

(22)

17 B.2 BELANJA

Realisasi Belanja pada TA 2017 adalah sebesar Rp 17,451,244,000.00 atau 98.57% dari anggaran belanja sebesar Rp 17,451,244,000.00. Rincian anggaran dan realisasi belanja TA 2017 adalah sebagai berikut:

Rincian Pagu dan Realisasi Belanja per 31 Desember 2017

Uraian 2017

Akun Belanja Anggaran Realisasi %

Belanja Pegawai 8,938,998,000.00 8,821,352,315.00 98.76% Belanja Barang 7,539,919,000.00 7,406,751,151.00 98.25% Belanja Modal 2,471,427,000.00 2,443,184,510.00 98.86% Pengembalian Belanja -7,797,330.00 Total Belanja 18,950,344,000.00 18,671,287,976.00 98.57% B.2.1 BELANJA PEGAWAI

Realisasi Belanja Pegawai per 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah masing-masing sebesar Rp 8,821,352,315.00 dan Rp8,628,108,466.00.

Perincian Belanja Pegawai BA. 012.KD per 31 Desember 2017

No. Uraian Anggaran Realisasi Sisa Anggaran %

1 Belanja Gaji Pokok PNS 5,637,520,000 5,637,343,600 176,400 100.00% 2 Belanja Pembulatan Gaji

PNS 117,000 87,412 29,918 74.43%

3 Belanja Tunj. Suami/Istri PNS

416,951,000 416,521,660 429,340 99.90% 4 Belanja Tunj. Anak PNS 126,445,000 126,383,126 61,874 99.95% 5 Belanja Tunj. Struktural

PNS 61,510,000 61,400,000 1,730,000 97.19%

6 Belanja Tunj. Fungsional

PNS 669,780,000 669,720,000 3,434,000 99.49%

7 Belanja Tunj. PPH PNS 5,655,000 5,541,987 113,013 98.00% 8 Belanja Tunj. Beras PNS 357,922,000 357,247,860 674,140 99.81% 9 Belanja uang makan PNS 1,100,202,000 1,023,876,000 76,326,000 93.06% 10 Belanja Tunj. Umum PNS 103,000,000 102,575,000 1,885,000 98.17% 11 Belanja Uang Lembur 459,896,000 427,110,000 32,786,000 92.87%

T o T a L 8,938,998,000 8,821,352,315 117,645,685 98.68% Pengembalian belanja 6,454,330

(23)

18 B.2.2 BELANJA BARANG

Realisasi Belanja Barang per 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah masing-masing sebesar Rp 7,406,751,151.00 dan Rp 8,072,767,347.00.

Perincian Belanja Barang BA. 012.KD per 31 Desember 2017

No. Uraian Anggaran Realisasi Sisa

Anggaran %

1 Belanja Keperluan Perkantoran 1,476,512,000 1,460,917,532 15,594,468 98.94% 2 Belanja Penambahan daya tahan

tubuh 418,908,000 416,472,000 2,436,000 99.42%

3 Belanja pengiriman surat dinas 36,192,000 28,917,583 7,274,417 79.90% 4 Belanja honor operasiona satuan

kerja 343,110,000 331,612,000 11,498,000 96.65%

5 Belanja bahan 350,282,000 340,146,098 10,135,902 97.11%

6 Belanja honor output kegiatan 105,400,000 103,180,000 2,220,000 97.89% 7 Belanja barang non operasional

lainnya 5,100,000 5,075,000 25,000 99.51%

8 Belanja barang persediaan barang konsumsi

723,990,000 720,578,150 3,411,850 99.53% 9 Belanja Langganan Listrik 423,296,000 415,367,864 7,928,136 98.13% 10 Belanja Langganan Telepon 142,200,000 139,369,037 2,830,963 98.01% 11 Belanja Langganan Air 58,680,000 55,084,974 3,595,026 93.87% 12 Belanja Langganan Daya dan Jasa

Lainnya 35,400,000 35,236,265 163,735 99.54%

13 Belanja Sewa 182,648,000 179,237,340 3,410,660 98.13%

14 Belanja Jasa Profesi 26,900,000 26,900,000 - 100.00% 15 Belanja Jasa Lainnya 82,500,000 81,130,000 1,370,000 98.34% 16 Belanja Pemeliharaan gedung dan

bangunan 661,310,000 661,056,380 253,620 99.96%

17 Belanja Pemeliharaan Peralatan dan

Mesin 728,165,000 717,482,414 10,682,586 98.53%

18 Belanja Pemeliharaan Jaringan 99,504,000 99,253,850 250,150 99.75% 19 Belanja Perjalanan Biasa 809,262,000 785,889,178 23,372,822 97.11% 20 Belanja Perjalanan Tetap 66,280,000 63,612,100 2,667,900 95.97% 21 Belanja Perjalanan Dinas Dalam Kota 151,600,000 142,310,000 9,290,000 93.87% 22 Belanja Perjalanan Dinas Paket

meeting dalam Kota 83,080,000 80,655,000 2,425,000 97.08%

23 Belanja Perjalanan Dinas Paket

meeting luar Kota 529,600,000 518,611,386 10,988,614 97.93%

T o T a L 7,539,919,000 7,408,094,151 116,230,381 98.25%

Pengembalian belanja 1,343,000

(24)

19 B.2.3 BELANJA MODAL

Realisasi Belanja Modal per 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah masing-masing sebesar Rp 2,443,184,510.00 dan Rp 3,440,617,221.00. Belanja modal merupakan pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi.

Perincian Belanja Modal BA.012.KD per 31 Desember 2017

No. Uraian Anggaran Realisasi Sisa

Anggaran % 1 Belanja Modal Peralatan dan

Mesin 813,130,000 797,889,610 15,240,390 98.13%

2 Belanja Penambahan Nilai

Gedung dan Bangunan 1,398,131,000 1,389,623,000 8,508,000 99.39% 3 Belanja Modal Jalan dan

jembatan 80,826,000 80,450,000 376,000 99.53%

4 Belanja Modal Jaringan 50,000,000 47,944,900 2,055,100 95.89% 5 Belanja Penambahan Nilai

Irigasi 119,340,000 117,393,000 1,947,000 98.37%

6 Belanja Penambahan Nilai

Jaringan 10,000,000 9,884,000 116,000 98.84%

(25)

20 C PENJELASAN ATAS POS-POS NERACA C.1 ASET LANCAR

C.1.1 KAS DI BENDAHARA PENERIMAAN

Saldo Kas di Bendahara Penerimaan per 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah masing-masing sebesar Rp 35,000 dan Rp 4,352,776. Kas di Bendahara Penerimaan meliputi saldo uang tunai dan saldo rekening di bank yang berada di bawah tanggung jawab Bendahara Penerimaan yang sumbernya berasal dari pelaksanaan tugas pemerintahan berupa Penerimaan Negara Bukan Pajak.

C.1.2 BELANJA DIBAYAR DIMUKA (PREPAID)

Saldo Belanja Dibayar Dimuka (prepaid) per 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah masing-masing sebesar Rp 12,900,142 dan Rp3,307,775.

C.1.3 PERSEDIAAN

Saldo Persediaan per 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah masing-masing sebesar Rp 748,196,443 dan Rp 712,519,322. Persediaan merupakan jenis aset dalam bentuk barang atau perlengkapan (supplies) pada tanggal neraca yang diperoleh dengan maksud untuk mendukung kegiatan operasional dan/atau untuk dijual, dan/atau diserahkan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat. Rincian Persediaan per 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2015 adalah sebagai berikut:

Perbandingan Persediaan

per 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2015

Uraian Persediaan 31 Desember 2017 31 Desember 2015

Barang Konsumsi 748,196,443 475,838,322

Bahan untuk Pemeliharaan 0 2,830,000

Suku Cadang 0 156,764,300 Bahan Baku 0 77,086,700 Persediaan Lainnya 0 0 Jumlah 748,196,443 712,519,322 C.2 ASET TETAP C.2.1 TANAH

Nilai Aset Tetap berupa Tanah yang dimiliki Unit Eselon 012 di Provinsi Nusa Tenggara Barat per 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah masing-masing sebesar Rp 2,887,550,940.00.

(26)

21

Rincian Saldo Tanah per 31 Desember 2017 adalah sebagai berikut:

No. Luas Lokasi Nilai 018.012.499471. KD

1 425.00m2 Jl. Majapahit Gg. Bambu Runcing Ampenan Rt., Ampenan Selatan

116,050,000.00 2 10,010.00m2 Jl. Raya Pelabuhan No.9 Lembar Rt., Lembar 1,031,030,000.00 3 2,934.00m2 Jl. Raya Pelabuhan Lombok Rt., Pringgabaya 271,470,000.00 4 471.00m2 Jl. Adi Sucipto Rt.0, Ampenan 262,950,000.00 5 530.00m2 Jl. R. Soeprapto No. 23 Ampenan NTB Rt.RT

004 / R, Ampenan Selatan

643,430,000.00 6 1,000.00m2 Jl. Pelabuhan Laut Lembar Rt.0, Lembar 150,000,000.00 7 3,278.00m2 JL. KAYANGAN Rt.1, PRINGGABAYA 120,237,040.00 8 407.00m2 Jl. Pelabuhan Laut Lembar NTB Rt.0, Lembar 44,240,000.00

Jumlah 2,639,407,040.00

018.012.566741. KD

1 1.200,00m2 Jalan Raya Sape Rt.RT, SAPE 132,143,900.00 2 2.000,00m2 Raya Sape No.01 Rt.RT 10 / RW, Sape 116,000,000.00

Jumlah 248,143,900.00 Total 2,887,550,940.00

C.2.2 PERALATAN DAN MESIN

Nilai Aset Peralatan dan Mesin yang dimiliki Unit Eselon 012 di Provinsi Nusa Tenggara Barat per 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah masing-masing sebesar Rp 12,160,202,617 dan Rp13,154,010,441.

C.2.3 GEDUNG DAN BANGUNAN

Nilai Aset Gedung dan Bangunan yang dimiliki Unit Eselon 012 di Provinsi Nusa Tenggara Barat per 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah masing-masing sebesar Rp 18,833,559,141 dan Rp 17,466,659,391.

C.2.4 JALAN, IRIGASI DAN JARINGAN

Nilai Aset Jalan, Irigasi dan Jaringan yang dimiliki Unit Eselon 012 di Provinsi Nusa Tenggara Barat per 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah masing-masing sebesar Rp 1,372,761,621 dan Rp 1,189,016,721.

C.2.5 ASET TETAP LAINNYA

Nilai Aset Tetap Lainnya yang dimiliki Unit Eselon 012 di Provinsi Nusa Tenggara Barat per 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah masing-masing sebesar Rp9,950,000.

(27)

22 C.2.6 AKUMULASI PENYUSUTAN ASET TETAP

Nilai saldo Akumulasi Penyusutan Aset Tetap hasil E-Rekon Unit Eselon 012 di Provinsi Nusa Tenggara Barat per 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah sebesar Rp-11,967,142,652.00 dan Rp-12,146,456,014.00

Akumulasi Penyusutan Aset Tetap merupakan kontra akun Aset Tetap yang disajikan berdasarkan pengakumulasian atas penyesuaian nilai sehubungan dengan penurunan kapasitas dan manfaat Aset Tetap selain untuk Tanah dan Konstruksi dalam Pengerjaan (KDP).

C.3 ASET LAINNYA

C.3.1 ASET TAK BERWUJUD

Saldo Aset Tak Berwujud per 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 untuk Unit Eselon 012 di Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah masing-masing sebesar Rp6,115,000.00. Aset Tak Berwujud merupakan aset yang dapat diidentifikasi dan dimiliki, tetapi secara umum tidak mempunyai wujud fisik.

C.3.1 ASET LAIN-LAIN

Nilai Aset Lain-lain hasil E-rekon yang dimiliki Unit Eselon 12 Kode kewenangan KD di Provinsi Nusa Tenggara Barat per 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah masing-masing sebesar Rp1,879,965,634.00 dan Rp 0.00. Aset Lain-lain merupakan Barang Milik Negara (BMN) yang berada dalam kondisi rusak berat dan tidak lagi digunakan dalam operasional serta dalam proses penghapusan dari BMN.

C.3.3 AKUMULASI PENYUSUTAN ASET LAINNYA

Nilai saldo Akumulasi Penyusutan Aset Lainnya hasil E-rekon yang dimiliki Unit Eselon 12 Kode kewenangan KD di Provinsi Nusa Tenggara Barat per 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah masing-masing sebesar Rp.(1,811,189,133) dan Rp(1,528,750).

Akumulasi Penyusutan Aset Lainnya merupakan kontra akun Aset Lainnya yang disajikan berdasarkan pengakumulasian atas penyesuaian nilai sehubungan dengan penurunan kapasitas dan manfaat Aset Lainnya.

(28)

23 C.4 KEWAJIBAN JANGKA PENDEK C.4.1 UTANG KEPADA PIHAK KETIGA

Saldo Utang kepada Pihak Ketiga per 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah masing-masing sebesar Rp 2,757,460 dan Rp126,884,672. Utang kepada Pihak Ketiga merupakan belanja yang masih harus dibayar dan merupakan kewajiban yang harus segera diselesaikan kepada pihak ketiga lainnya dalam waktu kurang dari 12 (dua belas bulan).

C.5 EKUITAS C.5.1 EKUITAS

Saldo Ekuitas per 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah masing-masing sebesar Rp 24,130,147,293 dan Rp 23,158,612,930.. Ekuitas adalah merupakan kekayaan bersih entitas yang merupakan selisih antara aset dan kewajiban. Rincian lebih lanjut tentang ekuitas disajikan dalam Laporan Perubahan Ekuitas.

(29)

24

D PENJELASAN ATAS POS-POS LAPORAN OPERASIONAL D.1 PENDAPATAN NEGARA BUKAN PAJAK LAINNYA

Jumlah Pendapatan hasil E-rekon untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah masing-masing sebesar Rp 1,345,026,715 dan Rp 1,053,071,525.

D.2 BEBAN PEGAWAI

Jumlah Beban Pegawai untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah masing-masing sebesar Rp8,772,304,315 dan Rp8,677,156,466 Beban Pegawai adalah beban atas kompensasi, baik dalam bentuk uang maupun barang yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang diberikan kepada pejabat negara, Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan pegawai yang dipekerjakan oleh pemerintah yang belum berstatus PNS sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan kecuali pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal.

D.3 BEBAN PERSEDIAAN

Jumlah Beban Persediaan hasil E-rekon untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah masing-masing sebesar Rp763,512,392 dan Rp900,349,707. Beban Persediaan merupakan beban untuk mencatat konsumsi atas barang-barang yang habis pakai, termasuk barang-barang hasil produksi baik yang dipasarkan maupun tidak dipasarkan.

D.4 BEBAN BARANG DAN JASA

Jumlah Beban Barang dan Jasa untuk periode yang berakhir pada 31 Desember

2017 dan 30 Desember 2016 adalah masing-masing sebesar Rp3,533,974,114 dan Rp3,863,859,917. Beban Barang dan Jasa adalah konsumsi atas jasa-jasa dalam

rangka penyelenggaraan kegiatan entitas.

D.5 BEBAN PEMELIHARAAN

Jumlah Beban Pemeliharaan hasil E-rekon untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2017 dan 30 Desember 2016 adalah masing-masing sebesar Rp1,477,792,644 dan Rp1,371,009,676. Beban pemeliharaan merupakan beban yang dimaksudkan untuk mempertahankan aset tetap atau aset lainnya yang sudah ada ke dalam kondisi normal.

(30)

25 D.6 BEBAN PERJALANAN DINAS

Jumlah Beban Perjalanan Dinas untuk periode yang berakhir pada 31 Desember

2017 dan 31 Desember 2016 adalah masing-masing sebesar Rp 1,589,734,664 dan Rp 2,086,176,318. Beban tersebut adalah merupakan beban yang terjadi untuk

perjalanan dinas dalam rangka pelaksanaan tugas, fungsi, dan jabatan.

D.7 BEBAN BARANG UNTUK DISERAHKAN KEPADA MASYARAKAT

Jumlah Beban Barang Untuk Diserahkan Kepada Masyarakat untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2015 adalah masing-masing sebesar Rp0.00 dan Rp0.00. Beban Barang untuk Diserahkan kepada Masyarakat merupakan beban pemerintah dalam bentuk barang yang diserahkan kepada masyarakat dalam rangka pelayanan kepada masyarakat.

D.8 BEBAN PENYUSUTAN DAN AMORTISASI

Jumlah Beban Penyusutan dan Amortisasi untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah masing-masing sebesar Rp1,680,391,860 dan Rp1,606,310,218. Beban penyusutan adalah merupakan beban untuk mencatat alokasi sistematis atas nilai suatu aset tetap yang dapat disusutkan (depreciable assets) selama masa manfaat aset yang bersangkutan. Sedangkan Beban Amortisasi digunakan untuk mencatat alokasi penurunan manfaat ekonomi untuk Aset Tak berwujud.

D.9 SURPLUS/DEFISIT DARI KEGIATAN NON OPERASIONAL

Pos Surplus/Defisit Dari Kegiatan Non Operasional terdiri dari pendapatan dan beban yang sifatnya tidak rutin dan bukan merupakan tugas pokok dan fungsi entitas. Surplus/Defisit Dari Kegiatan Non Operasional Hasil E-Rekon Tahun 2017 dan 2016 adalah Rp-16,434,504,697 dan Rp-17,407,267,365.

(31)

26

E PENJELASAN ATAS POS-POS LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS E.1 EKUITAS AWAL

Nilai ekuitas pada tanggal 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah masing-masing sebesar Rp 23,158,612,930 dan Rp20,965,304,001.00.

E.2 SURPLUS/DEFISIT-LO

Jumlah Defisit LO untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah sebesar Rp-16,434,504,697 dan Rp-17,407,267,365. Defisit LO merupakan selisih kurang antara surplus/defisit kegiatan operasional, surplus/defisit kegiatan non operasional, dan pos luar biasa.

E.3 DAMPAK KUMULATIF PERUBAHAN KEBIJAKAN AKUNTANSI/KESALAHAN

MENDASAR

Dampak Kumulatif Perubahan Kebijakan Akuntansi/Kesalahan Mendasar untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah sebesar Rp0.00 dan Rp0.00.

E.4 KOREKSI NILAI ASET TETAP NON REVALUASI

Koreksi Aset Tetap Non Revaluasi untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah masing-masing sebesar Rp 61,584,989 dan Rp513,056,654. Koreksi ini berasal dari transaksi koreksi nilai aset tetap dan aset lainnya yang bukan karena revaluasi nilai.

E.5 PENYESUAIAN NILAI ASET

Penyesuaian Nilai Aset untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah masing-masing sebesar Rp0.00 dan Rp0.00. Penyesuaian Nilai Aset merupakan hasil penyesuaian nilai persediaan akibat penerapan kebijakan harga perolehan terakhir.

(32)

27 E.6 TRANSAKSI ANTAR ENTITAS

Nilai Transaksi Antar Entitas untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah masing-masing sebesar Rp17,344,454,071 dan Rp19,087,519,640.

E.7 EKUITAS AKHIR

Saldo Ekuitas Akhir untuk periode 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah masing-masing sebesar Rp 24,130,147,293 dan Rp23,158,612,930.

(33)

28 F PENGUNGKAPAN-PENGUNGKAPAN LAINNYA

F.1 KEJADIAN-KEJADIAN PENTING SETELAH TANGGAL NERACA

Pada awal tahun 2018, Pihak Eselon-1 melakukan perombakan laporan keuangan sesuai dengan Konsep Hasil Temuan BPK. Namun untuk Eselon 12 wilayah Nusa Tenggara Barat, SATKER tidak harus melakukan rekon ulang baik melalui E-Rekon maupun rekon dengan KPKNL. Data pada laporan Audited kali ini, sama dengan data sebelum audited.

F.2 PENGUNGKAPAN LAIN-LAIN

Referensi

Dokumen terkait

Jika dijelaskan lebih lanjut mengenai sikap keagamaan, menurut Ramayulis (2007), sikap keagamaan merupakan suatu keadaan yang ada dalam diri seseorang yang

menyusun laporan hasil kegiatan Bidang berdasarkan laporan hasil kegiatan masing-masing Sub Bidang di lingkungan Bidang Data dan Perencanaan Kepegawaian sebagai

Kemenkeu bersama sejumlah K/L terkait melakukan Penandaan Anggaran (Budget Tagging) Mitigasi Perubahan Iklim sebagai tools dalam pemetaan dukungan pembiayaan publik (APBN)

Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Bangka Belitung unit eselon 1 Ditjen Bimas Katholik (06) tahun 2017 unaudited adalahsalahsatu entitas akuntansi

Penelitian ini untuk menjelaskan penerapan strategi MSDM yang berfokus pada koordinasi antara Operations & Maintenance Excellence dengan Human Resources Department dalam

PERNYATAAN TANGGUNG JAWAB Penggabungan Laporan Keuangan Kementerian Agama 025.01.2800 Tingkat Wilayah selaku UAPPA-W yang terdiri dari: a Laporan Realisasi Anggaran, b Neraca, c

• Setelah memasang selang rem ke unit rem, menambah oli mineral asli SHIMANO dan membuang gelembung udara, tekan lagi tuas beberapa kali untuk memeriksa apakah rem beroperasi

Definisi perjanjian internasional kemudian di kembangkan oleh Pasal 1 ayat (3) Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 1999 Tentang Hubungan Luar