LAPORAN HASIL PENELITIAN
Studi Pengukuran Radiasi Gelombang
Elektromagnetik di Sekitar Antena GSM / DCS
Ketua Tim Peneliti :
Ir. Sunarno, M.Eng., Ph.D.
Th. 2003
MAGISTER REKAYASA KESELAMATAN INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK
Universitas Gadjah Mada
Program Magister Rekayasa Keselamatan Industri 1
Subyek Penelitian : Pengukuran besarnya radiasi di sekitar antena GSM / DCS. Material yang diteliti : Daya pancar radiasi pengion antena GSM / DCS
Aspek penelitian : Menentukan metoda pengukuran dan teknik perhitungannya, serta perkiraan bahaya radiasi bagi tubuh manusia.
Keterangan:
a. Pelaksanaan penelitian dimulai awal Juni 2003 dan berlangsung selama ± 5 minggu.
b. Lokasi Penelitian : Lokasi BTS (antena GSM / DCS) Widuran-Solo Jawa Tengah yang ditentukan sebagai obyek penelitian.
c. Hasil yang ditargetkan : Menentukan besarnya radiasi pada lingkungan Antena, analisis perkiraan efeknya terhadap kesehatan penduduk yang bertempat tinggal di sekitar antena.
Yogyakarta, 13 Agustus 2003
Ir. Sunarno, M.Eng., Ph.D.
Program Magister Rekayasa Keselamatan Industri 2
KATA PENGANTAR
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengukur besarnya radiasi, baik radiasi pengion maupun radiasi non-pengion di sekitar BTS Widuran Solo Jawa tengah. Penelitian ini belum pernah dilakukan sebelumnya, namun demikian dengan beberapa metode standard yang dilakukan untuk pengukuran radiasi nuklir (radiasi pengion) dan dengan mengembangkan metode baru, kami bersyukur bisa menyelesaikan pekerjaan ini dengan rasa puas. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu memberi penyelesaian dan masukan bagi beberapa pihak yang sedang bersitegang karena ada beberapa kesalah pahaman.
Dari pengalaman ini dan dari kerja keras Tim kami dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, kami mendapatkan pemahaman baru tentang rekayasa pengukuran radiasi non-pengion, sekaligus kami bisa membantu masyarakat memahami hal-hal yang berkaitan dengan bahaya radiasi. Kami baru sadar bahwa selama ini masyarakat masih belum bisa membedakan antara radiasi pengion (akibat aktifitas nuklir maupun zat radio aktif) dan radiasi non-pengion. Orang sering bicara tentang “radiasi” tanpa menyadari adanya perbedaan antara radiasi pengion dan radiasi non pengion. Kami bisa memahami hal itu mengingat “jahatnya” akibat paparan radiasi pengion; seperti pada kasus bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, munculnya kanker akibat radiasi pengion, kecelakaan Chernobyl, dan sebagainya. Maka kami mulai saat inipun menyadari harus menyebar luaskan ke masyarakat pentingnya pengertian ini.
Kami sangat berterima kasih kepada PT. Telekomunikasi Selular yang telah bersedia menanggung seluruh biaya penelitian ini, dan juga kepada seluruh jajaran Staff PT. Telkomsel yang sangat membantu dengan tenaga, perhatian, dan waktu mereka. Kami berharap hasil penelitian ini bisa memuaskan semua pihak.
Ir. Sunarno, M.Eng., Ph.D. Ketua Peneliti
Program Magister Rekayasa Keselamatan Industri 3
Dafar Isi
halaman
KATA PENGANTAR 2
ABSTRAK 4
I. LATAR BELAKANG PENELITIAN 5
II. STUDI PUSTAKA 6
III. METODOLOGI PENELITIAN 9
IV. PERCOBAAN DAN PENGUKURAN 10
V. HASIL PENGUKURAN 12
A. Hasil Pengukuran dengan Detektor GM-SSD-RFD 12 B. Hasil Perhitungan Dosis Teoritis 13
C. Hasil Pengukuran Langsung 14
VI. KESIMPULAN DAN SARAN 15
A. KESIMPULAN 15
B. SARAN 16
Daftar Pustaka 17
Program Magister Rekayasa Keselamatan Industri 4
ABSTRAK
Studi Pengukuran Radiasi Gelombang Elektromagnetik di
Sekitar Antena GSM / DCS
Oleh: Ir. Sunarno, M.Eng., Ph.D.
Magister Rekayasa Keselamatan Industri – Fakultas Teknik UGM
Perkembangan dunia telekomunikasi seluler saat ini sangat maju dan manfaatnya sangat dirasakan oleh masyarakat banyak. Dibangunnya BTS-BTS di berbagai daerah menimbulkan rasa cemas bagi penduduk di sekitar BTS akibat banyaknya rumor yang berkembang bahwa radiasi gelombang elektromagnetik yang dipancarkan antena GSM/DCS dapat membahayakan kesehatan manusia terutama penduduk di sekitar BTS.
Telah dilakukan penyusunan teori dan pengukuran radiasi pada area sekitar antena BTS, untuk mengkonfirmasikan ada tidaknya bahaya radiasi bagi penduduk sekitar. Pada penelitian ini digunakan 3 (tiga) jenis sensor/detektor, yakni: Detektor Geiger Muller (GM), Single Surface Detektor (SSD), dan Radio Frekuensi Detektor (RFD). Dari hasil pengukuran dan perhitungan diperoleh konfirmasi yang menunjukkan bahwa tidak terdeteksi adanya radiasi pengion akibat dari aktifitas antena GSM/DCS di sekitar BTS. Hasil perhitungan secar teoritis menunjukkan bahwa pancaran radiasi elektromagnetik non-pengion yang diterima secara rata-rata di bawah antena adalah 0.0018 miliwatt/cm2, demikian juga dengan hasil pengukuran langsung pada lokasi menunjukkan besarnya radiasi non-pengion adalah sekitar 0.00126 miliwatt/cm2. Hal ini menunjukkan bahwa paparan yang diterima penduduk sekitar BTS masih jauh di bawah batas ketentuan internasional tentang radiasi non-pengion, yakni 0.5 hingga 1 miliwatt/cm2. Kepastian tidak adanya radiasi pengion (yang membahayakan kesehatan manusia) ditunjukkan dengan tidak adanya peningkatan nilai cacah-per-menitnya (CPM) pada detektor GM dan SSD, dibandingkan dengan back-ground pada daerah yang jauh dari BTS.
Dari hasil penelitian dan perhitungan diperoleh kesimpulan bahwa pancaran antena GSM/DCS yang berada pada BTS Widuran Solo tidak membahayakan bagi kesehatan penduduk di sekitar antena. Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai acuan dan masukan bagi para peneliti tentang bahaya radiasi dan bagi para praktisi di bidang telekomunikasi.
Program Magister Rekayasa Keselamatan Industri 5
I. LATAR BELAKANG PENELITIAN
Perkembangan teknologi komunikasi sangat pesat saat ini, pemanfaatan gelombang radio sebagai media komunikasi tidak bisa dihindarkan. Radiasi karena pancaran gelombang elektromagnetik dengan frekuensi di atas cahaya tampak terbukti dapat menimbulkan ionisasi pada tubuh manusia dan pada media yang dilaluinya.
Penelitian ini dimaksudkan untuk meneliti lebih dalam besarnya radiasi pengion dan radiasi non-pengion yang diterima penduduk yang tinggal di sekitar antena GSM/DCS. Dengan memahami mekanisme gangguan dan berapa besarnya dosis yang diterima tubuh manusia, maka dapat dianalisis efek gangguan yang akan diterima oleh jaringan tubuh manusia berdasarkan standar kesehatan yang ada.
Hasil penelitian ini secara ilmiah juga akan memberikan informasi dan teori yang penting untuk mengetahui seberapa besar gelombang elektromagnetik yang diterima oleh jaringan tubuh dan seberapa besar hal itu mempengaruhi kesehatan manusia yang bertempat tinggal di sekitar daerah medan elektromagnetik. Hal-hal seperti ini penting dilakukan penelitian dan pengukuran agar tidak menimbulkan kecemasan pada masyarakat yang pada gilirannya akan memunculkan penentangan-penentangan pengembangan teknologi seluler.
Diharapkan dengan mensosialisakan hasil penelitian ini akan memberi penyelesaian yang bersifat saling memuaskan bagi pihak-pihak yang pro maupun kontra menyikapi kehadiran BTS di lingkungan mereka. Demikian juga bagi investor dalam hal ini PT. Telekomunikasi Selular dapat dengan leluasa membuat rencana pengembangan dan pembangunan infrastruktur baru yang berwawasan lingkungan hidup.
Program Magister Rekayasa Keselamatan Industri 6
II. STUDI PUSTAKA
Perkembangan teknologi seluler akan selalu diiringi dengan perkembangan stasiun pemancar seluler sesuai dengan semakin meningkatnya masyarakat pengguna telepon seluler. Semakin banyak pengguna telepon seluler maka akan semakin banyak pula jumlah stasiun pemancarnya (BTS) untuk memenuhi permintaan daerah jangkauan yang semakin luas.
Tidak seperti stasiun transmisi berdaya besar seperti televisi atau radio, stasiun pemancar seluler tergolong berdaya sangat rendah yakni sekitar 20 hingga 100 watt. Daerah kerja frekuensinya juga berada pada range sekitar 3KHz hingga 300GHz seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1. Hal ini secara teoritis menunjukkan bahwa teknologi seluler masih menggunakan frekuensi non-pengion (tidak berbahaya). Sebagai catatan, batasan radiasi pengion (yang bisa membahayakan kesehatan) mulai dari cahaya tampak. Dengan demikian, penggunaan ultraviolet, Sinar-X, Sinar Roentgen, Sinar Gamma adalah teknologi yang menggunakan frekuensi pengion sehingga penggunaannya harus diawasi secara ketat dan dipergunakan secara bijaksana2).
Program Magister Rekayasa Keselamatan Industri 7 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 F re k uen si s an g at r en d ah Mic ro w av e C ah ay a T am p ak S in ar G am m a 2 4 6 8 10 12 14 16 18
Non-Ionizing radiation Ionizing radiation
20 22 24 26 Khz Mhz Ghz
Frekuensi
PLN RADIO HANDPHONE BTS RADIOTERAPI ROENTGEN PENERANGAN CAHAYA MATAHARIGambar 1. Spektrum frekuensi gelombang elktromagnetik non-pengion dan pengion Pada teknologi selular, penempatan stasiun pemancarnya tergantung dari permintaan akan kebutuhan sinyal pada suatu daerah tertentu. Tujuan utama yang ingin dicapai pada penentuan lokasi penempatan stasiun pemancar adalah pemancar itu memiliki daerah jangkauan yang optimal tanpa gangguan dari stasiun pemancar lain dan tidak mengganggu lingkungan sekitarnya. Jarak jangkauan terkecil yang bisa dijangkau pemancar adalah sekitar 0,01 km² pada daerah padat seperti di tengah kota dan jarak jangkauan terjauh 100 km² pada daerah terbuka. Pada saat pengguna telepon seluler bergerak dari satu titik ke titik lain maka sistem akan memilih stasiun pemancar yang paling baik untuk mempertahankan sinyal komunikasinya.
Menurut AEE (Assessment of the Enviromental Effects) efek stasiun pemancar terhadap lingkungan termasuk didalamnya adalah :
• Efek kesehatan dan keselamatan
• Efek visual
• Efek terhadap lingkungan tempat tinggal
• Gangguan terhadap penerimaan sinyal radio dan televisi Faktor-faktor yang mempengaruhi paparan radiasi adalah :
Program Magister Rekayasa Keselamatan Industri 8 • Jarak : semakin jauh jarak dari sumber radiasi maka akan semakin
berkurang kekuatan radiasi dan tingkat paparannya.
• Kekuatan transmitter : semakin kuat transmiternya maka akan semakin tinggi paparannya.
• Arah dari antena : menambah jumlah antena yang mengarah pada satu daerah tertentu akan meningkatkan kekuatan transmisi dan meningkatkan paparan.
• Ketinggian antena dari tanah : semakin tinggi antena akan semakin jauh jangkauannya dan semakin kecil paparannya.
• Tekstur permukaan tanah : semakin bervariasi maka akan mengurangi paparan.
Batas paparan radiasi yang biasa dikenal umum ada dua bentuk yaitu specific absorption rate (SAR) dan atau densitas daya gelombang permukaan (plane wave
power density) 1).
Specific Absorption Rate (SAR)
SAR adalah tingkat besarnya energi yang diserap oleh tissu dengan massa tertentu, dosisnya dalam watts/Kg. Batas yang dapat diterima menurut standar National Radiological Protection Board (NRPB) pada pemakaian telepon seluler berarti batas besarnya energi yang diserap di kepala yaitu sebanding dengan 0,1 Watt terserap pada 10g tissu selama 6 menit rata-rata. Perhitungan ini memperkirakan bahwa kepala tidak akan naik suhunya lebih dari 1º walaupun setelah menerima paparan dalam jangka waktu lama. Sementara untuk stasiun pemancar batasnya adalah 0,4 Watt/Kg selama 15 menit rata-rata terserap oleh seluruh tubuh dengan asumsi jarak tubuh dengan pemancar hanya beberapa meter saja 2).
Program Magister Rekayasa Keselamatan Industri 9
Plane Wave Power Density
Densitas daya adalah besarnya daya per unit area normal searah dengan rambatan gelombang. Satuannya adalah Watt/m². satuan standar ini dapat lebih luas diterima dan dikembangkan oleh International Commission on Non-Ionizing Radiation Protection (INCIRP), Institution of Electrical and Electronics Engineers and American National Standards Institute (IEEE/ANSI), dan National Council on Radiation Protection and Measurement (NCRP). Paparan yang diperbolehkan untuk umum adalah 0,5-1 mW/cm². Batas ini tampak sangat konservatif dan sangat pesimistis, karena masih jauh di bawah tingkat bahaya yang sebenarnya1).
Program Magister Rekayasa Keselamatan Industri 10
III. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian yang dirancang menggunakan prinsip “in-stu”, yakni percobaan, pengujian, dan pengambilan data dilakukan pada kondisi di mana komponen sample (antena pemancar) berada pada kondisi aktif, atau berada pada kondisi di mana komponen tersebut sedang bekerja secara normal pada suatu sistem10).
Pada penelitian ini, akan digunakan pengukur besar radiasi dari pemancar dengan menggunakan unit pemantau efek gangguan berupa detektor SSD yang dikembangkan secara khusus untuk mendeteksi radiasi yang diakibatkan pemancar GSM/DCS, program-komputer untuk menganalisis dan memperhitungkan efek gangguannya pada tubuh manusia, unit komputer untuk pengolahan data, penyimpanan data, soft-ware untuk analisis dan pengendalian data, dan penampil yang dapat dicetak 7).
Hasil pengamatan dan data yang akan didapat dari penelitian tersebut akan dipelajari, dihitung, dan dianalisis untuk mendapatkan efek radiasi gelombang elektromagnetik terhadap lingkungan di sekitar medan elektromagnetik khususnya seberapa besar efek radiasi tersebut mempengaruhi jaringan tubuh para penduduk yang bertempat tinggal di sekitar lokasi antena berdiri.
Program Magister Rekayasa Keselamatan Industri 11
IV.
PERCOBAAN DAN PENGUKURAN
Peralatan yang digunakan :
• Komputer
• Detektor (RFD,SSD, Geiger Muller)
• Preamplifier dan amplifier Detektor
• Konektor
Skema sistem pengukuran dapat dilihat pada Gambar 2.
RFD PREAMP PREAMP INTERFACE ADC 12 BIT PC DATA STORAGE MONITOR PRINTER OPERATOR SSD BTS
BLOK DIAGRAM SISTEM PENGUKURAN
PENGUAT INSTRUMENTASI PENGUAT INSTRUMENTASI DETEKTOR DETEKTOR
Program Magister Rekayasa Keselamatan Industri 12
Percobaan dilakukan untuk menentukan paparan radiasi pada level permukaan. Semakin besar penguatan akan meningkatkan efisiensi detektor.
Percobaan I . Menentukan nilai referensi awal instrumen pengukur. Detektor : RDF, SSD, Geiger Muller Jarak dari tower : 0m
Penguatan : 1x,100x Waktu sampling : 2 menit
Percobaan III . Menentukan tingkat level ground detektor RFD Jarak dari tower : 0m
Penguatan : 10x,20x,30x,50x,100X Waktu sampling : 2 menit
Percobaan III. Menentukan tingkat level ground detektor SSD Jarak dari tower : 0m
Penguatan : 10x,20x,30x,50x,100X Waktu sampling : 2 menit
Percobaan IV. Menentukan besar ionisasi pada daerah sekitar BTS dengan Geiger Muller.
Jarak dari tower : 0m – 50m
Program Magister Rekayasa Keselamatan Industri 13
V.
HASIL PENGUKURAN
A.
Hasil Pengukuran dengan Detektor GM-SSD-RFD
Dari pengukuran didapatkan tegangan reff awal instrumen sebesar 0,0195v untuk SSD maupun RFD. SSD dengan penguatan 100x diberi sumber Cs-137 pada jarak 0cm memberikan tegangan keluaran 0,0439v – 0,0195v = 0,0244v. Cacah latar untuk Detektor Geiger Muller sebesar 30 Cpm (Count per Minute). Hasil pengukuran setelah diberi sumber radiasi berupa kaos petromak sebesar 500Cpm. (Kaos petromak mengandung Thorium yang memancarkan radiasi pengion).
1. Dari hasil pengukuran didapatkan tegangan puncak tertinggi :
Detektor RFD : penguatan 10x = 0,0244 - 0,0195 = 0,00491v penguatan 20x = 0,0268 - 0,0195 = 0,00730v penguatan 30x = 0,0390 - 0,0195 = 0,0195v penguatan 50x = 0,0586 - 0,0195 = 0,0391v penguatan 100x = 0.0781 - 0,0195 = 0,0586v Detektor SSD : penguatan 10x = 0,0195v - 0,0195v = 0 v penguatan 20x = 0,0195v - 0,0195v = 0 v penguatan 30x = 0,0195v - 0,0195v = 0 v penguatan 50x = 0,0195v - 0,0195v = 0 v penguatan 100x = 0,0195v - 0,0195v = 0 v
Program Magister Rekayasa Keselamatan Industri 14
2. Dari hasil pengukuran menggunakan Geiger Muller dengan daerah pengukuran radius 0-50 m dari pusat BTS ditemukan cacah sebesar 30Cpm, atau sama dengan cacah latar. Sehingga dapat dipastikan bahwa tidak terjadi proses ionisasi akibat aktivitas BTS.
B.Hasil Perhitungan Dosis Teoritis
Hasil perhitungan dosis yang diterima penduduk terdekat dengan BTS dapat dilihat pada Tabel 1. Dari hasil perhitungan tampak bahwa dosis tertinggi adalah sekitar 0.0018 mW/cm2 , semakin jauh dari BTS semakin mengecil secara signifikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dari hasil perhitungan jelas bahwa dosis yang diterima penduduk sekitar BTS Widuran Solo, jauh di bawah ketentuan Internasional yakni antara 0.5 hingga 1 mW/cm2 7).
TABEL 1. Hasil perhitungan dosis teoritis yang diterima penduduk terdekat :
PERHITUNGAN DOSIS
Power Lossing Real Power Panjang Jarak mW/cm2
50 5 39.71641174 40 30 0.000351029 50 5 39.71641174 40 30 0.000351029 50 5 39.71641174 40 30 0.000351029 35 3 28.73119956 40 30 0.000253937 35 3 28.73119956 40 30 0.000253937 35 3 28.73119956 40 30 0.000253937 Total Dosis 0.001814899
Program Magister Rekayasa Keselamatan Industri 15
C. Hasil Pengukuran Langsung
Dengan menggunakan detektor RFD yang dilengkapi dengan instrumen penguat awal dan Unit Penguat Instrumentasi, serta memanfaatkan ADC 12bit yang dikemas dalam interface untuk Komputer yang berbasis Pentium 4, diperoleh hasil analisis komputasi sebesar : 0.00126 mW/cm2. Hasil ini menunjukkan kondisi nyata dari paparan antena BTS Widuran Solo. Hasil ini menunjukkan bahwa aktifitas antena GSM/DCS pada kondisi memenuhi persyaratan internasional yakni berada di bawah batas yang ditentukan untuk keselamatan dan kesehatan lingkungan yakni sebesar 0.5 hingga 1 mW/cm2. Dibandingkan dengan hasil perhitungan, hasil pengukuran langsung ini menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan. Bahkan lebih kecil dari hasil perhitungan (teoritis) 6).
Karakter RFD yang digunakan dapat dilihat dari Tabel 2.
Tabel 2. Spesifikasi Teknis RFD
Resistansi Pasif 30.0 Ohm Induktansi Pasif 250.0 mH Impedansi Aktif 142.0x 105 Ohm
Efisiensi 52.0 x 106
Program Magister Rekayasa Keselamatan Industri 16
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
1. Perkembangan dunia komunikasi seluler saat ini sangat maju dan manfaatnya sangat dirasakan oleh masyarakat banyak. Dibangunnya BTS-BTS di berbagai daerah menimbulkan rasa cemas penduduk di sekitar BTS akibat banyaknya rumor yang berkembang bahwa radiasi gelombang elektromagnetik yang dipancarkan antena GSM/DCS dapat membahayakan kesehatan manusia terutama penduduk di sekitar BTS.
2. Telah dilakukan penyusunan teori dan pengukuran radiasi pada area sekitar antena BTS untuk mengkonfirmasi ada tidaknya bahaya radiasi bagi penduduk sekitar. Pada penelitian ini menggunakan 3 (tiga) jenis sensor/detektor, yakni: Detektor Geiger Muller, Single Surface Detektor, dan Radio Frekuensi Detektor.
3. Dari hasil pengukuran dan perhitungan diperoleh konfirmasi yang menunjukkan bahwa tidak terjadinya radiasi pengion akibat dari aktifitas antena GSM/DCS di sekitar BTS. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa pancaran radiasi elektromagnetik yang diterima secara rata-rata di bawah antena adalah 0.00126 miliwatt/cm2, berarti masih di bawah hasil perhitungan teoritis yakni 0.00181 miliwatt/cm2 . Dosis tersebut berada jauh di bawah batas ketentuan internasional tentang radiasi non pengion, yakni 0.5 hingga 1 miliwatt/cm2.
Program Magister Rekayasa Keselamatan Industri 17
4. Dengan menggunakan detektor Geiger Muller ternyata tidak terjadi peningkatan cacah back-ground (dibanding dengan back-ground ditempat netral) yakni sebesar 30 cacah per menit. Sehingga bisa dipastikan tidak terjadi proses ionisasi akibat aktivitas antena GSM/DCS di daerah di dekat antena.
5. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa pancaran antena GSM/DCS yang berada pada BTS Widuran Solo tidak membahayakan bagi kesehatan penduduk disekitar antena. Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai acuan dan masukan bagi para peneliti tentang bahaya radiasi dan bagi para praktisi di bidang komunikasi.
B. SARAN
Kecemasan yang berkembang di masyarakat tentang bahaya radiasi pemancar GSM/DCS adalah akibat dari pemberitaan yang salah dan tidak didasarkan atas penelitian yang benar. Untuk itu perlu segera disebar luaskan tentang kenyataan yang sebenarnya dengan dasar-dasar ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan.
Perlunya diadakan penelitian lebih lanjut tentang dampak sosial atas munculnya teknologi selular di Indonesia beserta aspek-aspek ekonominya disaat ini agar masyarakat dapat memanfaatkan kehadiran dan menerima kehadiran teknologi selular beserta aspek sosial-ekonomisnya.
Peneliti masih akan terus melakukan pengukuran dan meningkatkan model evaluasinya di masa yang akan datang, untuk bisa lebih memberikan keyakinan pada masyarakat untuk menerima kehadiran BTS-BTS dilingkungan meraka tanpa rasa cemas.
Program Magister Rekayasa Keselamatan Industri 18
Daftar Pustaka
1. Shepherd, C. 2003, “Cellular Phones & Human Health” Aldes Briefing Paper 2. World Health Organisation (WHO) fact sheets on Electromagnetic Fields and
Public Health. http://www.who.int/peh-emf/publications/facts-press/fact_english.htm
3. Jordan, C, Edward and Balman, G, Keith. 1968, “Electromagnetic Waves and Radiation Systems” Prentice-Hall, Inc, Engliwood Clieffs, New Jersey. 4. William H Hayt, JK. 1981, “Engineering Electromagnetics”, McGraw-Hill,
ISBN 0-07-027395-2
5. Ma, T. P. and Dressendorfer, P. V., 1989, “Ionizing Radiation Effects in MOS Devices and Circuits”, John Wiley and Sons, Ins., New York.
6. Knoll, F, Glennn. 1979, “Radiation Detection and Measurement”, John Wiley & Sons, New York Chichester Brisbane Toronto.
7. Rubinstein. 1981, “ Simulation and The Monte Carlo Method”, John Wiley & Sons, New York Chichester Brisbane Toronto.
8. Chang, C.Y. and Sze, S.M. 1996, “ULSI Technology”, McGraw-Hill International Editions.
9. Webster, G, John. 1978, “Medical Instrumentasion : Application and Design” Houghton Mifflin Company, Boston
10. Sunarno, 1995, “Studies on Soft Error on Memory ICs Induced by Fusion Neutrons”, Dissertation, Osaka University.
11. Sunarno, 1996, “Derau Pada IC Memori Akibat radiasi Neutron Hasil reaksi Fusi”, Media Teknik, UGM, Nov. No. ISSN 0216-3012, 80-83.
Program Magister Rekayasa Keselamatan Industri 19
LAMPIRAN
INFORMASI UMUM
I.1. Judul :
Studi Pengukuran Radiasi Gelombang Elektromagnetik di
Sekitar Antena GSM / DCS
I.2. Ketua Peneliti
Nama : Ir. Sunarno, M.Eng., Ph.D Bidang Keahlian : Efek Radiasi
Jabatan : Ketua Program Magister Rekayasa Keselamatan Industri Unit Kerja : Jurusan Teknik Fisika
Alamat surat : Jurusan Teknik Fisika
Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada Jl. Grafika 2, Yogyakarta 55281
Telepon : (0274)-580882, 902120 HP: 0815 685 2056 Faksimili : (0274)-902210
E-mail : [email protected]
I.3. Anggota Peneliti :
No Nama dan Gelar
Akademik
Bidang Keahlian
Instansi Alokasi Waktu
(jam/minggu) Bulan
1 Purwadi, ST. Elektronika CITS PAU UGM 30 1
2 D. Arie Hartanto Programmer Jurusan Teknik
Nuklir FT-UGM 30 1
3 Bertha Aditiya Pengukuran
Radiasi
Jurusan Teknik
Nuklir FT-UGM 30 1
4. Angga Programer CITS-UGM 30 1
5. Tim Telemetri & Instr. Hardware Jurusan Teknik
Fisika FT-UGM 30 1
6. Heru Luthfi Listianto,SE Administrasi Jurusan Teknik
Program Magister Rekayasa Keselamatan Industri 20
I.4. Subyek Penelitian : Pengukuran besarnya radiasi dan perhitungan
efeknya pada manusia yang tinggal di sekitar antena GSM / DCS.
Material yang diteliti : Daya pancar radiasi pengion antena GSM / DCS Aspek penelitian : Menentukan metoda pengukuran dan teknik
perhitungannya, serta perkiraan bahaya radiasi bagi tubuh manusia.
I.5. Periode Pelaksanaan Penelitian
Pelaksanaan penelitian dimulai Juli 2003 dan berlangsung selama ± 5 minggu. I.6. Lokasi Penelitian : Lokasi antena GSM / DCS yang ditentukan sebagai sample
penelitian. BTS Widuran Solo, Jawa Tengah
I.7. Hasil yang ditargetkan : Besaran radiasi pada lingkungan Antena, analisis perkiraan efeknya pada jaringan tubuh penduduk yang bertempat tinggal di sekitar antena.
3. TUJUAN KHUSUS
• Meneliti perkiraan besaran radiasi pengion yang berasal dari sumber pemancar GSM / DCS yang diterima.
• Mempelajari efek gangguan gelombang elektromagnetik terhadap jaringan tubuh penduduk di sekitar antena pemancar GSM / DCS.
Program Magister Rekayasa Keselamatan Industri 21
2.
BIOGRAFI
4.1. Ir. Sunarno, M.Eng., Ph.D Solo, 24 November 1955 4.2. Pendidikan
Universitas dan Lokasi Gelar Thn. Selesai Bidang Studi
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Ir. 1984 Teknik Nuklir
Osaka University, Jepang M.Eng 1990 Elektronika Nuklir
Osaka University, Jepang Ph.D 1995 Elektronika Nuklir
4.3. Pengalaman Kerja dalam Penelitian dan Pengamalan Profesional serta kedudukan saat ini
Institusi Jabatan Periode Bekerja
Program Magister MRKI UGM
Ketua Program 2002-Sekarang
CITS-PAU UGM Wakil Direktur Bidang Elektronika
1997-sekarang
Pusat Studi Energi-UGM Staff Ahli 1997~sekarang
UGM Peneliti Utama 2001
RUT Peneliti utama 1997-1999
UGM Peneliti Utama 1999
Japan Aero Space Tecn. Assosiation
Member 1990-1995
Japan Nuclear Eng. Association
Member 1990-1995
4.4. Publikasi
1. “Studies on Soft Error on Memory ICs Induced by Fusion Neutrons”, Dissertation, Osaka University, 1995
2. “Soft-Error on Memory ICs Induced by D-T Neutrons”, Journal of Nuclear Science and Technology, Vol.30, No.2, pp 107-115, February 1993
3. “Derau Pada IC Memori Akibat radiasi Neutron Hasil reaksi Fusi, Media Teknik”, UGM, Nov. No. ISSN 0216-3012, 80-83. 1996.
4. “Sistem Pemantauan Jarak Jauh Arus Lalu Lintas Kendaraan Menggunakan Sistem Pancar Multivariable”, Seminar FT-UGM, no.11, 2002.
Program Magister Rekayasa Keselamatan Industri 22
]
Program Magister Rekayasa Keselamatan Industri
Fakultas Teknik-Universitas Gadjah Mada Yogyakarta