• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN TUGAS KHUSUS.pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN TUGAS KHUSUS.pdf"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

PT. Lotte Chemical Titan Nusantara merupakan penghasil polietilen dengan jenis High Density Polyethylene (HDPE) dan Linear Low Density Polyethylen (LLDPE). Reaksi pembuatan polietilen ini adalah reaksi polimerisasi adisi yang bersifat eksotermis. Di PT. Lotte Chemical Titan Nusantara, proses pembuatan polietilen pada Train 2 terdiri dari lima unit. Unit yang pertama yaitu unit persiapan bahan baku. Unit ini berfungsi untuk mempersiapkan bahan baku agar siap untuk diproses menjadi polietilen. Unit yang kedua yaitu unit prepolimerisasi. Unit prepolimerisasi merupakan unit pembuatan powder prepolimer aktif dalam suatu reaktor tangki berpengaduk dengan menggunakan katalis chromium. Unit yang ketiga yaitu unit polimerisasi. Pada unit polimerisasi ini terjadi reaksi antara prepolimer aktif, ethylene, hydrogen dan penambahan co-monomer (butene-1) yang berbentuk gas, yang terjadi di dalam fluidized bed reactor. Unit yang keempat yaitu unit additive dan pelletizing. Unit ini berfungsi untuk merubah polietilen powder menjadi bentuk pellet dengan penambahan additive. Sedangkan yang terakhir yaitu unit bagging dimana produk dikemas untuk dipasarkan.

Proses polimerisasi terjadi pada suhu 80° C dan tekanan 20 barg di

dalam fluidized bed reactor (2-R-400). Untuk mencapai kondisi optimum pada reaktor dilengkapi dengan peralatan pendukung, antara lain dua buah heat exchanger. Heat Exchanger yang digunakan yaitu primary gas cooler (2-E-400) dengan jenis shell and tube.

Proses fluidisasi di dalam reaktor dijaga oleh fluidized gas compressor (2-C-400) dengan cara gas proses diinjeksikan melalui fluidisasi grid pada dasar reaktor. Komposisi komponen gas yang masuk ke dalam reaktor dikontrol secara hati-hati. Komposisi gas tersebut terdiri dari etilen, 1-butene,

(2)

hidrogen, dan nitrogen.

Gas proses yang terakumulasi di bagian atas reaktor masuk kedalam overhead cyclon (2-S-400 A/B), dimana fines prepolimer powder dipisahkan dari gas proses dan dikembalikan ke dalam reaktor dengan gas proses dari discharge compressor (2-C-400). Fines polimer powder tersebut dimasukkan kembali ke dalam reaktor melalui fines recycle ejector (2-J-400 A/B). Gas yang keluar dari bagian atas cyclone kemudian didinginkan didalam primary gas cooler (2–E-400) dengan menggunakan cooling water.

Untuk mengetahui kelayakan operasinya, heat exchanger harus senantiasa dievaluasi. Evaluasi ini dapat dilakukan dengan menghitung nilai Dirt Factor (Rd) dan efisiensi (η) dari primary gas cooler (2-E-400).

B. Perumusan Masalah

Mengetahui kelayakan operasi primary gas cooler (2-E-400) dengan mengevaluasi kinerjanya.

C. Tujuan

Tujuan dari tugas khusus ini adalah mengevaluasi kinerja primary gas cooler (2-E-400) dengan menghitung nilai Dirt Factor (Rd) dan efisiensi (η).

D. Manfaat

Hasil dari evaluasi kinerja primary gas cooler (2-E-400) dengan menghitung nilai Dirt Factor (Rd) dan efisiensi (η) ini diharapkan dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam usaha untuk mengoptimalkan kinerja dari gas cooler di PT. Lotte Chemical Titan Nusantara.

(3)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Alat Penukar Panas (Heat Exchanger)

Dalam suatu alat penukar panas, perpindahan panas terjadi baik secara konduksi, konveksi, maupun secara radiasi. Perpindahan panas jenis mana yang paling berpengaruh tergantung pada keadaan sistem yang ditinjau. Dalam alat penukar panas, perpindahan panas secara radiasi dapat diabaikan (kecuali dalam boiler, furnace, dan alat lain yang berhubungan dengan temperatur tinggi).

Perpindahan panas dalam suatu alat pemindah panas tergantung pada: 1. Perbedaan temperatur (T)

Semakin besar beda temperatur antara dua benda atau tempat semakin besar pula jumlah energi panas yang akan dipindahkan.

2. Konduktivitas panas (k)

Setiap bahan memiliki harga k tertentu, semakin besar harga k (logam >> kayu) semakin besar pula energi panas yang dikeluarkan. 3. Luas perpindahan panas (A)

Semakin besar nilai A, semakin besar juga energi panas yang dipindahkan.

4. Laju alir fluida

Semakin tinggi laju alir maka besar juga energi panas yang dipindahkan. Selain mempengaruhi perpindahan panas, laju alir juga mempengaruhi faktor pergerakan (Fouling factor), semakin tinggi laju alir, semakin rendah terbentuknya kerak atau endapan pada dinding alat. Laju alir juga mempengaruhi pressure drop (P), semakin tinggi laju alir, maka pressure dropnya semakin tinggi juga.

(4)

B. Jenis Alat Penukar Panas (Heat Exchanger)

Secara umum, dalam industri, dikenal dua jenis alat pemindah panas yaitu: a. Alat pemindah secara langsung.

b. Alat pemindah tidak langsung.

Dalam alat pemindah panas secara langsung, fluida panas dan dingin dicampurkan secara bersama – sama, sehingga diperoleh temperatur yang dikehendaki, misalnya pada cooling tower dan kolom distilasi. Dalam alat jenis ini selalu terjadi peristiwa perpindahan massa dan perpindahan panas.

Dalam alat pemindah panas secara tidak langsung, antara fluida panas dan dingin dibatasi oleh suatu dinding pemisah. Alat ini terdiri dari dua ruangan atau saluran, satu untuk aliran panas dan yang lain untuk aliran dingin. Energi panas dipindahkan dari aliran panas ke aliran dingin melalui dinding pemisah.

Berdasarkan kebutuhan alat pemindah panas, secara tidak langsung dapat dikelompokkan sebagai berikut:

a. Heat exchanger

Heat exchanger di mana terjadi pertukaran energi panas antara dua aliran proses, dengan tujuan utama untuk memanfaatkan energi panas yang dikandung dalam aliran proses dengan T lebih tinggi.

b. Cooler (pendingin)

Di mana digunakan media pendingin air atau udara untuk mendinginkan suatu aliran proses, karena energi panasnya tidak dapat dimanfaatkan aliran proses lainnya.

c. Condenser (pengembun)

Alat pendingin yang berfungsi untuk mengambil panas laten maupun panas sensible suatu aliran proses, sehingga terjadi perubahan fasa dari uap menjadi cairan di bawah titik didihnya.

(5)

d. Reboiler

Digunakan untuk memberikan energi panas dalam suatu proses destilasi atau fraksionasi, untuk maksud tersebut dapat digunakan suatu media pemanas, misalnya: uap air, minyak panas, dan atau aliran proses. e. Furnace

Digunakan untuk memindahkan panas (hasil pembakaran suatu bahan bakar) ke aliran proses.

f. Evaporator

Digunakan untuk memekatkan suatu larutan dengan cara menguapkan airnya.

g. Vaporizer

Digunakan untuk memekatkan cairan selain dari air.

Adapun jenis dari alat penukar kalor (heat exchanger) yang sangat dikenal dan sering digunakan adalah sebagai berikut:

a. Shell and Tube Heat Exchanger

Jenis alat penukar panas (heat exchanger) ini yang paling banyak digunakan di industri. Di dalam alat penukar kalor itu, koefisien perpindahan kalor shell dan koefisien tube sama – sama penting, dan keduanya harus cukup besar agar koefisien menyeluruh yang memuaskan dapat tercapai. Kecepatan dan keturbulenan zat cair shell juga tidak kalah pentingnya dari kecepatan dan keturbulenan zat cair tube. Untuk meningkatkan aliran silang dan menaikkan kecepatan rata – rata fluida pada shell maka dipasang sekat – sekat.

Alat penukar panas jenis shell and tube lebih banyak digunakan, dibandingkan alat penukar panas jenis lainnya. Hal ini karena beberapa keunggulannya antara lain:

a. Mempunyai luas permukaan yang besar dengan bentuk atau volume yang kecil sehingga dapat memindahkan panas pada jumlah yang besar.

(6)

b. Dapat dibuat dengan berbagai jenis material yang disesuaikan dengan temperatur dan tekanan operasi.

c. Mudah dibersihkan dan prosedur pengoperasiannya mudah.

Gambar 2.1 Shell and Tube Heat Exchanger

Pada gambar terlihat bagan dari jenis penukar kalor ini. Seluruh alat terdiri dari seberkas pipa yang dipasang diantara plat pipa. Kadang-kadang medium yang akan didinginkan dibawa melalui pipa dan medium yang akan dipanaskan dibawa sekeliling pipa. Adakalanya hal yang sebaliknya berlaku. Pilihan ini bergantung berbagai sifat yaitu media (cair atau gas), viskositas, terdapatnya kotoran padatan, dan sebagainya.

Pola penyusunan tube dalam rumpunnya yaitu: 1. Pola segitiga (triangular pattern)

Penyusun tube dalam pola ini dapat menghasilkan luas permukaan yang terbesar (untuk suatu ukuran yang sama), akan tetapi menghasilkan kesulitan dalam membersihkan bagian luar tube.

2. Pola segiempat (square pattern)

Penyusunan tube dengan pola ini memberi kemungkinan termudah untuk membersihkan bagian luar tube.

3. Pola diagonal (diagonal square pattern)

Penyusunan sama dengan pola segiempat yang diputar 45° C.

Susunan seperti ini memberikan luas permukaan (jumlah tube) yang paling sedikit.

(7)

b. Double Pipe Heat Exchanger

Jenis alat penukar kalor (heat exchanger) ini sering digunakan untuk laju aliran kecil, karena hanya memiliki beberapa tabung saja sehingga tidak dapat menangani laju aliran yang besar. Jika menggunakan banyak penukar kalor pipa rangkap secara paralel, bobot logam yang digunakan sebagai pipa luar akan menjadi sedemikian tinggi sehingga penggunaannya tidak efektif dan efisien.

Gambar 2.2 Jenis Double Pipe Heat Exchanger c. Plate and Frame Heat Exchanger

Jenis alat penukar kalor (heat exchanger) ini sering digunakan untuk perpindahan kalor antara dua fluida pada tekanan rendah dan sedang, yaitu di bawah 20 atm. Penukar kalor jenis plate dapat bersaing dengan penukar kalor jenis shell and tube, terutama dalam situasi yang memerlukan penggunaan bahan tahan korosi. Plat – plat logam dengan permukaan bergelombang, didukung oleh suatu kerangka fluida panas lalu dialirkan melalui serangkaian plat dan terjadi perpindahan panas dengan fluida dingin yang mengalir di sebelahnya. Plat – plat itu biasanya berjarak 2,5 – 5 mm satu sama lain (PHE design).

(8)

Gambar 2.3 Jenis Plate and Frame Heat Exchanger

Keuntungan alat penukar kalor jenis plat and frame adalah koefisien perpindahan panas tinggi dengan area permukaan rendah, disain ringkas, tidak memerlukan banyak ruang, perbedaan temperatur antar cairan kecil, cepat, mudah dibersihkan, biaya – biaya investasi rendah, ketahanan terhadap korosi tinggi, dan mudah pemeliharaannya (maintenance).

C. ANALISA KINERJA ALAT PENUKAR PANAS

Untuk menganalisa kinerja suatu heat exchanger, parameter-parameter yang dipakai adalah:

1. (Tahanan Kotoran / Rd)

Tahanan kotoran adalah tahanan pada alat penukar panas untuk menahan kotoran (kerak) yang terbentuk selama alat penukar panas dioperasikan. Kotoran (kerak) yang terbentuk dapat menyebabkan koefisien perpindahan panas menjadi berkurang.

Rumus : Rd(hitung)= D C D C U . U U U  Keterangan : Rd(hitung)= dirt factor

UC= koefisien perpindahan kalor dalam keadaan bersih

(9)

Rd(ketentuan) = dirt faktor maksimum yang dihitung bila kedua

permukaan pipa tidak dibersihkan. Harga ini merupakan batas tahanan yang maksimum, dimana setelah itu kalor yang diijinkan menjadi lebih kecil dari yang dibutuhkan.

2. Efisiensi Panas (η)

Efisiensi panas adalah rasio dari kuantitas panas yang dipindahkan oleh fluida terhadap nilai kuantitas panas maksimum yang dapat dipindahkan oleh fluida tersebut. Efisiensi panas dapat didefinisikan pula sebagai panas yang termanfaatkan secara maksimum.

 Efisiensi panas berdasarkan neraca panas:

Rumus: 100%

Qshell  Qtube

 Efisiensi panas berdasarkan nilai koefisien perpindahan panas: Rumus:

Keterangan :

Ƞ = efisiensi panas

UC= koefisien perpindahan kalor dalam keadaan bersih

UD= koefisien perpindahan kalor dalam keadaan kotor

% 100 U U   C D

(10)

BAB III METODOLOGI A. Cara Memperoleh Data

Pengumpulan data-data yang diperlukan dalam perhitungan diperoleh dari Heat Exchanger Specification Data Sheet dan data desain yang diperoleh dari DCS (Distributed Control System). Data lain diperoleh dari studi literatur. Adapun untuk mengevaluasi kinerja primary gas cooler (2-E-400) dalam tugas khusus ini melalui perhitungan dirt factor (Rd) dan efisiensi panas (η).

1. Data untuk desain a. Spesifikasi Alat

Tabel 1 Spesifikasi Alat 2-E-400

Shell Side

(Cooling Water) (Gas Process)Tube Side

ID (in) 62,598 Number (buah) 2153

Baffle space (in) 18,189 Panjang Tube (ft) 22,31

OD (in) 1

%baffle cut, % 28 BWG 12

Pitch (in) 1,25

Passes 1 Passes 1

Design pressure (psi) 248,385 Design Pressure (psi) 357,135 (UBE INDUSTRIES. LTD. ” Heat Exchanger Specification Sheet ” ) Tabel 2 Data Fisik Fluida Dingin dan Fluida Panas 2-E-400 (Desain)

Fluida Dingin, Cooling Water Fluida Panas, Gas Process

W = 3.967.200 lb/jam t1= 36,15°C t2= 40,78°C W = 1.151.229 lb/jam T1= 94°C T2= 61°C

(11)

b. Pengamatan dan Pengukuran Besaran Operasi di DCS (Secara Langsung) diambil pada tanggal 12 Juli 2013

Tabel 3 Data Fisik Fluida Dingin dan Fluida Panas 2-E-400 (Aktual)

Fluida Dingin, Cooling Water Fluida Panas, Gas Process

W = 4.315.432 lb/jam t1= 36,64°C t2= 44,77°C W = 1.843.029 lb/jam T1= 106,83°C T2= 48,19°C

2. Data dari studi literature

Data lain didapat dari literatur yaitu dari buku ”Process Heat Transfer” (Donald Q.Kern) dan ”Chemical Engineering” (J. M. Coulson & J. F. Richardson).

B. Cara Mengolah Data

Tahapan perhitungan evaluasi kinerja primary gas cooler (2-E-400).

1. Menghitung physical properties fluida pada bagian shell dan tube (Cp, μ, k, s)

Untuk mengevaluasi E-400, data yang diperlukan yaitu : - Fraksi mol (y) - Kapasitas panas (Cp) - Fraksi berat (w) - Konduktivitas thermal (k) - Viskositas ( μ) - Spesifik gravity (s)

Data properti fisis fluida nonviscous (μ<1 Cp) dihitung pada suhu rata-rata fluida (Kern, 1950). Berdasarkan heat exchanger specification sheet, viskositas fluida pada E-400 dan E-401 berada di bawah 1 Cp, sehingga data properti fluida dihitung pada suhu rata-rata (Tav dan tav).

a. Perhitungan fraksi mol (yi) dan fraksi berat (wi), perhitungan fraksi mol (yi) dan fraksi berat (wi) dihitung berdasarkan % volume fluida.

 Volume fluida = % volume

(12)

 % mol (yi) = ni / Σni

 Massa = n x BM

 % massa (wi) = mi / Σmi b. Perhitungan kapasitas panas (Cp)

 Menghitung kapasitas panas komponen (Cp)

Cp komponen = (A+B.T+C.T2+D.T3)……….….(Coulson, 1999)

A,B,C, dan D diperoleh dari Appendix D, Coulson  Menghitung Cp campuran (Cp camp)

Cp camp = ya Cpa+yb Cpb + yc Cpc……….…. (Coulson, 1999) c. Perhitungan viskositas (μ)

 Viskositas (μ) tiap komponen diperoleh dari figure 15, Kern  Menghitung viskositas campuran (μcamp)

………...(Coulson, 1999) Keterangan : w1 dan w2 = Fraksi massa komponen 1 dan 2

μ1 dan μ2 = Viskositas komponen 1 dan 2 d. Perhitungan konduktivitas termal ( k )

 Konduktivitas(k) tiap komponen diperoleh dari Tabel 5, Kern  Menghitung konduktivitas termal campuran (Kcamp)

Kcanp= k1.w1 + k2.w2 ………....( Coulson, 1999)

Keterangan : w1 dan w2 = Fraksi massa komponen 1 dan 2

k1 dan k2 = konduktivitas termal komponen 1 dan 2

2. Menghitung Heat Balance (Q)

Qshell = w. CP. Δt Qtube = W.CP.ΔT ………..…………..( Kern, 1950) 2 2 1 1 1 w w mix  

(13)

3. Menghitung T LMTD

T1 Keterangan :

T2 T1 : suhu gas masuk

t2 T2 : suhu gas keluar

t1 : suhu air pendingin masuk

t1 t2 : suhu air pendingin keluar

TLMTD=

 

2 1

2 1 1 2 2 1 t T t T ln t T t T      ……….……( Kern, 1950)

4. Menghitung Temperature Kalorik ( Tc Dan tc )

Temperatur kalorik yaitu temperatur rata-rata fluida yang terlibat dalam pertukaran panas di dalam Heat Exchanger. Jika nilai viskositas kedua fluida kurang dari 1 (μ<1), maka temperatur kalorik sama dengan termperatur rata-rata (Tc = Tavg = dan tc = tavg) dan nilai Φs =1, Φt = 1.

5. Menghitung Koefisien Perpindahan Panas

Menghitung koefisien perpindahan panas pada bagian shell (ho)

1. Menghitung cross flow area pada bagian shell (as) as= Pt x 144 B x C' x ID ...………..………..…….(Kern, 1950) Keterangan :

ID = diameter bagian dalam shell C’ = clearance = PT – ODtube Pt = tube pitch

2. Shell side equivalent diameter (De) Untuk triangular pitch:

De dari figure 28...(Kern,1950) 3. Menghitung laju alir fluida dingin (Gs)

Gs =

as

(14)

Keterangan:

Gs = mass velocity fluida pada sisi bagian shell as= cross flow area pada bagian shell

4. Menghitung reynold number (Res)

………..………...(Kern, 1950) Keterangan:

Res = bilangan reynold pada bagian shell De = shell side equivalent diameter 5. Perhitungan outside film koefisien

ho = JHx s k c 3 1 De k      ...……...(Kern, 1950) Keterangan :jH diperoleh dari figure 28

Menghitung koefisien perpindahan panas bagian tube (hi dan hio)

1. Menghitung daerah aliran yang tegak lurus didalam tube (at) at = n 144 at' Nt …….………...(Kern, 1950) Keterangan :

a’t = flow area pertube, diperoleh dari tabel 10 Kern Nt = jumlah tube

n = jumlah tube passes

2. Menghitung laju alir fluida panas (Gt) Gt =

at

W ……….…..(Kern, 1950)

Keterangan:

Gt = mass velocity fluida panas 3. Menghitung reynold number (Re)

……….……..…(Kern, 1950) Keterangan :

Ret = bilangan reynold pada bagian tube

DexGs s  Re DexGt t  Re

(15)

4. Perhitungan Inside Film Coefficient (hi) dan (hio) hi = JHx t k c 3 1 D k      ...……...……(Kern, 1950) Keterangan :

jH diperoleh dari figure 28

OD ID x

hio hi ...(Kern, 1950)

6. Menghitung clean overall coefficient ( Uc)

UC=

ho hio

hio.ho

 …...……….…..( Kern, 1950)

7. Menghitung design overall coefficient (UD)

UD= LMTD T A . Q ………...……(Kern, 1950) Keterangan :

A= total surface = a” x L x N

8. Menghitung dirt factor (Rd)

Rd= D C D C U . U U U  ……….………….….(Kern, 1950)

9. Menghitung Efisiensi Panas (η)

……..…...….….(Kern, 1950) % 100 U U   C D

(16)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Perhitungan

Berikut ini merupakan tabel perbandingan data desain yang diambil dari ”Heat Exchanger Spesification Sheet” dan data aktual dari hasil perhitungan analisa primary gas cooler E-400.

Tabel 1 Hasil Perhitungan pada Primary Gas Cooler 2-E-400

Data 2-E-400 Desain Aktual

Shell Tube Shell Tube

Tin(oC) 36,15 94 36,64 106,83

Tout(oC) 40,78 61 44,77 48,19

Efisiensi Panas (%) 98,81 83,52

Rd (m2.K/W) 0,0019 0,00197

Tabel 2 Perbandingan Hasil Perhitungan menggunakan Neraca panas dengan Perhitungan menggunakan Koefisien Perpindahan panas

Data 2-E-400 Neraca Panas Koefisien Perpindahan Panas

Efisiensi Panas (%) 83,52 80,83

B. Pembahasan

Dari hasil perhitungan pada bab III didapat tabel perbandingan antara hasil perhitungan data aktual dengan data desain dan perbandingan antara perhitungan efisiensi menggunakan neraca panas dengan perhitungan menggunakan koefisien perpindahan panas. Dari tabel diatas dapat dilihat terjadi penurunan efisiensi komponen heat exchanger sebesar 15,29%. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja heat exchanger sudah mulai menurun.

(17)

Pada perhitungan efisiensi aktual, terjadi selisih antara perhitungan menggunakan neraca panas dengan perhitungan menggunakan koefisien perpindahan panas. Selisih pada perhitungan tersebut disebabkan karena pada perhitungan efisiensi menggunakan koefisien perpindahan panas (efisiensi alat), data-data yang didapat dalam perhitungan merupakan data-data pendekatan bukan merupakan data hasil pengukuran langsung atau kondisi aktual, selain itu terdapat 68 tube yang ditutup karena terjadi kebocoran sehingga efisiensi yang didapat berbeda dari efisiensi pada neraca panas yang didasarkan pada kondisi aktual. Pada perhitungan menggunakan neraca panas (efisiensi panas), perhitungan didasarkan pada kondisi aktual yaitu suhu dan laju alir fluida pada shell dan tube. Metode perhitungan efisiensi heat exchanger menggunakan neraca panas merupakan metode yang lebih efektif karena didasarkan pada kondisi aktual fluida pada shell dan tube sehingga dapat diketahui penurunan kinerja Heat Exchanger secara cepat.

Batasan dari nilai Rd min pada 2-E-400 sebesar 0,00190 m2.K/W. Dari

hasil perhitungan nilai Rd didapat nilai Rd yang meningkat dari nilai Rd desain yaitu sebesar 0,00197 (m2.K/W). Nilai Rd tersebut masih memenuhi

syarat Heat Exchanger dengan Rd aktual >> Rd min. Hal itu menunjukkan bahwa kinerja primary gas cooler (2-E-400) masih cukup baik dan alat masih dapat dibersihkan dari kerak yang terbentuk pada kedua permukaan shell dan tube.

(18)

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil perhitungan, efisiensi Primary Gas Cooler (2-E-400) ditunjukkan pada tabel berikut:

Efisiensi Desain Aktual Berdasarkan Neraca Panas Berdasarkan Koefisien Perpindahan Panas 98,81% 83,52% 80,83%

 Berdasarkan evaluasi yang dilakukan diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

Spesifikasi primary gas cooler (2-E-400) yaitu :

a. Fungsi : mendinginkan gas proses dari reaktor polimerisasi untuk diumpankan ke kompresor

b. Tipe : Shell and Tube c. Hasil analisa :

 Nilai Rd perhitungan sebesar 0,00197 m2.K/W

Nilai Rd minimum sebesar 0,00190 m2.K/W

sehingga Rd perhitungan>> Rd minimum

Hal itu menunjukkan bahwa kinerja primary gas cooler (2-E-400) masih cukup baik dan layak digunakanserta alat masih dapat dibersihkan dari kerak yang terbentuk pada kedua permukaan shell and tube.

B. Saran

(19)

boleh terlalu kecil dari Rd minimum karena hal itu menyebabkan tahanan alat tidak mampu menahan kerak yang terbentuk di dalam dinding tube. Sehingga dianjurkan Rd perancangan > Rd minimum agar tahanan alat mampu menahan kerak yang terbentuk. Usaha pembersihan Heat Exchanger harus dilakukan secara rutin agar kerak yang terbentuk tidak menumpuk terlalu banyak dan perpindahan panas dapat berjalan efektif.

Gambar

Gambar 2.1 Shell and Tube Heat Exchanger
Gambar 2.2 Jenis Double Pipe Heat Exchanger
Gambar 2.3 Jenis Plate and Frame Heat Exchanger
Tabel 1 Spesifikasi Alat 2-E-400 Shell Side
+2

Referensi

Dokumen terkait

Konsentrasi HNO 3 yang digunakan pada perlakuan awal berpengaruh terhadap luas permukaan persatuan massa, volume, diameter pori, kandungan batubara dan

Pelatihan membaca bagi guru-guru sekolah menengah pertama di Kecamatan Regol Kota Bandung ini bertujuan agar para guru memperoleh bekal pengetahuan, pengalaman,

Analisis penelitian yang digunakan adalah analisis kinerja operasional pelayanan terminal bunder berupa sarana dan prasarana serta pola pergerakan sirkulasi

Menurut Suparman (2011), sindrom pramenstruasi adalah suatu kumpulan keluhan dan atau gejala fisik, emosional, dan perilaku yang terjadi pada usia reproduksi yang

Padahal telah diketahui hal yang terpenting dalam pembelajaran seni tari bukan hanya pada hasil atau bentuk tari yang didapatkan, tetapi juga pada proses

〔商法四六一〕 株主代表訴訟において取締役および監査役の監視義 務違反の主張が認められなかった事例ヤクルト本社株主代表訴訟第二事件

Berdasarkan hal tersebut maka untuk menciptakan nilai tambah dari produksi minyak sawit perusahaan perkebunan, sudah saatnya membangun industri hilir minyak sawit yang

Dengan memperhatikan pengertian penalaran formal, maka jelas bahwa seorang siswa yang ingin berhasil dalam suatu pelajaran tertentu atau ingin memperoleh hasil