KONSEP CEMAS, STRESS DAN ADAPTASI
KONSEP CEMAS, STRESS DAN ADAPTASI
Posted on 21 April 2009 by andanersPosted on 21 April 2009 by andaners
KONSEP CEMAS, STRESS
KONSEP CEMAS, STRESS DAN ADAPTASI (Konsep Dasar Keperawatan)DAN ADAPTASI (Konsep Dasar Keperawatan)
Empat tingkatan rasa cemas/gangguan perasaan
Empat tingkatan rasa cemas/gangguan perasaan (anxiety) pada manusia(anxiety) pada manusia
1. Rasa cemas ringan
1. Rasa cemas ringan
2. Rasa cemas sedang
2. Rasa cemas sedang
3. Rasa cemas berat
3. Rasa cemas berat
4. Panik
4. Panik
Rasa cemas (anxiety) merupakan reaksi emosional t
Rasa cemas (anxiety) merupakan reaksi emosional terhadap penilaian individu yang subyekterhadap penilaian individu yang subyektif.if.
Penyebab rasa cemas dapat dikelompokkan pula menjadi tiga faktor, yaitu :
Penyebab rasa cemas dapat dikelompokkan pula menjadi tiga faktor, yaitu :
a. Faktor biologis/fisiologis, berupa ancaman akan kekurangan makanan, minuman,
a. Faktor biologis/fisiologis, berupa ancaman akan kekurangan makanan, minuman,
perlindungan dan keamanan.
perlindungan dan keamanan.
b. Faktor psikososial, yaitu ancaman terhadap konsep diri, kehilangan orang/benda yang dicintai,
b. Faktor psikososial, yaitu ancaman terhadap konsep diri, kehilangan orang/benda yang dicintai,
perubahan status
perubahan status sosial/esosial/ekonomi.konomi.
c. Faktor perkembangan, yaitu ancaman pada perkembangan masa bayi, anak, remaja.
c. Faktor perkembangan, yaitu ancaman pada perkembangan masa bayi, anak, remaja.
Gejala-gejala kecemasan
Gejala-gejala kecemasan
ditandai pada tiga aspek :
ditandai pada tiga aspek :
a. Aspek biologis/fisiologis, seperti peningkatan denyut nadi dan t
a. Aspek biologis/fisiologis, seperti peningkatan denyut nadi dan tekanan darah, tarikan nafasekanan darah, tarikan nafas
menjadi pendek dan cepat, berkeringat dingin, termasuk di telapak tangan, nafsu makan hilang,
menjadi pendek dan cepat, berkeringat dingin, termasuk di telapak tangan, nafsu makan hilang,
mual/muntah, sering buang air kecil, nyeri kepala, tak bisa tidur, mengeluh, pembesaran pupil
mual/muntah, sering buang air kecil, nyeri kepala, tak bisa tidur, mengeluh, pembesaran pupil
dan gangguan pencernaan.
dan gangguan pencernaan.
b. Aspek intelektual/kognitif; seperti ketidakmampuan berkonsentrasi, penurunan per
b. Aspek intelektual/kognitif; seperti ketidakmampuan berkonsentrasi, penurunan perhatian danhatian dan
keinginan, tidak bereaksi terhadap rangsangan lingkungan, penurunan produktivitas, pelupa,
keinginan, tidak bereaksi terhadap rangsangan lingkungan, penurunan produktivitas, pelupa,
orientasi lebih ke masa lampau daripada
orientasi lebih ke masa lampau daripada masa kini/masa depan.masa kini/masa depan.
c. Aspek emosional dan per
c. Aspek emosional dan perilaku; seperti penarikan diri, depresi, mudah tersinggung, mudahilaku; seperti penarikan diri, depresi, mudah tersinggung, mudah
menangis, mudah marah dan apatisme.
menangis, mudah marah dan apatisme.
Pembagian rasa cemas
Pembagian rasa cemas
1. Rasa cemas ringan: berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi sehari-hari.
1. Rasa cemas ringan: berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi sehari-hari.
Keadaan ini akan meningkatkan persepsi individu, yang mengakibatkan orang akan
Keadaan ini akan meningkatkan persepsi individu, yang mengakibatkan orang akan
berhati-hati/waspada dan mendorong
hati/waspada dan mendorong manusia untuk belajar serta kreatif.manusia untuk belajar serta kreatif.
2. Rasa cemas sedang: lapangan persepsi terhadap lingkungan menurun.
2. Rasa cemas sedang: lapangan persepsi terhadap lingkungan menurun.
Individu lebih memfokuskan hal yang penting saat itu saja dan mengesampingkan hal lainnya.
Individu lebih memfokuskan hal yang penting saat itu saja dan mengesampingkan hal lainnya.
3. Rasa cemas berat: lapangan
3. Rasa cemas berat: lapangan persepsi sangat menurun.persepsi sangat menurun.
Orang hanya memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal lainnya.
Orang hanya memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal lainnya.
Individu tak mampu berpikir lagi, dia suda
Individu tak mampu berpikir lagi, dia sudah harus diberi pertolongan/tuntunan.h harus diberi pertolongan/tuntunan.
4. Panik: lapangan persepsi sudah sangat
4. Panik: lapangan persepsi sudah sangat sempit. Individu tidak dapat mengendalikan dsempit. Individu tidak dapat mengendalikan diri lagi.iri lagi.
Bila manusia salah orientasi; ketika menghadapi masalah pe
Bila manusia salah orientasi; ketika menghadapi masalah pelik; rasa dan periksa tidak berfungsi;lik; rasa dan periksa tidak berfungsi;
Disebut orang sedang panik.
Disebut orang sedang panik.
STRESS ADAPTASI
STRESS ADAPTASI
STRESS
STRESS
Stress adalah suatu ketidakseimbangan diri/jiwa dan realitas kehidupan setiap hari ya
Stress adalah suatu ketidakseimbangan diri/jiwa dan realitas kehidupan setiap hari yang tidak ng tidak
dapat dihindari à perubahan yang memerlukan penyesuaian Sering dianggap sebagai kejadian
dapat dihindari à perubahan yang memerlukan penyesuaian Sering dianggap sebagai kejadian
atau perubahan negatif yang dapat menimbulkan stress, seperti cedera, sakit atau kematian orang
atau perubahan negatif yang dapat menimbulkan stress, seperti cedera, sakit atau kematian orang
yag dicintai, putus cinta Perubahan positif juga dapat menimbulkan stress, seperti naik pangkat,
yag dicintai, putus cinta Perubahan positif juga dapat menimbulkan stress, seperti naik pangkat,
perkawinan, jatuh cinta
perkawinan, jatuh cinta
JENIS STRESS JENIS STRESS Stress fisik Stress fisik Stress kimiawi Stress kimiawi Stress mikrobiologis Stress mikrobiologis Stress fisiologis Stress fisiologis
Stress proses tumbuh kembang
Stress proses tumbuh kembang
Stress psikologis atau emosional
Stress psikologis atau emosional
Pengalaman stress dapat bersumber dari :Lingkungan, D
Pengalaman stress dapat bersumber dari :Lingkungan, Diri dan tubuh Pikiraniri dan tubuh Pikiran
Reaksi Psikologis terhadap stress
Reaksi Psikologis terhadap stress
a. Kecemasan
a. Kecemasan
Respon yang paling umum Merupakan tanda bahaya yang menyatakan diri dengan suatu
Respon yang paling umum Merupakan tanda bahaya yang menyatakan diri dengan suatu
penghayatan yang khas, yang sukar digambarkan Adalah emosi yang tidak menyenangkan à
istilah ³kuatir,´ ³tegang,´ ³prihatin,´ ³takut´fisik à jantung berdebar, keluar keringat dingin, mulut kering, tekanan darah tinggi dan susah tidur
b. Kemarahan dan agresi Adalah perasaan jengkel sebagai respon terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman.Merupakan reaksi u mum lain terhadap situasi stress yang mungkin dapat menyebabkan agresi, Agresi ialah kemarahan yang meluap-luap, dan orang melakukan serangan secara kasar dengan jalan yang tidak wajar.Kadang-kadang disertai perilaku kegilaan, tindak sadis dan usaha membunuh orang
c. Depresi Keadaan yang ditandai dengan hilangnya gairah dan semangat. Terkadang disertai rasa sedih
RESPON FISIOLOGI TERHADAP STRESS
Hans Selye (1946,1976) telah melakukan riset terhadap 2 respon fisiologis tubuh terhadap stress : Local Adaptation Syndrome (LAS) dan General Adaptation Syndrome (GAS).
1. Local Adaptation Syndrom (LAS)
Tubuh menghasilkan banyak respons setempat terhadap stress. Respon setempat ini termasuk pembekuan darah dan penyembuhan luka, akomodasi mata terhadap cahaya, dll. Responnya berjangka pendek.
Karakteristik dari LAS :
1. respon yang terjadi hanya setempat dan tidak melibatkan semua system 2. respon bersifat adaptif; diperlukan stressor untuk menstimulasikannya. 3. respon bersifat jangka pendek dan tidak terus menerus.
4. respon bersifat restorative.
Mungkin anda bertanya, ³ apa saja yang termasuk ke dalam LAS ?´. sebenarnya respon LAS ini banyak kita temui dalam kehidupa n kita sehari ± hari seperti yang diuraikan dibawah ini :
a. Respon inflamasi
respon ini distimulasi oleh adanya trauma dan infeksi. Respon ini memusatkan diri hanya pada area tubuh yang trauma sehingga penyebaran inflamasi dapat dihambat dan proses penyembuhan dapat berlangsung cepat. Respon inflamasi dibagi kedalam 3 fase :
fase pertama :
adanya perubahan sel dan system sirkulasi, dimulai dengan penyempitan pembuluh darah ditempat cedera dan secara bersamaan t eraktifasinya kini,histamin, sel darah putih. Kinin berperan dalam memperbaiki permeabilitas kapiler sehingga prot ein, leucosit dan cairan yang
lain dapat masuk ketempat yang cedera tersebut. Fase kedua :
pelepasan eksudat. Eksudat adalah kombinasi cairan dan sel yang telah mati dan bahan lain yang dihasilkan ditempat cedera.
Fase ketiga :
Regenerasi jaringan dan terbentuknya jaringan parut. b. Respon refleks nyeri
respon ini merupakan respon adapt if yang bertujuanmelindungi tubuh dari kerusakan lebih lanjut. Misalnya mengangkat kaki ketika bersentuhan dengan benda tajam.
Bagaimana dengan GAS. Gas merupakan respon fisiologis dari seluruh tubuh terhadap stres. Respon yang terlibat didalamanya ada lah sistem saraf otonom dan sistem endokrin. Di beberapa buku teks GAS sering disamakan dengan Sistem Neuroendokrin.
2. General Adaptation Syndrom (GAS) a. Fase Alarm ( Waspada)
Melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh dan pikiran untuk menghadapi stressor. Reaksi psikologis ³fight or flight´ dan reaksi fisiologis. Tanda fisik : curah jantung meningkat, peredaran darah cepat, darah di perifer dan gastrointestinal mengalir ke kepala dan ekstremitas. Banyak organ tubuh terpengaruh, ge jala stress memengaruhi denyut nadi,
ketegangan otot dan daya tahan tubuh menurun
Fase alarem melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh seperti pengaktifan hormon yang berakibat meningkatnya volume darah dan akhirnya menyiapkan individu untuk bereaksi. Hormon lainnya dilepas untuk meningkatkan kadar gula darah yang bertujuan untuk
menyiapkan energi untuk keperluan adaptasi, teraktifasinya epineprin dan norepineprin mengakibatkan denyut jantung meningkat dan peningkatan aliran darah ke otot. Peningkatan ambilan O2 dan meningkatnya kewaspadaan mental.
Aktifitas hormonal yang luas ini menyiapkan individu untuk melakukan ³ respons melawan atau menghindar ³. Respon ini bisa berlangsung dari menit sampai jam. Bila stresor masih menetap maka individu akan masuk ke dalam fase resistensi.
b. Fase Resistance (Melawan)
Individu mencoba berbagai macam mekanisme penanggulangan psikologis dan pemecahan masalah serta mengatur strategi. Tubuh berusaha menye imbangkan kondisi fisiologis
sebelumnya kepada keadaan normal dan tubuh mencoba mengatasi faktor-faktor penyebab stress. Bila teratasi à gejala stress menurun àtau normal
tubuh kembali stabil, termasuk hormon, denyut jantung, tekanan darah, cardiac out put. Individu tersebut berupaya beradaptasi terhadap stressor, jika ini berhasil tubuh akan memperbaiki sel ± sel yang rusak. Bila gagal maka individu tersebut akan jatuh pada tahapa terakhir dari GAS yaitu : Fase kehabisan tenaga.
c. Fase Exhaustion (Kelelahan)
Merupakan fase perpanjangan stress yang belum d apat tertanggulangi pada fase sebelumnya. Energi penyesuaian terkuras. Timbul gejala penye suaian diri terhadap lingkungan seperti sakit kepala, gangguan mental, penyakit arteri koroner, dll. Bila usaha melawan tidak dapat lagi diusahakan, maka kelelahan dapat mengakibatkan kematian.
Tahap ini cadangan energi telah menipis atau habis, akibatnya tubuh tidak mampu lagi
menghadapi stres. Ketidak mampuan tubuh untuk mepertahankan diri terhadap stressor inilah yang akan berdampak pada kematian individu tersbut.
KONSEP ADAPTASI
Faktor penting yang mempengaruhi tingkah laku manusia :
1. Kebutuhan
Kebutuhan badaniah Kebutuhan psikologis 2. Dorongan
Menjamin agar manusia berusaha memenuhi kebutuhannya.
Stress terjadi jika orang dihadapkan dengan peristiwa yang dirasakan sebagai menganca m fisik atau psikologisnya
Peristiwanya di sebut stressor
Reaksi orang terhadap peristiwa tersebut dinamakan respon stress
Adaptasi adalah proses dimana dimensi fisiologis dan psikososial berubah dalam berespon terhadap stress. Karena banyak stressor tidak dapat dihindari, pro mosi kesehatan sering difokuskan pada adaptasi individu, keluarga atau komunitas terhadap stress.
Ada banyak bentuk adaptasi. Adaptasi fisiologis memungkinkan homeostasis fisiologis. Namun demikian mungkin terjadi proses yang serupa dalam dimensi psikososial dan dimensi lainnya. Suatu proses adaptif terjadi ketika stimulus dari lingkungan internal dan eksternal menyebabkan penyimpangan keseimbangan organisme. Dengan demikian adaptasi adalah suatu upaya untuk
mempertahankan fungsi yang optimal. Adaptasi melibatkan refleks, mekanisme otomatis untuk perlindungan, mekanisme koping dan idealnya dapat mengarah pada penyesuaian atau
penguasaan situasi (Selye, 1976, ; Monsen, Floyd dan Brookman, 1992).
Stresor yang menstimulasi adaptasi mungkin berjangka pendek, seperti demam atau berjangka panjang seperti paralysis dari anggota gerak tubuh. Agar dapat berfungsi optimal, seseorang
harus mampu berespons terhadap stressor dan beradaptasi terhadap tuntutan atau perubahan yang dibutuhkan. Adaptasi membutuhkan respons akt if dari seluruh individu.
DIMENSI ADAPTASI
Stres dapat mempengaruhi dimensi fisik, perkembangan, e mosional, intelektual, sosial dan spiritual. Sumber adaptif terdapat dalam setiap dimensi ini. Oleh karena nya, ketika mengkaji adaptasi klienterhadap stress, perawat harus mempertimbangkan individu secara menyeluruh. ADAPTASI FISIOLOGIS
Indikator fisiologis dari stress adalah objektif, lebih mudah diidentifikasi dan secara u mum dapat diamati atau diukur. Namun demikian, indicator ini tidak selalu teramati sepanjang waktu pada semua klien yang mengalami stress, dan indicator tersebut bervariasi menurut individunya. Tanda vital biasanya meningkat dan klien mungkin tampak gelisah dan tidak mampu untuk beristirahat aberkonsentrasi. Indikator ini dapat timbul sepanjang tahap stress.
Durasi dan intensitas dari gejala secara langsung berka itan dengan durasi dan intensitas stressor yang diterima. Indikator fisiologis timbul dari berbagai sistem. Oleh karenanya pe ngkajian
tentang stress mencakup pengumpulan data dari semua sistem.Hubungan antara stress psikologik dan penyakit sering disebut interaksi pikiran tubuh. Riset telah menunjukkan bahwa stress dapat mempengaruhi penyakit dan pola penyakit. Pada masa lampau,penyakit infeksi adalah penyebab kematian paling utama, tetapi sejak ditemukan antibiotic, kondisi kehidupan yang meningkat, pengetahuan tentang nutrisi yang meningkat, dan metode sanitasi yang lebih baik telah
menurunkan angka kematian. Sekarang penyebab utama kematian adalah penyakit yang mencakup stressor gaya hidup.
Indikator fisiologis stress 1. Kenaikan tekanan darah
2. Peningkatan ketegangan di leher, bahu, punggung. 3. Peningkatan denyut nadi dan frekwensi pernapasan 4. Telapak tangan berkeringat Tangan dan kaki dingin 5. Postur tubuh yang tidak tegap
6. Keletihan 7. Sakit kepala
8. Gangguan lambung
9. Suara yang bernada tinggi 10. Mual,muntah dan diare. 11. Perubahan nafsu makan 12. Perubahan berat badan
13. Perubahan frekwensi berkemih 14. Dilatasi pupil
15. Gelisah, kesulitan untuk tidur atau sering terbangun saat tidur ADAPTASI PSIKOLOGIS
Emosi kadang dikaji secara langsung atau tidak langsung dengan mengamati perilaku klien. Stress mempengaruhi kesejahteraan emosional dalam berbagai cara. Karena kepribadian individual mencakup hubungan yang kompleks di antara banyak faktor, maka reaksi terhadap stress yang berkepanjangan ditetapkan dengan memeriksa gaya hidup dan stresor klien yang terakhir, pengalaman terdahulu dengan stressor, mekanisme koping yang berhasil di masa lalu, fungsi peran, konsep diri dan ketabahan yang merupakan ko mbinasi dari tiga karakteristik kepribadian yang di duga menjadi media terhadap stress. Ketiga karakteristik ini adalah rasa kontrol terhadap peristiwa kehidupan, komitmen terhadap aktivitas yang berhasil, dan antisipasi dari tantangan sebagai suatu kesempatan untuk pertumbuhan (Wiebe dan Williams, 1992 ; Tarstasky, 1993).
Indikator emosional / psikologi dan perilaku stress :
¾
Ansietas¾
Depresi¾
Kepenatan¾
Peningkatan penggunaan bahan kimia¾
Perubahan dalam kebiasaan makan, tidur, dan pola aktivitas.¾
Kelelahan mental¾
Perasaan tidak adekuat¾
Kehilangan harga diri¾
Peningkatan kepekaan¾
Kehilangan motivasi.¾
Ledakan emosional dan menangis.¾
Penurunan produktivitas dan kualitas kinerja peker jaan.¾
Kecendrungan untuk membuat kesalahan (mis. buruknya penilaian).¾
Mudah lupa dan pikiran buntu¾
Kehilangan perhatian terhadap hal-hal yang rinci.¾
Preokupasi (mis. mimpi siang hari )¾
Ketidakmampuan berkonsentrasi pada tugas.¾
Peningkatan ketidakhadiran dan penyakit¾
Letargi¾
Kehilangan minat¾
Rentan terhadap kecelakaan.ADAPTASI PERKEMBANGAN
Stres yang berkepanjangan dapat mempengaruhi kemampuan untuk menyelesaikan tugas perkembangan. Pada setiap tahap perkembangan, seseorang biasanya menghadapi tugas
perkembangan dan menunjukkan karakteristik perilaku dari tahap perkembangan tersebut. Stress yang berkepanjangan dapat mengganggu atau menghambat kelancaran menyelesaikan tahap perkembangan tersebut. Dalam bentuk yang ekstrem, stress yang berkepanjangan dapat
mengarah pada krisis pendewasaan.Bayi atau anak kecil umumnya menghadapi stressor di rumah . Jika diasuh dalam lingkungan yang responsive dan empati, mereka mampu mengembangkan harga diri yang sehat dan pada akhirnya belajar respons ko ping adaptif yang sehat (Haber et al, 1992).
Anak-anak usia sekolah biasanya mengembangkan rasa kecukupan. Mereka mulai mnyedari bahwa akumulasi pengetahuan dan penguasaan keterampilan dapat membantu mereka mencapai
tujuan , dan harga diri berkembang melalui hubungan berteman dan saling berbagi di antara teman. Pada tahap ini, stress ditunjukkan oleh ketidakmampuann atau ketidakinginan untuk mengembangkan hubungan berteman.Remaja biasanya mengembangkan rasa identitas yang kuat
tetapi pada waktu yang bersamaan perlu diterima oleh teman sebaya. Remaja dengan sistem pendukung sosial yang kuat menunjukkan suatu peningkatan kemampuan untuk menyesuaikan
diri terhadap stressor, tetapi remaja tanpa sistem pendukung sosial sering menunjukkan peningkatan masalah psikososial (Dubos, 1992).
Dewasa muda berada dalam transisi dari pengalaman masa remaja ke tanggung jawab orang dewasa. Konflik dapat berkembang antara tanggung jawab pekerjaan dan keluarga. Stresor mencakup konflik antara harapan dan realitas.
MANAJEMEN STRESS
Manajemen stress kemungkinan melihat promosi kesehatan sebagai akt ivitas atau intervasi atau mengubah pertukaran rrespon terhadap penyakit. Fokusnya tergantung pada tujuan dari
intervensi keperawatan berdasarkan keperluan pasien. Perawat bertanggung jawab pada implemenetasi pemikiran yang dikeluarkan pada beberapa daerah perawatan.
MANAJEMEN STRESS UNTUK KLIEN ²REGULER EXERCISE
²DIET DAN NUTRISI ²SUPPORT SISTEM ²TIME MANAGEMENT ²HUMOR ²ISTIRAHAT ²TEHNIK RELAKSASI ²SPIRITUALITAS
Cara Penyesuaian Diri
Bila seseorang mengalami stress maka segera ada usaha u ntuk mengatasinya. Hal ini dikenal sebagai Homeostasis yaitu usaha organisme yang terus menerus melakukan pertahanan agar keadaan keseimbangan selalu tercapa i. Stress dapat terjadi pada bidang badaniah ( stress fisik atau somatik ).
Misalnya : bila terjadi infeksi atau penyakit, menggerakkan mekanisme penyesuaian somatik, terjadi reaksi :
Pembentukan zat anti kuman, zat anti racun
Mobilisasi leukosit ke tempat-tempat invasi kuman
Lebih banyak melepaskan kortisol, adrenalin dan sebagainya Usaha tubuh untuk mencapai keseimbangan kembali
Berorientasi pada tugas : Bertujuan menghadapi stressor secara sadar, realistik, objektif, rasional Pembelaan ego
Melindungi individu dari kecemasan
Meringankan penderitaan bila mengalami suatu kegagalan Menjaga harga diri
Misalnya : seseorang yang menghadapi kegagalan è kemungkinan bereaksi :
penyesuaian diri berupa serangan (bekerja lebih keras) atau menghadapi secara terang-terangan menarik diri dan tidak mau tau lagi (tidak berusaha)
kompromi atau mengurangi keinginannya lalu memilih jalan tengah Reaksi tersebut menunjukkan langkah-langkah :
a.Mempelajari dan menentukan persoalan b.Menyusun alternatif penyelesaian
c.Menentukan tindakan yang mempunyai kemungkinan besar akan berhasil d.Bertindak
e.Menilai hasil tindakan dan dapat mengambil langkah yang lain bila kurang memuaskan Mekanisme Pembelaan EGO
Bila digunakan terus menerus akibatnya ego bukannya mendapat perlindungan, melainkan lama kelamaan akan mendapat ancaman/bencana. Oleh karena mekanisme ini Tidak realistik
Mengandung banyak unsur penipuan diri sendiri Distorsi realitas pemutarbalikan realitas) Mekanisme Pembelaan EGO
1.IDENTIFIKASI
Ingin menyamai seorang figur yang diidealkan, dimana salah satu ciri atau segi tertentu dari figure itu ditransfer pada dirinya. Dengan demikian ia merasa harga dirinya bertambah tinggi.
Contoh : Teguh, 15 tahun mengubah model rambutnya menirukan artis idolanya yang ia kagumi. 2. INTROJEKSI
Merupakan bentuk sederhana dar i identifikasi, dimana nilai-nilai, norma-norma dari luar diikuti atau ditaati, sehingga ego tidak lagi terganggu oleh ancaman dari luar. Contoh : Rasa benci atau kecewa terhadap kematian orang yang dicintai dialihkan dengan cara menyalahkan diri sendiri. 3. PROJEKSI
Hal ini berlawanan dengan introjeksi, dimana menyalahkan orang lain atas kelalaian dan
kesalahan-kesalahan atau kekurangan diri sendiri, keinginan keinginan, impuls-impuls sendiri. Contoh : Seorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia mempunyai perasaan seksual
terhadap rekan sekerjanya, berbalik menuduh bahwa temannya tersebut mencoba merayunya 4. REPRESI
Penyingkiran unsur psikik (sesuatu afek, pemikiran, motif, konflik) sehingga menjadi nirsadar dilupakan/tidak dapat diingat lagi). Represi membantu individu mengontrol impuls-impuls berbahaya.Contoh :Suatu pengalaman traumatis menjadi terlupakan
5. REGRESI
Kembali ke tingkat perkembangan terdahulu (tingkah laku yang bersifat primitif).
Contoh : Seorang anak yang mulai berkelakuan seperti bayi, ketika seorang adiknya dilahirkan. Esvi yang berumur 4 tahun mulai mengompol lagi sejak adiknya yang baru lahir dibawa pulang dari rumah sakit
6. REACTION FORMATION
Bertingkah laku berlebihan yang langsung bertentangan dengan keinginan-keinginan, perasaan yang sebenarnya. Mudah dikenal karena sifatnya ekstrim dan sukar d iterima.
Misalnya :
Seorang wanita yang tertarik pada teman suaminya, akan memperlakukan orang tersebut dengan kasar.
7. UNDOING
Meniadakan pikiran-pikiran, impuls yang tidak baik, seolah-olah menghapus suatu kesalahan. Misalnya :
Seorang ibu yang menyesal karena telah memukul anaknya akan segera memperlakukannya penuh dengan kasih sayang
8. DISPLACEMENT
Mengalihkan emosi, arti simbolik, fantasi dari sumber yang sebenarnya ( benda, orang, keadaan) kepada orang lain, benda atau keadaan lain.
Misalnya :
Seorang pemuda bertengkar dengan pacarnya dan sepulangnya ke rumah marah-marah pada adik-adiknya
9. SUBLIMASI
Mengganti keinginan atau tujuan yang terhambat dengan cara yang dapat diterima oleh
masyarakat. Impuls yang berasal dari Id yang sukar disalurkan oleh karena mengganggu individu atau masyarakat, oleh karena itu impuls harus dirubah bentuknya sehingga tidak merugikan
individu/masyarakat sekaligus mendapatkan pemuasan Misalnya :
Impuls agresif disalurkan ke olah raga, usaha-usaha yang bermanfaat 10. ACTING OUT
Langsung mencetuskan perasaan bila keinginan terhalang. Misalnya :
Mengatasi problem dengan jalan paling sedikit bertengkar 11. DENIAL
Menolak untuk menerima atau menghadapi kenyataan yang tidak enak. Misalnya :
Seorang gadis yang telah putus dengan pacarnya, menghindarkan diri dari pembicaraan mengenai pacar, perkawinan atau kebahagiaan
12. KOMPENSASI
Menutupi kelemahan dengan menonjolkan kemampuannya atau kelebihannya. Misalnya :
Saddam yang merasa fisiknya pendek sebagai sesuatu yang negatif, berusaha dalam hal menonjolkan prestasi pendidikannya
13. RASIONALISASI
Memberi keterangan bahwa sikap/tingkah lakunya menurut alasan yang seolah-olah rasional, sehingga tidak menjatuhkan harga dirinya.
Misalnya :
Munawir yang menyalahkan cara mengajar dosennya ketika ditanyakan oleh orang tuanya mengapa nilai semesternya buruk.
14. FIKSASI
pikiran, dsb) sehingga perkembangan selanjutnya terhambat. Misalnya :
Seorang gadis yang tetap berbicara kekanak-kanakan atau seseorang yang tidak dapat mandiri dan selalu mengharapkan bantuan dari orang tuanya dan orang lain.
15. SIMBOLISASI
Menggunakan benda atau tingkah laku sebagai simbol pengganti suatu keadaan atau hal yang sebenarnya
Misalnya :
Seorang anak remaja selalu mencuci tangan untuk menghilangkan
kegelisahannya/kecemasannya. Setelah ditelusuri, ternyata ia pernah melakukan masturbasi sehingga perasaan berdosa/cemas dan merasa kotor
16. DISOSIASI
Pemisahan suatu kelompok proses mental atau perilaku dari kesadaran /identitasnya. Keadaan dimana terdapat dua atau lebih kepribadian pada diri seorang individu.
Misalnya :
Seorang laki-laki yang dibawa ke ruang emergensi karena mengamuk ternyata tidak mampu menjelaskan kembali kejadian tersebut (ia lupa sama sekali)
17. KONVERSI
Adalah transformasi konflik emosional ke dalam bentuk ge jala-gejala jasmani. Misalnya :
Seorang mahasiswa yang tidak mengerjakan tugas-tugasnya tiba-tiba merasa sakit sehingga tidak masuk kuliah
KONSEP CEMAS
I. Pengertian
A. Cemas adalah perasaan tidak pasti/tidak menentu terhadap malapetaka atau ketakutan yang akan terjadi yang muncul tanpa alasan yang jelas.
B. Keadaan emosi yang tidak memiliki objek yang spesifik
C. Kondisi yang dialami secara subjektif & diskomunikasikan dalam hubungan Interpersonal D. Merupakan penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya.
II. Tingkatan Cemas A. Cemas ringan
Terjadi dari hari ke hari dalam kehidupan. berhubungan dengan ketegangan dalam kekehidupan sehari-hari & menyebabkan seseorang waspada meningkatkan lahan persepsinya. Cemas dapat mem otivasi belajar & menghasilkan pertumbuhan & kreativitas
B. Cemas Sedang
Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting & mengesampingkan yg lain. Sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih rendah
C. Cemas Berat
Mengurangi lahan persepsi seseorang. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Memerlukan banyak pengarahan.
D. Panik
Berhubungan dengan kehilangan kontrol, ketakutan & terror, Karena kehilangan ke ndali orang yang mengalami panik tidak mampu melakukan wal aupun dengan pengarahan, panic memperlihatkan disorganisasi kepribadian. Dgn panik terjadi peningkatan aktivitas motorik, m enurunnya kemampuan untuk berhubungan dgn orang lain, persepsi yang menyimpang & kehilangan pemikiran yang rasional. III. Karakteristik Cemas
A. Cemas Ringan Agak tidak nyaman Gelisah
Insomnia ringan
Peka
Pengulangan pertanyaan Perilaku kewaspadaan
Peningkatan persepsi & masalah pemecahan masalah. B. Cemas Sedang
Perkembangan dari cemas ringan Perhatian terpilih pada lingkungan
Konsentrasi hanya pada tugas-tugas individu Ketidaknyamanan subjektif sedang
Peningkatan jumlah waktu yang digunakan pada situasi masalah Suara bergetar
Perubahan dalam nada suara Tachipnoe
Tachicardia Gemetaran
Peningkatan ketegangan otot
Menggigir kuku, memukul-mukul jari,mengetukkan jari kaki, menggoyang C. Cemas Berat
Perasaan terancam
Ketegangan otot berlebihan Diaphoresis Perubahan pernafasan : Nafas panjang Hyperventilasi Dispnea Pusing
Perubahan Gastro Intestinal - Mual, muntah
- Rasa terbakab pada ulu hati - Sendawa
- Anoreksia
- Diare atau konstipasi
Perubahan Kardio Vaskuler - Tachicardia
- Palpitasi
- Rasa tdk nyaman pada precordia - Ketidakmampuan untuk belajar Rasa terisolasi
- Kesulitan atau ketidaktepatan pengungkapan - Aktivitas yang tidak berguna
- Bermusuhan D. Panik
Hyperaktifitas atau mobilitas berat Rasa terisolasi yang ekstrim
Kehilangan identitas, desintegrasi kepribadian Sangat goncang dan otot tegang
Ketidakmampuan untuk berkomunikasi dengan kalimat yang lengkap
Distorsi, persepsi dan penilaian yang tidak realitas terhadap lingkungan dan ancaman. Perilaku kacau dalam usaha melarikan diri
Menyerang
IV. Fokus pengkajian pada Klien Cemas A. Panik Palpitasi jantung Mulut kering Sulit bernafas Nausea Perspiration meningkat
Tremors
Nadi meningkat
Tekanan darah meningkat Menangis
Sulit untuk tidur Sulit untuk makan B. Respon Psychologic Ekspresi sedih Rasa takut Marah
Tidak percaya terhadap orang lain Rasa tidak berdaya
Tidak punya harapan
Ketidakmampuan memperhatikan Perubahan Sexual
C. Respon Sosial
Menarik diri dari interaksi dgn orang lain Rasa bermusuhan terhadap orang lain Berpakaian tidak sesuai
Perubahan komunikasi
V. Rencana Keperawatan & Tujuan Tujuan
Menurunkan tingkat cemas secara verbal dan menggunakan support sistem.
Meningkatkan coping efektif melalui keterampilan pemecahan masalah & teknik menurunkan cemas Meningkatkan rasa nyaman
Tindakan
Kaji status fisik, status sensory & status kognitif.
Kaji latarbelakang budaya yang terdiri dari keyakinan tentang perawatan kesehatan pembatasan diet, dan bahasa.
Kaji pengalaman masa lalu tentang pelayanan kesehatan Kaji perhatian dan stressor
Kaji jumlah dan support sistem yang tersedia Sediakan informasi mengenai lingkungan sekitar :
o Seluruh petugas kesehatan baik nama atau pun tugasnya. o Rutinitas dan kebijaksanaan
o Peralatan yang tersedia & cara penggunaannya.
Merumuskan bersama tujuan & rencana yang akan dilakukan . Sediakan informasi mengenai prosedur yang akan dilakukan
Gunakan bahasa verbal & non verbal sebagai alat komunikasi untuk memahami klien secara empaty Latih klien untuk menggunakan koping yang efektif.
Ajarkan klien teknik/managemen menurunkan cemas
KONSEP CEMAS
Dr. Suparyanto, M.Kes
KONSEP KECEMASAN
y Kecemasan adalah perasaan yang dialami ketika seseorang terlalu mengkhawatirkan kemungkinan peristiwa yang menakutkan yang terjadi dimasa depan yang tidak bisa dikendalikan dan jika itu terjadi akan dinilai sebagai mengerikan( Sivalitar, 2007 ).
y Kecemasan adalah sesuatu yang menimpa hampuir setiap orang pada waktu tertentu dalam kehidupannya. Kecemasan meruakan suatu reaksi normal ter hadap situasi yang sangat menekan kehidupan seseorang, dan karena itu berlangsung tidak lama. Kecemasan bisa muncul sendiri atau bergabung gejala- gejala lain dari berbagai gangguan emosi. ( Savitri, 2003 )
y Kecemasan merupakan suatu tanda bahaya yang membuat orang yang bersangkutan waspada dan bersiap diri melakukan upaya untuk mengatasi ancaman yang bersifat internal tidak jelas dan konfliktual.(Kartijo, 2002)
y Kecemasan adalah perasaan yang tidak jelas tentang kepribadian dan khawatir karena ancaman pada sistem nilai atau pola keamanan seseorang (Carpenito, 2000).
y Kecemasan adalah sebab dari resepsi dimana terdapat konflik emosional antara id dan super ego (Freund, 2002).
PENYEBAB KECEMASAN
a Faktor predisposisi
1). Teori Psikoanalitik
y Menurut Freud, struktur kepribadian terdiri dari tiga elemen yaitu id, ego, dan super ego. Id melambangkan dorongan insting dan impuls primitif, super ego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang, sedangkan ego digambarkan sebagai mediator antara tuntutan dari id dan super ego. Kecemasan merupakan konflik emosional antara id dan super ego yang berfungsi untuk memperingatkan ego tentang suatu bahaya yang perlu diatasi.
2). Teori Interpersonal
y Kecemasan terjadi dari ketakutan akan penolakan interpersonal, hal ini juga dihubungkan dengan trauma pada masa pertumbuhan seperti kehilangan, perpisahan yang menyebabkan seseorang menjadi tidak berhahaya. Individu yang mempunyai harga diri rendah biasanya sangat mudah untuk mengalami kecemasan
3). Teori Perilaku
y Kecemasan merupakan hasil frustasi dari segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan para ahli perilaku menganggap kecemasan merupakan suatu dorongan yang dipelajari berdasarkan dorongan, keinginan untuk menghindarkan rasa sakit. Teori ini meyakini bahwa manusia yang pada awal kehidupanya dihadapkan pada rasa takut yang berlebihan akan menunjukkan kemungkinan kecemasan yang berat pada kehidupan yang berat dan pada kehidupan masa dewasanya
4). Teori Biologis
y Menurut Selye, otak mengandung reseptor khusus untuk benzo diazepine reseptor ini membantu mengatur kecemasan Penghambat asam amino butirikgamma neuro regulator juga mungkin memainkan peran utama dalam mekanisme biologis berhubungan dengan kecemasan sebagai halnya dengan endokrin. Kecemasan mungkin disertai dengan gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kapasitas seseorang untuk mengatasi reseptor.
y Menurut W. B. Cannon sentrum-sentrum dalam otak yang diduga mempunyai pengaruh penting dalam masalah emosi adalah hipotalamus retikuler aktivasi sistem (RAS) dan sistem limbik. Fungsi dari sisteni aktivasi retikuler adalah untuk mempersiapkan areal-areal dalam otak untuk rangsangan yang akan datang. Sistem limbik adalah bagian dari otak yaitu viceral brain (otak dalam) yang merupakan kesatuan integritas dan menerima impuls dari organ tubuh. Impuls dan viceral dapat sampai ke korteks melalui sistem limbik. Salah satu aspek yang penting dalam penyaluran impuls adalah zat-zat Catecholamines Neurotransmitter tidak secara homogen tersebar di seluruh otak akan tetapi berkonsentrasi di bagi an-bagian otak tertentu.
y Dari penyelidikan-penyelidikan telah dibuktikan bahwa kemampuan untuk mengalami suatu emosi tidak hanya tergantung dari kadar adrenalin yang meningkat tetapi jenis emosi yang dialami dan diperhatikan tergantung, dari faktor-faktor dan stimulus dalam lingkungan.
y Bila pada seseorang terdapat kadar neurotransmitter meningkat, dia akan merasakan suatu emosi (menangis, tertawa, takut. dan cernas) dibuktikan juga bahwa kesehatan umum seseorang dapat sebagai predisposisi kecemasan-kecemasan yang disertai dengan gangguan fisik dan selanjutnya mcnurunkan kapasitas seseorang untuk me ngatasi stressor.
b. Faktor Presipitasi
1). Ancaman Integritas Diri
y Meliputi ketidakmampuan fisiologis atau gangguan terhadap kebutuhan dasar. Hal ini dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal meliputi infeksi virus dan bakteri, polusi lingkungan, sampah. rumah dan makanan juga pakaian dan trauma fisik. Faktor internal meliputi kegagalan mekanisme fisiologi seperti sistem kekebalan, pengaturan suhu dan jantung, serta perubahan biologis.
2). Ancaman Sistem Diri
y Meliputi ancaman terhadap identitas diri, harga diri dan hubungan interpersonal, kehilangan serta perubahan status atau peran. Faktor eksternal yang mempengaruhi harga diri adalah kehilangan, dilematik, tekanan dalam kelompok sosial maupun budaya.
3). Faktor Lain Menurut Model Integritas
1. Perbedaan dipengaruhi kecemasan sehingga untuk menyelamatkan dari stimulus yang mengancam adalah dengan cara menghindar.
2. Indivi du lahir mempunyai sistem saraf otonom yang lebih peka terhadap ancaman atau stressor.
3. Masa anak-anak dan dewasa dalam belajar mencari pengalaman mungkin dengan menentukan tingkat kecemasan dan situasi yang pada dasarnya akan menimbulkan kecemasan.
4. Ketidakmampuan mengatasi situasi berbaya dengan adaptif bisa menimbulkan kecenderungan untuk berespon terhadap kecemasan.
5. Fungsi kognitif dapat berkesinambungan yang berfokus pada kecemasan sehingga fungsi tersebut mempunyai antisipasi untuk menahan stimulus yang me nimbulkan kecemasan.
6. Seseorang mungkin lebih mudah terancam rasa amannya terutama trauma intelegensi dan mawas diri.
TINGKAT KECEMASAN
y Menurut Stuart and Sundeen, 1991, tinngkat kecemasan dibagi empat, yaitu : 1). Kecemasan Ringan
y Berhuhungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari menyebabkan seseorang jadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. Kecemasan dapat memotivasi belajar serta menghasilkan kreativitas.
2). Kecemasan Sedang
y Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal penting dan mengesampingkan yang lain, sehingg seseorang mengalami perhatian selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah
3). Kecemasan Berat
y Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Seseorang cenderung untuk memusatkan sesuatu yang terinci dan spesifik serta tidak dapat berpikir tentang hal lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada orang lain.
4). Panik
y Berhubungan dengan ketakutan dan teror, karena mengalami kehilangan kendali Orang yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan . Panik melibatkan disorganisasi keprihadian, peningkatan aktivitas motorik, menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi menyimpang dan kehilangan pemikiran yang rasional. Tingkat kecemasan tidak sebagian sejalan dengan kehidupan dan jika berlangsung terus dalam waktu yang lama dapat terjadi kelelahan.
KARAKTERISTIK TINGKAT KECEMASAN
1). Kecemasan Ringan
y Fisik: Sesekali nafas pendek, nadi dan tekanan darah meningkat, gejala ringan berkeringat.
y Kognitif : Lapang persepsi meluas, mampu menerima rangsang kompleks, konsentrasi pada masalah, menyelesaikan masalah aktual.
y Perilaku dan emosi: Tidak dapat duduk dengan tenang, tremor halus pada tangan, suara kadang-kadang meninggi
2). Kecemasan Sedang
y Fisik: Sering nafas pendek, nadi ekstra sistole, tekanan darah meningkat. Mulut kering, anoreksia, diare atau kontipasi,gelisah
y Kognitif : Lapang persepsi meningkat, tidak mampu menerima rangsang lagi, berfokus pada apa yang menjadi perhatianya
y Perilaku dan emosi: Gerakan ntersentak-sentak, meremas tangan,bicara lebih banyak dan cepat,susah tidur dan perasaan tidak aman
3). Kecemasan Berat
y Fisik: Nafas pendek nadi dan tekanan darah meningkat, berkeringat dan sakit kepala, penglihatan kabur dan ketegangan.
y Kognitif : Lapang persepsi sangat sempit dan tidak mampu menyelesaikan masalah. y Perilaku dan emosi: Perasaan ancaman meningkat, verbalisasi cepat.
4). Kecemasan Panik
y Fisik: Nafas pendek. rasa tercekik dan palpitasi sakit dada, pucat, hipotensi, koordinasi motorik rendah.
y Kognitif : Lapangpersepsi sangat menyempit tidak dapat berpikir logis.
y Perilaku dan emosi: Agitasi, mengamuk, marah ketakutan, berteriak, blocking, kehilangan kontrol diri, persepsi datar.
y Ukuran skala kecemasan rentang respon kecemasan dapat ditentukan dengan gejala yang ada dengan menggunakan Hamilton anxietas rating scale (Stuart & Sundeen,1991) dengan skala HARS terdiri dari 14 Komponen yaitu :
1. Perasaan Cemas meliputi Cemas, takut, mudah tersinggung dan firasat buruk
2. Ketegangan meliputi lesu, tidur tidak tenang, gemetar, gelisah, mudah terkejut dan mudah menangis
3. Ketakutan meliputi akan gelap, ditinggal sendiri, orang asing, binatang besar, keramaian lalulintas, kerumunan orang banyak
4. Gangguan Tidur meliputi sukar tidur, terbangun malam hari, tidak puas, bangun lesu, sering mimpi buruk, dan mimpi menakutkan
5. Gangguan kecerdasan meliputi daya ingat buruk
6. Perasaan depresi meliputi kehilangan minat , sedih, bangun dini hari, berkurangnya kesenangan pada hobi, perasaan berubah ubah sepanjang hari
7. Gejala somatic meliputi nyeri otot kaki, kedutan otot, gigi gemertak, suara tidak stabil
8. Gejala Sensorik meliputi tinnitus, penglihatan kabur, muka merah dan pucat, merasa lemas, perasaan di tusuk tusuk
9. Gejala kardiovakuler meliputi tachicardi , berdebar debar, nyeri dada, denyut nadi mengeras, rasa lemas seperti mau pingsan, detak jantung hilang sekejap
10. Gejala Pernapasan meliputi rasa tertekan di dada, perasaan tercekik, merasa napas pendek atau sesak, sering menarik napas panjang
11. Gejala Saluran Pencernaan makanan meliputi sulit menelan, mual, muntah, enek, konstipasi, perut melilit, defekasi lembek, gangguan pemcernaan, nyeri lambung sebelum dan sesudah makan, rasa panas di perut, berat badan menurun, perut terasa panas atau kembung
12. Gejala Urogenital meliputi sering kencing, tidak dapat menahan kencing
13. Gejala Vegetatif atau Otonom meliputi mulut kering, muka kering, mudah berkeringat , sering pusing atau sakit kepala, bulu roma berdiri
14. Perilaku sewaktu wawancara meliputi gelisah, tidak tenang, jari gemetar, mengerutkan dahi atau kening, muka tegang, tonus otot meningkat, napas pendek dan cepat, muka merah
Adapun cara penilaiannya adalah dengan sistem scoring yaitu : y Nilai 0 = Tidak ada gejala
y Nilai 1 = Gejala Ringan (Satu gejala dari pilihan yang ada) y Nilai 2 = Gejala Sedang (separo dari gejala yang ada) y Nilai 3 = Gejala Berat (Lebih dari separo gejala yang ada) y Nilai 4 = Gejala Berat Sekali (Semua gejala ada)
Bila :
y Skor kurang dari 14 = Tidak ada kecemasan y Skor 14 - 20 = Kecemasan ringan
y Skor 21 27 = Kecemasan sedang y Skor 28 41 = Kecemasan berat
y Skor 42 56 = Kecemasan berat sekali
MEKANISME KOPING
y Ketika mengalami kecemasan individu menggunakan bermacam-macam mekanisme koping untuk mencoba mengatasinya dalam bentuk ringan, mekanisme koping, dapat diatasi dengan menangis. tidur. tertawa, olah raga, melamun, dan merokok. Namun bila bentuknya lebih berat seperti panik, ketidakmampuan mengatasi kecemasan secara konstruktif merupakan awal penyebab perilaku patologis yang mengancam ego dimana individu menggunakan energi yang lebih besar untuk mengatasi ancaman tersebut.
y Mekanisme koping seseorang yang dig unakan untuk mengatasi kecemasan ringan biasanya akan digunakan juga apabila mengalami kecemasan yang lebih berat. Kecemasan sedang dan berat dapat menimbulkan mekanisme koping sebagai beri kut :
y Pemecahan masalah secara sadar yang berorientasi terhadap tindakan untuk memenuhi tuntutan dari situasi stres secara realistik, dapat berupa konstruktif atau destruktif :
1. Perilaku menyerang (agresif), biasanya untuk menghilangkan atau mengatasi rintangan untuk memuaskan kebutuhan.
2. Perilaku menarik diri digunakan untuk menghilangkan sumber-sumber ancaman baik secara fisik maupun psikologis.
3. Perilaku kompromi digunakan untuk merubah cara melakukan, merubah tujuan atau memuaskan aspek kebutuhan pribadi seseorang.
2). Mekanisme Pertahanan Ego
y Membantu seseorang; untuk mengatasi kecemasan ringan dan sedang yang digunakan untuk melindungi diri dan dilakukan secara tidak sadar untuk memper tahankan keseimbangan.
FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KECEMASAN
y Tidak semua kecemasan dapat dikatakan bersifat patologis ada juga kecemasan yang bersifat normal Dibawah ini adalah faktor- faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan menurut Adikusumo (2003) dari berbagai sumber :
1. Faktor Internal
a. Usia
y Permintaan bantuan dari sekeliling menurun dengan bertambahnya usia, pertolongan diminta bila ada kebutuhan akan kenyamanan, reasurance dan nasehat- nasehat.
b. Pengalaman
y Individu yang mempunyai modal kemampuan pengalaman menghadapi stres dan punya cara menghadapinya akan cenderung lebih menganggap stres yang bertapun sebagai masalah yang bisa diseleseikan. Tiap pengalaman merupakan sesuatu yang berharga dan belajar dari pengalaman dapat meningkatkan ketrampilan menghadapi stres.
c. Aset Fisik
y Orang dengan aset fisik yang besar, kuat dan garang akan menggunakan aset ini untuk menghalau stres yang datang mengganggu.
2. Faktor Eksternal
a. Pengetahuan
y Seseorang yang mempunyai ilmu pengtahuan dan kemampuan intelektual akan dapat meningkatkan kemampuan dan rasa percaya diri dalam menghadapi stres mengikuti berbagai kegiatan untuk meningkatkan kemampuan diri akan banyak menolong individu tersebut.
b. Pendidikan
y Peningkatan pendidikan dapat pula mengurangi rasa tidak mampu untuk menghadapi stres. Semakin tinggi pendidikan seseorang akan mudah dan semakin mampu menghadapi stres yang ada.
y Aset berupa harta yang melimpah tidak akan menyebabkan individu tersebut mengalami stres berupa kekacauan finansial, bila hal ini terjadi dibandingkan orang lain yang aset finasialnya terbatas.
d. Keluarga
y Lingkungan kecil dimulai dari lingkungan keluarga, peran pasangan dalam hal ini sangat berarti dalam memberi dukungan. Istri dan anak yang penuh pengertian serta dapat mengimbangi kesulitan yang dihadapi suami akan dapat me mberikan bumper kepada kondisi stres suaminya. e. Obat
y Dalam bidang Psikiatri dikenala obata- obatan yang tergolong dalam kelompok anti ansietas. Obat- obat ini mempunyai kasiat mengatasi ansietas sehingga penderitanya cukup tenang. f. Sosial Budaya Suport.
y Dukungan sosial dan sumber- sumber masyarakat serta lingkungan sekitar individu akan sangat membantu seseorang dalam menghadapi stresor, pemecahan asalah bersama- sama dan tukar pendapat dengan orang disekitarnya akan membuat situasi individu lebih siap menghadapi stres yang akan datang.