1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Bertambahnya jumlah penduduk yang kian meningkatdi Kecamatan Gondomanan menyebabkankebutuhan masyarakat kian meningkat untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Selain itu,faktor aksesibilitas dan utilitas yang baik, yang terdapat di Kecamatan Gondomanan juga mendorong kegiatan ekonomi wilayah tersebut,sehingga diperlukan kawasan perdagangan yang sesuai dan strategis.Kawasan perdagangan merupakan suatu area yang digunakan untuk kegiatan jual beli yang diperlukan dalam suatu wilayah.
Kecamatan Gondomanan ini merupakan salahsatu kecamatan di wilayah Kota Yogyakarta yang potensial untuk dijadikan kawasan perdagangan. Lokasinya yang sebagian termasuk ke dalam kawasan Malioboro merupakan salahsatu tujuan utama wisatawan lokal dan interlokal menjadikan kawasan ini semakin maju dalam bidang perdagangannya. Kecamatan Gondomanan mempunyai obyek wisata seperti Pasar Beringharjo, Istana Kepresidenan Yogyakarta, Museum Benteng Vredeburg, Taman Pintar Yogyakarta ataupun sarana prasarana kota lainnya, yang menjadikan kecamatan ini potensial untuk kawasanperdagangan.
Kecamatan Gondomanan memiliki peluang yang lebih besar untuk dikembangkan menjadi kawasan perdagangan karena terletak di pusat Kota Yogyakarta. Dengan menggunakan Penginderaan jauh memungkinkan perolehan data dengan lebih cepat dan lebih mudah untuk pemilihan kawasan perdagangan daripada cara terestrial dan dengan ketelitian yang dapat diterima (Sutanto, 1986). Penggunaan penginderaan jauh sangat membantu dalam hal ini untuk efisiensi waktu dan biaya.
Sistem Informasi Geografi (SIG) mempunyai kemampuan untuk menghasilkan informasi baru dengan cepat dan mudah, di samping itu SIG merupakan suatu sistem yang memuat data dengan rujukan spasial, yang dapat
2 dianalisis dan dikonversi menjadi informasi untuk keperluan tertentu. Kunci kemampuan suatu Sistem Informasi Geografi adalah adalah analisis data untuk menghasilkan informasi baru.
Dengan menggabungkan kedua teknologi tersebut yaitu penginderaan jauh dan sistem informasi geografi merupakan perpaduan yang lebih mudah untuk perolehan data spasial secara digital dan dapat menyajikan informasi dalam penentuan prioritas kawasan perdagangan di Kecamatan Gondomanan Kota Yogyakarta.
1.2 Perumusan Masalah
Berbagai macam masalah yang timbul di lingkungan masyarakat salahsatunya yaitu adalah masalah perdagangan dan seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat dalam bidang perdagangan mendorong terbentuknya suatu kawasan perdagangan. Dengan menggunakan parameter yakni penggunaan lahan, aksesibilitas positif, aksesibilitas negatif, tingkat kepadatan penduduk, tingkat harga lahan, dan tingkat sarana pendidikan, dapat menjawab :
1. Bagaimanakan peran Sistem Informasi Geografi dan Penginderaan Jauh dalam menentukan kawasan perdagangan?
2. Kelurahan manakah yang memiliki potensi paling besar untuk dijadikan kawasan perdagangan?
Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis bertujuan untuk mengadakan penelitian dengan judul “APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFI UNTUK PEMETAAN PRIORITAS KAWASAN PERDAGANGAN KECAMATAN GONDOMANAN KOTA YOGYAKARTA”.
1.3 Tujuan
1. Mengetahui peran Sistem Informasi Geografi dan Penginderaan Jauh dalam menentukan kawasan perdagangan.
3 2. Mengetahui kelurahan yang memiliki potensi paling besar untuk dijadikan
kawasan perdagangan di Kecamatan Gondomanan.
3. Membuat peta prioritas kawasan perdagangan di Kecamatan Gondomanan menggunakan citra Quickbird dan Sistem Informasi Geografis.
1.4 Kegunaan Penelitian
1. Menambah pengetahuan mengenai pemanfaatan teknik penyadapan data citra Quickbird dengan penginderaan jauh dan sistem informasi geografis untuk penentuan prioritas kawasan perdagangan.
2. Sebagai persyaratan kelulusan dalam menyelesaikan Program Diploma Penginderaan Jauh Dan Sistem Informasi Geografi Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada.
3. Dapat menjadi pedoman dan bahan referensi untuk penelitian selanjutnya.
1.5 Tinjauan Pustaka 1.5.1 Perdagangan
Perdagangan adalah tatanan kegiatan yang terkait dengan transaksi barang dan atau jasa di dalam negeri dan melampaui batas wilayah negara dengan tujuan pengalihan hak atas barang dan atau jasa untuk memperoleh imbalan atau kompensasi. (UU No.7 Tahun 2014 Tentang Perdagangan)
Pemilihan lokasi perdagangan berpengaruh terhadap pemasaran karena tiap-tiap lokasi memiliki daya tarik yang berbeda-beda dalam menarik konsumen. Lokasi di pinggir jalan utama merupakan tempat yang sering diorientasikan bagi para pedagang karena mudah untuk melakukan bongkar muat barang. Jalan- jalan pada pusat keramaian merupakan tempat terbuka sehingga mudah diketahui konsumen dan menarik bagi konsumen (Abidin, 1989)
4 Secara garis besar ilmu ekonomi dapat dipisahkan menjadi dua yaitu ilmu ekonomi mikro dan ilmu ekonomi makro. Dibawah ini Perbedaan dari Ekonomi Mikro dan ekonomi Makro.
1. Ekonomi Makro
Ilmu ekonomi makro mempelajari variabel-variabel ekonomi secara agregat (keseluruhan). Variabel-variabel tersebut antara lain: pendapatan nasional, kesempatan kerja dan atau pengangguran, jumlah uang beredar, laju inflasi, pertumbuhan ekonomi, maupun neraca pembayaran internasional. 2. Ekonomi Mikro
Ilmu ekonomi mikro mempelajari variabel-variabel ekonomi dalam lingkup kecil misalnya perusahaan, rumah tangga. Dalam ekonomi mikro ini dipelajari tentang bagaimana individu menggunakan sumber daya yang dimilikinya sehingga tercapai tingkat kepuasan yang optimum. Secara teori, tiap individu yang melakukan kombinasi konsumsi atau produksi yang optimum bersama dengan individu-individu lain akan menciptakan keseimbangan.
Penelitian ini lebih cenderung kepada perdagangan skala besar misalnya pusat perbelanjaan, toko swalayan, pasar, petokoaan dan lain-lainyang didukung oleh beberapa parameter untuk pemetaan prioritas kawasan perdagangan.Kawasan perdagangan menurut Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 23/MPP/Kep/1/1998 dapat terdiri dari :
a. Pusat perbelanjaan adalah suatu area tertentu yang terdiri dari satu atau beberapa bangunan yang didirikan secara vertikal ataupun horizontal yang dijual atau disewakan kapada Pelaku Usaha atau dikelola sendiri untuk melakukan kegiatan perdagangan barang.
b. Toko swalayan adalah toko dengan sistem pelayanan mandiri, menjual berbagai jenis barang eceran yang berbentuk minimarket, supermarket, departement store, hypermarket, ataupun grosir yang berbentuk perkulakan. c. Pasar adalah lembaga ekonomi tempat bertemunya pembeli dan penjual,
baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk melakukan transaksi perdagangan.
5 d. Pertokoan ( Shopping Centre ) adalah suatu wilayah atau lingkungan atau tempat dimana terdapat bangunan toko-toko sepanjang tepi jalan dan atau wilayah lain yang dapat dijangkau oleh transportasi dan masyarakat.
e. Toko adalah tempat atau bangunan yang diperuntukkan bagi perorangan, perusahaan atau koperasi untuk melakukan penjualan secara langsung kepada konsumen.
f. Toko Serba Ada ( Departement Store ) adalah toko skala besar untuk melakukan penjualan berbagai macam barang.
g. Mall / Supermall / Plaza adalah tempat atau bangunan dalam skala besar untuk usaha perdagangan, rekreasi, restoran dan sebagainya yang diperuntukkan bagi kelompok, perorangan, perusahaan atau koperasi untuk melakukan penjualan barang-barang dan atau jasa.
h. Pasar Swalayan ( Super Market ) adalah pasar yang kegiatan usahanya menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari secara langsung kepada konsumen dengan teknik pelayanan oleh konsumen itu sendiri.
1.5.2 Penginderaan Jauh
Penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu obyek, daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan obyek, daerah, atau fenomena yang dikaji. Penginderaan jauh dapat diartikan sebagai suatu proses membaca (Lillesand & Kiefer, 1990). Sutanto (1979) menjelaskan bahwa penginderaan jauh atau remote sensing merupakan cara memperoleh informasi atau pengukuran dari pada obyek atau gejala, dengan menggunakan sensor dan tanpa ada hubungan langsung dengan obyek atau gejala tersebut. Karena tanpa kontak langsung, maka diperlukan media supaya obyek atau gejala tersebut dapat diamati dan didekati oleh si penafsir. Media ini berupa citra (images atau gambar).
6 Citra penginderaan jauh merupakan gambaran muka bumi beserta obyek-obyek yang ada atau nampak padanya dan pembuatan gambarannya dilakukan dengan sensor (alat pengindera) buatan yang dipasang pada balon, pesawat terbang, satelit, dan sebagainya. Interpretasi setidak-tidaknya akan meliputi tiga pekerjaan mental yang dapat dilaksanakan secara bersamaan maupun tidak, yakni:
1. Deteksi obyek pada citra 2. Identifikasi obyek pada citra
3. Penggunaan yang tepat dari informasi yang diperoleh untukmemecahkan masalah yang sedang dihadapi
Identifikasi merupakan pengejaan ciri-ciri obyek yang dikaji. Tiap obyek mempunyai ciri-ciri atau karakteristik tersendiri dimana karakteristik ini dapat dilacak pada citra (Sutanto, 1979). Citra penginderaan jauh terbagi menjadi dua jenis citra, yaitu citra foto dan citra non foto. Pembeda dari kedua jenis citra tersebut adalah jenis sensor, jenis detektor, dan proses perekamannya. Citra foto udara biasanya dicetak dalam skala besar, sedangkan citra non foto biasanya dicetak dalam skala kecil. Untuk dapat memahami prinsip penginderaan jauh, terdapat 5 komponen yang terdapat pada sistem penginderaan jauh meliputi : 1. Matahari sebagai sumber energi utama karena temperaturnya tinggi 5
2. Atmosfer sebagai medium yang bersikap menyerap, memantulkan, menghamburkan (scatter) dan melewatkan radiasi elektromagnetik
3. Obyek atau target di muka bumi yang diterima atau memancarkan spektrum elektromagnetik dari dalam obyek tersebut
4. Radiasi yang dipantulkan atau dipancarkan
5. Alat pengindera (sensor), yaitu alat untuk menerima dan merekam radiasi atau emisi spektrum elektromagnetik yang datang dari obyek
7 1.5.3 Interpretasi Citra
Interpretasi citra (image interpretation) merupakan proses untuk memperoleh informasi dengan citra sebagai sumber atau sebagai perantaranya (Sutanto, 1979). Untuk dapat melakukan interpretasi, penafsir memerlukan unsurunsur pengenal pada obyek atau gejala yang terekam pada citra. Unsur-unsur pengenal ini secara individual maupun secara kolektif mampu membimbing penafsir ke arah pengenalan yang benar. Unsur-unsur ini disebut unsur-unsur interpretasi dan meliputi 8 hal, yaitu:
a. Rona (tone) mengacu ke kecerahan relatif obyek pada citra. Rona biasanya dinyatakan dalam derajat keabuan (gray scale), misalnya hitam/sangat gelap, agak gelap, cerah, sangat cerah/putih. Apabila citra yang digunakan itu berwarna, maka unsur interpretasi yang digunakan ialah warna, meskipun penyebutannya masih terkombinasi dengan rona; misalnya merah, hijau, biru, coklat kekuningan, biru kehijauan agak gelap, dan sebagainya.
b. Bentuk (shape) sebagai unsur interpretasi mengacu ke bentuk secara umum, konfigurasi, atau garis besar wujud obyek secara individual. Bentuk beberapa obyek kadang-kadang begitu berbeda dari yang lain, sehingga obyek tersebut dapat dikenali semata-mata dari unsur bentuknya saja.
c. Ukuran (size) obyek pada foto harus dipertimbangkan dalam konteks skala yang ada. Penyebutan ukuran juga tidak selalu dapat dilakukan untuk semua jenis obyek.
d. Pola (pattern) terkait dengan susunan keruangan obyek. Pola biasanya terkait pula dengan adanya pengulangan bentuk umum atau sekelompok obyek dalam 6 ruang. Istilah-istilah yang digunakan untuk menyatakan pola misalnya adalah teratur, tidak teratur, kurang teratur; namun kadang-kadang pula perludigunakan istilah yang lebih ekspresif, misalnya melingkar, memanjang terputus-putus, konsentris, dan sebagainya.
8 e. Bayangan (shadows) sangat penting bagi penafsir, karena dapat memberikan dua macam efek yang berlawanan. Pertama, bayangan mampu menegaskan bentuk obyek pada citra karena outline obyek menjadi lebih tajam/jelas; begitu pula kesan ketinggiannya. Kedua, bayangan justru kurang memberikan pantulan obyek ke sensor, sehingga obyek yang diamati menjadi tidak jelas.
f. Tekstur (texture) merupakan ukuran frekuensi perubahan rona pada gambar obyek. Tekstur dapat dihasilkan oleh pengelompokan suatu kenampakan yang terlalu kecil untuk dapat dibedakan secara individual, misalnya dedaunan pada pohon dan bayangannya, serombongan satwa liar di gurun, ataupun bebatuan yang terserak di atas permukaan tanah. Kesan tekstur juga bersifat relatif, tergantung pada skala dan resolusi citra yang digunakan.
g. Situs (site) atau letak merupakan penjelasan tentang lokasi obyek relatif terhadap obyek atau kenampakan lain yang lebih mudah untuk dikenali dan dipandang dapat dijadikan dasar untuk identifikasi obyek yang dikaji. Obyek dengan rona cerah, berbentuk silinder, ada bayangannya, dan tersusun dalampola teratur dapat dikenali sebagai kilang minyak, apabila terletak di dekat perairan pantai.
h. Asosiasi (association) merupakan unsur yang paling penting dalam interpretasi suatu obyek yang memperlihatkan keterkaitan antara suatu obyek atau fenomena dengan obyek atau fenomena lain, yang digunakan sebagai dasar untuk mengenali obyek yang dikaji. Misalnya pada foto udara skala besar dapat terlihat adanya bangunan berukuran lebih besar daripada rumah, mempunyai halaman terbuka, terletak di tepi jalan besar, dan terdapat kenampakan menyerupai tiang bendera (terlihat dengan adanya bayangan tiang) pada halaman tersebut. Bangunan ini dapat ditafsirkan sebagai bangunan kantor, berdasarkan asosiasi tiang bendera dengan kantor (terutama kantor pemerintahan).
9 1.5.4. Sistem Informasi Geografi
SIG merupakan sistem informasi yang digunakan untuk memasukkan, menyimpan, memanggil kembali, mengolah, menganalisis dan menghasilkan data bereferensi geografis atau data geospasial, untuk mendukung pengambilan keputusan dalam perencanaan dan pengelolaan penggunaan lahan, sumberdaya alam, lingkungan, transportasi, fasilitas kota, dan pelayanan umum lainnya. (Murai, 1999)
SIG adalah sistem untuk pengelolaan, pemrosesan (manipulasi), analisis dan penayangan data secara spasial terkait dengan muka bumi. (Linden, 1987). Secara sederhana salahsatu manfaat SIG dalam data kekayaan sumberdaya alamiah adalah untuk mengetahui persebaran kawasan lahan, misalnya kawasan lahan potensial. Merencanakan suatu tindakan atau mengambil keputusan diperlukan analisis data yang mempunyai referensi geografis. Untuk pengambilan keputusan diperlukan pengetahuan yang didukung oleh konsep yang tertata. Informasi yang berkaitan dengan permasalahan harus dipilih dari sejumlah data yang ada apabila ingin mengetahui permasalahan yang dihadapi, melalui pemrosesan dan analisis.
SIG terdiri dari beberapa subsistem yang dapat digunakan untuk memasukkan data, menyimpan, dan mengeluarkan informasi yang diperlukan. Secara garis besar komponen tersebut adalah sebagai berikut: a. Masukan Data
Subsistem masukan data adalah fasilitas dalam SIG yang dapat digunakan untuk memasukkan data dan merubah bentuk asli ke bentuk yang dapat diterima dan dapat dipakai di dalam SIG. Masukan data yang bereferensi geografis dapat diperoleh dari berbagai sumber. Memasukkan data dalam SIG merupakan pekerjaan yang banyak menyita waktu.
b. Pengelolaan Data
Berbagai cara yang dapat digunakan dalam pengelolaan data akan sejalan dengan struktur data yang digunakan. Pengorganisasian data dalam bentuk arsip dapat dimanfaatkan dalam bentuk subsistem pengelolaan data. Perbaikan data
10 dasar dengan cara menambah, mengurangi, atau memperbarui dilakukan pada subsistem ini.
c. Manipulasi dan Analisis Data
Subsistem ini berfungsi untuk membedakan data yang akan diproses dalam SIG. Subsistem ini dapat digunakan untuk merubah format data, mendapatkan parameter dan melalui proses dalam penglolaan data dapat pula dijumpai hambatan. Data yang telah dimasukkan bisa dimanipulasi dan dianalisis dengan mengunakan software SIG. Pada tiap software mempunyai fasilitas yang memungkinkan untuk melakukan manipulasi dan analisis. Diantaranya adalah pengkaitan data atribut degan data grafis, overlay, kalkulasi, dan lain-lain. Overlay dapat dilakukan dengan empat cara, yaitu:
1. Identity adalah tumpangsusun antara dua data grafis dengan menggunakan data grafis pertama sebagai batas luarnya.
2. Union adalah tumpangsusun antara dua data grafis yang menghasilkan batas luar baru berupa gabungan antara batas luar data grafis pertama dan data grafis kedua.
3. Intersect adalah tumpangsusun antara dua data grafis dengan menggunakan data grafis kedua sebagai batas luarnya.
4.Update adalah tumpangsusun antara dua data dengan menghapus informasi grafis pada coverageinput dan diganti dengan informasi coverage update.
5. Keluaran Data (data output) : Subsistem ini berfungsi untuk menayangkan informasi maupun hasil analisis data geografis secara kualitatif maupun kuantitatif. Keluaran data dapat berupa peta, tabel ataupun arsip elektronik. Melalui keluaran ini pengguna dapat malakukan identifikasi informasi yang diperlukan sebagai bahan dalam pengambilan kebijakan atau perencanaan.
11 1.5.5 Penggunaan Lahan
Lahan merupakan material dasar dari suatu lingkungan (situs), yang diatrikan berkaitan dengan sejumlah karakteristik alami yaitu ikli, geologi,tanah, topografi, hidrologi dan biologi (Aldrich, 1981).Penggunaan lahan merupakan campur tangan manusia baik secara permanen atau periodik terhadap lahan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan, baik kebutuhan kebendaan, spiritual maupun gabungan keduanya (Malingreau, 1979).Berikut tabel klasifikasi penggunaan lahan kota menurut Sutanto, 1981:
Tabel 1.1 Klasifikasi Penggunaan Lahan Kota
Tingkat Kerincian Klasifikasi
Tingkat I Tingkat II Tingkat III Tingkat IV Daerah kota Permukiman Pola teratur Kepadatan rendah
Kepadatan sedang Pola setengah teratur Kepadatan rendah Kepadatan sedang Kepadatan tinggi Pola tidak teratur Kepadatan rendah
Kepadatan sedang Kepadatan tinggi Kepadatan sangat tinggi Perdagangan Pasar
Pom bensin
Pusat perbelanjaan Besar Kecil Pertokoan
Industri Pabrik/ Perusahaan Gudang
12 Transportasi Jalan
Stasiun/ Terminal Kereta api Bus Angkutan
Jasa Kelembagaan Perkantoran, Sekolah,
Kampus Non-kelembagaan Hotel Rekreasi Kebun binatang
Lapangan olahraga Stadion
Gedung Pertunjukkan Tempat ibadah Masjid
Gereja Pertanian Sawah
Tegalan
Kebun campuran
Hutan Hutan/ Taman
Wisata
Lain-lain Kuburan Umum
Makam Pahlawan Lahan kosong
Lahan sedang dibangun
Sumber : Sutanto, 1981 dengan sedikit modifikasi 1.5.6 Aksesibilitas Lahan
Aksesibilitas merupakan faktor yang mendukung atau mempengaruhipenduduk dalam berbagai kegiatannya untuk mendapatkan kemudahan saranadalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Semakin tinggi tingkat aksesibilitas suatukota terhadap daerah
13 lainnya maka kota tersebut akan cenderung cepatberkembang. Aksesibiltas lahan juga didefinisikan sebagai keadaan atau ketersediaanhubungan dari suatu tempat ke tempat lainnya sehingga memberikan kemudahanseseorang atau keadaan untuk bergerak dari suatu tempat ke tempat lainnyadengan aman, nyaman, dan dengan kecepatan yang wajar.
1.5.7 Tingkat Harga Lahan
Harga lahan dapat dipergunakan untuk menganalisis pemanfaatan lahanyaitu suatu pengukuran atas lahan berdasarkan karakteristik lahan. Harga lahandapat dikaitkan dengan sewa lahan seperti halnya nilai aktiva dengan nilai (harga)hasil jasa yang diakibatkan oleh pengguna aktiva tersebut. Suatu aktiva fisiktersebut bernilai karena aktiva itu akan memberi hasil atau manfaat selama suatuperiode tertentu. Demikian juga sewa lahan atau lebih dikenal dengan nilai lahanmerupakan suatu harga lahan atau nilai jasa yang dihasilkan oleh lahan selamasuatu periode tertentu.
Tabel 1.2 Parameter Penentu Harga Lahan No Parameter Penentu Harga Lahan Keterangan 1 Penggunaan Lahan - Perdagangan dan jasa
- Permukiman dan industri - Lahan kosong
- Sawah dan tegalan
2 Aksesibilitas lahan positif - Jarak terhadap jalan arteri - Jarak terhaap jalan kolektor - Jarak terhadap jalan lokal
- Jarak terhadap lembaga pendidikan - Jarak terhadap kantor pemerintahan 3 Aksesibilitas lahan negatif - Jarak terhadap sungai
- Jarak terhadap jalan kereta api - Jarak terhadap kuburan
14 jumlah
pengguna listrik PLN, jumlah pengguna telepon rumah, jumlah Bank
Pemerintah dan Swasta, jumlah pasar
umum, tempat ibadah, swalayan, koperasi, hotel, pelayanan kesehatan, dan wartel
Sumber : Meyliana, 1996 dengan modifikasi
1.5.8 Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk menunjukkan hubungan kuantitatif antara jumlah penduduk dan unit luas lahan, dengan satuan jiwa per mil², jiwa per km², atau jiwa per hektar. Terdapat tiga konsep kepadatan penduduk, yaitu kepadatan penduduk geografis, kepadatan penduduk agraris, dan kepadatan penduduk fisiologis. Konsep kepadatan penduduk yang paling umum adalah kepadatan penduduk geografis yang menunjukkan perbandingan antara jumlah penduduk dengan luas lahan di suatu wilayah. Untuk suatu daerah agraris yang paling penting adalah kepadatan penduduk agraris untuk menunjukkan jumlah kepadatan pendudukyang tergantung hidupnya pada pertanian (jumlah petani dan keluarganya) perluas lahan pertanian. Kepadatan penduduk fisiologis menghubungkan antara jumlah penduduk dan luas lahan pertanian di suatu wilayah (Muta’ali, 2012).
1.5.9 Fasilitas Pendidikan
Fasilitas adalah sarana untuk melancarkan pelaksanaan fungsi atau untuk kemudahan. Sedangkan pendidikan (secara akademis) adalah berhubungandengan bidang ilmu, seperti bahasa, ilmu-ilmu sosial, matematika, ilmupengetahuan alam. Fasilitas sosial adalah fasilitas yang disediakan olehpemerintah atau swasta untuk masyarakat, seperti sekolah, klinik, dan tempatibadah (Moeliono, 2008). Sehingga
15 fasilitas pendidikan merupakan sarana yangdisediakan oleh pemerintah atau swasta untuk mempelajari berbagai bidang ilmupengetahuan atau yang sering disebut dengan sekolah, yang dibagi ke dalambeberapa jenjang yaitu TK (Taman Kanak-kanak), SD (Sekolah Dasar), SMP(Sekolah Menengah Pertama), SMA (Sekolah Menengah Atas), dan PT(Perguruan Tinggi).
1.5.10Kawasan Perdagangan
Kompleks perdagangan adalah suatuareal yang mampu mengakomodasikan kegiatan jual beli penduduk, khususnyawarga dari golongan menengah ke bawah. Lokasipenentuan pengembangan kegiatan perdagangan baru sangat perludipertimbangkan dengan matang agar dapat berkembang dengan baik. Penentuan prioritas lokasi perdagangan sangat perlu dilakukan. Lokasioptimal (optimum location) yaitu lokasi yang terbaik secara ekonomis. Lokasiyang terbaik adalah yang memberikan keuntungan maksimal; keuntungantertinggi akan diperoleh apabila biaya paling rendah sedang pendapatan yangtertinggi (Daldjoeni, 1992). Parameter prioritas perdagangan dapat diamati pada tabel dibawah ini.
Tabel 1.3 Parameter Penentu Prioritas Kawasan Perdagangan No Parameter PenentuPrioritas
LokasiPerdagangan
Keterangan
1 Penggunaan Lahan - Pasar, pertokoan, rumah makan, apotek
- Lahan kosong
- Permukiman teratur, permukiman tidak teratur, pabrik,
gudang, kantor non-pemerintahan, kantor nonkelembagaan,
hotel, lapangan olahraga, gedung pertunjukan, dan kolam ikan - Sawah, tegalan, kebun campuran,
16 kantor pemerintahan,
bank, rumah sakit, kantor pos, pondok pesantren, kebun
binatang, masjid, kuburan, lembaga pendidikan/sekolah,
kantor polisi, puskesmas, dan tanah negara
Aksesibilitas positif - Jarak terhadap jalan arteri - Jarak terhadap jalan kolektor - Jarak terhadap jalan lokal
- Jarak terhadap lembaga pendidikan - Jarak terhadap kantor pemerintahan Aksesibilitas negatif - Jarak terhadap sungai
- Jarak terhadap sumber polusi (depo sampah)
- Jarak terhadap kuburan Tingkat Harga lahan - Harga lahan tinggi
- Harga lahan sedang - Harga lahan rendah Kepadatan penduduk - Kepadatan tinggi
- Kepadatan sedang - Kepadatan rendah
Fasilitas pendidikan Jumlah sekolah (TK, SD, SMP, SMA, dan SMK) dan
jumlah akademi /perguruan tinggi Sumber : Meyliana, 1996 dengan modifikasi
17 1.5.11ArcGIS
ArcGIS merupakan suatu perangkat lunak yang diciptakan oleh ESRI yang digunakan dalam Sistem Informasi Geografi. ArcGIS merupakan perangkat lunak pengolah data spasial yang mampu mendukung berbagai format data gabungan dari tiga perangkat lunak yaitu ArcInfo, ArcView, dan ArcEdit yang mempunyai kemampuan komplit dalam geoprocessing, modelling, dan scripting serta mudah diaplikasikan dalam berbagai tipe data. Dekstop ArcGIS terdiri dari empat modul yaitu Arc Map, Arc Catalog, Arc Globe, Arc Toolbox, dan model builder.
• Arc Map mempunyai fungsi untuk menampilkan peta untuk diproses, analisis peta, proses mengedit peta, dan juga dapat digunakan untuk mendesain secara kartografis.
• Arc Catalog digunakan untuk menejemen data atau mengatur file-file, jika dalam Windows fungsinya sama dengan Windows Explorer.
• Arc Globe dapat digunakan untuk data yang terkait dengan data yang universal, untuk tampilan 3D, dan juga dapat digunakan untuk menampilkan Google Earth.
• Model Builder digunakan untuk membuat model builder /diagram alir. • Arc Toolbox digunakan untuk menampilkan tools-tools tambahan.
Perangkat lunak yang digunakan pada penelitian kali ini adalah ArcGIS 10.0. Berikut tabel spesifikasi software ArcGis
Tabel 1.4 Spesifikasi Software ArcGis 10.0
No
Spesifikasi Uraian Keterangan
1. Nama aplikasi ArcGIS Merupakan aplikasi yang digunakan oleh masyarakat geografi untuk pemrosesan citra dan GIS
18
2. Versi/release 10.0 Merupakan versi yang
terbaru dari seri ArcGIS
3. Tahun peluncuran 2010 aplikasi ini mulai
dipasarkan dan dipakai oleh banyak pengguna
4. Vendor/pembuat Environment
System Research Institute (ESRI)
Perusahaan pembuat aplikasi SIG yang berasal dari USA
5. Minimum Hardware Aplikasi ini menggunakan spesifikasi hardware yang besar karena data yang dapat diolah merupakan data yang kompleks baik data raster maupun vektor - Processor - Intel Pentium 4,
Intel Core Duo, atau Prosesor Xeon, SSE2 (atau lebih)
- RAM - 2 GB atau lebih tinggi - VGA Card - 512 MB - Free Space 800 x 600 @256 - Color resolution 207 MB Harddisk
6. Sistem Operasi Windows server 2003, NT 4.0, 2000, XP, Linux
Aplikasi ini dapat beroperasi di berbagai macam sistem windows 2000
7. Kategori aplikasi GIS Aplikasi ini termasuk profesional karena memiliki banyak fasilitas input atau output data yang
- Profesional
19 1.5.12Citra Satelit Quickbird
Citra satelit Quickbird merupakan salah satu satelit yang memiliki resolusitinggi yang dimiliki dan dioperasikan oleh DigitalGlobe, ukuran piksel mencapai 0,6 meter. Satelit ini memiliki saluran pankromatik dan multispektral. Quickbird diluncurkan pada 18 October 2001 dan merupakan satelit komersial dengan resolusi spasial paling tinggi sekarang ini. Quickbird adalah satelit resolusi tinggi milik Digital Globe. Quickbird mempunyai resolusi spasial 61-centimeter (2-foot) untuk panchromatic (black and white) dan 2.44-meter (8-foot) multispectral (colorimagery). Pada resolusi 61-centimeter, bangunan, jalan, jembatan dan detail infrastruktur lainnya akan tampak dengan dengan jelas. Citra Quickbird ini dimanfaatkan untuk penerapan dan manajemen lahan, infrastruktur dan sumberdaya alam.
Tabel 1.5 Profil dan Spesifikasi Satelit Quickbird Informasi peluncuran Tanggal: 18 Oktober 2001
Peluncuran wahana: 1851-1906 (1451-150 EDT) Kendaraan peluncur: Delta II
Lokasi peluncuran: SLC-2W, Vandenberg Air Force Base, California
Orbit Ketinggian: 450 km – 98 derajat, sun-synchronous inclination
Resolusi temporal: 1 sampai 3,5 hari berdasar pada latitude
Pada resolusi piksel 60 cm Periode: 93,4 menit
Koleksi Per Orbit ~128 gigabits (approximately 57 single area image) Lebar cakupan dan
Ukuran wilayah
Lebar Sapuan : 16.5 kilometer di atas nadir dan kemampuan sapuan tanah : 544 km di pusat daerah lintasan satelit (hingga ~30° off-nadir) Areas of interest
Single Area: 16.5 km x 16.5 km Strip: 16.5 km x 115 km
Akurasi metrik Kesalahan radius 23 meter, dan kesalahan linear 17 meter (tanpa titik kontrol)
20 Sumber : http://www.digitalglobe.com/about/quickbird.html
Citra Quickbird ini dibagi ke dalam tiga level, yaitu : 1. Basic Imagery
Produk ini merupakan produk citra yang paling sedikit dilakukan pemrosesan. Produk ini sudah terkoreksi radiometri, terkoreksi sensor tetapi belum terkoreksi geometrinya. Karena belum terkoreksi geometri, maka proyeksi dan ellipsoid kartografinya belum diketahui.
2. Standard Imagery
Produk ini didesain untuk pengguna yang menghendaki akurasi sedang dan atau cakupan area yang sempit. Pengguna yang menggunakan produk ini mempunyai kemampuan image processingyang cukup dan mampu memanipulasi dan memanfaatkan citra untuk berbagai aplikasi. Resolusi bervariasi antara 60-70 cm untuk pankromatik dan 2,4-2,8 meter untuk multispektral.
3. Orthorectified imagery
Produk ini sudah menghapus kesalahan topografi dan ketelitian posisinyalebih baik, merupakan “GIS ready”, sebagai basemap untuk pembuatan atau revisi pemetaan
Dimensi & Umur Satelit
Perkiraan usia : s/d tahun 2010
Bobot : 1050 Kg, panjang 3.04-meter (10-ft). Resolusi sensor &
rentang spektral
Pankromatik
60-cm GSD (Ground Sample Distance) pada nadir Hitam & Putih: 445 - 900 nanometer
Multispektral
2,4-meter GSD on nadir Biru: 45-520 nanometer Hijau:520-600 nanometer Merah: 630-690 nanometer
Inframerah Dekat : 760-900 nanometer Julat dinamis 11 bits per piksel
Kapasitas Penyimpanan
128 Gbits
Masa orbit Bahan bakar untuk 7 tahun
21 database GIS atau untuk menunjuk keberdaan suatukenampakan. Produk ini juga dapat digunakan untuk deteksi perubahan dan aplikasi analisis yang lain serta mempunyai kemampuan untuk pembuatan DEM dan GCP.
Citra Quickbird yang digunakan dalam penelitian ini direkam pada tahun2012 dengan format GeoTIFF yang telah terkoreksi geometrik. Produk citra ini merupakan jenis standard imagerydengan daerah cakupan Kecamatan Gondomanan.
1.6 Penelitian Sebelumnya
Puspita (2002) melakukan penelitian mengenai penggunaan foto udara dansistem informasi geografi untuk penentuan prioritas lokasi kawasan perdagangan di Kecamatan Depok. Penelitian tersebut menggunakan parameter berupa penggunaan lahan, aksesibilitas positif, aksesibilitas negatif, harga lahan kepadatan penduduk, fasilitas pendidikan, dan tingkat pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas prioritas lokasi kawasan perdagangan tinggi berada pada bentuk penggunaan lahan perdagangan dan permukiman yang menempati lahan dengan aksesibilitas tinggi dan sedang, kepadatan penduduk tinggi sampai sedang, dan harga lahan tinggi hingga rendah.
Sismawati (2005), melakukan penelitian mengenai aplikasi penginderaan jauh dan sistem informasi geografi untuk penentuan lokasi perdagangan di Kecamatan Kasihan Kabupaten Bantul. Parameter penentu yang digunakan adalah penggunaan lahan, aksesibilitas positif, aksesibilitas negatif, fasilitas pendidikan, kepadatan penduduk, tingkat pendapatan, dan harga lahan. Penelitian tersebut menggunakan analisis data dengan metode pengharkatan.
Yunus (2007), dalam penelitiannya mengenai pemanfaatan citra Quickbird dan sistem informasi geografi dalam rangka penentuan prioritas lokasi perdagangan kasus Kecamatan Mergangsan Yogyakarta menggunakan parameter-parameter berupa peta penggunaan lahan, peta aksesibilitas positif, peta aksesibilitas negatif, peta kepadatan penduduk, peta fasilitas pendidikan, dan peta harga lahan. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif berupa pengharkatan dan pemberian bobot pada tiap-tiap parameter sesuai dengan besarnya pengaruh terhadap penentuan
22 lokasi perdagangan. Menurutnya, daerah yang paling mudah dikembangkan sebagai lokasi perdagangan adalah lahan yang sebagian besar terletak pada Kelurahan Keparakan khususnya di sepanjang Jalan Brigjend Katamso yang merupakan komplek pertokoan.
Puspa (2012), melakukan penelitian mengenai pemanfaatan citra Quickbird dan sistem informasi geografi dalam rangka penentuan prioritas lokasi perdagangan Kecamatan Kotagede Yogyakarta menggunakan parameter-parameter berupa penggunaan lahan, aksesibilitas positif, aksesibilitas negatif, harga lahan, kepadatan penduduk, dan fasilitas pendidikan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa Kecamatan Kotagede lebih didominasi oleh kelas prioritas II dengan, dan kelas prioritas I terdapat di sepanjang JalanKusumanegara, Jalan Kebun Raya (sebelah timur Kebun BinatangGembiraloka atau sekitar pasar Rejowinangun), sepanjang JalanGedongkuning, sebagian Jalan Rejowinangun, sebagian JalanNgeksigondo, sebagian Jalan Kemasan, dan di Jalan Nyi Pembayun(Kebun Mekar Utama).
1.7 Kerangka Pemikiran
Kawasan perdagangan merupakan tempat kegiatan ekonomi yang sangat vital yang banyak dilakukan oleh masyarakat. Jumlah penduduk yang semakin meningkat menyebabkankebutuhan juga semakin tinggi. Hal tersebut juga berdampakterhadap pemenuhan kebutuhan ekonomi penduduknya, sehingga wilayah denganjumlah penduduk yang tinggi intensitas kegiatan perdagangannya juga tinggi.Kecamatan Gondomanan merupakan salah satu kecamatan yang terletak di pusat Kota Yogyakarta. Kecamatan ini memiliki potensi wisata dan kegiatan perdagangan yang tinggi, sehingga hal ini mendukung semakinberkembangnya kegiatan perdagangan di kecamatan Gondomanan.
Penentuanprioritas kawasan perdagangan sangat perlu dilakukan dengan menggunakanteknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografi. Faktor-faktor yangmempengaruhi penentuan prioritas kawasan perdagangan adalah penggunaan lahan,aksesibilitas positif, aksesibilitas negatif, harga lahan, kepadatan penduduk, danfasilitas pendidikan.Jenis penggunaan lahan dapat disadap dari citra
23 Quickbird tahun 2012 melalui teknik interpretasi berdasarkan delapan unsur interpretasi (rona/warna,tekstur, pola, ukuran, bentuk, bayangan, situs, dan asosiasi). Penggunaan lahan tersebut diklasifikasikan menurut Sutanto menjadi penggunaan lahan kelas IV.
Aksesibilitas positifdiartikan bahwa pengaruh yang ditimbulkan akan berakibat baik. Aksesibilitaspositif diperoleh dari hasil overlay antara jarak jalan arteri, jalan kolektor, jalanlokal, fasilitas pendidikan, dan kantor pemerintahan. Aksesibilitas negatifberlawanan dengan aksesibilitas positif. Aksesibilitas negatif memberikanpengaruh buruk terhadap suatu lahan, yang diperoleh dari overlay jarak terhadapsungai.
Harga lahan mencerminkan tinggi rendahnya nilai lahan yang ada di suatuwilayah. Kelas harga lahandidapat dari hasil overlay penggunaan lahan, aksesibilitas positif, aksesibilitasnegatif, dan kelengkapan utilitas umum. Lokasi perdagangan cenderung dibangunpada lahan yang mempunyai aksesibilitas baik dengan harga lahan yang relatifrendah.Kepadatan penduduk dan fasilitas pendidikan juga berpengaruh terhadappenentuan prioritas kawasan perdagangan. Data jumlah penduduk dan fasilitaspendidikan didapatkan dari data Kecamatan Gondomanan Dalam Angka 2010 yangdikeluarkan oleh BPS serta dari interpretasi citra Quickbird yang nantinya dicocokkan dengan data statistik yang telah ada. kawasan perdagangan diprioritaskan pada wilayah dengankepadatan penduduk dan tingkat fasilitas pendidikan yang tinggi.
Parameter-parameter penentuan prioritas kawasan perdagangan dioverlay dandiberikan bobot pada setiap parameternya, sehingga didapatkan harkat total.Besarnya faktor pembobot sesuai dengan pengaruhnya terhadap penentuanprioritas kawasan perdagangan. Kelas prioritas kawasan perdagangan diklasifikasikanberdasarkan harkat total dan kemudian dibagi menjadi tiga kelas, yaitu prioritas I,prioritas II, dan prioritas III.