• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. METODE PENELITIAN Model Ekonomi Pasar Tenaga Kerja dan Perekonomian Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IV. METODE PENELITIAN Model Ekonomi Pasar Tenaga Kerja dan Perekonomian Indonesia"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

4.1. Model Ekonomi Pasar Tenaga Kerja dan Perekonomian Indonesia Model merupakan suatu penjelasan dari fenomena aktual sebagai suatu sistem atau proses (Koutsoyiannis, 1977). Model pasar TK dan perkonomian Indonesia dibangun berdasarkan teori ekonomi dan kajian studi terdahulu. Pada tahap awal dikaji fenomena ekonomi yang diduga akan terjadi jika pemerintah memberlakukan berbagai kebijakan ketenagakerjaan. Tahapan membangun model diilustrasikan seperti pada Gambar 11.

Model penelitian ini disusun dalam bentuk sistem persamaan simultan yang terdiri dari 52 persamaan, yaitu 34 persamaan strukrtural dan 18 persamaan identitas. Secara umum model dibagi dalam enam blok yaitu : (1) Blok Pasar Tenaga Kerja, (2) Blok Fiskal, (3) Blok Penawaran Agregat, (4) Blok Permintaan Agregat, (5) Blok Moneter, dan (6) Blok Keseimbangan Makro seperti pada Tabel 10. Keterkaitan peubah endogen diilustrasikan seperti pada Gambar 12.

4.1.1 Blok Pasar Tenaga Kerja

Blok pasar TK didisagregasi berdasarkan tingkat pendidikan dan sektor. Disagregasi tingkat pendidikan didasarkan pada konsep bahwa hasil dari proses pekerjaan dipengaruhi oleh faktor personal atau individu TK (Mangkuprawira dan Hubeis, 2007). Dalam studi ini faktor personal TK diukur dari unsur pengetahuan yang diproksi dengan tingkat pendidikan. Disagregasi sektor didasarkan pada konsep bahwa perubahan keseimbangan di pasar TK mempunyai respon yang berbeda pada setiap sektor (Sukwika, 2003).

(2)

Gambar 11. Tahapan Membangun Model Pasar TK dan Perekonomian Indonesia

Model Pasar TK dan Perekonomian Indonesia

Spesifikasi Model

Identifikasi dan Estimasi Model

Evaluasi/ Validasi Model

Aplikasi Model Kerangka Pemikiran Masalah dan Tujuan Penelitian

Teori Ekonomi

Studi Terdahulu

ƒ Peubah yang relevan ƒ Tanda dan besaran

Hipotesis

ƒ Sistem Persamaan Simultan

Data time series

Kriteria: ƒ Ekonomi ƒ Statistika ƒ Ekonometrika ƒ Analisis Struktural ƒ Evaluasi Kebijakan Historis ƒ Analisis Peramalan Kebijakan Ketenagakerjaan di Era Otda

(3)

Tabel 10. Pembagian Blok Persamaan Model Pasar TK dan Perekonomian Indonesia

Blok/ Persamaan Jenis

Persamaan 1. Blok Pasar Tenaga kerja

A. Penawaran Tenaga Kerja (1-4)

(1). Penawaran TK berpendidikan rendah (2). Penawaran TK berpendidikan menengah

(3). Penawaran TK berpendidikan tinggi (4). Penawaran TK total

B. Permintaan Tenaga Kerja (5-20)

(5). Permintaan TK berpendidikan rendah di sektor pertanian (6). Permintaan TK berpendidikan rendah di sektor industri (7). Permintaan TK berpendidikan rendah di sektor jasa (8). Permintaan TK berpendidikan rendah

(9). Permintaan TK berpendidikan menengah di sektor pertanian (10). Permintaan TK berpendidikan menengah di sektor industri (11). Permintaan TK berpendidikan menengah di sektor jasa (12). Permintaan TK berpendidikan menengah

(13). Permintaan TK berpendidikan tinggi di sektor pertanian (14). Permintaan TK berpendidikan tinggi di sektor industri (15). Permintaan TK berpendidikan tinggi di sektor jasa (16). Permintaan TK berpendidikan tinggi

(17). Permintaan TK di sektor pertanian (18). Permintaan TK di sektor industri (19). Permintaan TK di sektor jasa (20). Permintaan TK total

C. Tingkat Pengangguran (21-24)

(21). Tingkat pengangguran TK berpendidikan rendah

Struktural Struktural Struktural Identitas Struktural Struktural Struktural Identitas Struktural Struktural Struktural Identitas Struktural Struktural Struktural Identitas Identitas Identitas Identitas Identitas Identitas

(4)

(22). Tingkat pengangguran TK berpendidikan menengah (23). Tingkat pengangguran TK berpendidikan tinggi (24). Tingkat pengangguran total

D. Upah Rata-rata (25-28)

(25). Upah rata-rata sektor pertanian (26). Upah rata-rata sektor industri (27). Upah rata-rata sektor jasa (28). Upah rata-rata

2. Blok Fiskal (29-35) (29). Penerimaan pajak

(30). Penerimaan pemerintah total

(31). Pengeluaran pembangunan sektor pertanian (32). Pengeluaran pembangunan sektor industri (33). Pengeluaran pembangunan sektor infrastruktur

(34). Pengeluaran pembangunan sektor pendidikan dan kesehatan (35). Pengeluaran pemerintah total

3. Blok Penawaran Agregat (36-38) (36). Nilai produksi sektor pertanian (37). Nilai produksi sektor industri (38). Nilai produksi sektor jasa

4. Blok Permintaan Agregat (39-45) (39). Konsumsi

(40). Investasi sektor pertanian (41). Investasi sektor industri (42). Investasi sektor jasa (43). Investasi total (44). Nilai ekspor (45). Nilai impor Identitas Identitas Identitas Struktural Struktural Struktural Struktural Struktural Identitas Struktural Struktural Struktural Struktural Identitas Struktural Struktural Struktural Struktural Struktural Struktural Struktural Identitas Struktural Struktural

(5)

5. Blok Moneter (46-48) (46). Permintaan Uang (47). Penawaran Uang (48). Suku bunga

6. Blok Keseimbangan Makro (49-52) (49). Permintaan agregat

(50). Penawaran agregat (51). Indeks harga konsumen (52). Inflasi nasional Struktural Struktural Struktural Identitas Identitas Struktural Identitas

4.1.1.1.Penawaran Tenaga Kerja (St) Penawaran tenaga kerja berpendidikan rendah:

SPRt = ao + a1 (Wt-Wt-1) + a2 (PHKt-PHKt-1) + a3 POPt + a4 SPRt-1

+ U1t ... (1) Penawaran tenaga kerja berpendidikan menengah:

SPMt = bo + b1 Wt + b2 POPt + b3 GEPKt-1 + b4 SPMt-1 + U2t ... (2) Penawaran tenaga kerja berpendidikan tinggi:

SPTt = co + c1 Wt + c2 POPt + c3 GEPKt-1 + c4 SPTt-1 + U3t …... (3) Penawaran tenaga kerja total:

St = SPRt + SPMt + SPTt ... (4) Parameter dugaan yang diharapkan:

a1,a2, a3 >0; 0 < a4 <1 b1,b2, b3 >0; 0 < b4 <1 c1,c2, c3 >0; 0 < c4 <1

(6)

1. Blok Pasar Tenaga Kerja

2. Blok Fiskal

Gambar 12. Model Pasar TK dan Perekonomian Indonesia

Kebijakan: Upah minimum Serikat Buruh S UT W D GDPP AS GDPI GDPJ IP TI II IJ CPI GTR INF TAX GEP GEI GEIS GEP C X M AD MS MD SB GET 3. Blok waran Agregat 6. Blok K an Makro eseimbang 4. Blok Permintaan Agregat 5. Blok Mo- neter Kebijakan: Suku Bunga Kasus Pemogoka Kebijakan pengeluaran pembanguna n untuk infrastruktu r

(7)

4.1.1.2.Permintaan Tenaga Kerja (Dt)

Permintaan tenaga kerja berpendidikan rendah di sektor pertanian:

DPRPt = do + d1 WPt + d2 GDPPt + d3 TKIPt + d4 DPRPt-1 + U4t ... (5) Permintaan tenaga kerja berpendidikan rendah di sektor industri:

DPRIt = eo + e1 WIt + e2 GDPIt + e3 JPt + e4JPKt + e5 TKIIt

+ e6 DPRIt-1 + U5t ………... (6) Permintaan tenaga kerja berpendidikan rendah di sektor jasa:

DPRJt = fo + f1 (WJt-WJt-1) + f2 GDPJt + f3 PNSRt + f4 DPRJt-1

+ U6t ... (7) Permintaan tenaga kerja berpendidikan rendah:

DPRt = DPRPt + DPRIt + DPRJt + DPRLt ... (8) Permintaan tenaga kerja berpendidikan menengah di sektor pertanian:

DPMPt = go + g1 WPt + g2 GDPPt + g3 TKMIt + g4 DPMPt-1 + U7t ... (9) Permintaan tenaga kerja berpendidikan menengah di sektor industri:

DPMIt = ho + h1 WIt-1 + h2 GDPIt + h3 JPKt + h4 DPMIt-1 + U8t ... (10) Permintaan tenaga kerja berpendidikan menengah di sektor jasa:

DPMJt = io + i1 WJt + i2 GDPJt + i3 TKFJt + i4 DPMJt-1 + U9t ... (11) Permintaan tenaga kerja berpendidikan menengah:

DPMt = DPMPt + DPMIt + DPMJt + DPMLt ... (12) Permintaan tenaga kerja berpendidikan tinggi di sektor pertanian:

DPTPt = jo + j1 WPt + j2 GDPPt + j3 TKTIt + j4 DPTPt-1 + U10t ... (13) Permintaan tenaga kerja berpendidikan tinggi di sektor industri:

DPTIt = ko + k1 WIt + k2 GDPIt + k3 JPKt + k4 DPTIt-1 + U11t ... (14) Permintaan tenaga kerja berpendidikan tinggi di sektor jasa:

(8)

Permintaan tenaga kerja berpendidikan tinggi:

DPTt = DPTPt + DPTIt + DPTJt + DPTLt ... (16) Permintaan tenaga kerja sektor pertanian:

DPt = DPRPt + DPMPt + DPTPt ... (17) Permintaan tenaga kerja sektor industri:

DIt = DPRIt + DPMIt + DPTIt ... (18) Permintaan tenaga kerja sektor jasa:

DJt = DPRJt + DPMJt + DPTJt ... (19) Permintaan tenaga kerja total:

Dt = DPRt + DPMt + DPTt …………...… (20) Parameter dugaan yang diharapkan:

d2, d3 > 0 ; d1 < 0 ; 0 <d4< 1 e2, e3, e4, e5 > 0 ; e1 < 0 ; 0 <e6< 1 f2, f3 >0 ; f1 <0 ; 0<f4<1 g2, g3 > 0 ; g1 < 0 ; 0 <g4< 1 h2, h3 > 0 ; h1 < 0 ; 0 <h4< 1 i2, i3 >0 ; i1 <0 ; 0<i4<1 j2, j3 > 0 ; j1 < 0 ; 0 <j4< 1 k2, k3 > 0 ; k1< 0 ; 0<k4< 1 l2 >0 ; l1 <0 ; 0<l3<1

4.1.1.3.Tingkat Pengangguran (UTt)

Tingkat pengangguran tenaga kerja berpendidikan rendah:

100 * t t t t S DPR SPR UPR = − ... (21)

Tingkat pengangguran tenaga kerja berpendidikan menengah:

100 * t t t t S DPM SPM UPM = − ... (22)

(9)

Tingkat pengangguran tenaga kerja berpendidikan tinggi: 100 * t t t t S DPT SPT UPT = − ... (23)

Tingkat pengangguran total:

t t

t

t UPR UPM UPT

UT = + + ... (24)

4.1.1.4.Upah Rata-rata (Wt) Upah rata-rata sektor pertanian:

WPt = mo + m1 UMPt + m2 KHMt + m3 DEFPt + m4 TKFPt + m5 St + m6 WPt-1 + U13t ... (25) Upah rata-rata sektor industri:

WIt = no + n1 UMIt + n2 KHMt + n3 DEFIt + n4 TKFIt + n5 St

+ n6 WIt-1 + U14t ... (26) Upah rata-rata sektor jasa:

WJt = oo+ o1UMJt + o2KHMt + o3DEFJt + o4TKFt-1 + o5St

+ o6WJt-1 + U15t ………. (27) Upah rata-rata:

Wt = po + p1 (UMRt-UMRt-1)+ p2 WPt + p3WIt + p4(WJt-WJt-1)

+ p5 WLt + p6 Wt-1 + U16t ……… (28) Parameter dugaan yang diharapkan:

m1, m2, m3, m4 > 0; m5 < 0; 0 < m6 < 1 n1, n2, n3, n4 > 0; n5 < 0; 0 < n6 < 1 o1, o2, o3, o4 > 0 ; o5 < 0 ; 0 < o6 < 1 p1, p2, p3, p4, p5 > 0; 0 < p6 < 1

(10)

4.1.2. Blok Fiskal Penerimaan pajak:

TAXt = q0 + q1 ASt +q2 TAXt-1 + U17t ... (29) Penerimaan pemerintah total:

GTRt = TAXt + NTAXt ... (30) Pengeluaran pembangunan sektor pertanian:

GEPt = ro + r1 (GTRt-GTRt-1) + r2 INFt-1 + r3 (GDPt/ ASt) + U18t .. (31) Pengeluaran pembangunan sektor industri:

GEIt = so + s1 (GTRt-GTRt-1) + s2 INFt-1 + s3 GRIt + U19t ... (32) Pengeluaran pembangunan sektor infrastruktur:

GEISt = to + t1 (GTRt-GTRt-1) + t2 INFt-1 + t3 GEISt-1 + U20t ... (33) Pengeluaran pembangunan sektor pendidikan dan kesehatan:

GEPKt = uo+ u1(UTt-UTt-1) + u2 GTRt + u3 INFt-1 + u4 GEPKt-1

+ U21t ... (34) Pengeluaran pemerintah total:

GETt = GEPt + GEIt + GEISt + GEPKt + GELt ... (35) Parameter dugaan yang diharapkan:

q1 > 0 ; 0 < q2 < 1 r1, r2, r3 > 0

s1, s2, s3> 0 t1, t2 > 0 ; 0 < t3< 1 u1, u2, u3 > 0; 0 < u4< 1

4.1.3. Blok Penawaran Agregat Nilai produksi sektor pertanian:

GDPPt = vo + v1 DPt + v2 DEFPt + v3 (IPt-IPt-1) + v4 (GEPt-GEPt-1) + v5 (GEISt-GEISt-1) + v6 GDPPt-1 + U22t ... (36)

(11)

Nilai produksi sektor industri:

GDPIt = wo + w1 DIt + w2 DEFIt + w3 IIt + w4 (GEIt-GEIt-1)

+ w3 KUKt + w6 GEISt + w7 GDPIt-1 + U23t ... (37) Nilai produksi sektor jasa:

GDPJt = xo + x1 (DJt-DJt-1) + x2DEFJt-1 + x3 IJt + x4 GEISt-1

+ x5 GDPJt-1 + U24t ... (38) Parameter dugaan yang diharapkan:

v1, v2, v3, v4, v5 > 0 ; 0 < v6 < 1 w1, w2, w3, w4, w5 > 0; 0 < w7 < 1 x1, x2, x3, x4 > 0 ; 0 < x5 < 1

4.1.4. Blok Permintaan Agregat Konsumsi:

Ct = y0 + y1 (ASt /POPt) + y2 INF + y3 Ct-1 + U25t …...…...…. (39) Parameter dugaan yang diharapkan : y1 > 0 ; y2 < 0 ; 0 < y3 < 1.

Investasi sektor pertanian:

IPt = zo + z1 (SBt-SBt-1) + z2 UMRt + z3 ASt-1 + z4 (KPt-KPt-1)

+ z5 DDF + z6 IPt-1 + U26t ... (40) Investasi sektor industri:

IIt = aao + aa1 (SBt-SBt-1) + aa2 UMRt + aa3 ASt + aa4 KPt

+ aa5 DDF + aa6 IIt-1 + U27t ... (41) Investasi sektor jasa:

IJt = abo + ab1 SBt + ab2 UMRt-1 + ab3 ASt + ab4 KPt-1 + ab5 DDF

(12)

Investasi total:

TIt = IPt + IIt + IJt + ILt ....………...………...………... (43) Parameter dugaan yang diharapkan:

z3, z5 > 0 z1, z2, z4 < 0 ; 0 < z6 < 1

aa3, aa5 > 0 ; aa1, aa2, aa4 < 0 ; 0< aa6 < 1 ab3, ab5 > 0 ; ab1, ab2, ab4 < 0 ; 0< ab6 < 1

Nilai Ekspor:

Xt = ac0 + ac1 ERt + ac2 ASt + ac3 Xt-1 + U29t ... (44) Parameter dugaan yang diharapkan: ac1, ac2 > 0; 0 < ac3 < 1.

Nilai Impor:

Mt = ad0 + ad1 ERt + ad2 ASt + ad3 Mt-1 + U30t ...……. (45) Parameter dugaan yang diharapkan: ad2 > 0; ad1<0 ; 0 < ad3 < 1

4.1.5. Blok Moneter Permintaan uang:

MDt = ae0 + ae1 ADt + ae2 (SBt-SBt-1) + ae3 DKE + ae4 MDt-1

+ U31t ... (46) Parameter dugaan yang diharapkan: ae1, ae3 > 0; ae2< 0; 0 < ae4< 1

Penawaran uang:

MSt = af0 + af1 ADt + af2 SBt + af3 (ERt-ERt-1) + af4 MSt-1

+ U32t ... (47) Parameter dugaan yang diharapkan: af1, af2, af3 > 0; 0 < af4< 1

(13)

Suku bunga:

SBt = ag0 + ag1 (MSt-MSt-1) + ag2 ADt-1 + ag3 INFt-1 + ag4 SBt-1 + U33t ... (48) Parameter dugaan yang diharapkan: ag2, ag3 > 0; ag1 < 0; 0 < ag4< 1

4.1.6. Blok Keseimbangan Makro Permintaan Agregat:

ADt = Ct + TIt + GETt + Xt – Mt ………... (49) Penawaran Agregat:

ASt = GDPPt + GDPIt + GDPJt + GDPLt ... (50) Indeks harga konsumen:

CPIt = aho + ah1 SBt-1 + ah2 Wt-1 + ah3 CPIt-1 + U34t ... (51) Inflasi nasional: 100 1 1× − = − − t t t t CPI CPI CPI INF ... (52)

Parameter dugaan yang diharapkan: ah1, ah2 > 0; 0 < ah3< 1

4.2. Prosedur Analisis

Untuk menjawab tujuan penelitian pertama digunakan analisis deskriptif. Analisis tersebut menguraikan permasalahan pokok kebijakan ketenagakerjaan di era otda yang dirangkum dari lokakarya kebijakan pasar tenaga kerja dan hubungan industrial untuk memperluas kesempatan kerja yang dilaksanakan pada tanggal 16 September 2003.

(14)

4.2.1. Identifikasi Model

Indentifikasi model ditentukan atas dasar “order condition” sebagai syarat keharusan dan “rank condition” sebagai syarat kecukupan. Menurut Koutsoyiannis (1977), rumusan identifikasi model persamaan struktural berdasarkan order condition ditentukan oleh:

(K - M) > (G - 1) Keterangan:

K = Total peubah dalam model, yaitu peubah endogen dan peubah predetermined.

M = Jumlah peubah endogen dan eksogen yang termasuk dalam satu persamaan tertentu dalam model, dan

G = Total persamaan dalam model, yaitu jumlah peubah endogen dalam model.

Jika dalam suatu persamaan dalam model menunjukkan kondisi sebagai berikut.

( K – M ) > ( G – 1 ) = maka persamaan dinyatakan teridentifikasi secara berlebih (overidentified)

(K – M ) = ( G – 1 ) = maka persamaan tersebut dinyatakan teridentifikasi secara tepat (exactly identified ), dan

(K – M ) < (G – 1 ) = maka persamaan tersebut dinyatakan tidak teridentifikasi (unidentified).

Hasil identifikasi untuk setiap persamaan struktural haruslah exactly identified atau overidentified untuk dapat menduga parameter-parameternya. Kendati suatu persamaan memenuhi order condition, mungkin saja persamaan itu tidak teridentifikasi. Karena itu, dalam proses identifikasi diperlukan suatu syarat

(15)

perlu sekaligus cukup. Hal itu dituangkan dalam rank condition untuk identifikasi yang menyatakan, bahwa dalam suatu persamaan teridentifikasi jika dan hanya jika dimungkinkan untuk membentuk minimal satu determinan bukan nol pada order (G-1) dari parameter struktural peubah yang tidak termasuk dalam persamaan tersebut. Kondisi rank ditentukan oleh determinan turunan persamaan struktural yang nilainya tidak sama dengan nol (Koutsoyiannis, 1977)

Model yang dirumuskan terdiri 52 peubah endogen (G), dan 71 peubah predetermined variable terdiri dari 34 peubah eksogen dan 37 lag endogenous

variabel. Sehingga total peubah dalam model (K) adalah 123, jumlah maksimum

peubah dalam persamaan (M) adalah 7 peubah. Maka berdasarkan kriteria order condition maka setiap persamaan struktural yang ada dalam model adalah over identified.

4.2.2. Metode Pendugaan Model

Dari hasil identifikasi model, maka model dinyatakan over identified, dalam hal ini untuk pendugaan model dapat dilakukan dengan 2SLS (Two Stage

Least Squares), 3SLS (Three Stage Least Squares). Metode pendugaan model

yang digunakan adalah 2SLS, dengan beberapa pertimbangan, yaitu penerapan 2SLS menghasilkan taksiran yang konsisten, lebih sederhana dan lebih mudah, sedangkan metode 3SLS dan FIML menggunakan informsi yang lebih banyak dan lebih sensitif terhadap kesalahan pengukuran maupun kesalahan spesifikasi model (Syafa’at, 1999).

Untuk mengetahui dan menguji apakah variabel penjelas secara bersama-sama berpengaruh nyata atau tidak terhadap variabel endogen, maka pada setiap persamaan digunakan uji statistik F, dan untuk menguji apakah masing-masing

(16)

variabel penjelas berpengaruh nyata atau tidak terhadap variabel endogen, maka pada setiap persamaan digunakan uji statistik t taraf nyata 25 persen selanjutnya uji serial korelasi dengan menggunakan statistik dw (Durbin-Waston Statistics).

4.2.3. Validasi Model

Asumsi dapat mempengaruhi kebenaran suatu teori (Woodhouse, 2006). Asumsi yang digunakan dalam membangun model dalam studi ini adalah sebagai berikut:

1. Upah minimum ditargetkan untuk buruh berpendidikan rendah, tanpa pengalaman, nol masa kerja dan berstatus lajang. Diasumsikan nilai upah minimum ditetapkan di atas upah keseimbangan pasar sehingga persamaan identitas tingkat pengangguran dalam model menggambarkan kondisi disequilibrium pasar TK.

2. Diasumsikan upah di pasar TK kaku pada tingkat tertentu dan tidak meningkat ketika permintaan TK bergeser (Sticky Wages). Akibatnya, bila perekonomian melemah, kurva permintaan TK bergeser ke kiri dan terjadi Pemutusan Hubungan Kerja. Sebaliknya, bila terjadi pergeseran kurva permintaan TK ke kanan, kesempatan kerja meningkat tetapi tingkat upah relatif tidak berubah. Peningkatan upah di pasar TK disebabkan karena adanya tuntutan serikat pekerja.

3. Kekuatan serikat buruh dalam menuntut kenaikan upah diproksi dengan peubah jumlah tenaga kerja di sektor formal. Diasumsikan tenaga kerja formal adalah pekerja dengan status pekerjaan utama sebagi buruh tetap/ karyawan/ pegawai. Sementara tenaga kerja informal adalah tenaga kerja dengan status pekerjaan utama: (1) berusaha sendiri tanpa dibantu orang

(17)

lain, (2) berusaha sendiri dengan dibantu anggota rumah tangga, (3) pekerja bebas pertanian, (4) pekerja bebas di non pertanian, dan (5) pekerja tidak dibayar.

4. Diasumsikan tidak ada perubahan struktural selama tahun 2007-2010 ke depan.

Untuk mengetahui apakah model cukup valid untuk membuat suatu simulasi alternatif kebijakan maka perlu dilakukan suatu validasi model, dengan tujuan untuk menganalisis sejauh mana model tersebut dapat mewakili dunia nyata (Pindyck and Rubinfield, 1991). Kriteria statistik untuk validasi nilai pendugaan model ekonometrika yang digunakan adalah: Root Means Squares Error (RMSE), (Root Mean Squares Percent Error (RMSPE) dan Theil’s Inequality Coefficient (U).

RMSE adalah rata-rata kuadrat dari perbedaan nilai estimasi dengan nilai observasi suatu variabel. Jika nilai RMSE semakin kecil maka estimasi model atau variabel tersebut semakin valid. Nilai statistik RMSE adalah:

= − = T t Ya Ys T RMSE 1 2 ) ( ) / 1 (

RMSPE adalah rata-rata kuadrat dari proporsi perbedaan nilai estimasi dengan nilai observasi suatu variabel. Jika nilai RMSPE semakin kecil maka estimasi model atau variabel tersebut semakin valid. Nilai statistik RMSPE adalah:

= − = T t Ya Ya Ys T RMSPE 1 2 ] / ) [( ) / 1 (

U adalah perbandingan RMSE dengan penjumlahan rata-rata kuadrat nilai estimasi dan rata-rata kuadrat nilai observasi suatu model atau variabel. Nilai U

(18)

maksimum adalah satu (estimasi model atau variabel naif) dan nilai U minimum nol (estimasi model atau variabel sempurna). Jika nilai U mendekati nol maka estimasi model atau variabel tersebut semakin valid. Nilai koefisien Theil (U) berkisar antara 1 dan 0. Jika U = 0 maka pendugaan model sempurna, jika U =1 maka pendugaan model naif. Pada dasarnya makin kecil nilai RMSPE dan U-Theil’s dan makin besar nilai R², maka pendugaan model semakin baik.

Nilai statistik U adalah:

= = = + − = T t T t T t Ya T Ys T Ya Ys T U 1 2 1 2 1 2 ) / 1 ( ) / 1 ( ) ( ) / 1 (

Nilai U terdiri dari tiga komponen, yaitu proporsi bias (UM), proporsi varians (US) dan proporsi kovarians. UM adalah perbandingan selisih nilai rata-rata estimasi dan nilai rata-rata-rata-rata observasi kuadrat suatu model atau variabel dengan rata-rata kuadrat dari selisih nilai estimasi dan nilai observasi suatu model atau variabel. Menurut Pyndick and Rubinfeld [1991], suatu estimasi model atau variabel dikatakan valid jika UM < 0,20 karena UM merupakan systematic error. Nilai statistik UM adalah:

(

)

= − − = T t Ya Ys T a Y s Y UM 1 2 2 ) ( ) / 1 (

US adalah perbandingan antara kuadrat selisih standar deviasi nilai estimasi dan standar deviasi nilai observasi suatu model atau variabel dengan rata-rata kuadrat dari selisih nilai estimasi dan nilai observasi suatu model atau variabel. Jika nilai US semakin kecil maka estimasi model atau variabel semakin valid. Nilai statistik US adalah:

(19)

= − − = T t a s Ya Ys T US 1 2 ) ( ) / 1 ( ) (σ σ

UC adalah ukuran unsystematic error dari estimasi suatu model atau variabel. Semakin besar nilai UC semakin valid estimasi suatu model atau variabel. Nilai statistik UC adalah:

= − − = T t a s Ya Ys T UC 1 2 ) ( ) / 1 ( ] ) 1 ( 2 [ ρ σ σ 1 = + +US UC UM

dimana T, Ys, YsM, Ya, YaM, σs, σa dan ρ masing-masing adalah jumlah observasi, nilai estimasi model, nilai rata-rata estimasi model, nilai observasi model, nilai ratarata observasi model, standar deviasi nilai estimasi model, standar deviasi nilai observasi model dan koefisien korelasi antara nilai estimasi dengan nilai observasi model. Validasi dilakukan dengan hasil estimator 2 SLS.

4.2.4. Simulasi Kebijakan

Simulasi kebijakan era otonomi daerah yang dilakukan adalah simulasi historis (ex-post simulation) tahun 2001-2004 dan simulasi peramalan (ex-ante simulation) tahun 2007-2010. Alternatif simulasi kebijakan historis tahun 2001-2004 yang dilakukan:

Simulasi 1

Simulasi 2 :

:

Upah minimum tetap masing-masing sebesar nilai tahun 2000 (tidak ada penyesuaian nilai upah minimum sejak tahun 2001). Kenaikan UMP, UMI, UMJ, dan UMR masing-masing sebesar 1 persen, dimana kenaikan tersebut dibawah rata-rata tingkat inflasi 2001-2004.

(20)

Simulasi 3 Simulasi 4 Simulasi 5 Simulasi 6 Simulasi 7 Simulasi 8 Simulasi 9 Simulasi 10 : : : : : : : :

Kenaikan UMP, UMI, UMJ, dan UMR masing-masing sebesar 8.83 persen yang sama dengan rata-rata tingkat inflasi 2001-2004. Kenaikan UMP, UMI, UMJ, dan UMR masing-masing sebesar 10 persen, dimana kenaikan tersebut lebih besar dari rata-rata tingkat inflasi 2001-2004.

Penurunan kekuatan serikat buruh TKFP 90 persen, TKFI 2 persen, dan TKF 2,5 persen.

Penurunan kasus pemogokan 50 persen. Penurunan suku bunga 5 persen.

Peningkatan pengeluaran infrastruktur 25 persen. Kombinasi simulasi 4 dan 5.

Kombinasi simulasi 7 dan 8.

Alternatif kebijakan simulasi peramalan tahun 2007-2010 yang dilakukan: Simulasi 1 Simulasi 2 Simulasi 3 Simulasi 4 Simulasi 5 Simulasi 6 Simulasi 7 Simulasi 8 Simulasi 9 Simulasi 10 : : : : : : : : : :

Upah minimum tetap masing-masing sebesar nilai tahun 2006 (tidak ada penyesuaian nilai upah minimum sejak tahun 2007). Kenaikan UMP, UMI, UMJ, dan UMR masing-masing sebesar 1 persen, dimana kenaikan tersebut dibawah rata-rata tingkat inflasi 2007-2010.

Kenaikan UMP, UMI, UMJ, dan UMR masing-masing sebesar 6.64 persen yang sama dengan rata-rata tingkat inflasi 2007-2010. Kenaikan UMP, UMI, UMJ, dan UMR masing-masing sebesar 8 persen, dimana kenaikan tersebut lebih besar dari rata-rata tingkat inflasi 2007-2010 sebesar 8 persen.

Penurunan kekuatan serikat buruh TKFP 90 persen, TKFI 1.5 persen, dan TKF 2,5 persen.

Penurunan jumlah kasus pemogokan dan unjuk rasa 50 persen. Penurunan suku bunga 6 persen.

Peningkatan pengeluaran infrastruktur 40 persen. Kombinasi simulasi 4 dan 5.

(21)

Simulasi 11 Simulasi 12

: :

Kombinasi simulasi 4, 5 dan 8. Kombinasi simulasi 6, 7 dan 8.

4.2.5. Defenisi Operasional Variabel

Penelitian ini menggunakan variabel kualitatif dan kuantitatif. Variabel kualitatif yaitu variabel Dummy Desentralisasi Fiskal (DDF) dan Dummy Krisis Ekonomi (DKE). Variabel kuantitatif yang diukur dalam nilai rupiah, seluruhnya telah diriilkan dengan GDP deflator tahun dasar 1990 seperti pada Tabel 11.

Tabel 11. Defenisi Operasional Variabel

No. Notasi Definisi Variabel Satuan

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. SPR SPM SPT S DPRP DPRI DPRJ DPR DPPMP DPMI DPMJ DPM DPTP DPTI DPTJ DPT DP DI DJ A. Variabel Endogen

Penawaran TK berpendidikan rendah Penawaran TK berpendidikan menengah Penawaran TK berpendidikan tinggi Penawaran TK total

Permintaan TK berpendidikan rendah di sektor pertanian Permintaan TK berpendidikan rendah di sektor industri Permintaan TK berpendidikan rendah di sektor jasa Permintaan TK berpendidikan rendah

Permintaan TK berpendidikan menengah di sektor pertanian Permintaan TK berpendidikan menengah di sektor industri Permintaan TK berpendidikan menengah di sektor jasa Permintaan TK berpendidikan menengah

Permintaan TK berpendidikan tinggi di sektor pertanian Permintaan TK berpendidikan tinggi di sektor industri Permintaan TK berpendidikan tinggi di sektor jasa Permintaan TK berpendidikan tinggi

Permintaan TK sektor pertanian Permintaan TK sektor industri Permintaan TK sektor jasa

Ribu org/ tahun Ribu org/ tahun Ribu org/ tahun Ribu org/ tahun Ribu org/ tahun Ribu org/ tahun Ribu org/ tahun Ribu org/ tahun Ribu org/ tahun Ribu org/ tahun Ribu org/ tahun Ribu org/ tahun Ribu org/ tahun Ribu org/ tahun Ribu org/ tahun Ribu org/ tahun Ribu org/ tahun Ribu org/ tahun Ribu org/ tahun

(22)

20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. D UPR UPM UPT UT WP WI WJ W TAX GTR GEP GEI GEIS GEPK GET GDPP GDPI GDPJ C IP II IJ TI X M MD MS SB AD AS CPI Permintaan TK total

Tingkat pengangguran berpendidikan rendah Tingkat pengangguran berpendidikan menengah Tingkat pengangguran berpendidikan tinggi Tingkat pengangguran total

Upah rata-rata sektor pertanian Upah rata-rata sektor industri Upah rata-rata sektor jasa Upah rata-rata

Penerimaan pajak

Penerimaan pemerintah total

Pengeluaran pembangunan sektor pertanian Pengeluaran pembangunan sektor industri Pengeluaran pembangunan infrastruktur

Pengeluaran pembangunan sektor pendidikan dan kesehatan Pengeluaran pemerintah total

Nilai produksi sektor pertanian Nilai produksi sektor industri Nilai produksi sektor jasa Konsumsi

Investasi sektor pertanian Investasi sektor industri Investasi sektor jasa Investasi total Nilai ekspor Nilai impor

Total permintaan uang Total penawaran uang Suku bunga nominal Permintaan agregat Penawaran agregat Indeks Harga Konsumen

Ribu org/ tahun Persen/tahun Persen/tahun Persen/tahun Persen/tahun Rupiah/ tahun * Rupiah/ tahun * Rupiah/ tahun * Rupiah/ tahun * Milyar Rp./thn * Milyar Rp./thn * Milyar Rp./thn * Milyar Rp./thn * Milyar Rp./thn * Milyar Rp./thn * Milyar Rp./thn * Milyar Rp./thn * Milyar Rp./thn * Milyar Rp./thn * Milyar Rp./thn * Milyar Rp./thn * Milyar Rp./thn * Milyar Rp./thn * Milyar Rp./thn * Milyar Rp./thn * Milyar Rp./thn * Milyar Rp./thn * Milyar Rp./thn * Persen/tahun Milyar Rp./thn * Milyar Rp./thn *

(23)

52. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. INF DDF DEFI DEFP DEFJ DPML DPRL DPTL DKE ER GDPL GEL GR GRI IL JP JPK KHM KUK NTAX PHK PNSR POP TAX TKF TKIP TKFP TKMI TKFJ TKTI Inflasi nasional B. Variabel Eksogen

Dummy desentralisasi fiskal tahun >2001=1, lainnya= 0 Indeks harga sektor industri

Indeks harga sektor pertanian Indeks harga sektor jasa

Permintaan TK berpendidikan menengah di sektor lainnya Permintaan TK berpendidikan rendah di sektor lainnya Permintaan TK berpendidikan tinggi di sektor lainnya Dummy krisis ekonomi tahun 1997 dan 1998=1, tahun lainnya= 0 Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS

Nilai produksi sektor lainnya

Pengeluaran pembangunan sektor lainnya Pertumbuhan ekonomi

Pertumbuhan sektor industri Investasi total sektor lainnya

Jumlah perusahaan besar dan sedang dalam industri Jumlah penyelesaian kasus hubungan industri Kebutuhan hidup minimum

Kredit usaha kecil

Penerimaan pemerintah di luar pajak Jumlah PHK

Jumlah PNS berpendidikan rendah Jumlah penduduk Indonesia Nilai penerimaan pajak Jumlah TK di sektor formal

Jumlah TK di sektor informal pertanian Jumlah TK di sektor formal pertanian

Jumlah TK berpendidikan menengah di sektor informal Jumlah TK di sektor formal jasa

Jumlah TK berpendidikan Tinggi di sektor

Persen/tahun

Ribu org/ tahun Ribu org/ tahun Ribu org/ tahun

Rp./$US Milyar Rp./thn * Milyar Rp./thn * Persen/tahun Persen/tahun Milyar Rp./thn * Perushn/ tahun Kasus/ tahun Rupiah/ tahun * Milyar Rp./thn * Milyar Rp./thn * Orang/tahun Ribu org/ tahun Ribu org/ tahun Milyar Rp./thn * Ribu org/ tahun Ribu org/ tahun Ribu org/ tahun Ribu org/ tahun Ribu org/ tahun Ribu org/ tahun

(24)

30. 31. 32. 33. 34. UMI UMJ UMP UMR WL

Upah minimum industri Upah minimum jasa Upah minimum pertanian Upah Minimum Rata-rata Rata-rata upah sektor lainnya

Rupiah/ tahun * Rupiah/ tahun * Rupiah/ tahun * Rupiah/ tahun * Rupiah/ tahun *

Keterangan : * nilai diriilkan dengan GDP deflator tahun dasar 1990. 4.2.6. Jenis dan Sumber Data

Studi ini menggunakan data sekunder time series tahunan dari tahun 1980 sampai dengan tahun 2004. Sumber data sekunder berasal dari Badan Pusat Statistisk, Bank Indonesia, Litbang Kompas, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Nota Keuangan Departemen Keuangan, Badan Koordinasi Penanaman Modal, Dirjen Bina Hubungan Ketenagakerjaan dan Pengawasan Norma Kerja. Sumber data isu-isu kebijakan era otda berasal dari laporan hasil lokakarya kebijakan pasar tenaga kerja yang dilaksanakan oleh Lembaga Penelitian SMERU dan Bappenas pada tanggal 16 September 2003 di Surabaya.

Gambar

Gambar 11. Tahapan Membangun Model Pasar TK dan  Perekonomian Indonesia
Tabel 10. Pembagian Blok Persamaan Model Pasar TK dan Perekonomian         Indonesia
Gambar 12. Model Pasar TK dan Perekonomian Indonesia
Tabel 11. Defenisi Operasional Variabel

Referensi

Dokumen terkait

Permintaan tenaga kerja atau kebutuhan tenaga kerja dalam suatu perkembangan ekonomi dapat dilihat dari kesempatan kerja (orang yang telah bekerja) dari setiap sektor atau

Dari seluruh sektor ekonomi ternyata secara rata-rata dalam periode 1997-2005, sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan memberikan kontribusi yang

Uji t secara parsial menunjukkan bahwa; PDRB berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja pada sektor ekonomi di Provinsi Sumatera Selatan,

Apabila dilihat dari sisi permintaan tenaga kerja, upah yang tinggi cenderung akan mengurangi jumlah pekerja yang bekerja pada sektor pertanian, dikarenakan para pemberi

Tidak seperti pengamat lainnya, dia berargumen semakin baik pendidikan orang muda tentu akan semakin baik kondisi pasar tenaga kerjanya dibanding yang kurang berpendidikan, hal ini

Hal ini menunjukkan bahwa sektor tersebut merupakan sektor unggulan di Kecamatan Singosari sehingga perlu terus dikembangkan untuk dapat memberikan kontribusi yang

Sektor perkebunan pun membayar TKI dengan upah yang tinggi meskipun masih lebih rendah dibanding upah bagi pekerja asal Malaysia itu sendiri, tidak mengurangi

Suatu Negara dapat dikatakan memiliki kondisi perekonomian yang baik melalui perhitungan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi atau secara sederhana diukur dari