BAB IV
GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA
DAN
MODEL MAKROEKONOMI
IV.1 Gambaran Makroekonomi IndonesiaPertumbuhan PDB Indonesia sebelum krisis moneter berada pada kisaran 7 % per tahun. Ini umumnya ditopang oleh pertumbuhan investasi dan net ekspor. Setelah krisis moneter menimpa Indonesia, PDB kita hanya tumbuh maksimal 6,7% per tahun. Bahkan pada saat krisis PDB mengalami pertumbuhan negatif.
IV.1.1 Pertumbuhan PDB dari segi Pengeluaran
PDB dari segi pengeluaran terdiri atas konsumsi swasta dan pemerintah, ditambah dengan jumlah investasi dan ekspor dan dikurangi impor barang dan jasa. Konsumsi masyarakat (swasta) adalah pendorong terbesar pertumbuhan ekonomi, ini tak terlepas dari persentasi konsumsi atas PDB yang rata-rata 60%. Sebelum tahun 1998, sumbangan pertumbuhan konsumsi atas PDB berada dibawah angka 55 % per tahun dan kemudian meningkat rata-rata 4 % per tahun setelah krisis moneter. Dapat dikatakan bahwa sumbangan konsumsi swasta (sebelum dan sesudah krisis moneter) merupakan penyumbang terbesar pertumbuhan PDB. Pada tahun 2006, sumbangan pertumbuhan konsumsi atas pertumbuhan PDB menurun 1,86 % yang diimbangi dengan peningkatan sumbangan investasi atas pertumbuhan PDB 4,14 %. Disisi investasi, terlihat pertumbuhan yang bersifat fluktuatif dari tahun-tahun, bahkan pertumbuhan investasi mengalami penurunan pada tahun 1998-1999. Fluktuasi pertumbuhan investasi menunjukkan minat investor yang menurun. Pada tahun 2006, investasi memberi sumbangan terbesar atas pertumbuhan PDB 4,14% dibandingkan dengan sumbangan konsumsi yang hanya 1,86 %.
Net Ekspor (selisih ekspor dan impor) sempat menunjukkan pertumbuhan negatif, namun pada tahun 2006 mengalami pertumbuhan 4,14 %. Pertumbuhan net ekspor yang positif menandakan bahwa Indonesia mempunyai peluang untuk meningkatkan cadangan devisa. Pertumbuhan investasi dan net ekspor mempunyai implikasi penguatan devisa negara dalam jangka panjang, ini penting
untuk menjaga stabilitas makroekonomi Indonesia yang masih dibelenggu hutang luar negeri.
IV.1.2 Pertumbuhan PDB dari segi Lapangan Usaha
PDB dari segi lapangan usaha terdiri atas sektor pertanian, pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, listrik gas dan air bersih, bangunan, perdagangan hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan persewaan dan jasa perusahaan dan jasa-jasa.
Sumbangan pertumbuhan industri pertanian terhadap pertumbuhan PDB semakin menurun, dari 0,66% pada tahun 1995 menjadi hanya 0,38 % pada tahun 2006. Penurunan ini dialami juga sektor industri pengolahan yang peran-nya menurun menjadi 1,27 % pada tahun 2006 dibandingkan dengan 2,73 % pada tahun 1995. Industri Jasa dan Komunikasi mempunyai peran yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Industri Jasa tumbuh menjadi 0,61% tahun 2006 dari hanya 0,29% pada tahun 1995. Demikian juga industri komunikasi yang semula 0,39% tahun 1995 menjadi 0,92% pada tahun 2006.
Industri keuangan persewaan dan hotel juga mengalami penurunan peranan terhadap pertumbuhan PDB. Kedua industri pada tahun 1990-an mempunyai sumbangan diatas 1% dan hanya menyumbang 1% pada tahun 2000-an.
Peranan sektor pertanian semakin menurun atas PDB. Namun penurunan itu diimbangi dengan makin besarnya peranan sektor industri (terutama sektor industri pengolahan) dalam pertumbuhan ekonomi. Disisi lain, pemerintah perlu menggalakkan peranan industri hotel dan restoran sebagai pemacu pertumbuhan ekonomi. Demikian juga sektor-sektor lain yang peranannya harus ditingkatkan. Terlihat bahwa Indonesia, walaupun mengalami pertumbuhan PDB, setelah krisis moneter, mengalami kemacetan pertumbuhan disektor riil. Ini perlu dibenahi pemerintah untuk memacu pertumbuhan ekonomi.
Tabel 4.1 PDB Indonesia 1995-2006 (PDB Berdasarkan Jenis Pengeluaran) Uraian 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 PDB 1.340.101,6 1.444.873,3 1.512.780,9 1.314.202,0 1.324.599,0 1.389.770,2 1.442.984,6 1.506.124,4 1.579.558,9 1.656.825,7 1.749.546,9 1.846.654,9 Konsumsi Swasta 726.185,3 796.776,5 859.089,0 806.097,6 843.445,5 856.798,3 886.736,0 920.749,6 956.593,4 1.004.109,0 1.043.805,1 1.076.928,1 Konsumsi Pmrintah 97.352,2 99.973,9 100.035,1 84.658,1 85.246,4 90.779,7 97.646,0 110.333,6 121.404,1 126.248,7 136.424,9 147.563,7 Investasi Total 346.857,7 397.201,9 431.234,5 288.891,8 236.326,6 275.881,2 293.792,7 307.584,6 310.776,9 354.561,3 389.757,2 404.606,6 Perubahan Stok 42.669,6 14.323,0 24.490,3 28.859,6 34.795,6 20.138,6 32.658,5 23.539,6 12.034,1 36.403,5 52.806,3 13.095,1 Ekspor Brng &Jasa 512.137,2 550.854,9 593.821,4 660.229,5 450.243,6 569.490,3 573.163,4 566.188,4 612.559,4 680.465,7 739.006,9 864.503,5 Impor Barang &Jasa 488.016,0 521.516,3 598.263,5 566.614,6 336.142,7 423.317,9 441.012,0 422.271,4 433.809,0 544.962,5 612.253,5 684.077,8
PDB Riil (%) 8,2 7,8 4,7 (13,1) 0,8 4,9 3,8 4,4 4,9 4,9 5,6 5,6
Tabel 4.2 Persentase Jenis Pengeluaran terhadap PDB Indonesia 1995-2006
Uraian 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006
Konsumsi Swasta (%) 54,2 55,1 56,8 61,3 63,7 61,7 61,5 61,1 60,6 60,6 59,7 58,3
Konsumsi Pemerintah (%) 7,3 6,9 6,6 6,4 6,4 6,5 6,8 7,3 7,7 7,6 7,8 8,0
Investasi Total (%) 25,9 27,5 28,5 22,0 17,8 19,9 20,4 20,4 19,7 21,4 22,3 21,9
Perubahan Stok (%) 3,2 1,0 1,6 2,2 2,6 1,4 2,3 1,6 0,8 2,2 3,0 0,7
Ekspor Barang dan Jasa (%) 38,2 38,1 39,3 50,2 34,0 41,0 39,7 37,6 38,8 41,1 42,2 46,8
Impor Barang dan Jasa (%) 36,4 36,1 39,5 43,1 25,4 30,5 30,6 28,0 27,5 32,9 35,0 37,0
Net Ekspor Barang dan Jasa 1,8 2,0 -0,29 7,1 8,6 10,5 9,2 9,6 11,3 8,2 7,2 9,8
Tabel 4.3 Persentase Pengeluaran terhadap Pertumbuhan PDB Indonesia 1995-2006
URAIAN 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006
Konsumsi Swasta (%) 4,45 5,36 4,44 -3,78 2,95 0,98 2,15 2,34 2,36 3,01 2,36 1,85
Konsumsi Pemerintah (%) 0,91 0,19 0,00 -0,99 0,04 0,42 0,51 0,95 0,77 0,30 0,63 0,65
Investasi Total (%) 0,35 3,99 2,44 -7,26 -3,25 3,32 1,32 0,96 0,20 3,01 2,21 0,83
Perubahan Stok (%) 0,45 -0,66 1,15 0,39 0,54 -0,61 1,41 -0,44 -0,37 4,45 1,36 -0,53
Ekspor Barang dan Jasa (%) 3,28 2,88 3,06 5,62 -10,81 10,85 0,26 -0,46 3,18 4,55 3,63 7,95 Impor Barang dan Jasa (%) 2,81 2,48 5,82 -2,28 -10,32 7,90 1,28 -1,19 0,75 8,43 4,32 4,35 Net Ekspor Barang dan Jasa 0,38 0,44 0,34 15,61 1,89 2,96 -0,88 0,85 2,74 -1,98 -0,47 4,14
Tabel 4.4 PDB Indonesia 1995-2006 (PDB Berdasarkan Sektor Industri )
Sektor 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006
Pertanian 209.033,4 211.132,3 208.318,5 212.824,2 216.831,4 225.685,7 232.973,5 243.076,0 248.222,8 254.391,3 261.296,8
Pertambangan dan Penggalian 162.704,1 166.147,9 161.559,9 158.937,8 167.692,2 168.244,3 169.932,0 168.426,7 160.100,4 162.642,0 168.729,9
Industri Pengolahan 375.581,4 395.304,4 350.095,3 363.824,0 385.597,9 398.323,8 419.388,1 441.754,7 469.952,4 491.699,5 514.192,2
Listrik gas dan air bersih 6.226,0 6.995,9 7.208,1 7.804,0 8.393,7 9.058,3 9.868,2 10.448,1 10.889,8 11.596,6 12.263,6
Bangunan 108.299,8 116.269,1 73.897,8 72.484,3 76.573,4 80.080,4 84.469,8 90.103,4 96.333,6 103.403,8 112.762,2
Perdagangan hotel dan restoran 245.579,2 259.890,5 212.548,8 212.418,0 224.452,6 234.273,1 243.409,3 256.299,5 271.104,9 294.396,3 311.903,5
Pengangkutan dan komunikasi 66.418,7 71.073,0 60.322,7 59.868,8 65.012,1 70.276,1 76.173,1 84.979,0 96.896,7 109.467,1 124.399,0
Keuangan persewaan dan jasa persh. 153.046,4 162.127,2 118.951,5 110.395,2 115.463,1 123.085,5 130.928,1 140.117,3 151.187,8 161.959,6 170.495,6
Jasa-jasa 124.838,9 129.353,3 124.378,2 126.795,8 129.753,8 133.957,4 138.982,3 144.354,2 152.137,3 159.990,7 170.612,1 Pendapatan Domestik Bruto 1.444.873,31.512.780,91.314.202,01.324.599,01.389.770,21.442.984,61.506.124,41.579.558,91.656.825,71.749.546,91.846.654,9
Pertumbuhan PDB Riil (%) 7,8 4,7 (13,1) 0,8 4,9 3,8 4,4 4,9 4,9 5,6 5,6
Tabel 4.5 Persentase Sektor Industri Terhadap PDB Indonesia 1995-2006
Sektor 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006
Pertanian 15,12 14,47 13,96 15,85 16,07 15,60 15,64 15,47 15,39 14,98 14,54 14,15 Pertambangan dan Penggalian 11,42 11,26 10,98 12,29 12,00 12,07 11,66 11,28 10,66 9,66 9,30 9,14 Industri Pengolahan 25,11 25,99 26,13 26,64 27,47 27,75 27,60 27,85 27,97 28,36 28,10 27,84 Listrik gas dan air bersih 0,41 0,43 0,46 0,55 0,59 0,60 0,63 0,66 0,66 0,66 0,66 0,66
Bangunan 7,17 7,50 7,69 5,62 5,47 5,51 5,55 5,61 5,70 5,81 5,91 6,11
Perdagangan hotel dan restoran 16,94 17,00 17,18 16,17 16,04 16,15 16,24 16,16 16,23 16,36 16,83 16,89 Pengangkutan dan komunikasi 4,56 4,60 4,70 4,59 4,52 4,68 4,87 5,06 5,38 5,85 6,26 6,74 Keuangan persewaan &jasa persh. 10,77 10,59 10,72 9,05 8,33 8,31 8,53 8,69 8,87 9,13 9,26 9,23
Tabel 4.6 Persentase pertumbuhan sektor industri terhadap pertumbuhan PDB Indonesia 1995-2006
Sektor 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006
Pertanian 0,66 0,45 0,14 -0,21 0,35 0,29 0,64 0,50 0,67 0,32 0,36 0,38
Pertambangan dan Penggalian 0,77 0,71 0,23 -0,34 -0,19 0,66 0,04 0,11 -0,09 -0,48 0,15 0,34
Industri Pengolahan 2,73 3,01 1,37 -3,05 1,08 1,66 0,91 1,47 1,49 1,81 1,30 1,27
Listrik gas dan air bersih 0,07 0,06 0,06 0,02 0,05 0,05 0,05 0,06 0,04 0,03 0,04 0,04
Bangunan 0,93 0,96 0,57 -2,05 -0,10 0,31 0,25 0,31 0,38 0,40 0,43 0,55
Perdagangan hotel dan restoran 1,35 1,39 1,00 -2,95 -0,01 0,92 0,71 0,63 0,86 0,95 1,45 1,00
Pengangkutan dan komunikasi 0,39 0,40 0,33 -0,69 -0,03 0,40 0,39 0,42 0,62 0,82 0,81 0,92
Keuangan persewaan & jasa persh. 1,19 0,64 0,64 -2,41 -0,60 0,38 0,56 0,55 0,62 0,72 0,66 0,49
Jasa-jasa 0,29 0,29 0,31 -0,36 0,19 0,22 0,30 0,35 0,35 0,50 0,47 0,61
Persentase Konsumsi atas Pertumbuhan PDB
(15,0) (10,0) (5,0) -5,0 10,0 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Pertumbuhan Pertumbuhan PDB Riil (%) Konsumsi Swasta (%) Konsumsi Pemerintah (%)
Persentase Sektor Pertaninan & Ind. Pengolahan atas PDB
(15,0) (10,0) (5,0) -5,0 10,0 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Pertumbuhan Tahun Pertumbuhan PDB Riil (%) Pertanian Industri Pengolahan
IV.2 Model Dasar Makroekonomi dalam System Dynamics
Dalam bagian ini akan dibahas struktur dan perilaku model, sebelum beranjak pada tingkatan simulasi. Pemahaman struktur dan perilaku model akan meningkatkan pemahaman kita bagaimana variabel model berinteraksi satu sama lain untuk menghasilkan tujuan model.
Berbeda dengan penelitian makroekonomi yang menetapkan diambil konstan sepanjang waktu, model system dynamics yang dikembangkan di sini tidak mengasumsikan kekonstanan . Dalam model yang -nya konstan, perubahan teknologi akan ditangkap oleh variabel TPF (Total Productivity Factor= Faktor Produktivitas Total). Dalam model system dynamics ini, peningkatan penguasaan teknologi ditangkap oleh peningkatan koefisien dan peningkatan output karena faktor eksternal ditangkap oleh TPF.
Dalam pemodelan system dynamics ada beberapa istilah yang patut diingat yaitu variabel endogenous, exogenous dan excluded variabel. Variabel endogenous dan exogenous adalah variabel yang tercakup dalam model. Perbedaannya ialah variabel endogenous nilainya berubah selama simulasi model, sedangkan variabel exogenous dibuat untuk mengurangi kompleksitas model. Variabel excluded adalah variabel yang berada di luar pengamatan model. Jenis variabel model dapat dilihat dalam Tabel 4.7 dibawah ini.
Tabel 4.7 Daftar Variabel Model
Endogenous Exogenous
o Output Y, Yo (output awal) [Rp/tahun] o Desired Capital [DK=Rp]
o Desired Investment, Investment [Rp/tahun] o Desired Labor (DE), Labor (Lw) [Jiwa] o Fraksi Pengangguran (U), Lagged
Unemployment (LU), nru [%]
o SED, LED [Rp/tahun]
(Short dan Long Run Expect.Demand) o Final Sales (FS) [Rp/tahun]
o Price Level (P), U_ratio [dimensionless] o Inventory (IV), Desired Inventory(DIV) [Rp]; Populasi [Jiwa]
o Real Interest Rate [%/tahun]
o Tingkat pertumbuhan Net Ekspor [%/tahun] o tae, tai, tak, tsy (time adjust.Employment, Investment,kapital, pendapatan ), nic (normal
inventory coverage) [tahun]
o spc (slope philip curve), apc, Fraksi Angkatan Kerja (fraksi AK), initial alpha, [dimensionless] o alk (average life time capital) [tahun]
o Time adjustment KLR [tahun] o Exchange Rate [US$/Rp]
o fcu (flexibility capital utilization)-dimensionless o Growth Population Rate (fract_growth)[%/tahun]
o Betha_aktual=dimensionless
o AG (Aggregate Demand), PTY (potential
output) [Rp/tahun] ; Kapital (Kw) [Rp]
o Capital Depreciation [KD=Rp/tahun] o Permanent Income (PY), Consumption (C) & pendapatan disposable (CDY)[Rp/tahun] o Pendapatan Per kapita [US$/tahun-jiwa] o Real Wage (RW) [Rp/tahun-jiwa]
Excluded
o Pengaruh Balance of Payment terhadap PDB o World Supply and Demand
o Utang Luar Negeri
Model system dynamics selalu diawali dengan tampilan diagram causal loop. Diagram non teknis ditandai dengan tanda + (plus) dan – (minus). Tanda + menunjukkan bahwa kedua variabel (variabel dipangkal dan ujung garis panah) mempunyai sifat searah (membesarnya variabel satu akan memperbesar variabel yang terletak diujung garis). Untuk tanda – pernyataan sebelumnya berlaku sebaliknya. Model makroekonomi tesis ini mempunyai diagram causal loop sesuai di Gambar 4.2.
Gambar 4.2 Causal Loop Model Makroekonomi -+ + + Konsumsi Desired Kapital Output Y Aggregate Demand
Short Run Expected Demand
Kapital Potential Output + + + + Unemployment + Net Ekspor + Government Spending + + + Real Wage
Capital Labor Ratio Operating Goal + + -+ + +
Long Run Expected Demand
+ Investasi + + Permanent Income 2 1 + b + a -+ + Change Capital in Labor Ratio Recognized Capital Labor Ratio -Labor Intensity () Capital Intensity ()
Explicit Capital Labor Ratio Goal - 3 -+ + 4 Desired Labor -Employment
Dalam diagram causal loop juga dikenal istilah loop positip dan loop negatif. Loop positip menyatakan adanya pertumbuhan dan sebaliknya loop negatif bersifat saling meniadakan atau menuju ekuilibrium (goal seeking). Loop positip akan meningkatkan nilai variabel yang satu atas pertambahan nilai variabel yang mempengaruhinya. Sementara dalam loop negatif, pertambahan satu variabel akan mengurangi besaran variabel lain sehingga tercapai keseimbangan. Loop yang ada dalam Gambar 4.2 diatas diuraikan dalam paragraf berikut ini.
Loop 1: Desired Kapital-Investasi-Kapital-Potential Output-Output-Aggregate Demand-Long Run Expected Demand-Desired Kapital
Loop ini bermakna peningkatan desired kapital merupakan akselerator pertumbuhan output melalui peningkatan permintaan investasi. Makin tinggi desired kapital maka semakin tinggi pula permintaan investasi yang berujung pada peningkatan output.
Loop 2: Desired Labor-Employment-Potential Output- Output-Aggregate Demand- Short Run Expected Demand - Desired Labor
Loop ini menerangkan bahwa permintaan tenaga kerja dan output adalah loop positip yang akan terus berkembang nilainya selama tingkat permintaan tenaga kerja terpenuhi.
Loop 3: Desired Labor- Employment- Unemployment-Real Wage -Desired Labor Ini merupakan loop negatif dimana variabel satu meniadakan pengaruh variabel lainnya. Loop ini disebut juga loop labor market clearing. Dimana peningkatan pengangguran (unemployment) akan menurunkan real wage. Dan peningkatan real wage akan menurunkan tingkat tenaga kerja yang dinginkan (desired labor). Loop 4: Desired Labor- Employment- Unemployment-Real Wage –Capital Labor Ratio Operating Goal – Recognized-Labor Intensity-Desired Labor
Loop ini juga loop negatif, dimana capital labor ratio (KLR) berfungsi sebagai technology mix. Dimana peningkatan KLR akan mengurangi permintaan tenaga kerja namun disisi lain pengurangan permintaan tenaga kerja akan mengurangi real wage. Dimana real wage ini kembali akan meningkatkan nilai variabel KLR.
Dapat juga ditambahkan bahwa peningkatan Capital-Labor Ratio (KLR) akan meningkatkan nilai variabel yang berarti industri bergerak menuju industri padat modal. Sebaliknya peningkatan akan mengurangi permintaan tenaga kerja. Sekilas kita melihat seolah-olah perubahan industri padat modal akan meningkatkan pengangguran.
Jika kita lihat lebih dalam, loop 1 mengandung pernyataan bahwa peningkatan permintaan kapital (yang disebabkan membesarnya KLR) akan meningkatkan aggregate demand yang juga berarti peningkatan desired labor. Secara serentak peningkatan aggregate demand akan meningkatkan permintaan tenaga kerja dan kapital yang akan meningkatkan semua variabel penting dalam pertumbuhan ekonomi yaitu: tingkat investasi, naiknya tingkat produksi potensial (potential output) dan tingkat pendapatan serta tingkat konsumsi. Dengan kata lain penurunan permintaan tenaga kerja akibat peningkatan capital-labor ratio akan dieliminasi oleh peningkatan permintaan investasi, meningkatnya pendapatan, tingkat produksi dan konsumsi sebuah perekonomian yang pada akhirnya akan menaikkan permintaan tenaga kerja.
Gambar 4.2 diatas juga menjelaskan bahwa capital labor ratio (KLR) dapat dikembangkan dengan arah garis a dan garis b. Garis a menunjukkan bahwa target KLR (capital labor ratio operating goal) akan meningkat jika real wage lebih besar dibandingkan marginal productivity labor. Garis b menunjukkan bahwa capital labor ratio operating goal dapat di tingkatkan sesuai dengan sasaran ekplisit.
Makin padat modal, maka makin tinggi tingkat produksi yang dapat dihasilkan oleh suatu perekonomian. Pentingnya fungsi produksi diperkuat oleh pernyataan Gregory N Mankiew, seorang ekonom terkenal, dalam buku “Mengenal Pembangunan dan Analisis Kebijakan” (Partowidagdo, 2004) beliau menyatakan bahwa “makin tinggi nilai fungsi produksi suatu negara, maka makin mampu negara itu meningkatkan standar kehidupannya”.
IV.2.1 Sektor Pengeluaran Pemerintah (GS-Government Spending)
Pengeluaran pemerintah digolongkan dalam 2 kategori, yakni government spending dan government transfer. Government Spending ialah pembiayaan rutin
yang dilakukan oleh pemerintah dalam pelaksanaan kegiatan perekonomian. Termasuk diantaranya pengeluaran gaji dan pembiayaan proyek pembangunan. Disisi lain, government transfer merupakan pengeluaran pemerintah yang ditujukan untuk meredistribusi ulang pendapatan masyarakat dengan tujuan menghilangkan kesenjangan pendapatan. Misalnya beras miskin, biaya operasional sekolah dan asuransi kesehatan miskin serta subsidi BBM.
SEKTOR GOV TRANSFER & SPENDING & PERMANENT INCOME IV plsh nic Yo PY1 CDY GT T KD Yo plst fcu tsy FS SED kurva_normal_Y G_Spending G_Spending_awal persentase_GS sdvY Y_aktual GT Yo G_Spending T PY Y tr PTY C apc DII DIV taiInvestasi_aktual
Gambar 4.3 Flow Diagram Sektor Government dan Permanent Income
Model yang ditampilkan disini merupakan pengembangan model yang ditulis Nathan Blair Forrester dalam disertasi yang berjudul “A Dynamic Synthesis of Basic Macroeconomic Therory: Implications for Stabilization Policy Analysis” (Forrester, 1993).
Dalam submodel ini terlihat bahwa Output (Y=PDB) mempunyai variabel noise yang diasumsikan berdistribusi normal dengan tingkat noise 1%. Variabel noise untuk representasi dari gangguan internal dan eksternal terhadap pertumbuhan ekonomi. Aggregate Demand (AG) juga diasumsikan berdistribusi normal dengan noise 2%.
Model ini mengasumsikan bahwa hubungan antara laju inflasi dan tingkat pengangguran dinyatakan dengan kurva Philip. Dimana kemiringan kurva philip diasumsikan sebesar 0,26 (variabel spc=0,26). Laju inflasi dipengaruhi oleh inersia inflasi dan tingkat pengangguran siklis (Mankiew, 2003). Tingkat pengangguran siklis merupakan selisih tingkat pengangguran sekarang dengan tingkat pengangguran alamiah. Inflasi juga dinyatakan mempunyai gangguan yang berdistribusi normal dengan rataan nol dan noise 7%. Besaran noise ini menggambarkan besarnya tekanan dalam pengendalian inflasi di Indonesia.
Semakin besar nilai noise ini juga merupakan indikasi bahwa pelaku ekonomi mempunyai backward looking inflation. Artinya pelaku ekonomi melakukan aktivitas ekonominya berdasarkan pengalaman inflasi masa lalu. Inflasi tinggi yang terjadi sebelumnya akan mendominasi tingkah laku pelaku ekonomi (bahkan lebih dominan dibanding laju inflasi yang ditetapkan otoritas moneter) dalam mengambil keputusan dalam bidang ekonomi.
IV.2.2 Sektor Potensial Output, Aggregate Demand dan Net Ekspor
Potensial Output (PTY) menyatakan fungsi produksi yang diwakili dengan fungsi produksi Cobb-Douglas. Variabel ini menyatakan kemampuan (kapasitas) produksi suatu negara berdasarkan jumlah tenaga kerja (penduduk usia produktif) dan kapital yang dimiliki. Makin besar kapasitasnya makin besar kemampuan produksi suatu area.
SEKTOR POTENTIAL OUTPUT
betha_aktual KOR Yo Lo Lw Kw PTY
SEKTOR AGGREGATE DEMAND
AG Net_Export FS AG_aktual DII kurva_normal_AG sdvAG
SEKTOR INFLASI P Ue_1 Po Uo K spc Ue nru P_dot P_dot_aktual kurva_normal_P sdP
SEKTOR NET EXPORT
switch
Net_Export Net_export_growth
Net_Export_DOT
Gambar 4.4 Flow Diagram Sektor Aggregate Demand, Potential Output dan Inflasi serta Net Export
Variabel betha_aktual merupakan pernyataan numerik seberapa besar peran tenaga kerja bagi pertumbuhan ekonomi. Semakin besar sumbangan output yang dihasilkan tenaga kerja terhadap pertumbuhan, maka makin tinggi besaran variabel ini. Indonesia belum mempunyai data statistik yang lengkap dalam data kapital (Kw) sehingga diasumsikan bahwa rasio KOR (kapital-output ratio) konstan (2,39). Asumsi ini juga sejalan dengan banyak literatur ekonomi yang menunjukkan konstanitas variabel ini dalam jangka panjang.
Khusus untuk variabel Aggregate Demand (AG) dilengkapi dengan variabel noise dengan tingkat noise 2% yang diasumsikan berdistribusi normal. Asumsi ini digunakan untuk mewakili keadaan perekonomian yang selalu mengalami siklus bisnis (Forrester, 1993).
Dalam model dasar ini net ekspor (selisih ekspor dan impor) tumbuh 5,87% per tahun (sesuai dengan data pada Tabel 4.3). Sedangkan pertumbuhan investasi diperkirakan sebesar 6,67% per tahun. Data-data ini sesuai dengan tampilan Tabel 4.3 untuk pertumbuhan ekonomi dari tahun 2000-2006.
IV.2.3 Sektor Permintaan Jangka Panjang dan Jangka Pendek (Long Run
Expexted Demand = LED dan Short Run Expected Demand=SED)
SEKTOR KAPITAL tak Kw KD KOR alk DK betha_aktual Yo Investasi_Awal LED Real_Interest_rate Desired_Investment available_investment Investasi_aktual laju_investasi
SEKTOR SHORT DAN LONG EXP DEMAND
tsld SED tssd LED Yo SED1 AG_aktual nic DIV AG_aktual LED1 Yo
Gambar 4.5 Flow Diagram Sektor Kapital, SED dan LED
Model juga menjelaskan bahwa tingkat investasi dan pertumbuhan kapital dipengaruhi permintaan jangka panjang (LED=Long Run Expected Demand) (Forrester, 1993). Sedangkan permintaan tenaga kerja akan dipengaruhi oleh permintaan jangka pendek – Short Run Expected Demand (SED).
Model kapital juga menyatakan bahwa tingkat investasi yang ingin dicapai ditentukan oleh kapital yang diinginkan (DK=desired kapital). Makin besar nilai semakin besar variabel DK (jumlah kapital yang diinginkan). Dalam kenyataannya, jumlah investasi yang tersedia (available investment) dipengaruhi oleh kondisi perekonomian suatu negara. Investasi aktual dalam sektor ini dipengaruhi oleh kesediaan investasi (available investment), jika investasi tersedia (available investment) < DK (desired kapital) maka investasi aktual sama dengan tingkat available investment. Kesediaan investasi ini dipengaruhi laju investasi, makin tinggi laju investasi, maka makin tinggi available investment.
IV.2.4 Sektor Tenaga Kerja, Kapital, dan Pendapatan Per Kapita
SEKTOR TENAGA KERJA DAN PENDAPATAN PER KAPITA
tae growth_pop Lw labour_supply LU P Y SED Lw fract_growth Lo RWo DE initial_alpha Yo Rw betha_aktual adjusted_labor_supply labour_supply fraksi_AK konversi_USD tsu Y_USD populasi Ue LU1 Lw_dot income_per_kapita nru Ue Uo adjusted_labor_supply Uo U_ratio Ue Uo jumlah_TK
Gambar 4.6 Flow Diagram Sektor Tenaga Kerja dan Pendapatan per Kapita Model juga menjelaskan bahwa tingkat tenaga kerja yang tersedia dibatasi oleh tingkat kesediaan tenaga kerja (labour supply). Disini diasumsikan bahwa perbandingan usia produktif dibandingkan jumlah total penduduk adalah konstan 46,4%. Pendapatan per kapita disini berdasarkan pendapatan per kapita menurut harga berlaku yang dinyatakan dengan US$ dengan konversi rupiah ke US$ bernilai tetap Rp. 9.200 per US$ (exogenous).
Dalam model diasumsikan tingkat pertumbuhan penduduk tetap 1,2% per tahun. Angka ini merupakan angka rataan pertambahan penduduk dari tahun 2000-2006. Selama simulasi diasumsikan laju pertambahan penduduk diasumsikan tetap dalam jangka panjang.
Diagram sektor diatas menyatakan hubungan diantara MPL (Marginal Productivity Labour) dan tingkat pertumbuhan variabel . Selama Rw > MPL (upah riil), maka makin tinggi permintaan kapital (variabel KLR=rasio kapital-labour akan meningkat). Ini menunjukkan bahwa perusahaan akan meningkatkan jumlah investasinya, jika upah riil lebih besar dari tingkat pertambahan output untuk pertambahan 1 tenaga kerja dan sebaliknya. Peningkatan rasio ini akan
meningkatkan nilai sehingga industri akan cenderung bergerak ke arah padat modal.
SEKTOR PADAT MODAL
Lw KLR_aktual KLR KLR_aktual Rw A MPL U_ratio KLR_dot betha_dot tadjus_betha LR_target betha_aktual Kw Lw betha switch_1 MPL KOR Y Rw U_ratio ta_KLR RWo KLR_goal
Gambar 4.7 Flow Diagram Sektor Padat Modal IV.3 Uji Validitas Model
Sebelum menggunakan model untuk menganalisa menaksir pertumbuhan ekonomi kedepan, kita perlu melakukan uji validitas model. Pengujian model yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan membandingkan perilaku sistem dalam model dengan perilaku sistem yang sebenarnya yang direpresentasikan oleh data empirik di lapangan.
Jika hasil simulasi model, memperlihatkan trend yang sesuai dengan data aktual lapangan, maka model dapat diterima sebagai suatu representasi persoalan yang dunia nyata dapat digunakan untuk analisis kebijakan.
Dalam uji statistik, standar yang digunakan untuk mengukur kesalahan adalah rataan kuadrat kesalahan (MSE=mean square error), dan rincian distribusi kesalahan-kesalahan yang timbul diuji dengan statistik ketidaksamaan Theil. Dengan memisahkan kesalahan-kesalahan menjadi proporsi ketidaksamaan bias (inequality bias proportion),UM, ketidaksamaan varian (variance inequality proportion),US, dan proporsi ketidaksamaan kovarian (inequality covariance proportion),UC. Uji prilaku model dilakukan atas 4 komponen variabel, yaitu :
variabel populasi penduduk Indonesia, tingkat pendapatan per kapita dan output (PDB) serta indeks harga (P=price level).
Tahun Penduduk Penduduk
Simulasi Aktual 2000 206.265.000 206.265.000 2001 208.754.152 208.647.000 2002 211.273.342 211.057.000 2003 213.822.933 213.494.000 2004 216.403.292 215.960.000 2005 219.014.790 218.869.000 2006 221.657.803 222.051.000
Jumlah 1,27553E+09 1,27429E+09
Rataan 2,12589E+08 2,12382E+08
MSE 0,000 RMSE 0,13% Um 0,191 Us 0,064 Uc 0,745 Total U 1,00
Grafik Populasi Penduduk
1,950E+08 2,000E+08 2,050E+08 2,100E+08 2,150E+08 2,200E+08 2,250E+08 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Jiwa Hasil Simulasi Data Aktual
Untuk variabel penduduk Indonesia dan output (PDB) kesalahan lebih besar pada Uc sedangkan kesalahan Us dan Um relatif kecil. Ini mengindikasikan adanya pengaruh perubahan siklis yang tidak dapat ditangkap oleh model. Ketiga variabel juga mempunyai derajat MSE dan RMSPE yang mendekati 0 (nol). Umumnya kesalahan ini bukanlah kesalahan sistematis.
Tahun PDB PDB Simulasi Aktual 2000 1,38977E+15 1,38977E+15 2001 1,53700E+15 1,44298E+15 2002 1,56300E+15 1,50612E+15 2003 1,60800E+15 1,57956E+15 2004 1,65266E+15 1,65683E+15 2005 1,72680E+15 1,74955E+15 2006 1,79100E+15 1,84665E+15 2007 1,87000E+15 1,96299E+15
Jumlah 1,33740E+16 1,31345E+16 Rataan 1,67175E+15 1,64181E+15
MSE 0,00 RMSE 3% Um 0,363 Us 0,187 Uc 0,451 Total U 1,00 Grafik PDB 0E+00 5E+14 1E+15 2E+15 2E+15 3E+15 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Tahun Rp PDB PDB_aktual
Tabel 4.9 Uji Validitas Output (PDB) Tabel 4.8 Uji Validitas Penduduk
Tahun PDB/kapita PDB/kapita Simulasi Aktual 2000 732,37 789 2001 888,00 775 2002 1.000,00 932 2003 1.089,00 1.116 2004 1.199,00 1.167 2005 1.351,00 1.321 2006 1.500,00 1.663 2007 1.636,00 1.947 Jumlah 7.759,37 7.763,00 Rataan 1.108,48 1.109,00 MSE 0,0078 RMSE 8,82% Um 0,002 Us 0,369 Uc 0,630 Total U 1,00
Grafik Income Per Kapita
-500 1.000 1.500 2.000 2.500 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Tahun US$ Income/Kapita Simulasi Income/kapita Aktual
Tahun Indeks Harga Indeks Harga
Simulasi Aktual 2000 1,000 1 2001 1,109 1,115 2002 1,243 1,2474 2003 1,333 1,3296 2004 1,444 1,4126 2005 1,576 1,5603 2006 1,708 1,7648 2007 1,807 1,8307 Jumlah 9,41 9,43 Rataan 1,34 1,35 MSE 0,0009 RMSE 2,94% Um 0,365 Us 0,031 Uc 0,604 Total U 1,00
Grafik Price Level (P)
1,00 1,10 1,20 1,30 1,40 1,50 1,60 1,70 1,80 1,90 2,00 200 0 200 1 200 2 200 3 200 4 200 5 200 6 200 7 Tahun Nilai
P rice Level Simulasi P rice Level A ktual
Fakta yang sama juga menjelaskan bahwa variabel pendapatan per kapita (income per kapita=PDB per kapita) dan price level (P) mempunyai Uc yang relatif besar dibandingkan Um dan Us. Hal ini menunjukkan bahwa nilai tiap-tiap titik (point by point) antara simulasi dengan hasil aktual tidak sama meskipun model dapat dikatakan memiliki nilai rata-rata dan kecenderungan yang sama dengan nilai
Tabel 4.10 Uji Validitas PDB per kapita
aktualnya. Nilai UC yang besar merupakan indikasi terjadinya gangguan (noise) pada pola siklus (cyclical modes) pada data historis yang tidak dapat ditangkap oleh model. Kesalahan ini pada umumya bukan merupakan kesalahan sistematis. IV.4 Perilaku Model
Untuk melihat perilaku model dalam skenario business as usual, pemodel mesti menampilkan perubahan nilai variabel sesuai hasil simulasi sesuai perilaku variabel yang telah diuji validitasnya.
Hasil simulasi variabel yang populasi, output dan pendapatan per kapita dari tahun 2000 sampai dengan 2050 ditampilkan dalam grafik-grafik dibawah ini:
Time populasi 2.000 2.020 2.050 200.000.000 250.000.000 300.000.000 350.000.000
Populasi dalam model standar tumbuh 1,2% per tahun. Jumlah populasi pada tahun 2030: 295.605.802 jiwa dan pada tahun 2050 mencapai: 375.754.822 jiwa penduduk. Grafik Output (PDB) Time Y 2.000 2.010 2.020 2.030 2.040 2.050 5e15 1e16 2e16 2e16 3e16 3e16
Output rill (PDB riil) akan tumbuh mencapai: Rp. 8 milyar. Sedangkan pada pada tahun 2050 diperkirakan akan mencapai Rp. 30,5 milyar.
Grafik Pendapatan per Kapita Time income_per_kapita 2.000 2.010 2.020 2.030 2.040 2.050 0 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000
Pendapatan per kapita dinyatakan dalam US$. Dimana nilai pada tahun 2030: US$13.683 per jiwa-tahun dan akhir simulasi diperkirakan mencapai: US$ 63.421 per jiwa-tahun.
Grafik Price Level
Time P 2.000 2.010 2.020 2.030 2.040 2.050 1 2 3 4 5 6 7
Tingkat harga (P-price level) yang juga dikenal dengan istilah indeks harga konsumen bernilai 4,71 pada tahun 2030 dan 7,18 pada tahun 2050.
Gambar 4.8 Hasil berbagai simulasi skenario dasar (business as usual) Tabel 4.12 Data yang digunakan untuk simulasi model dasar.
Uraian 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Rataan
Laju Konsumsi Pemerintah 7,56% 12,99% 10,03% 3,99% 8,06% 8,16% 8,47% Laju Investasi Riil 6,49% 4,69% 1,04% 14,09% 9,93% 3,81% 6,67%
Noise Output (Y-PDB) 1%
Noise Permintaan Agregat (AG) 2%
Noise Price Level (P) 7%
Nilai awal 1
0,24
Skenario model dasar ini didasarkan pada asumsi pertumbuhan investasi riil 6,67 % per tahun, peningkatan konsumsi pemerintah 8,47% per tahun, tingkat noise output 1% dan gangguan permintaan agregat (aggregate demand) 2% dan price level 7%.
Yang menarik kita lihat disini ialah besaran noise price level (P) menunjukkan bahwa selama 7 tahun terakhir ini terlihat tekanan yang kuat terhadap
pengendalian inflasi di Indonesia. Ini sejalan dengan kebijakan pemerintah mencabut subsidi BBM 3 kali dalam 5 tahun terakhir ini.
Fakta ini juga menunjukkan bahwa pelaku ekonomi Indonesia mempunyai karakteristik backward looking inflation, yang menunjukkan tingkat ekspektasi inflasi yang tinggi atau kepercayaan yang rendah pelaku ekonomi Indonesia terhadap kapabilitas otoritas moneter dan fiskal dalam mengendalikan laju inflasi di Indonesia. Gangguan output ini dapat dilihat dari dari grafik output (Y) yang tidak “smooth”.
Uji validitas model yang menghasilkan nilai Uc yang dominan menunjukkan bahwa noise atau gangguan sangat mempengaruhi besaran variabel makroekonomi Indonesia. Penetapan noise merupakan hal yang patut diperhitungkan karena Indonesia termasuk “the small open economy”. Istilah ini dikaitkan dengan perekonomian Indonesia yang terbuka dan dipengaruhi oleh perekonomian dunia. Sedangkan istilah “small” merujuk kepada kekuatan ekonomi Indonesia yang relatif kecil sehingga variabel ekonomi Indonesia akan dipengaruhi oleh perubahan variabel ekonomi dunia.