Sainah, Lailatul
145
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KURANGNYA PEMINAT
PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI IMPLAN PADA PASANGAN USIA
SUBUR DI DESA TAMALATEA KECAMATAN MANUJU KABUPATEN
GOWA TAHUN 2017
Sainah
1, Lailatul Khaeriya Rima
2*Prodi Kebidanan, Fakultas Kesehatan, Universitas Patria Artha, Indonesia
* E-mail: [email protected]
Abstrak
Tujuan : diketahuinya faktor-faktor yang mempengaruhi kurangnya peminat penggunaan alat kontrasepsi implan pada pasangan usia subur di Desa Tamalatea Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa. Metode yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel 30 pasangan usia subur yang menggunakan alat kontrasepsi di Desa Tamalatea. Hasil uji analisis menggunakan uji chi-square dengan tingkat signifikasi 0,05, terdapat pengaruh pengetahuan dengan kurangnya peminat penggunaan alat kontrasepsi implan pada pasangan usia subur dengan nilai p-value: 0,01, terdapat pengaruh dukungan suami dengan kurangnya peminat penggunaan alat kontrasepsi implan pada pasangan usia subur dengan nilai p-value: 0,002, terdapat pengaruh informasi dari petugas kesehatan dengan kurangnya peminat penggunaan alat kontrasepsi implan pada pasangan usia subur dengan nilai p-value: 0,01. Dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh pengetahuan, dukungan suami dan informasi dari petugas kesehatan dengan kurangnya peminat penggunaan alat kontrasepsi implan pada pasangan usia subur. Saran bagi peneliti selanjutnya untuk lebih memperhatikan faktor-faktor yang memepengaruhi kurangnya peminat penggunaan alat kontrasepsi implan pada pasangan usia subur
Kata kunci : Alat kontrasepsi implan, pasangan usia subur PENDAHULUAN
Indonesia menghadapi peningkatan angka kelahiran atau fertilitas yang semakin meningkat setiap tahunnya. Hal ini tandai dengan didapatkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS- statistics Indonesia) pada tahun 2010 angka fertilitas total sebanyak 2,41% dan pada tahun 2012 angka fertilitas meningkat menjadi 2,60%. Hal ini tentunya menjadi masalah karena populasi penduduk yang semakin meningkat
akan menyebabkan kelangkaan sumber daya ekonomi dan inflasi. Masalah ini harus segera ditangani salah satunya dengan cara penggunaan alat kontrasepsi, agar angka kelahiran dapat diturunkan (BPS, 2015).
Dalam WHO (1970) mengatakan bahwa keluarga berencana adalah tindakan yang membantu pasangan suami istri untuk menghindari kehamilan yang tidak di inginkan, mendapatkan kehamilan yang memang sangat diinginkan, mengatur
Patria Artha Journal of Nursing Science
2018. Vol. 2(2), 145 – 154 Issn: 2549 5674
e-issn: 2549 7545 Reprints and permission:
Sainah, Lailatul
146
interval diantara kehamilan, mengontrolwaktu saat kelahiran agar dari kedua pasagan suami istri ini bisa menentukan jumlah anak dalam keluarga (Suratum dkk, 2013).
Data yang terdapat pada tahun 2013 pengguna KB aktif secara nasional sebesar 75,88%. Dari 33 Provinsi di Indonsia masih ada lagi 15 provinsi yang cakupannya masih berada di bawah cakupan nasional. Provinsi Sulawesi Selatan mencapai angka 77,18 % dimana angka ini menduduki peringkat 13 di Indonesia yang memiliki Pasangan Usia Subur aktif menggunakan KB (KEMENKES RI, 2014).
Data dari PMA 2015/Makassar-RI penggunaan alat kontrasepsi implan di provinsi Sulawesi Selatan sebanyak 1,9%, dimana angka pengguna implan merupakan yang paling sedikit di bandingkan dengan pengggunaan alat kontrasepsi modern lainnya, hal ini dibuktikan dengan persentase masing-masing alat kontrasepsi modern diantaranya pengguna IUD sebanyak 13,2%, sterilisasi wanita 4,2%, kondom pria 9,4%, pil 26,8%, dan suntikan 44,3%.
Bulan Januari tahun 2017 di Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Gowa di dapatkan data jumlah usia subur sebanyak 120.218 jiwa (68.32 %) dengan pengguna implan sebanyak 9.449 akseptor. Menurut data tersebut Kecamatan Manuju memiliki pasangan usia subur sebanyak 3.004 jiwa (62.08 %), dimana pengguna implan sebanyak 333 akseptor.
Menurut BKKBN (2009) dalam Thoyyib dan Windarti (2013) mengatakan bahwa program KB dengan metode jangka panjang masih kurang peminatnya termasuk implan. Sedangkan pada kenyataannya implan merupakan metode kontrasepsi hormonal yang memiliki efektivitas sangat tinggi serta memiliki angka kegagalan yang rendah. Hal ini bisa didasari karena beberapa faktor dari akseptor tersebut, sebagaimana dijelasakan Prihastuti (2005) dalam Suyanti (2016) mengatakan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi wanita dalam pemilihan alat kontrasepsi khususnya implan diantaranya adalah keleluasaan dalam memilih,
kecocokan, keefektifan, kenyamanan, keamanan,tempat pelayanan KB yang sesuai, pengetahuan pasangan usia subur, dukungan suami dan informasi dari petugas kesehatan.
Musu’ (2012) menjelaskan bahwa pada faktor penguat yakni dukungan suami sangat berpengaruh dalam pemilihan alat kontrasepsi implan. Responden yang mendapatkan dukungan dari suami mempunyai peluang yang lebih besar untuk memakai implan. Begitupun dengan pengetahuan, Nuzula (2015) mengatakan bahwa beberapa akseptor yang diteliti yang tidak memakai implan disebabkan mereka mempunyai anggapan yang salah tentang manfaat serta efek samping yang ditimbulkan dari implan. Hal ini karena kurangnya pengetahuan yang dimiliki oleh pasangan usia subur tentang implan, karena pada kenyataanya pengetahuan yang baik akan mendorong pasangan usia subur untuk menggunakan implan.
Demikian pula dengan informasi dari petugas kesehatan, Nuzula (2015) mengatakan bahwa informasi dari petugas kesehatan sangat mempengaruhi besarnya akseptor KB yang memakai implan hal ini terjadi karena pasangan usia subur telah mendapat informasi yang benar dari petugas kesehatan.
Desa Tamalatea adalah desa yang terletak di Kecamatan Manuju dimana Desa Tamalatea sendiri terdiri dari 3 dusun yang masing-masing memiliki Pasangan Usia Subur aktif menggunakan KB yang terdiri dari IUD, MOW, implan, suntik, dan pil. Berdasarkan data dari PPKBD Desa Tamalatea pada bulan Januari Tahun 2017 jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) sebanyak 562 orang, jumlah peserta KB aktif 339 akseptor, dimana pengguna alat kontrasepsi implan sebanyak 65 akseptor yang terdiri dari Dusun Patte’ne 47 akseptor, Dusun Belamoncong sebanyak 18 akseptor, sementara Dusun Conggoro’ tidak terdapat peserta KB aktif yang menggunakan alat kontrasepsi implan.
Berdasarkan uraian sebelumnya, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Faktor-Faktor yang
Sainah, Lailatul
147
Mempengaruhi Kurangnya PeminatPenggunaan Alat Kontrasepsi Implan pada Pasangan Usia Subur di Desa Tamalatea Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa”. Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan deskriptif analitik, yaitu penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan datanya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan cross sectional, yaitu jenis penelitian yang menekankan waktu pengukuran / observasi data variabel dependen dan variabel independen hanya pada saat itu. Pada jenis ini, variabel independen dan dependen dinilai secara stimultan pada suatu saat, jadi tidak ada tindak lanjut (Nursalam, 2008).
Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Desa Tamalatea, Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa. Dilaksanakan pada tanggal bulan 16-22 Juni 2017.
Populasi dan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas subjek atau objek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang mana hal ini tentunya ditetapkan dan dipilih langsung oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2016).
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasangan usia subur dan merupakan peserta KB aktif di Desa Tamalatea, Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa, dengan jumlah 562 orang pada bulan Januari tahun 2017.
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi , misalnya karena keterbatasan, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa sampel dapat
diberlakukan untuk populasi yang betul-betul reprensatif (Sugiyono, 2016).
Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian dari pasangan usia subur yang aktif menggunakan alat kontrasepsi di Desa Tamalatea, Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa dengan jumlah 30 pasangan usia subur.
Pengumpulan Data
Pengumpulan data didefinisikan sebagai suatu proses untuk mendapat data sesuai dengan karakteristik subyek yang diperlukan penelti dalam susati penelitian (Nursalam, 2008). Pengumpulan data pada penelitin ini dilakukan dengan menggunakan koisioner. Pengumpulan data dilaksanakan di Desa Tamalatea Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa. Adapun tahapan pengumpulan data yang dilakukan peneliti yaitu :
1. Melakukan observasi secara langsung dilapangan
2. Menganbil data melalui PLKB desa untuk mengetahui jumlah psangan usia subur di Desa Tamalatea Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa.
3. Setelah mendapat data peneliti melakukan skrining sesuai dengan criteria inklusi penelitian yang kemudian dimasukkan didalam rumus pada tekhnik sampling hingga didapatkan responden sebanyak 30 orang .
4. Memberikan penjelasan tentang tujuan dan manfaat penelitian serta menjaga kerahasiaan reponden yang telah dipilih sesuai dengan tekhnik sampling.
5. Memberikan lembar informed consent kepada orang bersedia menjadi responden untuk ditandatangani.
6. Melakukan wawancara terpimpin dalam mengisi kuisioner sesuai dengan waktu yang ditentukan peneliti yakni sebanyak 30 menit.
7. Peneliti mengecek kembali lembaran koisioner apakah jawaban responden sudah lengkap atau belum.
Sainah, Lailatul
148
8. Peneliti mengelompokkan data yangsudah dikumpul sesuai dengan variable penelitian.
Analisis Data
Analisa Univariat merupakan uji statistik dugunkan untuk menguji variabel individual. Uji ini pada umumnya digunakan untuk menguji distribusi sampel (untuk uji satu sampel), dependensi, perubahan atau perpedaan. Ukuran data variabel yang akan dianalisa tersebut akan menentukan apakah akan menggunakan statistik parametric atau nonparametric (Hidayat & Istiadah, 2011).
Statistik Bivariat adalah berbeda dengan uji statistik univariat yang digunakan untuk menguji variabel individual, uji statistik bivariat digunakan untuk menguji asosiasi atau hubungan antara dua variabel. Beberapa koefisien yang dapat digunakan untuk data berukuran nominal , ordinal, dan interval serta rasio (Hidayat & Istiadah, 2011).
Hasil Penelitian
Karakteristik Responden Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur Responden
Tabel 4.1
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur Di Desa Tamalate Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa
Tahun 2017 (n=30) Umur Frekuensi (f) Persen (%) 21-25 4 13.3 26-30 2 6.7 31-35 9 30.0 36-40 6 20.0 41-45 8 26.7 46-50 1 3.3 Total 30 100
Sumber Data Primer Juni 2017
Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan bahwa pasangan usia subur yang paling banyak menggunakan KB yaitu umur 31-35 tahun sebanyak 9 (30,0%) responden dan terendah yaitu umur 46-50 tahun sebanyak 1 (3,3%) responden.
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pendidikan Responden
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan Di Desa Tamalate
Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa Tahun 2017 (n=30)
Pendidikan Frekuensi (F) Persen (%) Tidak Sekolah 8 26,7 SD 3 10,0 SMP 3 10,0 SMA 10 33,3 Perguruan Tinggi 6 20,0 Total 30 100
Sumber Data Primer Juni 2017
Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan bahwa pasangan usia subur yang paling banyak menggunakan KB yaitu pendidikan SMA 10 (33,3%) responden dan terendah yaitu pendidikan SD sebanyak 3 (10,0 %) responden dan pendidikan SMP sebanyak 3 (10,0 %) responden.
Hasil Analisa Data
Penggunaan Alat kontrasepsi Implan Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Penggunaan Alat Kontrasepsi
Implan di Desa Tamalate Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa
Tahun 2017 (n=30) Penggunaan
Implan Frekuensi (F) Persen (%)
Ya 10 33,3
Tidak 20 66,7
Total 30 100
Sumber Data Primer Juni 2017
Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan bahwa pengguna alat kontrasepsi implan sebanyak 10 (33,3%) responden dan
Sainah, Lailatul
149
pasangan usia subur yang tidakmenggunakan alat kontrasepsi implan sebanyak 20 (66,7%) responden.
Pengetahuan
Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan Responden pada
Pasangan Usia Subur di Desa Tamalatea Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa
Tahun 2017 (n= 30) Pengetahuan Frekuensi (f) Persen (%) Baik 20 66,7 Kurang 10 33,3 Total 30 100
Sumber data primer Juni 2017
Berdasarkan tabel 4.4 menunjukkan bahwa dari 30 responden, yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 20 (66,7%) responden dan responden yang memiliki pengetahuan kurang sebanyak 10 (33,3 %) responden.
Dukungan Suami
Tabel 4.5
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Dukungan Suami pada Pasangan Usia Subur di Desa Tamalatea
Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa Tahun 2017 (n= 30)
Dukungan
Suami Frekuensi (f) Persen (%)
Didukung 18 60,0
Tidak
Didukung 12 40,0
Total 30 100
Sumber data primer Juni 2017
Berdasarkan tabel 4.5 menunjukkan bahwa dari 30 responden, yang didukung suami sebanyak 18 (60,0%) responden dan responden yang tidak didukungan suami sebanyak 12 (40,0%) responden.
Informasi dari Petugas Kesehatan Tabel 4.6
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Informasi dari Petugas Kesehatan pada Pasangan Usia Subur di
Desa Tamalatea Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa Tahun 2017 (n= 30)
Informasi dari Petugas Kesehatan Frekuensi (f) Persen (%) Baik 20 66,7 Kurang 10 33,3 Total 30 100
Sumber data primer Juni 2017
Berdasarkan tabel 4.6 menunjukkan bahwa dari 30 responden tentang informasi dari petugas kesehatan, kategori baik sebanyak 20 (66,7%) responden dan yang terkkategori kurang sebanyak 10 (33,3%) responden.
Analisis Bivariat
Pengaruh Pengetahuan Terhadap Kurangnya Minat Pasangan Usia Subur Untuk Menggunakan Alat Kontrasepsi Implan
Tabel 4.7
Pengaruh Pengetahuan Terhadap Penggunaan Implan di Desa Tamalatea Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa Tahun
2017
Penget ahuan
Penggunaan Alat
Kontrasepsi Implan TOTAL valu
P-e Ya Tidak N % N % N % Baik 10 50,0 10 50 20 100 0.01 Kurang 0 0,0 10 100 10 100 Total 10 33,3 20 66,7 30 100
Sumber: Data Olahan Tahun 2017
Dari uji statistik, diperoleh nilai probabilitas (P-value) 0,01 berarti dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara pengetahuan dengan kurangnya peminat penggunaan alat kontrasepsi implan
Sainah, Lailatul
150
pada pasangan usia subur di Desa TamalateaKecamatan Manuju Kabupaten Gowa Tahun 2017.
Pengaruh Dukungan Suami Terhadap Kurangnya Minat Pasangan Usia Subur Untuk Menggunakan Alat Kontrasepsi Implan
Tabel 4.8
Pengaruh Dukungan Suami Terhadap Penggunaan Implan di Desa Tamalatea Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa Tahun
2017
Dukunga n Suami
Penggunaan Alat
Kontrasepsi Implan TOTAL value
P-Ya Tidak N % N % N % Didukung 10 55,6 8 44,4 18 100 0.002 Tidak didukung 0 0 12 100 12 100 Total 10 33,3 20 66,7 30 100
Sumber: Data Olahan Tahun 2017
Dari uji statistik, diperoleh nilai probabilitas (P-value) 0,002 berarti dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara dukungan suami dengan kurangnya peminat penggunaan alat kontrasepsi implan pada pasangan usia subur di Desa Tamalatea Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa Tahun 2017.
Pengaruh Informasi dari Petugas kesehatan Terhadap Kurangnya Minat Pasangan Usia Subur untuk Menggunakan Alat Kontrasepsi Implan
Tabel 4.9
Pengaruh Informasi dari Petugas Kesehatan Terhadap Penggunaan Alat Kontrasepsi Implan di Desa Tamalatea
Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa Tahun 2017
Informasi dari Petugas Kesehata n Penggunaan Alat
Kontrasepsi Implan TOTAL
P-value Ya Tidak N % N % N % Baik 10 50 10 50 29 100 0.01 Kurang 0 0 10 100 10 100 Total 10 33,3 20 66,7 30 100
Sumber: Data Olahan Tahun 2017
Dari uji statistik, diperoleh nilai probabilitas (P-value) 0,01 berarti dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara informasi dari petugas kesehatan terhadap kurangnya peminat penggunaan alat kontrasepsi impan pada pasangan usia subur di Desa Tamalatea Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa Tahun 2017.
PEMBAHASAN
Pengaruh Pengetahuan terhadap Kurangnya Peminat Penggunaan Alat Kontrasepsi Implan pada Pasangan Usia Subur
Berdasarkan tabel 4.7 menunjukkan bahwa pasangan usia subur yang memiliki pengetahuan baik, yang menggunakan alat kontrasepsi implan sebanyak 10 (50,0%) responden dan tidak terdapat responden yang memiliki pengetahuan kurang yang menggunakan alat kontrasepsi implan, dan responden yang memiliki pengetahuan baik tapi tidak menggunakan alat kontrasepsi implan sebanyak 10 (50,0%) responden dan pasangan usia subur yang memiliki pengetahuan kurang tapi tidak menggunakan alat kontrasepsi implan sebanyak 10 (100,0%).
Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p-value 0,01 (p < 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh antara pengetahuan responden dengan kurangnya minat pasangan usia subur dalam menggunakan alat kontrasepsi implan.
Hal ini menunjukkan bahwa kebanyakan responden mengetahui tentang alat kontrasepsi implan yang mana jika ditinjau dari segi pendidikan terakhir dari 30 responden pendidikan terbanyak menggunakan alat kontrasepsi implan pada jenjang pendidikan SMA yakni sebanyak 10 (33,3%) responden dan yang terendah yakni pendidika SD sebanyak 3 (10,0%) dan pendidikan SMP sebanyak sebanyak 3 (10,0%)`responden.
Berdasarkan hasil penelitian diatas peneliti berasumsi bahwa pengetahuan pasangan usia subur tentang penggunaan alat kontrasepsi khusunya implan terkategori baik dan hal ini juga dapat
Sainah, Lailatul
151
mempengaruhi kurangnya minat pasanganusia subur untuk menggunakan alat kontrasepsi implan. Hal ini bisa terjadi karena adanya persepsi responden yang negatif mengenai alat kontrasepsi implan yang mana sebagian responden menyatakan bahwa menggunakan alat kontrasepsi implan akan berpengaruh pada kenaikan berat badan yang susah dikontrol karena pengaruh hormone pada alat kontrasepsi implan, dan pada kulit akan terdapat bekas luka atau scar akibat pemasangan dan pencabutan implan, yang mana hal ini akan berpengaruh pada penampilan yang dapat mengarah pada kurangnya rasa percaya diri pasangan usia subur tersebut.
Pengetahuan, sikap dan praktik KB masyarakat (klien) sangat berpengaruh dan di perlukan dalam penambahan peserta baru yang ingin menggunakan alat kontrasepsi implan, sehingga masyarakat melaksanakannya secara mantap sebagai perilaku yang sehat dan bertanggung jawab. Pengetahuan juga perperan sebagai dasar bagi mekanisme sosial kultural yang dapat menjamin berlangsungnya proses penerimaan untuk menggunakan cara kontrasepsi kepada calon peserta KB, yang kemudian mengajak mereka untuk menggunkan alat kontrasepsi implan (Wawan, 2011).
Hasil penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian Andria (2016) yang mengatakan bahwa pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya pemakaian KB implan dengan jumlah reponden yang memiliki pengetahuan cukup sebanyak 49 (56,3%) responden.
Hasil penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian Marliza (2013) dengan didapatkannya hasil bahwa pengetahuan responden dalam klasifikasi cukup yaitu 49 (56%) responden dan pengetahuan kurang sebanyak 5 (44%) responden. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada tingkat pengetahuan yang lebih tinggi juga akan mempengaruhi kurangnya peminat penggunaan implan jika tidak terdapat minat pada pasangan usia subur tersebut.
Menurut SDKI (2007) dalam Musu’ (2012) yang mengatakan bahwa pendidikan dan pengetahuan sangat bergantung sehingga semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin banyak pengetahuan yang akan kita ketahui khususnya tentang KB.
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dan kurangnya peminat penggunaan alat kontrasepsi implan pada pasangan usia subur memiliki pengaruh yang sangat erat. Dengan demikian peneliti mengatakan bahwa dengan pengetahuan ada dari para responden akan lebih berpikir luas tentang alat kontrasepsi implan beserta keuntungan dan kekurangan yang terkandung didalamnya.
Pengaruh Dukungan Suami terhadap Kurangnya Peminat Penggunaan Alat Kontrasepsi Implan pada Pasangan Usia Subur
Berdasarkan tabel 4.8 menunjukkan bahwa pasangan usia subur yang didukung oleh suami yang menggunakan alat kontrasepsi implan sebanyak 10 (55,6%) responden dan tidak terdapat responden tidak didukung oleh suami yang menggunakan alat kontrasepsi implan, dan pasangan usia subur yang didukung oleh suami tapi tidak menggunakan alat kontrasepsi implan sebanyak 8 dari (44,4%), dan pasangan usia subur yang tidak didukung oleh suami tapi tidak menggunakan alat kontrasepsi implan sebanyak 12 responden (100,0%).
Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p-value 0,002 (p < 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh antara dukungan suami dengan kurangnya minat pasangan usia subur untuk menggunakan alat kontrasepsi implan.
Pendapat tentang dukungan suami juga di sampaikan oleh seorang penulis buku yang mengemukakan pendapatnya yakni Eko (2008) dalam Yuliawan (2014), yang mengatakan bahwa dukungan suami sangat berpengaruh dalam pemilihan alat kontrasepsi karna hal ini merupakan suatu bentuk menjadikan suami untuk memiliki
Sainah, Lailatul
152
sikap perhatian dan kasih sayang, dukungansuami yang baik dapat menjaga keeratan dalam kekeluargaan dan mampu meberikan motivasi yang baik pada ibu termasuk juga dalam memilih alat kontrasepsi implan. Hal ini juga sejalan dengan SDKI (2007) dalam Musu’ (2012) yang mengatakan bahwa tidak adanya diskusi antara suami istri merupakan cerminan kurangnya minat pribadi, penolakan terhadap persoalan. Hal ini berkaitan dengan dukungan yang diberikan oleh suami dan ketertarikan dari pasangan agar masing-masing mau berdiskusi bersama untuk membicarakan tentang program KB dalam keluarganya.
Berdasarkan hasil peneitian ini dapat disimpulkan bahwa dukungan suami mempengaruhi kurangnya peminat penggunaan alat kontrasepsi implan pada pasangan usia subur. Dengan demikian peneliti menyatakan bahwa dengan dukungan yang kurang dari suami akan berpotensi lebih besar mengurangi minat penggunaan implan pasa pasangan usia subur.
Pengaruh Informasi dari Petugas Kesehatan terhadap Kurangnya Peminat Penggunaan Alat Kontrasepsi Implan pada Pasangan Usia Subur
Berdasarkan tabel 4.9 menunjukkan bahwa pasangan usia subur yang mendapatkan informasi terkategori baik dari petugas kesehatan yang menggunakan alat kontrasepsi implan sebanyak 10 responden (50,0%) responden dan tidak terdapat responden yang menggunakan alat kotrasepsi implan yang terkategori kurang mengenai penyampaian informasi dari petugas kesehatan, dan pasangan usia subur yang mendapat informasi terkategori baik dari petugas kesehatan tapi tidak menggunakan alat kontrasepsi implan sebanyak 10 responden (50,0%) dan yang terkategori kurang mengenai penyampaian informasi dari petugas kesehatan tapi tidak menggunakan alat kontrasepsi implan sebanyak 10 (100,0%) responden.
Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p-value 0,01 (p < 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh antara
informasi dari petugas kesehatas dengan kurangnya minat pasangan usia subur dalam menggunakan alat kontrasepsi implan.
Hal ini juga sejalan dengan teori yang dampaikan oleh Setiyaningrum (2015) yang mengatakan bahwa informasi dari petugas kesehatan yang di sampaikan dengan baik dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan cara pemberian bantuan mengenai berbagai masalah yang berkaitan dengan dunia kesehatan sangat baik untuk dilakukan agar tercipta rasa saling percaya sehingga akseptor akan lebih terbuka dalam berkonsultasi dan dalam memilih alat kontrasepsi yang akan digunakan.
Pelayanan kesehatan yang juga mencakup informasi dari petugas kesehatan ini sangat dibutuhkan dalam penggunaan alat kontrasepsi implan karena dalam penympaian informasi ini petugas kesehatan juga berperan dalam pemberian penerangan konseling, advokasi, penerangan kelompok atau berupa penyuluhan dan penerangan massa melalui media cetak. Hal ini di lakukan agar pasangan usia subur mengerti tentang alat kontrasepsi yang akan digunkan khususnya implan (Setyaningrum, 2015).
Hasil peneitian ini sejalan dengan hasil penelitian Nuzula (2015) dimana didapatkan hasil bahwa 48,48% yang terkategori baik dan 51,52% kategori kurang, dengan 78,79% responden yang tidak menggunakan alat kontrasepsi implan dan 21,21% yang menggunakan alat kontrasepsi implan. Analisis chi-square menunjukkan nilai p-value 0,001 (< 0,05).
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa informasi dari petugas kesehatan dengan kurangnya minat pasangan usia subur dalm menggunakan implan sangat berpengaruh. Dengan demikian penyampaian informasi dari petugas kesehatan akan membuat pasangan usia subur untuk mampu membandingkan alat kontrasepsi yang cocok digunakan.
Sainah, Lailatul
153
KESIMPULANBerdasarkan analisis dan pembahasan dari data faktor-faktor yang mempengaruhi kurangnya peminat penggunaan alat kontrasepsi implan terhadap pasangan usia subur, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa : Ada pengaruh antara pengetahuan dengan kurangnya minat penggunaan alat kontrasepsi implan pada pasangan usia subur.Ada pengaruh antara dukungan suami dengan kurangnya minat penggunaan alat kontrasepsi implan pada pasangan usia subur.Ada pengaruh antara informasi dari petugas kesehatan dengan kurangnya minat penggunaan alat kontrasepsi implan pada pasangan usia subur.
DAFTAR PUSTAKA
Andria.(2016). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Rendahnya Pemakaian KB Implan Di Desa Margamulya Wilayah Kerja Puskesmas Rambah Samo I. 03 Mei 2017. Diperoleh dari:http://jurnal.stikeskendedes.ac. id/index.php/KMJ/article/download/ 48/29
Badan Pusat Statistik, (2015). Angka Fertilitas Total Menurut Provinsi . O7 April 2016. Diperoleh dari : https://www.bps.go.id/
BPS Sulsel. (2015). Sulawesi Selatan dalam Angka. 07 April 2017. Diperoleh dari : http://sulsel.bps.go.id/website/pdf_ publikasi/Sulawesi-Selatan-Dalam-Angka-2015.pdf
Hidayat., Taufik, Istiadah., Nina. (2011). Panduan Lengkapi Menguasai SPSS 19 Untuk Mengolah Data Statistik Penelitian. Jakarta Selatan : PT. TransMedia
KEMENKES RI, (2014). Pusat data dan informasi. Jakarta. 01 Februari 2017.
Diperoleh dari :
http://dokumen.tips/documents/inf
odatin-harganas-56d85ad334cc9.html.
Marliza.(2013). Faktor Faktor Yang Berhubungan dengan Rendahnya Minat Ibu Untuk Memilih Implant Sebagai Alat Kontrasepsi Di
Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan.03 Mei 2017. Diperoleh dari : http://www.depkes.go.id/folder/vie w/01/structure-publikasi-pusdatin-info-datin.html
Nursalam.(2008).Konsep Dan Penerapan Metogologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis, Dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta : Saleba medika
Nuzula.(2015).Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Pemakaian Implan Pada Wanita Pasangan Usia Subur Di Kecamatan Tegalsari Kabupaten Banyuwangi. O3 Mei 2017.
Diperoleh dari : http://www.pps.unud.ac.id/thesis/p df_thesis/unud-1486-2108852980-tesis%20Implan%20firdawsyi%20nuzul a.pdf PMA/Makassar.(2015). Performance, Monitoring, and accountability 2020. 07 April 2017. Diperoleh dari : https://pma2020.org/sites/default/f
iles/ID-MK-R1-ID-Brief-v6-2015.11.2_0.pdf
Setiyaningrum, Erna. (2015). Pelayanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi. Jakarta : CV. Trans Info Media
Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung : CV. Alfabeta
Suratum, dkk. (2013). Pelayanan keluarga berencana dan pelayanan kontrasepsi. Jakarta : CV. Trans Info Media
Suyanti .(2016). Diterminan Penggunaan Alat Kontrasepsi Implan Di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Sukahaji Kabupaten Majalengka Tahun 2015. 06 April 2017. Diperoleh dari : http://jurnal.syntaxliterate.co.id/in
dex.php/syntax-literate/article/download/33/49/ Thoyyib,B,T., Windarti, Y.(2013). Hubungan
antara tingkat pengetahuan tentang implan dengan pemakaian kontrasepsi implan pada akseptor di
Sainah, Lailatul
154
BPS Ny. HJ. Farohah Desa DukunGresik. 06 April 2017. Diperoleh dari :
http://journal.unusa.ac.id/index.ph p/jhs/article/download/16/18
Wawan, A., Dewi, M. (2011). Teori dan pengukuran pengetahuan, sikap dan perilaku manusia. Yogyakarta : Nuha Medika
Yuliawan, D., (2014). Pengaruh Dukungan Suami terhadap Kesejahteraan Ibu Nifas di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Miri Kabupaten Sragen. 26 Agustus 2017. Diperoleh dari : http://www.nusaku.com/forum/arch ive/indeks.php/t.4800