LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN POST PARTUM BLUES
PADA PASIEN POST PARTUM BLUES DAN DEPRESI
DAN DEPRESI
POSTPARTUM
POSTPARTUM
A.
A. PENGERTIANPENGERTIAN
Postpartum blues adalah depresi ringan dan sepintas yang umumnya terjadi Postpartum blues adalah depresi ringan dan sepintas yang umumnya terjadi dalam minggu pertama atau lebih sesudah melahirkan (Marshal, 2004). Menurut Jan dalam minggu pertama atau lebih sesudah melahirkan (Marshal, 2004). Menurut Jan Riordan dan Kathleen (2001), mendefinisikan bahwa post partum blues adalah Riordan dan Kathleen (2001), mendefinisikan bahwa post partum blues adalah “Kesedihan” postpartum : tangisan, perubahan suasana hati yang mana lebih sering “Kesedihan” postpartum : tangisan, perubahan suasana hati yang mana lebih sering terjadi pada anak pertama dan bersifat sementara pada minggu pertama dan kedua. terjadi pada anak pertama dan bersifat sementara pada minggu pertama dan kedua. Dapat juga diartikan keadaan depresi secara fisik maupun psikis pada ibu yang dapat Dapat juga diartikan keadaan depresi secara fisik maupun psikis pada ibu yang dapat terjadi setelah beberapa hari
terjadi setelah beberapa hari kelahiran sampai kira-kira sebulan kemudian (Sjahruddin,kelahiran sampai kira-kira sebulan kemudian (Sjahruddin, 2006). Sedangkan Linda (2004), mendefinisikan postpartum blues adalah periode 2006). Sedangkan Linda (2004), mendefinisikan postpartum blues adalah periode pendek kelabilan emosi
pendek kelabilan emosi sementara sementara yang ditandai dengan mudah menangis, yang ditandai dengan mudah menangis, intabilitas,intabilitas, rasa letih, mudah marah, cemas dan sedih biasanya terjadi menjelang akhir minggu rasa letih, mudah marah, cemas dan sedih biasanya terjadi menjelang akhir minggu pascapartum pertama.
pascapartum pertama.
Depresi postpartum adalah suatu kondisi mood depresi yang berat yang Depresi postpartum adalah suatu kondisi mood depresi yang berat yang terjadinya sekitar 4 minggu setelah kelahiran bayi . Depresi postpartum mungkin terjadinya sekitar 4 minggu setelah kelahiran bayi . Depresi postpartum mungkin muncul terlambat 30 minggu dari postpartum, bahkan sebagian mengatakan
muncul terlambat 30 minggu dari postpartum, bahkan sebagian mengatakan kurang darikurang dari 12 bulan pertama postpartum
12 bulan pertama postpartum.. Manifestasinya berupa menangis, insomnia, depresi,Manifestasinya berupa menangis, insomnia, depresi, kelemahan, cemas, tidak bergairah dan konsentrasi yang buruk.
kelemahan, cemas, tidak bergairah dan konsentrasi yang buruk.
Depresi postpartum pertama kali ditemukan oleh Pitt pada tahun 1988. Pitt Depresi postpartum pertama kali ditemukan oleh Pitt pada tahun 1988. Pitt (Regina dkk, 2001), depresi postpartum adalah depresi yang bervariasi dari hari ke hari (Regina dkk, 2001), depresi postpartum adalah depresi yang bervariasi dari hari ke hari dengan menunjukkan kelelahan, mudah marah, gangguan nafsu makan, dan kehilangan dengan menunjukkan kelelahan, mudah marah, gangguan nafsu makan, dan kehilangan libido (kehilangan selera untuk berhubungan intim dengan suami). Masih menurut Pitt libido (kehilangan selera untuk berhubungan intim dengan suami). Masih menurut Pitt (Regina dkk, 2001) tingkat keparahan depresi postpartum bervariasi. Keadaan ekstrem (Regina dkk, 2001) tingkat keparahan depresi postpartum bervariasi. Keadaan ekstrem yang paling ringan yaitu saat ibu mengalami “kesedihan
yang paling ringan yaitu saat ibu mengalami “kesedihan sementara” yang berlangsementara” yang berlangsungsung sangat cepat pada masa awal postpartum, ini disebut dengan the blues atau maternity sangat cepat pada masa awal postpartum, ini disebut dengan the blues atau maternity blues.
blues. Gangguan Gangguan postpartum postpartum yang yang paling paling berat berat disebut disebut psikosis psikosis postpartum postpartum atauatau melankolia. Diantara 2 keadaan ekstrem tersebut terdapat kedaan yang relatif melankolia. Diantara 2 keadaan ekstrem tersebut terdapat kedaan yang relatif mempunyai tingkat keparahan sedang yang disebut neurosa depresi atau depresi mempunyai tingkat keparahan sedang yang disebut neurosa depresi atau depresi postpartum.
B.
B. ETIOLOGIETIOLOGI
`Penyebab pasti belum diketahui secara pasti,
`Penyebab pasti belum diketahui secara pasti, namun banyak faktor yang diduga berperannamun banyak faktor yang diduga berperan dapat menyebabkan post partum blues, diantaranya :
dapat menyebabkan post partum blues, diantaranya : 1.
1. Faktor hormonal yang berhubungan dengan perubahan kadar estrogen,Faktor hormonal yang berhubungan dengan perubahan kadar estrogen, progesterone,
progesterone, prolaktin prolaktin dan dan ekstradiol. ekstradiol. Penurunan Penurunan kadar kadar estrogen estrogen setelahsetelah melahirkan sangat berpengaruh pada gangguan emosional pascapartum karena melahirkan sangat berpengaruh pada gangguan emosional pascapartum karena estrogen memiliki efek supresi aktivitas enzim monoamine aksidase yaitu suatu estrogen memiliki efek supresi aktivitas enzim monoamine aksidase yaitu suatu enzim otak yang bekerja menginaktifasi noradrenalin dan serotonin yang berperan enzim otak yang bekerja menginaktifasi noradrenalin dan serotonin yang berperan dalam perubahan mood dan depresi
dalam perubahan mood dan depresi 2.
2. Faktor demografi yaitu umur dan paritas.Faktor demografi yaitu umur dan paritas. 3.
3. Pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan.Pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan. 4.
4. Latar belakang psikososial ibu, seperti ; tingkat pendidikan, status perkawinan,Latar belakang psikososial ibu, seperti ; tingkat pendidikan, status perkawinan, kehamilan yang tidak diinginkan, riwayat gangguan jiwa sebelumnya, social kehamilan yang tidak diinginkan, riwayat gangguan jiwa sebelumnya, social ekonomi serta keadekuatan dukungan social dari
ekonomi serta keadekuatan dukungan social dari lingkungan ( suami, keluarga danlingkungan ( suami, keluarga dan teman ). Apakah suami menginginkan juga kehamilan ini, apakah suami, keluarga teman ). Apakah suami menginginkan juga kehamilan ini, apakah suami, keluarga dan teman memberikan dukungan moril ( misalnya dengan membantu pekerjaan dan teman memberikan dukungan moril ( misalnya dengan membantu pekerjaan rumah tang selama atau berperan sebagai tempat ibu mengadu/berkeluh-kesah ) rumah tang selama atau berperan sebagai tempat ibu mengadu/berkeluh-kesah ) selama ibu menjalani kehamilannya atau timbul permasalahan misalnya suami selama ibu menjalani kehamilannya atau timbul permasalahan misalnya suami yang tidak membantu, tidak mau
yang tidak membantu, tidak mau mengerti perasaan istri maupun persoalan lainnyamengerti perasaan istri maupun persoalan lainnya dengan suami, problem dengan orangtua dan me
dengan suami, problem dengan orangtua dan mertua, problem dengan si rtua, problem dengan si sulung.sulung. 5.
5. Takut kehilangan bayinya atau Takut kehilangan bayinya atau kecewa dengan bayinya.kecewa dengan bayinya.
Ada beberapa pendapat yang menyebutkan bahwa postpartum blues tidak Ada beberapa pendapat yang menyebutkan bahwa postpartum blues tidak berhubungan dengan perubahan hormonal, biokimia atau kekurangan gizi. Antara berhubungan dengan perubahan hormonal, biokimia atau kekurangan gizi. Antara 8 % sampai 12 % wanita tidak dapat menyesuaikan peran sebagai orang tua dan 8 % sampai 12 % wanita tidak dapat menyesuaikan peran sebagai orang tua dan menjadi sangat tertekan sehingga mencari bantuan dokter. Dengan kata lain para menjadi sangat tertekan sehingga mencari bantuan dokter. Dengan kata lain para wanita lebih mungkin mengembangkan depresi postpartum jika mereka tertekan wanita lebih mungkin mengembangkan depresi postpartum jika mereka tertekan secara sosial dan emosional serta baru saja mengalami peristiwa kehidupan yang secara sosial dan emosional serta baru saja mengalami peristiwa kehidupan yang menekan.
menekan.
Ada juga pendapat bahwa kemunculan dari postpartum blues ini disebabkan oleh Ada juga pendapat bahwa kemunculan dari postpartum blues ini disebabkan oleh beberapa faktor
beberapa faktor dari dalam dari dalam dan luar dan luar individu. Penelindividu. Penelitian dari Dirksen itian dari Dirksen dan De dan De JongeJonge Andriaansen ( 1985 ) menunjukan bahwa depresi tersebut membawa kondisi yang Andriaansen ( 1985 ) menunjukan bahwa depresi tersebut membawa kondisi yang berbahaya bag
B.
B. ETIOLOGIETIOLOGI
`Penyebab pasti belum diketahui secara pasti,
`Penyebab pasti belum diketahui secara pasti, namun banyak faktor yang diduga berperannamun banyak faktor yang diduga berperan dapat menyebabkan post partum blues, diantaranya :
dapat menyebabkan post partum blues, diantaranya : 1.
1. Faktor hormonal yang berhubungan dengan perubahan kadar estrogen,Faktor hormonal yang berhubungan dengan perubahan kadar estrogen, progesterone,
progesterone, prolaktin prolaktin dan dan ekstradiol. ekstradiol. Penurunan Penurunan kadar kadar estrogen estrogen setelahsetelah melahirkan sangat berpengaruh pada gangguan emosional pascapartum karena melahirkan sangat berpengaruh pada gangguan emosional pascapartum karena estrogen memiliki efek supresi aktivitas enzim monoamine aksidase yaitu suatu estrogen memiliki efek supresi aktivitas enzim monoamine aksidase yaitu suatu enzim otak yang bekerja menginaktifasi noradrenalin dan serotonin yang berperan enzim otak yang bekerja menginaktifasi noradrenalin dan serotonin yang berperan dalam perubahan mood dan depresi
dalam perubahan mood dan depresi 2.
2. Faktor demografi yaitu umur dan paritas.Faktor demografi yaitu umur dan paritas. 3.
3. Pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan.Pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan. 4.
4. Latar belakang psikososial ibu, seperti ; tingkat pendidikan, status perkawinan,Latar belakang psikososial ibu, seperti ; tingkat pendidikan, status perkawinan, kehamilan yang tidak diinginkan, riwayat gangguan jiwa sebelumnya, social kehamilan yang tidak diinginkan, riwayat gangguan jiwa sebelumnya, social ekonomi serta keadekuatan dukungan social dari
ekonomi serta keadekuatan dukungan social dari lingkungan ( suami, keluarga danlingkungan ( suami, keluarga dan teman ). Apakah suami menginginkan juga kehamilan ini, apakah suami, keluarga teman ). Apakah suami menginginkan juga kehamilan ini, apakah suami, keluarga dan teman memberikan dukungan moril ( misalnya dengan membantu pekerjaan dan teman memberikan dukungan moril ( misalnya dengan membantu pekerjaan rumah tang selama atau berperan sebagai tempat ibu mengadu/berkeluh-kesah ) rumah tang selama atau berperan sebagai tempat ibu mengadu/berkeluh-kesah ) selama ibu menjalani kehamilannya atau timbul permasalahan misalnya suami selama ibu menjalani kehamilannya atau timbul permasalahan misalnya suami yang tidak membantu, tidak mau
yang tidak membantu, tidak mau mengerti perasaan istri maupun persoalan lainnyamengerti perasaan istri maupun persoalan lainnya dengan suami, problem dengan orangtua dan me
dengan suami, problem dengan orangtua dan mertua, problem dengan si rtua, problem dengan si sulung.sulung. 5.
5. Takut kehilangan bayinya atau Takut kehilangan bayinya atau kecewa dengan bayinya.kecewa dengan bayinya.
Ada beberapa pendapat yang menyebutkan bahwa postpartum blues tidak Ada beberapa pendapat yang menyebutkan bahwa postpartum blues tidak berhubungan dengan perubahan hormonal, biokimia atau kekurangan gizi. Antara berhubungan dengan perubahan hormonal, biokimia atau kekurangan gizi. Antara 8 % sampai 12 % wanita tidak dapat menyesuaikan peran sebagai orang tua dan 8 % sampai 12 % wanita tidak dapat menyesuaikan peran sebagai orang tua dan menjadi sangat tertekan sehingga mencari bantuan dokter. Dengan kata lain para menjadi sangat tertekan sehingga mencari bantuan dokter. Dengan kata lain para wanita lebih mungkin mengembangkan depresi postpartum jika mereka tertekan wanita lebih mungkin mengembangkan depresi postpartum jika mereka tertekan secara sosial dan emosional serta baru saja mengalami peristiwa kehidupan yang secara sosial dan emosional serta baru saja mengalami peristiwa kehidupan yang menekan.
menekan.
Ada juga pendapat bahwa kemunculan dari postpartum blues ini disebabkan oleh Ada juga pendapat bahwa kemunculan dari postpartum blues ini disebabkan oleh beberapa faktor
beberapa faktor dari dalam dari dalam dan luar dan luar individu. Penelindividu. Penelitian dari Dirksen itian dari Dirksen dan De dan De JongeJonge Andriaansen ( 1985 ) menunjukan bahwa depresi tersebut membawa kondisi yang Andriaansen ( 1985 ) menunjukan bahwa depresi tersebut membawa kondisi yang berbahaya bag
Etiologi pasti dari depresi postpartum masih belum jelas, namun berbagai Etiologi pasti dari depresi postpartum masih belum jelas, namun berbagai faktor fisiologis dan psikososial telah diinvestigasi. Berikut beberapa hal yang faktor fisiologis dan psikososial telah diinvestigasi. Berikut beberapa hal yang diduga menjadi etiologi dari depresi postpartum :
diduga menjadi etiologi dari depresi postpartum :
a. Neurobiologi postpartum a. Neurobiologi postpartum
Mekanisme biologi dari depresi postpartum dipercaya Mekanisme biologi dari depresi postpartum dipercaya berhubungan dengan gangguan depresif mayor. Depresi secara berhubungan dengan gangguan depresif mayor. Depresi secara umum merupakan penyakit dengan integritas sirkuit neuron, yang umum merupakan penyakit dengan integritas sirkuit neuron, yang telah ditunjukkan pada studi dengan pengurangan volume otak telah ditunjukkan pada studi dengan pengurangan volume otak seseorang yang didiagnosa dengan gangguan depresif mayor. seseorang yang didiagnosa dengan gangguan depresif mayor. Yang menarik, jumlah volume yang hilang secara langsung Yang menarik, jumlah volume yang hilang secara langsung berhubungan dengan lama penyakit. Stres dan depresi bekerja berhubungan dengan lama penyakit. Stres dan depresi bekerja dengan mengurangi jumlah protein otak yang mencetuskan dengan mengurangi jumlah protein otak yang mencetuskan pertumbuhan neuron dan formasi sinaps. Dan penyebab pertumbuhan neuron dan formasi sinaps. Dan penyebab neurobiologi ini berinteraksi dengan kemampuan genetik dan faktor neurobiologi ini berinteraksi dengan kemampuan genetik dan faktor lingkungan atau psikososial
lingkungan atau psikososial b.
b. Gangguan AutoimunGangguan Autoimun
Kondisi fisiologis yang cenderung ke kemarahan setelah
Kondisi fisiologis yang cenderung ke kemarahan setelah kelahirankelahiran bayi
bayi bisa bisa berasal berasal dari dari autoimun. autoimun. Satu Satu penelitiian penelitiian menduga menduga bahwabahwa kemarahan ibu berasal dari paparan ibu terhadap berbagai antigen fetal kemarahan ibu berasal dari paparan ibu terhadap berbagai antigen fetal selama persalinan. Sebagai contoh,tiroiditis postpartum merupakan suatu selama persalinan. Sebagai contoh,tiroiditis postpartum merupakan suatu kondisi dengan autoantibodi tiroid yang terdeteksi di plasma diantara 6 kondisi dengan autoantibodi tiroid yang terdeteksi di plasma diantara 6 minggu hingga 6 bulan postpartum. Hal tersebut terjadi pada 6-9 %
minggu hingga 6 bulan postpartum. Hal tersebut terjadi pada 6-9 % wanitawanita yang tidak memiliki riwayat
yang tidak memiliki riwayat penyakit tiroid. Pada sebagian kasus, penyakitpenyakit tiroid. Pada sebagian kasus, penyakit ini muncul dengan fase hipertiroid yang diikuti dengan fase hipotiroid, atau ini muncul dengan fase hipertiroid yang diikuti dengan fase hipotiroid, atau hanya muncul dengan hipertiroidisme atau hipotiroidisme saja. Beberapa hanya muncul dengan hipertiroidisme atau hipotiroidisme saja. Beberapa studi telah mencoba untuk menentukan kejadian depresi yang mana yang studi telah mencoba untuk menentukan kejadian depresi yang mana yang berhubungan
berhubungan dengan dengan penyakit penyakit tiroid tiroid itu itu sendiri. sendiri. Belum Belum ada ada kesimpulankesimpulan pasti
pasti yang yang berhasil berhasil didapatkan, didapatkan, namun namun depresi depresi postpartum postpartum mungkinmungkin berdasarkan tiroid.
berdasarkan tiroid. c.
c. Gangguan Tidur dan Ritme SirkardianGangguan Tidur dan Ritme Sirkardian
Sedikitnya 5 studi sejak tahun 1968 telah menduga bahwa Sedikitnya 5 studi sejak tahun 1968 telah menduga bahwa gangguan tidur dapat menyebabkan depresi postpartum. Ibu baru tidak gangguan tidur dapat menyebabkan depresi postpartum. Ibu baru tidak selalu dapat tidur ketika mereka membutuhkannya, karena mereka harus selalu dapat tidur ketika mereka membutuhkannya, karena mereka harus menjaga bayinya. Kecenderungan wanita tersebut untuk menjadi depresi menjaga bayinya. Kecenderungan wanita tersebut untuk menjadi depresi mungkin disebabkan oleh kelelahan atau fatique. Melatonin adalah mungkin disebabkan oleh kelelahan atau fatique. Melatonin adalah
hormon tidur yang dihasilkan di kelenjar pineal otak. Konsentrasinya dalam plasma akan mulai meningkat di sekitar waktu tidur dan memuncak pada pukul 3 dini hari, dan selanjutnya akan menurun hingga hampir tidak terdeteksi pada saat bangun. Paparan terhadap cahaya, terutama cahaya biru dengan panjang gelombang sekitar 470 nm akan menghambat pelepasan melatonin.
C. TANDA DAN GEJALA
Gejala post partum blues (Novak dan Broom, 2009) yaitu suatu keadaan yang tidak dapat dijelaskan, merasa sedih, mudah tersinggung, gangguan pada nafsu makan dan tidur. Selanjutnya dengan kata lain, ciri-ciri post partum blues menurut Young dan Ehrhardt (dalam Strong dan Devault, 2009) diantaranya:
1. Perubahan keadaan dan suasana hati ibu yang bergantian dan sulit diprediksi seperti menangis, kelelahan, mudah tersinggung, kadang-kadang mengalami kebingungan ringan atau mudah lupa.
2. Pola tidur yang tidak teratur karena kebutuhan bayi yang baru dilahirkannya, ketidaknyamanan karena kelahiran anak, dan perasaan asing t erhadap lingkungan tempat bersalin.
3. Merasa kesepian, jauh dari keluarga, menyalahkan diri sendiri karena suasana hati yang terus berubah-ubah.
4. Kehilangan kontrol terhadap kehidupannya karena ketergantungan bayi yang baru dilahirkannya.
Gejala yang menonjol dalam depresi post partum adalah trias depresi yaitu: a. Berkurangnya energy
b. Penurunan efek
c. Hilang minat (anhedonia)
Gejala depresi post partum yang dialami 60% wanita mempunyai karateristik dan spesifik antara lain:
a. Trauma terhadap intervensi medis yang terjadi b. Kelelahan dan perubahan mood
c. Gangguan nafsu makan dan gangguan tidur d. Tidak mau berhubungan dengan orang lain
D. PATOFISIOLOGI
Post Partum Blues
Faktor Hormonal
Estrogen Progesteron Prolaktin
(+)/(-)
Oksitosin (+)/(-)
Endorpin
Estrogen Stimulan Kel.
Susu Prolaktin Kontraksi
rahim +/-Rasa senang & mengurangi rasa nyeri Enzim
monoamin Payudara & aereola melebar dan lbh gelap Stimulan Kel, Susu Nyeri Rasa bahagia Partus lama Inaktivitas nonadrenalin & serotonin Tdk nyaman (minder) Produksi ASI Cemas Gangguan pola tidur Perubahan mood & depresi Risiko gangguan proses menyusui Anstabil koping individual Risiko perubahan emosional Kurang pengetahuan perawatan diri & bayi
Potensial terhadap pertumbuhan koping keluarga Risiko perubahan peran menjadi ortu F. demografi (usia) F. pengalaman dlm proses kehamilan dan persalinan F.latar belakang psikososial F. takut kehilangan bayinya atau kecewa dengan bayinya
E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Sampai saat ini belum ada alat test khusus yang dapat mendiagnosa secara langsung post partum blues. Secara medis, dokter menyimpulkan beberapa simtom yang tampak dapat disimpulkan sebagai gangguan depresi post partum blues bila memenuhi kriteria gejala yang ada. Kekurangan hormon tyroid yang ditemukan pada individu yang mengalami kelelahan luar biasa (fatigue) ditemukan juga pada ibu yang mengalami post partum blues mempunyai jumlah kadar tyroid yang sangat rendah.
Skrining untuk mendeteksi gangguan mood/depresi sudah merupakan acuan pelayanan pasca salin yang rutin dilakukan. Untuk skrining ini dapat dipergunakan beberapa kuesioner dengan sebagai alat bantu. Endinburgh Posnatal Depression Scale (EPDS) merupakan kuesioner dengan validitas yang teruji yang dapat mengukur intensitas perubahan perasaan depresi selama 7 hari pasca salin. Pertanyaan- pertanyaannya berhubungan dengan labilitas perasaan, kecemasan, perasaan bersalah serta mencakup hal-hal lain yang terdapat pada post-partum blues . Kuesioner ini terdiri dari 10 (sepuluh) pertanyaan, di mana setiap pertanyaan memiliki 4 (empat) pilihan jawaban yang mempunyai nilai skor dan harus dipilih satu sesuai dengan gradasi perasaan yang dirasakan ibu pasca salin saat itu. Pertanyaan harus dijawab sendiri oleh ibu dan rata-rata dapat diselesaikan dalam waktu 5 menit. Cox et. Al., mendapati bahwa nilai skoring lebih besar dari 12 (dua belas) memiliki sensitifitas 86% dan nilai prediksi positif 73% untuk mendiagnosis kejadian post-partum blues . EPDS juga telah teruji validitasnya di beberapa negara seperti Belanda, Swedia, Australia, Italia, dan Indonesia. EPDS dapat dipergunakan dalam minggu pertama pasca salin dan bila hasilnya meragukan dapat diulangi pengisiannya 2 (dua) minggu kemudian.
F. PENATALAKSANAAN MEDIS
Post-partum blues atau gangguan mental pasca-salin seringkali terabaikan dan tidak ditangani dengan baik. Banyak ibu yang ‘berjuang’ sendiri dalam beberapa saat setelah melahirkan. Mereka merasakan ada suatu hal yang salah namun mereka sendiri tidak benar-benar mengetahui apa yang sedang terjadi. Apabila mereka pergi mengunjungi dokter atau sumber-sumber lainnya Untuk minta pertolongan, seringkali hanya mendapatkan saran untuk beristirahat atau tidur lebih banyak, tidak gelisah, minum obat atau berhenti mengasihani diri sendiri dan mulai merasa gembira menyambut kedatangan bayi yang mereka cintai.
Penanganan gangguan mental pasca-salin pada prinsipnya tidak berbeda dengan penanganan gangguan mental pada momen-momen lainya. Para ibu yang mengalami post-partum blues membutuhkan pertolongan yang sesungguhnya. Para ibu ini membutuhkan dukungan pertolongan yang sesungguhnya. Para ibu ini membutuhkan dukungan psikologis seperti juga kebutuhan fisik lainnya yang harus juga dipenuhi. Mereka membutuhkan kesempatan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka dari situasi yang menakutkan. Mungkin juga mereka membutuhkan pengobatan dan/atau istirahat, dan seringkali akan merasa gembira mendapat pertolongan yang praktis. Dengan bantuan dari teman dan keluarga, mereka mungkin perlu untuk mengatur atau menata kembali kegiatan rutin sehari-hari, atau mungkin menghilangkan beberapa kegiatan, disesuaikan dengan konsep mereka tentang keibuan dan perawatan bayi. Bila memang diperlukan, dapat diberikan pertolongan dari para ahli, misalnya dari
seorang psikolog atau konselor yang berpengalaman dalam bidang tersebut.
Para ahli obstetri memegang peranan penting untuk mempersiapkan para wanita untuk kemungkinan terjadinya gangguan mental pasca-salin dan segera memberikan penanganan yang tepat bila terjadi gangguan tersebut, bahkan merujuk para ahli psikologi/konseling bila memang diperlukan. Dukungan yang memadai dari para petugas obstetri, yaitu: dokter dan bidan/perawat sangat diperlukan, misalnya dengan cara memberikan informasi yang memadai/adekuat tentang proses kehamilan dan persalinan, termasuk penyulit-penyulit yang mungkin timbul dalam masa-masa tersebut serta penanganannya.Post-partum blues juga dapat dikurangi dengan cara belajar tenang dengan menarik nafas panjang dan meditasi, tidur ketika bayi tidur, berolahraga ringan, ikhlas dan tulus dengan peran baru sebagai ibu, tidak perfeksionis dalam hal mengurusi bayi, membicarakan rasa cemas dan mengkomunikasikannya, bersikap fleksibel, bergabung dengan kelompok ibu-ibu baru. Dalam penanganan para ibu yang mengalami post-partum blues dibutuhkan pendekatan menyeluruh/holistik. Pengobatan medis, konseling emosional, bantuan-bantuan praktis dan pemahaman secara intelektual tentang pengalaman dan harapan-harapan mereka mungkin pada saat-saat tertentu. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa dibutuhkan penanganan di tingkat perilaku, emosional, intelektual, sosial dan psikologis secara bersama-sama, dengan
Untuk mencegah terjadinya depresi post partum sebagai anggota keluarga harus memberikan dukungan emosional kepada ibu dan jangan mengabaikan ibu bila terlihat sedang sedih, dan sarankan pada ibu untuk:
Beristirahat dengan baik Berolahraga yang ringan
Berbagi cerita dengan orang lain Bersikap fleksible
Bergabung dengan orang-oarang baru
Sarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis.
Ada cara-cara menghidari atau mengatasi depresi:
Batasi pengunjung jika kehadiran mereka ternyata malah mengganggu
waktu istirahat anda.
Untuk sementara waktu hindari komsumsi coklat atau gula dalam jumlah
yang berlebihan karena dapat menjadi bahan pemicu depresi.
Perbanyak mendengar musik favorit anda agar anda dapat merasa lebih
rileks disarankan musik-musik yang menenangkan.
Lakukan olahraga atau latihan ringan, cara ini selain ampuh dalam
mengurangi depresi, tapi juga dapat membantu mengembalikan bentuk tubuh.
Sesekali berpergianlah agar anda tak merasa bosan, karena berada di rumah. Dukungan yang suportif dari suami dan anggota keluarga lainnya sangat
berpengaruh bagi keadaan psikis ibu.
Ada dua macam perawatan depresi : a. Terapi bicara
Adalah sesi bicara dengan terapi, psikologi atau pekerja sosial untuk mengubah apa yang difikir, rasa dan lakukan oleh penderita akibat menderita depresi.
b. Obat medis
Obat anti depresi yang diresepkan oleh dokter, sebelum mengkonsumsi obat anti depresi, sebaiknya didiskusikan benar obat mana yang tepat dan aman bagi bayi untuk dikonsumsi oleh ibu hamil atau ibu menyusui.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN POSTPARTUM BLUES
A. PENGKAJIAN
1. Identitas Klien
Data diri klien meliputi : nama, umur, pekerjaan, pendidikan, alamat, medical
record dan lain-lain
2. Dampak Pengalaman Melahirkan
Banyak ibu memperlihatkan suatu kebutuhan untuk memeriksa proses
kelahiran itu sendiri dan melihat kembali perilaku mereka saat hamil dalam
upaya retrospeksi diri (Konrad, 1987). Selama hamil, ibu dan pasangannya
mungkin telah membuat suatu rencana tertentu tentang kelahiran anak mereka,
hal-hal yang mencakup kelahiran pervagina dan beberapa intervensi medis.
Apabila pengalaman mereka dalam persalinan sangat berbeda dari yang
diharapkan (misalnya ; induksi, anestesi epidural, kelahiran sesar), orang tua
bisa merasa kecewa karena tidak bisa mencapai yang telah direncanakan
sebelumnya. Apa yang dirasakan orang tua tentang pengalaman melahirkan
sudah pasti akan mempengaruhi adaptasi mereka untuk menjadi orang tua.
3. Citra Diri Ibu
Suatu pengkajian penting mengenai konsep diri, citra tubuh, dan
seksualitas ibu. Bagaimana perasaan ibu baru tentang diri dan tubuhnya selama
masa nifas dapat mempengaruhi perilaku dan adaptasinya dalam menjadi o rang
tua. Konsep diri dan citra tubuh ibu juga dapat mempengaruhi seksualitasnya.
Perasaan-perasaan yang berkaitan dengan penyesuaian perilaku seksual setelah
melahirkan seringkali menimbulkan kekhawatiran pada orang tua baru. Ibu
karena takut merasa nyeri atau takut bahwa hubungan seksual akan
mengganggu penyembuhan jaringan perineum.
4. Interaksi Orang tua – Bayi
Suatu pengkajian pada masa nifas yang menyeluruh meliputi evaluasi
interaksi orang tua dengan bayi baru. Respon orang tua terhadap kelahiran anak
meliputi perilaku adaptif dan perilaku maladatif. Baik ibu maupun ayah
menunjukkan kedua jenis perilaku maupun saat ini kebanyakan riset hanya
berfokus pada ibu. Banyak orang tua baru mengalami kesulitan untuk menjadi
orang tua sampai akhirnya keterampilan mereka membaik. Kualitas keibuan
atau kebapaan pada perilaku orang tua membantu perawatan dan perlindungan
anak. Tanda-tanda yang menunjukkan ada atau tidaknya kualitas ini, terlihat
segera setelah ibu melahirkan, saat orang tua bereaksi terhadap bayi baru lahir
dan melanjutkan proses untuk menegakkan hubungan mereka.
5. Perilaku Adaptif dan Perilaku Maladaptif
Perilaku adaptif berasal dari penerimaan dan persepsi realistis orang
tua terhadap kebutuhan bayinya yang baru lahir dan keterbatasan kemampuan
mereka, respon social yang tidak matur, dan ketidakberdayaannya. Orang tua
menunjukkan perilaku yang adaptif ketika mereka merasakan suka cita karena
kehadiran bayinya dan karena tugas-tugas yang diselesaikan untuk dan bersama
anaknya, saat mereka memahami yang dikatakan bayinya melalui ekspresi
emosi yang diperlihatkan bayi dan yang kemudian menenangkan bayinya, dan
ketika mereka dapat membaca gerakan bayi dan dapat merasa tingkat kelelahan
bayi. Perilaku maladaptif terlihat ketika respon orang tua tidak sesuai dengan
kebutuhan bayinya. Mereka tidak dapat merasakan kesenangan dari kontak fi sik
Orang tua tidak merasa tertarik untuk melihat anaknya. Tugas merawat
anak seperti memandikan atau mengganti pakaian, dipandang sebagai sesuatu
yang menyebalkan. Orang tua tidak mampu membedakan cara berespon
terhadap tanda yang disampaikan oleh bayi, seperti rasa lapar, lelah keinginan
untuk berbicara dan kebutuhan untuk dipeluk dan melakukan kontak mata.
Tampaknya sukar bagi mereka untuk menerima anaknya sebagai anak yang
sehat dan gembira.
6. Struktur dan fungsi keluarga
Komponen penting lain dalam pengkajian pada pasien post partum
blues ialah melihat komposisi dan fungsi keluarga. Penyesuaian seorang wanita
terhadap perannya sebagai ibu sangat dipengaruhi oleh hubungannya dengan
pasangannya, ibunya dengan keluarga lain, dan anak-anak lain. Perawat dapat
membantu meringankan tugas ibu baru yang akan pulang dengan mengkaji
kemungkinan konflik yang bisa terjadi diantara anggota keluarga dan
membantu ibu merencanakan strategi untuk mengatasi masalah tersebut
sebelum keluar dari rumah sakit.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan trauma mekanis, pembesaran jaringan atau
distensi efek-efek hormonal
2. Ketidakefektifan menyusui berhubungan dengan tingkat pengetahuan,
pengalaman sebelumnya, tingkat dukungan, karaktristik payudara
3. Resiko tinggib terhadap cedera berhubungan dengan biokimia efek anastesi,
4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan, penurunan
hemoglobin, prosedur invasive, pecah ketuban, malnutrisi
5. Perubahan eliminasi urin berhubungan dengan efek hormonal, trauma mekanis,
edema jaringan, efek anastesiditandai dengan distensi kandung kemih
6. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan
penurunan masukan atau penggantian tidak adekuat kehilangan cairan berlebih
7. Kontipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot, efek progesteron,
dehidrasi, nyeri perical ditandai dengan perubahan bising usus, feses kurang
dari biasanya.
8. Kurang pengetahuan atau kebutuhan belajar mengenai perawatan diri dan bayi
berhubungan dengan kurang pemahaman, salah intervensi, tidak tau
sumber-sumber
9. Keterbatasan gerak dan aktifitas berhubungan dengan nyeri luka jahitan
perineum.
C. RENCANA KEPERAWATAN
No Diagnosa
Keperawatan
Rencana tindakan Rasional
Tujuan/kreteria hasil Intervensi 1 Nyeri akut berhubungan dengan trauma mekanis, pembesaran jaringan atau Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam
diharapkan nyeri ibu
berkurang dengan
menunjukkan skla
-Kaji ulang skala nyeri
-Anjurkan ibu agar
menggunakan tekhnik
relaksasi dan distraksi
rasa nyeri
-Mengidentifikasi
kebutuhan dan
intervensi yang tepat
-Untuk mengalihkan
perhatian dan rasa
distensi efek-efek
hormonal
nyeri 0-1, ibu
mengatakan
nyerinya berkurang
atau hilang, tidak
merasa nyeri saat
mobilisasi dan TTV
dalam batas normal
-Motivasi untuk mobilisasi sesuai indikasi -Berikan kompres hangat Celegasi pemberian analgetik -Memperlancar pengeluaran lochea, mempercepat involusi, dan mengurangi nyeri secara bertahap -Meningkatkan sirkulasi pada perineum - Melonggarkan
sistem saraf perifer
sehingga rasa nyeri
berkurang. 2 Ketidak efektifan menyusui berhubungan dengan tingkat pengetahuan, pengalaman sebelumnya, tingkat dukungan, karaktristik payudara Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2 x 24 jam
diharapkan ibu dapat
mencapai kepuasan menyusui dengan ibu mengungkapakan proses situasi menyusui, bayi
mendapat air susu
ibu yang cukup
-Kaji ulang tingkat
pengetahuan dan
pengalaman ibu
tentang menyusui
sebelumnya
-Demonstrasikan dan
tinjau ulang teknik
menyusui -Anjurkan ibu mengeringkan puting setelah menyusui -Membantu dalam mengidentifikasi
kebutuhan saat ini
agar memberikan
intervensi yang
tepat.
-Posisi yang tepat
biasanya mencegah
luka atau pecah
merusak dan
mengganggu
-Agar kelembaban
pada patudara tetap
dalam batas normal
3 Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan biokimia efek anastesi, profil darah abnormal Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan cedera
pada ibu tidak terjadi
dengan
menunjukkan ibu
dapat
mendemonstrasikan
prilaku unsur untuk
menurunkan faktor
resiko, melindungi
harga diri bebas dari
komplikasi
-Tinjau ulang kadar
hemoglobin serta
kehilangan darah
sewaktu melahirkan,
observasi dan catat
tanda anemia
-Anjurkan mobilisasi
dan latihan dini secara
bertahap
-Kaji ada hiperfleksia
sakit kepala atau
gangguan penglihatan
-Dapat mengetahui
kesengjangan
kondisi ibu dan
intervensi yang
cepat dan tepat
-Meningkatkan
sirkulasi dan aliran
darah ke ekstremitas
bawah
-Bahaya eklamsi
ada diatas 72 jam
post partum sehingga dapat diketahui dan diintraksikan 4 Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan infeksi
-Kaji lochea kontraksi
uterus, dan kondisi
jahitan episiotomi
-Untuk dapat
mendeteksi tanda
jaringan, penurunan hemoglobin, prosedur invasive, pecah ketuban, malnutrisi
pada ibu tidak terjadi
ditandai dengan ibu
dapat
mendemonstrasikan
teknik untuk
menurunkan resiko
infeksi, dan tidak
terdapat tanda-tanda
infeksi
-Sarankan pada ibu
agar mengganti
pembalut tiap 4 jam
-Pantau tanda-tanda vital -Lakukan rendam bokong -Sarankan ibu membersihkan perineal dari depan ke belakang. mengintervensi dengan tepat -Pembalut yang
lembab dan banyak
darah merupakan
media yang menjadi
tempat perkembangbiakan kuman. -Peningkatan suhu lebih dari 38 ° C menandakan infeksi -Untuk memperlancar sirkulasi ke perineum dan mengurangi edema -Membantu mencegah kontaminasi rektal melalui vagina 5 Perubahan eliminasi urin berhubungan Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2 x 24 jam
-Kaji dan catat cairan
masuk dan keluar tiap
24 jam
-Mengetahui
balance cairan
dengan efek hormonal, trauma mekanis, edema jaringan, efek anastesiditandai dengan distensi kandung kemih
diharapkan ibu tidak
mengalami
gangguan eliminasi/
buang air kecil
ditandai dengan Ibu
dapat berkemih
sendiri dalam 6 – 8
jam post pasrtum,
tidak merasa sakit
saat buang air kecil,
jumlah urine 1,5 – 2
liter/hari
Anjurkan berkemih
6-8 jam post partum
-Berikan teknik
merangsang berkemih
seperti rendam duduk,
aliran air keran
-Kolaborasi pemasangan kateter diintervensi dengan tepat -Melatih otot-otot perkemihan
Agar kencing yang
tidak dapat keluar,
bisa dikeluarkan
sehingga tidak ada
retensi -Mengurangi distensi kandung kemih 6 Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan penurunan masukan atau penggantian tidak adekuat kehilangan cairan berlebih Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2 x 24 jam
ibu diharapkan tidak
kekurangan volume
cairan ditandai
dengan cairan masuk
dan keluar seimbang,
hemoglobin dalam
batas normal (12,0
sampai 16,0 gr/dl)
-Ajarkan ibu agar
massage sendiri fundus
uteri -Pertahankan cairan peroral 1,5-2 liter/hari -Observasi perubahan suhu,nadi,tekanan darah
-Periksa ulang kadar
hemoglobin -Memberi rangsangan pada uterus agar berkontraksi kuat dan mengontrol perdarahan. -Mencegah terjadinya dehidrasi -Peningkatan suhu dapat memperhebat dehidrasi
-Penurunan hemoglobin tidak boleh melebihi 2 gram% /100dl 7 Kontipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot, efek progesteron, dehidrasi, nyeri perical ditandai dengan perubahan bising usus, feses kurang dari biasanya Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan konstipasi tidak
terjadi pada ibu
ditandai dengan ibu
dapat buang air besar
maksimal hari ketiga
post partum, feces
lembek -Anjurkan pasien untuk melakukan ambulasi sesuai toleransi dan meningkatkan secara progresif -Pertahankan diet reguler dengan kudapan diantara makanan, tingkatan
makan buah dan
sayuran
-Anjurkan ibu BAB
pada Wc duduk Kolaborasi pemberian laksantia supositoria -Membantu meningkatkan prestaltik gastrointestinal -Makanan seperti
buah dan sayuran
membantu meningkatkan pristaltik usus -Mengurangi rasa nyeri -Untuk mencegah
dan stres perineal
8 Kurang pengetahuan atau kebutuhan belajar mengenai Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan -Berikan informasi
tentang perwatan dini
(perawatan perineal) perubahan fisiologi, -Membantu mencegah infeksi, mempercepat penyembuhan dan
perawatan diri dan bayi berhubungan dengan kurang pemahaman, salah intervensi,
tidak tau
sumber-sumber
pengetahuan ibu
tentang perawatan
dini dan bayi
bertambah, dengan
kreteria ibu dapat
mengungkapkan
kebutuhan ibu pada
masa post partum
dan dapat melakukan
aktivitas yang perlu
dilakukan dan alasannya seperti perawatan bayi, menyusui, perawatan perineum lochea, perubahan peran, istirahat, keluarga berencana -Berikan informasi
tentang perawatan bayi
yaitu perawatan tali
pusat, ari, memandikan
dan imunisasi
-Sarankan agar
mendemonstrasikan
apa yang sudah
diperlajari
berperan pada
adaptasi yang positif
dari perubahan fisik
dan mental -Menambah pengetahuan ibu tentang perawatan bayi -Memperjelas pemahaman ibu
tentang apa yang
sudah dipelajari
9 Hambatan
immobilitas fisik
berhubungan
dengan nyeri luka
jahitan perineum Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan gerak dan aktifitas terkoordinasi dengan kreteria :
sudah tidak nyeri
pada luka jahitan
pada saat duduk skla
-Anjurkan mobilisasi
dan latihan dini secara
bertahap
-KIE perawatan luka
jahitan perinium
-Meningkatkan
sirkulasi dan aliran
darah ke ekstremitas bawah -Mempercepat kesembuhan luka sehingga memudahkan gerak aktivitas
2, luka jahitan
perinium sudah tidak
sakit atau nyeri
berkurang skala 2
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DEPRESI POSTPARTUM
1. Pengkajian
Pengenalan gejala mood merupakan hal yang penting untuk dilakukan oleh perawatperinatal. Rencana keperawatan harus merefleksikan respons perilaku
yang diharapkan dari gangguan tertentu. Rencan individu didasarkan pada
karakteristik wanita dan keadaannya yang spesifik. Suami atau pasangan wanita tersebut juga dapat mengalami gangguan emosional akibat perilaku wanita tersebut.
Pengkajiannya meliputi ; a. Identitas klien.
Data diri klien meliputi: nama, umur, pekerjaan, pendidikan, alamat, medical record dan lain-lain.
b. Keluhan Utama
Mudah marah, cemas, melukai diri c. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat Kesehatan Sekarang
Pada Ibu dengan depresi postpartum biasanya terjadi kurang nafsu makan, sedih – murung, mudah marah, kelelahan, insomnia, anorexia, merasa terganggu dengan perubahan fisik, sulit konsentrasi, melukai diri.
2) Riwayat Kesehatan Dahulu
Berhubungan dengan kejadian pada persalinan masa lalu serta kesehatan pasien.
3) Riwayat kesehatan keluarga
d. Struktur dan Fungsi Keluarga
Komponen penting lain dalam pengkajian pada pasien post partum blues ialah melihat komposisi dan fungsi keluarga. Penyesuaian seorang wanita terhadap perannya sebagai ibu sangat dipengaruhi oleh hubungannya dengan pasangannya, ibunya dengan keluarga lain, dan anak -anak lain. Perawat dapat membantu meringankan tugas ibu baru yang akan pulang dengan mengkaji kemungkinan konflik yang bisa terjadi diantara anggota keluarga dan membantu ibu merencanakan strategi untuk mengatasi masalah tersebut sebelum keluar dari rumah sakit.
e. Pemeriksaan Fisik
Aktivitas/ istirahat
Biasanya aktivitas dan istirahat klien terganggu
Sirkulasi
Biasanya nadi meningkat, (tachikardia), TD kadang meningkat
Eliminasi
Biasanya klien sering BAK, kadang terjadi diare
Makanan/cairan
Biasanya terjadi anoreksia, mual atau muntah, haus , membrane mukosa kering
Neurosensori
Biasanya klien mengeluh sakit kepala
Pernafasan
Biasanya pernafasan cepat dan dangkal
Nyeri dan ketidaknyamanan
Biasanya terjadi nyeri/ ketidaknyamanan pada daerah abdomen dan kepala
Integritas Ego
Biasanya klien ansietas, gelisah
Seksualitas
Biasanya seksualitas terganggu dan penurunan libido
TTV
2. Diagnosa
1. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan stress kelahiran, konsep diri negative, system pendukung, yang tidak adekuat
2. Kecemasan berhubungan dengan stress psikologi
3. Gangguan interaksi sosial berhubungan dengan depresi berat
4. Risiko kekerasan terhadap diri sendiri berhubungan dengan status emosional post partum
3. Perencanaan
No. DIAGNOSA NOC NIC RASIONAL
1. Koping individu tidak efektif b/d stress kelahiran, konsep diri negative, system pendukung, yang tidak adekuat
Batasan karakteristik : Gangguan tidur Penyalahgunaan bahan kimia Penurunan penggunaan dukungan sosial Konsentrasi yang buruk Kelelahan Problem solving tidak adekuat Mengeluhkan ketidakmampua n koping atau ketidakmampua n untuk meminta bantuan Ketidak mampuan NOC : Anxiety Control (1402) Indikasi : Kontrol instensitas cemas Eliminasi tanda cemas Menggunaka n strategi koping efektif Menggunaka n teknik relaksasi untuk menekan kecemasan NIC : Counseling (5240) Aktivitas :
Beri dorongan kepada pasien untuk
mengungkapkan pikiran dan perasaan untuk
mengeksternalisasikan kecemasan.
Bantu pasien untuk
menfokuskan pada situasi saat ini, sebagai alat untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi
kecemasan.
Sediakan pengalihan melalui televise, radio, permainan serta terapi okupasi
Sediakan penguatan yang positif ketika apsien mampu
meneruskan aktivitas sehari-hari dan lainnnya meskipun mengalami Kecemasan.
1. agar pasien dapat
mengungkapkan keluh kesah yang dideritanya.
2. agar kecemasan yang dialaminya berkurang
3. untuk mengurangi kecemasan dan memperluas focus.
4. agar pasien dapat meneruskan aktivitas sehari-hari dan
memenuhi
kebutuhan dasar
Perilaku
merusak terhadap diri atau orang lain
Ketidakmampua
n memnuhi harapan peran
Tingkat
kesakitan/penya kit yang tinggi
Perubahan dalam pola komunikasi Menggunakan bentuk koping yang meghalan gi/mengganggu perilaku adaptif Kurangnya perilaku yang bertujuan langsung/resolus i masalah, termasuk ketidakmampua n untuk merawat, dan kesulitan mengorganisasi kan informasi 2. Kecemasan b/d stress psikologi Batasan karakteristik : Perilaku Penurunan produktivitas Gelisah Insomnia Resah NOC : Anxiety Control (1402) Indikasi : Kontrol instensitas cemas Eliminasi tanda cemas Menggunaka n strategi NIC : Counseling (5240) Aktivitas :
Beri dorongan kepada pasien untuk
mengungkapkan pikiran dan perasaan untuk
mengeksternalisasikan kecemasan.
Bantu pasien untuk
menfokuskan pada situasi
1. agar pasien dapat
mengungkapkan keluh kesah yang dideritanya.
2. agar kecemasan yang dialaminya berkurang
3. untuk mengurangi kecemasan dan memperluas focus.
Afektif Kesedihan yang mendalam Takut Gugup Mudah tersinggung Nyeri hebat Ketakutan Distres Khawatir Cemas Fisiologi Goyah Peningkatan respirasi (simpatis) Peningkatan keringat Wajah tegang Anoreksia (simpatis) Kelelahan (parasimpatis ) Gugup (simpatis) Mual (parasimapati s) Pusing (parasimpatis ) Kognitif B. Bingung C. Kerusakan perhatian D. Ketakutan terhadap hal yang tidak jelas E. Sulit berkonsentras i koping efektif Menggunaka n teknik relaksasi untuk menekan kecemasan
saat ini, sebagai alat untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi
kecemasan.
Sediakan pengalihan melalui televise, radio, permainan serta terapi okupasi untuk mengurangi kecemasan dan memperluas focus.
Sediakan penguatan yang positif ketika apsien mampu
meneruskan aktivitas sehari-hari dan lainnnya meskipun mengalami Kecemasan.
4. agar pasien dapat meneruskan aktivitas sehari-hari dan
menghilangkan kecemasannya. 3. Gangguan interaksi sosial b/d depresi berat NOC : NIC : Dorong keterlibatan ditingkatkan dalam
Batasan karakteristik : Mengungkapka /menunjukan ketidakmampua n untuk menerima atau mengkomunikas ikan rasa kepuasan, rasa memiliki, menyayangi, ketertarikan atau membagi pengalaman Mengungkapkan / menunjukan ketidaknyamana n dalam situasi sosial Menunjukkan penggunaan perilaku interaksi social tidak berhasil Keluarga melaporkan perubahan gaya
hidup atau pola interaksi Social Interaction Skill (1502) Pengungkap an, Kesiapan Kerjasama Kepekaan Konfrontasi Pertimbanga n Kehangatan Ketenangan Relaksasi Keterlibatan Kepercayaa n dan Kompromi
hubungan yang sudah ditetapkan
Dorong pasien dalam pengembangan hubungan
Dorong untuk berhubungan dengan orang lain
Dorong untuk beraktivitas dalam masyarakat / social
Dorong untuk berbagi masalah dengan orang lain
1. agar tetap terjalinnya hubungan saling percaya dan untuk
menghindari isolasi sosial
2. agar pasien dapat melakukan interaksi sosial
3. untuk meningkatkan hubungan sosial pasien
4. agar tidak terjadinya
deskriminasi di lingkungan pasien 5.agar tidak terjadi depresi sendiri
4. Risiko kekerasan terhadap diri sendiri b/d status emosional post partum Batasan karakteristik : Putus asa Penolakan Cemas Panic Mudah marah NOC : Interaksi sosial Tanda-tanda akan melakukan kekerasan seperti ingin marah, jengk el, ingin merusak, memukul,dll. Mengenal pe nanganan NIC :
Bantuan kontrol marah:
Prinsip komunikasi terapeutik
Pertahankan konsistensi sikap (terbuka,tepati janji, hindari kesan negatif)
Gunakan tahap-tahap interaksi dengan tepat
Observasi tanda-tanda perilaku kekerasan pada
klien
Bantu klien
mengidentifikasi
tanda-1. untuk mengatasi masalah pasien yang kita dapat dengan teknik komunikasi terapiutik 2. untuk membina hubungan saling percaya terhadap pasien 3. untuk menghindari adanya penyimpangan interaksi sosial 4. untuk mengetahui tanda-tanda perilaku kekerasan yang terjadi pada pasien
Permusuhan klien dengan perilaku kekerasan Penanganan klien dengan perilaku kekerasan Bantuan yang adaptif pada klien dengan perilaku kekerasan Cara yang dipilih untuk membantu merubah perilaku klien Tingkat kemarahan
tanda perilaku kekerasan (emosi, fisik, social, spiritual)
Jelaskan pada klien tentang respon marah
Dukung dan fasilitasi klien untuk mencari bantuan saat muncul marah
Diskusikan bersama klien pangaruh negatif perilaku
kekerasan terhadap dirinya, orang lain dan lingkungan
Libatkan keluarga dalam perawatan klien:
Identifikasi kultur, peran, dan situasi keluarga dalam pengaruhnya
terhadap perilaku klien
Berikan informasi yang tepat tentang penanganan klien dengan perilaku marah dan kekerasan
Ajarkan ketrampilan koping efektif
yangdigunakan untuk
penangannan klien perilaku kekerasan.berikan
konseling pada keluarga
Bantu keluarga memilih untuk menentukan dalam penanganan klien dengan perilaku kekerasan
Fasilitasi pertemuan keluarga dengan pemberi perawatan
Beri kesempatan pada keluarga
untuk mendiskusikan cara yang dipilih dan anjurkan pada keluarga untuk
menerapkanc ara yang dipilih
5. agar pasien dapat mengontrol emosinya
6. agar pasien mengetahui penyebab dari marah yang berlebihan
7. agar marah si pasien dapat terkendali
8. agar sipasien mengetahui pengaruh negatif dari kekerasan yang dia lakukan
1. untuk mengetahui kultur dan situasi keluarga mempengaruhi strees si pasien
2. agar pasien mengetahui informasi tentang penanganan klien dengan perilaku marahnya 3. agar pasien dapat menangani masalahnya dengan mandiri 4. agarkeluarga tepat memilih dalam terapi untuk penanganan dari perilaku pasien
5. agar keluarga dapat bertanya atau mendapat informasi
mengenai masalah pasien
6. agar keluarga turut serta dalam menentukan penyembuhan
depresi pasien 7.
D. IMPLEMENTASI
Implemenatsi dilakukan sesuai dengan intervensi
E. EVALUASI
1. Evaluasi Formatif : merefleksikan observasi perawat dan analisis terhadap
respon langsung pada intervensi keperawatan
2. Evaluasi Sumatif : merefleksikan rekapitulasi dan synopsis observasi dan
F. REFERENSI
Romney Marshal, Steinbart. 2004. Accounting Information System (Buku Satu). Jakarta: Salemba Empat.
Novak, J.C., Broom, B.L. 2009. Maternal and Child Health Nursing . Missouri: Mosby, Inc.
Ling, F. W, dan Duff, P. 2001. Obstetrics and Gynecology. New York : Mc Graw – Hill Companies.
Malonda, B. F. 1999. Sosial – Budaya, Gangguan Emosi dan Fisik Pasca Salin Masyarakat Pedesaan Sumedang. Diakses 29 September
2004. http://www.tempo.co.id/ medika arsip/ 122002/ art-2.htm.
https://www.scribd.com/document_downloads/direct/73744068?extension=pdf&ft=1 477901031<=1477904641&user_id=276929510&uahk=EpzpYwjeP3j2Qlhws6YW qqiSX7k
Regina, Pudjibudojo, J. K dan Malinton, P. K. 2001. Hubungan Antara Depresi Postpartum Dengan Kepuasan Seksual Pada Ibu Primipara. Anima Indonesian Psychological Journal. Vol. 16. No. 3. 300 – 314.
Santrock, J .W. 2002. Perkembangan Masa Hidup. Jilid I. Jakarta : Erlangga.
Sloane, P. D, dan Benedict, S. 1997. Petunjuk Lengkap Kehamilan. Jakarta : Mitra Utama.