PENDIDIKAN TENTANG GERAK
(MOVEMENT EDUCATION)
_______________________________________________________
______
Sumber: “Movement Education” by Polloway, E.A., Patton, J. R. dari buku Strategies for teaching Learners With Special Needs, 1993. Chapter 15. pp.395-405. New York: Macmillan Publishing Company. Diterjemahkan oleh Bandi Delphie (2002).
PENDAHULUAN
Kesulitan-kesulitan kegiatan akademik dan sosial secara umum banyak dialami oleh individu yang mempunyai hendaya (disabilities), sehingga diperlukan usaha guru untuk menerapkan permainan sebagai bagian dari perkembangan gerak siswa dalam pembelajaran . Pembelajaran dengan menggunakan perkembangan gerak tidak dapat diterapkan kepada siswa yang secara jelas (berdasarkan asesmen dengan instrumen Geddes Psychomotor Inventory atau GPI) diketahui adanya ketidakmampuan geraknya.
Dalam pembahasan ini akan dijelaskan tentang kewaspadaan para guru pendidikan luar biasa atau pemerhati terhadap layanan pada child with special needs terhadap kurangnya perhatian serta usaha-usaha pengembangan intervensi yang melibatkan fisik dan gerak yang memegang peranan penting dalam pendidikan siswa dengan kebutuhan layanan yang khusus. Kegiatan-kegiatan gerak merupakan hal yang bersifat potensial bagi layanan terhadap siswa-siswa berkebutuhan layanan khusus agar mereka secara esensial berhasil dalam latihan-latihannya. Olehkarena itu, kepuasaan terhadap hasil akhir pada program-gerak bukan merupakan jaminan sekalipun diterapkan terhadap para siswa yang tidak mempunyai hendaya atau keterbatasan gerak.
Program pendidikan yang berkaitan dengan gerak hendaknya disusun secara sistimatik dan secara jelas dapat menunjukkan adanya: sasaran, tujuan, kegiatan-kegiatan yang akan diterapkan, serta peralatan yang akan dipergunakan. Kesemuanya merupakan bentuk perwujudan dari kurikulum yang lebih menekankan pada kegiatan mempelajari gerak dan pergerakan fisik.
PENDIDIKAN YANG BERKAITAN DENGAN GERAK DALAM KURIKULUM Pendidikan fisik/gerak semestinya dapat dipakai acuan dan berperan penting dalam suatu kurikulum. Dengan ranah atau domain gerak-fisik sasaran-sasaran dari program pembelajaran hendaknya dapat mencakup: peningkatan koordinasi, kekuatan, kecepatan, ketangkasan, keseimbangan, daya gerak, dan postur. Koordinasi mengacu kepada kemampuan untuk memanipulasi salah satu anggota tubuh dan objek secara lancar. Kekuatan merupakan kapasitas untuk daya tahan atau pengerahan tenaga, sasaran dari program peningkatan kecepatan harus jelas. Pengerahan tenaga hendaknya bersifat sangat erat hubungannya dengan koordinasi seluruh anggauta tubuh. Pengerahan tenaga mengacu kepada kemampuan siswa dalam hal: menggapai, memegang, dan mengendurkan otot-otot secara tepat terhadap objek yang bersifat kecil dan luas. Agar dapat mencapai daya gerak dan keseimbangan gerak, dalam pengembangan suatu gerak seorang anak pertama kali membutuhkan kemampuan dirinya dalam mengkoordinasikan pergerakan tubuhnya. kemudian dapat dilanjutkan dengan penjelajahan lingkungan sekitar serta memulai untuk mendapatkan benda-benda di sekitarnya dengan cara meraihnya. Peningkatan daya gerak memerlukan banyak daya gerak dan kecepatan gerak. Postur tubuh dapat menentukan cara memposisikan tubuh untuk ditingkatkan dalam kegiatan latihan ke arah yang dapat melelahkan. Postur tubuh yang baik dapat terlihat saat seorang anak sedang melakukan kegiatan: duduk, berdiri, dan saat berlari. Program yang efektif harus dapat mencakup seluruh keterampilan-keterampilan gerak tersebut.
Keuntungan dari suatu program pendidikan yang bermuatan pengembangan fisik tidak hanya tertuju pada bagian psikomotor saja. Melalui sasaran tertentu suatu program dapat disusun agar dapat mencapai bentuk penguasaan konsep-diri (self-concept) dan peningkatan kesempatan untuk interaksi sosial (Kohl & Beckman, 1990; Moon & Renzaglia, 1982; Odom, 1981; Roswel & Firth, 1980). Keberhasilan dalam keikutsertaan suatu kegiatan– kegiatan yang bersifat fisik dapat juga membantu peningkatan kinerja akademik
dan pembelajaran bahasa (Moon & Renzaglia, 1982; Rice, 1981) serta dapat meningkatkan kepercayaan diri dalam mengambil suatu resiko.
Sebagai tambahan, bahwa berdasarkan penelitian telah diketahui tentang kemampuan melakukan kerja sangat erat sekali dengan kemampuan kinerja gerak. (Kolstoe, 1976). Jika jadwal suatu program disusun secara luwes, maka dimungkinkan pendidikan olahraga dapat disajikan sebagai pelengkap yang sempurna bagi kunci keberhasilan suatu pembelajaran akademik dengan merubah pemberian tekanan dalam proses sebuah pembelajaran. Akhirnya, pendidikan fisik merupakan bentuk kegiatan yang menyenangkan bila dapat memunculkan keberhasilan dalam kegiatan-kegiatannya (Litton, 1978).
Hal pokok dalam pengembangan gerak yang merupakan pra-syarat untuk memahami kebutuhan anak dalam daerah gerak adalah: perkembangan keterampilan gerak seorang anak saat melakukan gerak dengan otot-otot besar (gross motor skills) ditandai dengan kemampuan menggerakkan bagian tubuh atas (diawali dari posisi atas hingga posisi bawah tubuh), yang dapat dijadikan tanda mengapa seorang bayi selalu bergerak dimulai dari cara menegakkan kepala, baru kemudian disusul dengan anggauta tubuh lainnya. Begitu seorang anak mencapai usia-sekolah maka fokusnya berubah ke arah pengembangan gerak yang berkaitan dengan keterampilan fine-motor yang ada di sekeliling tubuhnya, diikuti secara bersamaan dengan sisi-tubuh yang terdekat dengan samping tubuh (dari sisi-tengah ke arah tepi).
Hasil penelitian telah menyatakan bahwa perkembangan gerak secara umum berbentuk seragam melalui tahapan-tahapan dengan kecepatan yang bervariasi. Bunker (1978) secara lebih mendalam memberikan garis-garis besar tentang gerak-maju yang secara hirarki menyangkut kemampuan menata tubuh dalam kaitannya dengan lingkungan, termasuk kesadaran akan keberadaan dirinya, postur, dan tingkat dasar fisikal fitnes, keterampilan gerak dasar yang meliputi perkembangan fine & gross motor, disamping itu aplikasi–gerak yang mengacu dengan berbagai bentuk kegiatan yang melibatkan diri seseorang (termasuk: pribadi, vokasional, dan penggunaan waktu luang). Bagi siswa yang
termasuk anak luar biasa, barangkali akan mengalami kesulitan-kesulitan gerak pada salah satu tingkat gerak tersebut.
Gabbard (1988) secara lebih jauh mengemukakan tentang fase perkembangan perilaku gerak seperti yang ada pada Tabel 1.1: Fase-fase Perkembangan Gerak di bawah ini, pada halaman 4. Selanjutnya Tabel 1.2 Elemen-elemen Esensial Pendidikan Jasmani Anak Usia Dini, sebagai ilustrasi karakteristik dari perilaku psikomotor salah satu fase pada anak usia dini dapat dilihat pada halaman berikutnya.
Tabel 1.1 Fase Perilaku gerak
Tahap Perkembangan Perilaku Psikomotor
(Tingkat Perkiraan Umur)
Fase Karakteristik Perilaku Psikomotor Prenatal – Bayi (- 5 bulan Hingga 1
tahun) Reflexive (refleksif) Ditandai dengan flexi dan extensi
Bayi (Dari lahir- 2tahun)
Rudimentary (bersifat
elementer/belum sempurna
Penyesuaian tubuh: bergulingan, duduk, merangkak, maju
perlahan-lahan, berdiri, berjalan dan menggenggam.
Usia Dini (2 – 7 tahun)
Gerak dasar (dan
. efisiensi perseptual) Keterampilan-keterampilan: lokomotor, non-lokomotor, manipulatif dan kesadaran gerak.
Pertengahan - akhir Spesifik Menghaluskan keterampilan dasar dan
dari usia dini kesadaran gerak; dipakai sebagai landasan
(8 – 12 tahun) dalam tarian khusus, permainan/olahraga,
senam, dan kegiatan-kegiatan di air.
Masa Remaja – Dewasa Bersifat kekhususan Kegiatan-kegiatan yang bertaraf kompetitif
( 12 Th. – Usia dewasa) (Specialized) dan rekreasional.
_____________________________________________________________________________ _________
Sumber dari: Early Childhood Physical Education- The Essential Elements, Oleh C.
Gabbard, 1980. Journal of Physical Education Recreation and Dance. 59 (7) 66. 1988. The Journal of Physical Education, Recreation and Dance. Dalam “Strategies for Teaching Leraners
With Special Needs” Fifth Edition oleh Edward A. Polloway & James R. Patton, Halaman 397. Alih bahasa: Bandi Delphie (2002).
Tabel 1.2 Elemen-elemen Esensial Pendidikan Jasmani Anak Usia Dini ________________________________________________________________ ________
Kesadaran Gerak Keterampilan Keterampilan Keterampilan Kesehatan yang Dasar Lokomotor Dasar: Non- Dasar: berkaitan dengan
Lokomotor Manipulatif Fitness atau
Kesegaran tubuh.
1. Tubuh berjalan lari-lari kecil “propulsive” Daya tahan
aerobik
2. Mengenai ruang/ berlari meregang/mem- menggelinding- Kelenturan tempat. bungkuk kan bola
3. Arah melompat berputar/menyilang melempar
4. Secara Sementara: melocat/mendarat; menyilang memantulkan *gerak fitnes berlompatan; menarik memukul
*mata – tangan melompat dengan mendorong menendang *mata – kaki tumpuan satu kaki berayunan
5. Bagian depan meluncur bergoyang Receptive: -menangkap -menjebak 6. Visual (penglihatan) meloncati atau
skipping.
7. Pendengaran menggulingkan tubuh
8. Taktil memanjat.
_____________________________________________________________________________ _________
Sumber: “Early Childhood Physical Education: The Essential Elements. Oleh: C. Gabbard, 1988.
Journal of Physical Educatian, Recreation and Dance. 59 (7) 66. 1988; dalam Edward A.
Polloway & James R. Patton-Halaman 398. Di Indonesiakan oleh: Bandi Delphie (2002).
Model elemen-elemen penampilan gerak dapat digambarkan secara grafik sebagai periode perkembangan dalam gambar 1.1 di bawah ini.
Kegunaan untuk:
Landasannya:
Permainan; Tarian; Senam
_____________________________________________________________________________ _________
Landasan Keterampilan Gerak yang Mengarah Kepada Tugas-tugas yang Lebih Kompleks.
(Diambil dari: “Early Childhood Physical Education: The Essential Elements” oleh C Gabbard (1988). Di Indonesialan oleh: Bandi Delphie (2002).
Fokus dari kegiatan ini adalah keterampilan gross motor yang berkaitan dengan implementasi program pendidikan gerak secara sistimatik. Keterampilan fine motor dapat diikut-sertakan tetapi tidak terlalu berlebihan khususnya yang berkaitan dengan fungsi menulis dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dengan berbagai bentuk suruhan/perintah/arahan.
ASESMEN
Mengevaluasi keterampilan gerak hendaknya berkecukupan secara komprehensif yang dapat memenuhi empat sasaran: (1). Untuk memberikan fasilitas penempatan seorang anak secara benar dalam program pembelajaran; (2). Agar dapat menyajikan informasi diagnostik tentang kebutuhan belajar secara individu; (3). Secara langsung dapat menyusun program latihan-latihan
Keterampilan Lokomotor Keterampilan: Non-Lokomotor Keterampilan: Manipulatif Kesadaran Gerak
khusus dan kegiatan-kegiatan yang cocok dan terseleksi; (4). Untuk mengevaluasi tingkat kegiatan setiap individu siswa.
Di bawah ini disampaikan kompetensi gerak yang mungkin dapat dijadikan bahan checklist untuk asesmen dan perencanaan program per-bagian. Kompetensi-kompetensi ini termasuk beberapa keterampilan yang sudah dicapai saat mendaftarkan diri masuk ke sekolah.
Hubungan dengan elemen yang esensial dari Gabbard (1988) sangatlah jelas. Berdasarkan atas karakteristik siswa, daftar di bawah ini dapat dikembangkan lebih jauh sesuai dengan kebutuhan. Kompetensi gross motor termasuk beberapa pokok tentang penataan tubuh yang merupakan keberhasilan dalam locomotion. Dalam beberapa kasus akan dapat dibagi dalam beberapa objek bagi kesulitan dalam melakukan pengalaman-pengalaman siswa, antara lain sebagai berikut.
1. Identifikasi beberapa bagian tubuh secara reseptif dan ekspressif 2. Menunjukan konsep-konsep dasar yang bersifat se arah
3. Menunjukkan gerak-gerak tubuh secara timbal-balik yang cocok 4. Mempertunjukkan postur yang benar dalam posisi duduk
5. Mempertunjukkan postur yang benar dalam posisi berdiri
6. Mempertahankan keseimbangan dalam berbagai posisi tubuh (antara lain: berlutut, berdiri dengan tumpuan pada satu kaki).
7. Mempertahankan keseimbangan saat berjalan ke depan 8. Berjalan tanpa jatuh (ke arah sisi, ke arah belakang) 9. Naik dan turun tangga secara berhasil baik
10. Berlari tanpa jatuh
11. Melompat dengan tumpuan kedua kaki secara bersamaan 12. Melompat dengan tumpuan satu kaki
13. Berlompatan dengan tali, dimana satu kaki selalu ke depan. 14. Melompati tali dengan menggunakan kaki lainnya.
15. Menggenggam, memegang, dan melakukan genggaman dan pegangan dengan benda-benda berukuran yang lebih besar.
17. Melempar benda (selalu ditingkatkan dengan jarak yang lebih jauh) 18. Menendang benda yang tidak bergerak dan yang bergerak
19. Menangkap benda-benda yang dilemparkan (dari jarak yang semakin jauh)
20. Dapat menerapkan keterampilan dasar gross motor terhadap berbagai: permainan, kegiatan-kegiatan, pemanfaatan waktu luang
Daftar kompetensi fine motor sebagai berikut.
1. Menggenggam, memegang, dan melakukan genggaman dan pegangan terhadap benda-benda yang lebih kecil
2. Menumpukkan benda-benda dengan ukuran kecil menjadi sebuah menara 3. Menguntai manik-manik (atau sejenisnya)
4. Secara benar: mengancingkan kancing, kancing tarik dan cara lain untuk mengencangkan (secara meningkat dengan cara meningkatkan faktor kesulitannya)
5. Menirukan bentuk benda dan lika liku-bentuknya 6. Menjiplak benda dan bentuk-bentuknya
7. Menggambar benda dengan pinsil gambar atau kuas lukisan 8. Menjiplak kata-kata dan tulisan
9. Menuliskan kata-kata pendek dan kalimat dari hasil ingatannya 10. Memakai sepatu dan menalikan tali sepatu
11. Mampu memegang dan menggunakan alat-makan
12. Memotong secara lurus dan melengkung dengan alat yang sesuai
13. Menggunakan keterampilan dasar hingga mahir untuk menulis sesuai dengan kebutuhan berbahasa
14. Mampu menggunakan keterampilan dasar dalam berbagai kegiatan rekreasi (misalnya saat menggunakan: mesin Pinball, video games)
15. Mampu menggunakan keterampilan dasar dalam tugas-tugas khusus yang bersifat kerja (vokasional).
Mengases kemahiran dalam keterampilan-keterampilan gerak khusus dapat dilakukan secara informal dan formal. Checklist diperlukan dalam bentuk formal bagi asesmen informal. Pengamatan guru dapat dilakukan dengan
mengumpulkan data dari beberapa kegiatan yang berkaitan dengan keterampilan gerak, misalnya saat anak bermain secara bebas di kelas, anak sedang melakukan permainan tertentu, anak sedang melakukan tugas-tugas akademik, dan saat makan siang di sekolah.
Bagi anak luar biasa umumnya mengalami kesulitan dalam masalah kardiovaskuler. Dalam hal ini guru hendaknya memahami setiap masalah yang dihadapi siswanya yang mempunyai dampak dalam program yang telah disusunnya.
Asesmen Formal
Berbagai bentuk alat diagnostik dapat dipakai untuk mengases keterampilan motor dan perkembangan fisik anak, antara lain sebagai berikut.
1. The Purdue Perceptual-motor Survey (Roach & Kephart, 1966). Menyajikan sebelas sub-test untuk mengases keterampilan gerak-persepsi anak dari usia enam tahun hingga sepuluh tahun. Meliputi: berjalan, keseimbangan, meloncat, mengidentifikasi bagian-bagian tubuh, menirukan gerakan-gerakan, latihan-latihan berjalan di papan, menulis secara ritmik.
2. The Bruininks-Oseretsky Test of Motor Proficiency (Bruininks, 1977), yang merupakan revisi dari The Lincoln-Oseretsky Motor- Development Scale. Menyajikan cara mengukur keterampilan gerak anak-anak usia empat hingga delapan belas tahun. Mengases keterampilan-keterampilan dalam hal: kekuatan, kelentukan, keseimbangan, koordinasi, dan kecepatan merespon. Asesmen ini merupakan tes-baku atau Norm-Reference Test, meliputi sejumlah item-item yang berkaitan dengan minat.
3. Test of Grossmotor Development (TGMD) (Ulrich, 1985), digunakan terhadap anak-anak usia tiga hingga sepuluh tahun. Ada tiga bagian meliputi: tes keterampilan lokomotor, keterampilan mengenali benda, dan perkembangan gerak dengan otot-otot besar (grossmotor development) 4. The Geddes Psychomotor Inventory (GPI) (Geddes, 1981), yang
anak berkelainan dalam usia bayi hingga awal-dewasa. Di dalamnya disajikan program pembelajaran individual (Individualized Educational Program atau IEP) berlandaskan atas penemuan-penemuan data asesmen.
Bagian I dari GPI berkaitan dengan perkembangan-gerak secara normal yang difokuskan dalam mengevaluasi kemampuan keterampilan dasar, seperti: duduk, berdiri, berjalan, dan berlari. Umur kronologis disajikan untuk setiap perilaku-gerak. Profilnya di awali dari tingkat usia dini (lihat pada Figure 15-2 terlampir di halaman 11).
Bagian II menyajikan deskripsi dari penyimpangan-penyimpangan khusus dari perkembangan normal yang biasanya terjadi pada berbagai kelainan-kelainan.
(PENDIDIKAN TENTANG GERAK)
Hand Out untuk Mata Kuliah: Terapi Permainan dan Gerak Irama
Disusun dari buku:”Strategies for Teaching Learners With Special needs” Fifth Ed. New York: Merrill Macmillan Publishing Company. Pp.396-405
Oleh:
BANDI DELPHIE
Dosen Terapi Permainan dan Gerak Irama Di Jurusan PLB-FIP UPI
JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
KATA PENGANTAR
Gerak merupakan suatu yang esential bagi manusia. Perkembangan dan pertumbuhan gerak hendaknya diartikan sebagai persamaan untuk pemberian kesempatan yang sama terhadap peningkatan fungsi-fungsi: (a) persepsi senso-motporik atau sensomotoric Perceptual functions, (b) intelektual atau intelectual functions, (c) emosi psikologis atau emotional psychological functions, dan (d) sosialisasi atau social functions.
Dalam kegiatan pembelajaran di kelas dalam mata pelajaran apapun, seorang guru pendidikan luar biasa (PLB) yang mengajar anak luar biasa atau dikenal dengan child with special needs diwajibkan memasukkan unsur-unsur yang dapat meningkatkan fungsi-fungsi gerak tersebut di atas. Dalam kegiatannya guru PLB harus berperan aktif baik saat menyusun program maupun dalam proses kegiatannya.
Isi materi hand out ini meliputi antara lain: pentingnya pembelajaran atau pendidikan tentang gerak, asesmen kemampuan dan kelemahan gerak seorang siswa luar biasa, instrumen untuk mengukur kemampuan-gerak dengan Geddes Psychomotor Inventory atau GPI, dan beberapa cara penerapan program latihan bagi siswa berkelainan yang membutuhkan layanan khusus.
Hand out ini diharapkan dapat dipakai sebagai wahana pemikiran untuk menyusun suatu program yang bersifat pembelajaran individual maupun latihan-latihan yang berkaitan dengan program bimbingan perilaku pribadi/sosial siswa dengan kebutuhan kayanan yang khusus di sekolah.
Tegur sapa dan bentuk-bentuk saran dari para pembaca dan pemerhati dunia layanan anak-anak yang mempunyai “kelainan khusus” sangat diharapkan sekali guna peningkatan isi atau materi hand out ini. Terima kasih.
Bandung Juli 2002 Dosen Terapi Permainan & Gerak Irama
i.