Sosialisasi Manfaat Teh Daun Kopi
1
Mitra
Lokasi Lokasi
Manfaat Teh Daun Kopi
Tim PengabdianKetua : Kiki Fibrianto, STP, M.Phil, PhD
Anggota :
Nur Afifah Septiana Jayanti Eka
Wardani
PKK RW 04 KELURAHAN CIPTOMULYO
KOTA MALANG
Balai RW 4, Kelurahan Ciptomulyo, Kota Malang
Sosialisasi Manfaat Teh Daun Kopi
2
1. Latar Belakang
Tanaman kopi akan dipangkas secara berkala setiap tahunnya. Pemangkasan bertujuan mengoptimalkan produksi buah dan pemeliharaan tanaman (Jonathan et al., 2006). Setiap pemangkasan akan ada limbah daun kopi yang tidak termanfaatkan, hanya dibiarkan kering atau menjadi pupuk kompos, maka perlu pengolahan lebih lanjut agar memiliki sifat fungsional dan nilai ekonomis. Salah satu alternatif pemanfaatan limbah daun kopi dapat digunakan sebagai minuman teh.
Teh herbal daun kopi adalah minuman herbal yang terbuat dari daun Kopi Robusta atau Arabika. Dua spesies utama yang dibudidayakan secara komersial adalah Coffea canephora (dikenal sebagai Robusta) dan Coffea arabica (ICO, 2013). Teh herbal daun kopi atau dikenal sebagai ‘Kawa Daun’ atau ‘Kopi Kawa’ merupakan salah satu minuman khas Indonesia, tepatnya berasal dari Sumatra yang dulunya digunakan sebagai minuman pengganti kopi selama masa tanam paksa oleh Belanda (Ratanamarno dan Surbkar, 2017).
Pembuatan teh daun kopi ini relatif mudah, peralatan yang digunakanpun relatif sederhana, sehingga bisa dibuat oleh industri menengah maupun industri kecil, apalagi industri besar. Keunikan
Sosialisasi Manfaat Teh Daun Kopi
3
dari invensi ini adalah pemanfaatan limbah daun kopi tua yang awalnya merupakan hasil pemangkasan tanaman kopi, yang selama ini hanya menjadi limbah. Keunikan lainnya dari teh herbal daun kopi adalah dari segi cita rasanya memiliki rasa seperti teh Camellia sinensis, dengan sedikit aroma khas kopi, selain itu teh herbal daun kopi memiliki kandungan fenol yang cukup tinggi dengan kandungan kafein yang lebih rendah daripada teh dan kopi (Wahibah, 2019).
2. Teh Herbal
Istilah teh biasanya khusus mengacu pada seduhan yang berasal dari daun Camellia sinensis dan teh herbal yang dikenal sebagai tisan, yaitu seduhan yang terbuat dari akar, bunga, daun, biji atau ranting tanaman lain yang berkontribusi terhadap sumber utama senyawa fenolik dalam minuman (Shikanga et al., 2010). Beberapa tahun terakhir, terjadi peningkatan konsumsi teh herbal yang menjadi trend di seluruh dunia, karena memiliki rasa yang menyegarkan, memiliki efek potensial bagi kesehatan, sumber daya yang melimpah dan harga yang lebih murah. Selain itu teh herbal disukai karena aroma, rasa, efek fisiologis dan memiliki efek kesehatan yang menarik bagi indera perasa, penciuman dan pengelihatan. Oleh karena itu mendorong pengembangan lebih lanjut tentang makanan dan minuman fungsional (Tsai et al., 2007).
Salah satunya adalah teh herbal yang berasal dari daun Cosmos caudatus (daun kenikir). Tingkat kematangan tanaman
Sosialisasi Manfaat Teh Daun Kopi
4
yang digunakan sebagai bahan baku yang dibagi menjadi tiga tahap kematangan yaitu muda, dewasa dan tua yang dapat mempengaruhi aktivitas antioksidan, warna dan kandungan mineral dalam teh herbal. Ketika kematangan meningkat, aktivitas antioksidan dan warna teh herbal C. caudatus menurun dan sebaliknya kandungan mineral akan meningkat (Fatanah et al., 2015). Pada penelitian Guimaraes et al. (2011) tentang campuran daru teh herbal yang berasal dari lemon-verbena (Aloysia citrodora), adas (Foeniculum vulgaris) dan spearmint (Mentha spicata), diidentifikasi adanya aktivitas antioksidan yang dapat menghambat peroksidasi lipid oleh sistem β-caroten-linoleat dan uji TBARS. Antioksidan yang dikenal dengan senyawa seperti total fenolat, flavonoid, asam askorbat dan gula pereduksi. Ditemukan spearmint memiliki aktivitas antioksidan tertinggi daripada sampel lainnya. Teh herbal lainnya berasal dari daun lemon (Folium Melissae), daun papermint (Folium Menthae Piperitae) dan chamomile (Anthonium Chamomilae) (Rusaczonek et al., 2010).
Sosialisasi Manfaat Teh Daun Kopi
5
3. Daun Kopi
Daun kopi adalah daun sebenarnya dari tanaman kopi (Kopi Robusta atau Kopi Arabika). Daun Kopi Robusta mempunyai bentuk daun bulat telur, ujungnya agak meruncing sampai bulat. Tahap perkembangan daun dikategorikan sebagai: 1) tunas dan daun muda (daun ke-1 hingga ke-4, 3 - 4 minggu setelah kemunculan) daunnya berwarna hijau kekuningan, 2) daun dewasa (daun ke-5 hingga ke-8, 5 - 6 minggu setelah kemunculan), daunnya lebih lebar dan berwarna hijau gelap (Ratanamarno dan Surbkar, 2017). Menurut Ashihara et al. (2008) daun kopi memiliki warna hijau tua dan mengkilap (bersinar dan halus), dengan panjang 10-15 cm dan lebar 6 cm, memiliki, serta tepi daun yang halus. Tahap perkembangan daun dikategorikan sebagai (a) tunas dan daun muda, (b) daun dewasa dan (c) daun tua. Daun muda yang baru muncul, memiliki berat sekitar 25 mg (berat segar) dan panjangnya sekitar 20 mm dan lebar 7 mm. Sedangkan daun yang lebih tua memiliki warna hijau gelap dan dekat dengan pangkal tunas dengan berat sekitar 1,3 g. Selama periode pertumbuhan, tanaman mensintesis metabolit sekunder dan senyawa bioaktif dengan jumlah yang berbeda,
Sosialisasi Manfaat Teh Daun Kopi
6
dipengaruhi oleh morfologi dan bertambahnya usia daun (Farhoosh et al., 2007).
Daun kopi menghasilkan metabolit sekunder dan senyawa fenolik seperti mangiferin dan ester dari asam hidroksinakmat (HCEs). Mangiferin dalam tanaman memiliki perlindungan sebagai antioksidan dan antimikrobia pada stress biotik. Johnson and Williamson (2003) telah mengidentifikasi bahwa fitokimia aktif secara biologis, metabolit sekunder yang tidak bergizi memberikan warna tanaman, rasa dan alami toksisitas terhadap hama. Klasifikasi senyawa terbagi menjadi tiga kelompok utama yaitu: senyawa fenolik (termasuk flavonoid dan fitoestrogen), glukosinolat dan karotenoid. Senyawa fenolik yang teridentifikasi, termasuk ke dalam monophenol yang termasuk ke dalam gugus asam hidroksisinamatik yang mengandung asam kafeat, asam ferulat, flavonoid, glikosida, fitoestrogen dan tanin. Flavonoid memiliki peran dalam warna tanaman, rasa dan bau. Beberapa memiliki sifat antioksidan dan sementara yang lain fitoestrogen
4. Teh Herbal Daun Kopi
Pesaing terbaru di pasar minuman hangat adalah teh herbal daun kopi. Teh yang tidak biasa ini, terbuat dari tanaman kopi yang lebih rendah kafein,
Sosialisasi Manfaat Teh Daun Kopi
7
dengan daunnya yang juga ditemukan mengandung lebih banyak antioksidan daripada teh biasa, serta bahan kimia alami (Davis et al., 2006). Teh herbal daun kopi mengandung sejumlah besar metabolit sekunder seperti polifenol, tanin, antioksidan dan kafein. Sedangkan ekstrak methanol daun kopi ditemukan mengandung penghambatan radikal bebas lebih tinggi dibandingkan teh hijau dan biji kopi. Selain itu ditemukan kadar antioksidan dalam teh herbal daun kopi lebih tinggi daripada asam askorbat yang digunakan sebagai kontrol untuk uji antioksidan (Woldesenebet, 2015).
4.1 Kuti
Dahulu kala, pada abad ke 9, bagian barat daya Ethiopia atau lebih tepatnya di Kaffa. Para penggembala melihat kambing setelah memakan daun dari pohon kopi menjadi sangat aktif. Merekapun penasaran dan mencoba menyeduh daun kopi, dan ternyata memiliki rasa yang menyegarkan. Semenjak itulah minuman dari daun kopi menjadi popular dan banyak di konsumsi di Ethiophia dan Sudan Selatan, selama lebih dari 200 tahun. Pada tahun 1800-an teh herbal daun kopi semakin popular di Ethiophia dan diperjual belikan di Inggris. Minuman yang dibuat dari seduhan daun kopi secara tradisional di Ethiophia dikenal dengan nama “Kuti”. Penduduk setempat percaya
Sosialisasi Manfaat Teh Daun Kopi
8
bahwa minuman teh herbal daun kopi dapat memberikan energi bagi tubuh (Davis et al., 2006).
4.2 Kopi Kawa atau Kawa Daun
Di Indonesia, teh herbal daun kopi merupakan minuman tradisional yang berasal dari Sumatra yang telah popular sejak zaman penjajahan Belanda, sebagai minuman pengganti kopi. Pada masa penjajahan Belanda tahun 1847 - 1908, penduduk Minangkabau Sumatra Barat mengalami sistem eksploitasi kolonial dalam sistem tanam paksa. Penduduk harus menyerahkan seluruh biji kopi hasil tanam paksa kepada Belanda, sehingga masyarakat yang ingin menikmati kopi hanya bisa menggunakan daunnya untuk dibuat minuman. Minuman dari daun kopi tersebut dikenal dengan istilah “Kopi Daun Melayu” atau “Kopi Kawa” (Oki, 1977; Booth et al., 1988). Rasa teh herbal daun kopi tidak begitu terasa flavor kopi, namun cenderung seperti teh atau minuman herbal yang berasa seperti rerumputan yang manis (Ratanamarno dan Subskar, 2017).
4.3 Wize Monkey
Semakin berkembangnya teh herbal daun kopi dunia, yang dipimpin secara global oleh Wize Monkey dalam produksi, penelitian dan inovasi. Berasal dari proyek penelitian Pascasarjana 2013, Wize Monkey telah memantapkan dirinya sebagai
Sosialisasi Manfaat Teh Daun Kopi
9
perusahaan Teh Daun Kopi pertama di dunia. Wize Monkey adalah perusahaan Vancouver yang memproduksi teh herbal daun kopi dengan bekerja sama dengan petani kopi Nikaragua. Kopi hanya dapat dipanen beberapa bulan dalam setahun sementara daunnya dapat ditanam dan dipetik sepanjang tahun, ketika buah kopi tidak produksi atau tidak panen. (Finrez et al., 2018). Saat ini telah berkembang berbagai varian antara lain teh daun kopi original, mango party dan minty marvel.
Salah satu komponen nutrisi terbesar dari teh herbal daun kopi adalah tingginya kadar mangiferin. Komponen fisikokimia yang mendominasi adalah methylxanthine dan senyawa fenolik, yang sangat heterogen melibatkan asam fenolik, asam klorogenik dan flavonoid yang memiliki efek antioksidan. Efek fisiologis utama dari kandungan kafein “trimethylxanthine” (Wang and Ho, 2009).
Sosialisasi Manfaat Teh Daun Kopi
10
Proses pembuatan teh herbal daun kopi serupa dengan pembuatan teh Camellia sinensis (teh oolong dan teh hitam). Menurut Ratanamarno dan Subskar (2017) prosesnya terdiri dari pemetikan, penyortiran, pelayuan, penggulungan dan pengeringan, hingga daunnya kering dan renyah. Berikut ini adalah proses pembuatan teh daun kopi, antara lain :
5.1. Pemetikan
Pembuatan teh herbal daun kopi diawali dengan memetik daun Kopi Robusta (Coffea
canephora), yang
berumur lebih dari 2,5 – 3 tahun. Daun yang dipetik dibedakan menjadi 2 kategori yaitu: 1) pucuk dan daun muda diambil dari daun ke-4 yang kemunculannya 3-4 minggu dan memiliki warna kuning kehijauan; 2) daun dewasa diambil dari daun ke 5 hinga 8, yang kemunculannya 5-6 minggu dengan warna hijau gelap (Ratanamarno and Subskar, 2017). Pemangkasan atau pemetikan dibagi menjadi tiga kategori yaitu:
1) Pemenggalan yaitu proses pemotongan batang utama, agar tanaman Kopi Robusta memiliki tinggi tidak lebih dari 1 – 1,5
Sosialisasi Manfaat Teh Daun Kopi
11
meter, jika tanaman kondisinya lemah pemenggalan dapat dilakukan 2 - 3 kali dan dilakukan pada musim kemarau 2) Pemangkasan ringan yaitu proses pembuangan
cabang-cabang tidak produktif, dilakukan saat tanaman kopi masih kecil dengan interval 2 minggu dalam musim penghujan dan 4 minggu dalam musim kemarau (Prastowo dkk, 2010).
3) Pemangkasan berat yaitu proses pemangkasan yang dilakukan apabila produksi tanaman terlalu rendah, tetapi pohon masih cukup baik, dilakukan pada waktu menjelang musim penghujan (Puslit Kopi dan Kakao Indonesia, 2010).
5.2. Pelayuan (Curing dan Respirasi)
Pelayuan mengacu pada perubahan (fisik dan kimiawi) yang terjadi pada daun teh sejak dipetik hingga saat maserasi. Pelayuan fisik adalah hilangnya kelembaban daun teh segar dan perubahan fisik yang terkait, sedangkan pelayuan kimia melibatkan perubahan biokimia, yang tergantung pada waktu dan tidak tergantung pada hilangnya kelembaban (pelayuan fisik) (Pandey and Sinha, 2014).
Sosialisasi Manfaat Teh Daun Kopi
12
Pelayuan dapat dipandang sebagai curing tetapi waktunya pendek, untuk pelayuan teh oolong selama 3 jam dan untuk teh hitam 17-24 jam. Suhu yang digunakan adalah suhu ruang sekitar 20-26 oC dengan kelembapan udara 60-75%. Kelembapan yang
tinggi dapat menghambat proses pelayuan sehingga mengakibatkan mutu produk jadi yang dinginkan tidak tercapai. Secara fisik pucuk yang layu optimal ditandai dengan melemasnya daun, ditandai dengan apabila dikepal pucuk layu seperti bola dan tidak cepat buyar apabila dibiarkan. Berubah warnanya menjadi agak kuning kehijauan, muncul aroma buah, tangkai pucuk mulai lentur dan menurunnya ketebalan hamparan pucuk pada Withering trough (Ho et al, 2015).
5.3. Fermentasi (Oksidasi Enzimatis)
Proses oksidasi enzimatis adalah suatu proses reaksi oksidasi substansi senyawa-senyawa kimia yang ada dalam cairan daun dengan oksigen pada udara sekitarnya, melalui bantuan enzim akan dihasilkan substansi theaflavin dan thearubigin yang menentukan sifat air seduhan. Proses oksidasi enzimatis bertujuan untuk memperoleh sifat-sifat karakteristik teh yang diinginkan seperti:
Sosialisasi Manfaat Teh Daun Kopi
13
warna air seduhan, rasa air seduhan, aroma air seduhan dan warna ampas seduhan (Setyamidjaja, 2000). Perhitungan waktu oksidasi enzimatis dimulai sejak proses penggilingan (OTR) dilaksanakan. Pada saat bersamaan pucuk mengalami proses pememaran yang mengakibatkan dinding sel daun pecah dan cairan sel keluar sehingga terjadi kontak dengan udara dan enzim-enzim.
Fermentasi adalah tahapan kritis dalam pembuatan teh hitam, dimana katekin dioksidasi menjadi TF dan TRs oleh enzim polifenol oksidase (PPO) dan peroksidase (POD). Waktu, suhu, pH dan ketersediaan oksigen selama fermentasi adalah faktor penting yang bertanggung jawab untuk pembentukan TF tingkat tinggi (Someswararao dan Srivastav, 2012). Selama fermentasi, awalnya katekin akan ditindaklanjuti oleh enzim polifenol oksidase (PPO) untuk membentuk kuinon dengan adanya oksigen molekuler. Theaflavin yang berbeda terbentuk selama fermentasi dengan polimerisasi oksidatif dari kuinon yang dihasilkan dari dihidroksi katekin dan katekin gallo (trihydroxy). Theaflavin terdiri dari theaflavin sederhana (TF), 3-gallate (TF3G), theaflavin-3’gallate (TF3’G) dan theaflvanin 3,3;digallate (TF33’DG). Theavlafin bertanggung jawab atas astringensi, kecerahan, warna kekuningan dan kualitas teh hitam. Sedangkan thearubigins (TR) yang terbentuk selama fermentasi berkontribusi pada rasa ketebalan pada mulut dan warna coklat kemerahan pada teh (Samanta et al., 2015).
Sosialisasi Manfaat Teh Daun Kopi
14
5.4. Pengeringan
Pengeringan merupakan proses pemindahan uap air ke udara dengan menggunakan panas. Pengeringan pada pengolahan teh hitam menggunakan udara yang dipanaskan dengan tungku (pemanasan tidak langsung) kemudian dihembuskan ke permukaan teh. Selain mengurangi kandungan air, pemasan pada pengolahan teh hitam juga berfungsi menghentikan proses oksidasi enzimatis (Setyamidjaja, 2000). Pengeringan bertujuan untuk menghentikan proses oksidasi enzimatis pada saat seluruh komponen kimia penting dalam daun teh telah secara optimal terbentuk (Dias et al., 2013). Suhu pengeringan akan mengurangi kandungan air teh menjadi 2 - 3%. Beberapa perubahan kimia lain selain aktivitas enzim adalah pembentukan rasa, warna dan bau spesifik (karena pembentukan karamel dari karbohidrat), walaupun minyak esensial yang sudah terbentuk akan hilang (Lee dan Chamber, 2009).
Selama pengeringan enzim polifenol oksidase akan inaktif dan kandungan air akan berkurang menjadi 3,5%, sehingga aroma akan muncul. Klorofil pada daun akan dikonversi menjadi pheophytin, yang memiliki warna khas kehitaman. Selama oksidasi
Sosialisasi Manfaat Teh Daun Kopi
15
akan membantu pengikatan polifenol dengan protein, sehingga menurunkan astringensi (rasa pahit atau sepat). Selain itu senyawa lain akan terbentuk seperti ionon, pirazin, piridin dan quinolisis (Sarkar et al., 2016).
6. Teknik Seduh
Saat daun teh ditambahkan ke dalam air, daun teh sebagian akan menyerap air dan terjadi rehidrasi. Penyerapan air ke dalam daun teh memungkinkan inisiasi pada seduhan, proses terekstraknya senyawa terlarut dari daun teh dan berlahan larut ke dalam air. Kekuatan keluarnya senyawa pada proses penyeduhan terjadi akibat adanya perbedaan konsentrasi senyawa terlarut pada daun dan di dalam air. Senyawa pada daun bergerak dari daerah dengan konsentrasi tinggi menuju daerah yang konsentrasinya rendah, hingga tercapai ekuilibrium atau sebuah proses yang disebut difusi (Gebely, 2016). Ekstrak air teh tergantung pada banyak komponen yang meliputi, gula, senyawa fenolik, alkaloid, asam amino dan banyak zat terlarut kecil, seperti mineral dan pigmen. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi seduhan teh yaitu: rasio teh dan air, suhu infus, jenis, ukuran partikel dan konstituen teh. Selain itu, waktu penyeduhan merupakan variabel penting untuk mengkarakterisasi kandungan polifenol dan aktivitas antioksidannya (McAlpine and Ward, 2016). Teh herbal diseduh dengan berbagai cara, salah satunya dengan cara merebus dalam
Sosialisasi Manfaat Teh Daun Kopi
16
air mendidih (decoction) atau merendam pada air panas (infusion) pada durasi dan suhu yang berbeda.
6.1. Infusion (Diseduh atau Infus)
Teknik seduh infusion adalah suatu cara dalam menyeduh atau mengekstrak teh dengan cara merendam atau mencelupkan daun teh atau kantong teh ke dalam air panas pada cangkir atau teko dengan suhu dan lama waktu tertentu. Teknik seduh ini biasanya digunakan masyarakat China dan Asia Tenggara untuk menyeduh teh. Cara penyeduhannya dengan menyiapkan teh atau kantong teh yang dicelupkan pada air panas dengan suhu sekitar 75-85 oC, selama
5-10 menit (Li et al., 2015).
Kondisi penyeduhan teh yang optimal untuk teh hijau di Turki ditentukan berdasarkan katekin yang diekstraksi dan atribut sensorik. Infus teh hijau yang diseduh pada suhu 75, 85, dan 95 oC
dengan waktu pembuatan 1, 2, 3, 5, 10, 20, 30 dan 45 menit, memiliki jumlah katekin epistruktur (ECGC, EGC, ECG, EC), katekin tanpa epistruktur (C, GC, GCG) dan kafein dalam sampel teh yang dianalisis. Hasil seduhan teh yang optimal ditemukan pada suhu 85
oC selama 5 menit, ditemukan ECGC maksimum 50,69 mg/100 ml
Sosialisasi Manfaat Teh Daun Kopi
17
sangat rendah pada seduhan teh dengan waktu 30 dan 45 pada suhu 85 dan 95oC karena memiliki rasa pahit dan warna gelap
(Safdar et al., 2015).
6.2. Decoction (Direbus)
Teknik seduh decoction adalah suatu cara dalam menyeduh atau mengekstrak teh dengan cara merebus daun teh atau kantong teh ke dalam air yang mendidih. Teknik ini biasanya paling disukai di dunia, karena lebih mudah dan membutuhkan waktu yang lebih singkat (Peiro and Gordon, 2014). Pada teknik seduh ini kantong teh disiapkan dan direbus dalam panci berisi air mendidih dengan suhu 95 - 100 oC selama 3 sampai 5 menit
(Preedy, 2012). Rekomendasi penyeduhan teh hijau menggunakan air rebusan dengan lama waktu 3 - 5 menit, karena lebih dari itu teh akan pahit karena astringen terekstrak (Shiyakumar, 2008).
Pada penelitian Khan et al. (2013) metode penyeduhan teh secara decoction disiapkan dengan merebus Camellia sinensis (teh hijau) dalam koonsentrasi 5% yaitu 5 g teh dalam 100 ml air dan direbus selama 15-20 menit. Teknik penyeduhan teh dapat mempengaruhi sifat bioaktif teh herbal. Dalam penelitian ini,
Sosialisasi Manfaat Teh Daun Kopi
18
diidentifikasi sifat bioaktif (kandungan total fenolik, total kadar flavonoid, kandungan tanin terkondensasi dan sifat antioksidan) dari teh herbal yang diseduh seperti: teh hijau (Camellia sinensis), senna (Cassia sp.), jagung (Zea mays), rosemary (Rosmarinus officinalis) pada suhu berbeda. Teh herbal diseduh selama 10 menit dengan suhu 60, 80 dan 100 oC. Hasil tertinggi ditemukan pada teh
yang diseduh pada suhu tinggi yaitu 100 oC (Kilic et al., 2017). Pada
penelitian lainnya Hajiaghaalipour et al. (2015) hasil seduhan teh yang berasal dari 2 g daun teh yang diseduh dalam 100 ml air pada air mendidih (100 oC) dan diseduh secara singkat selama waktu 5
menit.
Sosialisasi Manfaat Teh Daun Kopi
19
Daftar Pustaka
Ashihara, H., H. Sano and A. Crozier. 2008. Caffeine and Related Purine Alkaloids: Biosynthesis, Catabolism, Function and Genetic Engineering. J Phytochemistry. 69: 841–856.
Booth, A., W. O'Malley and A. Weidemann. 1988. Economic History of Indonesia. Jakarta : LP3ES.
Davis, A.P., R. Govaerts, D.M. Bridson and P. Stoffelen. 2006. An Annotated Taxonomic Conspectus of the Genus Coffea (Rubiaceae). Botanical Journal of the Linnean Society. 152: 465-512.
Dias, T.R., G. Tomas, N.F. Teixeira, M.G. Alves, P.F. Oliveira and B.M. Silva, 2013. White Tea (Camellia Sinensis (L.): Antioxidant Properties and Beneficial Health Effects. Int J Food Sci Nutr Diet. 2(2): 1-15.
Farhoosh, R., G.A. Golmovahled and M.H. Khodaparast. 2007. Antioxidant Activity of Various Extracts of Old Tea Leaves and Black Tea Wastes (Camellia sinensis L.). J. Food Chemistry. 100: 231-236.
Fatanah, D.S., N. Abdullah, N. Hashim, and A.A. Hamid. 2015. Antioxidant Activity, Colour and Mineral Content of Herbal Tea Prepared from Cosmos caudatus Leaves at Different Maturity Stages. Malaysian Journal of Analytical Sciences. 20(3): 607-617.
Finrez, J.R.D., A.T. Valduga, M.M.P, Ferreira, I.L. Goncalves, 2018. Beverages of Coffee Tree Leaves. Journal of Analytical and Pharmaceutical Research. 7(4): 383-384.
Gebely, Tony, 2016. Tea: A Users Guide. Eggs and Toast Media, LLC. US.
Sosialisasi Manfaat Teh Daun Kopi
20
Guimaraes, R., L. Barrosm A.M. Carvalho and I.C.F.R. Ferreira. 2011. Infusions and Decoctions of Mixed Herbs used in Folk Medicine: Synergism in Antioxidant Potential Phytother. Res. 25: 1209–1214.
Hajiaghaalipour, F., J. Sanusi, and M.S. Kanthimatthi. 2015. Temperature and Time of Steeping Affect the Antioxidant Properties of White, Green, and Black Tea Infusions. Journal of Food Sciene. 81(1).
Ho, C.T., X., Zheng, and S. Li. 2015. Tea Aroma Formation. J. Food Science and Human Wellness.
ICO, 2013. All Exporting Countries Total Production Crop Years. England: International Coffee Organization (ICO).
Johnston and Williamson. 2003. Coffee Acutely Modify Gastrointestinal Hormone Secretion and Glucose Tolerance in Humans: Glycemic Each of Chlorogenic Acid and Caffeine. Am J Clin Nutr. 78(4): 728-33.
Jonathan, H.C., C.F. Barledi, and G. Joyner. 2006. Coffee Growing in the Florida Home Landscape. U.S. Department of Agriculture, The Institute of Food and Agricultural Sciences (IFAS). Extension Service. University of Florida.
Kiliç, C., Z. Can, A. Yilmaz, S. Yildiz, and H. Turna. 2017. Antioxidant Properties of Some Herbal Teas (Green Tea, Senna, Corn Silk, Rosemary) Brewed at Different Temperatures. Int. J. Second. Metab. 4: 142–148.
Lee, J., and D. Chambers. 2009. Sensory Descriptive Evaluation: Brewing Methods Affect Flavour of Green Tea. As. J. Food Ag-In. 2(04), 427-439.
Li, J., H.J. Joung, I.W. Lee, X. Chen dan H.J. Park. 2015. Tea influence of Different Water Type and Brewing Duration on Tea Colloidal Properties of Green Tea Infusion. International Journal of Food Science and Technology. 50: 2483–2489
Sosialisasi Manfaat Teh Daun Kopi
21
McAlpine, M.D., and W.E. Ward. 2016. Influence of Steep Time on Polyphenol Content and Antioxidant Capacity of Black, Green, Rooibos and Herbal Teas. Journal Beverages. 2(17).
Oki, Akira. 1977. Social Change in West Sumatra Village, 1908-1945. Thesis Doctor Canbera : The Australian University.
Pandey, S.N. and B.K. Sinha.2005. Plant Physiology. Vikas Publishing House. New Delhi.
Peiro, S., and M.H. Gordon. 2014. Modelling Extraction of White Tea Polyphenols: Tea Influence of Temperature and Ethanol Concentration. Antioxidants. 3: 684-699.
Prastowo B, Karmawati E, Rubijo, Siswanto, Indrawanto C, Munarso S. 2010. Budidaya dan Pasca Panen Kopi. Bogor (ID): Pusat Penelitian Perkebunan.
Preedy V. 2012. Elsevier BV (eds) Tea in Health and Disease Prevention. 1st edn. Amsterdam, Netherlands, pp 307–322. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, 2010, Panduan
Lengkap Budidaya Kakao, 13, Jakarta, Agromedia Pustaka. Ratanamarno, S., and S. Surbkar. 2017. Caffeine and Catechins in
Fresh Coffee Leaf (Coffea arabica) and Coffee Leaf Tea. Maejo International Journal of Science and Technology. 11(03): 211-218.
Rusaczonek, A., S. Francizek, and W.R. Bozena. 2010. Antioxidant Properties of Tea and Herbal Infusion-A Short Report. J. Food Nutr. 60(1): 33-35.
Safdar, N., A. Sarfaraz, Z. Kazmi and A. Yasmin. 2016. Ten Different Brewing Methods of Green Tea: Comparative Antioxidant Study. Journal of Applied Biology and Biotechnology. 4(3): 033-040.
Sosialisasi Manfaat Teh Daun Kopi
22
Samanta, T., V. Cheeni, S. Das, A.B. Roy, B.C. Ghosh and A. Mitra. 2015. Assessing Biochemical Changes During Standardization of Fermentation Time and Temperature for Manufacturing Quality Black Tea. J Food Sci Technol. 52(4):2387–2393
Sarkar, S., P. Mandal, A. Chowdhury, and C. Chowdhury. 2016. Major Tea Processing Practice in India. International Journal of Bioassays. 5(11): 5071-5083.
Setyamidjaya D. 2000. Teh. Budi Daya dan Pengolahan Pascapanen. Penerbit Kanisius. Yogyakarta..
Shikanga EA, Combrinck S, Regnier T. 2010. South African Lippia Herbal Infusions: Total Phenolic Content, Antioxidant and Antibacterial Activities. South Afr J Bot. 76: 567–571.
Shivakumar, H.N. 2008. Design and Optimization of Diclofenac Sodium Controlled Release Solid Dispersions by Response Surface Methodology. India: Indian J Pharm.
Someswararao, C. and P.P. Srivastav, A Novel Technology For Production Of Instant Tea Powder From The Existing Black Tea Manufacturing Process. Innovative Food Science and Emerging Technologies. 16(39): 143–147.
Tsai, P.J., Tsai, T.H.,Yu, C.H. and Ho, S.C. 2007. Comparison of NO-scavenging and NO Suppressing Activities of Different Herbal Teas with Those of Green Tea. Food Chemistry. 103: 181–187.
Wahibah, L.Y. 2019. Karakterisasi dan Optimasi Teknik Seduh Infusion dan Decoction pada Teh Herbal Daun Kopi Robusta. Tesis. Teknologi Hasil Pertanian. Teknologi Pertanian. Universitas Brawijaya.
Wang Y, and C.T. Ho. 2009. Polyphenolic Chemistry of Tea and Coffee: a Century of Progress. J Agric Food Chem. 57:8109– 8114.
Sosialisasi Manfaat Teh Daun Kopi
23
Woldesenebet, A. 2015. Nutritional Composition, Phytochemical Screening, Processing Methods and Sensory Attributes of a Brew Made from Infusion of Matured Leaves of Arabica Coffee Tree Consumed in Sidama, Kambata, and Harar Communities, Ethiophia. Addis Ababa University.
Biodata penulis