• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGUJIAN SIFAT FISIK DAN KETAHANAN BENTURAN RANSUM BROILER BENTUK CRUMBLE SUBSTITUSI DEDAK PADI-POLLAIZD DENGAN LAMA PENGUKUSAN YANG BERBEDA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGUJIAN SIFAT FISIK DAN KETAHANAN BENTURAN RANSUM BROILER BENTUK CRUMBLE SUBSTITUSI DEDAK PADI-POLLAIZD DENGAN LAMA PENGUKUSAN YANG BERBEDA"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)

q

i

rrr

J O W L

GI".

PENGUJIAN SIFAT FISIK DAN KETAHANAN BENTURAN RANSUM BROILER BENTUK CRUMBLE SUBSTITUSI DEDAK PADI-POLLAIZD

DENGAN LAMA PENGUKUSAN YANG BERBEDA

SKRIPSI

FACHRAH A. H. BACHMlD

JURUSAN &MU NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2001

(2)

Fachrah. A. H. B. 2001. Pengujian Sifat Fisik dan Ketahanan Benturan Ransum Broiler Bentuk Crumble Substitusi Dedak ~adi-Pbllnrri dengan Lama Pengukusan yang Berbeda. Program Studi Ilmu Nutrisi dan Makanan Temak. Fakultas Petemakan. Institut Pertanian Bogor.

Pembimbing Utama : Dr. Ir. Yuli Retnani, MSc

Pembimbing Anggota :

Ir.

Lidy Herawati, MS

Ketersediaan dedak padi sangat dipengaruhi oleh musim panen padi sehingga perlu dicari bahan baku altematif yang dapat menggantikan dedak padi, antara lain dengan memanfaatkan limbah industri berupa pollard yang merupakan hasil sampingan dari penggilingan gandum.

Sifat fisik pakan memegang peranan penting dalam pengembangan teknologi pakan terutama pakan dalam bentuk olahan seperti crumble. Kendala pemakaian ransum bentuk crumble adalah tingkat terjadinya kerusakan selalna proses pembuatan dan pengangkutan.

Pengukusan menyebabkan terjadinya gelatinisasi yaitu granula akan menarik komponen lain pada bahan sehingga terbentuk crumble yang kompak, padat dan tidak mudah rapuh.

Penelitian ini bertujuan mengetahui penggunaan pollard sebagai pengganti dedak padi dengan lama pengukusan yang berbeda terhadap sifat fisik dan ketahanan benturan ransum broiler starter bentuk crumble.

Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan acak lengkap berpola faktorial 4

x

4 dengan 5 kali ulangan. Faktor A terdiri dari A1 : tanpa

pengukusan, Az : pengukusan selama 15 menit, A3 : pengukusan selama 30 menit,

&

:

pengukusan selalna 45 menit. Faktor B terdiri dari B, : 15 % dedak padi tanpa

pollard, Bz : 10 % dedak padi

+

5 % pollard, B3 : 5 % dedak padi 'r 10 % pollard,

Bq : 15 % pollard tanpa dedak padi.

Peubah yang dialnati adalah kadar air, berat jenis, kerapatan tulnpukan kerapatan pemadatan tumpukan, sudut tumpukan dau ketahanan benturan crunzble.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ransum yang

mnenggunakan 5 % dedak padi

+

10 % pollard yang mengalami pengukusan selama

45 menit menghasilkan sifat fisik dan ketahanan benturan terbaik. Proses

pengukusan menyebabkan terjadinya gelatinisasi sehingga dillasilkan crumble yang lebih kolnpak, padat dan tidak mudah hancur.

(3)

ABSTRACT

Faclwah. A. H. B. 2001. Physical Characteristics and Collide Resistance Testing

of Broiler Ration by Rice Bran-Pollard Substitution with Variant of Duration Distillation Process. Departement of Nutrition and Feed Science, Faculty of Animal Science, Bogor Agricultural University.

Main-advisor : Dr.

Ir.

Yuli Rehani, MSc

Co-advisor :

Ir.

Lidy Herawati, MS

The availability of rice bran depend on harvesting season of rice, therefore need to fmd the alternative raw material which can substitute rice bran. One of the alternative way is to make use the industrial pollutant such as pollard which is by product of wheat mill.

The feed physical characteristics play an important role in the development of feed technology, especially crumble feed product. The risks of using crumlSle type are damage during production process and transportation.

Distillation causes gelatination that granula will b i d another component and it will produce the compact crumble, solid and unfiagile.

The objective of this research was to find out the advantages of pollard as rice bran substitution on physical characteristics with variant of duration distillation also on collide resistance of the crumble type of broiler starter ration.

The experimental design used a random design with 4x4 factorial and 5 replicates. The factors are A, : without distillation, A2 : 15 minutes distillation, A3 :

30 minutes distillation,

Aq

: 45 minutes distillation. The

B

factors are BI : 15 % of rice bran,

Bz

: 10 % rice bran and

+

5 % pollard,

B;

: 5 % rice bran and 10 % pollard,

B4 : 15 % pollard without rice bran.

The parameter observed were water content, specific gravity, loose bulk density, compacted bulk density, angle of repose and collide resistance of crumble.

This research got a conclution that, the ration which used the 5 % of rice

bran

+

10 % pollard with distillation for about 5 minutes produced the best of

physical characteristics and collide resistance. The distillation process causes

(4)

PENGUJIAN SWAT FISK DAN KETAEIANAN BENTURAN RANSUM BROILER BENTUK CRUMBLE SUBSTITUSI DEDAK PADI-POLLARD

DENGAN LAMA PENGUKUSAN YANG BERBEDA

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan

pada Fakultas Peternakan -

Institut Pertanian Bogor

Oleh :

Fachrah A. H. Bachmid DO2496003

SURUSAN E M U NUTRlSI DAN MAKANAN TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANlAN BOGOR 2001

(5)

PENGUJIAN SIFAT FISIK DAN KETAHANAN BENTURAN RANSUM BROILER BENTUK CRUMBLE SUBSTITUSI DEDAK PADI-POLLARD

DENGAN LAMA PENGUKUSAN YANG BERBEDA

Oleh :

Facluah A. H. Bachmid

DO2496003

Skripsi ini telah disetujui dan disidangkan di hadapan Konlisi Ujian Lisan

pada tanggal 16 Agustus 2001 -.

Menyetujui,

Penlbimbing Utama

Dr. Ir. Yuli Retnani, MSc Ir. Lidy Herawati, MS

Mengetahui,

Ketua Jurusan

Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan IPB

(6)

Peuulis dilakkau pada tauggal 12 Januaii 1978 di Tahuua yaug meiupakan kota kecil yang iudah, terletak di Kabupaten Saugir Talaud propiusi Sulawesi Utara. Peuulis adalab analc ke delapau daii delapau bersaudara daii Bapak H. Abdullah Hasau Baclunid dan Ibu Hj. Faiida Bachmid

Jenjaug peudidiian Peuulis, pada t a h u 1990 penulis lulus daii SD Negeii

III

Tidore dau lulus SMP Negeii I Tahuua pada Tahuu 1993, pada tahun 1993 masuk di

SMA Negeii I Tahuna dau tahuu 1994 piudah ke SMA Iusan Kalnil Bogor, lulus

-.

tahuu 1996.

Peuulis terdafiar sebagai ~nahasiswa Iustitut Peitaluan Bogor pada tahuil 1996

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat-Nya,

sehiigga Penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini.

Skripsi ini disusun berdasarkan hasil penelitian dan studi pustaka untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana di Fakultas Petetnakan Institut Pertanian Bogor.

Penulis mengucapkan teriima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Abdullah Hasan Bachrnid dan Ibu Farida Bachmid yang telah

-.

mengasuh, inendidik dan membimbing Penulis dengan pen& kasih sayang, serta doa yang selalu dipanjatkan setiap saat.

2. Dr. Ir. Yuli Retnani, MSc dan Ir. Lidy Herawati, MS sebagai dosen

pe~nbi~nbing yang telah banyak meinberikan pengarahan, bilnbingan dan

saran selama penelitian d m penulisan karya ilmiah.

3. Dr. Ir. Iman Rahayu, MS dan Ir. Abdul Djamil H, MS selaku dosen penguji ujian sidang dan Ir. Sumiati, MS selaku dosen penguji seminar, yang telah inemberikan saran kritikan dan masukan untuk perbaikan skripsi ini.

4.

Ir.

Dwi Margi Suci, MS selaku panitia ujian sidang, atas waktu dan

kesediannya inembailtu Penulis.

5. Dr. H. Rahmat Herman, MVSc yang telah nlenyediakan waktunya untuk

konsultasi, dan seluruh dosen Fakultas Peternakan yang telah memberikan bekal ilmu kepada Penulis selama mengikuti pendidikan di Institut Pertanian Bogor.

(8)

6 . Kakak-kakak tercinta (Fadilah, Fihri, Fauzy, Fachriyah, Faiza, Fachri, Fadli)

atas pengertian dan dorongan selama penulis mengikuti pendidiian di Institut

Pertanian Bogor.

7. K'Fadli Makaminan, yang telah banyak membantu dalam penulisan skripsi ini

dan K'Syawal yang telah mengajarkan cara pengolahan data.

8. Apit Wikantiasi sahabatku yang selalu bersama dalam melakukan penelitian, penulisan skripsi dan telah banyak memberikan bantuannya.

9. Cutti Sarah dan Palupi Dewi rekan sepenelitian, atas kerja sama dan kebersamaannya selama ini.

-.

10. Sahabat baikku : Dian Nuraini dan Yeni Rahmawati atas bantuan dan

persahabata~ulya sela~na ini.

11. Warga Lavender House ( Vivid, Reni, Inur, Emang, Ati, Asrima, Ririn, dkk )

dan Darmaratih atas bantuannya dan dorongan semangat selama Penulis melakukan penelitian sampai penulisan karya ilmiah.

12. M'Ana, Yeni'34 dan selnua rekan INMT yang telah lnelnbantu dan

~nemberikan dorongan kepada Penulis.

13. Staf Laboratoriu~n Industri Makanan Ternak Jurusan INMT yang telah ~nelnbantu sela~na penelitian.

14. Berbagai pihak yang membantu sehingga Penulis dapat menyelesaikan penulisan karya ilmiah ini.

Bogor, Agustus 2001

(9)

DAFTAR IS1

...

ABSTRACT

...

111

RIWAYAT HIDUP

...

vi

KATA PENGANTAR

...

vii

DAFTAR TABEL

...

xi

DAFTAR GAMBAR

...

xii

.. DAFTAR LAMPIRAN

...

xiii

PENDAHULUAN

...

1 Latar Belakang

...

1 Tujuan

...

2 Hipotesis

...

2

...

TINJAUAN PUSTAKA 3 / . ~ Sifat Fisik

...

. . .

8 Berat Jenis

...

8 Kerapatan Tumpukan

...

8

Kerapatan Pemadatan Tumpuka11

...

9

Sudut Tumpukan

...

10

...

(10)

Ketahanan Benturan

...

MATEN DAN METODE

...

WaMu dan Tempat

...

...

Materi Bahan

...

Alat-alat

...

Metode

...

Formulasi Ransurn

...

- . Pe~nbuatan Crumble

...

Pengukuran Sifat Fisik Bahan

...

Berat Jenis

...

Kerapatan Tumpukan

...

Kerapatan Pernadatan Tunpukan

...

Sudut Tumpukan

...

I<adar Air

...

Perlgujian Kadar Icehalusan dan Ketahanan Benturan

...

Kadar Kehalusan

...

...

Ketahanan Benturarl Crumble

...

Rancangall Percobaan

HASIL DAN PEMBAHASAN

...

KESIMPULAN DAN SARAN

...

...

DAFTAR PUSTAKA

(11)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

...

1

.

Komposisi Nutrisi Pollard dan Dedak Padi 4

2

.

Ketersediaan Pollard dan Dedak Padi

...

4

3

.

Perbandigan Kebutuhan Energi Metabolis dan Kebutuhan Protein untuk Ransum Broiler Starter

...

5

4

.

Formulasi Ransum Broiler Starter

...

15

5

.

Cara Pengukuran Kadar Kehalusan

...

20

.. 6

.

Rataan Hasil Analisis Kadar Air (%)

...

25

7

.

Rataan Hasil Pengukuran Kadar Kehalusan

...

27

...

8

.

Rataan Ukuran Partikel Crunzble (cm) 28 3 9

.

Rataan Hasil Pengukuran Berat Jenis (glcm )

...

29

3 10

.

Rataan Pengukuran Kerapatan Tumpukan (g/cm )

...

31

11

.

Rataan Pengukuran Kerapatan Penladatan Tuinpukan (g/cm3)

...

33

12

.

Rataan Hasil Pengukuran Sudut Tuinpukatl ( O )

...

34

(12)

Nomor Halaman

1

.

Skema Pembuatan Crumble

...

16

2

.

Cara Mengukur Sudut Tumpukan

...

19

3

.

G r a a Hubungan Antar Ukuran Partikel dan Sudut Tumpukan

...

38

4

.

Grafik Hubungan Antar Kadar Air dan Kerapatan Tumpukan

...

40

5

.

Grafik Hubungan Antar Kadar Air dan Kerapatan Pemadatan Tuinpukan

...

40

(13)

Nomor Halaman

1

.

Sidik Ragam Kadar Air

...

46 2

.

Sidik Ragam Kadar Kehalusan Crumble

...

46 3

.

Sidik Ragam Ukuran Partikel Crumble

...

47

...

4

.

Sidii Ragam Berat Jenis 47

...

5

.

Sidik Ragam Kerapatan Tumpukan 47

6

.

Sidik Ragam Kerapatan Peinadatan Tumpukan

...

-. 48

...

7

.

Sidik Ragam Sudut Turnpukan 48

...

8

.

Sidik Ragam Ketahanan Benturan Crumble 49

9

.

Perhitungan Nilai Ketahanan Benturan Crumble Komersial

...

49

(14)

Latar Beiakang

Penyediaan bahan makanan yang berkualitas baik dalam jumlah yang banyak, murah dan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia merupakan salah satu target utama dalam suatu usaha peternakan untuk mencapai tingkat produksi dan keuntungan yang optimal. Salah satu upaya untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan cara memanfaatkan limbah industri pertanian.

Pollard merupakan hasil sampingan dari penggilingan gandum, potensial --

digunakan sebagai bahan baku alternatif dari pemakaian dedak padi yang ketersediaannya sangat dipengaruhi oleh musim panen padi. Pada saat panen padi, dedak padi murah dan pada musim tanam, paceklik, kemarau, saat terjadi banjir ketersediaan dedak padi menurun dan banyak sekali dijumpai pemalsuan dedak yang dicampur dengall sekam atau yang lainnya sehingga kualitas dedak padi rendah

sekali. Ditinjau dari segi nutrisi @rotein dan serat kasar), pollard lebih

menguntungkan jika dibandingkan dengan dedak padi. Kandungan protein pollard

15.7 %, serat kasar 11 %, energi metabolis 1300 kkallkg ransum, sedangkan

kaudungan protein dedak padi 12.9 %, serat kasar 11.4 %, dan energi rnetabolis 2980

kkalkg ransum (NRC, 1994). Selain itu pollard kaya akan vitamin B komplek

terutama vitamin B2 dan

Biz

yang sangat penting untuk pertumbuhan unggas.

Sifat fisik pakan memegang peranan penting dalam pengembangan teknologi

(15)

ransum bentuk crunzble adalah terjadi kerusakau selama proses pembuatau dan peugangkutau.

Peugukusan merupakau salah satu cara yang praktis selain meuiugkatkau daya cema, proses tersebut meuyebabkan terjadiiya gelatiuisasi dimaua grauula akau meuarik kompoueu lain pada bahau sehingga terbeutuk crutnble yaug kompak, padat dan tidak mudah rapuh.

Tujuan

Peuelitiau iui bertujuau mengetahui pengaiuh pengguuaan pollard-sebagai

peuggalrti dedak padi dalam ranslun deugau lama pengukusau yaug berbeda terhadap sifat fisik dan ketahanan benturau ransum broiler starter beutuk crunzble.

Hipotesis

Peugguuaan pollard dalam ransum yaug meugalauli peuguhxsal~ akau meuiugkatkan sifat fisik dau ketahanan beuturan c~unzble.

(16)

TINJAUAN PUSTAKA

Pollard

Pollard mernpakan hasil ikutan penggilingan gandum menjadi tepung.

Pemecahan gandum menjadi tepung teiigu akan menghasilkan 74 % tepung terigu

dan litnbahuya be~upa bran, pollard dan bahan lem kayu lapis masing-masing s e j d a h 10 %, 13 % dan 3 % (Bintang, 1989). Sepeiti haluya dengan dedak pa&

pollard sudah lama diguuakau sebagai makanan ternak teiutama temak unggas

(Heuser, 1955).

Peuggunaan pollard dalam railsum anak ayam terutama untuk meleugkapi vitaluiu B kolnpleks (Heuser, 1955). I<anduugan iiboflavin (vitamin Bz) dau vitamin BIZ pollard lebih tiuggi dibaudingkan dengan dedak padi (NRC, 1994). Menuut Wahju (1985) defisieusi iiboflavin pada ayam dalam masa peitumbuhau meuyebabkau pertumbuhau lambat kemudian me~ijadi Iemah, kuius, ayam mengalami curled toe-paralysis dau tidak dapat bergerak. Selanjutuya diiatakau juga bahwa defisien vitalniu B12 meuyebabkau bulu patah, perosis, peitumbuhau lalnbat dau mengakibatkan kematian. Hasil aualisis uutiieu pollard dau dedak padi tercautum pada Tabel 1.

Kualitas proteiu pollard lebib baik dali jaguug tetapi tidak sebaik protein

suplemen yang lain sepeiti kacang kedelai, susu, hasil ikutau pemotongan dagu~g dau

(17)

Winter dan Funk (1982) mengemukakan bahwa penggunaan pollard

hendaknya berkisar antara 5 - 15 % dalam ransum ayam broiler, karena pollard

mengandung serat kasar yang relatif tinggi.

Tabel 1. Komposisi Nutrisi Pollard dan Dedak Padi.

Zat Makanan Pollard

'

pollard

'

Dedak Padi

'

Dedak padiZ

Bahan kering (%) 89 85.35 89 85.55

Protein kasar(%) 15.7 14.70 12.9 11.22

Lemak kasar (%) 4 1.99 13 7.57

Serat kasar (%) 11 6.43 11.4 5.22

Energi Metabolis (kkal/kg) 1300 2252* 2980 2814.7* -.

Abu (%) - 2.66 - 6.37 Kalsium (%) Phospor (%) Vitamin B2 Vitamin Bl2 31.0

-

23.0 - Icetwangan : 1: Berdasarkan NRC (1994)

2 : Berdasarkan hasil analisa Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan (2001)

*

: Berdasarkan konversi menurut NRC (1994):

Energi Metabolis dedak padi =. 4 6 . 7 ~ bahan kering - 4 6 . 7 ~ abu - 69.54 x protein

kasar + 42.94 x lemak kasar - 81.95 x serat kasar.

\

Energi Metabolispollard = 40.1 x bahan kering - 4 0 . 1 ~ abu - 165.39 x serat kasar. (kandungan nutrisi unhk konversi energi metabolis berdasarkan hasil analisa Laboratorium Ilmu da6 Teknologi Pakan (2001)) I

Ketersediaan pollard dibandingkan dengan dedak padi dapat dilihat pada

Tabel 2.

Tabel 2. Ketersediaan Pollard dan Dedak Padi

Tahun Pollard Dedak padi

(ton) (ton)

1996* 556 673 30011

1997** 805 753 22 998

Sulnber :

*

BPS (1996)

(18)

Pengolahan Ransurn

Menurut Scott et al., (1976), ransum starter untnk ayam broiler hendaknya

mengandung 21.0 - 24.8 % protein kasar dengan tingkat energi metabolis sebesar

2800 - 3300 kkaYkg ransum dan untuk ayam finisher mengandung 18.1 - 21.1 %

protein kasar dengan tingkat energi metabolis sebesar 2900 - 3400 kkaltkg ransum.

Perbandingan kebutuhan energi metabolis dan kebutuhan protein untuk ransum

broiler starter ditampilkan pada Tabel 3.

Tabel 3. Perbandingan Kebutuhan Energi Metabolis dan Kebutuhanzrotein untuk Ransum Broiler Starter

Energi Metabolis (kkallkg ransum) Protein (%)

*

Surnber : Scott

et al. (1976)

V

Cara yang m u m untuk meningkatkan nutrien suatu bahan pakan temak adalah mengurangi ukuran partikel bahan tersebut dengan memotong, menggiling dan

memadatkan. Konlbinasi ketiga cara tersebut ~nembentuk produk yang disebut pellet

(Sundstol dan Owen, 1984). Gill et al. (1964) melaporkan bahwa pemeletan

melnpunyai pengaruh positif terhadap nilai nutrisi pakan yaitu : (1) meningkatkan

(19)

malta ternak yang lnempunyai volume salurau pencernaan terbatas yaitu babi dan uuggas dapat mengkonsumsi rausum lebih bauyak sehiugga ada jalninau lebih bauyak zat makanau yang masuk. ( 2 ) Meugurangi waktu makan sehgga dapat menghemat energi. Ternak membutuhkan waktu makan ransum bentuk pellet lebih peudek dibandiugkan ransum yang berbentuk nzash. Hal iui berarti bahwa ternak dapat menghemat pengeluaran energi. Energi yaug dihemat iui dapat diguuakan oleh te~nak uutuk tujuau produksi. (3) Meniugkatkan kesediaan pati sebagai sumber energi. J d a h pati yaug mudah larut (soluble starch) akan meuiugkat jika ransum dibuat dalam beutuk pellet. ( 4 ) Meuiugkatkan kecernaan zat makanan. Pemeletan

--

memberi pengaruh positif terhadap kecernaan zat makanan terutama pada kecernaan lemak, proteiu dan serat kasar. ( 5 ) Meningkatkan daya sh11an lemak. Pengaruh sekuuder dari yemeletan ransum terhadap lemak dan zat makanan yang pelca terhadap proses oksidasi adalah mengurangi terjadiuya oksidasi oleh olcsigeu bebas terliadap pakan yang dishpan dan proses ketengikan dapat diperlambat, dengan demikiall pemeletar~ dapat lneuiugkatkan daya sh1)an bahan. ( 6 ) Meugurangi ransum terbuaang dibandiug ransum dalaln beutuk ntash.

Iceluhan peternak yang mengatakau bahwa rausutu pellet tidak dapat dikonsumsi oleh anak ayam yaug mempunyai paluh lebih kecil menyebabkan terciptanya ransum crunzble (Rasyaf, 1990). Crunzble merupakan tipe pertengallan antara nzash dan pellet, pemberian crunzble h u l a i pada ayam umur sehali sampai dipasarkan (North, 1984). Patrick dan Schaible (1980) menyatakan balwa ransum bentuk crunzble saugat palatable bagi ayam dan memuugkiukan ayam uutuk makan lebih cepat.

(20)

Kualitas crumble yang baik tidak hanya dilihat dari nilai nutrisinya seperti

protein, lemak, vitamin dan mineral tetapi hams dilihat pula sifat fisiknya (FAO,

1987), ole11 karena itu perlu dicari cara untuk meningkatkan sifat fisik agar terbentuk

crumble yang kompak dan tidak mudah hancur.

Pemasakan sumber karbohidtat menyebabkan granula pati akan kehilangan kekompakan ikatannya dan kelarutan akan meningkat karena terjadi pembebasan molekul amilosa yang mempunyai derajat polimerasi rendah. Jumlah kekuatan ikatan di dalam granula akan berkurang, sebaliknya ikatan antar granula akan semakin kuat

-.

(Cullison, 1968).

Bila granula pati kontak dengan air, granula-granula tersebut membengkak dan menyerap sejumlah air. Mulanya penambahan air akan inemisahkan kristal amilosa dan mengacaukan struktumya, kemudiau dengan adanya pemanasan granula pati nlembengkak luar biasa, volumenya meningkat 25-30 kali lipat. Pemanasan dan penambahan air menyebabkan amilosa mulai tersebar keluar dari granula dan pati tersebut tidak dapat kembali seperti kondisi semula, dari proses tersebut dihasilkan gel (Harper, 1979).

Menurut Winartlo (1995) bahwa gelatinisasi adalah suatu keadaan saat granula pati membengkak secara luar biasa dan tidak dapat kembali pada kondisi semula. Granula yang mengembang cenderung untuk saling berikatan membentuk gel. Proses pembentukan gel dari suspensi pati disebut gelatinisasi (Meyer, 1951). Gel yang terbentuk akan mengikat komponen bahan ransum sehimgga terbentuk

(21)

Sifat Fisik

Menurut KIing d m Woelhbier (1977) dalanz Suadnyana (1998), sifat fisik

yang memegang peranan penting dalam r a u m ternak yaitu :

Berat Jenis

Berat jeuis disebut juga berat spesiiik, melupakan perbandiugan autara massa bahan terhadap volume (Chung dau Lee, 1985). Berat jeuis memegaug peranan penting dalam proses pengolahan, penauganan d m peuyimpanan. Berat jeuis

merupakan faktor penentu terhadap kerapatau t u p u k a n dan daya ambang. _Sifat iui

memegaug peranau pentiug dalam proses pemiudahan atau pengangkutau bahau meugguuakau pneunzetic conveyor atau pada proses pengisiau silo yang tiuggi dengan meuggunakan daya hisap atau gaya gravitasi. Berat jeuis bersama uhuan paltiltel bertangguug jawab terhadap homogeuitas penyebarau paltikel dan stabilitas dalaln suatu pencampuran ransum. Berat jeuis saugat meuentukau tiugkat ketelitiau dalam proses penakaran secara otomatis seperti pada proses peugemasan dan peugeluaran

bahnn dari dalam silo uutuk dicampw atau digihig (Kliug dan Woebbier, 1977

dalanz Khalil, 1999a).

Kerapatan Tumpukan

Kerapatan tumpukan merupakan perbaudiugan autara berat bahau dengau volume ruang yang ditempati bahan. Kerapatan tumpukan memegang perauan pentiug dalam memperhituugkan volume iuaug yaug dibutuhkau suatu bahan dengau

(22)

Icerapatan tumpukan juga beiyengaruh terhadap daya campus dau ketelitiau pengukuran secara otomatis.

Meuurut Ruttloff (1981) dalanz Suadnyaua (1998), peucampurau bahau ransum dengau ukuran paitikel yaug sama tetapi mempuuyai perbedaan kerapatan tumpukan yaug besar (lebfi dari 500 kg/m3) akau saugat sulit dicampur dau ceuderuug terpisah. Bahan ransum yang mempuuyai kerapatau tumpukan yaug reudah (kurang dari 450 kg/m3) membutuhkau waktu jatuh dau waktu uutuk mengalir

yang lebill lama dan dapat ditimbaug lebfi teliti deugau alat peuakar otomatis, baik volumetiis maupun gravimetiis, sedaugkau rausum yaug mempuuyai kefapatau tuu~pukau lebfi daii 1000 kg/m3 akan bersifat sebaliknya.

Meuulut Suadnyana (1998) bahwa uilai kerapatau tuml~ukau meuuiun dengall semakin meuiugkatuya kauduugau air kareua bahau aka11 mengembang deugau semakiu tiuggiuya kanduugau air sehgga volume iuaug yaug dibutuhlcan meujadi besar.

Kerapatan Pemadatan Tumpukan

Kerapatau pemadatau tumpukau melupakau pel-baudiugau autara berat bahau terhadap volume ruang yang ditempati bahau setelah diakukau proses pemadatau sepeiti peuggoyangan. Icerapatan pemadatau tumpukan dau kerapatau tumpukau saugat bei~eugaluh pada kapasitas silo, kontaiuer dan pengemasan.

Perbedaau cara pemadatau akau mempeugaluhi uilai kerapatau pemadatan tuqukauuya. Meuu~ut HoEinauu (1997), tiugkat pelnadatau seita densitas bahau

(23)

saugat meueutukau kapasitas dm alcurasi peugisiau tempat peuyhpauau sepeiti silo, koutainer dm kemasan.

Sudut Tumpukan

Sudut tumpukau merupakau kiteria kebebasan bergerak partikel yang terbeutuk saat bahau dicwahkan pada bidang datar melalui sebuah corong. Selnakin bebas suatu partikel bergerak, maka sudut tumpukan yang terbeutuk semkin kecil. Pergerakali paltikel yaug ideal dituujukkan oleh ransum beutuk cair dengau sudut tumpukau sama deugan no1 sedangkan rausum dalam beutuk padat memp~ulyai -. sudut tuiupukan benkisar autara 20" - 50" (Ruttloff, 1981 dalanz Khalil, 1999b).

Beberapa aplikasi d a i i sudut tumpukau pada proses peugolahau, peuaugauan dau peuyimpauau:

a. Sudut tumpukau akan mempeugarubi f2aoabilitj atau daya a h suatu bahan

terutama akau be~yeugaiuh tel.)ladap kecepatau dau efesieusi proses pengosongan silo secara veitikal pada saat memiudahkau bahau menuju uuit peilimbaugan atau pada saat peucampuran bahau (Williams, 1991 dau Ruttloff, 1981 dala~n [(ltalil,

1999b).

b. Sudut tumpukau berpeuga~uh terhadap efesiensi peugangkutau bahan secara mnekauik. Kemudahan dau kecepatau peugangkutau suatu bahan dengau traktor sekop (shovel) atau conveyor akan sangat dipeugaiubi oleh besainya sudut tumpukau (Ruttloff, 19h1 dalanz Gautama, 1998). Ruttloff (1981) clnlhnz Suaduyana (1998), meuyatakan bahwa pada kauduugan air rendah, bahau lebih mudah dan cepat diangkut deugau alat mekauik, ha1 iui disebabkau oleh sudut

(24)

tumpukau yaug terbentuk pada kadar air reudah lebib kecil s e h g g a pada saat pengangkutan bahan tidak jatuh tercecer.

c. Sudut tumpukan berpengamh terhadap ketepatau proses peuakaran baik secara volumetiis maupuu gravimetris. Jiha ditimbaug, maka ransum dengau sudut tumpukau yang rendah akau lebih mudah d m akurat dibandiugkan deugau ransum yaug mempuuyai sudut tumpukan tinggi. Sifat ini erat kaitamya deugau berat jenis dau kerapatan tumpukau

Geldait et al. (1990) menyatakan bahwa peugukuran sudut tumpukau

merupakan metode yang cepat dau produktif uutuk meuentukau laju alirall-babau. Pada bahan yang aliramya cepat, puucakuya seiing datar sedaugkau pada bahan yaug aliramya lambat ceudeiuug m e u q u k di pennukaan coroug s e h g g a seiiug meuyumbat saluxau coroug.

S e m a h halus ukuran paitikel maka bahau akan menjadi Iebib koheszve

s e h g g a flavabilig bahan meujadi reudah (Schulze, 1996), Geldait et al. (1990)

memperkuat peudapat tersebut deugau meuyatakau bahwa semakiu halus ukurau

paltiltel lnaka bahau akau lneuyatu sehiugga bahau tidak bebas bergerak dan

mempuuyai daya alir yaug reudah. Bahau yaug mempuuyai ukuran paitikel 125-150

&on lebib bebas mengalir dau mempuuyai sudut tumpukau yaug kecil

dibaudiugkan fkaksi yaug kuraug daii 125 mikron. Gautalna (1998) juga meuyatakau bahwa peugecilau ukuran akau meningkatkan uilai sudut tumpukau.

(25)

Kadar Air

Menurut Wirakaitakusu~nah (1992), sifat fisik bahau pakau bauyak dipengadi oleh kadar air dan ukurau partikel dari suatu bahau, juga dipeugaiuhi oleh distribusi ukurau partikel bentuk dan karakteiistik permukaan partikel suatu

bahan. Hal ini diperkuat oleh peudapat Mc E l k e y (1994) baliwa ada dua faktor

yaug mempengaruhi sifat fisikpellet yaitu karakteristik bahan dau ukuran partikel. Kanduugau air bahau tidak konstan tetapi dipeugaluhi oleh jeuis bahau, suhu dan kelembabau udara sekitamya (Suadnyaua, 1998). Kadar air maksimum uutuk

ransum uuggas adalah 14% (Direktorat Biua Produksi, 1997). Meuuiut Gautama -.

(1998), kadar air be~yeugaiuh terhadap kerapatan tumpukau dau kerapatau pe~nadatau

tumpukan.

Icetahanan Bentwan

Meuuiut Balagopalau et al. (1988) bahwa ada beberapa faktor yang

mempeugaluhi kualitas ketahauaupellet antara laiu :

1. Kompoueu alamiah, meliputi :

a. Pati

Bila terkeua pauas akau meughasillcan gelatiu dau dapat besfungsi sebagai perekat

b. Lemak

Mempuuyai ftmgsi sebagai peliciu pada salurau peucetak pellet s e h g g a proses pencetakau lebilt laucar.

(26)

c. Serat

Mempunyai h g s i sebagai kerangka pellet, apabila jumlahya sedikit dalam pakan maka akan menghasilkan pellet yang kuat sedangkan bila jumlahuya tinggi makapellet yang dihasilkan akan mudah rapuh.

d. Gritz dan pasir

Apabila ada hams dihilangkan karena akan mengganggu proses pemadatan pellet.

2. Kondisi bahan, meliputi :

a. Kandungan air

b. b a n paltikel

b a n paltikel memegang peranan penting dalam proses pembuatan pellet,

yaltikel bahan yang halus akan menghasilkanpellef yang kuat c. Temperatur

Mempercepat proses gelatiuisasi. Semakin tiuggi temperatw yang diguuakall maka proses gelatiuisasi akan cepat tejadi.

(27)

MATERI

DAN METODE

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Industri Makanan Ternak Jurusan Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, dimulai pada bulan Febmari sampai April 2001.

Materi Bahan

Bahan yang digunakan dalalll pe~nbuatall ransurn broiler adalah pollard, dedak padi, jagung, tepung ikan, bungkil kedelai, zeolit, CPO (crude palni oil), premix, CGM (corn gluten meal), CaC03.

AIat-alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Alat proses

- Mesin giling

- Panci pengukus

- Mesinpellet

b. Alat untuk analisa

- Vibrator ball mill

-

Tinlbangan

-

Oven

-

Gelas ukur 100 ml, pengaduk aquades

(28)

Formulasi Ransum

Pembuatan formulasi ransum broiler starter berdasarkan Scott et al. (1976)

dengan menggunaka~~ protein kasar 21 % dan energi lnetabolis 2800 kkallkg ransum.

Pembuatan formulasi menggunakan metode trial and error (coba-coba). Formulasi

ransum broiler starter yang telah dibuat dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Formulasi Ransuin Broiler Starter

Bahan B1 B2 B3 -. B4 Pollard 0 5 10 15 Dedak Halus 15 10 5 0 Jagung 42 42 42,05 42 Tepung Ikan 5 5 5 5 Bungkil Kedelai 25.75 25.75 26.25 26.75 Zeolit 3 3.25 3.3 3.25 CPO 2 2 2 2 CGM 5 4.75 4.15 3.75 Premix 0.25 0.25 0.25 0.25 CaC03 2 2 2 2 Total 100 100 100 100

Energi Metabolis (kkallkg) 2873 2835.9 2800 2768.4

Protein Kasar (%) 21.04 21.06 21.09 21.23

Lemak Kasar (%) 6.01975 5.56975 5.12620 4.67875

Serat Kasar (%) 3.87650 4.07325 4.30155 4.53025

Harga (Rptkg) 2012.25 2002.75 1996.20 1992.75

Keterangan: B1 = 15 % dedak padi tanpa pollard

B2 = 5 %pollard + 10 % dedak padi

B3 = 10 %pollard + 5 % dedak padi

(29)

Pembuatan Crumble

Bahan-bahan yang telah dipersiapkan digiling dan dicampur sesuai dengau formula. Bahan yang telah dica~npur disesuaikan dengau perlakuan yaitu taupa

pengukusan, pengukusan selama 15 menit, pengukusan selalna 30 menit dan

pengukusan selama 45 menit kemudian dimasukkan ke dalam mesh crunzble selanjutuya didinginkan dan dilakukan pengujian peubah. Skema pembuatan crunzble terlihat pada Gambar 1.

Pencampuran Perlakuan pengultusan I Pembuatan crumble

t

Pendinginan Pengujian peubah

(30)

Pengukuran Sifat Fisik Bahan

Berat Jenis (IQaW, 1999a)

Berat jenis (BJ) diukur dengan mengguuakan priusip h u b Archimedes,

yaitu dengan melihat perubahau volume aquades pada gelas ukur (100 ml) setelah

memasukkan bahan-bahan yang massanya telah diketahui ke dalam gelas ukm tersebut kemudian diiakukan pengadukan untuk mempercepat jalannya udara antar

partikel ransum selama pengukuran. Pembacaan volume a& diiakukan setelah

volume menjadi konstan. Perubahan volume aquades merupakan volume bahan

-.

sesuugguhuya. Berat jeuis dhituug dengan mmus:

Bobot bahau BJ =

Pelubahan volume aquades

Icerapatan Tumpultan (Khalil, 1999a)

Icerapatan tumpukan (KT) dhituug dellgall me~icurahkan balian dengan bobot

tertentu ke dalam gelas ukur (100 ml). Metode pemasukall bahau ke dalam gelas ukur salna setiap pengamatau, baik cara maupuu ketiuggian pericurahau. Pencurahan

ransum dibantu corong plastik dau sendok teh, guua memhimumka~~ penyusutan

volume curah rausum akibat pengaluh daya berat ransum itu sendini saat dicurahkan, dan teljadiiya guucaugan pada gelas ukur perlu d i d a l i . Kerapatan tumpukan d i t u u g dengan cara membagi berat ransum dengan volume ruaug yaug ditempatiuya.

(31)

Bobot bahan KT =

Volume ruang bahan

Kerapatan Pemadatan Tumpukan

(Khaa

1999a)

Kerapatan pemadatan tumpukan (KPT) diteutukan dengan cara yang sama deugan peuentuau kerapatan tumpukan, tetapi volume bahan dibaca setelah dilakukau proses pemadatan dengan cara menggoyaug-goyaugkan gelas ukur dengan tangau

sampai volume tidak beiubah lagi. Besa~nya nilai kerapatan pelnadatan tumpukan sangat tergautuug pada intensitas proses pemadatau sedangkan volume yang -. dibaca meiupakan volume terkecil yang diperoleh selama penggetaran. Sebaikuya yemadatan dilakukan dalam waktu tidak lebih d a i i 10 meuit. Kerapatan pemadatan tumpukan d i t u n g deugan cara membagi berat ransum (gram) dengan volume ruaug rausum setelah pemadatan (cm3).

KPT = Bobot bahau

Volume iuang setelah pelnadatan

Sudut Tumpukan (IChalil, 1999b)

Pengukuran sudut t u q u k a n dengan menjatuhkan bahan pada ketiuggian

teitentu melalui corong pada bidang datar sepeiti pada Gambar 2. Diameter

tumpukan bahan makshum seteugah kali tinggi jatuhnya bahan. Sebagai alas bidang datar diguuakan kertas karton benvarna putih. Ketiuggiau tumpukan bahan hams selalu berada dibawah corong. Ransum dicwakkan sedekat ~nuugkiu dan perlahan-

(32)

lahan pada dindiug corong plastik. Pengukuran diameter diiakukau pada sisi yang sama pada semua peugamatan dengau bautuau mistar d m segi tiga siku-siku.

Sudut tumpukan b&au (6) diuyatakan dengan satuan derajat dan dapat ditentukan

dengau mengukur diameter dasar (d) dan tinggi tumpukan (t) sedangkau (n) adalah

ketiuggian teltentu wtuk m e n j a m a n bahan. Besainya sudut tmpukan dapat

dihituug dengau m u s :

Gambar 2. Cara Mengukur Sudut Tumpukan.

1Cad:lr Air (AOAC, 1984)

Pengnkuran kadar air dengan mengguuakan oven 105'C selama 24 jam uutuk

mengetahui kadar air awal bahan. Setiap bahau diletakkau didalam cawan

alumiiwq agar penguapau air terjac'i secara s e q w n a , autar sampel tidak boleh bertumpuk didalaln oven.

(33)

Perllitungan kadar air dihituug dengan mengguuakan i w u s :

Berat awal- berat akhir

KA = x 100%

Berat awal

Pengujian Kadar Kehalusan dan Ketahanan Benturan

Kadar Kehalusan (Henderson dan Perry, 1976)

Teknik yang dipakai untuk menentukan kadar kehalusan, keseragaman dau u h a n paitikel crz~nzble adalah deugan vibrator ball nzill gernzan the sieveZnalisis

nomor nzesh 4, 8, 16, 30, 50, 100, 400. Bahan ditirnbang sebauyak 500 gram dan

diletakkan pada bagian paliug atas dali sieve, lalu dilakukan penya~iugau bahan yang

teitinggal pada tiap sai-iugan. Kadar kehalusan dapat diuknr sepeiti pada Tabel 5

Tabel 5. Cara Pengukuran Kadar Kehalusan

Nomor peijanjian German sieve Jumlah c~unzble % crunzble tiap

nunzber yang tertinggal sariugau

... 7 4

...

6 8

...

... ...

...

5 16 ... 4 30 ... ... 3 50 ...

...

... 2 100

...

...

1 400

...

...

0 Penaqung Total 500 gram 100 %

(34)

Kadar kehalusan bahan diketahui setelah didapatkan d m diperhituugkan

dengan nomor pe rjanjiau besar sampel (%) pada setiap mesh, dengau rumus:

x("hx ~opeljaujiau)

Kadar kehalusau =

100

Besar nilai crumble dapat dikategorikan kedalam nilai kadar kehalusau (KK)

dengau ketentuan sebagai berikut:

1. Niiai kadar kehalusan 4.1 - 7.0: kategori bahau kasar

2. Nilai kadar kehalusan 2.9 - 4.1: kategoli bahan sedaug

3. Niiai kadar kehalusau 0 - 2.9: kategori bahan halus

Ukuran keseragaman diumuskan sebagai perbandigan Kasar : Sedang :

Halus.

Ulcl~rau pei-tikel rata-rata d i t u u g dengan iumus :

Ukuran pa~tikel rata-rata = (0.0041) x

zK"

x 24.5 mn (Tyler, 1959)

Ketahanan Benturan Crumble (Balagopalau et al., 1988)

Ketahanan cr7mtble terhadap benturan diukur dengan cara menjaiuhkan

cru~~zble dari ketiuggian 1 meter pada lempeng besi setebal 2 m. Crumble

dijatuhkan secara bersamaan dengan berat 500 gram, lalu cUakukan penyaiiugan dengau vibrator ballniill german the sieve analisis dan p e h b a u g a u .

(35)

b a n ketabanan cruntble dimmuskan:

Berat crunzble utuh setelah d i j a u a n

%

% Ketabanan Benturan Crunzble =

Berat crumble awal

Rancangan Percobaan

Rancangan percobaau yang digunakan adalab Rancangan Acak Lengkap

r

(RAL) yang perlakumya berpola faktorial4 x 4 dengan pengulangan 5 kali. Faktor

i

A adalah lama pengukusan yaitu :

-.

A, : tanpa pengukusan

A2 : pengulcusan selama 15 menit

A3 : pengukusan selama 30 menit

& : pengukusan selama 45 menit

Faktor B adalah level substitusi dedak padi denganpollard yaitu :

B, : 15 % dedak padi tanpa pollard

BZ

: 5 % pollurd

+

10 % dedalc padi

B3 : 10 %pollard

+

5 % dedak padi

B4 : 15 % pollurd tanpa dedak padi

Metode analisis iui menggunakan model matematik (Steel and Tollie, 1991)

sebagai bel-ikut:

(36)

keteraugau :

Yijk = Pengamatan pada unit eksperimen ke-k dengan lama peugukusau ke-i dan

level substitusi dedak padi denganpollard ke-j

a i = Peugamh peugukusan ke-i

pj = Peuga~uh level substitusipollard ke-j

(ap)ij = P e n g a d faktor interaksi peugukusan ke-i dan level substitusipollard ke-j

~ i j k = Pengaiuh galat ekspe~imeu ke-k dengan pengukusan ke-i dau level

substitusi pollard ke-j

Data yaug terkumpul diaualisis dengan sidik ragam (ANOVA) dau jika

(37)

HAS= DAN PEMBAHASAN

Sifat Fisik

Kadar Air

Hasil analisa dali pengnkwan kadar air berkisar antar 8.79 % sampai

13.53 %, nilai tersebut memenuhi persyaratan mutu pakan bahwa kadar air

maksimum uutuk ransum uuggas adalah 14 % (SNI, 1995).

Pengal-uh pengukusan (faktor A), level substitusi dedak padi deugan pollard (faktor B) dan iuteraksi antar kedua faktor tersebut berdasarkan sidik_-ragam menunjukkan p e n g a d yang sangat nyata (P<0.01) terhadap kadar air crunzble

(Lampiran 1). Berdasarkan uji Dullcan maka diperoleh nilai rataan kadar air

(Tabel 6) teltiuggi uutuk perlakuan pengukusan (Faktor A) adalah pengukusai~

selama 30 menit (A3). Nilai kadar air yang terendah adalah tanpa perlakuan

peugukusan (At) dengan hasil tidak berbeda nyata dengan pengukusan selama 15 menit (Az).

Berdasarkau level substitusi dedak padi dengau pollard (faktor B) nilai rataau

kadar ail. tertiuggi ditunjukkan oleh rausum yang terdiri dali 10 % dedak padi

+

5 %

pollurd (Bz), hasiluya tidak berbeda nyata dengan ransum yang terdiri dari 15 %

dedak padi tanpa pollard (B,). Nilai rataan kadar air terendah ditunjukkan oleh

r a n m yang terdiri dari 5 % dedak padi

+

10 %pollard (BJ).

Nilai rataan kadar air tertinggi berdasarkan interaksi antar faktor A dan B

adalah perlakuan pengukusan selama 30 meuit dan r a n m yang terdiri dari 10 %

(38)

A3Bz tersebut tidak berbeda nyata dengan perlakuan pengukusan selama 30 m e i t

dan ransum yang terdiri dari 15 % dedak pa& tanpa pollard (A3B1) dan pengukusan

selama 45 meuit d m ransum yang terdiri dari 10 % dedak pa&

+

5 %pollard (A&)

dengan nilai masing-masing sebesar 13.11 % dan 13.06 %. Niai terendah

ditunjukkau oleh perlakuau pengukusan selama 45 menit d m ransum yang terdui dari

5 % dedak padi

+

10 %pollard (&B3) dengan nilai rataan sebesar 8.79%.

Tabel 6. Rataan Hasil Analisis Kadar Air (%)

Waktu p engukusan Level substitusi dedak padi denganpollard -.

( meuit) B1 B2 B3 B4 Rataan

Rataau 1 1 . 7 7 ~ 1 2 . 0 6 ~ 10.39m 11.24'

Keterangati : Superscript yang berbeda meilul~jukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0.01)

B1= 15 % dedak padi tanpa pollard

B2= 10 % dedak padi + 5 % pollard

B3= 5 % dedak padi + 10 %pollard

B4= I 5 % pollard tanpa dedak padi

Nilai kadar air yang tiuggi terdapat pada perlakuan yang mengalami pengukusan kelnuugkiuan karena saat dilakukan pengukusan grauula membeugkak kemudian setelah crunzble mengalami pendigiuan sebagian air masih berada di luar

granula yang membengkak. Air tersebut akan lnengadakau ikatan yang erat dengan

molekul-molekul pati pada p e d a a n butir pati yang membengkak. Sebagian air pada pasta yang telah dimasak tersebut berada dalam rongga-rongga jariugan yang

(39)

terbentuk dari butir pati dan endapan amilosa, sehingga crui17ble yang dihasilkan berkadar air tinggi.

Rataan nilai kadar air yang terendah untuk interaksi antar faktor A dan B

yaitu pada perlakuan A4B3. diduga karena ransum yang terdiri dari 5 % dedak padi

+

10 % pollard pada pengukusan selama 45 menit telah mengalami pembengkakan

granula pati yang luar biasa kemudian pecah dan pada saat tersebut granula pati tidak

dapat kembali pada kondisi semula (irre~~ersib/e). Harper (1979), menyatakan bahwa

penambahan air akan memisahkan kristal amilosa dan mengacaukan strukturnya, kemudian dengan adanya pemanasan granula pati membengkak luar biasa. Semakin lama pemanasan dan semakin banyak penambahan air, amilosa mulai tersebar keluar dari granula dan pati tersebut tidak dapat kembali seperti kondisi semula. Pecahnya

granula menyebabkan tidak terbentuk rongga-rongga yang akan dite~npati air pada

bahan. Saat granula pati pecah air akan menguap bercampur dengan uap air

pengukusan dan menyebabkan kadar air yang dihasilkan crrrn7ble rendah.

K a d a r Kehalusan

Rataan nilai uji kadar kehalusan (Tabel 7) berkisar antar 5 83 sampai 6 05

Menurut Tyler (1959) bahwa rataan nilai kadar kehalusan yang berkisar antar 4 1-7 0

dikategorikan kasar, jadi cl-rilnble dalam penelitian ini termasuk kategori kasar. Berdasarkan hasil sidik ragam dari waktu pengukusan (faktor A), level substitusi dedak padi dengan pollard (faktor B) dan interaksi antar kedua faktor tersebut menghasilkan pengaruh yang sangat nyata (P<0.01) terhadap kadar

3

(40)

teitinggi berdasarkan waktu pengukusan (faktor A) dihasilkan oleh pengukusan

selama 45 menit (&) tapi tidak berbeda nyata dengan pengukusan selama 30 menit

(A3).

Tabel 7. Rataan Hasil Pengukuran Kadar Kehalusan.

Waktu pengukusan Level substitusi dedak padi denganpollurd

( menit) B1 B2 B3 B4 Rataan

Rataan 5.99K 5.97' 5.96' 5.96'

Keteraagan : Superscript yang berbeda menulljukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0.0 1)

B 1= 15 % dedak oadi tanoa vollard

B2= 10 % dedak padi + 5

36

pollard B3= 5 % dedak padi + 10 % pollard

B4= 15 % pollard tanpa dedak padi

Besdasaskau level substitusi dedak padi dengall pollurd (faktor B) hasil rataan

teitiuggi ditunjukkan oleh ransum yang mengandung 15 % dedak padi tanpa pollard

(Bl). Nilai rataan kadar kehalusan te~tinggi berdasarkan iuteraksi faktor A dan B

dicapai oleh perlakuan pengukusau selama 45 menit dan rausum yang tesdiri daii

15 % dedak padi tanpa pollurd (A4B1).

Rataan ukuran paitikel crunzble berkisar antar 0.59 cm sampai 0.69 cm. Pengamh pengukusan (faktor A), level substitusi dedak padi dengan pollurd (faktos B) dan interaksi antar kedua faktor tersebut menghasilkan perbedaan yang sangat

(41)

Duncan nilai rataan ukuran paitikel (Tabel 8) tertinggi berdasarkan waktu

pengukusan (faktor A) dituujukkan oleh pengukusan selama 45 menit (&) tapi tidak

berbeda nyata dengan pengukusan selama 30 menit (A3).

Niai rataan &an partikel crunzble tertinggi berdasarkan level substitusi

dedak pa& dengan pollard (faktor B) dicapai oleh ransum yang terdui dari 15 %

dedak padi tanpa pollard (Bl), sedangkau berdasarkan interaksi antar faktor A dan B

Inaka nilai k a n paitikel tertinggi dituujukkan oleh perlakuan pengukusan selama

45 meuit dan ransum yang terdiri d a ~ i 15 % dedak padi tanpa pollard (&B1).

, Semakiu tiuggi nilai u h a n partikel maka crunzble utuh yang dihasilkan akau lebh

bauyak

Tabel 8. Rataan &an Paitikel Crunzble (cm)

Waktu p engukusan Level substitusi dedak padi deuganpollard

( menit) B 1 B2 B3 B4 Rataau

0 ('41) 0.63' 0.61d 0.59' 0.60" 0.61'

15

(4

0.66" 0 . 6 7 ~ 0.66" 0 . 6 6 ~ 0.66'

Rataan 0.66" 0.65~ 0.65' 0.65'

Keterangan : Superscript yang berbeda mel~uujukkan perbedaa~~ yalig saugat nyata (Pc0.01)

B 1= 15 % dedak padi tanpa pollard B2= 10 % dedak padi + 5 % pollard

B3= 5 % dedak padi + 10 % pollard

B4; 15 % pollard taupa dedak padi

Ransum yang mengalami perlakuan pengukusan meaghasilkan kadar kehalusan dau ukuran paitike1 yang lebih tinggi dibandingkan yaug tidak lnengalami

(42)

pengukusan. Hal tersebut karena pengukusan mengakibatkan terjadiuya gelatiuisasi, saat tersebut granula mengembang dau cendemg untuk saling berikatan membentuk gel (Meyer, 1951). Gel yang terbentuk akan mengikat komponen bahan ransum sehingga crunzble yang &asilkan tidak mudah hancur atau mengalami pengikisan selama pemiudahan,

Berat Jenis

Hasil sidii ragam menunjukkan, waktu pengukusan (faktor A) dan iuteraksi antar faktor A dan faktor B tidak berbeda nyata, sedangkan level substitusi dedak

-.

dengan pollurd (faktor B) berpengald sangat nyata (WO.01) terhadap uilai berat jeuis (Lampkan 4). Nilai rataan berat jeuis (Tabel 9) teitiuggi ditunjukkan oleb

ransum yang terdiri dari 5 % dedak padi

+

10 % pollurd (B3), tetapi perlakuau

tersebut tidak berbeda dengan perlakuan yang mempunyai komposisi r a n m dengan

komposisi 15 % pollard taupa dedak padi (B4). Ransum yang terdini dari 15 %

dedak padi tanpa tambahanpollard (B,) mell~iliki d a i berat jeuis terei~dah.

Tabel 9. Rataan Hasil Pengukuran Berat Jenis (g/cm3)

Waktu pengukusan Level substitusi dedak padi deugaupollard

( menit) B1 B2 B3 B4 Rataar~ 0 ('41) 1.25 1.35 1.37 1.39 1.34 15 ('42) 1.31 1.33 1.37 1.37 1.35 30 (A3) 1.30 1.34 1.35 1.32 1.33 45 (A4) 1.30 1.33 1.47 1.39 1.37 Rataan 1.29" 1.34" 1.39" 1.38'~

Keterangan : Superscript yang berbeda menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<O.01) B1= 15 % dedakpadi tanpapollard

B2= 10 % dedak padi

+

5 % pollard

B3= 5 % dedak padi

+

10 % pollard

(43)

Perbedaau nilai berat jeuis pada peuelitiau hi disebabkau pollard mempuuyai stluktw kimia bahau dengau kanduugan kalsium (Ca) yaug lebih besar (0.14%)

dibaudillgkau dengau dedak padi (0.07%). Hal hi menyebabkau kauduugan Ca

rausum yaug ditambahkan pollard meniugkat sehingga karakteristik ransum meujadi

lebih berat. Suaduyaua (1998), meuyatakau bahwa reudalmya berat jeuis

bahau tidak terlepas dari susunan struktur kimia bahau yaug mempuuyai kandungau

Ca yaug reudah sehiugga karakte~istik bahau tersebut reudah. Semakin tiuggi berat

jeuis akan meningkatkau kapasitas dalam ruang peuyimpanan dau akau memudahkau peugaugkutau. Peuyimpauan dalam wadah lebih efektif karena akan memndahkau peugangkutan.

Kerapatan Tumpukan

Hasil sidii ragam menuujukan bahwa waktu peugukusan (faktor A), substitusi dedakpadi deuganpollar-d (faktor B) dan iuteraksi autar kedua faktor tersebut mernbeii peugaruh yaug sangat nyata (P<0.01) terhadap kerapatau tumpukan (Laulpjl.an 5).

Berdasarkau uji lai~jut Duucau diperoleh uilai rataau kerapatau tumpukan

(Tabel 10) teitiuggi uutuk lama peugukusan (faktor A) dituujukkau pada peugukusan

selama 15 menit (Az) dan nilai rataau tereudah dengau peugukusau selama 30 m e i t

(A3). Berdasarkan level substitusi dedak padi dengan pollard (faktor B) nilai rataan

tertiuggi ditunjukkau oleh ransum yang terdiri dari 5 % dedak padi

+

10 % pollard

(B3) dau nilai rataan tereudah dituujukkau oleh rausum yaug meuganduug 15 %

(44)

Berdasarkan iuteraksi antar faktor A dau B, perlakuan peugukusan selama 45

menit dau ransum yaug terdiri dari 5 % dedak padi

+

10 % pollard (AB3)

mempunyai d a i rataan kerapatau tumpukau terbesar yaitu 0.739 g/cm3, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan pengukusan selama 15 menit dan ransum yang terdiri dari dari 5 % dedak padi

+

10 % pollard (A&) dengan ldai rataau sebesar

0.733 g/cm3. Hal ini menuujukkan bahwa perlakuau A B 3 dan perlakuan A2B3

membutuhkan luaug penyimpanan yang paling kecil dibaudigkau dengan perlakuan laiuuya, karena pada perlakuan pengukusan terjadi proses gelatiuisasi s e h g g a crunzble yang terbeutuk akan menjadi kompak dan padat

Tabel 10. Rataau Peugukuran Kerapatau Tumpukan (g/cm3)

Waktu pengukusan Level substitusi dedak padi deuganpollard

( meuit) B1 B2 B3 B4 Rataan

Rataau 0.684m 0.693' 0.71 1".694'

Keterangan : Superscript yang berbeda menunjukkan perbedaan yaug s a n g t llyata P 0 . 0 1) B1= 15 % dedak padi taupapollard

B2= 10 % dedak padi + 5 % pollard

B3= 5 % dedak padi + 10 % pollard

B4= 15 % pollard tanpa dedak padi

Penuruuau uilai kerapatan tumpukau teiutama pada perlakuan pengukusan

disebabkan oleh kadar air crumble (Tabel 6). Semakin tiuggi kadar air

,

maka ililai

(45)

menyebabkan volume iuang yang dibutuhkan kecil karena berat crumble beitambah,

sedaugkan nilai kerapatan tumpukan yang rendah berpengaiuh sebalikuya.

Menurut Ruttloff (1981) d a h z Suadnyana (1998), bahau dengau kerapatan tnmpukan rendah (450 kg/m3) membutuhkan waktu jatuh dan mengalir lebih lama sehhgga dapat ditimbang dengan teliti menggunakan alat penakar otomatis, sedaugkan dengan kerapatan tumpukan yang tinggi (500 kg/m3) bersifat sebalilaiya. Niai rataan kerapatan tumpukan crunzble dalam penelitiau ini berkisar antar 0.677 g/cm3 sampai 0.739 &m3 tergolong tinggi sehingga kuraug teliti jika

ditimbang deugan peuakar otomatis. . .

Kerapatan Pemadatan Tumpukan

Hasil sidik ragam menunjukan bahwa waktu pengukusan (faktor A), substitusi dedakpadi denganpollard (faktor B ) dan interaksi antar kedua faktor tersebut me~nberi peugaiuh yang sangat nyata (P<0.01) terhadap kerapatan pemadatan tumpukau (Lampuau 6). Berdasarkan lama peugukusan (faktor A) d a i rataau kerapatan pe~nadatan tumpukau (Tabel 1 1 ) teitinggi dituujukkan oleh perlakuan peugukusan selama 15 meuit (A2) dan nilai tereudah yaitu deugan peugulcusan selama 30 menit (A3).

Berdasarkan level substitnsi dedak

padi

dengan pollard (faktor B ) d a i rataau teitinggi dicapai dengau foimnlasi 5 % dedak padi

+

10 % pollard (B3) dan nilai

rataan tereudah dihasilkan oleh ransum yang terdiri dari 15 % dedak padi tanpa

pollard (B,). Nilai rataan te~tinggi berdasarkan interaksi antar faktor A dan B

(46)

5 % dedak padi

+

10 % pollard (.A&) yaitu sebesar 0.803 g/cm3. Semakin tiuggi uilai kerapatan pemadatan twnpukan maka volume iuang yang ditempati cru~rzble meujadi lebih kecil.

Tabel 11. Rataan Pengukulan Kerapatan Pemadatau Tumpukati @cm3)

Waktu peugukusau Level substitusi dedak padi deuganpollard

( meuit) B1 B2 B3 B4 Rataau

45 (A4) 0 . 7 3 6 ~ ~ 0.738'~ 0.803" 0.739' 0.754"

Rataan 0.733n 0.743" 0 . 7 6 7 ~ 0.748'

Keteraugan : Superscript yang berbeda menunjukkan perbedaan yang sangat uyata (P<0.01) B1= 15 % dedak padi tanpa pollard

B2= 10 % dedak padi + 5 % pollard B3= 5 % dedak padi + 10 % pollard

B4= 15 % pollard tanpa dedak padi

Kerapatan turnpukan dau lcerapatau pemadatan tumpukan dari hasil penelitian

iui ceudeiuug member-ikan korelasi positg semaki~l tinggi ldai kerapatan tumpukan maka kerapatan pemadatan tmpukau akau semakilr tiuggi dan sebalikuya. Menurut HoBGna~ul (1997), tingkat pemadatau selta densitas baban sangat menentukan kapasitas dan akurasi pengisiau tempat pe~iyimpauau seperti silo, kontaiuer dan kemasau.

Sudut Tumpukan

Hasil sidik ragam sudut turnpukan meumjukan bahwa waktu peugukusau (faktor A) memberi pengar& yang sangat uyata (P<0.01), interaksi antar faktor A

(47)

dan faktor B berpengaruh nyata (P<0.05), sedangkan substitusi dedak padi deugau

pollard (faktor B) tidak berpengaruh nyata (Lampiran 7).

Tabel 12. Rataan Haid Pengukuran Sudut Tmpukan ( O )

Waktu pengukusan Level substitusi dedak padi dengan pollard

( menit) B1 B2 B3 B4 Rataan

0 (All 3 1 . 9 ~ ~ 31.66" 33.37b 33.55" 32.39'

45 (A4) 29.03' 29.59' 29.24" 29.01" 29.22"

-.

Rataau 29.99 29.94 30.06 30.18

Keterangan : Superscript yang berbeda uutuk interaksi menu~ijukkan perbedaan yang tlyata OJ<0.05) Superscripf yaug berbeda orttuk faktor A ~nerrnn~jukkan perbedaan yang sangat 11yata (P<O.Ol)

B1= 15 % dedak padi tanpapoNard

B2= 10 % dedak padi + 5 % pollard

B3= 5 % dedak padi + 10 %pollard

B4= 15 % pollord tanpa dedak padi

Berdasarkan lama pengukusan (faktor A) llilai rataan sudut tumpukan (Tabel

12) teltiuggi ditunjukka oleh perlakuan yang tidak mengalami pengukusan (Al).

Niai terendah diperoleh dengau pengukusau selama 30 menit (A3), tetapi tidak

berbeda nyata deugau pelakuau selama 15 menit (Az) dau 45 inenit

(4).

Niai sudut m p u k a n teithggi berdasarkan hteraksi autar falctor A dau B

ditunjukkan ole11 perlakuan taupa pengukusan dan ransum yang t e ~ d u i dari 15 %

pollard tanpa dedak padi (AIB~) yaitu sebesar 33.55". Bahan atau crunzble yang

mempunyai sudut t u q u k a n tinggi akan mengurangi kecepatan aliran crunzble dan

akan menyatu s e h g g a crunzble tidak bebas bergerak (Geldait et al., 1990). SeIain

(48)

aliran telusau, akibat ha1 tersebut maka diperlukau proses peugadukau di dalam silo agar bahan bisa mengah, sehiugga mekanisme kerja dalam iudustri tidak efisieu (Wiiam, 199 1; RuttloE, 1981 dalanz Suadnyaua 1998).

Nilai sudut tumpukan terendah ditunjukkan oleh perlakuan pengukusan

selama 45 meuit deugau fonnulasi 15 % pollard (&B4), hasiluya tidak berbeda nyata

dengan semua perlakuan yang mengalami pengukusan. Sudut t u q u k a u yang rendah akan meuyebabkan crunzble semakin bebas bergerak sehingga memudahkau laju aliran crunzble, tuiuuuya bahan menjadi serentak dan meningkatkan keakuratau saat dilakukan peuimbangan. Menuut Ruttloff (1981) dalanz Suadnyana (1998);allabila sudut tumpukan yang terbentuk kecil bahau tidak mudah tercecer pada saat peugangkutau.

Perbedaau sudut tumyukau dipengaiuhi oleb kadar kehalusau (Tabel 7) dau

ukuran pa~tikel crunzble (Tabel 8), semakiu kecil ukuran paltikel dau kadar

kehalusan crunzble maka sudut t u q u k a n yang terbe~ituk akau semakiu besar, ha1 iui

sesuai deugan peudayat Gautama (1998) bahwa pengecilan uktirau altan meuiugkatkan llilai sudut tumpukan pakan.

ICetahanan Benturan

Hasil sidik ragam uji ketahanan beuturau (Lampiran 8) menuujukan bahwa

waktu pengukusau (faktor A), substitusi dedak padi deugau pollard (faktor B) dan

iuteraksi autar kedua faktor tersebut memberi p e n g a d yang sangat uyata (P<0.01).

Berdasarkau uji jarak Duucau diperoleh rataan llilai ketahanau bentuau (Tabel 13)

(49)

tidak berbeda uyata dengau peugukusau selalna 30 meuit. Nilai tereudah diperoleh deugau perlakuau yaug tidak meugalami peugukusau (AI).

Berdasarkan level substitusi dedak padi deugan pollard (faktor B) nilai rataau

tertinggi dicapai deugan formulasi 10 % dedak padi

+

5 % pollard (Bz), hasiluya

tidak berbeda uyata deugau perlakuan 15 % pollard taupa dedak padi (B4) dan

r a u s m yang terdiri dari 5 % dedak padi

+

10 % pollard (B3). Nilai rataau tereudah

dihasillcan oleh ransum yang terdiri dari 15 % dedak padi taupa pollard (B1).

Nilai ketahauau beuturau tertiuggi berdasarkan interaksi autar faktor A dau B

dicapai oleh perlakuan A B 3 dengau uilai sebesar 100 %, tetapi tidak berbeda- uyata

deugau perlakuau yaug meugalami peugukusau kecuali A2B1. Hal iui menunjukkau bahwa perlakuau yaug meugalami peugukusau kecuali A2B1 hauya sedikit mengalami

peugikisan atau pecah setelah crunzble tersebut dibeuturkan.

Tabel 13. Rataau Hasil Uji Ketahauau Beuturau Crulizble (%)

Waktu peugukusan Level substitusi dedak padi deugaupollard

( meuit) B 1 B2 B3 B4 Rataau

0 ('41) 9 ~ . 2 3 ~ 99.02' 9 ~ . 3 6 ~ 99.41d 98.51'

Rataau 99.30' 99.61" 99.53" 99.61"

Keteraligan : Superscript yang berbeda meuunjukkan perbedaan yang sailgat nyata (P<0.01) B1= 15 % dedakpadi tanpapollard

B2= 10 % dedak padi

+

5 % pollard

B3= 5 % dedak padi + 10 % pollard B4= 15 % pollard tanpa dedak padi

(50)

Nilai ketahauan benturau crurnble komersial sebesar 99.71 % (Lampiran 9).

Jika crumble komersial digunakau sebagai pembauding, maka uilai ketabauau

benturau crunzble uutuk interaksi autara pengukusau d m substitusi dedak padi deugan

pollard memiliki nilai yaug lebih tiuggi kecuali perlakuau A2BI.

Pengukusan menyebabkau terjadinya pengembangan granula pati deugan cara masuknya molekul-molekul air berpenetrasi kedalam granula dan tertangkap dalam struktur molekul amilosa dan amilopektin, grauula akan kehilangan kekompakau ikatau dau kelarutamya akau meningkat karena tejadi pembebasau molekul amilosa yang mempuuyai derajat poherisasi reudah. Grauula akan menalik komyonen-

kompoueu lain pada bahau tersebut (Cullison, 1968 dan Wiuamo, 1995), sehiugga

(51)

Hubungan Antar Sifat Fisik

Hubungan ukuran partikel dan sudut tumpukan crumble (Gambar 3)

cenderung memberikan korelasi negatif, dengan keeratan hubungan sebesar 92.5 %.

Semakin besar ukuran partikel Inaka sudut tumpukan crumble menjadi kecil. Ukuran partikel yang besar cenderung bersifat adhesive sehingga saat crumble dicurahkan maka crumble tersebut akan menyebar. Hal ini sesuai dengan pendapat Suadnyana (1998) yang inenyatakan bahwa semakin besar ukuran partikel maka sudut tumpukan yang terbentuk aka11 senlakin kecil sebab daya ikat rendah sehingga bahan akan

semakin bebas bergerak. Sebaliknya semakin halus ukuran partikel maka crumble .. .

akan menyatu atau bersifat kohesive dan mempunyai daya alir yang rendah karena

~... . . . ~~~- -. . . . ... -

Hubungan Antara Ukuran Partikel dan Sudut !

Tumpukan 34

+-2

y = - 5 1 . 9 6 1 ~ + 64.072 33

-

.

.

R' = 0.9248 32 \ Y 4

-.*

2 31 \

-

.

30

.

+

U 2 29 D

$ 3 .

.

2

28

.

. . . . ~ 27 0.58 0.6 0.62 0.64 0.66 0.68 0.7 i I Ukuran Partikel (cm)

(52)

crunzble tidak bebas bergerak, sebagaimana Schulze (1996) menyatakan bahwa

s e m a h halus ukuran partikel maka kontak antar permukaan partikel menjadi lebih

dekat sehingga bahan menjadi kohesive.

Nilai sudut tnmpukan iui selain berpengaruh terhadap kebebasan partikel

bergerak dan belpengaiuh pada saat pengangkutan, nilai sudut tnmpukan juga beiperan dalam mendesain corong pemasukan (hopper) atau corong pengeluaran,

misaluya pada silo atau pada mesin pengolah. Jika nilai sudut tnmpukan suatu bahan

tinggi sebaiknya pembuatan desain mulut corong dibuat lebih besar agar tidak terjadi

penyunbatan di dalam corong. .. .

Hubungan antar kadar air dan kerapatan tumpukan crunzble (Gambar 4 )

membeii hasil yang berkorelasi negatif, tetapi keeratan hubungannya hanya sebesar

58.6 %. Kerapatan akan menulw dengan semakin meningkatnya kandungan ail.

sehingga volume ruang yang dibutuhkan menjadi besar s e h g g a kapasitas bahan

pada tempat penyimpanan sepeiti silo, kontainer dan kemasan akan berkurang, ha1

iui sesuai dengan pendapat Suadnyana (1998) yang menyatakan bahwa idai

kerapatan tumpukan menurun dengan semakin meniagkatnya kandungan air sehingga

volume luang yaug dibutuhkan meujadi besar. @a& hubungan antar kadar air dan

kerapatan tnmpukan ditunjnkkan Gambar 4.

Kerapatan pemadatan tumpukan mempunyai hubungan yang negatif dengan

kadar air, p e n m a n kadar air menyebabkan uilai kerapatan pemadatan tumpukan

yang dihasilkan m n m . Keeratan hubungan antar kadar air da~i kerapatan

pemadatan tumpukan hanya sebesar 52.6 %. Grafik hubungan antar kadar air dan

(53)

Hubungan Antara Kadar Air dan Kerapatan Tumpukan

'

0.750 ; I 0.740 2

I

! 4 i

2

0.730 i 4 E 0.720

'

\ x 4 .h Y = - 0 . 0 1 1 1 ~ + 0.8211 0.690 R' = 0.5864 ! 0.680 4 $ 0.670 ; 0.660 - . ~ . . ~ . . . . 0 5 10 15

i

Kadar Air i

I

I

Ga~nbar 4. Grafik Hubungan Antar Kadar Air dan Kerapatan Tu~llpuka~l

... . - - . ~. . ~ ~ ~ . .~~ . ~ .

I Hubungan Antara Kadar Air dan Kerapatan

i

I

Pemadatan Tumpukan !

Kadar Air

(54)

I(ES1MPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Pengukusan berpengaruh terhadap uji sifat fisik dan ketahanan benturan

crunzble, lcarena terjadi proses gelatinisasi sehingga dihasilkan crunzble yang

kompak, padat dan tidak mudah rapuh. Hasil yang terbaik ditunjukkan oleh

perlakuan pengukusan selana 45 menit.

Ransunl yang menggunakan 10 % pollard

+

5 % dedak padi yang mengalami

pengukusan selama 45 menit ~nenghasilkan sifat fisik dan ketahanan bentwan terbaik.

Saran

1. Perlu dilakulcan uji gelatinisasi untuk mengetahui derajat gelatinisasi.

2. Disarankan dari hasil sifat fisik dan ketahanan benturan crunzble terbaik

dilanjutkan ke arah feeding trial pada ayam broiler.

3. Perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui daya si~upan ransum bentulc crunzble

setelah proses pengukusan.

4. Sebaiknya dianalisa kandungan nutrisi ransuln sebelun~ dan sesudah pengukusan.

5. Bagi industri yang menggunakan farnz pelleter bila ~nenggunalcan pollard disarankan untuk ~nelakukan pengukusan selama 45 lnenit agar memudalkan penanganan, pengangkutan dan memperkecil volunle ruang yang ditempati, keuntungan optimal dapat dicapai.

6 . Penlakaian pollard pada ransunl ayam broiler dianjurkan pada saat tertentu

misalnya kesulitan mendapatkan dedak padi atau saat harga dedak padi lebih

Gambar

Tabel 4.  Formulasi Ransuin Broiler Starter
Gambar 1.  Skema Pembuatan Crui7zble
Gambar 2. Cara Mengukur Sudut Tumpukan.
Tabel  5.  Cara  Pengukuran Kadar Kehalusan
+6

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari dan mengetahui pengaruh proses penggilingan padi pada tingkat huller terhadap sifat fisik dedak padi yang dihasilkan di

PENGARUH PENGGUNAAN BAHAN PENGIKAT PATI BERAS KETAN HITAM ( Oryza sativa L ) DENGAN KONSENTRASI YANG BERBEDA 7% DAN 10% TERHADAP SIFAT FISIK TABLET ANTALGIN.. EKA

Penelitian ini bertujuan untuk melihat hasil dari subtitusi dedak padi dengan daging buah kakao fermentasi dalam ransum pellet terhadap bobot potong, persentase bobot potong,

Berdasarkan kadar air, ukuran partikel, berat jenis, kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan tumpukan, durability , dan ketahanan benturan, penambahan perekat bentonit dan air

Penambahan perekat onggok sebanyak 4% dengan penyemprotan air 5% sudah dapat dikatakan mempunyai sifat fisik yang baik dilihat dari kadar air, berat jenis, aktivitas air,

Penelitian ini bertujuan untuk untuk mempelajari dan mengetahui pengaruh proses penggilingan padi pada tingkat huller terhadap sifat fisik dedak padi yang dihasilkan di

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari dan mengetahui pengaruh proses penggilingan padi pada tingkat huller terhadap sifat fisik dedak padi yang dihasilkan di

Nilai sifat fisik bulk density dan tapped density dedak padi memiliki tingkat korelasi positif tinggi dengan kandungan protein kasar dan sebaliknya memiliki tingkat korelasi negatif