q
i
rrr
J O W LGI".
PENGUJIAN SIFAT FISIK DAN KETAHANAN BENTURAN RANSUM BROILER BENTUK CRUMBLE SUBSTITUSI DEDAK PADI-POLLAIZD
DENGAN LAMA PENGUKUSAN YANG BERBEDA
SKRIPSI
FACHRAH A. H. BACHMlD
JURUSAN &MU NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2001
Fachrah. A. H. B. 2001. Pengujian Sifat Fisik dan Ketahanan Benturan Ransum Broiler Bentuk Crumble Substitusi Dedak ~adi-Pbllnrri dengan Lama Pengukusan yang Berbeda. Program Studi Ilmu Nutrisi dan Makanan Temak. Fakultas Petemakan. Institut Pertanian Bogor.
Pembimbing Utama : Dr. Ir. Yuli Retnani, MSc
Pembimbing Anggota :
Ir.
Lidy Herawati, MSKetersediaan dedak padi sangat dipengaruhi oleh musim panen padi sehingga perlu dicari bahan baku altematif yang dapat menggantikan dedak padi, antara lain dengan memanfaatkan limbah industri berupa pollard yang merupakan hasil sampingan dari penggilingan gandum.
Sifat fisik pakan memegang peranan penting dalam pengembangan teknologi pakan terutama pakan dalam bentuk olahan seperti crumble. Kendala pemakaian ransum bentuk crumble adalah tingkat terjadinya kerusakan selalna proses pembuatan dan pengangkutan.
Pengukusan menyebabkan terjadinya gelatinisasi yaitu granula akan menarik komponen lain pada bahan sehingga terbentuk crumble yang kompak, padat dan tidak mudah rapuh.
Penelitian ini bertujuan mengetahui penggunaan pollard sebagai pengganti dedak padi dengan lama pengukusan yang berbeda terhadap sifat fisik dan ketahanan benturan ransum broiler starter bentuk crumble.
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan acak lengkap berpola faktorial 4
x
4 dengan 5 kali ulangan. Faktor A terdiri dari A1 : tanpapengukusan, Az : pengukusan selama 15 menit, A3 : pengukusan selama 30 menit,
&
:pengukusan selalna 45 menit. Faktor B terdiri dari B, : 15 % dedak padi tanpa
pollard, Bz : 10 % dedak padi
+
5 % pollard, B3 : 5 % dedak padi 'r 10 % pollard,Bq : 15 % pollard tanpa dedak padi.
Peubah yang dialnati adalah kadar air, berat jenis, kerapatan tulnpukan kerapatan pemadatan tumpukan, sudut tumpukan dau ketahanan benturan crunzble.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ransum yang
mnenggunakan 5 % dedak padi
+
10 % pollard yang mengalami pengukusan selama45 menit menghasilkan sifat fisik dan ketahanan benturan terbaik. Proses
pengukusan menyebabkan terjadinya gelatinisasi sehingga dillasilkan crumble yang lebih kolnpak, padat dan tidak mudah hancur.
ABSTRACT
Faclwah. A. H. B. 2001. Physical Characteristics and Collide Resistance Testing
of Broiler Ration by Rice Bran-Pollard Substitution with Variant of Duration Distillation Process. Departement of Nutrition and Feed Science, Faculty of Animal Science, Bogor Agricultural University.
Main-advisor : Dr.
Ir.
Yuli Rehani, MScCo-advisor :
Ir.
Lidy Herawati, MSThe availability of rice bran depend on harvesting season of rice, therefore need to fmd the alternative raw material which can substitute rice bran. One of the alternative way is to make use the industrial pollutant such as pollard which is by product of wheat mill.
The feed physical characteristics play an important role in the development of feed technology, especially crumble feed product. The risks of using crumlSle type are damage during production process and transportation.
Distillation causes gelatination that granula will b i d another component and it will produce the compact crumble, solid and unfiagile.
The objective of this research was to find out the advantages of pollard as rice bran substitution on physical characteristics with variant of duration distillation also on collide resistance of the crumble type of broiler starter ration.
The experimental design used a random design with 4x4 factorial and 5 replicates. The factors are A, : without distillation, A2 : 15 minutes distillation, A3 :
30 minutes distillation,
Aq
: 45 minutes distillation. TheB
factors are BI : 15 % of rice bran,Bz
: 10 % rice bran and+
5 % pollard,B;
: 5 % rice bran and 10 % pollard,B4 : 15 % pollard without rice bran.
The parameter observed were water content, specific gravity, loose bulk density, compacted bulk density, angle of repose and collide resistance of crumble.
This research got a conclution that, the ration which used the 5 % of rice
bran
+
10 % pollard with distillation for about 5 minutes produced the best ofphysical characteristics and collide resistance. The distillation process causes
PENGUJIAN SWAT FISK DAN KETAEIANAN BENTURAN RANSUM BROILER BENTUK CRUMBLE SUBSTITUSI DEDAK PADI-POLLARD
DENGAN LAMA PENGUKUSAN YANG BERBEDA
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan
pada Fakultas Peternakan -
Institut Pertanian Bogor
Oleh :
Fachrah A. H. Bachmid DO2496003
SURUSAN E M U NUTRlSI DAN MAKANAN TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANlAN BOGOR 2001
PENGUJIAN SIFAT FISIK DAN KETAHANAN BENTURAN RANSUM BROILER BENTUK CRUMBLE SUBSTITUSI DEDAK PADI-POLLARD
DENGAN LAMA PENGUKUSAN YANG BERBEDA
Oleh :
Facluah A. H. Bachmid
DO2496003
Skripsi ini telah disetujui dan disidangkan di hadapan Konlisi Ujian Lisan
pada tanggal 16 Agustus 2001 -.
Menyetujui,
Penlbimbing Utama
Dr. Ir. Yuli Retnani, MSc Ir. Lidy Herawati, MS
Mengetahui,
Ketua Jurusan
Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan IPB
Peuulis dilakkau pada tauggal 12 Januaii 1978 di Tahuua yaug meiupakan kota kecil yang iudah, terletak di Kabupaten Saugir Talaud propiusi Sulawesi Utara. Peuulis adalab analc ke delapau daii delapau bersaudara daii Bapak H. Abdullah Hasau Baclunid dan Ibu Hj. Faiida Bachmid
Jenjaug peudidiian Peuulis, pada t a h u 1990 penulis lulus daii SD Negeii
III
Tidore dau lulus SMP Negeii I Tahuua pada Tahuu 1993, pada tahun 1993 masuk di
SMA Negeii I Tahuna dau tahuu 1994 piudah ke SMA Iusan Kalnil Bogor, lulus
-.
tahuu 1996.
Peuulis terdafiar sebagai ~nahasiswa Iustitut Peitaluan Bogor pada tahuil 1996
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat-Nya,
sehiigga Penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini.
Skripsi ini disusun berdasarkan hasil penelitian dan studi pustaka untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana di Fakultas Petetnakan Institut Pertanian Bogor.
Penulis mengucapkan teriima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Abdullah Hasan Bachrnid dan Ibu Farida Bachmid yang telah
-.
mengasuh, inendidik dan membimbing Penulis dengan pen& kasih sayang, serta doa yang selalu dipanjatkan setiap saat.
2. Dr. Ir. Yuli Retnani, MSc dan Ir. Lidy Herawati, MS sebagai dosen
pe~nbi~nbing yang telah banyak meinberikan pengarahan, bilnbingan dan
saran selama penelitian d m penulisan karya ilmiah.
3. Dr. Ir. Iman Rahayu, MS dan Ir. Abdul Djamil H, MS selaku dosen penguji ujian sidang dan Ir. Sumiati, MS selaku dosen penguji seminar, yang telah inemberikan saran kritikan dan masukan untuk perbaikan skripsi ini.
4.
Ir.
Dwi Margi Suci, MS selaku panitia ujian sidang, atas waktu dankesediannya inembailtu Penulis.
5. Dr. H. Rahmat Herman, MVSc yang telah nlenyediakan waktunya untuk
konsultasi, dan seluruh dosen Fakultas Peternakan yang telah memberikan bekal ilmu kepada Penulis selama mengikuti pendidikan di Institut Pertanian Bogor.
6 . Kakak-kakak tercinta (Fadilah, Fihri, Fauzy, Fachriyah, Faiza, Fachri, Fadli)
atas pengertian dan dorongan selama penulis mengikuti pendidiian di Institut
Pertanian Bogor.
7. K'Fadli Makaminan, yang telah banyak membantu dalam penulisan skripsi ini
dan K'Syawal yang telah mengajarkan cara pengolahan data.
8. Apit Wikantiasi sahabatku yang selalu bersama dalam melakukan penelitian, penulisan skripsi dan telah banyak memberikan bantuannya.
9. Cutti Sarah dan Palupi Dewi rekan sepenelitian, atas kerja sama dan kebersamaannya selama ini.
-.
10. Sahabat baikku : Dian Nuraini dan Yeni Rahmawati atas bantuan dan
persahabata~ulya sela~na ini.
11. Warga Lavender House ( Vivid, Reni, Inur, Emang, Ati, Asrima, Ririn, dkk )
dan Darmaratih atas bantuannya dan dorongan semangat selama Penulis melakukan penelitian sampai penulisan karya ilmiah.
12. M'Ana, Yeni'34 dan selnua rekan INMT yang telah lnelnbantu dan
~nemberikan dorongan kepada Penulis.
13. Staf Laboratoriu~n Industri Makanan Ternak Jurusan INMT yang telah ~nelnbantu sela~na penelitian.
14. Berbagai pihak yang membantu sehingga Penulis dapat menyelesaikan penulisan karya ilmiah ini.
Bogor, Agustus 2001
DAFTAR IS1
...
ABSTRACT
...
111RIWAYAT HIDUP
...
viKATA PENGANTAR
...
viiDAFTAR TABEL
...
xiDAFTAR GAMBAR
...
xii.. DAFTAR LAMPIRAN
...
xiii
PENDAHULUAN
...
1 Latar Belakang...
1 Tujuan...
2 Hipotesis...
2...
TINJAUAN PUSTAKA 3 / . ~ Sifat Fisik...
. . .
8 Berat Jenis...
8 Kerapatan Tumpukan...
8Kerapatan Pemadatan Tumpuka11
...
9Sudut Tumpukan
...
10...
Ketahanan Benturan
...
MATEN DAN METODE...
WaMu dan Tempat
...
...
Materi Bahan...
Alat-alat...
Metode...
Formulasi Ransurn...
- . Pe~nbuatan Crumble...
Pengukuran Sifat Fisik Bahan
...
Berat Jenis...
Kerapatan Tumpukan...
Kerapatan Pernadatan Tunpukan
...
Sudut Tumpukan...
I<adar Air...
Perlgujian Kadar Icehalusan dan Ketahanan Benturan...
Kadar Kehalusan
...
...
Ketahanan Benturarl Crumble
...
Rancangall Percobaan
HASIL DAN PEMBAHASAN
...
KESIMPULAN DAN SARAN
...
...
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
...
1
.
Komposisi Nutrisi Pollard dan Dedak Padi 42
.
Ketersediaan Pollard dan Dedak Padi...
43
.
Perbandigan Kebutuhan Energi Metabolis dan Kebutuhan Protein untuk Ransum Broiler Starter...
54
.
Formulasi Ransum Broiler Starter...
155
.
Cara Pengukuran Kadar Kehalusan...
20.. 6
.
Rataan Hasil Analisis Kadar Air (%)...
257
.
Rataan Hasil Pengukuran Kadar Kehalusan...
27...
8.
Rataan Ukuran Partikel Crunzble (cm) 28 3 9.
Rataan Hasil Pengukuran Berat Jenis (glcm )...
293 10
.
Rataan Pengukuran Kerapatan Tumpukan (g/cm )...
3111
.
Rataan Pengukuran Kerapatan Penladatan Tuinpukan (g/cm3)...
3312
.
Rataan Hasil Pengukuran Sudut Tuinpukatl ( O )...
34Nomor Halaman
1
.
Skema Pembuatan Crumble...
162
.
Cara Mengukur Sudut Tumpukan...
193
.
G r a a Hubungan Antar Ukuran Partikel dan Sudut Tumpukan...
384
.
Grafik Hubungan Antar Kadar Air dan Kerapatan Tumpukan...
405
.
Grafik Hubungan Antar Kadar Air dan Kerapatan Pemadatan Tuinpukan...
40Nomor Halaman
1
.
Sidik Ragam Kadar Air...
46 2.
Sidik Ragam Kadar Kehalusan Crumble...
46 3.
Sidik Ragam Ukuran Partikel Crumble...
47...
4
.
Sidii Ragam Berat Jenis 47...
5
.
Sidik Ragam Kerapatan Tumpukan 476
.
Sidik Ragam Kerapatan Peinadatan Tumpukan...
-. 48...
7
.
Sidik Ragam Sudut Turnpukan 48...
8
.
Sidik Ragam Ketahanan Benturan Crumble 499
.
Perhitungan Nilai Ketahanan Benturan Crumble Komersial...
49Latar Beiakang
Penyediaan bahan makanan yang berkualitas baik dalam jumlah yang banyak, murah dan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia merupakan salah satu target utama dalam suatu usaha peternakan untuk mencapai tingkat produksi dan keuntungan yang optimal. Salah satu upaya untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan cara memanfaatkan limbah industri pertanian.
Pollard merupakan hasil sampingan dari penggilingan gandum, potensial --
digunakan sebagai bahan baku alternatif dari pemakaian dedak padi yang ketersediaannya sangat dipengaruhi oleh musim panen padi. Pada saat panen padi, dedak padi murah dan pada musim tanam, paceklik, kemarau, saat terjadi banjir ketersediaan dedak padi menurun dan banyak sekali dijumpai pemalsuan dedak yang dicampur dengall sekam atau yang lainnya sehingga kualitas dedak padi rendah
sekali. Ditinjau dari segi nutrisi @rotein dan serat kasar), pollard lebih
menguntungkan jika dibandingkan dengan dedak padi. Kandungan protein pollard
15.7 %, serat kasar 11 %, energi metabolis 1300 kkallkg ransum, sedangkan
kaudungan protein dedak padi 12.9 %, serat kasar 11.4 %, dan energi rnetabolis 2980
kkalkg ransum (NRC, 1994). Selain itu pollard kaya akan vitamin B komplek
terutama vitamin B2 dan
Biz
yang sangat penting untuk pertumbuhan unggas.Sifat fisik pakan memegang peranan penting dalam pengembangan teknologi
ransum bentuk crunzble adalah terjadi kerusakau selama proses pembuatau dan peugangkutau.
Peugukusan merupakau salah satu cara yang praktis selain meuiugkatkau daya cema, proses tersebut meuyebabkan terjadiiya gelatiuisasi dimaua grauula akau meuarik kompoueu lain pada bahau sehingga terbeutuk crutnble yaug kompak, padat dan tidak mudah rapuh.
Tujuan
Peuelitiau iui bertujuau mengetahui pengaiuh pengguuaan pollard-sebagai
peuggalrti dedak padi dalam ranslun deugau lama pengukusau yaug berbeda terhadap sifat fisik dan ketahanan benturau ransum broiler starter beutuk crunzble.
Hipotesis
Peugguuaan pollard dalam ransum yaug meugalauli peuguhxsal~ akau meuiugkatkan sifat fisik dau ketahanan beuturan c~unzble.
TINJAUAN PUSTAKA
Pollard
Pollard mernpakan hasil ikutan penggilingan gandum menjadi tepung.
Pemecahan gandum menjadi tepung teiigu akan menghasilkan 74 % tepung terigu
dan litnbahuya be~upa bran, pollard dan bahan lem kayu lapis masing-masing s e j d a h 10 %, 13 % dan 3 % (Bintang, 1989). Sepeiti haluya dengan dedak pa&
pollard sudah lama diguuakau sebagai makanan ternak teiutama temak unggas
(Heuser, 1955).
Peuggunaan pollard dalam railsum anak ayam terutama untuk meleugkapi vitaluiu B kolnpleks (Heuser, 1955). I<anduugan iiboflavin (vitamin Bz) dau vitamin BIZ pollard lebih tiuggi dibaudingkan dengan dedak padi (NRC, 1994). Menuut Wahju (1985) defisieusi iiboflavin pada ayam dalam masa peitumbuhau meuyebabkau pertumbuhau lambat kemudian me~ijadi Iemah, kuius, ayam mengalami curled toe-paralysis dau tidak dapat bergerak. Selanjutuya diiatakau juga bahwa defisien vitalniu B12 meuyebabkau bulu patah, perosis, peitumbuhau lalnbat dau mengakibatkan kematian. Hasil aualisis uutiieu pollard dau dedak padi tercautum pada Tabel 1.
Kualitas proteiu pollard lebib baik dali jaguug tetapi tidak sebaik protein
suplemen yang lain sepeiti kacang kedelai, susu, hasil ikutau pemotongan dagu~g dau
Winter dan Funk (1982) mengemukakan bahwa penggunaan pollard
hendaknya berkisar antara 5 - 15 % dalam ransum ayam broiler, karena pollard
mengandung serat kasar yang relatif tinggi.
Tabel 1. Komposisi Nutrisi Pollard dan Dedak Padi.
Zat Makanan Pollard
'
pollard'
Dedak Padi'
Dedak padiZBahan kering (%) 89 85.35 89 85.55
Protein kasar(%) 15.7 14.70 12.9 11.22
Lemak kasar (%) 4 1.99 13 7.57
Serat kasar (%) 11 6.43 11.4 5.22
Energi Metabolis (kkal/kg) 1300 2252* 2980 2814.7* -.
Abu (%) - 2.66 - 6.37 Kalsium (%) Phospor (%) Vitamin B2 Vitamin Bl2 31.0
-
23.0 - Icetwangan : 1: Berdasarkan NRC (1994)2 : Berdasarkan hasil analisa Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan (2001)
*
: Berdasarkan konversi menurut NRC (1994):Energi Metabolis dedak padi =. 4 6 . 7 ~ bahan kering - 4 6 . 7 ~ abu - 69.54 x protein
kasar + 42.94 x lemak kasar - 81.95 x serat kasar.
\
Energi Metabolispollard = 40.1 x bahan kering - 4 0 . 1 ~ abu - 165.39 x serat kasar. (kandungan nutrisi unhk konversi energi metabolis berdasarkan hasil analisa Laboratorium Ilmu da6 Teknologi Pakan (2001)) I
Ketersediaan pollard dibandingkan dengan dedak padi dapat dilihat pada
Tabel 2.
Tabel 2. Ketersediaan Pollard dan Dedak Padi
Tahun Pollard Dedak padi
(ton) (ton)
1996* 556 673 30011
1997** 805 753 22 998
Sulnber :
*
BPS (1996)Pengolahan Ransurn
Menurut Scott et al., (1976), ransum starter untnk ayam broiler hendaknya
mengandung 21.0 - 24.8 % protein kasar dengan tingkat energi metabolis sebesar
2800 - 3300 kkaYkg ransum dan untuk ayam finisher mengandung 18.1 - 21.1 %
protein kasar dengan tingkat energi metabolis sebesar 2900 - 3400 kkaltkg ransum.
Perbandingan kebutuhan energi metabolis dan kebutuhan protein untuk ransum
broiler starter ditampilkan pada Tabel 3.
Tabel 3. Perbandingan Kebutuhan Energi Metabolis dan Kebutuhanzrotein untuk Ransum Broiler Starter
Energi Metabolis (kkallkg ransum) Protein (%)
*
Surnber : Scottet al. (1976)
V
Cara yang m u m untuk meningkatkan nutrien suatu bahan pakan temak adalah mengurangi ukuran partikel bahan tersebut dengan memotong, menggiling dan
memadatkan. Konlbinasi ketiga cara tersebut ~nembentuk produk yang disebut pellet
(Sundstol dan Owen, 1984). Gill et al. (1964) melaporkan bahwa pemeletan
melnpunyai pengaruh positif terhadap nilai nutrisi pakan yaitu : (1) meningkatkan
malta ternak yang lnempunyai volume salurau pencernaan terbatas yaitu babi dan uuggas dapat mengkonsumsi rausum lebih bauyak sehiugga ada jalninau lebih bauyak zat makanau yang masuk. ( 2 ) Meugurangi waktu makan sehgga dapat menghemat energi. Ternak membutuhkan waktu makan ransum bentuk pellet lebih peudek dibandiugkan ransum yang berbentuk nzash. Hal iui berarti bahwa ternak dapat menghemat pengeluaran energi. Energi yaug dihemat iui dapat diguuakan oleh te~nak uutuk tujuau produksi. (3) Meniugkatkan kesediaan pati sebagai sumber energi. J d a h pati yaug mudah larut (soluble starch) akan meuiugkat jika ransum dibuat dalam beutuk pellet. ( 4 ) Meuiugkatkan kecernaan zat makanan. Pemeletan
--
memberi pengaruh positif terhadap kecernaan zat makanan terutama pada kecernaan lemak, proteiu dan serat kasar. ( 5 ) Meningkatkan daya sh11an lemak. Pengaruh sekuuder dari yemeletan ransum terhadap lemak dan zat makanan yang pelca terhadap proses oksidasi adalah mengurangi terjadiuya oksidasi oleh olcsigeu bebas terliadap pakan yang dishpan dan proses ketengikan dapat diperlambat, dengan demikiall pemeletar~ dapat lneuiugkatkan daya sh1)an bahan. ( 6 ) Meugurangi ransum terbuaang dibandiug ransum dalaln beutuk ntash.
Iceluhan peternak yang mengatakau bahwa rausutu pellet tidak dapat dikonsumsi oleh anak ayam yaug mempunyai paluh lebih kecil menyebabkan terciptanya ransum crunzble (Rasyaf, 1990). Crunzble merupakan tipe pertengallan antara nzash dan pellet, pemberian crunzble h u l a i pada ayam umur sehali sampai dipasarkan (North, 1984). Patrick dan Schaible (1980) menyatakan balwa ransum bentuk crunzble saugat palatable bagi ayam dan memuugkiukan ayam uutuk makan lebih cepat.
Kualitas crumble yang baik tidak hanya dilihat dari nilai nutrisinya seperti
protein, lemak, vitamin dan mineral tetapi hams dilihat pula sifat fisiknya (FAO,
1987), ole11 karena itu perlu dicari cara untuk meningkatkan sifat fisik agar terbentuk
crumble yang kompak dan tidak mudah hancur.
Pemasakan sumber karbohidtat menyebabkan granula pati akan kehilangan kekompakan ikatannya dan kelarutan akan meningkat karena terjadi pembebasan molekul amilosa yang mempunyai derajat polimerasi rendah. Jumlah kekuatan ikatan di dalam granula akan berkurang, sebaliknya ikatan antar granula akan semakin kuat
-.
(Cullison, 1968).
Bila granula pati kontak dengan air, granula-granula tersebut membengkak dan menyerap sejumlah air. Mulanya penambahan air akan inemisahkan kristal amilosa dan mengacaukan struktumya, kemudiau dengan adanya pemanasan granula pati nlembengkak luar biasa, volumenya meningkat 25-30 kali lipat. Pemanasan dan penambahan air menyebabkan amilosa mulai tersebar keluar dari granula dan pati tersebut tidak dapat kembali seperti kondisi semula, dari proses tersebut dihasilkan gel (Harper, 1979).
Menurut Winartlo (1995) bahwa gelatinisasi adalah suatu keadaan saat granula pati membengkak secara luar biasa dan tidak dapat kembali pada kondisi semula. Granula yang mengembang cenderung untuk saling berikatan membentuk gel. Proses pembentukan gel dari suspensi pati disebut gelatinisasi (Meyer, 1951). Gel yang terbentuk akan mengikat komponen bahan ransum sehimgga terbentuk
Sifat Fisik
Menurut KIing d m Woelhbier (1977) dalanz Suadnyana (1998), sifat fisik
yang memegang peranan penting dalam r a u m ternak yaitu :
Berat Jenis
Berat jeuis disebut juga berat spesiiik, melupakan perbandiugan autara massa bahan terhadap volume (Chung dau Lee, 1985). Berat jeuis memegaug peranan penting dalam proses pengolahan, penauganan d m peuyimpanan. Berat jeuis
merupakan faktor penentu terhadap kerapatau t u p u k a n dan daya ambang. _Sifat iui
memegaug peranau pentiug dalam proses pemiudahan atau pengangkutau bahau meugguuakau pneunzetic conveyor atau pada proses pengisiau silo yang tiuggi dengan meuggunakan daya hisap atau gaya gravitasi. Berat jeuis bersama uhuan paltiltel bertangguug jawab terhadap homogeuitas penyebarau paltikel dan stabilitas dalaln suatu pencampuran ransum. Berat jeuis saugat meuentukau tiugkat ketelitiau dalam proses penakaran secara otomatis seperti pada proses peugemasan dan peugeluaran
bahnn dari dalam silo uutuk dicampw atau digihig (Kliug dan Woebbier, 1977
dalanz Khalil, 1999a).
Kerapatan Tumpukan
Kerapatan tumpukan merupakan perbaudiugan autara berat bahau dengau volume ruang yang ditempati bahan. Kerapatan tumpukan memegang perauan pentiug dalam memperhituugkan volume iuaug yaug dibutuhkau suatu bahan dengau
Icerapatan tumpukan juga beiyengaruh terhadap daya campus dau ketelitiau pengukuran secara otomatis.
Meuurut Ruttloff (1981) dalanz Suadnyaua (1998), peucampurau bahau ransum dengau ukuran paitikel yaug sama tetapi mempuuyai perbedaan kerapatan tumpukan yaug besar (lebfi dari 500 kg/m3) akau saugat sulit dicampur dau ceuderuug terpisah. Bahan ransum yang mempuuyai kerapatau tumpukan yaug reudah (kurang dari 450 kg/m3) membutuhkau waktu jatuh dau waktu uutuk mengalir
yang lebill lama dan dapat ditimbaug lebfi teliti deugau alat peuakar otomatis, baik volumetiis maupun gravimetiis, sedaugkau rausum yaug mempuuyai kefapatau tuu~pukau lebfi daii 1000 kg/m3 akan bersifat sebaliknya.
Meuulut Suadnyana (1998) bahwa uilai kerapatau tuml~ukau meuuiun dengall semakin meuiugkatuya kauduugau air kareua bahau aka11 mengembang deugau semakiu tiuggiuya kanduugau air sehgga volume iuaug yaug dibutuhlcan meujadi besar.
Kerapatan Pemadatan Tumpukan
Kerapatau pemadatau tumpukau melupakau pel-baudiugau autara berat bahau terhadap volume ruang yang ditempati bahau setelah diakukau proses pemadatau sepeiti peuggoyangan. Icerapatan pemadatau tumpukan dau kerapatau tumpukau saugat bei~eugaluh pada kapasitas silo, kontaiuer dan pengemasan.
Perbedaau cara pemadatau akau mempeugaluhi uilai kerapatau pemadatan tuqukauuya. Meuu~ut HoEinauu (1997), tiugkat pelnadatau seita densitas bahau
saugat meueutukau kapasitas dm alcurasi peugisiau tempat peuyhpauau sepeiti silo, koutainer dm kemasan.
Sudut Tumpukan
Sudut tumpukau merupakau kiteria kebebasan bergerak partikel yang terbeutuk saat bahau dicwahkan pada bidang datar melalui sebuah corong. Selnakin bebas suatu partikel bergerak, maka sudut tumpukan yang terbeutuk semkin kecil. Pergerakali paltikel yaug ideal dituujukkan oleh ransum beutuk cair dengau sudut tumpukau sama deugan no1 sedangkan rausum dalam beutuk padat memp~ulyai -. sudut tuiupukan benkisar autara 20" - 50" (Ruttloff, 1981 dalanz Khalil, 1999b).
Beberapa aplikasi d a i i sudut tumpukau pada proses peugolahau, peuaugauan dau peuyimpauau:
a. Sudut tumpukau akan mempeugarubi f2aoabilitj atau daya a h suatu bahan
terutama akau be~yeugaiuh tel.)ladap kecepatau dau efesieusi proses pengosongan silo secara veitikal pada saat memiudahkau bahau menuju uuit peilimbaugan atau pada saat peucampuran bahau (Williams, 1991 dau Ruttloff, 1981 dala~n [(ltalil,
1999b).
b. Sudut tumpukau berpeuga~uh terhadap efesiensi peugangkutau bahan secara mnekauik. Kemudahan dau kecepatau peugangkutau suatu bahan dengau traktor sekop (shovel) atau conveyor akan sangat dipeugaiubi oleh besainya sudut tumpukau (Ruttloff, 19h1 dalanz Gautama, 1998). Ruttloff (1981) clnlhnz Suaduyana (1998), meuyatakan bahwa pada kauduugan air rendah, bahau lebih mudah dan cepat diangkut deugau alat mekauik, ha1 iui disebabkau oleh sudut
tumpukau yaug terbentuk pada kadar air reudah lebib kecil s e h g g a pada saat pengangkutan bahan tidak jatuh tercecer.
c. Sudut tumpukan berpengamh terhadap ketepatau proses peuakaran baik secara volumetiis maupuu gravimetris. Jiha ditimbaug, maka ransum dengau sudut tumpukau yang rendah akau lebih mudah d m akurat dibandiugkan deugau ransum yaug mempuuyai sudut tumpukan tinggi. Sifat ini erat kaitamya deugau berat jenis dau kerapatan tumpukau
Geldait et al. (1990) menyatakan bahwa peugukuran sudut tumpukau
merupakan metode yang cepat dau produktif uutuk meuentukau laju alirall-babau. Pada bahan yang aliramya cepat, puucakuya seiing datar sedaugkau pada bahan yaug aliramya lambat ceudeiuug m e u q u k di pennukaan coroug s e h g g a seiiug meuyumbat saluxau coroug.
S e m a h halus ukuran paitikel maka bahau akan menjadi Iebib koheszve
s e h g g a flavabilig bahan meujadi reudah (Schulze, 1996), Geldait et al. (1990)
memperkuat peudapat tersebut deugau meuyatakau bahwa semakiu halus ukurau
paltiltel lnaka bahau akau lneuyatu sehiugga bahau tidak bebas bergerak dan
mempuuyai daya alir yaug reudah. Bahau yaug mempuuyai ukuran paitikel 125-150
&on lebib bebas mengalir dau mempuuyai sudut tumpukau yaug kecil
dibaudiugkan fkaksi yaug kuraug daii 125 mikron. Gautalna (1998) juga meuyatakau bahwa peugecilau ukuran akau meningkatkan uilai sudut tumpukau.
Kadar Air
Menurut Wirakaitakusu~nah (1992), sifat fisik bahau pakau bauyak dipengadi oleh kadar air dan ukurau partikel dari suatu bahau, juga dipeugaiuhi oleh distribusi ukurau partikel bentuk dan karakteiistik permukaan partikel suatu
bahan. Hal ini diperkuat oleh peudapat Mc E l k e y (1994) baliwa ada dua faktor
yaug mempengaruhi sifat fisikpellet yaitu karakteristik bahan dau ukuran partikel. Kanduugau air bahau tidak konstan tetapi dipeugaluhi oleh jeuis bahau, suhu dan kelembabau udara sekitamya (Suadnyaua, 1998). Kadar air maksimum uutuk
ransum uuggas adalah 14% (Direktorat Biua Produksi, 1997). Meuuiut Gautama -.
(1998), kadar air be~yeugaiuh terhadap kerapatan tumpukau dau kerapatau pe~nadatau
tumpukan.
Icetahanan Bentwan
Meuuiut Balagopalau et al. (1988) bahwa ada beberapa faktor yang
mempeugaluhi kualitas ketahauaupellet antara laiu :
1. Kompoueu alamiah, meliputi :
a. Pati
Bila terkeua pauas akau meughasillcan gelatiu dau dapat besfungsi sebagai perekat
b. Lemak
Mempuuyai ftmgsi sebagai peliciu pada salurau peucetak pellet s e h g g a proses pencetakau lebilt laucar.
c. Serat
Mempunyai h g s i sebagai kerangka pellet, apabila jumlahya sedikit dalam pakan maka akan menghasilkan pellet yang kuat sedangkan bila jumlahuya tinggi makapellet yang dihasilkan akan mudah rapuh.
d. Gritz dan pasir
Apabila ada hams dihilangkan karena akan mengganggu proses pemadatan pellet.
2. Kondisi bahan, meliputi :
a. Kandungan air
b. b a n paltikel
b a n paltikel memegang peranan penting dalam proses pembuatan pellet,
yaltikel bahan yang halus akan menghasilkanpellef yang kuat c. Temperatur
Mempercepat proses gelatiuisasi. Semakin tiuggi temperatw yang diguuakall maka proses gelatiuisasi akan cepat tejadi.
MATERI
DAN METODE
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Industri Makanan Ternak Jurusan Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, dimulai pada bulan Febmari sampai April 2001.
Materi Bahan
Bahan yang digunakan dalalll pe~nbuatall ransurn broiler adalah pollard, dedak padi, jagung, tepung ikan, bungkil kedelai, zeolit, CPO (crude palni oil), premix, CGM (corn gluten meal), CaC03.
AIat-alat
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Alat proses
- Mesin giling
- Panci pengukus
- Mesinpellet
b. Alat untuk analisa
- Vibrator ball mill
-
Tinlbangan-
Oven-
Gelas ukur 100 ml, pengaduk aquadesFormulasi Ransum
Pembuatan formulasi ransum broiler starter berdasarkan Scott et al. (1976)
dengan menggunaka~~ protein kasar 21 % dan energi lnetabolis 2800 kkallkg ransum.
Pembuatan formulasi menggunakan metode trial and error (coba-coba). Formulasi
ransum broiler starter yang telah dibuat dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Formulasi Ransuin Broiler Starter
Bahan B1 B2 B3 -. B4 Pollard 0 5 10 15 Dedak Halus 15 10 5 0 Jagung 42 42 42,05 42 Tepung Ikan 5 5 5 5 Bungkil Kedelai 25.75 25.75 26.25 26.75 Zeolit 3 3.25 3.3 3.25 CPO 2 2 2 2 CGM 5 4.75 4.15 3.75 Premix 0.25 0.25 0.25 0.25 CaC03 2 2 2 2 Total 100 100 100 100
Energi Metabolis (kkallkg) 2873 2835.9 2800 2768.4
Protein Kasar (%) 21.04 21.06 21.09 21.23
Lemak Kasar (%) 6.01975 5.56975 5.12620 4.67875
Serat Kasar (%) 3.87650 4.07325 4.30155 4.53025
Harga (Rptkg) 2012.25 2002.75 1996.20 1992.75
Keterangan: B1 = 15 % dedak padi tanpa pollard
B2 = 5 %pollard + 10 % dedak padi
B3 = 10 %pollard + 5 % dedak padi
Pembuatan Crumble
Bahan-bahan yang telah dipersiapkan digiling dan dicampur sesuai dengau formula. Bahan yang telah dica~npur disesuaikan dengau perlakuan yaitu taupa
pengukusan, pengukusan selama 15 menit, pengukusan selalna 30 menit dan
pengukusan selama 45 menit kemudian dimasukkan ke dalam mesh crunzble selanjutuya didinginkan dan dilakukan pengujian peubah. Skema pembuatan crunzble terlihat pada Gambar 1.
Pencampuran Perlakuan pengultusan I Pembuatan crumble
t
Pendinginan Pengujian peubahPengukuran Sifat Fisik Bahan
Berat Jenis (IQaW, 1999a)
Berat jenis (BJ) diukur dengan mengguuakan priusip h u b Archimedes,
yaitu dengan melihat perubahau volume aquades pada gelas ukur (100 ml) setelah
memasukkan bahan-bahan yang massanya telah diketahui ke dalam gelas ukm tersebut kemudian diiakukan pengadukan untuk mempercepat jalannya udara antar
partikel ransum selama pengukuran. Pembacaan volume a& diiakukan setelah
volume menjadi konstan. Perubahan volume aquades merupakan volume bahan
-.
sesuugguhuya. Berat jeuis dhituug dengan mmus:
Bobot bahau BJ =
Pelubahan volume aquades
Icerapatan Tumpultan (Khalil, 1999a)
Icerapatan tumpukan (KT) dhituug dellgall me~icurahkan balian dengan bobot
tertentu ke dalam gelas ukur (100 ml). Metode pemasukall bahau ke dalam gelas ukur salna setiap pengamatau, baik cara maupuu ketiuggian pericurahau. Pencurahan
ransum dibantu corong plastik dau sendok teh, guua memhimumka~~ penyusutan
volume curah rausum akibat pengaluh daya berat ransum itu sendini saat dicurahkan, dan teljadiiya guucaugan pada gelas ukur perlu d i d a l i . Kerapatan tumpukan d i t u u g dengan cara membagi berat ransum dengan volume ruaug yaug ditempatiuya.
Bobot bahan KT =
Volume ruang bahan
Kerapatan Pemadatan Tumpukan
(Khaa
1999a)Kerapatan pemadatan tumpukan (KPT) diteutukan dengan cara yang sama deugan peuentuau kerapatan tumpukan, tetapi volume bahan dibaca setelah dilakukau proses pemadatan dengan cara menggoyaug-goyaugkan gelas ukur dengan tangau
sampai volume tidak beiubah lagi. Besa~nya nilai kerapatan pelnadatan tumpukan sangat tergautuug pada intensitas proses pemadatau sedangkan volume yang -. dibaca meiupakan volume terkecil yang diperoleh selama penggetaran. Sebaikuya yemadatan dilakukan dalam waktu tidak lebih d a i i 10 meuit. Kerapatan pemadatan tumpukan d i t u n g deugan cara membagi berat ransum (gram) dengan volume ruaug rausum setelah pemadatan (cm3).
KPT = Bobot bahau
Volume iuang setelah pelnadatan
Sudut Tumpukan (IChalil, 1999b)
Pengukuran sudut t u q u k a n dengan menjatuhkan bahan pada ketiuggian
teitentu melalui corong pada bidang datar sepeiti pada Gambar 2. Diameter
tumpukan bahan makshum seteugah kali tinggi jatuhnya bahan. Sebagai alas bidang datar diguuakan kertas karton benvarna putih. Ketiuggiau tumpukan bahan hams selalu berada dibawah corong. Ransum dicwakkan sedekat ~nuugkiu dan perlahan-
lahan pada dindiug corong plastik. Pengukuran diameter diiakukau pada sisi yang sama pada semua peugamatan dengau bautuau mistar d m segi tiga siku-siku.
Sudut tumpukan b&au (6) diuyatakan dengan satuan derajat dan dapat ditentukan
dengau mengukur diameter dasar (d) dan tinggi tumpukan (t) sedangkau (n) adalah
ketiuggian teltentu wtuk m e n j a m a n bahan. Besainya sudut tmpukan dapat
dihituug dengau m u s :
Gambar 2. Cara Mengukur Sudut Tumpukan.
1Cad:lr Air (AOAC, 1984)
Pengnkuran kadar air dengan mengguuakan oven 105'C selama 24 jam uutuk
mengetahui kadar air awal bahan. Setiap bahau diletakkau didalam cawan
alumiiwq agar penguapau air terjac'i secara s e q w n a , autar sampel tidak boleh bertumpuk didalaln oven.
Perllitungan kadar air dihituug dengan mengguuakan i w u s :
Berat awal- berat akhir
KA = x 100%
Berat awal
Pengujian Kadar Kehalusan dan Ketahanan Benturan
Kadar Kehalusan (Henderson dan Perry, 1976)
Teknik yang dipakai untuk menentukan kadar kehalusan, keseragaman dau u h a n paitikel crz~nzble adalah deugan vibrator ball nzill gernzan the sieveZnalisis
nomor nzesh 4, 8, 16, 30, 50, 100, 400. Bahan ditirnbang sebauyak 500 gram dan
diletakkan pada bagian paliug atas dali sieve, lalu dilakukan penya~iugau bahan yang
teitinggal pada tiap sai-iugan. Kadar kehalusan dapat diuknr sepeiti pada Tabel 5
Tabel 5. Cara Pengukuran Kadar Kehalusan
Nomor peijanjian German sieve Jumlah c~unzble % crunzble tiap
nunzber yang tertinggal sariugau
... 7 4
...
6 8...
... ......
5 16 ... 4 30 ... ... 3 50 ......
... 2 100...
...
1 400...
...
0 Penaqung Total 500 gram 100 %Kadar kehalusan bahan diketahui setelah didapatkan d m diperhituugkan
dengan nomor pe rjanjiau besar sampel (%) pada setiap mesh, dengau rumus:
x("hx ~opeljaujiau)
Kadar kehalusau =
100
Besar nilai crumble dapat dikategorikan kedalam nilai kadar kehalusau (KK)
dengau ketentuan sebagai berikut:
1. Niiai kadar kehalusan 4.1 - 7.0: kategori bahau kasar
2. Nilai kadar kehalusan 2.9 - 4.1: kategoli bahan sedaug
3. Niiai kadar kehalusau 0 - 2.9: kategori bahan halus
Ukuran keseragaman diumuskan sebagai perbandigan Kasar : Sedang :
Halus.
Ulcl~rau pei-tikel rata-rata d i t u u g dengan iumus :
Ukuran pa~tikel rata-rata = (0.0041) x
zK"
x 24.5 mn (Tyler, 1959)Ketahanan Benturan Crumble (Balagopalau et al., 1988)
Ketahanan cr7mtble terhadap benturan diukur dengan cara menjaiuhkan
cru~~zble dari ketiuggian 1 meter pada lempeng besi setebal 2 m. Crumble
dijatuhkan secara bersamaan dengan berat 500 gram, lalu cUakukan penyaiiugan dengau vibrator ballniill german the sieve analisis dan p e h b a u g a u .
b a n ketabanan cruntble dimmuskan:
Berat crunzble utuh setelah d i j a u a n
%
% Ketabanan Benturan Crunzble =
Berat crumble awal
Rancangan Percobaan
Rancangan percobaau yang digunakan adalab Rancangan Acak Lengkap
r
(RAL) yang perlakumya berpola faktorial4 x 4 dengan pengulangan 5 kali. Faktor
i
A adalah lama pengukusan yaitu :
-.
A, : tanpa pengukusan
A2 : pengulcusan selama 15 menit
A3 : pengukusan selama 30 menit
& : pengukusan selama 45 menit
Faktor B adalah level substitusi dedak padi denganpollard yaitu :
B, : 15 % dedak padi tanpa pollard
BZ
: 5 % pollurd+
10 % dedalc padiB3 : 10 %pollard
+
5 % dedak padiB4 : 15 % pollurd tanpa dedak padi
Metode analisis iui menggunakan model matematik (Steel and Tollie, 1991)
sebagai bel-ikut:
keteraugau :
Yijk = Pengamatan pada unit eksperimen ke-k dengan lama peugukusau ke-i dan
level substitusi dedak padi denganpollard ke-j
a i = Peugamh peugukusan ke-i
pj = Peuga~uh level substitusipollard ke-j
(ap)ij = P e n g a d faktor interaksi peugukusan ke-i dan level substitusipollard ke-j
~ i j k = Pengaiuh galat ekspe~imeu ke-k dengan pengukusan ke-i dau level
substitusi pollard ke-j
Data yaug terkumpul diaualisis dengan sidik ragam (ANOVA) dau jika
HAS= DAN PEMBAHASAN
Sifat Fisik
Kadar Air
Hasil analisa dali pengnkwan kadar air berkisar antar 8.79 % sampai
13.53 %, nilai tersebut memenuhi persyaratan mutu pakan bahwa kadar air
maksimum uutuk ransum uuggas adalah 14 % (SNI, 1995).
Pengal-uh pengukusan (faktor A), level substitusi dedak padi deugan pollard (faktor B) dan iuteraksi antar kedua faktor tersebut berdasarkan sidik_-ragam menunjukkan p e n g a d yang sangat nyata (P<0.01) terhadap kadar air crunzble
(Lampiran 1). Berdasarkan uji Dullcan maka diperoleh nilai rataan kadar air
(Tabel 6) teltiuggi uutuk perlakuan pengukusan (Faktor A) adalah pengukusai~
selama 30 menit (A3). Nilai kadar air yang terendah adalah tanpa perlakuan
peugukusan (At) dengan hasil tidak berbeda nyata dengan pengukusan selama 15 menit (Az).
Berdasarkau level substitusi dedak padi dengau pollard (faktor B) nilai rataau
kadar ail. tertiuggi ditunjukkan oleh rausum yang terdiri dali 10 % dedak padi
+
5 %pollurd (Bz), hasiluya tidak berbeda nyata dengan ransum yang terdiri dari 15 %
dedak padi tanpa pollard (B,). Nilai rataan kadar air terendah ditunjukkan oleh
r a n m yang terdiri dari 5 % dedak padi
+
10 %pollard (BJ).Nilai rataan kadar air tertinggi berdasarkan interaksi antar faktor A dan B
adalah perlakuan pengukusan selama 30 meuit dan r a n m yang terdiri dari 10 %
A3Bz tersebut tidak berbeda nyata dengan perlakuan pengukusan selama 30 m e i t
dan ransum yang terdiri dari 15 % dedak pa& tanpa pollard (A3B1) dan pengukusan
selama 45 meuit d m ransum yang terdiri dari 10 % dedak pa&
+
5 %pollard (A&)dengan nilai masing-masing sebesar 13.11 % dan 13.06 %. Niai terendah
ditunjukkau oleh perlakuau pengukusan selama 45 menit d m ransum yang terdui dari
5 % dedak padi
+
10 %pollard (&B3) dengan nilai rataan sebesar 8.79%.Tabel 6. Rataan Hasil Analisis Kadar Air (%)
Waktu p engukusan Level substitusi dedak padi denganpollard -.
( meuit) B1 B2 B3 B4 Rataan
Rataau 1 1 . 7 7 ~ 1 2 . 0 6 ~ 10.39m 11.24'
Keterangati : Superscript yang berbeda meilul~jukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0.01)
B1= 15 % dedak padi tanpa pollard
B2= 10 % dedak padi + 5 % pollard
B3= 5 % dedak padi + 10 %pollard
B4= I 5 % pollard tanpa dedak padi
Nilai kadar air yang tiuggi terdapat pada perlakuan yang mengalami pengukusan kelnuugkiuan karena saat dilakukan pengukusan grauula membeugkak kemudian setelah crunzble mengalami pendigiuan sebagian air masih berada di luar
granula yang membengkak. Air tersebut akan lnengadakau ikatan yang erat dengan
molekul-molekul pati pada p e d a a n butir pati yang membengkak. Sebagian air pada pasta yang telah dimasak tersebut berada dalam rongga-rongga jariugan yang
terbentuk dari butir pati dan endapan amilosa, sehingga crui17ble yang dihasilkan berkadar air tinggi.
Rataan nilai kadar air yang terendah untuk interaksi antar faktor A dan B
yaitu pada perlakuan A4B3. diduga karena ransum yang terdiri dari 5 % dedak padi
+
10 % pollard pada pengukusan selama 45 menit telah mengalami pembengkakan
granula pati yang luar biasa kemudian pecah dan pada saat tersebut granula pati tidak
dapat kembali pada kondisi semula (irre~~ersib/e). Harper (1979), menyatakan bahwa
penambahan air akan memisahkan kristal amilosa dan mengacaukan strukturnya, kemudian dengan adanya pemanasan granula pati membengkak luar biasa. Semakin lama pemanasan dan semakin banyak penambahan air, amilosa mulai tersebar keluar dari granula dan pati tersebut tidak dapat kembali seperti kondisi semula. Pecahnya
granula menyebabkan tidak terbentuk rongga-rongga yang akan dite~npati air pada
bahan. Saat granula pati pecah air akan menguap bercampur dengan uap air
pengukusan dan menyebabkan kadar air yang dihasilkan crrrn7ble rendah.
K a d a r Kehalusan
Rataan nilai uji kadar kehalusan (Tabel 7) berkisar antar 5 83 sampai 6 05
Menurut Tyler (1959) bahwa rataan nilai kadar kehalusan yang berkisar antar 4 1-7 0
dikategorikan kasar, jadi cl-rilnble dalam penelitian ini termasuk kategori kasar. Berdasarkan hasil sidik ragam dari waktu pengukusan (faktor A), level substitusi dedak padi dengan pollard (faktor B) dan interaksi antar kedua faktor tersebut menghasilkan pengaruh yang sangat nyata (P<0.01) terhadap kadar
3
teitinggi berdasarkan waktu pengukusan (faktor A) dihasilkan oleh pengukusan
selama 45 menit (&) tapi tidak berbeda nyata dengan pengukusan selama 30 menit
(A3).
Tabel 7. Rataan Hasil Pengukuran Kadar Kehalusan.
Waktu pengukusan Level substitusi dedak padi denganpollurd
( menit) B1 B2 B3 B4 Rataan
Rataan 5.99K 5.97' 5.96' 5.96'
Keteraagan : Superscript yang berbeda menulljukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0.0 1)
B 1= 15 % dedak oadi tanoa vollard
B2= 10 % dedak padi + 5
36
pollard B3= 5 % dedak padi + 10 % pollardB4= 15 % pollard tanpa dedak padi
Besdasaskau level substitusi dedak padi dengall pollurd (faktor B) hasil rataan
teitiuggi ditunjukkan oleh ransum yang mengandung 15 % dedak padi tanpa pollard
(Bl). Nilai rataan kadar kehalusan te~tinggi berdasarkan iuteraksi faktor A dan B
dicapai oleh perlakuan pengukusau selama 45 menit dan rausum yang tesdiri daii
15 % dedak padi tanpa pollurd (A4B1).
Rataan ukuran paitikel crunzble berkisar antar 0.59 cm sampai 0.69 cm. Pengamh pengukusan (faktor A), level substitusi dedak padi dengan pollurd (faktos B) dan interaksi antar kedua faktor tersebut menghasilkan perbedaan yang sangat
Duncan nilai rataan ukuran paitikel (Tabel 8) tertinggi berdasarkan waktu
pengukusan (faktor A) dituujukkan oleh pengukusan selama 45 menit (&) tapi tidak
berbeda nyata dengan pengukusan selama 30 menit (A3).
Niai rataan &an partikel crunzble tertinggi berdasarkan level substitusi
dedak pa& dengan pollard (faktor B) dicapai oleh ransum yang terdui dari 15 %
dedak padi tanpa pollard (Bl), sedangkau berdasarkan interaksi antar faktor A dan B
Inaka nilai k a n paitikel tertinggi dituujukkan oleh perlakuan pengukusan selama
45 meuit dan ransum yang terdiri d a ~ i 15 % dedak padi tanpa pollard (&B1).
, Semakiu tiuggi nilai u h a n partikel maka crunzble utuh yang dihasilkan akau lebh
bauyak
Tabel 8. Rataan &an Paitikel Crunzble (cm)
Waktu p engukusan Level substitusi dedak padi deuganpollard
( menit) B 1 B2 B3 B4 Rataau
0 ('41) 0.63' 0.61d 0.59' 0.60" 0.61'
15
(4
0.66" 0 . 6 7 ~ 0.66" 0 . 6 6 ~ 0.66'Rataan 0.66" 0.65~ 0.65' 0.65'
Keterangan : Superscript yang berbeda mel~uujukkan perbedaa~~ yalig saugat nyata (Pc0.01)
B 1= 15 % dedak padi tanpa pollard B2= 10 % dedak padi + 5 % pollard
B3= 5 % dedak padi + 10 % pollard
B4; 15 % pollard taupa dedak padi
Ransum yang mengalami perlakuan pengukusan meaghasilkan kadar kehalusan dau ukuran paitike1 yang lebih tinggi dibandingkan yaug tidak lnengalami
pengukusan. Hal tersebut karena pengukusan mengakibatkan terjadiuya gelatiuisasi, saat tersebut granula mengembang dau cendemg untuk saling berikatan membentuk gel (Meyer, 1951). Gel yang terbentuk akan mengikat komponen bahan ransum sehingga crunzble yang &asilkan tidak mudah hancur atau mengalami pengikisan selama pemiudahan,
Berat Jenis
Hasil sidii ragam menunjukkan, waktu pengukusan (faktor A) dan iuteraksi antar faktor A dan faktor B tidak berbeda nyata, sedangkan level substitusi dedak
-.
dengan pollurd (faktor B) berpengald sangat nyata (WO.01) terhadap uilai berat jeuis (Lampkan 4). Nilai rataan berat jeuis (Tabel 9) teitiuggi ditunjukkan oleb
ransum yang terdiri dari 5 % dedak padi
+
10 % pollurd (B3), tetapi perlakuautersebut tidak berbeda dengan perlakuan yang mempunyai komposisi r a n m dengan
komposisi 15 % pollard taupa dedak padi (B4). Ransum yang terdini dari 15 %
dedak padi tanpa tambahanpollard (B,) mell~iliki d a i berat jeuis terei~dah.
Tabel 9. Rataan Hasil Pengukuran Berat Jenis (g/cm3)
Waktu pengukusan Level substitusi dedak padi deugaupollard
( menit) B1 B2 B3 B4 Rataar~ 0 ('41) 1.25 1.35 1.37 1.39 1.34 15 ('42) 1.31 1.33 1.37 1.37 1.35 30 (A3) 1.30 1.34 1.35 1.32 1.33 45 (A4) 1.30 1.33 1.47 1.39 1.37 Rataan 1.29" 1.34" 1.39" 1.38'~
Keterangan : Superscript yang berbeda menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<O.01) B1= 15 % dedakpadi tanpapollard
B2= 10 % dedak padi
+
5 % pollardB3= 5 % dedak padi
+
10 % pollardPerbedaau nilai berat jeuis pada peuelitiau hi disebabkau pollard mempuuyai stluktw kimia bahau dengau kanduugan kalsium (Ca) yaug lebih besar (0.14%)
dibaudillgkau dengau dedak padi (0.07%). Hal hi menyebabkau kauduugan Ca
rausum yaug ditambahkan pollard meniugkat sehingga karakteristik ransum meujadi
lebih berat. Suaduyaua (1998), meuyatakau bahwa reudalmya berat jeuis
bahau tidak terlepas dari susunan struktur kimia bahau yaug mempuuyai kandungau
Ca yaug reudah sehiugga karakte~istik bahau tersebut reudah. Semakin tiuggi berat
jeuis akan meningkatkau kapasitas dalam ruang peuyimpanan dau akau memudahkau peugaugkutau. Peuyimpauan dalam wadah lebih efektif karena akan memndahkau peugangkutan.
Kerapatan Tumpukan
Hasil sidii ragam menuujukan bahwa waktu peugukusan (faktor A), substitusi dedakpadi deuganpollar-d (faktor B) dan iuteraksi autar kedua faktor tersebut mernbeii peugaruh yaug sangat nyata (P<0.01) terhadap kerapatau tumpukan (Laulpjl.an 5).
Berdasarkau uji lai~jut Duucau diperoleh uilai rataau kerapatau tumpukan
(Tabel 10) teitiuggi uutuk lama peugukusan (faktor A) dituujukkau pada peugukusan
selama 15 menit (Az) dan nilai rataau tereudah dengau peugukusau selama 30 m e i t
(A3). Berdasarkan level substitusi dedak padi dengan pollard (faktor B) nilai rataan
tertiuggi ditunjukkau oleh ransum yang terdiri dari 5 % dedak padi
+
10 % pollard(B3) dau nilai rataan tereudah dituujukkau oleh rausum yaug meuganduug 15 %
Berdasarkan iuteraksi antar faktor A dau B, perlakuan peugukusan selama 45
menit dau ransum yaug terdiri dari 5 % dedak padi
+
10 % pollard (AB3)mempunyai d a i rataan kerapatau tumpukau terbesar yaitu 0.739 g/cm3, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan pengukusan selama 15 menit dan ransum yang terdiri dari dari 5 % dedak padi
+
10 % pollard (A&) dengan ldai rataau sebesar0.733 g/cm3. Hal ini menuujukkan bahwa perlakuau A B 3 dan perlakuan A2B3
membutuhkan luaug penyimpanan yang paling kecil dibaudigkau dengan perlakuan laiuuya, karena pada perlakuan pengukusan terjadi proses gelatiuisasi s e h g g a crunzble yang terbeutuk akan menjadi kompak dan padat
Tabel 10. Rataau Peugukuran Kerapatau Tumpukan (g/cm3)
Waktu pengukusan Level substitusi dedak padi deuganpollard
( meuit) B1 B2 B3 B4 Rataan
Rataau 0.684m 0.693' 0.71 1".694'
Keterangan : Superscript yang berbeda menunjukkan perbedaan yaug s a n g t llyata P 0 . 0 1) B1= 15 % dedak padi taupapollard
B2= 10 % dedak padi + 5 % pollard
B3= 5 % dedak padi + 10 % pollard
B4= 15 % pollard tanpa dedak padi
Penuruuau uilai kerapatan tumpukau teiutama pada perlakuan pengukusan
disebabkan oleh kadar air crumble (Tabel 6). Semakin tiuggi kadar air
,
maka ililaimenyebabkan volume iuang yang dibutuhkan kecil karena berat crumble beitambah,
sedaugkan nilai kerapatan tumpukan yang rendah berpengaiuh sebalikuya.
Menurut Ruttloff (1981) d a h z Suadnyana (1998), bahau dengau kerapatan tnmpukan rendah (450 kg/m3) membutuhkan waktu jatuh dan mengalir lebih lama sehhgga dapat ditimbang dengan teliti menggunakan alat penakar otomatis, sedaugkan dengan kerapatan tumpukan yang tinggi (500 kg/m3) bersifat sebalilaiya. Niai rataan kerapatan tumpukan crunzble dalam penelitiau ini berkisar antar 0.677 g/cm3 sampai 0.739 &m3 tergolong tinggi sehingga kuraug teliti jika
ditimbang deugan peuakar otomatis. . .
Kerapatan Pemadatan Tumpukan
Hasil sidik ragam menunjukan bahwa waktu pengukusan (faktor A), substitusi dedakpadi denganpollard (faktor B ) dan interaksi antar kedua faktor tersebut me~nberi peugaiuh yang sangat nyata (P<0.01) terhadap kerapatan pemadatan tumpukau (Lampuau 6). Berdasarkan lama peugukusan (faktor A) d a i rataau kerapatan pe~nadatan tumpukau (Tabel 1 1 ) teitinggi dituujukkan oleh perlakuan peugukusan selama 15 meuit (A2) dan nilai tereudah yaitu deugan peugulcusan selama 30 menit (A3).
Berdasarkan level substitnsi dedak
padi
dengan pollard (faktor B ) d a i rataau teitinggi dicapai dengau foimnlasi 5 % dedak padi+
10 % pollard (B3) dan nilairataan tereudah dihasilkan oleh ransum yang terdiri dari 15 % dedak padi tanpa
pollard (B,). Nilai rataan te~tinggi berdasarkan interaksi antar faktor A dan B
5 % dedak padi
+
10 % pollard (.A&) yaitu sebesar 0.803 g/cm3. Semakin tiuggi uilai kerapatan pemadatan twnpukan maka volume iuang yang ditempati cru~rzble meujadi lebih kecil.Tabel 11. Rataan Pengukulan Kerapatan Pemadatau Tumpukati @cm3)
Waktu peugukusau Level substitusi dedak padi deuganpollard
( meuit) B1 B2 B3 B4 Rataau
45 (A4) 0 . 7 3 6 ~ ~ 0.738'~ 0.803" 0.739' 0.754"
Rataan 0.733n 0.743" 0 . 7 6 7 ~ 0.748'
Keteraugan : Superscript yang berbeda menunjukkan perbedaan yang sangat uyata (P<0.01) B1= 15 % dedak padi tanpa pollard
B2= 10 % dedak padi + 5 % pollard B3= 5 % dedak padi + 10 % pollard
B4= 15 % pollard tanpa dedak padi
Kerapatan turnpukan dau lcerapatau pemadatan tumpukan dari hasil penelitian
iui ceudeiuug member-ikan korelasi positg semaki~l tinggi ldai kerapatan tumpukan maka kerapatan pemadatan tmpukau akau semakilr tiuggi dan sebalikuya. Menurut HoBGna~ul (1997), tingkat pemadatau selta densitas baban sangat menentukan kapasitas dan akurasi pengisiau tempat pe~iyimpauau seperti silo, kontaiuer dan kemasau.
Sudut Tumpukan
Hasil sidik ragam sudut turnpukan meumjukan bahwa waktu peugukusau (faktor A) memberi pengar& yang sangat uyata (P<0.01), interaksi antar faktor A
dan faktor B berpengaruh nyata (P<0.05), sedangkan substitusi dedak padi deugau
pollard (faktor B) tidak berpengaruh nyata (Lampiran 7).
Tabel 12. Rataan Haid Pengukuran Sudut Tmpukan ( O )
Waktu pengukusan Level substitusi dedak padi dengan pollard
( menit) B1 B2 B3 B4 Rataan
0 (All 3 1 . 9 ~ ~ 31.66" 33.37b 33.55" 32.39'
45 (A4) 29.03' 29.59' 29.24" 29.01" 29.22"
-.
Rataau 29.99 29.94 30.06 30.18
Keterangan : Superscript yang berbeda uutuk interaksi menu~ijukkan perbedaan yang tlyata OJ<0.05) Superscripf yaug berbeda orttuk faktor A ~nerrnn~jukkan perbedaan yang sangat 11yata (P<O.Ol)
B1= 15 % dedak padi tanpapoNard
B2= 10 % dedak padi + 5 % pollard
B3= 5 % dedak padi + 10 %pollard
B4= 15 % pollord tanpa dedak padi
Berdasarkan lama pengukusan (faktor A) llilai rataan sudut tumpukan (Tabel
12) teltiuggi ditunjukka oleh perlakuan yang tidak mengalami pengukusan (Al).
Niai terendah diperoleh dengau pengukusau selama 30 menit (A3), tetapi tidak
berbeda nyata deugau pelakuau selama 15 menit (Az) dau 45 inenit
(4).
Niai sudut m p u k a n teithggi berdasarkan hteraksi autar falctor A dau B
ditunjukkan ole11 perlakuan taupa pengukusan dan ransum yang t e ~ d u i dari 15 %
pollard tanpa dedak padi (AIB~) yaitu sebesar 33.55". Bahan atau crunzble yang
mempunyai sudut t u q u k a n tinggi akan mengurangi kecepatan aliran crunzble dan
akan menyatu s e h g g a crunzble tidak bebas bergerak (Geldait et al., 1990). SeIain
aliran telusau, akibat ha1 tersebut maka diperlukau proses peugadukau di dalam silo agar bahan bisa mengah, sehiugga mekanisme kerja dalam iudustri tidak efisieu (Wiiam, 199 1; RuttloE, 1981 dalanz Suadnyaua 1998).
Nilai sudut tumpukan terendah ditunjukkan oleh perlakuan pengukusan
selama 45 meuit deugau fonnulasi 15 % pollard (&B4), hasiluya tidak berbeda nyata
dengan semua perlakuan yang mengalami pengukusan. Sudut t u q u k a u yang rendah akan meuyebabkan crunzble semakin bebas bergerak sehingga memudahkau laju aliran crunzble, tuiuuuya bahan menjadi serentak dan meningkatkan keakuratau saat dilakukan peuimbangan. Menuut Ruttloff (1981) dalanz Suadnyana (1998);allabila sudut tumpukan yang terbentuk kecil bahau tidak mudah tercecer pada saat peugangkutau.
Perbedaau sudut tumyukau dipengaiuhi oleb kadar kehalusau (Tabel 7) dau
ukuran pa~tikel crunzble (Tabel 8), semakiu kecil ukuran paltikel dau kadar
kehalusan crunzble maka sudut t u q u k a n yang terbe~ituk akau semakiu besar, ha1 iui
sesuai deugan peudayat Gautama (1998) bahwa pengecilan uktirau altan meuiugkatkan llilai sudut tumpukan pakan.
ICetahanan Benturan
Hasil sidik ragam uji ketahanan beuturau (Lampiran 8) menuujukan bahwa
waktu pengukusau (faktor A), substitusi dedak padi deugau pollard (faktor B) dan
iuteraksi autar kedua faktor tersebut memberi p e n g a d yang sangat uyata (P<0.01).
Berdasarkau uji jarak Duucau diperoleh rataan llilai ketahanau bentuau (Tabel 13)
tidak berbeda uyata dengau peugukusau selalna 30 meuit. Nilai tereudah diperoleh deugau perlakuau yaug tidak meugalami peugukusau (AI).
Berdasarkan level substitusi dedak padi deugan pollard (faktor B) nilai rataau
tertinggi dicapai deugan formulasi 10 % dedak padi
+
5 % pollard (Bz), hasiluyatidak berbeda uyata deugau perlakuan 15 % pollard taupa dedak padi (B4) dan
r a u s m yang terdiri dari 5 % dedak padi
+
10 % pollard (B3). Nilai rataau tereudahdihasillcan oleh ransum yang terdiri dari 15 % dedak padi taupa pollard (B1).
Nilai ketahauau beuturau tertiuggi berdasarkan interaksi autar faktor A dau B
dicapai oleh perlakuan A B 3 dengau uilai sebesar 100 %, tetapi tidak berbeda- uyata
deugau perlakuau yaug meugalami peugukusau kecuali A2B1. Hal iui menunjukkau bahwa perlakuau yaug meugalami peugukusau kecuali A2B1 hauya sedikit mengalami
peugikisan atau pecah setelah crunzble tersebut dibeuturkan.
Tabel 13. Rataau Hasil Uji Ketahauau Beuturau Crulizble (%)
Waktu peugukusan Level substitusi dedak padi deugaupollard
( meuit) B 1 B2 B3 B4 Rataau
0 ('41) 9 ~ . 2 3 ~ 99.02' 9 ~ . 3 6 ~ 99.41d 98.51'
Rataau 99.30' 99.61" 99.53" 99.61"
Keteraligan : Superscript yang berbeda meuunjukkan perbedaan yang sailgat nyata (P<0.01) B1= 15 % dedakpadi tanpapollard
B2= 10 % dedak padi
+
5 % pollardB3= 5 % dedak padi + 10 % pollard B4= 15 % pollard tanpa dedak padi
Nilai ketahauan benturau crurnble komersial sebesar 99.71 % (Lampiran 9).
Jika crumble komersial digunakau sebagai pembauding, maka uilai ketabauau
benturau crunzble uutuk interaksi autara pengukusau d m substitusi dedak padi deugan
pollard memiliki nilai yaug lebih tiuggi kecuali perlakuau A2BI.
Pengukusan menyebabkau terjadinya pengembangan granula pati deugan cara masuknya molekul-molekul air berpenetrasi kedalam granula dan tertangkap dalam struktur molekul amilosa dan amilopektin, grauula akan kehilangan kekompakau ikatau dau kelarutamya akau meningkat karena tejadi pembebasau molekul amilosa yang mempuuyai derajat poherisasi reudah. Grauula akan menalik komyonen-
kompoueu lain pada bahau tersebut (Cullison, 1968 dan Wiuamo, 1995), sehiugga
Hubungan Antar Sifat Fisik
Hubungan ukuran partikel dan sudut tumpukan crumble (Gambar 3)
cenderung memberikan korelasi negatif, dengan keeratan hubungan sebesar 92.5 %.
Semakin besar ukuran partikel Inaka sudut tumpukan crumble menjadi kecil. Ukuran partikel yang besar cenderung bersifat adhesive sehingga saat crumble dicurahkan maka crumble tersebut akan menyebar. Hal ini sesuai dengan pendapat Suadnyana (1998) yang inenyatakan bahwa semakin besar ukuran partikel maka sudut tumpukan yang terbentuk aka11 senlakin kecil sebab daya ikat rendah sehingga bahan akan
semakin bebas bergerak. Sebaliknya semakin halus ukuran partikel maka crumble .. .
akan menyatu atau bersifat kohesive dan mempunyai daya alir yang rendah karena
~... . . . ~~~- -. . . . ... -
Hubungan Antara Ukuran Partikel dan Sudut !
Tumpukan 34
+-2
y = - 5 1 . 9 6 1 ~ + 64.072 33-
.
.
R' = 0.9248 32 \ Y 4-.*
2 31 \-
.
30.
+
U 2 29 D$ 3 .
.
2
28.
. . . . ~ 27 0.58 0.6 0.62 0.64 0.66 0.68 0.7 i I Ukuran Partikel (cm)crunzble tidak bebas bergerak, sebagaimana Schulze (1996) menyatakan bahwa
s e m a h halus ukuran partikel maka kontak antar permukaan partikel menjadi lebih
dekat sehingga bahan menjadi kohesive.
Nilai sudut tnmpukan iui selain berpengaruh terhadap kebebasan partikel
bergerak dan belpengaiuh pada saat pengangkutan, nilai sudut tnmpukan juga beiperan dalam mendesain corong pemasukan (hopper) atau corong pengeluaran,
misaluya pada silo atau pada mesin pengolah. Jika nilai sudut tnmpukan suatu bahan
tinggi sebaiknya pembuatan desain mulut corong dibuat lebih besar agar tidak terjadi
penyunbatan di dalam corong. .. .
Hubungan antar kadar air dan kerapatan tumpukan crunzble (Gambar 4 )
membeii hasil yang berkorelasi negatif, tetapi keeratan hubungannya hanya sebesar
58.6 %. Kerapatan akan menulw dengan semakin meningkatnya kandungan ail.
sehingga volume ruang yang dibutuhkan menjadi besar s e h g g a kapasitas bahan
pada tempat penyimpanan sepeiti silo, kontainer dan kemasan akan berkurang, ha1
iui sesuai dengan pendapat Suadnyana (1998) yang menyatakan bahwa idai
kerapatan tumpukan menurun dengan semakin meniagkatnya kandungan air sehingga
volume luang yaug dibutuhkan meujadi besar. @a& hubungan antar kadar air dan
kerapatan tnmpukan ditunjnkkan Gambar 4.
Kerapatan pemadatan tumpukan mempunyai hubungan yang negatif dengan
kadar air, p e n m a n kadar air menyebabkan uilai kerapatan pemadatan tumpukan
yang dihasilkan m n m . Keeratan hubungan antar kadar air da~i kerapatan
pemadatan tumpukan hanya sebesar 52.6 %. Grafik hubungan antar kadar air dan
Hubungan Antara Kadar Air dan Kerapatan Tumpukan
'
0.750 ; I 0.740 2I
! 4 i2
0.730 i 4 E 0.720'
\ x 4 .h Y = - 0 . 0 1 1 1 ~ + 0.8211 0.690 R' = 0.5864 ! 0.680 4 $ 0.670 ; 0.660 - . ~ . . ~ . . . . 0 5 10 15i
Kadar Air iI
I
Ga~nbar 4. Grafik Hubungan Antar Kadar Air dan Kerapatan Tu~llpuka~l
... . - - . ~. . ~ ~ ~ . .~~ . ~ .
I Hubungan Antara Kadar Air dan Kerapatan
i
IPemadatan Tumpukan !
Kadar Air
I(ES1MPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Pengukusan berpengaruh terhadap uji sifat fisik dan ketahanan benturan
crunzble, lcarena terjadi proses gelatinisasi sehingga dihasilkan crunzble yang
kompak, padat dan tidak mudah rapuh. Hasil yang terbaik ditunjukkan oleh
perlakuan pengukusan selana 45 menit.
Ransunl yang menggunakan 10 % pollard
+
5 % dedak padi yang mengalamipengukusan selama 45 menit ~nenghasilkan sifat fisik dan ketahanan bentwan terbaik.
Saran
1. Perlu dilakulcan uji gelatinisasi untuk mengetahui derajat gelatinisasi.
2. Disarankan dari hasil sifat fisik dan ketahanan benturan crunzble terbaik
dilanjutkan ke arah feeding trial pada ayam broiler.
3. Perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui daya si~upan ransum bentulc crunzble
setelah proses pengukusan.
4. Sebaiknya dianalisa kandungan nutrisi ransuln sebelun~ dan sesudah pengukusan.
5. Bagi industri yang menggunakan farnz pelleter bila ~nenggunalcan pollard disarankan untuk ~nelakukan pengukusan selama 45 lnenit agar memudalkan penanganan, pengangkutan dan memperkecil volunle ruang yang ditempati, keuntungan optimal dapat dicapai.
6 . Penlakaian pollard pada ransunl ayam broiler dianjurkan pada saat tertentu
misalnya kesulitan mendapatkan dedak padi atau saat harga dedak padi lebih