• Tidak ada hasil yang ditemukan

LEMBARAN DAERAH KOTA DUMAI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LEMBARAN DAERAH KOTA DUMAI"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

KOTA DUMAI

LEMBARAN DAERAH

KOTA DUMAI

Nomor : 12 Tahun 2008 Seri : B Nomor 06

Hasil Rapat Bersama DPRD Tanggal 21 Juli 2008

PERATURAN DAERAH KOTA DUMAI NOMOR 12 TAHUN 2008

TENTANG

IZIN USAHA PETERNAKAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA DUMAI,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka melaksanakan pengaturan

terhadap perorangan atau badan hukum yang mengelola usaha peternakan maka perlu diberi izin untuk melaksanakan suatu usaha peternakan; b. bahwa sektor usaha peternakan merupakan salah

satu faktor penunjang yang penting dan perlu diselenggarakan dengan tertib dan teratur sehingga dapat diperoleh ternak dan pangan asal hewan yang baik dan sehat;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana

tersebut pada huruf a dan b dipandang perlu menetapkan izin usaha peternakan dengan suatu Peraturan Daerah.

(2)

Mengingat : 1. Undang-Undang nomor 6 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1967 Nomor 10,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2824 );

2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang

Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3495);

3. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang

Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 256, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3482);

4. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang

Pangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 99, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3656);

5. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 Tentang

Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3685) sebagaimana telah di ubah dengan undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4019);

6. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang

Perlindungan Konsumen ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomo) 33, Tambahan lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3817);

7. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang

Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5489);

(3)

8. Undang - Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir, dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

9. Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1977 tentang Penolakan, Pencegahan, Pemberantasan dan Pengobatan Penyakit Hewan (Lembaran Negara Tahun 1977 Nomor 20 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3101);

11. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1977 tentang Usaha Peternakan (Lembaran Negara Tahun 1977 Nomor 20 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3101);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1983 tentang Kesehatan Masyarakat Vateriner (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 28, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3253); 13. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1987 Tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintah Dalam Bidang Kesehatan Kepada Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1987 Nomor 9, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3347); 14. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2007 tentang Pengesahan, Pengundangan, dan Penyebarluasan Peraturan Perundang-undangan;

(4)

15. Peraturan Daerah Kota Dumai Nomor 14 tahun 2005 tentang Organisasi Tata Kerja Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kota Dumai.

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA DUMAI dan

WALIKOTA DUMAI MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG IZIN USAHA PETERNAKAN

BAB 1

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan: 1. Daerah adalah Kota Dumai.

2. Pemerintah daerah adalah pemerintah Kota Dumai. 3. Walikota adalah Walikota Dumai.

4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah Dewan

Perwakilan Rakyat Daerah Kota Dumai.

5. Dinas teknis adalah Institusi yang berwenang

menangani Bidang Kehewanan, Kesehatan Hewan dan Peternakan.

6. Kepala Dinas adalah Kepala Institusi yang menangani Bidang Kehewanan,Kesehatan Hewan Dan Peternakan.

7. Usaha Peternakan adalah suatu usaha yang

dijalankan baik oleh perorangan atau badan usaha secara teratur dan terus menerus pada suatu tempat dan jangka waktu tertentu untuk tujuan komersil yang meliputi kegiatan membudidayakan ternak dan menggemukkan ternak, termasuk antara lain kegiatan menyimpan, mengolah, mendinginkan, mengawetkan dan mengangkut bahan asal hewan dan hasil bahan asal hewan.

(5)

8. Perusahaan Peternakan adalah perusahaan yang melakukan kegiatan usaha peternakan yang dilakukan oleh Warga Negara republik Indonesia atau Usaha Badan Hukum Indonesia.

9. Izin Usaha Peternakan atau disingkat IUPt adalah izin tertulis yang diberikan Walikota atau Pejabat yang ditunjuk yang memberikan hak dalam melaksanakan usaha peternakan.

10. Lalu Lintas adalah aktivitas pemindahan atau pengiriman hewan, ternak, bahan asal hewan dan hasil bahan asal hewan dari dan ke suatu wilayah kabupaten/kota, propinsi ke wilayah kabupaten/ kota, propinsi lainnya maupun antar negara; 8. Hewan adalah semua binatang atau satwa yang

seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di darat dan/atau di udara baik yang dipelihara maupun yang di habitat alam;

9. Ternak adalah hewan selain satwa liar yang produknya diperuntukkan sebagai penghasil pangan, bahan baku industri, jasa-jasa dan atau hasil-hasil ikutannya yang terkait dengan pertanian;

10. Bahan asal hewan adalah produk dari hewan dan atau ternak yang dimanfaatkan untuk keperluan manusia seperti daging, susu dan telur;

11. Hasil bahan asal hewan adalah produk dari hewan yang telah dilakukan pengolahan;

12. Dokter hewan adalah mereka yang dididik dan berijazah dokter hewan yang diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia;

13. Dokter hewan berwenang adalah dokter hewan yang bertanggung jawab terhadap seluruh fungsi bidang kesehatan hewan, yang meliputi pengamatan penyakit hewan, pencegahan dan pemberantasan penyakit hewan, pengesahan diagnosa, pembinaan kesehatan masyarakat veteriner dan pengawasan obat hewan di wilayah Kota Dumai;

(6)

14. Petugas yang berwenang adalah pejabat pemerintah bagian kesehatan hewan pada Dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan selain dokter hewan;

15. Surat Keterangan Kesehatan Hewan adalah surat yang menerangkan status kesehatan hewan yang diberikan atau dikeluarkan oleh dokter hewan atau petugas yang berwenang setelah dilakukan uji atau pemeriksaan terhadap kesehatan hewan tersebut.

BAB II

MAKSUD DAN TUJUAN Pasal 2

Maksud pemberian Izin Usaha Peternakan adalah :

1. Sebagai pedoman dan landasan operasional,

pengaturan, penertibkan administrasi, mengamankan, menyeragamkan langkah dan tindakan serta memberi jaminan/kepastian hukum, dalam mengeluarkan Izin Usaha Peternakan. 2. Memudahkan kegiatan pengamatan dini,

pemberantasan dan pengendalian wabah penyakit hewan.

Pasal 3

Tujuan pemberian Izin Usaha Peternakan adalah : 1. Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat serta

mencegah terjadinya penularan penyakit dan gangguan kesehatannya lainnya akibat dari kegiatan penampungan dan pemeliharaan ternak.

2. Untuk mendapatkan data dan informasi tentang

(7)

BAB III

WILAYAH USAHA DAN JENIS USAHA PETERNAKAN Pasal 4

Usaha Peternakan dapat dilaksanakan dengan memperhatikan kebijakan Tata Ruang daerah dan memperhatikan budaya lokal dan masyarakat.

Pasal 5

1. Usaha Peternakan terdiri atas :

a. Usaha Pembudidayaan dan Penggemukan Ternak b. Usaha Penyimpanan, Peredaran Hewan, Bahan

asal Hewan dan Hasil Bahan Asal Hewan. c. Usaha Pemotongan Ternak

d. Usaha Pengolahan bahan asal hewan.

2. Usaha peternakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b Pasal ini meliputi jenis kegiatan : a. Penampungan Ternak

b. Perdagangan/Lalu Lintas ternak c. Penjualan Daging, Telur dan Susu. d. Penjualan kulit, bulu, tanduk, tulang.

3. Usaha peternakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf d Pasal ini meliputi jenis kegiatan : a. Pengolahan daging

b. Pengolahan Telur c. Pengolahan Susu

d. Pengolahan kulit, bulu, tanduk dan tulang.

BAB IV

IZIN USAHA PETERNAKAN Pasal 6

Izin usaha Peternakan terdiri atas : a. Izin usaha :

a. Budidaya dan Penggemukan Ternak b. Penampungan ternak.

c. Penyimpanan dan peredaran bahan dan hasil bahan asal ternak.

(8)

d. Pengolahan bahan dan hasil bahan asal hewan. b. Izin Lalu Lintas :

a. Hewan atau Ternak.

b. Bahan dan Hasil Bahan asal Hewan.

Pasal 7

Izin usaha Peternakan di wilayah Kota Dumai hanya boleh diberikan kepada :

1. Perorangan warga Negara Republik Indonesia

2. Badan hukum Indonesia.

Pasal 8

1. Setiap orang atau badan hukum yang melaksanakan usaha Peternakan harus memiliki izin dari Walikota.

2. Untuk mendapatkan izin sebagaimana dimaksud

ayat (1) Pasal ini, harus mengajukan permohonan izin kepada Walikota melalui Dinas Teknis.

3. Setiap permohonan izin akan diadakan peninjauan oleh Pejabat atau tim yang ditunjuk.

4. Untuk mendapatkan izin sebagaimana dimaksud

pada ayat (2) pemohon harus mencantumkan; a. Izin lingkungan;

b. Jenis usaha dan kapasitas;

5. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana di maksud ayat (1), (2), (3) dan (4) di tetapkan dengan Peraturan Walikota.

BAB V

JENIS USAHA DAN MASA BERLAKU Pasal 9

1. Izin Usaha Peternakan sebagaimana dimaksud pada Pasal 4 diberikan menurut jenis/bidang masing-masing usaha yang dilakukan, masing-masing-masing-masing untuk jangka waktu 1 tahun.

(9)

2. Setelah jangka waktu yang ditetapkan habis, maka izin usaha dapat dipertimbangkan untuk diperpanjang atas permintaan pemegang izin yang bersangkutan.

3. Pemegang izin diwajibkan mengajukan izin baru apabila usahanya diperluas.

4. IUPt yang diberikan berlaku untuk 1(satu) jenis atau lebih dari bidang usaha peternakan.

5. Persyaratan dan ketentuan lain dari tiap-tiap jenis atau bidang usaha peternakan ditetapkan lebih lanjut oleh Walikota.

BAB VI

KEWAJIBAN DAN LARANGAN Pasal 10

1. Pemegang izin diwajibkan :

b. Dengan nyata dan sungguh-sungguh menjalankan usahanya sesuai dengan rencana yang telah disetujui Walikota.

c. Memperhatikan dan melaksanakan segala ketentuan dibidang peternakan , pencegahan, pemberantasan dan pengobatan penyakit hewan dan Kesmavet serta ketentuan peraturan perundangan lain yang berlaku. d. Mencegah terjadinya kerusakan atau pencemaran

lingkungan.

e. Menjaga ketertiban, kebersihan, kesehatan dan

keindahan lingkungan tempat usahanya

f. Melaporkan kepada Walikota atau pejabat yang

ditunjuk apabila ada perubahan tempat usahanya. g. Mematuhi setiap ketentuan perundang-undangan

dibidang usaha dan tenaga kerja. 2. Pemegang izin dilarang :

a. Memperluas atau memindah tangankan usahanya

tanpa izin Walikota.

b. Mengalihkan kepemilikannya tanpa izin dari Walikota.

(10)

BAB VII

BERAKHIRNYA IZIN USAHA PETERNAKAN Pasal 11

1. Izin Usaha Peternakan berakhir karena:

a. Jangka waktu yang diberikan telah berakhir b. Diserahkan kembali oleh pemegang izin kepada

yang berwenang sebelum jangka waktu diberikan berakhir.

c. Dicabut oleh yang berwenang disebabkan : (i) Tidak melakukan usahanya secara nyata dalam

waktu 3 (tiga) bulan setelah IUPt dikeluarkan. (ii) Pemegang izin tidak mentaati serta melakukan

ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.

2. Pencabutan izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf (c) Pasal ini diberitahukan secara tertulis kepada pemegang izin dengan menyebutkan alasan-alasannya.

3. Pencabutan izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini didahului dengan peringatan kepada pemegang izin.

BAB VIII PEMBINAAN

Pasal 12

Pembinaan dibidang peredaran hewan,bahan asal hewan dan hasil bahan asal hewan dilaksanakan oleh Walikota.

BAB IX PENGAWASAN

Pasal 13

Pengawasan Ketentuan daerah ini dilaksanakan oleh Walikota melalui Kepala Dinas sesuai bidang tugas berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(11)

BAB X

KETENTUAN PENYIDIKAN Pasal 14

Penyidikan terhadap pelanggaran Peraturan Daerah ini dilaksanakan oleh penyidik umum dan atau penyidik pegawai negeri sipil pemerintah Kota Dumai :

1. Penyidik Pegawai Negeri Sipil dilingkungan Pemerintah Daerah berwenang melakukan penyidikan terhadap tindak pidana pelanggaran dalam Peraturan Daerah ini.

2. Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai wewenang :

a. menerima laporan atau pengaduan dari seseorang mengenai adanya tindak pidana atas pelanggaran Peraturan Daerah;

b. melakukan tindakan pertama dan pemeriksaan ditempat kejadian;

c. menyuruh berhenti seseorang dan memaksa dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka; d. melakukan penyitaan benda atau surat; e. mengambil sidik jari dan memotret seseorang; f. memanggil orang untuk didengar dan diperiksa

sebagai tersangka atau saksi;

g. mendatangkan ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara; h. mengadakan penghentian penyidikan setelah

mendapat petunjuk dari Penyidik POLRI bahwa tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana dan selanjutnya melalui Penyidik memberitahukan hal tersebut kepada Penuntut Umum, Tersangka atau keluarganya;

i. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang akan dipertanggungjawabkan.

3. Penyidik Pegawai Negeri Sipil Daerah tidak berwenang melakukan penangkapan dan/atau penahanan.

(12)

BAB XI SANKSI Pasal 15

(1). Setiap orang atau Badan Usaha yang telah memiliki izin melakukan pelanggaran sesuai dengan Pasal 8 ayat (4), Pasal 10 ayat (1), dan (2), maka Usaha Peternakan itu akan ditutup dan dicabut izinnya. (2). Ketidak patuhan terhadap Pasal 8 ayat (4) dapat

mengakibatkan pencabutan surat izin pengusahaan.

BAB XII

KETENTUAN PIDANA Pasal 16

1. Setiap orang dan/atau badan hukum yang

melanggar ketentuan pada pasal 10 ayat (1) dan (2) diancam pidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).

2. Tindak Pidana sebagaimana dimaksud ayat(1) pasal ini adalah pelanggaran.

BAB XIII

KETENTUAN PENUTUP Pasal 17

Hal-hal yang belum cukup diatur dalam peraturan daerah ini sepanjang menyangkut teknis pelaksanaanya akan di atur lebih lanjut dengan Peraturan Walikota.

(13)

Pasal 18

Peraturan daerah ini mulai berlaku pada tanggal di undangkan.

Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan peraturan daerah ini dengan penempatan dalam Lembaran Daerah Kota Dumai.

Ditetapkan di Dumai

pada tanggal 11 September 2008

WALIKOTA DUMAI, cap/dto, H. ZULKIFLI A.S.

Di undangkan di Dumai

pada tanggal 12 September 2008

SEKRETARIS DAERAH KOTA DUMAI

cap/dto,

H. WAN FAUZI EFFENDI

Pembina Utama Muda NIP. 010055541

Referensi

Dokumen terkait

P.6/ Menhut-I I / 2007 tentang Rencana Kerja, Rencana Kerja Tahunan Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Dalam Hutan Alam dan Restorasi Ekosistem Dalam Hutan Alam Pada Hutan

Kelompok Kerja Pengadaan Barang/Jasa Pada Dinas Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang Kabupaten Gayo Lues Tahun Anggaran 2017. Fitra Yuni, S.T

Dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 beserta perubahannya dan mengacu kepada Dokumen Pengadaan serta berdasarkan Berita Acara

Unduh audio pelajaran gratis di NHK

Dari definisi-definisi di atas dapat dikemukakan bahwa pemasaran adalah proses yang melibatkan analisis, perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian yang mencakup barang dan jasa,

Selama proses persalinan di Rs Arofah terdapat penyulit yaitu selama kala I kontraksi tidak teratur dan lemah sehingga dilakukan Oksitosin Drip dan pada saat proses

(3) Persetujuan Prinsip dan Izin Tetap bagi Perusahaan Kawasan Industri yang penanaman modalnya dilakukan dalam rangka Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal

Dalam tingkatan ini, tipe sistem yang digunakan dinamakan sistem pendukung bagi eksekutif (ESS) atau seringkali disebut dengan Sistem Informasi Eksekutif (EIS), yaitu sistem