• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kerangka Teori

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kerangka Teori"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user 16

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori 1. Tinjauan tentang Teori Hukum

a. Pengertian Teori Hukum

Istilah teori berasal dari bahasa Inggris yaitu theory, atau dalam bahasa Belanda disebut dengan theorie. Fred N. Kerlinger (1990) memberikan pengertian bahwa teori adalah “seperangkat konsep, batasan, dan proposisi yang menyajikan pandangan sistematis tentang fenomena dengan merinci hubungan-hubungan antar-variabel, dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksikan gejala itu”. Ada 2 (dua) hal yang terkandung pada definisi tersebut yaitu (Salim HS, 2012:7) :

1) Sebuah teori adalah seperangkat proposisi yang terdiri atas konsep-konsep yang terdefinisikan dan saling terhubung.

2) Teori menyusun antar hubungan seperangkat variabel konsep sehingga suatu pandangan sistematis mengenai fenomena-fenomena terdeskripsikan oleh variabel-variabel itu.

Jan Gijssels dan Mark van Hoccke (2000) dalam Salim HS (2012) mendefinisikan teori sebagai berikut :

“sebuah sistem pernyataan-pernyataan (klaim-klaim), pandangan-pandangan dan pengertian-pengertian yang saling berkaitan secara logical berkenaan dengan suatu bidang kenyataan, yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga menjadi mungkin untuk menjabarkan (menurunkan) hipotesis-hipotesis yang dapat diuji”.

Pengertian teori yang dipaparkan tersebut terlihat bahwa Jan Gijssels dan Mark van Hoccke memandang teori dari sistem pernyataan-pernyataan dan pengertian yang saling terkait antara satu dengan lainnya (Salim HS, 2012:8).

Teori mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting dalam pengembangan ilmu karena teori dapat memberikan kegunaan atau kemanfaatan, baik bagi pengembangan ilmu pengetahuan maupun untuk

(2)

commit to user

hal-hal yang bersifat praktis (Salim HS, 2012:16). Kegunaan dan manfaat teori mencangkup pula pada ilmu hukum, sehingga dalam ilmu hukum pun dikenal adanya teori hukum.

Teori hukum atau theory of law (Inggris), rechtstheorie (Belanda). Teori hukum adalah suatu keseluruhan pernyataan yang saling berkaitan dengan sistem konseptual aturan-aturan hukum dan putusan-putusan hukum, dan sistem tersebut untuk sebagai penting dipositifkan (Bruggink, 1999:160). Menurut Salim HS teori hukum adalah teori yang mengkaji dan menganalisis hukum dari dimensi normatif, empiris, dan kekuatan mengikat dari hukum. Kajian teori hukum dari normatif merupakan teori yang mengkaji dan menganalisis norma-norma dan aturan-aturan hukum yang terdapat di dalam peraturan perundang-undangan keputusan-keputusan pengadilan, maupun doktrin. Teori hukum dari dimensi empiris merupakan teori yang mengkaji dan menganalisis hukum dari keberlakuannya dalam masyarakat. Teori hukum dari dimensi kekuatan mengikat merupakan teori yang mengkaji dan menganalisis mengapa masyarakat mematuhi aturan hukum, konsep tentang keadilan, dan lain-lain (Salim HS, 2012:55-56).

John D. Finch dalam Sudikno Mertokusumo (2011) memberikan pengertian mengenai teori hukum, sebagai berikut (Sudikno Mertokusumo, 2011:87) :

“…Legal theory involves a study of the characteristic features essential to law and common to legal systems. One of its objects is analysis of the basic elements of law which make law distinguish it from other forms of rules and standarts. It aims to distinguish law from systems of order which can not be (or are not normally) described as legal system, and from other social phenomena. It has not proved possible to reach a final and dogmatic answer to the question “what is law?”.

Dari pengertian tersebut maka teori hukum mengandung hal-hal yang menjadi bagian dari hukum serta unsur-unsur dasar dari hukum yang membedakan hukum dengan aturan standar lain yang bukan hukum (Munir Fuady, 2013:2).

(3)

commit to user

Pengertian teori hukum juga dikemukakan oleh Van Apeldoorn dalam Sudikno Mertokusumo (2011) dikuti dalam Munir Fuady (2013), dimana teori hukum mencangkup : 1) tentang pengertian-pengertian hukum, 2) tentang obyek ilmu hukum, pembuat undang-undang, dan yurisprudensi, dan 3) tentang hubungan hukum dengan logika (Munir Fuady, 2013:2).

b. Hukum dan Keadilan

John Austin dalam Ishaq (2009) memberikan pengertian, hukum adalah peraturan yang diadakan untuk memberi bimbingan kepada makhluk yang berakal oleh makhluk yang berakal yang berkuasa atasnya (Ishaq, 2009:2). Merujuk pada pengertian tersebut maka Donald Black dalam Salim HS (2012) mendefinisikan hukum adalah kontrol sosial dari pemerintah. Kontrol sosial itu sendiri dibagi menjadi 2 (dua) yaitu 1) kontrol sosial dalam arti sempit, dan 2) kontrol sosial dalam arti luas. Kontrol sosial dalam arti sempit adalah aturan dan proses sosial mencoba mendorong perilaku yang baik dan berguna atau mencegah perilaku yang buruk. Sedangkan kontrol sosial dalam arti luas adalah jaringan aturan dan proses yang menyeluruh yang membawa akibat hukum terhadap perilaku tertentu (Salim HS, 2012:21). Hukum ditujukan untuk meningkatkan kebahagiaan masyarakat secara keseluruhan dengan cara melarang perbuatan-perbuatan yang mendatangkan sengsara (Peter Mahmud Marzuki, 2013:107). Disamping itu, hukum diperlukan untuk penghidupan di dalam masyarakat demi kebaikan dan ketenteraman bersama (Ishaq, 2009:6).

Ajaran cita hukum (Idee des Recht) menyebutkan adanya 3 (tiga) unsur cita hukum yang harus ada secara proporsional, yaitu kepastian hukum (rechtssicherkeit), keadilan (gerechtigkeit), kemanfaatan (zweckmasigkeit). Gustav Radbruch “idee des recht” dalam Fence M. Wuntu (2007) sebagaimana dikutip oleh Tata Wijayanta (2014) pada

(4)

commit to user

proses penegakan hukum, maka ketiga asas tersebut harus selalu ada dan terpenuhi dalam penegakan hukum (Tata Wijayanta, 2014:219).

Hukum di dalam teori etis (etische theorie) sebagaimana dikemukakan oleh Aristoteles dinyatakan bahwa hukum hanya semata-mata bertujuan mewujudkan keadilan. Dengan arti hukum mempunyai tugas yaitu memberi kepada setiap orang yang berhak menerimanya (Ridwan Syahrani, 1999:20). Hukum sebagai kategori moral serupa dengan keadilan, pernyataan yang ditujukan untuk pengelompokan sosial tersebut sepenuhnya benar, yang sepenuhnya mencapai tujuannya dengan memuaskan semua. Rindu akan keadilan yang dianggap secara psikologis adalah kerinduan abadi manusia akan kebahagiaan, yang tidak bisa ditemukannya sebagai seorang individu dan karenanya mencarinya dalam masyarakat. Kebahagiaan sosial dinamakan ‘keadilan’ (Hans Kelsen, 2012:48).

Keadilan pada dasarnya adalah sebuah kualitas yang mungkin, tetapi bukan harus, dari sebuah tatanan sosial yang menuntun terciptanya hubungan timbal balik di antara sesama manusia (Hans Kelsen, 2009:2). Keadilan adalah kebajikan utama dalam institusi sosial, sebagaimana kebenaran dalam sistem pemikiran. Suatu teori, betapapun elegan dan ekonomisnya, harus ditolak atau direvisi jika tidak benar, demikian pula hukum dan institusi, tidak peduli betapapun efisien dan rapinya, harus direformasi atau dihapuskan jika tidak adil (John Rawls, 2011:3-4). Pengertian tersebut sejalan dengan pendapat Hans Kelsen yang mengatakan bahwa keadilan dalam dimensi hukum merupakan paradigm dari segi kecocokan dengan hukum positif (undang-undang), yang maksudnya ialah jika sebuah norma umum diterapkan pada satu kasus tetapi tidak diterapkan pada kasus sejenis yang muncul, maka itu tidak adil (Hans Kelsen, 2012:48).

Ciri khas keadilan dan hubungan spesialnya dengan hukum mulai muncul manakala sebagian besar kritik yang dibuat dalam tinjauan adil dan tidak adil hampir sama dapat diungkapkan dengan kata-kata fair

(5)

commit to user

(berimbang) dan unfair (tidak berimbang). Dalam hal ini yang disebut sebagai berimbang atau tidak berimbang biasanya merupakan ‘jatah atau bagian’ (H.L.A.Hart, 2013:245-246). Sebelumnya Hans Kelsen telah mengemukakan bahwa keadilan adalah situasi dimana seseorang merasakan kebahagiaan. Terkait dengan konsep tersebut menurut Jeremy Bentham hakikat kebahagiaan adalah kenikmatan dan kehidupan yang bebas dari kesengsaraan. Latar belakang manusia melalukan suatu tindakan adalah adanya keinginan untuk mendapatkan kebahagiaan yang sebesar-besarnya dan mengurangi penderitaan. Teori ini secara analogis diterapkan pada bidang hukum, sehingga baik ataupun buruknya hukum harus diukur dari baik buruknya akibat yang dihasilkan oleh penerapan hukum itu (Ridwan Syahrani, 1999:22).

2. Tinjauan tentang Upah a. Pengertian Upah

Pasal 1 angka 30 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Undang-Undang Ketenagakerjaan) menjelaskan bahwa upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan.

Berdasarkan pengertian di atas jelaslah bahwa sesungguhnya upah dibayarkan berdasarkan kesepakatan para pihak, namun untuk menjaga agar tidak terjadi upah yang diterima terlampau rendah, maka pemerintah turut serta menetapkan standar upah terendah melalui peraturan perundang-undangan (Lalu Husni, 2012:160).

Pembayaran kepada tenaga kerja dapat dibedakan dalam 2 (dua) pengertian yaitu gaji dan upah. Gaji dalam pengertian sehari-hari diartikan sebagai pembayaran kepada pekerja tetap dan tenaga kerja profesional

(6)

commit to user

seperti pegawai pemerintah, dosen, guru, manajer dan akuntan. Pembayaran tersebut biasanya sebulan sekali. Upah dimaksudkan sebagai pembayaran kepada pekerja kasar yang pekerjaannya selalu berpindah-pindah, seperti misalnya pekerja pertanian, tukang kayu, buruh kasar dan lain sebagainya (Rini Sulistiawati, 2012:200).

Upah adalah salah satu sarana yang digunakan oleh pekerja untuk meningkatkan kesejahteraanya (Asri Wijayanti, 2010:107). Pada dasarnya pembayaran tenaga kerja dapat dibedakan menjadi 2 (dua) pengertian yaitu gaji dan upah. Dalam pengertian sehari-hari gaji diartikan sebagai pembayaran kepada pekerja-pekerja tetap dan tanaga kerja professional seperti: pegawai pemerintah, dosen, guru, manajer, dan akuntan. Pembayaran tersebut biasanya dilakukan sebulan sekali. Sedangkan upah dimaksudkan sebagai pembayaran kepada pekerja-pekerja kasar yang pekerjaannya selalu berpindah-pindah seperti: pekerja pertanian, tukang kayu, tukang batu, dan buruh kasar (Sadono Sukirno, 2014:350).

Teori ekonomi mengartikan upah sebagai pembayaran ke atas jasa-jasa fisik maupun mental yang disediakan oleh tenaga kerja kepada para pengusaha. Dengan demikian dalam teori ekonomi tidak dibedakan di antara pembayaran kepada pegawai tetap dengan pembayaran ke atas jasa-jasa pekerja kasar dan tidak tetap. Di dalam teori ekonomi kedua jenis pendapatan pekerja (pembayaran kepada para pekerja) tersebut dinamakan upah (Sadono Sukirno, 2014:351).

Pada literatur ekonomi diuraikan jenis upah menurut ahli-ahli ekonomi. Upah dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu upah uang dan upah riil. Pertama, upah uang adalah jumlah uang yang diterima para pekerja dari para pengusaha sebagai pembayaran ke atas tenaga mental atau fisik para pekerja yang digunakan dalam proses produksi. Kedua, upah riil adalah tingkat upah pekerja yang diukur dari sudut kemampuan upah tersebut membeli barang-barang dan jasa-jasa yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pekerja (Sadono Sukirno, 2014:351).

(7)

commit to user

Soemarso (2009) memberikan pengertian upah adalah imbalan kepada buruh yang melakukan pekerjaan kasar dan lebih banyak mengandalkan kekuatan fisik dan biasanya jumlahnya ditetapkan secara harian, satuan atau borongan (Soemarso, 2009:307). Mulyadi (2001) memberikan definisi yang berbeda dari pendapat Soemarso (2009) namun secara substantif sama yaitu upah umumnya merupakan pembayaran atau penyerahan jasa yang dilakukan oleh karyawan pelaksana (buruh) (Mulyadi, 2008:373).

Pemerintah memberi perhatian yang penuh pada upah. Untuk mewujudkan penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan, dengan cara pemerintah menetapkan kebijakan pengupahan yang melindungi pekerja/buruh (Asri Wijayanti, 2010:108). Bentuk kebijakan pengupahan oleh pemerintah diatur pada Pasal 88 ayat (3) Undang-Undang Ketenagakerjaan, yang meliputi :

a. upah minimum; b. upah kerja lembur;

c. upah tidak masuk kerja karena berhalangan;

d. upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain di luar pekerjaannya;

e. upah karena menjalankan hak waktu istirahat kerjanya; f. bentuk dan cara pembayaran upah;

g. denda dan potongan upah;

h. hal-hal yang dapat diperhitungkan dengan upah; i. struktur dan skala pengupahan yang proporsional; j. upah untuk pembayaran pesangon; dan

k. upah untuk perhitungan pajak penghasilan.

Bentuk perlindungan upah yang pertama adalah upah minimum. Pemerintah menetapkan upah minimum sebagaimana dimaksud pada Pasal 88 ayat (3) huruf a Undang-Undang Ketenagakerjaan berdasarkan kebutuhan hidup layak dan dengan memperhatikan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi (Asri Wijayanti, 2010:109).

(8)

commit to user

b. Pengertian Upah Minimum

Pasal 1 angka 1 Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 7 Tahun 2013 tentang Upah Minimum (Permenakertrans tentang Upah Minimum) mengartikan bahwa upah minimum adalah upah bulanan terendah yang terdiri atas upah pokok termasuk tunjangan tetap yang ditetapkan oleh gubernur sebagai jaring pengaman.

Upah Minimum (Minimum Wage) juga dapat diartikan sebagai berikut (Frederico Luiz Barbosa de Melo, and Partner, 2012:28) :

“The minimum wage is generally related to a survival standard which is considered basic in a given society, and has the purpose of safeguarding the income and living conditions of workers who are considered to be the most vulnerable in the labour market and that of their families”.

Berdasarkan Pasal 89 ayat (1) Undang-Undang Ketenagakerjaan, upah minimum terbagi menjadi 2 (dua), yaitu :

a. upah minimum berdasarkan wilayah provinsi atau kabupaten/kota; b. upah minimum berdasarkan sektor pada wilayah provinsi atau

kabupaten/kota.

Pembagian jenis atau bentuk upah minimum tersebut lebih diperinci di dalam ketentuan Pasal 2 Permenakertrans tentang Upah Minimum yang terdiri dari :

a. Upah Minimum Provinsi (UMP) atau Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK);

b. Upah Minimum Sektoral Provinsi (UMSP) atau Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK).

Definisi dari masing-masing jenis atau bentuk upah minimum tersebut telah dijelaskan di dalam Pasal 1 angka 2, angka 3, angka 4, dan angka 5 Permenakertrans tentang Upah Minimum. Pasal 1 angka 2 menjelaskan bahwa UMP adalah Upah Minimum yang berlaku untuk

(9)

commit to user

seluruh kabupaten/kota di satu provinsi. Pasal 1 angka 3 menjelaskan bahwa UMK adalah Upah Minimum yang berlaku di wilayah kabupaten/kota. Pasal 1 angka 4 menjelaskan bahwa UMSP adalah Upah Minimum yang berlaku secara sektoral di satu provinsi. Kemudian yang terakhir Pasal 1 angka 5 menjelaskan UMSK adalah Upah Minimum yang berlaku secara sektoral di wilayah kabupaten/kota.

Sebelum tahun 1999, upah minimum adalah tanggung jawab pemerintah pusat, dalam hal ini Menteri Tenaga Kerja yang memutuskan upah minimum tiap-tiap daerah di seluruh Indonesia. Basisnya adalah Provinsi (Daerah Tingkat Pertama), dan disebut dengan “UMR” (Upah Minimum Regional). Sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang sejalan dengan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah serta perimbangan keuangan antara pusat dan daerah, maka penetapan upah minimum menjadi kewenangan daerah sepenuhnya (Surya Tjandra,dkk, 2007:11-12).

Kebijakan pemerintah tentang Penetapan Upah Minimum atau sekarang disebut Upah Minimum Pendapatan secara Makro-Nasional bertujuan untuk meningkatkan (Widodo Suryandono, 2014:100) :

a. Pemerataan pendapatan, karena kenaikan Upah Minimum akan mempersempit kesenjangan upah pekerja terendah dan upah pekerja tertinggi.

b. Daya beli pekerja, karena kenaikan Upah Minimum akan secara langsung meningkatkan daya beli pekerja, dan selanjutnya akan mendorong lajunya ekonomi rakyat.

c. Perubahan struktur biaya, karena kenaikan Upah Minimum secara otomatis akan memperbaiki struktur upah terhadap struktur biaya produksi.

d. Produktivitas nasional, karena kenaikan Upah Minimum akan memberikan insentif bagi pekerja untuk bekerja lebih giat untuk meningkatkan produktivitas di perusahaan, dan berkelanjutan secara nasional.

(10)

commit to user

e. Etos dan disiplin kerja, karena dengan terpenuhi kebutuhan minimumnya pekerja akan berkonsentrasi dan tenang dalam bekerja sehingga akan meningkatkan semangat dan disiplin pekerja.

f. Kelancaran komunikasi antara pekerja dan pengusaha, karena pekerja dan pengusaha sudah tidak disibukkan oleh kepentingan-kepentingan mendasar yang terkait dengan syarat kerja, tetapi sudah berkonsentrasi kepada pengembangan diri dan perusahaan yang memerlukan koordinasi secara harmonis.

c. Komponen Upah

Berdasarkan Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja Nomor 07/MEN/1990 tentang Pengelompokan Komponen Upah dan Pendapatan Non Upah disebutkan bahwa yang termasuk Komponen Upah adalah (Lalu Husni, 2012:161) :

a. Upah Pokok; merupakan imbalan dasar yang dibayarkan kepada buruh menurut tingkat atau jenis pekerjaan yang besarnya ditetapkan berdasarkan perjanjian;

b. Tunjangan Tetap; suatu pembayaran yang teratur berkaitan dengan pekerjaan yang diberikan secara tetap untuk buruh dan keluarganya yang dibayarkan bersamaan dengan upah pokok seperti tunjangan anak, tunjangan kesehatan, tunjangan perumahan, tunjangan kehamilan.

c. Tunjangan tidak tetap; suatu pembayaran yang secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan buruh dan diberikan secara tidak tetap bagi buruh dan keluarganya serta dibayarkan tidak bersamaan dengan pembayaran upah pokok.

Pasal 94 Undang-Undang Ketenagakerjaan menyebutkan bahwa komponen upah terdiri dari upah pokok dan tunjangan tetap, maka besarnya upah pokok sedikit-dikitnya 75% (tujuh puluh lima persen) dari jumlah upah pokok dan tunjangan tetap. Pembagian komponen upah biasanya terdiri dari (Rukiyah L dan Darda Syahrizal, 2013:209-210) :

(11)

commit to user

a. Upah pokok ditambah tunjangan tetap (all in).

b. Upah pokok ditambah tunjangan tetap dan tidak tetap.

c. Upah tidak terbagi ke dalam komponen-komponen, gaji yang diterima pekerja adalah total keseluruhan (clean wage).

Berkaitan dengan tunjangan yang diberikan perusahaan pada pekerja/buruh dibagi menjadi 2 (dua), yaitu (Rukiyah L dan Darda Syahrizal, 2013:210) :

1. Tunjangan Tetap

Tunjangan tetap adalah tunjangan yang diberikan oleh perusahaan secara rutin kepada pekerja/buruh per bulan yang besarnya relative tetap. Contoh : tunjangan jabatan, tunjangan keluarga, tunjangan keahlian/profesi.

2. Tunjangan Tidak Tetap

Tunjangan Tidak Tetap adalah tunjangan yang diberikan oleh perusahaan kepada pekerja/buruh dimana penghitungannya berdasarkan kehadiran atau performa kerja. Contoh : tunjangan transportasi, tunjangan makan, tunjangan insentif, biaya operasional.

Pemberian upah yang tidak dalam bentuk uang dibenarkan asal tidak melebihi 25% (dua puluh lima persen) dari nilai upah yang seharusnya diterima. Imbalan/penghasilan yang diterima oleh buruh tidak selamanya disebut sebagai upah, karena dapat dimungkinkan imbalan tersebut bukan termasuk dalam komponen upah (Lalu Husni, 2012:161).

3. Tinjauan tentang Kebutuhan Hidup Layak a. Pengertian Kebutuhan Hidup Layak

Selama lebih dari 40 (empat puluh) tahun sejak upah minimum pertama kali diberlakukan, Indonesia telah 3 (tiga) kali melakukan perubahan terhadap standar kebutuhan hidup sebagai dasar penetapan upah minimum. Komponen kebutuhan hidup tersebut meliputi: (1) Kebutuhan Fisik Minimum (KFM) yang berlaku mulai tahun 1969 hingga 1995; (2) Kebutuhan Hidup Minimum (KHM) yang berlaku tahun 1996 hingga

(12)

commit to user

2005; dan (3) Kebutuhan Hidup Layak (KHL) yang berlaku tahun 2006 hingga saat ini yang diatur melalui Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 13 Tahun 2012 tentang Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak yang di dalamnya meliputi 60 (enam puluh) komponen hidup layak (Alldo Fellix Januardy. Upah Layak Bukan Upah Minimum;Tinjauan Upah Tenaga Kerja Dari Perspektif HAM. http://www.alldofj.com/upah-layak-bukan-upah-minimum/> [3 November 2014 pukul 16.05 WIB]).

Bertitik tolak pada kebijakan pemerintah mengenai upah minimum, ketentuan Pasal 89 ayat (2) Undang-Undang Ketenagakerjaan yang menyatakan bahwa upah minimum tersebut harus berdasarkan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) dan dengan memperhatikan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi dimana upah minimum bertujuan untuk memenuhi KHL (Surya Tjandra,dkk, 2007:15).

Mencermati dari perspektif historis mengenai KHL, pada tahun 2005 KHL diatur di dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 17 Tahun 2005 tentang Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak, dimana pada Pasal 4 menyatakan bahwa KHL adalah standar kebutuhan yang harus dipenuhi oleh seorang buruh lajang untuk dapat hidup layak baik secara fisik, non-fisik, dan sosial, untuk kebutuhan 1 (satu) bulan, dan berlaku bagi buruh dengan masa kerja kurang dari 1 (satu) tahun (Surya Tjandra,dkk, 2007:15).

Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 17 Tahun 2005 tentang Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak telah diubah dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 13 Tahun 2012 tentang Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak. Pengertian KHL di dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 13 Tahun 2012 tentang Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak dijelaskan pada Pasal 1 angka 1 yang

(13)

commit to user

menjelaskan bahwa KHL adalah standar kebutuhan seorang pekerja/buruh lajang untuk dapat hidup layak secara fisik untuk kebutuhan 1 (satu) bulan. Nilai KHL diperoleh melalui survei harga yang dilakukan oleh tim tripartit (untuk pemerintah diwaliki oleh Badan Pusat Statistik (BPS), perwakilan pengusaha, dan perwakilan serikat buruh) (Surya Tjandra,dkk, 2007:17).

Komponen KHL diuraikan pada Lampiran I Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 13 Tahun 2012 tentang Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak, dimana jumlah komponen KHL adalah 60 (enam puluh) dan terbagi menjadi 7 (tujuh) kategori atau unsur dengan rincian sebagai berikut :

1) MAKANAN DAN MINUMAN a) Beras b) Sumber Protein : (1) Daging (2) Ikan Segar (3) Telur Ayam c) Kacang-kacangan (tempe/tahu) d) Susu Bubuk e) Gula Pasir f) Minyak Goreng g) Sayuran

h) Buah-buahan (setara pisang/papaya) i) Karbohidrat lain (setara tepung terigu) j) Teh atau Kopi

k) Bumbu-bumbuan 2) SANDANG

a) Celana Panjang/Rok/Pakaian Muslim b) Celana Pendek

c) Ikat Pinggang

(14)

commit to user e) Kaos Oblong/BH f) Celana Dalam g) Sarung/Kain Panjang h) Sepatu i) Kaos Kaki

j) Perlengkapan Pembersih Sepatu : (1) Semir Sepatu (2) Sikat Sepatu k) Sandal Jepit l) Handuk Mandi m) Perlengkapan Ibadah : (1) Sajadah (2) Mukenah

(3) Peci, dan lain-lain 3) PERUMAHAN a) Sewa Kamar b) Dipan/Tempat Tidur c) Perlengkapan Tidur : (1) Kasur Busa (2) Bantal Busa

d) Seprei dan Sarung Bantal e) Meja dan Kursi

f) Lemari Pakaian g) Sapu

h) Perlengkapan Makan : (1) Piring Makan (2) Gelas Makan (3) Sendok dan Garpu i) Ceret Alumunium j) Wajan Alumunium

(15)

commit to user k) Panci Alumunium

l) Sendok Masak m) Rice Cooker ½ liter

n) Kompor dan Perlengkapannya : (1) Kompor Gas 1 tungku (2) Selang dan Regulator (3) Tabung Gas 3 kg o) Gas Elpiji

p) Ember Plastik q) Gayung Plastik r) Listrik

s) Bola Lampu Hemat Energi t) Air Bersih

u) Sabun Cuci Pakaian v) Sabun Cuci Piring (colek) w) Seterika

x) Rak Piring Portable Plastik y) Pisau Dapur z) Cermin 4) PENDIDIKAN a) Bacaan/Radio b) Ballpoint/Pensil 5) KESEHATAN a) Sarana Kesehatan : (1) Pasta Gigi (2) Sabun Mandi (3) Sikat Gigi (4) Shampoo

(16)

commit to user b) Deodorant

c) Obat Anti Nyamuk d) Potong Rambut e) Sisir

6) TRANSPORTASI

a) Transport Kerja dan lainnya 7) REKREASI DAN TABUNGAN

a) Rekreasi

(17)

commit to user

B. Kerangka Pemikiran

Keterangan :

Kesejahteraan umum sebagai cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana termaktub dalam alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI Tahun 1945) menjadi suatu tujuan yang harus dicapai. Cakupan pencapaian kesejahteraan adalah seluruh rakyat Indonesia pada setiap bidang kehidupan di Negara Kesatuan Republik Indonesia, tidak terkecuali dalam bidang ketenagakerjaan. Pasal 27 ayat (2) dan Pasal 28D ayat (2) UUD NRI Tahun 1945 secara umum telah mengamanatkan bahwa setiap

1. Kesejahteraan Umum sebagai cita-cita bangsa Indonesia 2. Amanat Pasal 27 ayat (2) dan

Pasal 28D ayat (2) UUD NRI Tahun 1945

Pengupahan diatur dalam

ketentuan Pasal 88, Pasal 89, Pasal 90 ayat (1), dan Pasal 91

ayat (1) Undang-Undang

Ketenagakerjaan

Permenakertrans Nomor 13 Tahun 2012 tentang Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak

Permenakertrans Nomor 7 Tahun 2013 tentang Upah Minimum

1. Regulasi dan kebijakan pengupahan belum efektif dalam mewujudkan upah layak sebab dinilai masih jauh dari kebutuhan riil pekerja/buruh;

2. UMP belum mampu mencapai KHL sebagaimana diamanatkan peraturan perundang-undangan;

3. Selisih paham antara pekerja/buruh dan pengusaha yang menimbulkan perdebatan soal UMP dan KHL yang terjadi dari tahun ke tahun.

Perlu dilakukan tinjauan terhadap Permenakertrans Nomor 13 Tahun 2012 tentang Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak agar diketahui problematika dan kemudian dapat diberikan solusi

(18)

commit to user

warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan serta memperoleh imbalan yang layak, dan perilaku yang adil dalam hubungan kerja.

Amanat konstitusi tersebut telah terakomodir di dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dalam konteks perlindungan upah (pengupahan) yang telah menjadi kebijakan pemerintah melalui penetapan upah minimum yang mengarah pada pencapaian Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Pelaksanaan kebijakan tersebut didasarkan pada regulasi teknis yang diatur melalui Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Permenakertrans) Nomor 7 Tahun 2013 tentang Upah Minimum dan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Permenakertrans) Nomor 13 Tahun 2012 tentang Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak.

Regulasi teknis tersebut memiliki keterkaitan, dimana upah minimum ditetapkan berdasarkan KHL, kemudian KHL memiliki komponen-komponen sebagai rincian dari standar kebutuhan riil bagi pekerja/buruh yang ditentukan melalui survei oleh pihak-pihak yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Akan tetapi, pada praktik empirisnya peraturan yang berlaku sebagai kebijakan pemerintah tersebut masih menimbulkan konflik atau selisih paham antara pengusaha dengan pekerja/buruh mengenai besaran upah dan kuantitas komponen KHL, kemudian dari masing-masing pihak baik pengusaha maupun pekerja/buruh dalam konteks pengupahan sulit untuk menjadi satu paham, pada akhirnya pun mengajukan tuntutan kepada pemerintah yang diposisikan sebagai “penengah”. Persoalan pengupahan antara kebijakan pemerintah dengan kepentingan pengusaha dan pekerja/buruh jika diamati selalu terjadi. Mengingat bahwa kebijakan pemerintah-lah yang menentukan, maka sebagai upaya penyelesaian perselisihan mengenai upah minimum, perlu dilakukan tinjauan terhadap regulasi yang berlaku, agar diketahui seberapa jauh dan bagaimana tindak lanjut dari peraturan yang diberlakukan.

Referensi

Dokumen terkait

- Memiliki tugas yaitu survei lapangan atau penelitian ekonomi daerah yang berbasis kajian lapangan dan menggelar temu dengan responden survei dan kontak liaison yang

Ketika kita baca judul puisi “nyanyian gerimis” kemudian pada kata Kuntum Demi kuntum kesepian yang mekar seluas kalbu, terasa sekali suasana puisi tersebut

As such, the authors conclude that in today's volatile business environment corporate identity and corporate communications, when viewed and managed from a strategic perspective,

Berdasarkan data pada instrumen supervisi di atas, lakukanlah analisis data hasil supervisi dengan menggunakan LK 9. Saudara dapat melakukan analisis hasil supervisi

Dari hasil pengukuran kinerja tersebut, dapat dijelaskan bahwa tahun 2012 secara umum Pengadilan Tata Usaha Negara Pekanbaru dalam melaksanakan tugas pokok dan

(2) Kendala dan solusi penerapan pendekatan Scientific dengan menggunakan media Software Prezi untuk meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran administrasi

Dalam produk tabungan mud}a>rabah, BPRS Jabal Nur menggunakan sistem bagi hasil yang prosentasenya sudah ditetapkan oleh BPRS tersebut yakni untuk

Adanya keterlambatan dalam pemesanan barang material pada supplier, sehingga untuk dapat menyelesaikan dipilih metode Supply Chain Operation References (SCOR) digunakan