7 A. Tinjauan Pustaka
1. Terapi Murotal Al Quran a. Pengertian Al Quran
Al Quran adalah kitab agama dan hidayah yang diturunkan Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW untuk membimbing segenap manusia pada agama yang luhur, mengembangkan kepribadian manusia dan meningkatkan diri manusia ke taraf kesempurnaan insani sehingga dapat mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Al Quran mengarahkan manusia pada jalan yang benar dan menumbuhkan jiwa yang benar. Dalam Q.S. Yunus (10) ayat 57 disebutkan bahwa “Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian nasihat dari Rabb kalian dan penyembuh untuk apa yang ada di dalam dada serta petunjuk dan rahmat bagi kaum mukminin”(Alfarisi, 2005).
Al Quran mempunyai pengaruh yang besar terhadap kejiwaan seseorang. Hal ini dibuktikan dengan berubahnya jiwa dan kepribadian bangsa Arab setelah mereka mengenal Al Quran. Al Quran telah mengubah kepribadian mereka secara total meliputi akhlak perilaku, cara hidup, prinsip, cita-cita dan nilai-nilai serta membentuk mereka menjadi masyarakat yang bersatu, teratur dan
bekerjasama. Bahkan perubahan besar yang ditimbulkan oleh Al Quran dalam jiwa bangsa Arab ini belum ada bandingannya dalam sejarah seruan-seruan kepercayaan yang pernah muncul di sepanjang kurun sejarah yang berbeda. Tidak dipungkiri lagi dalam Al Quran terdapat daya spiritual yang luar biasa terhadap jiwa manusia. (Alfarisi, 2005).
b. Pengertian Terapi Murotal Al Quran
Hadi, Wahyuni dan Purwaningsih dalam Zahrofi (2013) menjelaskan terapi murotal Al Quran adalah terapi bacaan Al Quran yang merupakan terapi religi dimana seseorang dibacakan ayat-ayat Al Quran selama beberapa menit atau jam sehingga memberikan dampak positif bagi tubuh seseorang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Fitriyatun Iis, 2014) dan (Handayani dkk, 2014) mengenai terapi murotal Al Quran, diperoleh rentang waktu pemberian terapi murotal Al Quran dilakukan selama 11-15 menit. c. Manfaat Terapi Murotal Al Quran
Manfaat terapi murotal Al Quran dibuktikan dalam berbagai penelitian. Manfaat tersebut di antaranya adalah sebagai berikut : 1) Menurunkan kecemasan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Zahrofi, dkk 2013) dan (Zanzabiela dan Alphianti, 2014) menunjukkan bahwa pemberian pengaruh terapi murotal Al Quran memiliki pengaruh terhadap tingkat kecemasan responden. Pada
penelitian tersebut responden yang diberikan terapi murotal Al Quran memiliki tingkat kecemasan yang lebih rendah daripada pasien yang tidak diberikan terapi.
2) Menurunkan perilaku kekerasan
Dalam penelitian yang dilakukan oleh (Widhowati SS, 2010) ini menunjukkan bahwa penambahan terapi audio dengan murottal surah Ar Rahman pada kelompok perlakuan lebih efektif dalam menurunkan perilaku kekerasan dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak mendapatkan terapi audio tersebut.
3) Mengurangi tingkat nyeri
Terapi murotal Al Quran terbukti dapat menurunkan tingkat nyeri. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hidayah (2013) dan (Handayani dkk, 2014) menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pemberian terapi murotal Al Quran terhadap tingkat nyeri. Pada kedua penelitian tersebut kelompok yang diberikan terapi murotal Al Quran memiliki tingkat nyeri yang lebih rendah dibandingkan kelompok yang tidak diberikan terapi murotal Al Quran.
4) Meningkatkan kualitas hidup
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mulyadi dkk (2012) menunjukkan perbedaan yang bermakna antara kualitas hidup responden sebelum dan sesudah diberikan intervensi
bacaan Al Quran secara murotal pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi. Pada kelompok intervensi, kualitas hidup responden meningkat setelah diberikan terapi murotal Al Quran. 5) Efektif dalam perkembangan kognitif anak autis
Penelitian yang dilakkan oleh (Hady dkk, 2012) menyebutkan bahwa terapi music murotal mempunyai pengaruh yang jauh lebih baik dariapada terapi musik klasik terhadap perkembangan kognitif anak autis.
2. Stres Kerja
a. Pengertian stres 1) Stres secara umum
Stres merupakan istilah yang berasal dari bahasa latin stingere yang berarti “keras” (stricus). Istilah ini mengalami perkembangan penelaahan dari kata straise, strest, stresce dan stres. Stres merupakan suatu keadaan dimana seseorang mengalami ketegangan karena adanya kondisi-kondisi yang mempengaruhi dirinya. Stres merupakan respon dari diri seseorang terhadap tantangan baik fisik maupun mental yang datang dari dalam maupun luar dirinya. Keadaan ini akan selalu terjadi dalam kehidupan manusia karena hal itu merupakan bagian dari dinamika perjalanan hidup (Natsir, 2010).
Stres dapat dibagi menjadi dua, yaitu stres negatif /distres dan stres positif /eustres (Hadipoetra, 2014).
a) Distres
Pada umumnya stres dirasakan sebagai kondisi yang negatif, yang mengarah ke timbulnya penyakit fisik atau mental, atau ke perilaku tak wajar. Berhadapan dengan suatu stresor (sumber stres) tidak selalu mengakibatkan gangguan secara psikologis maupun fisiologis. Stresor yang sama dapat dipersepsi secara berbeda yaitu dapat sebagai peristiwa yang positif dan tidak berbahaya, atau menjadi peristiwa yang berbahaya dan mengancam.
b) Eustres
Eustres merupakan sesuatu yang positif. Stres semacam ini diperlukan untuk menghasilkan prestasi yang tinggi. Semakin tinggi dorongannya untuk berprestasi, semakin tinggi tingkat stres dan semakin tinggi pula produktivitas dan efisiensinya. Stres pada jumlah tertentu dapat mengarah ke ide-ide yang inovatif dan konstruktif. Tetapi jika orang terlalu ambisius, memiliki dorongan kerja yang besar atau jika beban kerjanya menjadi berlebih dan tuntutan pekerjaan pun tinggi, maka kinerja dapat menjadi rendah lagi.
2) Stres Kerja
Menurut Newman dalam Widyasari (2010) stres kerja diartikan sebagai suatu interaksi antara kondisi kerja dengan sifat-sifat pekerja yang mengubah fungsi fisik maupun fungsi
psikis yang normal. Definisi tersebut menunjukkan bahwa stres kerja merupakan tuntutan pekerjaan yang tidak dapat diimbangi oleh kemampuan karyawan.
b. Sumber Stres
Hidayat (2008) mengemukakan bahwa terdapat tiga sumber yang dapat mengakibatkan stres.
1) Dalam diri
Sumber stres dalam diri sendiri pada umumnya dikarenakan konflik yang terjadi antara keinginan dan kenyataan yang berbeda. Dalam hal ini adalah berbagai permasalahan yang terjadi dan tidak mampu diatasi sehingga menimbulkan stres. 2) Dalam keluarga
Stres ini bersumber dari masalah keluarga ditandai dengan adanya perselisihan masalah keluarga masalah keuangan serta adanya tujuan yang berbeda di antara keluarga permasalahan ini akan selalu menimbulkan suatu keadaan yang dinamakan stres.
3) Dalam masyarakat dan lingkungan
Sumber stres ini dapat terjadi di lingkungan atau masyarakat pada umumnya, seperti lingkungan pekerjaan, secara umum disebut sebagai stres pekerja karena lingkungan fisik dikarenakan kurangnya hubungan interpersonal serta
kurangnya adanya pengakuan di masyarakat sehingga tidak dapat berkembang.
c. Faktor-faktor penyebab stres
Faktor-faktor penyebab stres yang berasal dari individu tenaga kerja dapat berupa :
1) Usia
Semakin bertambahnya usia maka tuntutan serta tanggung jawab pada diri sesorang akan semakin tinggi. Mayoritas individu yang berusia 30-50 tahun harus menjaga performa kerja dengan suasana kerja yang kompetitif, serta waktu kerja yang menyita pikiran dan stamina. Kondisi demikian dapat menyebabkan stres. Selain hal tersebut, semakin bertambahnya usia kemampuan fungsi tubuh akan semakin menurun (Mumpuni dan Wulandari, 2010).
2) Jenis Kelamin
Jenis kelamin berpengaruh terhadap stres yang ditimbulkan akibat pekerjaan. Akibat pembangunan nasional banyak wanita yang terlibat dalam dunia kerja. Hal tersebut menimbulkan peran ganda wanita yaitu sebagai wanita karier dan ibu rumah tangga, sehingga pekerja wanita lebih mudah mengalami stres dari pada pekerja laki-laki (Anoraga, 2001).
3) Kondisi Kesehatan
Sistem kekebalan tubuh yang buruk membuat tubuh mulai lelah, mudah terserang penyakit, serta rentan mengalami stres (Mumpuni dan Wulandari, 2010).
4) Kepribadian
Individu dengan kepribadian introvert bereaksi lebih negatif dan menderita ketegangan yang lebih besar daripada individu dengan kepribadian ekstrovert pada konflik peran kepribadian yang fleksible (orang yang lebih terbuka terhadap pengaruh dari orang lain sehingga lebih mudah mendapatkan beban yang berlebihan) mengalami ketegangan yang lebih besar dalam situasi konflik, dibanding dengan individu dengan kepribadian rigid (Munandar, 2008).
Sedangkan berdasarkan faktor-faktor yang berkaitan dengan pekerjaan, Hadipoetra (2014) membagi penyebab stres kerja menjadi beberapa kelompok penyebab, yaitu :
1) Intrinsik pekerjaan a) Tuntutan fisik
Kondisi kerja tertentu dapat menghasilkan prestasi kerja yang optimal. Di samping dampaknya terhadap prestasi kerja, kondisi kerja fisik juga memiliki dampak terhadap kesehatan mental dan keselamatan kerja seorang perawat. Kondisi fisik kerja mempunyai pengaruh terhadap
kondisi faal dan psikologis diri seorang perawat. Kondisi fisik tersebut dapat membangkitkan stres seperti : bising, paparan, getaran, higiene dan sanitasi lingkungan dan sebagainya (Munandar, 2008).
b) Tuntutan tugas
Beban kerja berlebih dan beban kerja terlalu sedikit merupakan pembangkit stres, beban kerja dapat dibedakan lebih lanjut ke dalam beban kerja berlebih atau terlalu sedikit “Kuantitatif”, yang timbul sebagai akibat dari tugas-tugas yang terlalu banyak/sedikit diberikan kepada tenaga kerja untuk diselesaikan dalam waktu tertentu. Beban kerja berlebihan/terlalu sedikit “kualitatif”, yaitu jika orang merasa tidak mampu untuk melakukan suatu tugas, atau tidak menggunakan ketrampilan dan / atau potensi dari tenaga kerja. Di samping itu beban kerja berlebih kuantitatif dan kualitatif dapat menimbulkan kebutuhan untuk bekerja selama jumlah jam yang sangat banyak, yang merupakan sumber tambahan dari stres (Hadipoetra, 2014).
2) Peran dalam organisasi a) Konflik peran
Konflik peran timbul jika seorang perawat mengalami adanya:
(1) Pertentangan antara tugas-tugas yang harus dilakukan dan antara tanggung jawab yang perawat miliki.
(2) Tugas-tugas yang harus perawat lakukan yang menurut pandangan bukan merupakan bagian dari pekerjaan.
(3) Tuntutan-tuntutan yang bertentangan dari atasan, rekan, bawahan, atau orang lain yang dinilai penting bagi diri perawat
(4) Pertentangan dengan nilai-nilai dan keyakinan pribadinya sewaktu melakukan tugas pekerjaannya. (Munandar, 2008).
b) Ketidakjelasan peran
Stres timbul ketika seorang pekerja tidak memiliki cukup informasi untuk dapat melaksanakan tugasnya, atau tidak mengerti atau meralisasi harapan-harapan yang berkaitan dengan peran tertentu (Hadipoetra, 2014).
3) Pengembangan karir
Untuk menghasilkan kepuasan pekerjaan dan mencegah timbulnya frustasi pada para perawat, perlu diperhatikan tiga unsur yang penting dalam pengembangan karir, yaitu:
a) Peluang untuk menggunakan ketrampilan jabatan sepenuhnya.
c) Penyuluhan karir untuk memudahkan keputusan-keputusan yang menyangkut karir.
Pengembangan karir merupakan pembangkit stres potensial yang mencakup ketidakpastian kerja, promosi berlebih, dan promosi yang kurang (Munandar, 2008).
4) Hubungan dalam pekerjaan
a) Hubungan kerja yang tidak baik terungkap dalam gejala-gejala:
(1) Kepercayaan yang rendah
(2) Taraf pemberian support yang rendah
(3) Minat yang rendah dalam pemecahan masalah di organisasi
(4) Persaingan politik, kecemburuan dan kemarahan (5) Kurangnya perhatian manajemen terhadap pekerja
(Hadipoetra, 2014).
b) Ada pula jenis-jenis pekerjaan yang mengakibatkan pekerja bermasalah dalam hubungan dengan orang lain, seperti pekerjaan yang terisolasi (misalnya operator kran, operator mesin pemintalan benang, atau pekerjaan “berdesakan”, atau di ruang yang sempit) (Hadipoetra, 2014).
5) Lingkungan di luar pekerjaan
Kategori pembangkit stres potensial ini mencakup segala unsur kehidupan seseorang yang dapat berinteraksi
dengan peristiwa-peristiwa kehidupan dan kerja di dalam satu organisasi, dan dapat memberi tekanan pada individu, isu-isu tentang keluarga, krisis kehidupan, kesulitan keuangan, keyakinan-keyakinan pribadi dan organisasi yang bertentangan, konflik antara tuntutan keluarga dan tuntutan perusahaan, semuanya dapat merupakan tekanan pada individu dalam pekerjaanya, sebagaimana halnya stres dalam pekerjaan mempunyai dampak yang negatif pada kehidupan keluarga dan pribadi (Hadipoetra, 2014).
6) Struktur dan iklim organisasi
Kepuasan dan ketidakpuasan kerja berkaitan dengan penilaian dari struktur dan iklim organisasi. Faktor stres yang dikenali dalam kategori ini adalah terpusat pada sejauh mana pekerja dapat terlihat atau berperan serta pada support sosial.
Penelitian menunjukkan bahwa kurangnya peran serta atau partisipasi dalam pengambilan keputusan berhubungan dengan suasana hati dan perilaku yang negatif, misalnya menjadi perokok berat. Peningkatan peluang untuk berperan serta, menghasilkan peningkatan unjuk-kerja dan peningkatan taraf dari kesehatan mental dan fisik (Munandar, 2008).
d. Gejala-Gejala Stres
Berikut ini adalah gejala-gejala yang sering ditemui pada hasil penelitian mengenai stres pekerjaan:
1) Gejala Psikologis
a) Kecemasan, ketegangan, kebingungan, dan mudah tersinggung.
b) Perasaan frustasi, rasa marah, dan dendam (kebencian). c) Sensitif dan hiperaktif.
d) Memendam perasaan, penarikan diri, dan depresi. e) Komunikasi yang tidak efektif.
f) Perasaan terkucil dan terasing. g) Kebosanan dan ketidakpuasan kerja.
h) Kelelahan mental, penurunan fungsi intelektual, dan kehilangan konsentrasi.
i) Kehilangan spontanitas dan kreativitas. j) Menurunya rasa percaya diri.
(Waluyo, 2013) 2) Gejala Fisiologis
a) Perut terganggu.
b) Merasa jantung berdebar. c) Banyak berkeringat. d) Tangan berkeringat.
e) Merasa kepala ringan atau akan pingsan. f) Mengalami kedinginan.
g) Wajah menjadi „„panas‟‟. h) Mulut menjadi kering.
i) Mendengar bunyi berdering dalam telinga.
j) Mengalami „‟rasa akan tenggelam‟‟ dalam perut (sinking feeling).
(Munandar, 2008) 3) Gejala Perilaku
a) Menunda,menghindari pekerjaan, dan absen dari pekerjaan. b) Menurunya prestasi (performance) dan produktivitas.
c) Meningkatnya penggunaan minuman keras dan obat-obatan. d) Perilaku sabotase dalam pekerjaan.
e) Perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan) sebagai pelampiasan, mengarah ke obesitas.
f) Perilaku yang tidak normal (kekurangan) sebagai bentuk penarikan diri dan kehilangan berat badan secara tiba-tiba, kemungkinan berkombinasi dengan tanda-tanda depresi. g) Menigkatnya kecenderungan berperilaku berisiko tinggi,
seperti menyetir dengan tidak hat-hati dan berjudi. h) Meningkatnya agresifitas dan kriminalitas.
i) Menurunnya kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman.
j) Kecenderungan untuk melakukan bunuh diri. (Hadipoetra, 2014).
3. Hubungan antara Terapi Murotal Al Quran dengan Stres Kerja
Al Quran adalah kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, memiliki banyak mukjizat dan membacanya merupakan ibadah. Setiap bacaan ayat Al Quran yang sampai ke telinga akan berpindah dan mempengaruhi sel-sel otak melalui saluran listrik yang dilahirkan dalam sel-sel.
Seseorang yang mengalami stres akan mengalami penyempitan atau pengerasan pada pembuluh darah sehingga kadar darah yang mengalir di pembuluh darah bagian kulit akan menurun, suhu pada kulit juga akan menurun, sementara detak jantung akan semakin cepat. Selain itu, stres juga berpotensi menurunkan imunitas tubuh dikarenakan sekresi hormone kortisol atau zat lain sebagai reaksi antara sistem saraf dan sistem kelenjar endokrin. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk menurunkan stres adalah relaksasi. Relaksasi atau penurunan ketegangan akan melonggarkan pembuluh darah, menambah kadar darah di kulit, meningkatkan suhu kulit dan menurunkan frekuensi detak jantung. Salah satu terapi yang dapat digunakan untuk relaksasi adalah terapi murotal Al Quran. Tingkat efek relaksasi dari bacaan Al Quran dalam menurunkan ketegangan saraf mencapai 56%.
Bacaan Al Quran memiliki efek yang sangat baik untuk tubuh seperti, memberikan ketenangan, mengurangi kecemasan, mengurangi tingkat nyeri dan dampak positif lainnya. Bacaan Al Quran yang dibaca dengan tartil yang bagus dan sesuai dengan tajwid memiliki frekuensi dan
panjang gelombang yang mampu memengaruhi otak secara positif dan mengembalikan keseimbangan tubuh. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Al Qadhi yang berhasil membuktikan bahwa hanya dengan mendengarkan ayat-ayat Al Quran, seorang muslim baik yang dapat berbahasa Arab maupun tidak, dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar. Penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Kesimpulannya adalah bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit. Maka dari itu dengan mendengarkan ayat-ayat Al Quran pendengar dapat merasakan perubahan fisiologis yang besar di antaranya menurunkan stres kerja dan memperbaiki kondisi psikologi khususnya pada perawat.
B. Kerangka Pemikiran
Gambar 1. Kerangka Pemikiran
Keterangan : : Diteliti : Tidak Diteliti C. Hipotesis
Ada pengaruh terapi murotal Al Quran terhadap penurunan stres kerja pada perawat di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta.
Sumber Stres Kerja : a. Dalam diri b. Dalam keluarga c. Dalam masyarakat dan
Faktor-faktor stres kerja : a. Usia
b. Jenis kelamin c. Kondisi kesehatan d. Kepribadian e. Intrinsik pekerjaan f. Peran dalam organisasi g. Pengembangan karir h. Hubungan dalam
pekerjaan
i. Lingkungan di luar pekerjaan
j. Struktur dan iklim organisasi
Stres Kerja
Berkurangnya Tanda dan Gejala Stres Kerja seperti :
a. Psikologi : frustasi, kecemasan, sensitif, komunikasi yang tidak efektif dan lain-lain.
b. Fisik : meningkatnya denyut
jantung, tekanan darah, kecenderungan
mengalami penyakit kardiovaskuler,
gangguan gastrointestinal dan lain-lain.
c. Perilaku : menunda,menghindari
pekerjaan, absen dari pekerjaan dan lain-lain.
Terapi Murotal Al Quran (Ar-Rahman)
Didengarkan oleh telinga
Berpindah dan mempengaruhi sel-sel otak melalui saluran listrik yang dilahirkan dalam sel-sel.
Melonggarkan pembuluh darah
Menurunkan frekuensi detak
jantung dan menimbulkan