• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PERDAGANGAN LUAR NEGERI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ANALISIS PERDAGANGAN LUAR NEGERI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA."

Copied!
135
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Untuk memenuhi Sebagian Persyaratan

Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Jurusan Ilmu Ekonomi

Oleh :

RIAN TRI TEGUH SANTOSO

0611010104 / FE / IE

Kepada

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

JAWA TIMUR

(2)

PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA

Disusun Oleh : Rian Tri Teguh Santoso

0611010104 / FE / IE telah dipertahankan dihadapan dan diterima oleh Tim Penguji Skripsi

Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

pada tanggal 22 Oktober 2010

Pembimbing : Tim Penguji :

Pembimbing Utama Ketua

Dra. Ec. Niniek Imaningsih,MP Dr. Hj. Sri Muljaningsih, SE. MP

Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

(3)

Assalamu’ alaikum Wr. Wb.

Pertama-tama peneliti panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT serta sholawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang telah melimpahkan berkah, rahmat dan hidayah-Nya sehingga skripsi yang peneliti susun dengan judul “ANALISIS PERDAGANGAN LUAR NEGERI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA” ini dapat terselesaikan.

Skripsi ini peneliti susun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

Peneliti menyadari bahwa dalam menyusun skripsi ini sering kali menghadapi hambatan dan keterbatasan dalam berbagai hal. Oleh karena itu dalam kesempatan ini peneliti ucapkan terima kasih tak terhingga kepada Ibu Dra. Ec. Niniek Imaningsih, MP, selaku dosen pembimbing utama yang telah banyak meluangkan waktunya dalam memberikan suatu bimbingan, pengarahan, dorongan, masukan-masukan, dan saran dengan tidak bosan-bosannya kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini. Selain itu peneliti juga menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP, selaku Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur yang telah memberikan

(4)

3. Bapak Drs. EC. Marseto, D.S, Msi, selaku Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

4. Ayahanda, Ibunda, beserta keluarga tercinta yang telah memberikan motivasi, do’a, semangat dan dorongan moral serta spiritualnya yang telah tulus kepada peneliti, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan sebaik-baiknya.

5. Bapak-bapak dan ibu-ibu dosen serta staf karyawan Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “VETERAN” Jawa Timur yang telah dengan ikhlas memberikan banyak ilmu pengetahuannya selama masa perkuliahan dan pelayanan akademik bagi peneliti.

6. Bapak-bapak dan ibu-ibu staf instansi Badan Pusat Statistik cabang Surabaya, yang telah memberikan banyak informasi dan data-data yang dibutuhkan untuk mengadakan penelitian dalam penyusunan skripsi ini. 7. Seluruh mahasiswa dari Jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Pembangunan

Nasional “Veteran” Jawa Timur, serta semua pihak yang tidak bisa peneliti sebutkan satu persatu yang selalu memotivasi, membantu, dan mendukung peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

(5)

diberikan.

Akhir kata, besar harapan bagi peneliti semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca, baik sebagai bahan kajian maupun sebagai salah satu sumber informasi dan bagi pihak-pihak lain yang membutuhkan.

Wassalamu’ alaikum Wr. Wb

Surabaya, Oktober 2010

Peneliti

(6)

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

ABSTRAKSI ... xiii

BAB I PENDAHULUAN 1.1...Latar Belakang ... 1

1.2...Peru musan Masalah ... 5

1.3...Tujua n Penelitian ... 5

1.4...Manf aat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1...Hasil Penelitian Terdahulu ... 8

2.1.1...Perbe daan Dengan Peneliti Terdahulu ... 10

(7)

2.2.1...Pertu mbuhan Ekonomi ... 11 2.2.1.1...Fakto

r Pertumbuhan Ekonomi ... 14 2.2.1.2...Ukur

an Pertumbuhan Ekonomi ... 16 2.2.1.3...Teori

Pertumbuhan Ekonomi ... 18 2.2.2...Peng

ertian Perdagangan ... 23 2.2.2.1...Perda

gangan Internasional... 24 2.2.2.2...Teori

Perdagangan Internasional... 28 2.2.3...Impo

r ... 33 2.2.3.1...Bara

ng Modal... 34 2.2.3.2...Hubu

ngan Impor Barang Modal Terhadap Pertumbuhan

Ekonomi... 36

(8)

2.2.4.1...Tujua n Ekspor... 37 2.2.4.2...Manf

aat Ekspor ... 38 2.2.4.3...Cara

Ekspor... 39 2.2.4.4...Strate

gi Ekspor... 40 2.2.4.5...Hubu

ngan Ekspor Terhadap Pertumbuhan Ekonomi ... 41 2.2.5...Inves

tasi... 42 2.2.5.1...Teori

Investasi ... 43 2.2.5.2...Maca

m-Macam Investasi... 47 2.2.5.3...Fakto

r Yang Menentukan Investasi ... 49

(9)

... 51 2.2.6...Tena

ga Kerja... 51 2.2.6.1...Peng

ertian Angkatan Kerja... 52 2.2.6.2...Peng

ertian Bukan Angkatan Kerja ... 53 2.2.6.3...Perm

intaan Tenaga Kerja... 56 2.2.6.4...Pena

waran Tenaga Kerja... 57 2.2.6.5...Hubu

ngan Tenaga Kerja Terhadap Pertumbuhan Ekonomi ... 60 2.2.7...Kurs

Valuta Asing ... 60 2.2.7.1...Peng

ertian Tentang Nilai Valuta dan Pasar Valuta Asing ... 61

(10)

Uang... 63 2.2.7.3...Siste

m Kurs Tetap ... 65 2.2.7.4...Siste

m Kurs Mengambang ... 66 2.2.7.5...Siste

m Kurs Mengambang Terkendali ... 66 2.2.7.6...Teori

Purchasing Power Parity ... 68

2.2.7.7...Pena waran dan Permintaan Valuta Asing ... 68 2.2.7.8...

Jenis-Jenis Transaksi Valuta Asing ... 69 2.2.7.9...Hubu

ngan Kurs Valuta Asing Terhadap Pertumbuhan

Ekonomi... 70 2.3...Kera

ngka Pikir ... 70 2.4...Hipot

esis ... 74 BAB III METODE PENELITIAN

(11)

3.2...Tekni k Penentuan Data ... 77 3.3...Jenis

dan Sumber Data ... 77 3.3.1...Jenis

Data... 77 3.3.2...Sumb

er Data... 77 3.4...Tekni

k Pengumpulan Data ... 77 3.5...Tekni

k Analisis dan Uji Hipotesis ... 78 3.5.1...Tekni

k Analisis ... 78 3.5.2...Uji

Hipotesis ... 80 3.6...Uji

Asumsi Klasik ... 84 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1...Desk ripsi Hasil Penelitian ... 89

(12)

4.1.2...Perke mbangan Import Barang Modal ... 90 4.1.3...Perke

mbangan Ekspor ... 91 4.1.4...Perke

mbangan Investasi Penanaman Modal Asing ... 92 4.1.5...Perke

mbangan Tenaga Kerja ... 93 4.1.6...Perke

mbangan Kurs Valuta Asing... 94 4.2...Hasil

Analisis Asumsi Regresi Klasik (BLUE/Best Linear Unbiased

Estimator) ... 96

4.3.1...Anali sis Dan Pengujian Hipotesis ... 100 4.3.2...Uji

Hipotesis Secara Simultan ... 102 4.3.3...Uji

Hipotesis Secara Parsial... 103 4.3...Pemb

ahasan ... 111

(13)

mpulan ... 115 5.2...Saran

... 116 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(14)

Gambar 1 : Kurva Teori Permintaan ... 26

Gambar 2 : Kurva Penawaran ... 28

Gambar 3 : Fungsi Impor ... 34

Gambar 4 : Kurva PPF (Production Possibilities Frontier) ... 36

Gambar 5 : Hubungan MEI (Marginal Efficiency of Investment) dan Investasi... 46

Gambar 6 : Komposisi Penduduk dan Tenaga Kerja ... 55

Gambar 7 : Kurva Permintaan Tenaga Kerja... 57

Gambar 8 : Kurva Penawaran Tenaga Kerja ... 58

Gambar 9 : Keseimbangan dalam Pasar Tenaga Kerja ... 59

Gambar 10 : Sistem Kurs Tetap ... 65

Gambar 11 : Sistem Kurs Mengambang Terkendali... 67

Gambar 12 : Kerangka Pikir Analisis Perdagangan Luar Negeri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia ... 73

Gambar 13 : Kurva Distribusi Penolakan/Penerimaan Hipotesis Secara Simultan ... 81

Gambar 14 : Kurva Distribusi Penerimaan/Penolakan Hipotesisi Secara Parsial ... 83

Gambar 15 : Kurva Durbin – Watson ... 85

Gambar 16 : Kurva Statistik Durbin – Watson ... 97

(15)

Gambar 18 : Kurva Distribusi Hasil Analisis Secara Parsial Faktor Impor Barang Modal terhadap Pertumbuhan Ekonomi ... 105 Gambar 19 : Kurva Distribusi Hasil Analisis Secara Parsial Faktor Ekspor

terhadap Pertumbuhan Ekonomi ... 106 Gambar 20 : Kurva Distribusi Hasil Analisis Secara Parsial Faktor Investasi

terhadap Pertumbuhan Ekonomi ... 107 Gambar 21 : Kurva Distribusi Hasil Analisis Secara Parsial FaktorTenaga

Kerja terhadap Pertumbuhan Ekonomi ... 109 Gambar 22 : Kurva Distribusi Hasil Analisis Secara Parsial FaktorKurs Valuta

Asing terhadap Pertumbuhan Ekonomi ... 110

(16)

Tabel 1 : Autokorelasi Durbin Watson ... 86 Tabel 2 : Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Tahun 1994 – 2008 ... 90 Tabel 3 : Perkembangan Impor Barang Modal Indonesia

Tahun 1994 – 2008 ... 91 Tabel 4 : Perkembangan Ekspor Indonesia Tahun 1994 – 2008... 92 Tabel 5 : Perkembangan Investasi Penanaman Modal Asing Tahun

1998 – 2008... 93 Tabel 6 : Perkembangan Tenaga Kerja Tahun 1998 – 2008 ... 94 Tabel 7 : Perkembangan Kurs Valuta Asing Tahun 1998 – 2008... 95 Tabel 8 : Tes Heterokedastisitas dengan Korelasi Rank Spearman

Korelasi ... 99 Tabel 9 : Analisis Varian (ANOVA)... 102

Tabel 10 : Hasil Analisis Variabel Impor Barang Modal, Ekspor, Investasi, Tenaga Kerja dan Kurs Valuta Asing Terhadap Pertumbuhan Ekonomi ... 104

(17)

Lampiran 1 : Data Input Analisis Perdagangan Luar Negeri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia 

Lampiran 2 : Hasil Analisis Regresi Linear Berganda (Descriptive Statistic, Variables Entered / Removed, Model Summary, dan ANOVA)  Lampiran 3 : Hasil Analisis Regresi Linear Berganda (Coefficients,

Correlations) 

Lampiran 4 : Tabel Pengujian Nilai F  Lampiran 5 : Tabel Pengujian Nilai t 

Lampiran 6 : Tabel Pengujian Nilai Durbin – Watson

(18)

xvi Oleh :

RIAN TRI TEGUH SANTOSO

ABSTRAKSI

Pertumbuhan ekonomi merupakan masalah ekonomi dalam jangka panjang. Kebijaksanaan yang ditempuh oleh pemerintah adalah kebijaksanaan yang harus dapat mengatasi masalah perekonomian secara keseluruhan. Di satu pihak dapat meningkatkan ekspor sebagai penghasil devisa guna membiayai impor. Impor meningkatkan jumlah produksi barang dan jasa yang dihasilkan sehingga memacu perekonomian. Di sisi lain juga merupakan alat yang ampuh untuk mempertahankan nilai tukar (kurs) yang kompetitif guna menunjang ekspor serta dapat mengatasi masalah di bidang ketenagakerjaan. Atas dasar penelitian terdahulu yang telah meneliti Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia (Y), maka penelitian kali ini menggunakan indikator tentang perdagangan luar negeri dengan variabel Impor Barang Modal (X1), Ekspor (X2), Investasi (X3),

Tenaga kerja (X4) dan Kurs Valuta Asing (X5).

Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) cabang Kota Surabaya yang diambil selama kurun waktu 15 tahun mulai dari tahun 1994 – 2008. Untuk analisis data menggunakan alat bantu komputer dengan program SPSS (Statistic Program For Social Science) versi 13.0. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier berganda dan uji hipotesis yang digunakan adalah uji F dan uji t statistik.

Kesimpulan dari penelitian ini yaitu secara simultan menunjukkan adanya pengaruh yang nyata antara variabel bebas import barang modal, ekspor, investasi, tenaga kerja dan kurs valuta asing terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, dan secara parsial variabel impor barang modal, ekspor, investasi, tenaga kerja dan kurs valuta asing tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

(19)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pertumbuhan ekonomi merupakan masalah ekonomi dalam jangka panjang. Indonesia sebagai negara sedang berkembang selalu berupaya untuk meningkatkan pembangunan, dengan sasaran utama adalah mewujudkan masyarakat demokratis, yang berkeadilan dan sejahtera sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Dalam memenuhi kebutuhan akan pembangunan nasional maka diperlukan sumber daya yang handal serta memiliki keahlian dan kemampuan teknologi tinggi. Untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi sudah tentu memerlukan biaya yang cukup besar. Maka cara untuk mencapai pertumbuhan ekonomi itu adalah dengan berusaha meningkatkan investasi. (Adrian, 2008 : 2)

(20)

Pertumbuhan ekonomi Indonesia berada dalam kisaran angka 4% - 6% selama kurun waktu antara tahun 2000 – 2008. Di tahun 1998 Indonesia mengalami krisis ekonomi sehingga angka pertumbuhan ekonomi berada pada angka -13,13. Pada tahun 2003, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada kisaran angka 4,78%. Kemudian di tahun 2004, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada angka 5,83%. Pada tahun 2005, mengalami kenaikan yang tidak terlalu menggembirakan, terjadi kenaikan sebesar 0,01% menjadi sebesar 5,84%. Untuk tahun selanjutnya 2006, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami penurunan menjadi 5,80%. Pada tahun 2007, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kenaikan menjadi 5,84%. (Badan Pusat Statistik, 2008 : 182)

Investasi merupakan faktor penting dalam memberikan kontribusi yang besar terhadap proses pembangunan ekonomi atau pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi maka sangat diperlukan kegiatan – kegiatan proses produksi (barang dan jasa) di semua sektor – sektor ekonomi, yang akan terciptanya kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat meningkat, sehingga pertumbuhan ekonomi akan tercipta. (Tambunan, 2001 : 40)

(21)

kemampuan suatu negara untuk mengimport berbagai barang kebutuhan, misalnya barang modal, dan bahan baku atau penolong, yang pada akhirnya nanti akan timbul kemungkinan berkembangnya inovasi – inovasi teknologi baru yang dapat mengakibatkan jumlah, kualitas, dan jenis barang yang mampu dihasilkan akan meningkat, sehingga akan mempengaruhi komposisi perdagangan internasional suatu negara. (Narzeki, 2005 : 1)

Dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi Indonesia memerlukan dua faktor penting, yaitu modal dan tenaga ahli. Tersedianya modal saja tidak cukup untuk meningkatkan perekonomian. Dengan kata lain diperlukan adanya tenaga kerja yang terdidik, ahli dan terampil dalam melakukan proses produksi. Tenaga kerja yang terdidik, ahli dan terampil ini memerlukan pendidikan. Perkembangan pendidikan merupakan suatu langkah yang harus dilaksanakan pada waktu usaha pembangunan dimulai. Selain itu masalah pengembangan pengusaha juga penting. Menurut Schumpeter bahwa golongan pengusaha sangat penting dalam menentukan sampai mana perkembangan ekonomi akan tercapai. Mereka adalah golongan peminjam atau mengumpulkan modal atau dana sendiri yang akan mengembangkan kegiatan proses produksinya. (Sukirno, 2004 : 439)

(22)

tidak dapat bertindak semena – mena, karena bila pemerintah tidak pandai menarik investor maka pertumbuhan ekonomi akan lambat dan lapangan kerja akan tidak bertambah melebihi pertambahan angkatan kerja. Selain itu pemerintah sebagai stimulator, dana yang dimiliki pemerintah dapat digunakan sebagai stimulan untuk mengarahkan investasi swasta atau masyarakat umum ke arah yang diinginkan pemerintah baik dari sudut jenis kegiatan maupun lokasinya. (Tarigan, 2005 : 32).

Kebijaksanaan yang ditempuh oleh pemerintah adalah kebijaksanaan yang harus dapat mengatasi masalah perekonomian secara keseluruhan. Di satu pihak dapat meningkatkan ekspor sebagai penghasil devisa guna membiayai impor serta pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri, dan di lain pihak dapat menekan laju inflasi. Penekanan laju inflasi diarahkan untuk mencegah penurunan daya beli masyarakat, terutama golongan mayoritas yang banyak mengkonsumsi keperluan bahan pokok, tetapi di sisi lain juga merupakan alat yang ampuh untuk mempertahankan nilai tukar (kurs) yang kompetitif guna menunjang eksport serta dapat mengatasi masalah di bidang ketenagakerjaan. (Adhitya, 2007 : 5)

(23)

yang mempengaruhinya. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengamati masalah pertumbuhan ekonomi dan mengkaji lebih dalam lagi tentang :

“Analisis Perdagangan Luar Negeri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Di Indonesia”.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut diatas maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut :

a. Apakah faktor impor barang modal, ekspor, investasi, tenaga kerja dan kurs valuta asing secara simultan dan parsial berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia?

b. Variabel bebas manakah yang memberi pengaruh paling dominan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang telah di kemukakan sebelumnya, maka perlu diketahui tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

(24)

b. Untuk mengetahui variabel mana yang paling berpengaruh dominan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

1.4. Manfaat Penelitian

Melalui penelitian ini, maka hasilnya diharapkan dapat diambil manfaat sebagai berikut :

a. Bagi Pengembangan Keilmuan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menyumbangkan sesuatu yang berharga bagi pihak universitas khususnya Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur sekaligus sebagai koleksi pembendaharaan referensi dan tambahan wacana pengetahuan untuk perpustakaan Universitas Pembangunan Nasional “VETERAN” Jawa Timur.

b. Bagi Pemerintah

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi atau masukan terhadap neraca perdagangan di Indonesia serta sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan perkembangan perekonomian dalam serta berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

c. Bagi Peneliti

(25)
(26)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Hasil – hasil Penelitian Terdahulu

Hasil penelitian ini dilakukan atas dasar atau mengacu pada

penelitian – penelitian terdahulu yang pernah dilakukan dengan

permasalahan yang sedikit berbeda, adapun penelitian tersebut antara

lain :

1. Jumami (2004), skripsi dengan judul “Analisis Beberapa Faktor

Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi di Jawa Timur”, hasil

penelitian secara simultan menunjukkan adanya hubungan yang

nyata antara variabel bebas Investasi (X1), Ekspor (X2), Pengeluaran

Pemerintah Daerah (X3), Inflasi (X4) terhadap Pertumbuhan

Ekonomi di Jawa Timur (Y). Secara parsial, variabel Investasi (X1)

dan Pengeluaran Pemerintah Daerah (X3) tidak berpengaruh terhadap

Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur. Sedangkan variabel Ekspor (X2)

dan Inflasi (X4) berpengaruh terhadap Pertumbuhan Ekonomi di

Jawa Timur (Y).

2. Narzeki (2005), skripsi dengan judul “Beberapa Faktor Yang

Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi di Jawa Timur”. Berdasarkan

hasil analisis dan pengujian hipotesis bahwa secara simultan ketiga

(27)

Pertumbuhan Ekonomi di Jawa Timur (Y). Pengujian secara parsial

diperoleh variabel X1 (Ekspor) memberikan pengaruh yang nyata

terhadap variabel terikat (Y). Untuk X2 (Investasi) memberikan

pengaruh yang nyata terhadap variabel terikat (Y). Dan untuk X3

(inflasi) memberikan pengaruh yang nyata terhadap variabel terikat

(Y).

3. Wicaksono (2008), skripsi dengan judul “Analisis Beberapa Faktor

Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi di Jawa Timur”, hasil

penelitiannya bahwa dari hasil uji hipotesis adalah bahwa secara

simultan variabel investasi (X1), tenaga kerja (X2), nilai produksi

(X3), perusahaan besar (X4), dan tabungan pemerintah (X5)

berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Timur.

Sedangkan secara parsial dapat diketahui bahwa variabel bebas

jumlah investasi (X1) dan variabel tabungan pemerintah daerah (X5)

berpengaruh secara nyata terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa

Timur. Sedangkan untuk variabel tenaga kerja (X2) dan nilai

produksi (X3) tidak berpengaruh secara nyata terhadap pertumbuhan

ekonomi Jawa Timur.

4. Wiyono (2005 : 1), Jurnal Ekonomi dengan judul “Mengungkap

Sumber-Sumber Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Dalam Lima

Tahun Terakhir”. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif

dengan berpijak pada teori Harod-Domar dan Solow-Swan. Hasil

(28)

industri pengolahan (yang bersifat padat modal dan teknologi tinggi)

merupakan penyumbang terbesar atas pertumbuhan ekonomi diikuti

sektor keuangan dan jasa-jasa serta sektor pertanian. Begitu pula

belanja konsumsi swasta menyumbang terbesar dari sisi pengeluaran

daripada pembentukan modal tetap domestik (investasi).

Pertumbuhan ekonomi ternyata juga banyak didorong oleh faktor

eksternal yang terlihat pada tinginya kandungan impor yang

digunakan oleh sektor industri dalam proses produksinya.

2.1.1. Perbedaan Dengan Penelitian Terdahulu

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti pada kesempatan kali ini

berbeda dengan penelitian–penelitian sebelumnya. Perbedaan penelitian

yang dilakukan oleh peneliti terdahulu dengan penelitian yang dilakukan

sekarang terletak pada kurun waktu, ruang lingkup, tempat penelitian dan

jumlah variabel yang digunakan untuk penelitian. Berdasarkan penelitian

terdahulu seperti yang telah disebutkan diatas, yang juga merupakan

dasar acuan untuk penelitian kali ini dengan judul “Analisis Perdagangan

Luar Negeri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia”, dengan

variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pertumbuhan

Ekonomi di Indonesia (Y), sedangkan variabel terikat yang digunakan

dalam penelitian ini adalah Impor Barang Modal (X1), Ekspor (X2),

(29)

2.2. Landasan Teori

2.2.1. Pertumbuhan Ekonomi

Pengertian pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan jangka

panjang dalam kemampuan suatu negara untuk menyediakan semakin

banyak jenis barang – barang ekonomi kepada penduduknya,

kemampuan ini tambah sesuai dengan kemajuan teknologi dan

penyelesaian kelembagaan dan ideologi yang dibutuhkan. (Jhingan, 2001

: 72)

Dari definisi diatas dapat dilihat bahwa pertumbuhan ekonomi

memiliki tiga komponen, yaitu :

a. Pertumbuhan ekonomi suatu bangsa dilihat dari meningkat secara

terus menerus persediaan barang.

b. Teknologi maju merupakan faktor-faktor dalam pertumbuhan

ekonomi yang menentukan derajat pertumbuhan kemampuan dalam

menyediakan aneka macam barang pada pemerintah.

c. Penggunaan teknologi secara luas dan efisiensi memerlukan adanya

penyelesaian di bidang kelembagaan dan ideologi dengan inovasi

yang dilakukan oleh ilmu pengetahuan manusia dapat dimanfaatkan

secara tepat. (Jhingan, 2001 : 73)

Pengertian pertumbuhan ekonomi menurut Iskandar Putong

(2003 : 252) adalah kenaikan pendapatan nasional secara berarti (dengan

meningkatnya pendapatan perkapita) dalam suatu periode perhitungan

(30)

Apapun istilah dan definisinya, yang pasti adalah bahwa

pertumbuhan ekonomi mengkaitkan dan menghitung antara tingkat

pendapatan nasional dari satu periode ke periode berikutnya. Dan angka

pertumbuhan ekonomi umumnya dalam bentuk prosentase dan bernilai

positif, tetapi mungkin juga bernilai yang disebabkan adanya penurunan

yang lebih besar dari pendapatan nasional tahun berikutnya dibandingkan

dengan tahun sebelumnya.

Sedangkan menurut Sukirno (2002 : 10) pertumbuhan ekonomi

berarti perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan

barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah dan

kemakmuran masyarakat meningkat. Dan dari satu periode ke periode

lainnya kemampuan suatu negara untuk menghasilkan barang dan jasa

akan meningkat. Kemampuan yang meningkat ini disebabkan karena

faktor – faktor produksi akan selalu mengalami pertambahan dalam

jumlah dan kualitasnya.

Investasi akan menambah jumlah barang modal karena

disebabkan teknologi yang digunakan berkembang. Akan tetapi

perkembangan atau kemampuan untuk dapat memproduksi barang dan

jasa sebagai akibat pertambahan faktor – faktor produksi pada umumnya

tidak selalu diikuti oleh pertambahan produksi barang dan jasa yang

sama besarnya. Karena pertambahan potensi memproduksi kerap kali

lebih besar dari pertambahan produksi yang sebenarnya. Dengan

(31)

Suatu perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan apabila

dalam jangka waktu yang cukup lama output perkapitanya menunjukkan

kecenderungan yang jelas untuk menarik. Pertumbuhan ekonomi

mempunyai ciri – ciri di mana proses pertumbuhan ekonomi dipengaruhi

oleh dua macam faktor yaitu ekonomi dan non ekonomi, yang termasuk

dalam faktor ekonomi adalah modal usaha, sumber daya alam, teknologi

dan lain sebagainya. Sedangkan faktor non ekonomi adalah seperti

lembaga sosial, kondisi politik dan nilai moral dalam suatu bangsa.

Menurut Kuznet (dalam Jhingan, 2001 : 7) ada enam

karakteristik dalam proses pertumbuhan ekonomi, yaitu :

1. Tingginya tingkat pertimbangan output (penghasilan) perkapita dan

jumlah penduduk.

2. Tingginya tingkat penambahan jumlah produktivitas, terutama

produktivitas kerja.

3. Tingginya tingkat infragmasi struktur ekonomi (prasarana).

4. Tingginya tingkat transformasi sosial, politik dan ideologi.

5. Kecenderungan negara-negara yang ekonominya sudah maju untuk

ke segala pelosok dunia guna mendapatkan prasarana dan bahan

baku.

6. Pertumbuhan ekonomi hanya terbatas pada tiga segitiga populasi

(32)

Keenamnya saling memperkuat dan mempercepat pertumbuhan

ekonomi yang pada akhirnya nanti dapat menhasilkan

penemuan-penemuan baru guna mendorong pertumbuhan ekonomi selanjutnya.

2.2.1.1. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi

Menurut Todaro (2003 : 92) beberapa faktor penting yang

mempengaruhi pertumbuhan ekonomi adalah :

1. Akumulasi modal

Akumulasi modal (capital accumulation) terjadi apabila

sebagian dari pendapatan ditabung dan diinvestasikan dengan

tujuan untuk memperbesar output dan pendapatan di kemudian hari

atau di masa yang akan datang. Pengadaan pabrik baru, mesin –

mesin, peralatan dan bahan baku yang meningkatkan stok modal

(capital stock) fisik suatu negara (yakni, total nilai riil “netto” atas

seluruh barang modal produktif secara fisik sehingga akan

memungkinkan peningkatan output di masa – masa mendatang.

2. Pertumbuhan penduduk dan angkatan kerja

Pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan angkatan kerja

secara tradisional dianggap sebagai salah satu faktor positif yang

memacu pertumbuhan ekonomi. Jumlah tenaga kerja yang lebih

besar berarti akan menambah jumlah tenaga produktif, sedangkan

pertumbuhan penduduk yang lebih besar berarti meningkatkan

(33)

3. Kemajuan teknologi

Kemajuan teknologi (technology progress) merupakan

sumber pertumbuhan ekonomi yang paling penting. Kemajuan

teknologi dapat diklasifikasikan menjadi 3 yaitu :

a. Kemajuan teknologi yang netral (neutral technology progress)

terjadi apabila teknologi tersebut memungkinkan kita

mencapai tingkat produksi yang lebih tinggi dengan

menggunakan jumlah dan kombinasi faktor input yang sama.

Inovasi yang sederhana seperti pembagian tenaga kerja yang

mendorong peningkatan output dan kenaikan konsumsi

masyarakat adalah contohnya. Ditinjau dari sudut analisis

output, secara konseptual sama artinya dengan teknologi yang

mampu melipatgandakan semua input produktif.

b. Kemajuan teknologi yang hemat tenaga kerja (labor-saving

technological progress). Kemajuan teknologi dapat

berlangsung sedemikian rupa sehingga menghemat pemakaian

modal atau tenaga kerja (artinya, penggunaan teknologi

tersebut memungkinkan kita memperoleh output yang lebih

tinggi dari jumlah input tenaga kerja atau modal yang sama).

Penggunaan komputer, mesin tekstil otomatis, bor listrik

berkecepatan tinggi, traktor dan peralatan modern lainnya.

c. Kemajuan teknologi hemat modal (capital-saving

(34)

negara – negara berkembang yang murah, efisien, dan padat

karya (hemat modal) atau teknologi tepat guna merupakan

salah satu unsur terpenting dalam strategi pembangunan dalam

jangka panjang yang berorientasi pada perluasan penyedian

lapangan kerja.

2.2.1.2. Ukuran Pertumbuhan Ekonomi

Untuk menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapai

oleh suatu negara perlu dihitung pendapatan nasional riil, yaitu Produk

Nasional Bruto Riil atau Produk Domestik Riil. Untuk menentukan

Pertumbuhan ekonomi yang dicapai suatu negara, dihitung berdasarkan

laju perubahan Pendapatan Nasional riil per tahun dalam persentase atau

besarnya pertambahan riil Pendapatan Nasional riil tahun t (sekarang)

dikurangi tahun t-1 (sebelumnya) kemudian dikalikan 100 % atau dengan

rumus persamaan sebagai berikut :

Gt = PNB rt - PNB rt-1 X 100 % ... (Ritonga, 2003 : 159). PNB rt-1

Dimana :

Gt = Pertumbuhan Ekonomi pada tahun t

PNB rt = Pendapatan Nasional riil pada tahun t

(35)

Alat pengukur pertumbuhan ekonomi antara lain :

a. Produk Domestik Bruto (PDB)

Produk Domestik Bruto (PDB) merupakan jumlah barang dan

jasa akhir yang dihasilkan oleh suatu perekonomian dalam satu

tahun dan dinyatakan dalam harga pasar. Produk Domestik

Bruto ini merupakan acuan yang sifatnya global dan bukan

merupakan alat pengukuran yang tepat, karena belum dapat

mencerminkan kesejahteraan masyarakat yang sesungguhnya.

b. Produk Domestik Bruto Perkapita

Produk Domestik Bruto Perkapita dapat dipakai mengukur

pendapatan perkapita dan lebih tepat mencerminkan

kesejahteraan penduduk suatu negara dari pada Produk

Domestik Bruto (PDB) saja. Produk Domestik Bruto Perkapita

adalah jumlah produk domestik bruto nasional dibagi dengan

jumlah penduduk.

c. Pendapatan Perjam Kerja

Pendapatan Perjam Kerja sebenarnya paling baik sebagai alat

untuk mengukur maju tidaknya perekonomian. Biasanya suatu

negara yang mempunyai pendapatan atau upah jam kerja lebih

tinggi dari upah jam kerja negara lain untuk jenis pekerjaan

yang sama. Pasti boleh dikaitkan bahwa negara yang

bersangkutan lebih maju dari negara lain. (Suparmoko, 2000 :

(36)

2.2.1.3. Teori Pertumbuhan Ekonomi

Jika diamati, banyak teori tentang beberapa faktor yang

berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi selalu berorientasi pada

mekanisme yang terjadi di negara yang sudah maju pada jamannya

(khususnya teori klasik yang dipelopori oleh Adam Smith), namun suatu

pengecualian pada tahun 1950-an, pada umumnya teori neo klasik sudah

mengarah pada mekanisme ekonomi di negara yang sedang berkembang.

Secara berurutan teori tentang pertumbuhan ekonomi dimulai dari teori

klasik, teori Harrod-Domar, WW. Rostow.

1. Teori Pertumbuhan Ekonomi Klasik

Mengemukakan bahwa proses pertumbuhan ekonomi

dalam jangka panjang secara sistematis dibedakan menjadi dua

aspek utama pertumbuhan, yaitu :

a. Pertumbuhan output total

Unsur pokok dari sistem produksi di suatu negara ada tiga,

yaitu : sumber daya alam yang tersedia (faktor produksi

tanah), jumlah penduduk dan stok barang modal yang

tersedia, dengan penunjang penting proses akumulasi modal

yaitu : makin meluasnya pasar (ekspor) dan adanya tingkat

keuntungan di atas tingkat keuntungan minimal.

b. Pertumbuhan penduduk

Penduduk meningkat jika tingkat upah untuk hidup tinggi.

(37)

penawaran tenaga kerja yang ditentukan oleh laju

pertumbuhan stok modal dan laju pertumbuhan output

masyarakat. (Arsyad, 1998 : 49 – 51)

2. Teori Pertumbuhan Ekonomi Harrod – Domar

Syarat untuk menciptakan pertumbuhan teguh yang

dikemukakan oleh Harrod – Domar. Ada dua hal yang perlu

diketahui :

a. Pertambahan kapasitas barang modal tergantung dua faktor,

yaitu rasio modal produksi (bernilai COR), investasi yang

dilakukan (bernilai I), pertumbuhan kapasitas barang modal

(∆c)

b. Pertambahan pendapatan nasional (∆Y) yang sama dengan

pertambahan kapasitas barang modal (∆c). Teori Harrod –

Domar adalah perluasan dari analisis Keynes. Dengan

demikian, teori berpendapat bahwa kapasitas penuh pada

tahun berikut akan tercapai apabila pengeluaran agregat

bertambah dengan cukup besar sehingga tercapai keadaan :

Agar bisa tumbuh, maka perekonomian harus menabung

dan menginvestasikan sebagian dari GNP. Lebih banyak yang

dapat ditabung dan kemudian ditanamkan maka akan lebih cepat

lagi perekonomian itu tumbuh. Akan tetapi, tingkat pertumbuhan

∆c = 1/COR 

(38)

yang dapat dicapai pada setiap tingkat tabungan dan investasi

tergantung pada produktivitas investasi tersebut. Produktivitas

investasi adalah banyaknya tambahan output yang didapat dari

suatu unit investasi. (Todaro, 1994 : 65 – 66)

Teori Harrod – Domar mencoba menelaah syarat-syarat

yang diperlukan agar perekonomian bisa tumbuh dan berkembang

dalam jangka panjang dan mantap (Steady Growth). (Arsyad. 1998

: 58)

Istilah pertumbuhan ekonomi, perkembangan dan

pembangunan ekonomi seiring dan secara bergantian dengan

maksud yang sama, terutama dalam pembicaraan mengenai

masalah yang berkaitan dengan ekonomi. Dikatakan ada

pertumbuhan ekonomi apabila terdapat lebih banyak output yang

dihasilkan, sedangkan untuk pembangunan ekonomi tidak hanya

menyangkut output yang dihasilkan, tetapi juga perubahan –

perubahan kelembagaan dan pengetahuan teknik dalam

menghasilkan output yang lebih banyak dan bervariasi. Oleh

karena itu, perkembangan ekonomi selalu diikuti dengan

pertumbuhan ekonomi. (Sukirno, 2000 : 433)

3. Teori Pertumbuhan WW. Rostow

Dalam menganalisa teori tentang tahap – tahap pertumbuhan

ekonomi, Rostow menitik beratkan pada pembahasan peranan

(39)

dan ciri – ciri perubahan yang tercipta dalam tiap – tiap tahap

pembangunan pada suatu masyarakat. Analisa Rostow didasarkan

pada keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi tercipta sebagai

akibat dari timbulnya perubahan yang fundamental bukan saja pada

corak ekonomi tetapi juga pada kehidupan politik dan hubungan

sosial dalam masyarakat. (Sukirno, 2001 : 102)

Tahap – tahap pertumbuhan ekonomi menurut Rostow

(Sukirno, 2001 : 103) ada lima tahap, yaitu :

1. Tahap Masyarakat Tradisional (The Traditional Society)

Menurut Rostow, masyarakat tradisional adalah suatu

masyarakat yang strukturnya berkembang di dalam fungsi

prouksi yang terbatas, didasarkan pada teknologi, ilmu

pengetahuan dan sifat masyarakat seperti sebelum masa

Newton. Yang disebut sebelum Newton adalah suatu

masyarakat yang masih menggunakan cara – cara

memproduksi relatif primitif dan dipengaruhi oleh kebiasaan

yang berlaku turun temurun. Tahap masyarakat tradisional

menunjukkan tingkat produktivitas per pekerja masih sangat

terbatas karena sebagian besar dari sumber daya masyarakat

digunakan untuk kegiatan dalam sektor pertanian.

2. Tahap Prasyarat untuk Lepas Landas (The Preconditions for

(40)

Rostow mendefinisikan tahap ini sebagai suatu masa transisi

pada saat masyarakat mempersiapkan dirinya untuk mencapai

pertumbuhan yang mempunyai kekuatan untuk terus

berkembang.

3. Tahap Lepas Landas

Permulaan dari lepas landas berlakunya perubahan yang sangat

drastis dalam masyarakat seperti revolusi politik, terciptanya

kemajuan yang pesat dalam inovasi atau berupa terbukanya

pasaran – pasaran baru. Ciri – ciri tahap ini adalah :

a. Berlakunya kenaikan dalam penanaman modal yang

produktif.

b. Berlakunya perkembangan dari sektor industri dengan

tingkat laju perkembangan yang tinggi.

c. Terciptanya suatu rangaka dasar politik, sosial dan

institusional.

4. Tahap Gerakan Ke Arah Kedewasaan (The Drive To Maturity)

Gerakan ke arah kedewasaan adalah suatu masyarakatnya

sedang secara efektif menggunakan teknologi modern pada

sebagian besar faktor produksi dan kekayaan alamnya. Ciri –

ciri tahap ini adalah :

a. Struktur dan keahlian tenaga kerja mengalami perubahan.

Peranan sektor industri semakin penting sedangkan sektor

(41)

b. Sifat kepemimpinan dalam perusahaan mengalami

perubahan.

Peranan manajer profesional semakin penting dan

menggantikan kedudukan pengusaha atau pemilik.

c. Kritik – kritik terhadap industrialisasi mulai muncul

sebagai akibat dari ketidak puasan terhadap dampak

industrialisasi

5. Tahap Konsumsi Tinggi (The Age of High Mass-Consumption)

Tahap konsumsi tinggi adalah perhatian masyarakat lebih

menekankan pada masalah yang berkaitan dengan konsumsi

dan kesejahteraan masyarakat. Pada masa konsumsi tinggi

tujuan dari negara adalah :

a. Memperbesar kekuasaan dan pengaruh kepada negara lain.

b. Meningkatkan kemakmuran yang merata pada

penduduknya dengan cara mengusahakan pembagian

pendapatan yang lebih merata.

c. Mempertinggi tingkat kesejahteraan masyarakat (Sukirno,

1999 : 103)

2.2.2. Pengertian Perdagangan

Fenomena transaksi dan pertukaran sudah merupakan

komponene dasar bagi kegiatan manusia di seluruh dunia. Sekalipun di

(42)

pasar – pasar desa untuk tukar menukar barang, kadangkala dengan uang,

tetapi pada umumnya dengan barang lainnya melalui transaksi barter

yang sederhana.

Mengapa orang berdagang? Pada dasarnya karena

dimungkinkan untuk mendapatkan keuntungan. Karena masing – masing

orang mempunyai kemampuan dan sumber daya yang berlainan. Dan

mungkin saja juga perlu menggunakan dalam proporsi yang berbeda.

Keinginan yang beraneka ragam, sebagaimana kemampuan fisik dan

keuangan, membuka kemungkinan perdagangan yang menguntungkan.

(Todaro, 2000 : 16)

2.2.2.1. Perdagangan Internasional

Karena dengan adanya Perdagangan Internasional maka

mobilitas dari barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara dapat

dengan cepat dijual dan digunakan oleh konsumen yang ada di negara

lain.

Sedangkan menurut Samuelson (2003 : 570) Perdagangan

Internasional merupakan hal yang vital karena perdagangan luar negeri

(foreign trade) akan mengembangkan kemungkinan konsumsi suatu

bangsa. Perdagangan luar negeri memungkinkan suatu negara

mengkonsumsi lebih banyak barang dibanding yang tersedia menurut

garis perbatasan kemungkinan pada keadaan swasembada tanpa

(43)

A. Pengertian Teori Permintaan

Permintaan akan suatu jenis barang ialah jumlah barang

itu yang membeli bersedia membelinya pada tingkat harga yang

berlaku pada suatu pasar tertentu dan dalam waktu pula (Rosyidi,

2002 : 239) hubungan antar harga (price) dan jumlah terjadi karena

suatu ketentuan bahwa jumlah barang yang diminta merupakan

fungsi daripada harga dan bukan sebaliknya. Secara teknik

hubungan seperti ini dapat ditulis sebagai berikut :

Q = F (D) ...(Rosyidi, 2002 : 241) Keterangan :

Q = Jumlah barang

D = Permintaan

Gambar 1 : Kurva Teori Permintaan

Sumber : Rosyidi. 2002. Pengantar Teori Ekonomi : Pendekatan Kepada Teori Ekonomi Mikro dan Makro. Rajawali, Jakarta hal 242.

Harga

P1

P

P2

Q1 Q Q2 Permintaan

(44)

Kurva permintaan itu berbentuk turun miring ke kanan

bawah (Down Word Sloping to The Right). Dengan bentuk

condong ke kanan bawah karena adanya hubungan yang

berlawanan arah antara P (harga) dan Q (jumlah). Apabila harga

naik dari OP ke OP1 maka akan menyebabkan turunnya jumlah

barang yang diminta dari OQ ke OQ1. Hal ini sesuai dengan

pernyataan Samuelson (dalam Rosyidi, 2002 : 242) yang

menyatakan tentang hukum permintaan yang menurun (The Law of

Diminishing Demand) yang berfungsi “Apabila suatu barang

dinaikkan maka semakin berkuranglah jumlah yang diminta”.

B. Pengertian Teori Penawaran

Dalam usaha untuk meningkatkan perdagangan

Internasional dasar yang digunakan dalam terori penawaran,

pengertian penawaran adalah keingininan seorang penjual dalam

menawarkan atau menjual sejumlah barang yang dihasilkan dalam

berbagai tingkat harga yang ditentukan. Penawaran merupakan

fungsi produksi dan harga dapat disimpulkan sebagai berikut :

P = F {Pr2,H}...(Gujarati, 1998 : 31) Keterangan :

P = Penawaran

Pr = Produksi

(45)

Menurut (Sadono Sukirno, 2002 : 61), hukum penawaran

adalah makin tinggi harga suatu barang maka makin tinggi pula

barang tersebut ditawarkan oleh para penjual sebaliknya makin

rendah harga suatu barang semakin sedikit pula barang tersebut

yang ditawarkan oleh penjual.

Gambar 2 : Kurva Penawaran

Sumber : Rosyidi, 2002, Pengantar Teori Ekonomi : Pendekatan Kepada Teori Ekonomi Mikro dan Makro, Penerbit Rajawali Pers, Jakarta, halaman 295.

Di samping harga yang dapat mempengaruhi penawaran,

faktor produksi adalah faktor-faktor yang diperlukan untuk

menghasilkan suatu barang melalui suatu proses produksi. Semakin

banyak barang yang dihasilkan (titik D ke titik E) sehingga dapat

meningkatkan penawaran sehingga harga (titik B ke titik C) dan

sebaliknya semakin sedikit atau langka faktor produksi yang

(46)

dihasilkan sehingga dapat mengurangi penawaran dari titik A2 ke

titik A1.

2.2.2.2. Teori Perdagangan Internasional

Teori Perdagangan Internasional membantu menjelaskan arah

serta komposisi perdagangan antara beberapa negara serta bagaimana

efeknya terhadap struktur perekonomian suatu negara. Di samping itu,

teori perdagangan internasional juga dapat menunjukkan adanya

keuntungan yang timbul dari adanya perdagangan internasional (garis

from trade). Beberapa teori yang menerangkan tentang timbulnya

perdagangan internasional pada dasarnya adalah sebagai berikut :

A. Teori Klasik

a. Kemanfaatan Absolut (Absolute Advantage : Adam Smith)

Teori ini lebih mendasarkan pada besaran (variabel) riil

bukan moneter sehingga sering dikenal dengan nama teori murni

(pure theory) perdagangan internasional. Murni dalam arti

bahwa teori ini memusatkan perhatiannya pada variabel riil

seperti misalnya nilai sesuatu barang diukur dengan banyaknya

tenaga kerja yang dipergunakan untuk menghasilkan barang.

Makin banyak tenaga kerja yang digunakan akan makin tinggi

(47)

b. Kemanfaatan Relatif (Comparative Advantage : Mill)

Teori ini menyatakan bahwa suatu negara akan

menghasilkan dan kemudian mengekspor suatu barang yang

memiliki comparative advantage terbesar dan mengimpor

barang yang memiliki comparative advantage, yaitu suatu

barang yang dapat dihasilkan dengan lebih murah dan

mengimpor barang yang kalau dihasilkan sendiri memakan

ongkos yang besar.

c. Biaya Relatif (Comparative Cost : David Ricardo)

Titik pangkal teori Ricardo tentang perdagangan

internasional adalah teorinya tentang suatu nilai atau value.

Menurut Ricardo, nilai atau value sesuatu barang tergantung dari

banyaknya barang tersebut (labour cost value theory).

Perdagangan antar negara akan timbul apabila

masing-masing negara memiliki comparative cost terkecil.

Dengan demikian prinsip comparative cost Ricardo

dapat dirumuskan sebagai berikut :

Jika a1 dan b1 adalah unit labour cost untuk barang A

dan B di negara I, dan a2 dan b2 adalah unit labour cost di

negara II, maka negara I akan mengekspor barang A dan impor

barang B jika :

a1 / b1 < a2 / b2 atau,

(48)

Artinya sebelum berdagang barang A relatif lebih

murah di negara I dan barang B lebih murah di negara II.

(Nopirin, 2002 : 14)

B. Teori Hecksher – Ohlin (H-O)

Teori Hecksher dan Ohlin (H – O) disebut juga teori

proporsi faktor (factor proportion) atau ketersediann faktor (faktor

endowment). Dasar pemikiran dari teori ini adalah bahwa

perdagangan internasional, misalnya terjadi antara negara A dan

negara B karena ooportunity cost yang berbeda antara kedua negara

tersebut. Perbedaan ongkos relatif tersebut dikarenakan adanya

perbedaan dalam jumlah faktor produksi (misalnya tenaga kerja,

modal, tanah, dan bahan baku) yang dimiliki negara tersebut. Dan

dikarenakan faktor endowment-nya berbeda. Maka sesuai dengan

hukum pasar, harga dari faktor-faktor produksi tersebut juga

berbeda.

Intensitas pemakaian faktor produksi adalah rasio faktor

produksi terhadap output. Tingkat intensitas faktor produksi dapat

diukur secara kuantitatif dengan cara menganalisis fungsi produksi

yang diestimasi sebelumnya dari barang yang ebrsangkutan.

Sesuai dengan dasar pemikiran teori Hecksher dan Ohlin

(49)

pada factor endowment dan factor intensity dan juga ditentukan

oleh teknologi yang digunakan. (Tambunan, 2001 : 124)

C. Teori Ishikawa

Ishikawa menciptakan sebuah alat yang dinamakan

diagram “cause-effect” atau diagram tulang ikan (fish bone) yang

digunakan dalam penanggulangan dan peningkatan mutu.

Dia juga yang menciptakan konsep bahwa konsumen

adalah hal utama dalam penentuan mutu dan ternyata bahwa

konsumen adalah juga berlaku terhadap langkah berikutnya dari

sebuah line produksi.

Selain itu dia mengemukakan mengenai keterlibatan

karyawan dalam masalah mutu bukan hanya terbatas untuk

menghasilkan. Namun juga dalam menganalisa, menanggulangi,

memecahkan, dan menerapkannya secara bersama melalui konsep

Gugus Kendali Mutu (Quality Control Circle).

(http://www.scribd.com/doc/920490/QUALITY-COURSE-part1)

Menurut ISO 9000:2000, mutu adalah derajat/tingkat

karakteristik yang melekat pada produk yang mencukupi

persyaratan atau keinginan. Karakteristik disini berarti hal-hal yang

dimiliki produk, antara lain :

1. Karakteristik fisik (elektrikal, mekanikal, biological) seperti

(50)

2. Karakteristik perilaku (kejujuran, kesopanan). Ini biasanya

produk yang berupa jasa seperti di rumah sakit atau asuransi

perbankan.

3. Karakteristik sensorik (bau, rasa) seperti minuman dan

makanan.

Paradigma konsumen tentang mutu itu sendiri tidak

pernah sama persis. Sebagai contoh, di Indonesia kualitas suatu

produk didasarkan pada merk dan harga. Harga menjadi faktor

utama dalam menentukan pembelian suatu produk. Di sini kita bisa

menganalisis bahwa konsumen Indonesia cenderung lebih

memperhatikan pembuatan produk tersebut selama dalam proses

produksi sehingga menimbulkan persepsi yang salah terhadap mutu

tersebut, sehingga konsumen Indonesia selalu menarik kesimpulan

bahwa harga tinggi identik dengan mutu yang tinggi pula.

Padahal sebenarnya harga adalah fungsi dari biaya,

marjinal laba, dan kekuatan pasar. Barang yang bermutu tinggi

adalah barang yang memiliki spesifikasi tinggi seperti material

nomor satu, teknologi yang tinggi, dll. Dan hal-hal tersebut justru

menyebabkan inefisiensi yang tinggi pula, ini sering terjadi pada

produk Amerika Serikat. (http:ireztia.wordpress.com/2008/09/19

(51)

2.2.3. Import

Menurut Michael B. Smith menyebutkan import adalah

memasukkan barang dan jasa ke pasar negara untuk dikonsumsi.

Pertukaran perdagangan merupakan kegiatan importir melalui perbatasan

(pabean) untuk mendapatkan kualitas barang dan jasa yang bagus dari

pada produk dalam negara. (Smith, 1999 : 57)

Import merupakan aliran keluar dari pendapatan, karena

menimbulkan aliran modal ke luar negeri. Oleh karena itu, pendapatan

yang ditimbulkan karena proses produksi dapat digunakan untuk

membeli barang dan jasa di dalam negeri. Atau keluar dari aliran

pendapatan sebagai tabungan atau pembelian barang dari luar negeri.

Impor tidak hanya tergantung dari pendapatan. Faktor lain juga

mempengaruhi, seperti misalnya daya saing produksi dalam negeri,

selera dan sebagainya. (Sukirno, 1994 : 372)

Import adalah pemasukan komoditi dari luar Indonesia ke dalam

Indonesia. Untuk melakukan pemasukan komoditi dari luar Indonesia

dalam peredaran barang harus dilakukan menurut prosedur yang

digariskan oleh pemerintah melalui peraturan yang dikeluarkan.

(Halwani, 2005 : 469)

Jadi kesimpulannya adalah impor merupakan perdagangan

dengan memasukkan barang dari luar negeri ke dalam wilayah pabean

(52)

pengimpor. Dimana impor tergantung kepada pendapatan nasional dan

hubungan antara keduanya bersifat positif (searah).

Gambar 3 : Fungsi Impor

Sumber : Sadono, 2002, Makro ekonomi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Hubungan tersebut akan terwujud atau tidak, masih tergantung

kepada kesanggupan penduduk negara itu membayar impor tersebut. Ini

berarti bahwa besarnya impor lebih dipengaruhi oleh besarnya

pendapatan nasional dari pada oleh kemampuan barang-barang luar

negeri untuk bersaing dengan barang-barang produksi dalam negeri. Oleh

sebab itu dalam analisis makro ekonomi dianggap impor mempunyai

ciri-ciri seperti yang ditunjukkan dalam gambar 3, yaitu makin besar tingkat

pendapatan nasional, makin besar pula nilai impor.

2.2.4. Barang Modal

Faktor-faktor produksi menururt Samuelson (1993 : 317) dibagi

(53)

pertama disebut faktor produksi primer atau orisinil, karena tersedia

sebelum produksi terjadi. Terhadap keduanya kita menambahkan suatu

faktor produksi yang diprosduksi, yaitu modal atau barang modal. Nama

atau sebutan bagi faktor produksi ini menurut Rosyidi (1999 : 57) adalah

real capital goods (barang-barang modal riil), yang meliputi semua jenis

barang yang dibuat untuk menunjang kegiatan produksi barang-barang

lain serta jasa-jasa. Inilah yang biasa disebut sebagai barang-barang

investasi. Termasuk barang-barang modal itu misalnya adalah

mesin-mesin, pabrik-pabrik, jalan-jalan raya, pembangkit tenaga listrik, gudang

serta peralatan – peralatannya.

Gambar 4 : Kurva PPF (Production Possibilities Frontier)

Sumber : William, 2001. Pendekatan Ekonomi Mikro, Salemba Empat, Jakarta, halaman 31.

Pada gambar Production Possibilities Frontier, titik G

(54)

secara penuh atau tidak efisien. Perhatikan bahwa titik C dapat

menghasilkan barang konsumsi lebih banyak dibandingkan titik G,

dengan jumlah barang kapital yang sama. Setiap titik sepanjang

Production Possibilities Frontier menghasilkan barang konsumsi dan

barang kapital yang lebih banyak dari pada G. Jadi titik G adalah tidak

efisien (inefisien), dengan menggunakan sumber daya secara efisien atau

dengan menggunakan sumber daya yang sebelumnya belum digunakan,

perekonomian dapat menghasilkan paling tidak lebih banyak barang yang

satu tanpa harus mengurangi produksi jenis barang yang lain.

Titik-titik di luar Production Possibilities Frontier, seperti H

dalam gambar menunjukkan kombinasi yang tidak mungkin dicapai, atas

dasar sumber daya dan teknologi yang ada. Jadi Production Possibilities

Frontier tidak hanya mencerminkan kombinasi produksi yang efisien

tetapi juga menunjukkan batas antara kombinasi yang tidak efisien (di

dalam kurva) dan kombinasi yang tidak mungkin (di luar kurva).

(William, 2001 : 31)

2.2.5.1. Hubungan Import Barang Modal Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kemampuan suatu bangsa untuk mengimpor sangat tergantung

pada pendapatan nasionalnya. Artinya semakin besar pendapatan

nasional, semakin besar pula kemampuan bangsa tersebut untuk

mengimport barang dan jasa. Tapi hubungan impor dengan pendapatan

(55)

ditarik kesimpulan bahwa jika pendapatan nasional bertambah menjadi

dua kali lipat misalnya, maka impor pun menjadi dua kali lipat.

Dengan kata lain, apabila impor meningkat maka jumlah

produksi barang dan jasa yang dihasilkan akan meningkat juga. Sehingga

pada akhirnya akan memacu pertumbuhan ekonomi Nasional.

2.2.5. Ekspor

Menurut pasal 1 ayat 9, Bab 1 UU No. 32/1964, ekspor adalah

pengiriman komoditi ke luar wilayah Indonesia dari peredaran.

Berdasarkan ketentuan di atas bahwa hal ini berarti ekspor dapat

dilakukan oleh suatu badan atau perorangan dalam bentuk barang-barang

ke luar negeri untuk diperdagangkan (Halwani, 2005 : 468).

2.2.8.1. Tujuan Ekspor

Adapun tujuan dilakukannya ekspor adalah sebagai berikut :

1. Meningkatkan keuntungan atau laba perusahaan melalui

perluasan pasar serta memperoleh harga jual yang lebih baik

(optimalisasi laba).

2. Membuka pasar baru di luar negeri sebagai perluasan pasar

domestik (membuka pasar ekspor).

3. Memanfaatkan kelebihan kapasitas terpasang (idle capacity)

(56)

4. Membiasakan diri bersaing dalam pasar internasional sehingga

terlatih dalam persaingan yang ketat.

5. Dapat menghasilkan devisa atau valuta asing ang diperlukan

untuk membiayai pembelian-pembelian (impor) di luar negeri

guna memenuhi kebutuhan rakyat dan pembangunan

bangsa.(Halwani, 2005 : 468).

2.2.8.2. Manfaat Ekspor

Dalam hal ini manfaat ekspor adalah :

1. Memperluas pasar dari pasar domestik menjadi seluas pasar global,

sehingga memungkinkan produksi optimal dan dapat

mengoptimalkan laba.

2. Dapat memanfaatkan ”idle capacity” dari kapasitas terpasang suatu

industri pada saat pasaran dalam negeri melemah sehingga dapat

mencegah pengangguran, modal dan tenaga kerja atau untuk mengisi

kebutuhan musiman.

3. Terbiasa dalam persaingan yang ketat di dalam pasar internasional

sehingga akan sangat menolong tingkat efisiensi, inovasi,

produktivitas, pengembangan dan restrukturisasi tekhnologi yang

dikarenakan dapat bersaing di area internasional.

4. Status sosial pengusaha tinggi karena dapat menjadi anggota dari

club bisnis yang terpandang di dunia seperti ceo’s club, rotary club,

(57)

5. Lebih dapat menikmati fasilitas dan insentif yang diberikan oleh

pemerintah terhadap komoditi ekspor seperti fasilitas promosi,

kredit, draw back system.

Manfaat bagi Pemerintah antara lain:

1. Meningkatkan devisa negara yang akan memperlancar arus barang

ekspor dan roda pemerintah.

2. Memperluas manfaat sumber daya nasional seperti sumber daya

alam, tenaga kerja dan industri.

3. Lebih mudah mendapatkan hutang luar negeri. (Amir, 1995: 48).

2.2.8.3. Cara Ekspor

Menurut (Amir, 1995 : 49) pelaksanaan ekspor luar negeri dapat

dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :

1. Ekspor Biasa

Adalah dengan cara barang dikirim ke luar negeri sesuai dengan

peraturan umum yang berlaku yang ditujukan kepada pembeli di luar

negeri untuk memenuhi permintaan yang dibutuhkan importir luar

negeri setelah terjadi kesepakatan jual – beli sesuai peraturan devisa

dan eksportir menerima pembayaran dalam mata uang rupiah sesuai

kurs valas yang telah ditetapkan yang berpatokan pada Bank

(58)

2. Barter

Adalah suatu cara perdagangan dengan melihat kebutuhan dalam

negeri dan mengekspor barang ke luar negeri dengan sistem

pembayaran tidak dalam bentuk uang melainkan dalam bentuk

barang yang dijual di dalam negeri dan menghasilkan uang dalam

mata uang domestik.

3. Konsinyasi

Adalah dengan cara pengiriman barang ke luar negeri untuk dijual

dan hasil penjualannya diberlakukan sama dengan hasil biasa.

Sehingga dalam hal ini sistem pertukaran barang dengan yang

lainnya seperti dalam barter dan bukan untuk memenuhi suatu

transaksi yang sebelumnya sudah dilakukan seperti ekspor biasa.

Dalam hal pengiriman barang dengan sistem konsinyasi adalah

belum adanya pembeli tertentu atau dapat juga dengan sistem

pelelangan (Komoditas Exchange).

2.2.8.4. Strategi Ekspor

Strategi ekspor pada umumnya (Four Generic International

Strategic) adalah :

1. Dynamic High Technology Strategy (DHTS), yaitu strategi yang

dapat memberikan peluang kepada perusahaan untuk menjadi market

(59)

terus menerus dengan memberikan perhatian dan prioritas yang

tinggi dan melakukan Strategi partnership.

2. Low of Stable Technology Strategy (LSTS), yaitu strategi yang

memberikan peluang kepada perusahaan untuk menjadi market

leader karena kemampuan memelihara brand identity economic of

scale, manufacturing know how, standar produksi, dan penyediaan

suku cadang yang terdapat secara global.

3. Advanced Management Skill Strategy (AMSS), yaitu strategi yang

memberikan peluang kepada perusahaan menjadi market leader

karena kemampuan managemen yang tepat, khususnya dalam hal

pemasaran dan koordinasi.

4. Production Market Rationalization Strategy (PMRS), yaitu strategi

yang memberikan peluang kepada perusahaan untuk menjadi market

leader karena kemampuannya menekan biaya produksi melalui

pendekatan lokasi. (Halwani, 2005 : 347).

2.2.8.5. Hubungan Ekspor Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Ekspor merupakan motor penggerak pertumbuhan ekonomi

yang biasanya menganjurkan Negara untuk menjalankan strategi yang

bertumpu pada upaya promosi ekspor yang merupakan kebijaksanaan

suatu Negara untuk meningkatkan wilayah pasar ekspor. Ekspor adalah

kegiatan memasok pelanggan dari luar negeri dengan produk atau barang

(60)

maka Produk Domestik Bruto juga naik sehingga pertumbuhan ekonomi

Indonesia akan ikut naik.

2.2.6. Investasi

Kata investasi berasal dari bahasa Inggris, yaitu “Investment”,

apabila dalam bahasa Indonesia investasi adalah “penanaman modal”

investasi adalah suatu kegiatan yang sangat penting bagi kelangsungan

hidup suatu kegiatan usaha, karena ini sangat dibutuhkan sebagai faktor

penunjang di dalam memperlancar proses produksi.

Menurut pendapat Prof. Robinson yang dikutip oleh Suherman

Rosyidi dalam bukunya yang berjudul Pengantar Teori Ekonomi

mengatakan bahwa investasi itu penambahan barang-barang modal baru,

sedangkan membeli selembar kertas saham bukanlah investasi (Rosyidi,

1999: 158).

Investasi adalah pengeluaran yang ditunjukkan untuk

meningkatkan atau mmpertahankan stok barang modal. Stok barang

modal terdiri dari pabrik mesin dan produk-produk tahan lama yang

digunakan dalam proses produksi. (Dornbusch dan Fischer, 1999: 46).

Investasi diartikan sebagai pengeluaran atau pembelanjaan

penanaman modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal

dan perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan

memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam

(61)

penanaman modal yang dilakukan dalam suatu tahun tertentu, yang

digolongkan sebagai investor (atau pembentukan modal atau penanaman

modal), meliputi pengeluaran atau pembelanjaan sebagai berikut:

a. Pembelian berbagai jenis barang modal, yaitu mesin-mesin dan

peralatan produksi lainnya untuk mendirikan berbagai jenis industri

dan perusahaan.

b. Pembelanjaan untuk membangun rumah tempat tinggal, bangunan

kantor, bangunan pabrik, dan bangunan-bangunan lainnya.

c. Pertambahan nilai stok barang-barang yang belum terjual, bahan

mentah dan barang yang masih dalam proses produksi pada akhir

tahun perhitungan pendapatan nasional. (Sukirno, 2001: 107).

Dari berbagai penjelasan diatas tentang definisi investasi

tersebut maka dapat disimpulkan bahwa investasi adalah pengeluaran

yang disediakan untuk meningkatkan atau mempertahankan

barang-barang modal, selain itu bisa diartikan sebagai usaha membina industri

supaya dapat lebih maju dan merupakan hal yang sangat penting bagi

kelangsungan hidup usaha sebagai faktor penunjang di dalam

memperlancar proses produksi.

2.2.6.1. Teori Investasi

Masalah investai adalah suatu masalah yang langsung berkaitan

dengan besarnya pengharapan akan pendapatan dari barang modal

(62)

terpenting untuk penentu besarnya investasi menurut Suparmoko (2000 :

84) terdapat 2 teori, yaitu:

A. Teori Klasik

Teori klasik tentang investasi didasarkan atas teori

produktivitas batas (marginal produktivity) dari faktor produksi

modal. Menurut teori ini besarnya modal yang akan diinvestasikan

dalam proses produksi ditentukan oleh produktivitas batasnya

dibandingkan dengan tingkat bunga-bunganya. Sehingga investasi

ini akan terus dilakukan bilamana produktivitas batas dari investasi

itu masih lebih tinggi daripada tingkat bunga yang akan

diterimanya bila seandainya modal itu dipinjamkan dan tidak

diinvestasikan.

Dengan teori produktivitas batas, maka masalah investasi

oleh para-para ahli ekonomi klasik dipecahkan atas dasar prinsip

maksimalisasi laba dari perusahaan-perusahaan industri. Sebab

suatu perusahaan akan memaksimalisasi labanya dalam suatu

persaingan sempurna. Bila perusahaan itu menggunakan modalnya

sampai pada jumlah produksi marginal kapitalnya sama dengan

harga capital yaitu suku bunga, maka dapat ditarik kesimpulan

bahwa:

1. Suatu investasi akan dijalankan apabila pendapatan dari

investasi lebih besar dari tingkat bunga. Pendapatan dari

(63)

setiap akhir tahun selama barang modal digunakan dalam

produksi.

2. Investasi dalam modal adalah menguntungkan bila biaya

ditambah bunga lebih kecil dari pendapatan yang diharapkan

dari investasi itu.

B. Teori Keynes

Masalah investasi baik penentu jumlah maupun

kesempatan untuk melakukan investasi oleh Keynes didasarkan

atas konsep Marginal Efficiency of Investment (MEI), yaitu bahwa

investasi itu akan dijalankan apabila MEI lebih tinggi daripada

tingkat suku bunga.

Menurut garis MEI ini antara lain disebabkan oleh 2 hal,

yaitu (Suparmoko, 2000: 84):

1. Bahwa semakin banyak investasi yang terlaksana dalam

masyarakat, maka semakin rendah efisiensi marginal

investasi itu, semakin banyak investasi yang terlaksana dalam

lapangan ekonomi maka semakin sengitlah persaingan para

investor sehingga MEI menurun.

2. Semakin banyak investasi dilakukan, maka biaya dari barang

(64)

Gambar 5 : Hubungan MEI dan Investasi

Sumber : Sukirno, 1995. Pengantar Teori Ekonomi Makro. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Halaman : 112.

Untuk memperjelas arti konsep efisiensi modal marginal dapat di

jelaskan berikut, sumbu tegak menunjukkan nilai investasi yang akan

dilakukan. Pada kurva marjinal efficiency of capital di tunjukkan dengan

tiga buah titik A,B,C titik A menggambarkan bahwa tingkat

pengembalian modal sebesar R0 dan investasi adalah Io. Ini berarti titik

A menggambarkan bahwa dalam perekonomian terdapat investasi yang

akan menghasilkan tingkat pengembalian modal sebanyak R0 atau lebih

tinggi,dan untuk mewujudkan investasi tersebut modal yang diperlukan

sebanyak 10. Titik B dan C juga memberikan gambaran yang sama. Titik

B menggambarkan wujudnya kesempatan untuk menginvestasikan

dengan pengambilan modal R1 atau lebih dan modal yang diperlukan

(65)

menghasilkan tingkat modal sebanyak atau lebih diperlukan modal

sebanyak I2.

2.2.6.2. Macam-Macam Investasi

Macam-macam investasi dibagi menjadi 4 kelompok, yang

pembagiannya sebagai berikut:

1. Autonomous Invesment dan Induced Investment

Autonomous Investment ( investasi otonomi ) adalah investasi yang

besar kecilnya tidak dipengaruhi oleh pendapatan, tetapi dapat

berubah oleh karena adanya perubahan faktor-faktor di luar

pendapatan. Faktor-faktor lain diluar selain pendapatan yang

mempengaruhi tingkat investasi seperti itu, misalnya tingkat

teknologi, kebijaksanaan pemerintah, harapan para pengusaha dan

sebagainya. Sedangkan Induced Investment atau investasi terimbas

adalah investasi yang dipengaruhi oleh tingkat pendapatan.

2. Public Investment dan Private Investment

Public Investment adalah Investasi atau penanaman modal yang

dilakukan oleh pemerintah (baik pusat maupun daerah). Public

investment tidak dilakukan oleh pihak-pihak yang bersifat personal,

investasi ini bersifat impersonal atau resmi. Sedangkan Private

Investment adalah investasi yang dilakukan oleh pihak swasta. Di

dalam private investment, unsur-unsur seperti keuntungan yang akan

(66)

peranan yang sangat penting dalam menentukan volume investasi.

Sementara dalam penentuan volume investasi, pertimbangan itu

lebih diarahkan kepada melayani atau menciptakan kesejahteraan

bagi rakyat banyak.

3. Domestik Investment dan Foreign Investment

Domestik investment adalah penanaman modal di dalam negeri,

sedangkan Foreign Investment adalah penanaman modal asing.

Sebuah negara yang memiliki banyak sekali faktor produksi alam

atau faktor produksi tenaga manusia namun tidak memiliki faktor

produksi modal (capital) yang cukup untuk mengelolah sumber-

sumber yang dimiliki, maka mengundang modal asing agar

sumber-sumber yang ada termanfaatkan.

4. Gross Investment dan Net Investment

Gross Investment (Investasi Bruto) adalah total seluruh investasi yang

diadakan atau yang dilaksanakan pada suatu ketika. Dengan demikian

investasi bruto dapat benilai positif ataupun nol (yaitu ada atau tidak

ada investasi sama sekali) tetapi tidak akan bernilai negatif.

Sedangkan Net Investment (Investasi Netto) adalah selisih antara

investasi bruto dengan penyusutan. Apabila misalnya investasi bruto

tahun ini adalah Rp. 25 juta sedangkan penyusutan yang terjadi

selama tahun yang lalu adalah sebesar Rp. 10 juta, maka itu berarti

bahwa investasi netto tahun ini adalah sebesar Rp. 15 juta. (Rosyidi,

Gambar

Gambar 1 :  Kurva Teori Permintaan
Gambar 2 : Kurva Penawaran
Gambar 3 : Fungsi Impor
Gambar 4 : Kurva PPF (Production Possibilities Frontier)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Menganalisis pengaruh investasi, tenaga kerja, ekspor, inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi sektor pertanian dan sektor industri baik secara simultan maupun secara parsial

Menganalisis pengaruh investasi, tenaga kerja, ekspor, inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi sektor pertanian dan sektor industri baik secara simultan maupun secara parsial

(6) Variabel ekspor, pembentukan modal, dan pengeluaran pemerintah secara simultan berpengaruh terhadap PDB baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek.. Kata Kunci:

Yang bertanda tangan dibawah ini telah membaca skripsi dengan judul: “ ANALISIS PENGARUH PENGELUARAN PEMERINTAH, INVESTASI, EKSPOR, DAN KURS TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI

Berkah semua itu akhirnya dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul ”Analisis Pengaruh Cadangan Devisa, Investasi, Kurs, Ekspor dan Inflasi Terhadap Impor Barang Modal

Menganalisis pengaruh investasi, tenaga kerja, ekspor, inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi sektor pertanian dan sektor industri baik secara simultan maupun secara parsial

Menganalisis pengaruh investasi, tenaga kerja, ekspor, inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi sektor pertanian dan sektor industri baik secara simultan maupun secara parsial

Hasil penelitian, didukung penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Febriyanti, 2019) menyatakan secara simultan variabel ekspor dan impor berpengaruh terhadap