SKRIPSI
Diajukan Untuk memenuhi Sebagian Persyaratan
Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
Jurusan Ilmu Ekonomi
Oleh :
RIAN TRI TEGUH SANTOSO
0611010104 / FE / IE
Kepada
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAWA TIMUR
PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA
Disusun Oleh : Rian Tri Teguh Santoso
0611010104 / FE / IE telah dipertahankan dihadapan dan diterima oleh Tim Penguji Skripsi
Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur
pada tanggal 22 Oktober 2010
Pembimbing : Tim Penguji :
Pembimbing Utama Ketua
Dra. Ec. Niniek Imaningsih,MP Dr. Hj. Sri Muljaningsih, SE. MP
Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur
Assalamu’ alaikum Wr. Wb.
Pertama-tama peneliti panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT serta sholawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang telah melimpahkan berkah, rahmat dan hidayah-Nya sehingga skripsi yang peneliti susun dengan judul “ANALISIS PERDAGANGAN LUAR NEGERI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA” ini dapat terselesaikan.
Skripsi ini peneliti susun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
Peneliti menyadari bahwa dalam menyusun skripsi ini sering kali menghadapi hambatan dan keterbatasan dalam berbagai hal. Oleh karena itu dalam kesempatan ini peneliti ucapkan terima kasih tak terhingga kepada Ibu Dra. Ec. Niniek Imaningsih, MP, selaku dosen pembimbing utama yang telah banyak meluangkan waktunya dalam memberikan suatu bimbingan, pengarahan, dorongan, masukan-masukan, dan saran dengan tidak bosan-bosannya kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini. Selain itu peneliti juga menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP, selaku Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur yang telah memberikan
3. Bapak Drs. EC. Marseto, D.S, Msi, selaku Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
4. Ayahanda, Ibunda, beserta keluarga tercinta yang telah memberikan motivasi, do’a, semangat dan dorongan moral serta spiritualnya yang telah tulus kepada peneliti, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan sebaik-baiknya.
5. Bapak-bapak dan ibu-ibu dosen serta staf karyawan Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “VETERAN” Jawa Timur yang telah dengan ikhlas memberikan banyak ilmu pengetahuannya selama masa perkuliahan dan pelayanan akademik bagi peneliti.
6. Bapak-bapak dan ibu-ibu staf instansi Badan Pusat Statistik cabang Surabaya, yang telah memberikan banyak informasi dan data-data yang dibutuhkan untuk mengadakan penelitian dalam penyusunan skripsi ini. 7. Seluruh mahasiswa dari Jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Pembangunan
Nasional “Veteran” Jawa Timur, serta semua pihak yang tidak bisa peneliti sebutkan satu persatu yang selalu memotivasi, membantu, dan mendukung peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.
diberikan.
Akhir kata, besar harapan bagi peneliti semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca, baik sebagai bahan kajian maupun sebagai salah satu sumber informasi dan bagi pihak-pihak lain yang membutuhkan.
Wassalamu’ alaikum Wr. Wb
Surabaya, Oktober 2010
Peneliti
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
ABSTRAKSI ... xiii
BAB I PENDAHULUAN 1.1...Latar Belakang ... 1
1.2...Peru musan Masalah ... 5
1.3...Tujua n Penelitian ... 5
1.4...Manf aat Penelitian ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1...Hasil Penelitian Terdahulu ... 8
2.1.1...Perbe daan Dengan Peneliti Terdahulu ... 10
2.2.1...Pertu mbuhan Ekonomi ... 11 2.2.1.1...Fakto
r Pertumbuhan Ekonomi ... 14 2.2.1.2...Ukur
an Pertumbuhan Ekonomi ... 16 2.2.1.3...Teori
Pertumbuhan Ekonomi ... 18 2.2.2...Peng
ertian Perdagangan ... 23 2.2.2.1...Perda
gangan Internasional... 24 2.2.2.2...Teori
Perdagangan Internasional... 28 2.2.3...Impo
r ... 33 2.2.3.1...Bara
ng Modal... 34 2.2.3.2...Hubu
ngan Impor Barang Modal Terhadap Pertumbuhan
Ekonomi... 36
2.2.4.1...Tujua n Ekspor... 37 2.2.4.2...Manf
aat Ekspor ... 38 2.2.4.3...Cara
Ekspor... 39 2.2.4.4...Strate
gi Ekspor... 40 2.2.4.5...Hubu
ngan Ekspor Terhadap Pertumbuhan Ekonomi ... 41 2.2.5...Inves
tasi... 42 2.2.5.1...Teori
Investasi ... 43 2.2.5.2...Maca
m-Macam Investasi... 47 2.2.5.3...Fakto
r Yang Menentukan Investasi ... 49
... 51 2.2.6...Tena
ga Kerja... 51 2.2.6.1...Peng
ertian Angkatan Kerja... 52 2.2.6.2...Peng
ertian Bukan Angkatan Kerja ... 53 2.2.6.3...Perm
intaan Tenaga Kerja... 56 2.2.6.4...Pena
waran Tenaga Kerja... 57 2.2.6.5...Hubu
ngan Tenaga Kerja Terhadap Pertumbuhan Ekonomi ... 60 2.2.7...Kurs
Valuta Asing ... 60 2.2.7.1...Peng
ertian Tentang Nilai Valuta dan Pasar Valuta Asing ... 61
Uang... 63 2.2.7.3...Siste
m Kurs Tetap ... 65 2.2.7.4...Siste
m Kurs Mengambang ... 66 2.2.7.5...Siste
m Kurs Mengambang Terkendali ... 66 2.2.7.6...Teori
Purchasing Power Parity ... 68
2.2.7.7...Pena waran dan Permintaan Valuta Asing ... 68 2.2.7.8...
Jenis-Jenis Transaksi Valuta Asing ... 69 2.2.7.9...Hubu
ngan Kurs Valuta Asing Terhadap Pertumbuhan
Ekonomi... 70 2.3...Kera
ngka Pikir ... 70 2.4...Hipot
esis ... 74 BAB III METODE PENELITIAN
3.2...Tekni k Penentuan Data ... 77 3.3...Jenis
dan Sumber Data ... 77 3.3.1...Jenis
Data... 77 3.3.2...Sumb
er Data... 77 3.4...Tekni
k Pengumpulan Data ... 77 3.5...Tekni
k Analisis dan Uji Hipotesis ... 78 3.5.1...Tekni
k Analisis ... 78 3.5.2...Uji
Hipotesis ... 80 3.6...Uji
Asumsi Klasik ... 84 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1...Desk ripsi Hasil Penelitian ... 89
4.1.2...Perke mbangan Import Barang Modal ... 90 4.1.3...Perke
mbangan Ekspor ... 91 4.1.4...Perke
mbangan Investasi Penanaman Modal Asing ... 92 4.1.5...Perke
mbangan Tenaga Kerja ... 93 4.1.6...Perke
mbangan Kurs Valuta Asing... 94 4.2...Hasil
Analisis Asumsi Regresi Klasik (BLUE/Best Linear Unbiased
Estimator) ... 96
4.3.1...Anali sis Dan Pengujian Hipotesis ... 100 4.3.2...Uji
Hipotesis Secara Simultan ... 102 4.3.3...Uji
Hipotesis Secara Parsial... 103 4.3...Pemb
ahasan ... 111
mpulan ... 115 5.2...Saran
... 116 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Gambar 1 : Kurva Teori Permintaan ... 26
Gambar 2 : Kurva Penawaran ... 28
Gambar 3 : Fungsi Impor ... 34
Gambar 4 : Kurva PPF (Production Possibilities Frontier) ... 36
Gambar 5 : Hubungan MEI (Marginal Efficiency of Investment) dan Investasi... 46
Gambar 6 : Komposisi Penduduk dan Tenaga Kerja ... 55
Gambar 7 : Kurva Permintaan Tenaga Kerja... 57
Gambar 8 : Kurva Penawaran Tenaga Kerja ... 58
Gambar 9 : Keseimbangan dalam Pasar Tenaga Kerja ... 59
Gambar 10 : Sistem Kurs Tetap ... 65
Gambar 11 : Sistem Kurs Mengambang Terkendali... 67
Gambar 12 : Kerangka Pikir Analisis Perdagangan Luar Negeri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia ... 73
Gambar 13 : Kurva Distribusi Penolakan/Penerimaan Hipotesis Secara Simultan ... 81
Gambar 14 : Kurva Distribusi Penerimaan/Penolakan Hipotesisi Secara Parsial ... 83
Gambar 15 : Kurva Durbin – Watson ... 85
Gambar 16 : Kurva Statistik Durbin – Watson ... 97
Gambar 18 : Kurva Distribusi Hasil Analisis Secara Parsial Faktor Impor Barang Modal terhadap Pertumbuhan Ekonomi ... 105 Gambar 19 : Kurva Distribusi Hasil Analisis Secara Parsial Faktor Ekspor
terhadap Pertumbuhan Ekonomi ... 106 Gambar 20 : Kurva Distribusi Hasil Analisis Secara Parsial Faktor Investasi
terhadap Pertumbuhan Ekonomi ... 107 Gambar 21 : Kurva Distribusi Hasil Analisis Secara Parsial FaktorTenaga
Kerja terhadap Pertumbuhan Ekonomi ... 109 Gambar 22 : Kurva Distribusi Hasil Analisis Secara Parsial FaktorKurs Valuta
Asing terhadap Pertumbuhan Ekonomi ... 110
Tabel 1 : Autokorelasi Durbin Watson ... 86 Tabel 2 : Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Tahun 1994 – 2008 ... 90 Tabel 3 : Perkembangan Impor Barang Modal Indonesia
Tahun 1994 – 2008 ... 91 Tabel 4 : Perkembangan Ekspor Indonesia Tahun 1994 – 2008... 92 Tabel 5 : Perkembangan Investasi Penanaman Modal Asing Tahun
1998 – 2008... 93 Tabel 6 : Perkembangan Tenaga Kerja Tahun 1998 – 2008 ... 94 Tabel 7 : Perkembangan Kurs Valuta Asing Tahun 1998 – 2008... 95 Tabel 8 : Tes Heterokedastisitas dengan Korelasi Rank Spearman
Korelasi ... 99 Tabel 9 : Analisis Varian (ANOVA)... 102
Tabel 10 : Hasil Analisis Variabel Impor Barang Modal, Ekspor, Investasi, Tenaga Kerja dan Kurs Valuta Asing Terhadap Pertumbuhan Ekonomi ... 104
Lampiran 1 : Data Input Analisis Perdagangan Luar Negeri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia
Lampiran 2 : Hasil Analisis Regresi Linear Berganda (Descriptive Statistic, Variables Entered / Removed, Model Summary, dan ANOVA) Lampiran 3 : Hasil Analisis Regresi Linear Berganda (Coefficients,
Correlations)
Lampiran 4 : Tabel Pengujian Nilai F Lampiran 5 : Tabel Pengujian Nilai t
Lampiran 6 : Tabel Pengujian Nilai Durbin – Watson
xvi Oleh :
RIAN TRI TEGUH SANTOSO
ABSTRAKSI
Pertumbuhan ekonomi merupakan masalah ekonomi dalam jangka panjang. Kebijaksanaan yang ditempuh oleh pemerintah adalah kebijaksanaan yang harus dapat mengatasi masalah perekonomian secara keseluruhan. Di satu pihak dapat meningkatkan ekspor sebagai penghasil devisa guna membiayai impor. Impor meningkatkan jumlah produksi barang dan jasa yang dihasilkan sehingga memacu perekonomian. Di sisi lain juga merupakan alat yang ampuh untuk mempertahankan nilai tukar (kurs) yang kompetitif guna menunjang ekspor serta dapat mengatasi masalah di bidang ketenagakerjaan. Atas dasar penelitian terdahulu yang telah meneliti Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia (Y), maka penelitian kali ini menggunakan indikator tentang perdagangan luar negeri dengan variabel Impor Barang Modal (X1), Ekspor (X2), Investasi (X3),
Tenaga kerja (X4) dan Kurs Valuta Asing (X5).
Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) cabang Kota Surabaya yang diambil selama kurun waktu 15 tahun mulai dari tahun 1994 – 2008. Untuk analisis data menggunakan alat bantu komputer dengan program SPSS (Statistic Program For Social Science) versi 13.0. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier berganda dan uji hipotesis yang digunakan adalah uji F dan uji t statistik.
Kesimpulan dari penelitian ini yaitu secara simultan menunjukkan adanya pengaruh yang nyata antara variabel bebas import barang modal, ekspor, investasi, tenaga kerja dan kurs valuta asing terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, dan secara parsial variabel impor barang modal, ekspor, investasi, tenaga kerja dan kurs valuta asing tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pertumbuhan ekonomi merupakan masalah ekonomi dalam jangka panjang. Indonesia sebagai negara sedang berkembang selalu berupaya untuk meningkatkan pembangunan, dengan sasaran utama adalah mewujudkan masyarakat demokratis, yang berkeadilan dan sejahtera sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Dalam memenuhi kebutuhan akan pembangunan nasional maka diperlukan sumber daya yang handal serta memiliki keahlian dan kemampuan teknologi tinggi. Untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi sudah tentu memerlukan biaya yang cukup besar. Maka cara untuk mencapai pertumbuhan ekonomi itu adalah dengan berusaha meningkatkan investasi. (Adrian, 2008 : 2)
Pertumbuhan ekonomi Indonesia berada dalam kisaran angka 4% - 6% selama kurun waktu antara tahun 2000 – 2008. Di tahun 1998 Indonesia mengalami krisis ekonomi sehingga angka pertumbuhan ekonomi berada pada angka -13,13. Pada tahun 2003, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada kisaran angka 4,78%. Kemudian di tahun 2004, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada angka 5,83%. Pada tahun 2005, mengalami kenaikan yang tidak terlalu menggembirakan, terjadi kenaikan sebesar 0,01% menjadi sebesar 5,84%. Untuk tahun selanjutnya 2006, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami penurunan menjadi 5,80%. Pada tahun 2007, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kenaikan menjadi 5,84%. (Badan Pusat Statistik, 2008 : 182)
Investasi merupakan faktor penting dalam memberikan kontribusi yang besar terhadap proses pembangunan ekonomi atau pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi maka sangat diperlukan kegiatan – kegiatan proses produksi (barang dan jasa) di semua sektor – sektor ekonomi, yang akan terciptanya kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat meningkat, sehingga pertumbuhan ekonomi akan tercipta. (Tambunan, 2001 : 40)
kemampuan suatu negara untuk mengimport berbagai barang kebutuhan, misalnya barang modal, dan bahan baku atau penolong, yang pada akhirnya nanti akan timbul kemungkinan berkembangnya inovasi – inovasi teknologi baru yang dapat mengakibatkan jumlah, kualitas, dan jenis barang yang mampu dihasilkan akan meningkat, sehingga akan mempengaruhi komposisi perdagangan internasional suatu negara. (Narzeki, 2005 : 1)
Dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi Indonesia memerlukan dua faktor penting, yaitu modal dan tenaga ahli. Tersedianya modal saja tidak cukup untuk meningkatkan perekonomian. Dengan kata lain diperlukan adanya tenaga kerja yang terdidik, ahli dan terampil dalam melakukan proses produksi. Tenaga kerja yang terdidik, ahli dan terampil ini memerlukan pendidikan. Perkembangan pendidikan merupakan suatu langkah yang harus dilaksanakan pada waktu usaha pembangunan dimulai. Selain itu masalah pengembangan pengusaha juga penting. Menurut Schumpeter bahwa golongan pengusaha sangat penting dalam menentukan sampai mana perkembangan ekonomi akan tercapai. Mereka adalah golongan peminjam atau mengumpulkan modal atau dana sendiri yang akan mengembangkan kegiatan proses produksinya. (Sukirno, 2004 : 439)
tidak dapat bertindak semena – mena, karena bila pemerintah tidak pandai menarik investor maka pertumbuhan ekonomi akan lambat dan lapangan kerja akan tidak bertambah melebihi pertambahan angkatan kerja. Selain itu pemerintah sebagai stimulator, dana yang dimiliki pemerintah dapat digunakan sebagai stimulan untuk mengarahkan investasi swasta atau masyarakat umum ke arah yang diinginkan pemerintah baik dari sudut jenis kegiatan maupun lokasinya. (Tarigan, 2005 : 32).
Kebijaksanaan yang ditempuh oleh pemerintah adalah kebijaksanaan yang harus dapat mengatasi masalah perekonomian secara keseluruhan. Di satu pihak dapat meningkatkan ekspor sebagai penghasil devisa guna membiayai impor serta pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri, dan di lain pihak dapat menekan laju inflasi. Penekanan laju inflasi diarahkan untuk mencegah penurunan daya beli masyarakat, terutama golongan mayoritas yang banyak mengkonsumsi keperluan bahan pokok, tetapi di sisi lain juga merupakan alat yang ampuh untuk mempertahankan nilai tukar (kurs) yang kompetitif guna menunjang eksport serta dapat mengatasi masalah di bidang ketenagakerjaan. (Adhitya, 2007 : 5)
yang mempengaruhinya. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengamati masalah pertumbuhan ekonomi dan mengkaji lebih dalam lagi tentang :
“Analisis Perdagangan Luar Negeri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Di Indonesia”.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut diatas maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut :
a. Apakah faktor impor barang modal, ekspor, investasi, tenaga kerja dan kurs valuta asing secara simultan dan parsial berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia?
b. Variabel bebas manakah yang memberi pengaruh paling dominan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang telah di kemukakan sebelumnya, maka perlu diketahui tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
b. Untuk mengetahui variabel mana yang paling berpengaruh dominan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
1.4. Manfaat Penelitian
Melalui penelitian ini, maka hasilnya diharapkan dapat diambil manfaat sebagai berikut :
a. Bagi Pengembangan Keilmuan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menyumbangkan sesuatu yang berharga bagi pihak universitas khususnya Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur sekaligus sebagai koleksi pembendaharaan referensi dan tambahan wacana pengetahuan untuk perpustakaan Universitas Pembangunan Nasional “VETERAN” Jawa Timur.
b. Bagi Pemerintah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi atau masukan terhadap neraca perdagangan di Indonesia serta sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan perkembangan perekonomian dalam serta berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
c. Bagi Peneliti
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Hasil – hasil Penelitian Terdahulu
Hasil penelitian ini dilakukan atas dasar atau mengacu pada
penelitian – penelitian terdahulu yang pernah dilakukan dengan
permasalahan yang sedikit berbeda, adapun penelitian tersebut antara
lain :
1. Jumami (2004), skripsi dengan judul “Analisis Beberapa Faktor
Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi di Jawa Timur”, hasil
penelitian secara simultan menunjukkan adanya hubungan yang
nyata antara variabel bebas Investasi (X1), Ekspor (X2), Pengeluaran
Pemerintah Daerah (X3), Inflasi (X4) terhadap Pertumbuhan
Ekonomi di Jawa Timur (Y). Secara parsial, variabel Investasi (X1)
dan Pengeluaran Pemerintah Daerah (X3) tidak berpengaruh terhadap
Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur. Sedangkan variabel Ekspor (X2)
dan Inflasi (X4) berpengaruh terhadap Pertumbuhan Ekonomi di
Jawa Timur (Y).
2. Narzeki (2005), skripsi dengan judul “Beberapa Faktor Yang
Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi di Jawa Timur”. Berdasarkan
hasil analisis dan pengujian hipotesis bahwa secara simultan ketiga
Pertumbuhan Ekonomi di Jawa Timur (Y). Pengujian secara parsial
diperoleh variabel X1 (Ekspor) memberikan pengaruh yang nyata
terhadap variabel terikat (Y). Untuk X2 (Investasi) memberikan
pengaruh yang nyata terhadap variabel terikat (Y). Dan untuk X3
(inflasi) memberikan pengaruh yang nyata terhadap variabel terikat
(Y).
3. Wicaksono (2008), skripsi dengan judul “Analisis Beberapa Faktor
Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi di Jawa Timur”, hasil
penelitiannya bahwa dari hasil uji hipotesis adalah bahwa secara
simultan variabel investasi (X1), tenaga kerja (X2), nilai produksi
(X3), perusahaan besar (X4), dan tabungan pemerintah (X5)
berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Timur.
Sedangkan secara parsial dapat diketahui bahwa variabel bebas
jumlah investasi (X1) dan variabel tabungan pemerintah daerah (X5)
berpengaruh secara nyata terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa
Timur. Sedangkan untuk variabel tenaga kerja (X2) dan nilai
produksi (X3) tidak berpengaruh secara nyata terhadap pertumbuhan
ekonomi Jawa Timur.
4. Wiyono (2005 : 1), Jurnal Ekonomi dengan judul “Mengungkap
Sumber-Sumber Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Dalam Lima
Tahun Terakhir”. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif
dengan berpijak pada teori Harod-Domar dan Solow-Swan. Hasil
industri pengolahan (yang bersifat padat modal dan teknologi tinggi)
merupakan penyumbang terbesar atas pertumbuhan ekonomi diikuti
sektor keuangan dan jasa-jasa serta sektor pertanian. Begitu pula
belanja konsumsi swasta menyumbang terbesar dari sisi pengeluaran
daripada pembentukan modal tetap domestik (investasi).
Pertumbuhan ekonomi ternyata juga banyak didorong oleh faktor
eksternal yang terlihat pada tinginya kandungan impor yang
digunakan oleh sektor industri dalam proses produksinya.
2.1.1. Perbedaan Dengan Penelitian Terdahulu
Penelitian yang dilakukan oleh peneliti pada kesempatan kali ini
berbeda dengan penelitian–penelitian sebelumnya. Perbedaan penelitian
yang dilakukan oleh peneliti terdahulu dengan penelitian yang dilakukan
sekarang terletak pada kurun waktu, ruang lingkup, tempat penelitian dan
jumlah variabel yang digunakan untuk penelitian. Berdasarkan penelitian
terdahulu seperti yang telah disebutkan diatas, yang juga merupakan
dasar acuan untuk penelitian kali ini dengan judul “Analisis Perdagangan
Luar Negeri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia”, dengan
variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pertumbuhan
Ekonomi di Indonesia (Y), sedangkan variabel terikat yang digunakan
dalam penelitian ini adalah Impor Barang Modal (X1), Ekspor (X2),
2.2. Landasan Teori
2.2.1. Pertumbuhan Ekonomi
Pengertian pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan jangka
panjang dalam kemampuan suatu negara untuk menyediakan semakin
banyak jenis barang – barang ekonomi kepada penduduknya,
kemampuan ini tambah sesuai dengan kemajuan teknologi dan
penyelesaian kelembagaan dan ideologi yang dibutuhkan. (Jhingan, 2001
: 72)
Dari definisi diatas dapat dilihat bahwa pertumbuhan ekonomi
memiliki tiga komponen, yaitu :
a. Pertumbuhan ekonomi suatu bangsa dilihat dari meningkat secara
terus menerus persediaan barang.
b. Teknologi maju merupakan faktor-faktor dalam pertumbuhan
ekonomi yang menentukan derajat pertumbuhan kemampuan dalam
menyediakan aneka macam barang pada pemerintah.
c. Penggunaan teknologi secara luas dan efisiensi memerlukan adanya
penyelesaian di bidang kelembagaan dan ideologi dengan inovasi
yang dilakukan oleh ilmu pengetahuan manusia dapat dimanfaatkan
secara tepat. (Jhingan, 2001 : 73)
Pengertian pertumbuhan ekonomi menurut Iskandar Putong
(2003 : 252) adalah kenaikan pendapatan nasional secara berarti (dengan
meningkatnya pendapatan perkapita) dalam suatu periode perhitungan
Apapun istilah dan definisinya, yang pasti adalah bahwa
pertumbuhan ekonomi mengkaitkan dan menghitung antara tingkat
pendapatan nasional dari satu periode ke periode berikutnya. Dan angka
pertumbuhan ekonomi umumnya dalam bentuk prosentase dan bernilai
positif, tetapi mungkin juga bernilai yang disebabkan adanya penurunan
yang lebih besar dari pendapatan nasional tahun berikutnya dibandingkan
dengan tahun sebelumnya.
Sedangkan menurut Sukirno (2002 : 10) pertumbuhan ekonomi
berarti perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan
barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah dan
kemakmuran masyarakat meningkat. Dan dari satu periode ke periode
lainnya kemampuan suatu negara untuk menghasilkan barang dan jasa
akan meningkat. Kemampuan yang meningkat ini disebabkan karena
faktor – faktor produksi akan selalu mengalami pertambahan dalam
jumlah dan kualitasnya.
Investasi akan menambah jumlah barang modal karena
disebabkan teknologi yang digunakan berkembang. Akan tetapi
perkembangan atau kemampuan untuk dapat memproduksi barang dan
jasa sebagai akibat pertambahan faktor – faktor produksi pada umumnya
tidak selalu diikuti oleh pertambahan produksi barang dan jasa yang
sama besarnya. Karena pertambahan potensi memproduksi kerap kali
lebih besar dari pertambahan produksi yang sebenarnya. Dengan
Suatu perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan apabila
dalam jangka waktu yang cukup lama output perkapitanya menunjukkan
kecenderungan yang jelas untuk menarik. Pertumbuhan ekonomi
mempunyai ciri – ciri di mana proses pertumbuhan ekonomi dipengaruhi
oleh dua macam faktor yaitu ekonomi dan non ekonomi, yang termasuk
dalam faktor ekonomi adalah modal usaha, sumber daya alam, teknologi
dan lain sebagainya. Sedangkan faktor non ekonomi adalah seperti
lembaga sosial, kondisi politik dan nilai moral dalam suatu bangsa.
Menurut Kuznet (dalam Jhingan, 2001 : 7) ada enam
karakteristik dalam proses pertumbuhan ekonomi, yaitu :
1. Tingginya tingkat pertimbangan output (penghasilan) perkapita dan
jumlah penduduk.
2. Tingginya tingkat penambahan jumlah produktivitas, terutama
produktivitas kerja.
3. Tingginya tingkat infragmasi struktur ekonomi (prasarana).
4. Tingginya tingkat transformasi sosial, politik dan ideologi.
5. Kecenderungan negara-negara yang ekonominya sudah maju untuk
ke segala pelosok dunia guna mendapatkan prasarana dan bahan
baku.
6. Pertumbuhan ekonomi hanya terbatas pada tiga segitiga populasi
Keenamnya saling memperkuat dan mempercepat pertumbuhan
ekonomi yang pada akhirnya nanti dapat menhasilkan
penemuan-penemuan baru guna mendorong pertumbuhan ekonomi selanjutnya.
2.2.1.1. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi
Menurut Todaro (2003 : 92) beberapa faktor penting yang
mempengaruhi pertumbuhan ekonomi adalah :
1. Akumulasi modal
Akumulasi modal (capital accumulation) terjadi apabila
sebagian dari pendapatan ditabung dan diinvestasikan dengan
tujuan untuk memperbesar output dan pendapatan di kemudian hari
atau di masa yang akan datang. Pengadaan pabrik baru, mesin –
mesin, peralatan dan bahan baku yang meningkatkan stok modal
(capital stock) fisik suatu negara (yakni, total nilai riil “netto” atas
seluruh barang modal produktif secara fisik sehingga akan
memungkinkan peningkatan output di masa – masa mendatang.
2. Pertumbuhan penduduk dan angkatan kerja
Pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan angkatan kerja
secara tradisional dianggap sebagai salah satu faktor positif yang
memacu pertumbuhan ekonomi. Jumlah tenaga kerja yang lebih
besar berarti akan menambah jumlah tenaga produktif, sedangkan
pertumbuhan penduduk yang lebih besar berarti meningkatkan
3. Kemajuan teknologi
Kemajuan teknologi (technology progress) merupakan
sumber pertumbuhan ekonomi yang paling penting. Kemajuan
teknologi dapat diklasifikasikan menjadi 3 yaitu :
a. Kemajuan teknologi yang netral (neutral technology progress)
terjadi apabila teknologi tersebut memungkinkan kita
mencapai tingkat produksi yang lebih tinggi dengan
menggunakan jumlah dan kombinasi faktor input yang sama.
Inovasi yang sederhana seperti pembagian tenaga kerja yang
mendorong peningkatan output dan kenaikan konsumsi
masyarakat adalah contohnya. Ditinjau dari sudut analisis
output, secara konseptual sama artinya dengan teknologi yang
mampu melipatgandakan semua input produktif.
b. Kemajuan teknologi yang hemat tenaga kerja (labor-saving
technological progress). Kemajuan teknologi dapat
berlangsung sedemikian rupa sehingga menghemat pemakaian
modal atau tenaga kerja (artinya, penggunaan teknologi
tersebut memungkinkan kita memperoleh output yang lebih
tinggi dari jumlah input tenaga kerja atau modal yang sama).
Penggunaan komputer, mesin tekstil otomatis, bor listrik
berkecepatan tinggi, traktor dan peralatan modern lainnya.
c. Kemajuan teknologi hemat modal (capital-saving
negara – negara berkembang yang murah, efisien, dan padat
karya (hemat modal) atau teknologi tepat guna merupakan
salah satu unsur terpenting dalam strategi pembangunan dalam
jangka panjang yang berorientasi pada perluasan penyedian
lapangan kerja.
2.2.1.2. Ukuran Pertumbuhan Ekonomi
Untuk menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapai
oleh suatu negara perlu dihitung pendapatan nasional riil, yaitu Produk
Nasional Bruto Riil atau Produk Domestik Riil. Untuk menentukan
Pertumbuhan ekonomi yang dicapai suatu negara, dihitung berdasarkan
laju perubahan Pendapatan Nasional riil per tahun dalam persentase atau
besarnya pertambahan riil Pendapatan Nasional riil tahun t (sekarang)
dikurangi tahun t-1 (sebelumnya) kemudian dikalikan 100 % atau dengan
rumus persamaan sebagai berikut :
Gt = PNB rt - PNB rt-1 X 100 % ... (Ritonga, 2003 : 159). PNB rt-1
Dimana :
Gt = Pertumbuhan Ekonomi pada tahun t
PNB rt = Pendapatan Nasional riil pada tahun t
Alat pengukur pertumbuhan ekonomi antara lain :
a. Produk Domestik Bruto (PDB)
Produk Domestik Bruto (PDB) merupakan jumlah barang dan
jasa akhir yang dihasilkan oleh suatu perekonomian dalam satu
tahun dan dinyatakan dalam harga pasar. Produk Domestik
Bruto ini merupakan acuan yang sifatnya global dan bukan
merupakan alat pengukuran yang tepat, karena belum dapat
mencerminkan kesejahteraan masyarakat yang sesungguhnya.
b. Produk Domestik Bruto Perkapita
Produk Domestik Bruto Perkapita dapat dipakai mengukur
pendapatan perkapita dan lebih tepat mencerminkan
kesejahteraan penduduk suatu negara dari pada Produk
Domestik Bruto (PDB) saja. Produk Domestik Bruto Perkapita
adalah jumlah produk domestik bruto nasional dibagi dengan
jumlah penduduk.
c. Pendapatan Perjam Kerja
Pendapatan Perjam Kerja sebenarnya paling baik sebagai alat
untuk mengukur maju tidaknya perekonomian. Biasanya suatu
negara yang mempunyai pendapatan atau upah jam kerja lebih
tinggi dari upah jam kerja negara lain untuk jenis pekerjaan
yang sama. Pasti boleh dikaitkan bahwa negara yang
bersangkutan lebih maju dari negara lain. (Suparmoko, 2000 :
2.2.1.3. Teori Pertumbuhan Ekonomi
Jika diamati, banyak teori tentang beberapa faktor yang
berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi selalu berorientasi pada
mekanisme yang terjadi di negara yang sudah maju pada jamannya
(khususnya teori klasik yang dipelopori oleh Adam Smith), namun suatu
pengecualian pada tahun 1950-an, pada umumnya teori neo klasik sudah
mengarah pada mekanisme ekonomi di negara yang sedang berkembang.
Secara berurutan teori tentang pertumbuhan ekonomi dimulai dari teori
klasik, teori Harrod-Domar, WW. Rostow.
1. Teori Pertumbuhan Ekonomi Klasik
Mengemukakan bahwa proses pertumbuhan ekonomi
dalam jangka panjang secara sistematis dibedakan menjadi dua
aspek utama pertumbuhan, yaitu :
a. Pertumbuhan output total
Unsur pokok dari sistem produksi di suatu negara ada tiga,
yaitu : sumber daya alam yang tersedia (faktor produksi
tanah), jumlah penduduk dan stok barang modal yang
tersedia, dengan penunjang penting proses akumulasi modal
yaitu : makin meluasnya pasar (ekspor) dan adanya tingkat
keuntungan di atas tingkat keuntungan minimal.
b. Pertumbuhan penduduk
Penduduk meningkat jika tingkat upah untuk hidup tinggi.
penawaran tenaga kerja yang ditentukan oleh laju
pertumbuhan stok modal dan laju pertumbuhan output
masyarakat. (Arsyad, 1998 : 49 – 51)
2. Teori Pertumbuhan Ekonomi Harrod – Domar
Syarat untuk menciptakan pertumbuhan teguh yang
dikemukakan oleh Harrod – Domar. Ada dua hal yang perlu
diketahui :
a. Pertambahan kapasitas barang modal tergantung dua faktor,
yaitu rasio modal produksi (bernilai COR), investasi yang
dilakukan (bernilai I), pertumbuhan kapasitas barang modal
(∆c)
b. Pertambahan pendapatan nasional (∆Y) yang sama dengan
pertambahan kapasitas barang modal (∆c). Teori Harrod –
Domar adalah perluasan dari analisis Keynes. Dengan
demikian, teori berpendapat bahwa kapasitas penuh pada
tahun berikut akan tercapai apabila pengeluaran agregat
bertambah dengan cukup besar sehingga tercapai keadaan :
Agar bisa tumbuh, maka perekonomian harus menabung
dan menginvestasikan sebagian dari GNP. Lebih banyak yang
dapat ditabung dan kemudian ditanamkan maka akan lebih cepat
lagi perekonomian itu tumbuh. Akan tetapi, tingkat pertumbuhan
∆c = 1/COR
yang dapat dicapai pada setiap tingkat tabungan dan investasi
tergantung pada produktivitas investasi tersebut. Produktivitas
investasi adalah banyaknya tambahan output yang didapat dari
suatu unit investasi. (Todaro, 1994 : 65 – 66)
Teori Harrod – Domar mencoba menelaah syarat-syarat
yang diperlukan agar perekonomian bisa tumbuh dan berkembang
dalam jangka panjang dan mantap (Steady Growth). (Arsyad. 1998
: 58)
Istilah pertumbuhan ekonomi, perkembangan dan
pembangunan ekonomi seiring dan secara bergantian dengan
maksud yang sama, terutama dalam pembicaraan mengenai
masalah yang berkaitan dengan ekonomi. Dikatakan ada
pertumbuhan ekonomi apabila terdapat lebih banyak output yang
dihasilkan, sedangkan untuk pembangunan ekonomi tidak hanya
menyangkut output yang dihasilkan, tetapi juga perubahan –
perubahan kelembagaan dan pengetahuan teknik dalam
menghasilkan output yang lebih banyak dan bervariasi. Oleh
karena itu, perkembangan ekonomi selalu diikuti dengan
pertumbuhan ekonomi. (Sukirno, 2000 : 433)
3. Teori Pertumbuhan WW. Rostow
Dalam menganalisa teori tentang tahap – tahap pertumbuhan
ekonomi, Rostow menitik beratkan pada pembahasan peranan
dan ciri – ciri perubahan yang tercipta dalam tiap – tiap tahap
pembangunan pada suatu masyarakat. Analisa Rostow didasarkan
pada keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi tercipta sebagai
akibat dari timbulnya perubahan yang fundamental bukan saja pada
corak ekonomi tetapi juga pada kehidupan politik dan hubungan
sosial dalam masyarakat. (Sukirno, 2001 : 102)
Tahap – tahap pertumbuhan ekonomi menurut Rostow
(Sukirno, 2001 : 103) ada lima tahap, yaitu :
1. Tahap Masyarakat Tradisional (The Traditional Society)
Menurut Rostow, masyarakat tradisional adalah suatu
masyarakat yang strukturnya berkembang di dalam fungsi
prouksi yang terbatas, didasarkan pada teknologi, ilmu
pengetahuan dan sifat masyarakat seperti sebelum masa
Newton. Yang disebut sebelum Newton adalah suatu
masyarakat yang masih menggunakan cara – cara
memproduksi relatif primitif dan dipengaruhi oleh kebiasaan
yang berlaku turun temurun. Tahap masyarakat tradisional
menunjukkan tingkat produktivitas per pekerja masih sangat
terbatas karena sebagian besar dari sumber daya masyarakat
digunakan untuk kegiatan dalam sektor pertanian.
2. Tahap Prasyarat untuk Lepas Landas (The Preconditions for
Rostow mendefinisikan tahap ini sebagai suatu masa transisi
pada saat masyarakat mempersiapkan dirinya untuk mencapai
pertumbuhan yang mempunyai kekuatan untuk terus
berkembang.
3. Tahap Lepas Landas
Permulaan dari lepas landas berlakunya perubahan yang sangat
drastis dalam masyarakat seperti revolusi politik, terciptanya
kemajuan yang pesat dalam inovasi atau berupa terbukanya
pasaran – pasaran baru. Ciri – ciri tahap ini adalah :
a. Berlakunya kenaikan dalam penanaman modal yang
produktif.
b. Berlakunya perkembangan dari sektor industri dengan
tingkat laju perkembangan yang tinggi.
c. Terciptanya suatu rangaka dasar politik, sosial dan
institusional.
4. Tahap Gerakan Ke Arah Kedewasaan (The Drive To Maturity)
Gerakan ke arah kedewasaan adalah suatu masyarakatnya
sedang secara efektif menggunakan teknologi modern pada
sebagian besar faktor produksi dan kekayaan alamnya. Ciri –
ciri tahap ini adalah :
a. Struktur dan keahlian tenaga kerja mengalami perubahan.
Peranan sektor industri semakin penting sedangkan sektor
b. Sifat kepemimpinan dalam perusahaan mengalami
perubahan.
Peranan manajer profesional semakin penting dan
menggantikan kedudukan pengusaha atau pemilik.
c. Kritik – kritik terhadap industrialisasi mulai muncul
sebagai akibat dari ketidak puasan terhadap dampak
industrialisasi
5. Tahap Konsumsi Tinggi (The Age of High Mass-Consumption)
Tahap konsumsi tinggi adalah perhatian masyarakat lebih
menekankan pada masalah yang berkaitan dengan konsumsi
dan kesejahteraan masyarakat. Pada masa konsumsi tinggi
tujuan dari negara adalah :
a. Memperbesar kekuasaan dan pengaruh kepada negara lain.
b. Meningkatkan kemakmuran yang merata pada
penduduknya dengan cara mengusahakan pembagian
pendapatan yang lebih merata.
c. Mempertinggi tingkat kesejahteraan masyarakat (Sukirno,
1999 : 103)
2.2.2. Pengertian Perdagangan
Fenomena transaksi dan pertukaran sudah merupakan
komponene dasar bagi kegiatan manusia di seluruh dunia. Sekalipun di
pasar – pasar desa untuk tukar menukar barang, kadangkala dengan uang,
tetapi pada umumnya dengan barang lainnya melalui transaksi barter
yang sederhana.
Mengapa orang berdagang? Pada dasarnya karena
dimungkinkan untuk mendapatkan keuntungan. Karena masing – masing
orang mempunyai kemampuan dan sumber daya yang berlainan. Dan
mungkin saja juga perlu menggunakan dalam proporsi yang berbeda.
Keinginan yang beraneka ragam, sebagaimana kemampuan fisik dan
keuangan, membuka kemungkinan perdagangan yang menguntungkan.
(Todaro, 2000 : 16)
2.2.2.1. Perdagangan Internasional
Karena dengan adanya Perdagangan Internasional maka
mobilitas dari barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara dapat
dengan cepat dijual dan digunakan oleh konsumen yang ada di negara
lain.
Sedangkan menurut Samuelson (2003 : 570) Perdagangan
Internasional merupakan hal yang vital karena perdagangan luar negeri
(foreign trade) akan mengembangkan kemungkinan konsumsi suatu
bangsa. Perdagangan luar negeri memungkinkan suatu negara
mengkonsumsi lebih banyak barang dibanding yang tersedia menurut
garis perbatasan kemungkinan pada keadaan swasembada tanpa
A. Pengertian Teori Permintaan
Permintaan akan suatu jenis barang ialah jumlah barang
itu yang membeli bersedia membelinya pada tingkat harga yang
berlaku pada suatu pasar tertentu dan dalam waktu pula (Rosyidi,
2002 : 239) hubungan antar harga (price) dan jumlah terjadi karena
suatu ketentuan bahwa jumlah barang yang diminta merupakan
fungsi daripada harga dan bukan sebaliknya. Secara teknik
hubungan seperti ini dapat ditulis sebagai berikut :
Q = F (D) ...(Rosyidi, 2002 : 241) Keterangan :
Q = Jumlah barang
D = Permintaan
Gambar 1 : Kurva Teori Permintaan
Sumber : Rosyidi. 2002. Pengantar Teori Ekonomi : Pendekatan Kepada Teori Ekonomi Mikro dan Makro. Rajawali, Jakarta hal 242.
Harga
P1
P
P2
Q1 Q Q2 Permintaan
Kurva permintaan itu berbentuk turun miring ke kanan
bawah (Down Word Sloping to The Right). Dengan bentuk
condong ke kanan bawah karena adanya hubungan yang
berlawanan arah antara P (harga) dan Q (jumlah). Apabila harga
naik dari OP ke OP1 maka akan menyebabkan turunnya jumlah
barang yang diminta dari OQ ke OQ1. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Samuelson (dalam Rosyidi, 2002 : 242) yang
menyatakan tentang hukum permintaan yang menurun (The Law of
Diminishing Demand) yang berfungsi “Apabila suatu barang
dinaikkan maka semakin berkuranglah jumlah yang diminta”.
B. Pengertian Teori Penawaran
Dalam usaha untuk meningkatkan perdagangan
Internasional dasar yang digunakan dalam terori penawaran,
pengertian penawaran adalah keingininan seorang penjual dalam
menawarkan atau menjual sejumlah barang yang dihasilkan dalam
berbagai tingkat harga yang ditentukan. Penawaran merupakan
fungsi produksi dan harga dapat disimpulkan sebagai berikut :
P = F {Pr2,H}...(Gujarati, 1998 : 31) Keterangan :
P = Penawaran
Pr = Produksi
Menurut (Sadono Sukirno, 2002 : 61), hukum penawaran
adalah makin tinggi harga suatu barang maka makin tinggi pula
barang tersebut ditawarkan oleh para penjual sebaliknya makin
rendah harga suatu barang semakin sedikit pula barang tersebut
yang ditawarkan oleh penjual.
Gambar 2 : Kurva Penawaran
Sumber : Rosyidi, 2002, Pengantar Teori Ekonomi : Pendekatan Kepada Teori Ekonomi Mikro dan Makro, Penerbit Rajawali Pers, Jakarta, halaman 295.
Di samping harga yang dapat mempengaruhi penawaran,
faktor produksi adalah faktor-faktor yang diperlukan untuk
menghasilkan suatu barang melalui suatu proses produksi. Semakin
banyak barang yang dihasilkan (titik D ke titik E) sehingga dapat
meningkatkan penawaran sehingga harga (titik B ke titik C) dan
sebaliknya semakin sedikit atau langka faktor produksi yang
dihasilkan sehingga dapat mengurangi penawaran dari titik A2 ke
titik A1.
2.2.2.2. Teori Perdagangan Internasional
Teori Perdagangan Internasional membantu menjelaskan arah
serta komposisi perdagangan antara beberapa negara serta bagaimana
efeknya terhadap struktur perekonomian suatu negara. Di samping itu,
teori perdagangan internasional juga dapat menunjukkan adanya
keuntungan yang timbul dari adanya perdagangan internasional (garis
from trade). Beberapa teori yang menerangkan tentang timbulnya
perdagangan internasional pada dasarnya adalah sebagai berikut :
A. Teori Klasik
a. Kemanfaatan Absolut (Absolute Advantage : Adam Smith)
Teori ini lebih mendasarkan pada besaran (variabel) riil
bukan moneter sehingga sering dikenal dengan nama teori murni
(pure theory) perdagangan internasional. Murni dalam arti
bahwa teori ini memusatkan perhatiannya pada variabel riil
seperti misalnya nilai sesuatu barang diukur dengan banyaknya
tenaga kerja yang dipergunakan untuk menghasilkan barang.
Makin banyak tenaga kerja yang digunakan akan makin tinggi
b. Kemanfaatan Relatif (Comparative Advantage : Mill)
Teori ini menyatakan bahwa suatu negara akan
menghasilkan dan kemudian mengekspor suatu barang yang
memiliki comparative advantage terbesar dan mengimpor
barang yang memiliki comparative advantage, yaitu suatu
barang yang dapat dihasilkan dengan lebih murah dan
mengimpor barang yang kalau dihasilkan sendiri memakan
ongkos yang besar.
c. Biaya Relatif (Comparative Cost : David Ricardo)
Titik pangkal teori Ricardo tentang perdagangan
internasional adalah teorinya tentang suatu nilai atau value.
Menurut Ricardo, nilai atau value sesuatu barang tergantung dari
banyaknya barang tersebut (labour cost value theory).
Perdagangan antar negara akan timbul apabila
masing-masing negara memiliki comparative cost terkecil.
Dengan demikian prinsip comparative cost Ricardo
dapat dirumuskan sebagai berikut :
Jika a1 dan b1 adalah unit labour cost untuk barang A
dan B di negara I, dan a2 dan b2 adalah unit labour cost di
negara II, maka negara I akan mengekspor barang A dan impor
barang B jika :
a1 / b1 < a2 / b2 atau,
Artinya sebelum berdagang barang A relatif lebih
murah di negara I dan barang B lebih murah di negara II.
(Nopirin, 2002 : 14)
B. Teori Hecksher – Ohlin (H-O)
Teori Hecksher dan Ohlin (H – O) disebut juga teori
proporsi faktor (factor proportion) atau ketersediann faktor (faktor
endowment). Dasar pemikiran dari teori ini adalah bahwa
perdagangan internasional, misalnya terjadi antara negara A dan
negara B karena ooportunity cost yang berbeda antara kedua negara
tersebut. Perbedaan ongkos relatif tersebut dikarenakan adanya
perbedaan dalam jumlah faktor produksi (misalnya tenaga kerja,
modal, tanah, dan bahan baku) yang dimiliki negara tersebut. Dan
dikarenakan faktor endowment-nya berbeda. Maka sesuai dengan
hukum pasar, harga dari faktor-faktor produksi tersebut juga
berbeda.
Intensitas pemakaian faktor produksi adalah rasio faktor
produksi terhadap output. Tingkat intensitas faktor produksi dapat
diukur secara kuantitatif dengan cara menganalisis fungsi produksi
yang diestimasi sebelumnya dari barang yang ebrsangkutan.
Sesuai dengan dasar pemikiran teori Hecksher dan Ohlin
pada factor endowment dan factor intensity dan juga ditentukan
oleh teknologi yang digunakan. (Tambunan, 2001 : 124)
C. Teori Ishikawa
Ishikawa menciptakan sebuah alat yang dinamakan
diagram “cause-effect” atau diagram tulang ikan (fish bone) yang
digunakan dalam penanggulangan dan peningkatan mutu.
Dia juga yang menciptakan konsep bahwa konsumen
adalah hal utama dalam penentuan mutu dan ternyata bahwa
konsumen adalah juga berlaku terhadap langkah berikutnya dari
sebuah line produksi.
Selain itu dia mengemukakan mengenai keterlibatan
karyawan dalam masalah mutu bukan hanya terbatas untuk
menghasilkan. Namun juga dalam menganalisa, menanggulangi,
memecahkan, dan menerapkannya secara bersama melalui konsep
Gugus Kendali Mutu (Quality Control Circle).
(http://www.scribd.com/doc/920490/QUALITY-COURSE-part1)
Menurut ISO 9000:2000, mutu adalah derajat/tingkat
karakteristik yang melekat pada produk yang mencukupi
persyaratan atau keinginan. Karakteristik disini berarti hal-hal yang
dimiliki produk, antara lain :
1. Karakteristik fisik (elektrikal, mekanikal, biological) seperti
2. Karakteristik perilaku (kejujuran, kesopanan). Ini biasanya
produk yang berupa jasa seperti di rumah sakit atau asuransi
perbankan.
3. Karakteristik sensorik (bau, rasa) seperti minuman dan
makanan.
Paradigma konsumen tentang mutu itu sendiri tidak
pernah sama persis. Sebagai contoh, di Indonesia kualitas suatu
produk didasarkan pada merk dan harga. Harga menjadi faktor
utama dalam menentukan pembelian suatu produk. Di sini kita bisa
menganalisis bahwa konsumen Indonesia cenderung lebih
memperhatikan pembuatan produk tersebut selama dalam proses
produksi sehingga menimbulkan persepsi yang salah terhadap mutu
tersebut, sehingga konsumen Indonesia selalu menarik kesimpulan
bahwa harga tinggi identik dengan mutu yang tinggi pula.
Padahal sebenarnya harga adalah fungsi dari biaya,
marjinal laba, dan kekuatan pasar. Barang yang bermutu tinggi
adalah barang yang memiliki spesifikasi tinggi seperti material
nomor satu, teknologi yang tinggi, dll. Dan hal-hal tersebut justru
menyebabkan inefisiensi yang tinggi pula, ini sering terjadi pada
produk Amerika Serikat. (http:ireztia.wordpress.com/2008/09/19
2.2.3. Import
Menurut Michael B. Smith menyebutkan import adalah
memasukkan barang dan jasa ke pasar negara untuk dikonsumsi.
Pertukaran perdagangan merupakan kegiatan importir melalui perbatasan
(pabean) untuk mendapatkan kualitas barang dan jasa yang bagus dari
pada produk dalam negara. (Smith, 1999 : 57)
Import merupakan aliran keluar dari pendapatan, karena
menimbulkan aliran modal ke luar negeri. Oleh karena itu, pendapatan
yang ditimbulkan karena proses produksi dapat digunakan untuk
membeli barang dan jasa di dalam negeri. Atau keluar dari aliran
pendapatan sebagai tabungan atau pembelian barang dari luar negeri.
Impor tidak hanya tergantung dari pendapatan. Faktor lain juga
mempengaruhi, seperti misalnya daya saing produksi dalam negeri,
selera dan sebagainya. (Sukirno, 1994 : 372)
Import adalah pemasukan komoditi dari luar Indonesia ke dalam
Indonesia. Untuk melakukan pemasukan komoditi dari luar Indonesia
dalam peredaran barang harus dilakukan menurut prosedur yang
digariskan oleh pemerintah melalui peraturan yang dikeluarkan.
(Halwani, 2005 : 469)
Jadi kesimpulannya adalah impor merupakan perdagangan
dengan memasukkan barang dari luar negeri ke dalam wilayah pabean
pengimpor. Dimana impor tergantung kepada pendapatan nasional dan
hubungan antara keduanya bersifat positif (searah).
Gambar 3 : Fungsi Impor
Sumber : Sadono, 2002, Makro ekonomi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Hubungan tersebut akan terwujud atau tidak, masih tergantung
kepada kesanggupan penduduk negara itu membayar impor tersebut. Ini
berarti bahwa besarnya impor lebih dipengaruhi oleh besarnya
pendapatan nasional dari pada oleh kemampuan barang-barang luar
negeri untuk bersaing dengan barang-barang produksi dalam negeri. Oleh
sebab itu dalam analisis makro ekonomi dianggap impor mempunyai
ciri-ciri seperti yang ditunjukkan dalam gambar 3, yaitu makin besar tingkat
pendapatan nasional, makin besar pula nilai impor.
2.2.4. Barang Modal
Faktor-faktor produksi menururt Samuelson (1993 : 317) dibagi
pertama disebut faktor produksi primer atau orisinil, karena tersedia
sebelum produksi terjadi. Terhadap keduanya kita menambahkan suatu
faktor produksi yang diprosduksi, yaitu modal atau barang modal. Nama
atau sebutan bagi faktor produksi ini menurut Rosyidi (1999 : 57) adalah
real capital goods (barang-barang modal riil), yang meliputi semua jenis
barang yang dibuat untuk menunjang kegiatan produksi barang-barang
lain serta jasa-jasa. Inilah yang biasa disebut sebagai barang-barang
investasi. Termasuk barang-barang modal itu misalnya adalah
mesin-mesin, pabrik-pabrik, jalan-jalan raya, pembangkit tenaga listrik, gudang
serta peralatan – peralatannya.
Gambar 4 : Kurva PPF (Production Possibilities Frontier)
Sumber : William, 2001. Pendekatan Ekonomi Mikro, Salemba Empat, Jakarta, halaman 31.
Pada gambar Production Possibilities Frontier, titik G
secara penuh atau tidak efisien. Perhatikan bahwa titik C dapat
menghasilkan barang konsumsi lebih banyak dibandingkan titik G,
dengan jumlah barang kapital yang sama. Setiap titik sepanjang
Production Possibilities Frontier menghasilkan barang konsumsi dan
barang kapital yang lebih banyak dari pada G. Jadi titik G adalah tidak
efisien (inefisien), dengan menggunakan sumber daya secara efisien atau
dengan menggunakan sumber daya yang sebelumnya belum digunakan,
perekonomian dapat menghasilkan paling tidak lebih banyak barang yang
satu tanpa harus mengurangi produksi jenis barang yang lain.
Titik-titik di luar Production Possibilities Frontier, seperti H
dalam gambar menunjukkan kombinasi yang tidak mungkin dicapai, atas
dasar sumber daya dan teknologi yang ada. Jadi Production Possibilities
Frontier tidak hanya mencerminkan kombinasi produksi yang efisien
tetapi juga menunjukkan batas antara kombinasi yang tidak efisien (di
dalam kurva) dan kombinasi yang tidak mungkin (di luar kurva).
(William, 2001 : 31)
2.2.5.1. Hubungan Import Barang Modal Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kemampuan suatu bangsa untuk mengimpor sangat tergantung
pada pendapatan nasionalnya. Artinya semakin besar pendapatan
nasional, semakin besar pula kemampuan bangsa tersebut untuk
mengimport barang dan jasa. Tapi hubungan impor dengan pendapatan
ditarik kesimpulan bahwa jika pendapatan nasional bertambah menjadi
dua kali lipat misalnya, maka impor pun menjadi dua kali lipat.
Dengan kata lain, apabila impor meningkat maka jumlah
produksi barang dan jasa yang dihasilkan akan meningkat juga. Sehingga
pada akhirnya akan memacu pertumbuhan ekonomi Nasional.
2.2.5. Ekspor
Menurut pasal 1 ayat 9, Bab 1 UU No. 32/1964, ekspor adalah
pengiriman komoditi ke luar wilayah Indonesia dari peredaran.
Berdasarkan ketentuan di atas bahwa hal ini berarti ekspor dapat
dilakukan oleh suatu badan atau perorangan dalam bentuk barang-barang
ke luar negeri untuk diperdagangkan (Halwani, 2005 : 468).
2.2.8.1. Tujuan Ekspor
Adapun tujuan dilakukannya ekspor adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan keuntungan atau laba perusahaan melalui
perluasan pasar serta memperoleh harga jual yang lebih baik
(optimalisasi laba).
2. Membuka pasar baru di luar negeri sebagai perluasan pasar
domestik (membuka pasar ekspor).
3. Memanfaatkan kelebihan kapasitas terpasang (idle capacity)
4. Membiasakan diri bersaing dalam pasar internasional sehingga
terlatih dalam persaingan yang ketat.
5. Dapat menghasilkan devisa atau valuta asing ang diperlukan
untuk membiayai pembelian-pembelian (impor) di luar negeri
guna memenuhi kebutuhan rakyat dan pembangunan
bangsa.(Halwani, 2005 : 468).
2.2.8.2. Manfaat Ekspor
Dalam hal ini manfaat ekspor adalah :
1. Memperluas pasar dari pasar domestik menjadi seluas pasar global,
sehingga memungkinkan produksi optimal dan dapat
mengoptimalkan laba.
2. Dapat memanfaatkan ”idle capacity” dari kapasitas terpasang suatu
industri pada saat pasaran dalam negeri melemah sehingga dapat
mencegah pengangguran, modal dan tenaga kerja atau untuk mengisi
kebutuhan musiman.
3. Terbiasa dalam persaingan yang ketat di dalam pasar internasional
sehingga akan sangat menolong tingkat efisiensi, inovasi,
produktivitas, pengembangan dan restrukturisasi tekhnologi yang
dikarenakan dapat bersaing di area internasional.
4. Status sosial pengusaha tinggi karena dapat menjadi anggota dari
club bisnis yang terpandang di dunia seperti ceo’s club, rotary club,
5. Lebih dapat menikmati fasilitas dan insentif yang diberikan oleh
pemerintah terhadap komoditi ekspor seperti fasilitas promosi,
kredit, draw back system.
Manfaat bagi Pemerintah antara lain:
1. Meningkatkan devisa negara yang akan memperlancar arus barang
ekspor dan roda pemerintah.
2. Memperluas manfaat sumber daya nasional seperti sumber daya
alam, tenaga kerja dan industri.
3. Lebih mudah mendapatkan hutang luar negeri. (Amir, 1995: 48).
2.2.8.3. Cara Ekspor
Menurut (Amir, 1995 : 49) pelaksanaan ekspor luar negeri dapat
dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
1. Ekspor Biasa
Adalah dengan cara barang dikirim ke luar negeri sesuai dengan
peraturan umum yang berlaku yang ditujukan kepada pembeli di luar
negeri untuk memenuhi permintaan yang dibutuhkan importir luar
negeri setelah terjadi kesepakatan jual – beli sesuai peraturan devisa
dan eksportir menerima pembayaran dalam mata uang rupiah sesuai
kurs valas yang telah ditetapkan yang berpatokan pada Bank
2. Barter
Adalah suatu cara perdagangan dengan melihat kebutuhan dalam
negeri dan mengekspor barang ke luar negeri dengan sistem
pembayaran tidak dalam bentuk uang melainkan dalam bentuk
barang yang dijual di dalam negeri dan menghasilkan uang dalam
mata uang domestik.
3. Konsinyasi
Adalah dengan cara pengiriman barang ke luar negeri untuk dijual
dan hasil penjualannya diberlakukan sama dengan hasil biasa.
Sehingga dalam hal ini sistem pertukaran barang dengan yang
lainnya seperti dalam barter dan bukan untuk memenuhi suatu
transaksi yang sebelumnya sudah dilakukan seperti ekspor biasa.
Dalam hal pengiriman barang dengan sistem konsinyasi adalah
belum adanya pembeli tertentu atau dapat juga dengan sistem
pelelangan (Komoditas Exchange).
2.2.8.4. Strategi Ekspor
Strategi ekspor pada umumnya (Four Generic International
Strategic) adalah :
1. Dynamic High Technology Strategy (DHTS), yaitu strategi yang
dapat memberikan peluang kepada perusahaan untuk menjadi market
terus menerus dengan memberikan perhatian dan prioritas yang
tinggi dan melakukan Strategi partnership.
2. Low of Stable Technology Strategy (LSTS), yaitu strategi yang
memberikan peluang kepada perusahaan untuk menjadi market
leader karena kemampuan memelihara brand identity economic of
scale, manufacturing know how, standar produksi, dan penyediaan
suku cadang yang terdapat secara global.
3. Advanced Management Skill Strategy (AMSS), yaitu strategi yang
memberikan peluang kepada perusahaan menjadi market leader
karena kemampuan managemen yang tepat, khususnya dalam hal
pemasaran dan koordinasi.
4. Production Market Rationalization Strategy (PMRS), yaitu strategi
yang memberikan peluang kepada perusahaan untuk menjadi market
leader karena kemampuannya menekan biaya produksi melalui
pendekatan lokasi. (Halwani, 2005 : 347).
2.2.8.5. Hubungan Ekspor Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Ekspor merupakan motor penggerak pertumbuhan ekonomi
yang biasanya menganjurkan Negara untuk menjalankan strategi yang
bertumpu pada upaya promosi ekspor yang merupakan kebijaksanaan
suatu Negara untuk meningkatkan wilayah pasar ekspor. Ekspor adalah
kegiatan memasok pelanggan dari luar negeri dengan produk atau barang
maka Produk Domestik Bruto juga naik sehingga pertumbuhan ekonomi
Indonesia akan ikut naik.
2.2.6. Investasi
Kata investasi berasal dari bahasa Inggris, yaitu “Investment”,
apabila dalam bahasa Indonesia investasi adalah “penanaman modal”
investasi adalah suatu kegiatan yang sangat penting bagi kelangsungan
hidup suatu kegiatan usaha, karena ini sangat dibutuhkan sebagai faktor
penunjang di dalam memperlancar proses produksi.
Menurut pendapat Prof. Robinson yang dikutip oleh Suherman
Rosyidi dalam bukunya yang berjudul Pengantar Teori Ekonomi
mengatakan bahwa investasi itu penambahan barang-barang modal baru,
sedangkan membeli selembar kertas saham bukanlah investasi (Rosyidi,
1999: 158).
Investasi adalah pengeluaran yang ditunjukkan untuk
meningkatkan atau mmpertahankan stok barang modal. Stok barang
modal terdiri dari pabrik mesin dan produk-produk tahan lama yang
digunakan dalam proses produksi. (Dornbusch dan Fischer, 1999: 46).
Investasi diartikan sebagai pengeluaran atau pembelanjaan
penanaman modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal
dan perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan
memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam
penanaman modal yang dilakukan dalam suatu tahun tertentu, yang
digolongkan sebagai investor (atau pembentukan modal atau penanaman
modal), meliputi pengeluaran atau pembelanjaan sebagai berikut:
a. Pembelian berbagai jenis barang modal, yaitu mesin-mesin dan
peralatan produksi lainnya untuk mendirikan berbagai jenis industri
dan perusahaan.
b. Pembelanjaan untuk membangun rumah tempat tinggal, bangunan
kantor, bangunan pabrik, dan bangunan-bangunan lainnya.
c. Pertambahan nilai stok barang-barang yang belum terjual, bahan
mentah dan barang yang masih dalam proses produksi pada akhir
tahun perhitungan pendapatan nasional. (Sukirno, 2001: 107).
Dari berbagai penjelasan diatas tentang definisi investasi
tersebut maka dapat disimpulkan bahwa investasi adalah pengeluaran
yang disediakan untuk meningkatkan atau mempertahankan
barang-barang modal, selain itu bisa diartikan sebagai usaha membina industri
supaya dapat lebih maju dan merupakan hal yang sangat penting bagi
kelangsungan hidup usaha sebagai faktor penunjang di dalam
memperlancar proses produksi.
2.2.6.1. Teori Investasi
Masalah investai adalah suatu masalah yang langsung berkaitan
dengan besarnya pengharapan akan pendapatan dari barang modal
terpenting untuk penentu besarnya investasi menurut Suparmoko (2000 :
84) terdapat 2 teori, yaitu:
A. Teori Klasik
Teori klasik tentang investasi didasarkan atas teori
produktivitas batas (marginal produktivity) dari faktor produksi
modal. Menurut teori ini besarnya modal yang akan diinvestasikan
dalam proses produksi ditentukan oleh produktivitas batasnya
dibandingkan dengan tingkat bunga-bunganya. Sehingga investasi
ini akan terus dilakukan bilamana produktivitas batas dari investasi
itu masih lebih tinggi daripada tingkat bunga yang akan
diterimanya bila seandainya modal itu dipinjamkan dan tidak
diinvestasikan.
Dengan teori produktivitas batas, maka masalah investasi
oleh para-para ahli ekonomi klasik dipecahkan atas dasar prinsip
maksimalisasi laba dari perusahaan-perusahaan industri. Sebab
suatu perusahaan akan memaksimalisasi labanya dalam suatu
persaingan sempurna. Bila perusahaan itu menggunakan modalnya
sampai pada jumlah produksi marginal kapitalnya sama dengan
harga capital yaitu suku bunga, maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa:
1. Suatu investasi akan dijalankan apabila pendapatan dari
investasi lebih besar dari tingkat bunga. Pendapatan dari
setiap akhir tahun selama barang modal digunakan dalam
produksi.
2. Investasi dalam modal adalah menguntungkan bila biaya
ditambah bunga lebih kecil dari pendapatan yang diharapkan
dari investasi itu.
B. Teori Keynes
Masalah investasi baik penentu jumlah maupun
kesempatan untuk melakukan investasi oleh Keynes didasarkan
atas konsep Marginal Efficiency of Investment (MEI), yaitu bahwa
investasi itu akan dijalankan apabila MEI lebih tinggi daripada
tingkat suku bunga.
Menurut garis MEI ini antara lain disebabkan oleh 2 hal,
yaitu (Suparmoko, 2000: 84):
1. Bahwa semakin banyak investasi yang terlaksana dalam
masyarakat, maka semakin rendah efisiensi marginal
investasi itu, semakin banyak investasi yang terlaksana dalam
lapangan ekonomi maka semakin sengitlah persaingan para
investor sehingga MEI menurun.
2. Semakin banyak investasi dilakukan, maka biaya dari barang
Gambar 5 : Hubungan MEI dan Investasi
Sumber : Sukirno, 1995. Pengantar Teori Ekonomi Makro. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Halaman : 112.
Untuk memperjelas arti konsep efisiensi modal marginal dapat di
jelaskan berikut, sumbu tegak menunjukkan nilai investasi yang akan
dilakukan. Pada kurva marjinal efficiency of capital di tunjukkan dengan
tiga buah titik A,B,C titik A menggambarkan bahwa tingkat
pengembalian modal sebesar R0 dan investasi adalah Io. Ini berarti titik
A menggambarkan bahwa dalam perekonomian terdapat investasi yang
akan menghasilkan tingkat pengembalian modal sebanyak R0 atau lebih
tinggi,dan untuk mewujudkan investasi tersebut modal yang diperlukan
sebanyak 10. Titik B dan C juga memberikan gambaran yang sama. Titik
B menggambarkan wujudnya kesempatan untuk menginvestasikan
dengan pengambilan modal R1 atau lebih dan modal yang diperlukan
menghasilkan tingkat modal sebanyak atau lebih diperlukan modal
sebanyak I2.
2.2.6.2. Macam-Macam Investasi
Macam-macam investasi dibagi menjadi 4 kelompok, yang
pembagiannya sebagai berikut:
1. Autonomous Invesment dan Induced Investment
Autonomous Investment ( investasi otonomi ) adalah investasi yang
besar kecilnya tidak dipengaruhi oleh pendapatan, tetapi dapat
berubah oleh karena adanya perubahan faktor-faktor di luar
pendapatan. Faktor-faktor lain diluar selain pendapatan yang
mempengaruhi tingkat investasi seperti itu, misalnya tingkat
teknologi, kebijaksanaan pemerintah, harapan para pengusaha dan
sebagainya. Sedangkan Induced Investment atau investasi terimbas
adalah investasi yang dipengaruhi oleh tingkat pendapatan.
2. Public Investment dan Private Investment
Public Investment adalah Investasi atau penanaman modal yang
dilakukan oleh pemerintah (baik pusat maupun daerah). Public
investment tidak dilakukan oleh pihak-pihak yang bersifat personal,
investasi ini bersifat impersonal atau resmi. Sedangkan Private
Investment adalah investasi yang dilakukan oleh pihak swasta. Di
dalam private investment, unsur-unsur seperti keuntungan yang akan
peranan yang sangat penting dalam menentukan volume investasi.
Sementara dalam penentuan volume investasi, pertimbangan itu
lebih diarahkan kepada melayani atau menciptakan kesejahteraan
bagi rakyat banyak.
3. Domestik Investment dan Foreign Investment
Domestik investment adalah penanaman modal di dalam negeri,
sedangkan Foreign Investment adalah penanaman modal asing.
Sebuah negara yang memiliki banyak sekali faktor produksi alam
atau faktor produksi tenaga manusia namun tidak memiliki faktor
produksi modal (capital) yang cukup untuk mengelolah sumber-
sumber yang dimiliki, maka mengundang modal asing agar
sumber-sumber yang ada termanfaatkan.
4. Gross Investment dan Net Investment
Gross Investment (Investasi Bruto) adalah total seluruh investasi yang
diadakan atau yang dilaksanakan pada suatu ketika. Dengan demikian
investasi bruto dapat benilai positif ataupun nol (yaitu ada atau tidak
ada investasi sama sekali) tetapi tidak akan bernilai negatif.
Sedangkan Net Investment (Investasi Netto) adalah selisih antara
investasi bruto dengan penyusutan. Apabila misalnya investasi bruto
tahun ini adalah Rp. 25 juta sedangkan penyusutan yang terjadi
selama tahun yang lalu adalah sebesar Rp. 10 juta, maka itu berarti
bahwa investasi netto tahun ini adalah sebesar Rp. 15 juta. (Rosyidi,