2.1 Peran Teknologi Informasi Dalam Pembangunan Ekonomi
Sesuai dengan amanat konstitusi bahwa pembangunan nasional dilaksanakan secara terintegrasi dan berkesinambungan dalam mewujudkan tujuan nasional sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang - Undang Dasar 1945.
Pemerintah Daerah sebagai daerah otonom diberikan kewenangan yang luas dalam melaksanakan urusan pemerintahan. Sebagai konsekwensi dari kewenangan yang luas tersebut, pemerintah daerah berkewajiban untuk meningkatkan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat. Kewajiban tersebut dapat dipenuhi apabila pemerintah daerah mampu mengelola potensi daerahnya yaitu potensi sumber daya manusia, sumber daya alam dan potensi sumber daya keuangannya secara optimal.
Pengelolaan keuangan daerah sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan suatu daerah. Pengelolaan keuangan daerah yang dilakukan secara ekonomis, efisien dan efektif (konsep value for money), partisifatif, transparan, akuntabel dan berkeadilan akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang selanjutnya mampu mengurangi jumlah pengangguran serta menurunkan tingkat kemiskinan.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah mengamanatkan kepada setiap daerah untuk melaksanakan anggarannya secara tertib, efektif dan efisien, ekonomis, transparan, bertanggung jawab dan bermanfaat, harus didukung dengan sistem pengelolaan keuangan yang cepat, tepat waktu, dan akurat. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, sistem informasi merupakan salah satu kunci
11
strategis dalam mewujudkan tujuan organisasi. Kemajuan teknologi yang secara luas diterjemahkan sebagai cara baru untuk menyelesaikan pekerjaan telah dan akan terus menjadi faktor utama dalam merangsang pertumbuhan ekonomi di setiap lapisan masyarakat (Todaro & Smith, 2006).
Informasi keuangan memiliki peranan yang penting dalam penyelenggaraan pemerintahan dan perekonomian. Menurut Adam Smith, seorang ahli ekonomi, peranan pemerintah dalam perekonomian ada 3 yaitu : memelihara keamanan, menyelenggarakan peradilan dan menyediakan barang yang tidak bisa disediakan oleh swasta. Dengan semakin berkembangnya perekonomian dan kemajuan teknologi, peran pemerintah juga semakin kompleks. Dalam sistem perekonomian modern, pemerintah melaksanakan peran yaitu peranan alokasi, peranan distribusi dan peranan stabilisasi.
Sistem Informasi berbasis teknologi yang mampu menyajikan informasi keuangan yang relevan, akurat dan tepat waktu mampu mendukung pengambilan keputusan manajerial yang tepat, memiliki peran prediktif dan persepektif sehingga pengelolaan keuangan negara/daerah dapat semaksimal mungkin untuk mewujudkan tujuan dari pembangunan nasional yaitu mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
2.2 Efektifitas Sistem Informasi
Menurut Seddon, Graeser dan Willcocks (2002), efektivitas sistem informasi merupakan suatu pertimbangan nilai yang dibuat berdasarkan titik pandang stakeholder, mengenai net benefits yang diperoleh dalam menggunakan suatu sistem informasi. Efektivitas merupakan hubungan antara out put dengan tujuan, semakin
besar kontribusi out put terhadap pencapaian tujuan, maka semakin efektif organisasai, program atau kegiatan (Mahmudi, 2005).
Dalam Maharsi, 2000 disebutkan bahwa sebelum pihak manajemen organisasi mengimplementasikan teknologi informasi yang baru, mereka harus mempertimbangkan besarnya biaya yang diperlukan dan manfaat yang akan diperoleh (cost – benefit analysis). Teknologi informasi akan diterapkan apabila manfaat yang diperoleh dengan menggunakan teknologi informasi lebih besar dari pada biaya yang dikeluarkan untuk mengimplementasikan teknologi informasi.
Kajian efektivitas sistem informasi keuangan daerah perlu dilakukan untuk mengevaluasi seberapa jauh sistem informasi tersebut telah mencapai sasaran – sasarannya yaitu tersedianya informasi keuangan daerah yang akurat relevan, tepat waktu dan dapat dipertanggungjawabkan. Menurut Bodnar (2000), indikator efektivitas sistem informasi berbasis teknologi yaitu keamanan data, waktu, variasi laporan dan relevansi.
Berdasarkan hasil penelitian De Lone dan Mc Lean (2003), kesuksesan/efektivitas sistem informasi dapat dievaluasi dari dimensi :
1) Kualitas sistem (System quality),
mengukur karakteristik yang diinginkan dari sistem informasi yaitu dari kemudahan penggunaan, ketersediaan, keandalan dan kemampuan beradaptasi 2) Kualitas informasi (Information quality),
harus akurat, lengkap, relevan, mudah dimengerti dan tepat waktu 3) Kualitas pelayanan (Service quality),
dukungan menyeluruh yang disampaikan oleh penyedia layanan.
4) Intensitas penggunaan (Intention to use) dan penggunaan (use),
mengukur segala sesuatu dari kunjungan ke sebuah situs Web, untuk navigasi dalam situs, pencarian informasi dan pelaksanaan transaksi.
5) Kepuasan pengguna (User satisfaction),
mengukur pendapat pelanggan/pengguna secara menyeluruh terhadap kualitas sistem, informasi dan pelayanan terkait pengalamannya dengan sistem informasi.
6) Keuntungan/Manfaat bersih (Net benefit),.
merupakan ukuran keberhasilan yang paling penting karena merupakan dampak positif dan negatif dari sistem informasi terhadap individu, organisasi bahkan masyarakat.
2.3 Sistem Informasi Keuangan Daerah
Sesuai dengan ketentuan umum Peraturan Permerintah Nomor 56 tahun 2005 yang dimaksud SIKD adalah suatu sistem yang mendokumentasikan, mengadministrasikan, serta mengolah data pengelolaan keuangan daerah dan data terkait lainnya menjadi informasi yang disajikan kepada masyarakat dan sebagai bahan pengambilan keputusan dalam rangka perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan pertanggungjawaban pemerintah daerah.
Dari definisi tersebut terkandung karakteristik dari SIKD yaitu input (berupa data pengelolaan keuangan daerah dan data terkait lainnya), proses (mendokumentasikan, mengadministrasikan dan mengolah input), keluaran (informasi untuk disajikan kepada masyarakat) dan hasil (bahan pengambilan
keputusan dalam rangka perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan pertanggungjawaban pemerintah daerah).
SIKD mempunyai tujuan diantaranya untuk membantu Kepala Daerah dan instansi terkait lainnya dalam melakukan evaluasi kinerja keuangan daerah.
Penyelenggaraan SIKD juga untuk mendukung pemerintahan daerah dalam menyusun anggaran daerah, pelaksanaan anggaran dan pelaporan pengelolaan keuangan daerah yang akan digunakan oleh SKPD dan Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD), sehingga pengelolaan keuangan daerah dapat dilakukan secara ekonomis, efisien dan efektif.
2.4 Kualitas Sistem Informasi
Kualitas sistem ditinjau dari sudut pandang teknik, merupakan kualitas suatu produk atau pelayanan yang pada umumnya diukur berdasarkan kecocokan penggunaannya, dimana mampu diaplikasikan sesuai apa yang dipikirkan pemakai, (Dilworth, 1988). Definisi kualitas yang paling sederhana adalah kesesuaian dengan spesifikasi pelanggan. Jadi kualitas sistem bukanlah memenuhi sejumlah kriteria yang ditetapkan oleh penyedia layanan namun sebaliknya kualitas sistem adalah memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh pelanggan.
Dalam DeLone dan McLean (2003), disebutkan bahwa kualitas sistem diukur dalam hal kemudahan penggunaan, fungsionalitas, keandalan, fleksibilitas, kualitas data, portabilitas, integrasi, dan kepentingan. Kualitas sistem merupakan karakteristik dari informasi yang melekat mengenai sistem itu sendiri (DeLone dan McLean, 1992).
2.5 Kualitas Informasi
Dalam Wikipedia Org (2014), disebutkan bahwa Informasi adalah pesan (ucapan atau ekspresi) atau kumpulan pesan yang terdiri dari simbol, atau makna yang dapat ditafsirkan dari pesan atau kumpulan pesan. Informasi dapat direkam atau ditransmisikan. Informasi bisa dikatakan sebagai pengetahuan yang didapatkan dari pembelajaran, pengalaman, atau instruksi. Informasi memiliki banyak arti bergantung pada konteksnya, dan secara umum berhubungan erat dengan konsep.
Informasi yang berupa koleksi data dan fakta seringkali dinamakan informasi statistik. Dalam bidang ilmu komputer, informasi adalah data yang disimpan, diproses, atau ditransmisikan.
Menurut Jogiyanto (2006) dari segi kualitas (quality of information), informasi harus memenuhi syarat yaitu : Akurat (accurate) yaitu informasi harus bebas dari kesalahan – kesalahan dan tidak bias atau menyesatkan karena dari sumber informasi sampai ke penerima mungkin banyak gangguan yang dapat merubah informasi tersebut, Relevan (relevance) yaitu informasi tersebut mempunyai manfaat untuk pemakai. Informasi dikatakan bernilai bila manfaat lebih efektif dibanding dengan biaya mendapatkannya. Suatu informasi tidak dapat ditaksir keuntungannya dengan satuan nilai uang tetapi dapat ditaksir efektifitasnya serta tepat pada waktunya (timely basis) yaitu informasi yang diterima tidak boleh terlambat, karena informasi yang sudah usang tidak akan mempunyai nilai lagi dan informasi merupakan landasan dalam pengambilan keputusan.
Informasi memiliki nilai ekonomis jika informasi tersebut dapat mendukung keputusan alokasi sumberdaya. Karakteristik informasi yang tersedia dalam
organisasi akan efektif apabila mendukung kebijakan pengguna informasi untuk pengambilan keputusan dan pengendalian perilaku para manajer (Milgrom dan Roberts, 1992).
2.6 Kualitas Pelayanan / Jasa
Myers, et. all. (1997) menyatakan bahwa kualitas layanan seperti halnya dengan kualitas sistem dan kualitas informasi memiliki pengaruh terhadap kepuasan pengguna. Apabila pengguna sistem informasi merasakan bahwa kualitas layanan yang diberikan oleh penyedia paket program aplikasi akuntansi baik, maka ia akan cenderung untuk merasa puas menggunakan sistem tersebut.
Sebagai pihak yang membeli, mengkonsumsi dan menggunakan jasa, maka pelangganlah yang menilai tingkat kualitas jasa sebuah perusahaan maupun organisasi. Kualitas jasa pada dasarnya terpusat pada upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi harapan pelanggan. Kualitas jasa yang dirasakan oleh pelanggan akan menentukan persepsi pelanggan terhadap kinerja yang pada gilirannya akan berdampak pada kepuasan pelanggan.
Menurut Lovelock dan Wright (2007), kualitas jasa atau kualitas pelayanan adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan. Jika jasa yang diterima atau dirasakan sesuai dengan harapan, kualitas jasa tersebut akan dianggap baik dan memuaskan, jika jasa yang diterima melampaui harapan, kualitas jasa tersebut di pandang ideal.
Kualitas jasa dalam Rangkuti (2002), didefinisikan sebagai penyampaian jasa yang melebihi tingkat kepentingan pelanggan. Jenis kualitas yang digunakan untuk menilai kualitas jasa adalah kualitas tehnik yaitu kualitas hasil kerja (outcome) penyampaian jasa itu sendiri dan kualitas pelayanan yaitu kualitas cara (proses) penyampaian jasa tersebut.
Parasuraman, Zeithaml dan Berry (1998) membentuk model kualitas jasa yang menyoroti syarat – syarat utama untuk memberikan kualitas jasa yang diharapkan. Ada lima kesenjangan yang mengakibatkan kegagalan penyampaian pesan jasa, antara lain :
1) Kesenjangan antara harapan konsumen dengan persepsi manajemen dan spesifikasi mutu jasa.
2) Kesenjangan antara persepsi manajemen dan spesifikasi mutu jasa 3) Kesenjangan antara spesifikasi kualitas jasa dan penyampaian jasa 4) Kesenjangan antara penyampaian jasa dengan komunikasi eksternal 5) Kesenjangan antara jasa yang dialami dan jasa yang diharapkan.
Ada lima dimensi penentu mutu jasa / pelayanan (Kotler, 2005) : 1) Tangibles (bukti fisik) yaitu perlengkapan, fasilitas danpenampilan karyawan, 2) Empathy (kepedulian) yaitu kesediaan memberikan perhatian yang mendalam dan khusus kepada masing – masing pelanggan, 3) Responsiveness (ketanggapan) yaitu kesediaan membantu pelanggan dan memberikan jasa dengan cepat, 4) Reliability (keandalan) yaitu kemampuan melaksanakan layanan yang disajikan secara meyakinkan dan akurat serta 5) Assurance (jaminan Kepastian) yaitu pengetahuan
dan kesopanan karyawan dan kemampuan mereka menyampaikan kepercayaan dan keyakinan
Menurur Gasperz (1997) untuk memperbaiki kualitas jasa ada beberapa dimensi atau atribut yang harus diperhatikan yaitu : Ketepatan waktu pelayanan, Akurasi pelayanan, Tanggung jawab, Kelengkapan, Kemudahan mendapatkan pelayanan, Variasi model pelayanan, Pelayanan pribadi, Kenyamanan dalam memperoleh pelayanan.
2.7 Kepuasan Pengguna
Kepuasan pengguna sistem informasi sangat penting untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi dan efektivitas pembuatan laporan organisasi. Menurut Kotler (2005) kepuasan adalah tingkat perasaan sesorang setelah membandingkan kinerja produk (hasil) yang dirasakan dengan harapannya. Sementara itu menurut Parasuraman, Zeithml dan Berry (1998) bahwa tingkat kepuasan pelanggan terhadap satu produk merupakan hasil dari perbandingan yang dilakukan oleh pelanggan atas tingkat manfaat yang dipersepsikannya, yang telah diterima pelanggan setelah mengkonsumsi atau menggunakan produk dan tingkat manfaat yang diharapkan sebelum pembelian.
Rangkuti (2002) menyebutkan bahwa kepuasan pelanggan merupakan respon masyarakat terhadap ketidaksesuaian antara tingkat kepentingan sebelumnya dengan kinerja aktual yang dirasakan pelanggan setelah pemakaian. Pengukuran kepuasan pelanggan penting dilakukan untuk beberapa tujuan, yaitu :
1) Mempelajari persepsi masing-masing pelanggan terhadap mutu pelayanan yang dicari, diminati dan diterima atau tidak di terima pelanggan yang akhirnya pelanggan merasa puas dan terus melakukan kerja sama.
2) Mengetahui kebutuhan, keinginan, persyaratan, dan harapan pelanggan pada saat sekarang dan masa yang akan datang yang disediakan perusahaan yang sesungguhnya dengan harapan pelanggan atas pelayanan yang diterima.
3) Meningkatkan mutu pelayanan sesuai dengan harapan-harapan pelanggan.
4) Menyusun rencana kerja dan menyempurnakan kualitas pelayanan dimasa yang akan datang.
Kepuasan pengguna akhir sistem informasi dapat dijadikan sebagai salah satu ukuran keberhasilan suatu sistem informasi (Doll dan Torkzadeh, 1988).
Kepuasan pengguna akan meningkatkan produktivitas, efisiensi dan efektivitas dalam menggunakan sistem informasi yang pada akhirnya akan berpengaruh positif terhadap dampak individu dan dampak organisasi (Net benefits) (De Lone dan Mc.
Lean, 2003).
2.8 Motivasi Manajemen
Motivasi berasal dari kata movere yang berarti dorongan atau menggerakkan. Motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai tujuan. (Handoko, 2003). Dalam organisasi, motivasi diperlukan untuk mengarahkan daya dan potensi bawahan agar mau bekerja sama secara produktif berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan. Faktor – faktor
yang mempengaruhi motivasi dalam organisasi antara lain adalah budaya organisasi, kepemimpinan dan iklim organisasi.
Menurut Maslow (2006), manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan- kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Adapun hirarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut :
1) Kebutuhan fisiologis atau dasar 2) Kebutuhan akan rasa aman
3) Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi 4) Kebutuhan untuk dihargai
5) Kebutuhan untuk aktualisasi diri
Mengacu pada teori Kebutuhan Maslow, motivasi adalah kondisi dinamis kebutuhan pegawai dalam bekerja dan melaksanakan tugas yang terungkap dari kebutuhan fisiologis, kebutuhan keamanan, kebutuhan berkelompok/kerjasama, kebutuhan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri.
2.9 Keuntungan/Manfaat Sistem Informasi bagi Organisasi
Model Kesuksesan Sistem Informasi DeLone dan McLean (2003) menggabungkan variabel Individual impact (dampak individu) dan Organizational impact (dampak organisasi) menjadi Net benefits (keuntungan) sistem informasi yang merupakan ukuran keberhasilan yang paling penting karena merupakan dampak positif dan negatif dari sistem informasi terhadap individu, organisasi bahkan masyarakat.
Dalam Wikipedia Org (2014) disebutkan bahwa manfaat Sistem Informasi Akutansi bagi organisasi adalah :
1) Menyediakan informasi yang akurat dan tepat waktu sehingga dapat melakukan aktivitas utama pada value chain secara efektif dan efisien.
2) Meningkatkan kualitas dan mengurangi biaya produk dan jasa yang dihasilkan
3) Meningkatkan efisiensi
4) Meningkatkan kemampuan dalam pengambilan keputusan
5) Meningkatkan sharing knowledge
6) Menambah efisiensi kerja pada bagian keuangan
Manfaat yang diperoleh dengan menggunakan sistem informasi selain hal yang telah disebutkan di atas antara lain :
1) Mengurangi pekerjaan klerikel dan repetitif (berulang–ulang)
2) Memudahkan Biro Keuangan/Bagian Keuangan menyelesaikan tugas penyusunan, pelaksanaan, perubahan dan perhitungan APBN/APBD.
3) Dapat menyajikan informasi keuangan secara up to date dan Online.
4) Dapat menyajikan informasi manajerial pada tingkat Kepala Biro/Kepala Bagian dan pejabat di tingkat yang lebih tinggi.
5) Dapat menyimpan database keuangan daerah dalam beberapa periode secara aktif.
6) Dapat dioperasikan dalam jaringan kerja (Networking) sehingga akan mengurangi duplikasi pekerjaan dan informasi yang dihasilkan akan menjadi lebih akurat, cepat, tepat dan berhasil guna.
2.10 Hasil Penelitian Sebelumnya
Menurut DeLone dan McLean (1992), kualitas Sistem informasi yang melekat mengenai sistem itu sendiri. Kualitas sistem juga disefinisikan sebagai persepsi kemudahan dalam penggunaan (perceived ease of use) yang merupakan seberapa besar teknologi komputer dirasakan relatif mudah untuk dipahami dan digunakan.
Hasil penelitian Seddon didukung oleh penelitian Li (1997) dan Rai, et all (2002) yaitu jika pengguna software akutansi yakin dengan kualitas sistem yang digunakannya dan merasakan bahwa cara penggunaan sistem tersebut tidak sulit maka pengguna akan percaya bahwa penggunaan sistem tersebut akan memberikan manfaat yang lebih besar dan akan meningkatkan kinerja mereka.
Penelitian Livari (2005) menunjukkan bahwa kualitas sistem informasi berpengaruh positif terhadap kepuasan pemakainya. Semakin tinggi kualitas informasi yang dihasilkan suatu sistem informasi akan semakin meningktkan kepuasan penggunanya (DeLone dan McLean, 1992).
Menurut Leavitt (1965) penerapan sistem informasi baru, akan menjadi rangsangan dan tantangan bagi individu dalam oraganisasi untuk bekerja secara lebih baik yang pada gilirannya berdampak pada kinerja organisasi. Dalam Edvinsson dan Malone (1997) disebutkan bahwa peneliti dibidang keperilakuan menyatakan bahwa penerapan sistem informasi dapat mengubah hirarki pengambilan keputusan dan menurunkan biaya untuk distribusi informasi.
Model dasar kesuksesan sistem informasi DeLone dan McLean (1992) menyimpulkan bahwa kualitas sistem dan kualitas informasi baik secara parsial
maupun simulatan berpengaruh terhadap penggunaan dan kepuasan pengguna.
Intensitas penggunaan dapat mempunyai pengaruh positif maupun negatif terhadap kepuasan pengguna, demikian pula sebaliknya. Penggunaan dan kepuasan pengguna berpengaruh terhadap dampak individu yang akhirnya berpengaruh terhadap dampak organisasi.
Pada penelitian DeLone dan McLean (2003) dilakukan pembaharuan terhadap Model Kesuksesan Sistem Informasi (D & M IS Success Model) yaitu penambahan variable Kualitas Pelayanan (Service Quality) sebagai variabel yang mempengaruhi Intensitas Penggunaan, Penggunaan dan Kepuasan Pengguna, serta variable Dampak Individu dan Dampak Organisasi diperbaharui menjadi Keuntungan Bersih (Net Benefits) sebagai variabel akhir model kesuksesan Sistem Informasi yang diperbaharui (Update D & M IS Succes Model).
Istianingsih (2007), Istianingsih dan Wijanto (2008) telah melakukan penelitian terkait kesuksesan Sistem informasi dengan menggunakan variabel kualitas pelayanan, kualitas sistem, kualitas informasi, kepuasan pengguna dan kinerja individu. Hasil penelitian tersebut memberikan bukti bahwa kualitas pelayanan, kualitas sistem, kualitas informasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan pengguna, serta kepuasan pengguna sistem informasi berpengaruh positif terhadap kinerja individu.
Hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Irfianto dan Utami (2013), terkait Efektivitas SIKD di Kabupaten Gersik dengan menggunakan variabel efektivitas sistem yaitu : keamanan data, waktu, ketelitian, variasi laporan dan relevansi menunjukan bahwa Efektifitas SIKD di Kabupaten Gersik adalah Cukup Efektif.
Penelitian serupa juga telah dilakukan oleh Parnami dan Damayanthi (2014) pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali dengan hasil yang menunjukan bahwa SIKD yang digunakan adalah Efektif.
2.11 Keaslian Penelitian
Penelitian ini mengadopsi model kesuksesan sistem informasi DeLone &
McLean (2003). Pada model yang telah diperbaharui (Update D&M SI Success Model), DeLone & McLean menyertakan variabel-variabel system quality, information quality, service quality, intention to use, use, user satisfaction dan net benefits yang digambarkan dalam model sebagai berikut :
Gambar 2.1
Update D&M IS Success Model
Dalam penelitian ini, variabel intention to use dan use tidak digunakan dalam model, karena sistem informasi yang diterapkan pada obyek penelitian bersifat mandatory (wajib). Model penelitian ditambahkan variabel Motivasi Manajemen sebagai variabel eksogen terhadap variabel Kepuasan Pengguna dan Keuntungan/Manfaat Sistem Informasi bagi Organisasi.
Information Quality
System Quality
Service Quality
User Satisfaction Intention
to Use
Use
Net Benefits