• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang jumlah penduduknya mayoritas beragama Islam, sehingga berpotensi menjadi pusat pengembangan keuangan syariah di dunia, terutama pada pasar modal syariah (Wulan, 2020). Pasar modal memiliki peran yang sangat penting bagi perekonomian suatu negara, yaitu sebagai sarana pendanaan usaha bagi perusahaan dan sarana investasi bagi masyarakat (pemodal) (As Shadiqqy, 2020).

Pasar modal syariah di Indonesia dimulai dengan diterbitkannya reksa dana syariah oleh PT. Danareksa Investment Management pada 3 Juli 1997.

Bursa Efek Indonesia bekerjasama dengan PT. Danareksa Investment Management meluncurkan Jakarta Islamic Index pada tanggal 3 Juli 2000.

Jakarta Islamic Index atau biasa disebut JII adalah salah satu indeks saham yang ada di Indonesia yang menghitung harga rata-rata saham untuk jenis saham yang memenuhi kriteria syariah yang tercantum dalam Dewan Pengawas Syariah dan peraturan Bapepam dan LK no IXA.A.13 (As Shadiqqy, 2020). Usaha yang dilakukan untuk pengembangan JII didukung dengan ditetapkannya Fatwa DSN-MUI yang berkaitan dengan industri pasar modal syariah yaitu Fatwa No.05 tahun 2000 tentang Jual Beli Saham serta diperkuat lagi pada tahun 2003 dengan dikeluarkannya Fatwa No.40 tahun 2003 tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal.

Pembentukan JII bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan investor dalam melakukan investasi pada saham berbasis syariah dan memberikan manfaat bagi pemodal dalam menjalankan syariah Islam untuk melakukan investasi di bursa efek (Ash-shidiq & Setiawan, 2015). Tujuan setiap investor yang melakukan investasi saham yaitu mencari keuntungan dari investasi yang dilakukan tersebut. Keuntungan dari investasi saham salah satunya yaitu mendapatkan capital gain yang berasal dari selisih harga pada saat membeli saham dengan harga saat menjual saham, dimana harga saham saat dibeli lebih rendah dibandingkan saat dijual (Sutapa, 2018). Harga saham adalah harga

(2)

yang terjadi di pasar saham, harga saham sangat berarti bagi perusahaan karena harga yang menentukan besarnya nilai dari perusahaan. Salah satu indikator keberhasilan dalam pengelolaan perusahaan ditentukan oleh harga saham.

Semakin tinggi harga saham pada pasar atau suatu perusahaan tertentu, berarti perusahaan tersebut dapat mengelola aktiva secara baik (Gunardi, 2010).

Saham yang menjadi konstituen JII terdiri dari 30 saham syariah yang kapitalisasi pasarnya besar dan termasuk saham syariah paling likuid.

Kapitalisasi pasar merupakan indikator yang menggambarkan perkembangan saham. Naik dan turunnya kapitalisasi pasar ini ditentukan oleh harga saham, kenaikan kapitalisasi pasar terjadi jika harga saham mengalami kenaikan (Hidayat et al., 2019). Berikut ini grafik yang menunjukkan perkembangan kapitalisasi pasar di Jakarta Islamic Index (JII) pada tahun 2009-2020 :

Grafik 1.1 Kapitalisasi Pasar JII 2009-2020

Sumber : OJK, 2021, diolah

Berdasarkan Grafik 1.1 kapitalisasi pasar di Jakarta Islamic Index (JII) mengalami fluktuasi. Pada tahun 2009 kapitalisasi pasar di JII sebesar Rp. 937 trilliun dan terus mengalami kenaikan hingga tahun 2014 sebesar Rp. 1.944 triliun. Pada tahun 2015 mengalami penurunan menjadi Rp. 1.737 triliun kemudian pada tahun 2016 dan tahun 2017 meningkat menjadi sebesar Rp.

2.288 triliun. Namun pada tahun 2018 mengalami penurunan menjadi Rp.

2.318 triliun dan pada tahun 2019 kapitalisasi pasar kembali meningkat sebesar Rp. 2.318 triliun. Pada tahun 2020 kapitalisasi pasar mengalami penurunan

0 500000 1000000 1500000 2000000 2500000

200920102011201220132014201520162017201820192020

Rp Trilliun

Jakarta Islamic Index

(3)

menjadi Rp. 2.058 triliun. Grafik perkembangan kapitalisasi pasar menunjukkan bahwa terjadi peningkatan dan penurunan saham perusahaan di JII. Faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan saham JII dapat berasal dari berbagai faktor, baik faktor eksternal yang berasal dari kondisi perekonomian Indonesia atau faktor internal dari perusahaan.

Indeks harga saham merupakan indikator yang menunjukkan pergerakan harga saham. Indeks harga saham merupakan trend pasar yang menggambarkan kondisi pasar yang sedang aktif atau lesu (Hidayat et al., 2018). Dengan demikian Indeks Harga Saham menggambarkan kinerja saham baik individual maupun kumulatif (kinerja pasar), sehingga dapat diketahui perilaku investor dan saluran dana secara makro melalui mekanisme Pasar Modal (Silalahi & Putra Hrp, 2020).

Grafik 1.2 Indeks Harga Saham JII dan LQ45 2009-2020

Sumber : OJK, 2021, diolah

Berdasarkan Grafik 1.2 menunjukkan perbandingan pertumbuhan Indeks Harga Saham LQ45 dengan Indeks Harga Saham JII pada tahun 2009-2020.

Pada tahun 2009 indeks saham syariah sebesar 417,18 dan mengalami kenaikan hingga tahun 2011 sebesar 537,03. Akan tetapi pada tahun 2012 Indeks Saham Syariah mengalami penurunan menjadi 372, 29. Indeks Saham Syariah kembali mengalami kenaikan pada tahun 2013 dan tahun 2014 menjadi sebesar 691,04, namun pada tahun 2015 kembali menurun menjadi 603,35. Kemudian pada tahun 2016 sampai tahun 2017 mengalami peningkatan menjadi 759,07. Dan pada tahun 2018 Indeks Saham Syariah kembali menurun menjadi 685,22, meskipun pada tahun 2019 Indeks Saham Syariah meningkat. Kemudian pada

(4)

tahun 2020 kembali menurun menjadi 630,42. Fluktuasi Indeks Saham Syariah yang terjadi pada setiap tahun ini disebabkan karena Indeks Harga Saham bergerak mengikuti perkembangan pasarnya (Febrianti, 2018). Pada Grafik 1.2 menunjukkan kinerja indeks LQ45 lebih bagus dibandingkan indeks JII. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan Indeks Saham Syariah di Bursa Efek Indonesia perlu diberikan perhatian khusus agar bisa lebih berkembang.

Karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam dan menginginkan adanya syariah Islam dalam segala tindakannya. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah investor saham di Indonesia (Febrianti, 2018).

Fluktuasi harga saham suatu perusahaan dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Baik faktor yang berasal dari eksternal maupun internal perusahaan. Faktor eksternal biasanya berasal dari kondisi makro ekonomi suatu negara sedangkan faktor internal berasal dari kinerja perusahaan itu sendiri (Sukmawati et al., 2020). Adapun variabel makro ekonomi dan moneter yang mampu mempengaruhi perkembangan indeks harga saham yaitu nilai inflasi, BI Rate, kurs rupiah, dan Jumlah Uang Beredar (JUB). Faktor pertama yang berpengaruh signifikan terhadap pergerakan harga saham JII adalah inflasi.

Turunnya nilai investasi pada JII yang disebabkan karena inflasi, maka perlu dilakukan peningkatan suku bunga acuan (BI Rate) untuk mengurangi jumlah uang yang beredar pada masyarakat yang dilakukan oleh lembaga pelaksana otoritas moneter yaitu Bank Indonesia. Karena kondisi perekonomian yang mengalami penurunan akibat tingkat inflasi yang tinggi, tentunya akan sulit untuk mengharapkan keinginan yang kuat di pasar modal. Hal tesebut membuat para investor mengalihkan dana yang sudah diinvestasikannya dari bentuk saham ke dalam bentuk investasi lainnya.

Menurut Sukmayadi & Oktaviani (2019) inflasi dapat berpengaruh secara negatif maupun positif terhadap pergerakan harga saham tergantung pada tinggi rendahnya tingkat inflasi tersebut. Tingginya tingkat inflasi dapat menyebabkan turunnya harga saham perusahaan, sementara rendahnya tingkat inflasi dapat menjadi sebab pertumbuhan ekonomi menjadi sangat lamban.

Berikut ini merupakan grafik tingkat inflasi pada tahun 2009-2020:

(5)

Grafik 1.3 Tingkat Inflasi pada Tahun 2009-2020

Sumber : Bank Indonesia, 2021, diolah

Berdasarkan Grafik 1.3 tingkat inflasi tahun 2009 sebesar 2,78% dan mengalami peningkatan di tahun 2010 menjadi 6,96%. Pada tahun 2011 tingkat inflasi mengalami penurunan menjadi 3,79%. Namun pada tahun 2012 sampai 2014 tingkat inflasi menunjukkan kenaikan. Pada tahun 2015 sampai tahun 2016 tingkat inflasi turun menjadi 3,02%, akan tetapi di tahun 2017 kembali meningkat menjadi 3,61%. Kemudian pada tahun 2018 tingkat inflasi kembali mengalami penurunan sampai pada tahun 2020 menjadi sebesar 1,68%. Grafik ini menggambarkan bahwa tingkat inflasi mengalami fluktuasi di setiap tahunnya dan dapat mempengaruhi harga saham.

Faktor kedua yang mempengaruhi harga saham adalah suku bunga atau yang biasa disebut BI Rate. BI Rate adalah suatu kebijakan yang mencerminkan sikap atau stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan diumumkan kepada publik. Tingginya BI Rate merupakan peluang investasi yang menjanjikan bagi investor karena pendapatan yang didapatkan lebih besar. Tingginya BI Rate dapat mengakibatkan tekanan pada pasar modal karena masyarakat lebih memilih untuk menabung (saving) di bank daripada dananya diinvestasikan di pasar modal.Pada umumnya, BI Rate dengan harga saham mempunyai hubungan yang negatif (Wardita et al., 2021). Rendahnya BI Rate akan merangsang aktivitas ekonomi dan investasi. BI Rate yang rendah akan mempengaruhi naiknya harga saham dan hal ini juga berpengaruh pada peningkatan Indeks Harga Saham. Berikut ini merupakan grafik tingkat BI Rate

2,78%

6,96%

3,79%4,30%

8,38%8,36%

3,35%3,02%3,61%

3,13%

2,72%

1,68%

0,00%

1,00%

2,00%

3,00%

4,00%

5,00%

6,00%

7,00%

8,00%

9,00%

2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Persen

Tingkat Inflasi

(6)

pada tahun 2009-2020:

Grafik 1.4 Tingkat BI Rate pada Tahun 2009-2020

Sumber : BPS, 2021, diolah

Berdasarkan Grafik 1.4 pada tahun 2009 dan 2010 BI Rate sebesar 6,5%

dan pada tahun 2011 sampai tahun 2012 mengalami penurunan menjadi 5,75%.

Kemudian pada tahun 2013 sampai tahun 2014 BI Rate mengalami peningkatan menjadi 7,75%. Akan tetapi, pada tahun 2015 sampai pada tahun 2017 BI Rate mengalami penurunan menjadi 4,25%. Selanjutnya, pada tahun 2018 BI Rate kembali meningkat menjadi 6%. Pada tahun 2019 sampai tahun 2020 BI Rate kembali mengalami penurunan menjadi 3,75%. Grafik ini menggambarkan BI Rate mempengaruhi indeks saham pada saat BI Rate rendah. Karena pada saat BI Rate mengalami penurunan, indeks saham di JII mengalami peningkatan.

Faktor ketiga yang mempengaruhi harga saham JII adalah nilai tukar mata uang rupiah atau kurs terhadap dolar Amerika Serikat. Salah satu faktor yang mempengaruhi pergerakan indeks saham di pasar modal Indonesia yaitu nilai kurs rupiah terhadap dollar AS. Pergerakan nilai kurs yang stabil menjadi sangat penting, terutama pada perusahaan yang aktif dalam kegiatan ekspor impor yang tidak terlepas dari penggunaan mata uang asing yaitu dollar Amerika Serikat sebagai alat transaksi atau mata uang dalam perdagangan.

Kinerja perusahaan di pasar modal dapat dipengaruhi oleh fluktuasi nilai kurs yang tidak terkendali (Witjaksono, 2010). Kondisi perekonomian yang baik dan stabil dapat menarik investor untuk menanamkan dananya di pasar modal.

Dengan cara ini pada akhirnya akan meningkatkan transaksi perdagangan di

6,50%6,50%

6% 5,75%

7,50%7,75%7,50%

4,75%

4,25%

6%

5%

3,75%

0,00%

1,00%

2,00%

3,00%

4,00%

5,00%

6,00%

7,00%

8,00%

9,00%

200920102011201220132014201520162017201820192020

Persen

BI Rate

(7)

pasar modal. Sebaliknya, jika keadaan ekonomi sedang mengalami penurunan, dan tingginya inflasi serta ketidakstabilan indikator makro ekonomi lainnya memperparah keadaan tersebut, tentunya sulit untuk meningkatkan perkembangan pasar modal (Mirza & Nasir, 2011). Ketidakstabilan variabel makro akan menyebabkan investor memindahkan dana yang ada di sahamnya ke bentuk investasi lain. Akibatnya, kinerja perseroan mengalami penurunan yang berdampak pada harga pasar saham. Berikut ini merupakan grafik kurs rupiah pada tahun 2009-2020:

Grafik 1.5 Kurs pada Tahun 2009-2020

Sumber : Bank Indonesia, 2021, diolah

Berdasarkan Grafik 1.5 pada tahun 2009 kurs rupiah sebesar Rp. 9.447 dan pada tahun 2010 turun menjadi Rp. 9.036. Pada tahun 2011 sampai tahun 2015 kembali mengalami kenaikan menjadi Rp. 13.975. Akan tetapi pada tahun 2016 kurs rupiah turun menjadi Rp. 13.436. Pada tahun 2017 sampai tahun 2018 kembali naik sebesar Rp. 14.481. Pada tahun 2019 kurs rupiah kembali mengalami penurunan sebesar Rp. 13.901. Pada tahun 2020 mengalami kenaikan menjadi Rp. 14.105. Kurs rupiah mengalami fluktuasi pada setiap tahunnya, akan tetapi kurs rupiah cenderung stabil, karena nominal peningkatan dan penurunan pada kurs rupiah tidak terlalu besar. Kestabilan kurs rupiah terhadap Dollar As akan mempengaruhi naik turunnya harga saham. Penurunan kurs rupiah terhadap dollar menunjukan prospek perekonomian Indonesia kurang baik, sehingga para investor menjual sahamnya dan akan menurunkan indeks harga saham JII.

Faktor keempat yang berpengaruh pada harga saham JII yaitu Jumlah Uang Beredar (JUB). Jumlah uang beredar (money supply) adalah semua jenis

9.4479.0369.0689.670

12.18912.44013.79513.43613.54814.48113.90114.105

0 2.000 4.000 6.000 8.000 10.000 12.000 14.000 16.000

Rupiah

Nilai Tukar Rupiah

(8)

uang yang ada dalam perekonomian (Sukmayadi & Oktaviani, 2019). Jumlah uang beredar memiliki dua pengertian, yaitu uang beredar dalam arti sempit (narrow money) dan uang beredar dalam arti luas (broad money). Jumlah uang beredar dalam arti sempit didefinisikan sebagai kewajiban sistem moneter terhadap sistem swasta domestik yang terdiri dari uang kartal dan uang giral.

Sedangkan jumlah uang beredar dalam arti luas didefinisikan sebagai kewajiban moneter terhadap sektor swasta domestik yang terdiri dari uang kartal (C), uang giral (D), dan uang kuasi (T) (Natsir, 2014).

Pertumbuhan jumlah uang beredar akan memberi pengaruh positif terhadap ekonomi dan pasar saham secara jangka pendek. Namun, pertumbuhan jumlah uang beredar yang meningkat secara drastis akan memicu inflasi yang memberikan pengaruh negatif di pasar saham. Meningkatnya jumlah uang beredar juga dapat meningkatkan sumber pembiayaan perusahaan.

Perusahaan dapat meningkatkan kegiatan produksinya dan meningkatkan kinerja perusahaan untuk menambah pendapatan, hal ini menjadi daya tarik para investor untuk menanamkan modalnya, sehingga akan berdampak positif pada harga saham (Hakim, 2020). Berikut ini merupakan grafik JUB pada tahun 2009-2020:

Grafik 1.6 Tingkat JUB pada Tahun 2009-2020

Sumber : BPS, 2021, diolah

Berdasarkan Grafik 1.6 jumlah uang beredar di Indonesia terus mengalami kenaikan di setiap tahunnya. Pada tahun 2009 uang yang beredar di masyarakat sebesar Rp. 2.141.384 miliar. Jumlah uang yang beredar ini terus-menerus

21413842471205,792877219,573304644,623730197,024173326,54548800,275004967,795419165,055760046,26136552 6900049,49

0 1000000 2000000 3000000 4000000 5000000 6000000 7000000 8000000

2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Miliar Rupiah

Jumlah Uang Beredar

(9)

mengalami peningkatan hingga tahun 2020 yaitu sebesar Rp. 6.900.049,49 miliar rupiah. Menurut Perlambang (2017) apabila jumlah uang yang beredar di masyarakat tinggi, maka inflasi bisa terjadi. Hal ini dikarenakan saat jumlah uang di masyarakat meningkat, harga barang akan ikut mengalami kenaikan.

Karena kenaikan daya beli masyarakat sedangkan stok barang statis, maka harga barang akan ikut naik.Usaha untuk menekan harga ini dapat dilakukan dengan menekan laju kenaikan jumlah uang beredar misalnya dengan pembatasan pemberian kredit atau dengan menaikkan suku bunga pinjaman (tight money policy).

Fluktuasi yang terjadi pada pergerakan Indeks Harga Saham JII dan adanya faktor yang memberi pengaruh pada tiap periodenya, maka variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah variabel makro ekonomi yaitu inflasi, BI Rate, kurs, dan JUB. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah indeks harga saham JII, karena saham yang ada dalam perhitungan JII menunjukkan pergerakan saham yang aktif dalam perdagangan berpengaruh pada keadaan pasar. Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti akan mengkaji lebih dalam mengenai penelitian dengan judul “Pengaruh Inflasi, BI Rate, Kurs, dan JUB Terhadap Jakarta Islamic Index (JII) Periode

(2009-2020)”.

1.2 Rumusan Masalah

a. Apakah Inflasi berpengaruh terhadap Harga Saham di Jakarta Islamic Index (JII) Periode (2009-2020)?

b. Apakah BI Rate berpengaruh terhadap Harga Saham di Jakarta Islamic Index (JII) Periode (2009-2020)?

c. Apakah Kurs berpengaruh terhadap Harga Saham di Jakarta Islamic Index (JII) Periode (2009-2020)?

d. Apakah JUB berpengaruh terhadap Harga Saham di Jakarta Islamic Index (JII) Periode (2009-2020)?

e. Apakah Inflasi, BI Rate, Kurs, dan JUB berpengaruh terhadap Harga Saham di Jakarta Islamic Index (JII) Periode (2009-2020)?

(10)

1.3 Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui pengaruh dari Inflasi terhadap Harga Saham di Jakarta Islamic Index (JII) Periode (2009-2020).

b. Untuk mengetahui pengaruh dari BI Rate terhadap Harga Saham di Jakarta Islamic Index (JII) Periode (2009-2020).

c. Untuk mengetahui pengaruh dari Kurs terhadap Harga Saham di Jakarta Islamic Index (JII) Periode (2009-2020).

d. Untuk mengetahui pengaruh dari JUB terhadap Harga Saham di Jakarta Islamic Index (JII) Periode (2009-2020).

e. Untuk mengetahui pengaruh dari Inflasi, BI Rate, Kurs, dan JUB terhadap Harga Saham di Jakarta Islamic Index (JII) Periode (2009-2020).

1.4 Manfaat Penelitian

a. Manfaat Secara Praktis

Diharapkan hasil dari penelitian ini dapat menjadi salah satu sumber informasi dan bahan pertimbangan investor maupun praktisi pasar modal yang akan melakukan investasi saham dalam pasar modal.

b. Manfaat Secara Teoritis

Untuk memberikan tambahan informasi dan wawasan ilmu pengetahuan bagi pembaca ataupun investor mengenai pengaruh berbagai variabel makro ekonomi terhadap Indeks Harga Saham Jakarta Islamic Index di Bursa Efek Indonesia.

1.5 Sistematika Penulisan

Penelitian ini disusun dengan sistematika penelitian sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini peneliti menjelaskan mengenai latar belakang yang menjadi dasar pemikiran dalam menyusun laporan tugas akhir dengan menjelaskan pengaruh antara variabel bebas dengan variabel terikat. Pada bab ini juga menjelaskan mengenai rumusan masalah penelitian, manfaat penelitian, serta tujuan penelitian.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Pada bab ini peneliti menguraikan penelitian terdahulu, kajian teori, kerangka pemikiran, dan hipotesis. Kajian pustaka berisi tentang pengkajian

(11)

dari hasil penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan topik penelitian guna memperjelas bahwa penelitian tersebut penting untuk dilakukan dan telah dilakukan di waktu yang lalu. Dalam landasan teori memuat mengenai teori oleh para ahli yang berkaitan dengan topik penelitian untuk mendukung bagaimana keterkaitan antar variabel yang ada pada topik penelitian.

BAB III METODE PENELITIAN

Pada bab ini peneliti menjelaskan tentang jenis data yang digunakan serta cara pengumpulan data dalam penelitian. Pemaparan mengenai jenis data dan cara pengumpulan data dalam penelitian harus jelas. Jenis data berupa data primer atau sekunder juga sangat penting untuk memperjelas penjelasan penelitian. Bab ini juga memuat mengenai definisi operasional variabel untuk menjelaskan tujuan dari penelitian. Terakhir yaitu metode penelitian yang digunakan harus dipaparkan dengan jelas.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini peneliti menjelaskan mengenai hasil dari penelitian. Hasil penelitian dapat berupa angka yang informatif yang dihasilkan dari pengolahan data yang telah dilakukan. Bab ini harus dijelaskan secara detail tentang hasil pengolahan data yang telah dilakukan, karena merupakan bab yang sangat penting pada sebuah penelitian. Pada bab pembahasan mengarah pada tujuan penelitian, menjawab tujuan awal penelitian secara jelas, menemukan jawaban dari rumusan masalah yang ditentukan. Pada bab pembahasan juga menjelaskan tentang teori sebelumnya yang didapatkan dari hasil pengolahan data, apakah hasil penelitian sesuai dengan teori sebelumnya atau tidak sesuai dengan teori sebelumnya.

BAB V PENUTUP

Pada bab ini peneliti menjelaskan mengenai hasil atau simpulan secara singkat dan jelas. Simpulan berisi mengenai informasi yang jelas meskipun isinya tidak harus banyak. Sara dalam penelitian juga sangat bermanfaat bagi pembaca, para investor, dan perusahaan. Dengan adanya saran dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam membuat keputusan yang selanjutnya.

Gambar

Grafik 1.1 Kapitalisasi Pasar JII 2009-2020
Grafik 1.2 Indeks Harga Saham JII dan LQ45 2009-2020
Grafik 1.3 Tingkat Inflasi pada Tahun 2009-2020
Grafik 1.4 Tingkat BI Rate pada Tahun 2009-2020
+3

Referensi

Dokumen terkait

Pertama-tama, orang harus mengeluarkan uang yang banyak, termasuk pajak yang tinggi, untuk membeli mobil, memiliki surat ijin, membayar bensin, oli dan biaya perawatan pun

Tahapan karakterisasi variasi konsentrasi enzim dilakukan untuk menentukan pH optimum dan parameter kinetik V maks dan K M, dengan cara sebagai berikut, dilakukan penambahan 2

anita usia subur - cakupan yang tinggi untuk semua kelompok sasaran sulit dicapai ;aksinasi rnasai bnntuk - cukup potensial menghambat h-ansmisi - rnenyisakan kelompok

Hasil dari penelitian ini adalah terumuskan 5 strategi dan kebijakan IS/IT yang sebaiknya diterapkan di FIT Tel-U berdasarkan pertimbangan 3 hal, pertama kebutuhan

Hasil uji Signifikansi Parsial (Uji-t) menunjukkan bahwa variabel Market Value Added (MVA) tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel Pendapatan Saham,

Untuk menentukan adanya perbedaan antar perlakuan digunakan uji F, selanjutnya beda nyata antar sampel ditentukan dengan Duncan’s Multiples Range Test (DMRT).

Melihat banyaknya kosmetik berbahaya yang beredar di pasaran saat ini,maka di perlukan suatu inovasi untuk memproduksi pembersih wajah ( toner ) dari bahan alami

Pada ayat yang lain dijelaskan bahwa amanah dalam bentuk pekerjaan tidak hanya diberikan oleh Allah SWT., akan tetapi juga bisa datang dari sesama makhluk dalam urusan