BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengertian dan Pentingnya Piutang
Banyak strategi yang dilakukan pemsahaan untuk memperbesar volume penjualan. Salah satu diantaranya adalah penjualan secara kredit (trade credit), dengan menjalankan kebijaksanaan kredit dalam melakukan penjualan berarti pemsahaan tidak memperoleh uang secara tunai ( kas ) pada waktu terjadi transaksi ( penjualan ), baru dapat diterima beberapa waktu yang akan datang sesuai dengan perjanjian yang dibuat. Jadi dengan demikian didalam menjalankan kebijaksanaan penjualan kredit akan menimbulkan tagihan (Piutang Dagang ) , kepada para langganan dan dalam hal ini pemsahaan telah melakukan investasi dalam modalnya dalam bentuk piutang.
Pengertian piutang menumt Bambang Riyanto (1995:85) adalah sebagai berikut:
" Piutang ( Receivable ) mempakan elemen modal kerja yang juga selalu dalam keadaan berputar secara terns menems dalam rantai perputaran modal kerja, yaitu; Kas -»lnventory-*Piutang -» Kas"
Sedangkan Indriyo ( 1980:43) mengatakan bahwa " Piutang adalah mempakan aktiva atau kekayaan pemsahaan yang timbul sebagai akibat dari dilaksanakannya politik penjualan kredit"
Menurut Louis.K. Brant (1988:201) mengatakan bahwa " Receivable are current assets sales"
Berdasarkan pendapat dari berbagai penulis tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa piutang tagihan dengan memberikan tenggang waktu yang pantas pada langganan untuk melakukan pembayaran yang timbul sebagai akibat perusahaan melaksanakan kebijaksanaan penjualan secara kredit, yaitu
Dalam aktivitas perusahaan normal, biasanya piutng dagang akan dilunasi dalam waktu kurang dari satu tahun, sehingga dapat dikelompokkan dalam aktiva lancar. Pada umumnya setiap perusahaan mempunyai tujuan untuk mencapai keuntungan yang sebesar-besarnya, hal tersebut dapat dicapai dengan meningkatkan omzet penjualan. Untuk meningkatkan omzet penjualan salah satu cara yang dilakukan oleh perusahaan yaitu dengan menjalankan kebijaksanaan penjualan kredit untuk mempertahankan langganan lama dan menarik langganan baru , sehingga menimbulkan piutang dagang. Meskipun demikian perusahaan kadang - kadang dihadapkan pada resiko yang kemungkinan timbul dari akibat adanya piutang disamping juga mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan kredit.
Menurut Gunawan Adisaputro ( 1990:62 ) ada beberapa manfaat yang diperoleh dengan melakukan penjualan kredit, yaitu;
1. Merupakan upaya untuk meningkatkan omzet penjualan.
2. Dengan meningkatnya volume penjualan maka keuntungan pun diharapkan akan meningkat.
3. Dengan adanya hubungan piutang maka hubungan dagang antara perusahaan dengan para pembeli akan tebih erat, sehingga kredit menjamin kuntinyulitas hubungan.
Penjelasan dari ketiga faktor tersebut adalah:
ad.1. Jika pemsahaan melakukan penjualan kredit , biasanya pemsahaan dapat menjual dalam jumlah yang besar dari pada pemsahaan yang menghendaki pembayaran tunai atas penjualan barangnya. Hal ini disebabkan karena pembeli lebih senang membeli barang dengan dengan membayar pada jangka waktu tertentu. Dengan demikian maka dapat menunggu barangnya terjual dahulu bam dapat membayar barang yang dibelinya dari pihak penjual. Selain itu pembeli yang tidak memiliki modal yang cukup mungkin sekali akan terdorong untuk pembelian .ataupun pembeli biasa yang jumlahnya kecil akan terdorong untuk membeli lebih banyak dengan ditawarkannya kredit pada mereka. Dengan demikian kebijaksanaan kredit dapat meningkatkan daya saing pemsahaan itu.
ad.2. Pemsahaan yang melakukan penjualan dengan kredit akan meningkatkan volume penjualannya. Peningkatan volume penjualan ini diharapkan akan dapat meningkatkan laba usaha.Hal ini dapat terjadi apabila tambahan pendapatan atau keuntungan yang diperoleh lebih besar dari tambahan biaya yang timbul akibat adanya peningkatan volume penjualan. Dengan demikian kredit akan mempunyai akibat yang positif dari segi penilaian investasi secara keselumhan.
ad.3. Dengan melakukan penjualan kredit dapat pula digunakan sebagai strategi pemsahaan untuk mempererat hubungan antara pemsahaan dengan para langganan dan untuk menarik langganan bam karena adanya kebijaksanaan kredit yang lunak yang ditetapkan oleh pemsahaan.
Selain itu Gunawan Adisaputro (1990:62 ) juga mengatakan bahwa disamping manfaat penjualan kredit juga menimbulkan berbagai jenis beban dan biaya yang antara lain berupa:
1. Beban Biaya Modal.
2. Selain beban biaya modal maka piutang juga menimbulkan jenis biaya lain yaitu biaya administrasi piutang.
3. Piutang mungkin tidak seluruhnya dapat ditagih, karena debitur lari atau bangkrut.
Penjelasan dari ketiga faktor tesebut adalah:
ad.1. Piutang sebagai salah satu bentuk investasi akan menyerap sebagian modal perusahaan yang tersedia. Bila perusahaan menggunakan sendiri seluruhnya, maka dengan adanya piutang modal yang tersedia untuk investasi bentuk lain ( persediaan , aktiva tetap dan sebagainya ) akan berkurang. Dengan demikian biaya modal besarnya sama dengan biaya modal sendiri. Bilamana modal sendiri tidak mencukupi sehingga perusahaan terpaksa menggunakan pinjaman bank, maka akan timbul beban biaya atau bunga modal pinjaman. Oleh karena itu piutang sebagai investasi, dibelanjai dengan modal sendiri atau modal dari luar selalu menambah tetap berwujud biaya modal. Dengan adanya piutang dagang kebutuhan modal kerja akan meningkat.
ad.2. Biaya Administrasi terdiri dari :
a. Biaya organisasi atau unit kerja yang disertai tugas mengelolah piutang.
yaitu gaji dan jaminan sosial lain bagi petugas penagih dan administrasi piutang.
b. Biaya penagihan piutang : Piutang agar dibayar pada waktunya, perlu usaha khusus untuk menagihnya, mungkin berupa biaya telepon, ataupun biaya perjalanan bagi si penagih piutang.
ad.3. Didalam menjalankan kebijaksanan penjualan kredit, Volume penjualan akan meningkat dan laba perusahaan akan bertambah, tapi kadang - kadang tambahan laba yang diterima perusahaan lebih kecil dari beban biaya yang ditanggung oleh perusahaan , yang timbul akibat dijalankan kebijaksanaan penjualan kredit. Oleh karena itu didalam melaksanakan kebijaksanaan penjualan mengandung resiko yang mungkin saja dapat timbul disetiap saat yang tidak dapat diduga oleh perusahaan, misalnya timbul piutang macet atau tak tertagih sama sekali, sehingga perlu dibentuk cadangan piutang ragu - ragu yang dibentuk lewat penyisihan sebagian dari keuntungan penjualan.
2. Faktor - faktor yang mempengaruhi Investasi dalam Piutang
Piutang adalah suatu bentuk investasi , sebagai salah satu bentuk Investasi maka piutang dagang akan menyerap sejumlah dana modal kerja, mempunyai usia tertentu sesuai dengan waktu keterikatannya, mempengaruhi tingkat resiko perusahaan secara keseluruhan, dan perlu dimonitor tingkat efisiensi pengelolaannya dari waktu ke waktu.
Besarnya investasi dana dalam piutang dagang ditentukan oleh volume penjualan kredit dan periode rata - rata antara penjualan dengan penagihan ..
Periode penagihan rata-rata sebagian tergantung dari kondtsi ekonomi( dalam masa resesi atau periode uang ketat, misalnya para langganan terpaksa
menunda membayar hutangnya) dan sebagian tergantung dan faktor - faktor terkendali yaitu kebijaksanaan kredit.
Menurut Bambang Riyanto ( 1995:63 ) bahwa besar kecilnya investasi dalam piutang dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
1. Volume penjualan kredit.
2. Syarat pembayaran penjualan kredit.
3. Ketentuan dalam pembatasan kredit.
4. Kebijaksanaan dalam pengumpulan piutang.
5. Kebiasaan membayar dari para langganan.
Penjelasan kelima faktor tersebut adalah sebagai berikut:
ad.1. Volume Penjualan Kredit
Semakin besar proporsi penjualan kredit dari keseluruhan penjualan akan semakin besar pula jumlah investasi dalam piutang. Dengan makin besamya volume penjualan kredit setiap tahunnya berarti bahwa • perusahaan hams menyediakan investasi yang lebih besar lagi dalam piutang. Makin besamya jumlah piutang berarti makin besamya resiko, tetapi bersamaan dengan itu juga memperbesar profitability perusahaan.
ad.2 .Syarat Pembayaran Penjualan Kredit
Syarat pembayaran penjualan kredit dapat bersifat lunak atau ketat.
Bila perusahaan menetapkan pembayaran yang ketat berarti perusahaan lebih mengutamakan keselamatan kredit dari pada pertimbangan laba. Bila perusahaan menetapkan syarat pembayaran yang lunak berarti perusahaan melakukan strategi dalam meningkatkan volume penjualan kredit. Karena dengan syarat pembayaran penjualan
kredit yang lunak dengan harga barang yang sama dengan pesaing maka akan menarik minat bagi pembeli.
ad. 3. Ketentuan tentang pembatasan kredit
Dalam penjualan kredit perusahaan dapat menetapkana batas maksimal atau plafon bagi kredit yang diberikan kepada para langganannya. Makin tinggi plafon yang ditetapkan bagi masing - masing langganan berarti makin besar pula dana yang di investasikan dalam piutang. Demikian pula ketentuan mengenai siapa yang dapat diberikan kredit. Makin selektif para langganan yang dapat diberikan kredit akan memperkecil jumlah investasi dalam piutang. Dengan demikian maka pembatasan kredit disini bersifat kwantitatif maupun kwalitatif.
ad.4. Kebiaksanaan dalam pengumpulan piutang
Perusahaan yang menjalankan kebijaksanaan secara aktif dalam pengumpulan piutang akan mempunyai pengeluaran uang yang lebih besar untuk membiayai aktivitas pengumpulan piutang tersebut , dibandingkan perusahaan lain yang menjalankan kebijaksanaan secara pasif.
ad.5. Kebiasaan membayar dari para langganan
Apabila para langganan dalam membayar tidak tepat dari waktu yang telah ditentukan dalam arti lambat untuk membayar hutangnya berarti makin besar pula jumlah investasinya dalam piutang, dan sebaliknya apabila kebiasaan membayar dari pada langganan makin cepat berarti makin kecil jumlah investasi dalam piutang.
3. Kebijaksanaan kredit
Investasi dalam bentuk piutang menyangkut perimbangan untung - rugi antara profitabilitas dan resiko. Investasi optimum ditentukan dengan membandingkan keuntungan yang akan diperoleh dari tingkat investasi tersebut dengan biaya yang akan dikeluarkan. Oleh karena itu didalam mengelolah piutang, manajer keuangan hendaknya dapat menetapkan kebijaksanaan penjualan kredit sedemikian rupa, sehingga investasi dana dalam piutang terdapat keseimbangan antara profitabilitas dan resiko. Karena dengan melaksanakan kebijaksanaan penjualan kredit berarti perusahaan bersedia menanamkan sebagian dananya didalam piutang. Yang mana dana tersebut baru dapat diterima kembali pada saat jatuh tempo. Karena itu perusahaan harus mempertimbangkan biaya atas kredit yang diberikan dibandingkan dengan peningkatan hasil yang didapat agar supaya perusahaan tidak dirugikan.
Besarnya piutang dagang ditentukan oleh volume penjuian kredit dan periode rata-rata antara penjualan dan penagihan. Periode penjualan rata-rata sebagian tergantung dari kondisi ekonomi dan sebagian tergantung dari faktor terkendali, yaitu variabel kebijaksanan kredit.
Menurut Abas Kartadinata (1980:173 ) "Variabel-variabel kredit yang terpenting dan harus diperhatikan dalam menetapkan kebijaksanaan kredit adalah credit standard.credit period, discount dan collection polic".
Penjelasan keempat variabel tersebut adalah sebagai berikut:
3.1 Standard Kredit / Credit Standard
Karena piutang dapat memberikan tambahan keuntungan tetapi juga dapat mengakibatkan timbulnya kerugian, maka petlu dibuat suatu kebijaksanaan yang jelas yang mengatur tentang masalah itu. Kebijaksanaan ini menyangkut penetapan standar kredit dan analisa kredit. Standar kredit merupakan pedoman yang harus dianut untuk menentukan apakah diberikan kredit atau tidak, berapa resiko kredit yang akan diterima oleh perusahaan , dan berapa batas maksimum kredit yang diberikan.
Karena piutang dapat menimbulkan resiko yaitu resiko tak terbayarnya kredit yang diberikan kepada para langganan , maka perusahaan sebelum menyetujui permintaan atau menambahan kredit oleh para langganan, periu . mengadakan evaluasi terhadap langganan.
Menurut J. Frew Weston dan Thomas. E .Capeland, terjemahan Erlangga (1986:P125 ) mengatakan bahwa "Dalam menilai resiko kredit, seorang manajer kredit dapat melaksanakan penilaian lima - C dari calon langganan, yaitu Kepribadian ( Character), Kemampuan ( Capacity ), Modal ( Capital), Jaminan ( Colleteral), dan Kondisi ( Condition )".
Dibawah ini akan diuraikan penjelasan kelima analisa tersebut:
a: Character atau watak, berhubungan dengan kemungkinan bahwa pelanggan akan berusaha memenuhi kewajibannya. Faktor ini sangat penting, karena setiap transaksi kredit mengandung janji pembayaran.
b: Capacity atau Kemampuan, merupakan pertimbangan subyektif tentang kemampuan agar diukur dengan catatan prestasi bisnis pelanggan dimasa
lampau, ditambah dengan pengamatan fisik terhadap pabrik atau toko dan metode kegiataan usahanya.
c. Capital atau Modal, diukur dengan posisi keuangan perusahaan secara umum, yang ditunjukan dengan analisa ratio keuangan, dengan penekanan khusus pada nilai bersih usahanya yang diwujud.
d. Collateral atau Jaminan diberikan berupa harta oleh pelanggan sebagai janji keamanan dari kredit yang diberikan.
e. Condition atau Keadaan, berhubungan dengan pengaruh dari kecenderungan dengan pengaruh dari kecenderungan ekonomi umum terhadap perusahaan, atau berhubungan dengan perkembangan khusus dalam bidang ekonomi yang dapat mempengaruhi kemampuan pelanggan memenuhi kewajibannya.
Informasi yang dapat diperoleh oleh seorang manajer dalam melakukan peniiaian kredit dengan menggunakan analisa lima - C yaitu dari berbagai sumber, baik dari kebiasaaan membayar dari para langganan , maupun pengalaman dimasa lampau.
Selain mengadakan penilaian kredit, dalam usaha memperkecil resiko kredit maka perusahaan harus menetapkan batas maksimai ( plafon ) bagi kredit yang akan diberikan pada para langganannya. Makin tinggi kredit yang diberikan berarti makin besar dana yang diinvestasikan daiam piutang.
3.2 Credit Period / Periode Kredit
Salah satu faktor terpenting dalam menetapkan kebijaksanaan kredit adalah menetapkan jangka waktu kredit. Janagka waktu kredit mempunyai pengaruh terhadap tingkat perputaran piutang dan rata -rata pengumpulan
piutang. Makin panjang periode kredit yang ditetapkan oleh perusahaan berarti makin rendah tingkat perputaran piutang dan makin panjang periode penagihan piutang rata - rata , sehingga dana yang ditanam dalam piutang makin besar dan sebaliknya.
3.3 Discount /Potongan Tunai
Piutang sebagai salah satu bentuk investasi akan menyerao sejumlah dana modal kerja yang mempunyai usia tertentu sesuai dengan waktu keterikatannya.
Karena piutang menyerap sejumlah dana modal kerja harus dapat menetapkan kebijaksanaan kredit dengan tepat. Salah satu strategi yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk memperkecil saldo akhir piutang yaitu dengan menetapkan kebijaksanaan potongan tunai.
Pemberian potongan tunai ini diberikan oleh perusahaan untuk merangsang para langganan untuk membayar iebih cepat dari jangka waktu yang ditetapkan . Apalagi perusahaan menetapkan syarat pembayaran 2/10 net 45, maka para langganan akan dihadapkan pada dua altematif yaitu apakah ia akan membayar sampai hari kesepuluh dengan memperoleh potongan 2% atau akan membayar pada hari keempat puluh lima yang berarti pembeli tersebut sepenuhnya dibiayai kredit dari penjualan atau dengan kata lain , pembelian tersebut tidak akan mendapat potongan sebesar 2%.
Pada umumnya para langganan akan menyukai pembayaran pada periode discount dengan meminjam uang dari bank karena bunga bank Iebih rendah dari bunga kredit penjualan. Jika perusahaan tidak memanfaatkan potongan tunai tersebut maka akan menanggung beban bunga sebesar:
TC • % Potongan X 360
(100 - % Potongan) (Had Jatuh Tempo - Hari Potongan)
Dimana TC adalah merupakan biaya kredit jika tidak memanfaatkan potongan tunai Jadi dalam kasus ini jka pelanggan tidak memanfaatkan potongan maka berarti ia harus membayar biaya sebesar:
Biaya 2 X 360 • 2 X 360 ( 1 0 0 - 2 ) ( 4 5 - 1 0 ) 98 35
« 20,99 % per tahun atau 1,74% per bulan
Dengan melihat besarnya biaya yang akan ditanggungnya apabila tidak mengambil potongan maka merupakan pendorong bagi langganan untuk memanfaatkan potongan yang ditawarkan.
Dengan memberikan potongan tunai maka dpat diperkirakan akan terjadi perubahan sebagai berikut:
1. Volume penjualan akan meningkat
2. Rata -rata pengumpulan piutang diharapkan semakin menurun.
3. Kerugian piutang karena tak tertagih juga akan menurun.
4. Mengurangi biaya penagihan.
Selain menghasilkan perubahan yang menguntungkan, dengan adanya potongan tunai ada pula aspek negatifnya yaitu menurunnya keuntungan dari produk yang dijual, sebesar tingkat potongan tunai itu.
3.4. Collection Policy atau Kebijaksanaan Pengumpulan piutang
Kebijaksanaan pengumpulan piutang adalah suatu kebijaksaan yang menyangkut prosedur yang ditempuh perusahaan untuk memperoleh penerimaan piutang yang lebih oepat atau yang sudah jatuh tempo. Prosedur -
prosedur ini, misalnya melalui penginman surat, telepon, kunjungan secara pribadi ke tempat langganan dan tindakan yuridis bilamana diperlukan secara pasif maupun aktif.
Perusahaan yang melaksanakan kebijaksanaan pengumpula secara aktif akan menghasilkan investasi dalam piutang dalam jumlah yang lebih kecil dari pada perusahaan yang .melakukan kebijaksanaan secara pasif. Akan tetapi dilaksanakan secara aktif maka biaya yang harus dikeluarkan untuk penagihan piutang akan lebih besar. Sedangkan pada pelaksaan penagihan secara pasif , tingkat resiko piutang tidak tertagih dan tertundanya pembayaran lebih besar.
Semakin tinggi tambahan biaya yang dikeluarkan untuk pengumpulan piutang ini diharapkan semakin cepat piutang terkumpul dan semakin rendah pula kerugian karena piutang tak tertagih, secara sistematis hal ini dapat digambarkan pada gambar I halaman 21.
KERUGWNBAD-DBBT
PENGELUARAN
SUMEER : SUAD HUSNAN, MANAJEMEN KEUANOAN, TEORI DAN PENERAPAN, * J D 2,EplSIREVISf, SPFE.
YCOVAKARTA,1985
4. Penilaian Terhadap Kebijakan Kredit
Untuk menilai apakah kebijaksanaan penjualan kredit yang dijalankan oleh perusahaan berhasil atau tidak maka kita dapat memakai analisa sebagai berikut:
4.1 Kiasifikasi Umur Piutang (Aging Schedul)
Mengklasifikasikan piutang sebagai kelompok (Aging Schedul ) akan memberikan pengawasan secara lebih baik terhadap kondisi piutang yang ada di perusahaan daripada hanya sekedar menghitung umur piutang rata - rata yang tercermin dari waktu rata - rata pengumpulan piutang.
Kiasifikasi umur piutang yaitu umur piutang dihitung mulai saat terjadinya penjualan kredit sampai pada saat dilakukannya penyusunan kiasifikasi umur piutang yang bersangkutan. Hal ini dimaksudkan agar manajer dapat mengontrol likwiditas piutang secara lebih teliti.
Kiasifikasi umur piutang menunjukan jumlah dan prosentase piutang yang belum tertagih pada berbagai periode, dan merupakan suatu pengukuran yang lebih cermat dalam manajemen piutang.
4.2 Tingkat Perputaran Piutang dan Periode Pengumpulan Piutang Rata- Rata
Piutang merupakan bagian dari modal kerja yang selalu dalam keadaan berputar. Periode perputaran atau periode terkaitnya modal dalam piutang tergantung dari syarat pembayaran yang ditetapkan oleh perusahaan. Makin lama syarat pembayaran yang ditetapkan, makin rendah tingkat perputaran piutang haf mana berakibatkan makin lama modal terikat pada piutang.
Sebaliknya makin pendek syarat pembayaran kredit maka makin cepat
perputaran piutang, sehingga makin pendek waktu terikatnya modal daiam piutang.
Tingkat perputaran piutang ( receivable turn over ) dihitung dengan membandingkan antara penjualan kredit bersih ( net credit sales ) dengan rata- rata piutang ( average receivable)
Receievable Turn Over • Net Credit Sales Average Receivable
di mana Average Receivable dari;
Average Receivable • Saldo Piutang Awal + Sakfo Piutang Akhir 2
Sedangkan untuk mencari waktu rata -rata terikatnya modal dalam piutang (average collection period ) yaitu dengan membagi tahun dalam hari dengan tingkat perputaran piutang.
Average Collection period • 360 Receivable Turnover
atau dengan:
Average Collection Period • Average Receivable X 360 Net Credit Sales
Rata -rata waktu terikatnya modal dalam piutang adalah jangka waktu rata - rata mulai saat diberikan piutang kepada langganan sampai saat pembayaran.
Antara tingkat perputaran piutang dan waktu rata - rata pengumpulan piutang mempunyai hubungan yang beriawanan, makin tinggi perputaran berarti makin pendek waktu tertanamnya modal dalam piutang. Dengan demikian perhitungan tingkat perputaran piutang penting bagi pemsahaan untuk mengetahui perputaran modal dalam piutang . Sedangkan rata - rata pengumpulan piutang sangat penting bagi pemsahaan untuk membandingkan hari rata - rata pengumpulan piutang dengan batas waktu yang ditetapkan oleh pemsahaan.
Apabila hari rata - rata pengumpulan piutang selaiu lebih besar daripada batas waktu yang telah ditetapkan bararti dalam melakukan pengumpulan piutang kurang efisien. Hal ini berarti banyak langganan yang menunggak dalam melunasi hutangnya.
5. Nilai Bersih Sekarang (NPV)
Pada umumnya suatu pemsahaan menjual barang dan jasa secara tunai atau dengan memberikan jangka waktu untuk pembayaran kredit pada konsumen. Pemberian kredit adalah suatu investasi dari penjualan produk dan jasa pada konsumen yang umumnya disebut piutang dagang.
Investasi pada piutang dagang untuk pemsahaan bergantung pada jumlah atau nilai dari penjualan kredit dan periode rata-rata pengumpulan piutang .
Cara yang lazim diterapkan pada pemsahaan untuk mempercepat periode pengumpulan piutang adalah dengan memberikan potongan tunai tetapi juga hams dipertimbangkan pula biaya potongan tunai.
Hal ini dapat dijelaskan dengan formula sebagai berikut:
NPV • -Cost + Sales
1 + ( l )
Cost • Harga Pokok Penjualan Sales • Penjualan secara kredit
I • Tingkat suku bunga bank
6. Hipotesis Kerja
Berdasarkan latar belakang permasalahan perumusan masalah dan kajian teori yang dikemukakan, hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah:
diduga apabila pemsahaan menetapkan kredit dengan memberikan potongan tunai kepada para langganan yang membayar lebih awal dari jangka waktu yang ditetapkan dan penagihan insentif, maka akan memperbaiki tingkat perputaran piutang serta memperpendek usia rata-rata periode pengumpuian piutang, dengan demikian akan memperbaiki posisi likwiditas piutang dagang pemsahaan.