HOME /ARCHIVES /Vol 7 No 4 (2019) DOI: https://doi.org/10.24843/KM.2019.v07.i04 PUBLISHED: 2019-03-31
ARTICLES
• PEMBERDAYAAN DAN PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KONSUMEN KETIKA TERJADI SENGKETA DENGAN BUMN ATAU PERUSAHAAN DAERAH
Dewa Ayu Agung Chintya Devi Antari, I Wayan Parsa 1-15
• PELAKSANAAN KEWAJIBAN PEMBERI FIDUSIA SEBAGAI YANG MENGUASAI BENDA JAMINAN FIDUSIA PADA PT INDOMOBIL FINANCE INDONESIA CABANG TABANAN
Ni Putu Indianita Cahyanti, Marwanto Marwanto, I Nyoman Mudana 1-15
• PERLINDUNGAN KREDITUR PENERIMA FIDUSIA ATAS MUSNAHNYA BENDA YANG MENJADI OBYEK JAMINAN
Luh Gede Pebby Gitasari, I Made Udiana, I Nyoman Mudana 1-14
• PELAKSANAAN JAMINAN KECELAKAAN KERJA TERHADAP PEKERJA OUTSOURCING PADA PT.
INDONESIA POWER UNIT BISNIS PEMBANGKIT BALI
Gede Bayu Wicaksana, I Ketut Markeling 1-14
• PENYELESAIAN WANPRESTASI DALAM HUBUNGAN KONTRAKTUAL (STUDI KASUS PUTUSAN NO.
44/PID/2018/PT.DPS)
Sheanny Scolastika, I Nyoman Darmadha 1-12
• PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PELAKU USAHA ONLINE SHOP APABILA TERJADI WANPRESTASI YANG DILAKUKAN OLEH PEMBERI JASA ENDORSE DI KOTA DENPASAR
Ni Luh Putu Siska Sulistiawati, Ida Bagus Putra Atmadja, A.A. Sagung Wiratni Darmadi 1-19 PDF
• PEMBATALAN MEREK KARENA ADANYA KESAMAAN KONOTASI DENGAN MEREK LAIN YANG TELAH TERDAFTAR
Ida Ayu Kade Irsyanti Nadya Saraswati, Ibrahim R. 1-15
• Kewajiban Pengusaha Dalam Pemberian Upah Minimum Pekerja Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor : 72/PUU-XIII/2015
Griselda Nadya Billy, Ibrahim R 1-15
• PERAN BPOM PROVINSI BALI DALAM MENINGKATKAN PERLINDUNGAN HUKUM TERKAIT PENJUALAN DONAT TANPA DICANTUMKANNYA TANGGAL KADALUARSA
Eka Paulina Suliswati Putri, I Made Subawa 1-16
• PELAKSANAAN PENERBITAN BANK GARANSI SETELAH TERBITNYA PERPRES NO 95 TAHUN 2007 PADA BNI CABANG DENPASAR
Ni Putu Purnama Andari, Ida Bagus Putra Atmadja, Ida Bagus Putu Sutama 1-14
• KEABSAHAN JASA PENGANGKUTAN OJEK ONLINE DI INDONESIA
Putu Ari Sagita, I Nyoman Wita 1-14
• PELAKSANAAN PERJANJIAN KREDIT BANK DENGAN SURAT KUASA MEMBEBANKAN HAK TANGGUNGAN (SKMHT) DI KABUPATEN TABANAN
I Gusti Nyoman Kusuma Primayadnya, Ida Bagus Erwin Ranawijaya 1-10
• PENGATURAN HUKUM BAGI PELAKU USAHA TERKAIT KEGIATAN PROMOSI YANG MERUGIKAN PENGGUNA JALAN
Ida Ayu Gede Sinta Surya Lestari, Nyoman A. Martana 1-15
• PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KESELAMATAN DAN KESEHATAN PEKERJA/BURUH PADA PT.
TEA KIRANA DENPASAR
Ida Ayu Krisna Kartika Dewi, I Made Udiana 1-16
• PERLINDUNGAN HUKUM PENGGUNAAN JASA TRANSPORTASI UDARA TERHADAP PENYANDANG DISABILITAS
Ayuning Sasmitha Margana, I Made Udiana, A.A. Ketut Sukranatha 1-15
PELAKSANAAN JAMINAN KECELAKAAN KERJA TERHADAP PEKERJA OUTSOURCING PADA PT.
INDONESIA POWER UNIT BISNIS PEMBANGKIT BALI
Oleh:
Gede Bayu Wicaksana
I Ketut Markeling
Program Kekhususan Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Udayana
ABSTRAK :
Outsourcing atau alih daya lebih dikenal sebagai penyediaan jasa tenaga kerja dapat diartikan juga sebagai pemanfaatan tenaga kerja untuk memproduksi atau melaksanakan suatu pekerjaan oleh suatu perusahaan penyedia/pengerah tenaga kerja. Tindakan suatu perusahaan dalam perekrutan pekerja outsourcing tentunya terikat dalam sebuah perjanjian kontrak kerja yang didalamnya mengatur hak dan kewajiban baik dari perusahaan itu sendiri maupun hak dan kewajiban dari pekerja. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum empiris serta jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian yaitu pendekatan perundang-undangan, pedekatan analisis konsep hukum dan pendekatan fakta. Hasil dari penelitian ini adalah PT. Indonesia Power UBP Bali telah menerapkan SMK3 dan Prinsip K3 secara ketat dan menyeluruh terhadap seluruh pekerjanya, meskipun penerapan kedua prinsip ini terkadang mengalami hambatan dari berbagai faktor. Sehingga diharapkan agar pihak perusahaan lebih ketat dalam menerapkan kedua prinsip tersebut, serta bagi pihak pekerja hendaknya menaati dan menjalankan kedua prinsip tesebut agar keselamatan dan kesehatan dari para pekerja terjamin.
Kata Kunci: Outsourcing, Keselamatan Kerja, Kesehatan Kerja
Makalah ilmiah ini merupakan inti sari dari skripsi
Gede Bayu Wicaksana adalah mahasiswa reguler Fakultas Hukum
I Ketut Markeling adalah dosen bagian hukum perdata Fakultas Hukum Universitas Udayana, Selaku Pembimbing I.
ABSTRACT
Outsourcing is known as the provision of labor services can also be interpreted as the use of labor to produce or carry out a job by a provider / recruitment company. The action of a company in the recruitment of outsourced workers is certainly bound in an employment contract agreement in which regulate the rights and obligations of the company itself and the rights and obligations of the workers. This study uses empirical legal research methods as well as the types of approaches used in research, namely the legislation approach, approach to legal concept analysis and the fact approach. The results of this study are PT. Indonesia Power UBP Bali has implemented OSH and OSH Principles in a rigorous and thorough manner for all its workers, although the application of these two principles sometimes experiences obstacles from various factors. So that it is expected that the company is more stringent in implementing the two principles, and for the workers should obey and implement these two principles so that the safety and health of the workers is guaranteed.
Keywords: Outsourcing, Occupational Safety, Occupational Health
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Indonesia memiliki latar belakang negara kepulauan tentunya memiliki sumber daya yang mencukupi. Hal tersebutlah yang mengacu pemerintah untuk terus membuka lapangan pekerjaan dengan maksud menyerap tenaga kerja untuk mengurangi angka pengangguran. Ditegaskan pada Pasal 1 Undang-Undang Ketenagakerjan, tenaga kerja adalah setiap individu yang cakap melakukan pekerjaan. Sedangkan yang disebut dengan pekerja/buruh adalah setiap individu yang bekerja dengan menerima upah.
1Adapun hubungan pekerja dengan pengusaha disebut juga hubungan hukum yang melahirkan hak dan kewajiban pribadi dalam
1 Soedarjadi, 2008, Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia, Pustaka Yustisia, Yogyakarta, h. 54.
hidup bermasyarakat.
2Outsourcing bisa dikatakan bisnis kerjasama bertujuan untuk memperoleh keuntungan bersama, denga kata lain, memberikan peluang untuk berdirinya perusahaan baru di sektor penyedia jasa kerja serta mengurangi angka pengangguran.
3Pada prakteknya dilapangan banyak perusahaan yang menggunakan jasa tenaga kerja outsourcing, dikarenakan suatu perusahaan tidak perlu merekrut karyawan secara skala besar serta dalam proses bekerjanya karyawan outsourcing menggunakan sistem kontrak, yang tentunya lebih menghemat biaya operasional suatu perusahaan. Dengan adanya sistem kerja outsourcing ini secara tidak langsung menyerap tenaga kerja lokal sebagai tenaga kerja di suatu perusahaan yang tentunya secara tidak langsung meminimalisir angka pengangguran di Indonesia. Pada umumnya suatu perusahaan memiliki regulasi yang jelas serta setiap perusahaan pasti memberikan perlindungan terhadap tenaga kerja baik itu tentang jaminan kecelakaan kerja serta bagaimana sistem pengupahan yang diterima tentang tenaga kerja tersebut. Khususnya untuk tenaga kerja outsourcing yang dikontrak oleh PT. Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkit Bali yang bertempat di Denpasar. PT. Indonesia Power yang bergerak dalam bidang pembangkitan listrik tentunya sangat riskan terjadi kecelakaan kerja terhadap pekerjanya.
Yang dimaksud dengan kecelakaan kerja adalah insiden yang merugikan berkaitan dengan hubungan kerja, dapat dikatakan juga penyakit yang timbul serta insiden kecelakaan yang timbul dalam perjalanan. Adapun jenis-jenis kecelakaan kerja yang sering timbul
2 Made Udiana, 2018, Industrialisasi & Tanggung Jawab Pengusaha
Terhadap Tenaga Kerja Terlibat Hukum, Udayana University Press, Denpasar, h. 27
3 Lalu Husni, 2012, Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Raja Grafindo Persada, Jakarta, h.188.
ataupun sering dialami oleh pekerja pada umumnya yaitu terjatuh, tertimpa benda jatuh, faktor suhu tinggi, tersengat arus listrik dan radiasi. Ketika salah satu hal terebut terjadi atau menimpa pekerja disinilah bagaimana suatu perusahaan dituntut tanggung jawabnya dalam melindungi keselamatan dari pekerjanya. Berdasarkan faktor itu dibutuhkan suatu tindakan konkrit dari perusahaan untuk memberikan jaminan beserta perlindungan kepada tenaga kerja.
dimaksudkan untuk mencegah perlakuan diskriminasi serta memberikan kesempatan yang sama bagi semua tenaga kerja.
4Dengan demikian untuk menghindari hal-hal yang tidak diingikan terjadi, pada umumnya dalam penandatanganan kontrak kerja dari pihak perusahaan akan memberikan saran untuk mengikuti jaminan keselamatan kerja yang diselenggarakan oleh pemerintah sebagai upaya pencegahan kejadian yang tidak diinginkan.
1.2 Rumusan Masalah
Di dalam karya tulis ini penulis akan membahas dua permasalahan sebagai berikut :
1. Apakah PT. Indonesia Power UBP Bali memiliki regulasi yang jelas tentang mekanisme jaminan keselamatan kerja terhadap pekerja outsourcing?
2. Bagaimana mekanisme penerapan jaminan keselamatan kerja terhadap pekerja outsourcing di PT. Indonesia Power UBP Bali?
4 Asri Wijayanti, 2009, Hukum Ketenagakerjaan Pasca Reformasi, Sinar Grafika, Jakarta, h. 6.
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan ini adalah untuk memahami regulasi jaminan keselamatan kerja terhadap pekerja outsourcing pada PT.
Indonesia Power UBP Bali dan penerapan jaminan keselamatan kerja terhadap pekerja outsourcing di PT. Indonesia Power UBP Bali.
II. ISI MAKALAH 2.1 Metode Penulisan
Penulis menggunakan metode penelitian hukum empiris dengan teknik analisis deskripsi. Metode empiris ini merupakan penelitian yang memaparkan fenomena hukum tentang terjadinya kesenjangan antara norma dengan perilaku masyarakat.
5Teknik deskripsi berkaitan dengan pemaparan sederhana mengenai suatu keadaan didalam masyarakat. penelitian empiris meneliti tentang regulasi yang jelas tentang mekanisme jaminan keselamatan kerja terhadap pekerja outsourcing dan mekanisme penerapan jaminan keselamatan kerja terhadap pekerja outsourcing di PT. Indonesia Power UBP Bali.
2.2 Hasil dan Pembahasan
2.2.1 Regulasi yang jelas tentang mekaisme jaminan keselamatan kerja terhadap pekerja outsourcing
Regulasi yang menjadi jaminan keselamatan kerja terhadap pekerja outsourcing pada PT. Indonesia Power UBP Bali. Regulasi yang dimaksud yakni :
a. Penerapan Pogram (K3)
5 Fakultas Hukum, 2014, Pedoman Pendidikan Fakultas Hukum Universitas Udayana, Denpasar, h. 77
Program K3 adalah program yang harus ada dan dilaksanakan di suatu tempat kerja berdasarkan standar yang telah ditentukan, berdasarkan ilmu pengetahuan sebagai dasar untuk melindungi dan mengatur tenaga kerja. Ditegaskan pada Pasal 3 Undang-Undang Keselamatan Kerja yaitu terjaminnya keselamatan setiap tenaga kerja, selain itu juga menjamin keamanan dan keefisienan setiap kelangsungan produksi serta berperan dalam meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas pertumbuhan nasional.
Penerapan program (K3) pada PT. Indonesia Power UBP Bali sementara ini belum dilakukan dengan baik secara menyeluruh.
Dikarenakan ada oknum tenaga kerja yang mengabaikan program (K3) dengan alasan kenyamanan saat bekerja. Tentunya hal tersebut sangat membahayakan bagi keselamatan si pekerja juga bagi kelangsungan produksi perusahaan.
Untuk menanggulangi dan meminimalisir kejadian tersebut PT.
Indonesia Power UBP Bali sudah melengkapi alat-alat keselamatan dan kesehatan kerja yang sesuai dengan standar program (K3), tentunya dengan memberikan alat-alat perlindungan diri kepada para pekerjanya. Mengingat PT. Indonesia Power UBP Bali bergerak dalam bidang pembangkit listrik yang memiliki potensi besar akan terjadinya kecelakaan tinggi terhadap pekerjanya.
b. Penerapan SMK3
SMK3 mengatur segala tata cara pengelolaan resiko kegiatan kerja dilapangan yang berhubungan dengan semua kegiatan kerja.
SMK3 berperan sebagai manajemen keseluruhan yang mengatur
segala aspek kegiatan kerja dari awal hingga akhir, hal tersebut
dimaksudkan untuk mengurangi timbulnya resiko terburuk dan tentunya memberikan rasa nyaman bagi para pekerja serta menciptakan tempat kerja yang aman bagi semua pihak.
Pihak terkait menjelaskan alasan mereka melaksanakan SMK3 adalah karena perusahaan memiliki komitmen agar tercapainya target dari perusahaan, yang dimana semakin maksimal tercapainya target maka pasokan listrik untuk semua sektor kehidupan menjadi terpenuhi, maka dari itu dalam penerapan SMK3 sangat diketatkan di perusahaan ini.
Berdasarkan wawancara tanggal 21 Mei 2018 dengan Bapak
Made Sukarma selaku supervisor senior memberikan keterangan
bahwa Pekerja diperusahaan ini sudah sangat diperhatikan sekali
kesehatan dan keselamatan kerjanya, peusahaan sadar akan
pekerjaan sangat beresiko tinggi terhadap keselamatan jiwa
terutama, maka dari itu pihak perusahaan sangat meminimalisir
kesalahan agar target perusahaan tercapai diikuti dengan minimnya
kecelakaan terjadi dilapangan. Walaupun dilapangan ada satu atau
dua oknum pekerja tidak mengkuti pedoman K3 dengan alasan
tertentu, dari pihak perusahaan akan memberikan teguran keras
ataupun sanksi bila perlu kepada oknum tersebut. Jika nanti
kemungkinan kecelakaan terjadi, maka perusahaan akan langsung
turun memberikan bantuan langsung serta memberikan perhatian
terhadap korban, maka dari itu penerapan K3 sangat kami ketatkan.
2.2.2 Penerapan jaminan keselamatan kerja terhadap pekerja outsourcing di PT. Indonesia Power UBP Bali.
Program K3 diiadakan untuk menjamin dan memberikan keselamatan untuk pekerja, dimana hal tersebut bertujuan untuk pertumbuhan produktifitas kerja yang maksimal.
6Bentuk perlindungan hukum yang dberikan dalam hukum ketenagakerjaan tentunya perlindungan hukum bagi pekerjanya yang didalamnya diatur tentang jangka waktu perlindungan hukum yang diberikan.
7Secara yuridis hubungan antara pekerja dan pengusaha dalam pelaksanaan hubungan kerja mempunyai kedudukan yang sama, dalam pengertian mereka dapat melaksanakan secara bebas, akan tetapi secara sosial ekonomi kedudukan antara pekerja dan pengusaha tidak sama, dalam pengertian tidak bebas dimana pekerja merupakan pihak yang membutuhkan pekerjaan untuk memperoleh penghasilan hidup bagi dirinya dan keluarganya, sehingga pekerja dapat menerima syarat-syarat kerja yang ditentukan oleh pengusaha.
8Kesehatan kerja seorang pekerja dalam sebuah perusahaan sangatlah penting, karena selain keselamatan kerja, kesehatan kerja dari pekerja itu sendiri sangatlah berperan penting dalam proses sebuah perusahaan mencapai targetnya, adapun tujuan dari kesehatan kerja itu sendiri adalah agar terjadi peningkatan dan
6 Rai Widjaya I.G, 2006, Hukum Perusahaan, Kesiant Blanc, Bekasi, h. 44.
7 Eka Prasetya Purnmo, 2018, Implementasi Perindungan Hukum Terhadap Kecelakaan Kerja Bagi Pekerja Mini Market (Studi Kasus : Indomaret Kebo Iwa Denpasar), URL : https:/ /ojs.unud.ac.id., Diakses tanggal 28 Januari 2019.
8Made Udiana, 2016, Kedudukan dan Kewenangan Pengadilan Hubungan Industrial, Udayana University Press, Denpasar, h. 30
terpeliharanya derajat kesehatan tenaga kerja itu sendiri baik kesehatan jasmani dan rohani, jika pekerja tidak baik dalam kesehatan jasmani dan rohani maka produktifitas kerja dari seorang pekerja maka akan terganggu, jelas juga sangat berdampak terhadap produktifitas perusahaan.
Jenis-jenis perlindungan tenaga kerja, yakni : 1. Perlindungan Ekonomis
Pembayaran hak pekerja dalam bentuk gaji harus dilindungi, yang didapatkan dari hasil menjalankan kewajibannya sebagai pekerja.
2. Perlindungan Sosial
Kebebasan berserikat diantara para pekerja harus dilindungi.
3. Perlindungan Teknis
Perlindungan yang didapatkan berkaitan dengan tata cara kerja.
9Jaminan keselamatan kerja terhadap pekerja sangatlah penting, dimana para pekerja dituntut mampu mencapai target secara maksimal. Di dalam pelakasanaan jaminan keselamatan kerja, PT. Indonesia Power UBP Bali mewajibkan para pekerja outsourcing wajib mengikuti BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, adapun tujuan dari perlindungan tenaga kerja itu sendiri yaitu untuk menciptakan keharmonisan di dalam lingkungan kerja serta mencegah tindakan diskriminasi antara atasan dan bawahan.
9 Libertus Jehani, 2008, Hak-Hak Pegawai Kontrak, Forum Sahabat, Bandung, h. 56.
Pada penerapan jaminan keselamatan kerja pasti terdapat kendala atau faktor penghambat yang tentunya sangat berpengaruh terhadap kelangsungan. Dalam pelaksanaan berkontrak, tentu menganut “Asas Kebebasan Berkontrak” yang menegaskan setiap orang bebas melakukan perjanjian asal tidak melanggar undang- undang, ketertiban dan kesusilaan.
Dalam melakukan perjanjian atau kontrak tidak selalu menguntungkan pihak pemakainya, dan dalam keadaan tertentu pula bentuk hukum/perjanjian yang dibuat dapat menyulitkan pemakainya.
10Mereka harus dihadapkan dengan resiko sulit yang sering timbul yang sulit diperhitungkan sejak awal yang timbul dari sifat kontak itu sendiri. Dengan demikian pengusaha diharuskan menjalankan peraturan yang berkaitan dengan perlindungan tenaga kerja sesuai dengan apa yang telah diatur oleh Undang-undang.
Didalam pada Pasal 5 Undang-Undang Ketenagakerjaan ditegaskan setiap pekerja/tenaga memiliki peluang kerja yang sama antara satu dengan yang lainnya tanpa membeda-bedakan.
Diamati dari hasil wawacara yang dilakukan oleh peneliti dengan narasumber Bapak Made Sukarma sebagai supervisor senior umum beliau menjelaskan bahwa kesadaran yang kurang dari pekerja itu sendiri diantaranya pendidikan pekerja yang masih rendah sehingga mereka kurang memperdulikan pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja, selain itu sebagian besar pekerja yang merasa tidak nyaman dalam menggunakan alat keselamatan diri, sebagian besar pekerja kurang memahami akan pentingnya
10 Made Udiana, 2011, Rekonstruksi Pegaturan Penyelesaian Sengketa Penanaman Modal Asing, Udayana University Press, Denpasar, h. 11