• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pemerintah Daerah Kecamatan merupakan salah satu unit kewenangan Pemerintah Provinsi yang mempunyai kedudukan penting karena dapat bersentuhan langsung dengan daerah setempat. Di masa kini semakin berkembang kebutuhan dan permintaan yang terus berubah dan tercipta. Jelas, bagian langsung dari perakitan mekanis otoritas publik diperlukan. Karena otoritas publik sebagai fasilitator pelayanan daerah setempat. Dituntut dapat memberikan pelayanan publik yang berkualitas dan efektif untuk area lokal. Berdasarkan dalam (Peraturan UU Nomer 23 2014 Pemerintah Daerah, 2014) telah memerintahkan bahwa “Pemerintah Daerah, yang mengatur dan mengurus sendiri urusan Pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan, diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan, dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia”.

Peningkatan pelayanan yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat berupa Pelayanan Publik. Pelayanan publik adalah bentuk dari fasilitas yang diberikan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah yang dibutuhkan oleh masyarakat. Berdasarkan keputusan MENPAN No. 63/KEP/M. PAN/7/2003 dan UU No 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, terdapat 3 jenis pelayanan publik yaitu pelayanan administrasi, barang, dan jasa(Setijaningrum, 2017:25). Jadi dengan pernyataan yang diklarifikasi bahwa pelayanan publik memiliki pekerjaan yang signifikan sebagai salah satu kewajiban pemerintah secara keseluruhan untuk menawarkan jenis bantuan yang hebat. Meskipun demikian, secara umum kondisi penyampaian bantuan publik di Indonesia masih belum berhasil dan efektif serta sifat SDM yang ada di perangkat tersebut masih kurang. Pelaksanaan pelayanan

(2)

2

publik dalam administrasi otoritatif sebenarnya memiliki masalah. Persoalan dalam menawarkan jenis bantuan tersebut masih belum ideal, meskipun cocok untuk menawarkan jenis bantuan yang tidak sulit diakses, seperti yang ditunjukkan oleh kebutuhan warga, dilaksanakan secara partisipatif dan bergantung pada standar yang relevan (Firlena et al., 2016).

Berdasarkan dalam (Peraturan Pemerintah Kabupaten Situbondo Nomer 35 Tahun 2018) tentang “Pendelegasian Sebagian Kewenangan Penyelenggaraan Perizinan dan Non perizinan Pada Kecamatan di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Situbondo”. Dengan berdasarkan pelaksanaan (Pemendagri Nomer 4 Tahun 2010 Pedoman Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan) yang berikan bahwa “seluruh pedoman Pelayanan Administrasi Terpadu, sebagai peraturan yang mengharuskan setiap kecamatan di indonesia menerapkan Pelayanan Administrasi Terpadu (PATEN). Untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat serta memperpendek proses pelayanan guna memberikan pelayanan yang cepat, murah, mudah dan transparansi demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Kabupaten Situbondo Memiliki 17 Kecamatan yang telah melaksanan Pelayanan Administrasi Terpadu (PATEN). Kantor Kecamatan Sumbermalang merupakan salah satu kantor pemerintahan yang menerapkan Pelayanan Administrasi Terpadu di Kabupaten Situbondo, dengan memberikan pelayanan publik kepada masyarakat sesuai berdasarkan kebijakan Pelayanan Adminstrasi Terpadu (PATEN). PATEN Kecamatan Sumbermalang yang fungsinya sebagai penyelenggara pelayanan publik untuk masyarakat Kecamatan Sumbermalang khususnya yang langkah-langkah administrasinya mulai dari permohonan hingga tahap penerbitan arsip diselesaikan di satu tempat atau satu pintu pelayanan. Sebagai pusat pelayanan masyarakat serta diharapkan mampu memberikan kualitas pelayanan yang baik. Dengan Moto PATEN Kecamatan Sumbermalang yaitu HEBAT (Harmonis, Efektif dan Efisien, Berkualitas, Akuntabel, Tepat Waktu dan Transparan).

(3)

3

Tabel 1. 1 Jenis Pelayanan dan Bentuk Urusan Pada Kantor Kecamatan Sumbermalang

Jenis Pelayanan Bentuk Urusan

Non Perizinan Surat pengantar Keterangan pindah penduduk, Surat pengantar pindah datang, Melegalisasi proposal yang diajukan Masyarakat, Perekaman E-Ktp, Surat Pengantar keterangan rekomendasi survey penelitian, Surat pengantar izin keramaian, Surat pengantar keterangan NTCR (nikah, talak, cerai, rujuk), Surat Pengantar SKCK, Cetak e-KTP (bagi pemula), Cetak kartu keluarga, Cetak akta kelahiran.

Perizinan Dispensasi nikah, Izin mendirikan usaha (IMB), Izin usaha mikro (IUM), Surat keterangan izin usaha, Surat ketarangan tidak mampu, Keterangan surat bersih diri, Surat keterangan ahli waris.

Sumber: Kantor Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo 2021

Berdasarkan tabel diatas jenis dan bentuk pelayanan administrasi terpadu yang diberikan oleh Kecamatan Sumbermalang. Salah satu administrasi kependudukan khususnya e-KTP telah menjadi program yang dilaksanakan oleh Pemerintah bagi seluruh warga di Indonesia. (Wahyudi et al, 2019) menegaskan, “e-KTP atau KTP Elektronik adalah arsip kependudukan yang berisi kerangka pengamanan / pengendalian baik dari sisi regulasi maupun data yang bergantung pada kumpulan data kependudukan masyarakat. Penduduk hanya diperbolehkan memiliki 1 (satu) KTP yang memuat Nomor Induk Kependudukan (NIK). NIK adalah nomor induk untuk setiap penghuninya dan substansial selamanya. Nomor NIK pada e-KTP nantinya akan digunakan sebagai pembuatan visa, surat izin mengemudi (SIM), nomor pokok wajib pajak (NPWP), strategi perlindungan, surat wasiat atas hak tanah serta penerbitan arsip kepribadian lainnya”.

(4)

4

Namun berdasarkan laporan yang diterima, pada tahun-tahun sebelumnya terdapat beberapa permasalahan, khususnya pada perekaman e-KTP serta keluhan masyarakat diantaranya lansia, kelompok miskin, buta huruf, kelompok difabel, minoritas etnis, bahkan remaja, mengenai pelayanan pembuatan e-KTP. Banyak masyarakat di Kecamatan Sumbermalang yang belum memiliki e-KTP dan belum melakukan Perekaman e-KTP. Sehingga dengan adanya Pelayanan Administrasi Terpadu hal tersebut harus bisa diatasi. Mengatasi hal tersebut perlu dilakukan dengan cepat, tegas, tanggap dan tepat agar kejadian seperti ini dapat diselesaikan dengan tepat dan ekonomis. Harus ada kemajuan dari pemerintah yang mempunyai wewenang untuk menangani masalah ini.

Selama ini penduduk Kecamatan Sumbermalang melakukan pengajuan e-KTP secara langsung dengan prosedur mendatangi kecamatan dengan pengajuan berkas secara manual mulai dari surat permohonan penrekaman dan pencetakkan e-KTP melalui RT , RW, Kelurahan dan Kecamatan. Setiap penduduk yang bersangkutan wajib mendatangi kantor kecamatan untuk melakukan registrasi dan perekaman data e-KTP. Mekanisme tersebut diatas dirasa menyulitkan penduduk yang rumahnya berada jauh dari kecamatan. Terutama untuk Lansia dan difabel Karena tanpa disadari penduduk harus mengeluarkan biaya untuk transportasi dan juga waktu yang longgar demi mengurus perekaman e-KTP ini. Sehingga dengan adanya hal tersebut membuat masyarakat enggan mengurus KTP ke kantor Kecamatan. Sehingga dengan hal tersebut diperlukan sebuah Inovasi yang membuat masyarakat menjadi tidak enggan mengurus e-KTP.

Sering terdengar bahwa kemajuan tidak dapat dipisahkan dari sesuatu yang baru dan diidentikkan dengan seluruh bagian kehidupan yang merupakan salah satu variabel yang berperan penting dalam menghadapi dan mengatasi berbagai persoalan, baik yang menyangkut manusia, jaringan, perkumpulan maupun Negara. kemajuan suatu Negara adalah semboyan penting jika memiliki hasil dari strategi yang dapat memenuhi kebutuhan dan masyarakat global yang tak dapat disangkal(Sururi, 2019). Inovasi pelayanan publik menjadi kebutuhan mutlak bagi pemerintah pusat dan lingkungan untuk melaksanakan desentralisasi dengan

(5)

5

tujuan akhir membangun kesejahteraan masyarakat, kesuksesan dan kebebasan bagi daerah(Yanuar et al., 2019).

Sehingga inovasi diharapkan dapat memberikan penguatan pada pelayanan publik yang dibuat oleh pemerintah dengan prinsip yang lebih luas. Misalnya, perubahan esensial dari kemajuan pelayanan publik sebagai bentuk dalam sebuah asosiasi, dengan tujuan menjadikan kemajuan terhadap pelayanan publik. Jadi kemajuan pelayanan publik memiliki rasa ingin tahu dan manfaat bagi daerah setempat. Pelayanan publik terencana merupakan kegiatan menuju arah pelayanan yang lebih sederhana. Setiap pelayanan terbuka yang diberikan pada dasarnya harus mengandung sesuatu yang baru. Karena permasalahan pada pelayanan publik tidak dapat diprediksi dan dinamis. Diharapkan pelayanan publik kearah yang baru dapat menangani masalah pelayanan publik secara aktif dan produktif. Seperti yang terjadi pada permasalahan pengurusan e-KTP di Kecamatan Sumbermalang, maka perlu adanya inovasi pelayanan publik pengurusan e-KTP.

Permasalahan yang terjadi di Kecamatan Sumbermalang pada perekaman pembuatan e-KTP. Permasalahan tersebut dianggap sangat perlu diselesaikan dan perlu adanya inovasi. karena seperti yang kita ketahui e-KTP menjadi suatu identitas penting yang harus dimiliki sebagai warga Negara Indonesia. Pada tahun 2018 Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan Sumbermalang membuat inovasi Jemput Bola Pelayanan Administrasi Terpadu (JEMPOL PATEN). Sebagai upaya menyelesaikan permasalahan pada perekaman pengurusan e-KTP di Kecamatan Sumbermalang. Inovasi berarti sebuah pembaruan dari pelayanan yang diberikan sebelumnya, jika sebelum adanya inovasi masayarakat masih sulit untuk mendapatkan pelayanan sehingga dengan adanya inovasi masyarakat akan lebih mudah mendapatkan pelayanan publik dari Kecamatan Sumbermalang.

JEMPOL PATEN merupakan sebuah inovasi yang dapat memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam pelayanan pengurusan e-KTP. Pelaksanaan inovasi ini dilaksanakan di 9 Desa se Kecamatan Sumbermalang terutama di Desa

(6)

6

yang memiliki akses jauh seperti Desa Tamankursi, Sumberargo, Alastengah, Taman dan Desa lain yang berada di Kecamatan Sumbermalang.

Tabel 1. 2 Susunan Tim Inovasi JEMPOL PATEN Kecamatan Sumbermalang

No. Uraian Tugas

1. Penanggung Jawab Camat Sumbermalang

2. Ketua Sekretaris Camat

3. Anggota a. Kasi Kesra

b. Kasi Ekbag

c. Kasubbag Umum dan Kepegawaian

d. Kasi Trantib

e. Kasubbag Penyusunan Program dan Keuangan 4. Tim Turun Lapang Jempol

Paten

Suprapto, Mulyono, Dedi Wahyono

Sumber: Kantor Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo 2021 Tabel diatas merupakan bentuk susunan tim Inovasi Pelayanan Publik Jempol Paten yang telah disahkan berdasarkan SK Camat pada 02 Januari 2018. Inovasi Jempol Paten dibuat dengan penuh keyakinan, inovasi tersebut akan terus berlanjut kedepannya dan akan tetap cocok serta sesuai untuk mengikuti perkembangan jaman yang tentunya memperoleh dukungan dari segi keuangan untuk dapat dianggarkan sesuai mekanisme APBD, secara sosial ekonomi, budaya dan lingkungan. Yang tentunya juga bisa diterima dan menyambut positif bahkan pihak eksekutif dan legislatif akan mendukung kegiatan semacam ini karena tidak berlawanan dengan peraturan atau pedoman yang berlaku.

Inovasi Jempol Paten dilakukan dengan cara menggunakan mobil dan motor ke desa-desa oleh petugas tim inovasi Jempol Paten. Dalam upaya membangun akses dan mendekatkan pelayanan dari pusat Kecamatan kepada masyarakat pedesaan yang terkendala akses pelayanan, akses informasi, dan akses

(7)

7

tranportasi di wilayah Kecamatan Sumbermalang sebagai bentuk kendala dari keluhan pada pelayanan pengurusan atau pembuatan e-KTP. Sehingga harapannya untuk masyarakat lebih menyadari betapa pentingnya memiliki dokumen kependudukan. Karena sebagaian masyarakat di Kecamatan Sumbermalang belum memiliki dokumen kependudukan seperti e-KTP. Jika dilihat setelah adanya program Jempol Paten ini sudah membantu mengurangi jumlah wajib e-KTP menjadi memiliki e-KTP, dan juga sudah membantu warga yang sudah memasuki usia lanjut dan penyandang cacat, yang sudah tidak mampu datang secara langsung ke kantor Kecamatan Sumbermalang untuk melakukan pengurusan e-KTP. Karena seperti yang kita ketahui bahwa selayaknya memang lansia dan disabilitas perlu perhatian khusus dan mendapatkan pelayanan publik berkualitas yang baik tidak diskrimintif dengan adanya keterbatasan yang dimiliki.

Tabel 1. 3 Data Jumlah Penduduk E-KTP dan Data Penduduk Belum E-KTP Kecamatan Sumbermalang

Tahun Penduduk E-KTP Belum E-KTP Jumlah Penduduk

2016 10.081 16.349 26.430

2017 12.471 13.937 26.408

2018 15.003 11.464 26.467

2019 18.443 7.915 26.358

2020 25.768 2.882 28.648

Sumber: Kantor Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo 2021 Dapat dibuktikan dari tabel diatas bahwa dengan adanya Inovasi Jempol Paten mengurangi banyaknya jumlah masyarakat yang belum memiliki e-KTP dari tahun 2018 hingga saat ini. Hal tersebut terjadi karenakan masyarakat sudah banyak yang memiliki e-KTP dan menerima Inovasi Pelayanan Publik Jempol Paten yang telah diberikan oleh Kantor Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan Sumbermalang. Data Perekaman e-KTP diatas sudah termasuk perekaman keseluruhan yang melalui Jempol Paten ataupun yang datang langsung ke Kantor Kecamatan Sumbermalang untuk melakukan perekaman e-KTP. Berangkat dari penjabaran diatas maka peneliti bermaksud ingin melihat secara detail dari bagaimana program Inovasi Pelayanan Publik Jempol Paten tersebut khususnya pada pelayanan publik perekaman pengurusan e-KTP di Kecamatan Sumbermalang yang bisa diterima oleh masyarakat.

(8)

8 1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang diambil dari latar belakang tersebut adalah Bagaimana Inovasi Pelayanan Publik Jempol Paten di Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk dapat mengetahui bagaimana Inovasi Pelayanan Publik Jempol Paten di Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo,

2. Untuk dapat mengetahui faktor penghambat dari adanya Inovasi Pelayanan Publik Jempol Paten di Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo.

1.4 Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis

1.) Memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan dibidang pelayanan publik mengenai pentingnya sebuah inovasi untuk menyelesaikan sebuah permasalahan yang terjadi di bidang pelayanan publik yang diberikan oleh pemerintahan Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo.

2.) Memberikan kontribusi perkembangan ilmu pengetahuan dibidang pelayanan publik berupa penjelasan terkait Inovasi Pelayanan Publik Jempol Paten dalam implementasinya melalui persepektif penelitian Deskriptif Kualitatif. b. Secara Praktis

Adapun manfaat praktis dari penelitian ini adalah untuk memberikan masukan dan saran terhadap Pemerintah Kecamatan Sumbermalang dalam Pelayanan Administrasi terpadu, terutama dibidang pengurusan e-KTP. agar dapat terus memberikan Inovasi yang berkualitas sesuai dengan permasalahan yang terjadi di Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo.

c. Secara Akademis

1.) Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana strara satu (S1) Program Studi Ilmu Pemerintahan

2.) Diharapkan dapat menjadi bahan referensi bacaan bagi peneliti selanjutnya terutama penelitian terkait Inovasi Pelayanan Publik.

(9)

9 1.5 Definisi Konseptual

Definisi Konseptual merupakan batasan faktor masalah yang dijadikan kaidah dalam penelitian sehingga memudahkan untuk bekerja di lapangan. Untuk memahami dan memudahkan proses teorisasi pada penelitian ini, maka ditemukan beberapa definisi konseptual yang berhubungan dengan penelitian , yaitu:

a. Inovasi

Inovasi adalah pembaruan yang tidak persis sama dengan yang saat ini atau yang sebelumnya diketahui (Djamrut, 2015). inovasi menjadi salah satu sudut pandang yang berdampak pada kemajuan pergantian acara asosiasi. Dari beberapa asosiasi, baik asosiasi area publik seperti asosiasi pemerintah maupun asosiasi area privat yang berusaha mencari inovasi baru untuk menjawab permintaan dari perkembangan zaman(Yanuar et al., 2019).

Menurut Rina Mei Mirnasari(2013) dalam (Junior, 2016) mencirikan bahwa inovasi dalam pelayanan publik dapat diartikan sebagai kemajuan pencapaian dalam menyelesaikan, meningkatkan efektivitas dan tanggung jawab pelayanan publik yang dihasilkan oleh kegiatan baru, pendekatan, prosedur, dan / atau pelayanan masyarakat secara terbuka.

Menurut Rogers Inovasi memiliki atribut yang melekat di dalam praktik penerapannya seperti yang dijelaskan oleh Suwarno (2008:16) yaitu sebagai berikut:

1. Relative Advantage atau keuntungan relative dimana sebuah inovasi harus mempunyai keunggulan dan nilai lebih dibandingkan dengan inovasi sebelumnya. Selalu ada nilai kebaruan yang melekat dalam inovasi yang menjadi ciri yang membedakannya dengan yang lain

2. Compability atau Kesesuaian. Hal ini dimaksudkan agar inovasi yang lama tidak serta merta dibuang begitu saja,selain karena alasan faktor biaya yang tidak sedikit,namun juga inovasi yang lama menjadi bagian proses transisi

(10)

10

ke inovasi terbaru.selain itu juga dapat memudahkan proses adaptasi dan proses pembelajaran terhadap inovasi itu secara lebih cepat.

3. Complexity atau kerumitan dimana dengan sifatnya yang baru maka inovasi mempunyai tingkat kerumitan yang boleh menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan inovasi sebelumnya. Namun demikian, karena sebuah inovasi menawarkan cara yang lebih baru dan lebih baik maka tingkat kerumitan ini pada umumnya tidak menjadi masalah penting.

4. Triability atau kemungkinan dicoba yaitu inovasi hanya bisa diterima apabila telah teruji dan terbukti mempunyai keuntungan atau nilai lebih dibandingkan dengan inovasi lama. Sehingga sebuah produk inovasi harus melewati fase uji coba, dimana setiap orang atau pihak mempunyai kesempatan untuk menguji kualitas dari sebuah inovasi.

5. Observability atau kemudahan diamati yaitu sebuah inovasi harus juga dapat diamati, dari segi bagaimana sebuah inovasi bekerja dan menghasilkan sesuatu yang lebih baik.

Setelah melakukan analisa penjabaran terhadap lima tahap yang dikemukanan oleh Rogers, maka untuk menjelaskan pembahasan dalam penelitian. Lima tahap tersebut akan digunakan untuk membahas bagaimana Inovasi Pelayanan Publik Jempol Paten di Kecamatan Sumbermalang secara menyeluruh berdasarkan dari karakteristiknya.

b. Pelayanan Publik

Pada dasarnya, pelayanan dapat dikatakan sebagai pergerakan seorang individu, perkumpulan dan juga organisasi baik secara langsung maupun secara implisit untuk mengatasi suatu masalah. Jadi sangat baik dapat dikatakan bahwa dalam pelayanan publik ada dua sudut, khususnya dari individu atau pemerintah dalam menangani kebutuhan masyarakat (Yanuar et al., 2019). pelayanan publik yang berkualitas menjadi bagian dari kemajuan pelayanan yang diberikan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah yang dibutuhkan oleh masyarakat. Berdasarkan keputusan MENPAN No. 63/KEP/M. PAN/7/2003 dan UU No 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, terdapat 3 jenis pelayanan publik yaitu

(11)

11

pelayanan administrasi, pelayanan barang, dan pelayanan jasa. Jenis kegiatan pelayanan publik yaitu:

1. Pelayanan Administratif yaitu administrasi yang menghasilkan berbagai jenis arsip yang benar dibutuhkan oleh masyarakat pada umumnya. Misalnya, status kewarganegaraan, pernyataan keahlian, kepemilikan atau penguasaan suatu benda, dll. Arsip tersebut antara lain berupa KTP, Akta kelahiran, Surat Wasiat, Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB), Surat Izin Mengemudi (SIM), Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Paspor, Visa. Dll.

2. Pelayanan Barang yaitu Pelayanan yang menghasilkan berbagai struktur atau jenis barang yang digunakan oleh masyarakat umum, misalnya, jaringan telepon, air bersih, penyediaan tenaga listrik, dll.

3. Pelayanan Jasa yaitu pelayanan khusus yang menghasilkan pelayanan jasa yang dibutuhkan oleh orang pada umumnya, seperti pelayanan pendidikan, pelayanan kesehatan, transportasi, pos, dll. (Setijaningrum, 2017:25) Kurniawan(dalam Setijaningrum, 2017:24) Dijelaskan bahwa pelayanan publik juga merupakan interaksi di mana terdapat metodologi tertentu. Hal ini diungkapkan dengan menyertai: "pelayanan publik adalah melayani kebutuhan orang lain atau individu yang berkepentingan dalam sebuah organisasi sesuai dengan standar dan teknik dasar yang telah diselesaikan".

Sehingga dengan adanya penjelasan diatas, pelayanan publik adalah pekerjaan dan salah satu elemen utama dari organisasi otoritas publik. Dengan demikian, secara praktis, peraturan pelayanan publik harus diawasi secara tepat dan akurat untuk menawarkan pelayanan publik yang berkualitas bagi daerah setempat. c. Jempol Paten

Jempol Paten merupakan singkatan dari Jemput Bola Pelayanan Adminitrasi Terpadu Kecamatan. Berfungsi untuk mempermudah pelayanan publik di Kecamatan Sumbermalang khususnya difabel dan lansia. Jempol Paten memiliki Motto kami selalu memberikan pelayanan TERBAIK (Tepat, Efektif, Sinergitas, Akuntabilitas, Ikhlas). Jempol Paten berperan mendatangi langsung ke Desa tempat tinggal masyarakat yang memerlukan pelayanan jemput bola. Dikarenakan

(12)

12

tidak dapat datang langsung ke Kecamatan untuk mengurus keperluan dengan adanya beberapa faktor yang menjadi kendala seperti disabilitas dan lansia. Sehingga Jempol Paten hadir untuk mempermudah masyarakat dalam pengurusan administrasi. Pada pelaksanaannya Jempol Paten lebih fokus pada pengurusan E-KTP.

Seperti yang kita sadari, e-KTP merupakan salah satu kartu identitas warga negara Indonesia yang wajib dimiliki. Sejak tahun 2011 KTP non elektronik diubah menjadi e-KTP atau KTP-el. e-KTP adalah Kartu identitas yang dibuat secara elektronik, baik dari segi penggunaan yang kapasitasnya dimodernisasi. Menurut (Oktamia & Fauziah, 2018) KTP Elektronik adalah pencatatan kependudukan yang memuat kerangka pengamanan atau pengendalian baik dari sisi pengelola maupun kependudukan, hanya 1 (satu) KTP yang diperbolehkan yang tercatat pada Nomor Induk Kependudukan (NIK). Alasan pemberian KTP-el secara Elektronik mengingat Permendagri Nomor 9 Tahun 2011 pasal 2, Pemerintah menerbitkan KTP Elektronik untuk memahami tanggung jawab KTP bagi satu penduduk yang memiliki kode pengaman dan catatan elektronik informasi kependudukan yang bergantung pada NIK secara luas.

1.6 Definisi Operasional

Definisi Operasional merupakan bagian dari penelitian yang memberitahu bagaimana cara mengukur suatu variebel. Sebagai alat mengukur sebuah indikator dalam penelitian, atau biasa dikatakan sebagai petunjuk dalam melaksanakan indikator penelitian. Berikut Definisi Operasional dari penelitian yaitu terkait bagaimana Jempol Paten Sebagai Inovasi Pelayanan Publik di Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo, yang kemudian akan dilihat dari indikator- indikator diantaranya:

1. Inovasi Pelayanan Publik Jempol Paten di Kecamatan Sumbermlang Kabupaten Situbondo:

a. Keuntungan Inovasi Pelayanan Publik Jempol Paten Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo.

(13)

13

b. Perencanaan Inovasi Pelayanan Publik Jempol Paten Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo.

c. Kerumitan mengenai Inovasi Pelayanan Publik Jempol Paten Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo.

d. Pelaksanaan Inovasi Pelayanan Publik Jempol Paten Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo.

e. Kemudahan diamati Pelaksanaan Inovasi Pelayanan Publik Jempol Paten Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo.

2. Faktor penghambat Inovasi Pelayanan Publik Jempol Paten di Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo.

a. Server atau Jaringan b. NIK yang tidak aktif c. Anggaran Terbatas

d. SDM yang kurang kompeten 1.7 Metode Penelitian

1.7.1 Jenis Penelitain

Metode penelitian menggunakan pendeketan deskriptif. Model penelitian deskriptif ini nantinya dapat membantu menganalisa data dalam penulisan adalah menggunakan kualitatif. (Moeleong, Lexy J. 2002:112) dalam (Dewantara & E-mail, 2011) mendefinisikan bahwa metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan atau dari bentuk tindakan kebijakan. Seperti yang diindikasikan oleh Creswell, pemanfaatan strategi penelitian kualitatif membedah masalah yang dimulai dari masalah sosial (Creswell, 2016). Seperti yang diindikasikan oleh Creswell, pemanfaatan strategi pemeriksaan subjektif membedah masalah yang dimulai dari masalah sosial(Creswell, 2016). Dapat mengklarifikasi masalah secara detail dari masalah yang diangkat, dan memiliki opsi untuk menyelidiki kenyataan, model, dan bukti secara langsung dengan memperkenalkan informasi data . Menganggangkat realita dengan merenungkan dan memahami kasus atau isu yang sedang terjadi.

(14)

14

Sehingga dalam memfokuskan masalah yang diperoleh dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan dan pengumpulan data dari narasumber yang menjadi obyek penelitian secara spesifik atau terperinci yang terkait dengan Inovasi Pelayanan Publik Jempol Paten di Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo.

1.7.2 Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah orang atau individu yang dijadikan sebagai infromasi data yang diperlukan dalam mengumpulkan informasi penelitian. Ungkapan lain untuk subjek penelitian disebut juga responden, khususnya individu yang bereaksi atau memberikan data yang diperlukan dalam mengumpulkan informasi penelitian (Tanzeh & Arikunto, 2004). Peneliti menggunakan teknik purposive sampling. Dalam penelitian ini informan atau subjek penelitian yang terlibat dan mengetahui permasalahan yang diteliti antaranya:

a) Camat Sumbermalang, Sebagai Penanggung Jawab Inovasi Jempol Paten

b) Tim Pelaksana Jempol Paten, Sebagai pelaksana turun lapang Inovasi Jempol Paten

c) Masyarakat, Sebagai penerima Inovasi Jempol Paten

1.7.3 Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian kualitatif ini terbagi menjadi 2 sumber data yakni: data primer, dan data sekunder. Secara rinci akan dijelaskan sebagai berikut.

1.7.3.1 Primer

Pada penelitian ini dimulai menggunakan sumber data primer yaitu sumber data yang dihasilkan dari wawancara. Karena penelitian ini menggunakan model penelitian kualitatif. Wawancara yang akan dilakukan berupa memberikan

(15)

15

pertanyaan terbuka sesuai dengan topik penelitian, diharapkan data ataupun pertanyaan yang akan diberikan oleh narasumber dapat berkembang dan dapat menghasilkan informasi data yang diperlukan di dalam penelitian ini. Informan yang akan diwawancarai adalah Camat Sumbermalang, Tim pelaksana Jempol Paten, serta masyarakat Kecamatan Sumbermalang sebagai penerima inovasi Jempol Paten.

1.7.3.2 Sekunder

Data sekunder dalam penelitian yang digunakan untuk melengkapi serta mendukung data primer. Sebagai pendukung penelitian ini, data sekunder ini berupa jurnal-jurnal yang terkait dengan Teori Inovasi dan Pelayanan Publik, Dokumen juga di perlukan dengan Perundang-undangan terkait dengan pelayanan administrasi terpadu kecamatan dan pelayanan publik, data, dan gambar sebagai penunjang penelitian. Sember data sekunder ini juga di peroleh dari objek penelitian di Kantor Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo.

1.7.4 Teknik Pengumpulan Data

Menurut (Creswell, 2016) Tahap selanjutnya dalam strategi metode penelitian adalah menentukan prosedur bermacam-macam informasi dari hasil eksplorasi. Pengumpulan data adalah tindakan yang dilakukan untuk membatasi penelitian dalam menemukan informasi agar tetap fokus pada isu yang sedang diangkat. Dalam ha ini, dipercaya bahwa bermacam-macam informasi pengumpulan data menghasilkan hasil yang pasti, tepat dan dapat dipercaya.

Pengumpulan berbagai informasi yang ada dapat diperoleh dari hasil wawancara kepada informan, observasi pada instansi atau lokasi penelitian, serta dokumentasi untuk mencatat dan merekam berbagai informasi yang ada. Pengumpulan dari berbagai data yang ingin diperoleh pada penelitian ini dapat menggunakan strategi sebagai berikut, diantaranya adalah:

a. Observasi

Observasi menjelaskan bahwa kegiatan pengumpulan data informasi dengan mencatat dan mengumumkan secara terorganisir yang menjadi objek

(16)

16

penelitian. Dengan melihat secara terbuka dan menguji kepekaan peneliti atas segala yang sedang terjadi dilapangan. Sehingga peneliti dapat tanggap dalam menganalisa objek peneltian.

Observasi dapat dilakukan dengan kegiatan pengamatan terhadap objek penelitian secara langsung, dengan harapan peneliti mampu memahami dengan baik dari obyek penelitian tersebut. Observasi yang dilakukan berdasarkan pada permasalahan sebelum adanya Inovasi Pelayanan Publik Jempol Paten. Sampai dibentuknya Inovasi Pelayanan Jempol Paten di Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo.

b. Wawancara

Wawancara adalah pengunpulan data yang memberikan pertanyaan terorganisir yang dibuat untuk mencari jawaban dari penelitian. Dalam eksplorasi subjektif, teknik pengumpulan data dengan menggunakan wawancara merupakan sumber fundamental untuk memahami isu-isu terkini, tentunya narasumber yang diusulkan memiliki pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik terhadap ide atau isu yang diangkat. Narasumber yang akan diwawancarai tidak hanya satu sumber tetapi dari sumber yang berbeda yang memenuhi kriteria penelitian.

Wawancara yang akan dilakukan kepada Camat Sumbermalang, Tim pelaksana Jempol Paten dan Masyarakat sebagai penerima inovasi. Wawancara yang dilakukan kepada subyek penelitian ini dikarenakan memenuhi kriteria yang paham terhadap adanya Inovasi Pelayanan Publik Jempol Paten tersebut.

c. Dokumentasi

Dokumentasi adalah teknik pengumpulan informasi yang melihat dan mencatat baik dari laporan atau arsip, dan digunakan untuk membantu informasi dari penelitian menghasilkan secara jelas, tepat, dan dapat diandalkan. Karena, jika pengumpulan informasi dilakukan hanya seperti wawancara dan observasi, tingkat keabsahan informasi tersebut masih belum tercatat dalam penulisan karya ilmiah. Untuk itu diperlukan suatu

(17)

17

dokumentasi pendukung agar dapat menjadi laporan, gambar, dan karya ilmiah seseorang yang merujuk pada Inovasi Pelayanan Publik Jempol Paten di Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo.

1.7.5 Lokasi Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memperoleh data yang lebih jelas dan lebih lengkap dari adanya observasi. serta memudahkan untuk mendapatkan fakta-fakta yang obyektif. Lokasi penelitian ini adalah Kecamatan Sumbermalang, Kabupaten Situbondo.

1.7.6 Analisis Data

Teknis analisis data informasi yang telah dikumpulkan dari wawancara dan studi tertulis atau dokumentasi, dibedah dan diuraikan untuk menemukan signifikansi dan informasi penting terkait dengan masalah penelitian. Informasi yang dikumpulkan diperkenalkan sebagai gambaran dan kutipan langsung dari hasil penelitian. Data yang terkumpul disajikan dalam bentuk narasi dan kutipan langsung hasil wawancara. (Usman & Akbar S, 2011:85-88) Dalam bentuk model penelitian kualitatif versi Miles dan Huberman, terdiri dari tiga tahapan yaitu:

1. Reduksi Data

Reduksi data adalah interaksi pemilihan atau penyederhanaan , penekanan pada data, pengabstrakan, perubahan informasi kasar yang muncul dari catatan lapangan. Informasi yang berkurang akan memberikan gambaran yang lebih eksplisit dan memudahkan analis untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut dan menemukan informasi tambahan jika diperlukan. Semakin lama peneliti berada di lapangan, semakin banyak informasi yang dapat disederhakan. Selanjutnya, reduksi data harus dilakukan agar dapat menghasilkan data yang bermakna dan membuang infomasi data yang tidak perlu.

2. Penyajian Data

Setelah data direduksi selesai, langkah investigasi berikutnya adalah menampilkan informasi data tersebut. Penyajian data adalah pengaturan data

(18)

18

yang terorganisir yang memberikan kesempatan untuk mencapai kesimpulan dan mengambil langkah. Penyajian data dikoordinasikan sehingga informasi yang muncul karena penurunan terkoordinasi, didalangi dalam suatu desain hubungan dengan tujuan agar lebih jelas. Penyajian data harus dimungkinkan sebagai penggambaran cerita, garis besar, hubungan antara diagram alur. Dalam penyajian data peneliti berusaha untuk menyajikan informasi penting sehingga data yang didapat sesuai dan memiliki kepentingan khusus untuk menjawab permasalahan yang diambil pada penelitian.

3. Penarikan Kesimpulan

Tahapan ini merupakan tahapan membuat kesimpulan dari semua informasi yang didapatkan dari penelitian. Penentuan atau pengecekan sebagai upaya untuk menemukan atau memahami makna / arti, desain, klarifikasi,dan alur sebab akibat. Sebelum mencapai kesimpulan, informasi dikumpulkan dengan pengenalan informasi dan membuat penentuan atau pemeriksaan dari penelitian. Penentuan pencapaian adalah fase terakhir investigasi dari peneliti mengumpulkan informasi untuk ditarik kesimpulan. Sehingga penarikan kesimpulan merupakan tahap terakhir dari pengolahan data hasil penelitian.

Gambar

Tabel 1. 1 Jenis Pelayanan dan Bentuk Urusan Pada Kantor Kecamatan  Sumbermalang
Tabel 1. 2 Susunan Tim Inovasi JEMPOL PATEN Kecamatan  Sumbermalang
Tabel 1. 3 Data Jumlah Penduduk E-KTP dan Data Penduduk Belum E-KTP  Kecamatan Sumbermalang

Referensi

Dokumen terkait

Melalui kegiatan observasi di kelas, mahasiswa praktikan dapat. a) Mengetahui situasi pembelajaran yang sedang berlangsung. b) Mengetahui kesiapan dan kemampuan siswa dalam

Dua hal yang dipelajari penulis dengan pendekatan kemosistematika dalam peng- amatan adalah: (1) ketetapan karakter pada kelompok besar tetumbuhan yang memiliki arti dalam

Penelitian ini berjudul Pola Komunikasi Masyarakat Kampung Bali, yang penelitiannya meliputi wawancara pada Masyarakat Suku Bali di Desa Cipta Dharma atau

Pemodelan penyelesaian permasalahan penjadwalan ujian Program Studi S1 Sistem Mayor-Minor IPB menggunakan ASP efektif dan efisien untuk data per fakultas dengan mata

Pendekatan dapat diartikan sebagai metode ilmiah yang memberikan tekanan utama pada penjelasan konsep dasar yang kemudian dipergunakan sebagai sarana

Audit, Bonus Audit, Pengalaman Audit, Kualitas Audit. Persaingan dalam bisnis jasa akuntan publik yang semakin ketat, keinginan menghimpun klien sebanyak mungkin dan harapan agar

Perbandingan distribusi severitas antara yang menggunakan KDE dengan yang menggunakan suatu model distribusi tertentu dilakukan untuk melihat secara visual, manakah dari

61 Dari pernyataan-pernyataan di atas, dapat dilihat bahwa dilema yang Jepang alami pada saat pengambilan keputusan untuk berkomitmen pada Protokol Kyoto adalah karena