• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upaya Tiongkok dalam Mengatasi Bride Trafficking

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Upaya Tiongkok dalam Mengatasi Bride Trafficking"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Upaya Tiongkok dalam Mengatasi Bride Trafficking

Miranti Kusuma Astari

Departemen Hubungan Internasional

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Email : [email protected]

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan rumusan masalah upaya pemerintah Tiongkok dalam mengatasi kasus bride trafficking dengan adanya kepadatan penduduk di Tiongkok menjadi latar belakang perumusan kebijakan one child policy untuk mengontrol jumlah populasi yang berlebih. Meskipun efektif dalam mengendalikan jumlah populasi, namun kebijakan tersebut justru memicu berbagai permasalahan baru yaitu bride trafficking. Demi menemukan jawaban penulis merujuk pada analisis upaya pemerintah Tiongkok dalam mengatasi kasus trafficking dengan melibatkan pihak-pihak dari negara lain ini, mendapat perhatian dari pemerintah Tiongkok, karena masalah ini memunculkan berbagai krisis domestik yang memerlukan penanganan segera. Dengan pertimbangan adanya hubungan kausalitas kebijakan one child policy sebagai pemicu terjadinya bride trafficking, pemerintah memutuskan untuk merubah kebijakan tersebut menjadi two child policy. Melalui kebijakan yang baru ini, pemerintah Tiongkok mengusahakan adanya penurunan jumlah perdagangan manusia yang merugikan berbagai pihak dan perbaikan terhadap kualitas hidup seluruh penduduknya.

Kata-kata kunci: Perdagangan manusia, pengantin wanita, kebijakan satu anak, kebijakan dua anak

Abstract : This study aims to explain the formulation of the problem of the efforts of Chinese government in overcoming the case of bride trafficking in the presence of overcrowding in China as the background for the formulation of the one child policy to control the excessive population.

Even though it is effective in controlling population numbers, the policy actually triggers new problems, known as bride trafficking. In order to find the answers the author refers to an analysis of the Chinese government's efforts in overcoming trafficking cases by involving parties from other countries, getting attention from the Chinese government, because this problem raises various domestic crises that require immediate handling. Considering the causal relationship of one child policy as a trigger for bride trafficking, the government decided to change the policy into a two child policy. Through this new policy, the Chinese government seeks to reduce the number of trafficking in persons that harms various parties and improves the quality of life of all its inhabitants.

Keywords : human trafficking, bride, Tiongkok, one child policy, two child policy

(2)

Pendahuluan

Tiongkok merupakan negara dengan tingkat fertilitas yang sangat tinggi, sehingga menjadikan Tiongkok sebagai negara dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi di dunia. Berbicara mengenai suatu negara tentu saja banyak aspek yang berpengaruh dalam perkembangan dalam suatu negara tersebut, suatu negara yang memiliki jumlah penduduk yang berlimpah akan menjadi satu permasalahan dalam pertumbuhan ekonomi. Suatu negara yang berpenduduk tidak produktif dari pada usia produkifnya akan menambah tingkat pengangguran. Meskipun memiliki tingkat pertumbuhan perekonomian cukup tinggi, namun tingginya kepadatan jumlah penduduk Tiongkok yang mencapai lebih dari satu miliar tidak dapat menyeimbangi pertumbuhan perekonomian Tiongkok tersebut. Permasalahan kepadatan penduduk ini yang kemudian menyebabkan pemerintah Tiongkok pada tahun 1979 menetapkan One Child Policy (Pazli, 2013).

One child Policy yang diterapkan ini mengharuskan satu keluarga hanya boleh punya satu anak, jika satu keluarga melanggar peraturan tersebut akan dikenai sanksi. Orang tua di Tiongkok lebih memilih anak laki sebagai anak pertamanya, karena di Tiongkok anak perempuan dinilai kurang ekonomis (Dwi, 2013). Alasan lebih memilih untuk mempunyai anak laki-laki sebagai anak pertama yaitu: (1) dapat meneruskan marganya; (2) dapat menanggung biaya hidup orang tuanya semasa tua, (3) dipandang baik untuk investasi masa depan. Adapun alasan tidak memilih anak perempuan karena anak perempuan di Tiongkok dianggap hanya dapat melakukan pekerjaan rumah seperti ibu rumah tangga yang tidak terbebani dengan tanggung jawab orangtuanya dimasa tua (Dwi, 2013). Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan gender yaitu lebih banyak jumlah penduduk laki-laki dibandingkan jumlah penduduk perempuan. Adanya ketidaseimbangan gender ini menyebaban masalah baru yaitu kekurangan wanita di Tiongkok, salah satunya yaitu laki-laki di Tiongkok lebih memilih menuju ke luar negeri untuk mencari istri dengan alasan mas kawin yang dikeluarkan untuk menikahi wanita di Tiongkok lebih besar sehingga hal ini menyebakan peningkatan jumlah perdagangan manusia (Ira, 2017).

Perdagangan manusia yang terjadi di Tiongkok salah satunya adalah membeli pengantin asing karena kekurangan wanita. Pada tahun 2016 seorang gadis berasal dari salah satu negara diculik untuk dijadikan pengantin pria di Tiongkok. Dikarenakan adanya kesamaan budaya sehingga pernikahan yang terjadi tidak perlu mengeluarkan biaya yang terlalu banyak untuk menikah.Wanita yang dijual kebanyakan masih berusia sangat muda, permasalahan yang terjadi ini banyak yang menganggap masalah yang serius ada juga yang menganggapnya tidak terlalu serius (Ira, 2017). Banyak pertimbangan laki-laki di Tiongkok untuk memilih wanita diberbagai negara dengan tujuan ingin mencari istri yang sempurna, terkenal dengan lembut, setia, dan cantik. Untuk menikahi wanita dari luar negeri juga terbilang tidak sedikit biaya yang dikeluarkan, adapun biaya yang dikeluarkan bisa mencapai sekitar US$147.00 (Xizhe, 2011).

Perdagangan manusia dan penyelundupan di Tiongkok telah menarik perhatian masyarakat internasional karena sejumlah faktor. Pertama, masalah human trafficking yang terjadi di Tiongkok sulit untuk diselesaikan. Human trafficking di Tiongkok melewati rute yang rumit, jaringan yang sangat terorganisir dan pemindahan korban yang melewati jarak yang sangat jauh.

Hal ini senada dengan yang dikemukakan oleh organisasi-organisasi internasional yang sulit untuk mengontrol dan mengawasi kasus human trafficking, permasalahan yang ada misalnya disebabkan oleh masalah transportasi yang digunakan karena seiring jaman juga berubah menjadi lebih canggih. Kedua, banyaknya penganiayaan bahkan kematian yang terjadi karena menjadi korban human trafficking. Banyak wanita yang dijanjikan pekerjaan yang lebih layak dan rela membayar sejumlah uang untuk mencapai tujuannya tersebut justru dijual dan para korban trafficking ini akan mendapatkan uang yang lebih banyak lagi. Keuntungan yang sangat besar ini adalah salah satu faktor yang menjadi godaan untuk tetap melakukan kejahatan transnasional ini dan bahkan memperluasnya (Yong,2014).

Sindikat kriminal biasanya mengendalikan bisnis perdagangan yang menguntungkan dan target penjualannya. Banyak kasus yang terjadi, para korban human trafficking menjadi pekerja paksa dan bahkan menjadi budak yang tidak digaji dan tentu memberikan dampak buruk seperti penderitaan fisik atau secara traumatis terhadap mereka. Para korban kemudian berkontribusi dalam tenaga kerja gelap, dengan kata lain pada saat yang sama human trafficking terjadi bisa

(3)

karena berawal dari penculikan dan berakhir dengan eksploitasi (Philip, 2002). Hal yang lebih parah adalah kasus human trafficking akan membuat peningkatan kriminal di negara tujuan.

Banyak peneliti percaya bahwa orang-orang Tiongkok dan kelompok kejahatan sindikat adalah pengendali utama dari human trafficking yang terjadi di dunia. Adanya ketidakseimbangan gender di mana jumlah laki-laki lebih banyak dari perempuan membuat para pemuda yang telah dewasa kesulitan untuk menemukan pasangan hidup (Philip, 2002) . Wanita di Tiongkok lebih memilih untuk menikah dengan lelaki yang berstatus sosial tinggi, dengan tujuan untuk mendapatkan hidup yang layak. Pada tahun 1990an, jumlah petani miskin yang tidak menikah yang sudah berusia 40 tahun 19%, pada tahun 2000an laki-laki dengan pendidikan rendah berusia 30 tahun belum pernah menikah berjumlah 44,8%. Laki-laki dengan status sosial terendah terdiri dari 40 sampai 50 juta laki-laki, dan ini merupakan salah satu strata terendah di Tiongkok. Dibeberapa daerah miskin dan terpencil di Tiongkok para laki-laki dengan status sosial terendah membuat satu perkumpulan yang disebut bare branch village. Bare branch adalah sebutan bagi para lelaki yang masih bujangan atau belum menikah dengan usia yang sudah cukup tua (Guardian, 2013). Hal tersebut menunjukkan bahwa kasus human trafficking di Tiongkok sudah berada dalam tahap mengkhawatirkan.

Pengantin wanita yang disediakan kepada pembeli berusia antara 28-36 tahun. Di beberapa desa, bahkan ada sekitar 30-90% jumlah pernikahan dengan pengantin wanita yang merupakan korban penculikan dari daerah lain. Para wanita yang diperdagangkan kebanyakan berasal dari daerah miskin kemudian dijual ke daerah yang memiliki kekurangan wanita. Seiring perkembangan ekonomi Tiongkok meningkat sehingga jumlah wanita yang diperdagangkan juga meningkat. Selain wanita yang diperdagangkan berasal dari beberapa daerah di Tiongkok itu sendiri, pengantin pesanan juga berasal dari negara-negara tetangga termasuk Vietnam, Korea Utara, dan Myanmar. Permasalahannya kemudian perdagangan wanita di Tiongkok sendiri sudah terjadi sejak masa lampau sehingga membeli perempuan untuk dijadikan pembantu atau selir adalah hal yang wajar (Lietz, 2007). Mengingat adanya ketidakseimbangan rasio jenis kelamin di Tiongkok, hal ini kemudian menyebabkan semakin meningkatnya permintaan pengantin pesanan dari negara-negara tetangga.

Pembahasan

Pada Abad ke 19 Tiongkok dipimpin oleh seorang pemimpin bernama Mao Zedong. Mao Zedong ini terkenal dengan seorang pemimpin yang sangat tegas dan cenderung otoriter, namun Mao Zedong ini terkenal sangat berambisi dan mempunyai sifat nasionalisme yang luar biasa. Ia merupakan seseorang pemimpin yang dikenal berani dan disegani oleh para pemimpin- pemimpin negara lain. Mao Zedong, ketua Partai Komunis antara 1949-1976, diucapkan gagasan bahwa populasi yang lebih besar lebih baik untuk ekonomi Tiongkok, dan ukuran populasi meningkat pesat (Zhang, 2017). Karena luasnya suatu wilayah tersebut Tiongkok mengalami permasalahan yang sangat besar yaitu jumlah penduduk yang begitu padat dan permasalahan ini pemerintah kurang memperhatikannya. Pada awalnya Mao Zedong tidak mempermasalahkan hal ini karena menurutnya dengan banyaknya jumlah penduduk yang begitu padat itu dianggap sebagai memperkuat negaranya. Namun, one child policy sulit untuk melakukannya menegakkan nasional, terutama di daerah pedesaan di mana kebijakan terancam secara signifikan mengurangi tenaga kerja rumah tangga (Yang, 2004). Keluarga di daerah pedesaan juga mengharapkan anak laki-laki, dan adanya kebijakan ini mengurangi kemungkinan pasangan memiliki anak laki-laki.

One child policy juga berlaku di daerah pedesaan, otoritas Tiongkok mulai diberi kelonggaran pada pertengahan 1980an, secara berangsur-angsur memungkinkan pasangan suami-istri pedesaan untuk memiliki kedua anak jika anak pertama adalah perempuan, selama pasangan itu menunggu jumlah yang cukup waktu antara dua kelahiran. Dengan adanya kebijakan ini jumlah penduduk di Tiongkok meningkat sangat drastis dan berpengaruh negatif terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya (Kane, 1999).

Pada tahun 1979 kepemimpinan Tiongkok diambil alih oleh Deng Xiaoping, Deng Xiaoping menerapkan program yang berbeda dari pemimpin yang sebelumnya yaitu one child policy. Deng Xiaoping ini memperkenalkan program ini pertama kali pada tahun 1979 dengan peraturan dan

(4)

aturan yang mengatur jumlah keluarga di Tiongkok. Kebijakan ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan ekonomi dan sosial yang muncul akibat jumlah penduduk yang makin bertambah karena kebijakan pada era kepemimpinan sebelumnya. Pada tahun 1980 Tiongkok mencoba untuk tidak memperketat kebijakan tersebut yang berarti memperbolehkan orang tua mempunyai anak kedua. Namun, kebijakan ini berlaku pada sebuah keluarga yang tinggal di wilayah terpencil Tiongkok dan etnis minoritas yang berpopulasi minim di Tiongkok dengan memenuhi beberapa ketentuan yaitu: (1) anak pertamanya adalah perempuan; (2) cacat mental;

(3) cacat fisik. Jika tidak mematuhi peraturan yang sudah di tetapkan maka akan terkena denda yang cukup mahal. Apabila keluarga tersebut tidak mampu membayar dendanya, mereka diberi pilihan (1) aborsi anaknya; (2) mensterilkan agar tidak terjadi kehamilan lagi; (3) membuangnya.

Ada beberapa faktor yang melatar belakangi one child policy, yakni faktor ekonomi dan kemiskinan. Faktor ekonomi ini menyebabkan para orang tua di pedesaan lebih memilih anak lelaki sebagai anak pertamanya, karena di Tiongkok anak perempuan dinilai kurang ekonomis (Zhang, 2007).

Alasan lebih memilih untuk mempunyai anak laki-laki sebagai anak pertama yaitu: (1) dapat meneruskan marganya; (2) karena dapat menanggung biaya hidup orang tuanya semasa tua; dan (3) dipandang baik untuk investasi masa depan. Adapun alasan tidak memilih anak perempuan karena anak perempuan di Tiongkok dianggap cukup melakukan pekerjaan rumah seperti ibu rumah tangga yang tidak terbebani dengan tanggung jawab orangtuanya dimasa tua. Kebijakan One Child Policy ini secara umum bertujuan untuk mencegah lebih dari 400 juta kelahiran, tetapi kebijakan ini tidak berlaku pada keluarga asli Tiongkok yang melahirkan anaknya diluar negeri.

Walaupun keluarga tersebut membawa anaknya kembali ke Tiongkok, anak tersebut tetap tidak mendapatkan kewarganegaraan Tiongkok. Setelah tahun1990, one child policy menjadi relatif stabil. Meskipun one child policy ini diterapkan di Tiongkok, implementasi kebijakan lokal, seperti penalti untuk melebihi kelahiran kuota, atau untuk wanita dan pasangan yang belum menikah, sering bervariasi di pedesaan dan daerah perkotaan, daerah, provinsi, dan bahkan etnis (La Rosa, 2018). Pada tahun 2015 Tiongkok memiliki sekitar 150 juta keluarga dengan satu anak dengan perkiraan dua pertiga dari mereka yang dianggap sebagai hasil langsung dari kebijakan tersebut. Rasio seks Tiongkok saat lahir lebih tidak seimbang daripada rata-rata global. Ada sekitar 113 anak laki-laki yang lahir di Tiongok untuk setiap 100 anak perempuan. Sementara beberapa dari rasio ini mungkin bersifat biologis rasio populasi global saat ini sekitar 107 anak laki-laki yang lahir untuk setiap 100 anak perempuan. ada bukti aborsi selektif jenis kelamin, penelantaran, pengabaian, dan bahkan pembunuhan bayi perempuan bayi. Tingkat kesuburan total terakhir untuk wanita Tiongkok adalah pada akhir 1960-an, ketika itu 5,91 pada tahun 1966 dan 1967. Ketika aturan satu-anak pertama kali dikenakan, tingkat kesuburan total wanita di Tiongkok adalah 2,91 pada tahun 1978. Pada tahun 2015, tingkat kesuburan total telah turun menjadi 1,6 anak per wanita, jauh di bawah nilai penggantian 2,1. Imigrasi menyumbang sisa tingkat pertumbuhan populasi di Tiongkok. (Rosenbergh, 2018).

Pemberdayaan perempuan mungkin bukan hal pertama yang muncul dalam pikiran ketika membahas one child policy (1979-2016), yang terutama dikenal karena menciptakan kesulitan bagi perempuan Tiongkok. Tetapi banyak pihak yang berpendapat bahwa Tiongkok berpendapat bahwa one child policy sangat bermanfaat bagi status wanita dalam masyarakat Tiongkok, dan perubahan kebijakan menjadi two child policy adalah kemunduran bagi hak-hak wanita di Tiongkok. Ketika pemerintah Tiongkok mengumumkan akan mengakhiri one child policy pada tahun 2015. Two child policy memungkinkan semua pasangan memiliki maksimal dua anak. Tapi sekarang, lebih dari setahun setelah itu mulai berlaku, ada juga suara yang mengatakan bahwa kebijakan keluarga berencana yang baru sebenarnya merupakan kemunduran bagi hak-hak perempuan di Tiongkok dan bahwa Kebijakan Satu-Anak, yang kontroversial seperti yang mungkin terjadi, memiliki sangat meningkatkan peran wanita dalam masyarakat dalam berbagai cara. Salah satu konsekuensi dari one child policy di Tiongkok, yang dirancang untuk mengekang pertumbuhan populasi di Tiongkok (Catalyst, 2016). Statistik populasi terbaru setelah pengenalan two child policy menunjukkan bahwa 17,86 juta anak lahir pada tahun 2016 peningkatan 7,9% dibandingkan dengan tahun sebelumnya ketika one child policy masih

(5)

diterapkan. Tetapi pertumbuhan penduduk saat ini mungkin tidak cukup untuk memerangi tantangan demografi dalam beberapa dekade ke depan. Salah satu media Tiongkok sekarang mendorong pasangan untuk memiliki lebih banyak anak di mana banyak wanita merasa bahwa mereka terdegradasi menjadi “mesin perkembangbiakan”, dan bahwa “propagasi yang kuat” bagi wanita untuk “kembali ke rumah untuk memiliki anak-anak” bertentangan dengan citra orang Tiongkok yang beremansipasi wanita. Dalam masyarakat Tiongkok patriarkal, ada preferensi yang mengakar untuk anak laki-laki. Anak laki-laki diharapkan untuk meneruskan garis keluarga, menjadi buruh, dan mendukung generasi yang lebih tua (Sudbeck, 2012).

Dengan implementasi one child policy, pemerintah sangat mendorong ide kesetaraan laki-laki dan perempuan. Slogan menyebarkan bahwa anak perempuan juga bisa membawa kehormatan garis keluarga, dan bahwa anak perempuan dan anak laki-laki sama-sama penting bagi masa depan Tiongkok (Kristine. 2012). Masyarakat Tiongkok berpendapat bahwa sikap pemerintah yang disebarkan secara luas ini meningkatkan status perempuan, ketika anak perempuan memainkan peran yang lebih penting dalam keluarga dan menerima lebih banyak perhatian dan pendidikan yang lebih baik (Koetse, 2017). Hal ini juga ditegaskan kembali oleh Kristine Sudbeck dalam artikel Dampak one child policy yaitu pentingnya wanita di Tiongkok, one child policy ini secara tidak langsung telah menguntungkan peran wanita dalam masyarakat karena antara lain, anak perempuan tunggal menerima investasi orang tua yang lebih besar dalam hal kekayaan, kebanggaan, dan pendidikan. Tingkat pendidikan yang lebih baik bagi perempuan juga membuka pintu bagi pekerjaan non-tradisional bagi perempuan, dengan mana terjadi kesetaraan jender yang lebih besar, tidak hanya di dalam keluarga, tetapi di dalam masyarakat luas (Kristine, 2012).

Pada tahun 2014, 64% wanita di Tiongkok berada dalam angkatan kerja, dan persentase wanita dalam posisi manajemen di Tiongkok jauh lebih tinggi daripada negara tetangga seperti Korea Selatan, Jepang, India, atau Taiwan (Catalyst, 2016). Tetapi Femforum Feminis menulis bahwa sejak diperkenalkannya two child policy , panggilan untuk cuti bersalin yang diperpanjang dan bagi perempuan untuk kembali ke rumah untuk menjadi ibu yang baik semakin bertambah setiap hari, berpotensi merugikan posisi perempuan di Tiongkok dalam jangka panjang.

Meskipun usia legal menikah di Tiongkok adalah 20 untuk wanita dan 22 untuk pria, pernikahan yang terlambat (23+ untuk wanita dan 25+ untuk pria) telah secara khusus didorong oleh otoritas Tiongkok untuk menguntungkan negara, keluarga, dan individu. Penyebaran perkawinan dan kelahiran yang terlambat berarti bahwa perempuan pertama-tama dapat berkonsentrasi pada studi dan karir mereka sebelum mengambil peran sebagai istri atau ibu (Koetse, 2017). Untuk menemukan pekerjaan ketika wanita sudah menikah dengan mempunyai anak. Tetapi menurut Koetse, tingkat pekerjaan perempuan tanpa anak sebenarnya jauh lebih tinggi daripada mereka yang memiliki bayi. Menikah dan memiliki bayi setelah usia 25 tahun, lebih baik untuk kesehatan mental dan fisik wanita, serta untuk pendidikan dan kariernya di masa depan. Mendorong wanita untuk mulai memiliki anak sejak awal mungkin secara negatif mempengaruhi masa depannya dan kemandiriannya sebuah kemunduran bagi emansipasi wanita. Sejak diperkenalkannya two child policy, hubungan laki-laki-perempuan lebih tidak selaras, tingkat kematian ibu hamil telah meningkat, dan diskriminasi di pasar kerja telah meningkat secara dramatis (Koetse, 2017).

Lelaki Tiongkok menemukan cinta di tempat-tempat tak terduga telah muncul di media sosial Tiongkok dan pers internasional, mereka mempercayai kenyataan yang lebih gelap: perdagangan seks yang merajalela di Tiongkok dan negara-negara tetangganya. Pernikahan di Tiongkok telah dirubah oleh campuran perubahan demografi, kebiasaan tradisional, dan kekuatan pasar. Inti permasalahannya adalah keseimbangan gender yang sangat miring dengan lebih banyak laki-laki yang menikahi usia daripada wanita. Sebagai akibatnya, laki-laki telah beralih ke ekstrem yang berbeda ketika datang untuk menemukan pengantin. Karena beberapa pria di Tiongkok termasuk tipe kelas menengah telah beralih ke Eropa Timur, bujangan miskin di daerah pedesaan telah menggunakan pengantin wanita pesanan dari Asia Tenggara, yang telah memicu perdagangan seks (Max, 2006).

Penggerak perdagangan seks yang signifikan di Tiongkok adalah efek berlama-lama dari eksperimen sosial terbesarnya adalah one child policy. Diperkenalkan pada tahun 1979 dan baru

(6)

saja mereda pada tahun 2015, one child policy telah melumpuhkan Tiongkok dengan tantangan demografis yang serius. Secara tradisional masyarakat patriarkal, keluarga Tiongok telah lama lebih suka memiliki anak laki-laki, tetapi pengenalan one child policy menyebabkan orang tua menjalani aborsi selektif gender. Hal ini menghasilkan kesenjangan gender yang menurut perkiraan pemerintah, pada tahun 2020 akan ada setidaknya 30 juta lebih pria usia menikah daripada wanita. Menambah ketidakseimbangan gender, one child policy menetapkan tingkat kesuburan di bawah tingkat penggantian. Jadi Tiongkok kemudian dihadapkan dengan angkatan kerja yang cepat menyusut dan menua, kecenderungan ekonomi dan sosial yang melumpuhkan (Chow, 2017). Perempuan dapat diculik atau diperdagangkan ketika ada kekurangan perempuan (Jiang & Li, 2009). Ketika migrasi kerja dan pernikahan meningkat, perempuan menghadapi risiko lebih besar diculik dan diperdagangkan. Di Negara-negara Asia Selatan dan Tenggara, rasio seks yang tidak seimbang meningkat permintaan untuk perempuan korban trafiking (Departemen Luar Negeri AS, 2007). Defisi perempuan di beberapa negara Asia meningkatkan permintaan perempuan angkatan kerja dan perempuan yang menikah, menyebabkan peningkatan migrasi perempuan yang mencari peluang kerja dan pernikahan. Dengan migrasi perempuan meningkat baik secara domestik maupun internasional, risiko diperdagangkan untuk tujuan eksploitasi seksual, dipaksa tenaga kerja, atau pernikahan meningkat (Le Bach et.al, 2007). Tidak seperti dibanyak negara, terutama negara-negara maju di mana perempuan berada diperdagangkan lebih untuk eksploitasi seksual (Hodge & Lietz, 2007), di Tiongkok, perempuan yang diperdagangkan untuk menikah dengan mereka yang kurang beruntung, laki-laki tunggal secara sukarela mewakili proporsi yang cukup tinggi (Jiang & Li, 2009).

Di masa lalu Tiongkok, membeli wanita sebagai budak atau selir adalah legal, jadi bahkan hari ini ideologi tradisional ini berakar kuat pada beberapa orang. Orang-orang Tiongkok dengan beberapa tentang membeli pengantin sebagai perilaku normal.Laki-laki, diperas di pasar perkawinan di Cina, mencoba untuk membeli pengantin, dari rumah atau bahkan di luar negeri (Lee, 2005; Le Bach et al., 2007). Baru-baru ini, human trafficking yang ditujukan untuk pernikahan telah menurun sementara perdagangan yang ditujukan untuk eksploitasi tenaga kerja dan seks meningkat. Kasus perdagangan yang melibatkan industri seks dan hiburan menunjukkan kecenderungan yang meningkat (terhitung 50-60% dari total kasus perdagangan manusia), yang merupakan terutama di kalangan perempuan korban trafiking pada kelompok usia 16 hingga 20 (Cai, 2005). Fakta tambahan bahwa perempuan dapat menikahi laki-laki dengan status sosial-ekonomi yang lebih tinggi menghasilkan situasi di mana laki-laki dari strata sosio dan ekonomi terendah dan daerah miskin menjadi kurang beruntung di pasar perkawinan (Shi, 2006; Jiang, Li, & Feldman, 2011). Dari akhir 1970-an hingga awal 1980-an, kejahatan perdagangan manusia merajalela. Mulai tahun 1977, kejahatan mengalami periode puncak, periode rally dan tahap menurun, mengikuti bentuk sadel. Menurut data yang tidak lengkap dari 14 wilayah, jumlah total perempuan yang menjadi korban trafiking mencapai 97.000 pada tahun 1977. Pada tahun 1983, 12 kali lebih banyak pedagang pada manusia ditangkap dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ini, dengan demikian, dapat dianggap sebagai periode puncak pertama perdagangan manusia. Dari tahun 1988 hingga 1990, kejahatan menunjukkan tren yang meningkat, dan karenanya dapat dihitung. Setelah memasuki tahun 1990-an, terutama sejak 1992, perdagangan manusia di Tiongkok telah menurun dari tahun ke tahun (Sun, 2004). Data statistik nasional menunjukkan bahwa jumlah perdagangan yang terdaftar Kasus adalah 9.194, 7.465, 5.039, dan 4.235 pada tahun 2001, 2002, 2003, dan 2004 masing-masing, yang 7,539, 5,599, 3,225, dan 2,499 adalah perempuan. kasus perdagangan orang (Zhang, 2006). Antara April 2009 dan Desember 2010, 9.165 kasus perdagangan perempuan telah ditemukan dan lebih dari 18.000 wanita diselamatkan (Feng, 2011).

Data daerah menunjukkan bahwa dalam waktu lima tahun lebih dari 20.000 wanita telah tersebar di daerah Sanhe, Xianghe dan Dingzhou di Provinsi Hebei, di antaranya lebih dari seperempat, atau 5.000, diperkirakan telah diperdagangkan di sana (Cui, 2000). Pada paruh kedua 1988, 509 wanita mengalir ke 23 kotapraja Hunyuan County di provinsi Shanxi dan 456 atau 86 persen dari mereka diperdagangkan di sana. Setelah tahun 1995, provinsi Jiangsu secara bertahap menjadi pasar pembeli yang penting bagi perempuan dan anak-anak yang

(7)

diperdagangkan, dan jumlah korban yang diperdagangkan ke Jiangsu dari provinsi Yunnan meningkat pesat, mencapai periode puncak dari 1998-2000. Di kota Yuzhou, misalnya, 25.347 perempuan dari tempat lain telah mengalir ke enam kabupatennya dari1985 hingga 1988 dan 5.991, atau 24 persen dari mereka, diperdagangkan di sana. Selama periode puncak, 2.000-3.000 wanita diperdagangkan ke Yuzhou dalam satu tahun (Wang, 2005). Di desa Xiaolou di Kabupaten Suining di Provinsi Jiangsu, desa paling terpencil di daerah itu, hanya ada 60 rumah tangga.

Kecuali mereka yang diselamatkan pada tahun 1996, masih ada 40 atau lebih perempuan yang diperdagangkan yang tidak diselidiki di desa, yang berarti di sana hampir satu wanita yang diperdagangkan di setiap keluarga (Cheng & Song, 1996). Menurut statistik yang diberikan oleh Biro Keamanan Publik di sebuah wilayah di Sungai Kuning, 2.803 wanita dari tempat-tempat seperti Sichuan dan Guizhou diperdagangkan ke 1.021 desa, dengan setiap desa menerima dua atau tiga wanita (Wang et.al, 2004).

Area human trafficking di luar banyak ditemukan di provinsi dan daerah tertinggal secara ekonomi, terutama termasuk Provinsi Sichuan, Guizhou, Yunnan, Guangxi dan Shaanxi perdagangan luar juga menyebar ke provinsi lain, seperti Henan, Hubei, Hunan, dan Mongolia Dalam (Gao, 1998). Area human trafficking di dalam kebanyakan ditemukan di provinsi dan daerah yang dikembangkan secara ekonomi, termasuk Jiangsu, Henan, Hebei, Guangdong dan Fujian dll. (Cui, 2000; Zhong & Chen, 2000). Kejahatan human trafficking pada awalnya terkonsentrasi di beberapa provinsi tetapi sekarang telah menyebar ke hampir setiap provinsi, terutama di wilayah pesisir tenggara. Provinsi Henan, Hebei, Shanxi, Anhui dan Jiangsu, telah menjadi provinsi perdagangan luar. Sebaliknya, di beberapa provinsi perdagangan orang-orang seperti Sichun dan Chongqing, sejumlah besar wanita sekarang diperdagangkan (Sun, 2004).

Penyelidikan yang menargetkan Provinsi Shandong menunjukkan bahwa perempuan dari tempat lain terutama mengalir selama dua periode. Dari tahun 1982 hingga pertengahan dan akhir 1990- an, para perempuan yang mengalir dari provinsi-provinsi lain sebagian besar adalah para imigran yang diperdagangkan; setelah akhir 1990-an, para wanita yang mengalir masuk dapat dibagi menjadi dua kategori: para migran yang menikah dan pekerja yang bermigrasi. Selama periode kedua, jumlah pendatang yang diperdagangkan telah menurun tetapi masih cukup besar, dan perdagangan menggunakan kesempatan kerja seperti bekerja untuk upah tinggi dipabrik mainan atau pakaian sebagai umpan telah muncul (Wang, 2005).

Salah satu ciri perempuan korban perdagangan adalah kecenderungan ke arah usia yang lebih rendah. Pada tahun 1970-an, semakin banyak perempuan dari daerah yang dilanda kemiskinan dan terpencil yang ingin memperbaiki kondisi kehidupan mereka melalui pernikahan. Sejumlah besar wanita desa menyediakan pedagang manusia dengan peluang yang sangat baik. Selama periode ini, para perempuan korban trafiking umumnya berusia 20-an dan dari provinsi-provinsi barat daya (Sichuan, Guangxi, Guizhou dan Yunan, dll), dan mereka dijual kepada para petani di Cina bagian tengah dan utara sebagai istri (Li, 2000). Pada 1980-an, perempuan yang diperdagangkan sebagian besar adalah orang dewasa, dengan gadis-gadis muda di bawah usia 18 tahun kurang dari 10 persen. Sejak tahun 1990-an, khususnya dalam tahun-tahun belakangan ini, semakin banyak anak perempuan di bawah usia 18 tahun yang diperdagangkan. Menurut data dari Hunan, 46 persen wanita yang diperdagangkan keluar dari provinsi itu adalah gadis-gadis muda. Situasi ini bahkan lebih buruk di provinsi Yunnan, di mana 60 persen perempuan yang diperdagangkan adalah bukan orang dewasa. Selain dijual ke daerah miskin untuk menjadi istri dari cabang-cabang telanjang laki-laki, gadis-gadis muda ini juga dijual ke industri pornografi (Ding, 1999). Tiongkok menemukan bahwa rasio pekerja migran perempuan yang berusia 16 hingga 20 meningkat dari 13 persen pada tahun 1990 menjadi 76 persen pada tahun 2000.

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan setelah keputusan pemerintah Tiongkok Deng Xiaoping menerapkan one child policy pada tahun 1980 dengan tujuan untuk mengatasi permasalahan ekonomi dan social yang muncul akibat jumlah penduduk yang makin bertambah, karena kebijakan pada era sebelumnya. Kebijakan ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan ekonomi dan sosial yang muncul akibat jumlah penduduk yang makin bertambah karena

(8)

kebijakan pada era kepemimpinan sebelumnya. Pada tahun 1980 Tiongkok mencoba untuk tidak memperketat kebijakan tersebut yang berarti memperbolehkan orang tua mempunyai anak kedua. Namun, kebijakan ini berlaku pada sebuah keluarga yang tinggal di wilayah terpencil Tiongkok dan etnis minoritas yang berpopulasi minim di Tiongkok dengan memenuhi beberapa ketentuan yaitu: (1) anak pertamanya adalah perempuan; (2) cacat mental; (3) cacat fisik. Jika tidak mematuhi peraturan yang sudah di tetapkan maka akan terkena denda yang cukup mahal.

Apabila keluarga tersebut tidak mampu membayar dendanya, mereka diberi pilihan (1) aborsi anaknya; (2) mensterilkan agar tidak terjadi kehamilan lagi; (3) membuangnya. Ada beberapa faktor yang melatar belakangi one child policy, yakni faktor ekonomi dan kemiskinan. Faktor ekonomi ini menyebabkan para orang tua di pedesaan lebih memilih anak lelaki sebagai anak pertamanya, karena di Tiongkok anak perempuan dinilai kurang ekonomis.

Alasan lebih memilih untuk mempunyai anak laki-laki sebagai anak pertama yaitu: (1) dapat meneruskan marganya; (2) karena dapat menanggung biaya hidup orang tuanya semasa tua; dan dipandang baik untuk investasi masa depan. Adapun alasan tidak memilih anak perempuan karena anak perempuan di Tiongkok dianggap cukup melakukan pekerjaan rumah seperti ibu rumah tangga yang tidak terbebani dengan tanggung jawab orangtuanya dimasa tua. Kebijakan One Child Policy ini secara umum bertujuan untuk mencegah lebih dari 400 juta kelahiran, tetapi kebijakan ini tidak berlaku pada keluarga asli Tiongkok yang melahirkan anaknya diluar negeri.

Sejak diterapkan kebijakan one child policy ini berhasil menurunkan prosentase jumlah kelahiran sebanyak 400 juta, tetapi dibalik keberhasilan iini demografi usia tua yang disebut ageing population justru semakin bertambah. Kondisi seperti ini mengkhawatirkan karena berpengaruh terhadap masalah sosial dan menurunnya angkatan kerja yang tidak dapat mengikuti laju perkembangan ekonomi Tiongkok yang akan datang. Pengetatan kebjiakan ini bermaksud untuk memperbaiki ketidakseimbangan perkembangann penduduk Tiongkok. Dengan adanya kebijakan ini maka timbulah masalah yaitu banyak laki-laki di Tiongkok yang membeli pengantin wanita di berbagai negara dengan alasan jika menikahi wanita asli di Tiongkok akan mengeluarkan mahar yang banyak dan biayanya cukup mahal, maka dari itu laki-laki di Tiongkok mengambil keputusan untuk membeli wanita dari luar negara untuk di jadikan isti atau hanya untuk keperluan seksnya saja.

Pada akhrinya setelah 35 tahun Xi Jinping sebagai pemerintahan Tiongkok pada saat itu memutuskan untuk merubah kebijakan menjadi two child policy pada tahun 2016, semua pasangan di Tiongkok diperbolehkan memiliki dua anak. Ini menandai berakhirnya kebijakan satu anak Tiongkok. Adanya perubahan kebijakan ini sekarang akan diizinkan untuk memiliki dua anak, katanya, mengutip pernyataan dari Partai Komunis. Kebijakan kontroversial diperkenalkan secara nasional pada tahun 1979, untuk memperlambat laju pertumbuhan penduduk. Diperkirakan telah mencegah sekitar 400 juta kelahiran. Cara ini sebenarnya untuk mengurangi kasus bride trafficking di Tiongkok agar laki-laki disana tidak mencari pengantin dari luar lagi. Akan tetapi dalam kasus ini agak sedikit sulit untuk merubah cara pikir orang tua yang ada di Tiongkok untuk mempunyai anak perempuan karena pola pikir mereka sudah terbiasa dengan kebijakan one child policy. Pada akhirnya dengan merubah kejibakan dari one child policy ke two child policy pemerintah Tiongkok berhasil mengurangi kasus bride trafficking.

Referensi :

Anon. 2008. The AntiTrafficking In Persons Act (Online). Tersedia dalam:

http://www.notrafficking.org/content/Laws_agreement/laws_agreement_pdf/traffick ing_in_ persons_act_b.e%2025 51%20(eng), (Diakses pada 23 Oktober 2018).

Astiana, Ira. 2017. Jumlah Wanita Terlalu Sedikit, Pria di China Beli Pengantin Asing (Online).

Tersedia dalam: https://www.merdeka.com/dunia/jumlah-wanita-terlalu-sedikit-pria -di-china-beli-pengantin-asing.html (Diakses 23 Oktober 2018).

(9)

Bespalova N., Morgan J., Coverdale J. The road to freedom: Evaluation to help identify victims of trafficking (Online). Tersedia dalam: https://www.politiet.no/globalassets/03-rad-og -forebygging/menneskehandel/guide-to---identification-of-possible-victims-of-

trafficking.pdf+&cd=10&hl=en&ct=clnk&gl=id (Diakses pada 6 September 2018)

Bisri, I., 2007. Sistem Hukum Indonesia, Prinsip Prinsip & Implementasi Hukum di Indonesia.

Jakarta: PT. Raha Grafindo Persada, Jakarta

Cai, Y. P. 2005. “New challenges to eradicating violence against women in China: Trafficking in young women for the purpose of labor exploitation”, dalam Collection of Women’s Studies, 14(S1), 83-87 .

Cai, Yong. 2014. “China's demographic challenges: Gender imbalance,” dalam Jacques deLisle dan Avery Goldstein (eds.), Chinese Challenge. Philadelphia: University of Pennsylvania.

Press.

Cameron, S. 2018. “Country Profiles: Thailand onTrafficking and Related Labour Exploitation in the ASEAN Region‟ dalam International Council on Social Welfare (ICSW), 2008

(Online). Tersedia dalam:

http://www.icsw.org/doc/Trafficking%20Labour%20Exploitation%20ASEAN%2007, Diakses 28 November 2018.

Catalyst. 2016. Women In The Workforce: China (Online). Tersedia dalam http://www.catalyst.org/knowledge/women-workforce-china (Diakses pada 5 Juli 2018).

Chen, T. X., Huang, Y. W., & Sang, Y. 2000. “Specialized market for women trafficking”, dalam Earth Weekly, 9(11) (Online). Tersedia dalam: http://www.

people.com.cn/GB/paper81/906/123433.ht (Diakses pada 2 Desember 2018)

Choi, C., Y. dan P. Kane. 1999. One Child Policy in Chinese Family (Online). Tersedia dalam:

https://www.bmj.com/content/319/7215/992 (Diakses pada 2 Desember 2018).

Chow, Eugene K. 2017. China's Trafficked Brides (Online). Tersedia dalam:

https://thediplomat.com/2017/07/chinas-trafficked-brides/ (Diakses pada 10 Desember 2018).

Currier, Carrie Liu. 2008. "Investing in the Future: One Children's Policy and Reformation,"

dalam Journal of Women's Politics and Policy Vol. 29, 3rd Edition, 2008.

Dalit Freedom Network UK. 2017. China Finally Ratifies UN Protocol (Online). Tersedia dalam:

https://www.dfn.uk/news/news/171-finally-ratifies-un-trafficking-protocol.html (Diakses pada 25 November 2018).

Deutsch, F., M. 2006. “Patrilineality and China's One-Child Policy”, dalam Family Problems Journal 27 (3), 366-89.

Ding, X. L. 1999. “Cracking down on trafficking in women has become an international affair”, dalam People’s Police Journal, 6(10), 16-19.

Fan, C. Cindy, dan Li Ling. “Marriage and Migration in China Transition: A Field of Gaoshou Study, Guangdong West.” dalam Journal of Environment and Planning 34, no.4 (2002):

619-638.

(10)

Fong, V. 2002. “China's One-Child Policy and Empowerment of Urban Girls ", dalam Journal of American Anthropologists, 104 (4), 1098-1109 (Online). Tersedia dalam:

http://www.jstor.org/stable/3567099 (Diakses pada 3 Oktober 2018).

Gamer, E. 2012. Understanding Chinese Contemporary (4th Ed.). New York: Boulder, CO Lynner Reiner.

Gao, Q. K. 1998. “A review of cracking down on trafficking in women in Anhui province over the past seven years”, dalam Police Studies, 5(3), 49-50.

Greenhalgh, Susan. 2008. Just One Child: Science and Policy in Deng’s China. Berkeley:

University of California Press.

Greenhalgh, Susan. 2008. Only One Child: Science and Policy in China. Berkeley: University of California Press.

Gu, Baochang, Erli Zhang, dan Zhenming Xie. 1999. "Approach towards quality of care Reorientation family- plan ning Program in China, "dalam Jay Satia, Patricia Mathews, dan Aun Ting Lim (eds.), Innovation: An Innovative Approach to Population Program Management - Institutionalizing Reproductive Health Programs, Volume 7–8, Bab 4: 39 -52. Kuala Lumpur, Malaysia: ICOMP.

Gu, Baochang, Wang Feng, Zhigang Guo, and Erli Zhang. 2007. “China’s local and national fertility policies at the end of the twentieth century,” dalam Population and Development Review 33 (1): 129–147.

Guancheng, Chen. 2011. China is finally ending the one-child policy. It can’t happen soon enough, (Online). Tersedia dalam: https://www.washingtonpost.com/opinions/china-is-finally -ending-the-one-child-policy-it-cant-happen-soon-enough/2018/06/11/5dde684c -6b4b-11e8-9e38-24e693b38637_story.html?utm_term=.55d1a215c41d (Diakses pada tangal 3 Desember 2018).

Hameed S, Hlatshwayo S, Tanner E, Turker M & Yang J. 2010. Human Trafficking : Dynamics, current Efforts and Intervention Opportunities for The Asia Foundation. Standford:

Standford University

Hodge, D. R., dan C. A. Lietz. 2007. “The international sexual trafficking of women and children:

A review of the literature”, dalam Journal of Women and Social Work, 22(2), 163-174.

Hudson, Valerie dan den Boer, Andrea. 2004. Bare Branches: Security Implications of the Asian Male Surplus Population. Massachusetts.: MIT Press, 2004.

Husni, Amiy. 2012. Makalah Human Trafficking, Pengertian Human Trafficking,

Penanggulangan Human Trafficking (Online). Tersedia dalam:

http://amifiputri.blogspot.com/2012/05/makalah-human-trafficking-pengertian.html (Diakses pada 5 Juli 2018)

Hvistendahl, Mara. 2010. " Has China surpassed the one-child policy?", Science Journal 329 (5998): 1458–1461.

Jiang, Q. B., dan S. Z. Li. 2009. Female Deficit and Public Safety. Beijing: Social Sciences Academic Press.

(11)

Koetse, M. 2017. How the One-Child Policy Has Improved Women’s Status in China (Online).

Tersedia dalam: https://www.whatsonweibo.com/one-child-policy-improved-womens -status-china/+&cd=1&hl=en&ct=clnk&gl=id (Diakses pada 10 Desember 2018)

La Rosa, M. 2018. China May Raise the Policies of Its Two Children - Here's What It Is (Online).

Tersedia dalam: https://www.catholicnewsagency.com/news/china-may-lift-its-two -child-kebijakan (Diakses 2 Desember 2018).

Lardieri, Alex. 2018. China to Eliminate 2-Child Policy (Online). Terdapat dalam:

https://www.usnews.com/news/world/articles/2018-05-21/china-to-eliminate-2-child -policy (Diakses pada 10 Desember 2018)

Le Bach, D., D. Belanger, & T. H. Khuat. 2007. “Transnational migration, marriage and trafficking at the China-Vietnam border”, dalam I. Attane & C. Z. Guilmoto (Eds.), Watering the Neighbor’s Garden: The Growing Demographic Female Deficit in Asia (pp. 393-425).

Lederer, L., & Wetzel, C. 2014. “The health consequences of sex trafficking and their implications for identifying victims in healthcare facilities”, dalam Annals of Health Law, 23(1), 61-91.

Lee, J. 2005. Human trafficking in East Asia: Current trends, data collection, and knowledge gaps (Online). Tersedia dalam: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/j.0020 -7985.2005.00317.x (Diakses pada 5 Desember 2018)

Lee, James Z. and Wang Feng. 1999. One Quarter of Humanity: Malthusian Mythology and Chinese Realities, 1700–2000. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Lee, James Z. dan Wang Feng. 1999. Quarter of Humanity: Malthus Mythology and Chinese Reality, 1700-2000. Bridge. Massachusetts: Harvard University Press.

Li, D. 2000. “Concern and worries about cracking down on trafficking in women”, dalam Law &

Life Journal, 17(12), 10-13.

Mao, L. 2000. “An oppressive and worrisome issue: A view on cracking down on trafficking in women and children”, dalam Chinese Times, 7(6), 7-9.

McDonald, P. 2006. Low fertility and country: Policy efficacy. Population and Development events (Online). Tersedia dalam: https://www.ageing.ox.ac.uk/download/43 (Diakses pada 14 November 2018)

Mo, L. X. 2005. Research on the Consequences of a High Sex Ratio at Birth. Beijing: China Population Press.

Noor, Ronny. 2015. Pembelajaran dari Diakhirinya “One Child Policy” Cina (Online). Tersedia dalam:

https://www.kompasiana.com/rrnoor/563298b8b59373b5096deefc/pembelajaran -dari-diakhirinya-one-child-policy-cina?page=all (Diakses pada 3 Desember 2018).

OSCE, 2015. Fighting Human Trafficking (Online). Tersedia dalam:

www.osce.org/documents/pc/2005/07/15594_en.pdf (Diakses pada 10 Desember 2018).

Patel RB, Ahn R., Burke TF. 2010. "Human trafficking in the emergency department," dalam Western Journal of Emergency Medicine. 2010; 11 (5): 402–404.

Pazli, Purwasandi. 2013. Strategi Cina Menghadapi Kepentingan Amerika Serikat Terhadap

(12)

China’s One Child Policy (Online). Tersedia dalam:

https://ejournal.unri.ac.id/index.php/JTS/article/view/1803 (Diakses pada 25 November 2018)

Peng, Xizhe. 2011. " China's demographic history and future challenges", dalam Science Journal 333 (6042): 581-587. doi: 10.1126 / science.1209396.

Phillips, T. 2015. China ended the policy of one child after 35 years (Online). Tersedia dalam:

https://www.theguardian.com/world/2015/oct/29/china-meninggalkan-kebijakan -satu-anak (Diakses pada 3 Oktober 2018).

Phys. 2018. Chinese birth rates declined despite allowing 2-child families (Online). Tersedia dalam: https://phys.org/news/2018-01-china-birthrate-child- families.html (Diakses pada 2 Desember 2018).

Polaris Project. 2018. Human trafficking: The facts. Tersedia dalam:

https://polarisproject.org/human-trafficking/facts (Diakses pada 5 Desember 2018) Priyanto, D 2013, Tinndak Pidana Pelanggaran Hak Asasi Manusia. Jakarta: Sinar Grafika Putih, Tyrene. 2006. China's Longest Campaign: Birth Planning in the People's Republic of 1949-

-2005. New York: Cornell University Press.

Rosenberg, Matt 2018. China One Child Policy Facts Families Can Now Have Two Children (Online). Terdapat dalam: https://www.thoughtco.com/china-one-child-policy-facts -1434406 (Diakses 10 Desember 2018).

Sharping, Thomas. 2004. Birth Control in China 1949-2000: Demographic and Development Policy. London: Routledge Curzon.

Shi, R. B. 2006. “The influence of the emigration of young people on marriage in rural areas”, dalam Population Journal, 28(1), 32-36.

Sudbeck, K. 2012. “The Effects of China’s One-Child Policy: The Significance for Chinese Women”, dalam Nebraska Anthropologist Journal, 179. Tersedia dalam:

http://digitalcommons.unl.edu/nebanthro/179 (Diakses pada 3 Oktober 2018) Sun, L. 2004. A Study on the Crime of Trafficking in People in Contemporary China (Online).

Tersedia dalam:

https://www.researchgate.net/publication/237808463_Trafficking_in_Women_in_Chi na (Diakses pada 2 Desember 2018).

(13)

Referensi

Dokumen terkait

dukung tanah lereng secara signifikan. Salah satunya dengan cara memperkuat tanah lereng dengan menggunakan geotekstil. Geotekstil dapat berfungsi untuk memberikan

Untuk informasi kesehatan dan keselamatan untuk komponen masing-masing yang digunakan dalam proses manufaktur, mengacu ke lembar data keselamatan yang sesuai untuk

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan responden yang merupakan anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Jakarta menyatakan ketidaksetujuannya terhadap

Melalui diskusi, siswa mampu menentukan keliling dan luas dari persegi panjang dengan benar.. Melalui diskusi, siswa mampu menentukan keliling dan luas dari segitiga

Proses Yang diuji Skenario pengujian Hasil yang diharapk an Hasil pengujia n Login mahasiwa, dosen, prodi Username dan password harus benar Login berhasil Sesuai dengan yang diharapk

Berdasarkan studi eksisting yang menggunakan binatang sebagai tokoh atau karakter dalam buku cerita untuk anak usia dini, rata-rata memiliki ciri-ciri yang hampir sama

Secara metodis, langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran, persepsi, dan perasaan pengarang yang hadir

Merujuk kepada Jadual 5, mendapati bahawa kawasan kajian yang mempunyai penduduk yang ramai bekerja pada jarak yang jauh juga lebih tinggi mengalami kesesakan lalu lintas