Vol. 5 No. 2, Januari - Juni 2015 ISSN 2087 - 5576
Jurnal Ilmiah Hospitality Management 65
PENGARUH ATMOSFER RESTORAN TERHADAP MINAT BELI KONSUMEN REMAJA DI RESTORAN CEPAT SAJI
(STUDI KASUS KFC DAN MC DONALD JIMBARAN)
Ni Luh Suastuti
Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali Kementerian Pariwisata
ABSTRACT
The rapid growth of tourism development in Jimbaran, South Kuta Badung Bali makes this area is flooded with tourism facilities. One of them is a fast-food restaurant. This is influenced by very high demand of fast food products in the region, especially for teenagers. This is influenced by many factors such as faster, more practice, delicious, more prestigious, more comfortable place, nice atmosphere, and there are still many more other factors. The restaurant atmosphere is one of the five essential product elements in the restaurant business. The purpose of this study was to determine the influence of restaurant atmosphere for teenage consumers consuming at fast food restaurants (case study: KFC and Mc Donald Jimbaran). This study found that the atmosphere of the restaurant significantly influence teenage consumers’ intention to purchase fast food products (KFC and case studies in Jimbaran McDonald). The restaurant atmosphere is at 40.50% effect on teenage consumers’ intention in fast food restaurants, especially KFC and Mc Donald Jimbaran and 59.50% are influenced by other factors which are not examined in this study.
Keywords: atmosphere restaurant, fast food restaurants, consumer purchase intention, teenager
I. PENDAHULUAN
Perkembangan pariwisata yang begitu cepat di Badung Bali khususnya di Badung Selatan membuat daerah ini diserbu oleh investor. Para investor memburu daerah Badung Selatan seperti Kuta, Jimbaran, Nusa Dua dan sekitarnya sebagai tempat untuk menanamkan modalnya. Hal ini menyebabkan tumbuhnya berbagai fasilitas pariwisata seperti hotel, restoran, bar, dan berbagai fasilitas lainnya.
Perkembangan pembangunan pariwisata yang pesat ini juga dialami oleh Jimbaran Kuta Selatan Badung Bali.
Daerah ini dibanjiri dengan berbagai fasilitas pariwisata salah satunya adalah
Restoran cepat saji atau lebih dikenal dengan istilah fast food restaurant. Di Jimbaran restoran cepat saji mengalami peningkatan yang cukup pesat, dimana dapat dilihat perkembangan jumlahnya yang terus mengalami peningkatan dibanding beberapa tahun yang lalu seperti KFC, McDonald, Pizza Hut, dan masih banyak lagi. Hal ini terjadi tentu saja dipengaruhi oleh faktor permintaan (demand) yang tinggi terhadap produk restoran cepat saji. Restoran cepat saji di Jimbaran sangat diminati oleh berbagai kalangan terutama remaja. Restoran cepat saji dijadikan tempat untuk melakukan berbagai kegiatan oleh konsumen seperti pesta ulang tahun, tempat berkumpul
66 Jurnal Ilmiah Hospitality Management keluarga, tempat nongkrong remaja, tempat
nonton bareng, dan berbagai kegiatan lainnya. Hal ini menjadi peluang yang bagus bagi restoran cepat saji untuk meraih konsumen yang lebih banyak.
Konsumen remaja bagi restoran cepat saji tidak dapat dipandang sebelah mata. Jumlah remaja yang meningkat dan pola makan remaja yang saat ini menunjukkan perubahan dimana dulunya remaja lebih sering mengkonsumsi makanan tradisional tetapi saat ini mereka lebih menyukai makanan cepat saji, menjadikan remaja sebagai target konsumen yang potensial bagi restoran cepat saji. Remaja dewasa ini cenderung lebih menyukai makanan cepat saji (fast food) dimana hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor seperti lebih cepat, lebih praktis, enak, lebih prestisius, tempatnya lebih nyaman, suasananya lebih bagus, dan masih banyak lagi faktor lain. Selain makanannya yang lebih disukai oleh remaja, ada beberapa hal lain yang dicari dan membuat remaja lebih betah dan sering berkunjung ke restoran cepat saji diantaranya adalah atmosfer (suasana) restoran cepat saji yang nyaman.
Atmosfer restoran merupakan satu dari lima elemen penting dari konsep product development pada bisnis restoran.
Menurut Cousins dkk (2002) kelima elemen product development itu antara lain food and drink (makanan dan minuman), level of service (tingkat pelayanan), cleanliness and hygiene (kebersihan dan higienitas), price and value for money (harga dan nilai yang diperoleh konsumen dari harga yang dibayarkan), dan atmosphere restaurant (atmosfer/suasana restoran). Atmosfer restoran yang bagus dapat menciptakan emosi yang positif bagi konsumen. Atmosfer restoran dapat dipengaruhi oleh: desain restoran, dekorasi,
lighting (penataan cahaya), prilaku karyawan, tingkat kebisingan, konsumen lain, furniture yang digunakan, serta suhu ruangan. Atmosfer restoran yang tercipta dari hal tersebut diatas dapat berupa atmosfer yang cerah, muda, bersih, atau dapat pula berupa atmosfer restoran yang mewah dan elegan, atau mungkin saja atmosfer yang tercipta adalah atmosfer tradisional yang cenderung terkesan kuno.
Melihat hal tersebut diatas atmosfer restoran menjadi hal yang cukup penting yang harus diperhatikan oleh pengelola restoran mengingat konsumen yang datang ke restoran saat ini tidak hanya mencari makanan dan minuman, tetapi konsumen juga mencari suasana yang nyaman.
Mengacu pada latar belakang diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh atmosfer restoran terhadap minat beli konsumen remaja di restoran cepat saji (studi kasus:
KFC dan Mc Donald Jimbaran).
II. METODE PENELITIAN
Lokasi penelitian ini dilakukan di restoran cepat saji KFC dan Mc Donald Jimbaran. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada konsumen remaja yang pernah berkunjung dan menikmati hidangan di restoran cepat saji (KFC dan Mc Donald Jimbaran).
Kuesioner dalam penelitian ini memuat tentang dua hal yaitu : (1) data demografi responden, seperti nama, umur, jenis kelamin, jumlah kunjungan dalam seminggu, dan tujuan responden berkunjung ke KFC dan Mc Donald Jimbaran. (2) data pendapat responden pada pengaruh atmosfer restoran terhadap minat beli di restoran cepat saji yang berisi 8 pernyataan. Responden cukup memberi tanda rumput pada lima skala yang disediakan yaitu satu untuk sangat tidak
Vol. 5 No. 2, Januari - Juni 2015 ISSN 2087 - 5576
Jurnal Ilmiah Hospitality Management 67
setuju, dua untuk tidak setuju, tiga untuk cukup, empat untuk setuju dan lima untuk sangat setuju.
Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen remaja yang pernah berkunjung dan menikmati makanan di restoran cepat saji (KFC dan Mc Donald Jimbaran).
Sampel adalah sebagian objek yang diambil dari populasi dimana karakteristiknya akan diselidiki dan dianggap dapat mewakili seluruh populasi yang menjadi perhatian dalam penelitian (Pramesti, 2006: 2).
Populasi dalam penelitian ini adalah KFC dan Mc Donald, sedangkan tehnik pengambilan sampel konsumen remaja dalam penelitian ini dilakukan dengan cara purposive sampling yaitu tehnik pengambilan sampel yang dilakukan jika peneliti mempunyai pertimbangan tertentu dalam menetapkan sample (Kusmayadi dan Sugiarto, 2000). Dalam penelitian ini ditentukan yang dijadikan sampel dalam penelitian adalah 50 remaja yang sudah pernah menikmati makanan dan minuman di restoran cepat saji (KFC dan Mc Donald Jimbaran). Pengukuran variabel penelitian menggunakan skala likert dengan metode scoring sebagai berikut: 1 = sangat tidak setuju, 2= tidak setuju, 3= cukup, 4 = setuju, 5= sangat setuju. Penelitian ini menggunakan tehnik analisis data kuantitatif karena penelitian ini membuktikan suatu hipotesa. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan mengolah data dari kuesioner yang sudah diolah dalam bentuk angka, kemudian akan dianalisi dengan regresi linier sederhana dibantu dengan software SPSS versi 17.
III. KAJIAN PUSTAKA
Berikut ini beberapa penelitian terdahulu yang terkait dengan restoran cepat saji antara lain: Penelitian yang dilakukan oleh Tat, Hon Huan, dkk (2011)
yang berjudul Consumer’s Purchase Intention in Fast Food Restaurants: An Empirical Study on Undergraduate Students. Penelitian ini menggunakan 358 sampel dari mahasiswa program sarjana di universitas di Malaysia. Dari lima dimensi yang diuji, dimensi assurance yang paling kuat berpengaruh terhadap kepuasan konsumen di restoran cepat saji, diikuti oleh dimensi responsiveness, reliability, tangibility, dan empathy. Penelitian ini menggunakan analisis multiple linier regression.
Paramita melakukan penelitian dengan judul Analisis Pengaruh Atmosfer Waroeng Joglo Bu Rini terhadap Kepuasan Konsumen, menemukan bahwa faktor penglihatan, bau/aroma, pendengaran, suhu, dan sentuhan berpengaruh positif terhadap kepuasan konsumen, sedangkan faktor tempo tidak berpengaruh positif terhadap kepuasan konsumen. Penelitian ini menggunakan 200 responden.
Penelitian dengan judul Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan dan Brand Image terhadap Minat Beli Ulang pada Restoran Kentucky Fried Chicken (KFC) dilakukan oleh Pradini menemukan bahwa ada pengaruh kualitas pelayanan dan citra merek terhadap minat beli ulang di KFC Salatiga dan variabel citra merek lebih tinggi kontribusinya daripada kualitas pelayanan. Penelitian ini menggunakan 100 orang responden.
Arief, dkk (2011) melakukan penelitian dengan judul Konsumsi Fast Food Remaja di Fast Food, Makasar, Town Square menemukan bahwa predisposisi kunjungan remaja walaupun mereka sudah mengetahui dampak negatif yang akan muncul. Faktor pendukungnya adalah promosi yang gencar yang dilakukan oleh pihak restoran khususnya pada masa
68 Jurnal Ilmiah Hospitality Management promo, akses, tempat dan suasana, dan
pelayanan yang ramah.
Terdapat beberapa landasan teori yang dapat digunakan sebagai landasan dalam menganalisis pengaruh atmosfer restoran terhadap minat beli konsumen remaja di restoran cepat saji (KFC dan Mc Domald Jimbaran) antara lain.
Definisi Atmosfer Restoran
Menurut Kotler (2005) atmosfer restoran adalah suasana terencana yang sesuai pasar sasarannya dan dapat menarik konsumen untuk membeli. Menurut Cousin,dkk (2002) atmosfer atau suasana restoran berperan penting dalam menciptakan emosi positif dari konsumen.
Atmosfer restoran dapat diciptakan melalui beberapa faktor seperti : desain, dekorasi, pencahayaan, temperatur, furniture, musik, dan tingkat kebisingan, prilaku konsumen lain, dan prilaku karyawan. Atmosfer restoran yang tercipta ada yang bernuansa kebahagiaan, keceriaan, semangat, kemarahan, kemewahan, kedamaian, kenyamanan, dan masih banyak lagi.
Semua bentuk atmosfer ini dapat diciptakan dan dikreasikan, contohnya suasana cerah, muda, dan suasana bersih dapat dilihat di Mcdonald atau suasana kemewahan di restoran formal. Pelaku bisnis makanan dan minuman memiliki peluang untuk mencocokkan suasana restoran dengan tema dan konsep restoran.
Assael dalam Arcana dkk (2013) menyatakan minat beli konsumen timbul dan terbentuk setelah konsumen melakukan evaluasi terlebih dahulu terhadap suatu merek dan akan melakukan pembelian terhadap merek yang dapat memberikan tingkat paling tinggi dari kepuasan yang diharapkan. Pengertian minat beli menurut Howard (1994) dalam Durianto dan Liana (2004) adalah merupakan sesuatu yang berhubungan dengan rencana konsumen
untuk membeli produk tertentu serta berapa banyak unit produk yang dibutuhkan pada periode tertentu.
Minat beli timbul setelah calon konsumen menerima stimulus dan sesuatu yang dilihat. Ketika konsumen memasuki restoran dan melihat serta merasakan suasana restoran serta mulai melihat – lihat menu, mencium aroma makanan, barulah konsumen memiliki ketertarikan dan mungkin memiliki minat untuk membeli produk restoran. Assael dalam Arcana (2013) menjelaskan bahwa titik tolak untuk memahami prilaku pembelian adalah dengan melakukan model stimulasi :A I D A” yang berusaha menggambarkan tahap – tahap suatu rangsangan tertentu yang diberikan oleh para ahli pemasaran, yaitu:
1. Attention, adalah timbulnya perhatian konsumen terhadap suatu usaha pemasaran yang dilakukan oleh pemasar.
2. Interest, adalah munculnya minat beli konsumen yang terjadi melalui ketertarikan konsumen terhadap objek atau produk yang dikenalkan oleh pemasar.
3. Desire, adalah kondisi calon konsumen yang setelah tertarik, timbul hasrat atau keinginan untuk memiliki ojek tersebut.
4. Action, adalah tindakan yang muncul setelah ketiga tahapan diatas dilalui, yaitu konsumen melakukan pembelian.
Faktor – faktor yang mempengaruhi minat beli konsumen restoran
Persaingan usaha restoran cepat saji dewasa ini semakin ketat mengingat mulai berkembangnya jenis usaha ini khususnya di wilayah Kuta Selatan khususnya di wilayah Jimbaran. Hal ini tentunya membuat pengelola restoran cepat saji untuk menciptakan suasana yang indah dan
Vol. 5 No. 2, Januari - Juni 2015 ISSN 2087 - 5576
Jurnal Ilmiah Hospitality Management 69
menarik sehingga timbul minat beli bagi calon konsumen. Minat beli konsumen terhadap suatu produk dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu lingkungan dan stimulus pemasaran. Lingkungan disekitar konsumen dapat mempengaruhi konsumen dalam membeli suatu produk. Contohnya seorang remaja akan dipengaruhi oleh lingkungan pergaulannya dalam minat beli produk restoran cepat saji. Remaja yang lingkungan pergaulannya dengan teman – teman yang lebih menyukai produk restoran cepat saji, juga akan cenderung ikut membeli produk restoran cepat saji.
Stimulus pemasaran adalah upaya mempengaruhi prilaku calon konsumen
sehingga meningkatkan minat beli.
Stimulus yang diberikan pemasar sekarang sangat beragam seperti iklan dengan menggunakan media televisi, internet, dan penawaran harga – harga spesial yang lebih menarik. Restoran cepat saji saat ini berlomba – lomba memberikan stimulus melalui media iklan di televisi sehingga calon konsumen memiliki keinginan (desire) untuk membeki produknya.
IV. KERANGKA KONSEP PENELITIAN
Kerangka konsep yang menjadi dasar dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 1 di bawah ini:
Gambar 1. Kerangka Konsep
Operasional variabel dalam penelitian ini akan digunakan sebagai materi dalam penyusunan kuesioner
penelitian yang bersumber dari penelitian – penelitian sebelumnya seperti tercantum pada tabel 1 berikut:
Tabel 1. Definisi Operasional Variabel
No. Variabel Kode Definisi Operasional Indikator 1. Atmosfer
Restoran
X Keseluruhan efek estetika dan emosi yang tercipta melalui beberapa factor yang berhubungan dengan indera konsumen
1. Indera penglihatan (sense of sight)
2. Indera pendengaran (sense of sound)
3. Indera Peraba (sense of touch)
4. Indera penciuman (sense of smell)
2. Minat Beli Konsumen Remaja
Y Minat beli konsumen adalah tahap timbulnya hasrat atau minat
konsumen untuk membeli
1. Attention (tahap perhatian) 2. Interest (tahap keinginan) 3. Desire (tahap terpengaruh) 4. Action (tahap tindakan
ATMOSFER RESTORAN (X)
MINAT BELI KONSUMEN REMAJA (Y) H0
Ha
2 Jurnal Ilmiah Hospitality Management
produk membeli)
Sumber : Cousin,dkk (2002), Assael dalam Arcana (2013)
Hipotesis
Mengacu pada kerangka konsep dan latar belakang yang telah dipaparkan diatas, maka dapat dirumuskan hioptesis nol (Ho) dan hipotesis alternatif (Ha) sebagai berikut :
Hipotesis Nol (Ho)
Tidak terdapat pengaruh atmosfer restoran terhadap minat beli konsumen remaja di restoran cepat saji (KFC dan Mc Donald Jimbaran).
Hipotesis Alternatif (Ha)
Terdapat pengaruh atmosfer restoran terhadap minat beli konsumen remaja di restoran cepat saji (KFC dan Mc Donald Jimbaran)
Variabel Penelitian
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah atmosfer restoran yang terdiri dari empat indikator (Cousin,et al 2002:53-54) yaitu :
1. Atmosfer restoran yang dipengaruhi oleh indera penglihatan (sense of sight), suasana yang nyaman di restoran dipengaruhi oleh apa yang dapat dilihat oleh mata konsumen seperti: jenis furnitur yang digunakan, warna ruangan, dan luas ruangan.
2. Atmosfer restoran yang dipengaruhi oleh indera pendengaran (sense of sound), suasana restoran dilihat dari indera pendengaran tercipta dari pengaturan atau penggunaan musik serta tingkat kebisinngan restoran.
3. Atmosfer restoran yang dipengaruhi oleh indera peraba (sense of touch), dapat diciptakan melalui pengaturan suhu ruangan yang sesuai dan peralatan yang digunakan untuk
menyajikan makanan (gelas, piring, dll)
4. Atmosfer restoran yang dipengaruhi oleh indera penciuman (sense of smell), suasana restoran juga dapat tercipta dari aroma makanan yang sedap seperti aroma kopi yang nikmat, roti panggang, dan aroma ayam goreng yang menggugah selera makan konsumen.
Sedangkan variabel terikat pada penelitian ini adalah minat beli konsumen.
Minat beli merupakan sesuatu yang berhubungan dengan rencana konsumen dalam membeli produk tertentu (Howard dalam Durianto dan Liana, 2004), serta berapa banyak unit produk yang dibutuhkan pada periode tertentu. Minat beli ini muncul setelah konsumen menerima stimulus dan ada sesuatu yang dilihat. Titik tolak perilaku pembelian oleh konsumen adalah model AIDA yang terdiri dari : attention, interest, desire, dan action.
V. PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN
A. Karakteristik Responden
Dari 60 kuesioner yang disebarkan pada dua restoran cepat saji yaitu KFC dan Mc Donald Jimbaran, sejumlah 50 remaja yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini atau sebesar 83,33%. Seluruh kuesioner yang telah diisi dimasukkan sebagai responden.
Dari sisi demografi responden penelitian ini menganalisa responden dari beberapa aspek antara lain dari umur, jenis kelamin, jumlah kunjungan, dan tujuan berkunjung. Data tentang demografi responden dapat dilihat dari tabel 2 berikut :
70 Jurnal Ilmiah Hospitality Management Tabel 2. Data Demografi Responden
No. Identitas Diri Distribusi Responden Jumlah
Orang Persentase
1. Umur 12 – 15 tahun 21 42%
16-18 tahun 29 58%
Jumlah 50 100%
2. Jenis Kelamin Perempuan 19 38%
Laki - laki 31 62%
Jumlah 50 100%
3. Jumlah Kunjungan dalam seminggu
sekali 33 66%
Dua kali 10 20%
3 kali atau lebih 7 14%
Jumlah 50 100%
4. Tujuan Berkunjung
Menghabiskan waktu dengan keluarga 5 10%
Bertemu teman 24 48%
Mengerjakan tugas 11 22%
Mencari wifi 10 20%
Jumlah 50 100%
Sumber : Kuesioner (data diolah)
Berdasarkan data pada tabel 2 diatas dapat dilihat bahwa jika dilihat dari umur, responden dengan usia remaja awal (12 sampai 15 tahun) sebesar 42%, dan dari kelompok umur 16 sampai 18 tahun sebanyak 58%. Sedangkan dilihat dari jenis kelamin, kebanyakan dari responden berjenis kelamin laki – laki yaitu 62% dan perempuan 38%.
Dilihat dari jumlah kunjungan dalam seminggu, sebanyak 66% responden berkunjung sekali dalam seminggu, 20%
responden berkunjung dua kali dalam seminggu, dan hanya 14% responden berkunjung tiga kali dalam satu bulan. Jika dilihat dari tujuan berkunjung, sebagian besar responden (48%) tujuan mereka berkunjung selain untuk makan adalah untuk bertemu dengan teman – teman, 22%
untuk mengerjakan tugas sekolah, 20%
untuk mencari wifi, dan hanya 10%
responden (remaja) yang datang ke KFC dan Mcdonal’s Jimbaran bertujuan untuk menghabiskan waktu dengan keluarga.
B. Analisa Data
Untuk melihat pengaruh atmosfer restoran terhadap minat beli konsumen remaja di restoran cepat saji khususnya KFC dan McDonald’s Jimbaran, dilakukan analisis regresi linier sederhana dengan langkah – langkah sebagai berikut
1. Uji Instrumen Penelitian a) Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah variabel dependen dan independen dalam model regresi tersebut terdistribusi secara normal (Ghozali dalam Arcana,
ISSN 2087 - 5576 Vol. 5 No. 2, Januari - Juni 2015
2 Jurnal Ilmiah Hospitality Management
2013). Model regresi yang baik adalah model yang mempunyai distribusi data yang normal atau mendekati normal. Hasil uji
normalitas disajikan dalam tabel 3 berikut:
Tabel 3. Hasil Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-smirnov Test
Unstandardized Residual
N 50
Normal Parametera,b Mean ,0000000
Std.Deviation 1,72823298
Most Extreme Differences Absoulute ,108
Positive ,048
Negative -,108
Kolmogorov-Smirnov Z ,762
Asymp. Sig (2-tailed) ,607
a) Test distribution is Normal b) Calculated From Data Hipotesis:
Dari data pada tabel 3 dapat dilihat bahwa:
a) Jika probabilitas > 0,05 maka model terdistribusi secara normal atau H0 diterima
b) Jika Probabilitas < 0,05 maka model regresi tidak terdistribusi secara normal atau H0 ditolak.
Pada Table 4.2 dapat dilihat bahwa nilai Asymptotic Significane (2-tailed) adalah 0,091 lebih besar dari 0,05 (0,091 > 0,05), artinya H0 diterima atau model terdistribusi secara normal.
b) Uji Validitas
Validitas adalah ketepatan atau kecermatan suatu instrument dalam mengukur apa yang ingin yang ngin diukur. Tinggi rendahnya validitas menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud. Validitas item ditunjuk- kan dengan adanya korelasi atau
dukungan terhadap item total (skor total), perhitungan dilakukan dengan cara mengkorelasikan antara skor item dengan skor total item.
Dalam penentuan layak atau tidaknya suatu item yang akan digunakan, biasanya dilakukan uji signifikansi koefisien korelasi pada taraf signifikansi 0,05, artinya suatu item dianggap valid jika berkorelasi signifikan terhadap skor total. Atau jika melakukan penilaian langsung terhadap koefi-sien korelasi, bisa digunakan batas nilai minimal korelasi 0,30. Menurut Azwar dalam Duwi (2014) semua item yang mencapai koefisien korelasi minimal 0,30 daya pem-bedanya dianggap memuaskan. Tetapi jika jumlah item belum mencukupi kita bisa menurunkan sedikit batas kriteria 0,30 menjadi 0,25 tetapi menurunkan batas kriteria di bawah 0,20 sangat tidak disarankan. Untuk pembahasan ini dilakukan uji signifikansi koefisien korelasi
2 Jurnal Ilmiah Hospitality Management dengan kriteria mengguna-kan r
kritis pada taraf signifikansi 0,05 (signifikansi 5% atau 0,05 adalah ukuran standar yang sering
digunakan dalam penelitian). Hasil uji validitas berdasarkan hasil pengolahan data dengan SPSS disajikan pada tabel 4 berikut:
Tabel 4. Hasil Uji Validitas
No. Variabel Koefisien Korelasi
(Rhitung) Rkritis Keterangan
1. Atmosfer Restoran
X.1 0,593 0,273 Valid
X.2 0,760 0,273 Valid
X.3 0,786 0,273 Valid
X.4 0,716 0,273 Valid
2. Minat Beli
Y.1 0,832 0,273 Valid
Y.2 0,782 0,273 Valid
Y.3 0,598 0,273 Valid
Y.4 0,592 0,273 Valid
Sumber: data diolah (2014)
Tabel 4 menunjukkan bahwa seluruh indikator mempunyai koefisien korelasi >0,273 oleh karena itu semua indikator telah memenuhi syarat validitas data.
c) Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui konsistensi alat ukur, apakah alat pengukur yang digunakan dapat diandalkan dan tetap konsisten jika pengukuran tersebut diulang. Ada beberapa metode pengujian reliabilitas salah satunya adalah dengan formula Cronbach’s Alpha melalui program SPSS. Intrumen dikatakan reliabel jika memiliki nilai alpha lebih besar dari 0,60 (Sugiyono, 2007:133).
Hasil Uji Cronbach Alpha pada variabel atmosfer restoran adalah 0,684 sedangkan untuk variabel minat beli sebesar 0,666. Karena nilai Cronbach Alpha kedua
variabel ini > 0,60 maka kedua variabel ini telah memenuhi syarat reliabilitas.
2. Regresi Linier Sederhana
Analisis regresi linier sederhana adalah hubungan secara linear antara variabel atmosfer restoran sebagai variabel independen (X) dengan variabel minat beli sebagai variabel dependen (Y) konsumen remaja di restoran cepat saji (studi kasus di KFC dan Mc Donald Jimbaran). Analisis ini dilakukan untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen apakah positif atau negatif dan untuk memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai variabel independen mengalami kenaikan atau penurunan. Berdasarkan pengolahan data dengan SPSS didapat hasil sebagai sebagai berikut :
Y = a + bX
Y = 6,626 + 0,616X
yang dapat diartikan sebagai berikut :
ISSN 2087 - 5576 Vol. 5 No. 2, Januari - Juni 2015
74 Jurnal Ilmiah Hospitality Management
a) Konstanta sebesar 6,626 dapat diartikan bahwa jika variabel pengaruh atmosfer restoran (X) nilainya nol, maka minat beli konsumen remaja (Y) terhadap restoran cepat saji khususnya KFC dan McDonald Jimbaran sebesar 6,626.
b) Koefisien regresi variabel pengaruh atmosfer restoran bernilai positif dapat diartikan bila terjadi peningkatan sebesar satu poin atmosfer restoran maka akan terjadi peningkatan terhadap minat beli konsumen remaja terhadap restoran cepat saji khususnya KFC dan Mcdonald Jimbaran senilai 0,616 poin.
3. Analisis Koefisien Determinasi
Koefisien Determinasi (KD) menunjukkan seberapa baik model regresi yang dibentuk oleh kedua varibel atmosfer restoran dan variabel minat beli konsumen remaja. Nilai Koefisien Determinasi diperoleh dari nilai R Square dikali 100%.
Dalam penelitian ini diperoleh hasil sebagai berikut:
KD = R Square x 100%
= 0,405 x 100%
= 40,50%
Hal ini menunjukkan bahwa atmosfer restoran berpengaruh sebesar 40,50% terhadap minat beli konsumen remaja di restoran cepat saji (studi kasus di KFC dan Mc Donald Jimbaran), sedangkan 59,50% sisanya dipengaruhi oleh faktor – faktor lainnya yang tidak diuji dalam penelitian ini.
4. Uji t ( t test)
Uji t digunakan untuk mengetahui apakah variabel atmosfer restoran berpengaruh secara signifikan terhadap variabel minat beli konsumen. Signifikan
berarti pengaruh yang terjadi dapat berlaku untuk populasi (dapat digeneralisasi).
Berdasarkan hasil analisis regresi linier (dapat dilihat pada lampiran) dapat dilakukan langkah – langkah uji t adalah sebagai berikut :
a) Perumusan hipotesis statistik
H0 : βi = 0, artinya atmosfer restoran tidak berpengaruh signifikan terhadap minat beli konsumen remaja di restoran cepat saji (KFC dan MCDonald Jimbaran).
H1 : βi > 0, artinya atmosfer restoran berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli remaja di restoran cepat saji (KFC dan McDonald Jimbaran).
b) Menentukan taraf signifikansi, menurut Wirawan (2002: 155), taraf nyata signifikansi (α) adalah 5%
(signifikansi 5% atau 0,05)
c) Menentukan thitung , berdasarkan table analisis regresi (dapat dilihat pada lampiran) diperoleh thitung
sebesar 5,710 dengan signifikansi 0,000. Jika signifikansi (Sig) < 0,05 maka model regresi adalah linier.
Dalam penelitian ini nilai signifikansinya adalah 0,000 < 0,05 jadi persamaan regresi dalam penelitian ini signifikan dan linier artinya memenuhi kriteria linieritas.
d) Menentukan ttabel
Tabel distribusi t dicari pada α = 5%
: 2 = 2,5% (dengan metode uji dua sisi) dengan derajat kebebasan (degree od freedom atau df) = n-k-1 atau 50 – 2 – 1 = 47( n adalah jumlah kasusu dan k adalah jumlah variabel). Dengan pengujian dua sisi (signifikansi 0,025) hasil ttabel
diperoleh sebesar 2,012 (lihat pada lampiran t tablel.
e) Kriteria pengujian
Jurnal Ilmiah Hospitality Management 75 H0 diterima jika ttabel < thitung
H0 ditolak jika thitung< ttabel
f) Membandingkan thitung dengan ttabel
diperoleh : 5,710 > 2,012 maka H0
ditolak.
g) Kesimpulan
Oleh karena thitung lebih besar dari ttabel (5,710 > 2,012) maka H0
ditolak, artinyabahwa ada pengaruh secara signifikan antara atmosfer restoran dengan minat beli konsumen remaja di restoran cepat saji (KFC dan McDonald Jimbaran).
Jadi dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa atmosfer restoran berpenga-ruh terhadap minat beli konsumen remaja di restoran cepat saji (studi kasus : KFC dan Mc Donald Jim-baran).
VI. SIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Atmosfer restoran berpengaruh signifikan terhadap minat beli konsumen remaja di restoran cepat saji (studi kasus di KFC dan McDonald Jimbaran). Hal ini dapat dilihat dari hasil Uji t dimana thitung
lebih besar dari ttabel yang dapat diartikan bahwa bahwa H0 ditolak (atmosfer restoran berpengaruh terhadap minat beli konsumen remaja di restoran cepat saji khususnya di KFC dan Mc Donald Jimbaran). Dari persamaan regresi linier sederhana didapat persamaan Y = 6,626 + 0,616X, dimana koefisien regresi variabel pengaruh atmosfer restoran yang bernilai positif dapat diartikan bila terjadi peningkatan sebesar satu poin atmosfer restoran maka akan terjadi peningkatan terhadap minat beli
konsumen remaja terhadap restoran cepat saji khususnya KFC dan Mc Donald Jimbaran senilai 0,616 poin.
2. Atmosfer restoran berpengaruh sebesar 40,50% terhadap minat beli konsumen remaja di restoran cepat saji khususnya KFC dan MC Donald Jimbaran sedangkan 59,50% dipe-ngaruhi oleh faktor lainnya yang tidak diuji dalam penelitian ini. Hal ini dapat dilihat dari nilai Koefisien determinasi (KD) sebesar 40,50%.
DAFTAR PUSTAKA
Arcana, dkk 2013, Pengaruh Citra Merek Terhadap Minat Beli Wisatawan Pada komaneka Resort&SPA Group di kawasan Pariwisata Ubud, Gianyar, Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa dua Bali.
Arief E., dkk. 2011, Konsumsi fast Food Remaja di Fast Food, Makasar Town Square, Jurnal Media Gizi Masyara-kat indonesia Vol 1 No. 1.
Cousins,et al. 2002, Food and Beverage Management, England: Pearson Education Limited.
Durianto, D,C dan Liana. 2004.”Analisis Efektifitas Iklan Televisi Softener Soft & Fresh di Jakarta dan Sekitarnya dengan Menggunakan Consumer Decision Model”. Jurnal Ekonomi Perusahaan.
http://duwiconsultant.blogspot.com/2011/1 1/uji-validitas-kuisioner.html, diunduh tanggal 21 Oktober 2014.
Kusmayadi dan Sugiarto, Endar. 2000, Metode Penelitian.
Oetomo, R.A. 2012, Analisis Pengaruh Keragaman Menu, Persepsi harga, dan Lokasi terhadap Minat Beli Ulang Konsumen. Fakultas ekonomi dan Bisnis, Universitas Diponegoro, Semarang.
ISSN 2087 - 5576 Vol. 5 No. 2, Januari - Juni 2015
76 Jurnal Ilmiah Hospitality Management
Paramita, N.Y. Analisis Pengaruh Atmosfer waroeng Joglo “Bu Rini” terhadap Kepuasan Konsumen, Universitas Kristen Satya wacana.
Pradini,A.L.W. Analisis pengaruh Kualitas Pelayanan dan Brand Image terhadap Minat Beli Ulang pada restoran Kentucky Fried Chiken (KFC). Universitas Kristen Satya Wacana.
Pramesti, G. 2006. Panduan Lengkap SPSS 17.0 dalam Mengolah Data Statistik, Jakarta : PT Elex Media Komputin-do.
Sugiyono, 2007, Metode Penelitian Bisnis.
Bandung: CV Alfabeta.
Tat,Ho,et al. (2011), Consumer’Purchase Intentions in Fast Food Restaurants: An Empirical Study on Indergra-duate Students. Faculty of Manage-ment and Human Resources Deve-lopment, Universiti Teknologi Ma-laysia. International lournal of busi-ness and Social Science Vol.2 no.5, March 2011.