BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 KEPUASAN KERJA
2.1.1. DEFINISI DAN PENGUKURAN KEPUASAN KERJA
Kepuasan kerja adalah suatu sikap yang dipunyai individu mengenai pekerjaanya. Hal ini dihasilkan dari persepsi mereka terhadap pekerjaanyya, didasarkan pada faktor lingkungan kerja, seperti gaya penyelia, kebijakan dan prosedur, afiliasi kelompok kerja, kondisi kerja dan tunjungan. Sementara banyak dimensi telah dihimpun dari kepuasan kerja, lima hal yang terutama mempunyai karakteristik penting.
1. Gaji 2. Pekerjaan
3. Kesempatan promosi 4. Penyelia
5. Rekan sekerja
Alasan untuk mempelajari kepuasan kerja adalah untuk memberikan pemikiran kepada manajer tentang bagaimana mengubah sikap karyawan. Banyak organisasi menggunakan survey sikap untuk menentukan tingkat kepuasa kerja karyawan.
Survey mengindikasikan bahwa umumnya 75-80% karyawan puas dengan pekerjaan mereka.
Meskipun menarik hasil survey tersebut tidak mencerminkan tingkat
seseorang sampai dimana kepuasan mereka menciptakan masalah. Terdapat bias dalam memberikan jawaban positif, seperti sedikit kurang indikasi bahwa seseorang memilih dalam pekerjaan yang tidak memuaskan.
2.1.2. VARIABEL PENTING YANG MENENTUKAN KEPUASAN KERJA
Variabel-variabel penting yang menentukan kepuasan kerja adalah:
1. Kerja yang secara mental menantang
Karyawan cenderung lebih menyukai pekerjaan-pekerjaan yang memberi mereka kesempatan untuk menggunakan keterampilan dan kemampuan mereka dan menawarkan beragam tugas, kebebasan dan umpan balik mengenai betapa baik mereka mengerjakan karakteristik ini mambuat kerja secara mental menantang. Pekerjaan yang terlalu kurang menantang menciptakan kebosanan, tetapi yang terlalu banyak menantang menciptakan frustasi dan perasaan gagal.
2. Imbalan yang pantas
Para karyawan menginginkan sistem upah dan kebijakan promosi yang mereka persepsikan sebagai adil, dan sesuai dengan pengharapan mereka.
Bila upah dilihat sebagai adil yang didasarkan pada tuntutan pekerjaan,
tingkat keterampilan individu, dan standar pengupahan komunitas,
kemungkinan besar akan dihasilkan kepuasan. Tidak semua orang
mengejar uang. Banyak orang bersedia menerima baik uang yang lebih
kecil untuk bekerja dalam lokasi yang lebih diinginkan atau dalam
pekerjaan yang kurang menuntut atau mempunyai keleluasaan yang lebih
besar dalam kerja yang mereka lakukan dan jam-jam kerja. Tetapi kunci yang mengaitkan upah dengan kepuasan kerja bukanlah jumlah mutlak yang dibayarkan, namua yang lebih penting adalah persepsi keadilan.
Demikian juga dengan karyawan perusahaan mendapatkan kebijakan dan praktik promosi yang adil. Promosi memberikan kesempatan untuk pertumbuhan pribadi, tanggung jawab yang lebih banyak dan status sosial yang ditingkatkan oleh karena individu-individu yang mempersepsikan bahwa keputusan promosi dibuat dalam cara yang adil (fair and just) kemungkinan besar akan mengalami kepuasan dari pekerjaan mereka.
3. Kondisi kerja yang mendukung
Karyawan peduli akan lingkungan kerja baik untuk kenyamanan pribadi maupun untuk memudahkan mengerjakan tugas yang baik. Studi-studi memperagakan bahwa karyawan lebih menyukai keadaan sekitar fisik yang tidak berbahaya atau tidak merepotkan. Temperature, cahaya dan faktor-faktor lingkungan lainnya seharusnya tidak ekstrem (terlalu banyak atau terlalu sedikit) misalnya terlalu terang atau terlalu remang-remang, disamping itu kebanyakan karyawan lebih menyukai bekerja dekat dengan rumah, dalam fasilitas yang bersih dan relatif modern, dan dengan alat-alat dan peralatan yang memadai.
4. Rekan sekerja yang mendukung
Orang-orang mendapatkan lebih daripada sekedar uang atau prestasi yang
berwujud dari dalam kerja. Bagi kebanyakan karyawan, kerja juga mengisi
kebutuhan akan interaksi sosial. Oleh karena itu tidaklah mengejutkan bila
mempunyai rekan sekerja yang ramah dan mendukung menghantar ke
kepuasan kerja yang meningkat. Perilaku atasan seseorang juga merupakan determinan utama dari kepuasan. Umumnya studi mendapatkan bahwa kepuasan karyawan ditingkatkan bila penyelia langsung bersifat ramah dan dapat memahami, menawarkan pujian untuk kinerja yang baik, mendengarkan pendapat karyawan dan menunjukkan suatu minat pribadi mereka.
5. Jangan lupakan kesesuaian kepribadian pekerjaan
Orang-orang yang tipe kepribadiannya kongruen (sama dengan sebangun) dengan pekerjaan yang mereka pilih seharusnya mendapatkan bahwa mereka mempunyai bakat dan mempunyai kemampuan yang tepat untuk memenuhi tuntutan dari perkerjaan mereka. Dengan demikian lebih besar kemungkinan untuk berhasil pada pekerjaan-pekerjaan itu dan arena sukses ini, mempunyai kebolehjadian yang lebih besar untuk mencapai kepuasan yang tinggi dari dalam kerja mereka.
2.1.3. KEPUASAN DAN PRESTASI KERJA
Hal yang paling kontroversial paling banyak diperdebatkan dalam mempelajari
kepuasan kerja adalah dalam hubungannya dengan prestasi kerja. Selama bertahun-
tahun banyak manajer percaya bahwa seorang karyawan puas adalah karyawan yang
mempunyai prestasi tinggi. Tetapi banyak studi penelitian menemukan hubungan
yang tidak jelas antara kepuasan dan prestasi. Beberapa karyawan puas dengan
pekerjannya dan prestasi rendah. Tentu saja terdapat karyawan yang tidak puas tetapi
berprestasi unggul.
Karena menetukan variabel yang berpengaruh kepada orang lain sulit ketika kinerja dan kepuasan berhubungan secara positif maka terdapat tiga pandangan yang mengemukakan:
1. Kepuasan menyebabkan kinerja 2. Kinerja menyebabkan kepuasan
3. Penghargaan menganggu (interfere) dan tidak ada hubungan yang inheren
Gambar 2.1 menunjukkan ketiga pandangan tersebut
Gambar 2.1 Hubungan Kepuasan Kinerja dan Prestasi Kerja
Kedua hubungan pertama didukung oleh penelitian yang lemah. Dari tinjauan studi mengenai hubungan antara prestasi dan kepuasan didapatkan asosiasi yang lemah antara prestasi dan kepuasan
Maka bukti agak meyakinkan menyatakan bahwa karyawan yang tidak puas
perlu seseorang karyawan yang berkinerja tinggi. Usaha manajerial untuk
memuaskan setiap orang tidak akan menghasilkan produksi yang tinggi. Seperti
anggapan bahwa pekerja yang berkinerja tinggi dengan sendirinya juga terpuaskan
tidak didukung oleh studi, pandangan ketiga bahwa faktor seperti penghargaan
diantara hubungan kinerja dan kepuasan di dukung oleh temuan penelitian. Ini berarti
bahwa kinerja bukanlah akibat dari kepuasan atau sebaliknya.
Dari sudut pandang praktis, bagaimanapun banyak manajer ingin mempunyai karyawan yang terpuaskan dan produktif (tujuan yang memerlukan banyak usaha dan seperti pengambilan keputusan dari sisi manajer). Maka para manajer meneruskan ketertarikan pada kepuasan kerja walaupun bukti bahwa kepuasan tidak dapat ditentukan, dalam cara yang nyata tingkat prestasi, tetapi beberapa ahli teori dan peneliti menyarankan prestasi mempunyai arti lebih luas daripada unti atau mutu produksi yang sederhana. Kinerja juga meliputi berbagai perilaku warga negara, termasuk memperlihatkan pada rekan sekerja yang tidak dilatih bagaimana menyelesaikan pekerjaan di kala sedang dakit, membuat komentar positif dalam komunitas mengenai organisasi, bekerja extra keras untuk mengirimkan barang dan jasa sesuai janji, dan tidak mengeluh ketika manajemen tidak menyediakan sumber daya yang dijanjikan. Perilaku tersebut lebih umum ada pada karyawan yang terpuaskan.
Alasan lain dari minat berkelanjutan dari manajemen adalah bahwa penelitian menemukan hubungan yang moderat antara kepuasan dan penghasilan penjualan.
Bukti uga menunjukkan hubungan yang moderat antara kepuasan dan absensi.
Turnover disfungsional dan absensi adalah mahal dipandang dari segi biaya,
kesempatan yang hilang, dan semangat keseluruhan. Beberapa bukti memperlihatkan
hubungan antara kepuasan dan aktivitas serikat pekerja. Ketidakpuasan tidak
beranjak dari presepsi ketidakadilan pembayaran, hubungan penyelia bawahan yang
buruk, kondisi kerja yang tidak mencukupi menimbulkan dan bertahannya kegiatan
seperti pemungutan suara untuk wakil serikat pekerja.
2.1.4 KEPUASAN KERJA DAN IMBALAN
Sasaran utama program imbalan adalah :
1. Menarik orang yang berkualifikasi untuk bergabung dalam organisasi 2. Mempertahankan karyawan untuk tetap bekerja
3. Memotivasi karyawan mencapai prestasi tinggi
Gambar 2.2 menunjukkan model yang mengintegrasikan kepuasan, motivasi, prestasi dan imbalan.
Gambar 2.2 Model integrasi kepuasan, motivasi, prestasi dan imbalan