• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

MAHKAMAH KONSTITUSI

REPUBLIK INDONESIA

---

RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 184/PHPU.D-VIII/2010

PERKARA NOMOR 185/PHPU.D-VIII/2010

PERKARA NOMOR 186/PHPU.D-VIII/2010

PERIHAL

PERMOHONAN PERSELISIHAN HASIL

PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH DAN

WAKIL DAERAH KABUPATEN SIGI, KABUPATEN

LIMA PULUH KOTA DAN KABUPATEN

LOMBOK TENGAH

ACARA

PENGUCAPAN PUTUSAN

J A K A R T A

(2)

REPUBLIK INDONESIA --- RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 184/PHPU.D-VIII/2010 PERKARA NOMOR 185/PHPU.D-VIII/2010 PERKARA NOMOR 186/PHPU.D-VIII/2010 PERIHAL

Permohonan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Sigi, Kabupaten Lima Puluh Kota dan Kabupaten Lombok tengah.

PEMOHON

- Rizali Djaelangkara dan Ajub Willem Darawia (Perkara 184/PHPU.D-VIII/2010)

- Ridwan Yalidjama dan H. Edison Kindangen (Perkara 184/PHPU.D-VIII/2010)

- Irfendi Arbi dan Zadry Hamzah (Perkara 185/PHPU.D-VIII/2010)

- Tgh. Lalu Gede Muh. Ali Wirasakti Amir Murni dan H. Lalu Elyas Munir Jaelani (Perkara 186/PHPU.D-VIII/2010)

TERMOHON

KPU Kabupaten Sigi, KPU Kabupaten Lima Puluh Kota dan KPU Kabupaten Lombok Tengah.

ACARA

Pengucapan Putusan

Kamis, 21 Oktober 2010 Pukul 15.38 – 17.20WIB Ruang Sidang Pleno Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat

SUSUNAN PERSIDANGAN

1) Achmad Sodiki (Ketua)

2) Muhammad Alim (Anggota) 3) M. Akil Mochtar (Anggota) 4) Maria Farida Indrati (Anggota)

5) Hamdan Zoelva (Anggota)

6) Harjono (Anggota)

7) M. Arsyad Sanusi (Anggota) 8) Ahmad Fadlil Sumadi (Anggota)

Makhfud Panitera Pengganti Mardian Wibowo Panitera Pengganti Wiwik Budi Warsito Panitera Pengganti

(3)

Pihak Yang Hadir

Kuasa Hukum Pemohon Perkara 184/PHPU.D-VIII/2010: - Tim Kuasa Hukum.

Kuasa Hukum Pemohon Perkara 185/PHPU.D-VIII/2010: - Ahmar Ihsan

- Indra

Kuasa Hukum Pemohon Perkara 186/PHPU.D-VIII/2010: - Tim Kuasa Hukum.

Kuasa Hukum Termohon Perkara 184/PHPU.D-VIII/2010: - Tim Kuasa Hukum.

Kuasa Hukum Termohon Perkara 185/PHPU.D-VIII/2010: - Tim Kuasa Hukum.

Kuasa Hukum Termohon Perkara 186/PHPU.D-VIII/2010: - Tim Kuasa Hukum.

Kuasa Hukum Pihak Terkait Perkara 184/PHPU.D-VIII/2010:

- Tim Kuasa Hukum.

Kuasa Hukum Pihak Terkait Perkara 185/PHPU.D-VIII/2010:

- Tim Kuasa Hukum.

Kuasa Hukum Pihak Terkait Perkara 186/PHPU.D-VIII/2010:

(4)

1. KETUA: ACHMAD SODIKI

Sidang Perkara Nomor 184/PHPU.D-VIII/2010, 185/PHPU.D-VIII/2010, dan 186/PHPU.D-VIII/2010 untuk pengucapan putusan dengan ini saya nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.

Pemohon 184, hadir?

2. KUASA HUKUM PEMOHON PERKARA NOMOR 184/PHPU.D-VIII/2010:

Hadir, Yang Mulia. 3. KETUA: ACHMAD SODIKI

Baik. 185?

4. KUASA HUKUM PEMOHON PERKARA NOMOR 184/PHPU.D-VIII/2010:

185, Indra dan Ahmar Ihsan, SH. 5. KETUA: ACHMAD SODIKI

Baik. 186?

6. KUASA HUKUM PEMOHON PERKARA NOMOR 186/PHPU.D-VIII/2010:

Hadir, Majelis.

7. KETUA: ACHMAD SODIKI Baik, dari Termohon 184?

8. KUASA HUKUM TERMOHON PERKARA NOMOR 184/PHPU.D-VIII/2010:

Hadir, Yang Mulia.

KETUK PALU 3 X SIDANG DIBUKA PUKUL 15.38

(5)

9. KETUA: ACHMAD SODIKI 185?

10. KUASA HUKUM TERMOHON PERKARA NOMOR 185/PHPU.D-VIII/2010:

Hadir, Yang Mulia. 11. KETUA : ACHMAD SODIKI

186?

12. KUASA HUKUM TERMOHON PERKARA NOMOR 186/PHPU.D-VIII/2010:

Hadir.

13. KETUA: ACHMAD SODIKI Ya, ada Pihak Terkait 184?

14. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT PERKARA NOMOR 184/PHPU.D-VIII/2010:

Hadir, Yang Mulia. 15. KETUA: ACHMAD SODIKI

Ya, 185?

16. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT PERKARA NOMOR 185/PHPU.D-VIII:

Hadir Kuasa Hukum, Yang Mulia. 17. KETUA: ACHMAD SODIKI

186, ada?

18. KUASA PIHAK TERKAIT 186: Hadir, Yang Mulia.

19. KETUA: ACHMAD SODIKI

Baik. Kita akan mengawali pembacaan putusan ini dari Perkara 184.

(6)

PUTUSAN

Nomor 184/PHPU.D-VIII/2010

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHAESA

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

[1.1] Yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara konstitusi pada tingkat pertama dan terakhir, menjatuhkan putusan dalam perkara permohonan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Sigi Tahun 2010, yang diajukan oleh:

[1.2] 1. Nama : Drs. Rizali Djaelangkara, M.Si, umur 47 tahun, pekerjaan Pegawai Negeri Sipil, beralamat di Jalan Bumi Jaya I Nomor 9/11, Desa Mpanau, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah;

2. Nama : Ajub Willem Darawita,S.T. umur 57 tahun, pekerjaan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Sigi, beralamat di Tondei, Desa Mpanau, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah;

Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Sigi Tahun 2010 Nomor Urut 1

Selanjutnya disebut sebagai --- Pemohon I;

3. Nama : Drs. Ridwan Yalidjama, umur 47 tahun, pekerjaan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, beralamat di Kotarindau, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah;

4. Nama : Drs.H. Edison Kindangen, umur 57 tahun, beralamat di Desa Sidondo III, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah;

Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Sigi Tahun 2010 Nomor Urut 6

Dalam hal ini memberi kuasa kepada Arif Sulaeman, S.H. dan Syafruddin A. Datu, S.H. Keduanya adalah Advokat yang berkantor pada Kantor Advokat ARIF SULAEMAN dan REKAN di Jalan Cik Ditiro Nomor 30 Alu, Sulawesi Tengah. Baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama bertindak untuk dan atas nama Pemberi Kuasa berdasarkan Surat Kuasa Khusus bertanggal 23 September 2010;

Selanjutnya disebut sebagai --- Pemohon II;

Selanjutnya secara bersama-sama disebut--- para Pemohon.

(7)

Terhadap:

Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Donggala, berkedudukan di Jalan Pelabuhan Nomor 76, Donggala atau untuk kepentingan Pemilukada ini beralamat sementara di Jalan Mawar Nomor 1, Desa Mpanau, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah;

Dalam hal ini memberi kuasa kepada H. Idrus, S.H.,M.H., Muhtar, S.H., Hartawan Supu, S.H., dan Ali Rizaly,S.H., Kesemuanya Advokat yang berkantor Jalan Kapten Piere Tendean Nomor 5, Palu, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama, bertindak untuk dan atas nama Pemberi Kuasa berdasarkan Surat Kuasa Khusus bertanggal 5 Oktober 2010;

Selanjutnya disebut sebagai --- Termohon;

[1.3] Ir. Aswadin Randalembah dan Drs. Livingstone Sango, beralamat di Sigi, Kabupaten Sigi Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Sigi Tahun 2010 Nomor Urut 5.

Selanjutnya disebut sebagai --- Pihak Terkait;

[1.4] Membaca permohonan dan mendengar keterangan dari para Pemohon;

Mendengar keterangan dan membaca Jawaban Tertulis dari Termohon Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Donggala;

Mendengar keterangan dan membaca Keterangan Tertulis dari Pihak Terkait;

Memeriksa bukti-bukti dan mendengar keterangan saksi-saksi yang diajukan para Pemohon, dan Termohon;

Membaca kesimpulan tertulis dari para Pemohon, Termohon, dan Pihak Terkait;

20. HAKIM ANGGOTA : MUHAMMAD ALIM Pendapat Mahkamah Dalam Eksepsi

[3.16] Menimbang bahwa, meskipun Termohon dalam jawabannya tidak secara tegas menyatakan jawaban dalam eksepsi, namun menurut hukum, jawaban dari Termohon yang dapat dikualifikasi sebagai eksepsi, yaitu:

1. Permohonan para Pemohon kabur (obscuur libel) karena antara

posita dan petitum tidak terdapat keterkaitan;

2. Permohonan para Pemohon salah bukan merupakan kewenangan Mahkamah Konstitusi (error in objecto) karena yang menjadi objek dalam perkara a quo adalah Keputusan Termohon Nomor 278/204/KPU-KWK/2010 tentang Penetapan Pasangan Calon Terpilih Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Sigi Tahun 2010;

(8)

[3.17] Menimbang bahwa terhadap eksepsi Termohon beserta alasan hukumnya, Mahkamah berpendapat sebagai berikut:

[3.17.1] Terhadap eksepsi Termohon yang menyatakan permohonan para Pemohon kabur (obscuur libel), Mahkamah berpendapat, permohonan para Pemohon sudah memenuhi syarat formal sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; [3.17.2] Terhadap eksepsi Termohon yang menyatakan permohonan

keberatan para Pemohon error in objecto, pendapat Mahkamah, telah diuraikan dalam paragraf [3.4], yakni oleh karena Keputusan Termohon mengenai hasil perolehan suara Pemilhan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Sigi tidak dituangkan dalam satu produk hukum yang memuat angka-angka perolehan suara masin-masing Pasangan Calon dan hanya dituangkan dalam Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Donggala Nomor 278/204/KPU-KWK/2010 tentang Penetapan Pasangan Calon Terpilih Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Sigi Tahun 2010 tertanggal 22 September 2010 dan juga dituangkan dalam Berita Acara Nomor 278/205/KPU-KWK/2010 tentang Penetapan Pasangan Calon Terpilih Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Sigi Dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Sigi Tahun 2010 tertanggal 22 September 2010, masing-masing tidak memuat angka-angka perolehan suara masing-masing Pasangan Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Sigi, yang oleh para Pemohon, keputusan a quo dijadikan objectum litis dalam perkara a quo; [3.17.3] Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana diuraikan pada

sub paragraf [3.17.1] dan [3.17.2], Mahkamah berpendapat, eksepsi Termohon tidak berdasar dan tidak beralasan hukum; Dalam Pokok Perkara

[3.18] Menimbang bahwa dari fakta hukum, baik dalil-dalil para Pemohon, jawabannya Termohon dan keterangan Pihak Terkait, bukti-bukti surat dan keterangan saksi-saksi para Pemohon dan Termohon, Mahkamah menemukan fakta hukum, baik yang diakui maupun yang menjadi perselisihan hukum para pihak, sebagai berikut:

[3.18.1] Bahwa di persidangan terdapat fakta hukum dan dalil-dalil permohonan Pemohon yang tidak dibantah oleh Termohon dan Pihak Terkait, karenanya fakta-fakta hukum tersebut telah menjadi hukum bagi para Pemohon, Termohon, dan Pihak Terkait, maka tidak perlu dibuktikan lagi, yaitu:

1. Kedudukan Hukum (legal standing) para Pemohon;

2. Pemilukada dilaksanakan pada tanggal 16 September 2010. [3.18.2] Bahwa di samping fakta hukum atau hal-hal yang diakui para

pihak, dalam persidangan juga terdapat fakta hukum yang menjadi perselisihan hukum para pihak, yaitu:

1. Termohon sebagai penyelenggara Pemilukada bertindak tidak netral dan tidak profesional;

(9)

2. Penyelenggaraan Pemilukada diselenggarakan oleh 58 anggota KPU Kabupaten Donggala, yang terdiri atas 11 (sebelas) orang ketua dan 47 (empat puluh tujuh) orang anggota;

3. Hasil penghitungan suara yang ditetapkan Termohon cacat yuridis;

4. Terjadi praktik politik uang dilakukan Pasangan Calon Nomor Urut 5;

5. Terjadi kecurangan secara masif yang dilakukan Termohon beserta jajarannya;

6. PPK bertindak secara tidak profesional;

7. Perolehan suara Pasangan Calon Nomor Urut 5 diperoleh secara tidak terhormat dan penuh kecurangan;

[3.19] Menimbang bahwa terhadap hal yang menjadi perselisihan hukum di atas, Mahkamah akan memberikan pertimbangan dan penilaian hukum sebagai berikut:

[3.19.1] Bahwa para Pemohon mendalilkan Termohon sebagai penyelenggara Pemilukada bertindak tidak netral dan tidak profesional, yang dapat dibuktikan dengan (i) pencetakan surat suara yang melebihi ketentuan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan, (ii) Termohon tidak konsisten dalam menetapkan DPT sampai mencapai dua kali perubahan, dan (iii) penulisan tanggal dan bulan pada perubahan DPT tidak diketik rapi dan tanpa tanda tangan Ketua KPU Kabupaten Donggala serta tidak terurai secara rinci jumlah desa yang merupakan tempat TPS berada.

Untuk mendukung dalil-dalilnya para Pemohon mengajukan bukti tertulis yang diberi tanda Bukti P-7 berupa Berita Acara Rapat Pleno Terbuka KPU Kabupaten Donggala Nomor 270/194/KPU-KWK/IX/2010 tentang Perubahan Penetapan Rekapitulasi DPT Pemilukada Kabupaten Sigi Tahun 2010 tertanggal 13 September 2010, dan dua saksi, yaitu Muhamad Najib, S.Kom dan Nasrun, S.pd.I. Saksi Muhamad Najib, S.Kom menerangkan bahwa saksi diundang rapat oleh KPU Kabupaten Donggala pada tanggal 13 September 2010 dalam rangka perubahan DPT, padahal sudah memasuki masa tenang dan surat suara sudah tercetak. Ketua Divisi Logistik KPU Kabupaten Donggala menjelaskan bahwa telah menyiapkan 700 (tujuh ratus) surat suara tambahan di luar tambahan 2,5% (dua koma lima persen) sesuai ketentuan yang berlaku, yang selanjutnya 700 (tujuh ratus) surat suara tersebut dititipkan di Kepolisian, namun saksi tidak mengetahui lagi keberadaan 700 (tujuh ratus) surat suara tersebut. Saksi Nasrun,S.Pd.I menerangkan, terjadi dua kali perubahan DPT. Pada rekapitulasi tanggal 22 September 2010 jumlah pemilih laki-laki pada Model DB1-KWK berkurang 1 (satu) apabila dibandingkan dengan jumlah DPT yang ditetapkan tanggal 13 September 2010. Apabila dikombinasikan dengan jumlah pemilih laki-laki yang ditetapkan tanggal 13 September 2010 adalah 75.633 tetapi pada saat

(10)

rekapitulasi tanggal 22 September 2010 berjumlah 75.638 atau bertambah 5 pemilih laki-laki dan pemilih perempuan 72.075 tetapi pada saat rekapitulasi terjadi kekurangan 6 pemilih perempuan. Terdapat 261 pemilih yang tidak terdaftar dalam DPT dengan modus pemilih dari TPS lain;

Bahwa terhadap dalil para Pemohon tersebut, Termohon membantah dengan menyatakan bahwa kelebihan surat suara bukan merupakan kesengajaan dari Termohon melainkan kelebihan pencetakan yang dilakukan oleh perusahaan dengan tujuan mengantisipasi kalau ada kerusakan, dan ternyata memang terjadi kerusakan pada waktu melakukan pelipatan sehingga diganti dengan menggunakan kelebihan surat suara dimaksud. Perubahan DPT yang dilakukan Termohon karena didasarkan pada temuan Panwaslukada untuk mengakomodasi calon pemilih yang namanya belum masuk dalam DPT. Perubahan DPT disetujui oleh semua Pasangan Calon. Untuk mendukung dalil-dalilnya Termohon mengajukan bukti tertulis yang diberi tanda Bukti T-1 sampai dengan Bukti T-6.

Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 87 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yang menyatakan jumlah surat suara dicetak sama dengan jumlah DPT dan ditambah 2,5% (dua setengah perseratus) dari jumlah DPT, yang digunakan sebagai cadangan di setiap TPS untuk mengganti surat suara pemilih yang keliru memilih pilihannya dan surat suara yang rusak, juncto Pasal 12 ayat (1) huruf c, Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 79 Tahun 2009 tentang Pedoman Tata Pelaksanaan Pemungutan dan Penghitungan Suara Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah di Tempat Pemungutan Suara.

Bahwa berdasarkan ketentuan sebagaimana diuraikan di atas, maka meskipun Termohon berdalih bahwa penambahan surat suara tersebut bukan kesengajaan dari Termohon melainkan inisiatif dari perusahaan percetakan, namun kesediaan Termohon menerima penambahan surat suara di luar jumlah surat suara sesuai DPT dan ditambah 2,5% (dua setengah perseratus) dari jumlah DPT tetap tidak dapat dbenarkan menurut hukum sehingga peristiwa hukum berupa serah terima surat suara lebih dari Termohon kepada Kepolisian Sektor Biromaru tidak perlu terjadi. Namun demikian, para Pemohon tidak dapat membuktikan bahwa kelebihan surat suara sebanyak 700 lembar telah jatuh ke tangan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang dapat digunakan melakukan kecurangan dan pelanggaran dalam proses Pemilukada;

(11)

Bahwa meskipun perubahan DPT terakhir yang dilakukan Termohon pada tanggal 13 September 2010 dapat berakibat mengganggu tahapan Pemilukada, namun dengan tidak bermaksud membenarkan tindakan Termohon, karena perubahan DPT dilakukan dalam rangka menindaklanjuti rekomendasi dari Paswaslukada, maka tindakan Termohon tersebut dapat ditoleransi karena dilakukan dalam rangka memenuhi hak-hak warga negara untuk menggunakan hak pilihnya. Termohon tidak dapat membuktikan bahwa perubahan DPT tersebut hanya menguntungkan salah satu Pasangan Calon dan merugikan Pasangan Calon lainnya. Dalam perubahan DPT tersebut, semua Pasangan Calon memiliki kesempatan untuk memperoleh dukungan dari calon pemilih, sehingga tidak dapat dinilai merugikan para Pemohon.

Bahwa meskipun dalam Formulir Model A6-KWK tidak tertulis tanggal dibuatnya DPT tersebut tetapi oleh karena DPT Perubahan tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari Berita Acara Rapat Pleno Terbuka KPU Kabupaten Donggala Nomor 270/194/KPU-KWK/IX/2010 tentang Perubahan Penetapan Rekapitulasi DPT Pemilukada Kabupaten Sigi Tahun 2010, sehingga ketiadaan tanggal pada Formulir Model A6-KWK hanya dapat dinilai sebagai kesalahan teknis yang tidak mengurangi keabsahan dokumen dimaksud;

Bahwa berdasarkan penilaian dan pandangan hukum di atas, Mahkamah berpendapat bahwa permasalahan DPT dalam penyelenggaraan Pemilukada tidak dapat dinilai sebagai ketidaknetralan Penyelenggara Pemilukada yang melanggar prinsip dan asas Pemilu. Para Pemohon tidak dapat membuktikan bentuk keberpihakan Termohon kepada salah satu Pasangan Calon dalam kaitannya dengan permasalahan DPT. Ketidakprofesionalan dalam pengelolaan DPT tidaklah sampai menciderai penyaluran aspirasi warga negara dalam menggunakan hak pilihnya. Dengan demikian, dalil-dalil para Pemohon tidak berdasar dan tidak beralasan hukum;

[3.19.2] Bahwa para Pemohon mendalilkan penyelenggaraan Pemilukada diselenggarakan oleh 58 Anggota KPU Kabupaten Donggala, yang terdiri atas 11 (sebelas) orang ketua dan 47 (empat puluh tujuh) orang anggota yang tersebar di 11 (sebelas) kecamatan. Untuk mendukung dalil-dalilnya, para Pemohon mengajukan bukti tertulis yang diberi tanda Bukti 8 sampai dengan Bukti P-18.

Sebaliknya Termohon membantah dalil para Pemohon dengan menyatakan bahwa memang terjadi kesalahan pencetakan pada kolom penyelenggara Pemilukada di tingkat PPK yang seharusnya Panitia Pemilihan Kecamatan tetapi tertulis Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Donggala. Untuk mendukung bantahannya, Termohon mengajukan tiga saksi bernama Izrah, yang menerangkan penyelenggara Pemilukada

(12)

diselenggarakan oleh 58 anggota KPU adalah tidak benar, yang benar adalah oleh PPK tetapi memang terjadi kesalahan dalam pencetakan pada Formulir Model DA-KWK, Saksi Wilfred Tadamusu, S.Pd, yang menerangkan ada kekeliruan dalam pencetakan Formulir Model DA-KWK yaitu pada kolom nama PPK tertulis nama KPU, tetapi kesalahan tersebut tidak berpengaruh terhadap angka-angka perolehan suara Pasangan Calon, kesalahan pencetakan tersebut sudah diperbaiki dengan mencoret nama anggota KPU menjadi nama anggota PPK. Saksi Arbi menerangkan kesalahan yang terjadi hanya pada penulisan jenis kelamin tidak sama dengan yang ada dalam DPT tetapi tidak berpengaruh terhadap angka-angka perolehan suara;

Bahwa setelah Mahkamah mencermati bukti-bukti yang diajukan para Pemohon dan Termohon, Mahkamah menemukan fakta hukum telah terjadi kesalahan dalam Formulir Model DA1-KWK pada kolom Panitia Pemilihan Kecamatan tetapi tertulis Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Donggala, namun demikian, Mahkamah menilai, kesalahan pencetakan tersebut tidaklah berarti Pemilukada diselenggarakan oleh 58 Anggota KPU Kabupaten Donggala karena kesalahan dalam dokumen tersebut hanya kesalahan teknis yang tidak mengurangi keabsahan dokumen Model DA1-KWK. Terlebih lagi, para Pemohon tidak dapat membuktikan bahwa kesalahan penulisan tersebut berpengaruh terhadap perolehan suara masing-masing Pasangan Calon. Dengan demikian, dalil-dalil para Pemohon tidak berdasar dan tidak beralasan hukum.

[3.19.3] Bahwa para Pemohon mendalilkan hasil penghitungan suara yang ditetapkan Termohon cacat yuridis karena Formulir Model DA1-KWK tidak ditandatangani oleh PPK melainkan oleh KPU Kabupaten Donggala sehingga seluruh rangkaian catatan hasil penghitungan suara telah melanggar asas kepastian hukum, tertib penyelenggaraan Pemilu, proporsionalitas, profesionalitas dan akuntabilitas serta dilakukan tidak berdasarkan/tidak sesuai dengan ketentuan;

Bahwa oleh karena substansi dalil para Pemohon masih mempersoalkan sebagian kesalahan pencetakan dalam Formulir Model DA1-KWK, dan terhadap hal tersebut Mahkamah sudah berpendapat bahwa kolom Panitia Pemilihan Kecamatan yang tertulis Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Donggala hanya kesalahan teknis yang tidak mengurangi keabsahan Formulir Model DA1-KWK maka penilaian hukum dan pendapat Mahkamah mutatis mutandis juga berlaku terhadap dalil para Pemohon a quo.

21. Hakim Anggota : Arsyad Sanusi

Bahwa Pasal 91 Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005 yang dijadikan dasar para Pemohon untuk membatalkan

(13)

hasil rekapitulasi tingkat PPK adalah tidak tepat karena pasal a quo mengatur mengenai pemungutan suara ulang di TPS apabila kondisi-kondisi yang dipersyaratkan dalam pasal a quo

terpenuhi, sementara yang dipermasalahkan para Pemohon adalah kesalahan teknis pada Formulir Model DA1-KWK. Di samping itu, Bukti P-19 sampai dengan Bukti P-25, yang oleh para Pemohon dijadikan bukti untuk mendukung dalilnya mengenai ketidaksinkronan antara penghitungan suara dan DPT di tujuh kecamatan yakni Kecamatan Maramola (Bukti P-19), Kecamatan Marawola Barat (Bukti P-20), Desa/Kelurahan Balane, Kecamatan Kinovaro (Bukti P-21), Kecamatan Polo Barat (Bukti P-22), tanpa nama desa dan tanpa nama kecamatan (Bukti P-23), Kecamatan Palolo (Bukti P-24), dan Kecamatan Nokilalaki (Bukti P-25), tidak dapat diterima sebagai bukti yang sempurna karena di samping dokumen a quo tidak dapat menggambarkan adanya perbedaan jumlah DPT dan hasil penghitungan (seperti didalilkan para Pemohon), juga karena ada satu alat bukti yang diragukan validitasnya in casu Bukti P-23. Dengan demikian, dalil-dalil para Pemohon tidak berdasar dan tidak beralasan hukum.

[3.19.4] Terjadi praktik politik uang dilakukan Pasangan Calon Nomor Urut 5 dengan membagi-bagikan uang kepada warga di Desa Bora dan pembagian piagam penghargaan berlambang Burung Garuda dan bendera Merah Putih yang merupakan simbol negara, yang dapat dijadikan jaminan kesehatan/berobat gratis. Untuk mendukung dalil-dalilnya para Pemohon mengajukan bukti tertulis yang diberi tanda Bukti P-237 berupa stiker dan tujuh saksi masing-masing bernama Ramli Jubhari Tubuon, Rahmansyah Pandan, Mas’ud M, Mohammad Irfan, Ramli, Armas, dan Darfan, yang menerangkan pada pokoknya menerima piagam bergambar Pasangan Calon Nomor Urut 5, yang menurut si pemberi dapat digunakan sebagai jaminan kesehatan manakala Pasangan Calon Nomor Urut 5 terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati Sigi, dan ada pembagian uang dari Tim Sukses Pasangan Calon Nomor Urut 5 sebanyak Rp.50.000,- (lima puluh ribu rupiah) dan Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) dengan permintaan agar memilih Pasangan Calon Nomor Urut 5.

Sebaliknya Termohon membantah dalil para Pemohon dengan menyatakan bahwa dugaan money politic para Pemohon tidak dapat menunjukkan bukti yang terkait dengan permohonannya.

Menurut Mahkamah, Bukti P-237 adalah stiker yang diberikan kepada calon pemilih sebagai tanda bukti mendukung dan mensosialisasikan Pasangan Calon Nomor Urut 5. Pada sisi kanan tertera simbol Pasangan Calon Nomor Urut 5 dengan gambar Burung Garuda yang dikombinasikan dengan gambar menyerupai bendera Merah Putih, satu gambar bintang dan

(14)

tulisan melingkar “Tim Perjuangan”, adalah salah satu alat peraga kampanye yang tidak menyalahi peraturan perundang-undangan. Penggunaan gambar Burung Garuda tidak dapat dikualifikasi sebagai penggunaan Lambang Negara untuk tujuan yang tidak dibenarkan oleh Undang-Undang karena gambar Burung Garuda telah dikombinasikan dengan gambar lain sebagai satu kesatuan.

Bahwa dalam stiker sebagaimana dimaksud, tidak ditemukan satu kalimat yang berisi pemberian jaminan sesuatu kepada penerima stiker tersebut, melainkan hanya memuat tulisan bahwa stiker dimaksud diberikan sebagai tanda bukti mendukung dan mensosialisasikan Pasangan Calon Nomor Urut 5.

Bahwa seandainya pun benar ada janji dari Tim Kampanye Pasangan Calon Nomor Urut 5 bahwa stiker dapat digunakan untuk memperoleh pelayanan kesehatan gratis manakala Pasangan Calon Nomor Urut 5 terpilih sebagai Bupati dan Wakil Bupati dan ternyata janji tersebut tidak benar, maka para Pemohon dapat melaporkannya kepada pihak yang berwenang dalam hal ini Panwaslukada atau Kepolisian. Akan tetapi berdasarkan Bukti P-237 dan keteragan saksi tidak dapat meyakinkan Mahkamah mengenai adanya pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 64 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005 tentang Pemilihan, Pengesahan Pengangkatan, dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2008 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005 tentang Pemilihan, Pengesahan Pengangkatan, dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.

Bahwa terkait dengan pembagian uang kepada calon pemilih, menurut Mahkamah, bukti-bukti tertulis yang diajukan dan keterangan saksi dalam persidangan tidak cukup meyakinkan Mahkamah tentang telah terjadi pelanggaran pidana Pemilu berupa praktik politik uang yang terjadi dalam skala yang luas yang mempengaruhi pilihan calon pemilih sebagaimana surat Panwaslukada Kabupaten Sigi Nomor 249/PANWASLU-KAB.SIGI/X/2010 perihal jawaban keberatan Pemohon PHPU tanggal 9 Oktober 2010 yang diterima Kepaniteraan Mahkamah pada tanggal 18 Oktober 2010. Seperti yang banyak terungkap dalam persidangan Mahkamah, pemberian uang tidak serta merta bisa mempengaruhi pilihan dari pemilih sepanjang pemilihan dilakukan secara jujur dan rahasia. Artinya tidaklah dapat dibuktikan bahwa yang menerima uang memang pasti memilih pasangan calon yang memberi uang, apalagi seringkali terjadi orang yang menerima uang bukan hanya dari satu pasangan calon. Seperti keterangan saksi para Pemohon dalam persidangan, pemberian pasir untuk menimbun jalan becek

(15)

ternyata peraih suara terbanyak di desa-desa yang diterangkan saksi, bukanlah Pasangan Calon Nomor Urut 5, melainkan Pasangan Calon Nomor Urut 6. Dengan demikian, dalil-dalil para Pemohon tidak berdasar dan harus dikesampingkan;

[3.19.5] Bahwa para Pemohon mendalilkan terjadi kecurangan secara masif yang dilakukan Termohon beserta jajarannya;

Bahwa terhadap dalil para Pemohon a quo, menurut Mahkamah, para Pemohon tidak menguraikan di TPS mana saja terjadi penambahan suara untuk Pasangan Calon Nomor Urut 5, dan suara Pasangan Calon Nomor Urut berapa yang dikurangi untuk ditambahkan ke suara Pasangan Calon Nomor Urut 5;

Bahwa ketiadaan keberatan saksi-saksi Pasangan Calon pada rekapitulasi tingkat TPS dan Tingkat PPK kemudian mempersoalkannya pada saat rekapitulasi di Tingkat KPU Kabupaten tanpa disertai bukti-bukti yang kuat menurut hukum, harus dinilai tidak beralasan hukum.

Bahwa ketidakmampuan para Pemohon menguraikan di TPS mana terjadi pelanggaran berupa penggelembungan suara untuk Pasangan Calon Nomor Urut 5 dan penggembosan suara Pasangan Calon lain yang juga tanpa disertai bukti-bukti yang relevan, Mahkamah berpendapat dalil-dalil para Pemohon tidak berdasar dan tidak beralasan hukum.

[3.19.6] Bahwa para Pemohon mendalilkan Penyelenggara Pemilukada Kabupaten Sigi khususnya PPK telah membuat kesalahan dan bertindak secara tidak profesional sehingga berakibat tidak sahnya seluruh rangkaian catatan hasil rekapitulasi penghitungan suara di seluruh kecamatan;

Bahwa terhadap dalil para Pemohon tersebut, para Pemohon tidak mengajukan bukti yang relevan, para Pemohon juga tidak menguraikan bentuk kesalahan yang dilakukan seluruh PPK se-Kabupaten Sigi yang menyebabkan seluruh rangkaian rekapitulasi tidak sah dan batal. Mahkamah berpendapat dalil-dalil para Pemohon tidak relevan untuk dipertimbangkan lebih lanjut;

[3.19.7] Bahwa para Pemohon mendalilkan kurang lebih 11.000.000 (sebelas juta) perolehan suara Pasangan Calon Nomor Urut 5 diperoleh secara tidak terhormat dan penuh kecurangan, melalui tindakan Termohon yang merusak sendi-sendi demokrasi atas keberpihakan dan/atau pembuatan DPT yang amburadul yang menguntungkan kepada salah satu Pasangan Calon.

Sebaliknya Termohon membantah dalil-dalil para Pemohon dengan menyatakan argumentasi hukum yang dibangun oleh para Pemohon sangat tidak rasional jumlah pemilih se-Sulawesi Tengah saja tidak mencapai 11.000.000 (sebelas juta) apa lagi Kabupaten Sigi sebagai Kabupaten Baru. Untuk mendukung bantahannya, Termohon mengajukan bukti tertulis yang diberi tanda Bukti T-2;

(16)

Mahkamah, di samping tidak disertai bukti yang mendukung, para Pemohon juga kurang cermat dalam mendalilkan angka perolehan suara Pihak Terkait yang mencapai 11.000.000,- (sebelas juta) suara, meskipun kekeliruan tersebut telah diakui para Pemohon di muka sidang karena ada sanggahan dari Termohon, namun para Pemohon tidak dapat menguraikan bentuk kecurangan dan tindakan yang tidak terhormat dari Pasangan Calon Nomor 5. Mahkamah tidak menemukan alasan yang kuat menurut hukum untuk mendiskualifikasi Pihak Terkait dan menyatakan penghitungan suara yang benar adalah penghitungan suara menurut para Pemohon sehingga diperlukan Pemilukada Putaran Kedua atau pemungutan suara ulang. Dengan demikian, dalil-dalil para Pemohon tidak berdasar dan tidak beralasan hukum.

[3.20] Menimbang bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan hukum di atas, dalam kaitannya satu sama lain, Mahkamah menilai dalil-dalil permohonan para Pemohon tidak berdasar dan tidak beralasan hukum;

22. KETUA : ACHMAD SODIKI 4. KONKLUSI

Berdasarkan seluruh penilaian atas fakta dan hukum sebagaimana diuraikan di atas, Mahkamah berkesimpulan sebagai berikut:

[4.1] Mahkamah berwenang memeriksa, mengadili dan memutus permohonan a quo;

[4.2] Para Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk bertindak selaku Pemohon dalam perkara a quo;

[4.3] Permohonan para Pemohon diajukan masih dalam tenggang waktu yang ditentukan Undang-Undang;

[4.4] Eksepsi Termohon tidak beralasan hukum;

[4.5] Dalil-dalil para Pemohon tidak terbukti menurut hukum;

Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan mengingat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4316), Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844), serta Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5076);

(17)

5. AMAR PUTUSAN Mengadili, Menyatakan:

Dalam Eksepsi:

- Menolak eksepsi Termohon untuk seluruhnya: Dalam Pokok Perkara

- Menolak permohonan para Pemohon untuk seluruhnya;

Demikian diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Hakim oleh sembilan Hakim Konstitusi yaitu Moh. Mahfud MD, selaku Ketua merangkap Anggota, Achmad Sodiki, Muh. Arsyad Sanusi, Maria Farida Indrati, Muhammad Alim, Ahmad Fadlil Sumadi, Hamdan Zoelva, Harjono, dan M. Akil Mochtar masing-masing sebagai Anggota, pada hari Selasa tanggal sembilan belas bulan Oktober tahun dua ribu sepuluh yang diucapkan dalam Sidang Pleno terbuka untuk umum pada hari Kamis tanggal dua puluh satu bulan Oktober tahun dua ribu sepuluh oleh tujuh Hakim Konstitusi yaitu Achmad Sodikiselaku Ketua merangkap Anggota, Muh. Arsyad Sanusi, Maria Farida Indrati, Muhammad Alim, Ahmad Fadlil Sumadi, Hamdan Zoelva, dan Harjono masing-masing sebagai Anggota dengan didampingi oleh Makhfud sebagai Panitera Pengganti, serta dihadiri oleh Pemohon/Kuasanya, Termohon/Kuasanya, dan Pihak Terkait/Kuasanya.

PUTUSAN

Nomor 185/PHPU.D-VIII/2010

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

[1.1] Yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara konstitusi pada tingkat pertama dan terakhir, menjatuhkan putusan dalam perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010, yang diajukan oleh:

[1.2] 1. Nama : Ir. Irfendi Arbi, M.P. Tempat/Tanggal Lahir : Payakumbuh, 20 April 1964 Pekerjaan : Wakil Bupati

Alamat : Purwajaya, Desa Sarilanak,

Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota

2. Nama : Ir. Zadry Hamzah, M.S. Tempat/Tanggal Lahir : Situjuh, 22 Februari 1949

Pekerjaan : Swasta

(18)

Alamat : Tanjung Jati, Jorong Tanjung Jati Nagari VII Koto Talago, Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota

Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Peserta Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010 Nomor Urut 3;

Berdasarkan Surat Kuasa Khusus bertanggal 28 September 2010, memberi kuasa kepada i) Avisenna, S.H.; ii) Doni Fitra, S.H., M.H.; iii) Zulhesni, S.H.; iv) Miko Kamal, S.H., LL.M.; v) Ahmar Insan, S.H.; dan vi) Indra, S.H., yaitu para Advokat pada Kantor Hukum ”Anggrek Law Firm” yang beralamat di Jalan Permindo Nomor 61-63, Padang, baik bersama-sama maupun sendiri-sendiri bertindak untuk dan atas nama Pemohon;

Selanjutnya disebut sebagai --- Pemohon;

Terhadap:

[1.3] Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Lima Puluh Kota, berkedudukan di Jalan Raya Negara Km. 6 Tanjung Pati, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat;

Berdasarkan Surat Kuasa bertanggal 4 Oktober 2010 memberi kuasa kepada i) Alvon Kurnia Palma, S.H.; ii) Rianda Seprasia, S.H.; iii) Vino Oktavia, S.H.; dan iv) Mevrizal, S.H., yaitu Advokat pada ”Kantor Advokat Alvon Kurnia Palma, S.H. & Associates” beralamat di Perumahan Jihad Indah Persada Buo Blok F-9 Kampung Jambak, Kelurahan Batipuh, Kecamatan Koto Tengah, Padang, Sumatera Barat, baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri bertindak untuk dan atas nama Termohon;

Selanjutnya disebut sebagai --- Termohon;

[1.4] 1. Nama : dr. Alis Marajo Tanggal Lahir : 23 Juni 1946

Pekerjaan : Wakil Ketua DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota

Alamat : Jalan Khatib Sulaiman RT/RW 03/01 Nomor 5 Kelurahan Sawah Padang, Kecamatan Payakumbuh Barat, Kota Payakumbuh, Provinsi Sumatera Barat

2. Nama : Drs. Asyirwan Yunus Tanggal Lahir : 22 Mei 1964

Pekerjaan : Wiraswasta

Alamat : Villa Setia Budi Prima Blok A-9 Kelurahan Tanjung Sari, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara

(19)

Adalah Pasangan Bupati dan Wakil Bupati Peserta Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010 Nomor Urut 7;

Berdasarkan Surat Kuasa Khusus bertanggal 2 Oktober 2010, memberi kuasa kepada i) Fauzan Zakir, S.H., M.H.; ii) Sahnan Sahuri Siregar, S.H.; iii) Sutomo, S.H.; iv) Wilson Saputra, S.H.; dan v) Wendra Yunaldi, S.H., M.H., semuanya tergabung dalam ”Tim Advokasi Pemenangan Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati dr. Alis Marajo dan Drs. Asyirwan Yunus dalam Pemilukada Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010” yang beralamat di Jalan Khatib Sulaiman RT/RW 03/01 Nomor 5, Kelurahan Sawah Padang, Kecamatan Payakumbuh Barat, Kota Payakumbuh, Provinsi Sumatera Barat, baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri bertindak untuk dan atas nama Pihak Terkait;

Selanjutnya disebut sebagai --- Pihak Terkait;

[1.5] Membaca permohonan dari Pemohon; Mendengar keterangan dari Pemohon;

Mendengar keterangan dan membaca jawaban tertulis dari Termohon dan Pihak Terkait;

Mendengar keterangan Panwaslu Kabupaten Lima Puluh Kota; Memeriksa bukti-bukti dari Pemohon, Termohon, dan Pihak Terkait;

Mendengar keterangan saksi dari Pemohon, Termohon, dan Pihak Terkait;

Membaca kesimpulan tertulis dari Pemohon, Termohon, dan Pihak Terkait;

23. HAKIM ANGGOTA : MARIA FARIDA INDRIATI Pendapat Mahkamah

Dalam Eksepsi

[3.11] Menimbang bahwa dalam tanggapannya, Termohon dan Pihak Terkait mengajukan eksepsi terhadap permohonan Pemohon yang pada pokoknya sebagai berikut:

Eksepsi Termohon:

1. Permohonan Pemohon lewat waktu;

2. Permohonan Pemohon bukan merupakan objek sengketa hasil Pemilukada dan bukan kewenangan Mahkamah Konstitusi (error

in objecto);

3. Permohonan Pemohon kabur (obscuur libel); Eksepsi Pihak Terkait:

1. Permohonan Pemohon bukan merupakan objek sengketa hasil Pemilukada dan bukan kewenangan Mahkamah Konstitusi (error

in objecto);

(20)

[3.11.1] Terhadap eksepsi Termohon dan Pihak Terkait bahwa permohonan para Pemohon bukan merupakan objek sengketa hasil Pemilukada dan bukan kewenangan Mahkamah Konstitusi

(error in objecto), Mahkamah memberikan penilaian hukum

sebagai berikut.

Bahwa pelanggaran-pelanggaran di dalam sengketa Pemilukada dapat dikategorikan ke dalam beberapa pelanggaran Pemilu ataupun pelanggaran Pemilukada seperti pelanggaran administratif dan pelanggaran pidana Pemilu, misalnya money

politic, intimidasi, dan penganiayaan. Sesuai dengan peraturan

perundang-undangan, jenis-jenis pelanggaran tersebut masing-masing ditangani oleh instansi yang fungsi dan wewenangnya telah ditentukan oleh Undang-Undang;

Bahwa Mahkamah dalam menangani sengketa Pemilu ataupun Pemilukada telah memaknai dan memberikan pandangan hukumnya melalui putusan-putusannya dengan memberikan penafsiran yang luas demi tegaknya keadilan, yaitu Mahkamah tidak hanya terpaku secara harfiah dalam memaknai Pasal 106 ayat (2) UU 32/2004 juncto UU 12/2008 dan Pasal 4 PMK 15/2008 yang pada pokoknya menyatakan Mahkamah mengadili perkara Pemilukada terbatas hanya persoalan hasil perolehan suara. Selengkapnya Pasal 106 ayat (2) UU 32/2004

juncto UU 12/2008 menyatakan, “Keberatan sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) hanya berkenaan dengan hasil penghitungan suara yang memengaruhi terpilihnya pasangan

calon”, dan Pasal 4 PMK 15/2008 menyatakan, “Objek

perselisihan Pemilukada adalah hasil penghitungan suara yang ditetapkan oleh Termohon yang mempengaruhi: a. penentuan Pasangan Calon yang dapat mengikuti putaran kedua Pemilukada; atau b. terpilihnya Pasangan Calon sebagai kepala daerah dan wakil kepala daerah.”

Bahwa dalam mengemban misinya Mahkamah sebagai pengawal konstitusi dan pemberi keadilan tidak dapat memainkan perannya dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan negara dalam memberikan keadilan dan kesejahteraan bagi warga masyarakat jika dalam menangani sengketa Pemilukada hanya menghitung perolehan suara secara matematis. Sebab kalau demikian, Mahkamah tidak dapat atau dilarang memasuki proses peradilan dengan memutus fakta hukum yang nyata-nyata terbukti tentang terjadinya suatu tindakan hukum yang menciderai hak-hak asasi manusia, terutama hak politik. Lebih dari itu, apabila Mahkamah diposisikan untuk membiarkan proses Pemilu ataupun Pemilukada berlangsung tanpa ketertiban hukum maka pada akhirnya sama saja dengan membiarkan terjadinya pelanggaran atas prinsip Pemilu yang Luber dan Jurdil. Jika demikian maka Mahkamah selaku institusi negara pemegang kekuasaan kehakiman hanya diposisikan sebagai “tukang stempel” dalam menilai kinerja Komisi

(21)

Pemilihan Umum. Jika hal itu terjadi berarti akan melenceng jauh dari filosofi dan tujuan diadakannya peradilan atas sengketa hasil Pemilu atau Pemilukada tersebut. Terlebih lagi banyak fakta terjadinya pelanggaran yang belum dapat diselesaikan oleh peradilan umum karena waktu penyelidikan atau penyidikannya telah habis sedangkan KPU dan KPU Provinsi/Kabupaten/Kota harus segera menetapkan hasil Pemilukada sesuai dengan tenggat yang telah ditentukan oleh Undang-Undang;

Bahwa dari pandangan hukum di atas, Mahkamah dalam mengadili sengketa Pemilukada tidak hanya membedah permohonan dengan melihat hasil perolehan suara an sich, melainkan Mahkamah juga meneliti secara mendalam adanya pelanggaran yang bersifat terstruktur, sistematis, dan masif yang memengaruhi hasil perolehan suara tersebut. Dalam berbagai putusan Mahkamah yang seperti itu terbukti telah memberikan makna hukum dan keadilan dalam penanganan permohonan, baik dalam rangka pengujian Undang-Undang maupun sengketa Pemilu atau Pemilukada. Dalam praktik yang sudah menjadi yurisprudensi dan diterima sebagai solusi hukum itu, Mahkamah dapat menilai pelanggaran-pelanggaran yang terstruktur, sistematis, dan masif sebagai penentu putusan dengan alasan pelanggaran yang memiliki tiga sifat itu dapat memengaruhi hasil peringkat perolehan suara yang signifikan dalam Pemilu atau Pemilukada (vide Putusan Mahkamah dalam Perkara Nomor 41/PHPU.D-VI/2008 bertanggal 2 Desember 2008);

Bahwa dasar konstitusional atas sikap Mahkamah yang seperti itu adalah ketentuan Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 yang menyatakan, “Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili ...,

dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum”. Di

dalam ketentuan tersebut jelas dinyatakan bahwa Mahkamah mengadili dan memutus “hasil pemilihan umum” dan bukan sekedar “hasil penghitungan suara pemilihan umum” saja. Mahkamah sebagai lembaga peradilan menjadi lebih tepat jika mengadili “hasil pemilihan umum” dan bukan sebagai peradilan angka hasil penghitungan suara, melainkan sebagai peradilan yang mengadili masalah-masalah yang juga terjadi dalam proses-proses pelaksanaan Pemilu dan Pemilukada;

Bahwa dalam menilai proses terhadap hasil Pemilu atau Pemilukada tersebut Mahkamah membedakan berbagai pelanggaran ke dalam tiga kategori. Pertama, pelanggaran dalam proses yang tidak berpengaruh atau tidak dapat ditaksir pengaruhnya terhadap hasil suara Pemilu atau Pemilukada seperti pembuatan baliho, kertas simulasi yang menggunakan lambang, dan alat peraga yang tak sesuai dengan tata cara yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan. Untuk jenis pelanggaran yang seperti ini Mahkamah tidak dapat

(22)

menjadikannya sebagai dasar pembatalan hasil penghitungan suara yang ditetapkan oleh KPU atau KPU Provinsi/Kabupaten/Kota. Hal ini sepenuhnya menjadi ranah peradilan umum dan/atau Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN).

Kedua, pelanggaran dalam proses Pemilu atau Pemilukada yang

berpengaruh terhadap hasil Pemilu atau Pemilukada seperti

money politic, keterlibatan oknum pejabat atau PNS, dugaan

pidana Pemilu, dan sebagainya. Pelanggaran yang seperti ini dapat membatalkan hasil Pemilu atau Pemilukada sepanjang berpengaruh secara signifikan, yakni karena terjadi secara terstruktur, sistematis, dan masif yang ukuran-ukurannya telah ditetapkan dalam berbagai putusan Mahkamah; sedangkan pelanggaran-pelanggaran yang sifatnya tidak signifikan terhadap hasil Pemilu atau Pemilukada seperti yang bersifat sporadis, parsial, perorangan, dan hadiah-hadiah yang tidak dapat dibuktikan pengaruhnya terhadap pilihan pemilih tidak dijadikan dasar oleh Mahkamah untuk membatalkan hasil penghitungan suara oleh KPU/KPU Provinsi/Kabupaten/Kota.

Ketiga, pelanggaran tentang persyaratan menjadi calon yang

bersifat prinsip dan dapat diukur (seperti syarat tidak pernah dijatuhi pidana dan syarat keabsahan dukungan bagi calon independen) dapat dijadikan dasar untuk membatalkan hasil Pemilu atau Pemilukada karena ada pesertanya yang tidak memenuhi syarat sejak awal;

Bahwa berdasar pandangan dan paradigma yang dianut tersebut maka Mahkamah menegaskan bahwa pembatalan hasil Pemilu atau Pemilukada karena pelanggaran-pelanggaran yang bersifat terstruktur, sistematis, dan masif sama sekali tidak dimaksudkan oleh Mahkamah untuk mengambil alih kewenangan badan peradilan lain. Mahkamah tidak akan pernah mengadili pelanggaran pidana atau administrasi dalam Pemilu atau Pemilukada, melainkan hanya mengambil pelanggaran-pelanggaran yang terbukti di bidang itu yang berpengaruh terhadap hasil Pemilu atau Pemilukada sebagai dasar putusan tetapi tidak menjatuhkan sanksi pidana dan sanksi administrasi terhadap para pelakunya. Oleh sebab itu, setiap pelanggaran yang terbukti menurut Hukum Acara Mahkamah Konstitusi dan dijadikan dasar putusan pembatalan oleh Mahkamah tetap dapat diambil langkah hukum lebih lanjut untuk diadili oleh lembaga peradilan umum atau PTUN sebab Mahkamah tidak pernah memutus dalam konteks pidana atau administratif. Bahkan terkait dengan itu, khusus untuk pelanggaran pidana, Mahkamah Konstitusi sudah menandatangani Nota Kesepahaman dengan Kepolisian Negara Nomor 016/PK/SET.MK/2010 dan Nomor B/18/VIII/2010 bertanggal 10 Agustus 2010 yang isinya mendorong agar temuan-temuan pidana dari persidangan-persidangan Pemilukada di Mahkamah dapat terus ditindaklanjuti;

(23)

Bahwa objek permohonan Pemohon terkait dengan sengketa hasil penghitungan suara Pemilukada, yaitu Pemilukada Kabupaten Lima Puluh Kota berdasarkan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Lima Puluh Kota Nomor 85/Kpts/KPU-Kab-003.435058/2010 tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati Lima Puluh Kota Tahun 2010 Putaran II, bertanggal 26 September 2010;

Bahwa berdasarkan pandangan hukum di atas, maka eksepsi tentang kewenangan Mahkamah adalah tidak tepat dan tidak beralasan hukum, sehingga Mahkamah berwenang mengadili pelanggaran Pemilu atau Pemilukada untuk menentukan apakah ada pelanggaran-pelanggaran yang bersifat terstruktur, sistematis, dan masif, termasuk penghitungan hasil perolehan suara yang berpengaruh terhadap penetapan hasil Pemilu atau Pemilukada;

[3.11.2] Terhadap eksepsi Termohon bahwa permohonan para Pemohon

obscuur libel karena tidak menguraikan secara jelas kesalahan

hasil penghitungan suara yang telah ditetapkan oleh Pemohon dan tidak adanya dalil para Pemohon mengenai perselisihan hasil penghitungan suara, Mahkamah berpendapat eksepsi a quo sudah memasuki dan terkait dengan pokok permohonan. Oleh karena itu, eksepsi Termohon dan Pihak Terkait a quo

akan dipertimbangkan dan diputus bersama pokok permohonan; [3.11.3] Terhadap eksepsi Termohon dan Pihak Terkait bahwa

permohonan Pemohon telah melampaui tenggang waktu pengajuan perbaikan permohonan, Mahkamah berpendapat bahwa pengajuan perbaikan permohonan dalam perkara ini dapat diterima oleh Mahkamah dengan pertimbangan Termohon dan Pihak Terkait belum mengajukan jawaban terhadap permohonan Pemohon dimaksud;

[3.12] Menimbang bahwa oleh karena Mahkamah berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus permohonan a quo, Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan, dan permohonan diajukan masih dalam tenggang waktu yang ditentukan, maka Mahkamah selanjutnya akan mempertimbangkan pokok permohonan;

Dalam Pokok Permohonan

[3.13] Menimbang bahwa dari fakta hukum, baik dalil Pemohon, jawaban Termohon, jawaban Pihak Terkait, serta bukti-bukti surat dan keterangan saksi Pemohon, Termohon, dan Pihak Terkait, Mahkamah menemukan fakta hukum baik yang diakui maupun yang menjadi perselisihan hukum para pihak, sebagai berikut:

[3.13.1] Bahwa di persidangan terdapat fakta hukum dan dalil-dalil permohonan Pemohon yang tidak dibantah oleh Termohon, karenanya fakta hukum tersebut menjadi hukum bagi para pihak sehingga hal tersebut tidak perlu dibuktikan lagi, yaitu:

(24)

1. Pemungutan suara pada Pemilukada Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010 Putaran II telah dilaksanakan hari Rabu, 22 September 2010;

2. Hasil Rekapitulasi Pemilukada Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010 Putaran II ditetapkan KPU Kabupaten Lima Puluh Kota dengan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Lima Puluh Kota Nomor 85/Kpts/KPU-Kab-003.435058/2010 tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Perhitungan Perolehan Suara Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati Lima Puluh Kota Tahun 2010 Putaran II, bertanggal 26 September 2010; [3.13.2] Bahwa di samping fakta hukum atau hal-hal yang diakui para

pihak, dalam persidangan juga terdapat fakta hukum atau hal-hal yang menjadi pokok perselisihan, yaitu:

1. Tidak didistribusikannya formulir Model C6-KWK kepada pendukung Pemohon; dan

2. Adanya praktek politik uang (money politic); 24. HAKIM ANGGOTA : ARSYAD SANUSI

[3.14] Menimbang bahwa terhadap hal-hal yang menjadi perselisihan hukum di atas, Mahkamah akan memberikan pertimbangan dan penilaian hukum sebagai berikut:

[3.15] Menimbang bahwa Pemohon menyatakan keberatan terhadap Keputusan KPU Kabupaten Lima Puluh Kota Nomor 85/Kpts/KPU-Kab-003.435058/2010 tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati Lima Puluh Kota Tahun 2010 Putaran II, tanggal 26 September 2010, yang menyatakan perolehan suara Pemohon (Pasangan Calon Nomor Urut 3) sejumlah 70.064 suara, sedangkan Pasangan Calon Nomor Urut 7 memperoleh sejumlah 70.815 suara. Keberatan tersebut dikarenakan, menurut Pemohon, perolehan suara dalam Pemilukada Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010 Putaran II merupakan hasil rekayasa. Untuk membuktikan dalilnya Pemohon mengajukan Saksi Nanda C yang pada pokoknya menerangkan Saksi tidak menandatangani Berita Acara Rekapitulasi Pleno tingkat Kabupaten Lima Puluh Kota;

Pihak Terkait membantah dalil Pemohon dan menyatakan bahwa keberatan Pemohon tersebut tidak beralasan secara hukum, karena saksi Pemohon tidak pernah menyatakan keberatan baik di tingkat TPS, Kecamatan, maupun Kabupaten. Untuk membuktikan bantahannya Pihak Terkait mengajukan Bukti PT-13 sampai dengan Bukti PT-23 berupa Model C-KWK dan C1-KWK di sebelas kecamatan di Kabupaten Lima Puluh Kota;

Menurut Mahkamah, dalil Pemohon tersebut berkaitan erat dengan dalil Pemohon mengenai tidak adanya undangan (formulir Model C6-KWK) untuk 1.238 (seribu dua ratus tiga

(25)

puluh delapan) pemilih dan dalil mengenai adanya praktik politik uang, sehingga terhadap dalil di atas Mahkamah akan mempertimbangkannya bersama-sama sebagai satu rangkaian dengan dalil mengenai undangan (formulir C6-KWK) dan dalil mengenai praktik politik uang pada paragraf selanjutnya;

[3.16] Menimbang bahwa Pemohon mendalilkan Termohon sengaja tidak memberikan undangan pemilih kepada calon pemilih di daerah yang merupakan basis pendukung Pemohon, yaitu di Kecamatan Lareh Sago Halaban sejumlah 1.159 (seribu seratus lima puluh sembilan) pemilih dan di Kecamatan Payakumbuh sejumlah 79 (tujuh puluh sembilan) pemilih; yang jumlah totalnya 1.238 (seribu dua ratus tiga puluh delapan) pemilih. Untuk membuktikan dalilnya Pemohon mengajukan Bukti P-5.1 sampai dengan Bukti P-17.15 berupa pernyataan dari 927 orang yang tidak menerima formulir Model C6-KWK;

Pemohon juga mengajukan Saksi Hasan Basri, Gusrul Efendi, Ramurti, Nasirni Tengku Tanjung, Jailina, dan Yusrizal, yang semuanya menerangkan bahwa dalam Pemilukada Putaran II tidak memperoleh undangan atau formulir Model C6-KWK; [3.16.1] Termohon membantah dalil Pemohon dan menyatakan bahwa

tidak terjadi kesalahan dan pelanggaran dalam penyelenggaraan Pemilukada Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010 Putaran II, yang dibuktikan dengan tidak adanya keberatan dari saksi Pasangan Calon Nomor Urut 3 di TPS, serta saksi Pemohon ikut menandatangani rekapitulasi penghitungan hasil suara di tingkat Kabupaten. Termohon menyatakan telah membagikan undangan kepada para pemilih di Kecamatan Sago Halaban dan Kecamatan Payakumbuh. Jika pemilih tidak mendapatkan formulir Model C6-KWK, tetapi namanya terdaftar dalam DPT, tetap dapat memilih dengan menunjukkan KTP, sedangkan DPT telah ditetapkan dalam rapat pleno dengan mengundang Panwaslu, Tim Kampanye, serta Pasangan Calon. Untuk membuktikan bantahannya, Termohon mengajukan Bukti T-12 sampai dengan Bukti T-14. Pemohon juga mengajukan Asri dan Antoni (Ketua dan anggota PPK Lareh Sago Halaban), serta Arwin Mazni dan M Rinaldi (Ketua dan Anggota PPK Payakumbuh) yang pada pokoknya menerangkan bahwa PPK Lareh Sago Halaban dan PPK Payakumbuh telah mensosialisasikan tata cara pemungutan suara, termasuk tata cara pemungutan suara bagi pemilih yang tidak mendapatkan formulir Model C6-KWK. Saksi Makmur, Yuliarwan Gindo, dan Josef Hanafi, pada pokoknya menyatakan telah mendapat formulir Model C6-KWK dari PPS. Saksi Achmad Sumarna (Penyiar Radio di Kecamatan Payakumbuh) menyatakan bahwa melalui program radio yang dikelola saksi, KPU telah mensosialisasikan tata cara pemungutan suara dan tata cara pemungutan suara bagi pemilih yang tidak mendapatkan formulir Model C6-KWK;

(26)

[3.16.2] Pihak Terkait membantah dalil Pemohon dan menyatakan bahwa dalil Pemohon mengenai adanya kesalahan dan pelanggaran Pemilukada yang mengakibatkan berkurang/hilangnya suara Pemohon adalah wilayah kewenangan Panwaslu Kabupaten Lima Puluh Kota. Termohon juga telah membagikan surat pemberitahuan untuk melaksanakan pemungutan suara, dan setiap saksi pasangan calon yang hadir di TPS telah menandatangani berita acara penghitungan suara. Untuk membuktikan bantahannya, Pihak Terkait mengajukan Bukti PT-6 dan Bukti PT-7 berupa formulir Model C-KWK dan C1-KWK Kecamatan Lareh Sago Halaban dan Kecamatan Payakumbuh. Pihak Terkait juga mengajukan Bukti PT-12 berupa pernyataan dari Hasmi Feltina bahwa Nedi dan Acin merekayasa surat pernyataan tidak menerima undangan; Pihak Terkait mengajukan Saksi Juartono, Awesni, dan Idris yang menyatakan tidak memperoleh undangan tetapi dapat mencoblos dengan menunjukkan KTP karena nama mereka terdaftar dalam DPT. Saksi Adi Putra menerangkan bahwa Saksi tidak mendapat undangan karena namanya memang tidak terdaftar dalam DPT. Saksi Hasmi Feltina dan Rosniati menyatakan bahwa Yannedi dan Acin membuat surat pernyataan atas nama orang-orang yang tidak ikut pemungutan suara kemudian mereka berdua menandatanganinya sendiri; Dalam persidangan, Panwaslu memberikan keterangan bahwa KPU Kabupaten Lima Puluh Kota telah menetapkan DPT dalam Rapat Pleno terbuka pada tanggal 6 Mei 2010 di Aula Kantor Bupati Kabupaten Lima Puluh Kota di Sarilamak;

[3.16.3] Berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan, menurut Mahkamah memang terdapat calon pemilih yang tidak memperoleh formulir Model C6-KWK atau yang sering disebut surat undangan memilih, namun Mahkamah menilai Pemohon tidak dapat membuktikan bahwa terdapat 1.238 (seribu dua ratus tiga puluh delapan) pemilih yang tidak mendapat undangan. Dari 1.238 pemilih yang didalilkan tidak mendapat formulir Model C6-KWK, Pemohon hanya mengajukan surat pernyataan dari 927 orang yang tidak mendapatkan formulir Model C6-KWK; terlebih lagi dari 927 surat pernyataan yang diajukan Pemohon, Mahkamah menilai terdapat banyak tulisan dan tanda tangan yang satu dengan lainnya memiliki kesamaan, sehingga keasliannya diragukan. Dengan demikian, menurut Mahkamah, dalil Pemohon tidak terbukti dan harus dikesampingkan;

[3.17] Menimbang bahwa Pemohon mendalilkan jika 1.238 (seribu dua ratus tiga puluh delapan) pemilih tersebut diakomodir dalam pemungutan suara, maka perolehan suara Pemohon akan menjadi 71.302 (tujuh puluh satu tiga ratus dua) suara, yang berasal dari 70.064 (tujuh puluh ribu enam puluh empat) suara versi KPU Kabupaten Lima Puluh Kota ditambah dengan 1.238

(27)

(seribu dua ratus tiga puluh delapan) suara. Perolehan suara Pemohon mengungguli perolehan suara Pasangan Calon Nomor Urut 7 yaitu sejumlah 70.816 (tujuh puluh ribu delapan ratus enam belas) suara;

Pihak Terkait membantah dalil Pemohon dan menyatakan bahwa dalil Pemohon mengenai 1.238 (seribu dua ratus tiga puluh delapan) pemilih yang tidak mendapat undangan adalah pemilih Pemohon, merupakan hal yang tidak logis dan hanya asumsi;

Berdasarkan fakta hukum yang terungkap di persidangan, antara lain sebagaimana telah dipertimbangkan pada paragraf [3.16] di muka, Mahkamah menilai Pemohon tidak dapat membuktikan bahwa terdapat 1.238 (seribu dua ratus tiga puluh delapan) pemilih yang tidak mendapat undangan. Seandainya dalil Pemohon benar, quod non, tidak dapat dibuktikan bahwa semua pemilih tersebut memilih Pemohon karena pemilihan umum adalah bersifat rahasia, artinya pilihan Pemilih tidak dapat diketahui oleh siapapun karena secara teknis dilakukan dalam bilik suara yang tertutup. Dengan demikian, menurut Mahkamah, dalil Pemohon harus dinyatakan tidak terbukti dan dikesampingkan;

[3.18] Menimbang bahwa Pemohon mendalilkan terjadi praktik politik uang (money politic) secara sistematis, terstruktur, dan massif oleh Pasangan Calon Nomor Urut 7 dan tim sukses. Bentuk

money politic yang dilakukan berupa pembagian sirup kepada

hampir seluruh masyarakat di Kabupaten Lima Puluh Kota yang botolnya bergambar Pasangan Calon Nomor Urut 7 dan berisi ajakan untuk memilih mereka. Untuk membuktikan dalilnya Pemohon mengajukan Bukti P-4, Bukti P-4.1, dan alat bukti yang diserahkan dalam persidangan berupa sebotol sirup marquisa cap Sarang Tawon yang ditempeli stiker bergambar Pasangan Calon Nomor Urut 7. Pemohon juga mengajukan Saksi Azizul Alia, Tomi Firmansyah, Amir Dt Sadio, Masrianto, CHM Dt Paduko Tuan, dan Yannedi, yang pada pokoknya menerangkan ada pembagian sirup marquisa cap Sarang Tawon dan janji pengaspalan jalan oleh Pasangan Calon Nomor Urut 7; [3.18.1] Termohon membantah dalil Pemohon dan menyatakan bahwa

dalil Pemohon mengenai praktik politik uang bukan merupakan kewenangan Termohon, melainkan merupakan kewenangan Panwaslu Kabupaten Lima Puluh Kota. Menurut Termohon, Pemohon tidak pernah melaporkan adanya pelanggaran Pemilukada kepada Panwaslu;

[3.18.2] Pihak Terkait membantah dalil Pemohon dan menyatakan tidak pernah membagikan atau menginstruksikan pembagian sirup kepada pemilih. Sirup dimaksud adalah THR dari Pengurus Partai Golkar Kabupaten Lima Puluh Kota yang dibagikan kepada pengurus, sesepuh, dan kader partai, melalui Ketua dan Sekretaris Pimpinan Tingkat Kecamatan. Selain itu, Partai Golkar

(28)

hanya membagikan 2.400 botol sirup yang menurut Pihak Terkait sangat tidak mungkin dapat mempengaruhi 248.337 pemilih;

Untuk membuktikan bantahannya, Pihak Terkait mengajukan Bukti PT-1 dan Bukti PT-8 dan mengajukan Saksi Syafaruddin Dt Bandaro Rajo, Riko Febrianto, dan Harmi ZA, yang pada pokoknya menerangkan bahwa mereka adalah pengurus dan/atau kader Partai Golkar Kabupaten Lima Puluh Kota yang membagikan sirup sekitar tiga hari sebelum Idul Fitri. Selain itu, Pihak Terkait juga mengajukan Saksi Bujang Sutan Pengulu dan Ronald Akhyar yang pada pokoknya menerangkan bahwa mereka menerima sirup dari pengurus Partai Golkar Kabupaten Lima Puluh Kota, bukan dari Pasangan Calon Nomor Urut 7;

[3.18.3] Panwaslu menerangkan bahwa pada Pemilukada Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010 menerima dan memproses 11 laporan, yakni 2 laporan mengenai kampanye di luar jadwal (di masa tenang); 1 laporan tentang netralitas penyelenggara (Ketua KPPS); 3 laporan tentang netralitas PNS; dan 5 laporan tentang adanya warga negara yang tidak menerima undangan memilih (C6); yang semua laporan telah diselesaikan sesuai peraturan yang berlaku;

[3.18.4] Berdasarkan fakta hukum yang terungkap di persidangan, Mahkamah menilai benar terdapat pembagian sirup marquisa cap Sarang Tawon yang dilakukan sebelum hari raya Idul Fitri 1431 Hijriah. Namun, menurut Mahkamah, bukti dan saksi yang diajukan oleh Pemohon tidak dapat meyakinkan Mahkamah bahwa pembagian sirup tersebut dilakukan oleh Pasangan Calon Nomor Urut 7. Selain itu saksi yang diajukan Pemohon juga tidak melaporkan hal tersebut kepada Panwaslu untuk ditindaklanjuti. Seandainya dalil Pemohon mengenai pembagian sirup oleh Pasangan Calon Nomor Urut 7 adalah benar, quod non, Pemohon juga tidak dapat membuktikan bahwa pemilih yang mendapatkan pembagian sirup lantas memilih Pasangan Calon Nomor Urut 7, sebagaimana didalilkan oleh saksi yang diajukan Pemohon sendiri, yaitu Masrianto, yang menyatakan meskipun diberi sirup, Saksi Masrianto tetap mencoblos/memilih Pasangan Calon Nomor Urut 3 (yaitu Pemohon). Selain itu, mengenai dalil kontrak politik berupa pengaspalan jalan, Mahkamah menilai Pemohon tidak dapat membuktikan lebih lanjut dalilnya. Dengan demikian, menurut Mahkamah, dalil Pemohon mengenai adanya praktik money politic tidak terbukti dan harus dikesampingkan;

[3.19] Menimbang bahwa berdasarkan penilaian hukum di atas, dalam rangkaian satu dengan yang lain, Mahkamah berpendapat bahwa pokok permohonan Pemohon tidak terbukti secara signifikan mempengaruhi hasil Pemilukada Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010 Putaran II, karenanya demi hukum,

(29)

Keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Lima Puluh Kota Nomor 85/Kpts/KPU-Kab-003.435058/2010 tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati Lima Puluh Kota Tahun 2010 Putaran II, bertanggal 26 September 2010, dinyatakan berlaku sah menurut hukum; dan selain itu Mahkamah tidak menemukan adanya pelanggaran yang bersifat terstruktur, sistematis, dan massive;

25. KETUA : ACHMAD SODIKI

3. KONKLUSI

Berdasarkan penilaian atas fakta dan hukum sebagaimana diuraikan di atas, Mahkamah berkesimpulan:

[4.1] Mahkamah berwenang untuk memeriksa, mengadili, dan memutus permohonan a quo;

[4.2] Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan;

[4.3] Permohonan diajukan masih dalam tenggang waktu yang ditentukan;

[4.4] Eksepsi Termohon dan Pihak Terkait tidak berdasar dan tidak beralasan hukum;

[4.5] Permohonan Pemohon tidak terbukti menurut hukum;

Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan mengingat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4316), Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana diubah terakhir kali dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

5. AMAR PUTUSAN Mengadili, Menyatakan:

Dalam Eksepsi:

Menolak Eksepsi Termohon dan Pihak Terkait; Dalam Pokok Perkara:

Menolak permohonan Pemohon untuk seluruhnya;

(30)

Demikian diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Hakim oleh sembilan Hakim Konstitusi yaitu Moh. Mahfud MD, selaku Ketua merangkap Anggota, Achmad Sodiki, Maria Farida Indrati, M. Arsyad Sanusi, M. Akil Mochtar, Muhammad Alim, Hamdan Zoelva, Harjono, dan Ahmad Fadlil Sumadi, masing-masing sebagai Anggota pada hari Selasa tanggal sembilan belas bulan Oktober tahun dua ribu sepuluh yang diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum pada hari Kamis tanggal dua puluh satu bulan Oktober tahun dua ribu sepuluh oleh tujuh Hakim Konstitusi yaitu Achmad Sodiki, selaku Ketua merangkap Anggota, Maria Farida Indrati, M. Arsyad Sanusi, Muhammad Alim, Hamdan Zoelva, Harjono, dan Ahmad Fadlil Sumadi, masing-masing sebagai Anggota, dengan didampingi oleh Mardian Wibowo sebagai Panitera Pengganti, serta dihadiri oleh Pemohon/Kuasanya, Termohon/Kuasanya, dan Pihak Terkait/Kuasanya.

PUTUSAN

Nomor 186/PHPU.D-VIII/2010

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

[1.1] Yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara konstitusi pada tingkat pertama dan terakhir, menjatuhkan putusan dalam perkara permohonan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2010, yang diajukan oleh: 1. Nama :TGH. Lalu Gede Muh. Ali Wirasakti Amir Murni,

Lc., MA

2. Nama :Drs. H. Lalu Elyas Munir Jaelani

Dalam hal ini memberi kuasa kepada D.A. Malik SH, Karmal Maksudi SH, Lalu Armayadi SH, Eva Zainora SH, Basri Mulyani SH, dan Mulyadi M.P. SH MSi yang semuanya adalah Advokat yang berkedudukan di Jalan Pariwisata No. 22, Kebon Raja, Mataram 83121 Lombok Nusa Tenggara Barat, baik sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama, bertindak sebagai kuasa hukum pemberi kuasa berdasarkan Surat Kuasa Khusus yang dibuat di hadapan Notaris Ermi Purnamasari SH MKn, bertanggal 29 September 2010;

Selanjutnya disebut sebagai --- Pemohon;

(31)

[1.3] Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Lombok Tengah, berkedudukan hukum di Jalan Soekarno Hatta, Praya, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat;

Dalam hal ini memberi kuasa kepada H. Mahsan SH M.Hum, Akmaludin SH MH, dan Kusuma Hadi SHI selaku Advokat dan kandidat Advokat yang beralamat di Jalan Pancausaha Nomor 22C Cakranegara, Kelurahan Cakranegara Barat, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, baik sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama, bertindak sebagai kuasa hukum pemberi kuasa berdasarkan Surat Kuasa Khusus bertanggal 5 Oktober 2010; Selanjutnya disebut sebagai --- Termohon;

[1.4] 1. Nama : H.M. Suhaili FT, S.H. 2. Nama : Drs. H.L. Normal Suzana

Selaku Pasangan Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2010 Nomor Urut 4;

Dalam hal ini memberi kuasa kepada Sirra Prayuna SH, Budi Rahmat Iskandar SH, Burhanudin SH, dan Supli SH selaku Advokat dan Konsultan Hukum yang berkedudukan hukum pada Kantor Hukum “SIRRA PRAYUNA & ASSOCIATES” yang beralamat di Jalan Pasar Minggu Nomor 29, Pancoran, Jakarta Selatan, baik sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama bertindak sebagai kuasa hukum pemberi kuasa berdasarkan Surat Kuasa Khusus bertanggal 5 Oktober 2010; Selanjutnya disebut sebagai --- Pihak Terkait;

[1.5] Membaca permohonan dari Pemohon; Mendengar keterangan dari Pemohon;

Mendengar keterangan dan membaca Jawaban Tertulis dari Termohon Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Lombok Tengah; Mendengar dan membaca Keterangan Tertulis dari Pihak Terkait;

Memeriksa dengan saksama bukti-bukti dan keterangan saksi-saksi dari Pemohon, Termohon, dan Pihak Terkait;

Membaca kesimpulan tertulis dari Pemohon, Termohon, dan Pihak Terkait;

26. HAKIM ANGGOTA : HARJONO Pendapat Mahkamah

Dalam Eksepsi

[3.12] Menimbang bahwa sebagaimana telah diuraikan dalam Paragraf [3.3] sampai dengan Paragraf [3.5] di atas, Mahkamah pada pokoknya menyatakan berwenang untuk memeriksa, mengadili,

(32)

dan memutus permohonan a quo, maka Mahkamah berpendapat eksepsi Pihak Terkait yang pada pokoknya menyatakan dalil permohonan Pemohon salah mengenai objeknya (error in objecto) dan permohonan a quo di luar jangkauan wewenang Mahkamah untuk memeriksanya, tidak beralasan dan tidak tepat menurut hukum;

[3.13] Menimbang bahwa Termohon dan Pihak Terkait juga mengajukan eksepsi, yang secara lengkap telah diuraikan dalam bagian Duduk Perkara, yang pada pokoknya menyatakan bahwa permohonan Pemohon kabur dan tidak jelas (obscuur libel). Mahkamah berpendapat eksepsi tersebut tidak tepat menurut hukum, karena substansi eksepsi sangat berkaitan erat dengan pokok perkara (bodem geschil);

Dalam Pokok Permohonan

[3.15] Menimbang bahwa Pemohon pada pokoknya mendalilkan keberatan terhadap Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilukada Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2010 karena hasil rekapitulasi penghitungan a quo dihasilkan dari suatu proses pemilu yang bertentangan dengan asas-asas pemilukada yakni asas independen, mandiri, jujur, adil, tertib penyelenggara, keterbukaan, dan profesionalitas, serta dikarenakan adanya pelanggaran dan tindakan curang yang dilakukan oleh Termohon yang bersifat sistematis, terstruktur, terencana, dan masif dalam memenangkan Pasangan Calon Terpilih (Pihak Terkait). Untuk memperkuat permohonan keberatannya, Pemohon pada pokoknya mendalilkan beragam bentuk pelanggaran, pada pokoknya, sebagai berikut:

[3.15.1] Termohon tidak meloloskan syarat pencalonan paket TGH. Syamsul Hadi dan Ir. H. Masnun Hasbullah SP.I (paket SAMA-SAMA) sebagai peserta Pemilukada walaupun memenuhi syarat pencalonan dan sebaliknya meloloskan Pihak Terkait sebagai Pasangan Calon walaupun tidak memenuhi syarat

[3.15.1.1] Pemohon pada pokoknya mendalilkan sebagai berikut:

1. Paket SAMA-SAMA ikut mendaftarkan diri sebagai peserta Pemilukada dengan persentase partai pengusung sebanyak 16,3%. Namun oleh Termohon paket SAMA-SAMA dinyatakan tidak memenuhi syarat dukungan partai politik;

2. Berdasarkan Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Mataram Nomor 14/G/2010/ PTUN.MTR bertanggal 16 Agustus 2010 (vide Bukti P-3) juncto Putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya Nomor 115/B/2010/PT.TUN.SBY bertanggal 31 Maret 2010 yang berkekuatan hukum tetap, dinyatakan bahwa paket SAMA-SAMA memenuhi syarat pencalonan. Berdasarkan surat keterangan Wakil Ketua Pengadilan TUN Mataram Nomor W3-TUN6/1101/HK.06/IX/2010 bertanggal 22 September 2010, dinyatakan bahwa terhadap putusan-putusan a quo tidak dapat diajukan kasasi karena keputusan Termohon tersebut jangkauan

(33)

berlakunya hanya di wilayah daerah yang bersangkutan (vide

Bukti P-4);

3. Berdasarkan Putusan Pengadilan TUN Mataram Nomor 31/G/2010/PTUN-MTR bertanggal 20 September 2010, pada pokoknya menyatakan batal dan mewajibkan Tergugat (Termohon) mencabut Keputusan Termohon Nomor 27 Tahun 2010 tentang Penetapan Pasangan Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah menjadi Peserta Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2010 atas nama H. Moh. Suhaili FT, SH dan Drs. Lalu Normal Suzana (Pihak Terkait) (vide Bukti P-5). Keputusan PTUN Mataram a quo sesuai dengan Pasal 39 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005 tentang Pemilihan, Pengesahan Pengangkatan, dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah juncto Pasal 14 ayat (1) Peraturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nomor 68 Tahun 2009 tentang Pedoman Teknis Tata Cara Pencalonan Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang pada pokoknya mensyaratkan pemeriksaan kemampuan rohani dan jasmani dilakukan oleh tim pemeriksaan khusus dari dan dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah yang ditunjuk atau direkomendasikan oleh Termohon. Namun pada kenyataannya, proses pemeriksaan kesehatan Pihak Terkait dilakukan di luar RSUD yang ditunjuk (vide keterangan Saksi Suryati);

4. Berdasarkan dalil-dalil di atas, nampak bahwa Termohon sejak awal telah tidak taat asas dan tidak melaksanakan ketentuan hukum yang berlaku dalam penyelenggaraan Pemilukada.

[3.15.1.2] Termohon pada pokoknya membantah sebagai berikut:

1. Ketidaklulusan Paket SAMA-SAMA sebagai Peserta Pemilukada karena tidak memenuhi syarat pencalonan yaitu tidak mendapatkan dukungan minimal 15% Partai Politik. Keputusan Termohon tersebut telah diajukan gugatan di PTUN Mataram dan perkara tersebut masih dalam proses kasasi di Mahkamah Agung yang hingga kini perkaranya belum mempunyai kekuatan hukum tetap, karena pihak Tergugat/Pembanding (Termohon) telah menyatakan kasasi dengan Akta Permohonan Kasasi Nomor 14/G/2010/PTUN MTR bertanggal 14 September 2010 dan bukti tanda terima memori kasasi Nomor 14/G/2010/PTUN bertanggal 24 September 2010 (memori kasasi bertanggal 22 September 2010). Hal ini sesuai pula dengan salinan putusan PT.TUN Surabaya Nomor 115/B/210/PT.TUN.SBY pada halaman 11 yang menyatakan ”putusan ini belum memperoleh kekuatan hukum tetap” (vide Bukti T-11 sampai dengan Bukti T-13). Dijadikannya alasan Paket SAMA-SAMA sebagai dasar permohonan dalam perkara a quo adalah tidak relevan karena hal itu menyangkut proses tahapan pelaksanaan pendaftaran Calon Pemilukada, sementara yang dipersoalkan adalah hasil

Referensi

Dokumen terkait

Versi 1994 lebih fokus pada proses manufaktur dan sangat sulit diaplikasikan pada organisasi bisnis kecil karena banyaknya prosedur yang harus dipenuhi (sedikitnya ada 20.. Pada

Indikator variabel ini adalah suatu yang ada pada diri indvidu yang menggerakkan atau membangkitkan individu untuk menggunakan majalah Gi- ZoNE dalam memenuhi

alat bantu ukur untuk menentukan adanya nyeri neuropatik, yang menggunakan gabungan antara wawancara dengan pemeriksaan disfungsi sensorik.. Neuropathic Pain

Perlakuan terbaik yang digunakan dalam proses isolasi kitin kulit kepala udang putih berdasarkan penelitian sebelumnya adalah demineralisasi dengan HCl 8 % selama 3 jam

Hal ini juga ditunjukkan pada observasi dan wawacara peneliti dilapangan menunjukkan pegawai Kantor Samsat Kabupaten Soppeng sudah bekerja dengan baik ,

karena materi tersebut sudah termuat dalam buku pelajaran atau sudah disampaikan guru di dalam kelas.. Perbedaan Diktat dan Buku

Oleh itu, 10 tahun data curahan hujan daripada tahun 2005 sehingga tahun 2014 di Negeri Kelantan dan Terengganu telah digunakan untuk menentukan masa minimum antara peristiwa (MIT)

Pengukuran dan koreksi terhadap pekerjaan yang dilakukan Tenaga Pelaksana Gizi Puskesmas perlu dilakukan secara berkala agar rencana kerja yang telah dibuat dapat