• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Manusia telah memulai perang sejak berabad-abad yang lalu. Hingga saat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Manusia telah memulai perang sejak berabad-abad yang lalu. Hingga saat"

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)

17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia telah memulai perang sejak berabad-abad yang lalu. Hingga saat ini, telah banyak terjadinya perkembangan dalam metode perang. Setidaknya terdapat lima generasi perang yang telah terjadi hingga saat ini. Perang generasi pertama merupakan perang yang menggunakan massed manpower1 sebagai dasar

pertempurannnya. Perang generasi ini memuncak saat digunakan pada Napoleonic War2 yang merupakan Perang Revolusi Perancis yang terjadi pada pertengahan

abad 17 hingga awal abad 20.3 Perang generasi kedua terjadi pada awal hingga

pertengahan abad ke-20.4 Perang pada generasi ini menggunakan taktik dasar api

dan gerakan.5 Perang generasi ketiga merupakan perang dengan menggunakan

manuver yang terjadi pada pertengahan hingga akhir abad ke 20.6 Perang generasi

keempat merupakan perang asimetris yang menggunakan cara-cara alternatif untuk berperang seperti terorisme.7 Pada perang generasi ini negara banyak melawan

1Albert A. Nofi, Recent Trends in Thingking About Warfare (Alexandria: CNA Corporation, 2006), hal. 8.

2Ibid. 3Ibid. 4Ibid.

5Dr Robert J. Bunker, Loc.cit. 6Albert A. Nofi, Loc. cit. 7Ibid.

(2)

18

entitas bukan negara seperti Al-Qaeda, Hamas, dan Hezbolah.8 Perang generasi

kelima merupakan Perang Hibrida yang akan di bahas dalam penelitian ini.

Istilah Hybrid War sendiri secara umum dimaknai sebagai perang yang menggabungkan kekuatan konvensional dengan kekuatan non-konvensional. Dalam hal ini kekuatan konvensional dapat berupa perang tradisional dengan menggunakan berbagai macam senjata oleh suatu negara. Sedangkan perang konvensional dapat berupa penyebaran disinformasi, cyber war, menggunakan tentara bayaran, terorisme, dan kriminalitas. Para ahli mendefinisikan Hybrid Warfare dengan cara yang berbeda-beda, ada yang menyebutnya sebagai Gray Zone Strategies, Competition Short of Conflict, Active Measures, dan New Generation Warfare.9 Hoffman dalam bukunya mengatakan bahwa Hybrid War

merupakan perang dengan menggabungkan beberapa teknik berbeda seperti perang konvensional, taktik dan formasi yang tidak beraturan, aksi terorisme, dan gangguan kriminal.10 Selain itu, juga disebutkan bahwa taktik Hybrid War dapat

terus berubah dengan menyesuaikan dan beradaptasi dengan keadaan dan sumber daya yang ada.11

Hybrid War ini dapat membuat negara atau entitas bukan negara melakukan kehancuran yang besar dengan menggunakan militer maupun teknologi jaringan

8Timothy J. Junio, Military History and Fourth Generations of Warfare, The Journal of Strategic Studies, Vol. 32 No.2, April 2009, hal. 243-269.

9Christopher S. Chivvis, Understanding Russian “Hybrid Warfare” and What Can Be Done About

It (Santa Monica: RAND Corporation, 2017), hal 1.

10Frank G. Hoffman, Conflict In the 21st century : The Rise of Hybrid War(Arlington: Potomac Institute for Policy Studies,2007), hal. 14.

11 Timothy McCulloh dan Richard Johnson, Hybrid Warfare (Tampa: Joint Special Operations University, 2013), hal. 10.

(3)

19

atau terorisme dengan biaya yang minimum. General Rapporteur dari NATO mengatakan bahwa Hybrid War dapat mengeksploitasi kelemahan suatu entitas dengan menggunakan cara-cara non-militer seperti manipulasi dan intimidasi politik, informasi, dan ekonomi dengan dukungan dari ancaman militer konvensional.12 Di dalam Hybrids War seluruh kekuatan menjadi satu dalam ruang

pertempuran yang sama dan terintegrasi secara operasional dengan taktik yang menyatu.13 Hybrid War juga memiliki ciri-ciri seperti menggunakan berbagai

macam alat dan teknik seperti militer, politik, ekonomi, masyarakat sipil, dan teknologi informasi.14 Hybrid War juga menyebarkan ancaman keseluruh masyarakat, selalu menyesuaikan dengan taktik-taktir terbaru, melakukan eksploitasi terhadap pemahaman, ambiguitas, dan kreativitas masyarakat agar tidak terlihat, dan biasanya serangannya tidak dapat diketahui sampai efek dari serangan tersebut bermunculan.15 Oleh karena itu, setiap negara harus siap untuk melindungi diri dari ancaman besar Hybrid Warfare.

Hybrid War sebenarnya bukanlah sebuah metode perang yang baru. Hal tersebut diungkapkan dalam literatur khusus militer Amerika Serikat yang mengatakan bahwa Hybrid war berasal dari konsep Hybrid Threats yang merupakan hasil penelitian dari konflik Israel dan Hezbollah dengan dukungan Iran

12Sascha-Dominik Dov Bachmann dan Anthony Paphiti, Russia’s Hybrid War and It’s Implications

for Defence and Security in the United Kingdom, Scientia Militaria, South African Journal of

Military Studies, Vol. 44 No. 2, 2016, hal 28-67. 13 Frank G. Hoffman, Loc.cit.

14 Dr. Patrick J. Cullen dan Erik Reichborn-Kjennerud, MCDC Countering Hybrid Warfare Project:

Understanding Hybrid Warfare (London: Multinational Capability Development Campaign, 2017),

hal. 10. 15 Ibid.

(4)

20

saat Perang Lebanon II pada tahun 2006.16 Hybrid Threats sendiri merupakan

konflik asimetris yang menggabungkan metode perang konvensional dengan non-konvensional. Dalam perang konvensional negara menggunakan senjata pemusnah massal sebagai taktitk perangnya.17 Sedangkan dalam perang non-konvensional

negara maupun entitas bukan negara dapat menggunakan berbagai macam taktik seperti cyber war, pembajakan, kejahatan transnasional, maupun terorisme global.18 Faktor yang dapat menjadi pengaruh dari Hybrids Threats adalah provokasi yang dilakukan oleh aktor yang berbeda maupun eksploitasi.19 Provokasi tersebut dapat

dilakukan melalui propaganda media, penyebaran hoax, kriminalitas, terorisme dan serangan cyber lain. Dalam Hybrid Threats, aktor yang dapat menjadi ancaman bukan hanya negara, namun juga termasuk entitas bukan negara.

Hybrid Warfare yang digunakan oleh Rusia setidaknya menggunakan hal-hal yang telah dijelaskan sebelumnya. Strategi Hybrid Warfare Rusia pertama kali diterapkan saat melakukan aneksasi terhadap Krimea. Aneksasi Krimea merupakan aksi agresi yang dilakukan oleh Rusia untuk mengambil wilayah Krimea dari Ukraina. Aneksasi Krimea dilakukan oleh Rusia pasca Eurosquare atau gelombang demonstrasi Ukraina pada tahun 2013 yang menginginkan integrasi Ukraina terhadap Eropa.20 Aksi tersebut diikuti dengan aksi protes masyarakat Ukraina

untuk memberhentikan Viktor Yanukovych sebagai presiden dan protes terhadap

16Frank G. Hoffman, Loc.cit.

17 Ayodele O. Otaiku, A Framework for Hybrid Warfare: Threats, Challenges, and Solutions, Journal of Defense Management, Vol. 8 No. 3, 2018, hal. 1-13.

18 Ibid.

19Frank G. Hoffman, Loc.cit.

20Indriana Kartini, Aneksasi Rusia Di Krimea dan Konsekuensi Bagi Ukraina, Jurnal Penelitian Politik, Vol. 11 No. 2, Desember 2014, hal 27-41.

(5)

21

ideologi dan geopolitik yang membagi Ukraina menjadi dua bagian yaitu Eropa dan Rusia.21 Akibat aksi tersebut Presiden Viktor Yanukovych berhasil diturunkan dari

jabatannya sebagai presiden. Rusia mulai memasuki dan menguasai Krimea pada tanggal 26 Februari 201422 dengan perlahan melancarkan strategi Hybrid

Warfare-nya. Dalam melancarkan strategi Hybrid Warfare-nya, Rusia menggunakan tentara proksi, pasukan khusus tanpa tanda pengenal,untuk melakukan intimidasi dan propaganda untuk membuat kebingungan.23 Rusia menggunakan pasukan tanpa

tanda pengenal yang disebut dengan green men atau orang-orang hijau untuk membuat kerusuhan, memasuki gedung-gedung pemerintahan, dan menghasut penduduk.24 Dalam strategi Hybrid Warfare-nya ini, Rusia tidak menggunakan

metode konvensional dan lebih memilih menggunakan metode non-konvensional. Oleh karena itu, Hybrid Warfare yang dilakukan oleh Rusia terhadap Krimea dianggap membuat blur konsep perang tradisional.25

Strategi Hybrid Warfare yang digunakan oleh Rusia dalam melakukan aneksasi Krimea tersebut mendapatkan banyak respon dari negara-negara disekitarnya, termasuk Negara-negara Baltik, NATO, dan Amerika Serikat. Amerika Serikat mengecam tindakan Rusia yang membuat kehancuran besar pada Ukraina.NATO sebagai aliansi kemanan juga merespon serangan hibrida Rusia dengan menyebarkan pasukan keamanannya ke wilayah-wilayah yang dianggap rentan terhadap ancaman Hybrid War Rusia. Pasca serangan hybrid Rusia terhadap

21Ibid 22Ibid

23Sascha-Dominik Dov Bachmann dan Anthony Paphiti, Loc.cit. 24Sascha-Dominik Dov Bachmann dan Anthony Paphiti, Loc.cit. 25 Ayodele O. Otaiku, Loc. cit.

(6)

22

Krimea tersebut pula, membuat Negara-negara Baltik yang terdiri dari Estonia, Lithuania, dan Latvia yang notabennya berbatasan langsung dengan Rusia merasa sangat terancam. Keberhasilan strategi Hybrid Warfare yang diterapkan Rusia dalam melakukan agresi terhadap Krimea, membuat ancaman yang dirasakan oleh Negara-negara Baltik tersebut semakin tinggi. Salah satu Negara Baltik yang rentan terhadap ancaman Hybrid War Rusia adalah Latvia.

Latvia merupakan negara yang secara geografis sangat dekat bahkan berbatasan langsung dengan Rusia. Latvia juga berbatasan langsung dengan Negara Baltik lainnya yaitu Estonia dan Lithuania. Secara historis, Negara-negara Baltik memiliki kedekatan sejarah dengan Rusia yang mana sebelumnya tergabung dalam Uni Soviet. Latvia menjadi negara yang rentan terhadap ancaman Hybrid War Rusia dibandingkan Negara Baltik lain karena selain memiliki kedekatan secara geografis, historis, politik, dan ekonomi. Latvia juga memiliki entitas berbahasa Rusia yang lebih besar dibandingkan Estonia dan Lithuania. Secara historis, Latvia dan Rusia memiliki kedekatan sejarah karena pernah bergabung dengan Uni Soviet. Selain itu, sebelumnya Latvia juga pernah menjadi bagian dari Rusia akibat aneksasi yang dilakukan oleh Rusia di masa lalu, namun pada akhirnya berhasil merdeka. Hal tersebut membuat adanya kemungkinan Rusia untuk mengambil alih wilayah Latvia kembali karena sejarah Latvia yang pernah menjadi bagian dari Rusia.

Secara politik, Latvia dan Rusia memiliki kedekatan relasi politik. Kedekatan relasi politik tersebut ditunjukkan dengan kerjasama regional dan dialog

(7)

23

politik yang dilakukan oleh kedua negara.26 Secara society, Latvia memiliki entitas

berbahasa Rusia yang lebih besar dibandingkan Estonia dan Lithuania. Pada tahun 1934, Estonia memiliki 34.000 entitas berbahasa Rusia, Lithuania memiliki 59.000 entitas berbahasa Rusia, dan Latvia memiliki 207.000 entitas berbahasa Rusia.27

Pada tahun 1959, jumlah entitas berbahasa Rusia di Estonia sebesar 240.000 orang, Lithuania 231 orang, dan Latvia sebesar 556.000 orang.28 Hingga tahun 2014,

persentase entitas berbahasa Rusia di Estonia sebesar 30%, Lithuania 15%, dan Latvia 34%.29 Jumlah tersebut menunjukkan bahwa entitas berbahasa Rusia lebih

tinggi di Latvia dibandingkan Estonia dan Lithuania. Terlebih lagi diskriminasi Etnis Rusia di Latvia yang tidak kunjung selesai30 dapat menyebabkan Rusia

memanfaatkan retorika tersebut sebagai justifikasi mereka untuk melindungi warganya. Secara ekonomi, Latvia memiliki kedekatan ekonomi dengan Rusia, yang mana merupakan mitra dagang terbesarnya.31 Hal tersebut akan dapat

melemahkan perekonomian Latvia jika Rusia melancarkan agresi terhadap Latvia. Selain faktor-faktor tersebut, hal yang membuat Latvia rentan adalah serangan disinformasi yang telah dilakukan Rusia terhadap Latvia. Rusia juga melakukan

26Embassy of The Republic of Latvia In The Russian Federation, “Relation Between Latvia and Russia” diakses melalui https://www.mfa.gov.lv/en/moscow/relations-between-latvia-and-russia

pada tanggal 23 Februari 2020 pukul 15.00 WIB

27Davit Mikeladze, Russian-Speaking Population in the Baltic States: A “Fifth Column” or An

Integral Part of the Local Society, Central European University, hal. 10.

28Ibid.

29Agnia Grigas, “Compatriot Games: Russian-Speaking Minorities in the Baltic States” yang diakses melalui https://www.worldpoliticsreview.com/articles/14240/compatriot-games-russian-speaking-minorities-in-the-baltic-states pada tanggal 26 Maret 2020 pukul 14.29 WIB.

30Global Security, “Latvia-Population” diakses dalam

https://www.globalsecurity.org/military/world/europe/lv-people.htm#russians pada tanggal 15 Februari 2020 pukul 16.07 WIB.

31Juris Poikāns, “Latvia and Russia: A Complicated Relationship” diakses dalam https://visegradinsight.eu/latvia-and-russia-a-complicated-relationship18052015/ pada tanggal 15 Februari 2020 pukul 15.07 WIB.

(8)

24

cyber attack terhadap lembaga-lembaga Latvia dan melakukan latihan perang yang sangat besar yang dinamakan Ocean Shield 2019 di laut Baltik.

Hal-hal tersebut mendorong Latvia untuk mempersepsikan Hybrid Warfare Rusia sebagai sebuah ancaman. Terutama setelah keberhasilan Rusia menerapkan strategi Hybrid Warfare-nya tersebut untuk melakukan aneksasi terhadap Krimea dan serangan cyber yang dilakukan oleh Rusia. Hal ini kemudian mendorong Latvia untuk merasakan kecemasan bahwa Rusia sewaktu-waktu dapat melakukan Hybrid Warfare terhadapnya. Namun,apakah hanya faktor-faktor tersebut yang kemudian mendorong Latvia untuk mempersepsikan Hybrid Warfare Rusia sebagai sebuah ancaman. Oleh karena itu, dalam penelitian ini penulis ingin mengetahui mengapa Latvia mempersepsikan Hybrid Warfare Rusia sebagai sebuah ancaman. Apakah persepsi tersebut muncul hanya karena peristiwa sejarah dan letak geografis antara Latvia dan Rusia, seperti yang telah penulis sebutkan sebelumnya. Penulis akan menguraikan alasan persepsi ancaman Latvia terhadap Rusia tersebut melalui faktor-faktor pendorong yang membuat Latvia merasa terancam atas Hybrid War yang dilakukan oleh Rusia. Keunikan dari penelitian ini adalah adanya ancaman yang dirasakan oleh Latvia akibat agresi terhadap Krimea yang dilakukan oleh Rusia melalui strategi Hybrid War-nya, sehingga Latvia mengeluarkan respon untuk memproteksi dirinya. Oleh karena itu, penelitian ini oleh penulis diberikan judul “PERSEPSI ANCAMAN LATVIA TERHADAP STRATEGI HYBRID

(9)

25

1.2 Rumusan Masalah

Melalui penjabaran latar belakang diatas, maka penelitian ini mencoba untuk menjawab rumusan masalah sebagai berikut: Mengapa Latvia mempersepsikan Hybrid Warfare Rusia terhadap Krimea sebagai ancaman ?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1 Tujuan Penelitian

Penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut:

a. Untuk dapat mengetahui bukti-bukti persepsi ancaman yang diberikan Latvia terhadap Hybrid Warfare Rusia.

b. Untuk dapat mengetahui faktor-faktor yang membuat Latvia mempersepsikan Hybrid War Rusia sebagai ancaman.

c. Untuk dapat mengetahui respon Latvia terhadap ancaman dari Hybrid War Rusia.

1.3.2 Manfaat Penelitian Manfaat Teoritis :

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi penelitian-penelitian selanjutnya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dalam bidang hubungan internasional pada umumnya dan studi keamanan maupun studi strategis pada khususnya.

Manfaat Praktis :

Bagi penulis, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dalam hal strategi Hybrid Warfare yang digunakan Rusia dalam

(10)

26

melakukan aneksasi terhadap Krimea, Teori Threats Perception yang dikemukakan oleh Raymond Cohen, faktor-faktor ancaman yang dirasakan oleh Latvia serta kebijakan yang dikeluarkan oleh Latvia terhadap ancaman Hybrid War Rusia.

Bagi Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan kajian dan menambah referensi dalam bidang ilmu hubungan internasional khususnya studi keamanan dan studi strategis.

1.4 Penelitian Terdahulu

Di dalam sebuah penelitian pastilah terdapat beberapa acuan dalam melakukan penelitian yang berasal dari penelitian-penelitian sebelumnya. Namun begitu, diantara penelitian-penelitian tersebut walaupun memiliki tema yang sama tetapi pasti fokus penelitiannya berbeda-beda. Adanya penelitian-penelitian tersebut digunakan untuk membedakan penelitian yang akan diteliti oleh penulis dan betapa pentingnya penelitian ini.

Penelitian pertama adalah jurnal yang berjudul Ancaman Strategi Hybrid Warfare Rusia: Sebuah Persepsi dan Manifestasi Kebijakan Estonia yang ditulis oleh Dyah Lupita Sari.32 Kerangka analisis yang digunakan dalam penelitian ini

adalah threat perception yang dikemukakan oleh Raymond Cohen. Penelitian ini berfokus untuk mengetahui bagaimana persepsi ancaman dan respon Estonia terhadap strategi hybrid warfare Rusia. Penulis menjelaskan bahwa melalui Threat

32Dyah Lupita Sari, Ancaman Strategi Hybrid Warfare Rusia: Sebuah Persepsi dan Manifestasi

(11)

27

Perception yang dikemukakan oleh Cohen dapat dianalisa kondisi-kondisi yang dapat mempengaruhi persepsi ancaman Estonia terhadap Hybrid Warfare Rusia, sehingga dikeluakanlah kebijakan untuk memproteksi negaranya dari ancaman tersebut. Dari penelitian tersebut ditemukan hasil bahwa Rusia merupakan ancaman adalah persepsi ancaman dari Estonia sendiri yang disebabkan oleh faktor historis antara Rusia dan Estonia, kedekatan Estonia dengan barat karena menjadi anggota NATO, dan jumlah entitas berbahasa Rusia di Estonia yang merasa terpinggirkan. Berdasarkan persepsi ancaman tersebut, untuk memproteksi negaranya, Estonia membuat kebijakan untuk meningkatkan komitmen aliansi dengan NATO dan meningkatkan kapabilitas militernya. Perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian yang diteliti terletak pada fokus penelitiannya. Pada penelitian ini berfokus untuk meneliti persepsi dan kebijakan Estonia dalam merespon strategi Hybrid Warfare Rusia paca aneksasi Krimea, sedangkan penelitian penulis berfokus untuk melihat alasan Latvia dalam mempersepsikan Strategi Hybrid Warfare Rusia sebagai sebuah ancaman.

Penelitian kedua adalah jurnal yang ditulis oleh Indriana Kartini dengan judul Aneksasi Rusia di Krimea dan Konsekuensi Bagi Ukraina.33 Penelitian ini

membahas mengenai aksi aneksasi yang dilakukan oleh Rusia terhadap wilayah Krimea akibat adanya faktor historis dan faktor kedekatan budaya serta geografis. Di dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa pembuatan perjanjian yang dilakukan kedua negara yaitu antara Rusia dengan Ukraina adalah karena

33Indriana Kartini, Aneksasi Rusia Di Krimea dan Konsekuensi Bagi Ukraina, Jurnal Penelitian Politik, Vol. 11 No. 2, Desember 2014, hal 27-41.

(12)

28

persamaan tujuan untuk menormalkan situasi kembali. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Ukraina harus membuat perjanjian dengan Rusia untuk mengakhiri konflik antara kedua negara, walaupun tidak dapat berakhir sepenuhnya. Namun, setidaknya Kremlin dan White House berupaya untuk menghindari konflik regional yang makin memburuk.Selain itu, pemerintah Ukraina juga setuju untuk melakukan amandemen terhadap Undang-Undang untuk melindungi hak-hak minoritas serta melakukan dialog nasional setelah pemilu presiden. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang diteliti oleh penulis terletak pada fokus penelitiannya. Penelitian ini berfokus untuk membahas aksi aneksasi Rusia terhadap Krimea dan bagaimana dampaknya pada Ukraina. Sedangkan penelitian penulis berfokus untuk melihat alasan Latvia dalam mempersepsikan Strategi Hybrid Warfare Rusia sebagai sebuah ancaman.

Penelitian ketiga adalah jurnal yang berjudul Aneksasi Rusia Terhadap Krimea Tahun 2014 yang ditulis oleh Irvand Sahir.34 Penelitian ini menggunakan

Teori Kepentingan Internasional dan Teori Aneksasi dalam perspektif Hukum Internasional. Selain itu, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksplanatif kualitatif dengan teknik pengumpulan data library research. Fokus kajian dalam penelitian ini adalah untuk melihat hal-hal yang melatarbelakangi aneksasi Krimea yang dilakukan oleh Rusia. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa aneksasi yang dilakukan oleh Rusia terhadap Krimea disebabkan kepentingan Rusia untuk melindungi keutuhan wilayah, budaya,

34Irvand Sahir, Aneksasi Rusia Terhadap Krimea Tahun 2014, e-Journal Hubungan Internasional, Vol. 7 No. 1, 2019, hal. 43-54.

(13)

29

militer, dan ekonominya. Selain itu, penulis juga menemukan bahwa Rusia memiliki keinginan untuk mengembalikan kejayaannya seperti yang pernah dialami ketika menjadi Uni Soviet. Perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian yang akan diteliti oleh penulis terletak pada fokus penelitiannya. Penelitian ini lebih berfokus untuk melihat latarbelakang aksi aneksasi yang dilakukan oleh Rusia pada wilayah Krimea, sama seperti fokus penelitian kedua. Sedangkan fokus penelitian penulis adalah untuk melihat alasan Latvia dalam mempersepsikan Strategi Hybrid Warfare Rusia sebagai sebuah ancaman.

Penelitian keempat adalah jurnal yang berjudul Alasan Penggunaan Strategi Information Warfare Defensif dan Ofensif Rusia di Tahun 2013-2017 yang ditulis oleh Teguh Andi Raharjo.35 Dalam penelitian ini penulis menggunakan

empat teori, yaitu teori persepsi ancaman, teori information warfare, ancaman legitimasi, dan cordone sanitaire. Penelitian ini berfokus untuk melihat alasan dari strategi information warfare yang digunakan Rusia dalam melakukan aneksasi terhadap Krimea baik secara defensif maupun ofensif. Di dalam penelitian ini menyatakan bahwa strategi defense dapat dilihat dari penguasaan media dan peraturan mengenai informasi di dalam negeri. Sedangkan strategi ofensif dapat dilihat dari praktik propaganda dan disinformasi di luar Rusia. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa strategi information warfare yang digunakan Rusia adalah untuk mendapatkan legitimasi dan kebutuhan akan cordone sanitaire. Perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian yang akan diteliti oleh penulis terletak pada

35Teguh Andi Raharjo, Alasan Penggunaan Strategi Information Warfare Defensif dan Ofensif

Rusia di Tahun 32013-2017, Jurnal Analisis Hubungan Internasional, Vol. 7 No. 3, Desember 2018,

(14)

30

fokus penelitiannya. Penelitian ini berfokus untuk melihat alasan Rusia dalam menggunakan strategi information warfare secara ofensif dan defensif. Sedangkan penelitian penulis berfokus untuk melihat alasan Latvia dalam mempersepsikan Strategi Hybrid Warfare Rusia sebagai sebuah ancaman.

Penelitian kelima adalah jurnal yang ditulis oleh Zdzizlaw Sliwa, Viljar Veebel, dan Maxime Lebrun yang berjudul Russian Ambitions and Hybrid Modes of Warfare.36 Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif

dan studi kasus. Penelitian ini menggunakan Teori Hybrid War untuk menganalisis fokus penelitiannya yaitu melihat pemahaman Rusia mengenai konsep Hybrid War dan dampak pengimplementasiannya. Dalam menjelaskan makna Hybrid War, jurnal ini mengutip pemikiran dari Hoffman yang mengatakan bahwa Hybrid War merupakan campuran senjata konvensional yang dirancang khusus, taktik yang tidak beraturan, terorisme, dan perilaku kriminal dalam waktu dan medan perang yang sama untuk mendapatkan tujuan politik. Namun begitu, setiap negara memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai Hybrid War. Untuk menghadap adanya ancaman Hybrid War, NATO setuju untuk menggunakan strategi hibrida untuk mengatasi tantangan yang bergerak cepat yang ditimbulkan oleh sarana militer maupun non-militer. Penelitian ini memberikan rekomendasi terhadap Inggris Perancis, dan Jerman untuk mengekspos jaringan Kuda Trojan Rusia untuk membuat koneksi menjadi buram dan membatasi pengaruh Rusia melalui pemerintah. Perbedaan antara jurnal ini dengan penelitian yang akan di teliti oleh

36Zdzislaw Sliwa, Viljar Veebel, dan Maxime Lebrun, Russian Ambitions and Hybrid Modes of

(15)

31

penulis terletak pada fokus penelitiannya. Penelitian ini berfokus untuk mengetahui Strategi Hybrid WarRusia secara detail, sedangkan penelitian yang akan diteliti oleh penulis berfokus untuk melihat alasan Latvia dalam mempersepsikan Strategi Hybrid Warfare Rusia sebagai sebuah ancaman..

Penelitian keenam adalah skripsi yang berjudul Aneksasi Krimea Oleh Rusia yang ditulis oleh Radhitya Hadi Rahman.37 Penelitian ini berfokus untuk

melihat bentuk tindakan yang dilakukan Rusia dalam mengamankan aneksasinya di Krimea. Dalam menganalisis fokus penelitiannya, penelitian ini menggunakan dua konsep yaitu Konsep Intervensi melalui aneksasi dan Konsep Referendum. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan studi pustaka. Melalui penelitian ini didapatkan bahwa tindakan Rusia dalam menganeksasi Krimea melalui dua hal, yaitu intervensi militer dan campur tangan politik.Intervensi militer dilakukan Rusia melalui pengiriman pasukan militer untuk menguasai wilayah Krimea. Campur tangan politik digunakan Rusia untuk menempatkan politisinya di Krimea dan melakukan legitimasi dengan cara menggelar referendum untuk Krimea. Hal tersebut dilanjutkan dengan pengesahan Undang-Undang aneksasi yang disepakati oleh Perdana Menteri dan Parlemen Krimea bahwa secara resmi Krimea menjadi wilayah Rusia. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan diteliti oleh penulis terletak pada fokus penelitiannya. Penelitian ini berfokus untuk melihat bentuk tindakan Rusia dalam melakukan aneksasi terhadap Krimea. Sedangkan

(16)

32

penelitian penulis berfokus untuk melihat alasan Latvia dalam mempersepsikan Strategi Hybrid Warfare Rusia sebagai sebuah ancaman.

Penelitian ketujuh adalah jurnal yang berjudul Legalitas Intervensi Militer Rusia Terhadap The Autonomous Republic of Crimea, Ukraina yang ditulis oleh Mamfaluthy dan Heribertus Jaka Triyana.38 Penelitian ini berfokus untuk melihat

legalitas intervensi yang dilakukan oleh Rusia di wilayah Krimea. Untuk menganalisis fokus penelitian tersebut, penulis menggunakan konsep intervensi dan hukum internasional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian normatif yang menggunakan azas-azas hukum dan sistematika hukum. Melalui penelitian ini didapatkan bahwa aksi intervensi militer yang dilakukan oleh Rusia terhadap wilayah Krimea telah bertentangan dengan Pasal 51 Piagam PBB dan melanggar Pasal 2 Ayat 4 Piagam PBB. Selain itu aksi intervensi militer Rusia terhadap Krimea juga tidak dapat dikatakan sebagai agresi karena tidak sesuai dengan Pasal 8 bis statute Roma dan Piagam PBB. Perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis terletak pada fokus penelitiannya. Penelitian ini berfokus untuk melihat legalitas terhadap intervensi militer yang dilakukan Rusia terhadap wilayah Krimea. Sedangkan penelitian yang akan diteliti oleh penulis berfokus untuk melihat alasan Latvia dalam mempersepsikan Strategi Hybrid Warfare Rusia sebagai sebuah ancaman.

38Mamfaluthy dan Heribertus Jaka Triyana, Legalitas Intervensi Militer Rusia Terhadap The

(17)

33

Penelitian kedelapan adalah skripsi yang ditulis oleh Wiwin Suwinda dengan judul Sikap Uni Eropa Terhadap Konflik Ukraina dan Rusia.39 Penelitian

ini bertujuan untuk melihat sikap Uni Eropa terhadap konflik antara Ukraina dan Rusia. Penelitain ini menggunakan konsep Organisasi Internasional dan Regionalisme untuk menjelaskan sikap yang ditunjukkan oleh Uni Eropa terhadap konflik antara Ukraina dan Rusia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka. Penelitian ini menunjukkan bahwa adanya ikut campur Uni Eropa terhadap aneksasi yang dilakukan oleh Rusia terhadap wilayah Krimea. Ikut campur tersebut didasarkan pada keinginan Uni Eropa untuk mengajak Ukraina untuk bergabung bersama Uni Eropa serta untuk menunjukkan posisinya di sistem internasional. Respon yang ditunjukkan oleh Uni Eropa dalam peristiwa aneksasi tersebut adalah dengan memberikan sanksi terhadap Rusia atas perbuatannya untuk mengambil wilayah Krimea dari Rusia. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan diteliti oleh penulis terletak pada fokus penelitiannya. Penelitian ini berfokus untuk melihat respon atau sikap Uni Eropa terhadap aksi aneksasi Rusia pada wilayah Krimea. Sedangkan penelitian yang akan diteliti oleh penulis bertujuan untuk melihat alasan Latvia dalam mempersepsikan Strategi Hybrid Warfare Rusia sebagai sebuah ancaman.

Penelitian kesembilan adalah jurnal yang berjudul Bingkai Identitas Dalam Konflik Geopolitik: Intervensi Militer Rusia di Ukraina yang ditulis oleh Rizky

39Wiwin Suwinda, Skripsi : “Sikap Uni Eropa Terhadap Konflik Ukraina dan Rusia”, (Makassar: UNHAS, 2017).

(18)

34

Widiasa.40 Penelitian ini bertujuan untuk melihat konflik antara Rusia dan Ukraina

yang akhirnya membuat Krimea menjadi milik Rusia. Melalui jurnal ini dapat diketahui bahwa aksi aneksasi yang dilakukan oleh Rusia disebabkan oleh faktor geohistoris yang identik antara kedua negara. Selain itu, aksi tersebut jika dilihat dari kacamata geopolitik adalah sebab Ukraina menjadi buffer zone antara NATO dengan Federasi Rusia. Akibat dari aneksasi tersebut, ekonomi Ukraina akan melemah sebab Rusia merupakan pemasok gas alam utama Ukraina. Namun, Rusia tidak merasa bersalah akibat perbuatannya tersebut karena mereka menganggap bahwa Rusia berhak melindungi warganya yang berada di Ukraina. Sekitar 90 persen penduduk Krimea merupakan entitas berbahasa Rusia yang dianggap Rusia sebagai etnis mereka. Hal tersebutlah mengapa aneksasi tersebut dianggap benar oleh Rusia. Perbedaan antara jurnal ini dengan penelitian yang akan diteliti oleh penulis terdapat pada fokus penelitiannya. Jurnal ini membahas mengenai aneksasi Krimea oleh Rusia yang dilihat melalui faktor geopolitiknya. Sedangkan penelitian yang akan di teliti oleh penulis adalah untuk melihat alasan Latvia dalam mempersepsikan Strategi Hybrid Warfare Rusia sebagai sebuah ancaman.

Penelitian terakhir adalah jurnal yang berjudul Perjuangan Mengukuhkan Identitas Nasional: Aneksasi Rusia di Krimea dalam Perspektif Konstruktivisme yang ditulis oleh Lintank Wahyu Sudibyo.41 Penelitian ini berfokus untuk melihat

aneksasi Krimea oleh Rusia melalui pandangan Konstruktivisme. Melalui

40Rizky Widiasa, Bingkai Identitas Dalam Konflik Geopolitik: Intervensi Militer Rusia di Ukraina, Intermestic Journal of International Studies, Vol. 3 No. 1, November 2018, hal. 60-76.

41Lintank Wahyu Sudibyo, Perjuangan Mengukuhkan Identitas Nasional: Aneksasi Rusia di Krimea

dalam Perspektif Konstruktivisme, Journal of International Relations, Vol. 4 No. 3, 2018, hal.

(19)

35

penelitian ini dapat kita ketahui bahwa kebijakan luar negeri Rusia untuk melakukan aneksasi terhadap Krimea adalah karna identitas nasional Rusia yaitu corporate/personal identity. Oleh karena itu, aksi aneksasi tersebut terjadi karna faktor historis, etnis, demografis, budaya, bahasa, dan spiritual wilayah Krimea yang erat dengan Rusia. Setidaknya terdapat tiga alasan yang melatarbelakangi aneksasi Krimea oleh Rusia, yaitu faktor sejarah identitas, rasa ingin mempertahankan persaudaraan bangsa Rusia, dan kebijakan Vladimir Putin untuk memperkuat identitas nasional. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan diteliti oleh penulis terletak pada fokus penelitiannya. Jurnal ini berfokus untuk menganalisis faktor identitas melalui teori konstruktivis yang melatarbelakangi aneksasi Krimea di Rusia. Sedangkan penelitian yang akan diteliti oleh penulis berfokus untuk melihat alasan Latvia dalam untuk melihat alasan Latvia dalam mempersepsikan Strategi Hybrid Warfare Rusia sebagai sebuah ancaman.

Berdasarkan pemaparan tersebut dapat diketahui bahwa penelitian yang akan diteliti oleh penulis memiliki kebaharuan, karena belum pernah di teliti sebelumnya. Selain itu, penelitian yang akan diteliti oleh penulis berbeda dengan penelitian sebelumnya. Perbedaan penelitiannya terletak pada objek penelitian dan fokus penelitiannya. Penelitian pertama berfokus untuk melihat persepsi ancaman dan respon Estonia terhadap strategi Hybrid Warfare Rusia. Penelitian kedua berfokus untuk melihat aksi aneksasi yang dilakukan oleh Rusia terhadap wilayah Krimea akibat adanya faktor historis dan faktor kedekatan budaya serta geografis. Penelitian ketiga berfokus untuk melihat hal-hal yang melatarbelakangi aneksasi

(20)

36

Krimea yang dilakukan oleh Rusia. Penelitian keempat berfokus untuk melihat alasan dari strategi information warfare yang digunakan Rusia dalam melakukan aneksasi terhadap Krimea baik secara defensif maupun ofensif.

Penelitian kelima berfokus untuk untuk menganalisis fokus penelitiannya yaitu melihat pemahaman Rusia mengenai konsep Hybrid War dan dampak pengimplementasiannya. Penelitian keenam berfokus untuk melihat bentuk tindakan yang dilakukan Rusia dalam mengamankan aneksasinya di Krimea. Penelitian ketujuh berfokus untuk melihat legalitas intervensi yang dilakukan oleh Rusia di wilayah Krimea. Penelitian kedelapan bertujuan untuk melihat sikap Uni Eropa terhadap konflik antara Ukraina dan Rusia. Penelitian kesembilan bertujuan untuk melihat konflik antara Rusia dan Ukraina yang akhirnya membuat Krimea menjadi milik Rusia. Penelitian terakhir berfokus untuk melihat aneksasi Krimea oleh Rusia melalui pandangan Konstruktivisme. Sedangkan penelitian yang diteliti penulis berfokus untuk melihat alasan Latvia dalam mempersepsikan Strategi Hybrid Warfare Rusia sebagai sebuah ancaman.

Tabel 1. Posisi Penelitian

No.

Judul dan Nama Peneliti Jenis Penelitian (Metode/Teori/Konsep) Hasil 1. Jurnal : Ancaman Strategi Hybrid Warfare Rusia:

Teori Threat Perception Rusia merupakan ancaman adalah persepsi ancaman dari

(21)

37 Sebuah Persepsi dan

Manifestasi

Kebijakan Estonia

Penulis : Dyah Lupita Sari

Estonia sendiri yang disebabkan oleh faktor historis antara Rusia dan Estonia, kedekatan Estonia dengan barat karena menjadi anggota NATO, dan jumlah entitas berbahasa Rusia di Estonia yang merasa terpinggirkan. Berdasarkan persepsi ancaman tersebut, untuk memproteksi negaranya, Estonia membuat kebijakan untuk meningkatkan komitmen aliansi dengan NATO dan meningkatkan

kapabilitas militernya.

2. Judul : Aneksasi Rusia di Krimea dan

Analisis berdasarkan faktor historis,

Ukraina harus membuat perjanjian dengan

(22)

38 Konsekuensi Bagi

Ukraina

Penulis : Indriana Kartini

kedekatan kultural, dan geografis

Rusia untuk mengakhiri konflik antara kedua negara, walaupun tidak dapat berakhir sepenuhnya. Namun, setidaknya Kremlin dan White House berupaya untuk menghindari konflik regional yang makin memburuk. Selain itu, pemerintah Ukraina juga setuju untuk melakukan amandemen terhadap Undang-Undang untuk melindungi hak-hak minoritas serta melakukan dialog nasional setelah pemilu presiden.

(23)

39 3. Judul : Aneksasi Rusia Terhadap Krimea Tahun Penulis : Irvand Sahir Teori Kepentingan Internasional

Teori Aneksasi dalam perspektif Hukum Internasional

Metode eksplanatif kualitatif

Aneksasi yang dilakukan oleh Rusia terhadap Krimea disebabkan

kepentingan Rusia untuk melindungi keutuhan wilayah, budaya, militer, dan ekonominya. Selain itu,

penulis juga menemukan bahwa Rusia memiliki keinginan untuk mengembalikan kejayaannya seperti yang pernah dialami ketika menjadi Uni Soviet.

4. Judul : Alasan Penggunaan Strategi Information Warfare Defensif dan Ofensif

Teori persepsi ancaman Teori information warfare

Strategi defense dapat dilihat dari penguasaan media dan peraturan mengenai informasi di

(24)

40 Rusia di Tahun 2013-2017 Penulis : Teguh Andi Raharjo Teori ancaman legitimasi

Teori cordone sanitaire.

dalam negeri. Sedangkan strategi ofensif dapat dilihat

dari praktik

propaganda dan disinformasi di luar Rusia. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa strategi information

warfare yang

digunakan Rusia adalah untuk mendapatkan legitimasi dan kebutuhan akan cordone sanitaire. 5. Judul : Russian Ambitions and Hybrid Modes of Warfare

Metode kualitatif dan studi kasus

Teori Hybrid War

Jurnal ini mengutip pemikiran dari

Hoffman yang

mengatakan bahwa Hybrid War merupakan campuran senjata

(25)

41 Penulis : Zdzizlaw

Sliwa, Viljar Veebel, dan Maxime Lebrun

konvensional yang dirancang khusus, taktik yang tidak beraturan, terorisme, dan perilaku kriminal dalam waktu dan medan perang yang

sama untuk

mendapatkan tujuan politik. Namun begitu, setiap negara memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai Hybrid War. Untuk menghadap adanya ancaman Hybrid War, NATO setuju untuk menggunakan strategi hibrida untuk mengatasi tantangan yang bergerak cepat yang ditimbulkan oleh sarana militer maupun

(26)

42

non-militer. Penelitian ini memberikan rekomendasi terhadap Inggris Perancis, dan

Jerman untuk

mengekspos jaringan Kuda Trojan Rusia untuk membuat koneksi menjadi buram dan membatasi pengaruh Rusia melalui pemerintah.

6. Judul : Aneksasi Krimea Oleh Rusia

Penulis : Radhitya Hadi Rahman. Konsep Intervensi melalui aneksasi Konsep Referendum Metode deskriptif kualitatif

Tindakan Rusia dalam menganeksasi Krimea melalui dua hal, yaitu intervensi militer dan campur tangan politik. Intervensi militer dilakukan Rusia melalui pengiriman pasukan militer untuk menguasai wilayah

(27)

43

Krimea. Campur tangan politik digunakan Rusia untuk menempatkan

politisinya di Krimea dan melakukan legitimasi dengan cara menggelar referendum untuk Krimea. Hal tersebut dilanjutkan dengan pengesahan Undang-Undang

aneksasi yang disepakati oleh Perdana Menteri dan Parlemen Krimea bahwa secara resmi Krimea menjadi wilayah Rusia.

7. Judul : Legalitas Intervensi Militer Rusia Terhadap The Autonomous

Konsep Intervensi

Hukum Internasional

Aksi intervensi militer yang dilakukan oleh Rusia terhadap wilayah

(28)

44 Republic of Crimea, Ukraina Penulis : Mamfaluthy dan Heribertus Jaka Triyana bertentangan dengan Pasal 51 Piagam PBB dan melanggar Pasal 2 Ayat 4 Piagam PBB. Selain itu aksi intervensi militer Rusia terhadap Krimea juga tidak dapat dikatakan sebagai agresi karena tidak sesuai dengan Pasal 8 bis statute Roma dan Piagam PBB.

8. Judul : Sikap Uni Eropa Terhadap Konflik Ukraina dan Rusia Penulis : Wiwin Suwinda Konsep Organisasi Internasional Konsep Regionalisme Metode deskriptif kualitatif

Ikut campur Uni Eropa terhadap aneksasi yang dilakukan oleh Rusia terhadap wilayah Krimea. Ikut campur tersebut didasarkan pada keinginan Uni Eropa untuk mengajak Ukraina untuk

(29)

45

bergabung bersama Uni Eropa serta untuk menunjukkan posisinya di sistem internasional.

Respon yang

ditunjukkan oleh Uni Eropa dalam peristiwa aneksasi tersebut adalah dengan memberikan sanksi terhadap Rusia atas perbuatannya untuk mengambil wilayah Krimea dari Rusia.

9. Judul : Bingkai Identitas Dalam Konflik Geopolitik: Intervensi Militer Rusia di Ukraina Penulis : Rizky Widiasa

Teori Konstruktivisme Aksi aneksasi yang dilakukan oleh Rusia disebabkan oleh faktor geohistoris yang identik antara kedua negara. Selain itu, aksi tersebut jika dilihat dari kacamata geopolitik

(30)

46

adalah sebab Ukraina menjadi buffer zone antara NATO dengan Federasi Rusia. Akibat dari aneksasi tersebut, ekonomi Ukraina akan melemah sebab Rusia merupakan pemasok gas alam utama Ukraina. Namun, Rusia tidak merasa bersalah akibat perbuatannya tersebut karena mereka menganggap bahwa

Rusia berhak

melindungi warganya yang berada di Ukraina. Sekitar 90 persen penduduk Krimea merupakan entitas berbahasa Rusia yang dianggap Rusia sebagai etnis mereka. Hal

(31)

47

tersebutlah mengapa aneksasi tersebut dianggap benar oleh Rusia. 10. Judul : Perjuangan Mengukuhkan Identitas Nasional: Aneksasi Rusia di Krimea dalam Perspektif Konstruktivisme Penulis : Lintank Wahyu Sudibyo

Teori Konstruktivisme Kebijakan luar negeri Rusia untuk melakukan aneksasi terhadap Krimea adalah karna identitas nasional Rusia yaitu

corporate/personal identity. Oleh karena itu, aksi aneksasi tersebut terjadi karna faktor historis, etnis, demografis, budaya, bahasa, dan spiritual wilayah Krimea yang erat dengan Rusia. Setidaknya terdapat tiga alasan yang melatarbelakangi

(32)

48

aneksasi Krimea oleh Rusia, yaitu faktor sejarah identitas, rasa ingin mempertahankan persaudaraan bangsa Rusia, dan kebijakan Vladimir Putin untuk memperkuat identitas nasional. 11. Judul : Persepsi Ancaman Latvia Terhadap Strategi Hybrid Warfare Rusia Pasca Aneksasi Krimea Penulis : Cindy Rezma Fanny

Konsep Hybrid Threats

Teori Threat Perception

Metode Eksplanatif Kualitatif

Threat perception memiliki asumsi bahwa isyarat ancaman yang dirasakan sebuah negara akan membuat negara tersebut mengeluarkan respon berupa kebijakan untuk memproteksi

negaranya. Selain itu, Threat Perception juga mengungkapkan bahwa terdapat faktor

(33)

49

pendorong yang menyebabkan sebuah negara merasakan ancaman. Melalui kerangka teori tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa persepsi ancaman Latvia terhadap Rusia disebabkan oleh beberapa faktor pendorong yaitu ketidakpercayaan, pengalaman masa lalu, hal-hal yang tidak terduga, dan kecemasan personal.

1.5 Kerangka Teori/Konsep

1.5.1. Konsep Hybrid Threats

Hybrid Threats merupakan sebuah konsep yang ada pada Hybrid War. Istilah ini pertama kali muncul pada bulan November tahun 2005 yang ditulis oleh dua perwira Korps Marinir yang bernama Jenderal James N. Mattis dan

(34)

50

Kolonel Frank G. Hoffman.42 Hybrid War dianggap sebagai perang modern

terbaru yang memiliki kompleksitasitas yang tinggi serta lebih mematikan dan menghancurkan dibandingkan jenis perang yang sebelumnya. Konsep Hybrid Threats dimaknai sebagai aktor irreguler yang memiliki kemampuan dan keterampilan taktik yang bersifat regular (seperti artileri pesawat terbang, rudal anti-tank, drone, dsb) yang memanfaatkan kekuatan tradisional yang tidak teratur seperti taktik yang sulit dipahami, moral asymmetry, popular support, dan sebagainya.43 Secara singkat Hybrid Threats dapat dimaknai sebagai

penggunaan semua jenis perang dalam medan pertempuran yang sama. Dimana jenis perang tersebut dapat berupa perang konvensional maupun non-konvensional.

Dalam Hybrid War, musuh akan memberikan kombinasi spesifikasi ancaman yang unik yang sengaja dirancang untuk menargetkan kerentanan terhadap targetnya.44 Adanya Hybrid War ini menandakan bahwa pemisahan

aktor negara maupun aktor non-negara tidak menjadi rencana pertahanan sebuah negara. Hal ini menjadi blur sebab pencampuran kedua aktor dengan taktik yang juga bermacam-macam dengan penggunaan teknologi yang sangat tinggi. Negara dapat menggunakan berbagai macam taktik termasuk kriminalitas, terorisme, dan cyber attack untuk menyerang musuhnya.45 Bahkan negara juga

42Elie Tenenbaum, NATO’s Responseto Hybrid Threats: Hybrids Warfare in The Strategic Spectrum

An Historical Assessment (Rome: Debooks), hal. 95.

43Ibid, hal. 97.

44Frank G. Hoffman, Hybrid Threats: Reconceptualizing the Evolving Character of Modern

Conflict, Strategic Forum, No. 240, April 2009, hal. 1-8.

(35)

51

dapat membayar sebuah kelompok untuk melakukan eksploitasi terhadap jaringan informasi maupun militer musuhnya. Konsep Hybrid Threats yang terdapat dalam Hybrid War ini akan digunakan penulis untuk menjabarkan mengenai strategi Hybrid War Rusia dalam melakukan aneksasi terhadap wilayah Krimea. Penulis juga akan menjabarkan karakteristik Hybrid War yang digunakan oleh Rusia, bahkan proses penggunaan Hybrid War tersebut.

1.5.2. Threats Perceptions

Menurut literatur Hubungan Internasional, ancaman diartikan sebagai situasi dimana seorang aktor memiliki niat ataupun kemampuan yang menimbulkan konsekuensi negatif terhadap aktor lain.46 Ancaman dapat dibagi

menjadi dua kategori yaitu ancaman terhadap individu dan ancaman terhadap kelompok. Ancaman terhadap kelompok, di dalam Hubungan Internasional dapat berupa ancaman militer, ancaman ekonomi, dan ancaman budaya.47

Sedangkan ancaman terhadap individu dapat berupa ancaman terhadap keamanan fisik, kekayaan pribadi dan pendapatan, serta nilai-nilai dan kepercayaan pribadi.48 Ancaman cenderung dirasakan ketika seorang aktor

memiliki kapabilitas yang lebih besar dibanding aktor lain. Ancaman juga dapat dirasakan akibat ketidakpercayaan dan pengalaman masa lalu yang buruk terhadap aktor lain. Hal-hal tersebut cenderung membuat seorang aktor

46David L. Rousseau, Identity, Power, and Threat Perception A Cross-National Experimental Study, Journal of Conflict Resolution, Vol. 51 No. 5, Oktober 2007, hal. 744-771.

47Ibid 48Ibid

(36)

52

mempersepsikan aktor lain sebagai ancaman atau yang disebut dengan persepsi ancaman.

Walt mengatakan bahwa pada dasarnya Threat Perception merupakan bagian dari rasionalis yang mengutamakan dasar dari terbentuknya sebuah ancaman yang ditentukan oleh empat faktor yaitu aggregate power, geographic proximity, offensive power, dan offensive intention.49 Threat Perception menurut Rousseau dan Retamero merupakan dampak dari ketidakseimbangan kekuasaan antar kelompok.50 Sedangkan Cohen mengartikan Threat Perception sebagai

variabel yang menentukan antara aksi dan reaksi dalam krisis internasional. Secara sederhana, Threat Perception dapat dimaknai sebagai suatu kondisi dimana seorang aktor merasakan bahwa aktor lain merupakan ancaman karena kapabilitas yang lebih besar, kedekatan geografis, ketidakpercayaan, maupun pengalaman masa lalu sehingga aktor tersebut melakukan upaya defensif.

Di dalam penelitian ini penulis menggunakan Threat Perception Theory yang dikemukakan oleh Raymod Cohen. Melalui jurnalnya yang berjudul Threat Perception in International Crisis, Cohen mendefinisikan ancaman sebagai situasi dimana seorang aktor hanya memungkinkan untuk melakukan tindakan pasif dalam bentuk upaya antisipasi terhadap tindakan yang dilakukan

49 Tim Scheerder, Threat Perception Politics: A Comparative Case Study into the Difference in

Threat Perception Between Terrorism and Climate Change in the United States, Radboud

University Nijmegen, 2012, hal. 8.

50 David L. Rousseau dan Rocio Garcia-Retamero , Identity, Power, and Threat Perception: A Cross

National Experimental Study, Journal of Conflict Resolution, Vol. 51 No. 5, Oktober 2007, hal.

(37)

53

oleh aktor lain.51 Cohen juga menjelaskan Threat Perception dalam jurnalnya

yang dimaknai sebagai variabel penentu aksi reaksi dalam krisis internasional.52

Menurut Cohen, walaupun telah terdapat peristiwa berbahaya yang terjadi, namun jika ancaman tidak dirasakan, maka tidak akan ada upaya defensif atau pertahanan yang dilakukan.53 Namun sebaliknya, ketika ancaman diterima, langkah pencegahan akan dilakukan bahkan ketika musuh tidak memiliki niat buruk.54 Oleh karena itu, ancaman dapat dikatakan sebagai langkah yang diambil

untuk mengantisipasi ketika sinyal buruk ataupun bahaya yang dirasakan. Dalam menjelaskan teorinya tersebut, Cohen lebih banyak menjabarkannya melalui studi kasus dan beberapa peristiwa yang telah terjadi. Salah satu contohnya adalah ketika Perancis merasa terancam atas Jerman yang membuat Perancis sebagai target kampanye intimidasinya, setelah dua tahun kependudukannya di Perancis berakhir.55

Di dalam jurnalnya tersebut, Cohen juga menjelaskan bahwa terdapat kecenderungan yang dilakukan para pembuat keputusan ketika merasakan ancaman yang ada di dalam pikiran mereka sebagai isyarat ancaman yang akhirnya mendorong adanya justifikasi atas bahaya.56 Terdapat empat indikator

yang merupakan definisi operasional dari Threats Perception.

Indikator-51Raymond Cohen, Threats Perception In International Crisis, Political Science Quarterly, Vol. 3 No. 1, 1978, hal. 93-107.

52Ibid. 53 Ibid. 54Ibid. 55 Ibid.

(38)

54

indikator ini berfungsi sebagai faktor yang dapat membuktikan adanya ancaman yang dirasakan oleh seorang aktor. Indikator-indikator tersebut yaitu:

• Artikulasi pembuat keputusan merupakan ekspresi dari penilaian pembuat keputusan dan reaksi terhadap isyarat yang mengancam. Pembuat keputusan yang dimaksud disini adalah para menteri ataupun pejabat yang ikut serta dalam kegiatan asing;

• Deskripsi yang diberikan oleh pengamat kontemporer berdasarkan apa yang mereka lihat dari pemikiran para pembuat keputusan sebuah negara. Pengamat kontemporer ini dapat berupa diplomat negara lain, sekutu dari negara tersebut, dan sebagainya;

• Adanya usaha dari sebuah negara untuk membentuk respon alternatif dalam menanggapi ancaman yang dirasakan. Respon alternatif tersebut dapat berupa konsultasi internal yang intensif, peningkatan aliran infromasi, dan mencari dukungan eksternal;

• Coping Process yang diberlakukan oleh pembuat keputusan dalam menanggapi ancaman. Coping Process merupakan respon yang diberikan oleh para pembuat keputusan terhadap ancaman yang dirasakan. Respon tersebut dapat berupa penguatan dan mobilisasi sumber daya, tindakan balasan diplomatik, kebijakan, dan sebagainya.57 Dalam hal ini, Colin S.

(39)

55

Gray menyatakan bahwa dalam merespon sebuah ancaman negara dapat menggunakan respon secara hardpower maupun softpower.58

Di dalam jurnalnya, Cohen juga menyebutkan bahwa keberadaan persepsi ancaman juga didorong oleh beberapa faktor yang disebut sebagai Predispositional Factors yang diantaranya adalah ketidakpercayaan, pengalaman masa lalu, hal-hal yang tidak terduga, dan kecemasan personal.59

Secara garis besar, dalam penjabarannya keempat faktor tersebut dapat menjadi dua poin besar, yaitu :

• Pengalaman masa lalu. Poin ini merupakan gabungan dari faktor ketidakpercayaan dan pengalaman masa lalu. Kedua faktor ini saling keterkaitan dikarenakan pengalaman masa lalu yang buruk antara kedua aktor dapat menyebabkan ketidakpercayaan antarpihak yang bekaitan. Sehingga hal tersebut dapat memunculkan persepsi ancaman oleh seorang aktor terhadap tindakan yang dilakukan oleh aktor lain.

• Peristiwa tidak terduga. Poin ini merupakan gabungan dari faktor hal-hal yang tidak terduga dan kecemasan personal. Keterkaitan diantara dua faktor ini adalah tindakan tidak terduga yang dilakukan oleh seorang aktor dapat membuat kecemasan pada aktor lain. Terlebih lagi apabila kedua aktor tersebut memiliki hubungan yang buruk, sehingga aktor tersebut dapat mempersepsikan tindakan aktor lain tersebut sebagai sebuah ancaman.

58 Colin S. Gray, Hardpower and Softpower: The Utility of Militaray Force as an Instrument of

Policy in the 21st Century (Carlisle: Strategic Studies Institute, 2011), hal. v.

(40)

56

Dalam hal ini, penulis menggunakan Threat Perception sebagai alat untuk melihat faktor yang membuat isyarat ancaman yang di rasakan oleh Latvia terhadap strategi Hybrid Warfare Rusia. Dimana isyarat ancaman tersebut yang lalu membuat Latvia merasakan ancaman yang membuatnya merespon dengan mengeluarkan beberapa kebijakan untuk melakukan pertahanan terhadap negaranya.

1.6 Metodologi Penelitian 1.6.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan penulis untuk melihat alasan Latvia dalam memilih strategi latihan bersama sebagai respon dalam menghadapi Hybrid War Rusia adalah jenis penelitian eksplanatif. Penelitian eksplanatif adalah penelitian yang menyoroti hubungan antar variabel dengan menggunakan kerangka pemikiran terlebih dahulu, kemudian dirumuskan dalam bentuk hipotesis.60 Melalui kalimat yang lebih sederhana, penelitian eksplanatif dapat dimaknai sebagai penelitian yang berusaha menjawab pertanyaan mengapa.61 Dalam hal ini, penulis akan melihat hubungan antara variabel X dengan variabel Y dari penelitian ini yang lalu akan disimpulkan sebuah hipotesa antara hubungan kedua variable tersebut. Variabel X dalam penelitian ini adalah persepsi ancaman Latvia, sedangkan variabel Y-nya adalah faktor pendorong dari adanya persepsi ancaman oleh Latvia terhadap Rusia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesa antara hubungan kedua variabel ini adalah ancaman yang

60Prof. Dr. Suryana, M. Si, Metodologi Penelitian: Metode Praktis Penelitian Kuantitatif dan

Kualitatif (Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia, 2010), hal. 15.

61Mohtar Mas’oed, Ilmu Hubungan Internasional Disiplin dan Metodologi (Jakarta: LP3ES, 1990), hal. 79.

(41)

57

dirasakan Latvia terhadap Rusia disebabkan oleh beberapa faktor pendorong. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan faktor pendorong persepsi ancaman Latvia terhadap Rusia.

1.6.2 Metode Analisis

Metode analisa data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah metode data kualitatif. Metode data kualitatif merupakan teknik analisa data yang tidak memperlukan angka dalam analisa penelitiannya. Instrumen yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri.62 Sehingga

peneliti adalah kunci yang harus memiliki wawasan luas untuk menganalisa data yang ada.

1.6.3 Tingkat Analisa

Tingkat analisa yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah tingkat analisa pada level negara-bangsa. Tingkat analisa negara-bangsa digunakan dalam penelitian ini untuk melihat alasan persepsi ancaman yang diberikan oleh Latvia terhadap Hybrid War yang dilakukan oleh Rusia pasca melakukan aneksasi terhadap Krimea. Melalui tingkat analisa ini penulis dapat melihat faktor-faktor yang menyebabkan Latvia mempersepsikan Hybrid War Rusia sebagai ancaman. Selain itu, dalam melakukan analisis penulis juga menggunakan analisa korelasionis dimana variabel dependennya menggunakan tingkat analisa negara-bangsa dan variabel independennya juga menggunakan tingkat analisa negara-bangsa.

(42)

58

1.6.4 Variabel Penelitian

Di dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian eksplanatif sehingga terdapat 2 variabel dalam penelitian ini yang disebut dengan variabel X sebagai unit analisis dan variabel Y sebagai unit eksplanasi. Variabel X dalam penelitian ini adalah persepsi ancaman oleh Latvia dan variabel Y-nya adalah faktor pendorong adanya ancaman yang dirasakan oleh Latvia. Sehingga korelasi antara variael X dan Y disini adalah persepsi ancaman yang dirasakan Latvia terhadap Hybrid Warfare Rusia disebabkan oleh adanya beberapa faktor pendorong.

1.6.5 Ruang Lingkup Penelitian

1.6.5.1 Batasan Materi

Batasan materi digunakan agar sebuah penelitian tidak menyimpang jauh dari apa yang di bahas. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus untuk melihat alasan Latvia dalam mempersepsikan Hybrid Warfare Rusia terhadap Krimea sebagai sebuah ancaman.

1.6.5.2 Batasan Waktu

Batasan waktu dari penelitian ini berfokus pada setelah aksi aneksasi Rusia terhadap Krimea pada tahun 2014 hingga tahun 2020. Sebab pasca kejadian tersebut Latvia mulai menerima sinyal ancaman dari Rusia, sehingga Latvia mempersepsikan Hybrid Warfare Rusia sebagai sebuah ancaman. Penulis memilih tahun 2014 karena pada saat itu Rusia melakukan aneksasi terhadap Krimea serta mulainya serangan-serangan disinformatif terhadap

(43)

59

Latvia. Sedangkan batas waktu tahun 2020 penulis pilih karena serangan-serangan dan sinyal ancaman dari Rusia terhadap Latvia hanya terlihat hingga awal tahun 2020.

1.6.6 Teknik dan Alat Pengumpulan data

Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah studi pustaka. Dalam hal ini penulis menggunakan sumber-sumber yang berasal dari buku, jurnal, working paper, proceeding, dan lain sebagainya. Selain itu juga menggunakan teknik pengumpulan data internet based research yaitu teknik pengumpulan data yang berasal dari internet

1.7 Hipotesa

Berdasarkan analisa yang dilakukan, penulis dapat mengambil hipotesa sebagai jawaban sementara bahwa alasan Latvia mempersepsikan Hybrid Warfare Rusia sebagai sebuah ancaman dikarenakan hubungan masa lalu antara Latvia dan Rusia yang buruk. Selain itu, persepsi ancaman Latvia terhadap Rusia juga muncul akibat peristiwa tidak terduga yang dilakukan Rusia terhadap Latvia, seperti serangan-serangan disinformatif. Melalui Teori Threat Perception yang dikemukakan oleh Cohen dapat dilihat bahwa persepsi ancaman Latvia terhadap Hybrid Warfare Rusia dapat dibuktikan melalui empat indikator yang disebutkan oleh Cohen. Indikator pertama dan kedua yaitu artikulasi pembuat keputusan dan deskripsi pengamat kontemporer dapat dibuktikan dengan pernyataan-pernyataan yang diberikan oleh para pembuat keputusan Latvia maupun sekutu Latvia yang merasa bahwa adanya ancaman Rusia terhadap Latvia. Indikator ketiga dan keempat yaitu usaha untuk membuat respon alternatif dan coping process yang

(44)

60

terlihat dari respon-respon yang dikeluarkan Latvia sebagai usaha untuk memproteksi negaranya dari ancaman Hybrid Warfare Rusia.

Melalui Threat Perception Cohen juga dapat diketahui bahwa alasan Latvia mempersepsikan Rusia sebagai ancaman dapat dilihat melalui prepositional factors yang disebutkan oleh Cohen. Faktor ketidakpercayaan dan pengalaman masa lalu dapat terlihat dari hubungan buruk Latvia dengan Rusia di masa lalu. Hubungan buruk tersebut dapat mendorong ketidakpercayaan Latvia terhadap Rusia. Faktor hal-hal yang tidak terduga dan kecemasan personal, dapat dibuktikan melalui peristiwa Aneksasi Krimea dan serangan-serangan tidak terduga yang dilakukan oleh Rusia, yang membuat Latvia terkejut dan juga merasa cemas bahwa Rusia dapat melakukan hal yang sama terhadap Latvia karena Latvia memiliki kondisi yang sama dengan Krimea. Hal-hal tersebut yang mendorong Latvia mempersepsikan Hybrid Warfare Rusia sebagai sebuah ancaman. Adanya persepsi ancaman tersebut membuat Latvia megeluarkan respon untuk melindungi negaranya. Respon- repson Latvia tersebut dapat dibedakan menjadi dua yaitu respon secara hardpower dan secara softpower.

(45)

61 1.8 Sistematika Penulisan Bab 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian

1.3.2 Manfaat Penelitian 1.4 Penelitian Terdahulu 1.5 Kerangka Teori/Konsep

1.5.1 Konsep Hybrid Threats 1.5.2 Threat Perception 1.6 Metodologi Penelitian 1.6.1 Jenis Penelitian 1.6.2 Metode Analisis 1.6.3 Tingkat Analisa 1.6.4 Variabel Penelitian

1.6.5 Ruang Lingkup Penelitian

1.6.5.1 Batasan Materi

1.6.5.2 Batasan Waktu

(46)

62

1.7 Hipotesa

1.8 Sistematika Penulisan

Bab 2 DINAMIKA HUBUNGAN LATVIA-RUSIA

2.1 Sejarah Hubungan Latvia-Rusia

2.1.1 Latvia Sebelum Berbentuk Negara

2.1.2 Latvia Pada Masa Kekaisaran Rusia

2.1.3 Latvia Pada Masa Pendudukan Pertama Uni Soviet (1940-1941)

2.1.4 Latvia Pada Masa Pendudukan Nazi Jerman (1941-1944)

2.1.5 Latvia Pada Masa Pendudukan Kedua Uni Soviet (1944-1991)

2.1.6 Latvia Pasca Runtuhnya Uni Soviet

2.2 Aneksasi Rusia Pada Krimea

2.3 Pandangan Latvia dan Sekutu Terhadap Manuver Militer Rusia

(47)

63

Bab 3 ISYARAT ANCAMAN TERHADAP RUSIA DAN

RESPON LATVIA

3.1. Strategi Hybrid Warfare Rusia

3.2 Respon Pemerintah Latvia Terhadap Hybrid

Warfare Rusia

3.3. Keberadaan Isyarat Ancaman Latvia Terhadap Rusia

3.3.1 Pengalaman Masa Lalu 3.3.2 Peristiwa Tidak Terduga

Bab 4 PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Gambar

Tabel 1. Posisi Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Simbol ini digunakan untuk menggambarkan arsip permanen yang merupakan tempat penyimpanan dokumen yang tidak akan diproses lagi dalam sistem akuntansi yang bersangkutan.

Henzler, dari Jerman (Drs. Hendrojogi, 1997), membagi asas koperasi menjadi dua hal, yaitu asas yang struktural dan asas yang fungsional. Democratic control, termasuk

Pada bangunan candi di Indonesia, selain berbagai macam arca Budha dan para dewa yang terdapat di candi di Indonesia, selain berbagai macam arca Budha dan para dewa yang terdapat

Analisa Akar Masalah/Root Cause Analysis adalah setiap analisis yang mengidentifikasi kekurangan yang mendasari dalam sistem manajemen keselamatan yang

Motor ini mempunyai kinerja yang lebih baik saat beroperasi pada sistem tenaga 1-fasa dimana motor dapat bekerja dengan faktor daya yang mendekati 1 (satu) dengan

Harvested Area, Production and Productivity of Soyabeans and Sweat Potatoes in Saptosari District 2008 Desa Villages Kedelai Soyabeans Ketela Rambat Sweat Potatoes Luas

b) Implementansi kebijakan pengurangan risiko bencana. Dimana potensi kerentanan akan lebih banyak berbicara tentang aspek teknis yang berhubungan dengan dimensi

Perlindungan Pernafasan : Gunakan perlindungan pernafasan melainkan jika pengalihan udara setempat yang mencukupi disediakan atau penilaian pendedahan menunjukkan bahawa