• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TEKNOLOGI SATELIT ALTIMETRI DAN PASUT LAUT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TEKNOLOGI SATELIT ALTIMETRI DAN PASUT LAUT"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

6 BAB II

TEKNOLOGI SATELIT ALTIMETRI DAN PASUT LAUT

Satelit altimetri merupakan salah satu metode penginderaan jauh yang misi utamanya adalah mengukur jarak vertikal muka air laut terhadap bidang referensi tertentu. Bidang referensi tersebut biasanya berupa elipsoid referensi, geoid dan Mean Sea Surface (MSS)[Anugrah,2007]. Pemilihan bidang referensi yang digunakan bergantung pada tujuan pemakaian data satelit.

2.1 Prinsip Dasar Teknologi Satelit Altimetri

Pengukuran ketinggian muka laut dilakukan dengan memanfaatkan gelombang radar yang dipancarkan oleh satelit. Sederhananya, gelombang radar yang dipancarkan oleh satelit altimetri akan dipantulkan oleh permukaan laut. Kemudian gelombang pantulan tersebut diterima kembali oleh receiver yang berada di satelit. Dengan memanfaatkan data cepat rambat gelombang radar pada medium atmosfer dan jeda waktu pengamatan sejak gelombang dipancarkan hingga gelombang tersebut diterima kembali oleh satelit, data jarak dari satelit ke permukaan laut di bawahnya bisa diperoleh. Jarak antara satelit dengan permukaan laut sesaat dapat ditentukan dengan menggunakan persamaaan 2.1 berikut:

h ∆t c (2.1)

dengan: h = jarak antara satelit dengan permukaan laut sesaat

∆t = perbedaan waktu tempuh saat pemancaran dan saat penerimaan sinyal C = kecepatan rambat gelombang elektromagnetik

Dari persamaan 2.1, apabila tinggi satelit altimetri telah didefinisikan pada bidang referensi tertentu maka ketinggian permukaan air laut pada bidang referensi yang sama dapat

diperoleh.

Jarak antara satelit dengan permukaan laut sesaat yang diukur oleh satelit altimetri belum bisa dimanfaatkan langsung untuk keperluan geodesi maupun oseanografi, sebab untuk mendapatkan informasi tinggi muka laut terlebih dahulu harus dilakukan konversi jarak yang dihasilkan dari pengukuran satelit altimetri menjadi tinggi muka laut terhadap bidang referensi tertentu. Oleh karena itu, harus ditentukan bidang referensi untuk mendefinisikan tinggi muka laut yang dimaksud. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar 2.1 berikut.

(2)

7

Gambar 2.1 Geometri pengukuran satelit altimetri [Anugrah,2007]

Pada saat dilakukan pengukuran jarak dari satelit ke permukaan laut sesaat (H), posisi satelit bereferensi terhadap suatu permukaan ellipsoid. Sehingga jarak dari satelit ke permukaan ellipsoid bisa diketahui dalam hal ini dinyatakan sebagai tinggi orbit (h). Dengan diketahuinya tinggi orbit tersebut, maka maka tinggi permukaan laut di atas ellipsoid referensi (SSH) dapat ditentukan dengan persamaan 2.2 berikut [Anugrah,2007].

SSH h H (2.2)

dimana:

SSH = tinggi muka laut di atas ellipsoid referensi H = tinggi satelit di atas ellipsoid

H = jarak ukuran altimeter (tinggi satelit di atas muka laut) 2.1.1 Satelit TOPEX/Poseidon

Pada studi ini, satelit yang digunakan adalah satelit TOPEX/Poseidon. Satelit TOPEX/Poseidon diluncurkan pada tanggal 10 Agustus 1992 dengan misi utama untuk mengamati dan mempelajari sirkulasi lautan. Satelit ini membawa dua buah altimeter, yaitu altimeter TOPEX (milik NASA, AS) dan altimeter Poseidon (milik CNES, Perancis). Altimeter TOPEX bekerja memanfaatkan dua buah band sinyal yaitu sinyal pada frekuensi 5,3 GHz (C-Band) dan sinyal pada frekuensi 13,6 GHz (Ku-Band). Penggunaan dua buah sinyal tersebut adalah untuk mereduksi kesalahan akibat efek ionosfer.

Permukaan laut

Elipsoid referensi Topografi dasar laut

Geoid Orbit satelit

h H

(3)

8

Gambar 2.2 Satelit Topex/Poseidon [Radar Altimetri Tutorial, CLS]

Berbeda dengan TOPEX, altimeter Poseidon hanya menggunakan satu buah sinyal pada frekuensi 13,6 GHz (Ku-Band). Oleh karenanya, proses koreksi kesalahan akibat efek ionosfer pada altimeter Poseidon dilakukan hanya dapat dilakukan dengan menggunakan model. Hal ini menyebabkan adanya perbedaan keakurasian data antara data yang dihasilkan oleh altimeter TOPEX dengan data yang dihasilkan oleh altimeter Poseidon.

Pada pengoperasiannya, altimeter TOPEX dengan Poseidon bekerja secara bergantian. Hal ini dikarenakan antena altimeter yang tersedia pada satelit tersebut hanya satu buah antena. Jika altimeter TOPEX telah melakukan pengamatan selama 9 cycle, maka 1 cycle berikutnya dilakukan oleh altimeter Poseidon, setelah itu altimeter TOPEX kembali beroperasi.

Tujuan utama dioperasikannya misi satelit TOPEX/Poseidon adalah [Benada, 1997]: 1. Mengukur tinggi muka laut sedemikian rupa sehingga dapat dilakukan studi dinamika

laut yang mencakup hitungan rata-rata maupun variasi arus geostropik permukaan dan pasang surut lautan dunia.

2. Memproses, memverifikasi dan mendistribusikan data TOPEX beserta data geofisika lainnya kepada pemakai.

3. Meletakkan pondasi bagi keberlanjutan program pengamatan sirkulasi laut dan variasinya untuk jangka waktu yang panjang.

Pada 15 September 2002, satelit TOPEX/Poseidon digantikan posisinya orbitnya oleh satelit Jason-1 dengan misi yang sama dengan satelit pendahulunya. Pada Oktober 2005, satelit TOPEX/Poseidon memberikan data ukurannya yang terakhir. Misi TOPEX/Poseidon resmi diakhiri pada 18 Januari 2006.

(4)

9 2.1.2 Karakteristik Orbit Satelit TOPEX/Poseidon

Satelit altimetri tidak hanya dimanfaatkan untuk studi-studi variasi muka air, namun juga untuk studi-studi medan gaya berat. Untuk studi-studi variasi permukaan air laut, pasut dan aliran air laut diperlukan pengamatan berulang-ulang sesering mungkin (high temporal resolution). Sedangkan untuk studi-studi medan gaya berat, struktur-struktur geologi dan tektonik dibutuhkan kerapatan pengamatan satelit yang tinggi. Jadi, antara dua kepentingan ini masing-masing saling berkompetisi: semakin sering pengamatan berulang semakin jarang jumlah titik yang dapat teramati, dan sebaliknya [Khafid, 2001].

Pemilihan satelit TOPEX/Poseidon dalam studi ini didasarkan pada pertimbangan di atas. Satelit TOPEX/Poseidon mempunyai periode pengulangan (cycle) selama 9.9156 hari. Periode pengulangan tersebut merupakan periode pengulangan yang terpendek dibandingkan dengan periode pengulangan satelit altimetri yang lainnya. Satelit TOPEX/Poseidon mempunyai jarak antar lintasan yang renggang, yaitu dengan lebar bujur sekitar 3° atau sekitar 315 km pada ekuator dan jarak antar titik pengamatan di atas permukaan laut sepanjang lintasan ± 7 km. Lebih jauh, satelit TOPEX/Poseidon mempunyai konfigurasi orbit seperti pada tabel 2.1 berikut.

Tabel 2.1 Karakteristik orbit satelit TOPEX/Poseidon

Karakteristik Utama

Setengah sumbu panjang 7714,4278 km

Eksentrisitas 0,000095

Inklinasi bidang orbit 66,039°

Argumen perigee 90,0°

Asensiorekta noktah naik 116,5574°

Anomali rata-rata 253,13°

Data Tambahan

Tinggi referensi(ekuatorial) 1336 km

Periode satu lintasan orbit 6745,72 detik

Periode pengulangan (cycle) 9,9156 hari

Jumlah revolusi dalam satu cycle 127 Jarak antar lintasan pada ekuator 315 km

Ground track control kanal ± 1 km

Sudut lintasan terhadap ekuator 39,5° Longitude of equator crossing pass 1 99,9242°

Inertial nodal rate -2,0791°/hari

Kecepatan orbit 7,2 km/detik

Kecepatan permukaan (ground speed) 5,8 km/detik

(5)

10 Inklinasi orbit sebesar 66,039o dari satelit TOPEX/Poseidon menyebabkan cakupan pengamatan satelit ini terbatas hingga daerah dengan lintang 66,039o. Namun, keterbatasan

daerah pengamatan tersebut tidak begitu memberikan pengaruh negatif pada studi maritim karena daerah diatas lintang tersebut banyak yang berupa es, bukan air laut. Sudut inklinasi orbit sebesar 66,039o membuat satelit TOPEX/Poseidon dapat menjelajahi 90% area perairan di permukaan bumi.

2.1.3 Sistem Waktu TOPEX/Poseidon

Waktu pengamatan data TOPEX/Poseidon yang disimpan di dalam database RADS (Radar Altimeter Database System) bereferensi ke waktu UTC pada tanggal 1 Januari 1985 pukul 00:00:00. Waktu pengamatan disimpan dalam besaran detik. Informasi mengenai waktu pengamatan data TOPEX/Poseidon diperlukan untuk melakukan analisis harmonik pasut laut. Parameter analisis harmonik pasut laut yang sangat terpengaruh oleh sistem waktu pengamatan yang digunakan adalah fase pasut laut. Fase pasut laut yang tidak dihasilkan dari waktu pengamatan yang bersifat global membuat adanya efek diskontinuitas pada garis co-fase apabila dilakukan pemetaan gelombang pasut laut. Referensi waktu standar yang digunakan dalam penghitungan komponen pasut laut adalah pada tanggal 1 Januari 1990 pukul 00:00:00 waktu UTC. Oleh karena itu, pada studi ini waktu pengamatan yang diperoleh dari database RADS terlebih dahulu diubah sehingga bereferensi kepada referensi waktu standar tersebut.

2.1.4. Kesalahan dan Bias pada Pengukuran Satelit Altimetri

Untuk menghasilkan nilai jarak vertikal dengan ketelitian yang optimum, data hitungan jarak pada satelit altimetri harus dikoreksi terlebih dahulu dari kesalahan-kesalahan dan bias yang timbul pada saat dilakukan pengukuran jarak. Kesalahan dan bias pada pengamatan satelit altimetri dapat digolongkan menjadi lima bagian, yaitu [Moody et al.,1996]:

1. Kesalahan orbit

2. Kesalahan instrumen satelit

3. Kesalahan dari media transmisi (atmosfer) 4. Kesalahan dari media pantul (permukaan air laut) 5. Bias geofisika

(6)

11 Hubungan geometri pengukuran satelit altimetri beserta koreksi-koreksi yang diperlukan dalam penentuan tinggi muka laut ditunjukan pada gambar 2.3 berikut[Anugrah,2007].

Gambar 2.3 Geometri pengukuran satelit altimetri beserta koreksi-koreksi yang diperlukan

Apabila parameter-parameter kesalahan pengamatan satelit altimetri telah diketahui, maka formula penghitungan jarak vertikal yang telah terkoreksi dari satelit altimetri terhadap permukaan laut menjadi:

H H ∑ ∆H (2.3)

Dalam hal ini, H = ct/2 yang merupakan jarak ukuran, sedangkan ∑∆Hj adalah jumlah koreksi-koreksi. Dengan memasukan koreksi-koreksi diatas, pengamatan satelit altimetri dapat memberikan presisi pengukuran sebesar 1.7 cm dan akurasi orbit sebesar 2-3 cm.

2.1.5 Sea Level Anomaly (SLA)

SLA merupakan tinggi permukaan laut di atas permukaan geofisik dimana efek dinamisnya seperti pasut laut dan pengaruh tekanan atmosfer sudah dihilangkan. Permukaan geofisik yang digunakan tersebut dapat berupa geoid ataupun MSS. Nilai SLA merupakan nilai turunan dari nilai SSH yang diperoleh dari pengukuran satelit altimetri. Dalam studi ini,

Koreksi instrument • tracker bias

• waveform samoler gain

calibration bias

• antenna gain pattern • AGC attenuation • Doppler shift • range acceleration • oscillator drift • pointing angle/sea state

Orbit satelit

h

Koreksi geofisik eksternal • undulasi geoid • pasut • tekanan udara H Koreksi atmosfer • ionosfer • troposfer kering • troposfer basah

Koreksi antar muka udara-laut • bias elektromagnetik • skewnew bias

Permukaan laut

Elipsoid referensi SSH

(7)

12 efek pasut laut tidak dihilangkan dari nilai SLA sehingga dapat dilakukan analisis harmonik untuk mendapatkan komponen pasut laut.

2. 2. Aplikasi Teknologi Satelit Altimetri

Seperti yang telah diketahui sebelumnya, produk utama dari satelit altimetri adalah jarak vertikal satelit terhadap permukaan laut yang berada di bawahnya. Dengan menggunakan data jarak vertikal tersebut dan ketinggian satelit terhadap elipsoid, dapat diperoleh SSH (Sea Surface Height) yang merupakan jarak vertikal permukaan laut terhadap elipsoid referensi yang digunakan. Dari data SSH tersebut, kita dapat menghitung tinggi undulasi geoid dari titik yang diamati satelit altimetri, Sea Surface Topography (SST), Mean Sea Surface (MSS), dan besaran-besaran lain yang merupakan turunan dari SSH.

Disamping dari penggunaan teknologi satelit altimetri untuk menghitung jarak vertikal dari permukaan air laut, karakteristik perambatan sinyal dari satelit altimetri (amplitudo dan bentuk gelombang) juga dapat dimanfaatkan untuk menghitung tinggi gelombang dan kecepatan angin di atas perairan yang dilewati satelit. Lebih dari itu, koefisien backscatter dan tingkat “kekasaran” dari permukaan laut juga dapat diamati [J. Benveniste et al, 2006]. Dua buah gelombang yang dipancarkan oleh satelit altimetri juga dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi-informasi baru yang menarik dari pengamatan satelit altimetri. Curah hujan diatas laut dan pendeteksian retak/celah pada permukaan es merupakan beberapa contoh dari informasi-informasi baru tersebut [J. Benveniste et al.,2006].

Berikut ini adalah beberapa contoh aplikasi teknologi satelit altimetri: 2.2.1 Mean Sea Surface (MSS)

Mean Sea Surface (MSS) atau tinggi muka laut rata-rata yang dihasilkan oleh satelit altimetri merupakan MSS yang bersifat global. Saat ini, MSS CLS01 merupakan MSS yang paling sering digunakan dalam berbagai macam aplikasi, termasuk untuk aplikasi satelit altimetri sendiri. MSS CLS01 merupakan MSS yang dibangun oleh data-data pengamatan satelit altimetri selama tujuh tahun mulai tahun 1993-1999 dengan melibatkan satelit TOPEX/Poseidon, ERS-1, ERS-2 dan Geosat. Tujuan dari pembuatan MSS CLS01 adalah untuk memberikan rata-rata tinggi muka laut dengan tingkat presisi tinggi di sepanjang groundtrack satelit altimetri serta memberikan data-data yang homogen untuk data Mean

(8)

Dynamic resolusi s 2 D menggun dapat dit studi lain dibicarak terjadi se Gambar 2 Gamb c Topograph spasial sebes .2.2 Global M Dengan dapa nakan teknol entukan bes n mengenai kan oleh oran elama ini, ter

2.4 Tren peruba bar 2.5 Variasi hy. MSS CL sar 2’. Mean Sea V at dihitungny logi satelit a arnya. Studi fenomena g ng karena di rutama benca

ahan laut

rata-i rata-rata perm S01 mencak Variation ya MSS glo altimetri, ma i mengenai v global warm iduga menja ana alam yan

-rata global ya 2005 [sumb mukaan laut ya Colorad kup wilayah obal pada se aka perubah variasi MSS ming dan sea di penyebab ng berkaitan ang dihitung da er : Legos/CNR ang dihitung da do at Boulder] mulai 80o L ebuah interva han relatif M terhadap wa a level rise y b terjadinya b n dengan akt

ari data altimet NRS]

ari data altime

LS hingga 8 al waktu ter MSS terhada aktu terkait yang kini se bencana alam tifitas atmosf

tri mulai Janua

etri[Sumber: U 1 82oLU denga rtentu denga ap waktu jug dengan stud edang banya m yang serin fer. ari 1993 hingg University of 13 an an ga di-ak ng ga

(9)

2 P dengan 7 permukaa timur dan siklus mu hingga d diprediks Gambar 2 2.3 Feno F permukaa khususny [Poerban itu, perg sinusoida B dalam tig a. b .2.3 El Nino erubahan pe 7 tahun di p an hangat da n bertabraka usiman dari dekadal ma sikan [Fadin 2.6 Osilasi ting omena Pasut enomena p an laut seca ya bulan ndono,2005] erakan gelo al. Berdasarkan ga komponen . Kompone . Kompone o ermukaan lau perairan sam an kenaikan an dengan su tinggi perm aka kejadian nar,2008]. ggi permukaan t laut pasang-surut ra periodik y dan ma . Pasut laut ombang pasu periode pen n utama, yai en semi diurn en diurnal (h ut akibat El mudera Pasifi permukaan uhu yang leb mukaan air la n badai sep n laut di perair 2 t (pasut) l yang diseba atahari dis t bersifat pe ut laut dapa gulangannya tu : nal (setengah harian) Nino serta L ik. Hal ini d

laut di daera bih rendah d aut di sekita perti El Ni ran Samudera P 2005] laut merup abkan oleh p samping p eriodik terha at dimodelka a, gelomban h harian) La Nina ber disebabkan o ah tropis Pas di Pasifik tim ar pantai dar ino dan La Pasifik akibat f pakan sebu engaruh gra pengaruh b adap waktu an dengan m ng pasut laut rlangsung se oleh interak sifik menyim mur. Dengan ri variasi lau a Nina ke fenomena El N ah pergera avitasi benda benda lan (harmonik). menggunaka t dapat dikel 1 etiap 3 samp si antara aru mpang ke ara menganalis ut interannua depan dap Nino [Naeije M akan vertik a-benda lang ngit lainny Oleh karen an persamaa lompokkan k 14 ai us ah sis al at M, kal git ya na an ke

(10)

15 c. Komponen periode panjang (dwi mingguan atau lebih)

Perbedaan periode pengulangan dari setiap komponen pasut laut diatas diakibatkan oleh gaya pembangkit gelombang-gelombang pasut laut tersebut. Jika dianggap hanya bulan yang mempengaruhi terjadinya pasut laut, kemudian orbit bulan terhadap bumi dianggap berbentuk lingkaran sempurna dengan bidang lintasan yang sejajar sumbu putar bumi, maka akan terbentuklah komponen M2 yang periode pengulangannya sebesar setengah hari. Deklinasi bulan terhadap ekuator bumi sebesar 28,5o dan deklinasi matahari sebesar 23,5o

menghasilkan komponen O1 dan P1 dengan periode masing-masing 1.07581 dan 1.00275 hari. Orbit bulan terhadap bumi yang berbentuk elips menghasilkan komponen N2 dengan periode 0.52743. Orbit bumi terhadap matahari yang juga berbentuk elips menghasilkan komponen K2 dengan periode 0.49864. Pasut laut di suatu perairan yang diamati merupakan penjumlahan dari komponen-komponen tersebut. Masih banyak komponen pasut lainnya yang berpengaruh terhadap pergerakan pasut di suatu perairan selain dari komponen-komponen pasut diatas.

Komponen-komponen pasut laut dimodelkan sesuai dengan periode masing-masing komponen kedalam bentuk persamaan sinusoidal. Untuk lebih jelasnya lihat gambar 2.7 berikut.

Gambar 2.7 Contoh hasil superposisi gelombang

Variabel yang terdapat pada persamaan sinusoidal diatas adalah frekuensi gelombang, amplitudo gelombang dan fase. Frekuensi gelombang merupakan perbandingan terbalik dengan periode gelombang, yaitu banyaknya gelombang pasut laut yang terbentuk selama

(11)

16 suatu kurun waktu tertentu. Amplitudo merupakan besar penyimpangan maksimum suatu gelombang terhadap posisi normalnya. Fase merupakan keterlambatan gelombang dalam setengah lingkaran. Karena pengelompokan gelombang pasut laut dilakukan berdasarkan periode gelombangnya, maka besar periode dan frekuensi gelombang pasut laut di setiap tempat adalah sama. Besar amplitudo dan fase gelombang pasut laut dapat berubah-ubah sesuai dengan perairan yang diamati.

Tujuan utama dari pemodelan gelombang pasut laut adalah untuk memprediksi tinggi permukaan air laut yang berubah-ubah akibat pengaruh pasut laut pada waktu tertentu. Agar dapat memodelkan pergerakan vertikal pasut laut di suatu tempat secara matematis, perlu dilakukan penghitungan analisis harmonik sehingga besar amplitudo dan fase dari seluruh komponen pasut laut di tempat tersebut diketahui. Penjelasan mengenai analisis harmonik dilanjutkan pada bagian 2.4. Tabel 2.2, 2.3, 2.4 dan 2.5 berikut ini masing-masing berisi komponen-komponen pasut laut periode panjang, diurnal, semi-diurnal dan perairan dangkal yang digunakan untuk melakukan proses analisis harmonik dalam tugas akhir ini[Pugh,1996].

Tabel 2.2 Komponen pasut periode panjang

Komponen Pasut laut Periode Panjang 

No.  Nama Komponen Periode (hari)

1  Sa 365.26033

2  Ssa 182.70402

3  Mm 27.55276

4  Mf 13.6612

Tabel 2.3 Komponen pasut diurnal

Komponen Pasut laut Diurnal  No.  Nama Komponen  Periode (hari) 

5  Q1 1.11951 6  O1 1.07581 7  NO1 1.03472 8  P1 1.00275 9  S1 1 10  K1 0.99727 11  J1 0.96244 12  OO1 0.92942

(12)

17

Tabel 2.4 Komponen pasut semi-diurnal

Komponen Pasut laut Semi‐Diurnal 

No.  Nama Komponen  Periode (hari) 

13  2N2 0.537723065 14  MU2  0.53632  15  N2  0.52743  16  NU2  0.52608  17  M2  0.51753  18  L2 0.50798 19  T2  0.50069  20  S2  0.5  21  K2 0.49864

Tabel 2.5 Komponen pasut Perairan Dangkal

Komponen Pasut laut Perairan Dangkal  No.  Nama Komponen  Periode (hari) 

22  Msf  0.257701927  23  MP1  0.018666357  24  SO1  0.016304377  25  MNS2  0.00954643  26  2MS2  0.009360609  27  MSN2  0.008571109  28  2SM2  0.008440812  29  MO3  0.006098697  30  MK3  0.00594658  31  MN4  0.004559075  32  M4  0.004516259  33  MS4  0.004438474  34  MK4  0.004432305  35  S4  0.004363323  36  M6  0.003010839  37  2MS6  0.002976068  38  M8  0.002258129 

Pemilihan komponen pasut laut yang berpengaruh di atas suatu perairan harus mengikuti kaidah mengenai gaya pembangkit pasut laut yang menyebabkan adanya komponen pasut laut tertentu di suatu perairan. Sebagai contoh, komponen M4 tidak akan mungkin bisa terbentuk apabila komponen M2 tidak terbentuk karena komponen M4 merupakan hasil resonansi dari komponen M2 di perairan dangkal. Gambar 2.8 berikut ini menunjukan keterkaitan antar komponen pasut laut dimana komponen pasut laut yang berada di bawah tidak akan muncul apabila komponen pasut laut yang berada di atasnya tidak

(13)

18 muncul [Sujana,2002]. Keterkaitan antar komponen pasut laut pada Gambar 2.8 di bawah digunakan dalam pemilihan komponen-komponen pasut laut yang digunakan dalam tugas akhir ini.

Gambar 2.8 Keterkaitan antar komponen pasut [Sujana,2002]

2.4 Analisis Harmonik Pasut Laut Metode Kuadrat Terkecil

Pada bagian sebelumnya dijelaskan bahwa pasut laut merupakan hasil superposisi dari gelombang-gelombang penyusunnya yang bersifat periodik. Hal itu menyebabkan fenomena pergerakan pasut laut dapat dimodelkan dengan persamaan sinusoidal. Persamaan 2.4 berikut merupakan persamaan umum yang digunakan untuk memodelkan fenomena pasut laut:

Komponen pasut periode panjang:

So

Ssa MSf

Sa Mm Mf

Komponen pasut periode diurnal:

K1

P1 S1 J1 O1

OO1 Q1 MP1

SO1 Komponen pasut periode semi-diurnal:

M2

S2 N2

K2 L2 T2 MU2 NU2

(14)

19

∑ 2 (2.4)

dengan :

S0 = tinggi rata-rata permukaan air diatas datum yang digunakan

ti = waktu ke i

h = tinggi permukaan air pada saat waktu ke-i m = jumlah komponen yang digunakan

j

a = amplitudo komponen ke-j 2πfj = frekuensi komponen ke-j (ωj) j = keterlambatan fase komponen ke-j

Besar amplitudo dan beda fase setiap komponen pasut laut dapat dihitung dengan menggunakan analisis harmonik pasut laut. Analisis harmonik dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu metode admiralty dan metode kuadrat terkecil. Metode admiralty dikembangkan oleh A. T. Doodson, direktur Tidal Institute di Liverpool dan digunakan untuk keperluan kantor hidrografi Inggris, yaitu British Admiralty. Doodson mengembangkan sistematika pengolahan data pengamatan pasut laut dengan menggunakan skema dan tabel-tabel pengali. Dengan metode ini, ada sembilan komponen pasut laut yang dapat diturunkan [Poerbandono, 2005]. Metode admiralty kini jarang digunakan karena rumit dan mempunyai keterbatasan pada jumlah dan ketelitian variabel yang dihasilkan dibandingkan dengan metode kuadrat terkecil.

Metode kuadrat terkecil didasarkan pada penentuan tinggi muka air model yang memberikan kuadrat kesalahan minimum terhadap tinggi muka air hasil pengamatan. Metode kuadrat terkecil juga melibatkan kualitas setiap data yang dipakai dalam proses penghitungan sehingga kontribusi setiap data pada proses penghitungan yang dilakukan sesuai dengan kualitas masing-masing data. Hal ini membuat ketelitian hasil analisis harmonik dengan menggunakan metode kuadrat terkecil lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan metode admiralty.

Metode kuadrat terkecil baru banyak digunakan setelah alat penghitung numeris modern ditemukan. Hal ini dikarenakan metode kuadrat terkecil memerlukan proses penghitungan matriks dengan dimensi matriks yang besar (tergantung pada jumlah data). Pada studi ini, metode kuadrat terkeci inilah yang digunakan untuk melakukan analisis harmonik untuk menentukan komponen-komponen pasut laut di atas perairan yang diamati.

(15)

20 Untuk melakukan analisis harmonik diatas sebuah lokasi perairan, diperlukan data pengukuran pasut laut dari lokasi perairan tersebut. Data pengukuran pasut laut dari lapangan adalah tinggi permukaan air diatas datum pada waktu ke-i (h(ti)). Pada pengukuran pasut laut dengan menggunakan palem, datum yang digunakan adalah dasar dari palem yang digunakan. Hal serupa juga berlaku pada pengukuran pasut laut dengan menggunakan palem pasut laut. Pada studi ini, karena pengukuran dilakukan dengan menggunakan satelit altimetri, datum yang digunakan adalah permukaan MSS (Mean Sea Surface). Karena permukaan MSS merupakan pendekatan dari permukaan MSL, nilai tinggi rata-rata pasut laut (S0) yang dihitung dengan menggunakan data altimetri harus mendekati nilai nol.

Variabel lain yang dapat langsung diketahui pada model persamaan diatas adalah frekuensi setiap komponen pasut laut. Karena frekuensi komponen pasut laut mempunyai nilai yang sama di setiap tempat, maka variabel yang bisa berubah-ubah nilainya pada model persamaan pasut laut 2.4 adalah amplitudo dan beda fase setiap komponen pasut laut. Komponen pasut laut yang digunakan dalam tugas akhir ini tertera pada Tabel 2.2, 2.3, 2.4 dan 2.5.

Pada metode kuadrat terkecil, model persamaan pasut laut pada persamaan 2.4 diubah kedalam bentuk baru, yaitu:

∑ (2.5)

karena

maka:

∑ (2.6)

∑ ∑ (2.7)

dengan dan , maka persamaan 2.7 diatas menjadi:

∑ ∑ (2.8)

Karena persamaan 2.8 telah berbentuk linier, maka penghitungannya dapat dilakukan dengan cara sederhana. Persamaan 2.8 diubah menjadi matriks berikut:

(2.9)

(16)

21

… …

… …

… …

… …

Dengan menggunakan rumus perataan kuadrat terkecil:

, (2.10) diperoleh matriks X yang berisi parameter-parameter So, Aj dan Bj. Matriks P sendiri

merupakan matriks bobot yang menjadi representasi dari kualitas setiap data yang berbeda-beda. Bobot untuk setiap data ukuran dirumuskan sebagai berikut:

(2.11) dengan :

Pi = bobot data pengukuran ke-i = faktor variansi apriori

= variansi data pengukuran ke-i

Pada pengukuran pasut laut dengan menggunakan palem pasut laut yang kualitas data pengukurannya bisa dianggap homogen, matriks identitas dapat digunakan sebagai matriks bobot (P). Namun apabila pengukuran pasut laut dilakukan dengan menggunakan data satelit altimetri yang mempunyai kualitas beragam, maka nilai matriks P harus ditentukan sesuai dengan kualitas dari setiap data yang digunakan. Penjelasan mengenai pembobotan ini akan dilanjutkan pada BAB 3 dari tugas akhir ini.

(17)

22 Setelah persamaan 2.10 selesai dihitung, diperoleh matriks X yang berisi parameter-parameter hitung perataan. Elemen pertama di dalam matriks X berisi tinggi permukaan laut rata-rata dari perairan yang sedang diamati. Parameter-parameter lainnya digunakan untuk memperoleh amplitudo dan beda fase dari komponen-komponen pasut laut yang dicari.

,

. 1

(2.12)

atan (2.13)

Setelah diperoleh parameter-parameter komponen pasut laut melalui proses diatas, variabel-variabel persamaan pasut laut pada persamaan 2.5 telah lengkap. Dengan persamaan pasut laut yang telah lengkap tersebut, prediksi tinggi pasut laut pada waktu-t dapat diperoleh dengan memasukan variabel waktu ke dalam model persamaan pasut laut yang telah lengkap tersebut.

3.4.1 Penghitungan Standar Deviasi Amplitudo

Standar deviasi dari amplitudo hasil analisis harmonik dapat ditentukan dengan menggunakan metode perambatan kesalahan dari matriks variansi-kovariansi parameter yang diperoleh dari perataan. Informasi mengenai standar deviasi amplitudo dari komponen-komponen pasut laut berguna sebagai nilai yang menunjukkan kualitas parameter hasil hitung perataan. Manfaat lain dari informasi standar deviasi amplitudo adalah untuk mencari komponen-komponen pasut laut mana saja yang sebenarnya tidak perlu dimasukkan ke dalam perataan. Komponen pasut laut dengan perbandingan antara amplitudo dengan standar deviasi yang berdekatan dapat dihilangkan dari proses perataan.

(18)

23 Perambatan kesalahan untuk menghitung standar deviasi amplitudo dimulai dengan menghitung matriks variansi-kovariansi parameter yang diperoleh dari pengamatan.

∑ , (2.14)

dengan:

Formula perambatan kesalahan untuk menghitung standar deviasi amplitudo dapat dilihat penghitungannya berikut ini:

apabila persamaan di atas diturunkan, persamaannya menjadi:

(2.15) dengan:

a = amplitudo gelombang

A = parameter yang digunakan dalam analisis harmonik ( ) B = parameter yang digunakan dalam analisis harmonik ( ) σA2 = variansi dari parameter A

σB2 = variansi dari parameter B

2.4.2 Penghitungan Standar Deviasi Fase

Seperti halnya informasi mengenai standar deviasi amplitudo, informasi mengenai standar deviasi dari fase juga dapat digunakan untuk mengetahui kualitas parameter hasil dari suatu hitung perataan. Penghitungan standar deviasi fase hampir sama dengan penghitungan standar deviasi amplitudo, yaitu dengan cara menghitung matriks variansi-kovariansi terlebih dahulu kemudian menghitung standar deviasi fase dengan metode perambatan kesalahan sebagai berikut:

atan

Apabila persamaan di atas diturunkan, persamaannya menjadi:

(19)

24 dengan:

a = amplitudo gelombang f = fase gelombang

A = parameter yang digunakan dalam analisis harmonik ( ) B = parameter yang digunakan dalam analisis harmonik ( ) σA2 = variansi dari parameter A

σB2 = variansi dari parameter B

2.4.3 Uji Statistik Chi-square

Uji statistik pertama yang harus dilakukan pada segala perataan kuadrat terkecil adalah pengujian terhadap faktor variansi. Pengujian ini menentukan apakah residu dari sebuah proses perataan pada suatu data sampel dengan mempertimbangkan ketelitian pengukuran yang ada dapat dianggap sama dengan residu yang diperoleh dari data populasi. Dalam hal ini, faktor variansi yang akan diuji adalah faktor variansi apriori ( ) untuk faktor variansi data populasi dan faktor variansi aposteriori ( ) untuk faktor variansi data sampel. Faktor variansi aposteriori dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:

, (2.17) Nilai faktor variansi aposteriori yang dicari pada persamaan 2.12 diatas akan

dibandingkan dengan nilai faktor variansi apriori yang nilainya sudah ditentukan di awal sebelum pengolahan data dimulai. Dalam tugas akhir ini, faktor variansi apriori ditentukan nilainya sebesar 1 satuan. Pengujian dilakukan dengan formula berikut:

, , (2.18)

Nilai , dan , adalah batas wilayah penerimaan uji chi-square yang diperoleh dari tabel chi-square sesuai dengan nilai derajat kepercayaan yang sudah ditentukan dan jumlah ukuran lebih dari perataan yang sedang dilakukan (r). Biasanya nilai derajat kepercayaan yang digunakan di dalam pengujian statistik adalah 95%. Pengujian chi-square yang dilakukan di dalam tugas akhir ini juga menggunakan derajat kepercayaan 95%. nka adalah nilai kritis atas dari wilayah penerimaan hasil uji variansi. Nilai nka pada derajat kepercayaan 95% dapat dilihat pada tabel chi-square dengan α sebesar ( %

(20)

25 adalah nilai kritis bawah dari wilayah penerimaan hasil uji variansi. Nilai nkb pada derajat kepercayaan 95% dapat dilihat pada tabel chi-square dengan α sebesar ( %) dan r.

Apabila hasil pengujian chi-square jatuh di bawah nilai kritis bawah dari wilayah penerimaan hasil uji variansi ( ), maka kesalahan yang mungkin terjadi pada proses perataannya adalah [www.sli.unimelb.edu.au]:

• Terlalu banyak parameter yang dilibatkan di dalam hitung perataan. Parameter yang dimaksud di dalam studi ini adalah komponen-komponen pasut laut yang dilibatkan dalam analisis harmonik.

• Ketelitian pengukuran (matriks bobot) yang digunakan terlalu under-estimate. Hal ini terjadi apabila bobot yang diberikan terhadap data lebih kecil daripada bobot yang seharusnya.

Apabila hasil pengujian chi-square jatuh di atas nilai kritis atas dari wilayah penerimaan hasil uji variansi ( ), maka kesalahan yang mungkin terjadi pada proses perataannya adalah:

• Parameter yang dilibatkan pada hitung perataan kurang.

• Ketelitian pengukuran (matriks bobot) yang digunakan terlalu over-estimate. Hal ini terjadi apabila bobot yang diberikan terlalu besar dari yang seharusnya. • Terdapat blunder di dalam data.

Hasil pengujian variansi diatas dapat digunakan untuk mengecek adanya kesalahan di dalam proses pengolahan data beserta identifikasi jenis kesalahannya. Apabila kesalahan pada pengolahan data telah terdeteksi oleh uji variansi tersebut, maka diperlukan pengolahan data ulang setelah kesalahan pengolahan data yang terdeteksi tersebut dikoreksi. Hasil pengolahan data ulang tersebut dianggap sebagai hasil pengolahan akhir apabila hasil pengolahan data tersebut telah lulus uji variansi diatas.

(21)

26 2.4.4 Perbedaan Pengukuran Pasut Laut Cara Tradisional dan dengan

Pengukuran Pasut Laut Menggunakan Satelit Altimetri

Perbedaan antara pengukuran pasut laut cara tradisional (menggunakan palem pasut) dengan pengukuran pasut laut menggunakan satelit altimetri dapat dilihat pada tabel 2.6 berikut ini:

Tabel 2.6 Perbandingan pengamatan pasut dengan menggunakan palem pasut dan dengan menggunakan satelit altimetri

Kelebihan Kekurangan

Satelit Altimetri

• Murah (data dapat diperoleh dengan cara mendownload dari

database yang ada dengan

gratis)

• Lama pengamatan yang panjang (>10 tahun) • Cakupan area pengamatan

seluruh dunia

• Pengukuran terbatas pada lintasan satelit saja

• Ketelitian hasil ukuran 1-3 cm

• Mudah dihinggapi noise (efek atmosfer, kesalahan orbit, dll)

• Rentang waktu antar pengamatan panjang (9,9156 hari untuk TOPEX/Poseidon)

Pengukuran Palem pasut

ƒ Ketelitian hasil ukuran tinggi

ƒ Lebih tahan terhadap noise ƒ Rentang waktu

pengamatan hingga per detik

• Relatif lebih mahal dari penggunaan satelit altimetri

• Cakupan area sebatas area tempat didirikan stasiun pasut laut

• Masih sangat dipengaruhi komponen-komponen topografi muka laut (arus laut, salinitas, dll)

• Sulit untuk dilakukan pengamata di tengah lautan

2.5 Frekuensi Aliasing

Salah satu perbedaan antara pengukuran pasut laut menggunakan palem pasut dengan menggunakan satelit altimetri terletak pada interval waktu antar pengambilan data. Dengan menggunakan palem pasut, pengambilan data dapat dilakukan dengan interval waktu selama satu jam atau kurang dari itu. Interval waktu pengambilan data satelit altimetri pada sebuah titik bervariasi, tergantung karakteristik orbit satelit yang digunakan. Satelit TOPEX/Poseidon yang digunakan di dalam studi ini mempunyai interval waktu antar pengamatan di atas satu titik selama 9,9156 hari (10 hari kurang dua jam). Dengan ini,

(22)

kompone diamati o interval w dengan p M2 (perio Gambar 2. Gambar en-komponen oleh TOPEX waktu peng pengukuran ode 0.51753 .9 Pengukuran 2.10 Pengukur n pasut laut X/Poseidon. ambilan dat pasut laut m hari). n gelombang M ran gelombang t yang memp Gambar 2.9 ta antara pe menggunaka M2 dengan meng g M2 dengan m 9.9 punyai perio 9 dan 2.10 b engukuran p an satelit alt ggunakan pale enggunakan T 156 hari. ode di bawah erikut ini m asut laut m timetri ketik em pasut. Perio TOPEX/Poseido h 9,9156 ha memperlihatk enggunakan ka mengama ode pencuplika

on. Periode pen

2 ari tidak dap kan perbedaa n palem pasu ati gelomban

an data satu jam

ncuplikan data 27 at an ut ng m. a

(23)

Ja frekuensi dengan f berupa p aliasing d et al.,200 1. M p 2. 3. 4. C fo D lebih kec geolmban waktu pe alan keluar i aliasing. F frekuensi ter eriode samp dihitung den 04; Yanagi e Menghitung engamatan d , ∆t = Cari nilai Ta ormula Ta di Dengan meng cil dari inter

ng M2 yang engukuran T Gamb untuk men Frekuensi al rtentu yang pling yang le ngan menggu t al.,1997]: frekuensi N dengan interv periode pen , f = f , yang frekue iatas menjad , Ta ggunakan fr rval waktu p g sebenarnya OPEX/Pose bar 2.11 Gelom ngatasi perm liasing adala digunakan u ebih besar da unakan langk Nyquist (fre val waktu pe ngulangan or frekuensi ge ensinya terle di: = periode al ekuensi alia pengambilan a (biru) dan idon (merah mbang M2 yang masalahan d ah suatu fre untuk menga aripada perio kah-langkah ekuensi terk engamatan y rbit satelit lombang pas etak di dalam liasing asing, gelomb n data dapat gelombang h). g sebenarnya d diatas adala ekuensi baru atasi permas ode gelomba h penghitung kecil yang yang ada):

sut laut yang

m selang

bang pasut l diamati. Ga M2 yang te

dan yang telah

ah dengan m u dari sebua salahan anal angnya send gan sebagai b bisa diama g sebenarnya . Deng laut dengan ambar 2.11 elah teralias teraliasing. 2 menggunaka ah gelomban isis harmoni diri. Frekuen berikut [Fan ati oleh da (2.19) a (2.20) (2.21) gan demikian (2.22) periode yan menunjukka oleh interv 28 an ng ik nsi ng ata n, ng an val

(24)

29 Tabel 2.7 berikut adalah tabel gelombang pasut laut yang belum dan yang telah teralias oleh pengamatan TOPEX/Poseidon:

Tabel 2.7 Periode komponen pasut yang sebenarnya dan yang telah teraliasing TOPEX/Poseidon

Nama 

Komponen   Periode (hari)   Periode Alias (hari)  

Sa   365.2603  365.2603  Ssa   182.7040  182.7040  Mm   27.5528  27.5528  Mf   13.6612  36.1654  QI   1.1195  69.3956  O1   1.0758  45.7111  NO1   1.0347  23.7751  P1   1.0028  88.9081  S1   1.0000  117.5424  K1   0.9973  173.3833  J1   0.9624  32.7664  OO1   0.9294  14.8297  2N2   0.5377  22.5328  MU2   0.5363  19.3732  N2   0.5274  49.5433  NU2   0.5261  65.2555  M2   0.5175  62.0773  L2   0.5080  19.0831  T2   0.5007  50.6198  S2   0.5000  58.7712  K2   0.4986  86.6416  Msf  0.2577  20.7799  MP1  0.0187  48.6242  SO1  0.0163  62.6487  MNS2  0.0095  30.5468  2MS2  0.0094  33.6665  MSN2  0.0086  75.1206  2SM2  0.0084  36.1953  MO3  0.0061  72.0085  MK3  0.0059  21.8987  MN4  0.0046  130.9493  M4  0.0045  21.7163  MS4  0.0044  481.7070  MK4  0.0044  76.2150  S4  0.0044  19.9208  M6  0.0030  31.4667  2MS6  0.0030  47.7315  M8  0.0023  114.1821 

(25)

30 Pada tabel 2.5, gelombang-gelombang pasut laut yang mempunyai periode lebih pendek daripada periode nyquist pengambilan data satelit akan terlihat oleh satelit sebagai gelombang dengan periode aliasnya. Sebagai contoh, gelombang M2 yang mempunyai

periode selama 0.5175 hari akan terlihat oleh satelit TOPEX/Poseidon sebagai gelombang dengan periode 62.0773 hari. Periode alias inilah yang digunakan dalam proses analisis harmonik pada tugas akhir ini.

Masih pada tabel 2.5, komponen pasut laut Sa, Ssa dan Mm tidak teralias. Hal ini dikarenakan periode komponen-komponen tersebut lebih panjang daripada periode nyquist dari periode pengambilan data oleh satelit TOPEX/Poseidon (2∆t = 19,8312 hari).

Pada satelit altimetri lain dengan periode pencuplikan data berbeda dari satelit TOPEX/Poseidon, nilai periode aliasingnya pun akan berbeda. Tabel 2.6 berikut ini adalah tabel frekuensi aliasing dari beberapa satelit dengan periode pencuplikan data yang berbeda.

Tabel 2.8 Periode pasut aliasing dari beberapa satelit altimetri [Smith,1999]

Komponen TOPEX/Poseidon (10 hari) ERS-1 (35hari) GEOSAT (17 hari)

M2 62 95 317 S2 59 ∞ 169 N2 50 97 52 K2 87 183 88 K1 173 365 175 O1 46 75 113 P1 89 365 4464 Q1 69 133 74 Mf 36 80 69 Mm 28 130 45 Ssa 183 183 183 Sa 365 365 365

Dari tabel 2.6, terlihat bahwa periode aliasing komponen S2 pada satelit ERS-1 tidak

terdefinisi. Hal ini terjadi karena satelit ERS-1 merupakan satelit yang mempunyai orbit sun-syncronous. Dengan orbit seperti ini, gelombang S2 yang teramati oleh ERS-1 akan selalu

Gambar

Tabel 2.1 Karakteristik orbit satelit TOPEX/Poseidon  Karakteristik Utama
Gambar 2.3 Geometri pengukuran satelit altimetri beserta koreksi-koreksi yang diperlukan
Gambar 2.7 Contoh hasil superposisi gelombang
Tabel 2.2 Komponen pasut periode panjang Komponen Pasut laut Periode Panjang  No.  Nama Komponen Periode (hari)
+6

Referensi

Dokumen terkait

Informasi utama yang didapatkan dari satelit altimetri adalah topografi muka laut, yang dilakukan dengan mengukur tinggi satelit di atas permukaan laut (a) dengan menggunakan

Nilai kenaikan muka air laut (SLR) lokal perairan Pulau Jawa dari multi satelit altimetri dapat dilihat pada.

Untuk mengeliminir bias tersebut dapat dilakukan dengan cara penggunaan model pasut laut yang salah satunya dapat diperoleh dari hasil penentuan pasut laut dengan memanfaatkan

c) Satelit altimetri merupakan satelit yang didesain oleh NASA dan CNES khusus untuk mempelajari dinamika lautan. Salah satu misi dari satelit ini adalah dengan diluncurkannya

Pada penelitian pengamatan satelit altimetri dengan data tahun 2008 nilai sea level rise di Laut Utara Jawa per tahunnya

Konsep dasar dalam pemodelan batimetri menggunakan data alti metri adalah dengan menghitung komponen anomali gaya berat yang dapat diturunkan dari data satelit

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa model gelombang WAVEWATCH-III memiliki kesamaan pola dengan data satelit altimetri AVISO pada daerah laut terbuka yang

Pada skripsi ini dicoba pemanfaatan data satelit altimetri Topex/ Poseidon untuk menentukan konstanta - konstanta pasut laut di wilayah perairan dalam tanpa dan dengan