• Tidak ada hasil yang ditemukan

J. K. B Jurnal Kependidikan Betara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "J. K. B Jurnal Kependidikan Betara"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

https://e-journal.sdn195pinangmerah.com/index.php/jkb

e-ISSN : 2722-0052 p-ISSN : 2722-029X

J . K . B

Jurnal Kependidikan Betara

Sitasi: Salma, I. A., & Khoiriyah, S. (2020). Analisis Hubungan Motivasi Belajar dengan Keterampilan Proses Sains Mahasiswa pada Pokok Bahasan Pembiasan Cahaya. Jurnal Kependidikan Betara, 1(3), 81-85.

Analisis Hubungan Motivasi Belajar dengan Keterampilan Proses Sains Mahasiswa pada Pokok Bahasan Pembiasan Cahaya

Imas Aulia Salma1,*, Saidatul Khoiriyah2

1Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Negeri Malang, Jl. Semarang No. 05, Malang, 65145, Indonesia

2Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya, Jl. Lidah Wetan, Surabaya, 60213, Indonesia

*E-mail: [email protected]

1. Pendahuluan

Fisika merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap rumit dan sulit, karena sifat kompleks dan abstraknya. Pembiasan cahaya sebagai contohnya, merupakan pokok bahasan yang membahas mengenai pembelokan cahaya ketika melewati dua medium yang berbeda indeks biasnya (Tipler &

Mosca, 2007). Sifat abstrak dan kompleks pada materi optik yang membuat kesulitan dalam memahaminya (Galili & Hazan, 2001). Dalam memahami peristiwa terjadinya pembiasan masih mengalami kebingungan (Kaewkhong et al., 2010). Agar dapat menganalisis cara kerja alat optik diperlukannya pemahaman tentang pembiasan yang tepat (Arianti et al., 2018). Sifat kompleks dan abstrak mengakibatkan kesulitan dalam memahami materi optik khususnya pada topik bahasan pembiasan. Pembelajaran fisika memerlukan adanya berbagai pendekatan, metode, dan model pembelajaran. Permasalahan pada proses pembelajaran fisika salah satunya adalah rendahnya kualitas pembelajaran yang menyebabkan keterampilan proses siswa masih rendah (Kusuma dkk, 2015).

Received April 2020 Revised Mei 2020

Accepted for Publication Mei 2020

Published Mei 2020

Abstract

This research is a correlational study. This study aims to show the relationship between learning motivation and students' science process skills which is focused on the topic of light refraction. The population of this research was State University of Malang Physics students with a sample of 50 State University of Malang Physics students class of 2018 determined by random sampling. This research instrument was in the form of multiple-choice questions of science process skills and student learning motivation questionnaires. The results of data analysis showed that there was a relationship between learning motivation and science process skills, with a correlation coefficient of 0.346 and a significance of 0.014

Keywords: Science process skills, correlation, learning motivation

Abstrak

Penilitian ini merupakan penelitian studi-korelasional. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan adanya hubungan antara motivasi belajar dengan keterampilan proses sains mahasiswa yang difokuskan pada topik bahasan pembiasan cahaya. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Fisika Universitas Negeri Malang dengan sampel 50 mahasiswa Fisika Universitas Negeri Malang angkatan 2018 yang ditentukan dengan random sampling.

Instrumen penelitian ini berupa soal pilihan ganda keterampilan proses sains dan angket motivasi belajar mahasiswa. Hasil analisis data yang diperoleh menunjukkan adanya hubungan antara motivasi belajar dan keterampilan proses sains, dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,346 dan signifikansi sebesar 0,014.

Kata Kunci: Keterampilan proses sains, korelasi, motivasi belajar.

(2)

82 Bidang sains khususnya fisika merupakan produk, proses, sekaligus sikap. Sains sebagai proses dapat diartikan sebagai keterampilan yang dimiliki agar dapat menghasilkan sebuah produk, dengan sikap ilmiah yang menyertainya. Keterampilan tersebut disebut dengan keterampilan proses sains.

Menurut (Rustaman et al., 2005) keterampilan proses sains adalah keterampilan yang dibutuhkan untuk memperoleh, menerapkan, dan mengembangkan konsep, hukum, teori, dan prinsip sains, baik berupa keterampilan mental, fisik, maupun sosial. Keterampilan proses sains termasuk dalam standar untuk mengamati, mengukur, bereksperimen, dan menafsirkan data (Hodosyova et al.,2015).

Keterampilan proses sains yang dimiliki seseorang dapat tinggi ketika seseorang tersebut mengusahakan adanya perubahan tingkah laku.

Dalam pelaksanaan keterampilan proses sains terdapat indikator-indikator yang perlu dipenuhi.

Menurut ( Rachmadhani, 2014) terdapat indikator-indikator keterampilan proses diantaranya adalah, mengamati, menafsirkan pengamatan, meramalkan, menggunakan alat dan bahan, menerapkan konsep, merencanakan penelitian, berkomunikasi, dan mengajukan pertanyaan. Dengan keterampilan proses sains dapat melatih kemampuan siswa untuk berpikir ilmiah, dapat meningkatkan keterampilan-keterampilan proses diperlukan dalam kegiatan ilmiah, serta dapat menanamkan dan mengembangkan sikap ilmiah (Astuti dkk, 2012). Menurut (Subekti & Ariswan, 2016) keterampilan proses sains perlu dipahami oleh guru karena merupakan suatu hal yang penting dalam pembelajaran sains.

Motivasi dapat dikatakan sebagai dorongan yang ada dalam diri seseorang guna mengusahakan perubahan tingkah laku (Gerungan, 2004). Menurut (Noor & Wilujeng, 2015) hakikat motivasi belajar adalah dorongan dari dalam maupun luar pada seseorang yang sedang belajar agar terjadi perubahan dengan indikator yang mendukung. Berdasarkan penelitian yang dilakukan motivasi belajar merupakan kecenderungan seseorang yang sedang dalam kegiatan belajar mengusahakan terjadinya perubahan prestasi dan hasil belajar yang diperolehnya.

Melihat adanya keterhubungan motivasi belajar dengan keterampilan proses sains dalam proses belajar mengajar, maka dibuatlah penelitian mengenai hubungan motivasi belajar terhadap keterampilan proses sains yang berfokus pada pokok bahasan pembiasan. Berkaitan dengan hal itu, maka peneliti menetapkan judul “Analisis Hubungan Motivasi Belajar dengan Keterampilan Proses Sains Mahasiswa pada Pokok Bahasan Pembiasan Cahaya”.

.

2. Metode Penelitian

Jenis dari penelitian ini adalah penelitian studi korelasional. Penelitian ini menggunakan metode penelitian diskriptif kualitatif-kuantitatif. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2019 tahun ajaran 2019/2020 di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa Fisika angkatan 2018 FMIPA UM. Dengan sampel sejumlah 50 responden yang diperoleh melalui teknik random sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik tes dan non tes, yaitu dengan pengisian instrumen berupa soal pilihan ganda keterampilan proses sains dan angket motivasi belajar. Instrumen tersebut digunakan untuk mengetahui korelasi antara motivasi belajar dengan keterampilan proses sains.

Validasi instrumen dilakukan oleh dua validator yaitu dua dosen Fisika UM.

Analisis data yang menggunakan SPSS guna mengetahui korelasi dan signifikansi antara motivasi belajar dengan keterampilan proses sains. Motivasi belajar dapat dikualifikasikan menjadi empat, yaitu sangat termotivasi, cukup termotivasi, kurang termotivasi, dan tidak termotivasi. Nilai presentasi motivasi belajar yang didapatkan dapat dikategorikan berdasarkan kriteria menurut (Arikunto, 2012) sebagai berikut:

Tabel 1. Kriteria Hasil Penilaian Motivasi Belajar

No Persentase Kategori

1. 80 ≤ X ≤ 100 Sangat Baik

2. 65 ≤ X ≤ 79,99 Baik

3. 55 ≤ X ≤ 64,99 Cukup

4. 40 ≤ X ≤ 54,99 Kurang

5. 0 ≤ X ≤ 39,99 Sangat Kurang

(3)

83 Penguasaan keterampilan proses sains dapat dikategorikan menjadi lima, yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah. Pengkategorian persentase keterampilan proses sains diadaptasi dari (Azwar, 2003) seperti berikut:

Tabel 2. Kategori Tingkat Penguasaan Keterampilan Proses Sains No. Presentase Rerata Skor (%) Kategori

1. 75,05 < X Sangat Tinggi

2. 58,35 < X ≤ 75,05 Tinggi

3. 41,65 < X ≤ 58,35 Sedang

4. 24,95 < X ≤ 41,65 Rendah

5. X ≤ 24,95 Sangat Rendah

3. Hasil dan Pembahasan

Hasil dari penelitian ini diperoleh melalui korelasi angket motivasi belajar terhadap soal pilihan ganda keterampilan proses sains yang diberikan pada sampel penelitian. Hasil penelitian ini berupa nilai korelasi dan signifikansi motivasi belajar terhadap keterampilan proses sains mahasiswa Fisika angkatan 2018 FMIPA UM. Dihasilkan data dari angket motivasi belajar berupa data kualitatif yang dianalisis secara diskriptif. Lembar angket motivasi belajar terdiri dari 20 aspek yang terdiri dari pernyataan positif dan pernyataan negatif.

0%

50%

100%

1 3 5 7 9 1113151719 Motivasi Belajar

Series 1

Gambar 1. Rata-rata tiap aspek motivasi belajar

Dari diagram yang dipaparkan di atas dapat terlihat bahwa motivasi belajar mahasiswa Fisika UM dikategorikan baik dengan nilai persentase sebesar 72%. Aspek keduabelas memperoleh nilai persentase terkecil dengan nilai sebesar 38%. Aspek keduabelas menunjukkan bahwa mahasiswa tidak terlalu khawatir apabila mendapatkan nilai ujian fisika yang jelek. Sedangkan pada aspek ketujuh dan kelimabelas merupakan aspek tertinggi dengan nilai persentase sebesar 84%. Aspek ketujuh menunjukkan bahwa rata-rata mahasiswa sering menganggap penting ketika mendapatkan nilai fisika yang bagus. Aspek kelimabelas menunjukkan bahwa rata-rata mahasiswa sering menganggap bahwa konsep fisika yang diperoleh lebih penting dari pada nilai yang didapatkan.

Hasil dari analisis soal pilihan ganda keterampilan proses berupa nilai presentase keterampilan proses sains setiap indikatornya. Terdapat lima indikator keterampilan proses sains yang dikembangkan yaitu, menerapkan konsep, mengklasifikasi, menginferensial, mengamati, dan mengkomunikasi. Berikut diagram hasil analisis soal pilihan ganda keterampilan proses sains yang telah diberikan pada 50 responden:

(4)

84 76%

54%42%

82%70%

0%

20%

40%

60%

80%

100%

Series 1

Gambar 2. Persentase rata-rata tiap indikator keterampilan proses sains

Berdasarkan diagram di atas dapat dilihat bahwa keterampilan proses sains yang dimiliki mahasiswa dikategorikan tinggi, dengan nilai persentase sebesar 65%. Indikator menginferensial merupakan indikator terendah dengan nilai persentase sebesar 42%. Rendahnya persentase yang diperoleh menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki keterampilan proses sains kategori sedang dalam mengaitkan sesuatu yang diamati dengan pengalaman sebelumnya. Sedangkan indikator mengamati merupakan indikator tertinggi dengan nilai persentase sebesar 82%. Tingginya persentase yang diperoleh menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kategori sangat tinggi dalam melakukan pengamatan dengan penglihatan, pengecapan, pembauan, pendengaran, dan perabaan.

Indikator menerapkan konsep dikategorikan sangat tinggi, dengan persentase sebesar 76%.

Menunjukkan bahwa mahasiswa mahir dalam menerapkan konsep yang telah diketahuinya. Indikator mengklasifikasikan dikategorikan sedang, dengan persentase sebesar 54%. Menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kemampuan sedang dalam mengelompokkan objek-objek menurut sifat-sifat tertentu. Indikator mengkomunikasikan dikategorikan tinggi, dengan persentase sebesar 70%.

Menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kemampuan tinggi dalam memaparkan sesuatu yang diketahui dengan tulisan, grafik, gambar, atau demonstrasi.

Gambar 3. Korelasi motivasi belajar dengan keterampilan proses sains dengan SPSS

Tabel tersebut menunjukkan korelasi yang telah dihitung menggunakan SPSS. Uji korelasi digunakan untuk menentukan hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya (Muhson, 2012).

Pada penelitian ini uji korelasi digunakan untuk menguji korelasi atau hubungan motivasi belajar dengan keterampilan proses sains mahasiswa. Berdasarkan tabel yang telah disajikan dapat diketahui bahwa angka koefisien korelasinya adalah 0,346 dengan signifikansi sebesar 0,014. Oleh karena nilai signifikansi kurang dari 0,05 maka dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan yang positif antara motivasi belajar dengan keterampilan proses sains.

Dari hasil penelitian yang telah dipaparkan menunjukkan adanya hubungan antara motivasi belajar dengan keterampilan proses sains. Hasil penelitian motivasi belajar menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kategori motivasi belajar yang baik. Hasil penelitian keterampilan proses sains menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kategori keterampilan proses sains yang tinggi.

Berdasarkan kedua hasil penelitian tersebut dapat dilihat bahwa ketika mahasiswa memiliki motivasi

(5)

85 belajar yang baik maka kemampuan keterampilan proses sains yang dimiliki juga tinggi. Hal itu semakin diperkuat dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,346 dan signifikansi sebesar 0,014, yang menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara motivasi belajar dengan keterampilan proses sains 4. Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan analisis data yang dilakukan didapatkan hasil nilai koefisien korelasi sebesar 0,346 dan signifikansi sebesar 0,014. Pada uji korelasi diperoleh signifikansi kurang dari 0,05 yang berarti bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dengan keterampilan proses sains.

Hasil penelitian keterampilan proses menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kategori keterampilan proses sains yang tinggi, ketika mahasiswa juga memiliki motivasi belajar yang baik.

Mahasiswa fisika diharapkan akan menjadi ahli fisika baik dalam bidang akademik maupun non akademik yang kompeten. Maka dari penelitian yang telah dilakukan, peneliti menyarankan agar mahasiswa terus meningkatkan motivasi belajar agar keterampilan proses sains yang dimilikinya juga semakin berkembang. Keterampilan proses sains sangat penting untuk terus ditingkatkan agar mahasiswa fisika yang berkarir di bidang akademik dapat menciptakan kualitas pembelajaran yang baik. Selain itu, keterampilan proses juga dapat menambah sikap ilmiah mahasiswa fisika.

Daftar Rujukan

Arianti, N., Yuliati, L., & Sunaryono, S. (2018). Eksplorasi model mental siswa pada materi pembiasan. Seminar Nasional Pendidikan IPA 2017, 2.

Arikunto, S. (2012). Dasar-dasar evaluasi pendidikan edisi 2. Jakarta: Bumi Aksara.

Astuti, R., Sunarno, W., & Sudarisman, S. (2012). Pembelajaran IPA dengan pendekatan keterampilan proses sains menggunakan metode eksperimen bebas termodifikasi dan eksperimen terbimbing ditinjau dari sikap ilmiah dan motivasi belajar siswa. Universitas Sebelas Maret, 51–59.

Azwar, S. (2003). Penyusunan Skala Psikologi Cet12. Yogyakarta: Pustaka Pelalajar.

Galili, I., & Hazan, A. (2001). The effect of a history-based course in optics on students’ views about science. Science & Education, 10(1–2), 7–32.

Gerungan, W. A. (2004). Psikologi sosial. Bandung: Refika Aditama.

Hodosyova, M., Útla, J., Vnukova, P., & Lapitkova, V. (2015). The development of science process skills in physics education. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 186, 982–989.

Kaewkhong, K., Mazzolini, A., Emarat, N., & Arayathanitkul, K. (2010). Thai high-school students’

misconceptions about and models of light refraction through a planar surface. Physics Education, 45(1), 97.

Kusuma, T. A., & Harijanto, A. (2015). Model Discovery Learning Disertai Teknik Probing Prompting Dalam Pembelajaran Fisika Di MA. Jurnal Pembelajaran Fisika, 3(4).

Muhson, A. (2012). Pelatihan Analisis Statistik dengan SPSS. Diktat Kuliah. UNY.

Noor, F. M., & Wilujeng, I. (2015). Pengembangan SSP fisika berbasis pendekatan CTL untuk meningkatkan keterampilan proses sains dan motivasi belajar. Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 1(1), 73–85.

Rachmadhani, P. H. (2014). Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Dan Keterampilan Proses Sains Siswa Kelas X-Mia 1 SMA Negeri 1 Gondang Tulungagung. Jurnal Pendidikan Fisika, 1(3), 1–8.

Rustaman, N., Dirdjosoemarto, S., Yudianto, S. A., Achmad, Y., Subekti, R., Rochintaniawati, D., &

Nurjhani, M. (2005). Strategi belajar mengajar biologi. Malang: UM press.

Subekti, Y., & Ariswan, A. (2016). Pembelajaran fisika dengan metode eksperimen untuk meningkatkan hasil belajar kognitif dan keterampilan proses sains. Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 2(2), 252–261.

Tipler, P. A., & Mosca, G. (2007). Physics for scientists and engineers. Macmillan.

Gambar

Tabel 1. Kriteria Hasil Penilaian Motivasi Belajar
Tabel 2. Kategori Tingkat Penguasaan Keterampilan Proses Sains  No.  Presentase Rerata Skor (%)  Kategori
Gambar 3. Korelasi motivasi belajar dengan keterampilan proses sains dengan SPSS

Referensi

Dokumen terkait

menyebabkan efek rumah kaca, sebagai penyebab terjadinya pemanasan global (Global Warming). Saat ini terdapat kurang lebih 450 TPA di kota besar dengan sistem

Mengingat variabel penjualan pribadi mempunyai pengaruh yang kecil dalam mempengaruhi motivasi berkunjung wisatawan, diharapkan manajemen Kediri Water Park lebih

PT PLN (Persero) UIW S2JB UP3 LAHAT adalah suatu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dalam bidang kelistrikan di Indonesia yang menyediakan tenaga listrik

tingkat kematangan yang diharapkan (Expected Maturity Level ) pada Sistem Informasi SIAKAD di Pusat Komputer IAIN Raden Intan Lampung bertujuan untuk mengetahui

Tes yang digunakan adalah tes pilihan ganda (tes objektif) yang diperluas (disertai alasan). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis

terhadap kegiatan ekstrakurikuler PA sebanyak enam puluh tiga, yang mempunyai pengetahuan terhadap kegiatan ekstrakurikuler Pendalaman Agama (PA) Islam sebanyak enam

Halaman login page merupakan tampilan awal yang akan dilihat oleh user yang belum melalui proses login (user masih dalam status guest). Apabila user ingin masuk ke dalam

Meskipun demikian, ketika matahari dan bulan berada pada sisi berlawanan dari bumi, kita masih memiliki arus pasang ekstra tinggi sebab kedua matahari dan