1
RENCANA STRATEGIS
LOKA RISET PERIKANAN TUNA 2020-2024
Loka Riset Perikanan Tuna Pusat Riset Perikanan
Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan
Kementerian Kelautan Dan Perikanan
2
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 merupakan tahapan keempat sekaligus periode terakhir dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 yang telah ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007, tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005- 2025. RPJPN menjadi sarana memantapkan pembangunan secara menyeluruh di berbagai bidang dengan menekankan pencapaian daya saing kompetitif perekonomian berlandaskan keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia (SDM) berkualitas, serta kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang terus meningkat.
Tujuan pembangunan kelautan dan perikanan (KP) jangka panjang pada periode pembangunan tahap ke 4 (2020-2024) adalah mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur melalui percepatan pembangunan di berbagai bidang dengan menekankan terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif di berbagai wilayah yang didukung oleh SDM berkualitas dan berdaya saing. Hal ini ditegaskan dalam misi ketujuh pembangunan nasional yaitu mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri, maju dengan basis kepentingan Nasional. Misi tersebut selaras dengan salah satu sasaran pokok RPJPN 2005-2025, yaitu “Terwujudnya Indonesia sebagai negara kepulauan yang mandiri, maju, kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional”.
RPJMN 2020-2024 akan mempengaruhi pencapaian target pembangunan dalam RPJPN, dimana pendapatan perkapita Indonesia akan mencapai tingkat kesejahteraan setara dengan negara-negara berpenghasilan menengah atas (upper-middle income country/MIC) yang memiliki kondisi infrastruktur, kualitas sumber daya manusia, layanan publik, serta kesejahteraan rakyat yang lebih baik.
Penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Loka Riset Perikanan Tuna tahun 2020-2024, mengacu pada Renstra Pusat Riset Perikanan , Renstra Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP) dan Renstra Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Visi KKP pada tahun 2020-2024 adalah mendukung visi presiden untuk mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian, berlandaskan gotong-royong.
Visi KKP menjadi penting dengan keberadaan Loka Riset Perikanan Tuna sebagai lembaga
pendukung untuk mencapai tujuan RPJMN tahap IV. Peran strategis keberadaan Loka Riset
3 Perikanan Tuna yaitu mendukung visi dan misi KKP melalui kegiatan riset dan inovasi ilmu pengetahuan da teknologi (IPTEK).
Peran strategis Loka Riset Perikanan Tuna meliputi: 1) merumuskan perencanaan pembangunan KP nasional melalui penyediaan hasil riset inovatif dan SDM kompeten; 2) menyelenggarakan riset dan pengembangan SDM yang mengikuti perkembangan era globalisasi dan ekonomi digital; 3) menghasilkan riset inovatif dan implementatif yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, serta; 4) melaksanakan riset sumber daya perikanan tuna dan sejenis (tuna like species) dan kegiatan lainnya yang sesuai keahlian dan kebutuhan serta tugas masing-masing jabatan fungsional berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Loka Riset Perikanan Tuna mempunyai fungsi sebagai Penyusunan rencana program dan anggaran, pemantauan, evaluasi dan laporan; Pelaksanaan kegiatan riset sumber daya perikanan tuna dan sejenisnya (tuna like species) di wilayah Republik Indonesia pada perairan Samudera Hindia yang meliputi aspek biologi, lingkungan, dinamika populasi dan eksploitasi;
Pelayanan teknis, jasa, informasi, komunikasi dan kerja sama riset; Pengelolaan prasarana dan sarana riset; dan Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga. Hasil riset yang inovatif menjadi faktor utama keberhasilan pengelolaan sumber daya KP secara berkelanjutan.
Dinamika lingkungan strategis pembangunan KP harus disikapi dengan mengoptimalkan kekuatan internal, serta mengubah tantangan yang dihadapi menjadi peluang.
Perkembangan IPTEK yang pesat di era revolusi industri 4.0 dan era sosial (society) 5.0 menuntut adanya perubahan tatanan kehidupan baru yang berpusat pada manusia (human–
centered) serta berbasis teknologi. Cyber–physical system (CPS) dalam Industri 4.0 merupakan integrasi antara physical system, komputasi dan juga network/komunikasi, sedangkan society 5.0 merupakan penyempurnaan dari CPS menjadi cyber–physical–
human systems. Pada era society 5.0 manusia tidak hanya dijadikan obyek (passive element), tetapi berperan aktif sebagai subyek (active player) yang bekerja bersama physical system dalam mencapai tujuan. Berdasarkan hal tersebut, interaksi antara mesin (physical system) dan manusia diperlukan untuk menjaga kesimbangan maupun keharmonisan. Situasi demikian akan memberikan peluang bagi Pusat Riset Perikanan untuk berinovasi dalam hal teknologi, struktur organisasi/kelembagaan, dan aturan/kebijakan.
Berdasarkan hal tersebut, Pusat Riset Perikanan melakukan penyusunan Renstra 2020-2024,
guna mendukung terwujudnya visi dan misi KKP serta sasaran pembangunan jangka
menengah 2020-2024 yaitu mewujudkan masyarakat sektor KP yang mandiri, maju, adil, dan
makmur melalui percepatan pembangunan di berbagai bidang dengan menekankan
terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif di
4 berbagai wilayah yang didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing.
B. Kondisi Umum
1. Capaian Riset Perikanan Tuna Tahun 2014 – 2019
Dalam rangka mewujudkan tujuan pembangunan KP dilaksanakan melalui proses yang bertahap, terencana, terpadu dan berkesinambungan. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 telah menetapkan salah satu misi yang terkait dengan KKP, yakni “Mewujudkan Indonesia menjadi Negara Kepulauan yang Mandiri, Maju, Kuat, dan Berbasiskan Kepentingan Nasional”, dengan menumbuhkan wawasan bahari bagi masyarakat dan pemerintah, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia yang berwawasan kelautan, mengelola wilayah laut nasional untuk mempertahankan kedaulatan dan meningkatkan kemakmuran, dan membangun ekonomi kelautan secara terpadu dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber kekayaan laut secara berkelanjutan.
Berdasarkan hal tersebut, Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) telah melaksanakan kegiatan di bidang riset, KP dengan hasil sebagai berikut:
1.1 Bidang Riset Perikanan
Jumlah hasil riset perikanan pada tahun 2014 sebanyak 2 buah, tahun 2015 2 buah.
Pada tahun 2016 meningkat menjadi 5 buah, pada tahun 2017 menurun menjadi 1 buah. Tahun 2018 -2019 meningkat kembali menjadi 2 buah.
Memperluas jejaring (network) dalam melaksanakan penelitian dari para peneliti
LRPT dengan mitranya baik di dalam dan di luar negeri akan menciptakan
pemanfaatan sumberdaya dan fasilitas bersama antar lembaga secara
berkesinambungan. Hal ini memberikan dampak positif, selain pengakuan terhadap
lembaga juga meningkatkan kemampuan penelitinya sendiri. Jumlah kerjasama
Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) dengan mitra dalam dan luar negeri serta
lembaga lainnya disajikan pada Tabel 1.
5 Tabel 1. Kerjasama Riset LRPT Tahun 2014 - 2019
Jenis Kerjasama 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Tingkat
internasional 1 1 1 1 2 0
Dengan swasta 1 1 2 2 2 0
Sumber : LRPT (2019)
Mempublikasikan hasil penelitian merupakan upaya untuk mendiseminasikan hasil-hasil penelitian Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) agar dapat lebih dikenal dan memberikan manfaat bagi banyak pihak. Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) mempublikasikan melalui Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia, Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap, Indonesian Fisheries Research Journal. Jurnal Internasional Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) menerbitkan melalui Multidisciplinary Digital Publishing Institute (MDPI), Ijres, TJFRAS. Selain itu, Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) juga menerbitkan jurnal yang di kelola oleh Universitas, seperti Omni-Aquatica, Ilmu Kelautan, Metamorfosa, JFMR. Jumlah Publikasi yang sudah dilakukan Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) sejak tahun 2017-2019 (Tabel 2).
Tabel 2. Publikasi LRPT Tahun 2017 - 2019
2017 2018 2019
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
2 3 1
Jurnal Kebijakan
Perikanan Indonesia - - -
Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap
2 - -
Indonesian Fisheries
Research Journal 3 - 1
MDPI - - -
Ijres - - -
TJFRAS - - 1
Omni-Aquatica - 1 -
Ilmu Kelautan 1 2 -
JFMR - - 2
Biodiversitas 1 - -
DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan
2 - -
Jurnal Iktiologi
Indonesia - 3 -
Berita Biologi-LIPI - 1 -
Marine Fisheries - 1 -
Jurnal Kelautan dan - 1 -
6 Perikanan Terapan
(JKPT)
The International Journal of Engineering and Science
- - 1
Sumber : LRPT (2019)
C. Potensi dan Permasalahan 1. Potensi
1.1 Organisasi
Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 16/PERMEN-KP/2017 tentang Organisasi dan Tata Kerja Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) adalah Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kelautan dan Perikanan di bidang riset sumber daya perikanan tuna dan sejenisnya (tuna like species), yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada kepala badan yang menangani riset kelautan dan perikanan serta pengembangan sumber daya manusia kelautan dan perikanan. Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 menyelenggarakan fungsi :
1. Penyusunan rencana program dan anggaran, pemantauan, evaluasi dan laporan;
2. Pelaksanaan kegiatan riset sumber daya perikanan tuna dan sejenisnya (tuna like species) di wilayah Republik Indonesia pada perairan Samudera Hindia yang meliputi aspek biologi, lingkungan, dinamika populasi dan eksploitasi;
3. Pelayanan teknis, jasa, informasi, komunikasi dan kerja sama riset;
4. Pengelolaan prasarana dan sarana riset; dan 5. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.
Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) dipimpin oleh Kepala Loka. Dalam menjalankan tugasnya, Kepala Loka dibantu oleh Kepala Urusan Tata Usaha, Kepala Subseksi Tata Operasional dan Kepala Subseksi Pelayanan Teknis. Adapun tugas dari masing-masing bagian tersebut antara lain:
1. Urusan Tata Usaha mempunyai tugas melakukan administrasi
kepegawaian, tata laksana, keuangan, persuratan, kearsipan,
rumah tangga, dan perlengkapan.
7 2. Subseksi Tata Operasional mempunyai tugas melakukan penyusunan rencana program dan anggaran, pemantauan, evaluasi, dan laporan.
3. Subseksi Pelayanan Teknis mempunyai tugas melakukan pelayanan teknis, jasa, informasi, komunikasi, diseminasi, publikasi, kerja sama, dan pengelolaan prasarana dan sarana riset perikanan tuna.
Untuk efektivitas pelaksanaan kegiatan riset, maka dibentuk kelompok penelitian sumber daya perikanan tuna yang dipimpin oleh ketua kelompok penelitian (Kakelti). Selain tenaga fungsional riset, Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) juga mempunyai jabatan fungsional nonpeneliti yaitu jabatan fungsional perencana. Struktur organisasi Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) disajikan dalam Gambar 1.
Gambar 1. Struktur Organisasi LRPT
1.2 Sumberdaya
a. Sumberdaya Manusia
Keberadaan SDM serta IPTEK memiliki peran strategis dalam mendukung pencapaian pembangunan kelautan dan perikanan secara keseluruhan.
Peranan strategis tersebut dilaksanakan melalui kegiatan riset perikanan.
8 Dalam mendukung kegiatan riset Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) pada saat ini memiliki pegawai sebanyak 48 orang pada tahun 2018, yang terdiri dari (PNS terdiri dari 8 (38)% sebagai pegawai fungsional dan sisanya (62%) adalah pegawai struktural, 27 tenaga pegawai pemerintah non pegawai negeri (PPNPN). Berdasarkan jenjang pendidikan, komposisi SDM PNS Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) terdiri atas 3 pegawai (14%) berpendidikan di bawah S1, 14 pegawai (67%) berpendidikan S1, 4 pegawai (19%) berpendidikan S2.
Jumlah peneliti Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) kurun waktu 2014–
2019 cenderung meningkat (Tabel 3) namun di tahun 2018 mengalami penurunan, dikarenakan adanya mutasi pegawai fungsional peneliti dan di Tahun 2019 meningkat menjadi 12.
Tabel 3. Perkembangan Tenaga Fungsional Peneliti LRPT Tahun 2014 – 2019
2014 2015 2016 2017 2018 2019
Peneliti 8 9 9 9 8 12
Sumber : LRPT (2018)
b. Sumberdaya Sarana-Prasarana
Aset Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) meliputi aset berwujud dan tidak berwujud. Aset berwujud terkait pelaksanaan fungsi riset maupun pengembangan SDM diantaranya sarana laboratorium untuk menghasilkan data dan informasi yang akurat tentang obyek riset dan pengembangan KP. Aset Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) tahun 2019, disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Aset LRPT Tahun 2019
No Uraian Kuantitas Jumlah (Rp)
1 Tanah 2.049 13.175.070.000
2 Peralatan dan mesin 933 11.212.871.159
3 Gedung dan bangunan 6 8.963.605.000
4 Jaringan 2 264.996.920
5 Aset tetap yang tidak digunakan 4 33.650.000
Jumlah 33.650.193.079
Sumber : LRPT (2018)
9 c. Anggaran
Penganggaran Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) sesuai Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003, tentang Keuangan Negara, menggunakan pendekatan penganggaran terpadu (unified budget), kerangka pengeluaran jangka menengah (medium term expenditure framework), dan penganggaran berbasis kinerja (performance-based budgeting). Anggaran Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) setelah terbentuk pada tahun 2017 yang bersumber dari APBN (Gambar 2), mengalami peningkatan sebesar 31.42% pada tahun 2018 (Rp. 3,166,530,000,-) dan mengalami penurunan sebesar 42.83% pada tahun 2019 (Rp. 3,022,164,000,-). Proporsi anggaran Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) tahun 2019 didominasi untuk belanja barang sebesar 61.14%, belanja pegawai sebesar 38.86%, dan belanja modal sebesar 0%. Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) setiap tahunnya mengalokasikan anggaran terbesar pada jenis belanja barang yang terdiri dari belanja operasional dan non operasional, sedangkan alokasi anggaran yang terkecil adalah belanja modal. Perkembangan anggaran LRPT per jenis belanja dalam 3 tahun terakhir disajikan pada Gambar 3.
Gambar 2. Perkembangan Anggaran LRPT 2015-2019 (Rp. Ribuan)
7.172.835
8.400.685
6.912.394
10.078.924
7.056.760
- 2.000.000 4.000.000 6.000.000 8.000.000 10.000.000 12.000.000
2015 2016 2017 2018 2019
Anggaran (Rp. Ribuan)
Tahun
10 Gambar 3. Perkembangan Anggaran LRPT 2017-2019 (Rp. Ribuan) per Jenis
Belanja
d. Bidang Riset
Dalam mendukung pembangunan kelautan dan perikanan, kegiatan riset didukung dengan keberadaan sarana dan prasarana riset. Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) mempunyai sarana dan prasarana riset yaitu memiliki 2 (dua) laboratorium yaitu laboratorium penguji dan laboratorium data. Laboratorium penguji merupakan laboratorium gabungan dari 3 (tiga) laboratorium yaitu Laboratorium Histologi, Otolith dan Genetik. Laboratorium penguji pada awalnya beroperasional untuk memenuhi keperluan internal. Pada perkembangan selanjutnya, berdasarkan SK Nomor: KEP-55/BRSDM-LRPT/KP.440/VII/2017 tentang Penetapan Standar Pelayanan Publik Laboratorium Penguji, kegiatan operasional Laboratorium diperluas menjadi laboratorium yang memberikan pelayanan jasa kepada pihak luar selain dari lingkup loka itu sendiri. Untuk mencapai standar mutu yang tinggi Laboratorium berusaha menjalankan kegiatannya sesuai dengan persyaratan-persyaratan yang ditetapkan dalam SNI ISO/IEC 17025:2008. Penggunaan Standar Nasional Indonesia ini diharapkan dapat memfasilitasi kerjasama antar laboratorium dan lembaga lainnya atau siapapun yang berkepentingan
- 2.000.000 4.000.000 6.000.000 8.000.000 10.000.000 12.000.000
2017 2018 2019
Anggaran (Rp. Ribuan)
Belanja Pegawai Belanja Barang Belanja Modal Total
11 dengan jasa pengujian laboratorium dan membantu pertukaran informasi dan pengalaman dalam bidang pelayanan jasa analisis laboratorium.
2. Permasalahan
Masalah dan tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan program riset perikanan tuna untuk mendukung pembangunan KP antara lain:
1) Menyediakan data dan informasi yang valid berbasis hasil penelitian dalam mendukung pengelolaan perikanan tuna dan sejenisnya di Samudera Hindia, serta pemenuhan asas kepatuhan dalam pengelolaan perikanan tuna di kawasan regional;
2) Meningkatkan kerjasama dengan institusi riset di lingkungan BRSDM KP, Lembaga Non Kementerian dan Perguruan Tinggi untuk memperluas pemanfaatan IPTEK bidang perikanan tuna dan sejenisnya, misalnya dalam rangka (i) penyediaan data komposisi ukuran tuna dan sejenisnya, (ii) observasi hasil tangkapan, upaya, dan daerah penangkapan, (iii) mengurangi hasil tangkapan sampingan (HTS), dan lain-lain;
3) Meningkatkan akses stakeholders terhadap informasi wilayah kondisi terkini stok perikanan tuna dan sejenisnya dalam berbagai level tingkat pemanfaatan.
D. Lingkungan Strategis
Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) mendapat mandat untuk melaksanakan program riset perikanan, di antaranya adalah melalui penyelenggaraan riset perikanan secara terpadu dengan tata kelola yang baik (good governance), dalam menjalankan mandat tersebut Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) harus menyusun rencana strategis. Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) harus memperhatikan perkembangan lingkungan strategis sehingga mempengaruhi pencapaian kinerja pembangunan sektor perikanan di Indonesia, khususnya yang didorong melalui peran riset.
Secara teoritis, lingkungan strategis ini dapat diartikan sebagai situasi
strategis baik internal maupun eksternal yang dapat mempengaruhi pencapaian
tujuan Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) tahun 2020-2024. Situasi strategis
12 bersumber dari faktor internal dan eksternal yang bersifat statis maupun dinamis yang tercakup dalam perspektif wilayah (sektoral, regional, nasional, dan global).
Situasi internal dan eksternal dalam lingkungan strategis yang dihadapi Pusat Riset Perikanan meliputi:
1. Faktor Strategis Lingkungan Eksternal a. Tingkat Global
Perkembangan era revolusi industri 4.0 dan Society 5.0 telah memicu digitalisasi dan otomatisasi di berbagai sektor dalam proses industri serta menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial melalui sistem yang sangat mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik; Kemampuan diplomasi sains dibutuhkan oleh SDM KP untuk mampu bersaing dalam pergaulan riset global; Kompetensi pada bidang teknologi informasi yang harus dimiliki SDM KP untuk menghadapi persaingan di era globalisasi dan ekonomi digital.
Perkembangan era globalisasi saat ini telah mengantarkan kita pada sebuah tatanan kehidupan dunia di mana tidak ada lagi batas nyata dalam tata kehidupan masyarakat yang ditopang oleh masifnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Dunia menjadi sangat terbuka, sehingga perlu diamati dengan seksama bahwa setiap perubahan yang terjadi dalam konteks kehidupan global saat ini memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan nasional, termasuk yang terjadi di sektor kelautan dan perikanan. Globalisasi, mengharuskan Indonesia membuka diri terhadap negara lain sehingga kerja sama antar negara dalam berbagai hal menjadi sesuatu kebutuhan, termasuk kerja sama dalam riset dan peningkatan kapasitas sumberdaya manusia di sektor kelautan dan perikanan.
Globalisasi dalam kerangka perdagangan internasional, mendorong semakin
meningkatnya arus lalu lintas dan menurunnya secara bertahap hambatan tarif
(tariff barrier) dalam perdagangan hasil perikanan antar negara. Keadaan ini
memicu masing-masing negara, termasuk negara mitra dagang seperti Uni Eropa,
China, Rusia, Canada, Korea, Vietnam dan Norwegia, semakin memperketat
persyaratan jaminan kesehatan, mutu dan keamanan hasil perikanan (health,
quality and safety assurance). Sebagai anggota World Trade Organization (WTO),
Indonesia berkewajiban melaksanakan “Agreement of The Application of Sanitary
and Phytosanitari Measure” yang memuat ketentuan penerapan peraturan-
peraturan teknis guna melindungi kesehatan manusia, hewan, ikan dan tumbuhan.
13 Konsep perjanjian Sanitary and Phytosanitary (SPS) merupakan instrumen pengendali perdagangan internasional berupa hambatan teknis (technical barrier to trade)/hambatan non tariff (non tariff barrier). Pengembangan sistem jaminan kesehatan, mutu dan keamanan hasil perikanan harus selaras dengan persyaratan dan ketentuan internasional sehingga mampu meningkatkan daya saing produk kelautan dan perikanan dalam era perdagangan global.
Lingkungan strategis eksternal di tingkat global yang berpengaruh terhadap kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan di Indonesia, adalah: United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982, United Nations Fish Stocks Agreement (UNFSA) 1995, FAO Compliance 1993, Port State Measures Agreement 2009, Indian Ocean Tuna Commission (IOTC), Commission for the Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT), Code of Conduct for Responsible Fisheries dan International Plan of Action, Millennium Development Goals, Sustainable Development Goals, The United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) pada tahun 1994, serta Western and Central Pacific Fisheries Commission (WCPFC). Selain itu, terdapat pula berbagai Pakta Internasional dan Regional, seperti World Trade Organization (WTO), Asia Pacific Economic Cooperation (APEC), dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Sebagai negara yang telah ikut mengadopsi hukum dan perjanjian internasional tersebut, maka Indonesia dituntut harus mampu memanfaatkannya demi menjamin keberlangsungan kepentingan nasional di bidang pembangunan perikanan, melalui pelaksanaan kegiatan riset.
b. Tingkat Regional
Dinamika perubahan kondisi ekonomi, sosial dan politik yang terjadi di dunia mempengaruhi kondisi lingkungan strategis di tingkat regional di beberapa negara termasuk Indonesia. Lingkungan startegis tersebut merupakan faktor eksternal, baik berupa peluang (opportunity) maupun ancaman (threats).
Kerjasama ekonomi dan perdagangan yang bersifat regional, baik antara Indonesia
dengan beberapa negara yang bersifat multilateral seperti ASEAN, APEC dan MEA,
maupun antar negara yang bersifat bilateral. Sedangkan lingkungan strategis di
tingkat regional yang berhubungan dengan aspek lingkungan hidup dan
sumberdaya kelautan dan perikanan, seperti Regional Fisheries Management
Organizations–RFMO, penanggulangan secara bersama menyangkut Global Illegal
14 Fishing, dan kerjasama Indonesia dengan berbagai negara di sektor kelautan dan perikanan.
Faktor strategis lingkungan eksternal di tingkat regional dapat menjadi peluang (opportunity) ataupun ancaman (threats) terhadap pembangunan sektor kelautan dan perikanan di Indonesia, seperti : (1) Permintaan hasil perikanan dunia; (2) Sumberdaya alam, praktek dan tingkat produksi perikanan dunia, (3) Globalisasi perekonomian, serta pasar bebas hasil perikanan regional dan dunia;
(4) Masyarakat Ekonomi ASEAN; (5) Kerja sama bilateral, regional dan multilateral, serta instrumen internasional (termasuk RFMO); (6) Praktek Illegal fishing global;
(7) Sumberdaya alam, praktik dan tingkat produksi dan pengelolaan perikanan dunia, pasok hasil perikanan dunia; dan (8) Kependudukan dunia.
c. Faktor Strategis Lingkungan Internal di Tingkat Nasional
Faktor strategis lingkungan internal di tingkat nasional dapat dilihat dari perspektif ketahanan nasional yang lebih difokuskan pada aspek: (a) Geografi; (b) Sumber kekayaan alam; dan (c) Ekonomi dengan uraian tiap aspek sebagai berikut :
- Geografi
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara kepulauan yang terdiri dari 17.504 pulau besar dan kecil terhampar pada wilayah nusantara.
Dalam Deklarasi Juanda pada tahun 1957, Indonesia memiliki wilayah laut sekitar 70 persen dari seluruh wilayah atau 5,83 juta km
2, dan seluas 2,03 juta km
2merupakan wilayah daratan. Kondisi geografis ini memerlukan suatu upaya untuk menjaga dan menyatukan wilayah nusantara dari seluruh komponen masyarakat untuk menjadikannya sebagai suatu kekuatan (strength), namun tetap menjaga dan mengatasinya sebagai suatu kelemahan (weakness), khususnya melalui pembangunan kelautan dan perikanan nasional.
- Sumber Kekayaan Alam
Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah, yang terkait
dengan sektor kelautan dan perikanan, meliputi: Potensi lestari sumber daya ikan
laut Indonesia diperkirakan sebesar 7,3 juta ton per tahun di perairan wilayah
Indonesia dan perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) dengan jumlah
tangkapan yang diperbolehkan (JTB) sebesar 5,8 juta ton per tahun atau sekitar 80
persen dari potensi lestari, dan baru dimanfaatkan sebesar 5,4 juta ton pada tahun
2013 atau baru 93% dari JTB, Potensi luas areal budidaya air tawar saat ini tercatat
15 2.830.540 Ha; Potensi di perairan umum daratan (sungai dan danau), dengan tingkat pemanfaatan 302.130 Ha (10,7%); Potensi luas areal budidaya air payau saat ini tercatat 2.964.331 Ha, dengan tingkat pemanfaatan 650.509 Ha (21,9%);
Potensi luas areal budidaya laut saat ini tercatat 12.123.383 Ha.
- Ekonomi
Gerakan ekonomi kerakyatan sesungguhnya dapat digunakan untuk mengakomodasi lini produktif masyarakat melalui optimalisasi sektor riil memerlukan sebuah mekanisme untuk mendorong kerja kolektif masyarakat sehingga dapat mendorong terjalinnya rasa kebersamaan yang akan meminimalisir ancaman konflik masyarakat. Koperasi merupakan gambaran dari ekonomi kerakyatan sebagai salah satu alat efektif untuk penanggulangan kemiskinan masyarakat. Koperasi dan ekonomi kerakyatan sudah selayaknya dijadikan sebagai pedoman kehidupan perekonomian nasional.
Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) serta dinamika globalisasi ekonomi, pemerintah menggulirkan paket-paket kebijakan ekonomi. Paket kebijakan ekonomi bertujuan untuk mengembangkan kondisi makro ekonomi, menggerakkan ekonomi nasional (sektor riil), dan melindungi masyarakat berpendapatan rendah dan jaminan sosial.
Paket kebijakan ekonomi difokuskan pada kebijakan deregulasi, penegakan hukum dan kepastian usaha untuk meningkatkan daya saing industry dan peningkatan ketahanan dan kekuatan ekonomi nasional.
Paket kebijakan ekonomi tersebut memiliki implikasi terhadap faktor lingkungan internal, baik berupa kekuatan (strength) maupun kelemahan (weakness) yang akan mempengaruhi tujuan pembangunan KP, diantaranya : (a) peningkatan pertumbuhan ekonomi; (b) peningkatan daya beli masyarakat; (c) peningkatan daya saing industri dan perluasan bisnis; dan (d) peningkatan ekspor produk.
2. Isu-Isu Strategis
Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) memiliki peran melaksanakan riset
sumber daya perikanan tuna dan sejenisnya (tuna like species) di wilayah Negara
Republik Indonesia pada perairan Samudera Hindia. Dalam merespon sejumlah isu
yang berkembang, keberadaan Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) berperan sangat
penting. Beberapa isu strategis yang memerlukan kontribusi dari hasil riset
16 perikanan tuna, yaitu :
(1) Penyediaan data dan informasi perikanan tuna dan sejenisnya di Samudera Hindia yang handal dan mudah diakses oleh stakeholders dalam pengambilan kebijakan pengelolaan SDI;
(2) Pemanfaatan SDI dengan memperhatikan kemampuan stok untuk pulih, ramah lingkungan, konektivitas SDI berdasarkan unit stok, kerentanan jenis-jenis tuna dengan meningkatkan pemahaman dan kepatuhan masyarakat secara partisipatif;
(3) Ragam Inovasi Riset di bidang perikanan tuna dan sejenisnya untuk
menghasilkan Teknologi Tepat Guna (TTG) dalam rangka mitigasi dan adaptasi
dampak perubahan iklim terhadap perikanan tuna dan sejenisnya.
17
BAB II. VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN STRATEGIS
2.1 Visi
Visi didasarkan pada visi Indonesia 2045 yaitu mewujudkan Indonesia sebagai negara yang berdaulat, adil dan makmur. Visi Presiden 2020-2024 adalah
“Terwujudnya Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian, berlandaskan Gotong Royong". Sebagai organisasi yang membantu Presiden untuk urusan kelautan dan perikanan, maka visi KKP 2020-2024 ditetapkan untuk mendukung terwujudnya Visi Presiden.
Visi KKP 2020-2024 adalah “Terwujudnya Masyarakat Kelautan dan Perikanan yang Sejahtera dan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan yang Berkelanjutan” untuk mewujudkan “Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian, berlandaskan Gotong Royong”.
Visi Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) sesuai dengan visi Pusat Riset Perikanan yang merupakan unit Eselon II diatasnya, adalah “Mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian, berlandaskan gotong-royong melalui riset dan inovasi iptek perikanan” merupakan penajaman dari visi BRSDMKP tahun 2020-2024 mendukung visi KKP untuk mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian, berlandaskan gotong-royong.
2.2 Misi
Misi Loka Riset Perikanan Tuna adalah turunan dari misi Presiden dan KKP dalam bidang riset kelautan dan perikanan. Dari 9 (sembilan) misi Presiden, Pusat Riset Perikanan mendukung 3 (tiga) misi yaitu:
1. Misi ke-2 yakni Struktur ekonomi yang produktif, mandiri, dan berdaya saing melalui peningkatan kontribusi riset dan inovasi iptek perikanan terhadap perekonomian masyarakat KP
2. Misi ke-4 yakni Mencapai lingkungan hidup yang berkelanjutan melalui peningkatan kelestarian sumber daya kelautan dan perikanan.
3. Misi ke-8 yakni Pengelolaan pemerintahan yang bersih, efektif, dan terpercaya
melalui peningkatan tata kelola pemerintahan di KKP.
18 Implementasi dari visi dan misi Presiden dilakukan secara bertanggung jawab berlandaskan gotong royong, sehingga saling memperkuat, memberi manfaat dan menghasilkan nilai tambah ekonomi, sosial dan budaya bagi kepentingan bersama.
2.3 Tujuan
Sebagai penjabaran dari Visi dan Misi Loka Riset Perikanan Tuna, maka tujuan yang ingin dicapai selama tahun 2020-2024 adalah sebagai berikut.
1. Meningkatkan pemanfaatan inovasi teknologi mendukung industrialisasi KP yang berdaya saing.
2. Menghasilkan dan mengembangkan riset perikanan dan inovasi mendukung pembangunan berkelanjutan.
3. Menyelenggarakan fungsi kelembagaan dan manajerial riset dan SDM sesuai tata kelola pemerintahan yang baik.
Tabel 5. Keterkaitan visi, misi dan tujuan dalam Renstra LRPT 2020-2024
Visi Misi Tujuan
“Mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan
berkepribadian, berlandaskan gotong- royong melalui riset dan inovasi iptek perikanan”
Misi 2.
Struktur Ekonomi Yang Produktif, Mandiri, dan Berdaya Saing
1. Meningkatkan pemanfaatan inovasi teknologi mendukung industriali -sasi KP yang berdaya saing.
Misi 4.
Mencapai Lingkungan Hidup Yang Berkelanjutan
2. Menghasilkan dan mengembangkan riset perikanan dan inovasi mendukung pembangunan berkelanjutan
Misi 8.
Pengelolaan Pemerintahan yang Bersih, Efektif, dan Terpercaya
3. Menyelenggarakan fungsi kelembagaan dan manajerial riset dan SDM sesuai tata kelola pemerintahan yang baik
2.4 Sasaran Strategis LRPT 2020-2024
Sasaran strategis pembangunan kelautan dan perikanan merupakan kondisi yang diinginkan dapat dicapai oleh KKP sebagai suatu outcome/impact dari beberapa program yang dilaksanakan. Sasaran Strategis KKP adalah sebagai berikut:
SS-1 Kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan meningkat
SS-2 Ekonomi sektor KP meningkat
19 SS-3 Sumber daya kelautan dan perikanan berkelanjutan
SS-4 Kapasitas dan kompetensi SDM KP meningkat SS-5 Hasil riset dan inovasi dimanfaatkan SS-6 Tatakelola SDKP bertanggung jawab SS-7 Industrialisasi KP berdaya saing
SS-8 Pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan Integratif SS-9 Tata kelola pemerintahan yang baik
Dengan memperhatikan misi KKP dan tujuan Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) tahun 2020-2024, maka sasaran strategis yang akan dicapai LRPT pada tahun 2020-2024 mengacu pada sasaran strategis KKP adalah sebagai berikut :
a. SS-5 Hasil riset dan inovasi dimanfaatkan b. SS-9 Tata kelola pemerintahan yang baik
Renstra Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) Tahun 2020 – 2024 menjelaskan bahwa sasaran strategis pembangunan perikanan melalui pelaksanaan program riset merupakan kondisi yang diinginkan dapat dicapai oleh Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) sebagai suatu outcome/impact dari program yang dilaksanakan, dengan menggunakan pendekatan metode Balanced Scorecard (BSC) yang dibagi dalam empat perspektif, yakni stakeholders prespective, customer perspective, internal process perspective, dan learning and growth perspective. Dalam penyusunannya, Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) menggunakan 2 (dua) perspektif, yaitu internal process perspective, dan learning and growth perspective, sebagai berikut:
Internal Process Perspective
Sasaran strategis pertama (SS-1) yang akan dicapai adalah Hasil Riset dan Inovasi Loka Riset Perikanan Tuna yang dimanfaatkan, dengan indikator kinerja:
• Jumlah Data dan Informasi Hasil Riset Loka Riset Perikanan Tuna yang digunakan sebagai bahan Penyusunan Kebijakan sebanyak 1 paket pada tahun 2020 sampai dengan tahun 2024.
• Jumlah Data dan / atau Informasi Hasil Riset Loka Riset Perikanan Tuna sebanyak 2 paket pada tahun 2020 sampai dengan tahun 2024.
• Jumlah Sarana dan Prasarana Loka Riset Perikanan Tuna yang ditingkatkan
kapasitasnya sebanyak 1 paket pada tahun 2020, 0 paket tahun 2021 dan 1
paket tahun 2022 sampai dengan tahun 2024.
20
• Jumlah Karya Tulis Ilmiah Loka Riset Perikanan Tuna yang dipublikasikan sebanyak 7 dokumen selama tahun 2020 sampai dengan tahun 2024
Learning and Growth Perspective (input)
Untuk melaksanakan pencapaian sasaran strategis sebagaimana tersebut di atas, dibutuhkan input yang dapat mendukung terlaksananya proses untuk menghasilkan output dan outcome Loka Riset Perikanan Tuna melalui Sasaran strategis ke-dua (SS- 2) “Tata Kelola Pemerintahan yang baik pada Loka Riset Perikanan Tuna” dengan indikator kinerja :
• Indeks Profesionalitas ASN Loka Riset Perikanan Tuna sebanyak 72 pada tahun 2020 menjadi 76 pada tahun 2024.
• Unit kerja yang menerapkan sistem manajemen pengetahuan yang terstandar Loka Riset Perikanan Tuna yang terstandar sebanyak 82 pada tahun 2020, 84 pada tahun 2021 sampai dengan tahun 2024.
• Nilai Kinerja Pelaksanaan Anggaran Loka Riset Perikanan Tuna dari Baik pada tahun 2020 Sangat Baik sebesar 88, pada tahun 2021 menjadi Sangat Baik sebesar 89 sampai dengan tahun 2024.
• Batas Tertinggi Presentase Temuan LHP BPK atas Laporan Keuangan (LK) Loka Riset Perikanan Tuna dibandingkan Realisasi Anggaran Loka Riset Perikanan Tuna TA. 2019 sebesar 1% setiap tahunnya dari 2020, dimana pada Tahun 2021 sampai 2024 Persentase Penyelesaian Temuan LHP BPK Loka Riset Perikanan Tuna sebesar 100.
• Nilai Kinerja Anggaran Loka Riset Perikanan Tuna dari 85 pada tahun 2020, tahun 2021 menjadi 86 sampai dengan tahun 2024.
• Nilai Rekonsilasi Kinerja Loka Riset Perikanan Tuna tidak ada pada Tahun 2020 dan ada pada Tahun 2021 dari 80 sampai dengan 2024.
• Persentase Layanan Dukungan Manajemen Internal Loka Riset Perikanan
Tuna tidak ada pada Tahun 2020 dan ada pada Tahun 2021 dari 100 sampai
dengan 2024.
21
BAB III. ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI, KERANGKA REGULASI DAN KERANGKA KELEMBAGAAN
3.1 Arah Kebijakan dan Strategi Nasional
UU Nomor 31 Tahun 2004 jo Nomor 45 tahun 2009 pasal 6 ayat (1) menyebutkan bahwa “pengelolaan perikanan bertujuan agar tercapainya manfaat secara optimal dan berkelanjutan serta terjaminnya kelestarian sumber daya ikan”.
Pencapaian tujuan pembangunan itu dilaksanakan dalam jangka panjang, jangka menengah, maupun tahunan dengan terencana. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 dijadikan pedoman penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) serta Rencana Kerja Tahunan (RKP).
Fokus RPJMN periode IV (2020-2024) dalam siklus RPJPN 2005-2025 adalah untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur melalui percepatan pembangunan di berbagai bidang. Pembangunan tersebut diprioritaskan untuk memperkuat struktur perekonomian berlandaskan keunggulan kompetitif di berbagai wilayah yang didukung oleh sumber daya manusia berkualitas serta berdaya saing.
RPJMN 2020-2024 telah mengarusutamakan Sustainable Development Goals (SDGs). Target-target dari 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) beserta indikatornya telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam 7 agenda pembangunan Indonesia ke depan yang diuraikan adalah sebagai berikut:
1.
Memperkuat Ketahanan Ekonomi untuk Pertumbuhan yang Berkualitas dan Berkeadilan. Peningkatan inovasi dan kualitas investasi merupakan modal utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, berkelanjutan dan mensejahterakan secara adil dan merata.
Pembangunanekonomi akan dipacu untuk tumbuh lebih tinggi, inklusif dan
berdaya saing melalui: 1) Pengelolaan sumber daya ekonomi yang mencakup
pemenuhan pangan dan pertanian serta pengelolaan kemaritiman, kelautan dan
perikanan, sumber daya air, sumber daya energi, serta kehutanan; dan 2)
Akselerasi peningkatan nilai tambah pertanian dan perikanan, kemaritiman,
energi, industri, pariwisata, serta ekonomi kreatif dan digital. Kegiatan kelautan
dan perikanan yang mendukung agenda memperkuat ekonomi, diantaranya
22 melalui program prioritas peningkatan pengelolaan kemaritiman dan kelautan, program prioritas peningkatan nilai tambah dan investasi di sektor riil dan program prioritas ketersediaan, akses, dan kualitas konsumsi pangan. Sasaran agenda memperkuat ekonomi yang terkait kelautan dan perikanan adalah sebagai berikut:
I. Peningkatan ketersedian akses dan kualitas konsumsi pangan dengan strategi (I) meningkatkan ketersediaan pangan hasil pertanian, perikanan dan pangan hasil laut terutama melalui peningkatan produktivitas dan teknik produksi secara berkelanjutan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga kebutuhan pokok; (II) meningkatkan produktivitas, kesejahteraan sumber daya manusia (SDM) pertanian, perikanan serta kepastian pasar. Dengan indikator yang terkait kelautan dan perikanan adalah indikator tingkat konsumsi ikan dengan target 62 (kg/perkapita/tahun) pada tahun 2024
II. Peningkatan pengelolaan kemaritiman, perikanan, dan kelautan dengan strategi yang dikembangkan (1) menjadikan Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) sebagai basis spasial dalam pembangunan perikanan berkelanjutan (sustainable fisheries), transformasi kelembagaan dan fungsi WPP, meningkatkan kualitas pengelolaan WPP, serta pengelolaan dan penataan ruang laut dan rencana zonasi pesisir; (2) mengelola ekosistem kelautan dan pemanfaatan jasa kelautan secara berkelanjutan;
(3) meningkatkan produksi, produktivitas, standardisasi, jaminan mutu dan keamanan produk kelautan dan perikanan; (4) meningkatkan fasilitasi usaha, pembiayaan, teknologi dan pasar; peningkatan kesejahteraan dan pemberdayaan nelayan terpadu; perlindungan usaha kelautan dan perikanan skala kecil; serta (5) meningkatkan kualitas dan kompetensi SDM, inovasi teknologi dan riset kemaritiman, kelautan dan perikanan serta penguatan database kelautan dan perikanan. Di samping itu, terus dilanjutkan upaya penguatan tata kelola dan implementasi kegiatan kemaritiman, serta memperkuat komitmen pelaksanaan target SDG 14 Ekosistem Lautan (Life Below Water).
Strategi pertama mencakup penguatan data stok sumber daya ikan dan
pengembangan kelembagaan WPP, pengelolaan perikanan di Perairan
23 Umum Daratan (PUD), penyelesaian rencana zonasi laut, serta pengendalian pemanfaatan ruang laut dan pulau-pulau kecil, termasuk penyelarasan RZWP3K dan RTRW Provinsi. Strategi kedua dilaksanakan melalui penguatan manajemen dan pemanfaatan kawasan konservasi perairan secara berkelanjutan, dan peningkatan pemanfaatan marine bioproduct dan bioteknologi. Strategi ketiga mencakup akselerasi produksi akuakultur, pengembangan klaster perikanan budidaya modern berkelanjutan, revitalisasi tambak udang dan bandeng, ekstensifikasi lahan budidaya; pengembangan sistem pembenihan dan induk unggul;
pengembangan armada perikanan tangkap yang berskala ekonomi dan berkelanjutan, eksplorasi perikanan di ZEE dan laut lepas, penguatan kerjasama usaha kecil dan besar perikanan, pengembangan pelabuhan perikanan berwawasan lingkungan (eco fishing port), pengembangan perikanan berbasis digital, ekstensifikasi dan intensifikasi lahan garam, peningkatan kualitas garam, pengembangan sentra kelautan dan perikanan, dan penguatan sistem karantina ikan. Strategi keempat mencakup kemudahan fasilitasi usaha dan investasi pemberian asuransi nelayan dan usaha pembudidaya ikan, sertifikasi tanah nelayan dan pembudidaya ikan, pengembangan pemukiman nelayan maju, pengembangan skema pembiayaan/bank mikro nelayan yang murah dan mudah diakses, penguatan kelembagaan nelayan, pengaturan akses nelayan terhadap pengelolaan sumber daya, penataan dan penyederhanaan perizinan usaha, dan investasi perikanan kelautan yang efisien dan didukung regulasi yang kondusif, serta peningkatan kepatuhan pelaku usaha kelautan dan perikanan. Strategi kelima mencakup pelatihan dan penyuluhan berbasis digital, penguatan pendidikan vokasi, penguatan literasi maritim, pengembangan kewirausahaan perikanan, pengembangan sertifikasi kompetensi, pengembangan angkatan kerja perikanan generasi milenial, pengembangan riset dan inovasi, diseminasi teknologi perikanan dan kelautan yang berkelanjutan dan produktif, pembentukan pusat unggulan riset kelautan dan kemaritiman, serta penguatan basis data kelautan dan perikanan.
Komoditas unggulan perikanan ditekankan pada tuna, cakalang, tongkol
(TCT), rajungan, udang, nila, lele/patin, bandeng dan rumput laut serta
24 komoditas bernilai ekonomis tinggi untuk dikembangkan sebagai komoditas untuk mendukung target ekspor dan ketahanan pangan. Selain itu terus ditingkatkan produksi garam untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Komoditas udang dikembangkan di Sumatera, NTB, Jawa, dan Sulawesi. Komoditas nila dikembangkan di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Komoditas rumput laut dikembangkan di Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Kalimantan. Selanjutnya, sentra garam dikembangkan di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Nusa Tenggara.
Terdapat 14 indikator yang terkait dengan kelautan dan perikanan adalah:
1.
Penjaminan akurasi pendataan stock sumber daya ikan dan pemanfaatan WPP dengan target 11 WPP pada tahun 2024
2.
Model percontohan penguatan tata kelaola WPP (14.2.1(b) dengan target 11 WPP pada tahun 2024
3.
Luas kawasan konservasi laut/perairan (14.5.1*) (juta ha) dengan target 26,9 pada tahun 2024
4.
Penyelesaian penataan ruang laut dan zonasi pesisir dengan target 102 RZ pada tahun 2024
5.
Produksi ikan (juta ton) dengan terget 20,4 (juta ton) pada tahun 2024
6.Proporsi tangkapan jenis ikan yang berada dalam batasan biologis yang
aman (14.4.1*) (%) ≤ 80% pada tahun 2024
7.
Produksi rumput laut (juta ton) dengan target 12,3 (juta ton) pada tahun 2024
8.
Produksi garam (juta ton) 3,4 (juta ton) pada tahun 2024
9.
Jumlah pendanaan pelaku usaha kelautan dan perikanan skala kecil (Rp.triliun) dengan target 4,2 triliun pada tahun 2024
10.
Jumlah hasil riset kemaritiman, kelautan dan perikanan yang diadopsi/diterapkan dengan target 15 hasil riset paada tahun 2024
11.
Kawasan klaster sentra produksi perikanan budidaya unggulan dengan target 50 klaster pada tahun 2024
12.
Nilai tukar nelayan dengan target 107 pada tahun 2024
25
13.Nilai tukar pembudidaya ikan dengan target 105 pada tahun 2024
14.
Persentase Kepatuhan (Compliance) Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan (%) dengan target 98 % pada tahun 2024
III. Peningkatan nilai tambah, lapangan kerja, investasi, ekspor dan daya saing perekonomian dengan strategi pengembangan industri pengolahan perikanan dan hasil laut, peningkatan nilai tambah juga dilaksanakan melalui perbaikan kualitas, kapasitas dan produktivitas industri pengolahan, hilirisasi industri rumput laut dan sumber daya alam laut bernilai tambah, penguatan daya saing Unit Pengolahan Ikan (UPI), penerapan standardisasi mutu, sertifikasi dan ketelusuran produk (traceability), penyediaan sarana dan prasarana sistem rantai dingin, penguatan sistem logistik ikan yang efisien, perluasan akses pasar dalam dan luar negeri, pembangunan fasilitas pemasaran perikanan berskala internasional, penguatan branding produk perikanan Indonesia, dan pengembangan sistem pemasaran produk perikanan berbasis digital.
Penerapan kemajuan teknologi, terutama industri 4.0 dalam lima tahun mendatang dilaksanakan secara bertahap pada lima subsektor yaitu makanan-minuman, tekstil dan pakaian jadi, otomotif, elektronik, dan kimia termasuk farmasi. Penerapannya diperluas untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas dan daya saing di sektor pertanian, perikanan dan kemaritiman, kehutanan, energi, pariwisata, ekonomi kreatif, transportasi, perdagangan, dan jasa keuangan. Terdapat 2 indikator yaitu Pertumbuhan PDB perikanan dengan target 8,7% pada tahun 2024 dan Ekspor hasil perikanan dengan terget 8,0 USD Milyar pada tahun 2024
2.
Agenda Mengembangkan Wilayah untuk Mengurangi Kesenjangan &
Menjamin Pemerataan. Pembangunan kewilayahan tahun 2020-2024
menekankan keterpaduan pembangunan dengan memperhatikan pendekatan
spasial yang didasarkan bukti data, informasi dan pengetahuan yang baik,
akurat dan lengkap, skenario pembangunan nasional, serta lokasi yang jelas
sesuai rencana tata ruang dan daya dukung lingkungan. Selain itu,
pembangunan kewilayahan juga mengutamakan pendekatan holistik dan
tematik yang didasarkan penanganan secara menyeluruh dan terfokus pada
prioritas pembangunan dan lokasi yang paling relevan sesuai dengan
26 pendekatan koridor pertumbuhan dan pemerataan. Pengembangan wilayah terkait kelautan dan perikanan dilakukan berdasarkan pengembangan komoditas unggulan diantaranya adalah pengembangan perikanan tangkap berbasis 11 Wilayah Pengembangan Perikanan (WPP), pengembangan 5 komoditas perikanan budidaya (nila, catfish, bandeng, rumput laut, dan udang).
Selain itu dikembangkan juga komoditas garam di Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, NTT dan Sulawesi tengah dan Sulawesi Selatan.
Untuk percepatan pengembangan wilayah berbasis kelautan dan perikanan dikembangkan 13 Sentra Kelautan dan Perikanan (SKPT) yang dikembangkan di pulau Sumatera, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, Maluku dan Papua.
3.
Agenda Meningkatkan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas dan Berdaya Saing. Manusia merupakan modal utama pembangunan nasional untuk menuju pembangunan yang inklusif dan merata di seluruh wilayah.
Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan kualitas dan daya saing SDM yaitu sumber daya manusia yang sehat dan cerdas, adaptif, inovatif, terampil, dan berkarakter, melalui penguatan pelaksanaan perlindungan sosial, Pengentasan kemiskinan, dan Peningkatan produktivitas dan daya saing. Terkait dengan pembangunan kelautan dan perikanan adalah pengembangan pendidikan dan pelatihan vokasi bidang kelautan dan perikanan dan pendampingan pelaku usaha KP melalui penyuluhan kelautan dan perikanan serta pengembangan inovasi teknologi riset KP dan upaya pemberdayaan/perlindungan masyarakat KP untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat KP melalui program-program yang dilakukan oleh direktorat teknis lingkup KKP
4.
Agenda Membangun Revolusi Mental dan Pembangunan Kebudayaan.
Pembangunan kebudayaan dan karakter bangsa memiliki kedudukan sentral
dalam kerangka pembangunan nasional untuk mewujudkan negara-bangsa
yang maju, modern, unggul, berdaya saing dan mampu berkompetisi dengan
bangsa-bangsa lain. Mentalitas disiplin, etos kemajuan, etika kerja, jujur, taat
hukum dan aturan, tekun, dan gigih adalah karakter dan sikap mental yang
membentuk nilai-nilai budaya di dalam masyarakat. Terkait dengan
pembangunan kelautan dan perikanan adalah Program Prioritas
Pengembangan budaya bahari dan sumber daya maritim, diantaranya adalah
27 Masyarakat hukum adat, tradisional dan lokal di Pesisir dan PPK yang diakui dan dikuatkan kelembagaannya.
5.
Agenda Memperkuat Infrastruktur untuk Mendukung Pengembangan Ekonomi & Pelayanan Dasar. Perkuatan infrastruktur ditujukan untuk mendukung aktivitas perekonomian serta mendorong pemerataan pembangunan nasional. Pemerintah Indonesia akan memastikan pembangunan infrastruktur akan didasarkan kebutuhan dan keunggulan wilayah. Terkait dengan pembanguan kelautan dan perikanan agenda infrastruktur akan mendukung pada pengembangan klaster keelautan dan perikanan, infrastruktur tambak-tambak perikanan dan pengembangan infrastruktur di sentra-sentra kelautan dan perikanan.
6.
Agenda Membangun Lingkungan Hidup, Meningkatkan Ketahanan Bencana dan Perubahan Iklim. Pembangunan nasional perlu memperhatikan daya dukung sumber daya alam dan daya tampung lingkungan hidup, kerentanan bencana, dan perubahan iklim. Pembangunan lingkungan hidup, serta peningkatan ketahanan bencana dan perubahan iklim akan diarahkan melalui kebijakan: 1) Peningkatan kualitas lingkungan hidup; 2) Peningkatan ketahanan bencana dan iklim; serta 3) Pembangunan rendah karbon.
7.
Agenda Memperkuat Stabilitas Polhukhankam dan Transformasi Pelayanan Publik. Negara wajib terus hadir dalam melindungi segenap bangsa, memberikan rasa aman serta pelayanan publik yang berkualitas pada seluruh warga negara dan menegakkan kedaulatan negara. Pemerintah akan terus berupaya meningkatkan tata kelola pemerintahan yang baik dan transparan yang dapat diakses oleh semua masyarakat melalui reformasi kelembagaan birokrasi untuk pelayanan publik berkualitas. Terkait dengan pembangunan kelautan dan perikanan, terdapat Program Prioritas “Menjaga Stabilitas Keamanan Nasional”, Kegiatan Prioritas “Penguatan Keamanan Laut”
dengan Proyek Prioritas Nasional “Pembangunan Pusat Informasi Maritim dan
Sistem Penginderaan (Sistem Pemantauan SDKP yang Operasional dan
Terintegrasi)”, “Pelaksanaan Operasi Keamanan Laut (operasi kapal pengawas,
operasional speedboat/RIB/rubberboat, kapal pengawas yang dibangun,
speedboat yang dibangun, armada pengawasan SDKP yang siap operasi,
28 bangunan/ pos pengawasan SDKP yang dibangun)”, dan “Pelaksanaan Operasi Udara (Operasi Pesawat Patroli Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan).
3.2 Arah Kebijakan dan Strategi Pembangunan Kelautan dan Perikanan
Arah dan kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan,adalah sebagai berikut :
1.
Memperbaiki komunikasi dengan nelayan, evaluasi kebijakan, penyederhanaan izin, pengembangan pelabuhan, penangkapan ikan sampai dengan ZEE dan laut lepas, peningkatan pendapatan melalui akses permodalan, perlindungan dan perbaikan hidup nelayan.
2.
Perikanan budidaya dioptimalkan dan diperkuat untuk penyerapan lapangan kerja, peningkatan protein dan nilai tambah melalui akses permodalan, dan perlindungan usaha budidaya.
3.
Membangkitkan industri kelautan dan perikanan melalui pemenuhan kebutuhan bahan baku industri, peningkatan kualitas mutu produk, penguatan sistem karantina ikan, peningkatan nilai tambah untuk peningkatan devisa.
4.
Pengelolaan wilayah laut, pesisir dan pulau – pulau kecil serta penguatan pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui koordinasi dengan instansi terkait
5.
Penguatan SDM dan inovasi riset kelautan dan perikanan
Kebijakan pokok pembangunan kelautan dan perikanan diarahkan untuk mewujudkan industrialisasi kelautan dan perikanan yang dapat menyerap lapangan pekerjaan dan meningkatkan devisa negara, dengan uraian sebagai berikut:
A. Membuka komunikasi dengan stakeholder untuk harmonisasi kebijakan berbasis data, informasi dan pengetahuan yang faktual
B. Pengelolaan SDKP yang berkelanjutan (optimalisasi perikanan budidaya dan perikanan tangkap)
• Mengelola Sumber Daya Perikanan Budidaya Yang Berkelanjutan
• Mengelola Sumber Daya Perikanan tangkap yang berkelanjutan
• Mengelola sumber daya pesisir, laut dan pulau-pulau kecil
C. Industrialisasi kelautan dan perikanan
29
• Meningkatkan mutu dan nilai tambah serta daya saing
• Peningkatan usaha dan investasi yang mendukung SKPT
• Peningkatan konsumsi ikan masyarakat, pemenuhan gizi protein untuk mengatasi stunting
D. Pengawasan Sumber daya kelautan dan perikanan
• Penguatan pengawasan SDKP
• Penguatan sistem karantina ikan E. Pengembangan SDM dan inovasi riset KP
• Peningkatan SDM yang unggul
• Peningkatan inovasi teknologi dan riset bidang kelautan dan perikanan
• Pemberdayaan dan perlindungan usaha F. Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik
3.3 Arah Kebijakan dan Strategi Loka Riset Perikanan Tuna
Arah kebijakan Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) 2020-2024 mengacu pada arah kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan nasional (RPJMN) dan arah kebijakan pembangunan KP yang ada. Upaya yang akan dilaksanakan untuk memenuhi hal tersebut diantaranya adalah:
1. Menyelenggarakan riset untuk menyelesaikan isu dan permasalahan.
2. Meningkatkan diseminasi hasil riset sesuai dengan upaya pengembangan industri kelautan dan perikanan.
3. Membangun hubungan melalui jaringan kemitraan dalam kerangka kerjasama riset.
4. Meningkatkan kompetensi ASN KP yang unggul dan berdaya saing global.
5. Memperkuat kelembagaan dan manajerial riset dan SDM.
3.3.1 Arah Kebijakan Riset KP
Arah riset Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) pada periode 2020-2024
diarahkan untuk menghasilkan inovasi riset yang mendukung pembangunan
perikanan berkelanjutan (Sustainable fisheries). Berdasarkan fokus program
tersebut, Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) menetapkan kebijakan alokasi
sumberdaya riset menurut fokus bidang dan kewilayahan (Tabel 6).
30 Tabel 6. Fokus Program LRPT
Kelompok
sumberdaya ikan Kewilayahan WPP