BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Indonesia terkenal dengan macam – macam budaya dan kesenian yang beragam mulai dari kesenian tari, pertunjukan, dan juga musik, selain itu ada pula kesenian lain yang terkenal di kanca dunia yaitu seni bela diri tradisional salah satu yang sudah populer pada masyarakat Indonesia yaitu pencak silat.
Pencak silat merupakan tradisi yang sudah mengakar bagi masyarakat Indonesia sehingga dalam pencak silat masing-masing wilayah memiliki aliran gerakan dan kekhasan seni tersendiri. Pencak silat juga memiliki ilmu kanuragan yang bisa digunakan untuk meningkatkan daya spiritual seperti fisik dan psikis pada manusia yang menjalaninya. Unsur fisik dalam pencak silat bisa dipraktikan dalam latihan seperti berlari, latihan pernapasan otot dan pembelaan diri dengan jurus masing-masing pencak silat. Unsur psikis bisa disamakan dengan penerapan ilmu magis dengan cara menghimpun kekuatan yang lebih besar dari alam serta menambah efektivitas gerakan yang mendapatkan kekebalan magis terhadap pukulan atau sabetan benda tajam.
Dengan olah fikir manusia pada masa itu akhirnya mampu menciptakan dan mengembangkan gerakan yang menirukan hewan – hewan yang ditemuinya seperti halnya harimau, singa, monyet, hingga binatang ular. Peran binatang sebagai sumber inspirasi dalam menciptakan gerakan pencak silat terhadap mitos-motos yang dipercayainya. Binatang yang memiliki fisik yang kuat dibandingkan manusia, menuntut manusia yang memiliki kelebihan akal fikir untuk mampu mencontoh perkelahian binatang-binatang ganas dan mengaplikasiakn kepada pencak silat (Maryono. 2000).
Pencak silat yang merupakan salah satu kebudayaan yang ada dalam tiap suku di Indonesia ini menjadikan salah satu panduan bertahan hidup pada tiap suku di Indonesia, pada masa kerajaan pencak silat menjadi salah satu cara untuk mempertahankan diri dan juga melawan pasukan dari kerajaan lainnya yang
menurut mereka mengancam diri dan raja mereka. Dalam perkembangannya yang awal mula pencak silat ini dilakukan dengan tangan kosong akhirnya dikembangkan dengan alat sedemikian rupa agar lebih efisien seperti parang, keris, perisai, dan juga tombak (Pratama dan Trilaksana, 2018).
Pada masa penjajahan, Indonesia yang masi lekat dengan adat istiadat dan cenderung tradisional menggunakan sumberdaya dan juga pengetahuan yang ada untuk merebut kemerdekaan penjajah. Salah satu pencak silat yang ikut andil dalam usaha memerdekakan Indonesia adalah Persaudaraan Setia Hati Teratai (PSHT), PSHT sendiri ada sejak tahun 1922 di Kabupaten Madiun pada tahun tersebut Indonesia masih dalam masa jajahan Belanda dan menjadi salah organisasi pencak silat yang aktif melawan dengan beladiri yang mereka pelajari hingga tahun 1942, sedangkan dalam masa penjajahan Jepang PSHT melakukan kerjasama dalam rangka melestarikan pencak silat hingga kemerdekaan tahun 1945 (Susanti, 2014).
Pencak silat merupakan ilmu bela diri asli dari nusantara serta merupakan salah satu jenis bela diri yang telah diakui oleh UNESCO. Bangsa melayu telah mengenal pencak silat sejak masa pra sejarah silam, sebelum menjadi kesenian seperti sekarang pencak silat juga digunakan untuk bertahan hidup menghadapi semua tantangan bagi manusia. Pencak silat juga halnya diciptakan dan dikembangkan guna untuk menghadapi alam yang keras, manusia harus hidup survive melawan berbagai macam binatang ganas karena saat itu perkembangan senjata mereka masih hanya berupa alat-alat sederhana (O’ong Maryono 2000).
Setelah kemerdekaan tepatnya tahun 1948 pada awalnya didirikanlah organisasi pencak silat untuk pertama kalinya dengan nama IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) di Solo, pada awalnya IPSI ini berada di bawah naungan PORI (Persatuan Olahraga Republik Indonesia) dengan kesepakatan dari para petinggi perguruan pencak silat dimana pada awal terbentuknya IPSI ini tak lepas dari peran 10 perguruan silat besar pada waktu itu (Pratama dan Trilaksana, 2018).
Dalam pendirian IPSI di tahun 1948 ini juga ada andil dari PSHT karena menjadi salah satu padepokan pencak silat yang tertua dan juga dikenal dengan
anggotanya yang banyak dan tersebar di hampir semua wilayah di Indonesia hingga saat ini, selain PSHT perguruan pencak silat lain yang menjadi penggagas berdirinya IPSI adalah perguruan Persaudaraan Setia Hati, Kelatnas Indonesia Perisai Diri, PSN Perisai Putih, Tapak Suci Putera Muhammadiyah, Phasadja Mataram, Perpi Harimurti, Persatuan Pencak Silat Indonesia, PPS Putera Betawi, KPS Nusantara (www.pb-ipsi.com diakses 16 Maret 2020).
Gambar 1.1 Logo Persaudaraan Setia Hati Terate
(Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Persaudaraan_Setia_Hati_Terate 12 April 2020)
Pencak silat kemudian berkembang dalam beberapa aliran yang memiliki suatu ciri khas tersendiri, diantara aliran pencak silat ada yang mengajarkan teknik penggunaan tenaga dalam. Berikut ini beberapa nama perguruan pencak silat yang sudah berdiri lama di indonesia, yaitu Perguruan Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Pencak Silat yang didirikan pada tahun 1922 oleh Ki Hajar Harjo Utomo di Pilangbango Madiun berbentuk organisasi dan lebih menitikberatkan pada persaudaraan. Perguruan Pencak Silat PSHT ini memiliki anggota yang tersebar di seluruh Nusantara dan luar Negeri. Pencak Silat Pagar Nusa (PN) didirikan pada tahun 1915 oleh Gus Maksum Jauhari di Pondok Pesantren Lirbayo Kediri, dahulu bernama GASMI. Perguruan Pencak
Silat Pagar Nusa (PN) merupakan perkumpulan pencak silat berbagai warna dari Nahdatul Ulama (yosef, 2020).
Perguruan Pencak Silat lainya yang sudah berdiri lama di Indonesia dan mempunyai eksistensi yaitu Perguruan Pencak Silat Gubug Ramaja (PPSGR) adalah Perguruan Pencak Silat perluasan Seni Bela Diri "Tabib Ketimuran Gubug" yang didirikan pada tahun 1935 oleh R. Koeshartoyo di Desa Ketanggi, Kabupaten Ngawi. Pencak Silat Cempaka Putih (PSCP) dahulu bernama Silat Mardi Anoraga Sakti, didirikan oleh Eyang Mursid, mendirikan Perguruan Pencak Silat Cempaka Putih (PSCM) di distrik Panekan, Kabupaten Magetan pada tahun 1964. Perguruan Silat Seni Bela Diri Kung Fu IKSPI (Ikatan Keluarga Silat Putera Indonesia), biasa dikenal dengan "Kera Sakti", didirikan pada tahun 1980 oleh Bapak R. Totong Kiemdarto di Desa Nambangan, Kota Madiun. Pencak Silat Boedi Oetomo (PSBO) didirikan oleh sekelompok pemuda anggota Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia yang didirikan pada tahun 1963 oleh Abdul Cholid Subolo dan Imam Mursid. HASDI (Himpunan Anggota Silat Dasar Indonesia) didirikan oleh Bapak RS. Hasdijatmiko pada tahun 1961 di Jember (Yosef, 2020).
Persaudaraan Pencak Silat Setia Hati Terate merupakan salah satu pencak silat yang berasal dari Desa Pilangbango Madiun yang didirikan oleh Hardjo Utomo pada tahun 1922. Pada awal merintisnya Perguruan Pencak Silat yang didirikan oleh Hardjo Utomo ini diberi nama Setia Hati Pencak Sports Club (SH PSC) pada tahun 1942 dan kemudian berganti nama lagi menjadi Setia Hati Terate. Setia Hati Terate yang semula berstatus Pencak Pencak Silat diubah menjadi organisasi persaudaraan dengan nama Persaudaraan Setia Hati Terate.
Organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate atau PSHT merupakan salah satu budaya pencak silat yang dimiliki bangsa Indonesia yang masih memegang nilai-nilai keluhurnya yang didirikan pada tahun 1922 berpusat di Madiun Jawa Timur. Organisasi ini muncul untuk ikut serta dalam mendidik manusia berbudi pekerti luhur tahu benar dan salah dan ikut serta melestarikan budaya asli Indonesia (http://blogsetiahatiterate.blogspot.com/2013/05/sejarah-berdirinya- persaudaraan-setia8.html).
Selain mengajari pencak silat, Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) memiliki ajaran yang lebih dikenal dengan sebutan ke-SH-an/ke- Setia Hati-an.
Jika diartikan dalam bahasa lain mengandung arti “ajaran mengenal diri”, yang demikian diajarkan dalam organisasi yang mencari jati diri bagi Warga (istilah untuk anggota PSHT yang sudah lolos serangkaian tes dan sudah diinisiasi dan terdaftar dalam organisasi pusat di Madiun) mempunyai tujuan utama dalam mendidik manusia yang mempunyai jiwa yang berbudi luhur tau benar dan salah.
Dalam Persaudaraan Setia Hati Terate, pentingnya persaudaraan memiliki prioritas tertinggi. Oleh karena itu, tujuan awal dari organisasi ini adalah untuk membangun hubungan antar manusia, khususnya para anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) agar menjadi saudara yang sebenarnya.
Namun tanpa menghilangkan nilai - nilai Pencak Silat, Pencak Silat merupakan olahraga yang memasukkan unsur seni bela diri guna menjaga kehormatan, keselamatan dan kebahagiaan kebenaran bagi setiap anggotanya. Yang diajarkan dalam organisasi Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate ini di istilahkan panca dasar, yaitu: 1. Persaudaraan 2. Olahraga 3. Seni 4. Beladiri 5. Ke-setia hati-an (ke SHan)/ kerohanian.
Dalam penelusuran peneliti di temukan beberapa studi maupun artikel terdahulu yang terkait tentang pembahasan yang akan ditulis peneliti tentang pencak silat dan juga PSHT, salah satu karya tentang pencak silat adalah jurnal yang ditulis oleh Rendra Yulio Pratama dan Agus Trilaksono pada tahun 2018 dengan judul (Perkembangan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Tahun 1948- 1973). Dalam jurnal tersebut penulis menjelaskan bahwa IPSI dibentuk sebagai sikap kesadaran dari dari berbagai organisasi pencak silat yang menyepakatinya, pada 18 Mei 1948 dengan tujuan untuk menyatukan dan demi kelangsungan akan aliran dari berbagai macam perguruan dan kesenian pencak silat yang ada di Indonesia. Adanya organisasi yang menaungi berbagai macam kesenian pencak silat di Indonesia ini memberikan dampak positif bagi kelangsungan salah satu budaya Indonesia ini sendiri dan juga turut serta mempopulerkan nama bangsa Indonesia melalui salah satu keseniannya, puncaknya pencak silat
ini mulai dikenal dunia adalah pada tahun 1953 sampai tahun 1961 pencak silat Indonesia mulai didemonstrasikan dengan tema mengangkat kebudayaan di beberapa negara seperti Cekoslowakia, Polandia, Uni Soviet, Hongaria dan Mesir tentunya juga dengan peran penting IPSI dan kementrian PP dan K (Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan). Pada tahun 1973 untuk pertama kalinya pencak silat menjadi salah satu cabang olahraga yang ditandingkan dalam acara resmi yaitu PON (Pekan Olahraga Nasional) VIII, meskipun pada waktu hanya sebagai pertandingan eksibisi dan demonstrasi karena belum adanya peraturan dan penilaian yang disepakati dalam pertandingan tersebut.
Adanya pencak silat di PON VIII menjadikan titik awal yang membuat semua insan pencak silat di Indonesia akhirnya merumuskan peraturan dan juga penilaian yang akan digunakan dalam sebuah pertandingan pencak silat, perumusan tersebut juga tidak lepas dari berbagai proses seperti revisi dan uji coba berkali – kali melalui pertandingan yang diselenggarakan oleh IPSI di berbagai eselon daerah.
Selain itu ada pula tulisan lain berupa skripsi dari Ari Afrizal Sandi pada tahun 2017 yang berjudul (Pencak Silat Sebagai Sistem (Studi Kasus Pencak Silat Pangean)). Dalam skripsinya Sandi menjelaskan bahwa pencak silat pangean adalah pencak silat yang berada di Belilas, Kecamatan Seberida, Kabupaten Indragiri Hulu, silat pangean merupakan kesenian yang menampilkan tarian yang didalamnya terdapat ilmu atau gerakan menikam, memopek, dan juga gerakan menggayung. Setiap orang yang bisa menguasai gerakan menikam, memopek, dan juga gerakan menggayung biasa dijuluki sebagai pendekar, dalam kesenian pencak silat Pangean kebanyakan anggota dan peminatnya adalah anak muda dengan syarat siap patah, siap buta, siap berhutang, dan pandai sekali.
Dalam karya skripsi ini penulis memberikan kesimpulan lima kesimpulan, pertama untuk masuk dalam pencak silat pangean ini harus mempunyai persiapan sebagai syarat antara lain memiliki ayam jantan satu ekor, beras segantang, kain putih, putik limau manis, pisau sebilah, dan cincin perak. Kedua, untuk mengikuti latihan peserta harus menggunakan peci dan juga kain samping, jika tidak membawa perlengkapan tersebut peserta hanya diperbolehkan
memperhatikan saja di balai latihan pencak silat. Ketiga, dalam pencak silat Pangean ini memiliki empat langkah dasar atau gerakan dasar yang digunakan untuk menyerang dan bertahan antara lain yaitu mendayung, melompat dan menikam. Keempat, dalam pencak silat Pangean ini memiliki struktur yang dipilih langsung oleh guru pencak silat Pangean yang strukturnya terdiri dari guru, wakil guru, penghulu laman, induk berempat, anak bungsu dan anak laman (murid pencak silat Pangean). Kelima, merupakan factor yang mempengaruhi orang ikut pencak silat pangean antara lain untuk membela diri atau mempertahankan diri dalam keadaan terancam, sebagai salah satu sarana memperkuat ketakwaan kepada Tuhan yang Maha Esa, dan kebanyakan anggota dari pencak silat Pangean ini dari ajakan anggota yang sudah lulus dan mengajak orang – orang terdekatnya.
Selain itu ada juga skripsi yang ditulis oleh Galang Putra Bangsa pada tahun 2018 yang berjudul (Konstruksi Sosial Kekerasan Pada Anggota Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate di Kabupaten Nganjuk). Dalam penelitiannya ini penulis melatar belakangi penelitian tentang konstruksi sosial kekerasan pada anggota PSHT ini dikarenakan banyaknya fenomena akan tindak kekerasan yang dilakukan oleh anggota pencak silat khususnya di Kabupaten Nganjuk, dari beberapa peristiwa kekerasan oleh anggota kelompok pencak silat ini tak cukup banyak juga keterlibatan anggota pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate atau PSHT. Adanya fenomena kekerasan tersebut dikarenakan ada tiga factor yang mempengarihunya, pertama internalisasi (dimana individu mengidentifikasikan diri dengan lingkungan atau lembaga – lembaga dan organisasi sosial di lingkungannya khususnya tempat individu tersebut menjadi bagian didalamnya), kedua obyektivasi (interaksi sosial dalam lingkungan intersubyektif yang dilembagakan atau mengalami proses instusionalisasi), ketiga eksternalisasi (merupakan penyesuaian diri dengan dunia sosiokultural sebagai produk manusia). Dalam studinya peneliti menjelaskan terjadinya peristiwa kekerasan ini dikarenakan adanya pemaknaan bahwa tindakan kekerasan menjadi salah satu media menyalurkan ilmu bela diri yang dipelajari dalam organisasinya. Melakukan kekerasan juga hal yang bisa di toleransi ketika
hal tersebut untuk kepentingan membela orang – orang terdekat yang terancam dan juga sebagai bentuk perlawanan diri kepada tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok lain.
Ada pula penelitian lain yang mengangkat tentang konflik dari perguruan pencak silat dari Agus Listiana pada tahun 2013 dengan judul (Dinamika Konflik Perguruan Silat Setia Hati), pada studi ini menggunakan analisa konflik Simon Fisher pada perguruan Setia Hati Terate dan Setia Hati Tunas Muda Winongo di Kabupaten Madiun. Dalam penelitian ini menemukan bahwa kedua perguruan pencak silat ini merupakan masih satu guru dan belajar di perguruan SETIA HATI yang di dirikan oleh Ki Ngabehi Soeryodiwiryo atau biasa dikenal dengan sebutan Eyang Soeryo. Setelah meninggalnya Eyang Soeryo maka perguruan SETIA HATI pecah menjadi dua yaitu Setia Hati Terate dan Setia Hati Tunas Muda Winongo dimana masing – masing perguruan ini saling mendaulat diri sebagai perguruan yang menerapkan ajaran murni SETIA HATI dari Eyang Soeryo. Saling klaim akan ajaran asli SETIA HATI ini menjadi awal dari timbulnya konflik dari kedua perguruan tersebut, tidak hanya pada pendirinya melainkan hingga anggota kedua perguruan silat ini yang mengakibatkan konflik hingga sekarang. Konflik yang mandarah daging hingga sekarang ini sering mengakibatkan bentrok besar antara kedua perguruan silat ini dan korban yang dirugikan sebenarnya adalah masyarakat yang tidak tahu – menahu, jenis konflik antara kedua perguruan ini merupakan konflik Horizontal atau konflik antar masyarakat. Sedangkan tipe konflik ini adalah konflik terbuka, hal tersebut ditunjukan dengan intensitas bentrok antar angota perguruan ini sangatlah tinggi.
Banyaknya studi terkait perguruan pencak silat inilah yang melatarbelakangi akan ketertarikan peneliti tentang perguruan pencak silat khususnya Persaudaraan Setia Hati Terate. Meskipun demikian, kebanyakan penelitian terkait perguruan pencak silat ini memfokuskan tentang konflik kekerasan yang ditimbulkan oleh perguruan pencak silat khususnya Persaudaraan Setia Hati Terate dan Setia Hati Tunas Muda Winongo, hal
tersebut juga yang akhirnya melatar belakangi penulis untuk melihat perguran pencak silat dari sudat pandang lain atau dari sisi lain secara mendalam.
Peneliti memfokuskan pada persaudaraan antar Warga dalam organisasi dalam pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate di Kabupaten Nganjuk.
Secara gambaran umum perguruan pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) yang menggabungkan antara seni bela diri dan olah batin, peneliti mencoba menggali lebih dalam tentang Persaudraan Setia Hati Terate (PSHT) yang bukan dari seni bela dirinya yang diteliti, melainkan dari sistem kekerabatan antar anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), dalam arti munculnya ikatan kekerabatan yang sangat erat dengan menjaga tingginya nilai identitas persaudaran, hal tersebut karena adanya suatu kesatuan yang membentuk suatu ikatan persaudaraan yang melahirkan rasa kesetiaan kepada Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) oleh para anggotanya dalam suatu inti untuk selalu tunduk dan mematuhi pepacuh atau larangan yang ada di Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Peneliti mencoba untuk masuk kedalam organisasi untuk mencari tahu tentang Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) tentang fungsi persaudaraan bagi Warga. Selain itu tidak lupa dalam studi tersebut, peneliti mencoba menggali apa arti dari fungsi persaudaraan bagi anggota dalam Persaudarraan Setia Hati Terate (PSHT).
1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, bahwa peneliti ingin mencari tahu apakah fungsi persaudaraan dalam Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate bagi para Warga. Dengan ini peneliti mencoba merumuskan kedalam bentuk apa fungsi persaudaraan dalam Pencak Silat Persudaraan Setia Hati Terate bagi Warga di Rayon Gandu, Ranting Bagor, Cabang Nganjuk?
1.3 Tujuan
Tujuan penelitian ini berdasarkan rumusan masalah di atas adalah untuk mendeskripsikan hal – hal berikut ini :
1. Mendeskripsikan fungsi persaudaraan Warga PSHT yang mengacu pada kebutuhan biologis meliputi jasmani, kekuatan fisik
2. Mendeskripsikan fungsi persaudaraan Warga PSHT yang mengacu pada kebutuhan instrumental, meliputi berinteraksi, bermoral, berkelompok dalam membangun kapasitas anggota
3. Mendeskripsikan fungsi persaudaraan Warga PSHT yang mengacu pada kebutuhan Berintegritas, meliputi nilai-nilai kerohanian
1.4 Manfaat penelitian
Diharapkan penelitian ini dapat memberikan sebuah manfaat berupa:
Manfaat Teoritis :
Penulis melalui penelitian ini berharap agar bisa memberi sumbangsi dan penelitian ini dapat menjadi salah satu acuan atau sumber referensi dalam dunia keilmuan dan akademik, khususnya dalam penelitian yang berkaitan dengan studi fungsional dan pencak silat sebagai salah satu fenomena sosial – budaya yang terus berkembang secara dinamis seiring berkembangnya peradaban.
Manfaat Praktis :
1. Hasil penelitian ini hendaknya menjadi tolak ukur dan memberikan informasi kepada masyarakat tentang fungsinya suatau komunitas Pencak Silat dan memberikan gambaran tentang masyarakat pada umumnya, masyarakat Nganjuk, dan elemen terkait bahwa komunitas PSHT tidak identik dengan kekerasan dan kebrutalan semata.
2. Dalam penelitian ini juga penulis berharap pada penelitian ini menjadi salah satu sarana untuk pengaplikasian ilmu yang dipelajari dan diperoleh selama menjadi mahasiswa baik didalam kelas secara teori maupun saat praktik kuliah lapangan agar bisa menggambarkan suatu fenomena budaya yang dianggap peneliti secara menarik dan upgrading pengetahuan bagi peneliti sebagai bekal untuk mengaplikasikan ilmu dalam masyarakat dan lingkungan peneliti kelak agar berguna.
1.5 Kerangka Teori 1.5.1 Persaudaraan
Persaudaraan merupakan satu ikatan yang biasa didapat melalui hubungan keluarga atau memiliki hubungan darah, dalam beberapa komunitas atau kelompok masyarakat sendiri konsep persaudaraan biasa digunakan sebagai penanda adanya hubungan yang istimewa atau lebih intim selayaknya keluarga.
Istilah persaudaraan atau saudara diartikan sebagai seseorang yang mempunyai hubungan dari faktor biologis atau keluarga yang sama, selain karena adanya hubungan darah istilah persaudaraan juga didevinisikan sebagi seseorang atau kelompok yang memiliki pengalaman dan tumbuh dalam lingkungan yang sama (Wilcox, 1997).
Persaudaraan juga dikenal dengan istilah fraternitas yang berasal dari bahasa latin frater yang berarti saudara yang merupakan perkumpulan pria yang terorganisir dalam satu lingkungan yang bersahabat dan bersaudara mempunyai dedikasi yang sama untuk membina anggota dalam bidang intlektual, fisik, dan juga sosial (https://id.wikipedia.org/wiki/Persaudaraan).
Konsep persaudaraan dalam organisasi ini sendiri tercatat sudah ada sejak zaman Yunani kuno dimana pada masa itu terdapat lembaga persaudaraan tepatnya pada abad pertengahan yang dikenal dengan konfranternitas yang didalamnya terdiri dari kaum awam yang berkoalisi dengan Gereja katolik.
Selain konfranternitas yang didasari akan kesamaan kepercayaan atau agama ada pula glide merupakan organisasi persaudaraan yang didalamnya terdiri dari pedagang atau tukang yang didasarkan akan motif ekonomi atau duniawi.
Menurut Tocqueville (1830) terdapat banyak identitas yang dimiliki dan juga tidak oleh franternitas tergantung oleh struktur dan tujuan dibentuknya, franternitas atau persaudaran juga mempunyai tingkat kerahasiaan atau eksklusifitas yang beragam dalam praktikya seperti bentuk inisiasi, kode sikap yang formal, tata cara ketertiban, dan juga jumlah properti riil dan juga keberagaman aset yang dimiliki.
Dalam organisasi bela diri Persaudaraan Setia Hati Terate bisa dikatakan organisasi yang mengangkat konsep persaudaraan karena dalam konsep persaudaraan mempunyai hubungan khusus seperti keluarga yang berada dalam satu lingkungan yang sama dan memiliki kedekatan rasa memiliki antar anggota satu dengan lainnya. Selain adanya kesamaan lingkungan yaitu dalam lingkungan Desa Gandu, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk. Dalam organisasi pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate setiap anggotanya juga memiliki kesamaan misi dan ketertarikan atau minat yang sama yaitu mendedikasikan diri untuk membina anggota dalam bidang intelektual, fisik, dan juga mental sesuai dengan visi dan misi dalam kelompok. Persaudaraan Setia Hati Terate juga mengedepankan perinsip persaudaraan agar rasa memiliki antar anggota satu dengan yang lainnya sangat erat.
1.5.2 Komunitas
Menurut Soerjono Soekanto (1990: 125-126), komunitas adalah suatu kelompok yang berkumpul karena memiliki kepentingan yang sama pada suatau wilayah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan. Ketika suatu kelompok hadir, pola interaksi antar anggota melalui diskusi sesuai dengan apa yang senantiasa dicintai dan menciptakan identitas yang mempersatukan kelompok. Komunitas merupakan suatu kelompok yang terbentuk melalui adanya ketertarikan bersama pada suatu bidang tertentu untuk mencapai tujuan bersama. Komunitas adalah kelompok yang dibentuk atas dasar kepentingan bersama pada suatu wilayah tertentu untuk mencapai tujuan bersaama. Komunitas tercipta melalui interaksi orang- orang dengan sejarah kepentingan di daerah tertentu yang dilakukan dalam kelompok.
Dalam tulisannya Soekanto (1990:124-125) mengatakan bahwa manusia memiliki dua kebutuhan yang tertanam sejak lahir atau keinginan yang harus terpenuhi diantaranya :
1. Sebuah hasrat untuk menyatu atau membaur dengan individu lainnya yang ada di sekitar mereka atau lingkungan mereka.
2. Sebuah hasrat untuk dapat menyatu atau membaur dengan alam sekitarnya.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut manusia akhirnya berusaha dengan cara membentuk sebuah komunitas atau kelompok sosial dimana didalamnya setiap individu memiliki peran masing – masing untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan alam dan juga sosial.
Untuk menciptakan sebuah komunitas atau kelompok sosial terdapat beberapa persyaratan yang perlu dimiliki oleh sebuah kelompok sosial agar memenuhi syarat sebagai sebuah kelompok sosial :
1. Adanya kesadaran dari setiap anggota kelompok bahwa mereka merupakan unsur dalam suatu kelompok itu sendir.
2. Adanya simbiosis atau hubungan timbal balik dalam masing – masing anggota kelompok tersebut.
3. Adanya faktor kesamaan yang mendasari antar setiap anggota kelompok. Faktor yang biasa mendasari dalam sebuah kelompok sosial seperti kesamaan nasib, kesamaan kepentingan, kesamaan tujuan, dan kesamaan ideology. Adapun faktor lainnya dalam faktor tersebut adalah adanya musuh bersama dimana dalam hal ini juga menjadikan faktor pengikat atau pemersatu dalam sebuah kelompok sosial.
4. Adanya struktur yang disepakati bersama, adanya sebuah pola perilaku kelompok, dan memiliki kaidah.
5. Adanya sebuah proses dan memiliki sebuah system.
Komunitas sendiri merupakan sebuah unsur dalam kelompok sosial yang berada dalam masyarakat, komunitas biasanya memiliki kesamaan ketertarikan dan juga lingkungan. Komunitas berasal dari bahasa latin communitas yang mempunyai arti “sama”, public, dibagi rata atau masal. Komunitas umumnya terdiri dari beberapa individu yang berbagi lingkungan yang memiliki kesamaan ketertarikan dan juga kesamaan habitat didalamnya.
Menurut Koentjaraningrat (1986: 161) Komunitas yang ada dalam masyarakat memiliki syarat mengikat untuk bersatu menjadi satu kesatuan sosial manusia, yaitu pusat orientasi, kesamaan karakteristik, interaksi timbal balik, prasarana untuk interaksi, keberlanjutan, aturan dan norma, identitas sosial, memiliki lokasi dan kesadaran wilayah yang tetap.
Adapun pendapat lain menurut Koentjaraningrat (1986:154), komunitas atau kelompok sosial juga diartikan sebagai kesatuan hidup manusia yang memiliki kesamaan tempat tinggal dalam wilayah tertentu yang melakukan interaksi secara berkesinambungan yang sesuai dengan adat atau nilai – nilai yang terikat oleh rasa identitas “community sentiment”.
Berdasarkan pengertian komunitas dari Soekanto dan Koentjaraningrat dalam sebuah komunitas ada beberapa persyaratan yang perlu dipenuhi untuk mengikat individu didalamnya agar menjadi satu kesatuan. Perguruan pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate Desa gandu merupakan sebuah komunitas yang menaungi individu – individu yang memiliki kesamaan ketertarikan akan ilmu bela diri dan juga kesamaan lingkungan. Dalam Persaudaraan Setia Hati Terate juga memiliki suatu tujuan, ideology, dan misi yang hendak diraih bersama. Individu yang tergabung dalam komunitas Persaudaraan Setia Hati Terate Desa gandu merupakan salah satu contoh bahwa manusia memiliki naluri untuk selalu hidup dengan berinteraksi dengan manusia lainnya.
1.5.3 Teori Fungsionalisme
Dalam penelitian ini, peneliti mencoba menganalisis fungsi komunitas Pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate dengan menggunakan teori Fungsionalisme Bronislaw. Dalam teori yang dikemukakan oleh Malisnowski, yang menjelaskan beberapa bentuk perilaku budaya yang dipraktekan oleh seseorang yang berguna dalam pemenuhan kebutuhan hidup bermasyarakat.
Bronislaw Malinowski lahir pada tahun 1884 dan meninggal pada tahun 1942. Ia memulai karirnya sebagai ahli matematika dan kemudian tertarik mempelajari antropologi selama 4 tahun di Inggris. Malinowski tinggal di Pulau Trobriand dengan penduduk setempat selama Perang Dunia I untuk mengamati
cara hidup di pulau asal Trobriand. Ketika Malinowski tinggal di pulau Trobriand, dia membuang dirinya dari orang-orang Eropa yang tinggal di sana dan belajar lebih banyak tentang bahasa asli orang-orang di sekitarnya dan cara hidup mereka. Ini merupakan upaya Malinowski untuk melihat perspektif masyarakat adat pulau Trobirand, dan upaya tersebut merupakan salah satu cara pendekatan penelitian lapangan melalui kegiatan partisipatif yang dapat disebut observasi partisipatif. Malinowski kemudian menerapkan teori fungsionalisme, yang mengasumsikan bahwa semua elemen budaya bermanfaat bagi masyarakat Pulau Trobriand (Ihromi 2017: 76).
Pendekatan fungsional yang digunakan Malinowski memiliki nilai praktis. Menurut Malinowski, teori fungsionalisme ini dapat memberikan pemahaman tentang kebiasaan masyarakat yang beragam. Pernyataan ini dijelaskan oleh Malinowski dan tertuang dalam buku Prinsip Antropologi Budaya yang diedit oleh Ihromi.
“Nilai praktis dari teori yang disebutkan di atas (teori fungsionalisme) adalah bahwa ia mengajari kita relatif berbagai kebiasaan dari berbagai; bagaimana adat istiadat saling bergantung, bagaimana mereka harus dikelola oleh penyiar religius, oleh tuan kolonial, dan oleh mereka yang secara ekonomi mengeksploitasi perdagangan dan tenaga kerja masyarakat dari masyarakat primitif” (Ihromi 2017: 77).
Menurut Malinowski, pada dasarnya seseorang memiliki kesamaan untuk memenuhi kebutuhan suatu masyarakat, yaitu kebutuhan biologis, integratif dan psikologis (Haviland 1999: 344). Jenis metode yang berbeda untuk memenuhi kebutuhan ini adalah kebudayaan. Menurut Malinowski, ada tiga tingkatan kebutuhan yang harus dikembangkan dalam suatu budaya :
1. Kebudayaan diciptakan dengan tujuan memenuhi kebutuhan biologis suatu masyarakat.
2. Kebudayaan diciptakan untuk memenuhi kebutuhan instrumental masyarakat. Kebutuhan instrumental merupakan aturan dalam bentuk hukum dan pendidikan.
3. Kebudayaan hadir karena kebutuhan manusia untuk berintegrasi. Hal ini bisa dicapai melalui agama dan kesenian.
Pernyataan Malinowski atas tiga hipotesis tentang kesamaan seseorang dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, yaitu biologis, instrumental, dan integratif, digunakan sebagai tolak ukur untuk menganalisis penelitian ini. Pertama, menunjukkan bahwa budaya yang diciptakan berperan sebagai kebutuhan biologis dan mengikuti pelatihan rutin pengurus dan anggota komunitas Pencak Silat PSHT. Kedua, banyak komunitas besar menggunakan aturan tertulis, seperti undang-undang, sebagai pedoman dalam komunitas. Namun dalam setiap komunitas terdapat aturan dalam lingkungan yang menunjukkan hal tersebut secara non verbal atau tidak dapat menggunakan aturan tertulis untuk menjaga kekerabatan komunitas Pencak Silat PSHT. Ketiga, dalam pergaulan besar, khususnya yang disebut komunitas, interaksi antar anggota biasanya dianggap penuh.
Dalam uraian diatas telah dikemukakan bahwa seseorang memiliki kesamaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan tiga kesamaan yaitu biologis, instrumental dan integratif. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa pendekatan teori fungsi Malinowski ini berguna untuk diterapkan dalam analisis suatu kebudayaan yang terdapat dalam masyarakat yang sesuai dengan masyarakatnya seperti komunitas Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate.
1.6 Metode Penelitian
Pada penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Menurut (Santoso 2005: 44) penelitian deskriptif memiliki tujuan untuk mendeskripsikan secara sistematis, dan akurat terhadap suatu lokasi tetentu mengenai berbagai sifat dan faktor yang terkait.
Peneliti berusaha menjelaskan secara detail tentang fungsi Persaudaraan dalam pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate yang berpengaruh bagi anggotanya. Metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif ini akan menjelaskan lokasi dan waktu penelitian, teknik pengumpulan data yang meliputi observasi, wawancara, tekni pengumpulan informan dan yang terakhir teknik analisis data.
1.6.1 Lokasi Penelitian
Penentuan lokasi penelitian yang ini dilakukan pada sebuah komunitas pencak silat Persaudaraan Setia hati Terate di Desa Gandu, kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk. Fokus pada pembahasan mengenai persaudaraan komunitas tersebut. Tempat yang akan digunakan sebagai tempat penelitian tentunya adalah tempat biasanya komunitas pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate ini berkumpul untuk melakukan kegiatan latihan di lapangan Desa Gandu Desa Gandu Kecamatan bagor kabupaten Nganjuk. Latihan tersebut biasanya di laksanakan pada hari Senin, rabu dan sabtu pada pukul 19.00 WIB.
1.6.2 Teknik Pengumpulan Data
Pada penelitian yang dilakukan ini peneliti menggunakan beberapa metode yang dapat menunjang suatu teknik dalam pengumpulan data. Dengan menggunakan beberapa teknik pengumpulan data yaitu obsevasi dan wawancara, diharapkan peneliti dapat memperoleh informasi terkait dengan permasalahan fungsi persaudaraan yang terdapat pada komunitas pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate. Berikut adalah pemaparan beberapa teknik yang akan dilakukan peneliti untuk memperoleh data secara detail :
1.6.2.1 Observasi
Pada penelitian yang dilakukan ini, peneliti menggunakan metode observasi untuk mengumpulkan data. Menurut Sugiyono, observasi merupakan metode pengamatan dan pencatatan secara sistematis mengenai gejala yang terdapat pada objek penelitian. Observasi yang dimaksud yakni observasi partisipasi dengan melakukan pengamatan sekaligus keterlibatan langsung peneliti terhadap seluruh kegiatan yang digunakan sebagai sumber data (2006:
310).
Dengan menggunakan metode observasi, peneliti dapat melakukan pengamatan secara langsung mengenai kondisi di lapangan tepatnya pada komunitas pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate. Dalam melakukan
penelitian, tersebut diharapkan peneliti dapat mengetahui pola perilaku, interaksi antara anggota satu dengan lainnya dengan melakukan pengamatan.
Selain dengan melakukan pengamatan, peneliti dibantu dengan menggunakan metode observasi partisipasi, yakni pengumpulan atau pencarian data melalui data yang terdapat dilapangan dan melakukan pengamatan secara langsung mengenai apa saja aktivitas yang dilakukan pada komunitas pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate serta mengikuti beberapa kegiatan. Dalam melakukan observasi penelitian ini, peneliti mencoba untuk turun langsung dilapangan dengan mengikuti kegiatan latihan rutin mereka yang dilakukan setiap tiga kali dalam seminggu di lapangan Desa Gandu Kecamatan Bagor kabupaten Nganjuk. Dalam penelitian ini penulis akan mengamati berbagai macam perilaku yang tampak dalam semua elemen yang terlibat ketika latihan dilakukan seperti mengamati mereka dalam berinteraksi dan lainnya.
1.6.2.2 Wawancara
Pada penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian dengan teknik wawancara agar peneliti dapat memperoleh data secara mendalam serta informasi secara mendetail mengenai fungsi komunitas pencak silat Persaudaraan Setia hati Terate. Menurut Lexy J. Moleong (2000: 135) wawancara merupakan percakapan antara dua pihak yakni pewawancara mengajukan berbagai pertanyaan sesuai permasalahan dan informan atau yang diwawancarai memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan dengan maksud yang tertentu.
Dalam teknik wawancara peneliti akan mengajukan berbagai pertanyaan yang berpedoman terkait dengan permasalahan agar dapat fokus dalam mengumpulkan data yang sesuai dengan permasalahan. Sebelumnya melakukan metode wawancara perlu bagi peneliti menyiapkan berbagai persiapan yang harus dilakukan yakni, pedoman wawancara, buku catatan lapangan atau dengan menggunakan alat perekam suara agar mempermudah dalam memperoleh jawaban dari informan. Dengan menggunakan teknik
wawancara peneliti dapat memperoleh informasi secara langsung dari informan baik pengurus atau para anggota yang bergabung dalam komunitas tersebut.
Selain pedoman wawancara adapun persiapan lain yang tidak kalah penting untuk mempermudah proses pencarian data adalah membangun trust (kepercayaan), trust sendiri diperoleh dengan cara pendekatan dan juga intensitas tertemu dengan responden dan elemen yang terlibat dalam objek penelitian. Dalam penelitian ini sendiri proses membangun trust dilakukan sejak lama sebelum akhirnya memutuskan objek penelitian karena lingkungan peneliti dan objek cukup dekat.
Untuk menghimpun data dalam penelitian ini peneliti menggunakan beberapa alat bantu seperti catatan lapangan dan juga alat perekam suara yang selanjutnya diperuntukan membuat transkip wawancara untuk menuliskan hasil wawancara, dalam penelitian ini peneliti menggunakan telepon selular untuk mencatat dan merekam setiap data yang diperoleh baik melalui wawancara maupun observasi dan fenomena yang nampak saat turun lapangan. Selain itu ada pula kamera khusus dan juga kamera telepon selular yang digunakan untuk mendapatkan dokumentasi berupa gambar sebagai lampiran penguat data.
Dalam setiap penelitian selalu ada masalah yang ditemukan saat proses pengumpulan data begitu halnya dengan penelitian ini, masalah yang paling sering ditemui peneliti saat tahap wawancara adalah menyamakan waktu dengan informan yang ditentukan mengingat kesibukan masing – masing informan diluar kegiatan PSHT dan juga ditambah adanya Pandemi Covid-19 yang menyebabkan adanya pembatasan kegiatan bertemu dalam masyarakat sesuai dengan peraturan Kabupaten Nganjuk dan juga Desa.
1.6.2.3 Dokumentasi
Dokumentasi dalam sebuah penelitian merupakan kegiatan penghimpunan data sekunder yang dilakukan dengan cara mengumpulkan peninggalan terkait dengan objek penelitian biasanya berupa arsip, buku, dan juga data statistic maupun pembukuan yang berkaitan dengan penelitian ini beserta dokumentasi pribadi yang dilakukan peneliti berupa foto saat kegiata
objek penelitian berlangsung yang dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan data langsung saat dialkukan penelitian (Sudaryono, 2016:90).
Dokumentasi yang diperlukan dalam penelitian ini sendiri sebagai data penunjang terkait dengan kegiatan yang dilakukan komunitas pencak silat Persaudaraan Setia hati Terate di Desa Gandu, kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk. Kegiatan yang ingin direkam dalam penelitian ini seperti kegiatan latihan rutin, dan juga kegiatan yang dilakukan diluar kegiatan latihan rutin baik yang bersifat formal maupun informal.
1.6.2.4 Teknik pemilihan informan
Dalam penelitian yang dilakukan ini terdapat berbagai kriteria dalam menentukan informan. Untuk menentukan seseorang yang dipilih menjadi informan peneliti menggunakan teknik pemilihan informan dari James P.
Spradley (1997: 62) yang dijelaskan dalam buku Metode Etnografi dengan lima kriteria untuk memilih informan diantaranya adanya enkulturasi, keterlibatan langsung, suasana budaya tidak dikenal, cukup waktu, dan non analitik.
Selain kepatuhan kepada metode terkait dengan kriteria informan seperti yang dijelaskan diatas adapun faktor lain yang mempengaruhi kedalaman dan kevalitan data yang akan digali kepada informan, adanya jarak dan status akan peneliti dan informan, peneliti dan objek, peneliti dan yang diteliti biasa membuat jarak yang bisa menjadikan data yang diperlukan kurang mendalam. Oleh karena itu dalam penelitian ini untuk mengantisipasi adanya jarak yang berimbas kepada temuan data peneliti sebelum melakukan penelitian dan proses penghimpunan melakukan pendekatan personal untuk membangun trust kepada informan dan juga mengenal karakter dari masing – masing informan sehingga saat prosesi wawancara tidak ditemukan adanya kecanggungan dan keraguan dari informan dalam menjawab pertanyaan yang akan diberikan peneliti dan peneliti tahu bagai mana caranya agar informan
tetap tertara dan memberikan data sedalam dan sevalit mungkin tidak berlebih maupun dikurangi saat wawancara berlangsung.
Dalam penelitian ini untuk menentukan informan peneliti melakukan observasi terlebih dahulu untuk melihat anggota atau warga dari Persaudaraan Setia Hati Terate yang dirasa paham dan juga aktif dalam setiap kegiatan yang dilakukan, dalam kegiatan Persaudaraan Setia Hati Terate ini peneliti melakukan observasi saat latihan dan juga saat ada kegiatan yang dilakukan PSHT Desa Gandu dalam rangka menentukan informan yang dinilai mampu menjawab pertanyaan dalam penelitian ini. Dalam menentukan informan peneliti melakukan pemilihan juga melalui pertimbangan dan jejak pendapat dengan warga PSHT di Desa Gandu untuk menemukan anggota yang mumpuni dan bisa diajak kerjasama sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan peneliti. Proses penentuan informan terbilang cukup lama meskipun peneliti juga merupakan anggota atau bagian dari warga PSHT Desa Gandu ada banyak pertimbangan yang akhirnya diputuskan untuk mewawancarai informan yang dipilih dan dirasa mewakili setiap unsur dalam organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate Desa Gandu.
Dalam penelitian ini yang mengangkat tentang komunitas pencak silat Persaudaraan Setia hati Terate di Desa Gandu, kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk ini peneliti menentukan beberapa aktor yang dianggap kompeten dan paham akan permasalahan penelitian yang diangkat. Berikut ini merupakan beberapa anggota dari PSHT yang dipilih peneliti untuk menyelesaikan masalah penelitian yang diangkat dan dianggap paham sesuai dengan bidang dan kapasitas mereka masing – masing, diantaranya adalah :
1. Bapak Sutrisno 62 tahun merupakan salah satu sesepuh tingkat II perguruan PSHT di Desa Gandu yang sehari – hari juga merupakan pendidik di sekolah tingkat menengah (SMP) di SMP 1 Berbek Nganjuk.
Bapak Sutrisno merupakan salah satu actor yang terlibat langsung dalam kegiatan yang dilakukan objek penelitian yaitu komunitas pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate di Desa Gandu, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk dan diharapkan melalui Pak Sutrisno mendapat data
khususnya sejarah karena beliau sudah cukup lama dalam lingkungan Persaudaraan Setia Hati Terate.
2. Periadi 40 tahun merupakan penanggung jawab komunitas pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate di Desa Gandu, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk dan juga sehari – hari merupakan perangkat desa, dari informan tersebut peneliti berharap bisa mendapatkan internal komunitas yang menjadi objek penelitian dan juga eksternal karena sebagai penanggung jawab dan juga berhubungan langsung dengan pemerintahan desa agar terdapat keberagaman dalam data yang diperoleh melalui proses wawancara.
3. Agus 30 tahun merupakan pelatih pada komunitas pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate di Desa Gandu, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk Sehari – hari agus berprofesi sebagai karyawan swasta. Informasi yang ingin didapatkan peneliti terkait kegiatan inti dalam objek penelitian ini yaitu latihan rutin beserta fenomena yang terjadi didalamnya beserta elemen yang terlibat langsung dalam kegiatan pelatihan ini.
4. Eko 18 tahun merupakan salah satu siswa di komunitas pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate di Desa Gandu, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk, sehari – hari eko merupakan pelajar SMA, dari informan ini peneliti berharap bisa menemukan motivasi apa yang dimiliki Eko untuk menjadi warga PSHT dan juga apakah yang hendak dilakukan ketika sudah lulus dan menjadi warga.
5. Wawan 28 tahun merupakan salah satu warga dalam komunitas pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate di Desa Gandu, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk. Sehari – hari Wawan merupakan Guru Olahraga di Sekolah Dasar di Desa Gandu yang diharapkan peneliti dari informan ini dapat diperoleh informasi tentang fungsi persaudaraan dalam PSHT.
6. Rega 31 tahun juga merupakan salah satu warga dalam komunitas pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate di Desa Gandu, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk. Keseharian informan ini merupakan karyawan swasta
dalam salah satu industri di Kabupaten Nganjuk. Pada informan ini selaku warga peneliti ingin memperoleh data terkait fungsi persaudaraan PSHT menurut warga.
Dalam proses wawancara untuk memperoleh data terkait penelitian ini dilakukan secara terpisah dan dengan waktu seluang mungkin yang dimiliki informan, hal tersebut dilakukan peneliti dengan harapan data yang diperoleh murni informasi individu bukan dari orang lain dan tanpa adanya intervensi pihak lain dan juga keterbatasan waktu agar lebih leluasa.
1.6.2.5 Teknik Analisis Data
Studi Antropologi tidak lepas dengan menggunakan penelitian kualitatif, pada penelitian ini peneliti memilih menggunakan penelitian kualitatif.
Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2000: 3) penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata terlulis dari seseorang dan proses pengamatan.
Menurut Sudarto (1997: 66) analisis data merupakan cara untuk mendeskripsikan data yang berasal dari observasi dan wawancara dengan menjelaskan kenyataan yang terdapat di lapangan.
Menurut Miles dan Huberman (dalam Husaini dan Purnomo 2009: 85-89), terdapat tiga alur kegiatan untuk analisis data, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
1. Reduksi data adalah proses yang dilakukan dari pengumpulan data kemudian proses pemilihan data dari catatan lapangan.
2. Penyajian data adalah menyajikan deskripsi dari kumpulan informasi seperti data catatan lapangan yang disusun kemudian melakukan hipotesis atau penarikan kesimpulan. Penyajian data kualitatif memberikan sajian dalam bentuk teks dengan menggabungkan informasi yang tersusun menjadi bentuk yang teratur dan mudah dipahami.
3. Penarikan kesimpulan adalah kegiatan akhir dari penelitian kualitatif untuk melakukan penilaian terhadap hasil penelitian di lapangan.
Data yang telah diperoleh dari hasil observasi, observasi partisipan dan wawancara dianalisis untuk mengambil kesimpulan yang terkait dengan permasalahan fungsi tersebut. Berdasarkan observasi awal dan wawancara di lingkungan objek penelitian akhirnya peneliti memutuskan menggunakan analisa kualitatif.