• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengenalan Bahan Makanan. Ternak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pengenalan Bahan Makanan. Ternak"

Copied!
108
0
0

Teks penuh

(1)

Pengenalan Bahan Makanan

Ternak

(2)
(3)

Pengenalan Bahan Makanan

Ternak

Dr. Ir. M. Ridla, M. Agr

Penerbit IPB Press

Kampus IPB Taman Kencana, Kota Bogor - Indonesia

C.1/11.2014

(4)

Judul Buku:

Pengenalan Bahan Makanan Ternak Penulis:

Dr. Ir. M. Ridla, M. Agr Editor:

Nia Januarini Desain Sampul & Penata Isi:

Ardhya Pratama Korektor:

Jumlah Halaman:

000 + 00 halaman romawi Edisi/Cetakan:

Cetakan 1, Oktober 2014

PT Penerbit IPB Press Kampus IPB Taman Kencana

Jl. Taman Kencana No. 3, Bogor 16128

Telp. 0251 - 8355 158 E-mail: [email protected] ISBN: 978-979-493-000-0

Dicetak oleh Percetakan IPB, Bogor - Indonesia Isi di Luar Tanggung Jawab Percetakan

© 2014, HAK CIPTA DILINDUNGI OLEH UNDANG-UNDANG

Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh

isi buku tanpa izin tertulis dari penerbit

(5)

BAB I PENDAHULUAN

Ada banyak cara yang digunakan untuk menentukan kualitas bahan makan ternak. Secara garis besar, penentuan kualitas dapat dilakukan secara fisik, kimia, dan biologis. Seorang ahli kimia dalam menentukan kualitas bahan makanan ternak akan mempertimbangkan kualitas pakan dari segi kandungan protein, lemak, atau kandungan zat makanan lainnya.

Lain halnya dengan ahli nutrisi, mereka selanjutnya akan memikirkan juga kualitas makanan berdasarkan biologis seperti kecernaaannya dan nilai biologis lainnya. Lebih luas lagi di industri makanan ternak, manajer industri pakan akan memikirkan hal lain seperti daya tahan bila dalam bentuk pelet dan stabilitas air disimpan, sedangkan manajer peternakan lebih banyak mempertimbangkan pengaruhnya terhadap produksi dan pertumbuhan ternaknya.

Umumnya dalam penentuan bahan makanan ternak secara kimia masih menggunakan metode analisis proksimat (Weende) yang telah dikembangkan mulai 100 tahun lalu. Metode ini tetap merupakan dasar penentuan kualitas yang banyak digunakan di dunia peternakan.

Bahan makanan dibagi dalam 6 fraksi, terdiri atas kadar air, abu, protein kasar, lemak kasar, serat kasar, dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (Beta-N). Walaupun perkembangan teknologi dalam analisis kimia sudah sedemikian maju, tetapi analisis tersebut merupakan analisis kelanjutan atau perluasan dari analisis proksimat.

Beberapa hal yang menyebabkan analisis komposisi kimia perlu

ditentukan seperti kadar air bahan makanan. Hal ini sangat berpengaruh

untuk stabilitas penyimpanan, di samping dari segi nilai gizinya. Apabila

(6)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak

2 Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab I Pendahuluan

kadar airnya lebih tinggi daripada kadar air yang seharusnya untuk penyimpanan, bahan makanan itu akan mudah dicemari mikroba yang dapat menghasilkan racun (mycotoxin) sehingga dapat membahayakan baik untuk ternaknya sendiri ataupun untuk konsumen hasil produksi ternak tersebut.

Kadar protein kasar makanan yang dianalisis metode Kjeldahl, walaupun tidak terlalu berarti untuk manusia, akan tetapi masih sangat berguna untuk menentukan nilai protein bahan makanan yang dapat didegradasi dan yang tidak dapat didegradasi pada hewan ruminansia. Dengan demikian, cara ini masih merupakan metode yang penting untuk penentuan protein walaupun beberapa metode telah dikembangkan.

Penentuan serat menggunakan metode serat detergen asam Van Soest, dalam beberapa hal lebih baik daripada penentuan serat kasar dengan metode Weende. Perbedaan utama antara serat detergen asam dan serat kasar adalah sebagian pentosan dari bahan ektrak tanpa nitrogen (Beta-N) akan teranalisis sebagai serat detergen asam. Serat detergen asam dapat digunakan untuk mengasumsikan kecernaan bahan makanan dengan lebih tepat. Walaupun demikian, keragaman sering terjadi karena nilai ini sangat bergantung pada derajat lignifikasi dari dinding sel yang menentukan kandungan ligninnya.

Akhir-akhir ini telah banyak digunakan mikroskop untuk pengawasan mutu

bahan makanan ternak. Mikroskop dapat digunakan sebagai pelengkap

analisis kimia dalam uji cepat untuk penentuan ada-tidaknya pemalsuan

bahan makanan ternak. Penggunaan mikroskop juga dapat memecahkan

masalah untuk bahan yang mungkin sulit atau tidak mungkin dianalisis

secara kimia. Hal lain yang juga penting adalah mengetahui ada-tidaknya

kapang dan spora yang dapat diidentifikasi menggunakan miroskop.

(7)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab I Pendahuluan 3

Tujuan dan Manfaat

Tujuan

Setelah memperoleh dan mempelajari mata kuliah ini, mahasiswa:

1. Mampu mengerjakan/melakukan uji-uji pakan secara fisik, organoleptik, dan kimiawi.

2. Menyebutkan pakan yang sesuai dengan kelompok pakannya dan menyebutkan kandungan zat makanan utamanya.

3. Menyebutkan kelemahan/kekurangan/kandungan antinutrisi pakan- pakan tertentu.

4. Menyebutkan pakan inkonvensional dan pakan harapan.

Manfaat

Setelah mempelajari PBMT, mahasiswa:

1. Mampu memilih pakan yang tepat sesuai dengan tujuan penggunaannya.

2. Mampu mengantisipasi penggunaan pakan yang mengandung antinutrisi.

3. Mampu memanfaatkan pakan inkonvensional dengan mengantisipasi kelemahan dan kelebihannya.

Sumber Bahan Makanan Ternak

Berdasarkan kandungan serat kasarnya, bahan makanan ternak dapat dibagi ke dalam dua golongan yaitu bahan penguat (konsentrat) dan hijauan. Konsentrat dapat berasal dari bahan pangan atau dari tanaman seperti serealia (misalnya jagung, padi, atau gandum), kacang-kacangan (misalnya kacang hijau atau kedelai), umbi-umbian (misalnya ubi kayu atau ubi jalar), dan buah-buahan (misalnya kelapa atau kelapa sawit).

Konsentrat juga dapat berasal dari hewan seperti tepung daging dan

tepung ikan. Di samping itu juga dapat berasal dari industri kimia seperti

protein sel tunggal, limbah, atau hasil ikutan dari produksi bahan pangan

seperti dedak padi dan pollard, hasil ikutan proses ekstraksi seperti

(8)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak

4 Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab I Pendahuluan

bungkil kelapa dan bungkil kedelai, limbah pemotongan hewan seperti tepung darah dan tepung bulu, serta limbah proses fermentasi seperti ampas bir.

Hijauan dapat berupa rumput-rumputan dan leguminosa segar atau kering serta silase yang dapat berupa jerami yang berasal dari limbah pangan (jerami padi, jerami kedelai, pucuk tebu) atau yang berasal dari pohon-pohonan (daun gamal dan daun lamtoro).

Klasifikasi berdasarkan kandungan gizinya bahan makanan ternak dapat dibagi atas sumber energi (misalnya dedak ubi kayu), sumber protein yang berasal dari tanaman (misalnya bungkil kedelai dan bungkil kelapa), serta sumber protein hewani (tepung darah, tepung bulu, dan tepung ikan).

Selain sumber protein dan sumber energi, beberapa bahan makanan dapat digolongkan sebagai sumber mineral (misalnya tepung tulang, kapur, dan garam), serta sumber vitamin (misalnya ragi dan minyak ikan). Beberapa bahan seperti antibiotika, preparat hormon, preparat enzim, dan buffer dapat digunakan untuk meningkatkan daya guna ransum. Bahan-bahan tersebut digolongkan dalam pakan imbuhan (feed aditif).

Pengelompokan yang lain adalah berdasarkan penggunaannnya. Pakan berdasarkan penggunaannya dibagi atas bahan makanan konvensional (seperti bungkil kedelai dan dedak) dan nonkonvensional (seperti ampas nanas dan isi rumen).

Komposisi kimia bahan makanan ternak sangat beragam karena bergantung pada varietas, kondisi tanah, pupuk, iklim, cara pengolahan, lama penyimpanan, dan lain-lain. Berdasarkan penelitian, beberapa padi yang berasal dari beberapa pola tanam yang berbeda digiling di suatu penggilingan yang sama sehingga keragaman dedak padi dari beberapa pola tanam berbeda tersebut tidak banyak berbeda komposisinya.

Sementara bila padi dari beberapa pola tanam yang sama digiling di beberapa penggilingan, komposisi dedak padi tersebut akan beragam.

Dari hal ini, cara pengolahan lebih menyebabkan keragaman komposisi

dedak padi dibandingkan dengan pola tanam.

(9)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab I Pendahuluan 5

Umumnya bahan makanan ternak yang berasal dari limbah pertanian/

industri tidak dapat digunakan sebagai bahan satu-satunya (pakan tunggal) dalam ransum, baik untuk hewan ruminansia maupun nonruminansia karena kandungan zat-zat makanannya tidak dapat memenuhi standar kebutuhan ternak. Di samping itu, bahan-bahan makanan tersebut sering mempunyai kendala-kendala baik berupa racun maupun antinutrisi sehingga penggunaan pada ternak perlu dibatasi.

Istilah-istilah dalam Ilmu Makanan Ternak

Beberapa istilah yang sering dijumpai dalam pengetahuan bahan makanan ternak di antaranya:

Ampas

⇒ : Residu limbah industri pangan yang telah diambil sarinya melalui proses pengolahan secara basah (ampas kelapa, ampas kecap, ampas tahu, ampas bir, ampas ubi kayu/onggok).

Abu/ash/mineral

⇒ : Sisa pembakaran pakan dalam tungku/tanur 500–

600˚C sehingga semua bahan organik terbakar habis.

Analisis proksimat

(Proximate analysis): Analisis kimiawi pada pakan/

bahan yang berlandaskan cara Weende yang akan menghasilkan air, abu, protein kasar, lemak, dan serat kasar dalam satuan persen.

Analisis Van Soest

⇒ : Metode analisis berdasarkan kelarutannya dalam larutan detergen asam dan detergen netral.

BETN (Bahan Ekstrak Tanpa N)/NFE (

Nitrogen Free Extract):

Karbohidrat bukan serat kasar. Dihitung sebagai selisih kandungan karbohidrat dengan serat kasar. Merupakan tolak ukur secara kasar kandungan karbohidrat pada suatu pakan/ransum.

Bahan kering

(Dry Matter): Pakan bebas air. Dihitung dengan cara 100—kadar air, di mana kadar air diukur merupakan persen bobot yang hilang setelah pemanasan pada suhu 105˚C sampai beratnya tetap.

Bahan makanan ternak/pakan

(Feeds, Feedstuff): Semua bahan yang

dapat dimakan ternak.

Bahan organik

(Organic matter): Selisih bahan kering dan abu yang

secara kasar merupakan kandungan karbohidrat, lemak, dan protein.

(10)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak

6 Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab I Pendahuluan

Bahan organik tanpa nitrogen

(BOTN)/Nonnitrogenous organic

matter: Selisih bahan organik dengan protein kasar yang merupakan gambaran kasar kandungan karbohidrat dan lemak suatu bahan/

pakan.

Dedak

(Bran): Limbah industri penggilingan bijian yang terdiri atas kulit luar dan sebagian endosperm seperti dedak padi, dedak gandum (pollard), serta dedak jagung.

Energi bruto/

Gross energy (GE): Jumlah kalori (panas) hasil pembakaran pakan dalam bom kalorimeter.

Fodder

⇒ : Hijauan dari kelompok rumput bertekstur kasar seperti jagung dan sorgum beserta bijinya yang dikeringkan untuk pakan.

Hijauan makanan ternak

(Forage): Pakan yang berasal dari bagian vegetatif tumbuhan/tanaman dengan kadar serat kasar > 18% dan mengandung energi tinggi.

Hijauan kering

(Hay): Hijauan makan ternak (HMT) yang dikeringkan dengan kadar air biasanya < 10%.

Jerami

(Straw): Hijauan limbah pertanian setelah biji dipanen dengan kadar serat kasar umumnya tinggi, bisa berasal dari gramineae maupun leguminoceae.

Karbohidrat

⇒ : Senyawa C, H, dan O bukan lemak. Merupakan selisih BOTN dan lemak.

Bungkil:

⇒ Bahan limbah industri minyak seperti bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, bungkil kedele, dan lain-lain.

Lemak kasar

(Ether extract): Semua senyawa pakan/ransum yang dapat larut dalam pelarut organik.

Lignin

⇒ : Bagian serat detergen asam yang tidak larut dalam H

2

SO

4

72%

dan terbakar habis pada tanur 500–600˚C pada metode analisis Van Soest.

Pakan imbuhan/

Feed additive: Zat yang ditambahkan dalam ransum

untuk memperbaiki daya guna ransum yang bersifat bukan zat

makanan.

(11)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab I Pendahuluan 7

Protein kasar (PK)/

Crude protein: Kandungan nitrogen pakan/ransum dikalikan faktor protein rata-rata (6,25) karena rata-rata nitrogen dalam protein adalah 16%, sehingga faktor perkalian protein 100/16

= 6,25. Terdiri atas asam-asam amino yang saling berikatan (ikatan peptida), amida, amina, dan semua bahan organik yang mengandung nitrogen.

Ransum

(Ration, Diet): Sejumlah pakan/campuran pakan yang dijatahkan untuk ternak dalam sehari.

Ransum konsentrat

⇒ : Campuran pakan yang mengandung serat kasar

< 18% dan tinggi protein.

Selulosa

⇒ : Rangkaian molekul glukosa dengan ikatan kimia β-1,4 glukosida dan terdapat dalam tanaman.

Serat detergen asam

(SDA, ADF): Bagian dinding sel tanaman yang tidak larut dalam detergen asam pada metode analisis Van Soest.

Serat kasar (SK)/

Crude fiber (CF): Bagian karbohidrat yang tidak larut setelah pemasakan berturut-turut, masing-masing 30 menit pada H

2

SO

4

1,25% (0,255 N) dan NaOH 1,25% (0,312 N).

Setara protein telur

(Chemical score): Kadar asam amino esensial pembatas protein suatu bahan dibandingkan dengan asam amino protein telur sebagai standar.

Silase/

Silage: Hasil pengawetan hijauan dalam bentuk segar dengan cara menurunkan pH selama penyimpanan.

Silika (SiO

2

)/Insoluble ash: Bagian serat detergen asam yang tidak larut dalam H

2

SO

4

72% dan tersisa sebagai abu pada pembakaran 500–600˚C pada metode analisis Van Soest.

Zat makanan

(Nutrient): Zat organik dan inorganik dalam pakan yang dibutuhkan ternak untuk mempertahankan hidup, memelihara keutuhan tubuhnya, dan mencapai prestasi produksinya.

Pakan tambahan (

Feed supplement): Pakan/campuran pakan yang

sangat tinggi kandungan salah satu zat makanannya, seperti protein

suplemen, mineral suplemen, vitamin suplemen, dan lain-lain.

(12)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak

8

Total digestible nutrient

(TDN): Total energi zat makanan pada ternak yang disetarakan dengan energi dari karbohidrat. Dapat diperoleh secara uji biologis ataupun perhitungan menggunakan data hasil analisis proksimat.

Asam amino esensial

(EAA): Asam amino yang kerangka karbonnya

tidak cukup/tidak dapat dibuat oleh tubuh sehingga harus cukup tersedia dalam protein makanan/ransum sehari-hari.

Asam amino pembatas

(Limiting amino acid): Asam amino esensial yang paling kurang dalam protein suatu pakan dibandingkan dengan asam amino tersebut dalam protein telur. Erat kaitannya dengan kualitas protein.

Probiotik:

⇒ Kultur mikroorganisme yang dapat merangsang/

meningkatkan pertumbuhan dari mikroorganisme saluran pencernaan

yang diinginkan.

(13)

BAB II ANALISIS KUALITAS BAHAN

MAKANAN TERNAK

Kualitas nutrisi bahan makanan ternak merupakan faktor utama dalam menentukan kebijakan dalam pemilihan dan penggunaan bahan makanan tersebut sebagai sumber zat makanan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan produksinya. Kualitas nutrisi bahan pakan terdiri atas komposisi nilai gizi, serat dan energi, serta aplikasinya pada nilai palatabilitas dan daya cerna. Penentuan komposisi nilai gizi secara garis besarnya dapat dilakukan dengan analisis proksimat, di mana dapat ditentukan kandungan air, abu, protein kasar, lemak kasar, serat kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (Beta-N). Dengan analisis proksimat, komponen-komponen fraksi serat tidak dapat tergambarkan secara terperinci berdasarkan manfaatnya dan kecernaan pada ternak. Untuk dapat menyempurnakannnya, komponen-komponen serat tersebut dapat dianalisis secara terperinci dengan menggunakan analisis Van Soest.

Untuk mengetahui sumbangan energi dari masing-masing komposisi gizi

yang terkandung dalam bahan makanan ternak ataupun ransum, dapat

ditentukan dengan kandungan energi bruto (GE) yang dapat diukur

menggunakan analisis energi dengan Bomb Calorimeter.

(14)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak

10 Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab II Analisis Kualitas Bahan Makanan Ternak

Untuk mendapatkan hasil analisis yang lebih akurat dan menggambarkan kondisi kandungan nilai gizi bahan makanan ternak yang sebenarnya, faktor-faktor yang harus diperhatikan yaitu pengambilan sample (metode sampling), penggunaan alat dan bahan kimia yang sesuai, metode analisis dengan tingkat ketelitian yang tinggi, serta satuan hasil analisis. Berdasarkan hasil analisis kimianya selanjutnya dapat ditentukan klasifikasi bahan makanan sebagai sumber protein, energi atau mineral, dan vitamin. Hal ini sangat diperlukan dalam membuat formula-formula ransum yang sesuai dengan standar kebutuhan ternak selain juga tetap mempertimbangkan harga ransum.

1. Analisis Proksimat

Bahan makanan ternak akan selalu terdiri atas zat-zat makanan yang terutama diperlukan oleh ternak dan harus kita sediakan. Zat makanan utama antara lain protein, lemak, dan karbohidrat perlu diketahui sebelum menyusun ransum. Untuk itu perlu dilakukan analisis laboratorium guna mengetahuinya.

Henneberg dan Stohmann dari Weende Experiment Station di Jerman membagi pakan menjadi 6 (enam) fraksi, yaitu kadar air, abu, protein, lemak kasar, serat kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (Beta-N).

Pembagian zat makanan ini kemudian dikenal sebagai Skema Proksimat (Gambar 1).

Untuk melakukan analisis proksimat bahan harus bentuk tepung dengan ukuran maksimum 1 mm. Bahan berkadar air tinggi misalnya rumput segar perlu diketahui dahulu berat awal (segar), berat setelah penjemuran/

pengeringan oven 70˚C agar dapat dihitung komposisi zat makanan dari

rumput dalam keadaan segar dan kering matahari.

(15)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab II Analisis Kualitas Bahan Makanan Ternak 11

Air

BM Abu

BK Protein

Kasar

BO Lemak

Kasar

BOTN SK

Karbohidrat

Beta-N

Gambar 1 Skema pembagian zat-zat makanan menurut analisis proksimat

Keterangan:

BM : Bahan Makanan BK : Bahan Kering BO : Bahan Organik

BOTN : Bahan Organik Tanpa Nitrogen SK : Serat Kasar

Beta-N : Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen = 100%-(air + abu + PK + lemak + SK)%.

Analisis Air

Analisis kadar air bahan menggunakan oven dengan temperatur sedikit di

atas temperatur didih air yaitu 105˚C. Sampel dimasukan ke dalam oven

beberapa waktu sehingga tercapai berat tetap. Kadar air adalah selisih

berat awal dan akhir dalam satuan persen. Umumnya pakan yang telah

mengalami pengeringan matahari/oven 70˚C masih mengandung kadar

air. Dari analisis ini akan diperoleh kadar bahan kering (bahan yang sudah

bebas air/uap air) dengan cara 100% dikurangi dengan kadar air.

(16)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak

12 Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab II Analisis Kualitas Bahan Makanan Ternak

Analisis Abu

Abu adalah bagian dari sisa pembakaran dalam tanur dengan temperatur 400–600˚C yang terdiri atas zat-zat anorganik atau mineral. Dari abu ini dapat dilanjutkan untuk mengetahui kadar mineral.

Analisis Protein Kasar

Pengertian protein kasar adalah semua zat yang mengandung nitrogen.

Diketahui bahwa dalam protein rata-rata mengandung nitrogen 10%

(kisaran 13–19%). Metode yang sering digunakan dalam analisis protein adalah metode Kjeldhal yang melalui proses destruksi, destialsi, titrasi, dan perhitungan. Dalam analisis ini yang dianalisis adalah unsur nitrogen bahan, sehingga hasilnya harus dikalikan dengan faktor protein untuk memperoleh nilai protein kasarnya. Apabila diketahui secara tepat macam pakan yang dianalisis misal air susu, faktor proteinnya adalah 6,38, tetapi secara umum biasanya menggunakan 6,25. Untuk pakan-pakan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Beberapa faktor protein bahan makanan ternak

Bahan N dalam Protein (%) Faktor Protein

Jagung Dedak gandum Bungkil kapas Protein Bijian Ikan

Susu

Telur dan daging

16,0 15,8 18,9 17,0 16,0 15,8 16,0

6,25 6,31 5,30 5,90 6,25 6,38 6,25 Sumber: Crampton (1968)

Analisis Lemak Kasar

Metode yang digunakan antara lain extraksi soxhlet dengan pelarut lemak

petroleum ether. Analisis lemak menggunakan istilah lemak kasar karena

dalam analisis ini yang diperoleh adalah suatu zat yang larut dalam proses

ekstraksi menggunakan pelarut organik, antara lain ether, petroleum

ether, atau chloroform. Kemungkinan yang terlarut dalam pelarut organik

(17)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab II Analisis Kualitas Bahan Makanan Ternak 13

ini bukan hanya lemak, tetapi juga glyserida, chlorophyl, asam lemak terbang, cholesterol, lechitin, dan lain-lain di mana zat-zat tersebut tidak termasuk zat makanan tetapi terlarut dalam pelarut lemak.

Analisis Serat Kasar

Serat kasar mempunyai pengertian sebagai fraksi dari karbohidrat yang tidak larut dalam basa dan asam encer setelah pendidihan masing-masing 30 menit, termasuk dalam komponen serat kasar ini adalah campuran hemiselulosa, selulosa, dan lignin yang tidak larut. Dalam analisis ini diperoleh fraksi lignin, selulosa, dan hemiselulosa yang perlu diketahui komposisinya khusus untuk hijauan makanan ternak atau umumnya pakan berserat. Untuk memperoleh data yang lebih akurat tentang fraksi lignin dan selulosa, dapat dilakukan analisis lain yang lebih spesifik dengan metode analisis serat Van Soest.

Bahan Ekstrak tanpa Nitrogen (Beta-N)

Untuk memperoleh beta-N adalah dengan cara perhitungan: 100%-(Air + Abu + Protein Kasar + Lemak Kasar + Serat Kasar)%. Dalam fraksi ini termasuk karbohidrat yang umumnya mudah tercerna antara lain pati dan gula.

Bahan Makanan

Air Oven 105 Bahan kering

Isi sel Detergen netral Dinding sel (NDF)

Nitrogen

Dinding sel Detergen asam Lignoselulosa (ADF)

Selulosa H2SO4 72% Lignin tidak larut pengabuan

Lignin HBr 48% Silika

Gambar 2 Skema pembagian fraksi serat berdasarkan analisis Van Soest

(18)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak

14 Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab II Analisis Kualitas Bahan Makanan Ternak

Penyajian Data Analisis Proksimat

Dalam menyajikan data komposisi zat makanan dari analisis proximat dapat dilakukan dalam komposisi persen berdasarkan segar (dikembalikan dengan menghitung berat awal segar), kering matahari (untuk ransum dan butiran/bijian serta limbah industrinya), dan berdasarkan bahan kering.

Data berdasarkan bahan kering ini digunakan untuk membandingkan kualitas antarbahan makanan ternak. Manfaat lain dari komposisi data proximat adalah menduga koefesien cerna (berdasarkan rumus Schneider) dan menghitung TDN berdasarkan NRC.

2. Analisis Van Soest

Metode ini digunakan untuk mengestimasi kandungan serat dalam pakan dan fraksi-fraksinya ke dalam kelompok-kelompok tertentu didasarkan atas keterikatanya dengan anion atau kation detergen (metode detergen). Metode ini dikembangkan oleh Van Soest (1963), kemudian disempurnakan oleh Van Soest dan Wine (1967) serta oleh Goering dan Van Soest (1970). Tujuan awalnya metode ini adalah menentukan jumlah kandungan serat dalam pakan ruminan. tetapi kemudian dapat digunakan juga untuk menentukan kandungan serat baik untuk nonruminan maupun dalam pangan.

Metode detergen terdiri atas 2 bagian yaitu sistem netral untuk mengukur total serat atau serat yang tidak larut dalam detergen netral (NDF) dan sistem detergen asam digunakan untuk mengisolasi selulosa yang tidak larut dan lignin serta beberapa komponen yang terikat dengan keduanya (ADF).

a. Peralatan untuk analisis Van Soes

Alat yang digunakan untuk menganalisis NDF dan ADF secara umum adalah sama dengan peralatan yang digunakan untuk penentuan serat kasar (Proximat) walaupun ada beberapa kekhasan untuk sebagian alat.

Hal paling penting adalah alat untuk memanaskan gelas beaker haruslah ada alat kontrolnya masing-masing supaya bisa diatur panasnya sesuai kebutuhan juga perlu alat pendingin (kondensor) di bagian atasnya.

Sistem pendingin air juga harus berjalan dengan baik untuk menghindari

(19)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab II Analisis Kualitas Bahan Makanan Ternak 15

kesalahan hasil analisis. Kegagalan dalam sistem ini akan menghasilkan kesalahan pengukuran dan komponen serat biasanya akan lebih tinggi dari yang seharusnya. Hal ini disebabkan oleh sampel dalam gelas beaker akan naik ke dinding gelas dan tidak bisa turun atau tidak bersentuhan lagi dengan larutan akibat dari alat pendingin yang tidak berfungsi.

Peralatan utama yang diperlukan untuk analisis ini adalah 1). gelas beaker:

kapasitas 600 ml, 2). hot plate: 400 wat masing-masing untuk satu gelas dengan alat kontrol, 3). kondensor: alat pendingin ini berhubungan dengan air yang mengalir dan bentuknya biasanya bulat sehingga pas masuk di bagian mulut gelas beaker 600 ml, serta 4) crusibel atau kertas saring.

Peralatan pendukung lainnya adalah sama dengan alat yang digunakan waktu penentuan serat kasar.

Sampel bisa disaring menggunakan gelas saring (crusibel) atau kertas saring Whatman no. 54 atau 54l. Penggunaan kertas saring akan lebih mudah apabila tidak diperlukan analisis lebih lanjut seperti penentuan lignin, silika, dan lain-lain. Kertas saring juga lebih memudahkan apabila ingin meneruskan menganalisis kandungan N di dinding sel karena hasil saringan ini dapat langsung dimasukan ke dalam labu Kjeldahl. Penggunaan crusibel atau kertas akan menghasilkan nilai analisis yang sama apabila dilakukan dengan benar. Apabila menggunakan kertas saring biasanya akan ditempatkan pada cawan yang sudah ada bolongan di bagian bawahnya, sehingga akan memudahkan waktu penyaringan menggunakan vacum.

Kehati-hatian sangat diperlukan dengan kertas saring dibandingkan dengan crusibel, di mana ketas saring mudah sobek juga ketika akan diangkat dari tempat penyaringan ke tempat pengeringan.

Tanur sebagai alat untuk pengabuan perlu juga diperhatikan, di mana seharusnya suhu yang dicapai tidak melewati 500˚C, untuk itu alat pengontrol suhu sangat diperlukan. Suhu yang melewati 500˚C bisa melelehkan crusibel dan kemungkinan memengaruhi hasil perhitungan.

b. Bahan Kimia

Pencampuran bahan kimia dalam sistem detergen ini memerlukan

pengukuran yang benar dan tempat yang cukup memadai untuk

pembuatan larutan sesuai dengan yang direncanakan, baik menyangkut

volume maupun beratnya.

(20)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak

16 Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab II Analisis Kualitas Bahan Makanan Ternak

Tabel 2 Larutan untuk Neutral-Detergent Fiber (NDF) Neutral Detergent Fiber (NDF) Distilled water

1.

Sodium lauryl sulfate, lab grade 2.

Disodium ethylene diamine tetra acetate

3. (EDTA)

dihydrate crystal, reagent grade

Sodium borate decahydrate, reagent grade 4.

Disodium hydrogen phosphate, anhydrous, reagent 5. grade

Kalau menggunakan yang hydrous 10H

2

O 2-ethoxyethanol (

6. ethylene glycol monoethyl ether), purified grade

1 liter 30 gram 18,61 gram 6,81 gram 4,56 gram 11,48 gram 10 ml

Larutan dibuat pertama dengan cara melarutkan EDTA dan Na

2

B

4

O

7

.10H

2

O.

Kemudian ditambahkan Na

2

HPO

4

atau Na

2

HPO

4.

10H

2

O, sambil diaduk menggunakan stirer yang sekaligus berfungsi sebagai hot plate untuk mempermudah kelarutan. Ethylene glycol monoethyl ether ditambahkan sebagaimana perlunya untuk mengontrol busa supaya tidak berlebihan.

Untuk memastikan larutan detergen ini netral, bisa dilakukan pengecekan pH dan biasanya akan berkisar antara 6,9–7,1. Apabila larutan disimpan di tempat yang suhunya di bawah 18˚C detergen biasanya akan mengendap, tetapi dapat dilarutkan kembali dengan pemanasan. Total larutan akan mencapai lebih dari volume yang dibuat karena adanya penambahan volume dari bahan kimia. Sebagai contoh apabila membuat larutan sebanyak 18 liter, dengan adanya penambahan kimia tersebut total larutan bisa mencapai 18,5 liter.

Untuk menganalisis bahan pakan atau pangan yang mengandung patinya sangat tinggi, biasanya ditambahkan enzim pencerna pati seperti Amyloglucosidase, hog pancreas amylase, Bacillus subtilis amylase, dan termamyl.

Larutan ADF dibuat dengan cara pertama dibuat dulu larutan asam sulfat

0,5 M (1 N) dan boleh sedikit adanya variasi larutan sebesar 0,98–1,02

N. Apabila menggunakan larutan asam sulfat murni bisa dibuat dengan

cara menambahkan 49,0 gram asam sulfat murni ke dalam air, sehingga

(21)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab II Analisis Kualitas Bahan Makanan Ternak 17

didapat sebanyak 1 liter (ini akan sama dengan larutan 1 N). Kemudian ditambahkan 20 gram CETAB dan diaduk dengan stirer sampai larut.

Penambahan CETAB ke dalam larutan asam sulfat 1 N kemungkinan sedikit akan menaikan volumenya.

Tabel 3 Larutan untuk Acid-Detergent Fiber (ADF) Acid Detergent Fiber (ADF) Sulfuric acid

1. 1 N, reagent grade, sebanyak 1 liter.

Apabila menggunakan H

2

SO

4

murni tiap liter larutan Cetyltrimethylammonium Bromida

2. (CETAB), technical grade

1 liter 49,04 gram 20 gram

c. Neutral Detergent Fiber (NDF)

Komponen serat yang tergabung dalam NDF merupakan bahan yang tidak dapat larut dari matrix dinding sel tanaman. Serat tersebut secara kovalen terikat sangat kuat dengan ikatan hidrogen, kristalin, atau ikatan intramolekular lain yang sangat resisten terhadap larutan yang masih berada pada tingkat konsentrasi physiologis. Karena larutan NDS tidak bersifat hidrolitik, maka hampir semua ikatan-ikatan tersebut masih berada dalam residu NDF. Hal ini dapat dilihat apabila dibanding antara nilai daya cerna in vitro dan in vivo dari NDF. Terdapat sedikit perbedaan daya cerna akibat dari adanya penghancuran beberapa komponen seperti silica dan tanin oleh neutral detergen.

Tidak semua komponen dari dinding sel terikat ke dalam matrik. Pektin, sebagai contoh hampir 90% dapat dilarutkan oleh NDS. Demikian juga pektin adalah komponen yang mudah difermentasikan, sehingga hal ini memperlihatkan tidak adanya pengaruh lignifikasi pada ikatan pektin.

Dengan demikian NDF tidak dapat dinyatakan mewakili komponen

dinding sel secara keseluruhanya, tetapi hanya mewakili sebagai residu

dari komponen nutirisi yang mempunyai ikatan dengan matrix lignin dan

secara physik merupakan struktur yang tidak dapat larut dan mempunyai

pengaruh khusus baik pada rumen maupun pada saluran pencernaan

nonruminan.

(22)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak

18 Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab II Analisis Kualitas Bahan Makanan Ternak

Serat biasanya digunakan sebagai indeks negatif dari kualitas pakan, di mana secara umum menggambarkan bagian dari komponen pakan yang tidak dapat dicerna. Meskipun NDF telah mencakup semua komponen yang tidak dapat dicerna, dibandingkan dengan ADF (NDF-hemiselulosa) atau Serat Kasar (lignin + hemiselulosa + selulosa), korelasi NDF dengan daya cerna pada ruminan sering tidak bisa menggambarkan hasil yang diinginkan. Hal ini telah menyebabkan digunakanya ADF sebagai standar untuk menguji daya cerna hijauan, meskipun NDF lebih baik hubunganya dengan ruminasi (mamah biak), efisiensi, dan konsumsi pakan. Standar kebutuhan serat untuk ruminansia hanya bisa dinyatakan dengan nilai NDF, hal ini disebabkan hemiselulosa mempunyai pengaruh yang besar.

Nilai NDF adalah kandungan semua serat yang teranalisis dan ini satu- satunya cara yang bisa menggambarkan kandungan serat meskipun dari bahan hijauan atau konsentrat yang berbeda. Untuk itu NDF adalah satu- satunya analisis serat yang bisa me-rangking komponen pakan mulai dari yang tidak berserat, sedikit mengandung serat sampai pada bahan yang sangat tinggi seratnya seperti jerami dan selulosa.

Perkembangan lain dengan ditemukannya serat melalui analisis NDF adalah adanya kenyataan bahwa komponen yang larut mempunyai pengaruh fisiologis yang berbeda dengan matriks yang tidak larut. Pada ruminan kompleks yang terlarut semuanya dapat difermentasikan, sehingga dalam hal ini juga komponen yang terlarut oleh larutan detergen netral termasuk di dalamnya pati dan gula-gula terlarut lainya mengalami hal yang sama. Demikian juga NDF telah diakui sebagai komponen bahan pangan yang diperlukan dalam menu pada makanan manusia.

Protein NDF. Ekstraksi dengan larutan detergen netral tidak melarukan

semua protein dalam matrik dinding sel, tetapi sebagian tetap terikat

secara kovalen pada polisakarida dinding sel. Sebagian juga terikat akibat

adanya reaksi Maillard akibat pemanasan dan sebagian lagi mungkin

terendapkan bersama tanin. Hanya sebanyak 80% diperkirakan protein

dapat terlarut dengan larutan detergen netral selebihnya diduga hanya

protein yang rendah daya larutnya atau terikat dengan matriks dinding

sel sehingga merupakan bagian yang tidak dapat dicerna. Untuk alasan

tersebut, maka bagian protein yang terlarut dengan larutan detergen

netral dapat digunakan sebagai cara untuk mengetes protein terlarut dari

suatu bahan pakan.

(23)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab II Analisis Kualitas Bahan Makanan Ternak 19

Prosedur analisis. Timbang bahan sampel sebanyak 0,5–1 g (kering udara dan sudah digiling) masukan kedalam gelas beaker 600 ml. Tambahkan 100 ml larutan detergen netral dan 2–3 tetes decalin. Simpan di tempat pemanasan (hot plate), tunggu antara 5–6 menit sampai mulai panas kemudaian dihitung waktu pemanasanya selama 60 menit sambil di reflux dengan aliran air untuk menghindari sampel yang nempel di dinding gelas dan tidak terendam larutan (Gambar 2). Apabila mengerjakan lebih dari satu sampel bisa ditambah 3 menit antara satu dan lainya untuk memberikan semua bahan yang dilarutkan dimulai dari panas yang cukup. Setelah 60 menit dididihkan, baker diambil dari pemanas dan dibiarkan sebentar supaya bahan padatan mengendap di bawahnya. Siapkan gelas saring pada tempatnya dan panaskan dengan air mendidih. Bahan larutan kemudian disaring secara pelan-pelan mulai dari bahan cairan yang terlarut cukup dengan vacum yang rendah dayanya. Kemudian bagain padatannya bisa dimasukkan ke saringan sambil dibilas dengan air mendidih sampai semua sampel habis masuk ke gelas saring. Vacum bisa ditambah kekuatannya sesuai dengan kebutuhan. Sampel dicuci sekitar 2 kali dengan air panas, 2 kali dengan aseton, dan kemudian dapat dikeringkan. Crusibel dapat dikeringkan minimal selama 8 jam (atau disimpan semalam apabila analisis dilanjutkan hari berikutnya) pada suhu 105˚C dalam oven yang dilengkapi dengan sistem kipas. Setelah ditimbang akan didapatkan berat kering resisu NDF, kemudian sampel dibakar dalam tanur 500˚C cukup selama 3 jam. Pindahkan kedalam oven sampai suhunya kembali menjadi 105˚C kemudain ditimbang. Bahan yang tersisa pada crusible adalah abu dari dinding sel.

3. Analisis Energi

Kata energi berasal dari bahasa Yunani, yaitu En = in artinya dalam dan Ergon artinya kerja, sehingga kata energi diartikan sebagai dalam bentuk kerja. Energi ada beberapa macam di antaranya:

1. energi mekanik;

2. energi cahaya;

3. energi panas;

4. energi nuklir;

(24)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak

20 Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab II Analisis Kualitas Bahan Makanan Ternak

5. energi aliran panas; serta

6. energi molekuler atau energi kimia yang sangat berperanan sekali dalam bidang ilmu makanan ternak dan nutrisi.

Prinsip Dasar

Adanya perubahan energi kimia dalam molekul bahan makanan ke dalam bentuk energi kinetik dari suatu reaksi metabolik yang dapat menimbulkan kerja atau panas. Menurut La voisier dan La place tahun 1780 dari Perancis bahwa panas yang diproduksi hewan berasal dari oksidasi zat organik bahan makanan yang disuplai, dapat dijadikan sumber energi akibatnya nilai energi yang dihasilkan dapat dijadikan kriteria nilai gizi pakan atau ransum yang dikonsumsi hewan tersebut.

Pembakaran bahan makanan berlangsung sebagai berikut:

CHO + O

2

CO

2

+ H

2

O + gas + panas

Pembakaran makanan tersebut menggunakan oksigen (O

2

) dan menghasilkan energi bruto atau gross energy (GE). Pengukuran energi brotu ini menggunakan alat Bomb Calorimeter (perubahan suhu akibat pembakaran pakan dengan oksigen). Pengukuran energi bahan makanan ternak atau ransum menggunakan satuan-satuan atau indikator angka sebagai jumlah energi yang dinyatakan dalam satuan:

1. Kalori (kal) yaitu jumlah panas yang dibutuhkan untuk meningkatkan temperatur 1 gram air dari suhu 14,5˚C menjadi 15,5˚C.

2. Them adalah jumlah panas yang dibituhkan untuk menaikkan suhu 1 ton air 1˚C.

3. British Them Unit = BTU adalah jumlah panas yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1 liter air 1˚F.

4. Joule = 107 Erg adalah jumlah panas yang dibituhkan untuk memindahkan 1 liter air/barang sejauh 0,7375 kaki.

Nilai setara kalori untuk energi adalah:

1. 1 kalori (kal) setara 4,184 Joule (J) Crampton

2. 1 kalori (kal) setara 5,183 Internasional Joule (Kleiber)

(25)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab II Analisis Kualitas Bahan Makanan Ternak 21

3. 1 BTU setara 0,252 kkal.

4. 1 kilo kalori (kkal) setara 3,96 BTU.

Setiap kandungan nutrien mempunyai nilai setara kalor (energi) yang berbeda, yaitu:

1. Protein setara 5,65 kkal/g 2. Karbohidrat setara 4,10 kkal/g 3. Lemak setara 9,45 kkal/g

Sehingga rasio sumbangan energi kandungan nutrien tersebut (Protein:

KH: Lemak) adalah 1: 1: 2,5 kali.

Kalorimeter ada 2 macam, yaitu:

1. Bomb Calorimeter terdiri atas Adiabatic Calorimeter dan Isotermik Calorimeter.

2. Animal Calorimeter untuk mengukur energi metabolik seperti Basal Metabolic Rate (BMR), RQ, dan NE.

Karakteristik Adiabatic Bomb Calorimeter:

1. Panas tidak langsung, tidak ada panas yang menyeberang.

2. Mempunyai 2 suhu, sehingga perlu menyamakan suhu dan disetarakan sehingga tidak saling memengaruhi.

Sementara karakteristik Isothermic Bomb Calorimeter adalah panas bersambung dan hanya ada satu suhu.

Komponen Bomb Calorimeter adalah:

1. Jacket

2. Bucket untuk tempat air (suhu konstan)

3. Bomb berisikan cawan, kawat platina, dan sample dalam bentuk pelet, kemudian dialirkan oksigen untuk pembakarannya.

Pengukuran energi bahan makanan ternak atau ransum menggunakan

Bomb Calorimeter yang dikoreksi dengan beberapa faktor koreksi yaitu:

(26)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak

22 Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab II Analisis Kualitas Bahan Makanan Ternak

a. Koreksi penggunaan asam, 1 ml Na

2

CO

3

= 1 kalori.

b. Koreksi kawat terbakar, 1 cm kawat = 2,3 kalori.

c. Koreksi sulfur (S), bila kandungan S bahan makanan ternak lebih besar dari 0,1% di mana 1 gram S = 1,4 kkal.

Tabel 4 Kandungan energi bruto beberapa bahan pakan

Bahan Energi Bruto (kkal/g)

Jagung Kacang kedelai Dedak Gandum Glukosa Karbohidrat Lemak babi Casein

4,43 2,52 4,54 3,76 3,75–4,25

9,48 5,86

Sebelum dilakukan analisis energi, Bomb Calorimeter disetarakan dulu dengan memperhitungkan faktor koreksi tersebut. Kandungan energi bruto (Gross Energi = GE) beberapa bahan makanan ternak bisa dilihat pada tabel 2.

Nilai GE dari karbohidrat berkisar 3,75–4,25 kkal, sedangkan nilai GE untuk

protein lebih tinggi daripada karbohidrat. Namun di dalam tubuh ternak,

energi protein tidak dapat digunakan seluruhnya, energi ini akan keluar

dalam bentuk ikatan asam urat atau urea yang masih mengandung GE

sekitar 1,25 kkal, sehingga energi yang akan didapat dalam tubuh ternak

yang berasal dari protein hampir sama dengan karbohidrat yaitu 4,25 kkal

(5,50–1,25). Nilai energi bruto (GE) untuk macam-macam protein dan

lemak diperlihatkan pada tabel 3 (nilai rata-rata GE protein = 5,20 kkal

dan rata-rata GE lemak = 9,35 kkal).

(27)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab II Analisis Kualitas Bahan Makanan Ternak 23

Tabel 5 Kandungan energi bruto bahan sumber protein dan lemak

Bahan Energi Bruto (kkal/g)

Daging sapi Gelatin Albumin telur Kuning telur Kacang-kacangan Sayur-sayuran

Lemak daging, ikan, dan telur Lemak hasil ternak perah Lemak butiram

5,65 5,60 5,71 5,84 5,70 5,80 9,50 9,25 9,30

Penggunaan Energi oleh Ternak

Energi karbohidrat digunakan ternak sebanyak 95%, sedangkan energi protein hanya 70% sehingga penggunaan energi karbohidrat lebih efisien dibandingkan dengan protein dan lemak. Di antara gizi lainnya, lemak mempunyai kandungan energi paling tinggi, yaitu 2,25 kali karbohidrat dan protein. Perbedaan ini disebabkan oleh kandungan oksigen dalam molekul.

Dalam molekul karbohidrat terdapat cukup oksigen untuk pembakaran

hidrogen yang dikandungnya, sehingga panas yang dikeluarkan hanya dari

pembakaran atau oksidasi karbon (C). Pada lemak relatif sedikit oksigen,

sehingga memerlukan oksigen lebih banyak untuk pembakaran hidrogen

(H) dan karbon (C). Untuk pembakaran 1 gram H menghasilkan panas 4

kali lebih banyak dari pembakaran C, sehingga panas yang dihasilkan lebih

tinggi dibandingkan dengan protein dan karbohidrat. Dalam lemak kasar,

selain lemak murni tergolong dalam trigliserida, terdapat juga zat-zat lain

yang larut dalam ether. Zat-zat tersebut akan mengurangi manfaat lemak

sebagai sumber energi untuk ternak atau hewan lainnya.

(28)
(29)

BAB III KIMIA MAKANAN TERNAK

Kualitas Protein

Kegunaan dari protein bahan makanan relatif bergantung pada keperluan hewan terhadap banyaknya protein, sedangkan pada beberapa hewan seperti ayam dan babi juga bergantung pada asam-asam amino esensial yang terdapat dalam bahan makanan tersebut. Pada hewan-hewan tersebut, asam-asam amino tertentu harus tersedia dalam ransum.

Asam-asam amino ini disebut asam-asam amino esensial. Bahan makanan dikatakan mempunyai kualitas protein yang baik apabila bahan makanan tersebut dapat menyediakan seluruh asam-asam amino esensial dalam perbandingan hampir mendekati sama dengan yang ada pada protein yang akan dibentuk, ditambah sumber N yang lain untuk membentuk asam amino yang tidak esensial. Sementara yang dikatakan asam amino esensial yaitu asam-asam amino yang tidak dapat disintesis dalam tubuh hewan dalam kecepatan yang diperlukan untuk pertumbuhan yang normal. Misalnya arginine untuk tikus adalah esensial, walaupun asam amino ini dapat dibentuk oleh tubuh tikus, tetapi tidak dalam kecepatan yang cukup untuk pertumbuhannya.

Penentuan kualitas protein dapat berdasarkan:

1. Kimia

2. Biologis, yaitu dengan BV, PER, Replacement Value, dan lain-lain

Secara kimia, penentuan protein diperhitungkan secara:

(30)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak

26 Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab III Kimia Makanan Ternak

1. Chemical Score

Menurut Block dan Mitchell, kualitas protein ditentukan oleh asam-asam amino yang relatif paling kekurangan. Di sini protein standar yaitu protein telur.

Dengan membandingkan tiap-tiap asam amino dari bahan tersebut, kita akan mendekati asam amino yang paling defisien.

Tabel 6 Perbandingan komposisi asam amino telur dan gandum Asam amino % AA dalam

protein telur

% AA dalam protein gandum

% AA defisien dalam gandum

Arginine 6,4 4,2 -34

Histidine 2,1 2,1 0

Lysine 7,2 2,7 -63

Tryptophan 1,5 1,2 -20

Tyrosine 4,5 4,4 -2

Phenilalanine 6,3 5,7 -10

Cystine 2,4 1,8 -25

Methionine 4,1 2,4 -39

Cystine & Methionine 6,5 4,3 -34

Threonine 4,9 3,3 -33

Leucine 9,2 6,8 -26

Isoleucine 8 3,6 -55

Valine 7,3 4,5 -37

Asam amino yang paling defisien adalah Lysine. Chemical Score dari protein gandum 100–63 = 37.

2. Secara EAAI = Essential Amino Acid Index

Oser mengembangkan pendapat Block dan Mitchell, ia berpendapat

bahwa seharusnya dalam menentukan kualitas protein tidak saja asam

amino esensial yang paling defisien yang harus diperhatikan tetapi seluruh

asam amino esensial dari bahan tersebut harus dipertimbangkan. Selain

itu juga dipakai sebagai protein standar adalah protein telur.

(31)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab III Kimia Makanan Ternak 27

10

100 100 100 ... 100

e e

e

e

n

n c

c b

b a

EAAI = a × × × ×

a–n = % asam amino dari protein yang dinilai a

e

–n

e

= % asam amino dari protein telur untuk memudahkannya:

 

 

 + + +

=

e e

e

n

n b

b a

EAAI log 100 a log 100 ... . log 100 10

log 1

10

a–n = % asam amino dari protein yang dinilai a

e

–n

e

= % asam amino dari protein telur untuk memudahkannya:

 

 

 + + +

=

e e

e

n

n b

b a

EAAI log 100 a log 100 ... . log 100 10

log 1

10

3. Supplementary Effect

Apabila beberapa protein yang mempunyai kekurangan asam amino dikombinasikan, secara biologis protein campuran ini akan bertambah nilai biologisnya oleh karena adanya supplementary effect.

Misalnya suatu protein tubuh harus dibentuk asam-asam amino A, B, C, D, E dengan perbandingan 48, 10, 4, 32, 6. Jadi mempunyai susunan A

48

B

10

C

4

D

32

E

6

.

Apabila sumber protein yang diberikan:

Protein I dengan susunan A

26

B

28

C

2

D

34

E

10

kegunaan protein ini bergantung daripada C. Selama C hanya mempunyai persediaan 2, maka protein tubuh yang dibentuk:

A

24

B

5

C

2

D

16

E

3

(= ½ x A

48

B

10

C

4

D

32

E

6

).

Jadi, protein I hanya digunakan 50%, sisanya A

2

B

23

C

8

D

18

E

7

(A

26

B

28

C

2

D

34

E

10

– A

24

B

5

C

2

D

16

E

3

) akan dibakar sebagai energi. Dalam hal ini kita dapat memperbaikinya dengan:

1. Penambahan asam-asam amino murni

2. Memberikan campuran dengan protein

(32)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak

28

Misalkan kita berikan campuran protein ke-II yang mempunyai susunan A

46

B

18

C

6

D

20

E

10

.

Jadi: Ideal A

48

B

10

C

4

D

32

E

6

Protein I A

26

B

28

C

2

D

34

E

10

Protein II A

46

B

18

C

6

D

20

E

10

Camp. I + II A

36

B

23

C

4

D

27

E

10

Protein untuk sintesis protein tubuh: A

36

B

7

C

3

D

24

E

5

= 75 % Penggunaan untuk energi: A

0

B

16

C

1

D

3

E

5

= 25 %

Pada umumnya protein tumbuh-tumbuhan mempunyai kadar lysine rendah. Sementara tepung darah walaupun tidak kaya asam-asam amino, akan tetapi mempunyai kadar lysine yang tinggi sehingga baik digunakan sebagai suplemen pada protein tumbuh-tumbuhan. Perbedaan kualitas protein nabati dan hewani dilihat dari segi asam amino yang dikandungnya terlihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Asam amino dari protein nabati dan hewani

Asam amino Butir-butiran* Protein hewani

+

Standar telur

Arginine 4,8 5,7 6,4

Histidine 2,1 3,3 2,1

Lysine 3,1 7,7 7,2

Tyrosine 4,8 3,9 4,5

Tryptophane 1,2 1,1 1,5

Phenilalanine 5,7 5,4 6,3

Cystine 1,7 1,2 2,4

Methionine 2,3 2,6 4,5

Threonine 3,4 4,5 4,9

Leucine 7,1** 9,2 9,2

Isoleucine 4,3 4,9 8,0

Valine 5,2 6,6 7,3

*Wheat, jagung, rye, oats

**Tidak termasuk dalam rate ini: Jagung

+

Tankage, tepung darah, ikan, susu

Susu, telur, dan daging dapat menyediakan asam amino dalam

perbandingan yang hampir mendekati kesempurnaan untuk digunakan.

(33)

BAB IV BAHAN MAKANAN TERNAK NABATI

Pakan berperanan sangat penting dalam menentukan produktivitas ternak. Kira-kira 25% dari perbedaan produksi ternak disebabkan oleh keturunan, sedangkan 75% sisanya ditentukan oleh faktor lingkungan dengan pakan sebagai faktor penentu terbesar.

Konsentrat adalah pakan yang tinggi kandungan ekstrak tiada nitrogen (Beta-N) dan rendah kandungan serat kasar (SK), yaitu lebih rendah dari 18%. Kandungan protein pakan dapat dibagi 2, yaitu (1) konsentrat sumber energi serta (2) konsentrat sumber energi dan protein.

Karena konsentrat realtif mengandung serat kasar yang rendah, maka hampir semua konsentrat mempunyai kecernaan yang tinggi. Butiran mengandung sejumlah besar pati yang dengan mudah dapat dicerna dan diserap ternak. Sebaliknya, protein dari butiran kebanyakan defisiensi akan asam amino lisin. Hal ini tidak masalah yang besar untuk ternak ruminansia, tetapi akan bermasalah pada ternak nonruminansia yang makanan utamanya berasal dari butiran.

Dalam bab hijauan ditekankan pentingnya hijauan yang berkualitas baik.

Namun untuk mengefisienkan produksi ternak, konsentrat biasanya

diperlukan sebagai bahan tambahan pada hijauan. Hal ini karena pada

ternak yang diberi hijauan saja tidak dapat memenuhi kebutuhannya

untuk produksi yang tinggi mengingat hijauan mempunyai kecernaan dan

energi neto yang rendah.

(34)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak

30 Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab IV Bahan Makanan Ternak Nabati

A. Butir-Butiran dan Limbahnya

Konsentrat sumber energi adalah bahan makanan ternak yang tinggi kandungan energi dan rendah kandungan serat kasar (<18%) serta umumnya mengandung protein yang lebih rendah dari 20%.

1. Jagung (Zea mays)

Tinggi rendahnya produksi jagung bergantung pada tipe jagung yang dipakai, pemupukan, serta cuaca. Jagung merupakan pakan yang sangat baik untuk ternak. Jagung sangat disukai ternak dan pemakaiannya dalam ransum ternak tidak ada pembatasan, kecuali untuk ternak yang akan dipakai sebagai bibit. Pemakaian yang berlebihan untuk ternak ini dapat menyebabakan kelebihan lemak.

Jagung tidak mempunyai antinutrisi dan sifat pencahar. Walaupun demikian, pemakaian dalam ransum ternak terutama untuk bibit perlu dibatasi karena penggunaan jagung yang tinggi dapat mengakibatkan sulitnya ternak untuk berproduksi. Di samping itu, penggunaannya pada ternak muda yang akan dipakai bibit perlu dibatasi karena selain tidak ekonomis bila digunakan tinggi dalam ransum juga karena penggunaan yang terlampau tinggi dapat menyulitkan ternak tersebut untuk berproduksi.

Secara kualitatif kualitas butiran jagung dapat diuji menggunakan bulk density ataupun uji apung. Bulk density butiran jagung yang baik adalah 626,6 g/liter, sedangkan untuk jagung giling yang baik berkisar 701,8–

722,9 g/liter. Makin banyak jagung yang mengapung, berarti makin banyak jagung yang rusak. Selain itu uji organoleptik seperti tekstur, rasa, warna, dan bau dapat dipakai untuk mengetahui kualitas jagung yang baik.

Kualitas jagung secara kuantitatif dapat dilakukan di laboratorium

menggunakan metode proksimat (Tabel 8). Minimum data kadar

bahan kering, protein kasar, dan serat kasar harus diketahui setiap kali

pengiriman jagung.

(35)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab IV Bahan Makanan Ternak Nabati 31

Gambar 3 Pohon jagung dan jagung kuning pipilan

Jagung merupakan butiran yang mempunyai total nutrien tercerna (TDN) dan net energi (NE) yang tinggi. Kandungan TDN yang tinggi (81,9%) adalah karena (1) jagung sangat kaya akan bahan ekstrak tanpa nitrogen (Beta-N) yang hampir semuanya pati, (2) jagung mengandung lemak yang tinggi dibandingkan dengan semua butiran kecuali oat, dan (3) jagung mengandung sangat rendah serat kasar, oleh karena itu mudah dicerna.

Kandungan protein jagung rendah dan defisiensi asam amino lisin. Dari butiran yang ada, hanya jagung kuning yang mengandung karoten.

Kandungan karoten jagung akan menurun dan/atau hilang selama penyimpanan.

2. Dedak Padi (Oriza sativa)

Dedak padi diperoleh dari penggilingan padi menjadi beras. Banyaknya dedak padi yang dihasilkan bergantung pada cara pengolahan. Sebanyak 14,44% dedak kasar, 26,99% dedak halus, 3% bekatul, dan 1–17% menir dapat dihasilkan dari berat gabah kering.

Dedak padi cukup disenangi ternak. Pemakaian dedak padi dalam ransum ternak umumnya sampai 25% dari campuran konsentrat.

Walaupun tidak mengandung zat antinutrisi, pembatasan dilakukan

karena pemakaian dedak padi dalam jumlah besar dapat menyebabkan

susahnya pengosongan saluran pencernaan karena sifat pencahar pada

dedak. Tambahan lagi pemakaian dedak padi dalam jumlah besar dalam

campuran konsentrat dapat memungkinkan ransum tersebut mudah

mengalami ketengikan selama penyimpanan.

(36)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak

32 Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab IV Bahan Makanan Ternak Nabati

Secara kualitatif, kualitas dedak padi dapat diuji menggunakan bulk density ataupun uji apung. Bulk density dedak padi yang baik adalah 337,2–350,7 g/l. Makin banyak dedak padi yang mengapung, makin jelek kualitas dedak padi tersebut. Selain itu uji organoleptik seperti tekstur, rasa, warna, bau, dan uji sekam (flouroglusinol) dapat dipakai untuk mengetahui kualitas dedak padi yang baik. Bau tengik merupakan indikasi yang baik untuk dedak yang mengalami kerusakan.

Gambar 4 Dedak padi

Kualitas dedak padi secara kuantitatif dapat dilakukan di laborotorium menggunakan metode proksimat (Tabel 8).

Dedak padi yang berkualitas baik mempunyai protein rata-rata dalam bahan kering adalah 12,4%, lemak 13,6%, dan serat kasar 11,6%. Dedak padi menyediakan protein yang lebih berkualitas dibandingkan dengan jagung. Dedak padi kaya akan thiamin dan sangat tingi dalam niasin.

2. Pollard (dedak gandum–Triticum sativum lank)

Pollard merupakan limbah dari penggilingan gandum menjadi terigu.

Angka konversi pollard dari bahan baku sekitar 25–26%. Pollard

merupakan pakan yang popular dan penting pada pakan ternak karena

palatabilitanya cukup tinggi.

(37)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab IV Bahan Makanan Ternak Nabati 33

Pollard tidak mempunyai antinutrisi, tetapi penggunaan pollard perlu dibatasi mengingat adanya sifat pencahar yang ada pada pollard. Karena danya sifat pencahar, maka pollard akan bernilai apabila diberikan pada ternak yang baru atau setelah melahirkan. Pollard juga akan bernilai sangat baik apabila diberikan pada ternak-ternak dara.

Secara kualitatif, kualitas pollard dapat diuji menggunakan uji bulk density ataupun uji apung. Bulk density pollard adalah 208,7 g/l. Bulk density yang lebih besar atau lebih kecil dapat berarti adanya kontaminasi atau pemalsuan. Makin banyak pollard yang mengapung, makin banyak sekam yang terdapat pada pollard tersebut. Uji flouroglunicol dapat juga dipakai untuk menguji sekam pollard. Selain itu juga uji organoleptik seperti tekstur, rasa, warna, dan bau dapat dipakai untuk mengetahui pollard yang baik. Kualitas pollard secara kuantitatif dapat dilakukan di laboratorium mengunakan metode proksimat (Tabel 8).

Gambar 5 Pollard halus (giling)

Pollard merupakan salah satu pakan ternak yang populer dan nilai produksi

yang dihasilkan tampaknya lebih besar daripada yang diperkirakan dari

kandungan protein dan kecernaan nilai zat makanannya. Pemberian

pollard biasanya dicampur dengan butiran dan dengan pakan yang kaya

protein seperti bungkil-bungkilan. Pollard mempunyai nilai yang tinggi

ketika dipakai lebih dari ¼ bagian konsentrat.

(38)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak

34 Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab IV Bahan Makanan Ternak Nabati

Kualitas protein pollard lebih baik dari jagung, tetapi rendah daripada kualitas protein bungkil kedelai, susu, ikan, dan daging. Pollard kaya akan fosfor (P) feerum (fe), tetapi miskin akan kalsium (Ca). Pollard mengandung 1,29% P, tetapi hanya mengandung 0,13% Ca. Bagian terbesar dari P ada dalam bentuk phitin phospor. Pollard tidak mengandung vitamin A atau vitamin, tetapi kaya akan niasin dan thiamin.

3. Ampas Bir

Bir dibuat dari bahan baku yang terdiri atas gandum, beras, dan jagung.

Untuk setiap kilogram bahan baku akan menghasilkan limbah yang sama banyaknya, yaitu satu kilogram. Ampas bir cukup disukai ternak, sedangkan ampas segar yang telah disimpan tanpa perlakuan yang baik dapat menurunkan palatabilitas.

Ampas bir yang dibuat dari bijian yang tidak mengandung antinutrisi, maka ampas bir juga tidak mengandung antinutrisi. Ampas bir yang dibuat dari bahan baku gandum akan mempunyai sifat pencahar, sedangkan bila digunakan butiran lain yang tidak mempunyai sifat pencahar, ampas bir yang dihasilkannya pun tidak mempunyai sifat pencahar.

Secara kualitatif, kualitas tepung ampas bir dapat diuji menggunakan bulk density ataupun uji apung. Selain itu juga organoleptik seperti tekstur, rasa, warna, dan bau dapat dipakai untuk mengetahui kualitas ampas bir, analisis PK dan SK perlu dilakukan.

4. Sorgum (Shorgum bicolor)

Kulaitas sorgum hampir mirip dengan jagung (Tabel 8), walaupun ukuran butirannya lebih kecil. Proteinnya umumnya lebih tinggi daripada jagung, tetapi lemaknya lebih rendah. Kandungan metioninnya hampir sama dengan jagung, tetapi lisinnya lebih rendah.

Kandungan serat kasar shorgum cukup rendah sehingga dapat diberikan

pada unggas, tetapi bila pengunaannya menggantikan jagung perlu

diperhatikan karena sorgum tidak mempunyai xanthopyll. Penggunaan

sorgum perlu mendapatkan perhatian karena kandungan tanninnnya

yang tinggi. Diduga kandungan tannin ini dapat menyebabkan gangguan

pada ternak.

(39)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab IV Bahan Makanan Ternak Nabati 35

Gambar 6 Sorgum

5. Biji Kedelai (Glycine max)

Produksi per hektare bergantung tipe kedelai, jenis tanah, pemupukan, serta cuaca. Biji kedelai sangat disukai ternak. Pemakaian yang terlalu tinggi tanpa diikuti dengan penambahan hijauan berkualitas baik akan berdampak negatif pada kandungan vitamin A dan warna kuning lemak mentega yang dihasilkan.

Biji kedelai mengandung zat penghambat protease yang bila bergabung dengan trypsin akan membentuk senyawa kompleks yang tidak aktif.

Penghambat ini dapat menyebabkan hipertropy pada pankreas. Mode aksi dari penghambat ini adalah dihambatnya sekresi enzym pancreas.

Perlakuan pemanasan pada temperatur yang tepat (250˚F selama 2,5–3,5 menit) dapat menghancurkan bahan ini. Anti vitamin B-12 merupakan cara yang terbaik untuk menanggulangi masalah ini. Goitrogens merupakan bahan yang menghambat penyerapan yodium.

Secara kualitatif, kualitas tepung kedelai dapat diuji menggunakan bulk

density ataupun uji apung. Bulk density tepung kedelai tidak dikuliti yang

baik adalah 642,3 g/l. Makin banyak bahan yang mengambang pada uji

apung menandakan, makin banyak biji yang rusak yang terdapat pada biji

kedelai tersebut. Selain itu uji organoleptik seperti tekstur, rasa, warna,

dan bau dapat dipakai untuk mengetahui kualitas tepung kedelai yang

baik.

(40)

Pengenalan Bahan Makanan Ternak

36 Pengenalan Bahan Makanan Ternak

Bab IV Bahan Makanan Ternak Nabati

Gambar 7 Pohon Kedelai

Kualitas tepung kedelai secara kuantitatif dapat dilakukan di laboratorium menggunakan metode proksimat (Tabel 8).

Tepung kedelai mengandung protein yang tinggi dibandingkan dengan bijian lainnya yang umum dipakai untuk pakan. Kandungan protein kasar rata-rata tepung kedelai adalah 37,9%.

Tepung kedelai juga tinggi kandungan lemaknya (18%) dan rendah kandungan serat kasarnya (5%). TDN tepung kedelai lebih tinggi dari jagung. Hal ini dapat dimengerti karena tingginya kadar lemak pada kedelai. Varietas kedelai hitam mengandung lemak yang lebih rendah dari varietas kuning.

Kedelai agak rendak kandungan Ca (0,25%). Kandungan fosfor kedelai juga randah (0,59) bila dibandingkan dengan kandungan fosfor pada bungkil kapas dan gandum. Seperti halnya bijian lainnya, kedelai defisiensi vitamin D dan tidak mengandung karoten. Walaupun kedelai mengandung riboflavin yang rendah, kandungan ini masih lebih tinggi dari jagung dan oat.

6. Bungkil Kedelai

Bungkil kedelai merupakan limbah dari industri minyak biji kedelai. Bungkil

ini sangat disukai oleh ternak. Namun penggunaannya perlu diperhatikan

karena zat penghambat trypsin mungkin masih tersisa pada bungkil

kedelai yang diproduksi dengan pemakaian suhu yang rendah.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Analisis asam amino dilakukan pada bioflavor gel ikan cakalang, terdapat 16 jenis asam amino yang terdiri atas asam amino esensial (histidin, treonin, tirosin,

Asam amino esensial adalah asam amino yang tidak dapat dibuat dalam tubuh dan harus diperoleh dari makanan sumber protein yang disebut juga asam amino

Keunggulan ikan meliputi:- Mengandung protein yang berkualitas tinggi dengan jumlah yang cukup dari semuaasam amino esensial, dan rendah lemak.- Kaya akan asam lemak esensial

Protein tersusun dari sekitar 20 macam asam amino tersebut yang dapat dibedakan menjadi asam amino esensial dan asam amino nonesensial.. Asam amino esensial

Semakin dekat jenis dan jumlah asam amino dalam bahan baku pakan dengan jenis dan jumlah asam amino dalam protein telur berarti semakin baik kualitas bahan baku tersebut..

Ikan sebagai bahan makanan yang mengandung protein tinggi dan mengandung asam amino esensial yang diperlukan oleh tubuh, disamping itu nilai biolohisnya mencapai

Protein dalam telur mempunyai mutu yang tinggi, karena memiliki susunan asam amino esensial yang lengkap, sehingga dijadikan patokan untuk menentukan mutu protein dari

Komoditi hasil perikanan berperan penting dalam penyediaan bahan makanan karena mengandung protein yang cukup tinggi dan mengandung asam amino esensial yang