• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH MASALAH KECACINGAN DAN INTERVENSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MAKALAH MASALAH KECACINGAN DAN INTERVENSI"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1 MAKALAH

“MASALAH KECACINGAN DAN INTERVENSI”

Oleh:

Muhammad Fawwaz (101211132016)

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS AIRLANGGA

(2)

2 DAFTAR ISI

COVER ... 1

DAFTAR ISI ... 2

BAB I ... 3

A. LATAR BELAKANG ... 3

B. RUMUSAN MASALAH ... 3

C. TUJUAN ... 4

BAB II ... 5

A. PENGERTIAN ... 5

B. PENYEBAB ... 5

C. DAMPAK ... 6

D. FAKTOR RESIKO ... 6

E. HUBUNGAN ANTARA CACINGAN DENGAN LINGKUNGAN .... 8

F. FAKTOR PENYEBAB BERDASAR SEGITIGA EPIDEMIOLOGI ... 9

BAB III ... 12

(3)

3 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

Masalah kesehatan merupakan masalah yang kompleks yang saling berkaitan dengan masalah lain di luar kesehatan itu sendiri. Demikian pula pemecahan masalah kesehatan masyarakat, tidak hanya dilihat dari segi kesehatannya sendiri, tapi harus dilihat dari seluruh segi yang ada pengaruhnya terhadap masalah “sehat-sakit” atau kesehatan tersebut. Banyak faktor yang mempengaruhinya baik itu kesehatan individu maupun kesehatan masyarakat.

Cacing merupakan salah satu parasit pada manusia dan hewan yang sifatnya merugikan dimana manusia merupakan hospes untuk beberapa jenis cacing yang termasuk Nematoda usus. Sebagian besar dari Nematoda ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Diantara Nematoda usus tedapat sejumlah spesies yang penularannya melalui tanah (Soil Transmitted Helminths) diantaranya yang tersering adalah Ascaris lumbricoides, Necator americanus, Ancylostoma duodenale dan Trichuris trichiura.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa saja dampak kecacingan terhadap kesehatan?

2. Apa saja faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan resiko cacingan?

3. Apakah hubungan cacingan dengan lingkungan hidup?

4. Apa saja faktor penyebab cacingan berdasar host, agent, environment?

(4)

4 C. TUJUAN

1. Mengetahui dampak cacingan terhadap kesehatan.

2. Mengetahui faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan resiko cacingan.

3. Mengetahui hubungan cacingan dengan lingkungan hidup.

4. Mengetahui faktor penyebab cacingan berdasar host, agent, environment.

(5)

5 BAB II

ISI

A. PENGERTIAN

Cacing merupakan salah satu parasit pada manusia dan hewan yang sifatnya merugikan dimana manusia merupakan hospes untuk beberapa jenis cacing yang termasuk Nematoda usus. Sebagian besar dari Nematoda ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Diantara Nematoda usus tedapat sejumlah spesies yang penularannya melalui tanah (Soil Transmitted Helminths) diantaranya yang tersering adalah Ascaris lumbricoides, Necator americanus, Ancylostoma duodenale dan Trichuris trichiura.

B. PENYEBAB

Penyakit Cacingan di indonesia di sebabkan oleh Ascaris Lumbricoides, Necator Americanus, Ancylostoma Duodenale dan Trichurus Trichura.

Penyakit infeksi cacingan atau bisa pula disebut dengan penyakit cacingan sangat berkaitan erat dengan masalah hygiene dan sanitasi lingkungan. Di Indonesia masih banyak tumbuh subur penyakit cacing penyebabnya adalah hygiene perorangan sebagian masyarakat yang masih kurang.

Kebanyakan penyakit cacing ditularkan melalui tangan yang kotor. Kuku

jemari tangan yang kotor dan panjang sering terselipi telur cacing karena

kebiasaan anak bermain ditanah. Orang dewasa bekerja di kebun, dan

disawah.

(6)

6 C. DAMPAK

Kecacingan jarang sekali menyebabkan kematian secara langsung, namun sangat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Infeksi cacing gelang yang berat akan menyebabkan malnutrisi dan gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak-anak. Infeksi cacing tambang (Ancylostoma duodenale danNecator americanus) mengakibatkan anemia defesiensi besi, sedang menimbulkan morbiditas yang tinggi (Soedarto, 1999).

Berbagai penelitian membuktikan bahwa sebagian kalori yang dikonsumsi manusia tidak dimanfaatkan badan karena adanya parasit dalam tubuh.

Pada infeksi ringan akan menyebabkan gangguan penyerapan nutrien lebih kurang 3% dari kalori yang dicerna, pada infeksi berat 25% dari kalori yang dicerna tidak dapat dimanfaatkan oleh badan. Infeksi Ascaris

lumbricoides yang berkepanjangan dapat menyebabkan kekurangan kalori protein dan diduga dapat mengakibatkan defisiensi Vitamin A. Pada infeksi Trichuris trichiura berat sering dijumpai diare darah, turunnya berat badan dan anemia. Diare pada umumnya berat sedangkan eritrosit di bawah 2,5 juta dan hemoglobin 30% di bawah normal. Anemia berat ini dapat terjadi karena infeksi Trichuris trichiura mampu menghisap darah sekitar 0,005 ml/hari/cacing Infeksi cacing tambang umumnya berlangsung secara menahun, cacing tambang ini sudah dikenal sebagai penghisap darah.

Seekor cacing tambang mampu menghisap darah 0,2 ml per hari. Apabila terjadi infeksi berat, maka penderita akan kehilangan darah secara perlahan dan dapat menyebabkan anemia berat.

D. FAKTOR RESIKO

Faktor-faktor risiko(Risk faktor) yang dapat mempengaruhi terjadinya penyakit cacingan yang penyebarannya melalui tanah antara lain:

1. Lingkungan

Penyakit cacingan biasanya terjadi dilingkungan yang kumuh terutama didaerah

kota atau daerah pinggiran. Jumlah prevalensi Ascaris lumbricoides

(7)

7

banyak ditemukan di daerah perkotaan, dan jumlah prevalensi tertinggi ditemukan didaerah pinggiran atau pedesaan yang masyarakatnya sebagian besar masih hidup dalam kekurangan.

[25]

2. Tanah

Penyebaran penyakit cacingan dapat melalui terkontaminasinya tanah dengan tinja yang mengandung telur Trichuris trichiura, telur tumbuh dalam tanah liat yang lembab dan tanah dengan sushu optimal ± 30-C.

Tanah liat dengan kelembaban tinggi dan suhu yang berkisar antara 25

0

C- 30

0

C sangat baik untuk berkembangnya telur Ascaris lumbricoides sampai menjadi bentuk infektif. Sedangakan untuk pertumbuhan larva Necator americanus yaitu memerlukan suhu optimum 28

0

C-32

0

C dan tanah gembur seperti pasir atau humus, dan untuk Ancylostoma duodenale lebih rendah yaitu 23

0

C-25

0

C tetapi umumnya lebih kuat.

[3]

3. Iklim

Penyebaran Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura yaitu didaerah tropis karena tingkat kelembabannya cukup tinggi. Sedangkan untuk Necator americanus dan Ancylostoma duodenale penyebarannya paling banyak didaerah panas dan lembab. Lingkungan yang paling cocok sebagai habitat dengan suhu dan kelembaban yang tinggi terutama didaerah perkebunan dan pertambangan).

[17]

4. Perilaku

Perilaku mempengaruhi terjadinya infeksi cacingan yaitu ditularkan lewat tanah. Anak-anak paling sering terserang penyakit cacingan karena biasanya jari- jari tangan mereka dimasukkan kedalam mulut, atau makan nasi tanpa cuci tangan.

[14]

5. Sosial Ekonomi

Sosial ekonomi mempengaruhi terjadinya cacingan yaitu faktor sanitasi yang buruk berhubungan dengan sosial ekonomi yang rendah.

[25]

6. Status Gizi

Cacingan dapat mempengaruhi pemasukan (intake), pencernaan (digestif),

penyerapan (absorbsi), dan metabolisme makanan. Secara keseluruhan

infeksi cacingan dapat menimbulkan kekurangan zat gizi berupa kalori dan

dapat menyebabkan kekurangan protein serta kehilangan dan produktifitas

(8)

8

kerja, juga berpengaruh besar dapat menurunkan ketahanan tubuh sehingga mudah terkena penyakit lainnya.

E. HUBUNGAN ANTARA CACINGAN DENGAN LINGKUNGAN

Sanitasi adalah usaha untuk membina dan menciptakan suatu keadaan yang baik dibidang kesehatan terutama kesehatan masyarakat.

Sedangkan menurut Budioro.B. Sanitasi adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitik beratkan pada pengawasan terhadap berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia. Jadi lebih baik mengutamakan usaha pencegahan terhadap berbagai faktor lingkungan sehingga dapat menghindari munculnya berbagai penyakit.

1) Kepemilikan jamban

Bertambahnya penduduk yang tidak seimbang dengan area

pemukiman timbul masalah yang disebabkan pembuangan kotoran

manusia yang meningkat. Penyebaran penyakit yang bersumber pada kotoran manusia (feaces) dapat melalui berbagai macam jalan atau cara.

2) Lantai rumah

Rumah sehat secara sederhana yaitu bangunan rumah harus cukup kuat, lantainya mudah dibersihkan. Lantai rumah dapat terbuat dari :

Ubin, plesteran, dan tanah yang didapatkan. Sedangakan menurut Soekidjo Notoatmodjo syarat-syarat rumah yang sehat jenis lantai yang tidak berdebu pada musim kemarau dan tidak basah pada musim penghujan.

Lantai rumah dapt terbuat dari: ubin atau semen, kayu, dan tanah yang disiram kemudian dipadatkan.

3) Ketersediaan air bersih

air sehat adalah air bersih yang dapat digunakan untuk kegiatan manusia dan harus terhindar dari kuman-kuman penyakit dan bebas dari bahan-bahan kimia yang dapat mencemari air bersih tersebut, sehingga orang yang memanfaatkan air bersih tidak menjadi sakit. Akibat air yang tidak sehat dapat menimbulkan gangguan kesehatan seperti:

a) Penyakit perut (kolera, diare, disentri, keracunan, dan penyakit perut lainnya).

b) Penyakit cacingan (cacing pita, cacing gelang, cacing kremi, demam

(9)

9 keong, kaki gajah).

Air yang bersih dapat dilihat dari ciri fisiknya yaitu: air titak boleh berwarna harus jernih atau bening sampai kelihatan dasar tempat air itu dan tidak boleh keruh harus bebas dari pasir, debu, lumpur, sampah, busa, dan kotoran lainnya. Air juga tidak boleh berbau harus bebas dari bahan kimia industri maupun bahan kimia rumah tangga seperti bau busuk, dan bau belerang.

F. FAKTOR PENYEBAB BERDASAR SEGITIGA EPIDEMIOLOGI

a. AGENT

Agent merupakan penyebab penyakit, dapat berupa makhluk hidup maupun tidak hidup. Agent penyakit cacingan ini tentu saja adalah cacing.

b.HOST

Host atau penjamu ialah keadaan manusia yang sedemikan rupa sehingga menjadi faktor risiko untuk terjadinya suatu penyakit. Manusia merupakan satu-satunya host bagi E. vermicularis. Manusia terinfeksi bila menelan telur infektif. Telur akan menetas di dalam usus dan berkembang menjadi dewasa dalam caecum, termasuk appendix (Mandell et al., 1990). Faktor penjamu yang biasanya menjadi faktor untuk timbulnya suatu penyakit sebagaiberikut:

•Umur

Anak-anak lebih rentan terkena penyakit cacingan. Data departemen kesehatan (1997) menyebutkan, prevalensi anak usia SD 60 – 80% dan dewasa 40 – 60% (Kompas, 2002). Cacing ini sebagian besar menginfeksi anak-anak, meski tak sedikit orang dewasa terinfeksi cacing tersebut.

Semua umur dapat terinfeksi cacing ini dan prevalensi tertinggi terdapat

pada anak-anak.

•JenisKelamin

Prevalensi menurut jenis kelamin sangat erat hubungannya dengan

(10)

10

pekerjaan dan kebiasaan penderita. Distrik Mae Suk, Provinsi Chiangmai Thailand ditemukan anak laki-laki lebih banyak yaitu sebesar 48,8%

dibandingkan dengan anak perempuan yang hanya 36,9% pada umur 4,58

± 2,62 tahun (Chaisalee et al., 2004). Sedangkan di Yogyakarta infeksi cacing lebih banyak ditemui pada penderita laki-laki dibandingkan penderitaperempuan.

•Kebiasaan hidup dan kehidupan sosial dari host sendiri Penyakit ini sangat erat hubungannya dengan keadaan sosial-ekonomi, kebersihan diri dan lingkungan. Tingkat infeksi kecacingan juga dipengaruhi oleh jenis aktivitas atau pekerjaan. Semakin besar aktivitas yang berhubungan atau kontak langsung dengan lingkungan terbuka maka semakin besar kemungkinan untuk terinfeksi. Selain itu, prevalensi kecacingan yang berhubungan dengan status ekonomi dan kebersihan lingkungan diteliti di Cirebon, Jabar. Ternyata prevalensi kecacingan semakin tinggi pada kelompok sosial ekonomi kurang dan kebersihan lingkungan buruk, dibandingkan kelompok sosial ekonomi dan kebersihan lingkungan yang sedang dan baik (Tjitra, 1991).

c.ENVIRONMENT

Faktor lingkungan adalah faktor yang ketiga sebagai penunjang terjadinya penyakit cacingan. Hal ini karena faktor ini datangnya dari luar atau biasa disebut dengan faktor ekstrinsik. Faktor lingkungan ini dapat dibagi menjadi:

 LingkunganFisik

Yang dimaksud dengan lingkungan fisik adalah yang berwujud geogarfik dan musiman. Lingkungan fisik ini dapat bersumber dari udara, keadaan tanah, geografis, air sebagai sumber hidup dan sebagai sumber penyakit,

Zat kimia atau polusi, radiasi, dll.

Infeksi cacing terdapat luas di seluruh Indonesia yang beriklim tropis, terutama di pedesaan, daerah kumuh, dan daerah yang padat penduduknya.

Cacingan merupakan penyakit khas daerah tropis dan subtropis , dan

biasanya meningkat ketika musim hujan. Pada saat tersebut , sungai dan

kakus meluap, dan larva cacing bersentuhan dan masuk ke dalam tubuh

(11)

11

manusia. Larva cacing yang masuk ke dalam tubuh perlu waktu 1-3

minggu untuk berkembang.

 LingkunganSosialEkonomi

Yang termasuk dalam faktor lingkungan soial ekonomi adalah sistem

ekonomi yang berlaku yang mengacu pada pekerjaan sesorang dan

berdampak pada penghasilan yang akan berpengaruh pada kondisi

kesehatannya. Selain itu juga yang menjadi masalah yang cukup besar

adalah terjadinya urbanisasi yang berdampak pada masalah keadaan

kepadatan penduduk rumah tangga, sistem pelayanan kesehatan setempat,

kebiasaan hidup masyarakat, bentuk organisasi masyarakat yang

kesemuanya dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan terutama

munculnya bebagai penyakit cacingan.

(12)

12 BAB III PENUTUP Kesimpulan

Cacing merupakan salah satu parasit pada manusia dan hewan yang sifatnya merugikan dimana manusia merupakan hospes untuk beberapa jenis cacing yang termasuk Nematoda usus. Penyakit Cacingan di indonesia di sebabkan oleh Ascaris Lumbricoides, Necator Americanus, Ancylostoma Duodenale dan Trichurus Trichura. penyebab penyakit, dapat berupa makhluk hidup maupun tidak hidup. Agent penyakit cacingan ini tentu saja adalah cacing.

Host atau penjamu ialah keadaan manusia yang sedemikan rupa sehingga menjadi faktor risiko untuk terjadinya suatu penyakit. Manusia merupakan satu- satunya host bagi E. vermicularis. Manusia terinfeksi bila menelan telur infektif.

Telur akan menetas di dalam usus dan berkembang menjadi dewasa dalam caecum, termasuk appendix .

lingkungan fisik adalah yang berwujud geogarfik dan musiman. Lingkungan fisik ini dapat bersumber dari udara, keadaan tanah, geografis, air sebagai sumber hidup dan sebagai sumber penyakit

faktor lingkungan soial ekonomi adalah sistem ekonomi yang berlaku yang

mengacu pada pekerjaan sesorang dan berdampak pada penghasilan yang akan

berpengaruh pada kondisi kesehatannya. Selain itu juga yang menjadi masalah

yang cukup besar adalah terjadinya urbanisasi yang berdampak pada masalah

keadaan kepadatan penduduk rumah tangga, sistem pelayanan kesehatan setempat,

kebiasaan hidup masyarakat, bentuk organisasi masyarakat yang kesemuanya

dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan terutama munculnya bebagai

penyakit cacingan.

Referensi

Dokumen terkait

Pengeluaran rumah tangga Indonesia untuk tembakau termasuk besar dan berdampak penting terhadap tingkat kemiskinan masyarakat.Pada tahun 2005, rumah tangga dengan perokok

Pendapatan rumah tangga penduduk di dalam kawasan lebih besar dibandingkan pendapatan rumah tangga penduduk di luaar kawasan industri pengolahan hasil pertanian (2)

Konflik peran ganda dialami wanita yang bekerja tidak hanya berdampak pada perannya sebagai seorang ibu rumah tangga rumah tetapi juga berdampak besar pada

Gambaran lebih lengkap mengenai jumlah rumah tangga, penduduk, luas dan kepadatan penduduk di Kabupaten Lamandau pada Tahun 2015 adalah sebagaimana pada Tabel berikut:.

Pada umumnya jika kepadatan bangunan suatu wilayah cukup padat, kemungkinan terjadinya kebakaran lebih besar dibandingkan dengan kawasan yang tidak memiliki

RESUME PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2013 Luas Wilayah, Jumlah Desa/Kelurahan, Jumlah Penduduk, Jumlah Rumah Tangga, dan Kepadatan Penduduk Menurut Kabupaten/Kota

RESUME PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2012 Luas Wilayah, Jumlah Desa/Kelurahan, Jumlah Penduduk, Jumlah Rumah Tangga, dan Kepadatan Penduduk Menurut Kabupaten/Kota

iv DAFTAR LAMPIRAN TABEL Tabel 1 Luas Wilayah, Jumlah Desa/Kelurahan, Jumlah Penduduk, Jumlah Rumah Tangga dan Kepadatan Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Tabel 2 Jumlah Penduduk