• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA DALAM PENERAPAN OPEN EDUCATIONAL RESOURCES (OER) SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERAN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA DALAM PENERAPAN OPEN EDUCATIONAL RESOURCES (OER) SKRIPSI"

Copied!
71
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA DALAM PENERAPAN OPEN EDUCATIONAL

RESOURCES (OER)

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan Studi untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Informasi (S.S.I) dalam bidang Studi Ilmu

Perpustakaan dan Informasi

Oleh :

MUSTIKA LISTARINA BERU KARO 170723016

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU BUDAYA

PROGRAM STUDI ILMU PERPUSTAKAAN MEDAN

2019

(2)
(3)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Skripsi : Peran Perpustakaan Universitas Sumatera Utara Dalam Penerapan Open Educational Resources (OER)

Oleh : Mustika Listarina Beru Karo

NIM : 170723016

PROGRAM STUDI ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI

Ketua : Dra. Eva Rabita, M.Hum.

NIP : 19560331 198603 2 001

Tanda Tangan :

____________________

Tanggal : 28 Agustus 2019

FAKULTAS ILMU BUDAYA

Dekan : Dr. Budi Agustono, M.S.

NIP : 19600805 198703 1 001

Tanda Tangan :

____________________

Tanggal : 28 Agustus 2019

(4)

PERNYATAAN ORISINALITAS

Karya ini adalah karya orisinalitas dan belum pernah disajikan sebagai suatu tulisan untuk memperoleh suatu klasifikasi tertentu atau dimuat pada media publikasi lain.

Penulis membedakan dengan jelas antara pendapat atau gagasan penulis dengan pendapat atau gagasan yang bukan berasal dari penulis dengan mencantumkan tanda kutip.

Medan, 28 Agustus 2019 Penulis,

Mustika Listarina Br.Karo Nim: 170723016

(5)

ABSTRAK

Karo, Mustika Listarina Beru. 2019. “Peran Perpustakaan Universitas Sumatera Utara Sebagai Open Educational Resources (OER)”. Medan : Departemen Studi Ilmu Perpustakaan Dan Informasi, Universitas Sumatera Utara.

Penelitian ini dilakukan di Universitas Sumatera Utara (USU) yang beralamat di Jln. Perpustakaan No. 1, Padang Bulan, Kampus USU, Medan 20121, Indonesia.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Peran Perpustakaan Universitas Sumatera Utara sebagai Open Educational Resources (OER). Jenis penelitian ini adalah penelitian Deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah pengguna aktif perpustakaan Universitas Sumatera Utara yang berjumlah 55496 orang dan jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 100 mahasiswa.

Pengambilan jumlah sampel penelitian ini menggunakan rumus Slovin. Teknik penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik proportionate stratified random sampling dan teknik sampling aksidental.

Hasil penelitian ini menunjukkan pada umumnya (90%) mahasiswa menyatakaan bahwa mencari informasi pada e-book dan e-journal sudah relevan, pada umumnya (86%) mahasiswa menyatakaan koleksi e-book dan e-journal memiliki judul yang beragam, sebagian besar (53%) mahasiswa menyatakaan bahwa mencari informasi pada e-book dan e-journal kadang-kadang terpenuhi, hampir setengahnya (40%) mahasiswa menyatakaan e-Journal sebagai E- Resources yang dikenal dalam penggunaannya, setengahnya (50%) mahasiswa menyatakan e-Journal adalah E-Resources yang sering digunakan dalam mencari informasi, setengahnya (50%) mahasiswa menyatakan Teman yang membantu dalam menggunakan E-Resources, hampir setengahnya (41%) mahasiswa menyatakan 1-2 jam dalam menggunakan fasilitias e-Book dan e-Journal, sebagian besar (57%) mahasiswa menyatakan tidak pernah mencari informasi mengenai ensiklopedia, sebagian besar (70%) mahasiswa menyatakan tidak pernah mencari informasi mengenai arsip, hampir setengah (37%) mahasiswa menyatakan lebih dari 7 hari yang lalu menggunakan e-book untuk mencari informasi, sebagian besar (59%) mahasiswa menyatakan perpustakaan USU perlu memperkenalkan fasilitas e-resources, sebagian besar (63%) mahasiswa menyatakan informasi dalam library.usu.ac.id sebagian besar dapat diandalkan, hampir setengahnya (44%) mahasiswa menyatakan Laptop/Notebook/Netbook sebagai alat yang sering digunakan dalam penelusuran, pada umumnya (79%) mahasiswa menyatakan penggunaan library.usu.ac.id berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar dan pada umumnya (53%) mahasiswa menyatakan penggunaan library.usu.ac.id berpengaruh dalam berinteraksi dengan dosen.

Kata kunci: Peran Perpustakaan, Open Educational Resources (OER)

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi yang berjudul “PERAN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA SEBAGAI OPEN EDUCATIONAL RESOURCE (OER)”. Penulisan skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan studi untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Informasi (S.S.I) dalam bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi.

Selama perkuliahan sampai dengan menyelesaikan Skripsi ini, penulis banyak memperoleh bimbingan, dorongan semangat, nasehat dan bantuan, baik berupa materil, spiritual, informasi dari semua pihak. Oleh karena itu, sudah selayaknya penulis menyampaikan terimakasih banyak kepada:

1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S. selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dra. Eva Rabita, M.Hum, selaku Ketua Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Laila Hadri Nasution, S.Sos., M.P. selaku Dosen Penasehat Akademik dan Dosen Pembimbing Penulis yang telah banyak memberikan arahan, bimbingan dan saran-saran mulai dari awal hingga akhir skripsi ini dapat terselesaikan.

4. Ibu Dra. Zaslina Zainuddin, M.Pd. selaku Dosen Penguji I yang telah memberikan koreksi dan masukan dalam perbaikan skripsi ini.

(7)

5. Ibu Himma Dewiyana, S.T.,M.Hum. selaku Dosen Penguji II yang telah memberikan koreksi dan masukan dalam perbaikan skripsi ini.

6. Seluruf staff Perpustakaan Universitas Sumatera Utara yang telah banyak memberikan informasi bagi penulis dalam hal penyelesaian skripsi ini.

7. Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Kedua orang tua saya, Ayahanda AKP (Purn) Sabbina Karo-Karo dan Ibunda Lilis Hartati terima kasih telah memberikan dukungan moral dan semangat dalam penyelesaian skripsi ini.

8. Buat GM Terima kasih banyak buat dukungannya dan buat teman-teman Ekstensi Stambuk 2017 yang tidak bisa disebutkan namanya satu-persatu.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah turut membantu dalam penyusunan skripsi ini, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Medan, 28 Agustus 2019

Penulis,

Mustika Listarina Beru Karo Nim: 170723016

(8)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Tujuan Penelitian ... 4

1.4 Manfaat Penelitian ... 4

1.5 Ruang Lingkup Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN MASALAH ... 6

2.1 Peran Perpustakaan Perguruan Tinggi ... 6

2.2 Open Educational Resources (OER) ... 8

2.2.1 Sejarah dan Pengembangan OER ... 11

2.2.2 Manfaat Pendidikan terbuka dan OER ... 13

2.2.3 Tantangan Penggunaan OER ... 14

2.2.4 Jenis OER ... 16

2.3 Membuat dan mengembangkan OER ... 17

2.4 Menemukan dan menggunakan OER ... 19

2.4.1 Menemukan OER ... 19

2.4.2 Menggunakan OER ... 21

2.5 Penilaian Kualitas OER ... 22

2.6 Dampak OER ... 23

BAB III METODE PENELITIAN ... 25

3.1 Metode Penelitian ... 25

3.2 Lokasi Penelitian ... 26

3.3 Populasi dan Sampel ... 26

3.3.1 Populasi ... 26

3.3.2 Sampel ... 26

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 28

(9)

3.5 Jenis dan Sumber Data ... 28

3.6 Instrumen Penelitian ... 29

3.7 Kisi-kisi Kuesioner... 29

3.8 Teknik Analisis Data ... 30

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 32

4.1 Identitas Responden ... 32

4.2 Analisis Deskriptif ... 34

4.2.1 Tanggapan Responden terhadap peran Perpustakaan Universitas Sumatera Utara sebagai Open Educational Resources (OER) ... 34

4.2.1.1 Digital learning objects (Objek pembelajaran digital) ... 34

4.2.1.2 Digitised object libraries (Digitalisasi objek Perpustakaan) ... 36

4.2.1.3 OER encyclopedias (Ensiklopedia OER) ... 40

4.2.1.4 Open online archives (Arsip online terbuka) ... 41

4.2.1.5 Open textbooks (Buka buku teks) ... 42

4.2.1.6 OER Courses (Kursus OER) ... 43

4.2.1.7 Open course archives (Arsip kursus terbuka) ... 45

4.2.1.8 Online tools that support the open community (Alat online yang mendukung komunitas terbuka) ... 46

4.2.1.9 Rangkuman Hasil Penelitian ... 49

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 51

5.1 Kesimpulan ... 51

5.2 Saran ... 52

DAFTAR PUSTAKA ... 54

LAMPIRAN ... 56

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Tantangan OER untuk institusi pendidikan tinggi ... 15

Tabel 3.1 Kisi-Kisi Kuesioner ... 29

Tabel 4.1 I dentitas Responden ... 32

Tabel 4.2 Analisis Deskriptif ... 34

Tabel 4.2.1 Tanggapan Responden terhadap peran Perpustakaan Universitas Sumatera Utara sebagai Open Educational Resources (OER) ... 34

Tabel 4.2.1.1 Digital learning objects (Objek pembelajaran digital) ... 34

Tabel 4.2.1.2 Digitised object libraries (Digitalisasi objek Perpustakaan) ... 36

Tabel 4.2.1.3 OER encyclopedias (Ensiklopedia OER) ... 40

Tabel 4.2.1.4 Open online archives (Arsip online terbuka) ... 41

Tabel 4.2.1.5 Open textbooks (Buka buku teks) ... 42

Tabel 4.2.1.6 OER Courses (Kursus OER) ... 43

Tabel 4.2.1.7 Open course archives (Arsip kursus terbuka) ... 45

Tabel 4.2.1.8 Online tools that support the open community (Alat online yang mendukung komunitas terbuka) ... 46

Tabel 4.2.1.9 Rangkuman Hasil Penelitian ... 49

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I : Kuesioner Penelitian Lampiran II : Tabulasi Hasil Jawaban

(12)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada era revolusi industri 4.0 perkembangan teknologi dalam berbagai bidang merupakan fenomena yang tak dapat terhindarkan. Penyebaran kemajuan teknologi terjadi setiap aspek kehidupan seperti aspek sosial, ekonomi, budaya, dan lain sebagainya. Perkembangan teknologi ini pun terjadi dalam dunia pendidikan. Sekarang ini dapat kita lihat didalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran tidak hanya dilakukan di dalam kelas tetapi dapat dilakukan di luar kelas. Contohnya adalah sumber pembelajaran online, salah satu alternatif sumber belajar yang dapat digunakan oleh pengguna dalam menunjang proses belajar mengajar yaitu Open Educational Resources (OER). Open Educational Resources yang jika diterjemahkan sumber pembelajaran terbuka merupakan salah satu alternatif yang sangat direkomendasikan oleh United Nations Educational, Scientific and cultural Organization (UNESCO) sejak tahun 2002 sebagai sumber belajar terbuka yang dapat dimanfaatkan baik untuk peserta didik maupun pendidik dalam proses belajar mengajar. Secara sederhana Open Educational Resources (OER) dapat digunakan untuk pengajaran, pembelajaran, penelitian dan berbagai keperluan lain.

Di dalam pembelajaran dan pengajaran peran perpustakan sangat dibutuhkan karena perpustakaan merupakan salah satu unsur penting dalam setiap program pendidikan, pengajaran dan penelitian bagi suatu lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan. Hasugian (2009) menyatakan perpustakaan perguruan tinggi adalah perpustakaan yang dikelola oleh perguruan tinggi dengan tujuan

(13)

membantu terpenuhinya tujuan perguruan tinggi. Perpustakaan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan tinggi yang layanannya diperuntukkan sivitas akademika perguruan tinggi yang bersangkutan.

Selanjutnya dalam UU No. 43 tahun 2007 pasal 24 dinyatakan bahwa: (1) setiap perguruan tinggi menyelengarakan perpustakaan yang memenuhi standar nasional perpustakaan dengan memperhatikan Standar Nasional Pendidikan. (2) Perpustakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki koleksi, baik jumlah judul maupun jumlah eksemplarnya, yang mencakupi untuk mendukung pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. (3) Perpustakaan perguruan tinggi mengembangkan layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. (4) setiap perguruan tinggi mengalokasikan dana untuk pengembangan perpustakaan sesuai dengan peraturan perundang- undangan guna memenuhi standar nasional pendidikan dan standar nasional perpustakaan. Jadi tujuan perpustakaan perguruan tinggi adalah untuk memberikan layanan informasi untuk kegiatan belajar, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam rangka melaksanakan tri dharma perguruan tinggi.

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 pasal 79 ayat 4 tentang Pendidikan Tinggi, Pemerintah mengembangkan sumber pembelajaran terbuka yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh Sivitas Akademika.

Perpustakaan perguruan tinggi bisa menyediakan bahan pustaka bersifat Open Educational Resources (OER) atau Sumber Pembelajaran Terbuka agar pengguna perpustakaan perguruan tinggi semakin mudah dalam mencari

(14)

informasi yang dibutuhkan, kemajuan teknologi sekarang ini membuat para pengguna harus semakin update mendapatkan informasi yang relevan.

Tujuan Open Educational Resources sebagai Learning object / resources:

objek / sumber belajar yang dibuat untuk tujuan pembelajaran yang tersedia dan dapat digunakan kembali (learning object available and reusable), seperti:

Dokumen multimedia, Simulasi. Artical, textbooks, and digital equivalents:

termasuk segala hal yang disediakan oleh perpustakaan, seperti artikel, makalah, buku dan jurnal yang tersedia secara bebas dan terhubung dengan konsep Open Access. Software tools: segala macam alat / aplikasi perangkat lunak yang digunakan untuk berbagai tujuan, seperti memproduksi, mengedit sumber belajar, untuk komunikasi dan kolaborasi atau disebut dengan Open Sources / Free Software. Instructional/didactical designs and experiences: desain instruksional, rencana pelajaran, studi kasus, kurikulum, pengalaman tentang materi dan pelajaran antara rekan kerja. Hal ini bisa disebut Open Educational Practices.

Asets: Sumber daya sederhana (gambar, tautan, teks pendek), yang dapat mendukung atau mengilustrasikan topik tertentu dalam pembelajaran, yang dapat ditemukan dalam mesin pencari (search engine).

Perpustakaan Universitas Sumatera Utara dapat di akses secara online melalui laman library.usu.ac.id. Pengguna perpustakaan dapat mencari informasi melalui sumber yang tersedia berupa eBooks, eJournals, Repository institusi, Resources Guides. Perpustakaan juga sedang merancang tutorial online untuk penggunaan e-jurnal yang dapat di lihat di panduan menu bantuan e-tutorial yang sudah tersedia di laman web. Berdasarkan observasi awal peneliti menemukan

(15)

adanya masalah pada pencarian informasi berupa eBooks, eJournals, Repository institusi, Resources Guides yang terdapat pada indikator Digital learning objects (Objek pembelajaran digital) dimana saat melakukan penelusuran untuk mencari informasi pengguna masih sulit untuk mendapatkan informasi tersebut.

Setelah melakukan penelitian awal dan mendapatkan informasi sebagaimana diuraikan di atas peneliti tertarik untuk meneliti lebih mendalam dengan menentukan judul yaitu “Peran Perpustakaan Universitas Sumatera Utara Dalam Penerapan Open Educational Resources (OER).”

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas adapun masalah yang terdapat dalam penelitian ini adalah: “Bagaimanakah peran Perpustakaan Universitas Sumatera Utara dalam penerapan Open Educational Resources (OER)?”

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: untuk mengetahui peran Perpustakaan Universitas Sumatera Utara dalam penerapan Open Educational Resources (OER).

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat Penelitian ini adalah:

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai Peran Perpustakaan sebagai pusat pengembang Open Educational Resources (OER).

(16)

2. Manfaat Praktis

1) Bagi Perpustakaan Universitas Sumatera Utara sebagai bahan masukan untuk mengembangkan layanan perpustakaan menjadi Open Educational Resources (OER).

2) Bagi Peneliti: untuk menambah wawasan peneliti mengenai peran Perpustakaan Universitas Sumatera Utara sebagai pusat Open Educational Resources.

3) Bagi Peneliti Selanjutnya: sebagai bahan referensi untuk membahas masalah penelitian yang sama dan menambah pengetahuan pembaca.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian membahas peran perpustakaan sebagai Open Educational Resources (OER) yang meliputi: 1. Digital learning objects (Objek pembelajaran digital), 2. Digitised object libraries (Digitalisasi objek Perpustakaan), 3. OER encyclopaedias (Ensiklopedia OER), 4. Open online archives (Arsip online terbuka), 5. Open textbooks (Buka buku teks), 6. OER Courses (kursus OER), 7. Open course archives (Arsip kursus terbuka), 8. Online tools that support the open community (Alat online yang mendukung komunitas terbuka).

(17)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Peran Perpustakaan Perguruan Tinggi

Perpustakaan perguruan tinggi sangat berperan dalam penyelenggaraan pendidikan karena dengan adanya perpustakaan yang dikelola dengan baik, dapat menyumbang sumber informasi yang lengkap bagi pemustakanya. Perkembangan pendidikan yang semakin maju membuat peran perpustakaan perguruan tinggi harus dapat memenuhi kebutuhan informasi sivitas akademik.

UU No. 43 tahun 2007 pasal 12 dinyatakan bahwa: (1) koleksi perpustakaan diseleksi, diolah, disimpan, dilayankan, dan dikembangkan sesuai dengan kepentingan pemustaka dengan memperhatikan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. (2) pengembangan koleksi perpustakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan standar nasional peprustakaan.

(3) bahan perpustakaan yang dilarang berdasarkan peraturan perundang-undang disimpan sebagai koleksi khusus Perpustakaan Nasional. (4) koleksi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (3) digunakan secara terbatas. (5) ketentuan lebih lanjut mengenai penyimpanan koleksi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan penggunaan secara terbatas sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Menurut Saleh (2011), “Peran perpustakaan adalah sebagai penghubung (liason) antara pakar teknologi tepat guna dengan masyarakat pemustaka yang membutuhkan bimbingan teknis”. Perpustakaan merupakan salah satu sarana dalam mendukung proses pembelajaran di perguruan tinggi. Perpustakaan

(18)

berperan aktif memenuhi kebutuhan informasi mahasiswa dalam menjalankan proses pembelajaran.

Sedangkan menurut Brophy (2000), “Dimana perpustakaan saat ini tidak hanya berperan dalam menyimpan dan mendistribusikan informasi secara fisik, namun juga berperan dalam penyediaan akses terhadap sumber informasi yang ada di perpustakaan”.

Perpustakaan dalam menunjang pendidikan di lingkungan perguruan tinggi, juga harus mampu menjalankan perannya dengan maksimal. Perpustakaan berperan dalam proses memilih, menghimpun, mengolah, merawat serta memberikan informasi kepada seluruh sivitas akademika. Sesuai dengan yang dinyatakan oleh Saleh (1995) bahwa perpustakaan perguruan tinggi berperan sebagai pusat salah satu unit sarana kelengkapan pusat perguruan tinggi yang bersifat akademik dalam menunjang dharma pendidikan dan pengajaran, sehingga untuk itu perpustakaan mengumpulkan, mengolah, menyediakan serta menyebarluaskan informasi sesuai dengan kurikulum di perguruan tinggi.

Revolusi teknologi informasi sangat berperan dalam dunia perpustakaan.

Perpustakaan yang dulunya pasif menjadi lebih aktif dalam berinteraksi dengan penggunanya. Perkembangan teknologi informasi yang terjadi sangatlah pesat.

Hampir semua aspek kehidupan telah dimasuki oleh teknologi. Perkembangan teknologi memberi kemudahan dan kecepatan dalam memperoleh informasi dan menuntut perubahan pola pikir. Sifat dari perpustakaan perguruan tinggi adalah memberikan akses informasi secara bebas bagi sivitas akademika. Perpustakaan perguruan tinggi pada masa ini telah dilengkapi dengan bahan-bahan koleksi

(19)

audiovisual, koleksi khusus, pelayanan informasi dan referensi, serta pelayanan penelusuran informasi melalui indeks dan abstrak, bahkan menggunakan sistem online dalam pelayanannya.

Berdasarkan uraian di atas dapat dinyatakan bahwa perpustakaan sebagai penyedia akses terhadap sumber informasi yang ada di perpustakaan dan membantu dalam memenuhi kebutuhan informasinya.

2.2 Open Educational Resources (OER)

Pada era revolusi industri 4.0 perkembangan teknologi dalam berbagai bidang merupakan fenomena yang tak dapat terhindarkan. Penyebaran kemajuan teknologi berkaitan dengan aspek kehidupan seperti aspek sosial, ekonomi, budaya, dan lain sebagainya. Perkembangan teknologi ini pun terjadi di dunia pendidikan. Kegiatan pembelajaran tidak hanya dilakukan di dalam kelas tetapi dapat dilakukan di luar kelas. Contohnya adalah sumber pembelajaran online, salah satu alternatif sumber belajar yang dapat digunakan oleh pengguna dalam menunjang proses belajar mengajar yaitu Open Educational Resources (OER).

Open Educational Resources yang jika terjemahkan sumber belajar terbuka yang dapat dimanfaatkan baik untuk peserta didik maupun pendidik dalam proses belajar mengajar.

Pada Tahun 2002 UNESCO mendefinisikan “Open Educational Resources (OER) are teaching, learning and research materials in any medium – digital or otherwise – that reside in the public domain or have been released under an open license that permits no-cost access, use, adaptation and redistribution by others with no or limited restrictions.” Artinya Open

(20)

Educational Resources (OER) adalah Materi pengajaran, pembelajaran dan penelitian dalam media apa pun-digital atau lainnya - yang berada di domain public atau telah dirilis di bawah lisesi terbuka yang memungkinkan akses, penggunaan, adaptasi, dan redistribusi tanpa biaya oleh orang lain dengan tidak ada batasan atau terbatas.

Senada dengan UNESCO, The William and Flora Hewlett Foundation (2015) mendefinisikan OER sebagai berikut:

OER are teaching, learning and research resources that reside in the public domain or have been released under an intellectual property license that permints their free use or re-purposing by others. Open educational resources include full courses, course materials, modules, textbooks, streaming videos, test, software, and any other tools, material or techniques used to support access to knowledge. Artinya OER adalah sumber pengajaran, pembelajaran, dan penelitian yang berada di domain publik atau telah dirilis di bawah lisensi kekayaan intelektual yang memungkinkan penggunaan gratis mereka dan maksud ulang oleh orang lain. Sumber daya pendidikan terbuka mencakup kursus lengkap, materi pelajaran, modul, buku teks, video streaming, tes, perangkat lunak, dan alat, materi, atau teknik lain yang digunakan untuk mendukung akses ke pengetahuan.

Dari definisi di atas dapat diketahui bahwa OER adalah sumber belajar, mengajar, dan penelitian dalam bentuk digital yang ditawarkan secara terbuka dan bebas yang dapat digunakan oleh pendidik, peserta didik dan siapapun. OER meliputi materi belajar, modul, buku teks, video streaming, tes, perangkat lunak, dan alat-alat lain, materi dan teknik yang digunakan untuk mengakses pengetahuan.

Sedangkan menurut Creative Commons (2015) OER (Open Educational Resources) adalah bahan belajar dan mengajar yang dapat di gunakan kembali secara gratis, tanpa biaya. OER sering memiliki lisensi Creative Commons atau

(21)

GNU yang menyatakan secara khusus bagaimana materi dapat digunakan, digunakan kembali, diadaptasi, dan dibagikan.

Marasabessy dan Juhana (2016) mengatakan bahwa pemanfataan Open Educational Resources (OER) sebagai inovasi dalam pembelajaran mendefinisikan OER sebagai “digitized materials offered freely and openly for educators, students and self-learners to use and re-use for teaching, learning and research”. Artinya Materi digital yang ditawarkan secara bebas dan terbuka untuk pendidik, siswa dan pelajar mandiri untuk digunakan dan digunakan kembali untuk mengajar, belajar dan penelitian.

Lebih lanjut UNESCO 2002 menambahkan bahwa OER merupakan sumber belajar yang terbuka, bebas untuk dimodifikasi atau mengubah dan berlisensi terbuka. Sehingga setiap orang dapat memanfaatkan OER dengan mengkopi, memodifikasi, dan menyebarluaskan secara legal dan bebas. Pada awalnya OER dibentuk dengan berfokus pada materi yang berkaitan dengan pengajaran dan pembelajaran. Materi lain yang berhubungan dengan pendidikan.

Namun seiring berjalannya waktu OER dapat dimanfaatkan semua orang yang tidak hanya bergelut dalam bidang pendidikan. Selanjutnya OER berkembang tidak hanya menyajikan content yang berupa materi namun juga menyediakan perangkat lunak dan sistem perizinan yang memungkinkan pengguna OER untuk mempublikasikan dan mengadopsi sumber materi. Sehingga dengan demikian sumber materi yang terdapat dalam OER mengalami perkembangan sesuai dengan kondisi yang ada.

(22)

2.2.1 Sejarah dan Perkembangan OER

Menurut Butcher and Moore (2015) OER dan gerakan terbuka baru-baru ini berkembang dan dalam banyak hal mereka menentang tradisi pendidikan kuno.

Katalisnya telah merambah di internet dan kemampuan untuk menyalin dan mendistribusikan konten digital. Pada tahun 1999, baik Universitas Tübingen (Jerman) dan The Open University (UK) merilis beberapa sumber pendidikan secara gratis. Namun, inisiatif OER yang paling umum dikenal berasal dari Massachussetts Institute of Technology (USA) pada tahun 2001; pada tahun 2002, Massachussetts Institute of Technology telah merilis 32 program studi dengan lisensi terbuka dan menetapkan preseden dalam hal keterbukaan courseware universitas. Memperhatikan perkembangan ini, UNESCO pada tahun 2002 mengadakan forum tentang Dampak Open Courseware untuk pendidikan tinggi di Negara berkembang, dimana istilah OER diciptakan. Sejak saat itu, banyak penyedia layanan pendidikan lain di seluruh dunia telah menggunakan lisensi terbuka dan internet untuk berbagi sumber belajar dan mengajar. David Wiley menciptakan istilah konten terbuka pada tahun 1998 dan OER pertama kali digunakan di Forum UNESCO tahun 2002 tentang Dampak Open Course Ware untuk Pendidikan Tinggi di Negara Berkembang. Pada bulan September 2007, sebuah pertemuan di Cape Town menyebabkan dikeluarkannya Deklarasi Pendidikan Terbuka Cape Town pada 22 Januari 2008.

Di kutip dari Open Education Handbook (2014), gerakan OER terdiri dari empat kategori utama :

1. Open Course Ware (OCW); Open Course Ware adalah publikasi digital dari materi pendidikan berkualitas tinggi yang dilisensikan.

Materi pendidikan yang secara bebas dan terbuka, tersedia online

(23)

untuk siapa saja, dan dapat diakses kapan saja dengan menggunakan internet. OCW menyertakan perencanaan kursus dan alat evaluasi bersama dengan konten tematik.

2. Penerbit OER; kenaikan pesat dalam biaya buku teks, dikombinasikan dengan permintaan alternatif-alternatif terbaru, telah menyebabkan munculnya upaya penerbitan terbuka baru untuk buku teks dan OER lainnya. Kategori ini juga mencakup inisiatif yang diarahkan untuk mengembangkan koleksi OER tertentu, seperti Khan Academy dan Saylor Foundation.

3. Repositori OER; Repositori digital telah berkembang menjadi tempat yang nyaman untuk menemukan, berbagi, dan mencampur OER dari berbagai sumber. Dalam ruang lingkup dari portal dan gateway yang menyediakan akses ke informasi tentang OER dan sumber daya konten untuk repositori institusional dengan sumber konten dan alat untuk mengembangkan OER.

4. Inisiatif yang Didanai Publik; Semakin banyak pembuat kebijakan di tingkat lokal, negara bagian dan nasional sedang mengembangkan kebijakan yang mendorong penciptaan dan adopsi OER. Mendanai pembuatan OER hingga mengkondisikan dana penelitian Pemerintah pusat atau Negara bagian untuk mewajibkan agar setiap Sumber Daya Pendidikan yang dihasilkan dari pendanaan tersebut dapat diakses secara terbuka.

Berdasarkan Paris OER Declaration (2012), yang dikutip Butcher and Moore (2015) memberikan panduan dan dorongan bagi pemerintah untuk mengeluarkan sumber daya pendidikan terutama yang dibuat dengan menggunakan pendananaan publik dengan lisensi terbuka. Integrasi OER ke dalam kebijakan nasional adalah proses yang berkelanjutan dan lambat, tetapi telah ada keberhasilan di Negara-negara seperti USA, South Africa, Kenya, Ghana, Poland, Netherlands, dan United Kingdom. Pada tahun 2013, Antigua dan Barbuda mengadopsi kebijakan OER dalam kerangka kebijakan nasional pada Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam pendidikan. Pada tahun 2014, misi pendidikan nasional melalui TIK (NMEIT) di India mengadopsi kebijakan lisensi terbuka untuk semua

(24)

output-nya, merilis OER sebagai konten yang dihasilkan dengan pendanaan.

2.2.2 Manfaat Pendidikan Terbuka dan OER

Manfaat pendidikan terbuka menurut Butcher (2015) meliputi hal-hal berikut ini:

1. Pendidikan terbuka untuk siapa saja;

2. Terjangkau-idealnya, bebas;

3. Siswa dapat mencoba kursus sebelum mendaftar;

4. Waktu belajar yang fleksibel tidak terikat dengan jadwal mingguan atau kalender semester;

5. Siswa bekerja dengan kecepatan mereka sendiri;

6. Tersedia dari mana saja dan tidak dibatasi oleh akses ke sekolah atau perguruan tinggi;

7. Akses ke sejumlah besar bahan belajar;

8. Modal intelektual tersedia untuk digunakan kembali.

Mengingat lingkungan yang terbuka ini, OER merupakan komponen yang membuat pendidikan terbuka menjadi penting. Sebagaimana telah kita lihat dari definisi sebelumnya, OER:

1. Bebas

2. Apakah digital (juga non-digital), dapat diakses melalui internet dan tidak terikat secara geografis;

3. Beradaptasi, memungkinkan orang lain untuk menggunakan ulang untuk penggunaan baru;

4. Dapat mendukung pembelajaran dengan kecepatannya sendiri;

5. Mengizinkan akses ke sejumlah besar data dan informasi melalui OER Repositori.

Namun, pendidikan terbuka tidak terbatas hanya pada OER. Komponen lain pendidikan terbuka adalah Open Course Ware, sering disingkat sebagai OCW. Wikipedia (2015) :

“Open Course Ware (OCW) are course lessons created at universities and published for free via the internet. OCW projejects firs appeared in the

(25)

late 1990s, and after gaining traction in Europe and then the United States have become a world wide means of delivering educational content”.

Artinya Open Course Ware (OCW) adalah pelajaran kursus yang dibuat di universitas dan diterbitkan secara gratis melalui internet. Proyek OCW pertama kali muncul di akhir 1990-an, dan setelah mendapatkan daya tarik di Eropa dan kemudian Amerika Serikat telah menjadi sarana di seluruh dunia untuk menyampaikan konten pendidikan.

Konsep pendidikan terbuka penting lainnya adalah akses terbuka (Open Access), yang menggambarkan akses online tak terbatas untuk penelitian ilmiah yang ditinjau oleh rekan sejawat. Akses terbuka terutama ditujukan untuk jurnal ilmiah, tetapi juga menyediakan akses ke banyak tesis, buku dan monograf.

2.2.3 Tantangan Penggunaan OER

Menurut Butcher and Moore (2015) Ternyata menggunakan OER tidak selalu mudah. Praktisi menghadapi berbagai tantangan ketika harus memanfaatkan OER.

Tantangan Pengguna OER saat ini sering termasuk :

1. Sourcing OER yang tepat: Ini adalah masalah karena tidak ada one- stop-shop untuk OER. Mereka tersebar di Internet

2. Memahami lisensi terbuka: Tidak semua orang akrab dengan keterbukaan yang berbeda lisensi dan apa yang mereka ijinkan

3. Adaptasi OER membutuhkan keterampilan baru: Untuk menyesuaikan dan menggunakan kembali OER, yang praktisi membutuhkan lebih

(26)

dari keterampilan TIK dasar dan juga membutuhkan latihan di merevisi dan meremix sumber

4. Pola pikir tradisional mendominasi: banyak pendidik merasa salah untuk menggunakan karya orang lain, dan dengan demikian mereka melindungi, bukannya berbagi, milik sumber daya mereka sendiri 5. Konektivitas Internet yang kuat dan ketersediaan TIK yang baik sangat

penting mengakses dan mengadaptasi OER

6. Sekolah dan universitas jarang member insentif pada penciptaan pelajaran

Hodgkinson-Williams (2010) mengidentifikasi tantangan teknis, ekonomi, sosial dan hukum untuk menggunakan OER:

Tabel 2.1 Tantangan OER untuk institusi pendidikan tinggi

Tipe Tantangan Yang Diantisipasi Tantangan Tambahan

Teknik

Kurangnya broadband dan inovasi teknis lainnya

Interoperabilitas Standar metadata

Ekonomi

Kurangnya sumber daya untuk berinvestasi dalam broadband, perangkat keras & perangkat lunak

Kematian sedih inisiatif OER Universitas Utah yang

mengindikasikan kegentingan proyek OER

Kesulitan dalam menutupi biaya untuk mengembangkan OER atau mempertahankan proyek OER dalam jangka panjang

Memperluas strategi untuk menyediakan aliran pendapatan untuk OER

Mengumpulkan dana untuk melakukan penelitian OER Sosial Tidak adanya keterampilan teknis Berurusan dengan kontak luar

'yang tidak diinginkan'

(27)

Keengganan untuk berbagi atau memberikan kekayaan intelektual

Kurang waktu untuk mengabdikan untuk memproduksi bahan yang dapat dibagikan

Keengganan untuk menggunakan sumber daya yang diproduksi oleh orang lain

Penelitian istimewa tentang pengembangan bahan ajar Menjamin kualitas dalam konten

terbuka

Kurangnya insentif

Keterampilan untuk memilih OER yang sesuai dan menggunakan kembali atau mencampurnya kembali

Hukum

Larangan untuk menggunakan materi berhak cipta tanpa persetujuan

Menangani masalah hak cipta/

pihak ketiga Kurangnya kesadaran di kalangan

akademisi tentang masalah hak cipta

2.2.4 Jenis OER

OER dapat dibagi menjadi banyak “tipe” karena ada kebutuhan dalam sektor pendidikan. Sementara aset seperti lembar kerja, rencana pelajaran, sumber pelajaran, dan referensi artikel sebagai kategori yang jelas. Istilah ini juga mencakup Open Course Ware (OCW) meskipun OCW tidak ada kesepakatan mengenai kategori OER. Creative Commons 2011 memiliki daftar jenis OER berikut ini:

1. Digital learning objects (Objek pembelajaran digital): Objek pembelajaran terbuka berisi tentang aset digital individual

2. Digitised object libraries (Perpustakaan objek digital): Perpustakaan objek digital tentang koleksi online

3. OER encyclopaedias (Ensiklopedia OER): Bahan referensi kolaboratif tertulis yang akan menghasilkan definisi dan konten deskriptif

(28)

4. Open Online Archives (Arsip online terbuka): Repositori dari OER yang dikumpulkan

5. Open textbooks (Terbuka buku teks): Buku-buku yang bersifat eBook yang dapat digunakan bebas dan mudah beradaptasi

6. OER Courseware (OER Courseware): Membuka kursus dan Program Universitas Terbuka Online. Yang memberikan bahan-bahan pelajaran yang terkait di Universitas sehingga seseorang bisa mendapatkan secara teoritis, dan dapat menjalankan kursus

7. OER Courses (kursus OER): Kursus singkat, kursus OER menyediakan konten dan jalur pembelajaran melalui bahan

8. Open course archives (Arsip kursus terbuka)

9. Online tools that support the open community (Alat online yang mendukung komunitas terbuka)

2.3 Membuat dan Mengembangkan OER

Baik pendidik dan lembaga perlu memahami pendidikan terbuka secara luas. Sebagai seorang pendidik, harus membiasakan diri dengan lisensi dan kebijakan lembaga. Dapat mulai menemukan alternatif untuk sumber daya yang dipertanyakan di salah satu repositori OER dan berbicara dengan praktisi OER, atau bergabung dengan grup seperti OER-Diskusi. Lihatlah apa yang ada di luar sana dan lihat apakah ada sesuatu yang dapat digunakan atau diarahkan kembali, dan berbicaralah dengan kolega untuk mendapatkan perspektif mereka.

Setelah membuat keputusan untuk mengembangkan OER, selanjutnya perlu memikirkan strategi untuk melangkah maju. Di kutip dari Open Education Handbook (2014) Pendekatan yang berhasil menggunakan ide-ide berikut:

1. Berkembang secara bertahap, menyediakan versi generik.

2. Setiap bagian dari OER, seperti gambar, atau teks, bisa menjadi OER dan dapat dibagikan.

3. Perpustakaan mungkin sudah memiliki OER potensial - sumber daya apa pun yang perpustakaan gunakan yang tidak menggunakan karya berhak cipta orang lain bisa menjadi OER.

4. Tidak perlu menjadi jenius elearning untuk membuat OER: file Powerpoint bisa menjadi OER.

(29)

5. Setelah dikembangkan - yang perlu dilakukan adalah memilih lisensi terbuka.

6. Bangun sumber daya dengan maksud untuk melepaskannya sebagai OER sejak awal untuk menghindari materi yang dilindungi hak cipta pihak ketiga dan bukan memperbaikinya secara retrospektif.

Di kutip dari Open Education Handbook (2014) Saat membuat OER:

1. Periksa lisensi

2. Atribut penulis, dan sertakan penafian dan penghapusan

3. Jika macet, orang yang bekerja secara terbuka cenderung suka membantu

4. Bagikan apa yang telah dibuat 5. Bagikan apa yang telah dipelajari

OER dalam kondisi lengkap terkadang sulit untuk digunakan kembali.

Sering terjadi bahwa komponen atau elemen yang terpisah dari OER memiliki potensi penggunaan kembali yang lebih besar.

Megan Beckett dari Siyavula mengusulkan bahwa “ketika membuat/

menulis/ mengagregasi OER/ membuka buku teks untuk digunakan kembali, langkah terakhir selanjutnya adalah memisahkannya menjadi bagian-bagian komponennya untuk memungkinkan remixing yang mudah dan dapat diakses”.

Gagasan lain adalah penggunaan http://coursefork.org/ yang dideskripsikan sebagai semacam OER. Megan Beckett berpendapat bahwa salah satu tantangan utama penggunaan kembali OER adalah keadaan mereka: “Yang jelas kurang adalah perasaan bahwa kesempatan belajar harus diciptakan oleh pendidik sendiri.

Konsep ini memiliki kepemilikan emosional yang menggambarkan hubungan emosional/afektif seperti apa yang dimiliki pendidik terhadap sumber daya tertentu. Dengan demikian, yang tidak ditemukan di sini tampaknya lebih relevan dalam domain pendidikan ”.

Jika telah membuat keputusan untuk mengembangkan OER di institusi, ada baiknya menyadari beberapa tantangan terbesar. Tiga tantangan paling signifikan yang perlu diatasi adalah masalah hak cipta, kontrol kualitas, dan keberlanjutan setiap OER yang dikembangkan. Meneliti terlebih dahulu dan merencanakan masa depan yang dapat membantu mengurangi masalah seputar

(30)

hak cipta. Memulai dengan spesifikasi yang jelas dan menguji konten pada guru dan peserta didik harus membantu dengan jaminan kualitas.

Tantangan

Di kutip dari Open Education Handbook (2014) Tantangan utama dalam penciptaan OER adalah mencapai keseimbangan antara kesederhanaan, sebagai persyaratan bagi pendidik, dan kompleksitas, sebagai persyaratan bagi pengembang. Sejumlah masalah lain yang mungkin muncul tercantum di bawah ini:

1. Pastikan untuk memiliki izin yang sesuai sebelum menetapkan lisensi terbuka

2. Pikirkan tentang jenis metadata apa yang akan relevan 3. Pastikan bahwa persetujuan telah diperoleh dari pihak terkait

4. Jangan mengabaikan hak selain hak cipta (seperti hak kinerja dan perlindungan data)

5. Masukkan kebijakan penafian dan penghapusan dan tindak lanjuti jika perlu

6. Pikirkan baik-baik tentang kwalitas informasi

7. Praktekkan apa yang diajarkan - gunakan hal-hal yang sudah ada di luar sana jika memungkinkan menghasilkan informasi lebih banyak 8. Mendorong mengusulkan dan menggunakan kembali

2.4 Menemukan dan menggunakan OER 2.4.1 Menemukan OER

Di kutip dari Open Education Handbook (2014) Though a Google search can often provide many relevant result (tip use Google Advanced Search: Filter by “Usage Rights”) several search engines exist to help users find Open Educational Resources. The list from the OER Info Kit include Artinya Meskipun pencarian Google sering memberikan banyak hasil yang relevan (menggunakan Google Pencarian Lanjutan: filter oleh "Hak Penggunaan") ada beberapa mesin

(31)

pencari untuk membantu pengguna menemukan Sumber Daya Pendidikan Terbuka. OER dapat ditemukan di OER Info Kit meliputi:

1. OCWFinder - “cari, rekomendasikan, berkolaborasi, remix”

2. Temoa - “pusat pengetahuan yang memudahkan katalog publik dan multibahasa dari Open Educational Resources (OER) yang bertujuan untuk mendukung komunitas pendidikan untuk menemukan sumber daya dan materi yang memenuhi kebutuhan mereka akan pengajaran dan pembelajaran melalui sistem pencarian khusus dan kolaboratif dan sosial alat. "

3. Pembelajaran Universitas = OCW + OER = Mesin pencarian kustom gratis - mesin pencarian meta yang menggabungkan banyak repositori OER yang berbeda (menggunakan Google Custom Search)

4. XPERT - “proyek inovasi cepat yang didanai JISC (musim panas 2009) untuk mengeksplorasi potensi pengiriman dan mendukung repositori terdistribusi dari sumber daya e-learning yang dibuat dan dipublikasikan secara mulus melalui alat pengembangan e-learning open source yang disebut Xerte Online Toolkit. Tujuan XPERT adalah untuk mengembangkan visi arsitektur sumber daya e-learning yang didistribusikan untuk digunakan bersama dan digunakan kembali. "

5. OER Dynamic Search Engine - halaman wiki situs OER dengan mesin pencari yang disertai (didukung oleh Google Custom Search)

6. Toolkit OER UNESCO menghubungkan ke sumber daya dan repositori yang lebih berguna dan beranotasi.

7. Jisc Digital Media mempertahankan panduan untuk menemukan video, audio dan gambar secara online, termasuk yang dilisensikan sebagai Creative Commons.

8. OER Glue - alat yang bertujuan untuk memfasilitasi pembangunan lapangan dengan 'menjahit' bersama OER dari berbagai sumber

9. Creative Commons Search bukan mesin pencari, melainkan menawarkan akses mudah ke layanan pencarian yang disediakan oleh organisasi independen lainnya

10. DiscoverEd adalah prototipe pencarian yang dikembangkan oleh Creative Commons untuk menjelajahi pencarian yang ditingkatkan metadata, khususnya untuk OER

11. Jorum adalah gudang terbesar di Inggris untuk menemukan dan berbagi Sumber Daya Pendidikan Terbuka untuk HE, FE, dan sektor Keterampilan.

12. OpenCourseware Consortium / Open Education Consortium adalah komunitas di seluruh dunia dari ratusan institusi pendidikan tinggi dan organisasi terkait yang berkomitmen untuk memajukan pendidikan terbuka dan dampaknya terhadap pendidikan global.

13. Temukan OER - panduan dari Jaringan Pendidikan Open Professionals

(32)

14. OER Commons adalah jaringan pembelajaran di seluruh dunia untuk materi pengajaran dan pembelajaran bersama yang disediakan secara gratis secara online.

15. Curriki - organisasi nirlaba yang menyediakan sumber daya pendidikan terbuka terutama dalam mendukung pendidikan K-12 16. Wikipedia adalah proyek ensiklopedia multibahasa, berbasis web,

freecontent yang didukung oleh Wikimedia Foundation dan didasarkan pada model yang dapat diedit secara terbuka.

17. Project Gutenberg menyediakan ebook gratis berkualitas tinggi 18. Connexions / Openstax College menyediakan buku teks terbuka.

19. CK-12 Foundation adalah organisasi nirlaba yang berbasis di California yang memiliki misi untuk mengurangi biaya, dan meningkatkan akses, pendidikan K-12 di Amerika Serikat dan di seluruh dunia.

20. TED Education menyediakan konten pelajaran yang dapat diolah kembali.

21. SMartHistory - web-book multimedia tentang seni dan sejarah seni 22. Livebinders - kurasi konten online

23. Solvonauts adalah mesin pencari pendidikan terbuka.

24. Database Open Education menyediakan berbagai cara untuk menavigasi dan menemukan konten terbuka.

2.4.2 Menggunakan OER

Berdasarkan yang tercantum dalam Open Education Handbook (2014) The JISC publication A guide to OERs offers some advice in using OER. Develop a clear rationale a long with credible business and benefit cases, perhaps using examples from elsewhere in your institution. Artinya Publikasi JISC Panduan untuk OER menawarkan beberapa saran dalam menggunakan OER. Kembangkan alasan yang jelas bersama dengan kasus bisnis dan manfaat yang kredibel, mungkin menggunakan contoh dari tempat lain di institusi Anda.

1. OER mungkin menarik bagi hampir semua orang di organisasi Anda dari staf perpustakaan hingga pelajar hingga akademisi atau profesional pemasaran

2. Bangun di atas pekerjaan sebelumnya, memanfaatkan keahlian staf dan memanfaatkan antusiasme yang sudah ada

(33)

3. Bantu staf mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk membuat dan menggunakan sumber daya pendidikan terbuka

4. Mendukung perubahan dalam praktik pengajaran melalui peningkatan kesadaran, lokakarya, pengembangan kapasitas dan komunitas praktik 5. Ciptakan budaya keterbukaan di seluruh institusi

6. Temukan cara untuk memberi penghargaan dan mengenali anggota staf yang membuat dan menggunakan sumber daya pendidikan terbuka 7. Pertimbangkan membangun sumber daya pendidikan terbuka ke dalam

proses persetujuan untuk lingkungan belajar virtual Anda

8. Ambil pendekatan bertahap mulai dengan buah yang menggantung rendah

9. Adaptasikan kebijakan yang ada (terkait dengan kekayaan intelektual, pembelajaran, pengajaran, dan penilaian) di mana kebijakan itu sudah ada untuk menciptakan transisi yang lembut dan tidak mengancam ke arah keterbukaan

10. Sebagai alternatif, mulailah kebijakan sumber daya pendidikan terbuka khusus yang baru untuk bertindak sebagai sinyal kuat bahwa lembaga berkomitmen penuh untuk mendukung implementasi

11. Cantumkan penciptaan dan penggunaan sumber daya pendidikan terbuka ke dalam kegiatan kelembagaan lainnya untuk membuatnya lebih berkelanjutan

2.5 Penilaian kualitas OER

Tentu ada kekhawatiran tentang kualitas OER karena informasi yang tersedia secara gratis, membuat Pengguna khawatir tentang sumber informasi yang di dapatkan; misalnya, apakah sumber daya itu diciptakan oleh lembaga yang sah atau individu yang berpengetahuan. Institusi mungkin khawatir bahwa mengeluarkan materi memperlihatkan kelemahan dalam memberi pengajaran.

Banyak yang berpendapat bahwa transparansi proses akan menghasilkan sumber daya berkualitas lebih baik daripada yang dikembangkan di lingkungan tertutup.

Di kutip dari JISC infokit (2013) menyarankan berikut kriteria untuk penilaian kualitas:

1. Ketepatan

2. Reputasi penulis / institusi

(34)

3. Standar produksi teknis 4. Aksesibilitas

5. Pembaharuan untuk tujuan tertentu

Pendidik dan pustakawan sangat berperan dalam menilai kualitas dan kesesuaian sumber daya tertentu. Jika sumber daya dapat ditingkatkan, itu harus ditingkatkan dan kemudian dirilis kembali dengan lisensi terbuka sehingga orang lain dapat memperoleh manfaat dari OER yang berkualitas baik.

2.6 Dampak OER

Penelitian dilakukan untuk mengukur pengaruh penggunaan Open Educational Resources (OER) pada pengajaran dan pembelajaran. Studi Dampak Jisc OER dilakukan antara November 2010 dan Juni 2011 oleh tim dari Universitas Oxford. Disimpulkan pada Juli 2011, laporan penelitian menyimpulkan bahwa faktor dampak utama OER adalah pedagogik, sikap, logistik dan strategis. Pusat Penelitian OER juga melihat Apa dampak OER terhadap pembelajaran dan praktik mengajar? dan akan merilis laporan di tahun- tahun mendatang. Beberapa berpendapat bahwa OER sejauh ini gagal mencapai potensi mereka. Sepuluh Tahun Kemudian: Mengapa Sumber Daya Pendidikan Terbuka Tidak Terlihat Mempengaruhi Pendidikan Tinggi, dan Mengapa Kita harus peduli mencatat bahwa rintangan adopsi yang signifikan terhadap OER ada termasuk kemampuan menemukan, kontrol kualitas, kegagalan untuk mengatur dan mengakuisisi. Di kutip dari Open Education Handbook (2014)

Menurut Pirkkalainen, Jokinen & Pawlowski (2016) mendaftar hambatan berikut untuk adopsi OER:

(35)

1. Lack of motivation to share resources or information around those resources (Kurangnya motivasi untuk berbagi sumber daya atau informasi di sekitar sumber daya tersebut)

2. Lack of time for production and localization of OER (Kurangnya waktu untuk produksi dan lokalisasi OER)

3. Need for Rewards and Acknowledgement (Kebutuhan akan Hadiah dan Pengakuan)

4. Lack of contextual information for the resources – how can be used or modified (Kurangnya informasi kontekstual untuk sumber daya - bagaimana dapat digunakan atau dimodifikasi)

5. Open content does not fit the scope of the course / curriculum (Konten terbuka tidak sesuai dengan ruang lingkup kursus / kurikulum)

6. Lack of trust towards unknown authors or systems where resources retrieved from (Kurangnya kepercayaan terhadap penulis yang tidak dikenal atau sistem di mana sumber daya diambil)

7. “Not invented here” notion; hesitation to receiving knowledge someone else has created (Gagasan “Tidak ditemukan disini”; ragu untuk menerima pengetahuan yang dibuat orang lain)

8. Hard to assess the quality and relevance (Sulit menilai kualitas dan relevansinya)

(36)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Menurut Sugiyono (2017)

Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistim dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditentukan.

Secara umum penelitian kuantitatif harus digunakan manakala penelitian dilakukan untuk memverifikasi teori, selain itu juga dimaksudkan untuk menjawab permasalahan secara meluas sehingga dapat digunakan untuk kondisi dan situasi lain. Analisis data dengan teknik kuantitatif, sebenarnya merupakan bentuk analisis desktriptif non-statistik. Apabila data dari hasil penelitian deskriptif telah terkumpul maka data selanjutnya diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu data kuantitatif yang berbentuk angka-angka dan data kuantitatif yang dinyatakan dalam kata-kata atau symbol.

Pada penelitian ini penulis hanya memberikan gambaran apa adanya dari data yang diperoleh di lapangan melalui kuesioner. Fakta-fakta yang ditemukan di lapangan lalu dihubungkan dengan teori.

(37)

3.2 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di Perpustakaan Universitas Sumatera Utara yang beralamat di Jalan Perpustakaan No. 1, Padang Bulan, Kampus USU, Medan 20121, Indonesia.

3.3 Populasi dan Sampel

Populasi dan sampel adalah sumber data utama yang dibutuhkan pada sebuah penelitian. Populasi dan sampel digunakan untuk memecahkan masalah atau fakta-fakta yang terdapat pada objek penelitian.

3.3.1. Populasi

Populasi merupakan hal yang sangat penting dalam melaksanakan penelitian tanpa adanya populasi, maka penelitian tidak dapat dilakukan. Menurut Sugiyono (2013) “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.”

Berdasarkan pendapat tersebut, bahwa populasi adalah keseluruhan dari elemen-elemen yang terdapat pada wilayah penelitian yang akan dilakukan.

Populasi pada penelitian ini adalah Pengguna aktif Perpustakaan Perguruan Tinggi Universitas Sumatera Utara berjumlah 55496 orang.

3.3.2 Sampel

Pada penelitian ini, peneliti hanya mengambil sebagian dari jumlah populasi. pengambilan sampel harus dilakukan dengan baik sehingga dapat menggambarkan dan mewakili keadaan populasi yang sebenarnya. Menurut

(38)

Sugiyono (2017) “Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.” Untuk mengetahui jumlah sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini, peneliti menggunakan rumus slovin

Keterangan:

n = ukuran sampel N= ukuran populasi

e = kelonggaran atau ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang ditoleransi (misalnya 5%)

Dari jumlah populasi 55496 orang diperoleh sampel sebanyak 99.8 dibulatkan menjadi 100 orang. Menentukan kriteria sampel peneliti menggunakan teknik aksidental sampling (accidental sampling) yaitu dengan menyebarkan kuesioner kepada responden yang sedang berada di Perpustakaan Universitas Sumatera Utara dan sedang memanfaatkan laman web Library.usu.ac.id untuk mencari informasi serta bersedia mengisi kuesioner yang disediakan.

(39)

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data merupakan upaya mendapatkan data dari lokasi penelitian yang berkaitan dengan permasalahan penelitian. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:

1. Kuesioner, merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawab dan di peneliti juga bertanya kepada responden untuk melengkapi kuesioner.

2. Studi kepustakaan dan dokumen, yaitu data diperoleh melalui buku, jurnal, majalah, laporan tahunan, situs web dan dokumen lain yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.

3.5 Jenis dan Sumber Data

Data dapat diperoleh dari dua sumber yaitu primer dan sekunder. Pada penelitian ini menggunakan kedua sumber data tersebut yaitu data primer dan data sekunder.

1. Data primer

Data Primer diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner yang peneliti sebarkan kepada pengguna perpustakaan Universitas Sumatera Utara yang menggunakan laman Library.usu.ac.id dengan observasi dan dokumentasi selama di lapangan.

2. Data Sekunder

Data sekunder di peroleh dari e-Book, Jurnal, dan dokumen lainnya yang mendukung dan yang berhubungan dengan penelitian.

(40)

3.6 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian berkenaan dengan validitasi dan reliabilitas instrument dan kualitas pengumpulan data berkenaan dengan ketepatan cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data. Instrument dalam deskriptif kuantitatif dapat berupa test, dan kuesioner (angket).

Untuk mengumpulkan data, setiap peneliti menggunakan alat bantu yang disebut instrument penelitian. Menurut Sugiyono (2010) “Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati, secara spesifik fenomena ini di sebut variable penelitian”.

Sedangkan menurut Uhar (2014) instrumen adalah bahwa substansinya harus benar-benar menggali informasi yang diperlukan bagi suatu penelitian dengan mengacu pada konsep empiris atau indikator yang telah ditentukan.

Dengan demikian, Sesuai dengan penelitian ini instrument yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah Ceklis (Check-list). Chek-list yaitu daftar variable yang akan dikumpulkan datanya. Dalam penelitian ini, peneliti akan memberi tanda silang (X) pada kolom yang sesuai.

3.7 Kisi-kisi Kuesioner

Kuesioner yang dilakukan yaitu dengan memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden yang kemudian dijawab oleh responden dengan cara memilih jawaban yang telah tersedia. Pada penelitian ini penulis menggunakan kuesioner berdasarkan kisi-kisi kuesioner sebagai berikut:

(41)

Tabel 3.1 Kisi-kisi Kuesioner

Variabel Indikator Butir Jumlah

Peran

Perpustakaan Sebagai Pusat Pengembang Open Educational

Resources (OER)

1. Digital learning objects (Objek pembelajaran digital)

1, 2, 3 3

2. Digitised object libraries

(Digitalisasi objek Perpustakaan) 4, 5, 6, 7 4 3. OER encyclopaedias

(Ensiklopedia OER) 8 1

4. Open online archives (Arsip

online terbuka) 9 1

5. Open textbooks (Buka buku teks)

10, 11 2

6. OER Courses (kursus OER) 12 1

7. Open course archives (Arsip

kursus terbuka) 13 1

8. Online tools that support the open community (Alat online yang mendukung komunitas terbuka)

14, 15, 16, 17 4

Total 17

3.8 Teknik Analisis Data

Dalam menganalisis data yang diperoleh, penulis menggunakan metode deskriptif, setelah penyebaran kuesioner selesai maka langkah selnajutnya adalah dengan menggunakan tabulasi jawaban responden, kemudian dianalisis yang penafsirannya menggunakan rumus sebagai berikut:

(42)

Keterangan:

P = hasil persentase

f = junlah jawaban yang diperoleh (frekuensi) N = jumlah responden

Penafsiran data dilakukan dengan menggunkan pedoman penafsiran data, penelitian menggunakan metode penafsiran menurut Hadi (2018) yaitu sebagai berikut:

Presentase : Keterangan 1 % - 25 % : Sebagian kecil 26 % - 49 % : Hampir setengahnya 50 % : Setengahnya

51 % - 75 % : Sebagian besar 76 % - 99 % : Pada umunya 100 % : Seluruhnya

(43)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Identitas Responden

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Adapun jumlah pertanyaan seluruhnya sebanyak 17 pertanyaan. Kuesioner disebar kepada responden yang berisikan pertanyaan-pertanyaan mengenai Open Educational Resources (OER) dalam memenuhi kebutuhan informasi pemustaka pada library.usu.ac.id Perpustakaan USU. Responden dalam penelitian ini yaitu pemustaka yang memanfaatkan e-resources Perpustakaan Universitas Sumatera Utara. Responden sebanyak 100 orang. Deskripsi responden selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.1 di bawah ini:

Tabel 4.1 Identitas Responden

No. Fakultas Semester Jumlah Presentase

(%) 1. Fakultas Ilmu Budaya II,VI, VII dan

VIII

58 58%

2. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

VI, VII dan VIII

12 12%

3. Fakultas pertanian II, IV, dan VIII 11 11%

4. Fakultas Kesehatan Masyarakat

IV,VI, dan VIII

5 5%

5. Fakultas Ekonomi dan Bisnis

II dan VIII 3 3%

6. Fakultas Keperawatan VIII 3 3%

7. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

VIII 2 2%

(44)

8. Fakultas Tehnik Sipil VI 2 2%

9. Fakultas Farmasi (Profesi Apoteker)

II 2 2%

10. Fakultas Hukum IV 1 1%

11. Fakultas Kedokteran Gigi VIII 1 1%

Jumlah 100 100%

Berdasarkan Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa responden dalam penelitian ini berasal dari sebelas fakultas yaitu Fakultas Ilmu Budaya sebanyak 58 orang (58%), dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam sebanyak 12 orang (12%), dari Fakultas Pertanian sebanyak 11 orang (11%), dari Fakultas Kesehatan Masyarakat sebanyak 5 orang (5%), dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis sebanyak 3 orang (3%), dari Fakultas Keperawatan sebanyak 3 orang (3%), dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik sebanyak 2 orang (2%), dari Fakultas Tehnik Sipil sebanyak 2 orang (2%), dari Fakultas Farmasi (Profesi Apoteker) sebanyak 2 orang (2%), dari Fakultas Hukum sebanyak 1 orang (1%), dari Fakultas Kedokteran Gigi sebanyak 1 orang (1%). Data di atas menunjukkan bahwa pemustaka yang memanfaatkan e-resources Perpustakaan Universitas Sumatera Utara berasal dari sebelas fakultas yang ada di Universitas Sumatera Utara.

(45)

4.2 Analisis Deskriptif

4.2.1 Tanggapan Responden terhadap peran Perpustakaan Universitas Sumatera Utara sebagai Open Educational Resources (OER)

Variabel layanan referensi ini diukur berdasarkan indikator layanan dan pustakawan. Untuk mengetahui tanggapan responden terhadap layanan referensi dapat dilihat dari jawaban setiap indikator nomor 1 sampai 8.

4.2.1.1 Digital Learning Objects (Objek pembelajaran digital)

Untuk mengetahui tanggapan responden mengenai sistem layanan referensi dapat dilihat pada Tabel 4.2, Tabel 4.3, dan Tabel 4.4:

Tabel 4.2 Relevansi Pencarian Informasi

No. Pertanyaan Kategori

Jawaban

Jumlah responden

F %

1. Bagaimana relevansi mencari informasi di e- Book dan e-Journal ?

a. sangat relevan 26 26 %

b. relevan 64 64 %

c. kurang relevan 10 10 %

d. tidak relevan 0 0 %

Jumlah 100 100 %

Tabel 4.2 menunjukkan bahwa dari 100 orang mahasiswa sebanyak (26%) mahasiswa menyatakan dalam mencari informasi di e-Book dan e-Journal informasi yang didapatkan sangat relevan, (64%) mahasiswa menyatakan dalam mencari informasi di e-Book dan e-Journal yang didapatkan relevan, sedangkan (10%) mahasiswa menyatakan kurang relevan dan tidak ada responden yang menyatakan tidak relevan.

(46)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya (90%) mahasiswa menyatakaan bahwa mencari informasi pada e-book dan e-journal sudah relevan.

Sehingga relevansi mencari informasi di e-book dan e-journal sudah sesuai dan sangat membantu mahasiswa dalam memenuhi informasi yang dibutuhkan.

Artinya Perpustakaan USU sudah sangat baik di dalam penyusunan data sehingga relevansi di dalam pencarian informasi di e-book dan e-journal sudah relevan yang didapatkan oleh mahasiswa.

Tabel 4.3 Keragaman judul pada koleksi

No. Pertanyaan Kategori

Jawaban

Jumlah Responden

F %

2. Menurut anda, bagaimana keragaman judul pada koleksi e- book dan e-journal ?

a. sangat beragam 27 27 %

b. beragam 59 59 %

c. kurang beragam 14 14%

d. tidak beragam 0 0 %

Jumlah 100 100 %

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa dari 100 orang mahasiswa sebanyak (27%) mahasiswa menyatakan koleksi e-book dan e-journal memiliki judul yang sangat beragam, (59%) mahasiswa menyatakan koleksi e-book dan e-journal memiliki judul beragam, sedangkan (14%) mahasiswa menyatakan kurang beragam dan tidak ada responden yang menyatakan tidak beragam.

Hasil penelitian menunjukkan pada umumnya (86%) mahasiswa menyatakaan koleksi e-book dan e-journal memiliki judul yang beragam. Artinya Perpustakaan USU sudah memiliki koleksi e-book dan e-journal yang beragam.

(47)

Tabel 4.4 Memenuhi kebutuhan pengguna

No. Pertanyaan Kategori

Jawaban

Jumlah Responden

F %

3. Apakah informasi yang anda cari di dalam e-Book, e-Journal selalu terpenuhi ?

a. selalu terpenuhi 6 6 %

b. Terpenuhi 41 41 %

c. kadang-kadang 48 48 %

d. tidak terpenuhi 5 5 %

Jumlah 100 100 %

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa dari 100 orang mahasiswa sebanyak (6%) mahasiswa yang menyatakan informasi yang dicari di dalam e-Book dan e-Journal selalu terpenuhi, (41%) mahasiswa menyatakan informasi yang dicari di dalam e- Book dan e-Journal terpenuhi, sedangkan (48%) mahasiswa menyatakan informasi yang dicari di dalam e-Book dan e-Journal kadang-kadang terpenuhi dan (5%) mahasiswa menyatakan informasi yang dicari di dalam e-Book dan e- Journal tidak terpenuhi.

Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar (53%) mahasiswa menyatakaan bahwa mencari informasi pada e-book dan e-journal kadang-kadang terpenuhi. Setengah dari mahasiswa menyatakan pada saat mencari informasi di dalam e-book dan e-journal terkadang terpenuhi, artinya masih banyak mahasiswa yang belum bisa teknik mencari untuk menemukan kembali informasi, Karena Perpustakaan USU sudah memiliki koleksi dan judul yang beragam untuk kategori e-book dan e-jurnal.

4.2.1.2 Digitised object libraries ( Digitalisasi objek Perpustakaan)

Untuk mengetahui tanggapan responden mengenai sistem layanan referensi dapat dilihat pada Tabel 4.5, Tabel 4.6, Tabel 4.7, dan Tabel 4.8:

(48)

Tabel 4.5 E-Resources yang dikenal

No. Pertanyaan Kategori Jawaban Jumlah Responden

F %

4. E-Resources manakah yang anda kenal dalam penggunaannya ?

a. e-Book 22 22 %

b. e-Journal 40 40 %

c. Repository Institusi 34 34 %

d. Resources Guides 2 2 %

e. lainnya:… 2 2 %

Jumlah 100 100 %

Tabel 4.5 menunjukkan bahwa dari 100 orang mahasiswa sebanyak (22%) mahasiswa menyatakan e-Book sebagai e-resources yang dikenal dalam penggunaannya, (40%) mahasiswa menyatakan e-Journal sebagai E-Resources yang dikenal dalam penggunaannya, (34%) mahasiswa menyatakan Repository Institusi sebagai E-Resources yang dikenal dalam penggunaannya, (2%) mahasiswa menyatakan Resources Guides sebagai E-Resources yang dikenal dalam penggunaannya dan (2%) mahasiswa responden yang menyatakan lainnya.

Hasil penelitian menunjukkan hampir setengahnya (40%) mahasiswa menyatakaan e-Journal sebagai E-Resources yang dikenal dalam penggunaannya, artinya mahasiswa lebih sering menggunakan e-journal untuk mencari informasi yang mahasiswa butuhkan.

Tabel 4.6 E-resources yang sering digunakan No. Pertanyaan Kategori Jawaban

Jumlah Responden

F %

5. Pada saat mencari informasi, E-Resources manakah yang sering anda gunakan ?

a. e-Book 18 18 %

b. e-Journal 50 50 %

c. Repository Institusi 23 23 %

d. Resources Guides 1 1 %

e. lainnya:… 8 8 %

Jumlah 100 100 %

Gambar

Tabel 2.1 Tantangan OER untuk institusi pendidikan tinggi
Tabel 3.1 Kisi-kisi Kuesioner
Tabel 4.1 Identitas Responden
Tabel 4.2 Relevansi Pencarian Informasi
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Jika Islam dikaji dan ditelaah secara ilmiah, serta didukung dengan penguasaan pengetahuan keislaman yang mendalam, maka luaran yang dihasilkan insyaallah akan sesuai

Powder preparation adalah proses pengolahan slip atau lumpur dari bagian ballmill menjadi powder yang akan digunakan untuk pembuatan body keramik.. Slip atau lumpur di dalam

Dengan didasarkan oleh berbagai latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengaruh gaya kepemimpinan dan stres

Bentuk-bentuk kerukunan umat beragama antara masyarakat Islam dan Kristen di kelurahan Paccinongang adalah adanya bentuk interaksi sosial, bekerja bersama yang

Proses pemboran pada sumur NB-AAA berlangsung selama 2.344 jam yaitu sekitar 97 hari dengan total Productve Time sebesar 66 hari dan Non Productive Time sebesar 31

Prinsip Pengelolaan Blok Pemanfaatan : (a) Dalam blok pemanfaatan dapat dilakukan kegiatan pemanfaatan kawasan dan pontesinya dalam bentuk kegiatan penelitian, pendidikan

Kelas eksperimen merupakan kelas yang diberikan perlakuan dengan menerapkan model blended learning tipe kelas murni , sedangkan kelas kontrol merupakan kelas yang