2.1. Data Fisik Tapak dan Bangunan
Museum Replika dan Fosil Dinosaurus ini berlokasi di sebuah Taman Rekreasi dan Sarana Kreativitas serta Sportifitas di Citra Raya Kota Mandiri Surabaya. Citra Raya Kota Mandiri Surabaya merupakan daerah yang sangat strategis sehingga sangat sesuai sebagai kawasan taman rekreasi dan sarana kreativitas serta sportifitas. Adapun data fisik tapak dan bangunan dari Taman Rekreasi dan Sarana Kreativitas serta Sportifitas di Citra Raya Kota Mandiri Surabaya adalah sebagai berikut:
• Batas Utara : Jl. Citra Raya Utama
• Batas Selatan : rencana Dunia Fantasi Citraland
• Batas Timur : Jl. Citra Raya Utama
• Batas Barat : perumahan penduduk
Keterangan:
Lokasi objek perancangan
Gambar 2.1. Lokasi Taman Rekreasi dan Sarana Kreatifitas serta Sportifitas di Citra Raya Kota Mandiri Surabaya
12
2.2. Data Pemakai
2.2.1. Struktur Organisasi Pemakai
KEPALA MUSEUM
SEKRETARIAT
SUB UNIT PELAKSANA TEKNIS KOLEKSI
SUB UNIT PELAKSANA KONSERVASI DAN PERPARASI
SUB UNIT PELAKSANA
BIMBINGAN EDUKASI
Bagan 2.1. Struktur Organisasi
Pekerjaan dari masing-masing jabatan di atas, antara lain:
1. Kepala museum
Mengkoordinasi sekaligus memimpin serta bertanggung jawab atas segala kelancaran kegiatan dalam museum.
2. Sekretariat
Membantu kepala museum dalam mengkoordinasikan segala kegiatan yang dilakukan dalam museum.
3. Sub Unit Pelaksana Teknis Koleksi
• Melakukan pengadaan barang-barang koleksi dalam museum.
• Merencanakan, mengatur, dan menyajikan barang-barang koleksi di dalam ruang pamer.
4. Sub Unit Preparasi dan Konservasi
• Menangani segalanya yang berhubungan dengan perawatan koleksi termasuk melakukan pengendalian terhadap kelembaban suhu di ruang pamer.
• Menangani hal-hal yang berhubungan dengan perbaikan barang-barang koleksi.
• Menyajikan koleksi dalam bentuk pameran.
5. Sub Unit Bimbingan Edukasi
• Memberikan berbagai informasi kepada pengunjung museum mengenai museum beserta benda-benda koleksi museum.
• Mengatur segala sesuatu yang berhubungan pendidikan misalnya dengan pengadaan pameran dan acara-acara yang bertema pendidikan.
2.2.2. Pola Aktivitas Pemakai
Pola aktivitas yang terjadi di dalam museum meliputi:
1. Pola aktivitas karyawan
Masuk Persiapan Tugas Pulang
Bagan 2.2. Pola Aktivitas Karyawan
2. Pola aktivitas pengunjung
Masuk
Informasi
Lihat
Baca
Nonton
Makan/Minum
Pulang
Bagan 2.3. Pola Aktivitas Pengunjung
2.2.3. Latar Belakang Perilaku Pemakai
Latar belakang perilaku pemakai adalah sebagai berikut:
1. Karyawan
Merupakan orang-orang yang bekerja di dalam museum replika dan fosil dinosaurus, meliputi:
• Resepsionis
Memberikan informasi berbagai hal mengenai museum.
• Kasir
Melayani pembelian tiket masuk.
• Guide
Memandu pengunjung selama berada di dalam museum dan memberikan informasi seputar museum beserta benda-benda koleksinya.
• Petugas mini theatre
Memberikan informasi seputar mini theatre dan memutar film.
• Petugas mini bar
Menyiapkan makanan dan minuman yang dipesan oleh pengunjung.
• Petugas mini book store Melayani pembelian buku.
• Security
Menjaga keamanan baik di dalam maupun di luar museum.
• Cleaning service
Merawat dan menjaga kebersihan ruang maupun benda-benda koleksi museum.
2. Pengunjung
Merupakan orang-orang yang mengunjungi museum yang secara umum memiliki tujuan dan maksud tertentu seperti, untuk kunjungan wisata, mengadakan kegiatan penelitian, untuk keperluan studi, dan lain sebagainya.
Adapun aktivitas dari masing-masing pengunjung meliputi:
• Melihat dan mengamati benda-benda koleksi museum.
• Mencari informasi mengenai museum dan benda-benda koleksi museum
• Menyaksikan film yang diputar oleh petugas mini theatre
• Menikmati makanan dan minuman (di area mini bar)
• Membeli buku dan membaca di ruang baca
2.3. Data Literatur 2.3.1. Museum
Museum memiliki beberapa pengertian diantaranya adalah sebagai berikut:
• Museum berasal dari bahasa Yunani : MUSEION.
Museion merupakan sebuah bangunan tempat suci untuk memuja Sembilan Dewi Seni dan Ilmu Pengetahuan. Salah satu dari sembilan Dewi tersebut ialah MOUSE, yang lahir dari maha Dewa Zeus dengan istrinya Mnemosyne.
Dewa dan Dewi tersebut bersemayam di pegunungan Olympus. Museion selain tempat suci, pada waktu itu juga untuk berkumpul para cendekiawan
yang mempelajari serta menyelidiki berbagai ilmu pengetahuan, juga sebagai tempat pemujaan Dewa Dewi.
Pengertian museum dewasa ini adalah sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan pengembangannya, terbuka untuk umum, yang memperoleh, merawat, menghubungkan dan memamerkan, untuk tujuan – tujuan studi, pendidikan dan kesenangan, barang – barang pembuktian manusia dan lingkungannya. (Definisi menurut ICOM = International Council of Museeum / Organisasi Permuseuman Internasional dibawah Unesco). Museum merupakan suatu badan yang mempunyai tugas dan kegiatan untuk memamerkan dan menerbitkan hasil – hasil penelitian dan pengetahuan tentang benda – benda yang penting bagi kebudayaan dan ilmu pengetahuan. (www.petra.ac.id/english/eastjava/culture/museum.htm)
• Museum berasal dari kata mousa, yang berarti lebih ke arah pengetahuan ruang atas tempat menyimpan benda-benda seni dan pengetahuan. (American Coorporation, Americana Encyclopedia, 1968)
• Museum adalah sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan melayani masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, yang memperoleh, merawat, menghubungkan dan memamerkan, untuk tujuan studi , pendidikan dan kesenangan, barang – barang pembuktian manusia dan lingkungannya. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kantor Wilayah Propinsi Jawa Tengah, Museum Negri Propinsi Jawa Tengah, Semarang, 1991)
• Museum adalah :
a. satu bangunan atau ruang dalam sebuah bangunan yang penting, terutama untuk melestarikan dan atau memamerkan koleksi – koleksi.
b. satu bangunan untuk menyimpan benda koleksi untuk diteliti, dipelajari dan menyenangkan. (Douglas A. Allen)
c. satu lembaga untuk merawat dengan aman benda – benda, dan untuk menginterpretasikan benda – benda itu melalui riset dan melalui pameran. (Edwin W. Colbert)
d. satu tempat menakjubkan, atau tempat penyimpanan.
e. setiap lembaga permanen yang menyimpan dan memajang keperluan – keperluan studi, pendidikan dan koleksi benda kultural yang menyenangkan atau untuk kepentingan – kepentingan ilmiah. (Dewan Museum Internasional)
f. satu lembaga untuk melestarikan benda – benda secara baik, dan menggambarkan gejala alam dan beberapa karya manusia, serta kegunaan mereka untuk meningkatkan pengetahuan dan untuk kebudayaan dan pendidikan masyarakat. (George Brown, Goode, 1895)
g. satu bangunan permanen, diatur sesuai minat umum, untuk maksud pelestarian, studi, dan diperkaya dengan berbagai makna dan, dalam arti khusus, memajangkan kepada umum karena benda – benda dan spesimen kulturalnya memberikan kenikmatan , dan petunjuk : koleksi – koleksi artistic, bersejarah, ilmiah, kebun –kebun raya dan kebun binatang dan akuarium , adalah beberapa contoh. Perpustakaan umum dan lembaga arsip umum yang menyediakan ruang – ruang pameran permanen, dianggap museum. (Dewan Museum Internasional, 1960) h. satu bangunan permanen yang tidak mencari untung, diadakan
terutama tidak untuk mengadakan, atau menyelenggarakan pameran yang bersifat sementara, berjalan lancar dengan bantuan pendapatan pajak pemerintah dan negara, terbuka bagi umum dan diatur sesuai kehendak umum, untuk maksud memelihara dan melestarikan, mempelajari, menginterpretasikan, merakit dan memamerkan kepada umum, karena benda dan spesimen itu berarti dan menyenangkan untuk keperluan pendidikan, dan bernilai kultural, ke dalamnya termasuk materi artistik, ilmiah (apakah animasi atau bukan animasi), bersifat sejarah dan teknologi. (Perkumpulan Museum Amerika, 1962) i. satu lembaga permanen, edukasional, tidak mencari untung dangan
koleksi-koleksi yang dikataloguskan dalam bidang seni, ilmu, atau sejarah dengan pameran-pameran yang terbuka untuk umum.
j. satu lembaga permanen yang tidak mencari untung dan terorganisasikan, secara esensial bersifat edukatif dan estetik dalam
kandungan isi, dengan staf yang profesional, yang memilik dan memakai benda-benda nyata, menjaga mereka (benda–benda itu) dan memamerkan mereka kepada umum pada jadwal yang tetap. (Rumusan Perkumpulan Museum Amerika)
k. satu lembaga yang bersifat permanent, untuk umum dan bersifat mendidik, yang bertanggung jawab pada koleksi-koleksi secara sistematik.
l. satu lembaga yang tidak mencari untung, dalam upaya melayani masyarakat, yang mencari, merawat dan mengkomunikasikan dan memamerkan, untuk keperluan studi, pendidikan, dan hiburan, materi kesaksian evolusi alam dan manusia. (Dewan Museum Internasional, versi konsep status baru, 1973)
(Proyek Pengembangan Permuseuman Sumatera Barat, Padang, 1986)
Museum di Indonesia memiliki tugas yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
• Menghindarkan bangsa dari kemiskinan kebudayaan
• Memajukan kesenian dan kerajinan rakyat
• Turut menyalurkan dan memperluas pengetahuan dengan cara masal
• Memberikan kesempatan bagi penikmatan seni
• Membantu secara metodik dan didaktik sekolah dengan cara kerja yang berfaedah pada setiap kunjungan murid – murid ke museum
• Memberikan kesempatan dan bantuan dalam penyelidikan ilmiah (Proyek Pengembangan Permuseuman Sumatera Barat, Padang, 1986)
Peranan museum yaitu melestarikan warisan sejarah alam dan budaya, dengan cara mengumpulkan, merawat, meneliti, mengkaji, mengkomunikasikan dan memamerkan untuk kepentingan masyarakat guna studi (penelitian), pendidikan dan rekreasi dalam rangka ikut mencerdaskan bangsa.
Fungsi museum diantaranya adalah sebagai berikut:
• Pengumpulan dan pengamanan warisan alam dan budaya
• Dokumentasi dan penelitian ilmiah
• Konservasi dan preparasi
• Penyebaran dan pemerataan ilmu untuk museum
• Pengenalan dan penghayatan kebudayaan antar daerah – daerah dan antar bangsa
• Visualisasi warisan alam dan budaya
• Cermin perkembangan peradaban umat manusia
• Pembangkit rasa bertaqwa dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kantor Wilayah Propinsi Jawa Tengah, Museum Negri Propinsi Jawa Tengah, Semarang, 1991)
• Pusat dokumentasi dan penelitian ilmiah
• Pusat penyaluran ilmu untuk umum
• Pusat penikmatan karya seni
• Pusat perkenalan kebudayaan antar daerah dan antar bangsa
• Objek wisata
• Media pembinaan pendidikan kesenian dan ilmu pengetahuan
• Suaka alam dan suaka budaya
• Cermin sejarah manusia, alam, dan kebudayaan
• Sarana untuk bertaqwa dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa (www.petra.ac.id/english/eastjava/culture/museum.htm)
Syarat benda koleksi museum:
• Benda itu mempunyai nilai sejarah dan nilai ilmiah. Dalam pengertian ini termasuk nilai keindahan, terutama objek – objek untuk koleksi museum seni rupa atau museum sejarah kesenian.
• Benda itu harus dapat diidentifikasikan, baik mengenai bentuk atau wujudnya (morfologik), tipenya (tipologik), gaya (stilistik), fungsinya, asalnya secara historikal, geografikal, jenisnya dalam orde biologi atau periodesasinya dalam geologi (untuk benda – benda sejarah alam).
• Benda itu harus dapat dijadikan dokumen dalam arti sebagai suatu bukti kenyataandan bukti kehadiran (realitas dan eksistensinya) bagi suatu penelitian ilmiah.
• Benda itu harus dapat dijadikan monumen atau bakal jadi monumen dalam sejarah alam dan budaya.
• Reproduksi atau replika yang sah menurut persyaratan permuseuman.
Jenis benda koleksi museum:
• Etnografika
Etnografika ialah setiap benda budaya yang cara pembuatan dan pemakaiannya menurut tradisi setempat.
• Prehistorika
Perhistorika ialah setiap benda budaya yang dibuat pada kurun waktu sebelum manusia belum mengenal huruf / tulisan.
• Arkeologika
Arkeologika ialah setiap benda yang dibuat pada kurun waktu setelah masuknya pengaruh kebudayaan Hindu dan Islam.
• Historika
Historika ialah setiap benda relik sejarah pada kurun waktu sejak masuknya bangsa – bangsa Eropa ( sejak abad ke 16 ).
• Keramik asing
Keramik asing ialah setiap benda keramik yang berasal dari negri asing.
• Numistika dan Heraldika
Numistika ialah setiap mata uang atau alat tukar ( token ) yang pernah beredar. Heraldika ialah setiap benda yang berupa tanda jasa, lambing dan tanda pangkat yang resmi.
• Naskah
Naskah ialah setiap bahan dengan bertulis tangan yang menguraikan suatu peristiwa.
• Buku / majalah Antikuariat
Buku / majalah Antikuariat ialah setiap hasil penerbitan yang sudah langka.
• Karya seni dan Senikria
Karya seni dan senikria ialah setiap benda hasil seni rupa dan senikria yang bernilai tinggi dalam ekspresi, gaya dan mewakili jamannya atau mengandung ciri – ciri tradisi setempat.
• Benda – benda Grafika
Foto dan peta asli atau setiap benda reproduksi yang dapat dijadikan dokumen.
• Diorama
Diorama ialah setiap suatu gambaran berbentuk tiga dimensi yang memperagakan
a. alam sekitar atau bagian – bagian khas wilayah setempat.
b. aktivitas mengenai sistem peralatan ( system teknologi ), sistem mata pencaharian ( sistem ekonomi ), sistem organisasi sosial, sistem religi, sistem pengetahuan dan kesenian.
c. peristiwa sejarah terpenting.
• Replika
Replika ialah setiap benda reproduksi dari nomer satu sampai dengan nomer tujuh tersebut di atas.
• Benda – benda sejarah alam
Benda – benda sejarah alam ialah setiap benda asli yang berupa flora, fauna dan benda – benda batuan dan mineral.
• Benda – benda wawasan nusantara
Benda – benda wawasan nusantara ialah setiap benda asli atau replika yang mewakili sejarah alam dan budaya dari wilayah nusantara.
Cara pengadaan koleksi:
• Benda diterima dari pihak kedua sebagai hadiah, wasiat, titipan tanpa konsekuensi pembiayaan / pembayaran
• Benda diterima sebagai penyerahan dengan pemberian imbalan dan benda itu akan dijadikan milik negara. Dalam pemberian imbalan ini, yang diterimakan kepada pihak yang menyerahkan barang tanpa dipungut pajak macam apapun juga.
• Benda diterima sebagai pertukaran dengan museum lain tanpa konsekuensi biaya tambahan, kecuali biaya pengiriman barang.
• Benda dibeli dari pihak kedua dengan perhitungan pajak menurut ketentuan yang berlaku.
Dalam pengadaan benda - benda koleksi diperlukan adanya tim penilai yang sekurang – kurangnya terdiri dari tiga ahli yang diangkat atau ditunjuk oleh pimpinan museum atau pimpinan proyek ( proyek pengembangan museum ). Adapun tim penilai ini mempunyai tugas sebagai berikut :
• Mengetahui dan mensahkan cara – cara pengadaan benda – benda koleksi.
• Menilai setiap benda yang akan dijadikan benda koleksi museum.
• Membuat berita acara pertanggungjawaban setiap benda yang disetujui untuk dijadikan benda – benda koleksi museum baik dalam mutu atau harga benda – benda koleksi.
• Menilai kembali setiap benda – benda koleksi yang dibeli atau penggantian imbalan oleh pelaksana survey atau penelitian lapangan.
(Proyek Pengembangan Permuseuman Sumatera Barat, Padang, 1989) 1. Sirkulasi museum
Pola sirkulasi pada museum ditentukan oleh pengorganisasian ruang-ruang dalam museum. Sirkulasi dalam museum harus dapat menampung gerak manusia, ketika manusia tersebut sedang berjalan, diam, melakukan pengamatan, dan lain sebagainya. Sirkulasi yang baik mampu mengarahkan dan memberi kesinambungan kepada para pengunjung terhadap fungsi ruang.
2. Pencahayaan
Pencahayaan dalam museum menggunakan pencahayaan buatan, pencahayaan alami tidak digunakan guna menjaga dan melindungi benda-benda koleksi museum terhadap sinar ultraviolet yang di pancarkan oleh sinar matahari langsung. Cahaya yang terang difokuskan pada area display. Untuk memperoleh pencahayaan yang baik perlu memperhatikan kualitas cahaya yang sesuai dengan kebutuhan manusia dan juga unsur estetika dan ruangan (Grazyne Pilatowicza, 1954).
3. Penghawaan
Penghawaan sangat berperan pada pengaturan suhu dalam museum. Untuk mengatur suhu udara dalam museum digunakan penghawaan buatan yaitu dengan menggunakan AC. Adapun ruang pamer museum harus memenuhi persyaratan:
a. Suhu udara pada ruang pamer antara 20o-40o C
b. Kelembaban udara pada ruang pamer antara 40%-60%
Oleh karena itu untuk mengatur kelembaban udara digunakan Dehumidifyer, sedangkan untuk mengurangi kekeringan digunakan Humidifayer (wawancara).
2.3.2. Ruang Pamer
Museum berfungsi sebagai tempat untuk memamerkan sesuatu dengan tujuan untuk menceritakan sesuatu yang berhubungan dengan apa yang dipamerkan. Selain itu museum juga berfungsi sebagai sarana pendidikan dan rekreasi bagi masyarakat.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merancang ruang pamer sebuah museum:
• Jarak pandang dan batas pandang
Dalam meletakkan benda koleksi harus diperhitungkan keadaan dan dimensi tubuh menusia pada umumnya. Menurut anatomi manusia, gerakan kepala yang wajar adalah 30o gerakan ke atas, dan 40o gerakan ke bawah ataupun ke samping. Jika objek berada diluar batas pandang maka dapat mengakibatkan ketidaknyamanan. Jarak pandang atau jarak pengamatan terhadap benda- benda koleksi museum dapat dilihat pada Lampiran 5 sampai dengan Lampiran 15.
• Menaikkan nilai benda
Dalam merancang museum benda koleksi merupakan objek yang paling penting, karena benda koleksi merupakan bagian utama dari museum itu sendiri sehingga benda koleksi tersebut harus lebih diutamakan dan ditonjolkan.
Suatu ruang pamer yang baik seharusnya:
• Terlindung dari gangguan, pencurian, kelembaban, kering dan debu.
• Mendapatkan cahaya yang terang merupakan bagian dari pameran yang baik.
• Dapat dilihat publik tanpa rasa lelah.
Ruang-ruang utama yang terdapat pada sebuah museum adalah entrance dan exhibition rooms. Beberapa teori tentang entrance, antara lain:
• Sebaiknya terdapat pintu-pintu keluar uang dapat dengan mudah ditemukan.
Tetapi hal tersebut sulit diwujudkan jika dipandang dari sisi keamanan terhadap benda-benda koleksi.
• Sangat penting bagi pintu masuk utama terlihat attractive, berfungsi sebagai penarik yang potensial bagi pengunjung untuk datang.
Dan terdapat juga beberapa teori tentang exhibition rooms, antara lain:
• Memiliki sirkulasi yang mudah/jelas sehingga pengunjung tidak kesulitan dalam mengamati objek-objek yang dipamerkan.
• Pengunjung dapat melihat semua objek yang dipamerkan dengan baik.
• Terdapat ruang yang memadai bagi pengunjung untuk bergerak dengan kecepatan yang berbeda. Karena beberapa pengunjung terus bergerak atau berjalan tetapi ada juga pengunjung yang berhenti untuk menikmati benda yang dipamerkan secara detil.
• Pengunjung cenderung untuk bergerak ke arah kanan ketika memasuki sebuah ruang. Hal tersebut mempengaruhi pola sirkulasi yang digunakan dalam ruangan.
• Kemampuan pengunjung untuk dapat melihat semua objek yang dipamerkan dengan sekali sapuan akan mempermudah pengunjung untuk mengerti tentang apa yang dipamerkan dan memutuskan suatu objek untuk dilihat.
• Visual diversity membantu pengunjung untuk tetap tertarik untuk melihat.
Dengan adanya variasi-variasi ketinggian plafon, aneka warna yang dapat mengurangi kebosanan dan kelelahan pengunjung ketika melihat.
(De Chiara, 1990: 365-376)
Pengadaan pameran dilakukan secara periodik dengan mengganti objek yang dipamerkan dalam hal ini yang diganti adalah display replika kerangka dinosaurus. Adapun tata cara pengadaan benda-benda koleksi museum (fosil):
Bagan 2.4. Mekanisme Koordinasi Penanganan Penemuan BCB Bergerak 2.3.3. Toko Buku
1. Interior Toko Buku
Di dalam sebuah toko buku sebaiknya menggunakan dasar susunan perancangan layout sederhana. Dalam perancangan layout yang sederhana ini bertujuan agar pengunjung dapat melihat keseluruhan display, terutama pada saat pengunjung berpindah tempat dari display yang satu ke display yang lain.
(Designing to Sell, Charles E. Broundy, 1990)
Etalase-etalase sebenarnya tidak terlalu penting dan kebanyakan toko-toko buku hanya memamerkan buku-buku terbaru atau buku terlaris pada etalase kecil.
Jenis etalase terbuka lebih diminati pengunjung karena mereka dapat melihat-lihat buku tersebut secara keseluruhan. (Shop, David Mun, London, 1981)
Interior sebuah toko buku harus dirancang sesederhana mungkin supaya para pembeli (pengunjung) dapat melihat-lihat koleksi yang ada meskipun dalam waktu yang bersamaan sehingga pengunjung lainnya dapat berjalan pada bagian lain tanpa harus berdesakan. Perancangan dengan jalan satu arah, bisa diterapkan pada perancangan toko buku, dimaksudkan agar para pengunjung lebih antusias untuk melihat koleksi lainnya. Dan jika memungkinkan diusahakan agar ruangan tersebut dirancang tanpa penyekat, sehingga mempermudah pengawasan oleh staf toko. (Shop, David Mun, London, 1981)
2. Sirkulasi Toko Buku
Pola sirkulasi yang jelas dapat mengarahkan dan membimbing perjalanan atau tapak yang terjadi pada ruang. Sirkulasi dapat memberi kesinambungan pada pengunjung terhadap fungsi ruang, antara lain dengan penggunaan tanda-tanda pada ruang sebagai petunjuk arah jalan tersendiri. (Desain Interior, J. Pamudji Suptandar, Jakarta, 1999)
Dalam proses perancangan sirkulasi toko buku harus memperhatikan beberapa hal berikut:
• Karakteristik sirkulasi keluar-masuk pada interior toko.
Dalam menentukan sirkulasi sebuah ruang seharusnya ditinjau dari segi psikologi pemakai atau pengguna, dengan cara mengamati gerak lalu-lalang pengguna dari satu tempat ke tempat lain dalam toko. Adapun pola sirkulasi pada ruangan sebagai berikut:
a. Pintu masuk dan keluar b. Dari depan ke belakang c. Dari satu sisi ke sisi yang lain d. Dari satu sudut ke sudut yang lain
• Menentukan peletakan barang penjualan
Pengunjung biasanya langsung mengunjungi tempat-tempat barang atau produk yang dibutuhkan. Dan pemilik toko cenderung merencanakan dan mengarahkan sirkulasi pengunjung dengan menempatkan barang-barang terlaris dan barang-barang pokok pada bagian paling belakang toko, dimaksudkan untuk menunjukkan barang-barang lain yang dijual, sehingga dapat merangsang minat pengunjung untuk membeli barang-barang tersebut.
3. Perabot Toko Buku
Untuk majalah biasanya diletakkan di rak dan dipamerkan secara vertikal, dimana rak-rak tersebut mempunyai kemiringan 15 derajat sampai 20 derajat.
Sedangkan untuk stationary biasanya diletakkan pada rak dan ukuran standarnya seperti rak-rak yang terdapat pada supermaket.
4. Pencahayaan Toko Buku
Kualitas pencahayaan dapat mempengaruhi barang-garang yang dipajang dan interior dari toko buku. Para pemilik toko buku menilai bahwa pencahayaan
merupaka alat dekorasi yang sangat penting, oleh sebab itu pencahayaan yang bagus akan menimbulkan kesan yang bagus pula serta dapat merangsang pengunjung untuk bertransaksi. Dan untuk memperoleh pencahayaan yang bagus maka biaya operasinya yang harus dikeluarkan sangat besar. (Designing to Sell, Charles E. Broundy, 1990)
Pencahayaan yang bagus adalah bagian yang paling penting pada toko buku, terutama bila dibutuhkan untuk membaca buku-buku yang bertulisan kecil.
Dan untuk mendesain etalase sebuah toko buku sebaiknya pencahayaannya cukup agar lebih menarik, terutama pada etalase yang mendisplay buku-buku terbaru.
(Shop, David Mun, London, 1981) 5. Warna
Seharusnya digunakan warna-warna yang sederhana sehingga tidak menyaingi sampul suatu buku. (Shop, David Mun, London, 1981)
6. Plafon
Tipe langit-langit:
• Logam
Logam ini terdiri atas kuningan, baja anti karat, dan porselen. Plafon yang terbuat dari logam dapat menambah kesan cemerlang dan bersih pada permukaannya.
• Drywall
Drywall ini dapat disusun menjadi suatu ukuran atau bentuk yang luas dengan desain yang bervariasi. Drywall juga berfungsi sebagai dinding berplester.
(Designing to Sell, Charles E. Broundy, 1990) 7. Lantai
Untuk faktor keselamatan, lantai pada pintu masuk toko sebaiknya dilengkapi dengan material anti licin. Dan sekarang banyak supplier yang menawarkan produk yang menarik seperti pengesat (keset), keramik, dan keset karet yang digunakan di bagian-bagian yang licin. Selain itu pada interior toko buku diperlukan finishing lantai dengan bahan yang anti dan tahan api. (Designing to Sel, Charles E. Broundy, 1990)
8. Keamanan
Pengawasan (pengamanan) di ruang display mempunyai peranan yang sangat penting, yaitu sebagai bagian dari upaya pemilik toko untuk menghindari terjadinya pencurian. Oleh karena itu sering kali terdapat sistem pengamanan dengan kamera atau cermin, begitu juga dengan alat elektronik (alarm) yang seharusnya dipasang pada pintu masuk dan pintu keluar. (Designing to Sell, Charles E. Broundy, 1990)
2.4. Data Pembanding
Data pembanding merupakan data yang diperoleh dari hasil survei dan wawancara sebelum melakukan perancangan, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Monumen Kapal Selam
Monumen kapal selam (Monkasel) berlokasi di Bantaran Kalimas, Jl.
Pemuda 39 Surabaya, dibangun atas prakarsa pemimpin TNI-AL, Gubernur Jawa Timur, dan para sesepuh kapal selam. Pembangunan Monkasel dimaksudkan:
• Menambah objek wisata bernuansa bahari di Jawa Timur khususnya Surabaya.
• Sebagai sarana pewarisan nilai sejarah yang merupakan cermin kebesaran bangsa indonesia sebagai bangsa bahari.
• Sebagai sarana pelestarian nilai-nilai luhur perjuangan bangsa indonesia dalam merintis, menegakkan, dan mengisi kemerdekaan, serta mengobarkan semangat perjuangan generasi muda untuk berpartisipasi dalam pembangunan nasional.
• Sebagai penghormatan kepada pejuang dan pahlawan laut sekaligus sebagai bukti sejarah pengabdian korps Hiu Kencana kepada bangsa dan negara.
• Memberi motivasi agar masyarakat lebih mengenal dan mencintai laut.
a. Sejarah singkat KRI Pasopati
KRI Pasopati dengan nomor lambung 410 termasuk jenis SS type Whiskey Class dibuat di Vladi Wostok Rusia pada tahun 1952, masuk jajaran TNI-AL (Satselarmatim) terhitung mulai tanggal 29 Januari 1962 dengan tugas pokok menghancurkan garis lintas musuh (anti shipping), mengadakan pengintaian dan melakukan silent raids.
Selama pengabdiannya, KRI Pasopati banyak berperan aktif dalam menegakkan kedaulatan negara dan hukum di laut yurisdiksi nasional, misalnya dalam operasi Trikora KRI Pasopati terlibat langsung di garis depan memberi tekanan-tekanan psikologis terhadap lawan, sehingga Irian Barat dapat kembali ke wilayah RI. Selain itu masih banyak operasi penting lainnya yang telah dilaksanakan. Diantaranya empat belas komandan berpangkat Perwira menengah telah memimpin KRI Pasopati. Komandan Pertama Mayor Laut (P) Yasin Sudirjo, dan Komandan terakhir Mayor Laut (P) Imam Zaki.
KRI Pasopati 410 dinonaktifkan dari jajaran TNI-AL pada tanggal 25 Januari 1990 ditandai dengan penurunan “ular-ular perang” dalam suatu upacara militer di ujung Surabaya.
b. Data kapal
Panjang : 76,6 meter
Lebar : 6,30 meter
Kecepatan kapal : 18,3 knots di atas air/13,5 knots di bawah air Berat penuh : 1.300 ton
Berat kosong : 1.050 ton Jarak jelajah : 8.500 mil laut Bahan bakar : solar
Batere : 224 buah
Persenjataan : torpedo steam gas 12 buah Panjang torpedo : 7 meter
Peluncur torpedo : 6 buah
Awak kapal : 63 orang termasuk perwira c. Monumen Kapal Selam KRI Pasopati
Merupakan wujud asli dari eks KRI Pasopati 410, salah satu kapal selam TNI-AL dari Satuan Kapal Selam Armada RI Kawasan Timur (Satselarmatim).
Pembangunan Monkasel dimulai tanggal 1 Juli 1995, ditandai dengan peletakan batu pertama pondasi Monkasel oleh Guernur Jawa Timur Bapak Basofi Soedirman didampingi Pangarmatim Laksda TNI Gofar Soewarno. Dalam waktu yang sama KRI Pasopati yang akan dimonumenkan dipotong menjadi 16 blok di PT. PAL Indonesia. Keenam belas potongan tersebut dibawa ke lokasi kemudian
dirakit ulang sehingga KRI Pasopati kembali menjadi wujud semula di atas pondasi yang telah disiapkan. Monkasel diresmikan oleh Bapak Kasal Laksamana TNI Arief Kushariadi pada tanggal 27 Juni 1998 dan dibuka untuk umum mulai tanggal 15 Juli 1998. Monumen Kapal Selam KRI Pasopati 410 terbagi atas tujuh ruangan:
Ruang 1, merupakan ruang torpedo haluan, dilengkapi 4 peluncur torpedo, tempat penyimpanan torpedo cadangan, dan tempat istirahat ABK. Di bawah geladak terdapatdomesonar.
Ruang 2, Lounge Room Perwira, sekaligus ruang makan dan tempat bekerja perwira. Di bawah geladak terdapat ruang penyimpanan batere group 1.
Ruang 3, ruang PIT (Pusat Informasi Tempur), tempat pengoperasian kapal dan pusat kegiatan tempur dilaksanakan. Di bawah geladak terdapat gudang penyimpanan makanan.
Ruang 4, Lounge Room Bintara/Tamtama dan dapur. Di bawah geladak terdapat ruang penyimpanan batere group 2.
Ruang 5, tempat motor diesel, pesawat bantu dan pengendaliannya.
Ruang 6, adalah tempat motor listrik penggerek kapal, motor-motor bantu dan pengendaliannya.
Ruang 7, merupakan ruang torpedo buritan, terdapat 2 peluncur torpedo yang berfungsi menyerang atau menghindar.
Secara keseluruhan elemen pembentuk ruang pada kapal selam terbuat dari bahan besi/baja. Khusus untuk lantai dilapisi dengan bahan vinyl.
d. Sarana Pendukung
Monkasel KRI Pasopati 410 yang berada di tengah-tengah taman Swarga Puspitaoka, dilengkapi dengan sarana hiburan video rama, live music, dan wisata air Kalimas. Disamping itu juga dilengkapi dengan restoran/cafe, tempat penjualan souvenir dan sarana parkir yang luas.
Taman Swarga Puspitaloka yang asri dengan aneka macam tumbuhan tertata rapi, dipadukan dengan jogging, track, koridor, tempat duduk, lampu- lampu hias dan bangunan yang serasi. Pada dinding pembatas sebelah barat divisualisasikan sejarah kekuatan bahari selama dua belas abad dalam sebuah
karya seni lukis yang siap dinikmati. Sedangkan di pelataran sebelah timur monumen terdapat panggung hiburan. Di tempat ini berbagai acara dapat digelar.
Setiap hari Sabtu dan Minggu malam, hiburan live music merupakan sajian khusus Monkasel.
Hiburan video rama menyuguhkan film layar lebar yang dilengkapi sound system double stereo sangat mendukung penayangan film berjudul “Monumen Kapal Selam” dan “Lebih Mengenal TNI Angkatan Laut”. Disamping itu Monkasel juga menyediakan fasilitas hiburan wisata air di Kalimas, antara lain:
perahu karet, perahu motor, sepeda air, perahu naga, dan jet ski (carteran) setiap hari Sabtu dan Minggu.
Cafe Monkasel yang berada tepat di belakang monumen menyediakan aneka masakan khas yang siap dinikmati di dalam ruangan maupun di taman Swarga Puspitaloka. Bagi pengunjung yang menginginkan cinderamata, Monkasel telah menyiapkan aneka ragam souvenir di sebelah utara gedung multimedia.
Adapun jam operasional Monkasel:
Senin – Jumat : 08.00 – 21.00 WIB Sabtu – Minggu : 08.00 – 22.00 WIB
Gambar 2.2. Ruang Dalam Monumen Kapal Selam
Gambar 2.3. Cafe Monkasel
Gambar 2.4. Video Rama Monkasel
2. Monumen Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh November
Monumen Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh November berlokasi di Jl. Bubutan 1 Surabaya. Monumen Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh November didirikan pada tanggal 10 November 1951, dan diresmikan tepat satu tahun kemudian oleh Presiden pertama RI, Ir. Soekarno. Monumen ini dibangun untuk mengenang sejarah perjuangan para pahlawan kemerdekaan negara dan bangsa indonesia dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
Untuk mendukung keberadaan Tugu Pahlawan dan untuk melengkapi fasilitas sejarahnya, maka didirikanlah Museum Perjuangan Sepuluh November 1945.
Di dalam museum terdapat koleksi persenjataan, baik dari pihak sekutu maupun dari pihak Jepang, yang digunakan pada pertempuran 10 November1945.
Selain itu juga terdapat hall of fame, gugus patung, koleksi foto, koleksi bersejarah dari Bung Tomo, beberapa setting peristiwa penting yang dirangkum dalam delapan diorama statis, dan penayangan film pertempuran 10 November 1945 dalam diorama elektronik.
Di dalam museum ini pengunjung juga dapat mendengarkan pidato Bung Tomo yang berapi-api untuk membangkitkan semangat juang rakyat dalam menghadapi ultimatum sekutu.
Semangat juang serta persatuan dan kesatuan yang tinggi dalam pertempuran 10 November 1945 inilah yang kemudian diabadikan dalam predikat Surabaya Kota Pahlawan.
Adapun benda-benda yang dikoleksi adalah benda-benda yang hanya ada hubungannya dengan pertempuran 10 November 1945. Benda-benda koleksi tersebut diperoleh melalui beberapa cara, seperti mendapatkan hibah dari Kodam 5 Brawijaya, hasil rampasan dari sekutu, Belanda, dan Jepang. Benda-benda koleksi yang dimiliki oleh Museum Sepuluh November meliputi:
• Hall of fame
Gugus patung yang menggambarkan figur para pejuang yang tegak, bertahan, dan gugur untuk mencapai kemerdekaan bangsa tanpa pamrih, terdapat di ruang hening.
• Sosiodrama Bung Tomo
Gugus patung para pejuang dari unsur militer, organisasi rakyat, palang merah maupun dapur umum yang berada di suatu markas yang sedang mendengarkan pidato Bung Tomo yang berapi-api pada tanggal 9 November 1945.
• Radio Bung Tomo
Radio asli milik Bung Tomo yang diberikan oleh pejuang-pejuang Tanah Abang Jakarta, karena besarnya keberanian yang ditimbulkan oleh pidato beliau.
• Bendera merah putih
Bendera merah putih adalah merupakan sumbangan dari ibu Bung Tomo.
• Senjata
Senjata jenis Karaben Mauser yang dipergunakan dalam pertempuran Surabaya.
• Foto
Beberapa foto peristiwa pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
• Relief
Relief-relief yang terdapat di dinding halaman depan monumen menggambarkan peristiwa perjuangan bangsa Indonesia mulai sebelum kemerdekaan sampai pasca kemerdekaan.
Pembagian ruang pada Monumen Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh November, meliputi:
• Lapangan upacara
Lapangan upacara dilengkapi dengan tiang bendera serta teras kehormatan bagi tamu undangan VIP. Khusus untuk kepentingan parade devile dilakukan di area monumen.
• Ruang pamer
Tempat memajang dan memamerkan benda-benda koleksi.
• Diorama elektronik
Merupakan ruang audiovisual yang menyajikan film dokumenter tentang pertempuran Surabaya 10 November 1945 disertai dengan peta maket Surabaya tahun 1945, lengkap dengan sistem pencahayaan dan detektor asap sesuai dengan arah dan lokasi kejadian/serangan.
• Diorama statis
Menampilkan beberapa setting peristiwa penting dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan, antara lain:
a. Insiden bendera di Hotel Yamato
Insiden perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato Jl. Tunjungan tanggal 19 September 1945.
b. Markas Kempitai
Penyerbuan ke markas Kempitai (Polisi Militer Jepang) di depan kantor Gubernur tanggal 1 Oktober 1945. Lokasi tersebut sekarang merupakan tempat berdirinya Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh November.
Gambar 2.5. Interior Museum Sepuluh November
Gambar 2.6. Display Benda Koleksi Museum
Gambar 2.7. Diorama Statis
3. Museum Mpu Tantular
Museum Negri Mpu Tantular berlokasi di Jl. Buduran Sidoarjo. Adapun latar belakang pemberian nama Mpu Tantular pada museum adalah sebagai berikut:
• Menampilkan seorang tokoh pujangga yang termasyur pada kejayaan Majapahit, yang mengarang kitab Arjunawijaya dan Sutasoma. Di dalam kitab Sutasoma inilah tercantum kata-kata Bhinneka Tunggal Ika, yang sampai sekarang dipakai sebagai semboyan oleh bangsa Indonesia.
• Nama Mpu Tantular mengandung pengertian tersembunyi “Tantular”
berarti tak tertulari, tak terpengaruhi, atau tak tergoyahkan.
a. Sejarah singkat berdirinya Museum Mpu Tantular
Museum Mpu Tantular merupakan kelanjutan dari Stedelijk Historisch Museum Surabaya yang didirikan oleh Von Faber seorang kolektor berkebangsaan Jerman yang sudah menjadi warga Surabaya. Usaha Von Faber untuk mendirikan museum ini sebenarnya sudah dirintis sejak tahun 1922, tetapi baru tahun 1933 bisa terwujud. Sedangkan pembukaannya secara resmi dilaksanakan pada tanggal 25 Juni 1937.
Museum ini pada mulanya terletak di Raadhius Ketabang, kemudian pindah ke Tegal Sari di rumah janda Han Tjiong King, dari Tegal Sari kemudian pindah lagi ke Jl. Pemuda no.3 Surabaya.
Nama Stedelijk Historisch Museum pada tahun 1972 diubah menjadi Museum Jawa Timur dan pada tanggal 1 November 1974 diresmikan dengan nama Museum Negri Propinsi Jawa Timur “Mpu Tantular”.
Pada akhir tahun 1975, museum pindah ke tempat baru di Jl. Taman Mayangkara no. 6 Surabaya. Mengingat semakin banyaknya koleksi, maka sejak awal tahun 2004 Museum Mpu Tantular menempati lokasi baru di Sidoarjo, sedangkan gedung lama di Surabaya tetap difungsikan sebagai gedung pameran khusus.
b. Tata pameran
Pameran merupakan suatu kegiatan yang utama dari museum. Tanpa pameran museum tidaklah berarti apa-apa. Koleksi yang dimiliki Museum Mpu Tantular berasal dari dalam negri maupun luar negri.
Penataan pameran untuk sementara menempati gedung pameran tetap.
Lantai 1 digunakan sebagai tempat pameran koleksi konvensional yang terdiri atas koleksi geologika, biologika, ethnografika, arkeologika, historika, numismatika, filologika, keramologika, senirupa, dan teknologika. Sedangkan pada lantai 2 digunakan untuk penataan alat peraga IPTEK.
Museum Mpu Tantular berupaya meningkatkan layanan memenuhi kebutuhan sekolah dengan menambah koleksi yang bernuansa IPTEK, dengan demikian fungsi dan kedudukan museum benar-benar menjadi media pendidikan sekaligus laboratorium sekolah.
Berdasarkan Perda Jatim nomor 39/2000 Museum Mpu Tantular menjadi salah satu Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur, yang melaksanakan tugas pengumpulan, perawatan, pengawetan, penyajian, penelitian koleksi dan penerbitan hasilnya serta memberikan bimbingan edukatif kultural dan penyajian rekreatif benda yang mempunyai nilai budaya dan ilmiah.
c. Program edukatif kultural (yang rutin diadakan di Museum Mpu Tantular) Pameran (pameran keliling, temporer dan pameran bersama)
Ceramah/seminar (pelajar dan umum)
Lomba (pelajar dan umum)
Pergelaran/peragaan koleksi kesenian tradisional (pelajar dan umum) Pemutaran slide/film/video (pelajar)
Kegiatan Museum Masuk Sekolah (pelajar) Bimbingan pembuatan karya tulis
d. Jam operasional Museum Mpu Tantular
Selasa – Kamis : 08.00 – 15.00 WIB Jumat : 07.00 – 14.00 WIB Sabtu : 08.00 – 12.30 WIB Minggu : 08.00 – 13.30 WIB
Senin : pameran museum tutup (kantor buka)
Gambar 2.8. Dislpay Benda Koleksi Museum Mpu Tantular
Gambar 2.9. Ruang Pamer Alat Peraga IPTEK
Gambar 2.10. Interior Ruang Pamer Museum Mpu Tantular