• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI 2.1.Landasan Teori

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. LANDASAN TEORI 2.1.Landasan Teori"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1.Landasan Teori

2.1.1. Laporan Keuangan Auditan

Laporan Keuangan auditan didefinisikan sebagai “ a company’s financial statement which have been prepared and certified by an certified public accountant (the auditor). An auditor can have an unqualified opinion, in which he or she agrees with how the company prepared the statements or a qualified opinion, in which he or she stetes which aspects of the company’s stetement he or dhe does not agree with. In extreme cases, the auditor may express no opinion on financial statement at all, in the case that the scope of the audit was insufficient”.(www.investorwords.com)

2.1.2. Unsur-unsur Laporan Keuangan Auditan

Laporan keuangan auditan terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan saldo laba, dan laporan arus kas yang telah diaudit oleh auditor dari kantor akuntan publik.

2.1.3. Pengguna Laporan Keuangan Auditan

Ada dua pihak yang berkepentingan terhadap terhadap laporan keuangan auditan ini, antara lain :

1. Pihak internal perusahaan, yaitu pihak manajemen perusahaan

Melalui laporan keuangan auditan ini, pihak manajemen dapat mengetahui bagaimana kinerja perusahaan selama satu periode.

2. Pihak eksternal perusahaan, antara lain : a. Pajak

Untuk menghitung berapa besar pajak yang harus dibayar perusahaan kepada pemerintah berdasar laba yang diperoleh perusahaan.

b. Stakeholder

Memberi informasi apakah perusahaan memperoleh keuntungan (laba) atau menderita kerugian. Jika perusahaan memperoleh laba maka laba tersebut akan mempengaruhi besar deviden yang akan diterimanya tetapi

(2)

jika perusahaan mengalami kerugian, hal tersebut akan mempengaruhi keputusan untuk memegang atau menjual saham perusahaan.

c. Investor

Sebagai sumber pertimbangan investor untuk melakukan investasi d. Kreditor

Sebagai sumber pertimbangan untuk memberikan pinjaman baik untuk jangka panjang maupun jangka pendek.

2.1.4. Teknik Analisis dan Penilaian Investasi

Ada 4 analisis utama yang mempengaruhi investor untuk mengambil keputusan investasi, antara lain :

1. Analisis Fundamental

Analisis ini berhubungan dengan kondisi keuangan perusahaan. Dengan analisis ini diharapkan calon investor akan mengetahui bagaimana operasional dari perusahaan yang nantinya akan menjadi milik investor, apakah sehat atau tidak, cukup menguntungkan atau tidak, dan sebagainya. Biasanya nilai suatu saham sangat dipengaruhi oleh kinerja dari perusahaan yang bersangkutan.

Hal ini penting karena akan berhubungan dengan hasil yang diterima dari investasi dan resiko yang harus ditanggung.

2. Analisis Teknikal

Analisis ini cukup sering dipakai oleh investor dan biasanya data yang dipakai dalam analisis ini berupa grafik atau program komputer. Dari grafik atau program komputer akan diketahui bagaimana kecenderungan pasar, sekuritas, atau duture komoditas yang akan dipilih dalam berinvestasi. Biasanya analisis ini digunakan untuk investasi jangka pendek dan menengah, tetapi tidak jarang analisis ini digunakan dalam investasi jangka panjang. Teknik ini mengabaikan hal- hal yang berkaitan dengan posisi keuangan perusahaan.

3. Analisis Ekonomi

Analisis ini cukup penting karena sangat berpengaruh terhadap analisis efek secara keseluruhan. Untuk melakukan analisis ini digunakan berbagai indikator yang biasanya juga digunakan oleh pengambil kebijakan dalam

(3)

bidang ekonomi. Salah satu indikator yang banyak digunakan adalah tingkat GDP (Gross Domestic Product).

Pertumbuhan ekonomi yang baik secara umum menunjukkan tingkat perbaikan kesejahteraan masyarakat dan hal ini biasanya diikuti dengan kegiatan pasar modal yang semakin bergairah. Sebaliknya kondisi ekonomi yang lesu ditunjukkan juga dari kegiatan pasar modal yang melemah.

4. Analisis Rasio Keuangan

Analisis ini didasarkan pada hubungan antar pos dalam laporan keuangan perusahaan yang akan mencerminkan keadaan keuangan serta hasil dari operasional perusahaan.

Rasio keuangan dikelompokkan menjadi 5 berdasarkan ruang lingkupnya:

a. Rasio likuiditas

Menyatakan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya.

b. Rasio solvabilitas

Kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya.

c. Rasio aktivitas

Kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan harta yang dimilikinya.

d. Rasio rentabilitas

Kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan.

e. Rasio pasar

Informasi penting perusahaan dan diungkapkan dalam basis per saham.

2.1.5. Investor

Secara sederhana investor dapat didefinisikan sebagai orang yang melakukan penanaman modal (investasi).

Investasi sendiri didefinisikan sebagai “the current commitment of money or other resources in the expectation of reaping future benefit” (Bodie et. al. 1998:

2)

(4)

2.1.6. Resiko Investasi

Selama ini investor mempercayai adanya hubungan negatif antara expected return dan resiko investasi. Jadi jika resiko yang dihadapi besar maka akan menghasilkan return yang kecil, sebaliknya jika investasi yang memiliki resiko kecil akan menghasilkan return yang besar. Penelitian yang dilakukan oleh Finucane at al (2000) dan Alhakami and Slovic (1994) membuktikan bahwa ada hubungan yang negatif antara expected return dengan resiko investasi.

Resiko investasi adalah resiko yang berhubungan dengan dinamika permintaan dan penawaran sekuritas, fluktuasi harga sekuritas, dan harapannya terhadap prospek perusahaan (Anoraga 2001:79).

Investor tidak dapat dipisahkan dari harapan untuk memperoleh income di masa yang akan datang dalam kondisi pasar yang penuh dengan ketidakpastian.

Untuk membuat prediksi di masa yang akan datang diperlukan pengetahuan tertentu untuk menganalisis data-data ekonomi keuangan masa kini dan masa yang akan datang. Berdasar keputusan investasi di mana income yang belum tentu sesuai dengan apa yang diharapkan inilah timbul resiko bagi investor.

Dalam melaksanakan investasi, investor diharapkan memahami adanya beberapa resiko antara lain sebagai berikut:

1. Resiko finansial

Yaitu resiko yang diterima oleh investor akibat dari ketidakmampuan emiten saham/obligasi memenuhi kewajiban pembayaran deviden/bunga serta pokok investasi.

2. Resiko pasar

Yaitu resiko akibat menurunnya harga pasar substansial baik keseluruhan saham maupun saham tertentu akibat perubahan tingkat inflasi ekonomi, keuangan negara, perubahan manajemen perusahaan, atau kebijakan pemerintah.

3. Resiko psikologis

Yaitu resiko bagi investor yang bertindak secara emosional dalam menghadapi perubahan harga saham berdasarkan optimisme dan pesimisme yang dapat mengakibatkan kenaikan dan penurunan harga saham. Jika banyak investor yang membeli saham melebihi supply yang tersedia di pasar maka akan

(5)

mendorong harga keseluruhan semakin meningkat, sedangkanbila banyak investor menjual sahamnya maka akan mendorong harga saham menurun.

2.1.7. Determinasi Investasi

Setiap keputusan investasi melibatkan 5 unsur pokok yang dapat disebut determinasi investasi. Dalam setiap pengambilan keputusan investasi, unsur-unsur tersebut akan muncul baik secara eksplisit atau implisit, disadari atau tidak, diaolah secara sistematis atau tidak. Kelima unsur tersebut adalah :

1. Kondisi investor

Kondisi investor meliputi kondisi keuangannya dan sikap terhadap resiko.

Proses psikologis seorang investor dalam mengalokasikan dana yang dimilikinya pada umumnya mengikuto urutan- urutan yang sama. Penghasilan pertama akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar, lapisan penghasilan berikutnya akan digunakan untuk core investmen, yaitu dengan tingkat keamanan yang tinggi dengan keuntungan yang terukur.

Seandainya investor memiliki tingkat pendapatan yang lebih tinggi, maka ia akan mengarahkan dananya pada investasi dengan tingkat resiko yang lebih tinggi dengan pendapatan yang lebih tinggi pula.

Sikap investor terhadap resiko dipengaruhi oleh kondisi keuangan. Apakah seorang investor berani menghadapi resiko, netral, atau menghindari resiko selain ditentukan oleh umur, temperamen, juga dipengaruhi oleh jumlah dana yang dimilikinya.

2. Motif investasi

Umumnya investor memiliki motif investasi tertentu. Namun intensitas motif- motif seperti pertumbuhan, pendapatan, fasilitas pajak, dan spekulasi berbeda antra investor.

3. Media investasi

Ada 2 media investasi yang disodorkan pada investor yaitu real asset dan financial asset (pasar uang dan pasar modal).

4. Teknik dan analisis modal

Teknik dan analisis modal yang dignakan adalah analisis fundamental dan analisis teknik.

(6)

5. Strategi investasi

Strategi investasi yang tapat akan memberikan hasil yang optimal bagi investor.

2.1.8. Manajer Investasi

Manajer investasi (investment manager) adalah seorang profesional yang mengelola dana dari klien. Pekerjaan sehari- harinya adalah adalah membuat strategi agar dana yang dikelola bertumbuh sesuai dengan keinginan investor.

Yang terpenting bagi manajer investasi adalah bagaimana memberikan tingkat pengembalian yang tinggi.Manajer investasi dapat disebut sebagai perusahaannya dan orang yang mengelola dana.

2.1.9. Populasi

Popolasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas : objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. (Sugiyono1999:72)

Jadi populasi bukan hanya orang tetapi juga objek dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan hanya sekedar jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik /sifat yang dimiliki oleh subjek atau objek itu.

2.1.10. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono1999:73). Jika populasi suatu penelitian besar dan peneliti mengalami kesulitan untuk mempelajari seluruh populasi tersebut, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut.

Kesimpulan atas kondisi suatu populitas diambil berdasarkan penelitian yang dilakukan pada sampel, maka pengambilan sampel haruslah representatif atau mewakili populasi yang ada.

(7)

2.1.11. Variabel

Secara sederhana variabel merupakan sesuatu yang menjadi objek penelitian, yaitu sesuatu hal yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemud ian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 1999:31).

Variabel penelitian dapat disefinisikan sebagai suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya.

2.1.12. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas Kuesioner

Sumber data yang digunakan oleh penulis adalah kuesioner. Ada tiga langkah dalam menyusun sebuah kuesioner :

1. Menetapkan sebuah konstrak, yaitu membuat batasan mengenai variabel yang akan diukur.

2. Menetapkan faktor- faktor/variabel- variabel, yaitu mencoba menemukan unsur-unsur yang ada pada sebuah konstrak. Jadi faktor pada dasarnya adalah perincian lebih lanjut dari sebuah konstrak.

3. Menyusun butir-butir pertanyaan, yaitu mencoba menjabarkan sebuah faktor lebih lanjut dalam berbagai pertanyaan yang langsung berinteraksi dengan pengisi kuesioner.

Suatu kuesioner dikatakan baik jika Kuesioner tersebut memenuhi dua syarat, yaitu kuesioner tersebut harus valid dan reliabel (Santoso 2000:270).

Suatu kuesioner dikatakan valid (sah) jika pertanyaan dalam kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut.

Sedangkan kuesioner dikatakan reliabel (andal) jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Santoso 2000:270).

Pengujian validitas dan reliabilitas kuesioner adalah proses menguji butir- butir pertanyaan yang ada dalam kuesioner, apakah isi dari butir pertanyaan tersebut sudah valid dan reliabel. Jika butir-butir pertanyaan tersebut sudah valid dan reliabel maka butir-butir tersebut sudah bisa digunakan untuk mengukur faktor- faktornya. Dalam pengujian butir tersebut bisa saja ada butir-butir yang

(8)

tidak valid dan reliabel, sehingga harus dibuang atau diganti dengan pertanyaan yang lain (Santoso, 2000:272).

Analisis ini dimulai dengan uji validitas terlebih dahulu dan kemudian baru diikuti dengan uji reliabilitas. Jika ditemukan butir yang tidak valid maka otomatis butir pertanyaan tersebut dibuang. Butir pertanyaan yang sudah valid baru diukur reliabilitasnya.

Pengujian validitas dan reliabilitas ini terdiri dari beberapa langkah dan dilakukan dengan menggunakan program SPSS, di mana langkah- langkah tersebut diterapkan pada setiap faktor dalam kuesioner.Langkah- langkah tersebut adalah :

1. Uji validitas

Ada 4 langkah yang harus dilakukan dalam pengujian validitas kuesioner, yaitu :

a. Menentukan hipotesis untuk pengujian validitas

Pengujian validitas kuesioner dilakukan dengan penentuan hipotesis.

Hipotesis yang digunakan adalah :

H0 = Skor butir berkorelasi positif dengan skor faktor H1 = Skor butir tidak berkorelasi positif denganskor faktor b. Menetukan nilai r tabel

Untuk menentukan nilai r tabel, ada 2 hal yang harus ditentukan lebih dahulu yaitu df (degree of freedom) dan tingkat signifikansi. N ilai df adalah sebesar jumlah kasus-2. Sedangkan tingkat signifikansi ditentukan sendiri oleh peneliti. Dengan dua hal tersebut aka akan diperoleh nilai r tabel.

c. Mencari r hasil

Di mana r hasil untuk setiap variabel dapat dilihat pada kolom Corrected Item-Total Correlation (yang terdapat pada output uji validitas yang dihasilkan program SPSS)

d. Mengambil keputusan

Setelah melakukan 3 langkah di atas maka dapat diambil keputusan mengenai valid tidaknya butir-butir yang terdapat dalam suatu kuesioner.

(9)

Dasar pengambilan keputusan yang digunakan dalam uji validitas adalah sebagai berikut :

- Jika r hasil positif dan r hasil > r tabel, maka butir atau variabel tersebut valid.

- Jika r hasil tidak positif dan r hasil < r tabel, maka butir atau variabel tersebut tidak va lid.

Jika r hasil > r tabel tetapi bertanda negatif maka H0 akan tetap ditolak.

Apabila dalam pengujian tersebut ada butir-butir yang tidak valid, maka butir-butir yang tidak valid tersebut dikeluarkan dan proses analisis diulang untyk butir yang valid saja. Untuk melakukan hal tersebut digunakan file yang baru yang merupakan hasil proses analisis pertama dengan jumlah butir sebanyak butir mula-mula dikurangi jumlah butir yang tidak valid.(Santoso, 2000:277).

Pengujian validitas ini harus dilakukan berulang- ulang hingga yang tersisa adalah butir-butir yang valid saja. Jika semua butir sudah valid, maka analisis dapat dilanjutkan pada pengujian reliabilitas.

2. Uji Reliabilitas

Ada 4 langkah yang harus dilakukan dalam pengujian reliabilitas kuesioner, yaitu :

a. Menentukan hipotesis untuk pengujian reliabilitas

Hipoteis yang igunakan dalam pengujian reliabilitas adalah : H0 = Skor butir berkorelasi positif dengan komposit faktornya H1 = Skor butir tidak berkorelasi positif dengan komposit faktornya b. Menentukan nilai r tabel

Untuk menentukan nilai r tabel, ada 2 hal yang harus ditentukan labih dahulu yaitu df (degree of freedom) dan tingkat signifikansi. Nilai df adalah sebesar jumlah kasus-2. Sedangkan tingkat signifikansi ditentukan sendiri oleh peneliti. Dengan dua hal tersebut aka akan diperoleh nilai r tabel.

c. Mencari r hasil

Yang dimaksud dengan r hasil dalam hal ini adalah angka ALPHA yang terletak pada bagian output.

(10)

d. Mengambil keputusan

Setelah melakukan 3 langkah di atas, maka dapat diambil keputusan mengenai reliabilitas sebuah kuesioner. Dasar pengambilan keputusan yang digunakan dalam pengujian reliabilitas adalah sebagai berikut : - Jika r Alpha positif dan r Alpha > r tabel, maka butir atau variabel

tersebut reliabel.

- Jika r Alpha tidak positif dan r Alpha < r tabel, maka butir atau variabel tersebut tidak reliabel

Apabila r Alpha > r tabel tetapi bertanda negatif, maka H0 tetap ditolak.

Jika butir-butir untuk mengukur suatu faktor sudah valid dan reliabel, maka analisis dilanjutkan dengan menguji validitas dan reliabilitas faktor- faktor lainnya dengan mengulang langkah- langkah pada uji validitas dan reliabilitas seperti yang telah dijabarkan di atas. Hal ini terus menerus dilang untuk seluruh faktor yang ada pada kuesioner (Santoso, 2000:281).

2.1.13. Regresi Linier Berganda (Multiple Linear Regression)

Tujuan regresi berganda adalah untuk memprediksi besar variabel terikat dengan menggunakan data variabel bebas yang sudah diketahui besarnya.

Tahapan penyusunan model regresi berganda meliputi :

1. Menentukan mana variabel bebas (independent) dan mana variabel terikat (dependent).

2. Menentukan metode pembuatan model regresi (Enter, Stepwise, Forward, Backward).

3. Melihat ada tidaknya data yang outlier (ekstrim)

4. Menguji asumsi-asumsi pada regresi berganda seperti Normalitas, Linieritas, Heteroskedastisitas dan lainnya.

5. Menguji signifikansi model (Uji T, uji F, dan sebagainya) 6. Intepretasi model refresi berganda

Dalam analisis regresi ini akan dikembangkan sebuah persamaan regresi (estimating equation) yang merupakan sebuah rumus matematika yang mencari nilai variabel dependen dari nilai variabel independen yang diketahui.

(11)

2.1.14. Bentuk Umum Regresi Berganda

Metode regresi berganda digunakan pada penelitian yang memiliki lebih dari satu variabel independen. Bentuk umum garis regresi populasi berganda adalah :

Y = a + b1X1 + b2X2 + ... + bnXn + e Di mana :

Y = variabel terikat (dependent variable) X = variabel bebas (independent variable) a = konstanta

b = koefisien variabel bebas e = variabel tambahan

2.1.15. Pengujian Signifikans i ANOVA atau Uji F (F Test)

Uji F digunakan untuk mengetahui signifikan atau tidaknya pebgaruh variabel bebas secara keseluruhan terhadap variabel dependennya. Sebelum melakukan uji F, perlu ditentukan lebih dahulu hipotesis sebagai dasar pengambilan keput usan terhadap hasil uji F tersebut, yaitu :

H0 = model regresi bisa dipakai untuk mempredikdi variabel dependen H1 = model regresi tidak bisa dipakai untuk memprediksi variabel dependen Dasar pengambilan keputusan yang digunakan (berdasar probabilitas):

- Jika probabilitas > 0,05 maka H0 diterima - Jika probabilitas > 0,05 maka H0 ditolak

Nilai probabilitas (Sig./significance) dapat diketahui langsung dengan menggunakan program SPSS.

2.1.16. Pengujian Signifikansi T (T Test)

Uji T digunakan untuk mengetahui bagaimana pengaruh atau tingkat signifikansi secara parsial konstanta dari setiap variabel bebas yang ada.. Sebelum melakukan uji T, perlu ditentukan lebih dahulu hipotesis sebagai dasar pengambilan keputusan terhadap hasil uji T tersebut

Hipotesis tersebut adalah : H0 = koefisien regresi signifikan

(12)

H1 = koefisien regresi tidak signifikan

Dasar pengambilan keputusan yang digunakan (berdasar probabilitas):

- Jika probabilitas > 0,05 maha H0 diterima - Jika probabilitas > 0,05 maha H0 ditolak

Nilai probabilitas (Sig./significance) dapat diketahui langsung dengan menggunakan program SPSS.

2.1.17. Pengujian Asumsi Klasik Regresi Berganda

Pengujian asumsi klasik adalah pengujian yang dilakukan sebelum melakukan pengujian regresi, di mana pengujian ini bertujuan agar data yang akan dimasukkan dalam model regresi telah memenuhi ketentuan dan syarat dalam regresi.

Terdapat beberapa cara atau metode yang dapat digunakan dalam pengujian asumsi klasik ini, yaitu :

1. Pengujian Asumsi Multikolinieritas

Merupakan pengujian yang dilakukan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antarvariabel independen. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan terjadi problem multikolinieritas (multiko).

Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen.

Dengan menggunakan program SPSS proses pendeteksian adanya problem multikolinieritas adalah berdasarkan :

a. Besaran VIF (Variance Inflation Factor) dan Tolerance : Pedoman suatu model regresi yang bebas multiko adalah :

• Mempunyai nilai VIF di sekitar angka 1

• Mempunyai angka TOLERANCE mendekati 1 b. Besaran korelasi antarvariabel independen :

Pedoman suatu model regresi yang bebas multiko adalah :

• Koefisien korelasi antarvariabel indepnden haruslah lemah (di bawah 0,5). Jika korelasi kuat, maka terjadi problem multiko.

(13)

2. Pengujian Asumsi Heteroskedastisitas

Pengujian ini dilakukan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varians dari residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas. Jika varians berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah heteroskedastisitas. Dengan menggunakan program SPSS, deteksi adanya problem heteroskedastisitas adalah dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik, di mana sumbu X adalah Y yang telah diprediksi, dan sumbu Y adalah residual (Y prediksi- Y sesungguhnya) yang telah di-studentized.

Dasar pengambilan keputusan :

• Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk suatu pola tertentu yang teratur(bergelombang, melebar kemudian menyempit, maka telah terjadi heteroskedastisitas.

• Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

3. Pengujian Asumsi Normalitas

Pengujian ini dilakukan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, variabel dependen, variabel independen atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal. Dengan menggunakan program SPSS, deteksi adanya problem normalitas adalah dengan melihat penyebaran data(titik0 pada sumbu diagonal grafik.

Dasar pengambilan keputusan :

• Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.

• Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan/atau tidak mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

4. Pengujian Asumsi Autokorelasi

Pengujian ini dilakukan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan

(14)

kesalahan pada periode t-2 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Tentu saja model regresi yang baik adalah regersi yang bebas dari autokorelasi.

Autokorelasi pada sebagian besar kasus ditemukan pada regresi yang datanya adalah time series, atau berdasarkan waktu berkala, seperti bulanan, tahunan, dan seterusnya. Jadi data yang harus digunakan dalam pengujian asumsi klasik-autokorelasi adalah data dalam bentuk time series. (Santoso, 2000:216).

Dengan menggunakan prorgam SPSS, deteksi adanya problem autokorelasi adalah dengan melihat besaran DURBIN-WATSON, yaitu panduan mengenai angka D-W (Durbin-Watson) untuk mendeteksi autokorelasi bisa dilihat pada tabel D-W. Namun demikian secara umum dapat disimpulkan bahwa :

• Angka D-W di bawah –2 berarti ada autokorelasi positif

• Angka D-W di antara –2 sampai +2 berarti tidak ada autokorelasi

• Angka D-W di atas +2 berarti ada autokorelasi negatif.

Autokorelasi bisa diatasi dengan berbagai cara, misalnya dengan melakukan transformasi data atau menambah data observasi.

2.2.Kajian Penelitian Terdahulu

Ada beberapa penelitian yang telah dilakukan dan berkaitan dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Hodge pada tahun 2001. Penelitian ini meneliti pengaruh Audited Financial Statement terhadap investor’s judgement. Penelitian ini membuktikan

bahwa untuk membangun kepercayaan terhadap kondisi keuangan suatu perusahaan, investor melihat laporan keuangan auditan sebagai referensi utama dan investor beranggapan bahwa label “Audited/Not Audited” mempengaruhi penilaian kredibilitas dan earning potential judgement.

Persamaan antara penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan Hodge adalah mengetahui apakah laporan keuangan auditan dianggap perlu oleh investor dalam pertimbangan berinvestasi. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan Hodge adalah Hodge meneliti apakah perusahaan dapat mempengaruhi persepsi investor yang menganalisa laporan keuangan mereka dengan informasi yang belum diaudit yang diperoleh dari website terhadap laporan keuangan

(15)

auditan. Sedangkan penelitian ini ingin membuktikan bahwa laporan keuangan auditan menjadi salah satu pertimbangan investor dalam mengambil keputusan investasi. Perbedaan lainnya adalah responden penelitian yang dilakukan oleh Hodge adalah mahasiswa lulusan sekolah bisnis (graduate business students) sebagai investor potensial yang lebih cenderung melakukan investasi jangka panjang sedangkan dalam penelitian ini responden adalah manajer investasi perusahaan reksadana di mana ada investor yang melakukan investasi jangka panjang dan ada juga yang melakukan investasi jangka pendek.

Penelitian mengenai resiko investasi dilakukan oleh Alkahami dan Slovic (1994). Dalam penelitiannya ini Alkahami dan Slovic menyatakan bahwa dalam proses pengambilan keputusan investasi, investor turut mempertimbangkan resiko yang akan ditanggung maupun keuntungan yang akan diterima.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Alkahami dan Slovic adalah penelitian ini hanya membatasi aspek pengaruh hanya pada resiko investasi, tidak sampai pada keuntungan (benefit) dari investasi tersebut. Dan lagi Alkahami dan Slovic juga meneliti apakah emosi juga mempengaruhi penilaian seorang investor terhadap resiko dan keuntungan investasinya.

2.3.Hipotesis

Laporan keuangan yang telah diaudit akan lebih dipercaya oleh investor dalam mengambil keputusan investasi, demikian pula sebaliknya. Dan investor akan mempertimbangkan tingkat resiko investasi sehingga investor tersebut dapat memperkirakan apakah ia dapat menerima resiko tersebut atau tidak.

Berdasarkan analisis di atas maka penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut :

H1 : Laporan keuangan auditan perusahaan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap respon investor dalam pengambilan keputusan investasi.

H2 : Resiko investasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap respon investor dalam pengambilan keputusan investasi

H3 : Laporan keuangan auditandan resiko investasimemiliki pengaruh yang signifikan terhadap respon investor dalam pengambilan keputusan investasi

Referensi

Dokumen terkait

f) Dewan Juri kompetisi adalah Dewan yang diberi tugas secara sah oleh DITLITABMAS DIKTI KEMENDIKBUD RI untuk melakukan penilaian/evaluasi terhadap hasil

3) Stadium I merupakan tahap kanker yang hanya ditemukan pada paru- paru dan belum menyebar ke kelenjar getah bening sekitarnya. 4) Stadium II merupakan tahap kanker yang

Oleh karena kekosongan norma yang mengatur tentang wewenang korban untuk bertindak aktif selama proses peradilan pidana, maka penulis tertarik untuk membandingkan

Nilai pengaruh stres akademik terhadap prestasi belajar yang dimoderatori oleh academic grit sebesar 8%.. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh

Pada saat harga suatu layanan jasa komunikasi seluler mencapai harapan pelanggan, maka akan berpengaruh terhadap pembelian ulang selama harga layanan masih berada

Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi Sebaran Frekuensi Gen, Nilai Keseimbangan Populasi dan Perubahan Ukuran Populasi Efektif pada Populasi

Pada penelitian ini menggunakan blok sitologi yang telah di diagnosis mencurigakan suatu keganasan namun belum dapat ditentukan asal sel nya karena memiliki

Pada gambar 8 Blok diagram dapat dilihat bahwa terdapat beberapa komponen perangkat keras prototype alat sortir bola, antara lain:. Catu daya merupakan rangkaian