12 BAB II TINJAUAN LITERATUR
2.1. Wirausaha, Sarjana Wirausaha, dan Kewirausahaan Wirausaha adalah orang yang mempunyai semangat, sikap, perilaku dan kemampuan kewirausahaan (lihat Keputusan Menteri Koperasi dan
Pembinaan Pengusahan Kecil Nomor
961/KEP/M/XI/1995). Keputusan untuk menjadi wirausaha, kemungkinan adalah keputusan yang masuk akal, secara sukarela dan sadar (Krueger, 1993); walau tidak menutup kemungkinan bahwa ada orang yang menjadi wirausaha karena kondisi terpaksa, misalnya ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi, sehingga banyak orang kehilangan pekerjaan, tidak sedikit yang kemudian merintis usaha sendiri dan yang kemudian tumbuh menjadi wirausaha yang berhasil. Semangat, sikap, perilaku dan kemampuan kewirausahaan yang tinggi sangat mungkin menunjang keberhasilan mereka yang sukses menjadi wirausaha.
Refaat (2009) menyebutkan faktor-faktor yang dapat dipertimbangkan untuk menjadi pekerja mandiri (wirausaha), antara lain: Faktor ekonomi (kesempatan ekonomi, menerima pendapatan sesuai kinerja, mendapatkan hasil yang lebih besar), tantangan (untuk memiliki pekerjaan yang menantang, untuk memiliki pekerjaan yang menyenangkan, untuk memiliki pekerjaan
13 yang menarik, untuk memiliki pekerjaan yang memotivasi), kemandirian (kebebasan, ketidak- tergantungan, menjadi boss bagi diri sendiri, kemampuan untuk memilih pekerjaannya sendiri), ototitas (memiliki kuasa untuk membuat keputusan, untuk memiliki otoritas), aktualisasi individu (mewujudkan mimpi pribadi, membuat sesuatu, mendapatkan keuntungan atas kebutuhan kreativitasnya), keterlibatan dalam semua proses (mengikuti detail pekerjaan dari A-Z).
Sedangkan profil wirausaha menurut Scarborough dan Zimmerer (2000) adalah keinginan untuk tanggungjawab, pilihan untuk memoderasi risiko, keyakinan atas kemampuan untuk sukses, keinginan untuk mendapatkan umpan balik secara cepat, berenergi tinggi (semangat), orientasi masa depan, kemampuan mengorganisasi, nilai pencapaian yang melampuai uang.
Sarjana Wirausaha adalah lulusan perguruan tinggi yang menjadi wirausaha, yaitu menjalankan usaha tertentu, lebih khusus adalah yang menjalankan usaha yang dirintis/didirikan sendiri, bukan warisan orang tua atau milik orang lain. Ciri dari berhasilnya wirausaha ini adalah usaha atau perusahaannya sudah berjalan beberapa tahun dan makin berkembang, ditandai dengan antara lain makin banyak aset, makin besar omset, dan/atau makin luas atau makin banyak tempat usahanya, dan/atau makin banyak jumlah pegawainya.
14 Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan serta menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar (lihat Keputusan Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusahan Kecil Nomor 961/KEP/M/XI/1995).
2.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kewirausahaan Tingkat kewirausahaan seseorang, bervariasi sesuai dengan budaya yang dimilikinya (Lambing dan Kuehl, 2000). Budaya yang melingkungi seseorang akan mempengaruhi paling tidak sikap atau pandangan terhadap kewirausahaan, misalnya di Indonesia, keturunan etnis Tionghoa dikenal dengan "budaya"
wiraswasta, hal ini akan membuat "tidak aneh" jika seorang keturunan Tionghoa ketika lulus kuliah, langsung berwirausaha, namun berbeda dengan etnis lain, yang mungkin ketika seseorang yang lulus kuliah langsung menjalankan usaha, akan menerima berbagai saran atau pertanyaan, antara lain, "Mengapa tidak bekerja dulu untuk mencari pengalaman/modal?"
Budaya juga mencakup pandangan masyarakat setempat terhadap 'profesi' pengusaha disandingkan dengan profesi
15 lain misalnya pegawai negeri; contohnya ada anggapan bahwa bekerja di kantor dengan gaji rutin tiap bulan adalah pola hidup yang nyaman dan diidamkan (Priyanto (2008, hal. 31) menuliskan: “Di Indonesia juga demikian, pekerjaan pegawai negeri, pekerja kantoran dipandang mempunyai nilai status yang lebih tinggi dibanding dengan pedagang atau pengusaha).
Tampak bahwa kewirausahaan dipengaruhi oleh faktor internal individu (rinciannya misalnya pada daftar profil wirausaha menurut Scarborough dan Zimmerer di atas) dan juga faktor eksternal. Priyanto (2008), juga menyebutkan bahwa pembentukan jiwa kewirausahaan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal berupa sifat-sifat personal, sikap, kemauan dan kemampuan individu, faktor eksternal berupa unsur dari lingkungan sekitar seperti lingkungan keluarga, lingkungan dunia usaha, lingkungan fisik, lingkungan sosial ekonomi dan lain-lain.
2.3. Perintisan Usaha: Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya
Secara ringkas niat dan keputusan berwirausaha (proses kewirausahaan) digambarkan oleh Heinonen &
Poikkijoki, dengan menggabungkan tulisan Gibb dan Shook, dkk., sebagai berikut.
16 Gambar 2.1. Proses Kewirausahaan: Perilaku-perilaku,
ketrampilan-ketrampilan, dan sikap-sikap.
Sumber: Gibb (1993) and Shook et al (2003), dalam Heinonen & Poikkijoki (2006)
Dari bagan di atas, dapat dilihat bahwa ada faktor ketrampilan-ketrampilan dan sikap-sikap yang mendorong niat berwirausaha. Ketrampilan-ketrampilan dan sikap-sikap itu selanjutnya juga menjadi faktor yang mempengaruhi bagi pencarian peluang dan penemuan (bidang) usaha, berikutnya pengambilan keputusan untuk memanfaatkan peluang usaha yang sudah ditemukan, dan terakhir ketrampilan-ketrampilan dan sikap-sikap itu juga mempengaruhi keputusan untuk memulai usaha
17 dengan memanfaatkan peluang yang ada. Proses dari niat, pencarian dan penemuan peluang, pengambilan keputusan hingga pemanfaatan peluang yang ada, diikuti dengan perilaku-perilaku yang akan menunjang kelangsungan dan kelanjutan tahap-tahap proses (dari niat hingga eksploitasi peluang) itu. Keputusan untuk mengekploitasi peluang dan eksekusi eksploitasi peluang inilah tahap perintisan usaha.
Lebih lanjut, Mazzarol, et al., (1999), dalam modelnya menggambarkan bahwa faktor sosial (jaringan- jaringan, dukungan elit-elit sosial politik), faktor ekonomi (ketersediaan modal, indikator-indikator agregat, resesi, pengangguran), faktor politik (lembaga-lembaga pendukung, regulasi), faktor infrastruktur (sistem pendidikan, pasar tenaga kerja, akses informasi, ketersediaan tanah dan bangunan), akan mempengaruhi niat/keinginan dan pengambilan keputusan seseorang dalam berbisnis. Ini dapat melengkapi bagan di atas, dimana pada bagan di atas hanya memberi perhatian pada faktor-faktor internal individu saja.
2.4. Pengembangan usaha: Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya
Pengembangan usaha adalah tahap selanjutnya dari keputusan berwirausaha/implementasi usaha/tahap perintisan usaha. Pengembangan usaha adalah hal yang
18 sangat wajar dilakukan oleh wirausaha terhadap usahanya, bahkan pengembangan usaha dapat terus dilakukan tanpa henti, karena target kinerja usaha/perusahaan dapat meningkat terus-menerus.
Menurut Carol dan Moore (dalam Bygrave, 2011), gambaran model lengkap kewirausahaan adalah sebagai berikut:
Gambar 2.2. Model proses kewirausahaan menurut Carol More (dalam Bygrave, 2011)
Dari model proses kewirausahaan di atas, dapat dilihat bahwa pada tahap perkembangan, ada tiga kelompok faktor yang berpengaruh, yaitu faktor individu,
19 faktor organisasional dan faktor lingkungan. Adanya relasi antara tahap implementasi dengan tahap perkembangan, dan juga tahap implementasi dengan tahap sebelumnya, menunjukkan bahwa faktor-faktor yang tidak secara langsung menunjukkan hubungan dengan tahapan tertentu, masih bisa secara tidak langsung berhubungan, misalnya faktor sosiologi, masih bisa secara tidak langsung berpengaruh pada tahap perkembangan, melalui tahap implementasi.
Chea (1998), dalam penelitiannya terhadap wanita pengusaha di kota Tema, Ghana, (artinya penelitian dilakukan pada wirausaha yang sudah atau bahkan melampaui tahap implementasi), menemukan beberapa faktor yang perlu diperhatikan oleh wanita pengusaha, antara lain: akses modal, pertumbuhan dan potensi perkembangan ekonomi, kebijakan pemerintah termasuk bantuan untuk pembangunan kapasitas (capacity building), dan pendidikan. Faktor utama bagi ketahanan berusaha para wanita pengusaha adalah entrepreneurial innovations (inovasi-inovasi wirausaha) yang termanifestasi pada operasi bisnisnya. Jika dikaitkan dengan model proses kewirausahaan di atas, inovasi ternyata masih 'berfungsi' ketika usaha sudah berjalan bahkan berkembang, artinya posisi inovasi dapat juga berada tidak hanya di awal sebelum adanya stimulan.
20 Pemusatan perhatian pada tahap implementasi atau keputusan berwirausaha dan tahap perkembangan usaha, artinya tidak lagi membahas tentang niat/intensi berwirausaha. Berangkat dari model-model yang sudah ada di atas, akan disusun kerangka penelitian yang hendak dilakukan pada sarjana wirausaha yang sukses, yakni wirausaha yang sudah masuk pada tahap perkembangan, artinya sudah menjalankan usaha secara mapan beberapa tahun.
Model yang disusun adalah pengelompokan berbagai faktor yang mempengaruhi pada tahap pengambilan keputusan berusaha (tahap perintisan) dan pada tahap pengembangan usaha, menjadi tiga kelompok yaitu faktor individu, faktor lingkungan personal dan faktor lingkungan non personal; yang hendak dijadikan pemandu bagi proses penelitian di lapangan, khususnya digunakan untuk menjadi panduan pertanyaan kepada para-responden, sebagai berikut:
21 Gambar 2.3. Kerangka penelitian
Sub faktor-sub faktor dalam kerangka di atas dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut:
Sikap: yang dimaksud sikap di sini adalah termasuk karakteristik individu/pribadi, misalnya nilai-nilai yang dianut, visi, sikap terhadap risiko, dan lain-lain (sebagai pembanding, lihat model kewirausahaan yang diadaptasi dari Gibb dan Shook, juga model Carol More, di atas).
Pendidikan: selain pendidikan formal yang dimiliki yang mungkin berhubungan erat dengan bisnis yang dijalankan, juga pendidikan lain, termasuk pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan
22 pengetahuan. Pendidikan ini dijadikan sub faktor tersendiri mengingat penelitian ini fokus pada sarjana.
Ketrampilan: ketrampilan khusus yang dimiliki, termasuk di dalamnya ketrampilan manajemen usaha serta ketrampilan teknis yang diperlukan untuk menunjang operasi bisnis (sebagai pembanding, lihat model kewirausahaan yang diadaptasi dari Gibb dan Shook, di atas).
Keluarga: dukungan istri atau suami, juga keluarga terdekat, misalnya orang tua dan saudara kandung.
Pada model Carol More, keluarga dimasukkan dalam faktor sosiologi
Relasi bisnis: orang-orang yang dikenal yang berinteraksi atau bekerjasama dalam operasi bisnis, termasuk pelanggan dan pemasok. Pada model Carol More, relasi bisnis ini dapat termasuk yang dikategorikan sebagai jaringan, tim, dan model peran.
Relasi sosial: orang-orang yang dikenal, juga teman- teman yang berinteraksi, yang tidak berhubungan atau tidak secara langsung berhubungan dengan bisnis yang dijalankan. Pada model Carol More, relasi sosial ini dapat termasuk yang dikategorikan sebagai jaringan, dan model peran. Pemilahan relasi bisnis dan relasi sosial dimaksudkan untuk lebih
23 menunjukkan bagaimana masing-masing pihak ini (rekan-rekan bisnis dan rekan-rekan sosial) berperan dalam perintisan dan pengembangan usaha.
Peluang usaha: pasar yang mungkin tersedia beserta kemampuan wirausaha untuk memanfaatkan pasar itu dengan operasi bisnis yang akan dijalankan. Pada model Carol More, faktor peluang usaha ini dapat tercakup pada faktor lingkungan (peluang-peluang, kompetisi, sumberdaya, kebijakan pemerintah, para pesaing, para pelanggan, para pemasok, para investor)
Pasar: pasar yang tersedia dan dimanfaatkan oleh pengusaha dengan operasi bisnis yang dilakukannya. Pada model Carol More, pasar ini dapat tercakup pada faktor lingkungan (peluang- peluang, dan para pelanggan).
Institusi finansial: dukungan institusi finansial, khususnya bank dalam mendukung operasi usaha.
Pada model Carol More, institusi finansial ini tercakup pada faktor lingkungan (para bankir).
Tidak menutup kemungkinan, dalam proses penelitian dijumpai sub faktor lain yang diperhatikan oleh nara sumber (sarjana wirausaha), yang dapat ditambahkan, demikian juga jika ada sub faktor yang tidak relevan
24 dengan hasil wawancara dengan nara sumber, akan dihilangkan kemudian.