1
LONTAR GAMA TIRTHA; PEMULIAAN AIR DALAM KONTEKS EKO-RELIGIUS
Oleh:
I Gede Sudiarta, Made Reland Udayana Tangkas SMAN 1 Baturiti, STAHN Mpu Kuturan Singaraja
Abstrak
Lontar Gama Tirtha merupakan salah satu pustaka Bali yang diwarisi hingga kini oleh masyarakat Bali yang mempercayai kedudukan air sebagai sarana penyucian diri. Air memiliki kedudukan yang sangat penting di dalam sistem ekologi dan mampu membentuk ekosistem daerah danau, aliran sungai, persawahan, hingga sumber mata air yang tidak hanya bermanfaat bagi kebutuhan sehari-hari tetapi juga sangat disucikan dan difungsikan secara spiritual. Lontar Gama Tirtha menjelaskan esensi air sebagai sarana penyucian diri dan sistem pengetahuan air yang menyatu dengan diri manusia. Lontar Gama Tirtha secara menyeluruh menjelaskan dua konteks keyakinan air yang mengacu kepada fisik lahr dan fisik rohani yaitu “gama ning” dan “gama cemer”. Keadaan air yang jernih dan keruh merepresentasikan keadaan diri yang terus menerus disucikan dari segala kotoran yang tidak pernah lepas dari kehidupan. Konteks penyucian terhadap air pun tidak semata membersihakan dan menyucikan paradigma fisik tetapi penekanan yang paling tegas dalam konteks tersebut adalah penyucian tubuh secara rohani yaitu pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Kata Kunci: Eko-Religius, air, Gama Tirtha
Abstract
Lontar Gama Tirtha is one of the Balinese literatures which has been inherited until now by Balinese people who believe in the position of water as a means of self-purification. Water has a very important position in the ecological system and is able to form ecosystems in the area of lakes, rivers, rice fields, and springs that are not only useful for daily needs but are also highly purified and functioned spiritually. Lontar Gama Tirtha explains the essence of water as a means of self-purification and a system of knowledge of water that is integrated with human beings. Lontar Gama Tirtha thoroughly explains the two water belief contexts that refer to the physical and spiritual aspects, namely "gama ning" and
"gama cemer". The state of clear and cloudy water represents a state of self that is continuously purified from all impurities that are never separated from life. The context of the purification of water does not merely cleanse and purify the physical paradigm, but the strongest emphasis in that context is on the spiritual purification of the body, namely thoughts, words, and deeds.
Keywords: Eco-Religious, water, Gama Tirtha
I. PENDAHULUAN
Isu tentang lingkungan tidak henti-hentinya menjadi pembahasan dan perdebatan di tengah perhatian masyarakat khususnya para
pemerhati lingkungan, salah satunya tentang keberadaan air. Air menduduki peran yang sangat amat penting di dalam menyokong kehidupan manusia bahkan seluruh
2 makhluk hidup. Kendati demikian, pencemaran air tidak luput dari dinamika kehidupan modern seperti sekarang ini. Di kota-kota besar, tidak mudah mendapatkan sumber air bersih yang dipakai sebagai bahan baku air bersih yang bebas dari pencemaran, karena air banyak tersedot oleh kegiatan industri yang memerlukan sejumlah air dalam menunjang produksinya (Susana, 2003:17). Pencemaran air juga marak terjadi di daerah aliran sungai akibat pembuangan limbah baik rumah tangga maupun industri di daerah perkotaan sehingga krisis air bersih tidak dapat dielakkan. Suplai air dari keberadaan hutan juga semakin berkurang akibat penebangan pohon yang tidak terkendali dan terawasi.
Sehingga, daerah yang kekurangan pasokan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari semakin berkurang. Kelangkaan air bersih di berbagai daerah mengakibatkan nilai jual air yang semakin tinggi dan membebani masyarakat.
Permasalahan tentang air berdampak sangat kompleks terhadap segala segi kehidupan manusia. Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan air yang sangat vital patut disadari oleh masyarakat sehingga mampu menumbuhkan kesadaran pentingnya menjaga kelestarian air dengan melakukan usaha-usaha yang konservatif. Usaha-usaha yang relevan seperti penanaman hutan, revitalisasi kawasan sungai, penataan resapan air, dan lain sebagainya telah gencar dilakukan. Akan tetapi, landasan dari segala usaha tersebut yang patut digalakkan adalah penanaman kesadaran terhadap kemuliaan air secara rohani. Hal tersebut dirasa penting untuk membangun paradigma bahwa air tidak hanya hadir di dalam
pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga hadir sebagai sarana penyucian lahir dan batin. Konsep pemuliaan air nyatanya telah lahir dari pemikiran nenek moyang Bali terdahulu untuk diwariskan hingga kini dalam bentuk naskah lontar.
Lontar Gama Tirtha menjadi salah satu pustaka Bali yang memuat sistem kepercayaan masyarakat Bali terhadap air. Hadirnya naskah lontar tersebut menunjukkan bahwa para leluhur memiliki pemikiran yang besar untuk dapat membangun peradaban air sebagai penyokong kehidupan masyarakat baik secara sakala dan niskala. Lontar Gama Tirtha menjadi bukti besarnya keyakinan dan sistem pengetahuan masyarakat Bali pada zaman dahulu terkait dengan kemuliaan dan kesucian air. Air yang menjadi unsur penting di dalam keberlangsungan lingkungan secara ekologi mampu melahirkan berbagai ekosistem seperti kawasan danau, daerah aliran sungai, persawahan, hingga sumber mata air yang bermanfaat bagi kebutuhan sehari-hari dan aktivitas spiritual. Dengan demikian, keberadaan Lontar Gama Tirtha memberikan petunjuk mengenai pemuliaan air sebagai salah satu konsep eko-religius yang dianut oleh masyarakat Bali hingga kini.
Konsep eko-religius pada dasarnya berasal dari dua disiplin yaitu aspek ekologi dan religi atau keyakinan. Ekologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan timbal- balik antara makhluk hidup dan lingkungannya yang merupakan pengkajian struktur dan fungsi ekosistem atau alam di mana manusia adalah bagian dari alam (Irwan, 2014:3). Hal tersebut juga diperkuat oleh pendapat Sugiarti (2018: 135) bahwa persoalan lingkungan tidak
3 dapat dipisahkan dengan manusia, karena manusia sebagai mahkluk sosial dan budaya sedapat mungkin ikut menjaga lingkungan secara baik.
dari pendapat tersebut, nampaknya manusia memiliki peran yang penting dalam keberlangsungan alam dan kehidupan ekosistem yang ada (Tangkas, 2017:72). Aspek religius menekankan kepada sistem keyakinan dan kepercayaan yang dianut oleh komunitas masyarakat yang mampu membentuk pola pikir dan perilaku sehari-hari. Berdasarkan hal tersebut, aspek eko-religius menunjukkan hubungan yang kompleks antara manusia dengan alam yang diatur sedemikian oleh cara pandang di dalam meyakini sistem Ketuhanan.
Salah satu warisan nenek moyang Bali pada zaman dahulu yang telah diramu sebagai hasil dari sebuah perenungan dan pemikiran besar dan dapat digunakan sebagai pedoman di dalam keberlangsungan peradaban dan kebudayaan khususnya keyakinan terhadap kemuliaan air yaitu Lontar Gama Tirtha. Gama Tirtha jika diperikan atas dasar judul yaitu “gama” berarti kepercayaan, ajaran, aliran, dan sebagainya.
Sedangkan, “tirtha” memiliki arti air, mata air, atau air suci. Jadi, Gama Tirtha dapat kita maknai sebagai sebuah ajaran mengenai kemuliaan, keutamaan, dan kesucian air.
Jika dilihat di dalam kehidupan spiritual masyarakat Bali, keberadaan air atau air suci hampir tidak pernah dipisahkan di setiap upacara baik yang paling kecil hingga yang paling besar. Secara umum basis ritual di Bali berorientasi kepada kesucian bertolak kepada kesucian niat yang diwujudkan dengan persembahan (sesaji), penyucian diri dan alam semesta. Permohonan
penyucian dan kesucian tersebut tentunya ditujukan kepada sumber kesucian tersebut yaitu Sang Pencipta dalam wujud manifestasinya. Maka untuk mendapatkan anugerah kesucian dari Maha Kuasa, masyarakat Bali yang menganut Gama Tirtha menggunakan sarana air. Air tersebut dimohonkan untuk disucikan agar dapat menyucikan diri dan segala sesuatu. Penyucian diri dalam konteks Gama Tirtha mencakup tubuh secara lahir dan batin.
Melihat Lontar Gama Tirtha sebagai salah satu naskah Bali yang menunjukkan eratnya hubungan keyakinan masyarakat Bali terhadap air mencerminkan secara tegas bahwa air sebagai bagian dari lingkungan membentuk dan memperkaya sistem keyakinan masyarakat Bali dengan berbasis pada lingkungan. Tidak hanya itu, air sebagai salah satu unsur penting penjaga dan penyangga kehidupan sangat dekat bahkan menyatu dengan aspek ke-diri-an masyarakat Bali. Sehingga dengan membahas air yang ada pada alam, pembicaraan akan juga tidak lepas dari air yang ada di dalam diri manusia. Sistem keyakinan air juga memiliki kekuatan sendiri untuk membentuk sistem simbolik di dalam menginterpretasikan konsep air sebagai perwakilan memandang pemikiran, perkataan, dan perilaku.
Lontar Gama Tirtha menunjukkan perhatian kepada sifat dan karakteristik air terkait dengan fungsinya yang mana air mengalami kondisi antara bensih dan keruh. Teks tersebut menguraikan dualisme tersebut sebagai “gama ning” dan gama cemer”. Dualisme tersebut nampaknya penting untuk selanjutnya dibicarakan sesuai dengan substansi yang ada. Tidak lepas dari fungsinya,
4 air pun tidak hanya berdiri pada tatanan fungsi nyata yaitu sebagai sarana pembersih tubuh, tetapi di dalam tataran yang lebih dalam lagi air mampu menyelam ke dalam konteks penyucian secara ideal dan kebatinan. Maka, representasi penyucian pikiran, diri, dan perbuatan patut dibahas secara mendalam.
II PEMBAHASAN
Berdasarkan pendahuluan di atas, ada beberapa hal yang sangat penting untuk dibahas sebagai unsur- unsur yang ditekankan di dalam Lontar Gama Tirtha. Beberapa unsur tersebut yaitu mengenai dualisme keyakinan terhadap air yang ditunjukkan dengan adanya “gama hning” dan “gama cemer”, representasi pemuliaan air dan penyucian pikiran, diri, dan perbuatan. Dengan representasi tersebut, juga patut dilakukan refleksi terhadap paradigma pemuliaan air ke arah penyelamatan dan perawatan air di tengah isu pencemaran dan kelangkaan sumber ar bersih
2.1 “Gama Hning” dan “Gama Cemer”; Dualisme Keyakinan Air
Merujuk kepada sifat fisik air yang dapat mengalami dua kondisi yaitu jernih (ning) dan keruh (cemer/puged) Lontar Gama Tirtha mengisyaratkan kedua hal tersebut sebagai representasi kesucian dan kecemaran atau kebenaran dan keburukan. Dualisme yang dipaparkan tersebut secara tidak langsung memberikan gambaran kondisi seseorang yang dihadapkan dalam dua pilihan jalan hidup. Akan tetapi, kejernihan air sebagai perwakilan di dalam melihat kebenaran dan kesejatian menjadi tujuan dalam mencapai kesucian.
Dualisme “gama ning” dan “gama
cemer” dapat dilihat pada kutipan berikut.
Mungguing ghama-ghamane hento tusing jamah liu pakriyane, di gumine, ya kasinahang pakriyaning ghama twah dadwa, lwire, gama hning, mwang ghama cemer, yadin puged…
Terjemahan:
Adapun keyakinan-keyakinan tersebut tidaklah banyak adanya di dunia, secara umum jalannya keyakinan tersebut hanya dua, keyakinan yang bersih, dan keyakinan yang keruh, atau kotor…
Dari kutipan di atas dijelaskan bahwa berbagai macam keyakinan yang ada di dunia, pada dasarnya hanya ada dua ajaran yang melandasinya yaitu ajaran yang bersih, suci, atau benar dan ajaran yang keruh, kotor, atau buruk.
Nampaknya Gama Tirtha sendiri memberikan gambaran pertentangan dua paham yang pada dasarnya ada di dalam diri manusia dan di semua ciptaan yaitu Rwabhineda. Segala hal di dunia memiliki dua sisi yang bertentangan yaitu baik dan buruk, benar dan salah, kurang dan lebih, dan sisi gelap
dan terang.
Untuk bebas dan dapat mengendalikan sisi gelap dan kotor dari diri sendiri, agama atau keyakinan menjadi landasan yang dapat digunakan sebagai panduan menemukan jalan tersebut. Gama Tirtha sebagai pustaka suci dapat dijadikan pedoman di dalam menemukan jalan yang hendak ditempuh selain nantinya akan ditentukan perbuatan apa yang patut dilakukan untuk mengusahakan kesucian diri secara jasmani dan rohani.
Manusia sebagai mahkluk berpikir (idep) tentunya tidak akan
5 dapat lepas dari rwabhineda sehingga kondisinya yang kotor, pikirannya yang gelap, sifatnya yang jahat patut dibersihkan hingga menjadi bersih, jernih, dan terang. Semua itu diyakin sebagai anugerah dari Maha Kuasa seperti kutipan berikut ini.
Bwat ghamane katrima tur kaledangin antuk ida bhatara jagatnata sing had liyu, twah ghamane ane hning dogen, hane kalokayang gama tirtha pawitra tegesne ghama suci nirmala…
Terjemahan:
Khususnya keyakinan yang diterima dan diperkenankan oleh Yang Maha Kuasa tidaklah banyak, hanya keyakinan yang bersih saja, yang dibumikan sebagai Gama Tirtha Pawitra (Keyakinan Air Penyuci) yang disebut keyakinan yang paling suci…
Kutipan di atas menyiratkan bahwa keyakinan yang bersih, jernih, dan suci merupakan keyakinan yang diturunkan oleh Yang Maha Kuasa (Ida Bhatara Jagatnatha). Hal ini menandakan bahwa kejernihan air merupakan hal yang baik, benar, dan suci. Segala yang jernih dan suci adalah kebenaran itu sendiri. Gama Tirtha juga dinyatakan sebagai keyakinan yang mampu memberikan kesucian (pawitra) kepada semua yang menganutnya. Hal tersebut sejalan dengan orientasi baik fisik maupun rohani manusia yang senantiasa mengharapkan segala hal yang bersih, baik, dan benar. Sesuatu yang bersih menjadi dasar untuk mencapai kesucian. Dan, kesucian menjadi dasar bagi peneguhan kebenaran.
Akan tetapi apa sebenarnya yang dimaksud dengan keyakinan jernih (gama ning) dan keyakinan kotor (gama cemer) serta letak perbedaannya patut untuk dipahami
secara mendalam seperti kutipan di bawah ini.
Yen munggwing ghamane dadwa hento sinalah tunggal pada karangsuk, bahan I manusa dimarthi-loka, nanghing bwat kahningane yadin kacemeran ghamane langah ane natasang, krana keto rehning ghamane hento dong ja mantra, dong ja tutur, sing ja tatwa suksma, yadin caritha, dong hental, yadin sastra, dong ja wiku, dong ja dewa bhatara…
Terjemahan:
Adapun kedua keyakinan tersebut hanya satu yang dapat dianut oleh manusia di kehidupan dunia, akan tetapi mengenai apa sebenarnya yang dimaksud kejernihan dan kecemaran dari keyakinan- keyakinan tersebut sangat jarang orang yang dapat memahaminya, sebab keyakinan tersebut bukanlah mantera, bukanlah kesadaran, bukanlah ajaran tentang Ketuhanan, dan juga cerita, bukan lontar, ataupun sastra, bukan pendeta, bukan juga dewata…
Kutipan di atas memberikan gambaran bahwa, pemahaman akan suci dan kotor patut dikuasai oleh orang yang menganut Gama Tirtha.
Titak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut memang segelintir orang yang mampu memahami secara esensial. Sebab, Gama Tirtha dalam hal ini bukanlah mantera, atau tutur yang berisi ajaran mengenai kesadaran, bukanlah sastra atau cerita, dan bukan pendeta. Dengan demikian, Gama Tirtha sendiri adalah awal mula dari segala pemahaman mengenai kesucian itu sendiri. Segala mantera pemujaan dan penyucian yang dilakukan oleh pendeta muncul dari pemahaman mengenai kesucian itu. Begitu juga sastra, cerita atau purana, dan lontar adalah buah pikir
6 yang lahir dari konsep kesucian. Dan, konsep kesucian tersebut awal mulanya muncul dari Gama Tirtha.
Maka, Gama Tirtha merupakan representasi sumber kesucian dari segala bentuk ajaran dan keyakinan.
Krana hapan manut ing wangsa, yadin pahosan manusane sowang- sowang, lwire, ada wong putih, ada wong bang, ada wong kuning, ada wong hireng, mwang sakancanya, hento makejang pada bina swara, mwang polah pratingkahnyane, Terjemahan:
Karena sebab sesuai dengan garis keturunan atau golongan masing- masing manusia, yaitu, ada orang putih, ada yang merah, ada yang kuning, ada yang hitam, dan lain sebagainya, mereka itu memiliki perbedaan pandangan dan cara hidup, di saat menerapkan keyakinannya masing-masing,
Kutipan di atas menyiratkan bahwa masyarakat yang terdiri atas berbagai suku, bangsa, dan golongan yang memiliki cara pandang dan kebiasaan yang berbeda sama-sama memiliki dasar keyakinan antara yang bersih maupun yang kotor. Hal tersebut disebabkan oleh semua manusia memiliki dua sisi antara baik dan buruk yang memengaruhi cara berpikir, berkata, dan berbuat.
Apapun keyakinan mereka, keyakinan yang bersih dan kotor pastinya menjadi dasar pemahaman dan pendalamannya. Keyakinan yang suci dan kotor yang diejawantahkan dengan bentuk air dijelaskan selanjutnya pada kutipan berikut.
Tirtha artine yeh, di yehe ada polah dadwa, yeh hning tekening yeh puwek, yehe hane hning, hane hning tan patalutuh, yehe puwek ane menyi misi daki, nanging yen saring pasthikayang sinah dadi hning bwin, keto maseh ane hning lamun
bahang campurin reged, saksana dadi puwek.
Terjemahan:
Tirtha artinya air, pada air ada da keadaan air jernih dan air kotor, air yang bersih, jernih tanpa kotoran, air keruh penuh dengan kotoran, akan tetapi, jika disaring dengan benar maka akan menjadi air yang bersih, begitu juga dengan air yang bersih jika dicampur dengan lumpur, maka seketika akan keruh dan tercemar.
Kutipan di atas menjelaskan bahwa hakikat suci dan kotor saling memengaruhi. Air bersih menjadi acuan di dalam pencapaian kesucian.
Air bersih juga dapat diambil dari air yang kotor dengan cara menyaringnya. Artinya, segala yang kotor dapat kembali bersih dengan menetralisir segala kotoran yang ada.
Begitu juga air yang bersih dapat menjadi kotor jika dicampur dengan lumpur. Orang yang bersih dan suci juga tidak luput dari pengaruh hal yang cela. Maka konteks kesucian tidak akan lepas dari usaha penyucian.
2.2 Pemuliaan Air; Representasi Penyucian Diri-Pikiran-Perbuatan
Gama Tirtha dipercaya sebagai asal mula dari segala keyakinan yang berorientasi kepada kesucian lahir dan batin (sakala niskala). Konteks pemuliaan dan penyucian air menjadi aspek yang menyatu di dalam paradigma luas keyakinan masyarakat Bali. Air yang menjadi kebuhan sentral di dalam kehidupan baik sosial dan spiritual patut dimuliakan atas peran besarnya dan disucikan atas fungsi kompleks dalam penyucian dalam tataran semesta.
7 Hakikat Gama Tirtha yang sebenarnya tertuang pada kutipan berikut.
Tirtha ento artine yeh, nanging ke sing jati yeh ane di tukade, di bulakane, pancorane, sing ja yeh danu, yadin yeh pasih, sing ada yeh hujan, damuh, salwir yeh ane dadi panjusin mwang hinem, sing ja ento, katwiyane ya yeh tirtha mretha ane kabwat turun antuk ida bhatara wawu rawuh, kasiratang di gumine, ida ane inucap padanda wawu rawuh, kahutus antuk ida bhatara jagatkarana. Kacacar teken sawateking para wiku makejang di madyapada. Apang pada manungsung tirthane ento, dadi, pangilangang sagunging letuh di jagate, ring sakala niskala, makadi pamrethaning urip…
Terjemahan:
Gama Tirtha. Keyakinan yang sejatinya ada di dalam diri. Tirtha artinya air, tetapi bukan air yang sebenarnya seperti pada sungai, telaga, pancuran, bukan air danau, air laut, air hujan, embun, dan air yang digunakan untuk mandi dan minum, bukan itu, sejatinya air keabadian yang dibawa turun oleh Ida Bhatara Wawu Rauh, yang dipercikkan ke dunia, beliau diutus oleh Yang Maha Kuasa, disebarkan oleh para pendeta agar air itu dmuliakan untuk menghilangkan mara bahaya dan kecemaran dunia jasmani dan rohani, sebagai penghidup segala yang hidup.
Dari kutipan tersebut tercermin bahwa air yang dimaksud sejatinya adalah kesucian itu sendiri yang mampu menghilangkan segala kekotoran duniawi dan bencana sehingga kehidupan dapat berlangsung dengan selamat. Gama Tirtha mengisyaratkan diri sebagai paham, basis ajaran, dan keyakinan
tentang hakikat kesucian yang sebenarnya dengan mengambil laku air sebagai penggambaran pembersihan sakala niskala.
Di sisi lain, munculnya Gama Tirtha sendiri disebutkan berkat jasa Padanda Sakti Wawu Rauh atau dalam dunia sastra disebut Dang Hyang Dwijendra atau Nirartha sebagai utusan dari Tuhan Yang Maha Pencipta. Dang Hyang Dwijendra diperkirakan datang ke Bali pada abad ke-16 dengan melakukan Dharma Yatra dan membawa paham Siwa Budha.
Berbagai tempat suci di seluruh Bali mapir tidak terlepas dari perjalanan suci beliau. Akan tetapi, Gama Tirtha yang dimaksud sebagai paham yang diturunkannya secara literal telah dianut oleh masyarakat Bali jauh sebelumnya. Masyarakat Bali yang sebagian besar penganut keyakinan air yang disucikan dan difungsikan telah mengenal keyakinan tersebut di setiap praktik ritual khususnya ditandai dengan keberadaan sumber- sumber air suci yang berdampingan dengan tempat suci.
Tetapi yang patut disadari bahwa, Dang Hyang Dwijendra dapat dikatakan membawa basis Gama Tirtha sebagai orientasi penyucian dan kesucian. Segala bentuk konsep spiritual Bali (baca: Hindu) yang berlandaskan kesucian lahir batin lebih ditegaskan oleh beliau sehingga mampu semakin dipahami oleh masyarakat yang pada awalnya hanya bergulat pada gugon tuwon atau mengagamakan tradisi tanpa mentradisikan refleksi pemikiran dan membumikan pemahaman yang kompleks.
Dari sumber tersebut dapat disarikan bahwa air yang sangat penting di dalam kehidupan alam semesta patut dijunjung tinggi
8 sebagai unsur yang setara dengan relasi kekuatan dan kemahakuasaan Pencipta. Maka tidak salah jika air menjadi representasi kesucian dan penyucian baik alam semesta maupun diri manusia. Refleksi keyakinan air juga mencakup tataran idel yang mana mengutamakan kesucian batiniah dibandingkan lahiriah.
Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa kesucian fisik mewakili kesucian rohani sehingga kesembingan di setiap aspek dapat terjaga. Maka kejernihan dan kesucian air merepresentasikan kekuatan untuk menyucikan pikiran, diri, dan perbuatan.
2.3 Gama Tirtha; Pondasi Penyelamatan Air
Berdasarkan penjabaran Gama Tirtha sebagai dasar keyakinan yang mempercayai sistem pengetahuan mengenai air sebagai sarana sekaligus simbol kesucian dan penyucian segala sesuatu, dapat disarikan bahwa paradigma tersebut mampu menciptakan suasana kesucian yang lahir dari aktivitas dan praktik ritual serta tradisi kebudayaan. Air yang dijadikan simbol kesucian untuk membersihkan diri manusia, makhluk hidup lainnya, dan segala isi alam semesta juga merambah ke dalam konteks kesucian rohani yang menjadi tujuan dan orientasi spiritual. Dengan melihat air yang mengalami siklus dari hulu mengalir ke hilir membuktikan bahwa sumber kesucian berasal dari yang tinggi mengaliri segala bentuk kehidupan.
Seperti yang telah disinggung di depan bahwa air memiliki kedudukan yang sangat penting bagi kehidupan di seluruh dunia hampir di setiap harinya, di setiap tempat, dan setiap waktu, manusia membutuhkannya untuk kebutuhan
fisik dan mental. Dengan besarnya kedudukan air, maka air patut diberikan suatu kepedulian dari yang dihidupinya terutama manusia. Air danau yang sangat bergantung terhadap keberadaan hutan telah mengalami penyurutan. Begitu juga sumber air di berbagai tempat, serta air sungai yang hampir tercemar seluruhnya menuntut keberpihakan manusia untuk pemulihannya. Maka, air yang menjadi sarana penyucian dan menghanyutkan segala kotoran tidak memiliki takdir yang memilukan dengan selamanya kotor.
Sehingga air yang tadinya tercemar atas penyucian secara fisik dapat kembali dimurnkan secara fisik.
Dengan demikian, penyelamatan air patut diprioritaskan oleh segala pihak.
Seperti penjabaran “ning” dan
“cemer’ sebagai kondisi fisik air yang tidak akan pernah putus, air patut menjalani siklus alaminya sehingga air bersih untuk kebutuhan dan sarana penyucian tidak akan habis.
Kecemaran air akibat segala kotoran hasil aktivitas manusia seperti limbah pabrik dan rumah tangga menuntut aksi nyata yang mampu mengembalikan silkus air dengan memurnikan kembali air yang bersih yang datangnya dari hulu.
Keseimbangan ekosistem ban biota lingkungan patut dipertahankan sehingga menciptakan siklus kehidupan yang saling menguntungkan dan mendukung satu sama lain.
III PENUTUP
Gama Tirtha merupakan pustaka Bali yang memuat inti sari ajaran kesucian dengan representasi air. Air menempati posisi yang sentral di kehidupan manusia, makhluk hidup lainnya, dan alam semesta beserta isinya. Air difungsikan
9 sebagai kebutuhan baik fisik maupun rohani di dalam kehidupan sosial budaya dan spiritual. Sehingga, air patut dimuliakan dan dipertahankan sebagai entitas yang menyamai kemahakuasaan Tuhan sebagai pencipta. Gama Tirtha sendiri menjelaskan laku air mencerminkan paham yang dibedakan atas”gama ning” (paham suci) dan “gama cemer” (paham kotor). Keduanya merepresentasikan sifat manusia dan segala sesuatu yang tentunya mempriorotaskan kesucian dalam orientasi sosial dan spiritual
Air dijadikan representasi kebersihan baik jasmani dan rohani sehingga air difungsikan sebagai sarana penyucian di setiap ritual Bali.
Air memliki relasi dengan kemahakuasaan Tuhan dengan menciptakan kesucian berangkat dari badan kasar hingga masuk ke dalam tataran rohan yang lebih abstrak.
Maka, air menjadi representasi penyucian diri, pikiran, dan perbuatan.
Dengan sentralnya kedudukan air, paradigma Gama Tirtha mampu membangun sistem pemikiran untuk menjunjung tinggi keberadaan air baik sakala dan niskala. Air yang terus menyucikan segala yang kotor pastinya akan mendapat imbas kekotoran yang tidak habisnya jika tidak menjalani siklus alami yang membuatnya kembali kepada titik kemurnian. Dengan demikian, tugas manusia untuk menjaga siklus tersebut dengan menjaga kebertahanan ekosistem alam dan biota air sehingga keseimbangan dapat dipelihara.
DAFTAR PUSTAKA
Diari, Putri Yadnya. 2021. Aspek Eko-Religius dalam Naskah
Lontar Pertanian Bali.
Badung: Nilacakra.
Irwan, Zoer’ani Djamal. 2014.
Prinsip-Prinsip Ekologi:
Ekosistem, Lingkungan, dan Pelestariannya. Jakarta: Bumi Aksara
Susana, Tjutju. 2003. Air Sebagai Sumber Kehidupan (Jurnal Oseana, Volume XXVIII, Nomor 3, ISSN 0216-1877).
Sugiarti. 2018. Ekoreligius dalam Novel Geni Jora Karya Abidah El Khalieqy sebagai Rekonstruksi Kecerdasan Intelektual (dalam buku Sastra Terapan dari Konsep Ke Aplikasi). Yogyakarta:
Tekstium.
Tangkas, Made Reland Udayana.
2017. Aspek Ekologi-Religius dalam Naskah Lontar Usada Carik (dalam buku Prabhajnana Kajian Pustaka Lontar Universitas Udayana.
Denpasar: Swastha Nulus