• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

6

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Teori Atribusi

Teori perilaku yang memprediksi perilaku dengan melihat faktor internal dan eksternal disebut Teori Atribusi. Kedua faktor ini mempengaruhi seseorang ketika membuat keputusan (Latifah, 2017). Faktor internal berasal dari individu, seperti sifat, kepribadian, usia, dan pendidikan, dan faktor eksternal berasal dari lingkungan eksternal, seperti kondisi ekonomi global. Hal ini dapat diartikan sebagai perilaku wajib seseorang karena tekanan situasional (Febrianti, 2021).

B. Program Pengungkapan Sukarela

Program pengungkapan sukarela adalah kebijakan baru pada bidang perpajakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Kebijakan ini berbentuk pengampunan pajak tetapi pula menaruh pilihan pada wajib pajak untuk melaporkan hartanya yang belum dilaporkan pada masa tertentu secara sukarela dengan membayar sesuai tarif PPS kebijakan I atau II. Program pengungkapan sukarela dilaksanakan dalam 1 Januari - 30 Juni 2022. Berdasarkan UU HPP, masih ada dua skema acara pengungkapan sukarela, antara lain (UU HPP, 2021). Pada masa sekarang Amnesty sebagai konsep pengampunan hukuman diterapkan dalam berbagai bidang, tidak hanya dalam rezim hukum pidana, tapi juga diberlakukan dalam bidang politik, hak asasi manusia, ekonomi, dan pajak (Muttaqin, 2013).Tax Amnesty (pengampunan pajak) merupakan konsep penghapusan sanksi yang diberikan oleh presiden dalam keadaan atau situasi tertentu kepada wajib pajak yang telah melakukan pelanggaran terhadap Undang–Undang perpajakan.

Menurut Undang–Undang perpajakan pengampunan pajak dilaksanakan berdasarkan asas :

a. kepastian hukum

(2)

b. keadilan c. kemanfaatan

d. kepentingan nasional

Pengampunan Pajak atau Tax Amnesty dilaksanakan dengan tujuan untuk:

a. mempercepat pertumbuhan dan restrukturisasi ekonomi melalui pengalihan Harta, yang antara lain akan berdampak terhadap peningkatan likuiditas domestik, perbaikan nilai tukar Rupiah, penurunan suku bunga, dan peningkatan investasi.

b. mendorong reformasi perpajakan menuju sistem perpajakan yang lebih berkeadilan serta perluasan basis data perpajakan yang lebih valid, komprehensif, dan terintegrasi

c. meningkatkan penerimaan pajak, yang antara lain akan digunakan untuk pembiayaan pembangunan. Program amnesty ini biasanya bermula ketika beberapa otoritas memulai penyelidikan atas pajak yang jatuh tempo di masa lalu. Tax Amnesty ini memberikan manfaat bagi kedua belah pihak yaitu wajib pajak dan pemerintah. Dalam Program ini, wajib pajak akan mendapatkan penghapusan pajak yang seharusnya terutang dan negara akan mendapatkan keuntungan dari penerimaan pembayaran, baik dari luar negeri maupun dalam negeri.

Dengan begitu, wajib pajak akan membayar pajak secara rutin di periode selanjutnya. Berikut adalah beberapa keuntungan yang bisa didapatkan pengusaha dalam program Tax Amnesty (Rahmani, 2017) :

a. Mendorong Bisnis Secara Sehat

Dalam menjalankan bisnis di Indonesia, setiap pengusaha harus mengikuti peraturan bisnis yang telah diterapkan. Penghindaran pajak memiliki konsekuensi yang cukup berat, termasuk tingginya denda dan hukuman.

(3)

Program Tax Amnesty ini diadakan untuk mendorong pengusaha membayar pajak yang ditanggungkan guna melakukan bisnis secara adil dan sehat di Indonesia. Jika sebuah bisnis melakukan penghindaran terhadap pajak, biasanya bisnis tersebut akan dapat menjual barangnya dengan harga yang sangat rendah, sehingga mengacaukan pasar terhadap produk serupa. Dengan pembayaran pajak, secara tidak langsung akan menempatkan setiap bisnis pada posisi dan pengeluaran yang sama.

b. Mempermudah Perizinan dan Legalitas

Di dalam dunia perpajakan di Indonesia, terdapat sistem informasi pertukaran secara otomatis, yang berarti data setiap pengusaha dapat dilihat oleh seluruh departemen pemerintah. Setiap pengusaha akan selalu diminta untuk memberikan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dalam setiap melakukan prosedur administrasi atau birokrasi yang berkaitan dengan pemerintah. Jika memiliki kredit macet atau melanggar peraturan perpajakan, maka akan berdampak pada bisnis dalam perspektif yang lebih luas misalnya sulit memperpanjang izin bisnis, sulit untuk memperbarui informasi atau data perusahaan, sulit memperpanjang visa, dan masalah birokrasi lainnya. Adanya Tax Amnesty, ini akan membuat bisnis setiap pengusaha terhindar dari catatan buruk tentang pelanggaran terhadap pajak.

c. Kemudahan Memperluas Bisnis

Jika ingin memperluas bisnis maka akan membutuhkan dan membeli banyak properti untuk mengembangkan bisnis tersebut. Jika tidak memiliki catatan pajak yang bersih dan sehat maka keinginan setiap pengusaha untuk membeli properti untuk mengembangkan bisnis bisa dikatakan hampir tidak mungkin, karena pembelian properti akan terkait dengan pajak. Oleh karena itu, dengan mengikuti program Tax Amnesty maka akan dapat digunakan untuk membayar dan melaporkan pajak yang belum terungkap. Hal tersebut merupakan salah satu strategi bagus untuk bisnis jangka panjang.

d. Terhindar dari Denda dan Pengeluaran Tambahan

(4)

Jika terdapat pengusaha yang memiliki kelalaian dalam pembayaran pajak, maka sudah pasti akan terbebani dengan bunga atau denda yang semakin menumpuk. Dengan adanya Tax Amnesty maka tidak perlu membayar bunga atau mendapatkan beban bunga dari pajak yang gagal dibayar. Secara tidak langsung ini akan menghemat pengeluaran bisnis para pengusaha.

e. Terhindar dari Masalah Hukum

Dengan adanya Tax Amnesty, pengusaha tidak perlu menghadapi masalah hukum atau perselisihan apapun akibat kelalaian membayar pajak. Pengusaha yang memiliki masalah dengan kelalaian dalam membayar pajak atau belum melaporkan harta yang kena pajak hanya perlu menghitung kembali masalah selisih pelaporan pajak yang harus dibayar, kemudian membayar ketika tawaran program Tax Amnesty dari pemerintah masih berjalan.

Tabel 2.1

Skema Program Pengungkapan Sukarela

Keterangan Kebijakan 1 Kebijakan 2

Subyek WP OP dan Badan Peserta TA WP OP

Basis Aset Aset per 31 Desember 2015 Aset perolehan tahun

Tahun 2016 – 2020 yang belum dilapor di SPT Tahunan 2020 Tarif PPH

FINAL

 11 % untuk Aset LN

 8% untuk aset repatriasi LN dan Aset DN

 6% untuk aset repatirasi LN dan aset DN yang di investasikan ke SBN/hiliriasi/renewable energy.

 18 % untuk aset LN

 14 % untuk aset repartiasi LN dan aset LN

 12 % untuk aset repatriasi LN dan aset DN yang diinvestasikan ke SBN/hilirasi/renewable energy

Sumber: Data diolah oleh peneliti (2022) C. Kepatuhan Wajib Pajak

Kondisi perpajakan yang menuntut partisipasi aktif wajib pajak dalam pengelolaan perpajakan menuntut tingkat kepatuhan wajib pajak yang tinggi, misalnya dalam kaitannya dengan itikad baik pelaksanaan kewajiban perpajakan.

Hal ini karena sebagian besar pekerjaan yang terkait dengan pemenuhan kewajiban

(5)

perpajakan dilakukan oleh wajib pajak, bukan fiskus sebagai pemungut pajak. Hal ini membutuhkan kepatuhan terhadap sistem perpajakan Indonesia (self- assessment). Kepatuhan sukarela merupakan masalah yang sangat penting dan wajib pajak bertanggung jawab untuk menentukan kewajiban perpajakan mereka dan untuk pembayaran pajak dan pelaporan pajak tepat waktu (Devano dan Siti, 2006).

Menurut (Devano dan Siti, 2006) Kewajiban perpajakan dapat didefinisikan sebagai kondisi di mana wajib pajak memenuhi semua kewajiban perpajakan dan menggunakan hak perpajakannya. Menurut (Devano dan Siti, 2006) Kepatuhan wajib pajak dapat ditentukan oleh kepatuhan wajib pajak pada saat pendaftaran, kepatuhan penyampaian SPT, kepatuhan penghitungan dan pembayaran pajak yang masih harus dibayar, dan kepatuhan tunggakan. Dengan mengacu pada standar kepatuhan wajib pajak berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 544/KKM.04/2000, yaitu standar kepatuhan wajib pajak, antara lain penyampaian SPT (SPT) tepat waktu, wajib pajak dilisensikan dan bersalah. tidak pernah dihukum, sanksi pidana di bidang perpajakan telah berlaku selama 10 tahun, dan akuntansi tahunan telah diaudit oleh auditor dan mendapat penilaian Wajar Tanpa Pengecualian.

Dari pengertian di atas, dipandang bahwa wajib pajak harus memenuhi kewajiban perpajakannya dan menggunakan haknya untuk membayar pajak.

Kewajiban perpajakan meliputi pendaftaran, penghitungan dan pembayaran pajak yang belum dibayar, pembayaran pelunasan, dan pengembalian pemberitahuan.

Ada dua jenis kepatuhan :

a. Kepatuhan formal. Syarat Wajib Pajak untuk memenuhi kewajiban perpajakannya secara formal Menurut ketentuan resmi undang-undang perpajakan.

b. Kesesuaian materi; pembayar pajak secara substansial atau substansial Semua ketentuan perpajakan substantif sesuai dengan isi dan jiwa undang- undang perpajakan. Kepatuhan kritis juga mencakup kepatuhan formal. Wajib Pajak yang memenuhi kepatuhan penting Wajib Pajak yang mengisi

(6)

pemberitahuan yang relevan dengan jujur, lengkap dan akurat Itu akan ditetapkan dan diserahkan ke KPP sebelum batas waktu.

D. Penelitian Terdahulu

Menurut peneliti (Alfiyah dan Latifah, 2017) yang berjudul “Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Sunset Policy, Tax Amnesty, dan Sanksi Pajak”. Pada penelitian ini dijelaskan bahwa Tax Amnesty berpengaruh positif signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak.

Menurut peneliti ( R o r o n g , K a l a n g i , 2 0 1 7 ) yang berjudul

“Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Tax Amnesty, Kesadaran Wajib Pajak dan Sanksi Pajak”. Pada penelitian ini dijelaskan bahwa Tax Amnesty berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak.

Menurut peneliti (Faturahman, Nurlaela, 2018) yang berjudul “Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Pengetahuan Perpajakan dan Tax Amnesty”. Pada Penelitian ini dijelaskan bahwa Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Pengetahuan Perpajakan dan Tax Amnesty.

Menurut (Husnurrosyidah, 2016) yang berjudul “Kepatuhan Pajak Tax Amnesty dan Sanksi Pajak”. Pada penelitian ini dijelaskan bahwa Tax Amnesty berpengaruh terhadap kepatuhan pajak BMT se-eks Karisidenan Pati.

Menurut (Ngadiman dan Huslin, 2015) yang berjudul “Kepatuhan Wajib Sunset Policy, Tax Amnesty dan Sanksi Pajak”. Pada penelitian ini dijelaskan bahwa Tax Amnesty secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak dengan nilai signifikan.

Penelitian yang dilakukan (Ngadiman dan Huslin, 2015) menunjukkan Tax Amnesty berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Hasil tersebut juga didukung oleh (Suyanto, 2016) bahwa Tax Amnesty berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Implementasi pengampunan pajak di Indonesia memiliki peluang untuk berhasil dilaksanakan dengan jenis investigation amnesty (Alberto, 2015). Berbeda dengan hasil penelitian (J, 1998) bahwa tingkat kepatuhan jatuh setelah adanya program Tax Amnesty. Hasil tersebut didukung (Ragimun,

(7)

2015) menunjukkan bahwa Tax Amnesty pernah dilakukan di Indonesia namun kurang efektif.

Penelitian (Ipek, 2012) menyatakan bahwa Tax Amnesty mengurangi kepatuhan wajib pajak. (Fajriyan, 2015) efek negatif dari Tax Amnesty adalah pada kepatuhan sukarela. Hasil dari peraturan tersebut adalah wajib pajak memiliki harapan yang tinggi dari Tax Amnesty dan akan menjadi kebiasaan.

Menurut (Rorong, Kalangi, 2017) kebijakan Tax Amnesty berpengaruh positif yang signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Kesadaran wajib pajak tidak berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Sanksi pajak tidak berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Kebijakan Tax Amnesty,kesadaran wajib pajak dan sanksi pajak berpengaruh positif secara simultan terhadap kepatuhan wajib orang pribadi.

Gambar 2.2 Model Penelitian

E. Perumusan Hipotesis

1. Pengaruh Program Pengungkapan Sukarela Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

Ini ada hubungannya dengan program pengungkapan sukarela wajib pajak.

Berdasarkan Teori tindakan terencana, jelaskan bahwa setiap tindakan individu selalu dimulai dengan niat. Wajib pajak dapat membentuk niat untuk menentukan tindakan atau persepsinya melalui sikap, dorongan dari orang terdekat, pengetahuan dan pengalaman sebelumnya, dan kewajiban moral.

Semua faktor ini akan menyebabkan Kepatuhan wajib pajak digunakan dalam memutuskan apakah akan berpartisipasi dalam program pengungkapan sukarela.

Pada penelitian (Malherbe, 2010) yang menunjukan bahwa Tax Amnesty secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kepatuhan

X = Program Pengungkapan

Sukarela Y = Kepatuhan Wajib Pajak

(8)

wajib pajak dengan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05.(Junpath, 2013) meneliti mengenai multi Tax Amnesty dan kepatuhan pajak di Afrika Selatan.

Penelitian yang dilakukan oleh (Kelliher, 2013) terhadap kepatuhan wajib pajak menunjukkan bahwa faktor personal sangat berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak.

Selain itu, berdasarkan Teori Atribusi, faktor eksternal yang mempengaruhi kepatuhan wajib pajak adalah program pengungkapan sukarela (Alfiyah dan Latifah, 2017) Oleh karena itu, terdapat tanda-tanda bahwa program pengungkapan sukarela berkaitan dengan kepatuhan wajib pajak, karena dapat menentukan perilaku wajib pajak. Dari penjelasan di atas, hipotesis yang diajukan yakini :

Ha: Program Pengungkapan Sukarela berpengaruh positif terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

Ho : Program Pengungkapan Sukarela tidak berpengaruh positif terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Sedangkan permainan Donimo Trigonometri merupakan permainan yang memanfaatkan kartu Domino Trigonometri dengan aturan yaitu diawali dengan setiap pemain menerima

Dengan mengamati gambar, membaca teks dan berdiskusi, siswa mampu menyajikan informasi tentang pemanfaatan dan pelestarian sumber daya alam di lingkungan sekitar mereka

X domino kontrol manajemen tidak kuat, hal ini dapat dilihat dari ketiadaan komitmen atau ketertarikan terhadap K3, perjanjian kerja dengan pekerja hanya

Pada perhitungan difraksi gelombang, tinggi gelombang di suatu tempat di daerah terlindung tergantung pada jarak titik tinjau terhadap sudut rintangan r, sudut antara rintangan

Pada abad enam belas, sebagian besar wilayah Afrika Utara (kecuali Maroko), sebagaimana beberapa pemerintahan bangsa Arab di Timur Tengah, jatuh ke tangan

Menghargai setiap waktu yang berjalan, dan tidak mengisinya dengan hal-hal yang bersifat sia-sia. Waktu adalah sesuatu yang tidak dapat dimundurkan walau hanya sesaat, maka

Dari hasil analisa tersebut dapat disimpulkan bahwa perasaan terhadap iklan media luar ruang calon legislatif ialah 59,5% yang berarti dalam kurang baik, karena