• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. Gambar 2.1 Bagan Skematik Tower Crane. (Sumber :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. Gambar 2.1 Bagan Skematik Tower Crane. (Sumber :"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

3

Universitas Kristen Petra

2. LANDASAN TEORI

2.1. Tower Crane

Tower crane adalah salah satu alat berat yang memiliki fungsi untuk mengangkat, menurunkan, memindahkan material (Varma, 1979). Tower crane sering digunakan pada pelaksanaan proyek bangunan bertingkat (> lima lantai) sebagai alat bantu untuk mengangkat material antara lain : bekisting, besi beton, beton cair untuk pengecoran kolom, elemen/panel pracetak, semen, dan material lainnya.

Secara umum, bagian-bagian tower crane terdiri dari (Gambar 2.1) :

Gambar 2.1 Bagan Skematik Tower Crane.

(Sumber : www.google.com)

 Base

Base merupakan bagian bawah dari tower crane yang dihubungkan dengan pondasi yang mendukung dari tower crane tersebut. Hubungan antara base

(2)

4

Universitas Kristen Petra

dengan pondasi harus kaku karena beban yang dipikul sangat besar terdiri dari berat sendiri tower crane dan beban material yang diangkut (Gambar 2.2).

Gambar 2.2 Dasar Tower Crane.

(Sumber : www.google.com)

 Base section

Base section merupakan bagian dasar dari badan tower crane yang langsung dipasang atau dijangkar ke pondasi.

 Mast section

Mast section merupakan rangkaian struktur baja yang terdiri dari kerangka atau section yang akan disambung menjadi sebuah tower. Ketinggian tower crane dapat ditentukan dari jumlah mast yang dipasang (Gambar 2.3).

Gambar 2.3 Rangka Baja tower crane.

(Sumber : www.google.com)

 Slewing unit

Slewing unit merupakan bagian dari atas tower crane yang berfungsi sebagai menara untuk perputaran jib tower crane. Diatas slewing unit terdapat cat head yang berbentuk kerucut sebagai penghubung antara jib, counter jib dan menara (tower mast).

(3)

5

Universitas Kristen Petra

 Jib

Jib terdiri dari (Gambar 2.4) :

- Long horizontal jib atau working arm yang merupakan lengan pengangkut beban dengan panjang yang beragam disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.

- Counter jib merupakan lengan penyeimbang terhadap momen dari jib dalam mengangkut beban.

- Counterweight berupa blok beton yang merupakan pemberat, yang dipasang pada ujung counter jib.

- Operator cabin sebagai tempat operator untuk mengoperasikan alat (Gambar 2.5).

Gambar 2.4 Bagian dari Jib.

(Sumber : www.google.com)

Gambar 2.5 Ruang Operator.

(Sumber : www.google.com)

Horizontal Jib

Counter Jib

Counterweight

Trolley Hook

(4)

6

Universitas Kristen Petra

- Trolley

Trolley merupakan alat untuk membawa hook sehingga dapat bergerak secara horizontal sepanjang jib.

- Hoisting Rope

Hoisting rope merupakan tali baja yang mengikat hook.

- Hoisting Block

Hoisting block merupakan . - Hook

Hook merupakan alat pengait beban yang terpasang pada trolley.

2.2. Kecelakaan Kerja

Berdasarkan data Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi tahun 2010, angka kecelakaan kerja di sektor jasa kontruksi paling tinggi dibandingkan dengan sektor lainnya, sedangkan menurut data World-Wide Tower Crane Accidents tahun 2000-2010, sebanyak 26% kecelakaan terjadi pada saat pemasangan dan pembongkaran tower crane, 16% saat climbing, 27% saat pengoperasian, 13% akibat kesalahan operator, 10% karena pengaruh keadaan alam, dan 8% tidak diketahui penyebabnya (http://www.towercranesupport.com/).

Dari beberapa sumber yang diperoleh, kecelakaan kerja dapat didefinisikan sebagai berikut :

- Kejadian yang tidak disengaja seperti kejadian-kejadian yang tidak diharapkan dan terkontrol. Kecelakaan tidak selalu berakhir dengan luka fisik dan kematian.

Kecelakaan yang menyebabkan kerusakan peralatan dan material khususnya yang menyebabkan luka perlu mendapat perhatian besar. Kecelakaan yang tidak menyebabkan kerusakan perlatan, material, dan kecelakaan fisik dapat menjadi penyebab atau pemicu kecelakaan lebih lanjut. (Hinze, 1997).

- Sesuatu yang tidak direncanakan, tidak terkontrol, dan tidak disukai, dimana keadaan tersebut mengganggu fungsi-fungsi normal seseorang atau sekelompok orang dan mengakibatkan cedera atau hampir cedera (Anton, 1989).

- Suatu kejadian yang tidak diduga semula dan tidak dikehendaki yang mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu aktivitas dan dapat menimbulkan

(5)

7

Universitas Kristen Petra

kerugian baik korban manusia dan harta benda (Dasar dasar keselamatan dan kesehatan kerja).

- Kejadian (peristiwa) yang menyebabkan orang mendapat kesulitan (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Dari definisi-definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak direncanakan, diinginkan dan menyebabkan orang mendapat kesulitan atau kerugian bagi dirinya.

2.2.1. Tindakan Tidak Aman (Unsafe Acts)

Tindakan tidak aman adalah tindakan yang dilakukan oleh para pekerja yang tidak sesuai prosedur-prosedur keselamatan. Tindakan tidak aman dari pekerja dapat disebabkan oleh adanya tekanan sosial, teman kerja maupun pihak manajemen (Chundawan, 2010).

Yang termasuk tindakan yang tidak aman adalah (Chundawan, 2010) : a. Tidak menggunakan peralatan K3.

b. Psikologi pekerja.

c. Bekerja menggunakan alat yang tidak aman.

d. Menggunakan peralatan yang rusak atau cacat.

e. Mengganggu atau mengejutkan pekerja.

f. Melalaikan prosedur kerja.

g. Meninggalkan peralatan dalam keadaan berbahaya.

h. Penggunaan peralatan yang salah.

i. Tidak melakukan perawatan pada alat.

j. Merokok di sekitar area lapangan.

k. Mengkonsumsi minuman beralkohol dan obat terlarang.

Selain itu, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan pekerja cenderung melakukan kesalahan sehingga menimbulkan kecelakaan kerja antara lain (Hinze, 1997) :

a. Pembawaan diri.

Pekerja perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mengontrol pekerjaan yang ditangani sehingga dapat bekerja dengan aman.

b. Persoalan pribadi.

(6)

8

Universitas Kristen Petra

Faktor-faktor negatif dalam diri pekerja seperti kelelahan, konsumsi alkohol atau obat-obatan, penyakit dan perasaan frustasi dalam kehidupan akan mempengaruhi perilaku pekerja.

c. Perasaan bebas dalam melaksanakan pekerjaan.

Berdasarkan teori The Goals-Freedom-Alertnees, pihak manajemen harus memberikan kebebasan dan tidak membebani pekerja agar dapat bekerja dengan baik.

d. Usia dan pengalaman kerja.

Pekerja yang sudah berpengalaman dalam pekerjaannya akan lebih aman dalam bekerja dibandingkan dengan pekerja yang tidak berpengalaman atau pekerja baru.

e. Tingkat pendidikan pekerja.

Resiko terjadinya kecelakaan kerja sangat tergantung akan pengertian pekerja tersebut terhadap pemahaman cara bekerja yang aman (peralatan kerja, keselamatan kerja, prosedur pekerjaan) dan sebagainya.

f. Keletihan fisik pekerja.

Keletihan fisik dapat menyebabkan konsentrasi pekerja terganggu, seperti lingkungan terbuka yang dipengaruhi cuaca dan pergantian jam kerja yang tidak teratur.

2.2.2. Kondisi Tidak Aman (Unsafe Condition)

Kondisi tidak aman adalah kondisi dimana lingkungan kerja dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja.

Yang termasuk kondisi yang tidak aman adalah (Chundawan, 2010) : a. Alat pelindung yang kurang memadai.

b. Waktu kerja yang berlebihan.

c. Penerangan yang kurang.

d. Sarana yang kurang memadai.

e. Keadaan lingkungan sekitar yang tidak aman.

f. Masyarakat sekitar yang mengganggu.

(7)

9

Universitas Kristen Petra

2.3. Keselamatan Kerja

Keselamatan kerja merupakan bagian yang penting dalam pelaksanaan proyek konstruksi, dimana keselamatan kerja perlu mendapat perhatian yang sama dengan kualitas, jadwal dan biaya (Yustono, 1991). Keterlibatan secara aktif dari manajemen perusahaan sangat penting artinya bagi terciptanya perbuatan dan kondisi lingkungan yang aman. Manajemen perusahaan perlu membuat program keselamatan kerja (safety program) dan mempunyai komitmen untuk menjalankan program tersebut demi terciptanya keselamatan kerja di lokasi proyek (Hinze, 1997).

Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan mesin, perawat, alat kerja dan bahan proses pengolahannya. Landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara melakukan pekerjaan (Suma’mur, 1995).

Penyediaan fasilitas keselamatan kerja meliputi : (1) peralatan perlindungan diri (2) sarana keselamatan kerja. Peralatan perlindungan diri terdiri dari pelindung kepala (helm), pelindung mata, pelindung telinga, sarung tangan, sabuk pengaman, dan sepatu karet. Sarana keselamatan kerja meliputi tanda-tanda dan tulisan mengenai keselamatan kerja, jaring pengaman (safety net), tempat pengobatan, peralatan K3L dan alat pemadam kebakaran (Kusuma dan Alim, 2001).

Terdapat definisi mengenai keselamatan kerja sebagai berikut :

1. Keselamatan kerja adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya, dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budaya untuk menuju masyarakat adil dan makmur (“Makalah” par. 1.).

2. Keselamatan Kerja adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang sehat dan aman baik itu bagi pekerjaannya, perusahaan maupun bagi masyarakat dan lingkungan sekitar pabrik atau tempat kerja tersebut (“Makalah” par. 1.).

3. Keselamatan adalah merujuk pada perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang terhadap cedera yang terkait dengan pekerjaan (“Makalah” par. 1.).

4. Keselamatan kerja merupakan rangkaian usaha untuk menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi para karyawan yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan (Suma’mur, 1981).

(8)

10

Universitas Kristen Petra

5. Keselamatan kerja adalah kondisi keselamatan yang bebas dari resiko kecelakaan dan kerusakan yang mencakup tentang kondisi bangunan, kondisi mesin, peralatan keselamatan, dan kondisi pekerja (Simanjuntak, 1994).

6. Pelaksanaan keselamatan kerja adalah berkaitan dengan upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh berbagai faktor bahaya, baik berasal dari penggunaan mesin-mesin produksi maupun lingkungan kerja serta tindakan pekerja sendiri (Ramlan Dj, 2006).

2.4. Penggunaan Tower Crane

Penggunaan tower crane meliputi empat tahap yaitu (1) penempatan, (2) pemasangan, (3) pengoperasian, dan (4) pembongkaran.

Dalam penggunaan tower crane, terdapat beberapa jenis kecelakaan yang pernah terjadi mulai dari tahap penempatan hingga pembongkaran tower crane yaitu (Thamrin, 2008) :

a. Tower crane roboh.

b. Kematian karena tersengat listrik.

c. Pekerja terbentur (struck by) oleh beban saat pengangkatan.

d. Jatuhnya beban yang diangkat tower crane.

e. Kehancuran saat perakitan atau pembongkaran tower crane.

f. Terbentur oleh penyeimbang beban (counterweight).

Kecelakaan tower crane tersebut disebabkan oleh tindakan dan kondisi yang tidak aman selama penggunaan tower crane. Tindakan tidak aman selama penggunaan tower crane antara lain (Thamrin, 2008) :

- Tower crane mengangkat beban melebihi kapasitas.

- Tumpuan yang kurang kuat.

- Kegagalan / kerusakan boom atau kabel sling.

- Kegagalan aksesoris (lampu, bel, sprayer) tower crane.

- Tidak menggunakan atau penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang kurang tepat.

Kondisi yang tidak aman selama penggunaan tower crane antara lain (Thamrin, 2008) :

- Jarak antar tower crane yang berdekatan.

(9)

11

Universitas Kristen Petra

- Pandangan operator terhadap lingkungan sekitar kurang bebas.

- Tower crane berdekatan dengan kabel listrik.

- Tower crane berdekatan dengan bangunan.

Kecelakaan yang terjadi pada tower crane dapat dicegah dengan menerapkan program keselamatan kerja pada penggunaan tower crane dengan mengikuti petunjuk teknis dan peraturan keselamatan kerja berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. PER.05/MEN/1985 tentang pesawat angkat dan angkut.

Studi literatur mengenai penggunaan tower crane mulai dari tahap penempatan sampai tahap pembongkaran ini akan dijadikan dasar dalam pembuatan pertanyaan-pertanyaan dalam kuisioner.

2.4.1. Penempatan Tower Crane

Penempatan ini merupakan persiapan awal dari penggunaan tower crane.

Dalam penempatan ini diatur dimana titik tower crane akan diletakkan yang disesuaikan dengan kondisi proyek dan lingkungan sekitar. Selain itu, penempatan tower crane diatur sebaik mungkin agar dapat mengangkut material secara maksimal.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penempatan tower crane pada proyek konstruksi antara lain (http://wartawarga.gunadarma.ac.id) :

1. Penempatan tower crane diatur agar dapat menjangkau seluruh area proyek yang dikerjakan.

2. Pada lokasi penempatan tower crane, minimal harus ada lahan bebas selebar 10 meter (clearance area) untuk kepentingan pemasangan dan pembongkaran menggunakan alat berat seperti mobile crane.

3. Penempatan tower crane tidak boleh diletakkan diatas fasilitas lain, seperti septic tank dan tidak boleh menganggu lingkungan sekitar, misalnya melintasi jalan raya atau bangunan lain di sekitar.

4. Penempatan material diusahakan terjangkau oleh tower crane.

5. Adanya komunikasi yang jelas antara operator dan mandor pekerja di lapangan yang membantu proses pemasangan dan pembongkaran alat.

(10)

12

Universitas Kristen Petra

Kondisi yang menyebabkan kecelakaan kerja pada proses penempatan tower crane :

a. Kesalahan menentukan titik pondasi tower crane.

Titik pondasi yang direncanakan untuk tower crane tidak berada pada tanah keras, misalnya di bawahnya terdapat basement.

b. Penempatan tower crane yang tidak strategis.

Tower crane tidak dapat menjangkau seluruh bagian proyek yang harus dilayani.

c. Penempatan tower crane yang tidak aman.

Tower crane diletakkan dekat dengan jalan atau lingkungan sekitar, sehingga menyebabkan beban yang diangkat melewati jalan.

d. Letak antar tower crane.

Penempatan dua atau lebih tower crane tanpa memperhitungkan radius putar boom sehingga terjadi tabrakan antar tower crane.

Penerapan keselamatan kerja pada penempatan tower crane dapat diterapkan dengan cara sebagai berikut :

a. Perencanaan pondasi yang kuat.

b. Mengetahui bagian-bagian proyek yang perlu dijangkau agar penempatan tower crane efektif.

c. Mengetahui layout plan proyek agar dalam penempatan tower crane tidak melewati lingkungan sekitar.

d. Perencanaan letak tower crane yang disesuaikan dengan kondisi lapangan.

e. Menggunakan tower crane yang memiliki sertifikat untuk persyaratan penggunaan alat.

f. Layout planning (perencanaan tata letak)

Perencanaan tata letak harus diatur sedemikian rupa sehingga orang dan alat yang bekerja tidak saling terganggu, tetapi justru saling mendukung sehingga dapat dicapai pelaksanaan dengan produktifitas tinggi dan aman.

g. Penerangan dan ventilasi.

(11)

13

Universitas Kristen Petra

Penerangan/pencahayaan suatu ventilasi/pertukaran udara harus cukup sehingga para pekerja akan bekerja dengan aman, sehingga dapat terhindar dari kecelakaan kerja maupun gangguan kesehatan akibat kerja.

2.4.2. Pemasangan Tower Crane

Dalam pemasangan tower crane ada dua cara (http://www.scribd.com) : 1. Pemasangan tower crane dapat dilakukan secara manual dengan bantuan

mobile crane.

2. Pemasangan tower crane dapat dilakukan melalui proses ”self assembly”

tanpa bantuan mobile crane.

Untuk persiapan pemasangan tower crane, maka yang perlu diperhatikan antara lain (“Pemasangan”, par. 5):

1. Umur beton pondasi.

Pondasi beton yang digunakan sebagai tempat berdirinya tower crane sudah berumur 28 hari sehingga sudah mampu untuk menahan beban yang direncanakan.

2. Kondisi cuaca.

Pemasangan tidak boleh dilakukan pada saat kondisi cuaca buruk, seperti hujan, berangin.

3. Kondisi lokasi.

Lokasi tempat berdirinya tower crane dikosongkan terlebih dahulu dan juga disediakan tempat untuk mobile crane yang akan membantu dalam pemasangan.

4. Kelengkapan dari tower crane.

- Bahan konstruksi dan perlengkapan dari pesawat angkat dan angkut harus cukup kuat, tidak cacat, dan memenuhi syarat (Pasal 2 PER.05/MEN/1985).

- Sebelum pemasangan dilakukan pemeriksaan untuk memastikan kelengkapan bagian-bagian dari tower crane yang akan dipasang.

5. Pengadaan alat bantu mobile crane.

Mobile crane digunakan untuk membantu pengangkatan section tower crane.

6. Peralatan yang memadai.

(12)

14

Universitas Kristen Petra

Peralatan yang digunakan untuk pemasangan dalam kondisi yang baik / tidak rusak.

7. Tenaga kerja yang terampil.

Pekerja yang memasang tower crane mengetahui cara pemasangan tower crane yang benar dan sudah terlatih.

8. Semua pelaksanaan pekerjaan harus mengikuti petunjuk teknis dan peraturan keselamatan.

Setiap tahapan dalam pemasangan tower crane harus mengikuti peraturan keselamatan yang berlaku.

Kondisi yang menyebabkan kecelakaan kerja pada proses pemasangan tower crane :

a. Sambungan antara pondasi dengan mass section tidak kuat.

b. Sambungan antar mass section yang tidak kuat.

c. Kondisi tali baja, sling, rantai, dan kait yang dipasang kurang baik, misalnya berkarat.

d. Kesalahan operator pada saat proses climbing.

Penerapan keselamatan kerja pada pemasangan tower crane dapat diterapkan dengan cara sebagai berikut :

a. Baut yang digunakan untuk sambungan sesuai dengan standar untuk sambungan dan memiliki kelebihan ulir sekrup untuk pengencang (Pasal 7 PER.05/MEN/1985).

b. Pemasangan indikator beban maksimum pada tower crane agar tidak mengangkat melebihi kapasitas.

- Keran angkat dilengkapi dengan alat otomatis yang dapat memberi tanda peringatan yang jelas apabila melebihi beban maksimum yang diijinkan (Pasal 55 PER.05/MEN/1985).

c. Melakukan pemeriksaan kelengkapan bagian tower crane sebelum pemasangan.

d. Memperhatikan urutan dan cara pemasangan bagian-bagian tower crane.

e. Panjang jib.

(13)

15

Universitas Kristen Petra

Radius dari tower crane ini tergantung dari panjangnya jib, diusahakan agar dapat menjangkau seluruh area proyek.

f. Beban counterweight.

Beban counterweight ini terletak pada counter jib dari tower crane. Fungsinya untuk menyeimbangkan tower crane agar tidak terjadi guling pada saat mengangkat beban.

g. Kabel baja/sling.

- Untuk kabel baja yang perlu diperhatikan adalah tidak terdapat serat-serat dari tali atau kabel baja tersebut yang rusak/tidak layak pakai (Pasal 9 PER.05/MEN/1985).

- Sling terbuat dari rantai, tali baja atau tali serat dan mempunyai kekuatan yang memadai. Sling yang cacat dilarang dipakai (Pasal 12 PER.05/MEN/1985).

h. Kait.

- Kait yang digunakan untuk mengangkat beban harus dibuat dari baja tempa yang dipanaskan dan dipadatkan atau dari bahan lain yang mempunyai kekuatan yang sama dan memiliki kunci pengaman (Pasal 14 PER.05/MEN/1985).

i. Ruang Operator.

- Konstruksi dan letak ruangan operator harus bebas dan mempunyai pandangan luas ke sekeliling operasi muatan (Pasal 51 PER.05/MEN/1985).

- Ruangan operator tertutup dengan jendela pada semua sisi (Pasal 52 PER.05/MEN/1985).

j. Rambu-rambu/tanda peringatan

Untuk keamanan pengoperasian alat dan pekerja yang berada di sekitar proyek, harus dibuatkan pagar pengaman atau barikade yang dilengkapi dengan rambu-rambu.

k. Kelengkapan tower crane lainnya

- Tower crane harus dilengkapi dengan sprayer, lampu dan sirine dimana peralatan ini dapat berfungsi dengan baik.

- Setiap roda gigi dan alat perlengkapan transmisi dari kran angkat harus dilengkapi dengan tutup pengaman (Pasal 49 PER.05/MEN/1985).

(14)

16

Universitas Kristen Petra

2.4.3. Pengoperasian Tower Crane

Pengoperasian tower crane perlu diatur agar dapat bekerja dengan maksimal. Kecelakaan kerja pada penggunaan tower crane sering terjadi pada saat pengoperasian alat. Oleh karena itu, yang perlu diperhatikan pada saat pengoperasian tower crane adalah alat, material yang diangkut, dan manusia/pekerja yang terlibat dalam penggunaan tower crane tersebut (Chundawan, 2010).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengoperasikan tower crane antara lain :

1. Kapasitas panjang boom.

2. Jenis dan berat beban material yang diangkat.

- Beban maksimum yang diijinkan harus ditulis pada bagian yang mudah dilihat dengan jelas (Pasal 3 PER.05/MEN/1985).

- Tidak boleh mengangkat melebihi beban maksimum yang diijinkan (Pasal 3 PER.05/MEN/1985).

3. Penggunaan rambu-rambu dan tanda keselamatan kerja.

4. Penggunaan alat K-3 di lapangan.

5. Proses pengikatan dan pelepasan material/beban pada tower crane.

- Sebelum muatan dinaikkan, pemberi isyarat harus memeriksa apakah tali, rantai, bandul telah dipasang dengan benar dan muatan dipasang dalam keadaan seimbang (Pasal 21 PER.05/MEN/1985).

6. Teknik pengoperasian tower crane oleh operator yang meliputi mengangkat, memindahkan dan menurunkan beban atau material.

- Pengangkatan dan penurunan muatan harus secara perlahan-lahan (Pasal 3 PER.05/MEN/1985).

- Menaikkan, menurunkan, dan mengangkat muatan dengan pesawat pengangkat harus diatur dengan sandi isyarat yang seragam dan benar-benar dimengerti (Pasal 18 PER.05/MEN/1985).

- Muatan dinaikkan secara vertikal untuk menghindari ayunan pada saat diangkat (Pasal 20 PER.05/MEN/1985).

(15)

17

Universitas Kristen Petra

- Jika muatan yang diangkat tidak berjalan sebagaimana mestinya, operator harus segera membunyikan tanda peringatan dan menurunkan muatan untuk diatur kembali (Pasal 22 PER.05/MEN/1985).

- Jika peralatan beroperasi tanpa muatan:

a. Penjaga sling harus mengaitkan sling pada kait secara kuat sebelum bergerak.

b.Operator harus menaikkan kait secukupnya agar orang-orang dan benda-benda tidak tersentuh (Pasal 26 PER.05/MEN/1985).

7. Letak atau posisi jib setelah selesai digunakan.

8. Area jalur angkut tower crane.

Kondisi yang menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja pada pengoperasian tower crane :

a. Jatuhnya beban yang diangkat.

Penggunaan alat yang tidak sesuai, mengoperasikan alat diluar kemampuan alat, dan melanggar peraturan.

b. Kelebihan beban.

Pengangkatan beban yang melebihi kapasitas angkut.

c. Terbentur.

Terbentur dengan tower crane yang lain, bangunan disekitar, atau kabel listrik.

d. Kegagalan struktur tower crane.

Hal ini disebabkan karena penempatan tower crane tidak pada tanah (diletakkan diatas basement atau saluran) sehingga tidak memiliki kekuatan, dan juga terjadi kesalahan pada sambungan tower crane.

e. Kesalahan operator.

Operator yang tidak memiliki keahlian, kemampuan dan pengetahuan mengenai tower crane, penglihatan yang kurang jelas.

Penerapan keselamatan kerja pada pengoperasian tower crane dapat diterapkan dengan cara sebagai berikut (Varma, 1979) :

a. Alat.

(16)

18

Universitas Kristen Petra

Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum penggunaan alat agar tidak terjadi kecelakaan kerja :

1. Melakukan testing sebelum penggunaan alat.

2. Rantai, kait dan sling, dilakukan pengetesan pada rantai maupun sling sebelum pengoperasian alat dilakukan.

3. Tali baja diperiksa terlebih dahulu sebelum digunakan (Pasal 10 PER.05/MEN/1985).

4. Jalur angkut material yang aman, tidak melewati jalan ataupun para pekerja.

- Operator harus menghindari pengangkatan muatan melalui orang-orang (Pasal 23 PER.05/MEN/1985).

5. Pengoperasian alat dilaksanakan berdasarkan peraturan dan standar yang berlaku dalam proyek konstruksi.

b. Operator dan floorman.

Operator mempunyai peranan penting dalam pengoperasian tower crane, sedangkan floorman bertugas untuk memberikan panduan atau mengarahkan operator tower crane untuk mengangkat/memindahkan serta menurunkan material ke suatu lokasi yang sudah ditentukan (Varma, 1979).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang operator maupun floorman agar tidak terjadi kecelakaan kerja antara lain (Varma, 1979) :

1. Memilih operator yang terlatih.

2. Operator tower crane memiliki kompetensi dalam pengoperasian tower crane.

Kompetensi seorang operator tower crane dapat dilihat melalui sertifikat serta pengalaman dalam mengoperasikan tower crane.

3. Melakukan pekerjaan dengan konsentrasi.

Operator maupun floorman harus bekerja dengan konsentrasi penuh dan dituntut agar tidak melakukan aktifitas lain pada saat bekerja.

4. Mengikuti signal/kode dari floorman.

Dalam hal ini operator maupun floorman harus mengerti/paham akan kode- kode yang diberikan oleh floorman pada saat pengoperasian tower crane.

5. Memakai alat keselamatan.

(17)

19

Universitas Kristen Petra

Dalam hal ini, operator harus memakai seluruh peralatan keselamatan, seperti pelindung kepala (helm), sarung tangan, kacamata, sabuk pengaman.

6. Operator tidak meninggalkan alat pada posisi beban masih tergantung.

- Peralatan angkat tidak diperbolehkan menggantung muatan pada waktu mengalami perbaikan ataupun bagian-bagian bawahnya digunakan oleh mesin yang bergerak (Pasal 25 PER.05/MEN/1985).

- Operator tidak boleh meninggalkan peralatannya dengan muatan tergantung (Pasal 27 PER.05/MEN/1985).

7. Konstruksi dan letak ruangan operator harus bebas dan mempunyai pandangna luas ke sekeliling operasi muatan (Pasal 51 PER.05/MEN/1985).

8. Posisi operator, dapat melihat dengan jelas beban yang diangkut dan area disekitar jalur angkut.

9. Orang yang tidak berkepentingan dilarang masuk ke ruangan operator (Pasal 53 PER.05/MEN/1985).

c. Pekerja.

Pekerja adalah orang yang memasang atau mengaitkan beban pada hook dari tower crane. Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pekerja agar tidak terjadi kecelakaan kerja (Varma, 1979) :

1. Mengerti mekanisme kerja.

2. Pekerja yang mengaitkan/memasang beban harus mengerti dan melakukan prosedur pengikatan/pengaitan material yang akan diangkat dengan baik.

3. Penjaga kait, penjaga rantai harus dapat terlihat oleh operator (Pasal 19 PER.05/MEN/1985).

4. Para pekerja tidak boleh menumpang pada alat angkut.

- Setiap orang dilarang menumpang pada muatan sewaktu beroperasi (Pasal 54 PER.05/MEN/1985).

5. Memakai alat keselamatan kerja.

6. Dalam hal ini semua pekerja harus memakai alat keselamatan kerja, antara lain pelindung kepala (helm), sarung tangan, kacamata, sabuk pengaman.

7. Melakukan pekerjaan dengan konsentrasi.

8. Agar dapat berkonsentrasi penuh dalam bekerja, pekerja dituntut agar tidak melakukan aktifitas lain pada saat bekerja.

(18)

20

Universitas Kristen Petra

2.4.4. Pembongkaran Tower Crane

Pembongkaran tower crane bisa dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan kondisi lapangan sebagai berikut (http://www.scribd.com/) :

 Pembongkaran tower crane bisa dilakukan secara normal menggunakan mobile crane.

 Pembongkaran tower crane bisa dilakukan menggunakan alat bantu manual atau portable crane.

Yang perlu diperhatikan pada saat pembongkaran tower crane yaitu pada urutan pembongkaran bagian-bagian tower crane, yang meliputi :

6. Penurunan section bagian atas dan pembongkaran bracing.

7. Demobilisasi section.

8. Penurunan counterweight.

9. Penurunan jib.

10. Penurunan counter jib, tower head, slewing unit.

11. Penurunan section bagian bawah.

Selain itu, juga diperhatikan pada kondisi cuaca dan kondisi lokasi pada saat pembongkaran tower crane. Pemasangan tidak boleh dilakukan pada saat kondisi cuaca buruk, seperti hujan, berangin. Sedangkan lokasi disekitar tower crane dikosongkan terlebih dahulu dan juga disediakan tempat untuk mobile crane yang akan membantu dalam pembongkaran.

Kondisi yang menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja pada pembongkaran tower crane :

1. Urutan pembongkaran bagian-bagian tower crane yang tidak benar.

2. Kesalahan operator.

3. Jatuhnya bagian tower crane.

4. Bagian tower crane yang diangkat tidak terikat dengan baik pada kait.

Penerapan keselamatan kerja pada proses pembongkaran tower crane dapat diterapkan dengan cara sebagai berikut :

a. Melaksanakan proses pembongkaran sesuai urutan dari section paling atas.

b. Menyesuaikan proses pembongkaran dengan kondisi lapangan.

c. Memeriksa kembali ikatan antara bagian tower crane dengan pengait saat bagian tersebut akan diangkat dari badan tower crane.

Referensi

Dokumen terkait

Sitanggang Dan Nachrowi, Pengaruh Struktur Ekonomi Pada Penyerapan Tenaga Kerja Sektoral: Analisis Model Demometrik Di 30 Propinsi Pada 9 Sektor Di Indonesia.. kerja yang bekerja

Bagian paling kanan dari House of Quality adalah Customer Competitive Evaluation yang merupakan kolom yang berisi persepsi konsumen tentang seberapa baik produk atau jasa yang

Hubungan antara total output setiap sektor dengan balas jasa tenaga kerja tersebut ditunjukkan oleh baris ke-(n+1) dari matriks input- output tersebut (yang tidak lain adalah