• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI OLEH IRA ERMINDA DAULAY

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI OLEH IRA ERMINDA DAULAY"

Copied!
116
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

PENGARUH INTANGIBLE ASSETS TERHADAP NILAI PERUSAHAAN MELALUI KEBIJAKAN KEUANGAN DAN PERTUMBUHAN PADA

PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA

OLEH

IRA ERMINDA DAULAY 130502089

PROGRAM STUDI S1 MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2017

(2)

LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertandatangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul “Pengaruh Intangible Assets Terhadap Nilai Perusahaan Melalui Kebijakan Keuangan dan Pertumbuhan pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia” adalah benar hasil karya tulis saya sendiri yang disusun sebagai tugas akademik guna menyelesaikan beban akademik pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari perusahaan atau lembaga, dan/atau saya kutip dari hasil karya orang lain telah mendapat izin, dan/atau dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.

Apabila kemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Medan, Agustus 2017

Ira Erminda Daulay NIM. 130502089

(3)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

DEPARTEMEN MANAJEMEN

PERSETUJUAN ADMINISTRASI AKADEMIK Nama : Ira Erminda Daulay

NIM : 130502089

Program Studi : S1 - Manajemen Konsentrasi : Manajemen Keuangam

Judul : Pengaruh Intangible Assets Terhadap Nilai Perusahaan Melalui Kebijakan Keuangan dan Pertumbuhan pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia

Tanggal: Agustus 2017 Ketua Program Studi

NIP. 19580917 198601 1 003 Dr. Muslich Lufti, SE, MBA

(4)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

DEPARTEMEN MANAJEMEN

Nama : Ira Erminda Daulay

LEMBAR PENGESAHAN

NIM : 130502089

Program Studi : S1 - Manajemen Konsentrasi : Manajemen Keuangam

Judul : Pengaruh Intangible Assets Terhadap Nilai Perusahaan Melalui Kebijakan Keuangan dan Pertumbuhan pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia

Penguji 1 Skripsi Penguji 2 Skripsi

Dra. Nisrul Irawati, MBA

NIP. 19621204 198903 2003 NIP. 19660904 199103 1 003 Drs. Syahyunan, M.Si

PembimbingSkripsi

NIP. 19671019 199303 2 002 Dr. Isfenti Sadalia, SE, ME

(5)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

DEPARTEMEN MANAJEMEN

Nama : Ira Erminda Daulay

PENANGGUNG JAWAB SKRIPSI

NIM : 130502089

Program Studi : S1 - Manajemen Konsentrasi : Manajemen Keuangam

Judul : Pengaruh Intangible Assets Terhadap Nilai Perusahaan Melalui Kebijakan Keuangan dan Pertumbuhan pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia

Medan, Agustus 2017

NIM. 130502089 Ira Erminda Daulay

(6)

ABSTRAK

PENGARUH INTANGIBLE ASSETS TERHADAP NILAI PERUSAHAAN MELALUI KEBIJAKAN KEUANGAN DAN PERTUMBUHAN PADA

PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh intangible assets terhadap nilai perusahaan, kebijakan keuangan, dan pertumbuhan perusahaan, serta pengaruh kebijakan keuangan dan pertumbuhan perusahaan terhadap nilai perusahaan. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui pengaruh intangible assets terhadap nilai perusahaan dengan kebijakan keuangan dan pertumbuhan perusahaan sebagai variabel intervening. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dan didapatkan sampel sebanyak 33 perusahaan dengan periode pengamatan dari tahun 2013-2015.Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis). Analisis data dalam penelitian ini menggunakan program SmartPLS 3.0

Hasil penelitian menunjukkan bahwa intangible assets berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.Intangible assets berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kebijakan keuangan.Intangible assets berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan perusahaan.Kebijakan keuangan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, namun pengaruhnya tidak signifikan.Pertumbuhan perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.Intangible assets berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan melalui kebijakan keuangan dan juga pertumbuhan perusahaan, namun pengaruhnya tidak signifikan.Kebijakan keuangan dan pertumbuhan perusahaan sebagai variabel intervening dalam penelitian ini merupakan variabel mediasi sebagian.

Kata Kunci: Intangible Assets, Kebijakan Keuangan, Pertumbuhan Perusahaan, dan Nilai Perusahaan

(7)

ABSTRACT

THE EFFECT OF INTANGIBLE ASSETS ON FIRM VALUE PASSED FINANCIAL POLICIES AND GROWTH AT MANUFACTURING

IN INDONESIA STOCK EXCHANGE

The purpose of this study was to determine the effect of intangible assets to the value of the company, financial policies, and growth, as well as the effect financial policies and growth on the value of the company. The study also a purpose to determine the effect of intangible assets to the value of the company with the financial policy and growth as a intervening variable. The population in this research is manufacturing companies listed in Indonesia Stock Exchange (BEI). This study using purposive sampling method and obtained a sample of 33 companies with the observation period from the year 2013 to 2015. Data analysis technique used is path analysis. Data analysis using SmartPLS 3.0 program.

The results showed that the effect of intangible assets positive and significant on firm value. Intangible assets positive and no significant effect on financial policy.Intangible assets positive and significant effect on growth.

Financial policy positive effect on the value of the company, but the effect is not significant. Growth positive and significant effect on firm value. Intangible assets positive effect on the value of the company through financial policies and growth, but the effect is not significant. Financial policy and corporate growth as intervening variable in this research is partial mediation variable.

Keywords: Intangible Assets, Financial Policy, Growth, And Value Of The Company

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat serta karunia-Nya yang telah diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan judul “Pengaruh Intangible Assets Terhadap Nilai Perusahaan Melalui Kebijakan Keuangan dan Pertumbuhan pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia”.

Penulisan skripsiini ditujukan sebagai syarat dalam rangka memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jurusan S1 Manajemen Universitas Sumatera Utara.

Selama masa perkuliahan hingga penulisan skripsi ini, penulis telah banyak mendapatkan bimbingan, nasihat, dorongan dan bantuan baik secara moril maupun materil dari berbagai pihak.Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, MS, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Muslich Lufti, MBA selaku Ketua Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Drs. Amlys Syahputra Silalahi, M.Si selaku Sekretaris Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

4. Ibu Dr. Isfenti Sadalia, SE, ME selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan, waktu, masukan dan doronganbagi penulis.

(9)

5. Ibu Dra. Nisrul Irawati, MBA selaku Dosen Pembanding 1 yang telah banyak memberikan saran dan masukan bagi penulis.

6. Bapak Drs. Syahyunan, M.Si selaku Dosen Pembanding 2 yang juga telah memberikan saran, masukan, dan bimbingan kepada penulis.

7. Kedua orang tua penulis, Ayahanda Muslim Daulay dan Ibunda Anni Sari Hasibuan yang senantiasa melimpahkan cinta dan kasih sayangnya, dan selalu mendoakan dan mendukung penulis, serta perjuangannya yang luar biasa untuk penulis mulai dari masa perkuliahan hingga pada tahap penulisan skripsi ini.

8. Kakak penulis Linda Marhama Daulay S.Farm yang selalu memberikan semangat. Abang penulis Sholehuddin Nasution yang juga memberi semangat. Adik-adik penulis Muhammad Ruli Sanda Daulay, Nur Hamimah Daulay, Muhammad Syahrinal Daulay, dan Muhammad Donni Harapan Daulay yang selalu memberikan semangat dan do’a kepada penulis.

9. Sahabat penulis Nina Marlyana yang senantiasa selalu memberikan semangat, do’a dan waktunya. Teman dan kakak-kakak penulis Desy Prima Ratna Sari Nasution SE, dan Jumaidah Apriani SE yang memberikan bantuan dan dukungan kepada penulis.

Medan, Agustus 2017 Peneliti,

NIM: 130502089 Ira Erminda Daulay

(10)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 6

1.3 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Manfaat Penelitian ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9

2.1 Landasan Teori ... 9

2.1.1 Nilai Perusahaan ... 9

2.1.1.1 Jenis-jenis Nilai Perusahaan ... 10

2.1.1.2 Pengukuran Nilai Perusahaan ... 10

2.1.2 Intangible Asset ... 12

2.1.2.1 Pengertian Intangible Assets ... 12

2.1.2.2 Karakteristik Intangible Assets ... 14

2.1.2.3 Teori Intangible Assets dan Kebijakan Keuangan ... 14

2.1.2.4 Teori Intangible Assets dan Pertumbuhan Perusahaan ... 16

2.1.2.5 Pengukuran Intangible Assets ... 17

2.1.3 Kebijakan Keuangan ... 19

2.1.3.1 Kebijakan Utang ... 19

2.1.3.2 Kebijakan Dividen ... 23

2.1.4 Pertumbuhan Perusahaan ... 27

2.1.4.1 Pertumbuhan Laba (Earning Growth) ... 27

2.1.4.2 Pertumbuhan Penjualan (Sales Growth) ... 28

2.2 Penelitian Terdahulu ... 29

2.3 Kerangka Konseptual ... 32

2.4 Hipotesis ... 36

BAB III METODE PENELITIAN ... 38

3.1 Jenis Penelitian ... 38

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 38

3.3 Batasan Operasional ... 38

3.4 Definisi Operasional ... 39

(11)

3.5 Populasi dan Sampel ... 39

3.5.1 Populasi ... 39

3.5.2 Sampel ... 40

3.6 Jenis dan Sumber Data ... 42

3.7 Metode Pengumpulan Data ... 42

3.8 Teknik Analisis Data ... 43

3.8.1 Statistik Deskriptif ... 43

3.8.2 Diagram Jalur (Path Diagram) ... 43

3.8.3 Penilaian Model ... 45

3.8.3.1 Analisis Outer Model ... 45

3.8.3.2 Analisis Inner Model ... 45

3.8.4 Pengujian Hipotesis ... 46

3.8.5 Evaluasi Efek Variabel Mediasi (Perantara) ... 46

3.8.6 Koefisien Determinasi (R2) ... 46

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 47

4.1 Gambaran Umum ... 47

4.1.1 Bursa Efek Indonesia ... 47

4.1.2 Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia ... 47

4.2 Hasil Penelitian ... 50

4.2.1 Statistik Deskriptif ... 50

4.2.2 Konstruk Variabel dan Indikator ... 52

4.2.3 Analisis Outer Model ... 54

4.2.4 Analisis Inner Model ... 56

4.2.4.1 Pengaruh Langsung ... 56

4.2.4.2 Pengaruh Tidak Langsung ... 58

4.2.4.3 Pengaruh Total ... 58

4.2.5 Pengujian Hipotesis ... 59

4.2.6 Evaluasi Efek Variabel Mediasi (Perantara) ... 62

4.2.7 Koefisien Determinasi (R2) ... 63

4.3 Pembahasan ... 63

4.3.1 Pengaruh Intangible Assets Terhadap Nilai Perusahaan ... 63

4.3.2 Pengaruh Intangible Assets Terhadap Kebijakan Keuangan ... 64

4.3.3 Pengaruh Intangible Assets Terhadap Pertumbuhan Perusahaan ... 65

4.3.4 Pengaruh Kebijakan Keuangan Terhadap Nilai Perusahaan ... 66

4.3.5 Pengaruh Pertumbuhan Perusahaan Terhadap Nilai Perusahaan ... 67

4.3.6 Pengaruh Intangible Assets Terhadap Nilai Perusahaan Melalui Kebijakan Keuangan ... 67

4.3.7 Pengaruh Intangible Assets Terhadap Nilai Perusahaan MelaluiPertumbuhan Perusahaan ... 68

(12)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 69

5.1 Kesimpulan ... 69

5.2 Saran ... 70

DAFTAR PUSTAKA ... 72

LAMPIRAN ... 74

(13)

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman

1.1 Data Jumlah Saham yang Beredar, Harga Saham, Nilai Nominal per Saham, Book Value of Equity dan Market Value of Equity Perusahaan Manufaktur di BEI Tahun

2013-2015 ... 3

1.2 Data Laba Bersih, Total Penjualan, Jumlah Utang dan Dividen PerLembar Saham Perusahaan Manufaktur di BEI Tahun 2013-2015 ... 5

2.1 Penelitian Terdahulu ... 29

3.1 Operasionalisasi Variabel ... 39

3.2 Prosedur Pengambilan Sampel ... 40

3.3 Daftar Sampel Terpilih Perusahaan Manufaktur ... 41

4.1 Gambaran Umum Perusahaan ... 48

4.2 Statistik Deskriptif ... 50

4.3 Uji Significance of weight ... 55

4.4 Statistik Kolinearitas ... 55

4.5 Matriks Korelasi ... 55

4.6 Pengaruh Langsung ... 57

4.7 Pengaruh Tidak Langsung ... 58

4.8 Pengaruh Total ... 59

4.9 Pengaruh Intangible Assets Terhadap Nilai Perusahaan Melalui Kebijakan Keuangan ... 60

4.10 Pengaruh Intangible Assets Terhadap Nilai Perusahaan Melalui Pertumbuhan Perusahaan ... 60

4.11 Hasil Pengujian Seluruh Hipotesis ... 61

4.12 Koefisien Determinasi ... 63

(14)

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Halaman

1.1 Pertumbuhan Intangible Assets Perusahaan pada Standard &

Poor’s 500... 2

2.1 Kerangka Konseptual ... 36

3.1 Diagram Jalur ... 44

4.1 Konstruk Intangible Assets ... 53

4.2 Konstruk Kebijakan Keuangan ... 53

4.3 Konstruk Pertumbuhan Perusahaan ... 53

4.4 Konstruk Nilai Perusahaan ... 54

4.5 Pengaruh Langsung ... 57

4.6 Pengujian Hipotesis ... 60

4.7 Pengujian Efek Variabel Mediasi (Perantara) ... 62

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Judul Halaman

1 Daftar Sampel Terpilih Perusahaan Manufaktur ... 75 2 Intangible Assets pada Perusahaan Manufakturdi BEI

Tahun 2013-2015 ... 77 3 Debt to Equity Ratio pada Perusahaan Manufaktur di BEI

Tahun 2013-2015 ... 80 4 Dividend Payout Ratio pada Perusahaan Manufaktur

di BEI Tahun 2013-2015 ... 83 5 Earning Growth pada Perusahaan Manufaktur di BEI

Tahun 2013-2015 ... 86 6 Sales Growth pada Perusahaan Manufaktur di BEI

Tahun 2013-2015 ... 89 7 Price to Book Value pada Perusahaan Manufaktur di BEI

Tahun 2013-2015 ... 92 8 Data Hasil Penelitian Perusahaan Manufaktur di BEI

Tahun 2013-2015 ... 95 9 Output Hasil Pengolahan SmartPLS 3.0 ... 98

(16)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perekonomian global di Indonesia saat ini menimbulkan persaingan bebas antar perusahaan.Perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang jasa, manufaktur, maupun dagang saling bersaing untuk dapat bertahan dan menjadi yang terbaik.Hal ini mendorong masing-masing perusahaan untuk melakukan berbagai inovasi dan strategi bisnis agar terhindar dari kebangkrutan.Tujuan perusahaan adalah memaksimalkan nilai perusahaan atau kemakmuran bagi pemegang saham, dimana nilai perusahaan tercermin pada harga pasar saham.

Berkembangnya suatu perusahaan akan bergantung pada kinerja perusahaan dalam mengelola aset berwujud perusahaan dengan pengetahuan (aset tidak berwujud) yang dimiliki. Sehingga, sebesar apapun aset berwujud yang dimiliki, apabila perusahaan tidak memiliki pengetahuan yang baik dalam mengelola aset berwujud tersebut, maka perusahaan akan sulit berkembang.Perkembangan dalam bidang ekonomi membawa dampak perubahan yang cukup signifikan terhadap pengelolaan suatu bisnis dan penentuan strategi bersaing.

Para pelaku bisnis mulai menyadari bahwa kemampuan bersaing tidak hanya terletak pada kepemilikantangible asset, tetapi lebih pada inovasi, pengelolaan organisasi dan sumber daya manusia yang dimilikinya. Oleh karena itu, organisasi bisnis semakin menitikberatkan akan pentingnya intangible asset agar perusahaan terus mampu bertahan dalamketatnya persaingan.

(17)

Dalam 20 tahun terakhir, terjadi peningkatan nilai intangible asset yang dramatis.Pada tahun 2015, sumbangan intangible asset terhadap kesuksesan sebuah bisnis sebesar 84%.Hal ini menunjukkan sebuah fakta betapa kekuatan intangible asset itu makin penting dalam sebuah perusahaan.

Sumber: www.standardandpoors.com

Gambar 1.1

Pertumbuhan Intangible Assets Perusahaan pada Standard & Poor’s 500

Secara umum, investasi aset tidak berwujud lebih intensif dilakukan dalam perusahaan manufaktur daripada perusahaan jasa(Trisnajuna & Sisdyani, 2015).Hal ini didukung oleh Hidayati, Prasetyo, & Mardijuwono (2012) yang menemukan bahwa pengaruh dari penggunaan aset tidak berwujud lebih signifikan pada perusahaan manufaktur daripada perusahaan nonmanufaktur.

Perusahaan manufaktur merupakan suatu cabang industri yang mengaplikasikan mesin, peralatan dan tenaga kerja untuk mengubah bahan mentah menjadi barang setengah jadi maupun barang jadi untuk dijual.Oleh karena itu, dalam pengolahan bahan mentah tersebut diperlukan ilmu pengetahuan

(18)

dan teknologi yang baik, sehingga proses pengolahan menjadi lebih efektif dan efisien serta barang yang dihasilkan lebih berkualitas dan inovatif.

Tabel 1.1

Data Jumlah Saham yang Beredar, Harga Saham Akhir Tahun, Nilai Nominal per Saham, Book Value of Equity dan Market Value of EquityPerusahaan Manufakturdi BEI Tahun 2013-2015

Nama

Perusahaan Tahun

Jumlah Saham yang

Beredar

Harga Saham

Akhir Tahun

(Rp)

Nilai Nominal

per Saham

(Rp)

Book Value of Equity (Rp

Juta)

Market Value of Equity (Rp

Juta) PT Indal

Aluminium Industry Tbk

2013 158,400,000 600 500 79,200 95,040

2014 316,800,000 350 250 79,200 110,880

2015 316,800,000 405 250 79,200 128,304

PT Goodyear Indonesia Tbk

2013 41,000,000 19,000 1,000 41,000 779,000 2014 41,000,000 16,000 1,000 41,000 656,000 2015 410,000,000 2,725 100 41,000 1,117,250 PT Sepatu

Bata Tbk

2013 1,300,000,000 1,060 10 13,000 1,378,000 2014 1,300,000,000 1,105 10 13,000 1,436,500 2015 1,300,000,000 1,080 10 13,000 1,404,000 PT Wismilak

Inti Makmur Tbk

2013 2,099,873,760 670 100 209,987 1,406,915 2014 2,099,873,760 625 100 209,987 1,312,421

2015 2,099,873,760 430 100 209,987 902,945

Sumber: www.idx.co.id (Data Diolah)

Dari Tabel 1.1 terlihat bahwa nilai pasar perusahaan jauh lebih tinggi dibandingkan nilai bukunya.Semakin tinggi market value dibandingkan book value maka intangible assetssemakin tinggi.Tetapi, dari tabel terlihat bahwa market value pada setiap perusahaan tersebut mengalami fluktuasi.Oleh karena itu, peneliti ingin menguji bagaimana pengaruhnya terhadap nilai perusahaan.

Intangible assetsberpengaruhterhadap kebijakan keuangan perusahaan.Kebijakan keuangan dalam penelitian ini diproksikan dengan dua variabel, yaitu kebijakan utang dan kebijakan dividen.Dalam kebijakan utang, pecking order theory oleh Myers dan Majluf (1984) dalam (Gamayuni, 2015)menyatakan bahwa “Intangible asset yang tinggi pada perusahaan

(19)

akanmenyebabkan tingginya level utang”.Sedangkan agency theory menyatakan bahwa “Intangible asset berhubungan dengan lebih kecilnya utang dalam struktur modal perusahaan”.(Alves & Martins, 2010)membuktikan bahwa perusahaan dengan R&D intensif memiliki level utang yang lebih rendah secara signifikan dibanding dengan perusahaan dengan R&D non intensif.Dalam kebijakan dividen, pecking order theory dan agency theory menyatakan bahwa intangible asset yang tinggi mengakibatkan pembayaran deviden yang rendah.Sedangkan dalam signalling theory dikatakan bahwa perusahaan dengan intangible asset yang tinggi harus membayar deviden yang tinggi.(Alves & Martins, 2010)membuktikan bahwa level dan tipe intangible asset tidak berpengaruh terhadap devidend payout.

Adanya pertentangan diantara teori yang mendasari pengaruh intangible asset terhadap kebijakan keuangan, baik dengan kebijakan utang maupun kebijakan dividen dan ketidakkonsistenan diantara hasil penelitian sebelumnya, mengakibatkan peneliti tertarik untuk meneliti masalah ini.

Intangible assetjuga berpengaruh terhadap pertumbuhan perusahaan.

Pemanfaatan sumber daya intelektual secara efektif dan efisien akan mendorong kemampuan pengembangan bagi perusahaan (Solikhah & Merianto, 2010).

Pertumbuhan perusahaan dalam penelitian ini diproksikan dengan dua variabel, yaitu pertumbuhan laba dan pertumbuhan penjualan.Optimalisasi nilai perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan fungsi manajemen keuangan.Salah satu kebijakan yang sangat sensitif terhadap perubahan nilai perusahaan adalah kebijakan utang. Semakin tinggi proporsi utang maka semakin tinggi harga saham, namun pada titik tertentu peningkatanutang akan menurunkan nilai

(20)

perusahaan. Kebijakan lain yang harus diperhatikan dalam mengoptimalkan nilai perusahaan adalah kebijakan dividen. Kebijakan dividen adalah salah satu dari persoalan yang sangat diperdebatkan di keuangan(finance).

Tabel 1.2

Data Laba Bersih, Total Penjualan, Jumlah Utang dan Dividen per Lembar Saham Perusahaan Manufaktur di BEI Tahun 2013-2015

Nama

Perusahaan Tahun Laba Bersih (Rp Juta)

Total Penjualan (Rp Juta)

Jumlah Utang (Rp Juta)

Dividen per Lembar

Saham (Rp) PT

Indocement Tunggal Prakasa Tbk

2013 5,012,294 18,691,286 3,629,554 900.00 2014 5,274,009 19,996,264 4,100,172 1,350.00 2015 4,356,661 17,798,055 3,772,410 415.00 PT Asahimas

Flat Glass Tbk

2013 338,358 3,216,480 778,666 80.00

2014 458,635 3,672,186 733,749 80.00

2015 341,346 3,665,989 880,052 80.00

PT Astra Otoparts Tbk

2013 1,058,015 10,701,988 3,058,924 105.50

2014 956,409 12,255,427 4,244,369 96.00

2015 322,701 11,723,787 4,195,684 27.00

PT Indofood Sukses Makmur Tbk

2013 3,416,635 57,731,998 39,719,660 142.00 2014 5,146,323 63,594,452 44,710,509 220.00 2015 3,709,501 64,061,947 48,709,933 168.00 Sumber: www.idx.co.id (Data Diolah)

Dari Tabel 1.2 terlihat bahwa laba bersih, total penjualan, jumlah utang dan dividen per lembar saham mengalami fluktuasi.Oleh karena itu, peneliti ingin menguji apakah keadaan tersebut dipengaruhi oleh intangible assetdan bagaimana pengaruhnya terhadap nilai perusahaan.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “PengaruhIntangible Assets Terhadap Nilai Perusahaan Melalui Kebijakan Keuangan dan Pertumbuhan pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia”.

(21)

1.2 Perumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Apakah intangible assetsberpengaruh terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013- 2015?

2. Apakah intangible assetsberpengaruh terhadap kebijakan keuangan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013- 2015?

3. Apakah intangible assetsberpengaruh terhadap pertumbuhan perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013- 2015?

4. Apakah kebijakan keuangan berpengaruh terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013- 2015?

5. Apakah pertumbuhan perusahaan berpengaruh terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013- 2015?

6. Apakah intangible assetsberpengaruh terhadap nilai perusahaan melalui kebijakan keuangan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2015?

7. Apakah intangible assetsberpengaruh terhadap nilai perusahaan melalui pertumbuhan perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2015?

(22)

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan peneliti dalam melakukan penelitian ini untuk mengetahui:

1. Pengaruhintangible assetsterhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2015.

2. Pengaruhintangible assetsterhadap kebijakan keuangan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2015.

3. Pengaruh intangible assetsterhadap pertumbuhan perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013- 2015.

4. Pengaruh kebijakan keuangan terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2015.

5. Pengaruh pertumbuhan perusahaan terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013- 2015.

6. Pengaruhintangible assetsterhadap nilai perusahaan melalui kebijakan keuangan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2015.

7. Pengaruhintangible assetsterhadap nilai perusahaan melalui pertumbuhan perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2015.

(23)

1.4 Manfaat Penelitian

Diharapkan memberi manfaat kepada berbagai pihak, yaitu:

1. Bagi Perusahaan

Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi perusahaan bahwa intangible assets sangat diperlukan, dan dapat digunakan oleh manajemen sebagai dasar pengambilan keputusan dalam rangka mengoptimalkan nilai perusahaan melalui kebijakan keuangan (kebijakan utang dan dividen) serta pertumbuhan (pertumbuhan laba dan penjualan).

2. Bagi Investor

Hasil penelitian ini dapat digunakan investor sebagai dasar pengambilan keputusan untuk melakukan investasi pada perusahaan manufaktur terkait informasi mengenai intangible assets, kebijakan utang dan dividen, serta pertumbuhan laba dan penjualan perusahaan.

3. Bagi Akademisi

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan terhadap isu tentang pengaruh intangible assets, kebijakan keuangan (kebijakan utang dan dividen) dan pertumbuhan perusahaan (pertumbuhan laba dan penjualan) terhadap nilai perusahaan khususnya pada perusahaan manufaktur di Indonesia.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai masukan atau bahan pembanding bagi peneliti lain yang melakukan penelitian sejenis ataupun penelitian yang lebih luas.

(24)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

Landasan teori ini menjabarkan teori-teori yang mendukung hipotesis serta sangat berguna dalam analisis hasil penelitian.Landasan teori ini berisi pemaparan teori serta argumentasi yang disusun sebagai tuntuan dalam memecahkan masalah penelitian serta perumusan hipotesis.

2.1.1 Nilai Perusahaan

Peningkatan nilai perusahaan yang tinggi merupakan tujuan jangka panjang yang seharusnya dicapai perusahaan, yang akan tercermin dari harga pasar sahamnya, karena penilaian investor terhadap perusahaan dapat diamati melalui pergerakan harga saham perusahaan. Menurut Brigham & Houston (2011), “Nilai perusahaan merupakan nilai sekarang dari free cash flow di masa mendatang pada tingkat diskonto sesuai rata-rata tertimbang biaya modal”. Free cash flow merupakan kas yang didistribusikan kepada pemegang saham setelah memperhitungkan seluruh pengeluaran untuk operasional dan investasi.

Nilai perusahaan yang tinggi akan membuat pasar percaya tidak hanya pada kinerja perusahaan saat ini, namun juga pada prospek perusahaan di masa depan. Memaksimalkan nilai perusahaan sangat penting artinya bagi suatu perusahaan, karena dengan memaksimalkan nilai perusahaan berarti juga memaksimalkan kemakmuran pemegang saham yang merupakan tujuan utama perusahaan (Hidayat, 2009).

(25)

2.1.1.1 Jenis-jenis Nilai Perusahaan

Menurut (Gitman, 2009), beberapa jenis nilai perusahaan, yaitu:

1. Nilai Nominal

Nilai nominal adalah nilai yang tercantum secara formal dalam anggaran dasar perseroan, disebutkan dalam neraca perusahaan, dan juga ditulis secara jelas dalam surat saham kolektif.

2. Nilai Pasar

Nilai pasar sering disebut kurs adalah harga yang terjadi dari proses tawar menawar di pasar saham. Nilai ini hanya bisa ditentukan jika saham perusahaan dijual di pasar saham.

3. Nilai Instrinsik

Nilai instrinsik merupakan konsep yang paling abstrak, karena mengacu pada perkiraaan nilai riil suatu perusahaan.

4. Nilai Buku

Nilai buku adalah nilai yang diperoleh dengan membagi total ekuitas dengan jumlah saham yang beredar.

5. Nilai Likuidasi

Nilai likuidasi adalah nilai hasil penjualan sebagian atau seluruh harta suatu perusahaan jika harta tersebut dijual atau jika perusahaan yang bersangkutan dilikuidasi.

2.1.1.2 Pengukuran Nilai Perusahaan

Menurut Brigham & Houston (2011), ada beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengukur nilai perusahaan, yaitu:

(26)

1. Prices Earning Ratio (PER)

Rasio ini menunjukkan seberapa tinggi suatu saham dibeli oleh investor dibandingkan dengan laba per lembar saham. Jika price earning ratio perusahaan tinggi berarti saham perusahaan dapat memberikan return yang besar bagi investor. PER dirumuskan sebagai berikut:

PER =𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀ℎ𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀 𝐸𝐸𝑀𝑀𝑀𝑀𝐸𝐸𝑀𝑀𝐸𝐸𝐸𝐸𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀ℎ𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀

2. Tobin’s Q

Tobin’s Q ditemukan oleh seorang pemenang hadiah nobel dari Amerika Serikat yaitu James Tobin. Tobin’s Q merupakan salah satu indikator pengukur kinerja keuangan perusahaan dari perspektif investasi telah diuji diberbagai situasi manajemen puncak.

Q =𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀 𝑀𝑀𝑀𝑀𝑙𝑙𝑙𝑙𝑀𝑀 𝑜𝑜𝑜𝑜 𝐸𝐸𝐸𝐸𝑙𝑙𝑀𝑀𝑀𝑀𝐸𝐸 𝐵𝐵𝑜𝑜𝑜𝑜𝑀𝑀 𝑉𝑉𝑀𝑀𝑙𝑙𝑙𝑙𝑀𝑀 𝑜𝑜𝑜𝑜 𝐸𝐸𝐸𝐸𝑙𝑙𝑀𝑀𝑀𝑀𝐸𝐸

3. Price to Book Value (PBV)

PBV adalah hasil perbandingan antara harga pasar saham dengan nilai buku per lembar saham.Semakin tinggi PBV, semakin tinggi juga apresiasi pasar terhadap prospek perusahaan.PBV dirumuskan sebagai berikut:

𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑜𝑜𝐵𝐵𝑜𝑜𝑜𝑜𝑀𝑀𝑉𝑉𝑀𝑀𝑙𝑙𝑙𝑙e =𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀 𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀 𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀 𝑀𝑀ℎ𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀 𝐵𝐵𝑜𝑜𝑜𝑜𝑀𝑀 𝑉𝑉𝑀𝑀𝑙𝑙𝑙𝑙𝑀𝑀 𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀 𝑀𝑀ℎ𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀

Nilai perusahaan dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan price to book value.Karena rasio PBV menggunakan nilai buku, dimana nilai buku merupakan ukuran yang stabil dan sederhana yang dapat dibandingkan dengan harga saham, dan PBV juga dapat dibandingkan antar perusahaan sejenis untuk menunjukkan tanda mahal atau murahnya suatu saham.

(27)

2.1.2 Intangible Assets

2.1.2.1 Pengertian Intangible Assets

Sejak tahun 1990-an, perhatian terhadap praktik pengelolaan aset tidak berwujud (intangible assets) telah meningkat secara dramatis. Menurut IAI (2015), “Aset tidak berwujudadalah aset non moneter yang dapat diidentifikasi tanpa wujud fisik”. Aset non moneter merupakan aset yang akan diterima perusahaan dalam bentuk non kas yang jumlahnya tidak dapat dipastikan.

Intangible assets sangat penting bagi manajemen untuk mencapai kesuksesan jangka panjang karena mempengaruhi kinerja perusahaan.Intangible asset yang dimaksud dalam penelitian ini adalah jumlah dari apa yang dihasilkan oleh tiga elemen utama organisasi (human capital, structural capital, costumer/relational capital) yang berkaitan dengan pengetahuan dan teknologi dalam menjalankan proses bisnis agar produk yang dihasilkan lebih berkualitas dan inovatif sehingga memberikan nilai lebih bagi perusahaan berupa keunggulan bersaing. Manfaat yang diperoleh perusahaan dari meningkatnya kompetensi karyawan dan adanya inovasi adalah meningkatnya competitive advantage.

Menurut Skandia (1995) dalam Widyanti (2012), intangible assets dapat digolongkan menjadi tiga kelompok, yaitu:

1. External structure, yaitu menyangkut hubungan costumer dan supplier.

2. Internal structure, yaitu terdiri dari patents, concepts, computer, administrative system, dan budaya perusahaan.

3. Human capital, yaitu berkaitan tentang kapasitas manusia dalam bertindak pada situasi tertentu. Termasuk di dalamnya yaitu skills, values, dan motivasi.

(28)

Selain pengklasifikasian menurut Skandia, Bontis (1998) dalam Widyanti (2012)jugamengkasifikasikan intangible assets, yaitu:

1. Human capital berhubungan mengenai kapasitas manusia dalam bertindak pada situasi tertentu. Termasuk didalamnya yaitu skills, pendidikan, pengalaman, dan motivasi.

2. Structural capital terdiri dari sistem informasi dalam perusahaan, pengetahuan kompetitif mengenai pasar, dan fokus manajemen. Perbedaan human capital dengan structural capital yaitu human capital merupakan pengetahuan yang dimiliki tiap individu, sedangkan structural capital merupakan pengetahuan atau keunggulan kompetitif yang dimiliki perusahaan secara keseluruhan.

3. Costumer/relational capital merupakan suatu knowledge/pengetahuan mengenai hubungan yang dimiliki perusahaan dengan pihak diluar perusahaan seperti pemasok, pelanggan, maupun kerja sama rekan bisnis.

2.1.2.2 Karakteristik Intangible Assets

Menurut Kieso & Warfield (2011), aset tidak berwujud memiliki tiga karakteristik utama, yaitu:

1. Dapat Diidentifikasi

2. Kurang Memiliki Eksistensi Fisik

Aset tidak berwujud memperoleh nilai dari hak dan keistimewaan yang diberikan perusahaan untuk menggunakannya.

(29)

3. Bukan Merupakan Instrumen Keuangan

Aset seperti deposito bank, piutang usaha, dan investasi jangka pendek dalam obligasi serta saham tidak memilliki substansi fisik, tetapi tidak diklasifikasikan sebagai aset tidak berwujud.

2.1.2.3 Teori Intangible Assets dan Kebijakan Keuangan

Menurut Jensen dan Meckling (1976) dalam Gamayuni (2015), teori yang mengemukakan pengaruh intangible asset terhadap kebijakan keuangan disebut Teori Keagenan.Teori keagenan merupakan teori yang mendeskripsikan hubungan antara shareholders sebagai prinsipal dan manajemen sebagai agen.Teori keagenan menyatakan bahwa “kebijakan keuangan ditentukan oleh agency cost”.Agency cost diperkirakan akan lebih tinggi pada perusahaan yang memiliki intangible asset intensif. Intangible asset akan meningkatkan agency cost pada shareholder karena lebih banyak informasi dan aksi tersembunyi oleh perusahaan yang ingin diketahui pemegang saham. Dengan demikian investasi pada intangible asset akan berpengaruh pada kebijakan keuangan perusahaan, baik dengan kebijakan utang maupun kebijakan deviden.

1. Teori Intangible Asset dan Kebijakan Utang

Berikut ini ada dua teori yang mengemukakan pengaruh intangible assetterhadap kebijakan utang dalam (Gamayuni, 2015) yaitu:

a. Pecking Order Theory

Menurut Myers dan Majluf (1984) dalam Gamayuni (2015), “Pecking order theory menyatakan bahwa perusahaan lebih mengutamakan sumber pendanaan internal (laba ditahan) terlebih dahulu, dan ketika perlu

(30)

danadari luar maka perusahaan akan memilih menerbitkan utang”.

Dengan demikian intangible asset yang tinggi pada perusahaan akan menyebabkan tingginya level utang, karena semakin tinggi investasi intangible asset maka akan mengurangi laba ditahan yang dimiliki perusahaan, sehingga perusahaan lebih banyak menggunakan utang dalam membiayai perusahaan.

b. Agency Theory

Menurut Jensen dan Meckling (1976) dalam Gamayuni (2015),

“Agency theory menyatakan bahwa semakin tinggi intangible asset perusahaan, maka semakin kecil utang yang dimiliki perusahaan”.Dikarenakan investasi yang tinggi dalam intangible asset akan meningkatkan informasi perusahaan yang ingin diketahui pemegang saham, maka terjadilah peningkatan agency cost. Dimana peningkatan agency cost akan mengurangi beban bunga, sehingga mengurangi jumlah utang yang dimiliki perusahaan.

2. Teori Intangible Assets dan Kebijakan Dividen

Berikut ini ada tiga teori yang mengemukakan pengaruh intangible asset terhadap kebijakan dividen dalam (Gamayuni, 2015), yaitu:

a. Pecking Order Theory

Menurut teori ini, perusahaan lebih mengutamakan sumber pendanaan internal (laba ditahan) terlebih dahulu. Semakin tinggi investasi intangible asset maka akan mengurangi laba ditahan, sehingga dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham lebih rendah.

(31)

b. Agency Theory

Agency theory menyatakan bahwa dengan tingginya agency cost, utang membutuhkan premium yang tinggi, begitu juga saham baru yang diterbitkan membutuhkan diskon yang tinggi, maka laba ditahan merupakan sumber dana yang paling rendah biayanya sebagai sumber dana untuk membiayai perusahaan. Dengan demikian investasi yang tinggi pada intangible asset akan mengurangi laba ditahan, sehingga pembayaran deviden lebih rendah.

c. Signalling Theory

Signalling theory menyatakan bahwa perusahaan dengan intangible asset yang tinggi harus membayar deviden yang tinggi sehingga memberikan sinyal yang baik bagi investor.

2.1.2.4 Teori Intangible Assets dan Pertumbuhan Perusahaan

Ada dua teori yang menjelaskan pengaruh intangible asset terhadap pertumbuhan perusahaan dalam (Solikhah & Merianto, 2010), yaitu:

1. Resource Based Theory

Teori ini berpandangan bahwa perusahaan akan semakin unggul dengan cara menguasai dan memanfaatkan aset-aset strategis yang penting (aset berwujud dan tidak berwujud). Apabila sumber daya yang dimiliki perusahaan dikelola dan dimanfaatkan dengan baik, maka proses bisnis akan berjalan lebih baik, sehingga meningkatkan pertumbuhan perusahaan.

(32)

2. Stakeholder Theory

Teori ini mencakup semua bentuk hubungan antara perusahaan dengan seluruh stakeholder-nya.Teori stakeholdermerupakan teori yang menyatakan bahwa perusahaan bukanlah suatu entitas yang hanya beroperasi untuk kepentingan sendiri, namun harus memberikan manfaat kepada seluruh stakeholder-nya (pemegang saham, kreditor, konsumen, pemasok, masyarakat, dan pihak lain). Teori ini lebih mempertimbangkan posisi para stakeholder-nya yang dianggap paling berpengaruh bagi perusahaan.

2.1.2.5 Pengukuran Intangible Assets

Menurut Chareonsuk dan Chansa-ngavej (2008) dalam Widyanti (2012), terdapat 4 (empat) pendekatan praktis untuk mengukur intangible assetyang diungkapkan oleh Sveiby (2001), yaitu:

1. Direct Intellectual Capital Methods (DIC)

Variabel-variabel intangible asset dikelompokkan dalam kategori, kemudian dibagi ke dalam komponen-komponen.Kelemahan metode terletak pada indikator-indikator yang bersifat kontekstual dan harus sesuai untuk setiap organisasi dan setiap tujuan, dimana perbandingannya sangat sulit.

2. Market Capitalization Methods (MCM)

Metode ini menghitung perbedaan antara market value of equitydengan book value of equitysebagai nilai dari modal intelektual atau intangible assets perusahaan.Market value of equitymerupakan perkalian antara harga pasar saham dengan jumlah saham yang beredar.Jadi, semakin mahal harga saham suatu perusahaan di pasar dan semakin banyak jumlah sahamnya yang

(33)

beredar di pasar akanmeningkatkan perbedaan antara market value of equitydengan book value of equity.

IA = 𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀 𝑉𝑉𝑀𝑀𝑙𝑙𝑙𝑙𝑀𝑀 𝑜𝑜𝑜𝑜 𝐸𝐸𝐸𝐸𝑙𝑙𝑀𝑀𝑀𝑀𝐸𝐸 − 𝐵𝐵𝑜𝑜𝑜𝑜𝑀𝑀 𝑉𝑉𝑀𝑀𝑙𝑙𝑙𝑙𝑀𝑀 𝑜𝑜𝑜𝑜 𝐸𝐸𝐸𝐸𝑙𝑙𝑀𝑀𝑀𝑀𝐸𝐸 3. Return on Asset (ROA)

Rata-rata laba sebelum pajak dalam suatu periode dibagi dengan rata-rata jumlah tangible assets yang dimiliki perusahaan.Hasil dari pembagian ini merupakan ROA perusahaan yang nantinya dibandingkan dengan ROA rata- rata industri.Perbedaan antara ROA perusahaan dengan rata-rata industri dikalikan dengan rata-rata jumlah tangible assets perusahaan untuk menghitung rata-rata earnings per tahun yang dihasilkan dari intangibles.

Kemudian membagi hasilnya (average earnings) dengan rata-rata cost of capital perusahaan atau interest rate. Sehingga hasilnya dapat memberikan estimasi nilai dari intangible assets atau intellectual capital.

4. Balanced Scorecard Methods (BSC)

Komponen-komponen dari aset tidak berwujud atau modal intelektual diidentifikasikan. Suatu indeks akan dihasilkan dan kemudian dilaporkan dalam bentuk scorecard atau grafik. Kelemahan metode ini sama dengan metode direct intellectual capital, yaitu terletak pada indikator-indikator yang bersifat kontekstual dan harus sesuai untuk setiap organisasi

Pengukuran intangible asset dalam penelitian ini menggunakan Market Capitalization Methods (MCM).Alasan dalam memilih metode inikarena telah mengalami pembuktian yang cukup lama dalam bidang akuntansi sehingga mudah dikomunikasikan diantara praktisi akuntansi.

(34)

2.1.3 Kebijakan Keuangan

Kebijakan keuangan merupakan kebijakan dalam perusahaan yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan yang akan mempengaruhi operasional perusahaan (Helfert, 1997; dalam (Suryani, 2015)). Keputusan dan kebijakan keuangan meliputi keputusan pendanaan, keputusan investasi, dan kebijakan dividen.Kebijakan keuangan dalam penelitian ini proksikan dengan kebijakan utang dan kebijakan dividen, yang akan dijelaskan sebagai berikut:

2.1.3.1 Kebijakan Utang

1. Pengertian Utang dan Kebijakan Utang

Menurut Munawir (2010), “Utang adalah semua kewajiban keuangan perusahaan kepada pihak lain yang belum terpenuhi, dimana utang ini merupakan sumber dana atau modal perusahaan yang berasal dari kreditor”.Kebijakan utang adalah kebijakan perusahaan tentang seberapa jauh perusahaan dalam menggunakan pendanaan utang(Brigham & Houston, 2011).Penentuan kebijakan utang berkaitan dengan struktur modal karena utang merupakan bagian dari penentuan struktur modal yang optimal.

Perusahaan dinilai berisiko apabila memiliki porsi utang yang besar dalam struktur modal, namun sebaliknya apabila perusahaan mengunakan utang yang kecil atau tidak sama sekali, maka perusahaan dinilai tidak dapat memanfaatkan tambahan modal eksternal yang dapat meningkatkan operasional perusahaan.Penggunaan utang akan mencegah manajer untuk menggunakan arus kas bebas berlebihan bagi kepentingan pribadinya karena perusahaan harus menyediakan arus kas bagi pembiayaan bunga pinjaman secara reguler dan tetap jumlahnya

(35)

2. Klasifikasi Utang

Menurut Riyanto (2010), utang digolongkan menjaditiga jenis yaitu:

a. Utang Jangka Pendek (Short-Term Debt)

Utang jangka pendek merupakan utang yang harus dibayarkan dalam jangka waktunya yang pendek, biasanya satu tahun.Utang jangka pendek relatif lebih mudah dan cepat diperoleh daripada utang jangka panjang karena kreditur enggan untuk memberikan pinjaman sebelum melakukan evaluasi keuangan secara cermat.Penggunaan utang jangka pendek memiliki beberapa keuntungan, yaitu kecepatan, fleksibilitas, dan biaya utang yang lebih rendah. Komponen utang jangka pendek antara lain utang dagang,utang wesel,dan utang pajak.

b. Utang Jangka Menengah (Intermediate-Term Debt)

Utang jenis ini merupakan utang yang jangka waktunya lebih dari satu tahun dan kurang dari sepuluh tahun.Kebutuhan membelanjai usaha melalui kredit ini karena adanya kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi melalui kredit jangka pendek maupun kredit jangka panjang. Bentuk utama dari utang jangka menengah adalah term loan dan lease financing.

c. Utang Jangka Panjang (Long-Term Debt)

Utang jangka panjang merupakan kewajiban perusahaanyang harus dipenuhi dalam jangka waktumelebihi sepuluh tahun.Utang jangka panjang digunakan untuk membiayai ekspansi perusahaan.Bentuk utama dari utang jangka panjang adalah utang obligasi dan utang hipotek.

(36)

3. Teori Kebijakan Utang

Menurut Brigham & Houston ( 2011),teori mengenai kebijakan utang ada tiga jenis, yaitu:

a. Teori Pendekatan Modigliani dan Miller

Teori ini dikemukakan oleh Profesor Franco Modigliani dan Merton Miller selanjutnya disebut MM yang menerbitkan apa yang disebut sebagai artikel keuangan paling berpengaruh. MM membuktikan dengan menggunakan sekumpulan asumsi yang patut dipertanyakan, bahwa nilai suatu perusahaan seharusnya tidak dipengaruhi oleh struktur modal. Atau dengan kata lain, hasil yang diperoleh MM menunjukkan bahwa bagaimana cara perusahaan mendanai operasinya tidak memiliki pengaruh, sehingga struktur modal adalah sesuatu yang tidak relevan.

b. Trade Off Theory

Dalam teori ini dinyatakan bahwa perusahaan menukar manfaat pajak dari penggunaan utang dengan masalah yang ditimbulkan oleh potensi kebangkrutan.Esensi trade off theory adalah menyeimbangkan manfaat dan pengorbanan yang timbul sebagai akibat dari penggunaan utang.Apabila manfaat utang lebih besar, maka tambahan utang masih diperkenankan.Apabila pengorbanan karena penggunaan utang sudah lebih besar, maka tambahan utang sudah tidak diperbolehkan lagi.

Singkatnya, dalam trade off theory penggunaan utang akan meningkatkan nilai perusahaan tetapi hanya pada sampai titik tertentu.

(37)

c. Signaling Theory (Teori Sinyal)

Sinyal adalah tindakan yang diambil manajemen perusahaan yang memberikan petunjuk bagi investor tentang bagaimana manajemen memandang prospek perusahaan. Jika manajer memiliki keyakinan bahwa prospek perusahaan baik dan karenanya ingin agar harga saham meningkat, manajer tersebut tentunya ingin mengkomunikasikan hal tersebut kepada para investor.Manajer bisa saja menggunakan utang yang lebih banyak yang nantinya berperan sebagai sinyal yang lebih terpercaya. Ini karena perusahaan yang meningkatkan utang bisa dipandang sebagai perusahaan yang yakin dengan prospek perusahaan dimasa yang akan datang.

4. Pengukuran Kebijakan Utang

Menurut Prihadi (2010), ada beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengukur kebijakan utang antara lain:

a. Book Debt to Asset Ratio

Ide dasar dari rasio ini adalah untuk mengetahui seberapa besar aset perusahaan yang dibiayai oleh utang.Semakin tinggi rasio ini, maka semakin besar jumlah aset perusahaan yang dibiayai oleh utang.

𝐵𝐵𝑜𝑜𝑜𝑜𝑀𝑀𝐵𝐵𝑀𝑀𝐵𝐵𝑀𝑀𝑀𝑀𝑜𝑜𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵𝑀𝑀𝑀𝑀𝐵𝐵𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑜𝑜 = 𝑇𝑇𝑜𝑜𝑀𝑀𝑀𝑀𝑙𝑙𝐵𝐵𝑀𝑀𝐵𝐵𝑀𝑀 𝑇𝑇𝑜𝑜𝑀𝑀𝑀𝑀𝑙𝑙𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵𝑀𝑀𝑀𝑀 b. Long Term Debt to Equity Ratio

Rasio long term debt to equity (utang jangka panjang terhadap modal) mengukur sampai seberapa jauh ketergantungan perusahaan terhadap

(38)

utang jangka panjang dibandingkan dengan modal sendiri. Rasio bisa dilihat sebagai perbandingan utang jangka panjang dengan sumber dana dari pemilik, yaitu modal sendiri.

𝐿𝐿𝑜𝑜𝐸𝐸𝐸𝐸𝑇𝑇𝑀𝑀𝑀𝑀𝐿𝐿𝐵𝐵𝑀𝑀𝐵𝐵𝑀𝑀𝑀𝑀𝑜𝑜𝐸𝐸𝐸𝐸𝑙𝑙𝑀𝑀𝑀𝑀𝐸𝐸𝐵𝐵𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑜𝑜 =𝐿𝐿𝑜𝑜𝐸𝐸𝐸𝐸𝑇𝑇𝑀𝑀𝑀𝑀𝐿𝐿𝐵𝐵𝑀𝑀𝐵𝐵𝑀𝑀 𝑇𝑇𝑜𝑜𝑀𝑀𝑀𝑀𝑙𝑙𝐸𝐸𝐸𝐸𝑙𝑙𝑀𝑀𝑀𝑀𝐸𝐸

c. Debt to Equity Ratio

Debt to equity ratio (DER) merupakan perbandingan antara total utang terhadap total ekuitas perusahaan. Semakin tinggi DER, berarti semakin tinggi pula jumlah utang yang dimiliki perusahaan.

𝐵𝐵𝑀𝑀𝐵𝐵𝑀𝑀𝑀𝑀𝑜𝑜𝐸𝐸𝐸𝐸𝑙𝑙𝑀𝑀𝑀𝑀𝐸𝐸𝐵𝐵𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑜𝑜 =𝑇𝑇𝑜𝑜𝑀𝑀𝑀𝑀𝑙𝑙𝐿𝐿𝑀𝑀𝑀𝑀𝐵𝐵𝑀𝑀𝑙𝑙𝑀𝑀𝑀𝑀𝐸𝐸 𝑇𝑇𝑜𝑜𝑀𝑀𝑀𝑀𝑙𝑙𝐸𝐸𝐸𝐸𝑙𝑙𝑀𝑀𝑀𝑀𝐸𝐸

Kebijakan utang dalam penelitian ini diukur dengan menggunakandebt to equity ratio.Karena rasio ini mempertimbangkan ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan dalam penggunaan utang untuk mendanai kegiatan perusahaan.

2.1.3.2 Kebijakan Dividen

1. Pengertian Dividen dan Kebijakan Dividen

Menurut Brigham & Houston (2011), “Dividen adalah distribusi laba”.

Kebijakan dividen adalah keputusan apakah laba akhir tahun akan dibagi kepada pemegang saham dalam bentuk dividen atau akan ditahan untuk menambah modal guna pembiayaan investasi di masa yang akan datang(Syahyunan, 2015).Kebijakan dividen menentukan berapa banyak keuntungan yang akan diperoleh pemegang saham. Keuntungan yang akan diperoleh pemegang saham ini akan menentukan kesejahteraan para pemegang saham yang merupakan tujuan utama perusahaan (Sumarsono & Hartediansyah, 2012).

(39)

2. Teori Kebijakan Dividen

Menurut Brigham & Houston (2011), ada tiga teori yang mendasari kebijakan dividen bagi perusahaan, yaitu:

a. Dividend Irrelevance Theory

Teori ini disampaikan oleh Modigliani dan Miller, mereka menyatakan bahwa kebijakan dividen tidak mempunyai pengaruh, baik terhadap harga saham maupun biaya modal suatu perusahaan (kebijakan dividen tidak relevan).Nilai suatu perusahaan hanya bergantung pada pendapatan yang dihasilkan oleh aktivanya, bukan pada keputusan untuk membagi pendapatan tersebut dalam bentuk dividen atau menahannya dalam bentuk laba ditahan. Pernyataan Modigliani dan Miller ini menggunakan berbagai asumsi penting yang “lemah”, sebagai berikut:

1) Pasar modal sempurna, di mana semua investor adalah rasional.

2) Tidak adanya biaya emisi penerbitan saham baru.

3) Tidak ada pajak atas pendapatan perusahaan dan pendapatan pribadi.

4) Para investor dan manajer perusahaan memiliki informasi yang sama tentang prospek perusahaan.

5) Kebijakan investasi perusahaan tidak berubah.

b. Bird in the Hand Theory

Dalam tseori yang dikemukakan oleh Gordon dan Linther ini menyanggah teori ketidakrelevanan dividen oleh Modigliani dan Miller, yaitu bahwa kebijakan dividen tidak mempengaruhi tingkat return saham yang disyaratkan investor dengan notasi ks. Gordon dan Linther

(40)

berpendapat bahwa ks akan meningkat jika dividen payout ratio dikurangi, karena investor merasa lebih yakin terhadap penerimaan pembayaran dividen daripada kenaikan capital gain. Gordon dan Lintner beranggapan investor memiliki pandangan bahwa satu burung di tangan lebih berharga dari pada seribu burung di udara.

c. Teori Perbedaan Pajak

Teori ini dikemukakan oleh Litzenberger dan Ramaswamy.Mereka menyatakan bahwa karena adanya pajak terhadap keuntungan dividen dan capital gain, para investor lebih menyukai capital gain karena dapat menunda pembayaran pajak.Oleh karena itu, investor mensyaratkan suatu tingkat keuntungan yang lebih tinggi pada saham yang memberikan dividend yield tinggi, capital gain yield rendah daripada sebaliknya.

3. Alternatif Kebijakan Dividen

Menurut Gitman (2009), ada tiga jenis kebijakan dividen yang dapat diterapkan oleh perusahaan, yaitu:

a. Constant Payout Ratio

Pemberian dividen dengan kebijakan ini mengikuti besarnya laba yang diperoleh perusahaan.Jika laba berfluktuasi, maka jumlah dividen yang dibayarkan akan ikut berfluktuasi.

b. Reguler Dividend Policy

Perusahaan menetapkan dividen per saham yang tetap.Dividen stabil ini dipertahankan untuk beberapa tahun, jika peningkatan laba baik dan stabil maka jumlah dividen akan ditingkatkan.

(41)

c. Low Reguler Dividend Plus Extra

Melalui kebijakan ini, perusahaaan menentukan pembayaran dividen per lembar yang rendah. Jika keuntungan perusahaan mencapai jumlah tertentu, maka perusahaan akan memberikan tambahan dividen.

4. Pengukuran Kebijakan Dividen

Menurut Brigham & Houston (2011), ada 2 jenis indikator untuk mengukur kebijakan dividen yaitu sebagai berikut:

a. Dividend Yield

Dividend yield adalah suatu cara untuk menentukan seberapa besar suatu perusahaan dalam membagikan dividen kepada pemilik saham, dilihat dari harga sahamnya yang sekarang.

𝐵𝐵𝑀𝑀𝐷𝐷𝑀𝑀𝐷𝐷𝑀𝑀𝐸𝐸𝐷𝐷𝐷𝐷𝑀𝑀𝑀𝑀𝑙𝑙𝐷𝐷 = 𝐵𝐵𝑀𝑀𝐷𝐷𝑀𝑀𝐷𝐷𝑀𝑀𝐸𝐸𝐷𝐷𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀ℎ𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀 𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀ℎ𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀

b. Dividend Payout Ratio

Dividend payout ratio adalah perbandingan antara dividen per lembar saham dengan laba per saham.Rasio ini menunjukkan besarnya laba yang dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen.

𝐵𝐵𝑀𝑀𝐷𝐷𝑀𝑀𝐷𝐷𝑀𝑀𝐸𝐸𝐷𝐷𝑀𝑀𝑀𝑀𝐸𝐸𝑜𝑜𝑙𝑙𝑀𝑀𝐵𝐵𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑜𝑜 =𝐵𝐵𝑀𝑀𝐷𝐷𝑀𝑀𝐷𝐷𝑀𝑀𝐸𝐸𝐷𝐷𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀ℎ𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀 𝐸𝐸𝑀𝑀𝑀𝑀𝐸𝐸𝑀𝑀𝐸𝐸𝐸𝐸𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀ℎ𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀

Kebijakan dividen dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan dividend payout ratio. Karena rasio ini menggambarkan berapa besar laba yang dibagikan dalam bentuk dividen, dan berapa yang akan disimpan dalam perusahaan.

(42)

2.1.4 Pertumbuhan Perusahaan

Pertumbuhan perusahaan adalah tingkat perubahan yang terjadi dalam perusahaan dari tahun ke tahun.Pertumbuhan perusahaan sangat diharapkan oleh pihak internal maupun eksternal suatu perusahaan karena dapat memberikan suatu aspek yang positif. Pertumbuhan perusahaan dalam penelitian ini diproksikan dengan pertumbuhan laba dan penjualan yang akan dijelaskan sebagai berikut:

2.1.4.1 Pertumbuhan Laba (Earning Growth)

Menurut Baridwan (2011), laba (gain) adalah “Kenaikan modal (aktiva bersih) yang berasal dari transaksi sampingan dan semua transaksi lain yang mempengaruhi perusahaan selama periode akuntansi kecuali yang timbul dari pendapatan atau investasi pemilik”. Pertumbuhan laba adalah perubahan laba yang terjadi pada suatu perusahaan dalam periode waktu tertentu, apakah mengalami kenaikan atau sebaliknya mengalami penurunan (Brigham & Houston, 2011).

Pertumbuhan laba yang baik mengisyaratkan bahwa perusahaan mempunyai keuangan yang baik, yang pada akhirnya akan meningkatkan nilai perusahaan. Secara matematis pertumbuhan laba perusahaan dapat dirumuskan sebagai berikut:

𝐸𝐸𝑀𝑀𝑀𝑀𝐸𝐸𝑀𝑀𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝑀𝑀𝑜𝑜𝐸𝐸𝑀𝑀ℎ = 𝐸𝐸𝑀𝑀𝑀𝑀𝐸𝐸𝑀𝑀𝐸𝐸𝐸𝐸t− 𝐸𝐸𝑀𝑀𝑀𝑀𝐸𝐸𝑀𝑀𝐸𝐸𝐸𝐸t−1

𝐸𝐸𝑀𝑀𝑀𝑀𝐸𝐸𝑀𝑀𝐸𝐸𝐸𝐸t−1

Keterangan:

Earningt : Laba bersih pada tahun berjalan Earningt-1 : Laba bersih pada tahun sebelumnya

(43)

2.1.4.2 Pertumbuhan Penjualan (Sales Growth)

Penjualan merupakan sejumlah uang yang dibebankan kepada pembeli atas barang atau jasa yang dijual. Menurut Brigham & Houston (2011),

“Pertumbuhan penjualan adalah perubahan (peningkatan atau penurunan) total penjualan yang diperoleh perusahaan”.Perusahaan dengan penjualan yang relatif stabil dapat lebih aman memperoleh lebih banyak pinjaman dan menanggung beban tetap yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang penjualannya tidak stabil. Hal ini disebabkan karena kebutuhan dana yang digunakan untuk pembiayaan pertumbuhan penjualan semakin besar (Brigham & Houston, 2011).

Pertumbuhan penjualan juga dapat menunjukkan daya saing perusahaan dalam pasar. Apabila pertumbuhan penjualan perusahaan positif dan semakin meningkat, maka akan mengindikasikan nilai perusahaan yang tinggi, yang merupakan harapan dari pemilik perusahaan. Para investor menggunakan pertumbuhan penjualan sebagai indikator untuk melihat prospek dari perusahaan tempat mereka akan berinvestasi nantinya (Pantow, Murni, & Trang, 2015).

Perusahaan yang memiliki pertumbuhan penjualan yang tinggi akan membutuhkan lebih banyak investasi pada berbagai elemen aset, baik aset tetap maupun aset lancar. Secara matematis pertumbuhan penjualan perusahaan dirumuskan sebagai berikut:

𝑀𝑀𝑀𝑀𝑙𝑙𝑀𝑀𝐵𝐵𝐸𝐸𝑀𝑀𝑜𝑜𝐸𝐸𝑀𝑀ℎ = 𝑀𝑀𝑀𝑀𝑙𝑙𝑀𝑀𝐵𝐵1− 𝑀𝑀𝑀𝑀𝑙𝑙𝑀𝑀𝐵𝐵t−1

𝑀𝑀𝑀𝑀𝑙𝑙𝑀𝑀𝐵𝐵t−1

Keterangan:

Sales1 : Penjualan pada tahun berjalan Salest-1 : Penjualan pada tahun sebelumnya

(44)

2.2 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No Peneliti/

Tahun

Judul Penelitian

Variabel Penelitian

Teknik Analisis

Data

Hasil Penelitian 1 Gamayuni

(2015)

The Effect Of Intangible Asset, Financial Performance And Financial Policies On The Firm Value

Dependen:

Firm Value (FV) Intervening:

1. Financial Performance [(Current Asset Ratio (CAR), Return On Asset (ROA), Asset Turnover (Ast)]

2. Financial Policies [(DER), (DPR)]

Independen:

Intangible Asset (IA)

Analisis Jalur (Path Analysis)

1. Intangible asset berpengaruh positif sig.

terhadap return on asset.

2. Intangible asset berpengaruh positif sig.

terhadap nilai perusahaan.

3. Kebijakan utang berpengaruh positif tidak sig.

terhadap nilai perusahaan.

4. Return on asset berpengaruh positif sig.

terhadap nilai perusahaan.

5. Intangible asset berpengaruh positif tidak sig.

terhadap

kebijakan dividen.

6. Current assets ratio berpengaruh positif tidak sig.

terhadap nilai perusahaan.

7. Kebijakan dividen berpengaruh positif tidak sig.terhadap nilai perusahaan.

8. Intangible asset berpengaruh negatif tidak sig.

terhadap kebijakan utang dan current assets ratio.

9. Intangible asset berpengaruh negatif tidak sig.

terhadap asset turnover dan nilai perusahaan.

(45)

Lanjutan Tabel 2.1

No Peneliti/

Tahun

Judul Penelitian

Variabel Penelitian

Teknik Analisis

Data

Hasil Penelitian 2 Manjunatha.K

(2013)

Impact of Debt Equity and Dividend Payout Ratio on The Value of The Firm

Dependen:

1. Debt Equity Ratio 2. Dividend

Payout Ratio Independen:

Firm Value

Multiple Regression

1. Debt Equity berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

2. Dividend Payout Ratio

berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

3 Hidayati et al.

(2012)

The Impact of Intangible Asset on Firm's Competitive Advantage and Market Value:

Empirical Examination from Emerging Market

Dependen:

1. Competitive Advantage 2. Firm Market

Value Independen:

Intangible Asset

Moderated Regression Analysis (MRA)

1. Intangible assets berpengaruh signifikan terhadap strategi bersaing perusahaan.

2. Intangible assets berpengaruh signifikan terhadap nilai pasar perusahaan.

4 Sumarsono dan

Hartediansyah (2012)

Pengaruh Keputusan Pendanaan, Kebijakan Deviden dan Pertumbuhan Perusahaan terhadap Nilai Perusahaan

Dependen:

Nilai Perusahaan Independen:

1. Keputusan pendanaan 2. Kebijakan

deviden 3. Pertumbuhan

perusahaan

Analisis Regresi Berganda

1. Kebijakan dividen berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.

2. Keputusan pendanaan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan.

3. Pertumbuhan perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.

Gambar

Gambar 2.1    Kerangka Konseptual
Tabel 4.2   Hasil Statistik Deskriptif
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa indikator DER dan SG tidak memiliki bobot  yang signifikan.Oleh karena itu, indikator tersebut harus dikeluarkan dari model
Gambar 4.5  Pengaruh Langsung  Sumber: Output SmartPLS 3.0 (Gambar diolah)
+3

Referensi

Dokumen terkait

2) Besarnya Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) ditetapkan oeh Pemerintah Daerah setempat. 3) Pada dasarnya penetapan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) adalah tiga

Turtiniai šeiminiai santykiai – tokie visuomeniniai santykiai, kurie atsi- randa tarp sutuoktinių, tėvų ir vaikų, kitų šeimos narių iš asmeninių neturtinių santykių

0HWRGRORJL PHQJDMDU VDLQV¿VLND EHU- basis konteks yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah tindakan guru melak- sanakan rencana dan melaksanakan proses pembelajaran

Pada Pada suhu suhu yang yang lebih lebih tinggi tinggi (diatas (diatas 1210°C) 1210°C) keduanya dapat bereaksi membentuk NO dalam jumlah banyak sehingga keduanya

Mampu melakukan asuhan kebidanan kehamilan trimester II pada Ny.S usia 23 tahun G1P0A0 mulai dari data dasar pengkajian subjektif objektif, menentukan diagnosa,

Pada tanah Ultisol Banjarnegara dengan pH 4,5–5,5 atau sedikit lebih tinggi diban- ding Lampung menunjukkan jumlah populasi bakteri pelarut P lebih tinggi, yaitu antara 2000–4000

Strategi dalam kamus bahasa indonesia adalah ilmu siasat perang: siasat atau akal untuk mencapai sesuatu maksud dengan tujuan yang

a) Pertama,Produk Utama atau Inti (Core Benefit)Adalah produk yangsesungguhnya dibeli konsumen karena memiliki manfaat utama atau sesungguhnya.Contoh: Seorang wanita