HUBUNGAN ANTARA LINGKUNGAN DENGAN PUBERTAS SISWA
Skripsi
Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)
Oleh
Nama : Oktaviana Pratiwi NIM : 2014820042
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA 2018
i
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR Skripsi September 2018
Oktaviana Pratiwi (2014820042)
HUBUNGAN ANTARA LINGKUNGAN DENGAN PUBERTAS SISWA
xvi + 120 Hal, 20 Tabel, 1 Gambar, 15 Lampiran
ABSTRAK
Pubertas adalah suatu proses pendewasaan tubuh yang mempunyai tujuan akhir mampu bereproduksi seksual, dimana tubuh sedang mengalami perubahan besar-besaran dari struktur tubuh anak-anak menjadi struktur tubuh orang dewasa. Pubertas bisa diartikan juga masa ketika seseorang anak mengalami perubahan fisik , psikis dan pematangan fungsi seksual. Biasanya masa puber pada laki-laki antara umur 11-12 tahun lebih lambat dari perempuan yang sudah mulai saat umur 8-10 tahun. Tapi ini tidak mutlak, karena kondisi tubuh masing- masing orang berbeda. Pada zaman digital ini perkembangan anak semakin cepat termasuk masa pubertas. Anak terpengaruh dari lingkungan sekitarnya seperti lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah. Seringkali anak bergaul tidak dengan teman sebayanya melainkan orang yang lebih dewasa dari usianya, pola asuh orangtua yang bebas tanpa pengawasan, anak terpapar berbagai media sosial seperti facebook, instagram, path, youtube dan games digital lainnya yang tidak seharusnya dimiliki oleh anak usia sekolah sehingga memungkinkan terjadinya pubertas yang terlalu dini. Sehingga peneliti ingin melakukan penelitian terkait hubungan antara lingkungan pendidikan siswa dengan masa pubertas.
Kata Kunci: Lingkungan, Keluarga, Masyarakat, Sekolah, Pubertas.
Daftar Pustaka 20 (1997-2017)
ii
iii PERSETUJUAN PANITIA UJIAN SKRIPSI
Skripsi dengan judul “Hubungan Antara Lingkungan Dengan Pubertas Siswa” yang ditulis Oktaviana Pratiwi Nomor Pokok 2014820042 telah diujikan pada Selasa, 4 September 2018 diterima dan disahkan untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam memcapai gelar Sarjana
Pendidikan (S,P.d) pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Mengesahkan,
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
Dekan,
Dr. Iswan, M.Si.
Panitia Ujian Tanda Tangan Tanggal
Ismah, M.Si.
Ketua
Azmi Al Bahij, M.Si.
iv
v
vi
vii
PERSEMBAHAN
Karya sederhana ini saya persembahkan untuk:
Ayah dan Ibu saya, tiada kata yang dapat penulis ucapkan selain terima kasih atas do‟a, kasih sayang, nasihatnya yang selalu tercurah untuk saya.
Adik saya tercinta Ema.
Teman dan sahabat saya Dian, Bunga, Eka, Fivianna, Ristika dan Sondra.
Serta kawan-kawan yang lain seperti Afifah, Novitantri, Lilis, Mawaddah, Dwi Dll.
Almamater tercinta Fakultas Ilmu Pendidikan UMJ
viii
MOTTO
“Percayalah,Allah SWT tidak akan menguji hambanya melebihi
kemampuan hamba itu sendiri”
ix
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat, taufiq serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan usulan penelitian yang berjudul “Hubungan Antara Lingkungan Dengan Pubertas Siswa.”Tugas Akhir Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana pendidikan (S.Pd) pada program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Jakarta. Dalam penulisan Tugas Akhir Skripsi ini tidak sedikit kesulitan dan hambatan yang penulis alami, namun berkat dukungan dorongan dan semangat dari orang terdekat, sehingga penulis mampu menyelesaikannya. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Dr. Iswan, M.Si. Selaku Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta.
2. Bapak Azmi Al Bahij, M.Si. Selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta.
3. Ibu Apri Utami Parta Santi, M.Si. Selaku dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingan selama penyusunan Tugas Akhir Skripsi ini.
x
4. Ibu Rostinah, S.Pd. Sebagai Kepala Sekolah SDN Pondok Cabe Ilir 03 yang telah mengizinkan penulis melakukan penelitian untuk memenuhi tugas akhir skripsi di sekolah tersebut.
5. Ibu Encu Suhartini, S.Pd. Sebagai Wali Kelas VA SDN Pondok Cabe Ilir 03 yang telah membantu dan mengizinkan penulis melakukan penelitian di kelas yang bersangkutan.
6. Kedua Orang Tua tercinta yang telah membesarkan penulis sejak dalam buaian hingga saat ini dengan segala rasa cinta dan kasih sayang yang tidak pernah surut dan juga yang telah mendidik, membina, memberikan dorongan dan do‟a kepada penulis.
7. Adik tersayang yang telah banyak memberikan semangat dan dukungan bagi penulis dalam penyusunan Tugas Akhir Skripsi ini.
8. Semua responden yang bersedia membantu dalam jalannya penelitian ini.
9. Teman-teman dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu saran dan kritik yang membangun akan penulis terima dengan baik. Semoga tugas akhir skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.
Jakarta, 4 September 2018
Penulis
xi
DAFTAR ISI
ABSTRAK i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ii
PERSETUJUAN PANITIA UJIAN SKRIPSI iii
LEMBAR PENGESAHAN iv
FAKTA INTEGRITAS v
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ILMIAH vi
PERSEMBAHAN vii
MOTTO viii
KATA PENGANTAR ix
DAFTAR ISI x
DAFTAR TABEL xi
DAFTAR GAMBAR xv
DAFTAR LAMPIRAN xvi
BAB I. PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Identifikasi Masalah 6
C. Batasan Masalah 6
D. Rumusan Masalah 6
E. Tujuan Penelitian 6
1. Tujuan Umum 7
2. Tujuan Khusus 7
xii
F. Manfaat Penelitian 7
1. Manfaat Teoritis 7
2. Manfaat Praktis 8
G. Sistematika Penulisan 8
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 9
A. Kajian Teori 9
1. Lingkungan Pendidikan Siswa 9
2. Pubertas 43
B. Kerangka Berfikir 55
C. Hipotesis Penelitian 56
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN 57
A. Tempat dan Waktu Penelitian 57
1. Tempat Penelitian 57
2. Waktu Penelitian 57
B. Metode Penelitian 57
C. Variabel dan Definisi Variabel Operasional 59
D. Populasi dan Sampel 60
E. Kisi-kisi dan Instrumen Penelitian 61
F. Teknik Pengumpulan Data 64
G. Teknik Analisis Data 68
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 73
A. Deskripsi Data 73
B. Hasil Analisa Data 76
xiii
C. Interpretasi Hasil Penelitian 81
BAB V. PENUTUP 92
A. Kesimpulan 92
B. Saran 92
DAFTAR PUSTAKA 94
LAMPIRAN-LAMPIRAN 96
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Waktu Penelitian 57
Tabel 3.2 Populasi Penelitian 60
Tabel 3.3 Kisi-kisi Instrument Penelitian 65 Tabel 3.4 Kisi-kisi Instrument Penelitian Masa Pubertas (Y) 66 Tabel 4.1 Responden Kelas VA SDN Pondok Cabe Ilir 03 72 Tabel 4.2 Distribusi Masa Pubertas Siswa 73 Tabel 4.3 Distribusi Jawaban Responden Variabel X 73 Tabel 4.4 Distribusi Jawaban Responden Variabel Y 74 Tabel 4.5 Susunan Item Sebelum Uji Coba Variabel X 76 Tabel 4.6 Susunan Item Sebelum Uji Coba Skala Variabel Y 77
Tabel 4.7 Uji Validitas 78
Tabel 4.8 Uji Reliabilitas 80
Tabel 4.9 Uji Normalitas 82
Tabel 4.10 Rangkuman Normalitas Data 82
Tabel 4.11 Uji Coba Homogenitas Varians 83
Tabel 4.12 Uji ANOVA Variabel X terhadap Y 84 Tabel 4.13 Nilai Koefisien Beta Lingkungan Pendidikan Siswa 84
Tabel 4.14 Uji Koefisien Determinasi 86
Tabel 4.15 Hasil Analisis Untuk Koefisien Korelasi 88 Tabel 4.16 Penafsiran Terhadap Koefisien Korelasi 89
xv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Berfikir 55
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Susunan Butir Soal Yang Diuji Validitas 97
Lampiran 2. Hasil Uji Coba Validitas 98
Lampiran 3. Daftar Siswa Kelas VA SDN Pondok Cabe Ilir 03 100 Lampiran 4. Susunan Butir Soal Di Kelas VA 101
Lampiran 5. Soal Kuisoner 102
Lampiran 6. Hasil Dokumentasi Selama Penelitian 107
Lampiran 7. Surat Pembimbing Skripsi 112
Lampiran 8. Surat Permohonan Validitas 113
Lampiran 9. Surat Permohonan Penelitian 114
Lampiran 10. Surat Keterangan Melakukan Penelitian 115
Lampiran 11. Surat Pernyataan Validitas 116
Lampiran 12. Kartu Menyaksikan Ujian Skripsi 117
Lampiran 13. Kartu Bimbingan Skripsi 118
Lampiran 14. Surat Bimbingan Pasca Sidang Skripsi 119
Lampiran 15. Riwayat Hidup Penulis 120
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Perkembangan merupakan perubahan-perubahan yang dialami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan, baik menyangkut fisik (jasmani) maupun psikis (rohani). Manusia secara terus menerus berkembang atau berubah yang dipengaruhi oleh pengalaman atau belajar sepanjang hidupnya.
Perkembangan berlangsung secara terus menerus sejak masa konsepsi sampai masa kematangan atau masa tua.
Menurut (Yani,2009) dalam Puspitaningrum (2012:68) bahwa pada masa globalisasi teknologi dan informasi sekarang sebagian anak umur 10-11 tahun cepat mengalami kematangan seksual yaitu pada anak perempuan ditandai adanya menarche pada usia dini. Pada usia 10-11 tahun termasuk dalam pembagian pada tahap remaja awal, dimana mereka mengalami perubahan secara fisik dan psikis. Sehingga mereka membutuhkan informasi yang benar untuk mempersiapkan mental dalam menghadapi menarche.
Perkembangan seseorang memang tidak semuanya sama, tetapi seringkali di era globalisasi sekarang ini banyak siswa yang dewasa sebelum waktunya. Baik dalam hal berpakaian, berbicara sampai
2
melakukan sesuatu. Banyak hal yang mengakibatkan itu terjadi, ada faktor keluarga, teman sepermainan, lingkungan sekolah serta lingkungan belajar. Banyak juga dampak riil yang dapat di lihat baik positif maupun negatif. Seringkali terjadi hal-hal tersebut, hal yang spele tetapi sering memicu perhatian masyarakat karena sesungguhnya banyak dampak negatif yang dapat dihasilkan karena perilaku dan sikap siswa yang dewasa sebelum usianya.
Menjadi orang tua untuk siswa yang mulai beranjak meninggalkan usia 5 tahun, tentu ada sebuah kebanggaan tersendiri, bahwa sebagai orang tua yang telah diberikan kesempatan untuk dapat terus menjaganya sampai sebesar ini. Akan tetapi sebagai orang tua masa kini, tentu saja kita perlu menyadari perubahan-perubahan apa yang terjadi pada diri siswa kita baik secara fisik atau mental, dan kesemuanya itu harus senantiasa kita ikuti perkembanngannya. Memastikan apakah semuanya normal dan baik-baik saja. Pubertas, biasanya terjadi pada proses akhir baligh-dalam Islam. Masa ini adalah masa dimana siswa, baik secara fisik maupun mental menuju proses menuju pendewasaan. Pada umumnya tanda-tanda pubertas dimulai sekitar usia 7-8 tahun bagi siswa perempuan, dan 9 tahun untuk siswa laki-laki. (secara umum usia 10 tahun bagi siswa perempuan dan siswa laki-laki 12 tahun). Saat ini siswa perempuan banyak yang mengalami pubertas pada usia dini.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 (2010:178) bahwa secara nasional rata-rata usia menarche 13-14 tahun
3
terjadi pada 37,5 persen anak Indonesia. Rata-rata usia menarche 11-12 tahun terjadi pada 30,3 persen pada anak-anak di DKI Jakarta, dan 12,1 persen di Nusa Tenggara Barat. Rata-rata usia menarche 17-18 tahun terjadi pada 8,9 persen anak-anak di Nusa Tenggara Timur, dan 2,0 persen di Bengkulu. 2,6 persen anak-anak di DKI Jakarta sudah mendapatkan haid pertama pada usia 9-10 tahun, dan terdapat 1,3 persen anak-anak di Maluku dan Papua Barat yang baru mendapatkan haid pertama pada usia 19-20 tahun. Umur menarche 6-8 tahun sudah terjadi pada sebagian kecil (<0,5%) anak-anak di 17 provinsi, sebaliknya umur menarche 19-20 tahun merata terdapat di seluruh provinsi.
Masa pubertas yang dialami terlalu dini memiliki banyak risiko untuk siswa sendiri baik dalam segi kesehatan maupun segi psikologis.
Perempuan yang mengalami menarche yang terlalu dini akan meningkatkan resiko terkena kanker payudara, resistensi insulin, penumpukan lemak dalam jaringan adiposa, obesitas abdominal, penyakit kardiovaskular dan hipertensi. Sedangkan secara psikologis mereka akan mengalami stress, rasa cemas dan emosional.
Seorang siswa biasanya akan mencari jati dirinya ketika ia mulai bisa menganalisis apa minat dan bakatnya, biasanya orang menyebutnya dengan “Mencari Jati diri”. Penanganan secara psikologis perlu dilakukan untuk mencegah anak selalu memikirkan perkembangan seksualnya atau menjadi rendah diri dan kurang percaya diri. Untuk menciptakan lingkungan yang mendukung, orangtua perlu menahan diri untuk tidak
4
berfokus pada penampilan tetapi lebih banyak memberikan pujian untuk prestasi-prestasinya dan mendukung partisipasi anak dalam kegiatan- kegiatan yang positif. Al-Qur‟an menjelaskan tentang fase kehidupan manusia dalam surat Ar-Rum/30 ayat 54:
Artinya:
Allah, dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, Kemudian dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, Kemudian dia menjadikan (kamu) sesudah Kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.
Dari ayat di atas dapat disimpulkan terdapat tiga fase kehidupan yaitu: (1) fase kanak-kanak (al-thifl), fase seseorang lemah atau bayi (2) fase baligh, fase seseorang menjadi kuat dan dewasa (3) fase usia lanjut, kondisi tubuh kembali melemah. Fase yang mendekati maknanya dengan pubertas adalah fase baligh. Individu yang telah mencapai fase baligh telah diberi tanggung jawab (taklif), terutama tanggung jawab agama dan sosial. (Jayusman,2014:149).
Keluarga adalah komponen utama yang harus bisa mengawasi siswa, terutama orang tua. Seringkali dalam mencari-cari jati diri, seorang siswa akan di pengaruhi oleh banyak hal, mulai dari lingkungan sekolah
5
maupun lingkungan masyarakat. Secara tidak langsung seorang siswa akan mulai terjun langsung untuk berinteraksi dengan masyarakat sejak dini. Siswa akan mulai bermain dengan teman sepermainannya, mulai mengikuti pelajaran-pelajaran dan pengaruh luar, maka orang tua harus sangat ketat untuk dapat memperhatikan siswanya.
Ketat dalam arti bukan menjadi orang tua yang terlalu mengkhawatirkan atau terlalu mengekang siswa, tetapi hal tersebut yang di maksud adalah membimbing dan mengarahkan siswa kepada hal-hal yang baik. Seorang siswa menginjak masa remaja menuju dewasa, itu masa-masa yang sangat berat untuk orang tua. Tantangan mulai muncul karena masa tersebut siswa akan lebih sering membangkang dan orang tua harus punya strategi untuk dapat mengarahkan prilaku dan sifat siswa.
Banyak pengaruh negatif yang akan diterima pada masa perkembangan remaja menuju dewasa, seringkali seorang siswa akan berubah minat dan bakatnya. Banyak dampak negatif pada masa sekarang yang sering terjadi kepada siswa.
Jadi peneliti memutuskan untuk mengambil permasalahan di atas sebagai bahan penelitian karena peneliti ingin mencari tahu ada atau tidaknya hubungan dan besarnya tingkat antara lingkungan pendidikan (tripusat pendidikan) yang terdiri dari lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah siswa dengan masa pubertasnya di usia sekolah dasar.
B. IDENTIFIKASI MASALAH
1. Hubungan antara lingkungan pendidikan siswa berdasarkan lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah berkaitan dengan masa pubertas .
2. Kategori dari Pubertas siswa di lihat dari perubahan fisik dan perubahan psikologis.
C. BATASAN MASALAH
Berdasarkan identifikasi masalah yang diperoleh oleh Peneliti maka adapun batasan dalam penelitian ini lebih menitikberatkan pada hubungan antara lingkungan dengan pubertas siswa di sekolah dasar.
D. RUMUSAN MASALAH
1. Seberapa tinggi tingkat pengaruh antara lingkungan dengan pubertas siswa?
2. Adakah Hubungan antara lingkungan dengan pubertas siswa?
E. TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh dari Hubungan lingkungan dengan pubertas pada siswa usia sekolah dasar.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui lebih spesifik tingkat lingkungan siswa yang mengalami pubertas dini.
b. Untuk mengetahui tingkat perubahan fisik dan perubahan psikologis siswa yang mengalami pubertas.
F. MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Manfaat Teoritis
a. Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah atau wawasan ilmu pengetahuan sosial dan dapat digunakan sebagai masukan bagi siswa dan guru untuk ikut serta mensukseskan peningkatan mutu dan kualitas pendidikan dengan cara meningkatkan prestasi belajar.
b. Memberikan sumbangan pemikiran yang digunakan untuk membantu penelitian selanjutnya yang sejenis.
c. Penelitian ini digunakan untuk mengetahui pengaruh dan penyebab masalah lingkungan dengan pubertas siswa pada sekolah dasar.
2. Manfaat Praktis
Agar penelitian ini bermanfaat bagi pembaca atau peneliti yang sedang melakukan penelitian untuk dapat menjadi bahan
referensi mengenai pubertas dini dengan lingkungan siswa pada sekolah dasar.
G. SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan dalam tugas akhir ini, disusun sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang latar belakang masalah , identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisi kajian teoritik tentang lingkungan dan masa pubertas siswa, kerangka berfikir dan hipotesis penelitian.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini menjelaskan tempat dan waktu penelitian, metode penelitian, variabel penelitian dan definisi variabel operasional, populasi dan sampel, kisi-kisi dan instrument penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisi tentang deskripsi data, hasil analisis data, dan interpretasi hasil penelitian
BAB V PENUTUP
Pada bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran peneliti tentang hubungan antara lingkungan dengan pubertas siswa.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. KAJIAN TEORI
1. Lingkungan Pendidikan (Tri Pusat Pendidikan)
Abdurrahman An Nahlawi dalam Fahmi (2017:79) berpandangan bahwa lingkungan pendidikan yang dapat memberi kontribusi bagi perkembangan anak ada tiga. Pertama, lingkungan keluarga sebagai penanggung jawab utama terpeliharanya fitrah anak. Kedua, lingkungan sekolah untuk mengembangkan segala bakat dan potensi manusia sesuai fitrahnya sehingga manusia terhindar dari penyimpangan-penyimpang. Ketiga, lingkungan masyarakat sebagai wahana interaksi sosial bagi terbentuknya nilai-nilai keagamaan dan kemasyarakatan. Dalam hal ini masyarakat berhak untuk mengisolasi, memboikot atau menerapkan pola pendidikan lainnya terhadap individu yang melakukan penyimpangan sehingga ia kembali pada keimanan, bertaubat dan menyesali perbuatannya.
Ketiga lingkungan pendidikan tersebut oleh Ki Hadjar Dewantara disebut dengan istilah tripusat pendidikan. Istilah tersebut diperkenalkan oleh Ki Hadjar Dewantara yang menggambarkan lingkungan pendidikan di sekitar manusia yang mempengaruhi perilaku seseorang. Konsep tripusat pendidikan
tersebut tidak bisa diabaikan. Sistem pendidikan nasional ini tidak ditempatkan di dalam lingkungan sekolah saja, akan tetapi ada keikutsertaan atau peran keluarga dan masyarakat yang turut menentukan sukses dan gagalnya sebuah pendidikan.
Berdasarkan latar belakang di bab 1 maka peneliti menggunakan teori tri pusat pendidikan sebagai lembaga pendidikan Islam. Dalam dunia pendidikan Sebagaimana dinyatakan Ki Hajar Dewantara yang dikutip oleh Fahmi dikenal adanya istilah “Tri Pusat Pendidikan”. Yaitu tiga lingkungan (lembaga) pendidikan yang sangat berpengaruh dalam perkembangan kepribadian anak didik. Tiga lembaga pendidikan tersebut yaitu:
a. Lingkungan Keluarga
Keluarga yang dalam Islam dikenal dengan istilah usrah atau ali’ adalah lembaga yang asasi dan alamiah yang pasti dialami oleh setiap manusia. Keluarga dalam perspektif antropologi merupakan unit terkecil dalam kehidupan masyarakat, yang terdiri atas seorang kepala rumah tangga (ayah), pengatur kehidupan (ibu), dan anggota keluarga (anak), dengan kerjasama ekonomi, pendidikan, perawatan, perlindungan, dan sebagainya. Karenanya keluarga dapat juga dikatakan sebagai masyarakat dalam arti mikro.
Menurut Saat (2015:13) bahwa pemahaman mengenai pengaruh lingkungan terhadap anak atau peserta didik merupakan keharusan bagi setiap pendidik, termasuk para guru. Dengan pemahaman ini, para pendidik/guru dapat memberikan penjelasan dan mempengaruhi anak secara lebih baik. Kurangnya pemahaman tentang lingkungan dan pengaruh yang ditimbulkannya, menyebabkan masyarakat selalu melemparkan tanggung jawab kepada sekolah dan guru jika terjadi hal-hal yang dianggapnya menyimpang atau tidak sesuai dengan keinginannya. Misalnya prestasi anak menurun, nakal, dan sebagainya. Tanpa berpikir panjang, para orang tua melemparkan kesalahan itu pada sekolah, tanpa menyadari bahwa mereka merupakan lingkungan yang terdekat dengan anak yang dapat memberikan pengaruh, baik yang bersifat positif maupun negatif. Di antara lingkungan yang banyak memengaruhi peserta didik adalah lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat (tripusat pendidikan).
Ketiga lingkungan ini, baik sebagai lingkungan sosial atau manusia, maupun nonsosial berupa benda-benda, situasi, iklim kehidupan, semuanya dapat membentuk watak, sikap, perilaku, keperibadian, kebiasaan peserta didik.
Oleh karena itu, ketiga lingkungan tersebut harus ditata sebaik mungkin sehingga dapat memberikan pengaruh
yang positif bagi perkembangan peserta didik. Hal ini telah disinggung secara singkat dalam uraian terdahulu tentang pendidik. Ketiga lingkungan ini harus bersinergi dalam pendidikan.
Dalam proses pendidikan, sebelum mengenal masyarakat yang lebih luas dan sebelum mendapat bimbingan dari sekolah, seorang anak lebih dahulu memperoleh bimbingan dari keluarga. Dari kedua orang tua, terutama ibu, untuk pertama kali seorang anak mengalami pembentukan watak (kepribadian) dan mendapat pengarahan moral. Dalam keseluruhannya, kehidupan anak juga lebih banyak dihabiskan dalam pergaulan keluarga. Itulah sebabnya pendidikan keluarga disebut sebagai pendidikan yang pertama dan utama, serta merupakan peletak fondasi dari watak dan pendidikan keluarga.
1) Pola Asuh Orangtua
Menurut Galih (2009) dalam Apriastuti (2013:3) bahwa orang tua merupakan pengambil peran utama dalam mengasuh anak – anaknya. Terutama kedekatan anak terhadap ibu, karena ibunya yang mendukung, melahirkan dan menyusui secara psikologis mempunyai ikatan yang lebih dalam. Terjadinya krisis hubungan yang melibatkan antara orang tua dan anak sebagian besar disebabkan
karena ketidakbijaksanaan orang tua dalam menerapkan pola asuh kepada anaknya. Sikap pengasuhan anak itu tercermin dari dalam pola pengasuhan kepada anak yang berbeda – beda karena orang tua dan keluarga mempunnyai pola pengasuhan tertentu.
Menurut (Tarmuji, 2004) dalam Apriastuti (2013:3) menyatakan bahwa pola asuh adalah bentuk-bentuk yang diterapkan dalam rangka merawat, memelihara, membimbing dan melatih dan memberikan pengaruh.
Orang tua adalah merupakan pertama-tama yang bertanggung jawab dalam mengatur, mengkoordinasikan serta memberikan rangsangan-rangsangan (Suherman, 2000) dalam Apriastuti (2013:3).
Berdasarkan teori pola asuh, maka perbedaan antara pola asuh otoriter, liberal dan demokratis yakni adanya perbedaan penekanan dimana otoriter bersifat lebih memaksa anak, liberal bersifat lebih memberi kebebasan anak, dan demokratis bersifat memperhatikan kebutuhan anak terkait dengan kemampuan, menyangkut :
a) Aturan
1) otoriter : aturan yang kaku, ketat dan saklek yang harus dipatuhi oleh anak – anaknya tanpa mau tahu perasaan sang anak. Hukuman mental dan fisik akan
sering diterima oleh anak dengan alasan agar anak tetap harus patuh dan disiplin serta menghormati orang tua yang telah membesarkan.
2) demokrasi : Aturan dibuat bersama oleh seluruh anggota keluarga (anak dan orangtua), orang tua memprioritaskan kepentingan anak akan tetapi tidak ragu – ragu mengendalikan mereka.
3) liberal : orang tua/ibu mempunyai anggapan bahwa anak dianggap sebagai orang dewasa yang dapat mengambil tindakan atau keputusan sendiri menurut kehendaknya tanpa bimbingan.
b) kegiatan sehari – hari
(1) Otoriter : Anak harus bertingkah laku sesuai aturan yang diterapkan oleh orang tua, kadang kala disertai ancaman misalnya tidak mau makan maka tidak akan diajak bicara.
(2) Demokrasi : Anak diajak mendiskusikan untuk mengambil keputusan dan Anak diberi kepercayaan dan tanggung jawab. Orang tua akan selalu bersikap rasional, realitis terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak.
(3) Liberal : Anak harus belajar sendiri untuk berperilaku dalam lingkungan sosial, orang tua cenderung tidak menegur dan memperingatkan anak dalam kegiatannya.
c) Keinginan
(1) Otoriter : Orang tua tidak mempertimbangkan pandangan dan pendapat anak maupun perasaan anak. Orang tua tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti mengenai anaknya.
(2) Demokrasi : Orang tua memperhatikan keinginan dan pendapat anaknya. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat.
(3) Liberal : Anak diberi kebebasan dan diijinkan membuat keputusan untuk dirinya sendiri.
d) Bantuan
(1) Otoriter : Orang tua yang tidak mengenal kompromi dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah.
Pada dasarnya juga membantu anak tetapi dengan konsekuensi berupa hukuman.
(2) Demokrasi : memberikan bantuan sewajarnya.
(3) Liberal : membantu sepenuhnya.
e) Pengawasan
(1) otoriter : pengawasan sangat ketat dan kaku.
(2) Demokrasi : Ada bimbingan dan kontrol dari orang tua.
(3) Liberal :diberikan kebebasan dalam segala tindakannya.
f) Pemahaman tentang pengasuhan
(1) Otoriter : menetapkan standar yang mutlak harus dipatuhi cenderung memaksa, memerintah dan menghukum anak akan sangat baik untuk pertumbuhan anak.
(2) Demokrasi :membantu anak dalam pertumbuhannya, menjaga anak dalam batas aman, serta membuat pilihan yang tepat dan melindunginya dari situasi berbahaya baik secara fisik maupun emosional karena orang tua sebagai orang yang lebih tahu.
(3) Liberal : santai dan tidak membatasi serta tidak ikut campur berlebihan terhadap perkembangan anak.
Karakteristik anak dengan pola asuh di atas yaitu : (1) Pola asuh otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, berkepribadian lemah,
cemas dan menarik diri dari lingkungan sosialnya. (2) Pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik anak yang mandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi stress, mempunyai minat terhadap hal – hal baru dan koperatif terhadap orang – orang lain. (3) Pola asuh liberal akan menghasilkan karakteristik anak yang impulsif, agresif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang bertanggungjawab, kurang matang secara sosial.
2) Usia Menarche dan Kematangan Seksual
Pubertas bisa diartikan juga masa ketika seseorang anak mengalami perubahan fisik , psikis dan pematangan fungsi seksual. Biasanya masa puber pada laki-laki antara umur 11-12 tahun lebih lambat dari perempuan yang sudah mulai saat umur 8-10 tahun. Tapi ini tidak mutlak, karena kondisi tubuh masing-masing orang berbeda.
Menarche adalah haid pertama yang terjadi akibat proses sistem hormonal yang kompleks. Setelah panca indra menerima rangsangan yang diteruskan kepusat dan diolah oleh hipotalamus, dilanjutkan dengan hipofise melalui sistem fortal dikeluarkan hormon gonatropik perangsang folikel dan luteinizing hormon untuk merangsang indung telur. Hormon perangsang folikel (FSH), merangsang folikel
primordial yang di dalam perjalanannya dominan mengeluarkan hormon esterogen sehingga terjadi pertumbuhan dan perkembangan tanda seks sekunder, ini juga merupakan tanda-tanda remaja sedang mengalami pubertas. (Jayusman,2014:143)
Menarche dini atau haid pertama yang dialami wanita lebih cepat dari kebiasaan secara umum merupakan masalah yang menarik untuk dipelajari dan teliti lebih lanjut.
Pertumbuhan fisik yang cepat pada anak-anak mengakibatkan terjadinya pergeseran pada usia menarche mereka. Secara fisik mereka telah tumbuh besar seperti orang dewasa, namun secara psikis mereka mungkin masih anak-anak. Dengan kata lain diibaratkan dengan anak-anak yang terjebak pada tubuh orang dewasa. Dalam kajian hukum Islam, wanita yang telah mengalami haid dianggap telah memasuki usia kedewasaan. Sebagai orang dewasa, ia dikenakan kewajiban keagamaan dan bertanggung jawab penuh atas perbuatan yang dilakukannya, padahal mereka masih anak-anak.
Menurut Desmita (2014:76) mengatakan bahwa waktu datangnya masa pubertas tidak dapat diketahui secara pasti. Ada anak-anak yang memulai masa pubertasnya pada usia yang lebih awal dan ada pula yang lebih
belakangan. Biasanya, anak perempuan mulai memasuki masa pubertas lebih awal 2 tahun dibandingkan dengan anak laki-laki. Menurut sejumlah ahli perkembangan, pada anak perempuan pubertas terjadi sekitar usia 10 tahun, sedangkan pada anak laki-laki terjadi pada usia sekitar 12 tahun. Pubertas dini dapat disebabkan oleh penyebab tertentu atau tanpa sebab lain. Kondisi yang dapat menyebabkan pubertas dini adalah masalah struktural dalam otak (misalnya tumor), cedera otak akibat trauma kepala, infeksi (seperti meningitis), masalah di indung telur, atau tumor kelenjar adrenal/kelenjar pituitari/kelenjar tiroid.
Paparan terhadap hormon seks seperti krim/salep estrogen atau testosteron, atau zat lain yang mengandung hormon tersebut seperti obat-obatan atau suplemen untuk orang dewasa juga dapat meningkatkan risiko anak mengalami pubertas dini. Untungnya, kondisi-perempuan, pubertas dini tidak disebabkan oleh masalah lain yang mendasari.
Mereka hanya memulai pubertas lebih awal saja, tanpa suatu sebab tertentu.
Menurut penelitian Agres Vivi Susanti dalam Jayusman (2014:148) mengatakan bahwa faktor yang menyebabkan resiko kejadian menarche dini adalah rendahnya asupan serat dan tingginya asupan lemak
maupun kalsium, di mana faktor resiko paling dominan adalah asupan serat yang rendah. Riwayat ibu yang mengalami menarche dini dan asupan tinggi protein hewani beresiko kecil terhadap kejadian menarche dini. Akan tetapi rendahnya asupan protein nabati terbukti beresiko terhadap usia menarche dini.
Pada anak laki-laki, pubertas dini memang jauh lebih jarang terjadi namun lebih mungkin terkait dengan masalah lain yang mendasari. Selain itu, sekitar 5% pubertas dini pada laki-laki adalah kondisi yang diwariskan, yaitu ayah atau kakek mereka juga memiliki kelainan tersebut di waktu kecil. Kurang dari 1% pubertas dini pada anak perempuan yang merupakan kondisi warisan.
3) Status Gizi
Menurut Riyadi (2003) dalam Lusiana dan Dwiriani (2007:26) menyatakan bahwa peningkatan kualitas sumberdaya manusia erat kaitannya dengan pangan dan gizi. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia ditujukan pada anak usia Sekolah Dasar (SD) karena mereka berada pada masa pertumbuhan yang sangat cepat dengan kegiatan fisik yang sangat aktif. Pertumbuhan fisik pada anak usia ini merupakan hasil dari faktor lingkungan dan genetik serta
interaksi keduanya. Pada penduduk miskin, faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan fisik anak usia sekolah adalah faktor lingkungan (pola konsumsi pangan, angka kesakitan, keterbatasan sanitasi, serta praktek higiene dan kesehatan yang buruk) yang dialami sebelum pubertas.
Status gizi perlu diperhatikan karena status gizi yang kurang dapat mengakibatkan menstruasi lebih lambat dari yang seharusnya. Hal ini dikemukakan oleh Riyadi (2003) yaitu remaja putri yang bergizi baik mempunyai kecepatan pertumbuhan yang lebih tinggi pada masa sebelum pubertas (prapubertas) dibandingkan dengan remaja yang kurang gizi.
Menurut Maditias (2015:117) bahwa Pada era globalisasi sekarang ini semakin beraneka ragam jenis makanan yang bisa dinikmati di Indonesia. Salah satunya adalah mengkonsumsi makanan bergaya barat seperti junk food yang sudah menjadi kebiasaan bagi para remaja pada umumnya. Kebiasaan mengkonsumsi junk food ini berpengaruh terhadap peningkatan gizi remaja. Perilaku konsumtif siswa-siswa tanpa diimbangi pengetahuan mengenai kandungan gizi dalam junk food dapat mempengaruhi kerja hormon sehingga bisa menyebabkan terjadinya pubertas dini.
Kebiasaan mengkonsumsi junk food di kalangan siswa-siswa modern akan mempengaruhi peningkatan gizi.
Hal ini disebabkan karena kandungan lemak, protein hewani, dan trans lemak yang terdapat dalam junk food akan memicu pengeluaran hormon-hormon yang berpengaruh terhdap terjadinya menarche dan timbulnya tanda-tanda sekunder pada siswa –siswa lebih cepat dari usia normal. Timbulnya tanda-tanda pubertas baik primer maupun sekunder sebelum umur 8 tahun dan terjadinya menarche sebelum usia 11 tahun disebut dengan pubertas dini.
Junk Food merupakan sebutan untuk makanan modern yang diperkenalkan oleh Michael Jacobson pada tahun 1972. Junk food adalah semua makanan yang dikonsumsi yang tidak memberikan manfaat bahkan justru merugikan kesehatan, dapat pula makanan yang sebenarnya sehat tetapi dikonsumsi berlebihan. Junk food merupakan semua jenis makanan yang mengandung gula, lemak, dan kalori dalam jumlah yang tinggi tetapi memiliki sedikit kandungan mikronutiren seperti vitamin, mineral, asam amino, dan serat.
Junk food disebut juga makanan sampah. Hal ini dikarenakan kandungan gula dan lemak jenuhnya yang
tinggi dan ditambah dengan kandungan zat adiktif seperti monosodium glutamate, tatrazine yang memiliki efek negatif bagi tubuh jika dikonsumsi. Makanan yang dikategorikan sebagai junk food biasanya mengandung sodium, saturated fat, dan kolesterol. Beberapa junk food juga mengandung gula dan bahan-bahan kimia yang berbahaya bagi tubuh.
Kebiasaan mengkonsumsi junk food juga memiliki efek yang berbahaya bagi kesehatan tubuh. Salah satu kandungan yang terdapat dalam junk food adalah gula.
Minuman bersoda dikategorikan dalam junk food karena mengandung banyak gula. Kandungan gula dalam satu kaleng minuman bersoda mencapai 9 sendok teh gula, sedangkan kebutuhan gula dalam tubuh tidak boleh melebihi dari satu sendok teh sehari.
Kandungan gula yang tinggi dalam junk food akan menyebabkan pankreas mengekskresikan insulin dalam jumlah yang banyak agar kadar gula dalam darah tetap normal. Ketika kadar karbohidrat yang tinggi dalam tubuh terjadi secara terus menerus, pankreas akan bekerja lebih keras untuk menghasilkan insulin dalam kadar yang lebih banyak. Hal ini akan menyebabkan disfungsi pankreas yang pada akhirnya tidak bisa mengkontrol kadar gula darah.
4) Kurangnya Informasi Orangtua
Laju perkembangan media massa dan elektronika yang semakin pesat tampaknya mempengaruhi pola perilaku remaja, khususnya perilaku seksual remaja.
Kenyataan sehari-hari yang dapat dilihat misalnya tayangan film-film yang masih terkesan vulgar, maraknya VCD porno, maupun adegan-adegan „syur‟ yang begitu mudahnya diakses di internet.
Menurut Helmi dan Paramastri (1998:26) bahwa salah satu kemungkinannya adalah bahwa sebagian besar orang tua mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan anak-anaknya yang berkaitan dengan seks. Kesulitan orang tua dalam menjawab pertanyaan tersebut cenderung dialihkan ke hal-hal yang kurang rasional sehingga anak semakin gencar mengejar dengan pertanyaan yang lebih rumit.
Menurut Hurlock dalam Budiati dan Apriastuti 2012:97) bahwa remaja adalah pribadi yang mulai berkembang, mereka tidak lagi menjadi anak-anak tetapi sudah berkembang dan tumbuh pada tingkat dewasa.
Semua perubahan dan perkembangan yang terjadi memerlukan penyiapan yang besar sehingga anak atau
remaja siap dan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi.
Menurut Wiknjosastro (2005) dalam Budiati dan Apriastuti (2012:97) bahwa pada masa anak khususnya anak yang akan menginjak usia remaja putri akan mengalami perubahan fisik yang pesat, yang akan menjadi pertanda biologis dari kematangan seksual. Perubahan ini terjadi pada satu masa transisi antara masa anak-anak dan reproduksi yang disebut pubertas.. Remaja pubertas mengalami perubahan fisik dan psikologis. Psikologis masa pubertas ditandai oleh perubahan sikap dan perilaku seperti kegelisahan karena ketidaksiapan, rasa cemas, malu, dan mulai tertarik pada lawan jenis. Perubahan biologis pada remaja ditandai dengan menstruasi. Perubahan ini menjadi sumber ketidaksiapan terutama pada anak yang akan menginjak usia remaja, yang relatif belum mencapai tahap kematangan mental dan sosial harus menghadapi tekanan emosi yang saling bertentangan. Pada masa pubertas ini remaja sangat membutuhkan pendampingan dari orang tua, di saat ini orang tua harus bisa menjadi teman untuk bertukar pikiran, bukan menjadi seorang sosok yang ditakuti. Orang tua harus bisa menjadi tempat mencari solusi untuk anaknya. Hingga dapat memberikan berbagai
nasehat untuk anaknya dalam menghadapi masa pubertas.
Peran orang tua terutama ibu sangat menentukan proses pencarian harga diri dimasa pubertas.
Menurut hasil riset yang dilakukan oleh Zelnik dan Kim (1982) dalam Helmi dan Paramastri (1998:27) menunjukkan bahwa jika orang tua bersedia mendiskusikan seks dengan anaknya, maka anaknya cenderung menunda perilaku seksual premarital. Demikian juga riset Fisher (1986) menunjukkan remaja cenderung meniru sikap perilaku orang tuanya. Namun sangat disayangkan bahwa informasi yang didapat melalui media massa kadang hanya sepotong-potong dan umumnya hanya menekankan pada seks secara sempit. Padahal masalah seks tidak sesederhana dan sesempit itu.
5) Perekonomian Keluarga
Menurut Desmita (2014:31) Latar belakang ekonomi juga berpengaruh terhadap perkembangan anak. Orangtua yang ekonominya lemah, yang tidak sanggup memenuhi kebutuhan pokok anak-anaknya dengan baik, sering kurang memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak- anaknya. mereka mederita kekurangan secara ekonomis, sehingga menghambat pertumbuhan jasmani dan perkembangan jiwa anak-anaknya. Bahkan tidak jarang
tekanan ekonomi mengakibatkan pada tekanan jiwa, yang pada gilirannya menimbulkan konflik antara ayah dan ibu, antara anak dan orangtua, sehingga melahirkan rasa rendah diri pada anak.
Karenanya, dengan keluarga yang aman dan utuh serta mempunyai kemampuan keuangan yang baik anak- anaknya pun cenderung berkembang dengan baik.
Sayangnya tidak semua keluarga memiliki sumber daya yang memungkinkan orangtua tetap di rumah pada siang hari atau untuk membeli layanan penitipan anak sebaik mungkin. Selain itu tidak semua keluarga mampu mengakses layanan kesehatan yang diperlukan.
Konsekuensi emosional jangka panjang bagi anak-anak yang berasal dari keluarga dengan status sosial ekonomi rendah sangat mungkin memerlukan perhatian yang lebih serius.
6) Jumlah Saudara Dan Kedudukan Anak
Kedudukan anak dalam lingkungan keluarga juga dapat mempengaruhi perkembanganya. Bila anak itu merupakan anak tunggal, biasanya perhatian orangtua akan tercurahkan kepadanya, sehingga ia cenderung memiliki sifat-sifat manja, kurang bisa bergaul dengan teman sebayanya, menarik perhatian dengan cara
kekanak-kanakan dan sebagainya. Sebaliknya seorang anak yang mempunyai banyak saudara, jelas orangtua akan sibuk membagi perhatian terhadap saudara- saudaranya itu, oleh sebab itu anak kedua, ketiga, dan seterusnya dalam suatu keluarga menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dibandingkan dengan anak yang pertama. Hal ini dimungkinkan karena anak-anak yang lebih muda akan banyak meniru dan belajar dari kakak-kakaknya.
7) Keadaan Keluarga
Keadaan keluarga secara pasti mempengaruhi perkembangan anak muda. Menurut Danim (2013:71) bahwa anak laki-laki dan perempuan pada tahun-tahun bersekolah di sekolah dasar termasuk di dalam kelas tidak kebal terhadap stress dari dunia kehidupan mereka.
Pekerjaan rumah(homework) yang diperoleh dari sekolah, kesulitan membantu atau berhubungan dengan teman- teman, perubahan linkungan dan sekolah, orangtua yang bekerja dalam takaran waktu yang panjang sering menimbulkan stress bagi mereka. Hal ini ikut menentukan perkembangan mereka memenuhi insan dewasa. Lebih dari itu sangat disayangkan beberapa anak terkena
penyebab stress yang lebih berat seperti perceraian, kekerasan fisik dan pelecehan seksual.
8) Kebiasaan Di Rumah
Menurut Danim (2013:16) bahwa Peserta didik atau anak-anak pada umumnya memiliki kebiasaan tertentu.
Kebiasaan itu biasanya merupakan fenomena kembar. Ada kebiasaan baik dan ada pula kebiasaan buruk. Ada kebiasaan baik yang sesekali sangat menjengkelkan, ada pula kebiasaan buruk yang dapat diubah menjadi pembelajaran. Kebiasaan yang dimaksud adalah:
a) Kebiasaan tidur
Ada peserta didik yang tidurnya sangat lelap. Ada yang juga gelisah, mimpi buruk,atau bersungut-sungut ketika bangun pagi.
b) Kebiasaan makan
Ada anak yang doyan makan, ada pula yang sulit. Ada yang makannya sangat banyak dan ada pula yang sangat sedikit.
c) Rentang emosi
Ada yang menunjukkan kemarahan, frustasi, kesedihan, kegelisahan, uring-uringan, dan lain sebagainya. Sebaliknya ada yang menunjukkan rasa antusiasme, semangat, cinta kasih, dan sebagainya.
Ada juga yang menunjukkan rentang emosi secara silih berganti, dari yang cenderung negatif kepositif atau sebaliknya.
d) Variasi bermain
Ada anak yang bermainnya berlebihan, ada pula yang kurang waktu atau kesempatan bermain.
e) Respon atas otoritas
Ada anak yang menerima otoritas orang dewasa atau gurunya, ada pula yang memberontak.
f) Rasa ingin tahu
Sering kali peserta didik tertentu kadang-kadang menunjukkan rasa ingin tahu, petualangan, dan bahan cenderung merusak.
g) Minat
Karena adanya perbedaan dalam kemampuan dan pengalaman minat anak yang lebih besar lebih beragam daripada minat anak yang lebih muda.
h) Afeksi spontan (kecintaan antar sesama)
Sebagian anak bisa mengekpresikan afeksi atau kecintaan antar sesama secara spontan dan bertanggungjawab, namun sebagian lagi cendeung tidak peduli dengan sesama, bahkan mengesankan antisosial.
i) Kenikmatan hidup
Sebagian besar anak atau peserta didik meikmati “hal- hal yan baik dalam hidup ini” sebagian lagi kurang merasakannya.
9) Pendidikan Agama Di Rumah
Menurut Subur (2016:175) bahwa pendidikan agama Islam merupakan pendidikan yang sangat penting, sehingga orang tua harus mampu mengarahkan pendidikannya di bidang keagamaan. Seorang anak sejak dini harus mampu membaca Alqur‟an, sudah bisa melaksanakan shalat, puasa dan sebagainya. Orang tua berkewajiban membahagiakan anak-anak mereka di dunia dan di akhirat dengan memberinya pendidikan agama Islam sesuai dengan ketentuan Allah sebagai tujuan akhir hidup seorang muslim.
Menurut Nya Dhin (2013:106) bahwa pada masa pubertas selain terdapat ciri-ciri perkembangan fisik dan mental yang selalu menjadi momok bagi mereka, juga sering mengalami hambatan dan rintangan dalam meraih sesuatu yang ingin dicapainya, berikut ini ada lima ciri umum yang sering dihadapi remaja yang baru menanjak masa dewasa di antaranya:
a) Kegelisahan
Keadaan yang tidak tenang menguasai diri mereka, akibatnya banyak macam keinginan yang tidak selalu terpenuhi. Di satu pihak ingin mencari pengalaman, karena diperlukan untuk menambah pengetahuan. Di pihak lain mereka merasa belum mampu melakukan berbagai hal. Akibatnya mereka selalu dikuasai perasaan gelisah karena keinginan-keinginannya yang tidak tersalurkan.
b) Pertentangan
Pertentangan-pertentangan yang terjadi di diri mereka juga menimbulkan kebingungan baik bagi diri mereka maupun orang lain. Pada umumnya terjadi perselisihan dan pertentangan pendapat serta pandangan antara remaja dan orang tua. Selanjutnya pertentangan ini menyebabkan timbulnya keinginan untuk memisahkan diri dengan orang tua. Akan tetapi mereka tidak berani mengambil resiko karena belum mempunyai kesanggupan untuk berdiri sendiri.
c) Berkeinginan besar untuk mencoba segala hal yang belum diketahui nya
Mereka ingin mengetahui macam-macam hal melalui usaha-usaha yang dilakukan dalam berbagai bidang.
Karena mereka ingin mencoba apa yang dilakukan oleh
orang dewasa, seperti remaja pria mencoba merokok secara sembunyi-sembunyi, seolah-seolah ingin membuktikan apa yang ia lakukan itu perbuatan orang dewasa, begitu pula dengan remaja putri yang mulai bersolek menurut metode dan kosmetik terbaru, walaupun sekolah-sekolah mengeluarkan larangan penggunaan kosmetik atau make up di lingkungan sekolah.
d) Keinginan mencoba sering pula diarahkan pada diri sendiri maupun orang lain
Keinginan mencoba ini tidak hanya dalam bidang penggunaan obat-obatan akan tetapi meliputi juga segala hal yang berhubungan dengan fungsi-fungsi ketubuhan, akhirnya penjelajahan ketubuhan bisa menyebabkan kehamilan, yang dapat menghentikan karier dan prestasi sekolah yang justru diidamkan oleh setiap pemuda-pemudi.
e) Menghayal dan berfantasi
Khayalan dan berfantasi pada remaja putra berkisar mengenai prestasi dan tangga karier. Pada remaja putri terlihat banyak sifat perasa, sehingga sering terlihat berisikan romantika hidup. Hayalan dan fantasi tidak selalu bersifat negatif, karena di pihak lain dianggap
sebagai suatu pelarian dari situasi dan suasana yang tidak memuaskan remaja.
Dengan demikian, pada masa pubertas anak mempunyai ciri fisik dan kejiwaan tersendiri dan berkembang seiring dengan perkembangan serta pertumbuhan.
Pelaksanaan pendidikan tidak hanya terfokus terhadap aspek kognitif peserta didik , seperti kita dapat dilihat dari contoh-contoh soal agama Islam yang diberikan untuk tes di sekolah dan kurang memberikan tekanan pada aspek afektif dan psikomotorik, hal ini dikarenakan pelajaran budi pekerti dan akhlak bathiniyah kurang begitu ditanamkan oleh para pendidik agama di sekolah-sekolah formal maupun oleh para orang tua di rumah.
Dengan demikian, apa yang dikenal dengan pendidikan agama Islam di negeri kita, adalah merupakan bagian dari pendidikan Islam, di mana tujuannya adalah membina dan mendasari kehidupan peserta didik dan nilai- nilai agama dan sekaligus mengajarkan ilmu agama Islam, sehingga ia mampu mengamalkan syariat Islam secara benar sesuai pengetahuan agama.
b. Lingkungan Masyarakat
Menurut Fathurrohman (2016:390) bahwa masyarakat diartikan sebagai kumpulan orang yang menempati suatu
daerah, diikat oleh pengalaman-pengalaman yang sama, memiliki persesuaian dan sadar akan kesatuannya serta dapat bertindak bersama untuk mencukupi krisis kehidupannya.
Masyarakat juga dapat diartikan sebagai suatu bentuk tata kehidupan sosial dengan tata nilai dan tata budaya sendiri.
Dalam arti ini masyarakat adalah wadah dan wahana pendidikan, medan kehidupan manusia yang majemuk (plural:
agama, suku, kegiatan kerja, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi dan sebagainya). Manusia berada dalam multi kompleks antara hubungan dan antara aksi di dalam masyarakat. Perlakuan masyarakat dapat mempengaruhi harga diri seseorang. Bila sudah mendapat cap buruk dari masyarakat, sulit bagi seseorang untuk mengubah gambaran harga dirinya yang jelek. Lebih parah lagi bila hidup di masyarakat yang diskriminatif dimana dikenal istilah mayoritas dan minoritas.
1) Keadaan Sosial
Lingkungan bisa di bilang tempat tinggal dan tempat bermain. Di dalam lingkungan akan banyak sekali hal-hal yang seringkali terjadi yang tak terduga dan akan memberikan pelajaran-pelajaran berharga. Seorang bayi yang berusia balita, seringkali meniru orang-orang di sekitarnya. Maka dari itu, sangatlah mengkhawatirkan
apabila lingkungan rumah adalah lingkungan yang kasar dan kurang baik sehingga balita akan meniru perkataan dan prilakunya . Tugas orang tua adalah harus bisa meminimalisir kejadian-kejadian tersebut agar tidak terjadi.
Faktor keadaan sosial, misalnya, siswa yang tinggal di kota lebih cepat mengalami pubertas. Contoh lain, beban mental; siswa yang tertekan psikisnya akan terlambat mengalami pubertas.
Tetapi selain dampak negatif tersebut, juga ada dampak negatif lain. Seperti fashion dan style yang sering di gunakan terutama pelajar kaum hawa, mereka seringkali berpenampilan seperti layaknya tante-tante usia di atas 20 tahun padahal umur mereka yang masih sangat muda sebenarnya belum pantas dan belum layak untuk berpenampilan seperti itu. Hal tersebut adalah dampak kedewasaaan siswa yang terjadi secara riil yang terjadi di lingkungan kita.
2) Tekanan Teman Sebaya/Sepermainan
Menurut Danim (2013:70) bahwa banyak para ahli psikologi perkembangan atau pengamat perkembangan anak mempertimbangkan tekanan teman sepermainan (peer pressure) membawa konsekuensi negatif dan hubungan persahabatan secara sekaligus dari rekan
mereka. Peserta didik yang paling rentan terhadap tekanan teman biasanya memiliki harga diri yang rendah. Peserta didik mengadopsi norma-norma kelompok itu sebagai milik mereka dalam upaya untuk menngkatkan harga dirinya.
Ketika peserta didik tidak mampu menolak pengaruh rekan- rekan mereka, terutama dalam situasi ambigu atau membingungkan, mereka mungkin mulai merokok, minum alkohol, mencuri, atau mengasingkan diri dari teman- temannya. Peserta didik yang menolak tekanan teman sebaya sering kali tidak populer.
3) Media massa
Media massa sekarang menjadi sangat berpengaruh bagi siswa, dapat dikatakan media massa kini menjadi salah satu lingkungan sosial yang juga memberikan banyak informasi. Televisi sebagai salah satu media yang berpengaruh terhadap perkembangan sosial siswa, juga selain itu seiring perkembangan zaman kini internet pun masuk dalam dunia siswa. Hal tersebut sudah menjadi sebuah fenomena, dalam hal ini ada dua dampak yang muncul yaitu dampak positif dan dampak negatif.
Dampak positifnya, media tersebut dapat menjadi sumber informasi bagi siswa, menyajikan program-program yang memotivasi dan memberi model-model perilaku prososial.
Dan dampak negatifnya, terkadang dapat menjauhkan mereka dengan lingkungan di dunia nyata, seperti menjauhkan mereka dari pekerjaan rumah, mereka cenderung menjadi pasif, mengajarkan mereka berbagai stereotif, memberi mereka model-model agresi (kekerasan) dan dapat menjadikan mereka terobsesi dengan pandangan yang tidak realistis tentang dunia.
Faktor utama yang memicu pubertas dini siswa-siswa, terjadi akibat seringnya seorang siswa menonton adegan yang berbau pornografi seksual, tanpa ada yang mendampingi dan membimbingnya. Tontonan sinetron yang berbau pacaran, erotisme, pornografi, serta film dewasa yang dibungkus dalam bentuk kartun, film siswa yang dibumbui percintaan, game siswa baik offline maupun online seperti GTA yang mempertontonkan adegan seksual pada siswa, DVD porno, komik-komik bergambar pornografi, dan lain-lain, akan merangsang kematangan seksual pada siswa.
Hal ini dimungkinkan, karena otak siswa bagian atas terdiri dari dua bagian yang disebut belahan kiri dan belahan kanan. Belahan kiri itu untuk berpikir sains analisis, dan belahan kanan untuk berfikir fantasi atau imajinasi.
Pada masa siswa-siswa, umumnya yang lebih aktif dan
berkembang pesat adalah otak bagian belahan kanan yang bersifat fantasi. Jadi sangat wajar, apabila tontonan yang memuat konten pornografi ditonton oleh siswa usia dini, maka otak fantasinya akan membantu dan mendorong hormon seksualnya tumbuh lebih cepat dan lebih dini dari yang semestinya.
4) Pelecehan Seksual
Pelecehan seksual adalah segala macam bentuk perilaku yang berkonotasi atau mengarah kepada hal-hal seksual yang dilakukan secara sepihak dan tidak diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran sehingga menimbulkan reaksi negatif seperti malu, marah, benci, tersinggung, dan sebagainya pada diri individu yang menjadi korban pelecehan tersebut. Rentang pelecehan seksual ini sangat luas, yakni meliputi: main mata, siulan nakal, komentar berkonotasi seks atau gender, humor porno, cubitan, colekan, tepukan atau sentuhan di bagian tubuh tertentu, gerakan tertentu atau isyarat yang bersifat seksual, ajakan berkencan dengan iming-iming atau ancaman, ajakan melakukan hubungan seksual hingga perkosaan. Pelecehan seksual bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.
Meskipun pada umumnya korban pelecehan seksual adalah kaum perempuan bukan berarti bahwa kaum pria kebal (tidak pernah mengalami) terhadap pelecehan seksual. Pengertian lain pelecehan seksual adalah tindakan yang mengganggu,menjengkelkan, dan tidak diharapkan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang terhadap pihak lain, yang berkaitan langsung dengan jenis kelamin pihak yang diganggunya dan dirasakan menurunkan martabat dan harkat diri orang yang diganggunya. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (2012:8).
c. Lingkungan Sekolah
Pada dasarnya sekolah harus merupakan suatu lembaga atau lingkungan yang membantu tercapainya cita- cita keluarga dan masyarakat. Di sekolah para peserta didik mempelajari apa yang tidak dapat diajarkan orang tua di rumah, berupa pengetahuan dan keterampilan. Di sini anak- anak diajarkan mematuhi aturan-aturan yang telah ditetapkan dan diterapkan secara ketat disertai dengan sanksi terhadap setiap pelanggaran yang dilakukan, penanaman disiplin, waktu belajar diatur secara terjadwal.
Hal seperti ini jarang atau bahkan tidak ditemukan di dalam keluarga. Ini menyebabkan banyak anak di awal tahun pertama masuk sekolah kaget dan stres, karena suasana
sekolah sangat berbeda dengan suasana di dalam keluarga.
Kenyataan ini menyebabkan perlunya hubungan antara keluarga dan sekolah sebagai lingkungan dan lembaga pendidikan perlu menjalin hubungan, kemitraan. Orang tua harus mengenal anaknya, sekolahnya, dan guru anaknya, Keadaan ini biasanya diketahui orang tua dari (a) daftar nilai, (b) surat peringatan, (c) kunjungan kepada guru di sekolah, (d) pertemuan dengan orang tua murid, dan (e) guru memahami murid-murid.
1) Ketertarikan Untuk Berteman
Di sekolah, siswa-siswa menghabiskan bertahun- tahun waktunya sebagai anggota dari satu masyarakat terkecil yang memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap perkembangan sosio-emosional mereka. Dalam setiap kelas yang kita ajar, beberapa siswa akan memiliki keterampilan sosial yang lemah, satu atau dua siswa mungkin siswa-siswa yang ditolak, beberapa siswa yang lain mungkin adalah siswa-siswa yang terabaikan.
Ingatlah memperbaiki keterampilan sosial adalah lebih mudah ketika siswa-siswa berusia 10 tahun atau lebih mudah. Siswa akan mengenal sekolah sebagai tempat berkumpulnya siswa-siswa dari berbagai latar belakang kehidupan. Siswa yang sebelumnya belum saling
mengenal, beberapa hari kemudian akan saling mengenal satu sama lain, terutama siswa-siswa yang berada dalam satu kelas. Rasa kesendirian mulai menjauhi siswa dan berubah menjadi kehidupan sekolah yang menyenangkan.
Begitulah perubahan pergaulan siswa di sekolah. Pada permulaan sekolah lebih banyak menuntut siswa untuk mengembangkan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sekolah.
2) Persahabatan
Dalam konteks perkembangan siswa, teman sebaya adalah siswa-siswa dengan usia atau tingkat kedewasaan yang kurang lebih sama. Interaksi teman sebaya yang memiliki usia yang sama memainkan peran khusus dalam perkembangan sosio-emosional siswa-siswa. Salah satu fungsi yang paling penting dari teman sebaya adalah untuk memberikan sumber informasi dan perbandingan tentang dunia di luar keluarga.
Menurut Danim (2013:69) bahwa persahabatan khususnya persahabatan bagi anak sesama jenis merupakan fenomena umum yang dilakukan oleh anak- anak usia sekolah dasar. Bagi peserta didik jenjang sekolah dasar teman berfungsi sebagai teman sekelas, sepetualang, tempat curahan hati, dan sebagai pantulan
kepribadian. Teman juga berfungsi saling membantu untuk mengembangkan harga diri dan rasa kompetensi dalam dunia sosial, termasuk di lingkungan sekolah.
Peserta didik laki-laki dan perempuan mengambil manfaat besar dalam hubungan pertemanan mereka, termasuk dalam kerangka kepentingan pergaulan sosial yang lebih besar. Di antara mereka pun terdapat perbedaan usia ukuran tinggi badan, gemuk dan langsing, periang atau cenderung melankolis dan sebagainya. Mereka sama- sama memiliki peluang besar untuk menikmati kegiatan kelompok, seperti skating, naik sepeda, bermain di rumah, dan membangun kekuatan bersama. Hubungan mereka dengan teman sepermainannya juga dapat menyebabkan penyesuaian bagi berkembangnya keprihatinan dan kekhawatiran atas popularitas.
2. Pubertas a. Pengertian
Elizabert b. Hurlock (1997:186) mengatakan bahwa kriteria yang paling sering digunakan untuk menentukan timbulnya pubertas dan memastikan tahap pubertas yang telah dicapai adalah haid dan basah malam (mimpi basah) bukti yang diperoleh dalam analisis kimia terhadap air seni dan foto sinar-x dari perkembangan tulang.
Haid pertama sering digunakan sebagai kriteria kematangan seksual anak perempuan, tetapi itu bukanlah perubahan fisik pertama dan terakhir selama masa puber. Bila haid terjadi organ seks dan ciri-ciri seks sekunder semua sudah mulai berkembang, tetapi belum ada yang matang.
Bagi anak laki-laki kriteria yang dipakai adalah basah malam, selama tidur penis kadang menjadi tegang dan bibit atau cairan yang mengandung sperma dipancarkan. Ini merupakan cara yang normal bagi organ reproduksi pria untuk membebaskan diri dari jumlah bibit yang berlebihan. Namun tidak semua menyadarinya. Selanjutnya basah malam seperti haid, terjadi setelah beberapa perkembangan pubertas terjadi dan karenanya tidak dapat digunakan sebagai kriteria yang tepat untuk menentukan terjadinya pubertas.
Menurut Desmita (2014:75) bahwa masa akhir usia sekolah anak segera memasuki masa yang disebut dengan
“pubertas” (berasal dari bahasa latin “pubescere” artinya mendapat rambut kemaluan), yakni masa awal terjadinya pematangan seksual. Dalam rangkaian proses perkembangan seseorang, masa puber tidak mempunyai tempat yang jelas.
Sulit membedakan antara masa puber dengan masa remaja karena masa puber adalah bagian dari masa remaja dan pubertas sering dijadikan sebagai pertanda awal seseorang
memasuki masa remaja. Ketika anak mengalami masa pubertas, berarti dia sudah dianggap memasuki masa remaja, yakni masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.
Waktu datangnya masa pubertas tidak dapat diketahui secara pasti. Ada anak-anak yang memulai masa pubertasnya pada usia yang lebih awal dan ada pula yang lebih belakangan. Biasanya, anak perempuan mulai memasuki masa pubertas lebih awal 2 tahun dibandingkan dengan anak laki-laki. Menurut sejumlah ahli perkembangan, pada anak perempuan pubertas terjadi sekitar usia 10 tahun, sedangkan pada anak laki-laki terjadi pada usia sekitar 12 tahun.
Sebelum mencapai usia pubertas, perlu diketahui anak bahwa organ reproduksi kelak akan mengalami suatu perubahan. Perubahan tersebut diatur oleh hormon seks.
Hormon estrogen dan progesteron dominan pada remaja perempuan dan testosteron pada remaja laki-laki. Peran penting orangtua atau dewasa di lingkungannya dalam berkomunikasi dan proaktif memberikan penjelasan sebaik- baiknya mengenai segala bentuk perbedaan organ reproduksi pada saat anak menjelang remaja.
Anak cenderung merasa ingin dihargai, diperhatikan, membutuhkan tempat untuk berkeluh kesah, butuh perasaan
diterima di sekolah, lingkungannya maupun keluarga, butuh dukungan dan butuh pengarahan akan masa puber yang dialaminya dan perkembangan organ reproduksinya.
Penyebab munculnya Pubertas adalah hormon yang dipengaruhi oleh Hipofisis (pusat dari seluruh sistem kelenjar penghasil hormon tubuh). Berkat kerjasama hormon ini, remaja memasuki masa pubertas sehingga mulai muncul ciri- ciri yang dapat membedakan antara perempuan dan laki-laki.
Pubertas terjadi karena tubuh mulai memproduksi hormon- hormon seks sehingga alat reproduksi telah berfungsi dan tubuh mengalami perubahan. Sebelum mencapai usia Pubertas, perlu diketahui anak bahwa organ reproduksi kelak akan mengalami suatu perubahan. Pada anak perempuan ditandai dengan menstruasi pertama kali (Menarche) dan pada anak laki-laki ditandai dengan mimpi basah yang pertama kali.(Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, 2013: 8).
Menurut Jayusman (2014:147) bahwa dalam ilmu kesehatan, pembahasan menarche dini ini erat kaitannya dengan pembahasan pubertas sebelum usia normal yang disebut pubertas dini atau pubertas prekoks (precocious puberty). Anak yang memiliki pubertas dini sudah mulai menunjukkan tanda-tanda pubertas, meskipun misalnya
usianya baru 5 tahun.Diperkirakan bahwa sekitar 1 dari 5.000 anak mengalami pubertas dini, sepuluh kali lebih sering terjadi pada anak perempuan dibandingkan anak laki-laki. Secara umum anak-anak sekarang lebih cepat memulai pubertas dibandingkan generasi kakek-nenek mereka, meskipun tidak semuanya dikategorikan pubertas dini.
Pubertas dini dapat disebabkan oleh penyebab tertentu atau tanpa sebab lain. Kondisi yang dapat menyebabkan pubertas dini adalah masalah struktural dalam otak (misalnya tumor), cedera otak akibat trauma kepala, infeksi (seperti meningitis), masalah di indung telur, atau tumor kelenjar adrenal/kelenjar pituitari/kelenjar tiroid.
Paparan terhadap hormon seks seperti krim/salep estrogen atau testosteron, atau zat lain yang mengandung hormon tersebut seperti obat-obatan atau suplemen untuk orang dewasa juga dapat meningkatkan risiko anak mengalami pubertas dini.
Tahap pubertas menurut Hurlock (1997:185) : 1) Tahap Prapuber
Tahap ini bertumpang tindih dengan satu atau dua tahun terakhir masa kanak-kanak pada saat anak dianggap sebagai “prapuber” yaitu bukan lagi seorang anak tetapi belum juga seorang remaja. Dalam tahap prapuber (atau