BAB II
TINJAUAN UMUM LAPANGAN
2.1. Letak Geografis Lapangan “X”
Lapangan X merupakan salah satu dari lapangan produktif di area operasi Barat yang terletak ± 10 KM sebelah timur Kota Bekasi. Secara geografis letak lapangan X berada di koordinat 10701’ 38“, 752” BT dan 607’ 58,773” LS. Desa Kedungjaya, Kecamatan Babelan, Luas lapangan X adalah 42.521 m2 ditambah buffer zone seluas 49.673 m2. Peta Lapangan X disajikan pada Gambar 2.1.
2.2. Struktur Geologi dan Statigrafi Lapangan 2.2.1. Struktur Geologi Lapangan “X”
Sejarah tektonik Lapangan X yaitu pada Cekungan Jawa Bagian Barat Utara, tidak terlepas dari tektonik global Indonesia bagian barat.Tatanan tektonik yang terjadi dapat dijelaskan dengan active margin system. Elemen tektonik utamanya adalah adanya penunjaman Lempeng Hindia, zona subduksi dan busur magmatik (magmatic arc).
Berawal dari zaman akhir kapur hingga awal tersier, Jawa Barat Utara dapat diklasifikasikan dalam cekungan busur depan (fore arc basin) dengan dijumpainya orientasi struktur mulai dari Ciletuh, Sub Cekungan Bogor, Jatibarang, Cekungan Muriah dan Cekungan Florence Barat yang mengindikasikan kontrol Tren Meratus. Pada waktu Paleogen (Eosen–Oligosen), daerah Jawa Barat mengalami sesar geser yang pada akhirnya membentuk Cekungan Jawa Barat Utara sebagai pull apart basin. Pada fase ini terjadi proses pelebaran (extensional rifting) dan membentuk sesar-sesar bongkah (half graben system). Half graben sistem membentuk daerah Tinggian Pamanukan, Rendahan
Ciputat, Rendahan Pasir Putih, Rendahan Jatibarang dan Rendahan Cemara.
Proses tektonik terus berlanjut dengan terjadinya proses pengangkatan pada Kala Oligosen–Intra Miosen yang menyebabkan timbulnya perubahan muka air laut dan membentuk Tinggian Tambun-Rengasdengklok, Tinggian Cilamaya dan
Rendahan Kandanghaur. Pada akhir kala ini pola sesar yang umum dijumpai berupa sesar normal berarah utara–selatan yang dinamakan Pola Sesar Sunda.
Fase tektonik kedua terjadi pada permulaan Neogen (Oligosen–Miosen) dimana jalur penunjaman baru terbentuk di selatan Jawa. Jalur vulkanik periode Miosen awal pada waktu sekarang ini terletak di lepas pantai Selatan Jawa.
Deretan gunung api ini menghasilkan endapan gunung api bawah laut yang sekarang disebut andesit tua, tersebar sepanjang selatan Pulau Jawa. Pola tektonik ini disebut pola tektonik Jawa yang merubah pola tektonik tua yang terjadi sebelumnya menjadi berarah barat–timur yang menghasilkan suatu sistem sesar naik dimulai dari selatan (Ciletuh) bergerak ke utara. Pola sesar ini sesuai dengan sistem sesar naik belakang busur (thrust foldbet system). Pada fase ini terjadi proses kompresi yang membentuk perangkap-perangkap struktur di seluruh Jawa Barat Utara. Akibat terbentuknya perangkap-perangkap struktur pada Kala Miosen Akhir terjadi proses migrasi hidrokarbon yang telah matang.
Fase tektonik akhir yang terjadi adalah pada Pliosen–Pleistosen, dimana terjadi proses kompresi kembali dan membentuk perangkap-perangkap struktur berupa sesar-sesar naik di jalur selatan Cekungan Jawa Barat Utara. Sesar-sesar naik yang terbentuk adalah sesar naik Pasirjadi dan sesar naik Subang, sedangkan di jalur utara Cekungan Jawa Barat Utara terbentuk sesar turun berupa Sesar Turun Pamanukan. Akibat adanya perangkap struktur tersebut terjadi kembali proses migrasi hidrokarbon. Struktur Geologi Cekungan Jawa Barat Utara disajikan pada Gambar 2.2
2.2.2. Stratigrafi Lapangan ”X”
Stratigrafi Lapangan ”X” termasuk kedalam stratigrafi regional cekungan
Jawa Barat Utara. Garis besar stratigrafi cekungan Jawa Barat Utara didasarkan urutan yang berumur tua ke muda adalah sebagai berikut ( Gambar 2.3 )
a. Batuan Dasar Pra Tersier
Batuan ini terdiri dari beragam lithologi berumur pra tersier yaitu, batu sabak berumur trias bawah, tufa dan genesis yang diintrusi oleh granit, granodiorit dan zenit berumur kapur tengah-kapur atas.
b. Formasi Vulkanik Jatibarang
Formasi ini menutup batuan dasar secara tidak selaras, terdiri dari batuan vulkanik, yaitu ; tufa berwarna putih sampai abu-abu kehijauan, umumnya terdiri dari plagioklas dan mineral-mineral gelap, sedikit kapuran, sedikit piritan. Terdapat sisipan tufa serfihan berwarna hitam sampai hitam abu-abu mengandung dua jenis batuan cadangan yaitu :
1. Tufa rekahan (fracture tuff), yang ditembus oleh sumur-sumur Jatibarang dan sumur lepas pantai.
2. Tufa serpihan dengan sisipan batuan konglomerat, yang berkembang dilapangan Cemara Selatan.
c. Formasi Cibulakan
Terdiri dari dua lapisan Cibulakan bawah dan Cibulakan atas.
Lapisan Cibulakan Bawah
Anggota Cibulakan bawah terdiri dari Formasi Talang Akar (TAF) dan Formasi Baturaja (BRF). Formasi Talang Akar diendapkan secara tidak selaras diatas Formasi Vulkanik Jatibarang dan kadang dijumpai juga diatas batuan dasar, batuannya serpih berselang-selang dengan batu pasir yang mengandung sisipan lanau dan batubara. Pada Cekungan Jawa Barat Utara batuan ini hanya menjadi unit terbawah dari Anggota Cibulakan Bawah dengan ketebalan sedimen hingga lebih dari 300 m.
Lebih keatas dari TAF, lithologinya berangsur-angsur berubah menjadi batu gamping yang dibeberapa tempat berkembang sebagai terumbu.
Bagian atas dari Anggota Cibulakan Bawah ini dikenal sebagai formasi Baturaja.
Lapisan Cibulakan Atas
Anggota Cibulakan Atas tersusun oleh serpih, lanau dan batupasir halus. Di beberapa tempat bagian bawah didapati batu gamping terumbu yang merupakan salah satu penghasil hidrokarbon dan dikenal sebagai zona 16. Beberapa lensa batu gamping yang juga berperan sebagai batuan
cadangan terdapat dibagian atas, diantaranya yaitu zona 14 dan zona 15.
Ketebalan lapisannya lebih dari 300 m.
d. Formasi Parigi
Formasi Parigi terletak selaras diatas Formasi Cibulakan. Lithologinya terdiri dari batu gamping jenis biostrom yang tebalnya antara 10-50 meter dan bioherm dengan ketebalan antara300-500 meter. Lingkungan pengendapannya adalah laut dangkal dengan arah penyebaran relatif sejajar dengan penyebaran satuan Formasi Baturaja. Penyebaran sediment tertebal dari Formasi Parigi terletak tepat diatas penyebaran sediment tertipis dari Formasi Baturaja.
Formasi Parigi memiliki cukup banyak cadangan gas, namun pada formasi ini banyak dijumpai lapisan yang sangat potensial untuk terjadi hilang lumpur.
e. Formasi Cisubuh
Terdiri dari batupasir, lempung dan serpih yang merupakan hasil pengendapan selama fasa regresi neogen. Lingkungan pengendapan neritik dalam, dangkal terdiri dari batu pasir, lempung dan serpih yang merupakan.
Formasi ini tidak memiliki prospek sebagai penghasil hidrokarbon.
Gambar 2.3. Stratigrafi Cekungan Jawa Barat Bagian Utara ( Data Sumur Lapangan ”X”, 2010)
Gambar 2.1. Peta Lapangan ”X” (Data Sumur Lapangan ”X”, 2010)
CIREBON JAKARTA
BEKASI PAMANUKAN
Lap.Jatibarang
Lap.Randegan Lap.Tugubarat
Lap.Cemara Lap.Waled Lap.Kandanghaur
Lap.Gantar Lap.Subang
Lap.Pegaden Lap.Pasirjadi
Lap.Cicauh Lap.Jatinegara
MB
Lap. RGLNDL
0 10 km
LAUT JAWA
Lap. CDT
Lap. KRB Lap.Tambun
Lap. MLD Lapangan X
The image cannot be displayed. Your computer may not have enough memory to open the image, or the image may have been corrupted. Restart your computer, and then open the file again. If the red x still appears, you may have to delete the image and then insert it again.
Gambar 2.2. Struktur Geologi Cekungan Jawa Barat Utara (Data Sumur Lapangan ”X”, 2010) Gambar 2.2. Struktur Geologi Cekungan Jawa Barat Utara (Data Sumur Lapangan ”X”, 2010) Gambar 2.2. Struktur Geologi Cekungan Jawa Barat Utara (Data Sumur Lapangan ”X”, 2010)
2.3. Karakteristik Reservoir Pada Lapangan “X”
Pada lapangan X terdapat dua formasi yaitu Formasi ”Y” dan Formasi ”T”
2.3.1. Formasi ”Y”
Berdasarkan data yang diperoleh dari data eksplorasi (geologi dan reservoir), diketahui bahwa formasi prospek pada Lapangan “X” Sumur N adalah Formasi ”Y”
yang mempunyai tekanan awal reservoir (Pi) sebesar 2624.7 psi dan tekaan gelembung (pb) 2480 psia., Karakteristik reservoir lain pada Formasi ”B” disajikan pada Tabel II-1.
Tabel II-1. Data geologi pada lapangan X lapisan Y
Parameter Karakteristik ”B” Besaran
Type of Trap Antiklin
Lithologi / Jenis Batuan Batugamping
Temp. rata-rata 238.5 F
Porositas efektif rata-rata( Φ
effektifavg) 8.4%
Saturasi Waterrata-rata( Sw
avg) 28%
Permeabilitas rata-rata (k
avg) 138mD
Berdasarkan hasil analisa PVT sifat fisik fluida reservoir batugamping (B) pada Pr = 2360.5psi disajikan pada Tabel II-2.
Tabel II-2. Data fluida & feservoir lapangan X lapisan Y Parameter Sifat Minyak Besaran
0
API 35.3
Viscositas minyak
o0.169cp
Berat jenis API 0.8494
Faktor volume formasi minyak (Boi) 1.6 Rb/stb
Mekanisme Pendorong Solution Drive
2.3.2. Formasi ”T”
Berdasarkan data yang diperoleh dari data eksplorasi (geologi dan reservoir), diketahui bahwa formasi prospek pada Lapangan “X” Sumur T-008 adalah Formasi
”B” yang mempunyai tekanan awal reservoir (Pi) sebesar 6,275.00psi dan tekaan gelembung (pb) 4,700.00 psia., Karakteristik reservoir lain pada Formasi ”B”
disajikan pada Tabel II-3.
Tabel II-3
Data geologi pada lapangan X formasi T
Parameter Karakteristik ”B” Besaran
Type of Trap Antiklin
Lithologi / Jenis Batuan Sandstone
Temp. rata-rata 317 F
Porositas efektif rata-rata(Φ
effektifavg) 14 % Saturasi Waterrata-rata( Sw
avg) 60 % Permeabilitas rata-rata (k
avg) 125 mD
Berdasarkan hasil analisa PVT sifat fisik fluida reservoir batugamping (T) pada Pr = 6,275psi disajikan pada Tabel II-4.
Tabel II-4
Data fluida & reservoir lapangan X formasi T Parameter Sifat Minyak Besaran
0
API 40.31
Viscositas minyak
o0.027cp
Berat jenis API 0.8200
Faktor volume formasi minyak (Boi) 1.3 Rb/stb
Mekanisme Pendorong Solution Drive
2.4. Sejarah Produksi Lapangan “X”
Gambar 2.4. Sejarah produksi lapangan “X”
Lapangan X berproduksi dari bulan Agustus 2002 sampai dengan bulan Januari 2011 dengan produksi kumulatif 579785702.54 BOPM, dengan data OOIP sebesar 273925 MSTB dan qlimit sebesar 3 bopd.
2.4.1. Sejarah Perlakuan Sumur N-41
Tajak lokasi N-C/7 sebagai sumur N-41. (24 Oktober 2008) Perforasi lapisan
Y selang : 1867 - 1873 mku. Masuk RPP tubing 2-7/8", N-80, 6.5 ppf, EU, BTC R2 +
packer 7" single grip (UR di 1854 mku, packer di 1845 mku). Uji produksi lapisan Y interval 1867 - 1873 mku :
Tabel II-5. Data uji produksi lapisan Y pada pengoperasian perforasi.
Lu Jam
JEP mm
GROSS blpd
NETT bopd
Q.GAS Mmscfd
KA
%
TKS TKT TFL SEP TEMP
O
C Psi
2 13 416 183 0.8577 66 - 220 80 40
2 13 463 227 0.7683 51 - 230 75 40
2 13 363 199 0.9191 45 - 230 75 40
2 13 363 211 0.9518 42 - 230 75 40
2 11 340 204 0.7786 40 - 290 65 40
Rig release tanggal 28 Oktober 2008 sumur N-41 diselesaikan sebagai sumur penghasil minyak dan gas pada lapisan Y selang : 1867 - 1873 mku.
Reparasi semen desak selang 1867-1873 mku , Buka interval 1849.5 - 1850.5 m , semen desak untuk perbaikan bonding. Perforasi selang 1857 - 1863 mku, swab sumur kum 280.43 bbl (99% air), rig-up CTU unload dengan N2, hasil total volume 154.35 bbl, kadar air 99.9%. Cabut RPP squeeze interval 1857 - 1863 mku. Bor semen sampai 1883 mku. Perforasi selang 1867 - 1873 m. . Masuk rangkaian ESP + Tubing 2-7/8" EUE sampai 1810.65 m. Set Pompa ESP di kedalaman 1801.18 m. Uji produksi :
Tabel II-6. Data uji produksi pada pemasangan ESP.
Lu Jam
JEP mm
GROSS blpd
NETT bopd
Q.GAS Mmscfd
KA
%
TKS TKT TFL SEP
TEMP
OF Psi