1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Indonesia sebagai negara agraris memiliki potensi sumber daya alam yang banyak salah satunya adalah pertanian, sehingga pertanian memiliki peran penting dalam pembangunan perekonomian nasional karena pada dasarnya semakin banyak jumlah penduduk maka akan semakin banyak pula kebutuhan pangan yang diperlukan( Halim, 2017). Dalam sektor pertanian masih memerlukan pembangunan yang bertujuan mensejahterakan kehidupan petani, mejadikan petrtnian sebagai salah satu lapangan pekerjaan dengan peluang besar, kemudian perubahan yang diharapkan terjadi pada sektor pertanian mewujudkan pertanian yang maju dengan adanya tindakan pembangunan dari pemerintah( Apriadi A., 2017).
Pembangunan ini juga dirmuat di dalam Rencana Strategis Kementrian Pertanian 2020-2024, menyebutkan bahwa pertanian akan berperan untuk penyediaan pangan masyarakat yang bertujuan untuk mewujudkan ketahanan pangan yang termuat di dalam Undang-Undang Nomor 17 tahun 2007 termuat didalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN). Peran pertanian dalam penyumbang pertumbuhan Produk Domestik Bruto di tahun 2019, sebesar 9,41% atau berjumlah 1.490 triliun rupiah dari total seluruh PDB nasional dengan jumlah 15.833,9 triliun rupiah(Kementan, 2020).Luas lahan pertanian di Indonesia ditahun 2019 menurut data dari statistik kementrian pertanian adalah 7,4 juta hektar luas lahan sawah, hal ini menunjukkan adanya peluang yang bisa meningkatkan produktivitas pertanian(Kementan, 2020).
Dalam menunjang peningkatan produktivitas tersebut salah satu nya adalah dengan terpenuhinya kebutuhan pupuk yang mencukupi. Pupuk merupakan penunjang yang memiliki peran sangat penting dalam memberikan harapan keberhasilan pertanian kepada petani dengan pertanian yang berhasil maka
2
tingkat produktivitas pun akan meningkat dan akan memberikan dampak pada berbagai bidang serta kesejahteraan petani itu sendiri.
Pendistribusian pupuk bersubsidi merupakan salah satu pelakasanaan kebijakan turunan dari pemerintah pusat dalam pelaksanaannya yang termuat di dalam Peraturan Menteri Pertanian No. 01 Tahun 2020 tentang alokasi dan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi sektor pertanian.
Disebutkan dalam peraturan tersebut pupuk bersubsidi merupakan barang dalam pengawasan yang pengadaan dan penyalurannya mendapat subsidi dari pemerintah untuk kebutuhan petani di sektor pertanian (R.I, 2020). Kebijakan pemberian subsidi pupuk ini sendiri sudah di mulai sejak tahun 1970-an yang dimana bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan serta ketahanan pangan, tetapi hingga saat ini masih terdapat kesulitan bagi para petani untuk mendapatkannya.(Sukolilo, 2017)
Pelaksanaan kebijakan pendistribusian pupuk bersubsidi juga merupakan bentuk dari desentralisasi yakni penyerahan urusan antar pemerintahan dari pemerintah pemerintah pusat kepada pemerintah daerah otonom berdasarkan asas otonom sebagaimana yang di sebutkan dalam Undang-Undang No 23, tahun 2014 . Hal ini berkaitan dengan pelaksanaan desentralisasi secara fungsional dari Kementrian Pertanian dalam pelaksanaannya kepada pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur untuk melanjutkan tugas pemerintah terkait dengan dilaksanakannya kebijakan pendistribusian pupuk bersubsidi.
Dasar hukum lain yang menjadi landasan pelaksanaannya adalah Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang pemerintah daerah, dimana kebijakan ini sendiri di limpahkan pelaksanaannya kepada gubernur dan bupati / walikota, yang di biayai oleh APBN. Penyelenggaraan kebijakan ini dilaksanakan dengan menurut asas otonomi daerah meliputi tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya sesuai dengan sistem negara kesatuan republik Indonesia.(R.I, 2014). Pelaksanaan desentralisasi
3
menjadi dasar untuk menindaklanjuti implementasi kebijakan ini dengan di keluarkannya Keputusan Kepala Dinas Provinsi dan Keputusan Kepala Dinas Kabupaten/Kota di masing-masing wilayahnya sebagai petunjuk bagi produsen, distributor dan pengecer yang bertanggungjawab di wilayahnya(Kementan, 2020).
Kabupaten Kotawaringin Timur merupakan salah satu pelaksana kebijakan penyaluran pupuk bersubsidi ini, instansi yang bertanggungjawab untuk menangani kebijakan ini adalah Dinas Pertanian Kabupaten Kotawaringin Timur hal ini dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kotawaringin Timur Tahun Anggaran 2020 Nomor : 520 / 033 /DISTAN-05 / I / 2020 Tentang alokasi dan harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi untuk sektor pertanian tahun anggaran 2020(Kotim, 2020).
Petani yang berhak mendapatkan pupuk bersubsidi adalah petani yang bergabung di dalam kelompok tani karena kebijakan pupuk bersubsidi ini tidak di peruntukan kepada perusahaan, luas maksimal yang boleh dimiliki petani adalah seluas 2 hektar. Pengajuan kelompok tani kemudian di sesuaikan dengan kegiatan usaha tani dengan format RDKK(Kementan, 2020).
Kelompok tani meurpakan perkumpulan dari para petani yang di bentuk dengan kesamaan tujuan, keadaan lingkungan, ekonomi, dan ketersediaan sumberdaya, dan kesamaan komoditas yang bertujuan untuk meningkatkan usaha dari tiap-tiap anggotanya(Kementan, 2020)
Rencana Defintif Kebutuhan Kelompok(RDKK) merupakan rencana terkait dengan kebutuhan pupuk bersubsidi yang di butuhkan untuk satu tahun kedepan yang dalam penyusunannya dilakukan dengan cara musyawarah oleh kelompok tani atau bisa di katakan sebagai prosedur untuk pemesanan pupuk yang kemudian diserahkan kepada gabungan kelompok tani atau pihak yang menyalurkan sarana untuk produksi pertanian yang penetapanya dilakukan secara manual atau dengan menggunakan elektronik (Suryana, 2016).
4
Pekerjaan sebagai petani masih menjadi salah satu mata pencaharian utama sebagian penduduk di Kabupaten Kotawaringin Tiumr. Bahkan hingga saat ini luas pertanian padi semakin meningkat hal ini di muat dalam data Badan Statistika Provinsi Kalimantan Tengah.
Tabel1. 1Luas panen, produktivitas dan produksi Padi menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2019
No Kabupaten/Kota Luas Panen (ha)
Produktivitas (ha)
Produksi (ton)
1 Kotawaringin Barat 216,10 29,65 640,75
2 Kotawaringin Timur
20 464,61 28,69 58 761,81
3 Kapuas 61 979,64 32,82 203 408,15
4 Barito Selatan 2 795,12 28,64 8 004,07
5 Barito Utara 3 507,77 26,28 9 218,55
6 Sukamara 1 126,45 28,87 3 251,86
7 Lamandau 5 141,42 35,56 18 285,20
8 Seruyan 4 244,87 24,74 10 502,91
9 Katingan 16 318,21 27,33 44 597,55
10 Pulang Pisau 19 309,00 30,59 59 061,22
11 Gunung Mas 1 557,68 24,51 3 817,57
12 Barito Timur 5 518,73 30,93 17 069,07
13 Murung Raya 3 936,95 17,52 6 897,51
14 Palangkaraya 27,96 32,23 90,11
Kalimantan Tengah 146 144,51 30,35 443 561,33 Sumber: Kalimantan Tengah Dalam Angka Tahun 2020(Badan Pusat
Statistik, 2020)
Melihat data di atas maka bisa di ketahui bahwa Kabupaten Kotawaringin Timur menempati posisi ke tiga dalam menghasilan padi di tahun 2019 dengan menghasilkan produk padi sebanyak 58.716,81 ton dibandingkan Kabupaten lainnya maka bisa dikatakan wajar apabila kebutuhan pupuk juga tinggi. Berdasarkan anjuran dan perhitungan dari PT.Petrokimia Gresik selaku produsen pupuk menyebutkan dalam satu hektar
5
lahan sawah maka di perlukan untuk pupuk urea 200 kilogram, atau NPK 300 kilogram, dan untuk pupuk organik sebanyak 500 kilogram. Tetapi dalam penentuan kebutuhan pupuk masih menyesuaikan dengan keadaan wilayah petani karena hal ini di pengaruhi oleh keadaan cuaca, kesuburan tanah, dan lainnya, dan juga penggunaan pupuk itu sendiri, baik digunakan dengan satu jenis pupuk atau dengan sistem pencampuran dari beberapa jenis pupuk.
Meskipun memiliki peningkatan dalam hasil panen dalam hal penyaluran pupuk di Kabupaten Kotawaringin Timur masih terdapat pupuk yang belum sepenuhnya terdistribusi, yakni masih terdapat beberapa jenis pupuk yang jumlah sisa alokasinya bahkan masih belum tersalurkan hingga 50% dari total jumlah pada pengajuannya. Berikut pencapaian penyaluran pupuk bersubsidi di Kabupaten Kotawaringin Timur.
Tabel1. 2Pengajuan pupuk bersubsidi dan realisasi alokasi No. Jenis Tahun Jumlah Ajuan
dalam RDKK
Realisasi Alokasi
Jumlah Teralokasi 1 Urea 2019 3.138.516 1.944.000 1.754.000
2020 4.415.040 1.754.000 2.055.000 2021 4.496.775 2.200.000 -
2 Sp36 2019 1.943.352 530.000 546.000 2020 2.810.871 350.000 385.000 2021 2.527.075 603.000 - 3 Organik 2019 2.697.200 336.000 120.000
2020 4.287.100 250.000 102.000 2021 4.313.400 250.000 -
4 ZA 2019 333.500 157.000 150.000
2020 842.940 264.000 147.000
2021 781.750 250.000 -
5 NPK 2019 4.258.844 4.309.000 3.559.000 2020 6.002.194 2.700.000 5.643.000 2021 8.074.146 5.900.000 -
Sumber: Dinas Pertanian Kotim (Data diolah oleh Peneliti)
6
Ditunjukkan pada penjabaran jumlah yang ada pada tabel, menunjukkan ketidaksesuaian antara jumlah pengajuan pupuk yang dimasukkan kedalam e- RDKK dan jumlah yang direalisasikan yang termuat didalam SK Kepala Dinas Pertanian sangatlah jauh berbeda, hal ini tentu menjadi sebuah permasalahan yang akan berdampak kepada petani seperti masalah kelangkaan, mahalnya harga yang beredar, dan yang paling parahnya akan mengancam gagal panen pada berbagai sektor.
Dalam pengadaan pupuk bersubsidi yang sangat jauh dari jumlah yang di ajukan secara keseluruhan hal ini tidak menjadikan penurunan dalam jumlah petani yang bergabung kedalam kelompok tani dan memuat kebutuhan pupuknya ke dalam e-RDKK, bisa di ketahui bahwa jumlah petani yang menjadi penerima pupuk bersubsidi tetap meningkat. Berikut jumlah petani penerima pupuk bersubsidi di Kabupaten Kotawaringin Timur.
Gambar1. 1Jumlah Petani Penerima Pupuk Bersubsidi Di Kabupaten Kotawaringin Timur
Sumber : e-RDKK Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur Berdasarkan data elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok jumlah petani yang ada di Kabupaten Kotawaringin Timur pada tahun 2019
0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 9000 10000
2019 2020 2021
Jumlah Petani
7
berjumlah 5.163 petani dan kemudian di tahun 2020 terjadi kenaikan menjadi 6.381 petani, kemudian di tahun 2021 meningkat menjadi 8.730 petani, jumlah ini sendiri berdasarkan dari total jumlah penerima pernomor induk kependudukkan yang kemudian menjadi data rekapan yang termuat dalam Rencana Definitif Kelompok(RDKK).
Pentingnya peran dari pemerintahan yang bertugas sebagai pemberi pelayanan terkait pendistribusian kepada petani adalah untuk menyelesaikan dan juga mencegah terjadinya permasalahan diantaranya seperti, tidak sampainya pupuk kepada para petani atau kelompok tani, atau jumlah yang di dapat tidak sesuai dengan yang di ajukan, terjadinya berbagai permasalahan ini lah yang menjadikan sangat pentingnya proses dalam penyusunan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) dan pengadaan dalam penyaluran pupuk bersubsidi yang di edarkan di masyarakat dan permasalahan terkait penggunaan kartu tani.Tahapan yang di lakukan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi sendiri sudah terstruktur dengan baik dimana dalam pelaksanaan nya melibatkan berbagai peran, baik dari para petani dan kelompok tani hingga melaporkan kepada penyuluh pertanian yang bertugas di tiap kecamatan, kemudian pengajuan yang dibuat tersebut barulah di serahkan kepada dinas pertanian tepatnya kepada bidang Sarana dan Prasaran di unit alat mesin pertanian, pesitisada, dan pupuk.
Kabupaten Kotawaringin Timur memiliki total 17 kecamatan dengan lokasi antar kecamatannya memiliki akses yang lumayan jauh sehingga mengalami kesulitan dalam pelaksanaan pendistribusiannya dimana beberapa di daerah yang masih di dominasi oleh sungai-sungai besar. Selain permasalahan akses dalam penyaluran pupuk bersubsidi terdapat pula permasalahan dalam pelaksanaannya seperti pengawasan, pengadaan dan proses penyaluran pupuk, permasalahan yang terjadi seperti belum tepat sasaran, masih terjadi kelangkaan, harga penjualan pupuk bersubsidi di atas ketentuan harga eceran tertinggi (HET). Maka dari itu di perlukanlah peran
8
pemerintah yang akan sangat dibutuhkan dalam menangani dan mencegah permasalahan seperti yang terjadi, selain itu juga memastikan dalam penyaluran pupuk bersubsidi harus sesuai dengan asas 6 tepat yakni, tepat jumlah, jenis, waktu, tempat, mutu, dan harga(Sularno, 2016).
Pelaksanaan penyaluran pupuk bersubsidi Dinas Pertanian Kabupaten Kotawaringin Timur bekerjasama dengan PT. Aneka Tani Mandiri, selain itu di Kabupaten Kotawaringin Timur sendiri sudah terdapat pelayanan untuk dilakukannya permintaan pupuk bersubsidi itu sendiri yakni melalui web yang sudah ydi sediakan oleh PT. Aneka Tani Mandiri selaku satu-satunya pendistributor pupuk bersubsidi di Kabupaten Kotawaringin Timur, melalui website ini sendiri para pembeli dapat mempermudah transaksi yang di lakukan seperti permintaan dan pembayaran, penggunaan sistem ini sendiri sangat mudah karena hanya memerlukan koneksi internet tanpa adanya keharusan untuk mendatangi kantor, hanya saja permasalahan lain juga bermunculan pada sistem ini karena tidak digunakannya sistem web ini oleh petani dan pengecer. (Anggrainie, 2016).
Mencapai keberhasilan tani maka dari itulah dalam pendistribusian pupuk bersubsidi ini harus dengan m enerapkan prinsip 6 tepat yakni, tepat jumlah, tepat harga, tepat jenis, tepat mutu, tepat tempat, dan tepat waktu.
Sesuai anjuran Kementrian Pertanian untuk memberikan kesejahteraan kepada petani dan juga menghindarkan terjadinya permasalahan seperti penyelewengan pupuk, kelangkaan, harga tidak sesuai harga eceran tertinggi yang sudah di tentukan oleh pemerintah. Menunjang keberhasilan pencapaian produk pertanian juga bisa di lakukan dengan di tingkatkannya lagi teknologi pertanian, karena dengan melakukan pengembangan teknologi pertanian merupakan salah satu langkah tepat untuk meningkatkan produk pertanian.
Hal ini tentu saja akan kemudahan dalam ketersediaan dan penyaluran pupuk untuk para petani, maka dari itu di adakan lah kebijakan kartu tani untuk memenuhi kebutuhan pupuk yang memadai.
9
Beberapa kasus yang terjadi berkaitan pendistribusian pupuk bersubsidi yang termuat kedalam media elektronik, diantaranya sebagai berikut:
Gambar1. 2Jumlah berita online pupuk bersubsidi di Kabupaten Kotawaringin Timur
Jumlah berita yang ada pada grafik menunjukkan masih terjadi beberapa kali permasalahan tentang pendistribusian yang memberikan imbas seperti terjadinya kelangkaan, dan mengakibatkan mahalnya harga pupuk bersubsidi yang harus di tebus oleh petani. Petani yang yang melakukan protes berujung kepada pemerintah, padahal pada kasusnya hal-hal seperti ini biasanya dilakukan oleh kenakalan pihak distributor dan pengecer.
Terkait peran pemerintah dalam pelaksanaan kebijakan merupakan sebuah tanggungjawab dari pemerintah daerah sebagai pelaksana desentralisasi, dalam hal ini pemerintah daerah seharusnya bisa bergerak responsif dalam menjalankan pelaksanaan sebuah kebijakan, yakni terkait keberhasilan pendistribusian pupuk bersubsidi yang belum seluruhnya tersalurkan bahkan untuk beberapa jenis pupuk belum berhasil tersalurkan hingga 50% dari jumlah total pengajuan sedangkan jumlah petani penerima
7
5
11
7
0 2 4 6 8 10 12
2019 2020 2021 2022
Berita Pendistribusian Pupuk
10
pupuk bersubsidi terus meningkat setiap tahunnya, selain itu masih kurang responsif pemerintah kabupaten Kotawaringin Timur adalah terkait pelaksanaan prgram kartu tani yang merupakan bagian dari rangkaian kebijakan pendistribusian pupuk bersubsidi. Pelaksanaan kebijakan Kartu Tani yang di lakukan oleh Pemerintah daerah mengalami keterlambatan dalam pelaksanaannya di Kabupaten Kotawaringin Timur, sehingga hal inilah yang menunjukkan masih kurangnya responsivitas dari pemerintah daerah dalam menerapkan kebijakan ini.
Kartu Tani merupakan alat yang digunakan untuk melakukan transaksi guna membeli pupuk bersubsidi yang berbasis perbankan yang memiliki fungsi transaksi, simpanan, dan kartu subsidi (e-wallet)(Wotan & Sukolilo, 2017).. Tetapi pelaksanaan di Kabupaten Kotawaringin Timur untuk data sementara ini yang tersedia adalah sejak 2019 sehingga hal ini juga menunjukkan pemerintah mengalami keterlambatan dalam pelaksanaannya bisa di ketahui dengan pemerintah daerah dalam melaksanakan kebijakan menunjukkan pemerintahan yang belum responsiv terhadap pembaharuan kebijakan pemerintah pusat(Kementan, 2020).
Melihat keadaan yang terjadi antara jumlah pupuk yang diajukan dan jumlah realisasi yang masih sangat jauh tetapi jumlah petani yang terus meningkat maka dari itu perlu mengetahui penerapan desentralisasi dari pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur dalam pelaksanaan kebijakan pendistribusian pupuk bersubsidi menjadikan peneliti berusaha mengetahui terkait pentingnya menelaah kebijakan pendistribusian pupuk yang akan dilakukan peneliti dengan evaluasi prgram untuk mengetahui kebijakan yang sudah di laksanakan oleh pemerintah daerah (Dinas Pertanian Kabupaten Kotawaringin Timur) dalam pelaksanaan kebijakan pendistribusian pupuk bersubsidi.
11 1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas maka penulis merumuskan terkait permasalahan yang akan di teliti adalah:
1. Bagaimana Evaluasi kebijakan pendistribusian pupuk bersubsidi kepada petani di Kabupaten Kotawaringin Timur?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Mengkaji terkait evaluasi kebijakan pendistribusian pupuk bersubsidi kepada petani oleh Dinas Pertanian di Kabupaten Kotawaringin Timur.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dalam penelitian ini sendiri adalah untuk memberikan manfaat teoritis dan juga manfaat praktis yakni:
a. Manfaat Teoritis
1) Memberikan kontribusi perkembangan ilmu pengetahuan terkait peran kebijakan publik dan pelayanan sektor publik dalam evaluasi pendistribusian pupuk bersubsidi dalam mensejahterakan petani yang dilaksanakan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Kotawaringin Timur dalam perspektif penelitian Deskriptif Kualitatif.
2) Hasil dari penelian harapannya bisa sebagai rekomedasi bahan referensi terkait penelitian mengenai evaluasi kebijakan pendistribusian pupuk bersubsidi di Kabupaten Kotawaringin Timur.
b. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini harapannya dapat di jadikan sumber informasi dan bahan evaluasi terkait pelaksanaan kebijakan oleh peemrintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Dinas Pertanian Kabupaten Kotawaringin Timur) untuk kebijakan penyaluran pupuk bersubsidi serta mendorong peningkatan kinerja instansi/lembaga untuk mensejahterakan petani di Kabupaten Kotawaringin Timur.
12 c. Manfaat Akademis
1) Hasil penelitian ini juga diharapkan memberikan manfaat kepada masyarakat ataupun petani dalam memahami proses pelaksanaan kebijakan penyaluran pupuk bersubsidi sehingga dapat mempermudah pelaksanaan kebijakan yang di terapkan.
2) Menjadi referensi bahan bacaan bagi peneliti selanjutnya terutama terkait responsivitas kebijakan pendistribusian pupuk dan kesejahteraan petani
1.5 Definisi Konseptual 1.5.1 Evaluasi Kebijakan
Secara definisi Bridgman & Davis( 2004) menyebutkan bahwa evaluasi kebijakan yang merupakan suatu kegiatan atau proses untuk mengetahui mengenai pencapaian hasil, kemajuan, dan juga kendala yang didapati selama pelaksanaan kebijakan agar didapatkan solusi untuk perbaikan dilaksanakannya kebijakan dimasa depan. Evaluasi prgram sendiri pelaksanaannya menggunakan alat ukur untuk menilai kebijakan yang dilaksanakan dengan memperkirakan atau melakukan evaluasi dengan meliputi subtansi implementasi dan dampak. Bahkan dalam mengevaluasi kebijakan tidak hanya dilakukan pada akhir namun dilakukan pada keseluruhan proses kebijakan bahkan terkait perumusan kebijakan itu sendiri seperti isu-isu yang berkaitan untuk menyelesaikan masalah kebijakan dan tahapan serta dampak kebijakan.
Dalam mengukur evaluasi kebijakan menurut Bridgman dan Davis (2004) tentang empat indikator utama yaitu; input, proses,output dan outcome:
1) Input, indikator yang berfokus kepada sumber daya pendukung dan bahan dasar yang digunakan untuk mengimplementasikan kebijakan. Indikator input ini didalamnya terdapat sumberdaya manusia, uang dan berbagai dukungan sumber daya lain seperti infrastruktur. Sumberdaya yang dimaksud dalam sini
13
adalah terkait kemampuan dan keterampilan baik dalam hal melaksanakan tugas dan tanggung jawab dalam pekerjaan, selain itu terdapat sumberdaya informasi terkait penjelasan pelaksanaan untuk hal yang dilakukan ketika di beri instruksi untuk bertindak biasanya berbentuk peraturan pemerintah dan juga di dukung oleh fasilitas yang memadai.
2) Indikator proses, berkaitan mengenai tahapan penilaian terhadap penilaian suatu kebijakan dalam bentuk perencanaan pelayanan langsung kepada masyarakat, dalam indikator ini mencakup aspek efektivitas dan efisiensi yang digunakan untuk melaksanakan kebijakan publik tertentu.
3) output, berfokus pada produk atau hasil dari sistem atau proses kebijakan publik. Indikator hasil ini misalnya berapa orang yang termasuk atau berhasil dalam mengikuti sebuah kebijakan tertentu.
4) outcome, memiliki fokus terhadap pertanyaan yang di terima oleh masyarakat luas atau pihak yang terkena dampak kebijakan. Perlu di ketahui mengenai tujuan yang sudah di rumuskan memberikan hasil akhir atau juga yang merupakan hasil terbaik, penilain dalam evaluasi di dasarkan pada ketepatan dan efisiensi ddalam memanfaatkan faktor-faktor pendukung dalam pelaksanaanya, yang merupakan pemantauan terakhir ketika target yang di tentukan sudah terccapai.
1.5.2 Kebijakan Pendistribusian Pupuk Bersubsidi
Pendistribusianan pupuk bersubsidi di definisikan sebagai proses penyaluran pupuk bersubsidi mulai dari pelaksana subsidi pupuk atau di sebut dengan PT. Pupuk Indonesia Persero proses pendistribusian tersebut berlangsung hingga pupuk bersubsidi sampai kepada petani yang merupakan konsumen paling akhir.
14
Sebelum pelaksanaan proses pendistribusian pupuk bersubsidi, dilakukan pendataan kebutuhan pupuk tersebut selama satu tahun. Penyusunan data ini di sebut dengan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) tani pupuk bersubsidi dalam penyusunannanya di dasarkan kepada musyawarah antar anggota kelompok tani selain itu RDKK juga menjadi alat pesanan untuk pupuk bersubsidi yang di proses secara manual ataupun elektronik yang di sebut dengan (e-RDKK). (Juknis Kementan, 2020)Melalui kebijakan pendistribusian pupuk bersubsidi yang bertujuan untuk memberikan kesejahteraan kepada petani untuk memenuhi kebutuhan dalam kegiatan bertani dan juga diharapkan dapat meningkatkan potensi pertanian yang ada serta memperbaiki kualitas hidup para petani peraturan mengenai harga dan sistem alokasi ditetapkan dalam Peraturan Kementerian Pertanian No.1 Tahun 2020 tentang alokasi dan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi sub sektor pertanian. .
Selanjutnya ditindak lanjuti ditingkat provinsi dengan di keluarkannya SK dari Gubernur, kemudian dilanjutkan lagi pada tingkat kabupaten/kota dengan dikeluarkannya SK dari bupati/walikota. Pemerintah daerah dalam pendistribusian pupuk memiliki peran sebagai pengawas dalam menunjang keamanan pendistribusian, memilki peran sebagai pengawas pendistribusian hal ini di akibatkan masih terbatasnya kapasitas pemerintah dalam menjalankan peran apabila juga sebagai pelaksana pendistribusian, hal ini lah yang menunnjukkan di perlukannya peran dari pihak luar dalam menunjang keberhasilan kebijakan pendistribusian pupuk bersubsidi, yakni dengan melakukan kerjasama dengan pihak swasta baik dalam proses produksi yakni dengan PT. Petrokimia dan lainnya untuk di tingkat produsen, kemudian distributor yang sudah memenuhi persyaratan menjadi pensidtribusi pada tingkat provinsi dan kabupaten sebagai pelaksana pendistribusian, dan kemudian hingga ke kios pengecer yang mendistribusikan di tingkat kecamatan atau desa dengan langsung menyerahkan ke petani secara langsung.
15 1.6 Definisi Operasional
Sebagai petunjuk pelaksanaan penelitian definisi operasional dalam penelitian ini adalah:
Tabel1. 3Indikator teori evaluasi Kebijakan Brigman dan Davis
No Indikator Keterangan
1. Input : Sumberdaya
(Manusia, fasilitas dan Infastruktur)
- Kemampuan Sumberdaya manusia dalam memenuhi kebutuhan masyarakat terkait pupuk bersubsidi
- Fasilitas penunjang pelakasanaan kebijakan pupuk bersubsidi - Infrastruktur pendukung 2 Proses:
Perencanaan
pendataan kebutuhan petani
- Perencanaan yang dilakukan pemerintah untuk pendataan kebutuhan kuota pupuk bersubsidi.
Petani 3. Output:
Pelaksanaan kebijakan pendistribusian pupuk bersubsidi melalui e- RDKK
- Peran pemerintah dalam
penginputan, verifikasi dan validasi data e-RDKK oleh pemerintah.
4 Outcome:
1. Pelayanan Pendistribusian Pupuk
Bersubsidi
- Pelaksanaan kebijakan kartu tani dan tugas pengawasan
pendistribusian pupuk bersubsidi oleh pemerintah.
16 2. Dampak
terhadap kesejahteraan petani
- Kesejahteraan petani terhadap pengaruh dari adanya pupuk bersubsidi.
Gambar1. 3 Kerangka Berfikir
Permentan No.01 Tahun 2020 tentang alokasi dan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi sektor pertanian
Kementrian Pertanian
Pemerintah Daerah
Evaluasi Kebijakan
➢ Kemampuan organisasi dalam memahami kebutuhan masyarakat
➢ Kemampuan dalam menyusun agenda
➢ Output pelayanan yang diberikan
➢ Outcome yang dihasilkan
Distribusi Pupuk Bersubsidi
17 1.7 Metode Penelitian
a. Jenis Penelitian
Pada penelitian tentang “Evaluasi Kebijakan Pendistribusian Pupuk Bersubsidi di Kabupaten Kotawaringin Timur” peneliti menggunakan pendekatan kualutatif dikarenakan dalam proses analisis data ini di perlukan data yang terkait kebijakan pendistribusian pupuk bersubsidi yang bertujuan untuk kesejahteraan petani berikut langkah analisis data yakni: reduksi data, memilih dan memfokuskan : sugiyono (2013 : 247). Menurut Sugiyono (2013 :249) penyajian data merupakan uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori. Selanjutnya adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi, kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah sebuah temuan yang baru yang belum di ada pada penelitian sebelumnya. Selanjutnya di lakukan verifikasi yakni peninjauan ulang terkait catatan yang ada di lapangan. Kemudian data yang sudah di verifikasi di sajikan sedemikian rupa dengan hasil yang sederhana.
b. Sumber Data
Dalam penelitian ini terdapat dua jenis sumber data yang di gunakan oleh peneliti yakni data primer dan data sekunder.
1) Sumber data Primer
Dalam pengumpulan data primer dilakukan dengan cara observasi dan wawancara secara daring dan langsung kepada Staf Dinas Pertanian Kabupaten Kotawaringin Timur terkait data pelaksanaan pengawasan dalam proses penyaluran pupuk bersubsidi dengan mewawancarai langsung kepada Kepala Bidang Penyuluh Pertanian Bapak Rudi Herlambang S.P, M.P, Kepala seksi alat mesin pertanian, pupuk, dan pestisida yakni Ibu Yulia Rina Fadhiha S.P, kemudian wawancara juga kepada Kepala Badan Penyuluh Pertanian Kecamatan Seranau Bapak Kasto S.P, wawancara juga dilakukan kepada ketua kelompok tani yankni Bapak Agus Kustriyanto, wawancara kepada Bapak Heru selaku bagian Bantuan Sosial Bank BRI cabang Sampit, dan observasi
18
dilakukan di PT.Aneka Tani Mandiri selaku distributor mengenai pelaksanaan atau mekanismen pelaksanaan penyaluran di tingkat distributor.
2) Sumber Data Sekunder
Data sekunder dalam penelitian ini bersumber dari buku, jurnal, surat kabar, dan dokumen-dokumen resmi yang membahas terkait kebijakan pendistribusian pupuk bersubsidi untuk mensejahterakan petani, dokumen tersebut berupa SK pelaksanaan kebijakan pendistribusian pupuk bersubsidi TA 2021, rencana kerja dari dinas pertanian Kabupaten Kotawaringin Timur dan laporan bulanan pengawasan, dan laporan pupuk yang tersalurkan setiap bulannya dari pihak distributor, dokumen penyaluran kartu tani.
c. Lokasi Penelitian
Mendapatkan informasi yang di butuhkan terkait penelitian maka yang menjadi lokasi penelitian adalah Dinas Pertanian Kabupaten Kotawaringin Timur, Kantor Badan Penyuluh Pertanian Kecamatan Seranau, PT. Aneka Tani Mandiri.
d. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi dan dokumentasi(Harsono:2008).
Berikut unit analisis data dalam penelitian evaluasi kebijakan pendistribusian pupuk bersubsidi di Kabupaten Kotawaringin Timur:
19
Tabel1. 4Daftar Nama Narasumber
No. Narasumber Data yang diminta
1 Kepala Bidang Penyuluhan Pertanian
terkait penyusunan agenda dalam perencanaan pendataan kuota pupuk bersubsidi melalui e-RDKK di Tingkat Kabupaten
2 Kasi Pupuk, Pestisida, dan Alat Mesin Pertanian
1.Cara atau metode dalam
memahami kebutuhan masyarakat perihal kebutuhan pupuk bersubsidi 2. Sistem penyusunan agenda untuk perencanaan dalam pendataan kuota pupuk melalui e-RDKK 3. Pelaksanaan Peran Pegawasan 3. Badan Penyuluh Pertanian 1. Terkait penyusunan agenda
dalam perencanaan pendataan kuota pupuk bersubsidi melalui e- RDKK di Tingkat Kecamatan 4.. Distributor 1. Proses, prosedur atau mekanisme
pendistribusian
2. Jangka waktu pelaksanaan pendistribusian
5 Ketua Kelompok Tani 1. Pelaksanaan pengumpulan berkas untuk dimasukkan kedalam RDKK.
2. Dampak dari adanya kebijakan pendistribusian pupuk bersubsidi terhadap kesejahteraan petani.
6. Bagian Bantuan Sosial Bank BRI
1. Pelaksanaan penyaluran Kartu Tani
a. Wawancara
Wawancara yang di lakukan peneliti dalam penelitian ini adalah percakapan dan tanya jawab secara daring dan langsung atau bertatap muka dengan narasumber atau informan dengan memanfaatkan alat bantu komunikasi dalam proses wawancara untuk mendapatkan data yang valid dan dapat menjawab permasalahan dalam penelitian ini. Wawancara yang akan dilaksanakan dalam penelitian ini adalah kepada subjek penelitian yakni Kepala Bidang Sarana dan Parasarana, Kepala Bidang Penyuluhan Pertanian,
20
dan Kasi Pupuk Pestisida dan Alat Mesin Pertanian, Ketua Kelompok Tani, serta pihak Bank BRI.
b. Observasi
Observasi yang di lakukan oleh peneliti adalah observasi langsung dilapangan guna memperkuat data atau informasi yang sudah di peroleh melalui wawancara, bentuk dari observasi yang dilakukan terkait kegiatan Dinas Pertanian Kabupaten Kotawringin Timur, PT Aneka Tani Mandiri dan beberapa kios pengecer resmi.
c. Dokumentasi
Dokumentasi dalam penelitian ini terkait data-data yang yang akan mendukung keabsahan data penelitian, pengumpulan dokumentasi yang di perlukan berupa data yang dapat di akses secara bebas atau data yang dalam proses pengambilannya memerlukan perizinan dari pihak yang berwenang, dokumentasi dapat dalam bentuk tulisan, audio maupun gambar.
e. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini menggunakan metode analisis data dari Miles dan Huberman yakni data yang sudah di dapat dari wawancara, observasi, dokumentasi dan lainnya. Berikut teknik analisis data model Miles dan Huberman.
Teknik Analisis Data Kualitatif Model Interaktive sumber : Sugiyono, 2015 a. Data Collection
21
Data yang sudah terkumpul dari beberapa sumber dan proses wawancara serta observasi kemudian di sesuaikan dengan permasalahan penelitian yang akan memeberikan dukungan terkait hasil dan pembahasan dalam penelitian ini.
b. Data Condentation
Setelah data dikumpulkan sesuai dengan permasalahan penelitian kemudian dilakukan penyeleksian untuk menyesuaikan dengan fokus-fokus dalam penelitian sehingga di temukan hasil yang sesuai dengan fokus penelitian.
c.Data Display
Data yang sudah di susun dan kemudian di jelaskan secara deskriptif sesuai dengan konsep dan juga operasional yang sudah di jelaskan sebelumnya sehingga penyajian dapat menjelaskan peristiwa yang terjadi.
d. Conclution Drawing atau Veryfication
Melakukan peninjauan kembali pada hasil catatan yang sudah di dapatkan di lapangan. Kemudian penarikan kesimpulan dengan menguji antara data-data yang di dapat dan kemudian menghasilkan data yang valid dengan berdasarkan analisis peneliti setelah dilakukannya berdasarkan proses di atas maka akan di peroleh kesimpulan.