• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS HUKUM TERHADAP PUTUSAN HAKIM DALAM KASUS PIDANA PENCURIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS HUKUM TERHADAP PUTUSAN HAKIM DALAM KASUS PIDANA PENCURIAN"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Ilmu Hukum. Volume 2. Nomor 2 Oktober 2020. Hal 74 ANALISIS HUKUM TERHADAP PUTUSAN HAKIM DALAM KASUS

PIDANA PENCURIAN

Penulis:

Satrio Mahendra Rumles

(Email:[email protected] Contak; 082198811313, Dusun Mangon, Kec, Dullah Selatan Kota Tual).

Abstract

Satrio Mahendra Rumles (160 103 013) with the title "Legal Analysis of Judges' Decisions in Criminal Cases of Theft (Decision Study Number 31 / Pid.B / 2019 / PN.Tul)". Supervised by Ms. Munawara. as Advisor I and Mr. Husin Reniwuryaan as Advisor II. The criminal justice process boils down to court or one that we know that law enforcement is in the court institution. The court institution has a role to judge, and then decide whether a person is guilty or not, accompanied by a determination of their criminal responsibility. Here it takes the expertise, integrity and accuracy of a judge in deciding a case. The expertise of a judge is needed in controlling a case. One type of crime that occurs in social life is theft which is regulated in the Criminal Code (KUHP). Theft is a crime that often occurs in the community, where the target that you want to steal is a house, office, or other public place. often the thefts that occur cause unrest for members of the community. The issues that will be discussed are how the application of material criminal law to the sanctions of perpetrators of the crime of theft and what are the factors of legal considerations by judges in imposing Decision Number: 31 / Pid.B / 2019 / P.N.Tul, against the perpetrators of criminal acts of theft. This research was conducted in the city of Tual and the research location chosen by the researcher was the Tual District Court. This research method uses a normative juridical approach. Types of data consist of primary and secondary data. Based on the results of the research obtained that the judge's decision is the culmination of a criminal case, in the verdict there is a crime which takes something that is wholly or partly owned by another person with the intention of illegally possessing it in Article 362 (KUHP) and a crime of repetition or recidivise which in Article 486 (KUHP). From the opinion of the judge who handed down this decision, the perception was the same as the demands of the public prosecutor, namely a sentence of 3 (three) years, so that the judge in making the decision had to take several things into account so that the decision had a sense of justice to the victim, the defendant and the community so that a legal certainty.

Keywords: Judge's Legal Considerations, Crime, Theft.

Abstrak

Satrio Mahendra Rumles (160 103 013) dengan Judul “Analisis Hukum terhadap Putusan Hakim dalam Kasus Pidana Pencurian (Studi Putusan Nomor 31/Pid.B/

2019/PN.Tul)”. Dibimbing oleh Ibu Munawara.SH,MH selaku Pembimbing I dan Bapak Husin Reniwuryaan.SH,MH selaku Pembimbing II. Proses Peradilan pidana bermuara di pengadilan atau salah satu yang kita ketahui penegakan hukum adalah terdapat pada institusi pengadilan. Institusi pengadilan berperan untuk mengadili,

(2)

Jurnal Ilmu Hukum. Volume 2. Nomor 2 Oktober 2020. Hal 75

dan kemudian memutuskan tentang bersalah atau tidaknya seseorang yang disertai dengan penetapan pertanggung jawaban pidananya. Disini diperlukan keahlian, integritas, dan kecermatan hakim dalam memutuskan sebuah perkara. Keahlian hakim sangat diperlukan dalam penguasan terhadap sebuah kasus. Salah satu jenis tindak pidana yang terjadi dalam kehidupan sosial adalah pencurian yang dimana di atur di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Pencurian merupakan salah satu tindak kejahatan yang seringkali terjadi di lingkungan kehidupan masyarakat yang dimana target yang ingin di curi iyalah berupa rumah, kantor, atau tempat umum lainnya. seringkali pencurian yang terjadi menimbulkan keresahan bagi warga masyarakat. Permasalahan yang akan dibahas yaitu Bagaimana Penerapan hukum Pidana Materil terhadap Sanksi Pelaku Tindak Pidana Pencurian dan apa saja Faktor-faktor Pertimbangan Hukum oleh Hakim dalam menjatuhkan Putusan Nomor: 31/Pid.B/2019/P.N.Tul, terhadap pelaku tindak pidana kejahatan pencurian. Penulisan ini dilakukan di wilayah kota tual dan lokasi Penulisan yang dipilih Penulish adalah pengadilan negeri tual. Metode Penulisan ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif. Jenis data terdiri dari data primer dan sekunder. Berdasarkan hasil Penulisan yang diperoleh bahwa putusan hakim merupakan puncak dari perkara pidana, dalam putusan terjadi suatu kejahatan yang dimana Mengambil barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain dengan maksud untuk memiliki secara melawan hukum pada Pasal 362 (KUHP) dan kejahatan pengulangan atau residivise yang pada Pasal 486 (KUHP). Dari pendapat hakim yang menjatuhkan putusan ini sama presepsinya dengan tuntutan dari jaksa peneuntut umum yaitu hukuman selama 3 (tiga) tahun, sehingga hakim dalam menjatuhkan putusan harus mempertibangkan beberapa hal sehingga putusan tersebut mempunyai rasa keadilan kepada korban, kepada terdakwa maupun pada masyarakat sehingga tercipta suatu kepastian hukum.

Kata kunci: Pertimbangan Hukum Hakim, Tindak Pidana, Pencurian PENDAHULUAN

Lembaga Peradilan dalam suatu negara merupakan pilar dalam penegakan hukum, karena lembaga inilah bertindak untuk menyelesaikan segala perkara yang terjadi dalam kehidupan masyarakat serta menghukum orang-orang yang melanggar hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang telah ditentukan, melalui lembaga Peradilan hukum ditegakan tanpa pandang bulu dan tanpa membeda- bedakan orang satu dengan orang yang lainnya yang dimana pada Pasal 27 ayat

(1) UUD 1945 menegaskan semua

warga negara bersamaan

kedudukannya di dalam hokum, sebagaimana sistem Peradilan menurut makna dari equality before the law, dengan adanya lembaga peradilan disuatu negara diharapkan akan mampu menegakan hukum, dengan tegaknya hukum maka keadilan akan terwujud.

Proses Peradilan pidana bermuara di pengadilan atau salah satu yang kita ketahui penegakan hukum adalah terdapat pada institusi pengadilan. Institusi pengadilan

(3)

Jurnal Ilmu Hukum. Volume 2. Nomor 2 Oktober 2020. Hal 75

berperan untuk mengadili, dan

kemudian memutuskan tentang bersalah atau tidaknya seseorang yang disertai dengan penetapan pertanggung jawaban pidananya. Disini diperlukan keahlian, integritas, dan kecermatan hakim dalam memutuskan sebuah perkara. Keahlian hakim sangat diperlukan dalam penguasan terhadap sebuah kasus. Hakim harus menguasai aspek-aspek lain dalam penegakan hukum (sosial, ekonomi, politik, budaya) sehingga putusan hakim merupakan sebuah putusan yang mewakili 4 (empat) elemen penting tersebut.

Hakim tidak boleh menjatuhkan putusan hanya berdasarkan frasa yang disebutkan oleh undang-undang, karena hakim merupakan corongnya undang- undang. Hakim harus mampu

berfikir dan bertindak secara progresif sehingga yang didapatkan adalah sebuah kebenaran substantif.

Kita mengetahui bahwa aspek hukum adalah tata aturan (order) sebagai suatu sistem aturan-aturan (rules) tentang perilaku manusia. Satjipto Raharjo (1982;3)

Salah satu jenis tindak pidana yang terjadi dalam kehidupan sosial adalah pencurian.

Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), pencurian dapat dikategorikan ke dalam kelompok pencurian dengan kekerasan, sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang selanjutnya disingkat dengan (KUHP), yang dibedakan atas lima macam pencurian, yaitu :

1. Pencurian biasa (Pasal 362 KUHP);

2. Pencurian dengan pemberatan (Pasal 363 KUHP);

3. Pencurian ringan (Pasal 364 KUHP);

4. Pencurian dengan kekerasan (Pasal 365 KUHP);

5. Pencurian dalam keluarga (Pasal 367 KUHP).

Pencurian merupakan salah satu tindak kejahatan yang seringkali terjadi di lingkungan kehidupan masyarakat yang dimana target yang ingin di curi iyalah berupa rumah, kantor, atau tempat umum lainnya. seringkali pencurian yang terjadi menimbulkan keresahan bagi warga masyarakat.

Keresahan yang muncul di masyarakat bukan tanpa alasan, hal ini disebabkan oleh keadaan tindakan kejahatan pencurian yang begitu tinggi. Kejahatan yang berkembang di masyarakat dapat terjadi kapan saja dalam bentuk atau jenis kejahatan yang beragam, dilatar belakangi oleh faktor-faktor yang memiliki keterkaitan dengan tempat, waktu dan jenis kejahatan yang dilakukan dalam kasus pencurian.

Sebagaimana aksi pencurian kendaraan bermotor yang sering meresahkan Masyarakat Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara. Aparat Kepolisian melalui tim reaksi cepat Satuan Reserse Kriminal Polres Maluku Tenggara berhasil membekuk pelaku pencurian ranmor dengan inisial DTT, pelaku pencurian bermotor di bekuk di desa abean, kecamatan kei kecil timur kabupaten maluku tenggara pada minggu,(14/5). Barang bukti pencurian ranmor berupa 4 unit sepeda motor jenis yamaha mio ditemukan di desa ohoibun, kecamatan kei kecil, kabupaten maluku tenggara, barang bukti diamankan oleh

(4)

Jurnal Ilmu Hukum. Volume 2. Nomor 2 Oktober 2020. Hal 76

mapolres malra, tanggaapan atau

menurut Isaack Risambessy,S.sos, yang diamana DTT merupakan pemain lama yang telah menjadi target Reskrim Polres maluku tenggara.

Dalam hal ini pelaku merupkan pemain lama yang artinya sudah penah melakukan kejahatan yang sama namun mengulangi pebutannya kembali, untuk menanggulangi kejahatan dan tindak pidana demikian itu dibutuhkan kebijakan penindakan dan antisipasi yang menyeluruh. Tindak pidana dan kejahatan yang semakin rumit dengan dampak yang luas, menuntut penegak hukum oleh aparat yang berwenang menerapkan sanksi hukum dan kebijakan yang tepat guna, sesuai hukum yang berlaku yang dampaknya diharapkan dapat mengurangi sampai batas minimum tindak pidana dan pelanggaran hukum. Penegakan hukum terhadap ketentuan undang-undang hukum pidana tujuannya untuk mendukung kesejahteraan masyarakat dengan menekan semaksimal mungkin adanya pelanggaran hukum dan tindak yang merugikan warga masyarakat dalam kejahatan tersebut.

Kerangka Teori

Dalam kerangka teori dalam penulisan ini ilmiah ini, sangat penting sebagai analisis bagi penulis untuk memecahkan pemasalahan yang telah dirumuskan. Adapun teori pokok menjadi landasan dalam penulisan ini yang akan mengkaji mengenai teori- teori yang relevan dengan permasalahan yang akan dibahas yaitu teori pertanggungjawaban hukum terhadap putusan hakim dalam kasus

pidana pencurian, teori tindak pidana dan pina pencurian. Tindak pidana merupakan pengertian dasar dalam hukum pidana yang berhubungan dengan perbuatan yang melanggar hukum pidana. Yang dimana teori yang di ungkapkan oleh Tri Andrisman (2007;81). Sesuai dengan pengertian tindak pidana seperti yang dijelaskan oleh beberapa ahli sebagai berikut:Menurut Vos, tindak pidana adalah salah kelakuan yang diancam oleh peraturan perundang-undangan, jadi suatu kelakuan yang pada umumnya dilarang dengan ancaman pidana, Menurut Simons, tindak pidana adalah kelakuan (handeling) yang diancam dengan pidana, yang bersifat melawan hukum, yang berhubungan dengan kesalahan dan yang dilakukan oleh orang yang mampu bertanggungjawab.

Menurut Prodjodikoro, tindak pidana adalah suatu perbuatan yang pelakunya dikenakan hukuman pidana, Menurut Pompe mendefinisikan tindak pidana menurut teori adalah suatu pelanggaran terhadap norma yang dilakukan karena kesalahan sipelanggar dan diancam dengan pidana untuk mempertahankan tata hukum dan menyelamatkan kesejahteraan umum sedangkan menurut hukum positif adalah suatu kejadian yang oleh peraturan undang-undang dirumuskan sebagai perbuatan yang dapat dihukum.

Dan diungkapkan oleh Moeljatno (1993;69). Yang dimana Menurut Moeljatno, tindak pidana adalah suatu perbuatan yang memiliki unsur dan dua sifat yang berkaitan, unsur-unsur yang dapat dibagi menjadi dua macam yaitu:

(5)

Jurnal Ilmu Hukum. Volume 2. Nomor 2 Oktober 2020. Hal 77

A. Subyektif adalah berhubungan

dengan diri sipelaku dan termasuk ke dalamnya yaitu segala sesuatu yang terkandung dihatinya. B. Obyektif adalah unsur-unsur yang melekat pada diri sipelaku atau yang ada hubungannya dengan keadaan-keadaannya, yaitu dalam keadaan-keadaan mana tindakan-tindakan dari sipelaku itu harus dilakukan. Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat diketahui tindak pidana adalah perbuatan melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang memiliki unsur kesalahan sebagai perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana, dimana penjatuhan pidana terhadap pelaku adalah demi terpeliharanya tertib hukum dan terjaminnya kepentingan umum.

Dan Tindak pidana pencurian yang dimana merupakan kejahatan yang sangat umum terjadi ditengah masyarakat dan merupakan kejahatan yang dapat dikatakan paling meresahkan masyarakat. Disebutkan dalam Pasal 362 KUHP bahwa: “Barang siapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagiankepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau denda paling banyak enam puluh rupiah” dalam pencurian ada berapa unsur dala tindak pidana pencurian yaitu Pasal 362 KUHP pencurian biasa, Pasal 363 KUHP pencurian dengan pemberatan ,Pasal 364 KUHP pencurian ringan, Pasal 365 KUHP pencurian dengan kekerasan, Pasal 367 KUHP pencurian dalam keluarga.

begitu juga dengan teori dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana.yang dingukngkap oleh Ahmad Rifai (2010;103).

Kekuasaan kehakiman merupakan badan yang menentukan dan kekuatan kaidah-kaidah hukum positif dalam konkretisasi oleh hakim melalui putusan- putusannya. Bagaimanapun baiknya segala peraturan perundang-undangan yang diciptakan dalam suatu negara, dalam usaha menjamin keselamatan masyarakat menuju kesejahteraan rakyat, peraturan-peraturan tersebut tidak ada artinya, apabila tidak ada kekuasaan kehakiman yang bebas yang diwujudkan dalam bentuk peradilan yang bebas dan tidak memihak, sebagai salah satu unsur Negara hukum. Di ungkap juga oleh Lilik Mulyadi(2007;121) .Putusan hakim merupakan puncak dari perkara pidana,

sehingga hakim harus

mempertimbangkan aspek-aspek lainnya selain dari aspek yuridis, sehingga putusan hakim tersebut lengkap mencerminkan nilai-nilai sosiologis, filosofis, dan yuridis. Pada hakikatnya dengan adanya pertimbangan-pertimbangan tersebut diharapkan nantinya dihindari sedikit mungkin putusan hakim menjadi batal demi hukum (van rechtswege nietig atau null and void) karena kurang pertimbangan hukum (onvoldoende gemotiverd). Praktik peradilan pidana pada putusan hakim sebelum pertimbangan-pertimbangan yuridis dibuktikan, maka hakim terlebih dahulu akan menarik fakta-fakta dalam persidangan yang timbul dan merupakan konklusi kumulatif dari

(6)

Jurnal Ilmu Hukum. Volume 2. Nomor 2 Oktober 2020. Hal 78

keterangan para saksi, keterangan

terdakwa, dan barang bukti yang diajukan dan diperiksa di persidangan.

Selain itu juga di ungkap juga Bagir Manan (2015;16-17) .Kedudukan hakim berada pada sifatnya yang sangat khusus. Dalam hubungan kepentingan antara negara (state), pasar (market) dan masyarakat (civil society), hakim harus berada di tengah-tengah, tidak lebih condong ke salah satu kelompok.

Oleh karena itu, hakim dan cabang kekuasaan kehakiman sudah sepatutnya harus ditempatkan sebagai cabang kekuasaan tersendiri. Selain itu, keberadaan suatu kekuasaan kehakiman yang independen dan tidak berpihak (independent and impartial) juga merupakan salah satu ciri negara hukum yang demokratis (rechtsstaat) atau negara demokrasi yang berdasar atas hukum (constitutional democracy).

Bagaimana pun sistem hukum yang dipakai oleh suatu negara, prinsip independen dan tidak berpihak harus dijalankan oleh setiap cabang kekuasaan kehakiman (lembaga yudikatif). Upaya untuk menjamin terwujudnya independensi kekuasaan kehakiman atau peradilan, memerlukan jaminan dalam konstitusi atau peraturan perundang-undangan. Dalam konstitusi- konstitusi yang pernah berlaku di Indonesia, juga selalu mengatur kekuasaan kehakiman dan menjamin independensinya. Begitu juga denga teori pertimbangan hukum hakim dalam menjatuhkan putusan adalah pertimbangan hakim yang didasarkan pada fakta-fakta yuridis yang terungkap dalam persidangan dan oleh undang- undang ditetapkan sebagai hal yang

harus dimuat di dalam putusan. Dalam menjatuhkan putusan haruslah terpenuhi unsur delik yang menjadi dasar bahwa seseorang dianggap bersalah atau telah melakukan tindak pidana. Selain itu adapula pembuktian agar dapat mengungkap kebenaran.

Dan dingkap dari Hari Sasangka dan Lily Rosita (2003;11) Martiman Prodjohamidjojo mengemukakan membuktikan mengandung maksud usaha untuk menyatakan kebenaran atas sesuatu peritiwa, sehingga dapat diterima akal terhadap kebenaran peristiwa tersebut. Yang dimaksud dengan alat bukti adalah segala sesuatu yang ada hubungannya dengan suatu perbuatan, dimana dengan alat-alat bukti tersebut, dapat dipergunakan sebagai bahan pembuktian guna menimbulkan keyakinan hakim atas kebenaran adanya suatu tindak pidana yang telah dilakukan oleh terdakwa.

Dalam penjelasan dari para ahli tentang sangsi, hal ini menunjukan bahwa hakim dalam menjatuhkan putusan harus mempertibangkan apakah sudah sesuai atau tidak sehingga putusan yang di jatuhkan memberikan rasa keadilan bagi korban , terdakwa maupun masyarakat sehingga terciptanya kepastian hukum.

METODE PENELITIAN

Tipe dan Pendekatan Penelitian Jenis peneliti dalam penelitian skripsi ini melakukan penelitian awal untuk memperoleh data atau menghimpun berbagai data, fakta, dan informasi yang diperlukan. Data yang didapatkan harus mempunyai hubungan yang relevan dengan permasalahan

(7)

Jurnal Ilmu Hukum. Volume 2. Nomor 2 Oktober 2020. Hal 79

yang dikaji, sehingga memiliki kualifikasi

sebagai susatu sistem tulisan ilmiah yang proporsional, Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian yuridis normatif. Pendekatan yuridis normatif mengacu kepada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan dan putusan- putusan pengadilan serta norma-norma hukum yang ada dalam masyarakat.

Lokasi Penelitian

Peneliti dalam penelitian skripsi ini melakukan penelitian awal untuk memperoleh data atau menghimpun berbagai data, fakta, dan informasi yang diperlukan. Data yang didapatkan harus mempunyai hubungan yang relevan dengan permasalahan yang dikaji, sehingga memiliki kualifikasi sebagai susatu sistem tulisan ilmiah yang proporsional.

Selanjutnya, penelitian ini dilakukan dalam wilayah Hukum Kota Tual, dan lokasi penelitian yang dipilih peneliti adalah Pengadilan Negeri Tual, dan memperoleh data berupa salinan putusan nomor : 31/Pid.B/2019/P.N.Tul.

Selain itu peneliti juga mencari data dan informasi yang diperlukan yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas dalam kasus ini guna mempermudah pembahasan dan penyelesaian penelitian.

Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang dilakukan adalah studi kepustakaan. Studi kepustakaan dilakukan dengan cara membaca serta mempelajari buku-buku serta literatur yang terkait dengan objek penelitian.

Analisis Data

Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, merangkum menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceriterakan kepada orang lain.

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa langkah awal dari analisis data adalah mengumpulkan data yang ada, menyusun secara

sistematis, kemudian

mempersentasikan hasil penelitiannya kepada orang lain. Tahapan analisis data kualitatif adalah sebagai berikut:

Membaca/mempelajari data, menandai kata-kata kunci dan gagasan yang ada dalam data, mempelajari kata- kata kunci itu, berupaya menemukan tema-tema yang berasal dari data dan menuliskan „model‟ yang ditemukan.

ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Penerapan Ketentuan Pidana

Pencurian merupakan salah satu tindak kejahatan yang seringkali terjadi di lingkungan kehidupan masyarakat yang dimana target yang ingin di curi iyalah berupa rumah, kantor, atau tempat umum lainnya. seringkali pencurian yang terjadi menimbulkan keresahan bagi warga masyarakat.

Keresahan yang muncul di masyarakat bukan tanpa alasan, hal ini disebabkan oleh keadaan tindakan kejahatan pencurian yang begitu tinggi. Kejahatan yang berkembang di masyarakat itu dapat terjadi di mana saja, kapan saja, dan dalam bentuk atau jenis kejahatan yang beragam, dan dilatarbelakangi

(8)

Jurnal Ilmu Hukum. Volume 2. Nomor 2 Oktober 2020. Hal 80

oleh faktor-faktor yang memiliki

keterkaitan dengan tempat, waktu dan jenis kejahatan yang dilakukan,yang diaman pernah suatu kasus pencurian yaitu.

Dalam memutuskan sebuah perkara, hakim harus cermat atas segala tuntutan jaksa dan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan.

Hakim bukanlah corong bagi jaksa dan undang-undang.

Salah satu jenis tindak pidana yang terjadi dalam kehidupan sosial adalah pencurian. Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), pencurian dapat dikategorikan ke dalam kelompok pencurian dengan kekerasan,sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang selanjutnya disingkat dengan (KUHP), yang dibedakan atas lima macam pencurian, yaitu:

1. Pencurian biasa (Pasal 362 KUHP);

2. Pencurian dengan pemberatan (Pasal 363 KUHP);

3. Pencurian ringan (Pasal 364 KUHP);

4. Pencurian dengan kekerasan (Pasal 365 KUHP);

5. Pencurian dalam keluarga (Pasal 367 KUHP).

Aksi pencurian kendaraan bermotor yang sering meresahkan masyarakat kota tual, dan kabupaten maluku tenggara. Aparat kepolisian melalu tim reaksi cepat satuan reserse kriminal polres maluku tenggara berhasil membekuk pelaku pencurian motor dengan inisial DTT, pelaku pencurian bermotor di bekuk di desa abean, kecamatan kei kecil timur kabupaten maluku tenggara pada minggu,(14/5).

Barang bukti pencurian ranmor berupa 4

unit sepeda motor jenis yamaha mio ditemukan di desa ohoibun, kecamatan kei kecil, kabupaten maluku tenggara, barang bukti diamankan oleh mapolres malra, tanggaapan atau menurut Isaack Risambessy,S.sos, yang diamana DTT merupakan pemain lama yang telah menjadi target Reskrim Polres maluku tenggara.

Dalam hal ini pelaku merupkan pemain lama yang artinya sudah penah melakukan kejahatan yang sama namun mengulangi pebutannya kembali, untuk menanggulangi kejahatan dan tindak pidana demikian itu dibutuhkan kebijakan penindakan dan antisipasi yang menyeluruh. Tindak pidana dan kejahatan yang semakin rumit dengan dampak yang luas, menuntut penegak hukum oleh aparat yang berwenang menerapkan sanksi hukum dan kebijakan yang tepat guna, sesuai hukum yang berlaku yang dampaknya diharapkan dapat mengurangi sampai batas minimum tindak pidana dan pelanggaran hukum. Penegakan hukum terhadap ketentuan undang-undang hukum pidana tujuannya untuk mendukung kesejahteraan masyarakat dengan menekan semaksimal mungkin adanya pelanggaran hukum dan tindak yang merugikan warga masyarakat dalam kejahatan tersebut.

Hasil posisi Kasus

- Bahwa awalnya pada hari senin, tanggal 25 maret 2019 sekitar pukul 12.00 WIT di halaman gereja msc di desa langgur kecamatan kei kecilkabupaten maluku tenggara ketika korban baru selesai ibadah pergumulan di gereja msc langgur, mendapati sepeda motor miliknya

(9)

Jurnal Ilmu Hukum. Volume 2. Nomor 2 Oktober 2020. Hal 81

yang tadinya terparkir dihalaman

gereja, sudah tidak ada;

- Bahwa sepeda motor tersebut diambil oleh terdakwa dengan cara-cara sebagai berikut bahwa pada hari senin,tanggal 25 maret 2019 sekitar pukul 12.00 WIT dihalaman gereja msc di desa langgur kecamatan kei kecil kabupaten maluku tenggara, saat itu terdakwa sedang duduk-duduk di samping sepeda motor yang terdakwa tidak tau siapa pemiliknya, yang parkir di halaman gereja msc langgur situasi maupun suasana di tempat kejadian pada saat itu sepi, dan hanya satu unit sepeda motor yang diparkir di halaman gereja;

- Bahwa ketika terdakwa melihat keadaan demikian terdakwa langsung mengincar sepeda motor tersebut untuk terdakwa bawa lari, kemudian kemudian terdakwa mencabut kabel yang terhubung dengan kunci kontak sepeda motor itu sampai terputus, lalu terdakwa menyambungkan kabel itu kembali secara manual, sehingga mesinnya bisa hidup lagi, dan terdakwa segera membawa motor itu kerumah terdakwa di yarler komleks kapung pisang, dan parkir di belakan kantor dinas perhubungan kota tual, kemudian terdakwa ke rumah untuk mengambil sebuah obeng selanjutnya membawa sepeda motor itu ke bukit iban tepatnya di jalan baru sekitar ke arah atas perumahan btn di kota tual, dengn tujuan untuk mempreteli sepeda motor tersebut yaitu melepas kap dan lampu sepeda motor itu, dan saya tinggalkan kap itu di bukit iban, karena terdakwa tidak ingin orang mengenali sepeda motor itu dan

terdakwa ingin menjualnya kepada orang di desa ohoiner dengan harga Rp.10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah);

- Bahwa 3 (tiga) hari setelah terdakwa mengambil sepeda motor tersebut, orang-orang dari langgur datang menangkap terdakwa di rumah, dan membawah terdakwa bertemu dengan pemilik sepeda motor itu lalu terdakwa dibawa ke kantor polisi;

- Bahwa terdakwa sebelumnya sudah 2 (dua) kali dihukum masuk penjara karena masalah cabul dan pencurian;

b.Dakwaan Jaksa Penuntut Umum.

Adapun Dakwaan Jaksa Penuntut Umum dalam perkara adalah sebagai berikut:

Bahwa terdakwa inisial D.S.T pada hari senin tangal 25 maret 2019 sekitar pukul 12.00 WIT atau setidak- tidaknya pada suatu waktu dalam tahun 2019 bertempat di depan gereja msc langgur, kec.kei kecil kab. maluku tenggara atau setidak-tidaknya pada suatu tempat yang masih termasuk dalam daerah hukum pengadilan negeri tual yang berwenang memeriksa dan mengadili, “Mengambil barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain dengan maksud untuk memiliki secara melawan hukum”, perbuatan tersebut dilakukan oleh terdakwa dengan cara sebagai berikut;

- Bahwa berawal ketika terdakwa dari rumahnya yang beralamat di yarler komleks kampung pisang hendak menuju kede desa langgur untuk menemui keluarga terdakwa, pada saat perjalanan terdakwa melewati gereja msc langgur, pada saat itu

(10)

Jurnal Ilmu Hukum. Volume 2. Nomor 2 Oktober 2020. Hal 82

terdakwa melihat 1 (satu) unuit

sepeda motor merk yamaha tipe 2XS dengan nomor polisi DE 4665 IA milik saksi korban inisial L.R yang terparkir di halaman gereja tersebut, kemudian muncul niat terdakwa untuk mengambil sepeda motor yang terparkir tersebut. Setelah itu terdakwa terdakwa melihat kondisi di gereja msc langgur pada saat itu dalam keadaan sepi, terdakwa berjalan menujuh kearah sepeda motor merk yamaha tipe 2XS dengan nomor polisi DE 4665 IA tersebut. Kemudian terdakwa duduk diatas sepeda motor tersebut sambil melihat-lihar keadaan disekitar geraja, setelah beberapa saat terdakwa melihat-lihat keadaan disekitar gereja dan terdakwa melihat keadaan aman selanjutnya terdakwa memasukan tangaan kanannya melewati kap/body bagian depan, lalu terdakwa menarik /mencabut kabel yang terhubung dengan kunci kontak hingga putus dan rusak, setelah itu terdakwa menyambung lagi kabel yang telah terputus tadi dan menghidupkan mesin sepeda motor tersebut, setelah mesin sepeda motor hidup selanjutnya terdakwa pergi mengendarai sepeda motor tersebut;

- Bahwa 1 (satu) unit sepeda motor merk yamaha tipe 2XS dengan nomor polisi DE 4665 IA dengan

nomor rangka

MH3SE9010FJ127263 dan nomor mesin E3R43-0138680 berdasarkan surat tanda nomor kendaraan bermotor (STNKB) nomor:

18934030 adalah milik saksi korban inisial L.R.

- Bahwa terdakwa mengambil 1 (satu) unit sepeda motor merk yamah tipe 2XS dengan nomor polisi DE 4665 IA milik saksi korban inisial L.R tanpa sepengetahuan saksi korban selaku pemilik sepeda motor sepeda motor tersebut.

- Bahwa terdakwa mengambil 1 (satu) unit sepeda motor merk yamah tipe 2XS dengan nomor polisi DE 4665 IA milik saksi korban inisial L.R dengan tujuan untuk dijual dan nantinya uang hasil penjualan tersebut hendak dipergunakan terdakwa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

- Bahwa akibat perbuatan terdakwa tersebut saksi korban inisial L.R mengalami kerugian sebesar Rp.

25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah). Perbuatan terdakwa melanggar ketentuan sebagaimana diatur dan diancam dalam pasal 362 KUHP.

c.Tuntutan Jaksa Penuntut Umum Tuntutan jasa penuntut umum

dalam perkara ini yaitu,Supaya Hakim/Majelis Hakim Pengadilan Negeri tual yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan:

1. Menyatakan terdakwa inisial D.S.T terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidanan

“pencurian” sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 362 KUHP sebagaimana dalam dakwaan tunggal penuntut umum.

2. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa inisial D.S.T dengan pidana penjara selama 3 (tiga)

(11)

Jurnal Ilmu Hukum. Volume 2. Nomor 2 Oktober 2020. Hal 83

tahun dikurangi selama terdakwa

berada dalam tahanan dengan perintah agar terdakwa tetap di tahan;

3. Menyatakan barang bukti berupa foto copy surat tanda nomor kendaraan bermotor (STNKB) NO.

18934030 atas nama inisial L.R.

1(satu) unit sepeda motor merk yamaha tipe 2XS nomor rangka MH3SE9010FJ127263 nomor mesin E3R43-0138680.

4. Menetapkan agar terdakwa dibebani membayar biaya perkara masing-masing sebesar Rp. 2.000,- (dua ribu rupiah).

1. Analisis Penulis.

Dalam kasus ini, Penulis akan menguraikan sebuah dakwaan dan tuntutan dari jaksa penuntut umum yang telah di jelaskan di atas, adapun uraian tersebut yaitu.

a. Analisis posisi Kasus

Berdasarkan uraian kejadian yang sudah di jelaskan di atas maka peneliti memaparkan kasus secara sederhana yaitu seseorang atau terdakwa inisial D.S.T yang dimana, Mengambil barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain dengan maksud untuk memiliki secara melawan hukum.

Bahwa yang dimaksud Mengambil barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain dengan maksud untuk memiliki secara melawan hukum yang dimana terdakwa mengambil suatu barang yang bukan hak miliknya

tanpa seizin dari korban seperti yang telah ditetapkan oleh Pasal 362 (KUHP) dan dari perbuatan terdakwa bukan hanya terjerat Pasal 362 (KUHP) tetapi terdakwa juga perna melakukan kejahatan yang sama yang dimana melakukan kasus pencurian dan pencabulan, sehingga dari perbuat terterdakwa maka perbuatan tersebut juga termasuk dalam Pasal 486 (KUHP) yang dimana hukuman yang ditabah 1/3 dari maksimum pidana hukuman yang pernah dijalani.

Ancaman pidana.

Dari segi ancaman pidananya menurut Pasal 362 KUHP yaitu di pidana penjara paling lama5(lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 900,00,-(sembilan ratus rupiah).

b. Analisis dakwaan Jaksa Penuntut Umum.

Dalam kasus ini Penulis berpendapat bahwa dakwaan dari jaksa penuntut umum telah sesuai, hal tersebut didasari oleh pasal 143 KUHAP yang berbunyi:

(1) Penuntut umum melimpahkan perkara ke pengadilan negeri dengan permintaan agar segera mengadili perkara tersebut disertai dengan surat dakwaan.

(2) Penuntut umum membuat surat dakwaan yang diberi tanggal dan ditanda tangani serta berisi:

(a) nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama dan pekerjaan

(12)

Jurnal Ilmu Hukum. Volume 2. Nomor 2 Oktober 2020. Hal 84

tersangka. (b) uraian secara

cermat jelas dan lengkap mengenai tindak pidana yang di dakwakan dengan menyebutkan waktu dan tempat tidak pidana itu dilakukan. Apa yang di sebutkan dalam dakwaan jaksa penuntut umum dalam kasus ini telah memenuhi syarat syarat yang telah di sebutkan dari pasal 143 KUHAP. Apabila suatu dakwaan penuntut umum tidak memenuhi syarat dari pasal di atas maka dakwaan tersebut di nyatakan batal demi hukum, hal tersebut di uraikan dalam Pasal 143 ayat (3) KUHAP. (3) Surat dakwaan yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf b batal demi hukum.

c. Analisis tuntutan jaksa penuntut umum.

Untuk mengetahui suatu tuntutan tersebut telah sesuai atau tidak, maka dilihat dari apa yang di anggap terbukti oleh jaksa penuntut umum. Oleh karena itu dakwaan jaksa penuntut umum akan membuktikan dakawaan yang jaksa penuntut umum anggap terbukti yaitu pasal 362 KUHP yang unsur- unsurnya sebagai berikut:

1.

Barang siapa;

2.

Mengambil barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain dengan maksud untuk memiliki secara melawan hukum;

Pendapat jaksa penuntut umum dan hakim yang menangani kasus ini yaitu adanya persamaan baik itu tuntutan jaksa dan amar putusan dari hakim itu sendiri yaitu memidana terdakwa dengan

pidana penjara selama 3 (tiga) tahun.

Persamaan persepsi hakim dan jaksa penuntut umum tersebut di dasari oleh karena terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan” Mengambil Barang Sesuatu yang Seluruhnya Atau Sebagian Kepunyaan Orang Lain Dengan Maksud Untuk Memiliki Secara Melawan Hukum”, namun dalam surat tuntutan jaksa tidak menjelaskan berapa lama terdakwa penah dihukum pada hukumannya yang terdahulu agar hakim bisa memutuskan hukuman yang pernah dijalani sesuai Pasal 486 (KUHP).

B. Faktor-faktor pertimbangan Hukum Hakim dalam menjatuhkan sanksi pidana terhadap pelaku dalam perkara No.31/Pid.B/2019/PN.Tul.

Faktor-faktor pertimbang hukum hakim dalam Kasus yang diperiksa oleh Pengadilan Negeri Tual ini telah melewati tahap pemeriksaan dan sampai pada putusan hakim yang pada amar putusannya: Menimbang bahwa terdakwa diajukan ke persidangan dengan dakwaan sebagai berikut: Bahwa terdakwa inisial D.S.T pada hari senin tangal 25 maret 2019 sekitar pukul 12.00 WIT atau setidak-tidaknya pada suatu waktu dalam tahun 2019, bertempat di depan gereja msc langgur, kec.kei kecil kab.maluku tenggara atau setidak-tidaknya pada suatu tempat yang masih termasuk dalam daerah hukum pengadilan negeri tual yang berwenang memeriksa dan mengadili,

“Mengambil barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan

(13)

Jurnal Ilmu Hukum. Volume 2. Nomor 2 Oktober 2020. Hal 85

orang lain dengan maksud untuk

memiliki secara melawan hukum”, perbuatan tersebut dilakukan oleh terdakwa dengan cara sebagai berikut;

Bahwa berawal ketika terdakwa dari rumahnya yang beralamat di yarler kompleks kampung pisang hendak menuju kede desa langgur untuk menemui keluarga terdakwa, pada saat perjalanan terdakwa melewati gereja msc langgur, pada saat itu terdakwa melihat 1 (satu) unuit sepeda motor merk yamaha tipe 2XS dengan nomor polisi DE 4665 IA milik saksi korban inisial L.R yang terparkir di halaman gereja tersebut, kemudian muncul niat terdakwa untuk mengambil sepeda motor yang terparkir tersebut.

Setelah itu terdakwa terdakwa melihat kondisi di gereja msc langgur pada saat itu dalam keadaan sepi, terdakwa berjalan menujuh kearah sepeda motor merk yamaha tipe 2XS dengan nomor polisi DE 4665 IA tersebut. Kemudian terdakwa duduk diatas sepeda motor tersebut sambil melihat-lihar keadaan disekitar geraja, setelah beberapa saat terdakwa melihat-lihat keadaan disekitar gereja dan terdakwa melihat keadaan aman selanjutnya terdakwa memasukan tangaan kanannya melewati kap/body bagian depan, lalu terdakwa menarik/mencabut kabel yang terhubung dengan kunci kontak hingga putus dan rusak, setelah itu terdakwa menyambung lagi kabel yang telah terputus tadi dan menghidupkan mesin sepeda motor tersebut, setelah mesin sepeda

motor hidup selanjutnya terdakwa pergi mengendarai sepeda motor tersebut;

Bahwa 1 (satu) unit sepeda motor merk yamaha tipe 2XS dengan nomor polisi DE 4665 IA dengan nomor rangka MH3SE9010FJ127263 dan nomor mesin E3R43-0138680 berdasarkan surat tanda nomor kendaraan bermotor (STNKB) nomor:18934030 adalah milik saksi korban inisial L.R.

Bahwa terdakwa mengambil 1 (satu) unit sepeda motor merk yamah tipe 2XS dengan nomor polisi DE 4665 IA milik saksi korban inisial L.R tanpa sepengetahuan saksi korban selaku pemilik sepeda motor sepeda motor tersebut.

Bahwa terdakwa mengambil 1 (satu) unit sepeda motor merk yamah tipe 2XS dengan nomor polisi DE 4665 IA milik saksi korban inisial L.R dengan tujuan untuk dijual dan nantinya uang hasil penjualan tersebut hendak dipergunakan terdakwa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bahwa akibat perbuatan terdakwa tersebut saksi korban inisial L.R mengalami kerugian sebesar Rp. 25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah).

Perbuatan terdakwa melanggar ketentuan sebagaimana diatur dan diancam dalam Pasal 362 KUHP.

Menimbang bahwa terhadap dakwaan penuntut umum tersebut terdakwa menerangkan telah mengerti dan mengajuan keberatan

Menimbang, bahwa untuk membuktikan surat dakwaan penuntut umum, telah di ajukan 3

(14)

Jurnal Ilmu Hukum. Volume 2. Nomor 2 Oktober 2020. Hal 86

(tiga) orang saksi yang telah di

sumpah menurut keyakinan agamanya yaitu:

1. Saksi inisial L.R 2. Saksi inisial M.R 3. Saksi inisial H.B

Dari keterangan ketiga orang saksi sama sepeti yang di dakwai oleh jaksa, dan dari keterangan 3 (tiga) orang saksi tersebut, terdakwa tidak keberatan dan membenarkan keteranagan saksi.

Menimbang, bahwa dari keteranagan para saksi dan keterangan terdakwa serta barang bukti yang diajukan ke persidangan, maka pengadilan telah memperoleh fakta dan keadaan.

Menimbang, bahwa di persidangan telah di perlihatkan barang bukti ALAT –ALAT BUKTI

- Foto copy surat tanda nomor kendaraan bermotor (STNKB) NO. 18934030 atas nama inisial L.R.

- 1 (satu) unit sepeda motor merk yamaha tipe 2XS nomor rangka MH3SE9010FJ127263, nomor mesin E3R43-0138680.

Menimbang, bahwa untuk mempersingkat uraian dalam putusan ini,maka segala sesuatu yang terjadi dalam persidangan sebagaimana termuat secara lengkap dalam berita acara sidang dianggap merupakan satu kesatuan dengan putusan ini;

Menimbang, bahwa dari fakta hukum sebagaimana disebutkan di atas, maka akan di pertimbangkan apakah perbuatan terdakwa dapat dipersalahkan sebagaimana yang didakwakan oleh penuntut umum;

Minimbang, bahwa para terdakwa diajukan ke persidangan dengan dakwaan tunggal, yaitu melanggar pasal ketentuan 362 KUHP yang unsur-unsurnya sebagai berikut:

1. Barang siapa;

2. Mengambil barang orang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum.

1. unsur barang siapa:

Menimbang, bahwa yang di maksud dengan barang siapa adalah subyek hukum atau pelaku yang mampu mempertanggung jawabkan perbuatannya di depan hukum;

Menimbang, bahwa dari perkara ini

penuntut umum telah

menghadapkan para terdakwa kepersidangan dan atas pertanyaan majelis hakim, terdakwa mengaku bernama Inisial D.S.T yang identitasnya sama seperti dalam surat dakwaan dan terdakwa terbukti dalam keadaan sehat jasmani rohani serta dapat menjawab pertanyaan majelis hakim dengan baik dan jelas, maka dengan demikian majelis hakim berpendapat bahwa terdakwa dapat mempertanggung jawabkan perbuatannya, sehingga dengan demikian unsur barang siapa telah terpenuhi;

2. mengambil barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum:

Menimbang, bahwa yang maksud dengan barang sesuatu yang

(15)

Jurnal Ilmu Hukum. Volume 2. Nomor 2 Oktober 2020. Hal 87

seluruhnya atau sebagian

kepunyaan orang lain yaitu barang yang berwujud yang mempunya nilai ekonomi.

Menimbang, bahwa terkait pengertian tersebut dihubungkan dengan perkara terdakwa, yang harus dibuktkan adalah apakah perbutan terdakwa yang dimaksudkan unsur pasal dimaksud;

Menimbang, bahwa berdasarkan alat bukti yang terungkap dipersidangan berupa keterangan saksi-saksi, surat, keterangan terdakwa, petujuk dan barang bukti, diperoleh pada posisi kasus di atas.

Menimbang, bakwa berdasarkan fakta-fakta sebagaimana telah di pertimbangkan tersebut telah nyata bahwa perbuatan terdakwa yang telah mengambil 1 (satu) unit sepeda motor merk yamaha tipe 2XS dengan nomor polisi DE 4665 IA denga nomor rangka MH3SE9010FJ127263 dan nomor mesin E3R430138680 berdaarkan Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (STNKB) nomor 18934030 milik saksi korban inisial L.R dan dilakukan tanpa adanya izin dari pihak korban dan nyata-nyata bahwa sepeda motor tersebut bukan milik terdakwa, dan hal tersebut merupakan perbuatan yang dikehendaki secara tanpa hak miliknya secara melawan hukum, dengan demikian unsur ini telah terpenuhi;

Menimbang, bahwa pembelaan lisan dari terdakwa yang pada pokoknya hanya bermohon kepada hakim agar dapat menjatuhkan putusan yang seringan-ringannya kepada terdakwa, sehingga hal tersebut

akan hakim pertimbangkan sebagai hal-hal dari diri terdakwa;

Menimbang, bahwa dengan di penuhinya semua unsur sebagaimana tersebut diatas, maka perbuatan terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan perbuatan pidana “pencurian”;

Menimbang, bahwa sepanjang pemeriksaan perkara ini pengadilan menemukan adanya alasan pembenar maupun alasan pemaaf pada diri terdakwa, yang dapat mengahapus sifat melawan hukumnya perbuatan dan menghapuskan kesalahan terdakwa, oleh karena itu terdakwa harus dipidana setimpal dengan kesalahannya;

Menimbang, bahwa karena terdakwa di pidana maka kepadanya harus pula dihukum untuk membayar biaya perkara;

Menimbang, bahwa dalam perkara ini terdakwa ditahan berdasarkan surat perintah/

penetapan yang sah, maka lamanya terdakawa ditahan dikurangkan seluruhnya dari pidana yang di jatuhkan;

Menimbang, bahwa juga tidak cukup alasan untuk menangguhkan atau melepaskan terdakwa dari penahanan, maka penahanan atas diri terdakwa harus tetap dipertahankan;

Menimbang, bakwa terkait barang bukti berupa 1 (satu) unit sepeda motor merk yamaha tipe 2XS dengan nomor polisi DE 4665 IA denga nomor rangka MH3SE9010FJ127263 dan nomor mesin E3R430138680 nama inisial L.R dan 1 (satu) lembar foto copy Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (STNKB) nomor 18934030 atas nama inisial L.R, berdasarkan

(16)

Jurnal Ilmu Hukum. Volume 2. Nomor 2 Oktober 2020. Hal 88

fakta dipersidangan bahwa

barang bukti tersebut merupakan milik, maka suda sepatutnya barang bukti tersebut dikembalikan kepada korban;

Menimbang, bahwa sebelum di jatuhi pidana, terlebih dahulu di pertimbangkan hal-hal memberatkan dan meringankan:

Hal-Hal yang Memberatkan.

Perbuatan Terdakwa

Menimbulkan Kerugian Bagi Korban Dan Meresahkan Masyarakat;

- Terdakwa Pernah Di Jatuhi Pidana 2 Kali Yaitu Atas Perbuatan Pidana Pencabulan Dan Pidana Pencurian;

- Bahwa Terdakwa Baru Saja Selesai Menjalani Masa Pidana Tersebut Membuktikan Tidak

Pernah Menyesali

Perbuatannya.

Hal-Hal yang Meringankan.

- Terdakwa mengakui terus terang sehingga tidak mempersulit jalannya persidangan.

Menimbang, bahwa berdasarkan hal-hal tersebut, maka pidana yang akan dijatuhkan dipandang cukup pantas dan memenuhi rasa keadilan; Menimbang ketentuan pasal 362 KUHP, undang-undang nomor 8 tahun 1981 tentang KUHAP serta ketentuan-ketentuan lain yang berlaku;

M E N G A D I L I

1. Menyatakan terdakwa inisial D.S.T terbukti bersalah melakukan tindak pidana “Pencurian”;

2. Menjtuhkan pidana oleh karena itu kepada terdakwa inisial D.S.T dengan pidana penjara selama 3 (tiga tahun)

3. Menetapkan.

4. masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani oleh terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.

5. Memerintahkan terdakwa tetap berada di dalam tahanan.

6. Menetapkan barang bukti berupa:

foto copy surat tanda nomor kendaraan bermotor (STNKB) NO.

18934030 atas nama inisial L.R yang; Terlampir dalam berkas perkara. dan 1 (satu) unit sepeda motor merk yamaha tipe 2XS

nomor rangka

MH3SE9010FJ127263, nomor mesin E3R43-0138680, Dikembalikan kepada saksi korban inisial L.R;

7. Membebankan biaya perkara kepada terdakwa sebesar Rp.

2.000,- (dua ribu rupiah);

ANALISIS PENULIS.

Dari faktor-faktor pertimbangan hakim maka Pengambilan keputusan sangat diperlukan oleh hakim dalam menentukan putusan yang akan dijatuhkan kepada terdakwa. Hakim harus dapat mengolah dan memproses data-data yang diperoleh selama proses persidangan dalam hal ini bukti-bukti, keterangan saksi, pembelaan terdakwa, serta tuntutan jaksa. Sehingga keputusan yang akan dijatuhkan kepada terdakwa dapat didasari oleh rasa tanggung jawab, keadilan, kebijaksanaan, dan profesionalisme.

Hakim yang menangani kasus ini sudah tentu telah memperhatikan pertimbangan-pertimbangan yang ada baik pada: pertimbangan yuridis

(17)

Jurnal Ilmu Hukum. Volume 2. Nomor 2 Oktober 2020. Hal 89

maupun dengan menilai apa yang ada

dalam ruang persidangan yang dalam hal ini adalah mengenai keterangan saksi, keterangan terdakwa, barang bukti, tuntutan jaksa (sudah sesuaikah dengan pasal yang dituntutkan pada terdakwa), keyakinan hakim dan sebagainya. Semua itu merupakan hal yang harus diperhatikan dan membutuhkan kejelian dalam menggali kejadian yang sebenarnya sehingga dapat diperoleh suatu keputusan yang dianggap adil.

PERTIMBANGAN YURIDIS.

Pembuktian yuridis merupakan pokok dari seluruh tuntutan pidana untuk membuktikan tindak pidana apakah yang dilakukan oleh terdakwa bersalah atau tidak atas tindak pidana tersebut.

Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap didepan persidangan, berupa keterangan saksi keterangan terdakwa dan jika dihubungkan dengan barang bukti maka saling bersesuaian, maka sampailah kepada kepada pembuktian mengenai unsur tindak pidana yang didakwakan kepada diri terdakwa melanggar Pasal 362 KUHP; dengan unsur-unsur sebagai berikut:

a. Barang siapa.

unsur barang siapa mengandung arti bahwa pelaku tindak pidana adalah berupa subyek atau orang yang dapat dituntut secara hukum atas tindak pidana yang didakwakan.

Dalam perkara ini orang yang didakwakan kepersidangan telah melakukan tindak pidana adalah terdakwa yang bernama inisial D.S.T yang bersangkutan membenarkan indentitasnya bahwa terdakwa sebagai pelaku suatu tindak pidana

yang didakwakan. Dengan demikian unsur ini telah terbukti secara sah dan meyakinkan.

b. Mengambil barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain dengan maksud untuk memiliki secara melawan hukum.

Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dalam pemeriksaan di persidangan berupa saksi-saksi keterangan terdakwa dan dihubungkan dengan barang bukti dalam perkara ini, maka telah terbukti secara sah dan meyakinkan bahwa adalah terdakwa yang bernama inisial D.S.T telah mengambil sesuatu kepunyaan orang lain untuk memiliki secara melawan hukum.

Suatu proses peradilan berakhir dengan putusan akhir (vonnis) yang didalamnya terdapat penjatuhan sanksi pidana (penghukuman), dan didalam putusan itu hakim menyatakan pendapatnya tentang apa yang telah dipertimbangkan dan apa yang menjadi amar putusannya. Dalam upaya membuat putusan serta menjatuhkan sanksi pidana, hakim harus mempunyai pertimbangan yuridis yang terdiri dari dakwaan penuntut umum, keterangan terdakwa, keterangan saksi, barang- barang bukti, dan pasal-pasal perbuatan hukum pidana, dan pertimbangan nonyuridis yang terdiri dari latar belakang perbuatan terdakwa, akibat perbuatan terdakwa, kondisi terdakwa, serta kondisi ekonomi terdakwa, ditambah hakim haruslah meyakini apakah terdakwa melakukan perbuatan pidana atau tidak sebagaimana yang termuat dalam unsur-unsur tindak pidana yang didakwakan kepadanya.

Berdasarkan putusan hakim Pengadilan Negeri tual serta hasil analisis penulis, maka penulis berpendapat bahwa dalam perkara ini

(18)

Jurnal Ilmu Hukum. Volume 2. Nomor 2 Oktober 2020. Hal 90

telah terjadi tindak pidana pencurian

yang dimana Mengambil barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain dengan maksud untuk memiliki secara melawan hukum, bahwa dari pertimbangan hakim dalam menjatuhkan sanksi pidana terhadap pelaku dalam perkara ini hakim melihat dari fakta-fakta dari alat bukti dan keterangan saksi telah sesuai, Namun hakim dalam mejatuhkan putusan juga harus mepertimbangkan Hal-hal yang dimana terdakwa terus terang dalam persidagan tidak mempersulit jalanya persidanagan sopan santun dalam persidangan belum sempat menikmati hasil curiannya mengambil barang tersebut karna adanya kebutuhan ekonomi, mengembalikan hasil curiannya. Sehingga hal-hal tersebut

harus diperhatikan dan

dipertimbangkan oleh hakim dalam menjatuhkan putusan yang seadil adilnya terhadap pelaku tindak pidana pencurian.

KESIMPULAN

Hakim dalam menjatuhkan putusan telah mempertimbangkan hukuman yang sesuai bagi pelaku tindak pidana pencurian “Mengambil barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain dengan maksud untuk memiliki secara melawan hukum”, Bahwa Sesuai dengan dakwaan jaksa penuntut umum Hakim mengadili terdakwa berdasarkan pasal 362 (KUHP) dengan hukuman pidana penjara selama 3 (tiga tahun), dan Dilihat dari fakta-fakta persidangan sesuai dengan pasal 197 huruf d (KUHAP) “Pertimbangan yang di susun

secara ringkas mengenai Fakta dan Keadaan Beserta Alat Bukti yang diperoleh dari Pemeriksaan disidang yang Menjadi Dasar Penentuan Kesalahan Terdakwa”, yang merupakan dasar pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan putusan. Bahwa sebelumnya pelaku pernah dihukum dan perbuatan pelaku pernah dihukum termasuk dalam tindak pidana Residivis yang mana ketentuan dari tindak pidana tersebut diatur dalam Pasal 486 (KUHP) dengan hukuman ditambah 1/3 dari maksimum pidana hukuman yang penah dijalani. bahwa dari pertimbangan hakim dalam menjatuhkan sanksi pidana terhadap pelaku dalam perkara ini hakim melihat dari fakta-fakta dari alat bukti dan keterangan saksi telah sesuai, Namun hakim dalam mejatuhkan putusan juga harus mepertimbangkan Hal-hal yang dimana terdakwa terus terang dalam persidagan tidak mempersulit jalanya persidanagan, sopan santun dalam persidangan, belum sempat menikmati hasil curiannya, mengambil barang tersebut karna adanya kebutuhan ekonomi mengembalikan hasil curiannya. Sehingga hal-hal tersebut harus di perhatikan dan dipertimbangkan oleh hakim dalam menjatuhkan putusan yang seadil adilnya terhadap pelaku tindak pidana pencurian.

SARAN

Di dalam putusan ini tidak ada surat tuntutan dari jaksa penuntut umum yang menjelaskan berapa lama terdakwa perna dihukum pada hukuman yang sebelumnya sehingga tidak dapat

(19)

Jurnal Ilmu Hukum. Volume 2. Nomor 2 Oktober 2020. Hal 91

diakses oleh penulis berapa lama masa

hukuman yang pernah dijalani oleh terdakwa sehingga penulis tidak dapat mengetahui secara jelas bahwa terdakwa perna menjalani berapa lama masa hukuman yang terdahulu, dan tidak ada keterangan pertimbangan hakim yang menjelaskan seperti penambahan 1/3 (sepertiga) yang di

paparkan, hanya ada terdapat keterangan “terdakwa perna di hukum”.

Dalam menjatuhkan sanksi pidana, seorang hakim harus melihat faktor- faktor dalam pertibangan hakim sehingga dapat memberikan rasa keadilan baik bagi korban, terdakwa maupun marsarakat sehingga dapat tercipta suatu kepastian hukum.

(20)

Jurnal Ilmu Hukum. Volume 2. Nomor 2 Oktober 2020. Hal 92

DAFTAR PUSTAKA

Adami Chazawi, 2012,Penafsiran dan Penegakan Hukum Pidana,Raja Grafindo, Jakarta.

Abdulsyani.1987, Sosiologi Kriminalitas. Bandung:Remadja Karya.

Andi Zainal Abidin Farid. 1982. Azas-Azas Hukum Pidana. Jakarta:Paramita.

Ahmad, Rifai. 2010. Penemuan Hukum oleh Hakim dalam Persfektif Hukum Progresif, Jakarta: Sinar Grafika.

--- 2011, Penemuan Hukum oleh Hakim,Sinargrafika, Jakarta.

Andi Hamzah, 2006, Hukum Pidana dan Acara Pidana, Ghalia Indonesia, Jakarta.

Barda Nawawi Arief, 2014, Beberapa Masalah Perlindungan Hukum Pidana, PT. Raja Grafindo Persada, Cetakan Kedua:Jakarta.

Bagir, Manan. 2005. Sistem Peradilan Berwibawa (Suatu Pencarian).FH-UII Press.

Yogyakarta.

Bambang Purnomo, 1996,Teori Hukum Pidana, SinarGrafika, Jakarta.

Erdianto Effendi, 2011, Hukum Pidana Indonesia, PT. Refika Aditama, Bandung.

Hari Sasangka, Lily Rosita.. 2003. Hukum Pembuktian Dalam Perkara Pidana.

Bandung.

M. Yahya Harapan. 2012. Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP Penyidikan dan Penuntutan. Jakarta: Sinar Grafika.

Moeljatno, 1993. Azas-Azas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta.

Nikmah Rosidah, 2011,Asas-Asas HukumPidana, Pustaka Magister, Semarang.

Lilik, Mulyadi.2007. Kekuasaan Kehakiman, Bina Ilmu, Surabaya--- 2014.Seraut Wajah dalam Hukum Acara Pidana Indonesia;

Perspektif, Teoritis, Praktik, Teknik Membuat dan Permasalahnnya. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Prof. Dr. H. Zainuddin Ali, M.A. 2012, Sosiologi Hukum; Sinar Graafik

Prof. Dr. Sukarto Aburaera, S.H, Prof. Dr. Muhadar,. S.H.,M.Si. dan Maskun, S.H., LL.M. 2013,Filsafat Hukum, Kencana Prenada Media Group Roeslan Saleh, 1999, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana, Aksara

Baru, Jakarta.

Said Sampara dan La Ode Husen, 2016, Metode Penelitian Hukum, Edisi Revisi, Kretakupa Print, Makassar.

Satjipto, Raharjo, 1982. Ilmu Hukum, Bandung: Alumni..

Tri Andrisman.2007. Hukum Pidana, Universitas Lampung, Bandar Lampung Viswandro,2014. Kamus Istilah Hukum, Pustaka Yustisia

Wirjono Pradjodikoro, 2012, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia, PT. Refika Aditamaja, Bandung.

PERUNDANG-UNDANGAN

Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945

Undang-Undang No.8 tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana.

Undang-Undang No.48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.

Undang-Undang No.8 tahun 2004 tentang Peradilan umum.

Undang-Undang 27 tahun 1999 tentang Perubahan KUHP yang berkaitan dengan Kejahatan Keamanan Negara.

REFERENSI JURNAL/ SKRIPSI/ DESERTASI.

Skripsi dari vannya quinta husin universitas lampung, bandar lampung,2019..

WEBSITE

http://intim.news/2017/05/pelaku-pencurian-motor-dibekuk-satuan-reskrim-polres-malra/

https://github.com/yukuku/kbbi4.2016-2020.

Referensi

Dokumen terkait

Klaten, atau setidak- tidaknya di tempat lain yang masih termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Klaten, telah mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau

“Barang siapa yang mengambil sesuatu barang yang sama sekali atau sebagian termasuk kepunyaan orang lain dengan maksud akan memiliki barang itu dengan melawan hak, dihukum

“Barang siapa mengambil barang, yang sama sekali atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk memiliki barang itu dengan melawan hukum, dipidana karena mencuri

Barangsiapa dengan sengaja dan melawan hukum menghancurkan, merusakkan, membikin tak dapat dipakai atau menghilangkan barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian

40 ” Barang siapa dengan sengaja menguasai secara melawan hukum sesuatu benda yang seharusnya atau sebagian merupakan kepunyaan orang lain yang. berada padanya bukan karena

Barang siapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunnyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena

“Barang siapa mengambil suatu barang, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud memilikinya secara melawan hukum, diancam karena pencurian

“Barang siapa mengambil barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk menguasai benda tersebut secara melawan hak,