• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Investasi dan Kriteria Investasi

Investasi secara sederhana dapat didefinisikan sebagai sebuah usaha untuk tujuan pengembangan harta. Selain itu, tujuan investasi merupakan suatu komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat sekarang, dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan di masa yang akan datang, selain itu investasi adalah penggunaan dana dengan maksud untuk memperoleh penghasilan (Husnan, 2004). Sedangkan menurut (Tandelilin, 2001), investasi merupakan komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan dimasa yang akan datang. Dari beberapa pengertian investasi diatas dapat disimpulkan bahwa investasi merupakan kegiatan dalam bidang finansial yang dimaksudkan untuk memperoleh hasil yang maksimal dari kekayaan atau asset yang ditanam untuk masa yang akan datang.

Secara Filosof investasi syariah pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan konsep investasi konvensional. Namun ada beberapa perbedaan dalam operasinya. Perbedaan investasi syariah dengan investasi konvensional yang paling fundamental menurut (yasni dan Pontjowinoto, 2006) adalah sebagai berikut:

1. investasi syariah memiliki substansi entitas investasi sesuai dengan syariat islam.

2. Investasi syariah mempunyai cara mentransaksikan substansi entitas investasi sesuai dengan syariat islam.

3. Investasi syariah mengaju pada hukum-hukum positif dan kelaziman dalam komunitas investasi secara umum sesuai dengan anjuran syariat islam.

(2)

7

Prinsip dasar investasi syariah mengacu kepada Al Qur’an dan As Sunnah sebagai sumber hukum Islam umat muslim. Islam melarang praktek

riba secara utuh. Oleh sebab itu, investasi atau layanan perbankan secara syariah tidak menerapkan tarif bunga seperti yang diterapkan perbankan konvensional karena tarif bunga yang ditetapkan di awal bisa saja memberatkan salah satu atau kedua belah pihak. Hal ini tidak dibenarkan dalam syariah Islam karena dianggap sebagai praktek riba. Sebaliknya, investasi syariah lebih menekankan kepada profit sharing atau bagi hasil.

Artinya, keuntungan yang diperoleh dari investasi tersebut dibagi sesuai proporsi masing-masing. Dengan kata lain, keuntungan maupun kerugian ditanggung bersama oleh kedua belah pihak, sehingga tidak ada pihak yang terbebani.

Menurut jenisnya, investasi syariah dibedakan menjadi dua. Pertama, investasi aset keuangan, seperti perbankan, deposito, dan saham. Kedua, investasi aset riil, seperti tanah, properti, logam mulia, industri, dan pertanian. Dalam persepektif Islam, investasi sangat dianjurkan karena dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Artinya, agar meningkat transaksi jual- beli, simpan-pinjam, sewa-menyewa, gadai, dan kegiatan ekonomi lainnya secara prinsip syariah. Di dalam salah satu ayat Al-Qur`an, Allah SWT berfirman, “Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu” (QS Al-Hasyr: 7).

Investasi dilihat dari sudut religiusitas merupakan sebuah amal shaleh yang menjadi bekal manusia untuk hari perhitungan kelak. Karna tidak ada satu orangpun di Dunia ini yang mengetahui masa depan, sehingga Allah memerintahkan untuk melakukan investasi sebagai bekal dunia ahirat. (Al – Hasyi :18. Z alwi, 2003), menjelaskan bahwa Investasi merupakan menanaman modal atau nempatan asset, baik berupa harta maupun dana pada sesuatu yang diharapkan akan menghasilkan keuntungan dimasa yang

(3)

8

akan datang sebagai pendapatan dari investasi tersebut. Sedangkan modal adalah suatu bukti tanda kepemilikan bagian saham suatu perseroan terbatas dalam transaksi saham.

Saham syariah menurut (fatwa DSN MUI No. 40 tahun 2003) adalah bukti atas kepemilikan suatu perusahaan yang memenuhi kriteria sebagaimana yang tercantum dalam pasal 3; yaitu jenis barang, produk dan jasa yang diberikan dan akad serta cara pengelolaan perusahaan emiten atau perusahaan publik yang menerbitkan efek syariah tidak boleh bertentangan dengan prinsip – prinsip syariah dan tidak termasuk saham yang memiliki hak istimewa.

Kriteria investasi adalah penilaian yang dilakukan untuk mengukur imbal hasil yang didapatkan atau biaya yang dikeluarkan untuk suatu instrumen investasi. Kriteria investasi dalam penelitian (Brimble, 2013), Terdapat 4 kriteria yaitu kriteria keuangan, kriteria umum, kriteria etik dan sosial, dan kriteria informasi.

2.2. Keputusan Investasi

Investasi didefinisikan sebagai cara penanaman modal, baik langsung maupun tidak langsung dengan harapan para pemilik modal mendapatkan sejumlah keuntungan yang sesuai dengan apa yang diharapkan dari hasil penanaman modal tersebut (Syamsudin, 1997).

Menurut (Wilson, 2008, dalam Purnamasari, 2010), pengambilan keputusan merupakan proses pemilihan salah satu alternatif. Pengertian ini didukung dengan definisi yang diungkapkan oleh (Goetsch dan Davus, 1997) sebagaimana dikutip (Supranto, 2003) sebagai berikut:

“Decision making is the process of selecting one course of action from among two or more alternatives.” (“mengambil atau membuat keputusan ialah memilih salah satu alternatif dari sekian banyak alternatif”).

(4)

9

Dalam proses investasi, seorang investor berperan sebagai pengambil keputusan dari beberapa alternatif investasi. Keputusan yang akan diambil tentunya bukanlah keputusan yang asal karena dalam proses investasi tersebut investor sebisa mungkin harus menghindari risiko. Dalam melakukan proses investasi, sangat diperlukan bagaimana seharusnya seorang investor membuat keputusan investasi dalam berbagai macam asset (riil atau finansial). Adapun proses investasi tersebut melalui beberapa tahapan, yaitu: (1) dengan menentukan tujuan investasi, (2) melakukan analisis, (3) melakukan pembentukan portofolio, (4) melakukan evaluasi kinerja portofolio, (5) melakukan revisi kinerja portofolio (Ahmad, 1996).

Ada 3 hal yang menjadi tujuan utama melakukan investasi. (1) adanya kebutuhan masa depan atau kebutuhan yang belum mampu dipenuhi saat ini. (2) adanya keinginan untuk menambah nilai aset dan melindungi nilai aset yang sudah dimiliki. (3) karena adanya inflasi (Pratomo dan Nugraha, 2005).

Pada tahapan melakukan analisis biasanya investor akan melakukan riset seperti mempelajari keadaan perekonomian, laporan keuangan perusahaan, kinerja keuangan perusahaan, sampai seberapa besar risiko. Sedangkan pada tahapan melakukan pembentukan portofolio, dilakukan identifikasi terhadap asset-asset mana yang akan dipilih dan berapa proporsi dana yang akan diinvestasikan pada masing- masing asset tersebut. Jadi, keputusan investasi merupakan proses pengalokasian dana yang dilakukan untuk penanaman modal dengan harapan pemilik modal mendapatkan keuntungan.

2.3. Pengertian religiusitas

Dalam keagamaan kontemporer dijelaskan bahwa Religi ternyata bukan lagi seperti pemahaman orang terdahulu, yakni hanya semata-mata

(5)

10

terkait dengan persoalan ketuhanan atau keimanan saja. Keberagamaan (religiusitas) diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan manusia. Aktivitas beragama tidak hanya terjadi ketika seseorang melakukan ibadah. tetapi apresiasi terhadap ajaran agama tersebut juga telah diaplikasikan dalam kegiatan duniawi atau kemasyarakatan termasuk perbankan. Religi adalah peraturan yang mengatur keadaan manusia maupun mengenai sesuatu ghaib, mengenai budi pekerti dan pergaulan hidup bersama.

Istilah religiusity ( religiuitas ) berasal dari bahasa inggris “Religion”

yang berarti agama kemudian menjadi kata sifat “Religios” yang berarti agamis atau saleh. (Henkten Nopel, 1994 ), mengartikan religiosity sebagai keberagaman, tingkah laku keagamaan. Religiuisitas juga merupakan sebuah ekspresi spiritual seseorang yang berkaitan dengan sistem keyakinan, nilai, hukum yang berlaku secara ritual. Selain itu religiositas merupakan aspek yang telah di hayati oleh individu di dalam hati, getaran hati nurani dan sikap personal.

Sulit untuk mencari definisi yang berlaku untuk agama secara umum, akan tetapi Religiusitas merupakan aspek yang telah dihayati oleh individu di dalam hati, getaran hati nurani pribadi dan sikap personal (Mangunwija, 1986). Hal serupa juga diungkapkan oleh ( Glock & Stark , 1988) mengenai religiusitas yaitu sikap keberagamaan yang berarti adanya unsur internalisasi agama ke dalam diri seseorang. Definisi lain mengatakan bahwa religiusitas yaitu merupakan sebuah proses untuk mencari sebuah jalan kebenaran yang berhubungan dengan sesuatu yang sakral. Senada dengan (Clarke dan Byrne, 1993), mengidentifikasi agama sebagai berikut:

“system of symbols which acts to establish powerful, pervasive, and long-lasting moods and motivations in men by formulating conceptions of a general order of existence and clothing these conceptions with such an aura of factuality that the moods and motivations seem uniquely realistic”.

(6)

11

“A belief in God accompanied by a commitment to follow principles believed to be set forth by God”.

(McDaniel &

Burnett, 1990, p. 103) Aspek religiusitas menurut ( kementrian dan lingkungan hidup RI 1987), religi dalam agama islam terdiri dari 5 aspek yaitu:

1. Aspek iman menyangkut keyakinan dan hubungan manusia dengan Tuhan, malaikat, para nabi dan sebagainya. Dalam aspek ini dapat mengukur seberapa besar tingkat keyakinan seseorang terhadap Allah, seberapa besar keyakinan terhadap malaikat, seberapa besar tingkat keyakinan terhadap rosullah, seberapa besar seseorang memiliki keyakinan terhadap kitab Allah ( Al-Quran ), serta ajaran yang terkandung di dalamnya, dan melihat seberapa

besar keyakinan yang dimiliki seseorang terhadap ketentuan Allah ( Qoda dan Qodar ), serta keyakinan bahwa hari kiamat itu ada.

2. Aspek Islam menyangkut frekuensi, intensitas pelaksanaan ibadah yang telah ditetapkan, misalnya sholat, puasa dan zakat. Aspek ini dapat di gunakan untuk menilai tingkat rutinitas seseorang dalam menjalankan sholat wajib 5 waktu, melaksanakan ibadah wajib puasa di bulan Ramadan, tidak pernah lalai dalam membayar zakat dan memiliki keinginan untuk melaksanakan ibadah haji jika memiliki kemampuan keuangan.

3. Aspek ihsan menyangkut pengalaman dan perasaan tentang kehadiran Tuhan, takut melanggar larangan dan lain-lain.

4. Aspek ilmu yang menyangkut pengetahuan seseorang tentang ajaran - ajaran agama.

5. Aspek amal menyangkut tingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat, misalnya menolong orang lain, membela orang lemah, bekerja dan sebagainya.

Religiusitas yang telah terinternalisasi dalam jiwa seseorang berproses menjadi sebuah nilai. Sebagaimana rasa keagamaan sangat berpengaruh

(7)

12

terhadap bentuk persepsi, sikap serta perilaku individu baik yang dapat dikategorikan sebagai sikap dan perilaku religius maupun yang bukan religius.

Rasa keagamaan merupakan kondisi internal manusia, untuk menelaah kondisi internal tersebut, dapat dilihat dari ekspresi dalam bentuk perilaku sebagai indikatornya. Dan karna kondisi internal tersebut bersifat komplek, maka untuk menguraikannya para psikologi agama membuat deskripsi – deskripsi yang di sebut psikografi. Psikografi yang banyak digunakan, dikembangkan oleh teori (clock, 1988) tentang dimensi of religions yaitu religious belief dimensi ideologi, Religious Practice (dimensi praktik keagamaan, religious feeling dimensi pengalaman dan religious knowledge dimensi pengetahuan agama dan religious efect dimensi konsekuensi.

Rumusan tentang dimensi keberagamaan tersebut mempunyai kesesuaian dalam ajaran islam, yakni dimensi idiologi ( keyakinan disejajarkan dengan akidah ), dimensi ritualistic (praktik agama disejajarkan dengan syariah, dan konsekuensial (pengalaman) dapat disejajarkan dengan akhlak.

Di sisi lain (Glock dan Star, 2003 ) menambahkan Secara rinci dimensi – dimensi keberagaman tersebut sebagai berikut:

1. Dimensi Idiologi ( keyakinan ) yaitu dimensi rasa percaya yang dapat mengukur seberapa jauh seseorang mempercayai keyakinan agamanya, misalnya tentang keberadaan dan sifat – sifat tuhan, ajaran - ajaran dan takdir Tuhan. Dalam islam dimensi kepercayaan ini masuk kedalam kategori mengukur 6 Rukun iman yakni iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada rosul, iman kitab Allah ( Al-Quran ), dan iman kepada hari kiamat.

2. Dimensi ritualistic ( Praktik ) yaitu dimensi peribadatan mengukur seberapa jauh seseorang melaksanakankewajiban peribadatan

(8)

13

agamanya dan khusus untuk mengukur dimensi ritual bagi umat muslim dapat difokuskan pada pelaksanaan 5 rukun Islam yaitu syahadat, sholat, puasa, zakat dan naik haji.

3. Konsekuensional ( pengalaman ) yaitu dimensi yang mengukur seberapa dalam rasa kebertuhanan seseorang. Dimensi ini mengukur seberapa besar rasa kedekatannya dengan Tuhan. Dalam islam dimensi ini di ukur dengan seberapa besar kepercayaannya terhadap tuhan, seberapa jauh pemahaman tentang al-Quran dan perilaku dapat di amati dengan rutinitas pelaksanaan ibadah – ibadah yang dianjurkan dalam agama islam.

2.4. Pengertian Gender

Pengertian gender menurut (Muhtar, 2002), gender dapat diartikan sebagai jenis kelamin sosial atau konotasi masyarakat untuk menentukan peran sosial berdasarkan jenis kelamin. Sementara (Fakih, 2008: 8) mendefinisikan gender sebagai suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan kultural. Istilah gender merujuk kepada perbedaan karakter laki-laki dan perempuan berdasarkan kontruksi sosial budaya, yang berkaitan dengan sifat, status, posisi, dan perannya dalam masyarakat. Selanjutnya, yang dimaksud dengan gender adalah cara pandang atau persepsi manusia terhadap perempuan atau laki-laki yang bukan didasarkan pada perbedaan jenis kelamin secara kodrati biologis. Gender dalam segala aspek kehidupan manusia 13 mengkreasikan perbedaan antara perempuan dan laki-laki termasuk kreasi sosial kedudukan perempuan yang lebih rendah dari pada laki-laki. Misalnya, bahwa perempuan itu dikenal lemah lembut, cantik, emosional, atau keibuan.

Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan, perkasa. Ciri dari sifat itu sendiri merupakan sifat-sifat yang dapat dipertukarkan. Artinya ada laki-laki

(9)

14

yang emosional, lemah lembut, keibuan, sementara juga ada perempuan yang kuat, rasional dan perkasa ( Hadiati, 2010 : 15). Dari berbagai pendapat di atas peneliti menyimpuilkan bahwa istilah gender merujuk pada nilai-nilai sosial yang berlaku di masyarakat berdasarkan jenis kelamin. Nilai-nilai tersebut dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman dan dapat dipertukarkan. Itu terjadi karena gender tidak melekat pada jenis kelamin tetapi pada pelabelan masyarakat.

2.5. Afiliasi Religiusititas dan keputusan Investasi

(Lehrer, 2004), Dalam tinjauan kritis nya peran Religi dalam perilaku ekonomi dan demografi di Amerika Serikat menjunjung tinggi pentingnya afiliasi agama mengingat dampaknya pada kisaran bahwa seseorang membuat keputusan ekonominya Berkenaan dengan religiusitas, ia berpendapat bahwa dimensi religi mempengaruhi hasil akhir dari perilaku ekonomi dan demografi karena menekankan efek afiliasi dan karena pengaruh umumnya positif pada kesehatan dan kesejahteraan yang dapat memiliki dampak atas perilaku tersebut. Berfokus pada kelompok agama utama di Amerika Serikat, seperti Protestan, Protestan konservatif, Katolik Roma, Yahudi dan Mormon, serta tidak terafiliasi, (Lehrer, 2004) menemukan faktor empiris tentang pengaruh religiusitas dalam stabilitas perkawinan, pilihan pasangan perkawinan, kesuburan, wanita yang bekerja bekerja di rumah dan di pasar sebagai tenaga kerja, pendidikan, upah dan kekayaan dan pernikahan. Hal ini memberikan kesempatan untuk studi ini untuk mengeksplorasi efek dari religiusitas pada perilaku ekonomi individu luar rezim AS, terutama dalam ekonomi berkembang.

Disisi lain (Haron, Ahmad dan Planisek, 1994) menemukan bahwa investor islam menggunakan motif keuntungan diatas motif religi ketika membuat keputusan investasi. Selain itu mereka juga melakukan survei untuk menentukan kriteria seleksi bank yang dianggap penting oleh

(10)

15

pelanggan non-Muslim dan Muslim di lingkungan dual banking, dan untuk mengukur pengetahuan mereka tentang keberadaan bank syariah dan persepsi mereka terhadap bank di Malaysia. Hasil penelitian menemukan bahwa faktor paling penting yang dipertimbangkan oleh umat Islam dalam memilih lembaga keuangan mereka karena "cepat dan efisien. Hanya 40%

dari pelanggan Muslim percaya bahwa agama adalah satu-satunya alasan untuk berinvestasi pada bank syariah.

Penelitian sejalan juga di lakukan oleh (Bradley dan William, 2007), yang menemukan bahwa mereka yang memiliki prinsip religiuitas tinggi lebih berkomitmen berinvestasi pada saham syariah, sedangkan seseorang yang memiliki tingkat pemahaman religiusitas rendah lebih beresiko dalam perilaku berinvestasi. (Roni dan mustofa, 2013 ) menambahkan bahwa tingkat reliabilitas seseorang yang memiliki tingkat religiusitas tinggi sangat reliabel memiliki kecendrungan terhadap pilihan investasi pada saham syariah, seseorang yang memiliki tingkat religiuisitas sedang, reliabel memiliki kecendrungan berperilaku optimis dan melakukan investasi pada saham syariah, seseorang yang memiliki tingkat religiusitas rendah cukup reliabel lebih mementingkan kriteria –kriteria tertentu dalam berinvestasi, sedangkan seseorang yang memiliki tingkat religiusitas sangat rendah lebih cendrung beresiko dalam mengambil perilaku berinvestasi dan tidak mementingkan prinsip syariat agama.

Literatur di atas menunjukkan pentingnya agama sebagai bagian yang berkaitan dengan perilaku individu. Namun, penting untuk dicatat bahwa sebagian besar penelitian sebelumnya tentang topik ini telah dilakukan di kalangan penduduk Autralia & Amerika yang didominasi Katolik, Protestan atau Yahudi dan Masih banyak keterbatasan penelitian mengenai peran agama dalam kontek investasi (Renneboog dan Spaenjers, 2011). Oleh karena itu, ada kebutuhan untuk mengidentifikasi apakah agama

(11)

16

mempengaruhi perilaku investasi, terutama di ekonomi berkembang dan mayoritas penduduk beragama islam seperti Indonesia.

(Bengston dan star, 2008), menambahkan bahwa perilaku kriteria investasi dapat di ukur dengan mengelompokan kriteria investasi menjadi 4 ( empat ) yaitu, kriteria keuangan, kriteria umum, kriteria etik dan sosial dan kriteria informasi. kriteria ini di bagi menjadi 4 bagian dengan tujuan untuk

dapat menganalisis perbedaan antara tingkat kepentingan pada masing – masing variabel dalam mempertimbangkan perilaku investor terhadap tingkat religiusitas.

Dalam masing masing kriteria tersebut, kriteria keuangan terletak pada bagian pertama karna kriteria keuangan di anggap sebagai faktor utama pendorong seseorang untuk berinvestasi dengan melihat performa perusahaan, peringkat baik perusahaan, analisis keuangan, dan tingkat biaya operasional keuangan perusahaan dalam berinvestasi. Dalam kriteria keuangan investor dihadapkan dengan sebuah pilihan keputusan dimana investor akan melihat nilai perusahaan dengan mempertimbangkan transaksi investasi dalam perusahaan pada kondisi dimana harga index saham diatas rata – rata dan melepas saham jika harga saham di bawah rata – rata. Investor akan berinvestasi dengan mempertimbangkan dan melihat peringkat baik perusahaan dalam analisis keuangan, kemudian investor juga mempertimbangkan biaya masuk dan melihat lebih lanjut keuangan perusahaan mengenai biaya operasional.

Kemudian diikuti dengan kriteria umum dimana investor dihadapkan pada pilihan apakah akan berinvestasi pada saham dalam negeri atau luar negeri. Pada kriteria ini akan mengukur pilihan seseorang dengan tingkat religiusitas tertentu apakah akan lebih memilih berinvestasi di saham syariah pada perusahaan milik Indonesia, atau lebih memilih berinvestasi pada

(12)

17

saham Malaysia karna Negara tersebut lebih dahulu menerbitkan ketentuan investasi syariah di banding investasi saham syariah perusahaan Indonesia.

Kriteria etik dan sosial berkaitan dengan produksi atau penjualan barang – barang haram yang dilarang dalam agama misalnya alkohol, senjata tajam, tembakau,aborsi dan melakukan eksperimen kepada hewan. Dalam kriteria ini akan menunjukan perilaku dari kedua kelompok dengan perbandingan tingkat religiusitas individu, apakah kelompok religiuitas tinggi akan lebih konservatif dalam mengabil keputusan dan kelompok religiuitas rendah akan lebih beresiko dalam perilaku berinvestasi. Pada ke dua kelompok tingkat religiusitas tersebut apakah masing masing akan mempertimbangkan pilihan investasi pada saham yang berkaitan dengan penjualan atau produksi alcohol, produksi senjata tajam, produksi tembakau, perusahaan yang rutin melakukan kegiatan amal, perusahaan yang mensponsiri kegiatan seni, perusahaan yang terlibat dalam kegiatan aborsi, dan eksperimen pada hewan.

kriteria informasi berkaitan dengan sikap dan perilaku seseorang dalam menentukan keputusan investasi berdasarkan rekomendasi dari laporan keuangan, melihat laporan keuangan perusahaan dari majalah dan Koran serta rekomendari dari seorang teman.

2.6. Pengembangan Hipotesis

Menurut (Glock dan Star, 2003 ) dan (kementrian agama RI, 1987), religi (agama islam) merangkum dimensi dalam menentukan tingkat religiusitas individu yaitu:

Idiologi ( keyakinan ) yaitu dimensi rasa percaya yang dapat mengukur seberapa jauh seseorang mempercayai keyakinan agamanya, misalnya tentang keberadaan dan sifat –sifat tuhan, ajaran ajaran dan takdir Tuhan.

Dalam islam dimensi kepercayaan ini masuk kedalam kategori mengukur 6 Rukun iman yakni iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada

(13)

18

rosul, iman kitab Allah ( Al-Quran ), dan iman kepada hari kiamat. Dimensi ritualistic ( Praktik ) yaitu dimensi peribadatan mengukur seberapa jauh seseorang melaksanakan kewajiban peribadatan agamanya dan khusus untuk mengukur dimensi ritual bagi umat muslim dapat difokuskan pada pelaksanaan 5 rukun Islam yaitu syahadat, sholat, puasa, zakat dan naik haji.

Konsekuensional ( pengalaman ) yaitu dimensi yang mengukur seberapa dalam rasa kebertuhanan seseorang. Dimensi ini mengukur seberapa besar rasa kedekatannya dengan Tuhan. Dalam islam dimensi ini di ukur dengan seberapa besar kepercayaannya terhadap tuhan, seberapa jauh pemahaman tentang al-Quran dan perilaku dapat di amati dengan rutinitas pelaksanaan

ibadah – ibadah yang dianjurkan dalam agama islam.

(Bengtsson, 2008), keyakinan merupakan kekuatan pendorong di balik penciptaan dana yang dikelola dalam berinvestasi sesuai dengan prinsip-prinsip agama, dalam penelitiannya ditemukan bahwa tingkat religiusitas umumnya terkait dengan sikap etis yang lebih tinggi, senada dengan (Bredly, 2001 ) yang mengatakan bahwa, tidak hanya kriteria investasi saja yang dapat mempengaruhi perilaku keputusan investor.

Tingkat religiusitas juga turut berperan dalam mempengaruhi keputusan investasi seseorang. Namun, (Agle dan Van Buren, 1999) menemukan bahwa keyakinan memiliki hubungan lemah terhadap tanggung jawab sosial perusahaan. Kedua penelitian tersubut menunjukkan bahwa adanya tingkat kemungkinan bagi investor yang memiliki tingkat religiuisitas tinggi akan lebih memilih berinvestasi pada saham syariah, sedangkan investor yang memiliki religiusitas rendah tidak terlalu mementingkan pilihan investasi berdasarkan agama karena rata rata mereka akan lebih mementingkan bagaimana tanggung jawab perusahaan terhadap investor.

Mengingat hasil yang bertentangan diatas dan hubungan erat antara keyakinan agama terhadap keputusan investasi, ada kebutuhan untuk lebih

(14)

19

mengkaji perbedaan sikap positif investor terhadap keputusan investasi dengan menggunakan keyakinan agama sebagai penentu. Hal ini memberikan kesempatan untuk lebih ketat menguji dampak dari religiusitas pada keputusan investasi, mengingat bukti yang menunjukkan bahwa religiusitas individu mungkin lebih cenderung untuk berinvestasi dalam produk tertentu. Ini akan memberikan hipotesis bahwa religiusitas akan berdampak dalam hal keputusan investasi.

Seperti yang telah di uraikan sebelumnya, bahwa kriteria investasi juga dianggap sebagai cerminan kinerja serta prospek perusahaan di masa mendatang. Oleh karena itu, investor akan mendasari keputusan investasi mereka pada ke 4 ( empat ) kriteria investasi yakni kriteria keuangan, kriteria umum, kriteria sosial dan etika, serta kriteria informasi. tentu saja, investor akan melihat perusahaan dengan ke empat kriteria tersebut dalam menentukan pilihan investasinya

2.6.1. Keputusan Investasi Individu Berdasarkan Kriteria Keuangan.

(Bradley, 2001), menempatkan kriteria keuangan sebagai kriteria yang paling penting dalam berinvestasi dan pada survei menunjukan bahwa nilai rata – rata pada pilihan kriteria ini sangat tinggi. Kontras dengan penelitian (Brimble, 2005), yang mengatakan bahwa terdapat perbedaan yang positif ketika investor di hadapkan dengan sebuah pilihan investasi dalam konteks religiusitas, terdapat perbedaan yang signifikan antara individu yang memiliki tingkat religiusitas tinggi dengan individu yang tingkat religiusitasnya rendah dan Individu yang memiliki tingkat religiusitas tinggi cendrung melihat investasi dari segi prinsip keagamaan namun individu yang memiliki tingkat religiusitas rendah tidak mementingkan hal hal yang berkaitan dengan prinsip agama.

(15)

20

Berdasarkan penalaran tersebut, maka dapat dikatakan bahwa orang yang memiliki religiusitas tinggi akan lebih mementingkan prinsip prinsip yang sudah ditetapkan oleh agama dalam mengambil keputusan investasi serta lebih memikirkan resiko keputusan investasinya dan pertanggungjawabannya kepada Allah, sedangkan individu yang tingkat religiusitasnya rendah akan lebih cendrung berinvestasi dengan melihat perusahaan melalui tingkat keuntungan, segi keuangan yang bagus dan tidak terlalu mementingkan prinsip – prinsip keagamaan. Ini memberikan hipotesis bahwa religiusitas berdampak pada keputusan investasi individu dalam sebuah kriteria keuangan, maka dapat diturunkan hipotesis sebagai berikut .

H1 :Terdapat perbedaan perilaku dalam keputusan investasi antara kedua kelompok dimana kelompok dengan religiusitas rendah akan lebih mementingkan kriteria keuangan sedangkan kelompok religiusitas tinggi lebih mementingkan aktivitas keagamaan.

2.6.2. Keputusan Investasi Individu Berdasarkan Kriteria Umum.

(Bengston, 2008 ), mengatakan bahwa keyakinan adalah kekuatan pendorong dibalik terciptanya dana yang dikelola pada investasi yang berlandaskan prinsip – prinsip agama. Agama juga berperan penting dalam mempengaruhi sikap individu dalam mengambil sebuah keputusan investasi.

Hasil penelitian yang diperoleh menunjukan bahwa investor lebih cendrung dipengaruhi sikap etis dalam keputusannya dan kriteria umum dianggap tidak terlalu berpengaruh pada keputusan individu baik individu dengan tingkat religiusitas tinggi atau individu dengan religiusitas rendah ( Bengston, 2008 ).

Kriteria umum adalah penilaian yang dilakukan untuk mengukur imbal hasil yang didapatkan atau biaya yang dikeluarkan untuk suatu

(16)

21

instrumen investasi dan dalam pengukuran kriteria umum pada penelitian disebutkan ada beberapa pengaruh dalam kriteria umum diantaranya yaitu berinvestasi pada perusahaan di Indonesia, berinvestasi pada saham Malaysia karena lebih dahulu menerbitkan ketentuan investasi syariah dibandingkan investasi syariah yang ada di Indonesia, atau memilih investasi pada sebuah perusahaan yang tertua dalam bidang syariah.

Penalaran diatas menunjukan bahwa kriteria umum tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap terhadap keputusan investasi antara individu yang memiliki religiusitas tinggi atau individu yang memiliki religiusitas rendah, maka dapat di rumuskan hipotesis sebagai berikut.

H2 : Tidak terdapat perbedaan perilaku dalam keputusan investasi pada kriteria umum antara kelompok religiusitas tinggi dengan kelompok religiusitas rendah.

2.6.3. Keputusan Investasi Individu Berdasarkan Kriteria etik dan sosial.

Kriteria etik dan sosial dianggap sebagai kriteria yang penting dalam sebuah bisnis dalam suatu perusahaan, pada Tahun 1992 Methodis mulai berinvestasi di pasar saham, ketika mereka menyatakan bahwa itu tidak lagi mirip dengan perjudian. Namun, mereka menolak untuk berinvestasi dalam saham yang mendapat keuntungan dari judi atau alkohol. Pada tahun 1928, dana pertama yang dikelola yang diinvestasikan sesuai dengan prinsip- prinsip agama, dengan tidak berinvestasi di perusahaan yang terlibat dalam alkohol, tembakau atau perbudakan. Namun, kemajuan lambat dan dukungan untuk Dana ini hanya datang dari mereka yang ingin berinvestasi sesuai dengan keyakinan agama mereka dan nilai-nilai namun pada Era modern untuk pengembangan prinsip ini dimulai pada akhir 1960-an dengan munculnya hak-hak sipil, hak-hak perempuan dan gerakan konsumerisme,

(17)

22

Perang Vietnam dan undang-undang sosial (Kinder, Lydenberg dan Domini ,1993).

Kemunculan undang undang sosial tersebut mengakibatkan banyaknya perusahaan – perusahaan yang bermunculan dengan mengutakan prinsip etik dan sosial. Banyak investor yang mulai mempercayakan dan lebih mempertimbangkan pilihan investasinya terhadap perusahaan ataupun saham – saham yang memiliki kriteria etik dan sosial.

Sebuah hasil penelitian yang dilakukan (Brimble , Kremmer & Tahir 2010) dalam studi keuangan islam menemukan bahwa pada umumnya individu yang memiliki tingkat religiusitas tinggi pada kriteria etik dan sosial memiliki pengaruh yang lebih tinggi pada pengambilan keputusan investasi dibandingkan individu yang dengan religiusitas rendah senada dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Angelidis & Ibrahim 2004), menemukan bahwa individu yang memiliki religiusitas tinggi lebih mementingkan kriteria etik dan sosial dalam lingkungan perusahaan dan menunjukkan bahwa kelompok yang lebih religius lebih konservatif di bandingkan kelompok tidak religius, berbeda dengan hasil penelitian yang ditemukan oleh (Agle dan Van Buren, 1999), menemukan bahwa religiusitas memiliki hubungan yang lemah terhadap sikap dan tanggung jawab sosial perusahaan pada kriteria etik dan sosial, dapat dikatakan bahwa individu dengan tingkat religiusitas tinggi tidak mementingkan kriteria etik dan sosial, sama halnya dengan individu dengan religiusitas rendah yang tidak mementingkan kriteria etik dan sosial pada pengambilan sebuah keputusan dalam investasi.

Berdasarkan penalaran diatas, dugaan yang muncul pada penelitian ini yaitu individu dengan tingkat religiusitas tinggi lebih mengutamakan investasi pada perusahaan yang telah memenuhi kriteria etik dan sosial

(18)

23

sedangkan individu dengan religiusitas rendah tidak mementingkan kriteria etik dan sosial, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut.

H3 : Terdapat perbedaan perilaku keputusan investasi yang signifikan terhadap kriteria etik dan sosial, individu dengan religiusitas tinggi lebih mementingkan kriteria etik dan sosial sedangkan individu dengan religiusitas redah tidak mementingkan adanya kriteria etik dan sosial pada perusahaan.

2.6.4. Keputusan Investasi Individu Berdasarkan Kriteria Informasi.

Kriteria informasi merupakan kriteria penentu bagi investor yang ingin berinvestasi terutama investor yang ingin menginvestasikan dananya pada prusahaan yang bagus. Kriteria informasi dapat diperoleh melalui rekomendasi dari konsultan sebuah perusahaan, laporan keuangan dari majalah atau koran, atau rekomendasi dari seorang teman.

(Bradley, 2001), dalam penelitiannya menjelaskan bahwa ternyata kriteria informasi memiliki peringkat ketiga setelah individu memilih kriteria keuangan. Kedua kelompok yakni kelompok dengan tingkat religiusitas tinggi dan kelompok dengan tingkat religiusitas rendah umumnya sepakat mengenai pentingnya atribut ini dan tidak terbukti adanya perbedaan yang signifikan secara statistik.

Berdasarkan penalaran diatas, menunjukan bahwa kriteria informasi tidak sepenting kriteria etik dan sosial, dimana kriteria ini hanya sebagai kriteria tambahan. maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut.

H4 : Tidak terdapat perbedaan perilaku dalam keputusan investasi antara kelompok religiusitas tinggi dengan kelompok religiusitas rendah.

Referensi

Dokumen terkait

Potongan harga merupakan diskon produk atau harga marginal rendah yang diberikan untuk mempengaruhi konsumen dalam berbelanja agar lebih impulsif Iqbal

Penentuan lokasi zonasi, fungsi dan pemanfaatannya di dalam kawasan konservasi laut di Kabupaten Bombana didasarkan pada data ekologi yang ada, pemahaman prinsip

Sedangkan hasil uji parsial di peroleh baha tingkat inflasi dan upah minimum memiliki pengaruh negatif dan signifikan, sedangkan tingkat pertumbuhan ekonomi tidak

tersebut dilakukan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang berada di Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo. Metode yang digunakan dalam penelitian

Gaji merupakan kompensasi secara langsung yang diberikan kepada karyawan atau pegawai sebagai balas jasa atas hasil kerja yang telah dilakukan?. Demikian juga dengan upah,

Tambahkan Tombol untuk menghapus data, caranya: Pada toolbox klik Command Button lalu letakkan pada Form, pada Form akan muncul jendela Command Buttom Wizards, Pada Categories

Metode ini memanfaatkan arus listrik bervoltase kecil yang dihubungkan ke benda yang akan dites, dengan memindahkan secara elektrolisis sejumlah kecil sampel ke kertas

Pilihan ganda adalah tahap kedua dari pengembangan tes two-tier. Jumlah butir soal yang dikembangkan adalah 25 butir dengan jumlah opsi sebanyak lima. Distraktor pada