BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Penelitian ini dilakukan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh

Teks penuh

(1)

8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Penelitian ini dilakukan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya, beberapa peneliti terdahulu akan memberikan gambaran mengenai variabel-variabel yang dapat mempengaruhi impulsive buying. Berikut ini adalah beberapa ringkasan penelitian terdahulu sebagai berikut:

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

Judul dan Nama Peneliti Variabel Penelitian Hasil Analisis

Retno Yustini

Wahyunindyah (2019) Analisis Pengaruh Potongan Harga, Paket Bonus, Pajangan dalam Toko dan Suasana Toko Terhadap Perilaku Pembelian Impulsif Pada Pelanggan Minimarket Indomaret Hybrid di Kota Semarang

Potongan Harga (X1) Paket Bonus (X2) Pajangan dalam Toko (X3)

Suasana Toko (X4) Impulsive Buying (Y)

Hasil Penelitian menunjukan diskon, paket bonus, pajangan toko, suasana toko signifikan dan positif terhadap impulsive buying

Diana Arif Setyasih (2017) Anlisis Pengaruh Price

Discount, Bonus Pack, Dan In-Store Display Terhadap

Keputusan Impulse Buying

Behavior Konsumen (Studi

Kasus Pada Swalayan Kembang Mas Grabag Di Kota Magelang) Price discount (X1) Bonus Pack (X2) In-Store Display (X3) Impulse Buying Behavior (Y)

Metode metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda dengan uji F dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel potongan harga, paket bonus dan in-store Gambaran perilaku pembelian impulsif konsumen pada gerai Kembang Mas Grabag di Magelang signifikan secara parsial maupun simultan

(2)

Suranta Sembiring (2013) Pengaruh Shopping Lifestyle Dan Fashion Involvement Terhadap Impulse Buying Behaviour (Survey Pada Konsumen Di Toko “Top Man, Top Shop” Di Paris Van Java Mall, Bandung)

Shopping lifestyle (X1) Fashion Involvement (X2)

Impulsive Buying (Y)

Hasil penelitian variabel lifestyle shopping dan fashion involvement positif berpengaruh terhadap impulsive buying dan hasilanalisis uji T dapat diketahui shopping lifestyle dan fashion involevement berpengaruh signifikan terhadap impulsive buying

Nia Widianingrum (2017) Pengaruh Shopping Lifestyle,

Merchandising, Price Reduction Dan Store Atmosphere Terhadap Impulse Buying Behavior

(Studi Kasus Pada Pelanggan Swalayan Luwes Delanggu)

Shopping lifestyle (X1) Mercahndising(x2) Price Reduction(X3) Store Atmosphere(X4) Impulsive Buying(Y)

Hasil penelitian ini menunjukan variabel shopping lifestyle , merchandising, price reduction, store atmosphere berpengaruh signigikan terhadap impulsive buying

Yuniar Indah Suhartini (2015)

Pengaruh Shopping Lifetyle,

Fashion Involvement, Dan Hedonic Shopping Motivation Terhadap Impulse Buying (Studi Kasus

pada Konsumen Matahari Departement Store di Kota Semarang) Shopping lifestyle(X1) Fashion Involvement(X2) Hedonic Shopping Motivation(X3) Impulse Buying (Y)

Hasil Analisis menunjukan shopping lifestyle, fashion involvement, hedonic shopping motivation berpengaruh signifikan dan positive terhadap impulsive buying

Nia Yusnia Sari (2020)

The Effect Of Shopping Lifestyle, Hedonic Shopping Motivation, And Sales Promotion On Impulse Buying Behavior In E-Commerce (Case Study Of Berrybenja Consumer) Shopping Lifestyle (X1) Hedonic Shopping Motivation(X2) Sales Promotion (X3) Impulse Buying(Y)

Berdasarkan hasil penelitian gaya hidup belanja berpengaruh terhadap impulse buying, motivasi belanja hedonis tidak berpengaruh terhadap perilaku impulse buying dan promosi penjualan tidak berpengaruh terhadap perilaku impulse buying.

Ahmad Maulana (2019)

The Effect Of Shopping Lifestyle And Positive Emotion On Buying Impulse (Case Study Of The

Palembang City Hypermarket)

Shopping Lifestyle(X1) Positive Emotion(X2) Impulse Buying (X3)

Berdasarkan hasil penelitian

shopping Lifestyle dan emosi positif

memiliki pengaruh yang signifikan terhadap impulse buying

Zulki Zulkifli Noor (2020)

The Effect Of Price Discount And In-Store Display On Impulse Buying

Price Discount(X1) In-Store Display(X2) Impulse Buying (Y)

Berdasarkan hasil penelitian price

discount dan in-store display secara

parsial berpengaruh signifikan terhadap impulse buying. Price

(3)

simultan memiliki pengaruh positif terhadap impulse buying.

Sumber : Data diolah (2020)

Berdasarkan tabel diatas, perbedaan yang mendasar dalam penelitian ini terletak pada objek penelitian. Pada penelitian ini akan menggunakan marketplace Lazada sebagai objek. Persamaan dalam penelitian ini dan penelitian terdahulu yaitu sama-sama mengkaji variabel shopping lifestyle dan discount yang mempengaruhi terhadap Impulsive Buying.

B. Landasan Teori

1. Impulsive Buying

a. Definisi Impulsive Buying

Menurut Mowen and Minor (2001) menjelaskan bahwa pembelian impulsif adalah tindakan membeli yang sebelumnya tidak diakui secara sadar sebagai hasil dari pertimbangan, atau niat membeli yang terbentuk sebelum memasuki toko. Puspayani (2015) mendefinisikan pembelian impulsif sebagai pembelian yang tidak rasional dan diasosiasikan dengan pembelian yang cepat dan tidak direncanakan, diikuti oleh adanya konflik fikiran dan dorongan emosional. Terdapat dua elemen penting dalam impulse buying yaitu kognitif dan emosional yang diuraikan sebagai berikut:

a. Kognitif

Elemen ini fokus pada konflik yang terjadi pada kognitif individu yang meliputi:

(4)

2) Tanpa melakukan evaluasi terhadap pembelian produk

3) Tidak membandingkan produk yang di akan dibeli dengan produk yang bermanfaat

b. Emosional

Elemen ini fokus pada kondisi emosional konsumen yang meliputi: 1) Munculnya dorongan untuk segera melakukan pembelian. 2) Adanya kepuasan setelah melakukan pembelian.

Menurut Rook (1987) pembelian implusif diartikan sebagai pembelian ketika konsumen merasakan dorongan keinginan secara tiba-tiba, terkadang sangat kuat dan keras untuk membeli sesuatu secara cepat. Bersamaan dengan itu Beatty and Ferrel (1998) nimendefinisikan pembelian implusif sebagai pembelian cepat dan tiba-tiba dengan tidak adanya maksud sebelumnya untuk membeli kategori produk tertentu atau untuk memenuhi tugas membeli produk tertentu.

Pembelian tak terencana adalah perilaku pembelian tanpa ada perencanaan terlebih dahulu Yistiani (2012) Impulse buying terjadi ketika konsumen mengalami dorongan emosi untuk membeli produk, tanpa pertimbangan bijaksana mengapa dan untuk apa alasan membeli suatu produk tersebut Utami dan Rastini, (2015).

Pembelian implusif adalah perilaku berbelanja yang terjadi secara tidak terencana, tertarik secara emosional, dimana proses pembuatan keputusan dilakukan dengan cepat tanpa berpikir secara bijak dan pertimbangan terhadap keseluruhan informasi dan alternatif yang ada

(5)

(Baylel dan Nancarrow, 1998 dalam Yistiana, 2012: 140). Dapat dikatakan bahwa pembelian impulsif atau yang sering disebut impulse buying adalah perilaku berbelanja yang dilakukan secara tiba–tiba, cepat, dan tidak direncanakan sebelumnya.

b. Karakteristik Impulse Buying

Menurut Wathani (2009) mengemukakan lima karakteristik penting yang membedakan tingkah laku konsumen yang impulsif dan tidak impulsif. Diantaranya sebagai berikut:

1) Konsumen merasakan adanya suatu dorongan yang tiba-tiba dan spontan untuk melakukan suatu tindaka yang berbeda dengan tingkah laku sebelumnya.

2) Dorongan tiba-tiba untuk melakukan suatu pembelian menempatkan konsumen dalam kadaan tidak seimbang secara psikologis, dimana konsumen tersebut merasa kehilangan kendali untuk sementara waktu. 3) Konsumen akan mengalami konflik psikologis dan berusaha untuk

mengimbangi antara pemuasan kebutuhan langsung dan konsekuensi jangka panjang dari pembeliaan.

4) Konsumen akan mengurangi evaluasi kognitif dari produk

5) Konsumen seringkali membeli secara impulsif tanpa memperhatikan konsekuensi yang akan dating.

(6)

c. Tipe Impulse Buying

Menurut Stern dalam Utami (2011) ada empat tipe pembelian impulsif

diantaranya pure impulse, suggestion impulse, reminder impulse, planned

impulse yang diuraikan sebagai berikut:

1) Pure Impulse

Pure Impulse adalah tipe pembelian impulsif, konsumen tidak

mempertimbangkannya saat membeli, dengan kata lain pembeli tidak melakukan pembelian dengan pola yang biasa dilakukan.

2) Sugggestion Impulse

Suggestion Impulse adalah tipe pembelian impulsif dimana konsumen

tidak mengetahui tentang produk tersebut, tetapi ketika pertama kali melihat produk tersebut, konsumen akan tetap membelinya karena mungkin membutuhkannya.

3) Reminder Impulse

Reminder Impulse adalah tipe pembelian impulsif dimana konsumen

melihat suatu produk dan mengingat bahwa mereka membutuhkan produk tersebut dikarenakan persediaan yang terbatas.

4) Planned Impulse

Planned Impulse adalah tipe pembelian impulsif dimana konsumen

memasuki toko dengan harapan dan niat untuk melakukan transaksi pembelian berdasarkan harga khusus, kupon dan kesukaan.

(7)

d. Indikator Impulsive Buying

Menurut Japarianto (2011), terdapat beberapa indikator pada impulse

buying, yaitu spontanitas, kekuatan konpulsif, stimulasi, ketidakpedulian

akan akibat yang dijelaskan sebagai berikut: 1) Spontanitas

Keinginan membeli produk yang tidak terduga sebelumnya, dikarenakan adanya keinginan untuk membeli suatu produk secara tiba-tiba yang ditimbulkan oleh bentuk visual suatu produk atau melalui promosi dalam bentuk visual namun terkadang tidak dipengaruhi apapun.

2) Kekuatan Konpulsif

Rangsangan dari dalam diri konsumen karena adanya keinginan mendesak untuk melakukan pembelian dan kecenderungan membeli sesuatu untuk memuaskan diri sendiri.

3) Stimulasi

Keinginan konsumen secara tiba-tiba dalam membeli produk yang didapat oleh exciting, thrilling, dan¸wild. Variasi tingkat kegembiraan konsumen merupakan pembeda dari pengambilan keputusan secara tenang serta cara berfikir rasional dalam hal pembelian impulsive. 4) Ketidak pedulian akan akibat

Keinginan yang kuat dari dalam diri sendiri dalam membeli sesuatu yang tidak dapat ditahan, dan tidak memikirkan akibat dari pengaruh negative meskipun memiliki kesadaran penuh akan resiko yang didapat.

2. Shopping Lifestyle

a. Definisi Shopping Lifestyle

Gaya hidup seseorang dapat ditunjukan dengan melihat pada pendapatnya terhadap obyek tertentu. Gaya hidup adalah pola seseorang hidup di dunia yang diekspresikan oleh aktivitas, minat, dan opininya menurut Kotler and Keller (2016) . Selaras dengan pendapat Levy Levy &

(8)

Weitz (2009) gaya hidup mengacu pada bagaimana seseorang hidup, bagaimana mereka menghabiskan waktu dan uang mereka, kegiatan pembelian yang di lakukan, sikap dan pendapat mereka tentang dunia dimana mereka tinggal. Shopping Lifestyle merupakan gaya hidup yang dilakukan seseorang untuk mengekspresikan diri dengan pola tindakan menghabiskan waktu dan uang, yang dapat digunakan untuk membedakan sifat dan karakteristik seseorang melalui gaya berbelanja (Kosyu dkk. 2014:3)

Shopping lifestyle didefinisikan sebagai perilaku yang ditunjukkan oleh

pelanggan sehubungan dengan serangkaian tanggapan pribadi dan pendapat tentang pembelian produk (Cobb dan Hoyer, 1986 dalam Tirmizi, dkk., 2009). Sedangkan menurut (Japarianto 2011) Shopping lifestyle adalah ekspresi tentang lifestyle dalam berbelanja yang mencerminkan perbedaan status sosial. Cara kita berbelanja mencerminkan status, martabat, dan kebiasaan. Shopping lifestyle menunjukkan cara yang dipilih oleh seseorang untuk mengalokasikan pendapatan, baik dari segi alokasi dana untuk berbagai produk dan layanan, serta alternatif-alternatif tertentu dalam pembedaan kategori serupa Japarianto (2011).

Dari definisi-definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa shopping

lifestyle merupakan bagaimana seseorang menghabiskan waktu dan uang

mereka yang dari kegiatan tersebut dapat mencerminkan status, martabat, dan kebiasaan seseorang.

(9)

b. Indikator Shopping Lifestyle

Menurut Japarianto (2011) mengemukakan bahwa untuk mengetahui hubungan shopping lifestyle terhadap impulsive buying dengan menggunakan indikator:

1) Menanggapi untuk membeli setiap tawaran iklan mengenai produk fashion.

2) Membeli produk yang terbaru

3) Berbelanja merk yang paling terkenal

4) Yakin bawha merek (produk kategori) terkenal yang dibeli terbaik dalam hal kualitas

5) Sering membeli berbagai merek (produk kategori) daripada merk yang biasa dibeli

6) Yakin ada dari merek lain (kategori produk yang sama seperti yang di beli

1. Discount

a. Definisi Discount

Menurut Sutisna (2002) discount adalah pengurangan harga produk dari harga normal pada periode tertentu. Potongan harga merupakan diskon produk atau harga marginal rendah yang diberikan untuk mempengaruhi konsumen dalam berbelanja agar lebih impulsif Iqbal dkk. (2014). Sedangkan menurut Tjiptono (2008) discount merupakan potongan harga yang diberikan oleh penjual kepada pembeli sebagai penghargaan atas aktivitas tertentu dari pembeli yang menyenangkan bagi penjual.

(10)

Menurut Kotler & Amstrong (2008) diskon yaitu pengurangan harga yang diberikan kepada konsumen untuk pembayaran cepat atau atas promosi yang dilakukan oleh provider itu sendiri. Potongan harga dapat dilakukan untuk menarik perhatian konsumen dan mendorong konsumen untuk melakukan pembelian. Penjual juga harus menaikan tingkat potongan harga agar menarik perhatian konsumen.

Menurut Sutisna (2002) tujuan pemberian potongan harga adalah: a. Mendorong pembelian dalam jumlah besar.

b. Mendorong agar pembelian dapat dilakukan dengan kontan atau waktu yang lebih pendek.

c. Mengikat pelanggan agar tidak berpindah ke perusahaan lain.

b. Jenis-Jenis Discount

Berdasarkan Tjiptono (2008) terdapat empat bentuk diskon diantarannya diskon kualitas, diskon musiman, diskon kas, trade diskon yang diuraikan sebagai berikut:

1) Diskon Kualitas

Diskon kuantitas merupakan potongan harga yang diberikan guna mendorong konsumen agar membeli dalam jumlah yang lebih banyak, sehingga meningkatkan volume penjualan secara keseluruhan. Diskon kuantitas terdiri atas dua jenis, yaitu :

(11)

a) Diskon Kuantitas Kumulatif

Diskon kuantitas kumulatif diberikan kepada konsumen yang membeli barang selama periode waktu tertentu, misalnya terus-menerus selama satu tahun.

b) Diskon Kuantitas Non Kumulatif

Diskon kuantitas non kumulatif didasarkan pada pesanan pembelian secara individual. Jadi hanya diberikan pada satu pembelian dan tidak dikatikan dengan pembelian-pembelian sebelum dan sesudahnya. 2) Diskon Musiman

Diskon musiman adalah potongan harga yang diberikan hanya pada masa-masa tertentu saja. Diskon musiman digunakan untuk mendorong konsumen agar membeli barang-barang yang sebenearnya baru akan dibutuhkan beberapa waktu mendatang.

3) Diskon Kas (Cash Discount)

Diskon kas merupakan potongan harga yang diberikan apabila pembeli membayar tunai barang-barang yang dibelinya atau membayarnya dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan perjanjian transaksi (terima penjualan/ sales term).

4) Trade (Functional) Discount

Trade discount diberikan oleh produsen kepada para penyalur yang

terlibat dalam pendistribusian barang dan pelaksanaan fungsi-fungsi tertentu, seperti penjualan, penyimpanan, record keeping.

(12)

Selain empat macam diskon diatas, ada pula istilah harga obral (sale price), yakni diskon sementara dari harga menurut daftar (list price). Tipe diskon ini bertujuan mendorong pembelian dengan segera.

c. Indikator Discount

Menurut Belch & Belch dalam Supma (2018), terdapat empat indikator

discount yaitu :

1) Konsumen membeli dalam jumlah banyak

Konsumen terdoktrin dengan adanya diskon akan membeli dalam jumlah banyak karena harga lebih murah.

2) Mengantisipasi promosi pesaing

Membandingkan produk, harga, dan promosi dengan pesaing terdekat untuk menemukan kekurangan dan keunggulan bersaing potensial.

3) Mendukung penjualan kapasitas banyak

Ketika diskon mampu mendongkrak penjualan dengan jumlah yang banyak maka operasional penjualan semakin baik

4) Hemat

Konsumen dapat meminimalisir pengeluaran dengan membeli barang diskon

Menurut Wahyudi (2017), terdapat beberapa indikator Discount diantaranya frekuensi diskon, besaran diskon, waktu pemberian diskon yang diuraikan sebagai berikut :

(13)

1) Frekuensi diskon

Seberapa sering pemasar memberikan diskon terhadap produk yang ditawarkannya.

2) Besaran diskon

Seberapa besar diskon yang ditawarkan pemasar terhadap produk yang ditawarkan kepada konsumen biasanya berupa presentase.

3) Waktu pemberian diskon

Kapan dan berapa lama durasi waktu yang diberikan pemasar dalam memberi diskon kepada para konsumen.

C. Kerangka Pikir

Hubungan antara individu shopping lifestyle, discount terhadap impulsive

buying dapat digunakan sebagai dasar dalam pembuatan kerangka pemikiran yang

akan di uji dalam penelitian. Kerangka pemikiran dalam penelitian ini sebagai berikut:

Gambar 2. 1 Kerangka Pikir Pengaruh shopping lifestyle dan discount Terhadap impulsive buying

(14)

Sumber: Konsep kerangka pikir diolah penelitian Setyasih (2017)

Kerangka pemikiran diatas menjelaskan bahwa penelitian ini melihat pengaruh variabel independen shopping lifestyle (X1), discount (X2) berpengaruh terhadap variabel impulsive buying sebagai variabel dependen (Y)

D. Hipostesis

Menurut (Sugiyono 2014) Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Oleh karena itu, hipotesis dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Pengaruh Shopping Lifestyle secara signifikan terhadap Impulsive Buying Terdapat beberapa penelitian yang mendukung pengaruh shopping

lifestyle terhadap impulse buying. Umboh (2018) menunjukan bahwa shopping lifestyle berpengaruh positif dan signifikan terhadap impulsive buying.

Sembiring (2013) menunjukan bahwa shopping lifestyle berpengaruh positif dan signifikan terhadap impulsive buying. Suhartini,(2015) dan Sari (2020) menunjukan bahwa shopping lifestyle berpengaruh poitif dan signifikan terhadap impulsive buying. Fauziyyah and Oktafani (2018) dan (Maulana 2019) menunjukan bahwa shopping lifestyle berpengaruh positif dan signifikan terhadap impulsive buying.

H1: Shopping Lifestyle berpengaruh signifikan terhadap impulse buying 2. Pengaruh Discount secara signifikan terhadap Impulsive Buying

Terdapat beberapa penelitian yang mendukung pengaruh price discount terhadap impulse buying. Setyasih (2017) dan Noor (2020) menunjukkan

(15)

bahwa Price Discount bernilai positif dan signifikan terhadap Impulse Buying. Wahyuningdyah (2019) menunjukkan bahwa potongan harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap impulse buying. Atas dasar hal itu, maka hipotesis sebagai berikut:

H2: Discount berpengaruh secara signifikan terhadap impulse buying

3. Shopping lifestyle dan discount berpengaruh secara simultan terhadap

Impulsive Buying

Terdapat penelitian yang mendukung pengaruh shopping lifestyle dan

discount terhadap impulsive buying. Arnika Ayu Sakina (2017) menunjukan

bahwa ada pengaruh secara simultan antara variabel shopping lifestyle dan

discount terhadap impulsive buying. Widianingrum (2017) menunjukan bahwa shopping lifestyle dan discount secara simultan mempengaruhi terhadap impulsive buying. Dari dasar penelitian itu, maka hipotesis sebagai berikut:

H3: Shopping lifestyle dan discount berpengaruh secara simultan terhadap

Figur

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1

Penelitian Terdahulu p.1
Gambar 2. 1 Kerangka Pikir Pengaruh shopping lifestyle dan discount  Terhadap impulsive buying

Gambar 2.

1 Kerangka Pikir Pengaruh shopping lifestyle dan discount Terhadap impulsive buying p.13

Referensi

Memperbarui...

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di