• Tidak ada hasil yang ditemukan

DASAR DASAR KOMUNIKASI POLITIK. Achmad Herman, S.Sos, M.Si

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DASAR DASAR KOMUNIKASI POLITIK. Achmad Herman, S.Sos, M.Si"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

DASAR – DASAR

KOMUNIKASI POLITIK

Achmad Herman, S.Sos, M.Si

(3)

Dasar – Dasar Komunikasi Politik Penulis

Achmad Herman, S.Sos, M.Si

Ilustrasi dan Desain Kulit Muka Gemilang Bayu Ragil Saputra

Ali Zaenal Abidin

Penerbit UNTAD Press, Palu Cetakan II, September 2013

55 hlm.; 17 cm x 25 cm ISBN: 978-979-3702-78-2

Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara elektronik maupun mekanik, termasuk memfotokopi, merekam atau dengan menggunakan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin tertulis dari penerbit.

UNDANG-UNDANG NOMOR 19 TAHUN 2002 TENTANG HAK CIPTA 1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau

memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau dengan paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(4)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, atas semua karunia dari Allah SWT dan juga raahmat yang selalu tertuju kepada rasul-Nya yakni Muhammad SAW.

Demokrasi di Indonesia membutuhkan perjalanan yang cukup panjang dan mempunyai karakter yang unik. Di mulai zaman kemerdekaan oleh Soekarno, orde baru oleh Soeharto, hingga Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono. Perjalanan demokrasi itu mengisahkan pentas-pentas politik dalam nuansa komunikasi politik.

Di Indonesia khususnya di era Soeharto, kajian komunikasi politik belum berkembang dan belum menarik perhatian publik. Padahal banyak kegiatan pemerintah kala itu yang bernuansa komunikasi politik dalam konteks eufemisme. Media massa juga masih “malu-malu” untuk bersuara keras apalagi berseberangan dengan pemerintah. Implikasinya akan bermuara pada tindakan subversif atau pembredelan.

Berbagai literatur telah menjelaskan bahwa kajian ini sebetulnya sudah lama berkembang di Amerika Serikat dan Eropa, hanya saja kondisi politik di Indonesia belum memungkinkan untuk menjadi kajian yang menarik. Buku-buku juga di Indonesia sudah banyak ditulis berkaitan dengan Komunikasi Politik hingga pencantuman dalam kurikulum ilmu komunikasi di berbagai perguruan tinggi yang membuka Program Studi Ilmu Komunikasi.

Ketika era reformasi, kajian komunikasi politik semakin berkembang dan telah mendapat tempat di hati masyarakat. Ruang-ruang di media massa terbuka untuk kajian ini. Seminar, diskusi dan talkshow mulai mencoba topik-topik menarik di bidang komunikasi politik. Dari pengalaman

(5)

penulis sebagai pengajar mata kuliah Komunikasi Politik, Pendapat Umum dan Propaganda menyadari bahwa topik-topik komunikasi politik semakin berkembang. Hal ini didukung oleh konsep media yang berbeda dalam menampilkankannya seperti baliho, spanduk, billboard dan yang lainnya.

Fenomena ini semakin diperkuat dengan Pemilihan Presiden dan Pemilihan Kepala daerah secara langsung.

Pada buku ini, penulis menjelaskan tentang sejarah lahirnya kajian komunikasi politik hingga proses perkembangannya di Indonesia. Buku ini terdiri dari lima bab. Buku yang singkat ini mengurai tentang kondisi komunikasi politik, penggagas komunikasi politik yaitu Harold D Lasswell, komunikasi politik sebagai bidang kajian, elemen dasar komunikasi politik hingga gambaran komunikasi politik di Indonesia. Satu hal yang paling menarik dari buku ini dengan bahasa yang sederhana dan beberapa contoh terkini bisa menjadi wacana berpikir tentang komunikasi politik.

Tak ada gading yang tak retak. Sudah tentu kehadiran buku ini bukanlah segala-galanya. Disana sini masih terdapat banyak kekurangan yang diakibatkan pemaknaan dari buku-buku yang sejenisnya. Hal ini juga akan membuka peluang bagi peluang bagi pembaca untuk memberikan kritik dan masukan yang berharga demi perbaikan buku ini di masa yang akan datang. Penulis berharap kehadiran buku ini menjadi “penghilang dahaga” khususnya tentang topik-topik komunikasi politik dan menambah referensi baru di bidang ilmu komunikasi.

Palu, Bukit Roviga, Agustus 2013

Penulis Achmad Herman

(6)

HALAMAN JUDUL i

KATA PENGANTAR iii

BAB 1 PENDAHULUAN 1

BAB 2 BERAWAL DARI LASSWELL 5

BAB 3 KOMUNIKASI POLITIK SEBAGAI BIDANG KAJIAN 15

BAB 4 ELEMEN DASAR KOMUNIKASI POLITIK 24

BAB 5 KOMUNIKASI POLITIK DI INDONESIA 47

DAFTAR PUSTAKA 55

(7)

PENDAHULUAN

Unsur penting dari sebuah proses politik adalah komunikasi, dimana sebagian besar telah diabaikan dalam literatur teoritis ilmu politik.

Beberapa ahli ilmu politik berusaha memperbaiki kekosongan ini dengan mengembalikan model-model politik yang didasarkan pada “unsur yang hilang” ini.

Karl Deutsch (Isaak, 1984: 23) adalah penganjur utama pendekatan komunikasi dalam mempelajari politik, telah menunjukkan bahwa sibernetika (cybernetics), yaitu ilmu tentang komunikasi dan kontrol

“menunjukkan pergeseran pusat perhatian dari drives menjadi steering”, ketika diterapkan dalam ilmu politik ini berarti sebuah penekanan dalam keputusan-keputusan, kontrol dan komunikasi, lebih daripada kekuasaan yang tanpa keraguan telah menjadi dan pada waktu-waktu tertentu, perhatian ahli-ahli ilmu politik.

Artinya sebuah pendekatan komunikasi tidaklah terlihat dalam konsentrasinya pada komunikasi tetapi lebih pada kemampuan menggambarkan dan menjelaskan perilaku sistem politik. Komunikasi

BAB 1

(8)

dipandang sebagai hal yang penting dalam melaksanakan kontrol seseorang terhadap lingkungannya.

Robert C. North menjelaskan sebuah konsepsi ahli teori komunikasi tentang proses politik: “politik tidak bisa eksis tanpa komunikasi, peperangan juga tidak bisa diselesaikan” (Isaak, 1984: 23). Dengan kata lain, sebuah sistem keputusan dan kontrol sangat menekankan pertukaran baik urusan dalam dan luar negeri.

Di dalam rangkaian proses pertukaran pesan dalam politik, maka ada tiga hal yang perlu diperhatikan yaitu: informasi, distorsi dan feedback.

Ketika pesan yang disampaikan mengalir melalui saluran-saluran komunikasi, diterima, dianalisa dan ditanggapi maka terjadilah proses mentransfer informasi. Pengertian ini selalu dilihat sebagai suatu yang telah diatur diantara berbagai peristiwa.

Namun, terkadang informasi yang diterima mengalami kesukaran atau penyimpangan terhadap sesuatu reaksi atau tanggapan. Inilah yang dinamakan distorsi. Robert Wiener menjelaskan bahwa “dalam kontrol dan komunikasi, kita biasanya berjuang melawan kecenderungan sifat- sifat untuk merendahkan yang terorganisir dan merusak yang bermanfaat”. Informasi yang disampaikan dan mendapat tanggapan akan melahirkan proses terakhir yang disebut feedback. Yaitu adanya kesesuaian dalam proses penerimaan pesan/informasi dari pihak yang satu terhadap pihak yang lain.

Ternyata pengaruh komunikasi sangat signifikan bagi ilmuan politik seperti Deutsch. Ia mengahadapi problem pengembangan unit-unit tentang pengukuran yang dapat mengejar arti arus informasi dalam sistem

(9)

politik dan membolehkan pengembangan hipotesa-hipotesa yang berguna itu dengan menghubungkan variabel-variabel komunikasi dengan variabel lainnya yang berkenaan dengan aspek-aspek lain dari sistem politik itu dan inilah yang menghadirkan wacana tentang komunikasi politik.

Pembicaraan tentang komunikasi politik sangat sering kita dengarkan, namun masih banyak yang belum mampu memahami pengertian atau maksudnya secara jelas. Bahkan tidak jarang kalimat ini sering diungkapkan untuk menunjukkan suatu keadaan atau perkembangan bagi proses politik dalam sebuah negara. Entah itu dalam kegiatan politik, pelaksanaan demokrasi, pembentukan kepemimpinan, kekuasaan, otoritas, pengambilan keputusan atau semacamnya. Sehingga pengertian komunikasi politik semakin luas dan populer, terutama dalam perspektif media massa.

Situasi ini terjadi karena perubahan secara linear dalam masyarakat yang tadinya primitif menjadi masyarakat informasi. Yakni suatu masyarakat yang sangat haus akan informasi dan berita tentang suatu peristiwa terutama politik. Menurut Karl W. Deutsch dalam Political Mobilization Theory diuraikan bahwa ada empat hal yang membuat perkembangan politik dalam masyarakat termobilisasi yaitu income percapita, literacy rate, urbanization dan mass media exposure (Really dan Sigall, 1976: 11).

Media massa akan selalu menjadikan situasi politik menjadi

“komoditi” yang bagus ditengah masyarakat. Selain itu media massa mampu mempengaruhi sikap atau opini khalayak/audiens, sehingga khalayak/audiens menganggap bahwa apa yang diekspos oleh sebuah

(10)

media massa adalah realita yang terjadi. Tanpa mereka harus mengecek kebenaran berita tersebut.

Apalagi perilaku elit politik yang kian “plin-plan” membuat situasi komunikasi politik yang terjadi kian suram. Belum lagi para wakil rakyat yang belum maksimal menyuarakan suara yang diwakilinya. Akibatnya muncul gambaran bahwa sistem politik akan kembali seperti era orde baru.

Realitas ini semakin diteguhkan oleh kasus-kasus politik yang ditengarai hingga saat ini bagi sebagian pengamat adalah “sebuah sandiwara”. Elit politik kita hanya sibuk mengurus Pemilu 2014, politik pencitraan, persoalan elektabilitas seseorang yang hanya diukur melalui survey “sesaat dan (cenderung) berbau intevensi” tetapi bukan berbasis kinerja. Padahal “pekerjaan rumah” dalam bangsa ini masih terlalu banyak, yang tidak bisa selesaikan dengan “deklarasi” dan “koalisi kepentingan”, melainkan menuntut kerjasama dari berbagai pihak dan elemen masyarakat. Maka muncul pertanyaan tentang bagaimanakah sesungguhnya komunikasi politik yang terjadi di negara ini ?.

(11)

BERAWAL DARI LASSWELL

Berbicara tentang komunikasi politik, maka yang menjadi pendekatan atau kerangkanya (taksonomi) adalah konsep Lasswell. Di tahun 1948, Harold Dwigth Lasswell (Nimmo, 1993: 13) mengemukakan bahwa cara yang mudah untuk melukiskan suatu tindakan komunikasi ialah dengan menjawab pertanyaan yaitu who says what in with channel to whom and with what effect (siapa mengatakan apa melalui saluran apa kepada siapa dan dengan efek apa). Kelima pertanyaan ini mengidentifikasikan unsur-unsur yang biasa yang terdapat pada semua komunikasi yang terdiri atas: sebuah sumber dan penerima, pesan, media dan tanggapan/efeknya.

Kedudukan Lasswell ditengah para tokoh ilmu politik tergambar dalam ilustrasi yang diajukan Rogers (Nasution, 1990: 11) seperti berikut:

BAB 2

(12)

Gabriel Tarde (imitation) European COMMUNICATION RESEARCH George Simmel (networks) Roots BEGINS TO TAKE OFF AS

A DISCIPLINE

American John Dewey (Pragmatism) Roots Charles H. C (Looking Glass Self)

Robert E. Park (Chicago School) George H. Mead (The Self)

THE ENGINEERS Claude E. S (Information Theory) OF COMMUNICATION Norbert Wiener (Cybernetics)

FOUNDING Harold Lasswell (Propaganda Effect) FATHERS Kurt Lewin (The Concept of Gatekeeping)

Carl Hovland (Persuasive) Paul L. Lazarsfeld (Toolmaker)

Wilbur Schramm (Institutionalizer)

1890 1900 1910 1920 1930 1940 1950 1960 1970 1980 1990 Sumber: Nasution, 1990: 15

Kemudian Lasswell mengetengahkan beberapa alasan keadaan yang mendorongnya memprakarsai studi-studi politik dalam komunikasi massa: “secara umum orang memperbincangkan bahwa studi ilmiah komunikasi telah menghasilkan suatu gerakan besar pada dekade belakangan ini. Saat penting bagi pertumbuhan lapangan ini adalah pada awal 30-an, ketika Humanities Division Council membentuk suatu komite untuk menjajaki keadaan ilmu pengetahuan mengenai propaganda dan komunikasi. Banyak penganut yang barangkali beranggapan bahwa riset yang paling maju mengenai hal ini adalah yang dilakukan oleh kalangan

(13)

lingusitik. Anggapan ini sebenarnya keliru. Sedangkan yang paling berhasil sebenarnya adalah para ilmuan politik, yang telah menyiapkan suatu peta mengenai lapangan ini dan memikat berbagai macam spesialis kepada suatu kesadaran yang segera akan suatu kerangka acuan yang sama. Langkah ini diambil oleh karena ilmuan politik semakin sadar akan makna strategis pengendalian komunikasi bagi arena kekuasaan”

(Nasution, 1990: 15).

Sebagaimana kita ketahui bahwa konsep Lasswell ini menyiratkan tentang komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari satu orang kepada orang lain. Pesan yang disampaikan tidak independen dan diturunkan melalui pertukaran simbol-simbol yang bersifat sirkular bukan linear. Misalnya tertawa, marah, tersenyum, badan mengangguk atau mengangkat bahu. Untuk lebih rincinya, penulis akan mengurai kelima unsur dari konsep Lasswell agar semakin jelas.

a. WHO

Elemen pertama dari Lasswell adalah who atau lazim disebut sebagai komunikator politik. Komunikator politik menurut Lasswell tidak hanya tertuju pada personalitas seseorang, melainkan juga bisa lembaga baik politik, pemerintahan atau organisasi non pemerintah. Di sisi lain, ada hal yang juga tidak boleh diabaikan (meskipun sifatnya temporer) peran kelompok penekan atau kelompok kepentingan.

Di masa Perang Dunia I, banyak pemimpin politik yang mengimbau atau memobilisasi pengikutnya untuk mencari sebuah dukungan.

Menurut Nimmo (1993: 14) bahwa sebagian perhatian itu timbul dari

(14)

pesona dan kekhawatiran terhadap beberapa pemimpin revolusioner dan agitation yang ternama di Eropa yang semuanya sangat mengandalkan

“kekuasaan oratori” untuk “menggerakkan massa”. Misalnya Lenin dan Trotsky di Rusia, Hitler di Jerman, Mussolini di Italia, Franklin Roosevelt (dan Theodore sebelum dia), Woodrow Wilson serta William Jennings Bryan. Semuanya turut berjasa dalam membangun tradisi yang kaya dari oratori politik dalam politik Amerika. Bahkan keterampilan retorik sering tampil sebagai prasyarat bagi kepemimpinan politik.

Tahun-tahun ketika Perang Dunia II berkecamuk, propaganda merupakan faktor esensial bagi komunikator politik yang fungsinya mirip dengan senjata dalam peperangan modern. Iklan di radio dan televisi adalah media yang sangat ampuh dan efektif dalam menyampaikan pesan bagi sang komunikator. Sehingga timbul penelitian yang ingin mengungkapkan atau mempelajari komunikator dan isi pesannya.

Namun, semua isi pesan yang informatif dan persuasif yang dikemukakan oleh para politikus, hanya sedikit diketahui oleh rakyatnya.

Hal ini juga dipengaruhi oleh media massa yang sangat terbatas atau terkekang dalam menyampaikan informasi tersebut.

Pada tahap-tahap selanjutnya, paradigma komunikator politik mulai bergeser dari orang ke lembaga seperti lembaga pers. Di lain pihak, peran lembaga politik seperti partai juga mempengaruhi fenomena komunikasi politik. Kemudian, aktifis yang lebih banyak tergabung dalam organisasi no pemerintah adalah bagian dari komunikator politik. Tidak jarang lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau organisasi non pemerintah mempunyai andil dalam pengambilan keputusan politik

(15)

seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama atau beberapa organisasi lainnya.

b. SAYS WHAT

Komunikator politik menggunakan bahasa dan simbol, baik untuk memberikan informasi maupun untuk meyakinkan khalayak. Olehnya itu, ketika proses ini berlangsung, khalayak akan melakukan interpretasi terhadap makna tersebut. Di dalam perspektif Lasswell, kemampuan orator politik tidak semata-mata diukur hanya karena keindahan merangkai kata-kata melainkan “substansi” pesan yang disampaikan oleh orator tersebut. Dari segi orator, pesan yang disampaikan akan memberikan legitimasi baginya dalam hal keluasan wawasan dan pengetahuannya. Sedangkan dari segi khalayak, pesan yang disampaikan mengandung makna perubahan perilakunya.

Urusan menyatakan masa lalu, masa kini dan masa depan ini merupakan pencitraan, yakni citra (pemahaman subyektif atau interpretasi) dari tindakan itu. Seseorang menciptakan sejumlah besar citra melalui beraneka ragam objek yang relevan dengan politik (misalnya:

lembaga politik). Rangkaian yang membantu pencitraan itu adalah pesan yakni ”mengatakan apa” dari konsep Lasswell.

Pendekatan yang digunakan untuk memahami ”mengatakan apa”

dari komunkasi adalah gejala linguistik politik. Pendekatan ini bermaksud untuk menelaah atau mengkaji sifat dan guna bahasa politik, tipe bahasa dan apa yang kita sebut semantik, siktaksis dan pragmatik dalam

(16)

linguistik politik yang cenderung disamapaikan lewat simbol-simbol seperti yang dikemukakan oleh Kenneth Boulding bahwa: ”makna pesan adalah perubahan yang dihasilkan didalam citra”.

c. IN WHICH CHANNEL

Komunikasi massa merupakan sumber utama pesan-pesan politik yang dipertimbangkan orang dalam menyusun perbuatan politik mereka.

Pekerjaan bagian ini lebih menekankan penggunaan sebuah saluran atau media. Namun, penggunaannya tidak selalu bersifat massa (media massa), tapi juga bersifat interpersonal dan organisasional. Meskipun pers -dalam artian berita/pemberitaan- mampu menciptakan citra politik dan menyusun sebuah perilaku politik.

Di dalam kehidupan, sering terjadi sebuah konstruksi ”apa yang terjadi di dunia hari ini” dari sumber yang lain daripada televisi atau koran, radio, majalah dan orang lain. Apa yang ditetapkan dan disebabkan sebagai ”berita” oleh orang pers adalah unsur utama dalam penyusunan opini personal. Terkadang realitas sesungguhnya, tidak selalu sama dengan realitas yang disajikan oleh media. Karena apa yang terungkap di media adalah realitas kedua, sedangkan realitas pertama berada di tangan jurnalis itu sendiri.

Banyak kalangan (partai, LSM, pemerintah hingga personal) memanfaatkan media sebagai “alat perjuangan politiknya” sebagai bagian pembentuk citra dan membangun kerangka opini baru. Paradigma pun bergeser dari konsep “komunikasi politik” menuju konsep “politik

(17)

komunikasi”. Misalnya, maraknya hasil polling dan survey yang dilakukan oleh media tertentu untuk melihat serta mengukur kredibilitas dan kapabilitas partai dan perilaku politik seseorang.

Di era Orde Baru, Soeharto memanfaatkan TVRI dan RRI di bawah kendali Departemen Penerangan untuk menanamkan nilai-nilai baru dalam masyarakat. Semua program dan tayangan harus “tunduk dan patuh” dalam aturan Deppen. Jika tidak, maka ancaman likuidasi atau pembredelan mutlak akan dikenakan pada media yang bersangkutan.

Olehhya itu, banyak media di era Orde Baru yang jadi “korbannya”, sebutlah Tempo, Detik dan Editor.

Konsep yang hampir sama juga terjadi di era reformasi, hanya saja lebih “halus” bahkan dikemas dengan “menarik”. Kepemilikan media menjadi legitimasi yang sah untuk menanamkan opini baru ditengah masyarakat terhadap “politik komunikasi”. Bahkan orang awam pun bisa menilai bahwa kalangan pemilik media menggunakan medianya untuk kepentingan politik, iklan politik atau kegiatan yang bersifat politik.

Sebutlah misalnya, Aburizal Bakrie di TV One dan ANTEVE, Harry TS di MNC TV, Global dan RCTI serta Surya Paloh di Metro TV.

d. TO WHOM

Sebagaimana kita ketahui bahwa komunikasi melibatkan orang lain dalam proses penyampaian pesannya, yakni antara sumber dan penerima.

Seorang komunikan (penerima) tidak selalu menerima secara utuh informasi yang disampaikan oleh komunikator (sumber), apalagi

(18)

melakukan sesuai dengan informasi tersebut. Tetapi komunikan akan mengadakan penginderaan, interpretasi, serta penetapan pesan itu sendiri, apakah cocok atau tidak.

Akhirnya timbul perbedaan yang arbitratif yaitu dimana setiap orang sesungguhnya adalah suatu jenis komunikator politik. Hanya saja masalahnya kita harus menentukan perspektif yang tepat untuk melihat pihak mana yang jadi ”komunikator” atau ”komunikan”. Oleh karena itu, ketika kita akan berkomunikasi tentang komunikasi politik, maka kita harus memilih dan menunjuk, anggota khalayak dari proses komunikasi, yakni ”dengan siapa” kita akan berkomunikasi.

Khalayak politik tidak selalu merujuk pada masyarakat secara umum. Khalayak politik bisa juga merujuk pada konstituen oleh partai politik tertentu. Asumsinya bahwa khalayak politik bisa dibagi atas dua aspek yakni khalayak politik yang emosional/tradisional dan khalayak politik yang rasional. Khalayak politik yang emosional/tradisional cenderung “belum” memiliki pengetahuan dan pemahaman politik yang lebih bagus, mereka hanya memperoleh informasi dari sumber selentingan atau satu sumber. Sedangkan khalayak politik yang rasional cenderung

“telah” mempunyai pengenalan, pemahaman serta pengetahuan politik yang lebih baik dan informasinya berasal dari sumber pengetahuan seperti sekolah, pelatihan hingga partai politik.

(19)

e. WITH WHAT EFFECT

Lagi-lagi diperlukan suatu perubahan dalam konsep Lasswell.

Pertama, tindakan komunikasi apapun dapat mempunyai akibat yang banyak, jadi tidak satu. Tentu saja akibat yang banyak itu wajar dalam komunikasi politik. Kedua, ia tidak akan, seperti dengan konsep Lasswell yang tidak dimodifikasi, meninggalkan kesan bahwa akibat komunikasi diturunkan akibat interaksi dari tiga unsur yang dapat dipisahkan: pesan, khalayak yang diduga akan dipengaruhi dan pengaruh yang diakibatkannya. Sekali lagi kesalingkupan antara pesan, interpretasi manusia dan perbuatan manusia harus ditekankan. ”akibat” dari ”siapa mengatakan apa dengan saluran apa dengan siapa” tidak ditentukan independen dari proses menetapkan ”dengan siapa” dalam konsep Lasswell. Singkatnya akibat tidak ditentukan terpisah dari interpretasi, malahan, akibat adalah tindakan interpretatif sinambung yang diturunkan dari penyusunan opini personal, sosial dan politik (Nimmo, 1993: 21).

Memahami proses komunikasi politik termasuk opini harus dilihat dari hubungan antara kepercayaan, nilai dan usul pribadi perseorangan dan kebijakan yang dibuat oleh pejabat pemerintah yang terpilih. Oliver Garceau (Nimmo, 1993: 21) mengatakan bahwa ”proses politik, karena itu bisa dipahami dan dipelajari sebagai pola interaksi yang berganda, setara, bekerja sama dan persaingan yang menghubungkan warga negara yang partisipan yang aktif dalam posisi utama pembuat keputusan”. Ia mengemukakan bahwa ”beberapa hubungan itu tak langsung tapi merupakan reaksi berantai yang sinambung secara layak, membentengi seluruh jarak politik”, namun, ”banyakl pola yang bermakna hanya

(20)

membentang separuh jalan, baik dari kutub atau segmen tanpa dampak yang mudah tampak pada seriap kutub itu dan pola-pola segmental ini saling lingkup dan prilaku kondisi serta hubungan pada segmen-segmen yang lain. Kesimpulannya bahwa memang seringkali proses politik demokratis yang penting ini bisa secara melawan asas terdiri atas kontinuum hubungan yang terputus.

Salah satu dari sifat ilmu komunikasi adalah dinamis. Yakni berkembang terus menerus dengan memperhatikan gejala yang ada disekitarnya (fenomenologi). Olehnya itu, seiring perkembangan ilmu komunikasi terutama komunikasi politik, konsep ilmuan politik Harold D.

Lasswell bisa dikatakan semakin ketinggalan jauh. Artinya proses komunikasi politik tidak lagi berkaitan dengan proses ”who says what with what channel to whom with what effect” tapi komunikasi politik lebih bermakna sharing (berbagi) simbol, gagasan, maksud atau kepentingan diantara sejumlah pihak.

Namun ini semua tidak terlepas sejauh mana orang atau khalayak melihat konsep tersebut. Dengan kata lain tiap-tiap orang mampu memberikan interpretasi dan penangkapan yang berbeda. Misalnya, jika dua orang berhadapan dengan satu objek, maka kedua orang itu akan memberikan interpretasi dan penginderaan sesuai dengan penglihatan mereka terhadap objek tersebut. Jadi konsep Lasswell (mungkin) masih relevan digunakan untuk kondisi di Indonesia atau kondisi yang terjadi di negara lain.

(21)

KOMUNIKASI POLITIK SEBAGAI BIDANG KAJIAN

Mencoba mencari latar belakang komunikasi politik maka kita akan merujuk beberapa literatur dalam ilmu politik karena bermula dari akar Ilmu Politik sebagai pohon keilmuannya. Penulis menggambarkan ada tiga periodesasi dalam kelahiran ilmu politik sebagai bidang kajian, antara lain :

1. Komunikasi politik adalah istilah yang berkembang sesudah Perang Dunia I, tepatnya pada tahun 1927, dimana Harold D.

Lasswell menulis atau mengadakan studi tentang Teori Propaganda dan dimuat di The American Political Science Review.

2. Tahap berikutnya, di tahun 1930, dalam kepustakaan ilmu politik diteliti tentang Opini Publik (Pulic Opinion) sehingga muncul jurnal khusus pada tahun 1937 yaitu Public Opinion Quarterly.

3. Tahap terakhir, di tahun 1950, kajian komunikasi politik semakin berkembang dan makin mengarah ke disiplin ilmu komunikasi.

BAB 3

(22)

Penyebabnya adalah karena unsur yang menjadi pendekatan utama komunikasi politik adalah media massa.

Sedangkan kajian atau literatur tentang komunikasi politik di tanah air masih sangat kurang. Boleh dibilang belum terlalu mendapat perhatian yang begitu serius, meski tiap hari kita menyaksikan proses komunikasi politik yang berlangsung terutama di media massa. Namun, seiring jatuhnya Soeharto atau runtuhnya rezim Orde Baru, maka kajian komunikasi politik semakin marak di tanah air. Banyak ahli mulai tertarik membahas tentang perilaku politik, partai politik, media politik hingga psikologi politik.

Menurut Dahlan (1990: 3) bahwa komunikasi politik merupakan bidang atau disiplin yang menelaah perilaku atau kegiatan komunikasi yang bersifat politik, mempunyai akibat politik, atau berpengaruh terhadap perilaku politik. Tujuannya bukan sekedar untuk memberi penamaan atau istilah pada gejala atau keadaan politik, tetapi menganalisis dan memahami perilaku manusia serta sebab akibatnya secara sistematik. A. Muis berpendapat lain bahwa komunikasi politik adalah proses yang bermuatan penggunaan kecerdasan, kepintaran, kecerdikan bahkan kelicikan dengan tujuan mengatur dan menguasai masyarakat dan negara.

Namun seiring dengan perkembangan waktu, bidang kajian komunikasi politik semakin berkembang dengan pesat, baik dari segi ilmu komunikasi maupun ilmu politik. Nasution (1990: 23) menjelaskan bahwa yang menjadi fokus utama kajian komunikasi politik adalah pembahasan tentang fungsi praktis komunikasi politik dalam kehidupan politik suatu

(23)

masyarakat, cara-cara dan teknik-teknik yang digunakan, pihak yang ikut serta, saluran-saluran yang dimanfaatkan serta simbol yang dipakai. Juga ditelaah bagaiaman hubungan timbal balik antara masyarakat dengan aktivitas komunikasi yang berlangsung.

Komunikasi dan politik, menurut para ahli menunjukkan kedekatan yang mendalam. Galnoor menyatakan bahwa ”tanpa komunikasi tidak akan ada usaha bersama dan dengan demikian tidak ada politik”.

Statement ini dipertegas oleh Pye (Nasution, 1990: 23) bahwa ”tanpa suatu jaringan (komunikasi) yang mampu memperbesar (enlarge) dan melipatgandakan (magnifycing) ucapan-ucapan dari pilihan individual, maka disitu tidak akan ada suatu politik yang dapat merentangkan suatu bangsa”.

Plake dan Haroldson dalam Nasution (1990: 23) menggolongkan komunikasi politik sebagai salah satu bentuk (form) komunikasi disamping sembilan bentuk yang lain, yaitu: komunikasi intra pribadi, komunikasi antar pribadi, komunikasi organisasional, rumor, komunikasi dan komunikasi non verbal.

Berbeda dengan Fagen yang merumuskan komunikasi politik secara makro yaitu segala komunikasi yang terjadi dalam suatu sistem politik dan antara sistem tersebut dengan lingkungannya. Cakupannya meliputi studi mengenai jaringan komunikasi (organisasi kelompok, media massa dan saluran-saluran khusus) dan determinan sosial ekonomi dari pola- pola komunikasi yang ada pada sistem yang dimaksud.

(24)

Beberapa statement di atas menjadikan komunikasi dan politik mempunyai skope yang luas. Untuk membatasinya maka Almond dan Powell menyarankan suatu jalan tengah dengan memfokuskan penelaah komunikasi politik pada (Nasution, 1990: 27) yakni :

1. Arus informasi yang paling umum dan signifikan dalam sistem- sistem politik.

2. Struktur-struktur yang menampilkan aktivitas komunikasi politik itu dapat dianalisis dan diperbanding. Dengan cara ini, analisis komunikasi mendapat manfaat sebagai suatu fokus yang terintegrasi ke dalam framework ilmu politik.

3. Implikasi penampilan komunikasi fungsi terhadap fungsi- fungsi politik yang lain juga dapat dipelajari. Pembuatan dan pelaksanaan keputusan-keputusan politik, misalnya jelas tergantung pada informasi yang akurat dan pengkomunikasian pesan-pesan politik yang efektif kepada mereka yang berada di lapisan yang lebih rendah, baik sipil maupun militer, yang terdapat di seluruh wilayah yang bersangkutan.

4. Analisis terhadap penampilan fungsi komunikasi oleh berbagai struktur dan berbagai macam cara, juga dapat mengungkapkan masalah endemik yang dihadapi oleh bermacam sistem dalam memelihara dan mempertahankan tingkat penampilan yang bersifat publik. Dalam hal ini, analisis komunikasi memberi jalan bagi dilakukannya prediksi dan pemahaman atas pengembangan sistem politik, sekaligus perincian lebih lanjut

(25)

dalam melakukan pembedaan antar sistem-sistem politik yang beraneka.

Dengan demikian sudut tinjauan komunikasi politik memungkinkan untuk menganalisis masalah-masalah berikut ini:

1. Menghubungkan pembangunan media massa, organisasi- organisasi artikulasi politik dan pernyataan kepentingan dan pembentukan opini kolektif, dengan reaksi individual terhadap tantangan ide-ide baru, perabaan mereka atas nilai-nilai yang saling bertentangan dan pencarian mereka akan perspektif baru.

2. Menunjukkan bahwa seluruh problematik yang kompleks tersebut mendasari permasalahan umum konsensus politik.

Dari analisis tersebut, maka lahirlah beberapa topik studi yang mendasari penelitian komunikasi politik. Misalnya citra kandidat presiden dan stereotipe, analisis kampanye pemilu, hubungan pers dengan pemerintah, karakteristik ilmu-ilmu politik dan peranan media massa dalam kampanye dan pemilihan presiden.

Sedangkan McNair (2003: 6) mendeskripsikan komunikasi politik sebagai suatu hubungan antara tiga elemen dalam tindakan politik yang banyak diterapkan. Ketiga tindakan politik tersebut yaitu organisasi politik (political organisations), media dan masyarakat (citizens). Uraian itu digambarkan seperti di bawah ini :

(26)

Elements of Political Communication Sumber: Brian McNair (2003: 6)

Berdasarkan gambar di atas, McNair menjelaskan tiga elemen penting dalam komunikasi politik.

Parties

Political Public Organisations Organisations Pressure Groups

Terrorist Orgs.

Governments

Media

Citizens Reportage

Editorials Commentary Analysis

Appeals Programmes Advertising Public Relations

Reportage Editorials Commentary Analysis

Opinion Polls Letters

(27)

1. Adanya organisasi politik yang terdiri dari partai politik, organisasi publik, kelompok penekan, organisasi teroris dan pemerintah. Jika dalam terminologi Lasswell disebut komunikator politik, maka McNair menyebutnya sebagai aktor politik yang didefinisikan dalam bentuk organisasi atau lembaga yang bisa mempengaruhi proses pengambilan keputusan dan implementasinya. Ketika organisasi politik berhubungan dengan media maka secara umum media akan dimanfaatkan untuk melakukan empat hal yakni melakukan pencitraan, mensosialisaikan program kerja, membuat dan memasarkan periklanan serta membangun harmonisasi dengan konstituen atau publiknya.

2. Audiens (citizens) tujuan utama dari elemen komunikasi politik ini tidak lain adalah mempersuasi audiens atau masyarakat dengan pesan-pesan politiknya. Masyarakat adalah bagian dari komunikasi politik itu sendiri. Ukuran dari audiens atau masyarakat dalam komunikasi politik akan mempengaruhi efek dari penerimaan pesan politik tersebut, misalnya efek dari isu yang sangat besar dan kompleks apalagi hingga mengundang kontroversi. Audiens melihat realitas isu tersebut dalam dua hal yaitu jajak pendapat (opinion polls) dan surat dari pembaca (letters).

3. Organisasi media dalam sistem politik demokrasi, mempunyai dua fungsi yaitu sebagai transmiter komunikasi politik dalam kehidupan media itu sendiri dan sebagai pengirim pesan politik

(28)

yang dikontruksi oleh para jurnalisnya. Aktor politik akan menggunakan media demi pesan-pesan politiknya yang ditujukan untuk mempersuasi masyarakat. Idealnya, masyarakat juga mempunyai akses yang sama terhadap sebuah media, namun realitasnya hanya segelintir “orang” yang punya akses ke media. Melalui reportase, editorial, komentar dan analisis, media telah menciptakan “suara publik” meskipun terkadang hal ini juga merupakan bahasa dari para jurnalis.

Ada tiga ciri studi komunikasi politik dalam ilmu politik (Rauf dan Nasrun, 1993: 11): pertama, adalah perhatian yang sama besarnya terhadap

”arus komunikasi ke atas” (berasal dari masyarakat ditujukan kepada penguasa politik) dan ”arus komunikasi ke bawah” (berasal dari penguasa politik ditujukan kepada masyarakat. Keduanya sangat penting tapi unsur kedua tidak boleh diabaikan dalam sistem politik demokratis. Kedua, adanya ketidakjelasan dan ketumpangtindihan konsep komunikasi politik dengan fungsi-fungsi sistem politik lainnya ataupun konsep-konsep lain seperti partisipasi politik. Ketiga, kurangnya digunakan metode-metode dan pendekatan yang digunakan dalam ilmu komunikasi dalam mengkaji proses ilmu politik.

Di era reformasi, komunikasi politik sebagai bidang kajian merupakan fenomena tersendiri yang selalu menarik perhatian untuk dikaji, baik dari lingkup ilmu komunikasi maupun ilmu politik. Hanya saja masih sedikit penelitian yang lahir mengenai komunikasi politik.

Menurut Nimmo dan Sanders tumbuhnya komunikasi politik sebagai suatu bidang yang bersifat lintas disiplin dapat ditelusuri sejak

(29)

tahun 1950-an. Di tahun 1956 adalah usaha pertama untuk menampilkan

”komunikasi politik” sebagai salah satu dari tiga proses intervening (yang dua lagi adalah: kepemimpinan dan struktur kelompok) dengan mana pengaruh politik dimobilisasikan dan ditransmisikan antara lembaga pemerintah formal di satu pihak, dengan perilaku voting warga negara di lain pihak. Tetapi pada saat itu, penelitian tentang ilmu sosial lebih maju dan berhasil daripada ilmu komunikasi politik (1993: 67).

Sebenarnya kajian tentang komunikasi politik telah lama berlangsung. Hal ini dibuktikan dengan publikasi sejumlah artikel yang menggambarkan hasil survei mengenai jenis kuliah komunikasi politik lengkap dengan bahan bacaannya yang dipublikasikan oleh News for Teachers of Political Science. Kemudian, sejak tahun 1973 perhimpunan International Communication Association secara formal mengakui komunikasi politik sebagai salah satu pengajaran atau disiplin ilmu yang distinktif dan interdisipliner.

(30)

ELEMEN DASAR

KOMUNIKASI POLITIK

Komunikasi dan politik adalah dua kata yang mempunyai tujuan yang sama. Komunikasi adalah proses interaksi sosial yang digunakan orang untuk menyusun makna yang merupakan citra mereka mengenali dunia (yang berdasarkan itu mereka bertidak) dan untuk bertukar citra itu melalui simbol-simbol. Sedangkan politik secara umum diartikan sabagai kegiatan secara kolektif yang mengatur perbuatan mereka di dalam kondisi konflik sosial.

Komunikasi dan politik adalah sana-sama sebuah proses yang melibatkan pembicaraan. Ilmuan politik Mark Roelofs mengatakan bahwa

“politik adalah pembicaraan, atau lebih tepat kegiatan politik (berpolitik) adalah berbicara”. Pembicaraan ini bukan dalam artian sempit melainkan pembicara dalam arti yang lebih eksklusif, yang berarti segala cara orang butuhkan simbol. Arti simbol tersebut bisa berupa kata-kata yang dituliskan dan diucapkan, gambar, gerakan, sikap tubuh dan pakaian. Jadi banyak aspek kehidupan politik dapat dilukiskan sebagai komunikasi.

Kesimpulannya, komunikasi politik adalah kegiatan komunikasi yang

BAB 4

(31)

dianggap berdasarkan konsekuensi-konsekuensinya (aktual maupun potensial) yang mengatur perbuatan manusia di dalam kondisi-kondisi konflik.

Di Indonesia, komunikasi politik, sebagai disiplin ilmu, telah lama tercantum dalam kurikulum-kurikulum ilmu sosial. Baik dalam kajian ilmu komunikasi maupun dalam kajian ilmu politik. Mahasiswa bukanlah satu-satunya kelompok yang tertarik dengan komunikasi politik.

Melainkan para komunikator politik seperti politisi, Profesional dan praktisi juga telah lama terlibat dalam kegiatan komunikasi politik politik.

Merakapun dengan cermat melihat fenomena komunikasi politik.

Selanjutnya, Gazali (2004: 4) mulai memperkenalkan lagi kajian komunikasi politik dalam bentuk yang lebih mudah dicerna yakni parodi komedi yang merepresentasikan para pemimpin di Indonesia seperti Democrazy dan BBM (Benar-Benar Mabok). Gazali juga menganalisis bentuk komunikasi politik yang terjadi dalam negara Indonesia yakni:

1. Traditional Focuses (communication of politics) yaitu lembaga atau proses serta interaksinya. Misalnya lembaga politik, kelompok kepentingan, lembaga ekonomi, interaksi dalam ruang redaksi dan kajian studi pembangunan.

2. New Focuses (mostly non-mediated activities) yaitu lembaga sosial, agama, sekolah, budaya atau kegiatan yang meningkatkan partisipasi masyarakat langsung.

(32)

3. New Focuses (politics of communication) yaitu komunitas etnis, sosialisasi politik, varietas media seperti jejaring sosial, kepemilikan media.

Olehnya itu, di dalam komunikasi politik, terlibat secara langsung atau melihat dengan cermat atau fenomena belum tentu kita mampu memahaminya. Makanya diperlukan sebuah kerangka teoritis. Karena berbagai hal, baik komunikator maupun politisi, literatur tentang komunikasi politik masih sangat sedikit. Buku Nimmo yang berjudul Political Comunication and Publik Opinion in America adalah salah satu literatur yang menjelaskan tentang perihal tersebut. Buku ini di susun menurut kerangka (taksonomi) Lasswell: who says what wiht what chanel to whom wiht what effect (siapa mengataka apa, dengan saluran apa, kepada siapa, dengan efek apa).

Dalam buku ini, pertama-tama Nimmo bercerita tentang para komunikator politik yaitu bagaimana mengidentifikasi mereka dan apa peran yang mereka mainkan. Kemudian, Nimmo (1993: 70) membawa kita pada pesan-pesan politik yaitu permainan bahasa untuk kepentingan politik. Adapun permainan bahasa yang lebih di tekankan untuk mempengaruhi untuk meyakinkan publik dan terbagi atas tiga jenis yaitu propaganda, periklanan dan retorika politik. Selanjutnya, ia juga menyinggung tentang saluran komunikasi politik (media) baik yang bersifat interpersonal, organisasional maupun massa. Khalayak komunikasi terdiri etas publik dan opini piblik. Terakhir efek komunikasi politik terbagi atas sosialisasi politik, partisipasi politik, mempengaruhi pemilu dan mempengaruhi para pejabat yang mangambil kebijakan politik yang dibahas dalam buku tersebut.

(33)

Sebagai kerangka teoritis buku Nimmo bisa dijadikan ilustrasi terhadap perkembangan pilitik yang terjadi di indonesia. Bagaimana kita melihat perilaku elit politik mulai dari anggota DPR, para pejabat dan para pengamat politik. Kemudian bagaimana mereka memamfaatkan media sebagai alat propaganda, periklanan dan retorika politik. Serta efek komunikasi politik tersebut yang terjadi pada khalayak atau audience.

Terhitung sejak orde lama, orde baru dan zaman roformasi.

1. Komunikator Politik

Komunikator adalah orang yang pertama kali memulai pembicaraan atau menyampaikan pesan kepada orang lain. Wujud komunikator bisa dibedakan atas individu-individu, lembaga atau kumpulan beberapa orang.

Nasution (1990: 23) membedakan atas dua bahagian mengenai komunikator politik. Pertama, sumber individual (individual source) yaitu jika seorang tokoh atau pejabat atapun rakyat biasa bertindak sebagai sumber dalam kegiatan komunikasi politik. Kedua sumber kolektif (collective source) yaitu jika seorang individu berbicara atas nama suatu lembaga atau organisasi. Ini tercermin dalam pembagian berikut ini :

Individual Kolektor

Pelajabat Pemerintah

Politisi Partai politik

Pemimpin Opini Organisasi Kemasyarakatan

Jurnalis Media Massa

(34)

Aktivis Kelompok Penekanan

Pemimpin Kelompok Politik

Komunikator Profesional Konsultan Komunikasi

Nimmo (1993: 71) mengemukakan 3 tipologi komunikasi politik yamg meliputi politikus, komunikator profesional dan aktivis yang merupakan komunikator utama dalam komunikasi politik. Bahkan peran komunikator politik sangat penting dalam sebuah proses komunikasi karena fungsinya sebagai pembicara atau pemrakarsa. Seperti Amin Rais, Akbar Tanjung, Megawati, Abdurrahman Wahid dan Hamzah Haz.

Mereka itulah yang mempunyai keahlian dalam mempengaruhi dan menggerakkan massa dalam jumlah yang sangat besar. Karena mereka mempunyai yang bersifat institusional dan terlebuih lagi dalam sebuah struktur politik merteka dapat mempengaruhi jalannya sebuah proses keputusan. Hal ini di pertegas oleh Daniel Katz (Nimmo, 1993: 71) yang menunjukkan bahwa pemimpin politik mengerahkan pengaruhnya kedua arah: “mempengaruhi alokasi ganjaran dan mengubah struktur sosial yang ada atau mencegah perubahan”.

Dengan kata lain, politikus mencari pengaruh melalui komunikasi.

Namun menurut Nimmo (1993: 72) bahwa ada politikus yang mampu mempengaruhi strutur sosial meski ia tidak memegang jabatan dalam pemerintahan. Politikus ini diklasifikasikan sebagai : 1). Di dalam atau luar jabatan pemerintah, 2). Berpandangan nasional atau subnasional, 3).

Berurusan maslah berganda dan masalah tunggal.

Selanjutnya komunikasi profesional di pandang sebagai peranan sosial yang baru, suatu hasil sampingan dari revolusi komunikasi yang

(35)

sedikitnya mempunyai dua dimensi utama : munculnya media massa yang memintasi batas-batas rasial, etnis,pekerjaan, wilayah dan kelas untuk meningatkan kesadaran identitas nasional dan perkembangan serta merta media khusus (seperti majalah untuk khalayak khusus, stasiun radio, dsb) ang menciptakan publik baru untuk menjadi kesamaan informasi dan hiburan baik media massa maupun media khusus mengandalkan pembentukan dan pengelolaan lambang dan khalayak khusus (Nimmo, 19993: 72).

Menurut James Carey bahwa seorang komunikator profesional adalah seorang makelar simbol, orang yang menerjemahkan sikap, minat, pengetahuan dan suatu komunitas bahasa kedalam istilah-istilah komunitas bahasa yang lain yang berbeda tapi menarik dan dapat dimengerti dan pesan yang dihasilkan tidak memiliki hubungan yang pasti di satu pihak, dibebankan oleh khalayak akhir dan pihak lain oleh sumber asal (Nimmo, 1993: 72).

Adapun yang termasuk sebagai komunikator profesional adalah jurnalis dan promotor. Jurnalis adalah karyawan organisasi berita yang menghubungkan sumber berita dengan khalayak. Sedangkan promotor adalah orang yang dibayar untuk mengajukan kepentingan langganan tertentu. Keduanya memiliki perbedaan yang sangat esensial antara lain:

tingkat ketakbergantungan masing-masing pekerjaan pada perintah majikan, sejauh mana masing-masing mempunyai kewajiban utama dalam mendukung kepentingan sumber berita. Ketimbang menyingkapkan informasi yang meragukan, kemerdekaam relatif dan sejauh mana keduanya lebih bergantung pada sumber atau khalayak bagi kehidupam profesional (Nimmo, 1993: 73).

(36)

Tipologi terakhir dari komunikator politik adalah aktivis. Nimmo mengatakan bahwa komunikasi politik adalah orang yang terlibat dalam politik maupun dalam komunikasi atau semiprofesional dalam komunikasi politik. Ia kemudian membagi aktivis dalam dua bagian yaitu juru bicara dan pemuka pendapat. Juru bicara adalah orang yang ditugaskan mewakili kepentingan kelompok atau organisasi atau melakukan tawar menawar yang sangat menguntungkan. Sedangkan pemuka pendapat adalah orang yang dimintai informasi atau petunjuk tarhadap suatu keputusan.

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa komunikator politik bisa bertindak sebagai pemimpin politik, organisasi atau pemimpin simbolik dari partai politik. Pada hakekatnya mereka nertujuan untuk mendapat simpati atau respon melaui bahasa, simbol atau makna yang telah disampaikan kepada khalayak.

2. Pesan Politik

Pembicara begitu banyak tercermin dalam politik, sehingga pembicaraan diartikulasikan sama dengan politik. Bahkan, tindakan apapun dapat mengomunikasikan atau mengatakan sesuatu termasuk politik adalah pembicaraan. Tetapi pembicaraan di sini dipandang sebagai orang yang berbicara (verbal) bukan bertindak sebagai simbol (nonverbal).

Menurut Bell (Nimmo, 1993: 74) ada tiga jenis pembicaraan yang mempunyai pembicaraan yang mempunyai kepentingan politik yang pasti dan jelas sekali politis yaitu: pembicaraan kekuasaan, pengaruh dan autoritas. Pertama, pembicaraan kekuasaan adalah pembicaraan yang

(37)

mempengaruhi orang lain dengan ancaman atau janji. Kedua, pengaruh adalah pembicaraan yang terjadi tanpa saksi-saksi seperti ancaman atau janji, melainkan berupa masihat, dorongan, permintaan atau peringatan.

Ketiga, pembicaraan autoritas adalah pembicaraan mengenai pemberian perintah.

Selain ketiga di atas, politik juga merupakan pembicaraan tentng konflik. Di mana komunikator politik melakukan pembicaraan untuk menyelesaikan perselisihan dengan kata-kata, makna dan harapan.

Sehingga dari permainan bahasa ini melahirkan tiga bentuk pesan politik yaitu: proganda, periklanan dan retorika politik.

a. Propaganda

Kata propaganda berasal dari bahasa latin “propagare” atau

“propagate” yang berarti mengembangkan atau memekarkan. Istilah ini diambil dari nama Congregatio de Propaganda Fide yaitu suatu Organisasi Pusat Gereja Katolik yang dibangun oleh Paus Gregory XV Tahun 1622. Tujuannya adalah untuk mengarahkan dan mengkoordinasi berbagai aktifitas misionaris gereja di kalangan masyarakat non kristen.

Namun, saat ini istilah propaganda mengarah pada aktifitas promosi baik komersial maupun politik. Definisi propaganda saat ini adalah penggunaan komunikasi yang disampaikan melalui berbagai media untuk membentuk kepercayaan, sikap atau perilaku penerima sesuai yang diinginkan komunikator. Istilah propaganda lebih cenderung

(38)

berkonotasi negatif karena hanya menguntungkan bagi pihak pembujuk, bukan pihak yang dibujuk.

Propaganda dibedakan atas dua jenis yaitu;

1. Propaganda berdasarkan sistem terbagi atas interaksi simbolik (penggunaan lambang komunikasi) dan propaganda perbuatan nyata (komunikasi yang memaksa audiens untuk “tunduk” dan

“patuh”).

2. Propaganda berdasarkan metode perubahan sikap terbagi atas propaganda bersifat kekerasan yang diikuti oleh ancaman, makian atau hardikan dan propaganda bersifat persuasi yang diiringi himbauan, ajakan atau rayuan.

Menurut Institute of Propaganda Analysis (IOPA), bahwa ada tujuh teknik-teknik propaganda adalah (Severin dan Tankard, 2009: 131) :

1. Name Calling yaitu pemberian label yang buruk terhadap suatu ide dengan maksud untuk menolak ide tersebut. Teknik ini digunakan untuk menurunkan derajat seseorang atau ide seseorang di depan umum, misalnya dengan kalimat

“koruptor” atau “politisi nakal”.

2. Glittering Generality adalah teknik dimana seorang propagandis menonjolkan gagasannya dengan ungkapan-ungkapan yang dahsyat seperti “wong cilik”, “partai bersih” atau “perubahan”.

3. Transfer ialah kegiatan propaganda dengan menggunakan ketokohan orang lain untuk menarik simpati masyarakat dari perspektif psikologisnya. Misalnya, “Jokowi Pemimpin Teladan”.

(39)

4. Testimonial yakni cara menggunakan kesaksian seseorang yang mempunyai prestise lebih tinggi untuk mendukung perilaku politiknya, sehingga seolah-olah apa yang dilakukan orang tersebut telah dibenarkan oleh orang itu, seperti Ruhut Sitompul yang selalu mengatakan “menurut Bapak kami” atau

“atas arahan Bapak”.

5. Plain Folks yakni propaganda dengan jalan memberi identifikasi terhadap ide, sehingga apa yang dipropagandakan telah menjadi milik bersama rakyat. Propaganda ini pernah dilakukan oleh Demokrat dalam konteks “berantas korupsi”

atau “katakan tidak pada Korupsi”.

6. Card Stacking ialah cara yang digunakan dengan maksud hanya memperlihatkan yang bagus-bagusnya saja, sehingga publik hanya menilai dari satu sisi yakni positifnya. Misalnya, pro kontra pergelaran ajang kompetisi Miss World di Indonesia, maka yang ditampilkan oleh media hanya dalam konteks yang positifnya terlebih lagi bahwa yang menjadi Ketua Panitian Miss World adalah salah satu istri pemilik media.

7. Bandwagon dilakukan dengan cara membesar-besarkan apa yang telah dicapai oleh seseorang atau partainya. Tipe ini biasa dilihat dari iklan personal seperti yang dilakukan oleh Aburizal Bakri tentang pencalonannya sebagai Presiden dengan mengambil sudut pandang dari berbagai etnisitas atau pendidikan.

Menurut Hans J. Morgenthau bahwa ada tiga prinsip dasar dari propaganda yaitu: pertama, memikat imajinasi manusia dan

(40)

menggerakkannya untuk mengambil tindakan politik. Kedua, mempengaruhi manusia yang peka terhadap gagasan tertentu pada saat-saat tertentu sesuai keadaan kehidupannya. Ketiga, mengadakan perang urat syaraf dengan cara menentukan tujuan dan cara mencapainya, mematikan aspirasi rakyat yang berkaitan dengan tujuan dan memastikan sampai sejauhmana perang urat syaraf itu mendukung kebijakan pemerintah.

b. Periklanan

Periklanan adalah komunikasi satu kepada orang banyak serta sering menjual mimpi yang hiperrealistik. Periklanan cenderung memilih individu-individu tunggal, indevenden, terpisah dari kelompok apapun yang terjadi identifikasinya dalam masyarakat. Atau lebih tepat periklanan di tujukan kepada setiap individu yang anonim :

“Hubungan antara iklan dan calon pembeli adalah hubungan langsung-tidak ada organisasi yang kepemimpinan yang seakan-akan dapat mengirimkan kelompok itu kepada penjual. Akan tetapi, setiap individu bertindak berdasarkan pilihan sendiri (Nimmo, 1993: 76).

Ketika menjelang pemilu 1999, televisi di Indonesia ramai oleh iklan partai politik. Semua partai (terutama mempunyai modal keuangan yang kuat) berlomba-lomba menampilkan iklan partainya.

Tujuannnya agar khalayak tidak salah pilih dan mencoba mengubah pikiran khalayak mengenai partai tertentu. Selain itu, menjelang Pemilu 2014 kepemilikan televisi oleh seseorang atau partai politik tertentu juga mengubah konsep periklanan partai politik yang

(41)

terdistribusi ke berbagai pihak menjadi tersentralisasi pada partai politik sang pemilik media.

Periklanan terbagi atas periklanan komersial dan non komersial.

Periklanan komersial adalah periklanan yang bagi kita tidak memiliki kepentingan langsung, misalnya periklanan konsumen dan perusahaan. Sedangkan periklanan non komersial adalah periklanan yang didukung oleh kelompok amal, pemerintah dan sebagainya.

Ada juga di sebut dengan periklanan citra yaitu himbauan yang di tujukan untuk membina reputasi pejabat pemerintah atau yang menghendaki menjadi pejabat pemerintah, memberih informasi kepada khalayak tentang informasi, pengalaman, latar belakang dan kepribadian seorang politikus dan meningkatkan prospek pemilihan kandidat atau mempromosikan perorangan dan kebijakan tertutup.

Di sisi lain, periklanan juga dikaitkan dengan kegiatan kampanye.

Istilah kampanye sendiri berasal dari istilah militer yakni suatu rangkaian kegiatan militer untuk menghancurkan musuh. Hingga saat ini istilah kampanye mulai digunakan di semua disiplin ilmu khususnya tentang Komunikasi Politik.

Di dalam konteks komunikasi politik, kampanye dapat dilihat dari beberapa dimensi antara lain:

1. Citra partai ialah pandangan masyarakat terhadap suatu partai tertentu, misalnya program apa yang ditawarkan.

2. Citra kandidat sangat erat berkaitan dengan seorang calon tentang kemampuan (capability) dan kepribadiannya (personality)

(42)

3. Citra calon pemilih adalah hal yang menunjukkan citra yang ada pada pemilih yaitu lukisan tentang ingatan mengenai calon kandidat yang terpilih di dalam menjalankan perannya.

4. Isu politik lebih bersumber pada peristiwa-peristiwa politik yang dapat dijadikan latar belakang untuk menentukan kebijakan politik seperti kepentingan para pemilih, harapan pemilih di masa datang, peningkatan derajat para pemilih dan kehidupan sehari-harinya.

c. Retorika Politik

Nimmo (1993: 77) menjelaskan bahwa retorika adalah komunikasi dua arah, dalam artian bahwa satu arah atau lebih orang masing-masing berusaha dengan sadar untuk mempengaruhi pandangan satu sama lain melalui tindakan timbal balik satu sama lain.

Retorika merupakan penggabungan dari unsur propaganda dan periklanan. Retorika politik adalah suatu proses yang melahirkan terbentuknya masyarakat melalui negosiasi. Retorika juga menggunakan bahasa untuk mengidentifikasi pembicara dan pendengar melalui pidato. Sementara pidato adalah suatu konsep yang sama pentingnya dalam menganalisis retorika sebagai identifikasi atau simbolisme.

Ada tiga tipe retorika yang dikemukakan oleh Aristoteles yaitu retorika deliberatif, forensik dan demonstratif. Retorika delibratif dirancang untuk mempengaruhi orang-orang dalam masalah kebijakan pemerintah dengan menggambarkan keutungan dan kerugian relatif dari cara-cara alternatif dalam melakukan segala sesuatu. Retorika forensik adalah

(43)

yuridis, dimana fokusnya pada apa yang terjadi pada masa lalu untuk menunjukkan bersalah atau tidak bersalah, pertanggungjawaban, hukuman atau ganjaran. Retorika demonstratif adalah epideiktik, wacan yang memuji atau menjatuhkan.

3. Media Komunikasi Politik

Selain menyampaikan pesan secara lisan, komunikasi juga bisa berbentuk penyampaian pesan secara nonverbal. Dengan kata lain melalui simbol, gambar atau tindakan yang merupakan kombinasi yang menghasilkan suatu informasi. Maka saluran komunikasi biasa juga disebut suatu alat atau sarana dalam menyampaikan sebuah pesan kepada orang lain/khalayak.

Psikolog George Miller menjelaskan bahwa kita harus “mengangap manusia sebagai saluran komunikasi, dengan masukan yang disediakan oleh rangsangan yang kita berikan dan keluaran yang merupakan tanggapannya terhadapa rangsangan itu” (Nimmo, 1993:77). Sebaliknya Tamotshu Shibutani mengatakan bahwa pada dasarnya manusia “maka saluran komunikasi itu lebih daripada sekedar titik sambungan, tetapi terdiri dari pengertian bersama tentang siapa dapat berbicara kepada siapa, mengenai apa, dalam keadaan bagaimana, sejauh mana dapat dipercaya”.

Nimmo (1993: 78) membagi tiga sifat saluran komunuikasi politik antara lain: pertama komunikasi interpersonal merupakan bentukan dari hubungan satu kepada satu yang berbentuk tatap muka (face to face) atau berperantara. Kedua, komunikasi organisasi menggabungkan pe-

(44)

nyampaian kepada satu dan satu kepada banyak. Tetapi, kebanyakan organisasi politik begitu besar sehingga komunikasi satu kepada satu dengan seluruh anggotanya mustahil bisa dilaksanakan oleh sebab itu, ada sarana untku komunikasi satu kepada banyak yang berperantara dalam organisasi. Ketiga, komunikasi massa adalah saluran yang menekankan komunikasi satu kepada banyak. Saluran ini terbagi atas tatap muka seperti pidato dan jika ada perantara di tempatkan di antara komunikator dan khalayak.

Cara menyampaikan pesan dalam komunikasi massa lebih terfokus pada penggunaan media seperti radio, televisi, majalah dsb. Ada empat hal jenis kebutuhan yang di sediakan oleh media massa menurut Dennis Mc Quail, Blumer damn Brown yaitu hiburan, hubungan personal seperti persahabatan, identitas pribadi termasuk penggunaan media untuk menjelaskan seatu segi kehidupan pribadi dan pengamatan yakni pengumpulan organisasi (Nimmo, 1993: 78).

Selanjutnya, komunikasi interpersonal mempunyai pandangan yang berbeda dengan komunikasi massa, meski tetap melalui aliran dua arus informasi. Akan tetapi, komunikasi interpersonal menganggap tidak semua peristiwa berasal dari media massa. Bahkan tidak jarang proses ini dianggap sebagai permainan yaitu transaksi didalamnya pada peserta mempunyai motif yang terbuka dan tersembunyi dan dalam proses itu memperoleh imbalan atau menderita kerugian.

Sedangkan di dalam komunikasi organisasi terdapat dua tipe umum saluran komunikasi yaitu internal dan eksternal. Proses komunikasi internal mempunyai tiga aspek, Pertama, orang-orang harus memiliki informasi sebagai dasar umtuk membuat keputusan. Kedua, putusan dan

(45)

dasar alasannya harus disebarkan agar anggota-anggota organisasi itu melaksanakannya. Ketiga, ada saluran-saluran untuk pembicaraan ke- organisasian.

Selain saluran internal, dan juga media untuk komunikasi eksternal, dalam hal jawatan pemerintah, misalnya, media ini mencakup saluran untuk berkomunikasi kepada warga negara pada umumnya.

4. Khalayak Politik

Ketika KH Abdurrahman Wahid terpilih sebagai presiden menggantikan Habibie, maka seluruh masyarakat Indonesia merasa bahwa negara akan kembali berhasil keluar dalam menghadapi tantangan.

Namun, beberapa bulan kepemimpinannya yang disertai dengan sikap yang arogan, mesyarakat mengaggap bahwa Gus Dur tidak ada bedanya dengan mantan presiden Soeharto. Sehingga terbentuklah opini yang semakin mengkristal bahwa Gus Dur adalah orang yang tidak demokratis tetapi cenderung otoriter.

Artinya, orang berperilaku terhadap objek dengan memberikan makna kepadanya, makna yang pada gilirannya diturunkan daripada perilakunya sebagai individu. Melalui kegiatan komunikasi memberi dan menerima diantara makna dan tindakan ini memperoleh kecenderungan tertentu. Dan kecenderungan ini diperhitungkan kedalam perilakunya jika ia memasuki situasi baru.

Davison mengemukakan bahwa “suatu isu mulai berakar jika dikomunikasikan dari satu orang kepada orang kedua yang kemudian dilanjutkan dalam percakapannya sendiri”, inilah yang disebut opini

(46)

publik. Opini Publik atau lazim juga disebut Pendapat Umum mempunyai beragam definisi antara lain (Ruslan, 1999: 159) :

a. Merupakan “supernatural power” atau kekuatan yang luar biasa yang dapat mendukung atau menghantam penguasa dan karenanya penguasa harus berhati-hati.

b. Input atau masukan bagi penguasa.

c. Mempunyai ciri-ciri yakni selalu diketahui dari pernyataan- pernyataannya, merupakan sintesa atau kesatuan dari banyak pendapat dan mempunyai pendukung dalam jumlah besar.

d. Mempunyai lima tahapan yaitu adanya proses waktu, cakupan publiknya yang luas, adanya pengalaman masa lalu, adanya ketokohan atau aktor serta peran media massa sebagai pembentuknya.

e. Opini publik juga sering dikaitkan dengan citra atau pencitraan.

Citra adalah segala sesuatu yang telah dipelajari seseorang yang relevan dengan situasi dan tindakan yang terjadi didalamnya.

Citra bisa berubah seiring dengan berubahnya waktu.

(47)

Berikut ini adalah diagram yang menunjukkan bagaimana proses pembentukan opini publik ialah :

Faktor Penentu Proses Pembentukan

Latar Belakang Budaya Persepsi Opini Konsensus OP Pengalaman Masa Lalu

Nilai-Nilai Yang Dianut Affect

Berita Yang Bercabang Sikap Formula ABC Behaviour Cognition Sumber: Ruslan, 1999: 159

Ada empat tahap pembentukan opini. Pertama, pempublikasian konflik pribadi ialah munculnya pertikaian yang memiliki potensi yang menjadi isu. Kedua, ialah munculnya kepemimpinan untuk melakukan publikasi. Ketiga, interpretasi personal dan pertimbangan sosial. Keempat, kesediaan mengungkapkan opini pribadi depan umum.

Implikasi dari keempat tahap ini melahirkan sebuah pemikiran tentang karakteristik opini publik. Nimmo (Sumarno, 1989: 33) menjelaskan empat karakteristik opini publik yaitu pertama, adanya isi, arah dan intensitas yang mengenai opini publik dan ciri-ciri ini lebih banyak berkaitan dengan tokoh politik. Kedua, kontroversi menandai opini publik, artinya sesuatu yang tidak disepakati seluruh rakyat. Ketiga, opini publik mempunyai volume berdasarkan kenyataan bahwa kontroversi itu menyentuh semua orang yang merasakan konsekuensi langsung dan tak

(48)

langsung dari padanya yang meskipun mereka bukan pihak pada pertikaian semula. Keempat, opini publik itu relatif tetap.

Selain itu, ada ciri lain dari opini publik yaitu penampilannya yang pluralis. Ciri ini sangat berbeda dengan tiga wajah opini publik yaitu wajah opini massa, kelompok dan rakyat. Wajah opini massa berasal dari perseorangan yang mencapai pilihan personal dan konsidensi pilihan ini melalui proses selektivitas konvergen yaitu suatu alat untuk mencapai ketertiban sosial. Wajah opini kelompok adalah opini publik yang terdiri atas semua pengungkapan tentang persetujuan berbagai kelompok. Wajah opini rakyat adalah terdiri atas semua pengungkapam tentang persetujuan berbagai kelompok. Wajah opini rakyat adalah penjumlahan opini perseorangan seperti diukur Poll atau survey politik.

Penting mengingat dua hal yang menyangkut pluralis opini publik.

Pertama, opini publik tidak identik dengan yang manapun dari ketiga wajah di atas, opini publik adalah pengungkapan kolektif dari kepercayaan, nilai dan penghargaan personal yang tampil melaui saling pengaruh dari ketiga manisfestasi. Kedua, ialah bahwa ketiga wajah opini publik itu tidak konsisten satu sama yang lain, artinya biasa terjadi saling kontraksi.

5. Efek Politik

Nimmo (1993: 80) mengatakan bahwa belajar adalah kegiatan yang dipikirkan yang menyangkut modifikasi dan pengaturan kembali perilaku, ternasuk citra dan interpretasi seseorang serta kepercayaan, nilai dan pengharapan yang berkaitan dengannya. Dan ketiga seorang warga

(49)

belajar berpolitik selama hidupnya maka di namakan proses sosialisasi politik dan inilah efek pertama dari komunikasi politik. Dengan demikian maka belajar politik adalah proses mengadopsi dan menerapkan diri politik pada tindakan orang lain yang diharapkan dan berlanjut melalui pengambilan peran dan permainan peran yaitu dengan bersandiwara dan meniru.

Proses sosialisasi politik lebih terfokus pada sosialisasi interpersonal yaitu keluarga dan kelompok sebaya, sosialisasi organisasi yaitu sekolah dasar, sekolah menengah dan perguruan tinggi serta sosialisasi massa.

Ketiga proses ini akan membuat seseorang akan mengerti akan komunikasi yang relevan dengan politik terutama perkembangan dari politiknya, mulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa.

Efek kedua ialah partisipasi politik. Secara umum partisipasi politik di artikan sebagai orang yang tidak sekedar ikut mengamati dan menilai tapi juga menghubungi dan bertukar pesan dengan pemimpin pemerintahan dan bukan pemerintahan.

Cara orang mengambil bagian dalam politik ini terbagi atas tiga dimensi. Pertama, gaya umum partisipasi yang terdiri atas langsung atau perwakilan, kentara atau tidak kentara, individual atau kolektif, sistematis atau acak, terbuka atau tersembunyi, berkomitmen atau tidak berkomitmen dan derita atau kesenangan. Kedua, motif partisipasi yang terdiri atas sengaja atau tak sengaja, rasional atau emosional, kebutuhan psikologis atau sosial, diarahkan dari dalam atau dari luar dan berpikir atau tanpa berpikir. Ketiga, konsekuensi partisipasi yang terdiri atas fungsional atau disfungsional, sinambunga atau terputus dan mendukung atau menuntut (Nimmo, 1993: 81).

(50)

Sedangkan tipe dan distribusi partisipasi politik dibedakan atas : Pertama, partisipasi dalam pemilihan umum yaitu idenifikasi dengan partai politik, pendaftaran untuk pemilih, pemberian suara dalam pemilu dan pengambilan bagian dalam kampanye. Kedua, partisipasi bukan dalam pemilu yaitu mengikuti informasi tentang politik, masuk organisasi kepentingan pilitik dan umum, serta menghubungi pejabat pemerintah.

Efek ketiga adalah mempangaruhi pemilu. Penekanan efek ini lebih terpokus pada komunikasi kampanye, terhadap konstruksi pilihan pribadi dalam pemilu oleh pemberian suara individual. Pemberian suara harus menginterpretasikan lingkungan tempat media politik melaporkan apa yang penting tentang politik dan bagaimana pendirian kandidat yang mungkin sama dengan pendirian mereka (Maxwel E.Mc Combs dan Donald L Shaw).

Dari penetapan ini muncul dua implikasi.Pertama, ialah bahwa agenda media mengubah agenda pemilu dengan memilih beberapa isu untuk diperhatikan dan magabaikan lainnya. Kadua, Lahirnya televisi sebagai andalan untuk memperolah informasi tentang hal ihwal politik.

Manheim (Nimmo, 1993: 195) memperingatkan bahwa “dengan menurunnya aliran informasi politik yang konpleks yang sebanding dengan meningkatnya pengandalan televisi sebagai sumber informasi politik, maka pertama kebutuhan yang dipersepsi dan kemudian kemampuan untuk melakukan oprasi intelektual yang canggih terhadap informasi seperi itu maupun sebagai apresiasi terhadap konpleksitas politik itu sendirim juga menurun.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil pengukuran terhadap variabel orientasi budaya politik siswa

DITINJAU DARI PERSPEKTIF KOMUNIKASI POLITIK (Studi Deskriptif di Dewan Pengurus Daerah Partai Keadilan Sejahtera. Kota Bandung

Adv selaku Dosen Wali kelas G Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang yang telah membantu penulis dimulai dari

Perbedaan pendapat para elite dalam menrima hubungan komunikasi politik antara Muhammadiyah dan PAN ini, lebih jauh juga berlanjut pada sikap dan pandangan mereka