• Tidak ada hasil yang ditemukan

PT. MITRA GEOHIDROLIKA INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PT. MITRA GEOHIDROLIKA INDONESIA"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

SID KOLAM RETENSI BANJIR SISTEM PENGENDALI BANJIR BUKIT PINANG

Kontrak Nomor :

600/Bid-SDA/KPA/401/VI/2020 Tanggal 12 Juni 2020

TAHUN ANGGARAN 2020 LAPORAN RINGKAS (EXECUTIVE SUMMARY)

0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000 45000 50000 55000 60000

0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5

Volume kumulatif (m3)

Waktu t (jam) Volume kumula tif ma suk kola m retensi Volume kumula tif pompa

Kapasitas tampung kolam = 36.737 m3

(2)

LAPORAN RINGKAS SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang

i | B A B I

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR GAMBAR ... ii

DAFTAR TABEL ... iii

1. Latar Belakang Pekerjaan ... 1

2. Maksud dan Tujuan ... 2

3. Data Umum/ Status Proyek ... 2

4. Lokasi Pekerjaan ... 3

5. Penelusuran Jaringan Drainase dan Alur Sungai... 4

5.1 Penelusuran jaringan drainase ... 5

5.2 Penelusuran alur sungai ... 10

6. Identifikasi Banjir di Lokasi Studi ... 20

6.1 Lokasi, volume, dan lama genangan banjir ... 20

6.2 Titik prioritas penanganan banjir ... 20

7. Rencana Pengendalian Banjir : Skenario Kolam Retesi dan Normaliasasi Alur Sungai ... 26

7.1 Peningkatan kapasitas saluran drainase dan sungai (sta 0+000 s/d 1+400) . 27 7.2 Kolam retensi ... 30

8. Survei Topografi ... 37

9. Survei Mekanika Tanah ... 38

10. Survei Kepemilikan Lahan ... 41

11. Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya ... 43

(3)

ii | B A B I Gambar 1. Lokasi Pekerjaan: Kelurahan Bukit Pinang, Kecamatan Samarinda

Ulu, Kota Samarinda Ulu, Kota Samarinda ... 3

Gambar 2. Lokasi studi meliputi salah satu sub-DAS Sungai Karang Asam Besar yang hulunya berada di Perumahan Bukit Pinang Kelurahan Bukit Pinang dan bermuara di Sungai Karang Asam Besar ... 4

Gambar 3. Penelusuran jaringan drainase di segmen 1 (Kondisi kolam retensi kompleks pergudangan, Bizpark) ... 6

Gambar 4. Penelusuran jaringan drainase di segmen 2 (kondisi saluran drainase induk Perumahan Bukit Pinang) ... 7

Gambar 5. Penelusuran jaringan drainase di segmen 2 (kondisi saluran drainase induk Perumahan Bukit Pinang) ... 8

Gambar 6. Penelusuran arah aliran dalam jaringan drainase di segmen 1 dan segmen 2 ... 9

Gambar 7. Penelusuran alur sungai tahap 1 dari Perumahan Bukit Pinang (segmen 3) sampai di Ring Road 2 (segmen 4) ... 11

Gambar 8. Penelusuran alur sungai di segmen 3 (kondisi alur sungai segmen 3) .... 12

Gambar 9. Penelusuran alur sungai di segmen 4 ... 13

Gambar 10. Kegiatan penelusuran alur sungai tahap 2 dari Ring Road 2 (segmen 5) hingga Jl. M. Said (segmen 7) ... 14

Gambar 11. Penelusuran alur sungai di segmen 5 ... 15

Gambar 12. Penelusuran alur sungai di segmen 6 ... 16

Gambar 13. Penelusuran alur sungai di segmen 7 ... 17

Gambar 14. Penelusuran arah aliran sungai di segmen 3 s/d segmen 6 ... 18

Gambar 15. Penelusuran arah aliran sungai di segmen 7 ... 19

Gambar 16. Metode penentuan volume genangan dan lama genangan di segmen sungai ... 20

Gambar 17. Titik prioritas penanganan banjir segmen 2 (Lokasi genangan: STA 0+450 s/d STA 0+550). ... 22

Gambar 18. Titik prioritas penanganan banjir segmen 2 (Lokasi genangan: STA 0+800 s/d STA 0+900) ... 23

(4)

LAPORAN RINGKAS SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang

iii | B A B I Gambar 19. Titik prioritas penanganan banjir segmen 4 (Lokasi genangan: STA

2+790 (Ring Road) ... 24

Gambar 20. Titik prioritas penanganan banjir segmen 7 (Lokasi genangan: STA 5+000 s/d STA 5+400) ... 25

Gambar 21. Hidrograf banjir kala ulang 5 tahun di sungai, hasil penelusuran banjir (a) tanpa kolam retensi, dan (b) dengan kolam retensi ... 27

Gambar 22. Layout rencana peningkatan kapasitas sungai ... 28

Gambar 23. Rencana penampang saluran tipe 1 hingga 5 untuk mengalirkan debit kala ulang 5 tahun. ... 29

Gambar 24. Layout rencana kolam retensi ... 31

Gambar 25. Potongan A-A dan potongan B-B kolam retensi ... 32

Gambar 26. Denah inlet kolam ... 33

Gambar 27. Denah outlet kolam ... 34

Gambar 28. Denah dan potongan box culvert ... 35

Gambar 29. Potongan rumah pompa ... 36

Gambar 30. Pengambilan data koordinat dan elevasi. ... 37

Gambar 31. Pengujian sondir, boring, SPT dan laboratorium ... 38

Gambar 32. Layout tanah kaplingan area rencana kolam retensi. ... 42

Gambar 33. Kegiatan survei kepemilikan lahan ... 43

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Perhitungan volume dan lama genangan banjir ... 21

Tabel 2. Data teknis kolam retensi ... 30

Tabel 3. Hasil pengujian boring dan SPT untuk titik BH-02 ... 39

Tabel 4. Rekapitulasi penyelidikan sondir ... 40

Tabel 5. Rekapitulasi pengujian laboratorium ... 40

Tabel 6. Rekapitulasi rencana anggaran biaya ... 44

(5)

1

PENGENDALIAN BANJIR BUKIT PINANG

1. Latar Belakang Pekerjaan

Jumlah lokasi genangan banjir di Kota Samarinda terus meningkat dari tahun ke tahun demikian pula dengan kedalaman, luas, frekuensi, dan lama genangan. Tingginya tingkat pertumbuhan penduduk di Kota Samarinda (sekitar 3,4%) yang diikuti dengan pertumbuhan jumlah permukiman yang pesat telah memberikan tekanan terhadap pola pemanfaatan ruang Kota Samarinda yang berdampak pada berkurangnya daerah resapan air dan bertambahnya titik, kedalaman, luas, frekuensi, dan lama genangan seperti yang disebutkan di atas.

Perkembangan kawasan terbangun yang sangat pesat menyebabkan banyak area rendah yang semula berfungsi sebagai tempat penampungan air sementara (retarding pond) dan bantaran sungai yang tergolong ke dalam kawasan lindung berubah menjadi area pemukiman.

Kondisi di atas diperburuk dengan banyaknya pembukaan lahan untuk penambangan batubara, area bisnis, dan permukiman yang dibangun di wilayah dengan kemiringan lereng yang cukup tinggi yang memicu peningkatan limpasan permukaan dan erosi lahan dengan sedimen yang masuk ke dalam saluran drainase dan sungai yang kemudian menurunkan kapasitas angkut saluran drainase dan sungai alam yang ada. Kondisi di atas dapat menjelaskan mengapa terjadi peningkatan jumlah titik, lama, luas, kedalaman, dan frekuensi genangan di Kota Samarinda.

Tidak kalah pentingnya, turut memperberat upaya pengendalian dampak banjir di Kota Samarinda, yakni pengaruh perubahan iklim global yang ditandai dengan meningkatnya fluktuasi intensitas curah hujan dan bertambahnya curah hujan harian maksimum jika ditinjau dari waktu ke waktu.

Topografi Kota Samarinda yang cenderung rendah dan datar dan dialiri sungai-sungai yang sangat dipengaruhi pasang surut membuat konsep pengendalian banjir yang mengandalkan pengaliran debit banjir secepat-cepatnya ke arah hilir sungai tidak sesuai untuk diterapkan.

Sebaliknya, perlu diupayakan untuk menyimpan sementara debit banjir di bagian hulu dan tengah daerah tangkapan hujan, lalu mengalirkannnya secara bertahap dan terkendali ke arah hilir pada saat tinggi muka air di alur sungai di ruas tengah dan hilir sudah mulai turun.

Konsep ini bertujuan untuk memotong puncak banjir agar tidak melimpas keluar dari alur

(6)

LAPORAN RINGKAS SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang

2 sungai atau saluran drainase induk yang ada di bagian tengah dan hilir daerah tangkapan hujan.

Dengan pendekatan yang kedua ini, sebagian debit banjir dapat ditampung sementara dalam kolam retensi alih-alih dialirkan dalam saluran drainase induk atau alur sungai. Dengan demikian saluran drainase dan alur sungai tidak meluap atau volume luapannnya dapat dikendalikan sehingga luas genangan dan intensitas genangan banjir luapan sungai juga dapat dikendalikan.

Berdasarkan pendekatan yang diuraikan di atas, pada tahun anggaran 2020 ini, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat bermaksud melakukan SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang, guna mengamankan pemukiman, perkantoran, dan kegiaatan ekonomi masyarakat dari ancaman banjir di sebagian wilayah Kalimantan Timur khususnya Kelurahan Bukit Pinang Kecamatan Samarinda Ulu Kota Samarinda.

2. Maksud dan Tujuan

Maksud dilaksanakannya pekerjaan “SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang” adalah melakukan perencanaan Detail Bangunan Pengendali Banjir di titik tertentu yang dianggap prioritas penanganan secara infrastruktur (kolam retensi bukit pinang).

Tujuan pekerjaan adalah:

1) Menentukan besarnya limpasan banjir di kawasan Kelurahan Bukit Pinang dengan menggunakan data hidroklimatologi dan analisa hidrologi,

2) Memetakan sistem jaringan drainase dan alur sungai alam di area studi,

3) Melakukan penelusuran banjir di alur sungai dan mengidentifikasi titik-titik genangan banjir,

4) Melakukan penilaian efektifitas pengendalian banjir dengan skenario tanpa kolam retensi dan dengan kolam retensi,

5) Menentukan lokasi kolam retensi dan merancang dimensi kolam retensi beserta komponen pendukungnya dengan mengikuti kaidah perencanaan teknis yang berlaku.

3. Data Umum/ Status Proyek

1. Nama Pekerjaan : SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang.

2. Lokasi : Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur

(7)

3 4. Pelaksana : Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat Provinsi Kalimantan Timur, Bidang Sumber Daya Air.

Jl. Tengkawang No. 1 Samarinda.

5. Sumber Dana : APBD Provinsi Kalimantan Timur Tahun Anggaran 2020.

6. Nilai : Rp.300.000.000,00 (Tiga Ratus Juta Rupiah)

7. No. / Tgl. Kontrak : 600/52.a/K-610/28.352/VI/2020 Tanggal 3 Juni 2020.

8. Waktu Pelaksanaan : 180 (Seratus Delapan Puluh) hari kalender atau 6 (enam) bulan.

4. Lokasi Pekerjaan

Secara admisnitratif lokasi studi terletak di Kelurahan Bukit Pinang, Kecamatan Samarinda Ulu, Kota Samarinda (Gambar 1). Lokasi studi meliputi salah satu sub-DAS Sungai Karang Asam Besar yang hulunya berada di Perumahan Bukit Pinang Kelurahan Bukit Pinang dan bermuara di Sungai Karang Asam Besar (Gambar 2). Garis-garis batas sub- DAS tersebut ditentukan dengan menghubungkan punggung-punggung bukit di atas peta kontur dan memperhatikan arah aliran saluran-saluran drainase eksisting. Untuk kepentingan analisa hidrologi dan hidrolika, daerah studi dibagi dalam 7 (tujuh) segmen seperti ditampilkan pada Gambar 2. Segmen 1 dan 2 adalah bagian hulu dari sub-DAS tersebut, sedangkan segmen 7 adalah bagian hilirnya.

Gambar 1. Lokasi Pekerjaan: Kelurahan Bukit Pinang, Kecamatan Samarinda Ulu, Kota Samarinda.

Perumahan Bukit Pinang

(8)

LAPORAN RINGKAS SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang

4 Gambar 2. Lokasi studi meliputi salah satu sub-DAS Sungai Karang Asam Besar yang hulunya berada di Perumahan Bukit Pinang Kelurahan Bukit Pinang dan bermuara di Sungai

Karang Asam Besar.

5. Penelusuran Jaringan Drainase dan Alur Sungai

Kegiatan penelusuran jaringan drainase dan alur sungai adalah salah satu kegiatan utama yang dilakukan untuk mendapatkan informasi:

1) trase alur sungai (planform sungai) dan jaringan drainase 2) arah aliran dalam alur sungai dan jaringan drainase

Segmen 1

Segmen 2

Segmen 3

Segmen 4

Segmen 5 Segmen 6

Segmen 7

Sungai Karang Asam Besar

(9)

5 4) letak dan dimensi bangunan lainnya seperti kolam retensi, gorong-gorong

5) kondisi eksisting sungai dan saluran drainase induk, termasuk informasi jenis saluran tanah atau beton, ada tidaknya pendangkalan dan penyempitan alur sungai dan saluran drainase misalnya akibat erosi, sedimentasi, aktifitas manusia dan tumbuhan.

Informasi di atas nantinya sangat dibutuhkan untuk kegiatan analisa, yakni penelusuran banjir dari hulu hingga ke hilir alur sungai, jika terdapat kolam retensi, maka dilakukan pula penelusuran banjir melalui kolam retensi yang ada. Dengan melakukan penelusuran banjir akan diketahui hidrograf banjir pada titik-titik penting di alur sungai yang ingin diketahui debitnya.

Informasi di atas juga dibutuhkan untuk menentukan kapasitas pengaliran penampang saluran drainase dan penampang sungai. Kapasitas pengaliran ini kemudian dibandingkan dengan debit banjir yang lewat yang diperoleh dari hasil penelusuran banjir. Jika kapasitas pengaliran kurang dari debit banjir maka air akan melimpas keluar dari saluran drainase dan menjadi genangan banjir. Genangan di suatu titik dianggap hilang beberapa saat setelah hidrograf banjir turun di bawah kapasitas pengaliran alur sungai atau saluran drainase di lokasi tersebut. Dengan pendekatan seperti ini, akan diketahui lokasi lokasi titik-titik genangan dan lamanya genangan di sepanjang saluran drainase dan alur sungai.

5.1. Penelusuran jaringan drainase

Peta citra udara Google Earth versi terbaru (tahun 2019) digunakan sebagai bahan acuan awal untuk mengetahui sistem jaringan drainase di daerah studi. Kemudian, berdasarkan peta ini dilakukan penelusuran jaringan drainase dengan berjalan kaki. Peta yang ada diperbaiki sesuai dengan kondisi eksisiting, penambahan saluran drainase pada peta dilakukan sesuai dengan kondisi asli di lapangan. Selanjutnya dilakukan penelusuran ulang saluran drainase, kali ini dengan menggunakan GPS. Posisi dan elevasi selama penelusuran dicatat dengan bantuan alat GPS. Penampang saluran diukur lebar dan tingginya, pengukuran ini dilakukan berulang setiap ditemukan perubahan signifikan bentuk dan dimensi penampang saluran. Letak dan dimensi bangunan lainnya seperti kolam retensi dan gorong-gorong dicatat.

Kondisi saluran direkam dengan kamera (Gambar 3, 4, dan 5). Arah aliran juga dicatat sesuai dengan yang terlihat di lapangan (Gambar 6). Penelusuran jaringan drainase dilakukan dari kompleks pergudangan (segmen 1) hingga Perumahan Bukit Pinang (segmen 2).

(10)

LAPORAN RINGKAS SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang

6 Gambar 3. Penelusuran jaringan drainase di segmen 1 (Kondisi kolam retensi kompleks pergudangan, Bizpark).

(11)

7 Gambar 4. Penelusuran jaringan drainase di segmen 2 (kondisi saluran drainase induk Perumahan Bukit Pinang).

(12)

LAPORAN RINGKAS SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang

8 Gambar 5. Penelusuran jaringan drainase di segmen 2 (kondisi saluran drainase induk Perumahan Bukit Pinang).

(13)

9 Gambar 6. Penelusuran arah aliran dalam jaringan drainase di segmen 1 dan segmen 2.

(14)

LAPORAN RINGKAS SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang

10 5.2. Penelusuran alur sungai

Penelusuran alur sungai dilakukan dengan berjalan kaki mengikuti alur sungai dari hulu ke hilir. Posisi dan elevasi selama penelusuran dicatat dengan bantuan alat GPS.

Penampang sungai diukur lebar dan tingginya, pengukuran ini dilakukan berulang setiap ditemukan perubahan signifikan bentuk dan dimensi penampang sungai. Kondisi bantaran sungai direkam dengan kamera. Penelusuran alur sungai dibagi dalam 2 tahap, yakni tahap 1 dari dari Perumahan Bukit Pinang (segmen 3) sampai di Ring Road 2 (segmen 4) (Gambar 7 sampai 9), tahap 2 dari Ring Road 2 (segmen 4) hingga Jl. M. Said (segmen 7) (Gambar 10 sampai 13). Arah aliran juga dicatat sesuai dengan yang terlihat di lapangan (Gambar 14 sampai 15).

(15)

11 Gambar 7. Penelusuran alur sungai tahap 1 dari Perumahan Bukit Pinang (segmen 3) sampai di Ring Road 2 (segmen 4).

Perumahan

Bukit Pinang

Pergudangan

(16)

LAPORAN RINGKAS SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang

12 Gambar 8. Penelusuran alur sungai di segmen 3 (kondisi alur sungai segmen 3).

(17)

13 Gambar 9. Penelusuran alur sungai di segmen 4.

(18)

LAPORAN RINGKAS SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang

14 Gambar 10. Kegiatan penelusuran alur sungai tahap 2 dari Ring Road 2 (segmen 5) hingga Jl. M. Said (segmen 7).

(19)

15 Gambar 11. Penelusuran alur sungai di segmen 5.

(20)

LAPORAN RINGKAS SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang

16 Gambar 12. Penelusuran alur sungai di segmen 6.

(21)

17 Gambar 13. Penelusuran alur sungai di segmen 7.

(22)

LAPORAN RINGKAS SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang

18 Gambar 14. Penelusuran arah aliran sungai di segmen 3 s/d segmen 6.

(23)

19 Gambar 15. Penelusuran arah aliran sungai di segmen 7.

(24)

LAPORAN RINGKAS SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang

20 6. Identifikasi Banjir di Lokasi Studi

6.1. Lokasi, volume, dan lama genangan banjir

Lokasi, volume dan lama genangan dapat diketahui dengan cara membandingkan kapasitas pengaliran dengan debit banjir (kala ulang 5 tahun). Penentuan ketiga besaran tersebut dapat dilakukan secara grafis dengan mengeplot kapasitas pengaliran dan hidrograf banjir hasil penelusuran banjir seperti ditampilkan pada Gambar 16. Genangan banjir terjadi jika: Qpenampang sungai < Qbanjir tertelusur. Volume genangan sama dengan luasan bidang yang diarsir.

Gambar 16. Metode penentuan volume genangan dan lama genangan di segmen sungai.

Dengan menerapkan metode tersebut pada setiap segmen sungai, maka volume dan lama genangan banjir pada saluran drainase dan alur sungai dapat didentifikasi seperti ditabelkan pada Tabel 1.

6.2. Titik prioritas penanganan banjir

Berdasarkan Tabel 1 diketahui hampir semua segmen tidak bebas dari genangan banjir, namun demikian titik prioritas penanganan banjir adalah di segmen yang padat penduduk, yakni segmen 2 (STA 0+450 s/d STA 0+550 dan STA 0+800 s/d STA 0+900), segmen 4 (STA 2+790) dan segmen 7 (5+000 s/d STA 5+400). Untuk lebih jelasnya, titik prioritas penanganan banjir ditampilkan pada Gambar 17 s/d 20.

0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00 8,00 9,00

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140

Debit (m3/det)

Waktu (menit)

Debit ba njir Ka pa sita s a lur sunga i

Volume genangan

Lama genangan

(25)

21

STA 0+000 s/d 0+430 kiri Beton bertulang 22,54 10,52 Tidak ada STA 0+000 s/d 0+430 kanan Beton bertulang 22,51 10,52 Tidak ada

STA 0+450 s/d 0+550 Beton bertulang 3,56 9,83 Ada 49 9208

STA 0+600 s/d 0+750 Beton bertulang 15,46 12,55 Tidak ada

STA 0+800 s/d 0+850 Beton bertulang 12,29 13,90 Ada 32 1552

STA 0+900 s/d 0+950 Beton bertulang 6,85 15,26 Ada 57 14387

STA 1+000 s/d 1+200 Beton bertulang 27,03 18,66 Tidak ada

STA 1+250 s/d 1+350 Alur sungai alam 1,90 19,36 Ada 110 57604

STA 1+400 s/d 1+650 Alur sungai alam 0,71 21,44 Ada 140 87043

STA 1+700 s/d 2+050 Alur sungai alam 1,20 24,21 Ada 147 101480

STA 2+100 s/d 2+250 Alur sungai alam 3,93 25,60 Ada 98 63684

STA 2+300 s/d 2+400 Alur sungai alam 13,89 26,18 Ada 45 16601

STA 2+450 s/d 2+700 Alur sungai alam 1,62 27,95 Ada 145 114523

STA 2+750 s/d 2+791 Alur sungai alam 5,21 28,49 Ada 93 64930

STA 2+850 s/d 2+900 Alur sungai alam 7,35 28,70 Ada 80 51225

STA 2+950 s/d 3+100 Alur sungai alam 1,64 29,54 Ada 145 121354

STA 3+150 s/d 3+500 Alur sungai alam 6,97 31,22 Ada 80 58182

STA 3+550 s/d 3+600 Alur sungai alam 1,99 31,64 Ada 142 126305

STA 3+650 s/d 3+800 Alur sungai alam 5,57 32,48 Ada 102 82344

STA 3+850 s/d 3+900 Alur sungai alam 13,05 32,90 Ada 67 39889

STA 3+950 s/d 4+050 Alur sungai alam 4,99 33,53 Ada 106 90743

STA 4+100 s/d 4+150 Alur sungai alam 5,81 33,95 Ada 100 84409

STA 4+200 s/d 4+400 Alur sungai alam 1,99 35,00 Ada 149 147553

STA 4+450 s/d 4+850 Beton bertulang 2,81 50,87 Ada 150 216277

STA 4+900 s/d 4+950 Beton bertulang 18,32 51,61 Ada 66 65909

STA 4+950 s/d 5+000 Beton bertulang 25,21 51,98 Ada 53 42562

STA 5+000 s/d 5+050 Beton bertulang 30,73 52,35 Ada 52 33731

STA 5+100 s/d 5+150 Beton bertulang 35,44 53,09 Ada 45 23826

STA 5+200 s/d 5+298 Beton bertulang 58,38 54,18 Tidak ada Segmen 7 (STA 4+470 s/d 5+298)

No STA

Segmen 1 (STA 0+000 s/d 0+430)

Segmen 2 (STA 0+430 s/d 1+200)

Segmen 3 (STA 1+200 s/d 2+235) No se gme n

Segmen 5 (STA 2+810 s/d 4+470)

Kapasitas pe ngaliran Qk (m3/de t)

Segmen 4 (STA 2+235 s/d 2+810)

Kondisi Alur

Lama Ge nangan

(me nit)

Volume Ge nangan

(m3) De bit

Banjir Q (m3/de t)

Ge nangan Banjir

(26)

LAPORAN RINGKAS SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang

22 Gambar 17. Titik prioritas penanganan banjir segmen 2 (Lokasi genangan: STA 0+450 s/d STA 0+550).

(27)

23 Gambar 18. Titik prioritas penanganan banjir segmen 2 (Lokasi genangan: STA 0+800 s/d STA 0+900).

(28)

LAPORAN RINGKAS SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang

24 Gambar 19. Titik prioritas penanganan banjir segmen 4 (Lokasi genangan: STA 2+790 (Ring Road).

(29)

25 Gambar 20. Titik prioritas penanganan banjir segmen 7 (Lokasi genangan: STA 5+000 s/d STA 5+400).

(30)

LAPORAN RINGKAS SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang

26 7. Rencana Pengendalian Banjir: Skenario Kolam Retensi dan Normalisasi Alur Sungai

Dari analisa yang dilakukan pada bab 7 Laporan Akhir, diketahui bahwa skenario pengendalian banjir dengan normalisasi sungai saja belum cukup untuk menanggulangi genangan banjir khususnya di daerah yang padat perumahan dan ada aset penting lainnnya.

Demikian pula, berdasarkan hasil analisa pada bab 8 Laporan akhir, diketahui bahwa skenario pembangunan kolam retensi saja belum cukup untuk mengendalikan banjir, masih ada titik- titik genangan di area perumahan penduduk. Oleh sebab itu, diajukan skenario kombinasi kolam retensi dan normalisasi alur sungai dengan tujuan untuk menghilangkan genangan banjir di titik-titik yang menjadi target yakni segmen 2 (STA 0+450 s/d STA 0+550 dan STA 0+800 s/d STA 0+900), segmen 4 (STA 2+790) dan segmen 7 (5+000 s/d STA 5+400).

Pada segmen 3 dibangun kolam retensi baru. Penentuan lokasi kolam retensi baru (Gambar 22) tersebut didasarkan atas beberapa pertimbangan berikut:

1) lokasi titik –titik genangan banjir yang ingin dikendalikan (lokasi padat pemukiman, perkantoran, bisnis, dan kegiatan ekonomi lainnya)

2) topografi lokasi rencana kolam retensi

3) kondisi daya dukung tanah dan tinggi muka air tanah

4) ketersediaan lahan untuk kolam retensi dan fasilitas pendukungnya 5) kemudahan akses untuk kegiatan OP

6) biaya konstruksi (volume galian dan timbunan, pembangunan jalan akses, dll) 7) biaya sosial yang timbul (akuisisi lahan)

Kolam Retensi Bukit Pinang efektif dalam mereduksi puncak banjir di sungai, hal ini dapat dilihat dengan membanding hidrograf banjir hasil penelusuran banjir di sungai tanpa kolam retensi (Gambar 21a) dan dengan kolam retensi (Gambar 21b).

(a)

(31)

27 Gambar 21. Hidrograf banjir kala ulang 5 tahun di sungai, hasil penelusuran banjir (a) tanpa

kolam retensi, dan (b) dengan kolam retensi.

Berdasarkan uraian di atas, terdapat 3 (tiga) kegiatan utama yang akan direncanakan, yakni:

1) Peningkatan kapasitas saluran drainase dan sungai (STA 0 +000 s/d 1+400) dengan debit desain kala ulang 5 tahun.

2) Pembangunan kolam retensi di segmen 3 DAS dengan debit desain kala ulang 5 tahun.

3) Pembebasan lahan yang terkena dampak langsung pembangunan kolam retensi.

7.1. Peningkatan kapasitas saluran drainase dan sungai (STA 0 +000 s/d 1+400)

Layout sungai yang akan ditingkatkan kapasitasnya dapat dilihat pada Gambar 22.

Rencana peningkatan kapasitas saluran dan sungai adalah sebagai berikut:

- Saluran tipe 1 STA 0+000-0+250 (250m) - Gorong-gorong STA 0+350-0+355 - Saluran tipe 3 STA 0+355-0+750 (395m) - Saluran tipe 4 STA 0+775 - 0+975 (200m) - Saluran tipe 1 (STA 0+975 - 1+325 (350m) - Saluran tipe 5 STA 1+325-1+400 (75m)

Penampang rencana tipe 1 hingga 5 ditampilkan pada Gambar 23.

(32)

LAPORAN RINGKAS SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang

28 Gambar 22. Layout rencana peningkatan kapasitas sungai.

(33)

29 Gambar 23. Rencana penampang saluran tipe 1 hingga 5 untuk mengalirkan debit kala ulang 5 tahun.

(34)

LAPORAN RINGKAS SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang

30 7.2. Kolam retensi

Layout rencana kolam retensi ditampilkan pada Gambar 24. Kolam retensi di desain dengan debit banjir kala ulang 5 tahun Q = 13,58 m3/det. Komponen utama dan pendukung kolam retensi beserta data teknisnya di tampilkan pada Tabel 2. Beberapa gambar desainseperti bangunan inlet, outlet, box culvert, dan rumah pompa disajikan pada Gambar 25 hingga 29. Gambar desain selengkapnya disajikan dalam Album Gambar.

Tabel 2. Data teknis kolam retensi.

No. Komponen Material Ukuran Jumlah Kapasitas

1 Sistem Inlet

Saluran inlet di hulu pelimpah beton bertulang K-350 Lebar = 5 m, tinggi = 1,8 m 1 unit 13,58 m3/det Saluran inlet di hilir pelimpah beton bertulang K-351 Lebar = 5 m, tinggi = 3,3 m 1 unit 13,58 m3/det Pelimpah beton bertulang K-350 panjang = 3m, tinggi = 0,5 m 1 unit 10,10 m3/det Pintu air inlet plat besi lebar = 1m, tinggi = 1,7 m 1 unit 3,48 m3/det

2 Kolam Sedimentasi - Luas genangan = 0,2 ha 1 unit 3980 m3

Kedalaman = 2,9 m

3 Kolam Utama - Luas genangan = 1,09 ha 1 unit 24.820 m3

Kedalaman = 2,7 m

4 Tanggul kolam urugan tanah setempat Tinggi = 4,54 m, panjang = 770 m - - penutup tanggul rip rap

beton

Kemiringan talud 1:2,5

5 Gorong -Gorong Inlet beton bertulang K-350 Doble box, lebar @= 2,5 m, tinggi = 1,5 m 1 unit 13,58 m3/det 6 Gorong-Gorong antara Kolam

Sedimentasi dan Kolam Utama

beton bertulang K-350 Doble box, lebar @= 2,5 m, tinggi = 1,5 m 1 unit 13,58 m3/det

7 Gorong-Gorong Outlet beton bertulang K-350 Single box, lebar = 3 m, tinggi = 1,5 m 1 unit 2 m3/det 8 Sistem Outlet

Saluran outlet beton bertulang K-350 Lebar =3 m, tinggi = 4,35 m 1 unit 2 m3/det Pintu air outlet plat besi Lebar = 0,5 m, tinggi =1,4 m 2 unit @ 1,19 m3/det

Pompa submersible - - 4 unit @ 500 l/det

Kolam pompa dan Rumah beton bertulang K-350 - 1 unit

Genset - - 1 unit 250 kVa/200

kW

Panel listrik - - 1 unit -

9 Jalan inspeksi beton bertulang K-350 Panjang = 770 m, lebar punggung = 5 m, lebar bahu = 1 m, tebal beton = 20 cm

-

10 Rumah Jaga pasangan batu - 1unit -

11 Parking lot beton bertulang K-350 100 m2 - -

12 Akses Water Master beton bertulang K-350 - 2 unit -

13 Loading Dock beton bertulang K-350 - 3 unit -

14 Jalan akses beton bertulang K-350 Panjang = 250 m, lebar = 5 m -

15 Gapura dan Gerbang Masuk pasangan batu 1 unit -

16 Pagar Keliling kawat harmonika Panjang = 909 m -

(35)

31 Gambar 24. Layout rencana kolam retensi.

(36)

LAPORAN RINGKAS SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang

32 Gambar 25. Potongan A-A dan potongan B-B kolam retensi.

(37)

33

Gambar 26. Denah inlet kolam.

(38)

LAPORAN RINGKAS SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang

34 Gambar 27. Denah outlet kolam.

(39)

35 Gambar 28. Denah dan potongan box culvert.

(40)

LAPORAN RINGKAS SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang

36 Gambar 29. Potongan rumah pompa.

(41)

37 Sebagai bagian dari pelaksanaan kegiatan “SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang”, dilakukan survei topografi (Gambar 30). Survei ini dilakukan di lokasi rencana kolam retensi dan sekitarnya untuk memperoleh gambaran aktual kondisi topografi di lokasi tersebut. Hasil pengukuran topografi disajikan pada Album Gambar Topografi.

Gambar 30. Pengambilan data koordinat dan elevasi.

(42)

LAPORAN RINGKAS SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang

38 9. Survei Mekanika Tanah

Pekerjaan investigasi tanah (Gambar 31) meliputi uji Dutch Cone Penetration Test (DCPT) atau Uji Sondir di 4 titik di lokasi rencana bangunan kolam retensi.

Gambar 31. Pengujian sondir, boring, SPT dan laboratorium.

(43)

39 standard (berat jenis, berat volume, kadar air, batas-batas Atterberg, geser langsung, analisa ayak dan hidrometer) dilakukan terhadap 7 sample tak terganggu (undisturbed sample) yang diambil dari titik dimana uji SPT dilakukan.

Tujuan investigasi tanah di lokasi ini adalah untuk mengetahui daya dukung tanah melalui cara pengukuran langsung di lapangan (menggunakan teknik SPT dan sondir) serta untuk mendapatkan data indeks propertis dan indeks mekanis tanah yang diperlukan dalam menentukan daya dukung tanah dengan cara analitis. Pada akhirnya data tanah ini akan digunakan untuk perencanaan kolam retensi dan bangunan pelengkapnya.

Tabel 3 menampilkan salah satu hasil boring tanah dan uji SPT yang dilakukan di titik BH-02. Kondisi stratigrafi tanah dimulai dari lempung lunak pada lapisan atas dan lempung kaku pada strata bawah. Lapisan tanah keras berada pada kedalaman 15 m dengan jumlah pukulan n-SPT = 55. Rekapitulasi hasil uji sondir ditampilkan pada Tabel 4. Rekapitulasi hasil pengujian laboratorium tanah disajikan pada Tabel 5, meliputi uji index properties dan engineering properties. Index properties antara lain kadar air, berat jenis, batas atterberg, berat isi, distribusi ukuran butir. Sedangkan engineering properties meliputi kuat tekan bebas, kohesi, dan sudut geser dalam.

Tabel 3. Hasil pengujian boring dan SPT untuk titik BH-02.

BORE HOLE No

Deskripsi Pekerjaan

Lokasi Tanggal Pelaksanaan

Koordinat Lokasi Tanggal Selesai

M.A.T. Enginer Tommy Sutarto, Ph.D.

Tipe Mesin Bor Jacro 175 Bor Master/ Driller Bajuri

Kedalaman Total ( - m ) 15 m Halaman No. 1 dari 1 hal.

Nilai N N1 N2 N3 15 15 15 Cm Cm Cm

1 UDS

2 1 2 5 8 13

3 UDS

4 2 2 5 4 9

5

6 3 3 5 4 9

7

8 4 10 12 17 29

9 UDS

10 5 17 23 5 28

11

12 6 20 36 19 55

13

14 7 0

15

Lempung lunak

Lempung kaku Lempung kaku Lempung kaku Lempung kaku Lempung lunak

Lempung kaku Lempung kaku Lempung kaku Lempung kaku Lempung kaku Lempung kaku Lempung lunak Lempung lunak

abu-abu abu-abu abu-abu abu-abu abu-abu abu-abu abu-abu abu-abu abu-abu abu-abu abu-abu abu-abu kuning abu-abu

Sampel tanah tak terganggu

Warna

STANDARD PENETRATION TEST (ASTM - D.1586)

Jumlah pukulan

kuning Kedalaman (-m) Ketebalan (m) M.A.T. (m) SYMBOL

Deskripsi Visual

Lempung lunak

STANDARD PENETRATION TEST (SPT) B-02

SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendali Banjir Bukit Pinang

Kelurahan Bukit Pinang, Kota Samarinda 10 Oktober 2020

X : 511854, Y : 9948368 10 Oktober 2020

SPT No.

-15 -14 -13 -12 -11 -10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0

0 10 20 30 40 50 60 N

(44)

LAPORAN RINGKAS SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang

40 Tabel 4. Rekapitulasi penyelidikan sondir.

No. Sondir Kedalaman (m) Cone Resistance (kg/cm2) Friction Resistance (kg/cm)

S.01 6,8 151,70 83,91

S.02 4,4 151,70 59,00

S.03 4,6 202,27 60,31

S.04 9,4 202,27 119,31

Tabel 5. Rekapitulasi pengujian laboratorium.

No. BH Depth (m)

U S C S

Kadar Air

Berat

Isi Berat Jenis

Batas Atterberg Hidrometer dan Analisa Ayak Geser Langsung

(W) () LL PL PI Clay Silt Sand Grav. Ø C

(%) (gram/

cm3) (Gs) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (°) (kg/cm2) BH-02 - (0,50 – 1,00) CL 54,55 1,76 2,69 45,97 21,98 23,99 59,44 29,62 10,52 0,42 19,151 0,477

- (2,50 – 3,00) CH 50,06 1,78 2,62 53,71 26,64 27,07 48,30 20,54 12,26 8,80 18,302 0,478 - (8,50 – 9,00) CL 42,46 1,78 2,68 48,00 25,60 22,40 61,41 28,57 9,18 0,84 20,549 0,390 BH-03 - (0,50 – 1,00) CH 77,45 1,76 2,60 57,99 27,85 30,14 52,11 21,57 13,80 12,52 21,648 0,404 - (2,50 – 3,00) CL 39,59 1,79 2,70 48,94 21,29 27,66 49,94 36,14 9,64 4,28 18,982 0,466 BH-04 - (2,50 – 3,00) CL 46,14 1,78 2,69 45,69 20,29 25,40 65,31 22,23 11,72 0,74 18,302 0,445 - (4,50 – 5,00) CL 33,70 1,79 2,72 38,73 20,24 18,49 52,56 24,34 14,30 8,80 18,869 0,458

Sample sedimentasi 9,70 6,34 47,70 36,26

Ket = CL : Clay Low Plastisity CH : Clay High Plastisity

(45)

41 Lokasi rencana kolam retensi berada dalam lahan yang awalnya dimiliki oleh Koperasi Sehati. Koperasi ini telah memecah lahan menjadi kapling-kapling tanah dan dijual kepada individu-individu. Sebagian besar kapling tanah telah terjual dengan akta jual beli dari PPAT Camat Samarinda Ulu.

Daftar nama kepemilikan lahan serta perkiraan nilai tanah yang berada dalam area rencana kolam retensi ditampilkan pada Tabel 13.1 Laporan Akhir. Berdasarkan tabel tersebut, terdapat 120 kapling tanah, dengan luas per kapling adalah 200 m2, yang berada dalam lokasi rencana kolam retensi. Luas lahan yang perlu diakuisisi adalah sebesar 24.000 m2 atau 2,4 ha.

Perkiraan sementara Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) bumi adalah Rp. 472.665,- (Empat Ratus Tujuh Puluh Dua Ribu Enam Ratus Enam Puluh Lima Rupiah). Nilai ini diperoleh dari rata-rata nilai NJOP tanah yang berada di kitar lokasi rencana kolam retensi, yakni di RT.13 Kelurahan Bukit Pinang Kecamatan Samarinda Ulu. Berdasarkan informasi di atas, perkiraan nilai tanah yang perlu diakuisisi adalah sebesar 24.000 x 472.665 atau Rp. 11.343.950.311,- (Sebelas Miliar Tiga Ratus Empat Puluh Tiga Juta Sembilan Ratus Lima Puluh Ribu Tiga Ratus Sebelas Rupiah).

Layout tanah kapling di dalam dan sekitar area rencana kolam retensi dapat dilihat pada Gambar 32 yang dibuat berdasarkan hasil survei lapangan bersama pengurus Koperasi Sehati (Gambar 33).

(46)

LAPORAN AKHIR SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang

42 Gambar 32. Layout tanah kaplingan area rencana kolam retensi.

(47)

43 Gambar 33. Kegiatan survei kepemilikan lahan.

11. Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya

Rekapitulasi rencana anggaran biaya (Tabel 4) pekerjaan pembangunan Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang adalah Enam Puluh Dua Milyar Seratus Tujuh Puluh Dua Juta Dua Ratus Empat Puluh Dua Ribu Rupiah dengan uraian seperti disajikan pada Tabel 3.

(48)

LAPORAN RINGKAS SID Kolam Retensi Banjir Sistem Pengendalian Banjir Bukit Pinang

44 Tabel 6. Rekapitulasi rencana anggaran biaya.

Jumlah Harga (Rp.)

1 Persiapan 336.879.117,38

2 Pekerjaan Tanah 1.917.335.654,17

3 Saluran Inlet 288.221.537,11

4 Pelimpah 51.455.270,45

5 Pintu Air Inlet 49.316.744,00

6 Tanggul Kolam 20.554.752.871,96

7 Gorong-Gorong Inlet 460.228.107,29

8 Gorong-Gorong Antar Kolam Sedimen dan Kolam Utama 542.678.931,14

9 Gorong-Gorong Outlet 305.859.498,50

10 Saluran Outlet 330.941.705,51

11 Pintu Air Outlet 38.210.616,90

12 Jalan Inspeksi 4.177.191.229,59

13 Saluran Drainase Jalan Inspeksi 1.561.948.926,10

14 Rumah Pompa 2.018.791.761,28

15 Loading Dock 222.574.390,84

16 Akses Water Master 634.388.824,31

17 Rumah Jaga 277.878.036,08

18 Jalan Akses Kolam Retensi (255 m) 1.743.001.792,86 19 Saluran Drainase Jalan Akses 512.430.887,16

20 Gapura 48.616.314,04

21 Pagar Keliling 1.113.508.753,76

22 Mekanikal dan Elektrikal 3.788.802.882,80

23 Lampu Penerangan 229.908.000,00

24 Tempat Parkir 524.175.710,94

25 Peningkatan Kapasitas Sungai 9.099.194.224,78 26 Estimasi Biaya Pembebasan Lahan 11.343.950.310,56

Jumlah 62.172.242.099,49

Dibulatkan 62.172.242.000,00

Pe ke rjaan No.

Gambar

Gambar 1. Lokasi Pekerjaan: Kelurahan Bukit Pinang,   Kecamatan Samarinda Ulu, Kota Samarinda
Gambar 16. Metode penentuan volume genangan dan lama genangan di segmen sungai.
Tabel 2. Data teknis kolam retensi.
Gambar 26. Denah inlet kolam.
+5

Referensi

Dokumen terkait

Disukusi dengan kelompok wanita tani bagaimana bercocok tanam yang baik dan dapat menghasilkan buah atau tanaman yang bagus. Agar para ibu-ibu dapat ,memanfaatkan

Kemampuan sel khamir dalam menghambat produksi spora bersama kemampuan menghambat perkecambahan dan perpanjangan tuba kecambah (Tabel 1) mungkin terlibat dalam

Berdasarkan uraian tersebut diatas maka penelitian tentang aplikasi e-Directory berkas tridharma kinerja dosen dengan memanfaatkan fasilitas yang ada (Server) serta

 Untuk sekedar diketahui (seperti yang diberitahukan pada pembekalan KKN) bahwa posisi PCM ialah sebagai pihak pemantau kelompok KKN, sehingga untuk berbagai tugas yang ada

Kualitas instrumen penilaian berbasis kompetensi pada praktikum pemrograman web di SMK : (1) valid berdasarkan penilaian oleh ahli, (2) praktis berdasarkan hasil

tentang agama yang bermakna ilmu teologi. Tapi kajian yang menempatkan agama sebagai objek studi secara ilmiah. Setidaknya, ada empat hal yang bisa mengidentifikasi

Instalasi pengolahan biogas dari kotoran sapi yang diterapkembangan oleh Kelompok Tani Budi Luhur Sukoharjo adalah jenis plug-flow atau terkadang disebut juga sebagai model

Dalam perjalanannya, selama dua puluh lima tahun Majelis Ulama Indonesia sebagai wadah bermusyawarah para ulama, zu’ama dan cendekiawan