IMPLEMENTASI METODE AHP DAN PROMETHEE UNTUK MERANGKING MOBIL JENIS SUV
SKRIPSI
Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat memperoleh ijazah Sarjana Ilmu Komputer
TENGKU ZIKRI RACHMAN 121421091
PROGRAM STUDI EKSTENSI S1 ILMU KOMPUTER FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2017
PERSETUJUAN
Judul : IMPLEMENTASI METODE AHP DAN PROMETHEE
UNTUK MERANGKING MOBIL JENIS SUV
Kategori : SKRIPSI
Nama : TENGKU ZIKRI RACHMAN
Nomor Induk Mahasiswa : 121421091
Program Studi : EKSTENSI S1 ILMU KOMPUTER
Fakultas : ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Komisi Pembimbing :
Pembimbing II Pembimbing I
Sri Melvani Hardi, S.Kom, M.Kom Dr. Syahril Efendi, S.Si, M.IT NIP. 198805012015042006 NIP. 19710310 199703 1 004
Diketahui/disetujui oleh
Program Studi Ekstensi S1 Ilmu Komputer Ketua
Dr. Poltak Sihombing, M.Kom NIP. 19620217 199103 1 001
PERNYATAAN
IMPLEMENTASI METODE AHP DAN PROMETHEE UNTUK MERANGKING MOBIL JENIS SUV
SKRIPSI
Saya menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.
Medan, Januari 2017
TENGKU ZIKRI RACHMAN 121421091
PENGHARGAAN
Segala puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini tepat waktu sesuai dengan instruksi dan peraturan yang berlaku di Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi serta shalawat dan salam penulis hadiahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW.
Dalam penyusunan dan penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapat bantuan, dukungan, dan bimbingan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih dan penghargaan kepada :
1. Teristimewa orang tua yang penulis sayangi, ibunda Hj. Nurlela dan ayahanda H.T. Syarifuddin yang tidak henti-hentinya memberikan doa, motivasi, dan dukungan yang selalu menjadi sumber semangat penulis.
2. Bapak Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Prof. Dr. Opim Salim Sitompul, M.Sc. sebagai Dekan Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi.
4. Bapak Dr. Poltak Sihombing, M.Kom sebagai Ketua Program Studi S1 Ilmu Komputer.
5. Bapak Herriyance, ST. M.Kom selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Komputer.
6. Bapak Dr. Syahril Efendi, S.Si, M.ITselaku Dosen Pembimbing I dan Ibu Sri Melvani Hardi, S.Kom, M.Kom selaku Dosen Pembimbing II yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran dalam membimbing, mengarahkan, menasehati, memotivasi, dan menyemangati penulis agar dapat menyelesaikan skripsi ini.
7. Bapak Prof. Dr. Iryanto, M.Si selaku dosen Pembanding I dan Bapak Herriyance, ST. M.Kom selaku dosen Pembanding II yang telah memberikan kritik dan saran terhadap skripsi penulis.
8. Seluruh staf pengajar dan pegawai Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi.
9. Sekumpulan kelompok penulis yang sudah seperti keluarga, Fitria Andhika, Rini Chairani, Chasika Rani Purba, Nugra Atsaury Saragih dan Tezar Anugrah Girsang yang selalu menemani dan memberi motivasi kepada penulis. Teman seperjuangan, Dicko Ifenta. Serta Novri Sulastri dan Reza Mahardi yang telah membantu penulis dengan dukungan yang luar biasa.
10. Semua pihak yang terlibat langsung ataupun tidak langsung yang tidak dapat penulis ucapkan satu per satu yang telah membantu menyelesaikan Skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan, baik dari segi teknik, tata penyajian ataupun dari segi tata bahasa. Oleh karena itu penulis bersedia menerima kritik dan saran dari pembaca dalam upaya perbaikan skripsi ini.Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca, khususnya rekan-rekan mahasiswa lainnya yang mengikuti perkuliahan di Universitas Sumatera Utara.
Medan, Januari 2017 Penulis
Tengku Zikri Rachman
ABSTRAK
Dunia otomotif berkembang sangat pesat di Indonesia dewasa ini. Angka penjualan mobil terus tumbuh dari tahun ke tahun.Melihat kontur jalan yang tidak rata di banyak daerah, mobil berjenis SUV (Sport Utility Vehicle) merupakan pilihan yang cocok digunakan di Indonesia. Posisi ground clearance (ruang di antara dasar dari ban kendaraan dengan bagian sasis) yang tinggi serta kesan gagah yang ditimbulkan, adalah alasan utama mobil SUV menjadi pilihan yang cocok bagi masyarakat.
Sehingga banyak produsen meluncurkan SUV untuk kebutuhan pengguna mobil di Indonesia.Sistem pendukung keputusan merupakan salah satu dari sistem informasi berbasis komputer yang dapat membantu dalam menentukan produk terbaik.
Pemanfaatan sistem pendukung keputusan merupakan bagian yang penting untuk menyelesaikan permasalah tersebut. Maka dari itu diperlukan sistem pendukung keputusan dengan memanfaatkan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) dan Preference Ranking Organization Method For Enrichment Evaluation (PROMETHEE) yang akan membantu menyelesaikan masalah ini. Dari dua metode tersebut, disimpulkan bahwa hasil perangkingan setiap alternatif memperoleh nilai yang jauh berbeda di setiap metode sehingga secara otomatis hasil perangkingan juga berbeda antara kedua metode tersebut.
Kata Kunci : Sistem Pendukung Keputusan, Metode Analytic Hierarchy Process (AHP), Metode Preference Ranking Organization Method For Enrichment Evaluation (PROMETHEE), Mobil Jenis SUV
IMPLEMENTATION OF AHP AND PROMETHEE METHOD TO RANK SUV CAR
ABSTRACT
The automotive world is growing very rapidly in Indonesia nowadays. Auto sales figures continue to grow from years. See the rough road in many areas, SUV (Sport Utility Vehicle) car is a good choice to use in Indonesia. High ground clearance (space between the base of the vehicle tires to the chassis) and tough impression, is the main reason the SUV be a suitable option for the people. So many manufacturers launched SUV for car users in Indonesia. Decision support system is one of the computer-based information system that can assist in determining the best products. Utilize of a decision support system is an important part to solve these problems. Therefore the decision support system is required to use Analytic Hierarchy Process (AHP) and Preference Ranking Organization Method For Enrichment Evaluation (PROMETHEE) that will help resolve this problem. The results of any alternative obtain a much different value in each method that ranks results also different between the two methods.
Keyword : Decision Support System, Analytic Hierarchy Process (AHP) Method, Preference Ranking Organization Method For Enrichment Evaluation (PROMETHEE) Method, SUV Car.
DAFTAR ISI
Persetujuan ii
Pernyataan iii
Penghargaan iv
Abstrak vi
Abstract vii
Daftar Isi viii
Daftar Tabel x
Daftar Gambar xii
Bab 1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah 1
1.2 Rumusan Masalah 2
1.3 Batasan Masalah 2
1.4 Tujuan Penelitian 2
1.5 Manfaat Penelitian 3
1.6 Metode Penelitian 3
1.7 Sistematika Penelitian 4
Bab 2 Tinjauan Pustaka
2.1 Defenisi Sistem, Keputusan dan Sistem Pendukung Keputusan 6
2.1.1 Defenisi Sistem 6
2.1.2 Defenisi Keputusan 6
2.1.3 Sistem Pendukung Keputusan 7
2.2 Metode Analytic Hierarchy Proses (AHP) 7
2.2.1 Prinsip Dasar AHP 8
2.3 Metode Prefence Ranking Organization Method For Enrichment
Evaluation (PROMETHEE) 11
Bab 3 Analisa dan Perancangan Sistem
3.1 Analisa Masalah 19
3.2 Analisis Kebutuhan Sistem 20
3.2.1 Kebutuhan Fungsional 20
3.2.2 Kebutuhan non-Fungsional 20
3.3 Pemodelan Sistem 21
3.3.1 Use case 21
3.3.2 Aktivity Diagram 22
3.3.3 Sequence Diagram 24
3.3.4 Diagram Alir (Flowchart) 26
3.4 Perancangan Antarmuka (Interface) 29
3.4.1 Form Login 29
3.4.2 Halaman Utama 29
3.4.3 Menu Input Kriteria 30
3.4.4 Menu Input Alternatif 30
Bab 4 Implementasi dan Pengujian Sistem
4.1 Implementasi 32
4.1.1 Tampilan Menu Login 33
4.1.2 Tampilan Halaman Utama 33
4.1.3 Tampilan Menu Input Kriteria 34
4.1.4 Tampilan Menu Input Alternatif 34
4.1.5 Tampilan Halaman Metode AHP 35
4.1.6 Tampilan Halaman Metode PROMETHEE 36
4.2 Pengujian
4.2.1 Pengujian Proeses Pemecahan Masalah Dengan Metode
Analytic Hierarchy Process (AHP) 36
4.2.2 Pengujian Proses Pemecahan Masalah Dengan Metode Preference Ranking Organization Method For Enrichment
Evaluation (PROMETHEE) 55
Bab 5 Kesimpulan dan Saran
5.1 Kesimpulan 62
5.2 Saran 62
DAFTAR PUSTAKA 63
LAMPIRAN
Daftar Riwayat Hidup A
Listing Program B
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Skala Penilaian Perbandingan Pasangan 8
Tabel 2.2 Indeks Random 10
Tabel 4.1 Matriks Berpasangan Kriteria 36
Tabel 4.2 Matriks Pembobotan Hierarki Kriteria 37 Tabel 4.3 Matriks Faktor Pembobotan Hierarki Kriteria Disederhanakan 37 Tabel 4.4 Perhitungan Matriks Faktor Pembobotan Hierarki Kriteria 38 Tabel 4.5 Matriks Faktor Pembobotan Hierarki Kriteria Dinormalisasikan 38 Tabel 4.6 Matriks Eigenvector (prioritas) Kriteria 39
Tabel 4.7 Matriks Berpasangan Alternatif 40
Tabel 4.8 Matriks Alternatif Untuk Kriteria Eksterior 40 Tabel 4.9 Matriks Alternatif Untuk Kriteria Eksterior Disederhanakan 41 Tabel 4.10 Perhitungan Matriks Alternatif Untuk Kriteria Eksterior 41 Tabel 4.11 Matriks Alternatif Untuk Kriteria Eksterior Dinormalisasi 41 Tabel 4.12 Matriks Eigenvector (prioritas) Alternatif Untuk Eksterior 42 Tabel 4.13 Matriks Alternatif Untuk Kriteria Mesin 43 Tabel 4.14 Matriks Alternatif Untuk Kriteria Mesin Disederhanakan 43 Tabel 4.15 Perhitungan Matriks Alternatif Untuk Kriteria Mesin 44 Tabel 4.16 Perhitungan Matriks Alternatif Untuk Kriteria MesinDinormalisasi 44 Tabel 4.17 Matriks Eigenvector (prioritas) Alternatif Untuk Mesin 45 Tabel 4.18 Matriks Alternatif Untuk Kriteria Konsumsi BBM 45 Tabel 4.19 Matriks Alternatif Untuk Kriteria Konsumsi BBMDisederhanakan 46 Tabel 4.20 Perhitungan Matriks Alternatif Untuk Kriteria Konsumsi BBM 46 Tabel 4.21 Perhitungan Matriks Alternatif Untuk Kriteria Konsumsi BBM
Dinormalisasi 47
Tabel 4.22 Matriks Eigenvector (prioritas) Alternatif Untuk Konsumsi BBM 47 Tabel 4.23 Matriks Alternati Untuk Kriteria Purna Jual 48 Tabel 4.24 Matriks Alternati Untuk Kriteria Purna JualDisederhanakan 49 Tabel 4.25 Perhitungan Matriks Alternatif Untuk Kriteria Purna Jual 49 Tabel 4.26 Matriks Alternatif Untuk Kriteria Purna Jual Dinormalisasi 49 Tabel 4.27 Matriks Eigenvector (Prioritas) Alternatif Untuk Purna Jual 50 Tabel 4.28 Matriks Alternatif Untuk Kriteria Fitur 51
Tabel 4.29 Matriks Alternatif Untuk Kriteria Fitur Disederhanakan 51 Tabel 4.30 Perhitungan Matriks Alternatif Untuk Kriteria Fitur 52 Tabel 4.31 Matriks Alternatif Untuk Kriteria Fitur Dinormalisasi 52 Tabel 4.32 Matriks Eigenvector (Prioritas) Alternatif Untuk Fitur 52
Tabel 4.33 Perhitungan Matriks Global 53
Tabel 4.34 Hasil Akhir Ranking AHP 54
Tabel 4.35 PROMETHEE Tahap 1 55
Tabel 4.36 Indek Preferensi Multikriteria (PROMETHEE 2) 58
Tabel 4.37 Hasil Nilai Leaving Flow 59
Tabel 4.38 Hasil Nilai Entering Flow 60
Tabel 4.39 Hasil Nilai Net Flow 61
Tabel 4.40 Hasil Ranking PROMETHEE 61
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kriteria Biasa 12
Gambar 2.2 Kriteria Quasi 13
Gambar 2.3 Kriteria Preferensi Linear 14
Gambar 2.4 Kriteria Level 15
Gambar 2.5 Kriteria dengan Preferensi Linear dan Area Tidak Beda 16
Gambar 2.6 Kriteria Gaussian 16
Gambar 3.1 Diagram Ishikawa untuk Analisis Masalah 19
Gambar 3.2 Use Case Diagram 22
Gambar 3.3 Diagram Aktivitas AHP 23
Gambar 3.4 Diagram Aktivitas PROMETHEE 24
Gambar 3.5 Sequence Diagram AHP 25
Gambar 3.6 Sequence Diagram PROMETHEE 26
Gambar 3.7 Flowchart Sistem Metode AHP 27
Gambar 3.8 Flowchart Sistem Metode PROMETHEE 28
Gambar 3.9 Tampilan Rancangan Form Login 29
Gambar 3.10 Tampilan Rancangan Halaman Utama 29
Gambar 3.11 Rancangan Menu Input Kriteria 30
Gambar 3.12 Rancangan Menu Input Alternatif 31
Gambar 4.1 Tampilan Form Login 33
Gambar 4.2 Tampilan Halaman Utama 33
Gambar 4.3 Tampilan Menu Input Kriteria 34
Gambar 4.4 Tampilan Menu Input Alternatif 34
Gambar 4.5 Halaman Metode AHP 35
Gambar 4.6 Hasil Proses Input Kriteria 35
Gambar 4.7 Halaman Proses PROMETHEE 36
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dunia otomotif berkembang sangat pesat di Indonesia dewasa ini. Angka penjualan mobil terus tumbuh dari tahun ke tahun. Sistem transportasi umum yang masih belum bisa dikatakan baik serta meningkatnya minat dan daya beli masyarakat menjadikan mobil, selain juga sepeda motor, sebagai pilihan utama sarana transportasi.
Melihat potensi ini, banyak produsen otomotif meluncurkan berbagai jenis mobilnya di Indonesia. Hal ini membuat masyarakat mempunyai banyak pilihan dalam menentukan mobil yang akan dibeli.
Melihat kontur jalan yang tidak rata di banyak daerah, mobil berjenis SUV (Sport Utility Vehicle) merupakan pilihan yang cocok digunakan di Indonesia. Posisi ground clearance (ruang di antara dasar dari ban kendaraan dengan bagian sasis) yang tinggi serta kesan gagah yang ditimbulkan, adalah alasan utama mobil SUV menjadi pilihan yang cocok bagi masyarakat. Sehingga banyak produsen meluncurkan SUV untuk kebutuhan pengguna mobil di Indonesia.
Melihat hal ini, sistem pendukung keputusan menjadi sebuah solusi untuk meranking mobil SUV dalam membantu pengguna menentukan mobil mana yang akhirnya akan dipilih. Metode yang akan digunakan penulis adalah metodeAnalytical Hierarchy Process (AHP) dan Preference Ranking Organization Method For Enrichment Evaluation(PROMETHEE) sebagai sebuah solusi dalam pengambilan keputusan pemilihan mobil berjenis SUV.
Metode AHP dan PROMETHEE dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. AHP merupakan suatu kerangka berfikir yang komperehensif dalam proses pengambilan keputusan dengan pertimbangan proses hirarki (Kusrini, 2007), dan PROMETHEE merupakan suatu metode pengambilan keputusan atas fungsi preferensi dengan penyelesaian masalah melalui pendekatan hubungan outranking (J.
P. Brans, Vincke. Ph, 1985). Dengan pemanfaatan keduanya dapat digunakan untuk
sebuah analisa dan bertujuan untuk sebuah solusi. Formulasi permasalahan dalam penelitian ini menggunakan AHP dan PROMETHEE dengan berbagai kriteria-kriteria yang ditentukan, dan hasil dari analisa akan memberikan ranking dari alternatif yang ada.
Dengan adanya sistem pendukung keputusan ini diharapkan dapat membantu pengguna dalam memilih mobil jenis SUV yang sesuai dengan kebutuhan.
1.2 Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana memperoleh ranking mobil jenis Sport Utility Vehicle (SUV) yang sesuai kebutuhan konsumen dengan menggunakan metode AHP dan PROMETHEE.
1.3 Batasan Masalah
1. Metode yang digunakan adalah Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Preference Ranking Organization Method For Enrichment Evaluation (PROMETHEE).
2. Sample yang digunakan adalah 10 mobil jenis SUV yang dijual oleh Agen Pemegang Merek (APM) resmi di Indonesia, dan merupakan mobil dengan tipe tertinggi pada masing-masing merek.
3. Kriteria yang digunakan adalah tampilan eksterior, tenaga mesin, konsumsi BBM, layanan purna jual, dan fitur pendukung.
4. Bahasa pemrograman yang digunakan adalah PHP dan menggunakan DBMS (Data Base Management System) MySQL.
1.4 Tujuan Penelitian
1. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan sebuah sistem pendukung keputusan yang membantu konsumen dalam merangkingmobil SUV yang sesuai kriteria dengan metode AHP dengan PROMETHEE.
2. Penelitian ini juga diharapkan menunjukan metode mana yang lebih optimal dalam merangking mobil SUV.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan time complexcity metode AHP dan PROMETHEE dalam merangkingmobil SUV, serta menjadi manfaat dan pengembangan ilmu bagi penulis.
1.6 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan tugas akhir ini adalah sebagai berikut:
1. Studi Literatur
Metode ini dilaksanakan dengan melakukan studi kepustakaan melalui membaca buku-buku, skripsi, dan jurnal yang dapat mendukung penulisan Tugas Akhir yang relevan mengenai Sistem Pendukung Keputusan, Analytical Hierarchy Process (AHP)dan Preference Ranking Organization Method For Enrichment Evaluation (PROMETHEE).
2. Analisis
Analisis masalah yang dimulai dengan tahap menidentifikasikan masalah, dilakukan pengumpulan data-data yang berkaitan dengan kriteria perangkingan mobil jenis SUV, memahami kerja sistem yang akan dibuat, menganalisis dan membuat laporan tentang hasil perbandingan kedua metode.
3. Perancangan
Pada tahap ini akan dilakukan perancangan sistem pengambilan keputasan untuk perangkingan mobil SUV. Termasuk didalamnya perancangan flowchart, DFD, dan desain interface.
4. Implementasi
Metode ini dilaksanakan dengan mengimplementasikan rancangan sistem yang telah dibuat pada implementasi sistem menggunakan bahasa pemrograman PHP.
5. Pengujian
Setelah proses pengkodean selesai maka akan dilakukan proses pengujian terhadap program yang dihasilkan untuk mengetahui apakah program sudah berjalan dengan benar dan sesuai dengan perancangan yang dilakukan.
6. Penyusunan laporan dan kesimpulan akhir
Membuat laporan hasil analisa dan perancangan ke dalam format penulisan tugas akhir yang disertai dengan kesimpulan.
1.7 Sistematika Penelitian
Adapun langkah-langkah dalam menyelesaikan penelitian ini adalah sebagai berikut:
BAB 1 : PENDAHULUAN
Bab ini akan menjelaskan mengenai latar belakang pemilihan judul skripsi
“Implementasi Metode AHP dan PROMETHEE Dalam Merangking Mobil Jenis SUV”, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini akan membahas mengenail teori-teori yang berkaitan dengan perancangan sistem pendukung keputusan dalam perangkingan mobil jenis SUV.
BAB 3 : ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM
Bab ini menjelaskan analisis yang dilakukan terhadap permasalahan dan penyelesaian persoalan dalam merangking mobil jenis SUV dengan mengimplementasikan metode AHP dan PROMETHEE.
BAB 4 : IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN SISTEM
Bab ini berisi implementasi perancangan sistem dari hasil analisis dan perancangan yang sudah dibuat, serta menguji sistem untuk menemukan kelebihan dan kekurangan dari sistem yang telah dibuat.
BAB 5 : KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini berisi kesimpulan saran-saran yang diharapkan dapat bermanfaat dalam pengembangan penelitian selanjutnya.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Sistem, Keputusan dan Sistem Pendukung Keputusan
2.1.1. Definisi Sistem
Sistem adalah suatu kumpulan atau susunan dari sesuatu ataupun benda, yang berhubungan sedemikian rupa sehingga membentuk satu kesatuan atau keseluruhan.
Sistem dibagi menjadi tiga bagian berbeda: input, proses dan output. Bagian-bagian tersebut dikelilingi oleh sebuah lingkungan dan sering melibatkan sebuah mekanisme umpan balik. Selain itu, pengambil keputusan juga dianggap sebagai bagian dari sistem.
Berdasarkan prosedur, sebuah sistem merupakan suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan berkumpul bersama-sama untuk melakukan kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran tertentu. Sedangkan berdasarkan elemen atau komponennya, sistem merupakan kumpulan dari elemen- elemen yang saling berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Menurut Raymond (1998), sebuah sistem didefenisikan sebagai suatu kumpulan dari elemen-elemen yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan tertentu.
Sedangkan menurut Turban (2005), sistem merupakan sekumpulan objek seperti orang-orang, sumber daya, konsep dan prosedur untuk memberikan performansi dalam pencapaian tujuan tersebut.
2.1.2Definisi Keputusan
Keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Suatu keputusan merupakan jawaban yang pasti terhadap suatu pertanyaan. Keputusan harus dapat menjawab pertanyaan tentang apa yang dibicarakan dalam hubungannya dengan
perencanaan. Keputusan dapat pula berupa tindakan terhadap pelaksanaan yang sangat menyimpang dari rencana semula.
Dari pengertian-pengertian keputusan diatas, dapat diambil satu kesimpulan bahwa keputusan merupakan suatu pemecahan masalah sebagai suatu hukum situasi yang dilakukan melalui pemilihan satu alternatif dari beberapa alternatif.
2.1.3 Sistem Pendukung Keputusan
Sistem Pendukung Keputusan (SPK) adalah sistem berbasis komputer yang menyajikan dan memproses informasi yang memungkinkan pembuatan keputusan menjadi lebih produktif, dinamis, dan inovatif (Burstein, 2008). Defenisi awal dari sistem pendukung keputusan merupakan sebagai sistem yang dimaksudkan untuk mendukung para pengambil keputusan manajerial dalam situasi keputusan semiterstruktur. Decision Support System (DSS) dimaksudkan untuk menjadi alat bantu bagi para pengambil keputusan untuk memperluas kapabilitas mereka, namun tidak untuk menggantikan penilaian mereka.
2.2. Metode Analytic Hierarchy Process (AHP)
AHP adalah memilih suatu alternatif. Peralatan utamanya adalah hirarki fungsional dengan input utamanya adalah persepsi manusia. Dengan hirarki, suatu masalah kompleks dan tidak terstuktur dipecahkan kedalam kelompok-kelompoknya.
Kemudian kelompok-kelompok tersebut diatur menjadi suatu bentuk hirarki. Suatu tujuan yang bersifat umum dapat dijabarkan dalam beberapa sub tujuan yang lebih terperinci yang dapat menjelaskan apa yang dimaksud dalam tujuan pertama.
Penjabaran ini dapat dilakukan terus hingga akhirnya diperoleh tujuan yang bersifat operasional. Dan pada hirarki terendah inilah dilakukan proses evaluasi atas alternatif-alternatif, yang merupakan ukuran dari pencapaian tujuan utama, dan pada hirarki terendah ini dapat ditetapkan dalam satuan apa kriteria diukur (Suryadi dan Ramdhani, 2002).
2.2.1 Prinsip Dasar AHP
Dalam menyelesaikan permasalahan dengan AHP ada beberapa prinsip yang harus dipahami, diantaranya adalah:
1. Membuat hierarki.
Sistem yang kompleks bisa dipahami dengan memecahnya menjadi elemen- elemen pendukung, menyusun elemen secara hierarki, dan menggabungkannya atau mensintesisnya.
2. Penilaian Kriteria dan alternatif
Kriteria dan alternatif dilakukan dengan perbandingan berpasangan. Menurut Saaty (1990), untuk berbagai ersoalan, skala 1 sampai 9 adalah skala terbaik untuk mengekspresikan pendapat kualitatif dari skala perbandingan Saaty bisa diukur menggunakan tabel analisis seperti ditunjukkan pada tabel 2.1 berikut:
Tabel 2.1 Skala Penilaian Perbandingan Pasangan Intensitas
Kepentingan
Keterangan
1 Kedua elemen sama pentingnya
3 Elemen yang satu sedikit lebih penting daripada elemen yang lainnya
5 Elemen yang satu lebih penting daripada elemen lainnya 7 Satu elemen jelas lebih mutlak penting daripada elemen
lainnya
9 Satu elemen mutlak penting daripada elemen lainnya 2,4,6,8 Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan yang
berdasarkan
Kebalikan Jika aktivitas i mendapat satu angka dibandingkan dengan aktivitas j, maka j memiliki nilai kebalikannya dibandingkan dengan i
3. Synthesis of Priority (menentukan prioritas)
Untuk setiap kriteria dan alternatif, perlu dilakukan perbandingan berpasangan (pairwise comparisons). Nilai-nilai perbandingan relatif dari seluruh alternatif kriteria bisa disesuaikan dengan judgement yang telah ditentukan untuk
menghasilkan bobot dan prioritas. Bobot dan prioritas dihitung dengan memanipulasi matriks atau melalui penyelesaian persamaan matematika.
4. Logical Consistency (Konsistensi Logic)
Konsistensi memiliki dua makna. Pertama, objek-objek yang serupa bisa dikelompokkan sesuai dengan keseragaman dan relevansi. Kedua, menyangkut tingkat hubungan antar objek yang didasarkan pada kriteria tertentu.
Adapun langkah-langkah dalam metode AHP adalah sebagai berikut (Suryadi dan Ramdhani, 2002) :
1. Mendefenisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan.
2. Membuat struktur hirarki, yang diawali dengan tujuan umum, dilanjutkan dengan sub-subtujuan, kriteria dan kemungkinan alternatif pada tingkatan kriteria yang paling bawah.
3. Membuat matriks perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif pengaruh setiap elemen terhadap masing-masing tujuan kriteria yang setingkat diatasnya. Perbandingan berdasarkan “judgement” dari pengambil keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya.
4. Melakukan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh judgement seluruhnya sebanyak n x [ 𝑛𝑛−1
2 ] buah, dengan n adalah banyaknya elemen yang dibandingkan.
5. Menghitung nilai eigen dan menguji konsistensinya, jika tidak konsisten maka pengambilan data diulangi.
6. Mengulangi langkah 3, 4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki.
7. Menghitung vector eigen dari setiap matriks perbandingan berpasangan. Nilai vector eigen merupakan bobot setiap elemen. Langkah ini untuk mensistesis judgement dalam penentuan prioritas elemen-elemen pada tingkat hirarki terendah sampai pencapaian tujuan.
8. Memeriksa konsistensi hirarki. Jika nilainya lebih dari ≤ 0.01 maka penilaian data judgement harus diperbaiki.
Berdasarkan penjelasan langkah-langkah AHP diatas, dapat dibuat rumus perhitungan untuk penentuan mobil SUV sebagai berikut:
1. Menentukan kriteria-kriteria yang akan digunakan dalam pemilihan mobil SUV.
2. Menyusun kriteria-kriteria tersebut dalam bentuk matriks berpasangan.
3. Menjumlahkan matriks kolom yang disebut dengan jumlah elemen.
4. Menentukan bobot relatif yang dinormalkan (normalized relatif weight) dengan cara membandingkan masing-masing nilai skala dengan jumlah elemennya.
5. Menghitung nilai prioritas kriteria dengan rumus menjumlahkan matriks baris pada langkah 4 dan dibagi dengan jumlah kriteria.
6. Menghitung nilai lamda maksimum, dengan cara menjumlahkan hasil perkalian jumlah kolom pada langkah 3 dengan prioritas tiap kriteria pada langkah 5.
7. Menguji konsistensi matriks berpasangan kriteria yaitu nilai Indeks Konsisten, dengan rumus CI = 𝜆𝜆𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚−𝑛𝑛
𝑛𝑛−1
8. Dimana CI = indeks konsistensi (Consistency Indeks) λmax = nilai eigen
n = banyak kriteria
9. Menghitung Rasio Konsistensi, dengan rumus CR =𝐶𝐶𝐶𝐶
𝑅𝑅𝐶𝐶
Dimana CR = Rasio Konsistensi CI = Indeks Konsistensi RI = Indeks Random
RI adalah nilai indeks random seperti tabel 2.2 berikut:
Tabel 2.2 Indeks Random
N 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
RI 0.00 0.00 0.58 0.90 1.12 1.24 1.32 1.41 1.45 1.49 1.51
Jika CR< 0.1 maka nilai perbandingan berpasangan pada matriks kriteria yang diberikan konsisten. Jika CR ≥ 0.1, maka nilai perbandingan berpasangan pada matriks kriteria yang diberikan tidak konsisten. Jika tidak konsisten maka pengisian
nilai-nilai pada matriks berpasangan pada unsur kriteria maupun alternatif harus diulang.
10. Menentukan mobil SUV yang terpilih.
11. Menyusun mobil SUV yang telah ditentukan dalam bentuk matriks berpasangan untuk masing-masing kriteria. Ada n buah matriks berpasangan antar Kriteria tersebut.
12. Masing-masing matriks berpasangan antar kriteria sebanyak n buah matriks, tiap-tiap matriksnya dijumlah perkolomnya seperti pada langkah 3.
13. Menghitung nilai prioritas masing-masing matriks berpasangan antarkriteria dengan rumus pada langkah 4 dan langkah 5.
14. Menghitung nilai lamda maksimum sama seperti langkah 6.
15. Menghitung konsistensi matriks berpasangan antar kriteria mobil SUV dengan mengikuti langkah-langkah 7 dan 8.
16. Menyusun matriks baris antar Kriteria dengan matriks baris kriteria yang isinya hasil perhitungan nilai prioritas kriteria dan nilai prioritas mobil SUV tiap kriteria.
17. Hasil akhir berupa prioritas global dari perkalian nilai prioritas masing-masing matriks kriteria dengan matriks antar mobil SUV yang kemudian dijumlahkan.
Nilai ini yang digunakan oleh pengambil keputusan berdasarkan nilai tertinggi.
2.3 Metode Preference Ranking Organization Method For Enrichment Evaluation (PROMETHEE)
Diperkenalkan oleh Jean Pierre Brans dan Bertrand Marsechal pada tahun 1984.
PROMETHEE adalah suatu metode penentuan urutan (prioritas) dalam analisis multikriteria. PROMETHEE didasarkan atas kesederhanaan, kejelasan, dan kestabilan. Dugaan dari dominasi kriteria yang digunakan dalam PROMETHEE adalah penggunaan nilai dalam hubungan outranking (J. P. Brans, Vincke. Ph, 1985).
Ini adalah metode peringkat yang cukup sederhana dalam konsep dan aplikasi dibandingkan dengan metode lain untuk analisis multikriteria.
PROMETHEE menyediakan kepada user untuk menggunakan data secara langsung dalam bentuk tabel multikriteria sederhana. PROMETHEEmempunyai kemampuan untuk menangani banyak perbandingan, pengambil keputusan hanya
mendefenisikan skala ukurannya sendiri tanpa batasan, untuk mengindikasi prioritasnya dan preferensi untuk setiap kriteria dengan memusatkan pada nilai (value). Metode PROMETHEEmenggunakan kriteria dan bobot dari masing-masing kriteria yang kemudian diolah untuk menentukan pemilihan alernatif lapangan, yang hasilnya berurutan berdasarkan prioritasnya.
Penggunaan metode PROMETHEEdapat dijadikan metode untuk pengambilan keputusan di bidang pemasaran, sumber daya manusia, pemilihan lokasi, atau bidang lain yang berhubungan dengan pemilihan alternatif.
Dalam PROMETHEE disajikan enam bentuk fungsi preferensi kriteria. Hal ini tentu saja tidak mutlak, tetapi bentuk ini cukup baik untuk beberapa kasus, antara lain (J. P. Brans, 1985):
1. Kriteria Biasa (Usual Criterion)
H(d) =
Keterangan:
H(d) = selisih kriteria antara alternatif
d = selisih nilai kriteria dimana {d= f(a) - f(b)}
Pada kasus ini, tidak ada beda (sama penting) antara a dan b jika dan hanya jikaf(a) = f(b) ; apabila nilai kriteria pada masing-masing alternative memiliki nilai berbeda, pembuat keputusan membuat preferensi mutlak untuk alternatif memiliki nilai yang lebih baik.
1
0
Gambar 2.1 Kriteria Biasa 0 jika d = 0
1 jika d≠0
d H(d)
2. Kriteria Quasi (Quasi Criterion)
H(d) =
Keterangan:
H(d) = fungsi selisih kriteria antara alternatif d = selisih nilai kriteria { d = f(a) - f(b) } Parameter (q) = harus merupakan nilai tetap
Dua alternatif memiliki preferensi yang sama penting selama selisih atau nilai H(d) dari masing-masing alternatif untuk kriteria tertentu tidak melebihi nilai q, dan apabila selisih hasil evaluasi untuk masing-masing alternatif melebihi nilai q maka terjadi bentuk preferensi mutlak.
Gambar 2.2 Kriteria Quasi
3. Kriteria dengan preferensi linier
H(d) =
0 jika ≤q
1jika d>q
0 jika d ≤ 0
d/p jika 0 <d ≤ p
1 jika d> p
d
sat
H(d)
-q q
Keterangan:
H(d) = fungsi selisih kriteria antara alternatif d = selisih nilai kriteria { d = f(a) - f(b) } p = nilai kecenderungan atas
Kriteria preferensi linier dapat menjelaskan bahwa selama nilai selisih memiliki nilai yang lebih rendah dari p, preferensi dari pembuat keputusan meningkat secara linier dengan nilai d. Jika nilai d lebih besar dibandingkan dengan nilai p, maka terjadi preferensi mutlak.
Gambar 2.3 Kriteria Preferensi linear
4. Kriteria Level (Level Criterion)
H(d) =
Keterangan:
H(d) = fungsi selisih kriteria antara alternatif p = nilai kecenderungan atas
q = harus merupakan nilai yang tetap 0 jika d ≤q
0,5 jikaq<d ≤ p 1 jika d > p
H(d)
-p p
1
0
Kecenderungan tidak berbeda q dan kecenderungan preferensi p adalah ditentukan secara simultan. Jika d berada di antara nilai q dan p, hal ini berarti situasi preferensi yang lemah (H(d) = 0.5).
Gambar 2.4 Kriteria Level
5. Kriteria dengan preferensi linier dan area yang tidak berbeda
H(d) =
Keterangan:
H(d) = fungsi selisih kriteria antara alternatif d = selisih nilai kriteria { d = f(a) - f(b) } p = nilai kecenderungan atas
q = harus merupakan nilai yang tetap
Pengambilan keputusan mempertimbangkan peningkatan preferensi secara linier dari tidak berbeda hingga preferensi mutlak dalam area antara dua kecenderungan q dan p. dua parameter tersebut telah ditentukan.
0 jika d ≤ q
(d-q)/p-qjikaq < d ≤ p 1 jika d > p
𝟏𝟏 𝟐𝟐
q H(d)
-p -q 1
d
Gambar 2.5 Kriteria dengan preferensi linier dan area yang tidak berbeda
6. Kriteria Gaussian (Gaussian Criterion)
H(d) =
Fungsi ini bersyarat apabila ditentukan nilai 𝜎𝜎, dimana dapat dibuat berdasarkan distribusi normal dalam statistik.
Gambar 2.6 Kriteria Gaussian
Diperlukan tahapan-tahapan yang harus dilakukan oleh pembuat keputusan untuk mendapatkan hasil penyeleksian dengan metode PROMETHEE (Suryadi dan Ramdhani, 2002).
1. Menentukan beberapa alternatif
Alternatif disini bisa diartikan dengan obyek yang akan diseleksi (obyek seleksi). Pada perhitungan penyeleksian dengan PROMETHEE diperlukan penentuan beberapa obyek yang akan diseleksi (minimal 2 obyek). Dimana antara obyek yang satu dengan obyek lainnya akan dibandingkan.
0 jika d ≤ 0
1 – exp(- 𝑑𝑑2
2𝜎𝜎2 ) jika d> 0
H(d) 1
0 d
-p -q 0 q p
H(d)
1
d
2. Menentukan beberapa kriteria
Setelah melakukan penentuan obyek yang akan diseleksi, maka dalam perhitungan penyeleksian PROMETHEEjuga diperlukan penentuan beberapa kriteria, penentuancriteriadisinisebagaisyaratatauketentuandalampenyeleksian.
3. Menentukan dominasi kriteria
Ketika menentukan kriteria, decision maker harus menentukan bobot atau dominasi kriteria dari kriteria lainnya. Setiap kriteria boleh memiliki nilai bobot yang sama atau berbeda.
4. Menentukan tipe preferensi untuk setiap kriteria yang paling cocok didasarkan pada data dan pertimbangan dari decision maker. Tipe preferensi ini berjumlah Enam (Usual, Quasi, Linear, Level, Linear Quasi dan Gaussian).
5. Memberikan nilai threshold atau kecenderungan untuk setiap kriteria berdasarkan preferensi yang telah dipilih. Nilai kecenderungan tersebut adalah nilai indifference, preference, dan gaussian.
6. Perhitungan Leaving Flow , Entering Flow dan Net Flow.
a. Leaving flow adalah jumlah dari yang memiliki arah menjauh dari node a.
dan hal ini merupakan pengukuran outrangking. Adapun persamaannya:
𝜙𝜙+(𝑚𝑚) =𝑛𝑛−11 ∑𝑚𝑚∈𝐴𝐴𝜙𝜙(𝑚𝑚, 𝑚𝑚)
Keterangan : 𝜙𝜙+(𝑚𝑚) = Leaving Flow
b. Nilai Entering Flow adalah jumlah dari yang memiliki arah mendekat dari node a dan hal ini merupakan karakter pengukuran outranking. Untuk semua nilai node a dalam grafik nilai outranking ditentukan berdasarkan entering flow dengan persamaan:
𝜙𝜙−(𝑚𝑚) =𝑛𝑛−11 ∑𝑚𝑚∈𝐴𝐴𝜙𝜙(𝑚𝑚, 𝑚𝑚) Keterangan : 𝜙𝜙−(a) = Entering Flow
c. Nilai Net Flow adalah penilaian secara lengkap. Lengkap disini adalah penilaian yang didapat dari nilai Entering Flow yang dikurangi nilai Leaving Flow. Jadi bisa diartikan, nilai Net Flow adalah nilai akhir atau hasil yang didapat dari nilai positif yang dikurangi nilai negatif dari sebuah node.
Adapun persamaannya ialah:
𝜙𝜙−(𝑚𝑚)𝜙𝜙(𝑚𝑚) = 𝜙𝜙+(𝑚𝑚) − 𝜙𝜙−(𝑚𝑚) Keterangan :
𝜙𝜙+ (a) = Leaving Flow 𝜙𝜙−(a) = Entering Flow
BAB 3
ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM
3.1 Analisa Masalah
Masalah utama yang diangkat dari penelitian ini adalah bagaimana mengimplementasikan Algoritma Analytic Hierarchy Process (AHP) dan Preference Ranking Organization for Enrichment Evaluation (PROMETHEE) untuk memecahkan permasalahan Sistem Pendukung Keputusan dalam merangking mobil jenis SUV.
Gambar 3.1. merupakan diagram Ishikawayang dapat digunakan untuk menganalisis masalah.Bagian kepala atau segiempat yang berada di sebelah kanan merupakan masalah. Sementara di pada bagian tulang merupakan penyebab.
Gambar 3.1. Diagram Ishikawa Untuk Analisis Masalah MATERIAL
METHOD MACHINE
Pengolahan Data Kriteria Pengolahan Dataalternative
Belum adanya metode yang digunakan
MAN
Masih Menggunakan Sistem Manual
Sistem Pendukung Keputusan Menggunakan AHP dan PROMETHEE
User butuh waktu lama mengambil
3.2. Analisis Kebutuhan Sistem
Untuk membangun sebuah sistem, perlu dilakukan sebuah tahap analisis kebutuhan sistem. Analisis kebutuhan sistem dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian yaitu:
kebutuhan fungsional dan kebutuhan non-fungsional.
3.2.1 Kebutuhan Fungsional
Kebutuhan fungsional merupakan deskripsi dari aktivitas dan layanan yang sistem harus berikan. Hal yang menjadi kebutuhan fungsional ialah input, output, process, yaitu antara lain adalah:
1. Sistem harus mampu memberi solusi terhadap sistem pendukung keputusan dalam merangking mobil jenis SUV dengan mengimplementasikan Algoritma AHP.
2. Sistem harus mampu memberi solusi terhadap sistem pendukung keputusan dalam merangking mobil jenis SUV dengan mengimplementasikan Algoritma PROMETHEE.
3.2.2 Kebutuhan Non-Fungsional
Kebutuhan non-fungsional merupakan deskripsi dari beberapa fitur, karateristik, dan batasan suatu sistem. Kebutuhan Non-Fungsional dari sistem adalah:
1. Mudah digunakan (User friendly)
Sistem yang akan dibangun harus user friendly, artinya bahwa sistem mudah digunakan oleh user dengan tampilan (interface) yang sederhana dan mudah dimengerti.
2. Menjadi Referensi
Sistem yang akan dibangun diharapkan mampu menjadi referensi bagi user untuk merangking mobil jenis SUV
3. Pelayanan
Sistem yang telah dirancang bisa dikembangkan ke tingkat yang lebih kompleks lagi bagi pihak-pihak yang ingin mengembangkan sistem tersebut sehingga solusi yang diberikan lebih efektif.
3.3. Pemodelan Sistem
Pemodelan sistem merupakan gambar sebuah sistem yang mewakili kenyataan atau kenyataan yang diinginkan. Model-model sistem memfasilitasi komunikasi yang diperbaiki diantara para pengguna sistem, analis sistem, desainer sistem dan pembangun sistem.
Analisis berorientasi objek (OOA) dilakukan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai sistem dan persyaratan fungsionalnya. Dengan kata lain, OOA mengharuskan kita mengidentifikasi objek, atribut data objek, atribut data objek, behavior yang diasosiasikan, dan hubungan, yang mendukung fungsionalitas sistem yang dibutuhkan.
Unified Modelling Language (UML) sekumpulan konvensi pemodelan yang digunakan untuk menentukan atau menggambarkan sebuah sistem perangkat lunak dalam kaitannya dengan objek (Jeffery L. Whitten, at all, 2004).
Ada tiga kegiatan umum dalam melakukan analisis berorientasi objek : 1. Memodelkan fungsi sistem
2. Menemukan dan mengidetifikasi objek bisnis
3. Mengorganisir objek dan mengidentfikasi hubungan objek.
3.3.1 Use case
Use case adalah sebuah skenario atau peristiwa bisnis dimana sistem harus memberikan suatu respons yang ditentukan. Use case mencakup analisis berorientasi objek; akan tetapi, penggunaannya menjadi hal umum di banyak metodologi untuk analisis dan desain sistem.
Satu Pendekatan yang lebih popular dan berhasil untuk penulusuran dan pengidentifikasian kejadian dan respons adalah teknik yang disebut usecase, yang dikembangkan oleh Dr. Ivar Jacobson. Teknik ini berakar pada analisis berorientasi objek, tetapi sangat mudah diadaptasikan dengan analisis terstruktur dan pendiagraman aliran data. Analisis usecase adalah proses pengidentifikasian dan pemodelan kejadian bisnis, siapa yang menginisiasi, dan bagaimana sistem meresponnya (Jeffery L. Whitten, at all, 2004).
Gambar 3.2 menjelaskan tentang diagram yang menggambarkan interaksi antara sistem dengan sistem eksternal dan pengguna. Dengan kata lain, secara grafis menggambarkan siapa yang akan menggunakan sistem dan dengan cara apa pengguna mengharapkan untuk berinteraksi dengan sistem.
Gambar 3.2 Use Case Diagram
3.3.2 Activity diagram
Activity diagram adalah diagram yang dapat digunakan untuk menggambarkan secara grafis aliran proses bisnis, langkah-langkah sebuah usecase atau logika behaviour (metode). Diagram ini berbeda dengan flowchart dimana diagram ini menyediakan sebuah mekanisme untuk menggambarkan kegiatan yang tampak secara paralel (Jeffery L. Whitten, at all, 2004).
Gambar 3.3 Diagram Aktivitas AHP
Gambar 3.3 adalah diagram aktivitas dengan menggunakan metode Analytic Hierarchy Process(AHP). Diagram ini serupa dengan flowchart dimana secara grafis diagram ini menggambarkan aliran sekuensial dari kegiatan. Kegiatan yang dilakukan pengguna setelah login yaitu memasukkan nilai alternatif dan kriteria mobil SUV, kemudian mengakses button algoritma AHP dan memperoleh output ranking mobil SUV terbaik.
Gambar 3.4 Diagram Aktivitas PROMETHEE
Gambar 3.4 adalah diagram aktivitas Preference Ranking Organization for Enrichment Evaluation (PROMETHEE), dimana kegiatan yang tampak yaitu dimulai dengan memasukkan alternatif dan nilai setiap kriteria alternatif serta dominasi kriteria dan tipe preferensi. Akses button PROMETHEE algoritma di pilih disalah satu menu kemudian menghitung nilai threshold dan didapat ranking mobil SUV terbaik.
3.3.3 Sequence Diagram
Sequence diagram adalah diagram UML yang memodelkan logika sebuah usecase dengan cara menggambarkan interaksi pesan diantara objek-objek dalam rangkaian waktu. Berikut merupakan sequence diagram sistem dengan metode yang digunakan.
Gambar 3.5 Sequence diagram AHP
Ranking Mobil SUV
Hitung Matriks Prioritas Global Normalisasi Sub Kriteria Berpasangan
Input Nilai Matriks Berpasangan sub Kriteria Hitung Matriks Prioritas Input Nilai Matriks Berpasangan set Pribadi Input Nilai Matriks Berpasangan Umum
Normalisasi Matriks Berpasangan Hitung Matriks Prioritas Normalisasi Matriks Berpasangan Input Nilai Matriks Berpasangan K.R
Nilai CR Matriks Kriteria Konsisten Nilai CR Matris Kriteria Tidak Konsisten
Input Nilai Matriks Berpasangan Input Nilai Matriks Berpasangan
User Matriks Kriteria Matriks Aternative
Hitung Matriks Prioritas0
Nilai CR Konsistend
Hitung Matriks Prioritas Hitung Matriks Prioritasp
Nilai CR Konsisten
Normalisasi Matriks Berpasangan
Nilai CR Konsisten0
Hitung Matriks Prioritas Nilai CR Konsisten
Matriks Prioritas Global
Gambar 3.6 Sequence diagram PROMETHEE
3.3.4 Diagram Alir (Flowchart)
Flowchart adalah bagan-bagan yang menpunyai arus yang menggambarkan langkah- langkah penyelesaian suatu masalah, flowchart merupakan cara penyajian dari suatu algoritma.(Al-Bahra, 2005)
Hitung Nilai H (d)
Input Nilai Preferensi Tiap Alternatif
Ranking Mobil SUV
Hitung Nilai Entering Flow Hitung Nilai Net Flow Rangkum Nilai H (d) dalam Tabel Input Nilai P dan Q
Bagi Kriteria Menjadi Sub Kriteria
User Promethee Tahap 1 Promethee Tahap 2
Tentukan Tipe Preferensi
Hitung Nilai Leaving Flow
Gambar 3.7 Flowchart Sistem dengan Metode AHP tidak
ya
ya
tidak Input Matriks Nilai
Kriteria berpasangan
Menyusun Hirarki
Membuat Matriks Perbandingan Berpasangan
Konsisten nilai matriks
Mulai
Selesai
Menghitung nilai eigen
Hitung vector eigen tiap matriks perbandingan berpasangan
Konsisten hirarki
<10%
Mobil SUV Seluruh tingkat hierarki
diproses
Gambar 3.7 menjelaskan tentang alur proses sistem dengan metode Analytic Hierarchy Process (AHP). Bagan diatas memperlihatkan urutan proses dalam sistem dengan menunjukkan alat media input, output serta jenis penyimpanan dalam proses pengolahan data.
Gambar 3.8 Flowchart Sistem dengan metode PROMETHEE
Gambar 3.8 menjelaskan tentang arus proses sistem dengan Preference Ranking Organization for Enrichment Evaluation (PROMETHEE). Dari gambar diatas dapat dilihat urutan proses dalam sistem mulai dari input hingga output dari sistem.
Mulai
Selesai
Menentukan Alternatif, Kriteria, Tipe Preferensi,
Nilai Parameter
Proses preferensi
Perhitungan Entering flow, Leaving flow, Net flow
Hasil perangkingan mobil jenis SUV
Perhitungan Berpasangan Berdasarkan Tipe Preferensi yang Digunakan
3.4. PerancanganAntaramuka(Interface)
Tahapan perancangan (design) memiliki tujuan untuk mendesign sistem baru yang dapat menyelesaikan masalah-masalah yang dari pemilihan akternatif sistem yang terbaik.Sistem ini dirancang dengan tampilan awal yang mengharuskan login terlebih dahulu.
3.4.1 Form Login
Halamaninimerupakantampilanawal yang akanditerimauserketikamembukasistem.
Padahalamanini, userdiarahkanuntukmelakukanlogin.
Gambar 3.9 TampilanRancangan Form Login
3.4.2 HalamanUtama
Padahalamanini, terdapatbeberapa menu untukmelakukaninput data danperhitunganuntukmasing-masingmetode.
Gambar 3.10 TampilanRancanganHalamanUtama username
password login
Header
Header
Input kriteria Input alternatif Metode AHP Metode PROMETHEE
Keterangan:
1. Input Kriteriaadalah menu yang akandigunakanuseruntukmenginputkriteria yang akandigunakan.
2. Input Alternatifadalah menu yang akandigunakanuseruntukmenginputalternatif yang akandigunakan.
3. Metode AHP adalah menu untukmelakukanperhitungandenganmetode AHP.
4. Metode PROMETHEE adalah menu untukmelakukanperhitungandenganmetode PROMETHEE.
3.4.3 Menu Input Kriteria
Padahalamanini, user akanmenginput data kriteriaapasaja yang akandigunakandalampemilihanmobil.
Gambar 3.11 Rancangan Menu Input Kriteria
Keterangan:
1. Namakriteriamerupakankolomdimanauser menginputkriteria yang akandigunakan.
2. Bobotkriteriamerupakankolomdimanausermenginputnilaibobotkriteria.
3. Tomboladdmerupakantomboluntukmenambahkankriteriadanbobotkriteriakedal amtabel.
4. Tombol clear digunakanuntukmenghapuscolomnamakriteriadanbobotkriteria.
3.4.4 Menu Input Alternatif
Halamaninidigunakanuseruntukmenginputalternatifapasaja yang akandigunakandalampemilihanmobil.
Header
Namakriteria
Bobotkriteria
add clear
Header
Gambar 3.12 Rancangan Menu Input Alternatif
Keterangan:
1. Namaalternatifmerupakankolomtempatusermenginputalternatif yang akandigunakan
2. Tomboladdmerupakantomboluntukmenambahkanalternatifkedalamtabel.
3. Tombolcleardigunakanuntukmenghapuscolomnamaalternatif.
Namaalternatif
add clear
BAB 4
IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN SISTEM
4.1 Implementasi
Tahap implementasi sistem (system implementation) merupakan tahapan untuk meletakkan sistem supaya siap untuk dioperasikan. Pada tahapan ini terdapat banyak aktivitas yang dilakukan, yaitu :
1. Pemrograman dan pengetasan program
Pemrograman merupakan kegiatan menulis kode program yang akan dieksekusi oleh komputer. Kode program harus berdasarkan dokumentasi yang disediakan oleh analis sistem hasil dari desain sistem. Sebelum diterapkan, program harus bebas dari kesalahan-kesalahan terlebih dahulu. Oleh sebab itu, program harus dites untuk menemukan kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi.
2. Instalasi perangkat keras dan lunak
Proses pemasangan perangkat keras dan instalasi perangkat lunak yang sudah ada 3. Pelatihan kepada pemakai
Manusia merupakan faktor yang diperlukan dalam sistem informasi. Jika ingin sukses dalam sistem informasi, maka personil-personil yang terlibat harus diberi peringatan dan pengrtahuan tentang sistem informasi dan posisi serta tugas mereka.
4. Pembuatan dokumentasi
Dokumentasi adalah melakukan pencatatan terhadap setiap langkah pekerjaan pembuatan sebuah program yang dilakukan dari awal sampai selesai.
4.1.1 Tampilan Menu Login
Tampilan menu Login adalah tampilan yang pertama kali diakses oleh user. Didalam halaman ini user harus login dengan username dan password yang sesuai. Jika salah satu kolom tidak sesuai atau tidak terisi, maka sistem akan menampilkan pesan untuk melakukan login ulang. Tampilan menu login dapat dilihat dari gambar 4.1 :
Gambar 4.1 Tampilan Form Login
4.1.2 Tampilan Halaman Utama
Pada halaman utama, terdapat menu yang akan digunakan user untuk memasukkan data dan melakukan proses perhitungan. Tampilan halaman utama dapat dilihat pada gambar 4.2 :
Gambar 4.2 Tampilan Halaman Utama 4.1.3 Tampilan Menu Input Kriteria
Menu input kriteria merupakan halaman user memasukkan nilai bobot pada kriteria.
Pada halaman ini, user menginput nama kriteria dan bobot kriteria pada kolom yang disediakan.
Gambar 4.3 Tampilan Menu Input Kriteria
4.1.4 Tampilan Menu Input Alternatif
Menu input alternatif merupakan halaman user memasukkan alternatif yang akan digunakan. Setelah kolom nama alternatif terisi, lalu klik tombol add.
Gambar 4.4 Tampilan Menu Input Alternatif
4.1.5 Tampilan Halaman Metode AHP
Setelah melakukan input data kriteria dan alternatif, user masuk ke halaman metode AHP untuk melakukan perangkingan dengan metode Analytical Hierarchy Process.
Berikut tampilan halaman metode AHP :
Gambar 4.5 Halaman Metode AHP
Setelah mengisi nilai kriteria lalu tekan tombol ‘Proses’ untukmendapatkan nilai setiap kriteria, seperti pada gambar 4.6 berikut.
Gambar 4.6 Hasil Proses Input Kriteria 4.1.6 Tampilan Halaman Metode PROMETHEE
Pada halaman metode PROMETHEE, user melakukan perangkingan dengan metode Preference Ranking Organization Method For Enrichment Evaluation. Berikut tampilan halaman metode PROMETHEE :
Gambar 4.7 Halaman Metode PROMETHEE
4.2 Pengujian
4.2.1 Pengujian Proses Pemecahan Masalah Dengan Metode Analytic Hierarchy Process (AHP)
1. Kriteria yang digunakan dalam penelitian ini adalah, tampilan eksterior, tenaga mesin, konsumsi BBM, layanan purna jual, dan fitur pendukung.
Tabel 4.1 Matriks Berpasangan Kriteria
Kriteria Eksterior Mesin BBM Purna Jual Fitur Eksterior 1
Mesin 1
BBM 1
Purna Jual 1
Fitur 1
Cara pengisian elemen-elemen matriks pada tabel di atas adalah sebagai berikut : a. Elemen a[i,j] = 1 dimana i = 1,2,3,...,n dan j = 1,2,3,...,n.
Dalam penelitian ini n = 5
b. Elemen matriks segitiga atas sebagai masukan. Untuk penentuannya mengacu pada tabel skala penilaian perbandingan pasangan
c. Elemen matriks segitiga bawah mempunyai rumus :
a[j,i] = 1
a[j,i]
dimana i ≠ j Keterangan :
a[i,j] = elemen matriks segitiga atas a[j,i] = elemen matriks segitiga bawah iadalah baris dan j adalah kolom.
2. Menghitung kriteria dan matriks kriteria berpasangan berdasarkan tabel 4.1 Tabel 4.2 Matriks Pembobotan Hierarki Kriteria
Kriteria Eksterior Mesin BBM Purna Jual Fitur
Eksterior 1 2 3 5 7
Mesin 1/2 1 2 3 5
BBM 1/3 1/2 1 4 5
Purna Jual 1/5 1/3 1/4 1 4
Fitur 1/7 1/5 1/5 1/4 1
3. Menghitung matriks faktor pembobotan hierarki kriteria disederhanakan Tabel 4.3 Matriks Faktor Pembobotan Hirarki Kriteria Disederhanakan Kriteria Eksterior Mesin BBM Purna Jual Fitur
Eksterior 1,000 2,000 3,000 5,000 7,000
Mesin 0,500 1,000 2,000 3,000 5,000
BBM 0,333 0,500 1,000 4,000 5,000
Purna Jual 0,200 0,333 0,250 1,000 4,000
Fitur 0,143 0,200 0,200 0,250 1,000
∑ 2,176 4,033 6,450 13,250 22,000
4.
Menghitung nilai normalisasi dengan rumus :HN=
NekJkm
……….
(3)Keterangan :
HN = Hasil Normalisasi
Nek = Nilai Elemen Kolom Kriteria Jkm =Jumlah Kolom Matriks
Tabel 4.4 Perhitungan Matriks Faktor Pembobotan Hirarki Kriteria Kriteria Eksterior Mesin BBM Purna Jual Fitur Eksterior 1,000/2,176 2,000/4,033 3,000/6,450 5,000/13,250 7,000/22,000
Mesin 0,500/2,176 1,000/4,033 2,000/6,450 3,000/13,250 5,000/22,000
BBM 0,333/2,176 0,500/4,033 1,000/6,450 4,000/13,250 5,000/22,000
Purna Jual 0,200/2,176 0,333/4,033 0,250/6,450 1,000/13,250 4,000/22,000
Fitur 0,143/2,176 0,200/4,033 0,200/6,450 0,250/13,250 1,000/22,000
Tabel 4.5 Matriks Faktor Pembobotan Hirarki Kriteria Dinormalisasikan Kriteria Eksterior Mesin BBM Purna Jual Fitur
Eksterior 0,460 0,496 0,465 0,377 0,318
Mesin 0,230 0,248 0,310 0,226 0,227
BBM 0,153 0,124 0,155 0,302 0,227
Purna Jual 0,092 0,083 0,039 0,075 0,182
Fitur 0,066 0,050 0,031 0,019 0,045
5.
Menghitung nilai prioritas tiap kriteria dengan rumus :P
r=
JbpJk
………. (4)
Keterangan :Pr = Prioritas
Jbp = Jumlah baris perkriteria Jk = Jumlah kriteria (n = 5)
PrEksterior = 0,460+0,496+0,465+0,377+0,318
5 = 0,423
Pr Mesin = 0,230+0,248+0,310+0,226+0,227
5 = 0,248
Pr BBM = 0,153+0,124+0,155+0,302+0,227
5 = 0,192
Pr Purna Jual = 0,092+0,083+0,039+0,075+0,182
5 = 0,094
PrFitur = 0,066+0,050+0,031+0,019+0,045
5 = 0,042
Tabel 4.6 Matriks Eigenvector (Prioritas) Kriteria
Kriteria Eksterior Mesin BBM Purna Jual Fitur
Eksterior 0,460 0,496 0,465 0,377 0,318
Mesin 0,230 0,248 0,310 0,226 0,227
BBM 0,153 0,124 0,155 0,302 0,227
Purna Jual 0,092 0,083 0,039 0,075 0,182
Fitur 0,066 0,050 0,031 0,019 0,045
6. Menghitung Eigen Value dengan rumus :
Eval = �Jkp1 x Ev1�+ �Jkp2 x Ev2�+…+�Jkpn x Evn� ………(5) Keterangan :
Eval = Eigen Value(λmax) Jkp= Jumlah kolom per kriteria
Eval= 2,176x0,423)+(4,033x0,248)+(6,450x0,192)+(13,250x0,094) +(22x0,042)
= 5,336
7. Menghitung nilai Consistency Indeks (CI) dengan persamaan (6) CI= 5,336−5(5−1) = 0,084
8. Menghitung nilai Consistency Ratio (CR) dengan persamaan (7) CR = 0,084
1,12 = 0,075 (CR< 0,1 KONSISTEN)
Jika CR < 0,1, maka nilai perbandingan berpasangan pada matriks kriteria yang diberikan konsisten. Jika CR ≥ 0,1, maka nilai perbandingan berpasangan pada matriks kriteria yang diberikan tidak konsisten. Maka pengisian nilai-nilai pada matriks berpasangan pada unsur kriteria harus diulang.
Setelah mendapatkan nilai konsisten untuk kriteria, maka selanjutkan menghitung nilai matriks perbandingan berpasangan alternatif untuk setiap kriteria.
Alternatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rush, Vitara, CRV, HRV, Sportage, Tucson, X-Trail, Trax, Ecosport dan CX-5.
Tabel 4.7 Matriks Berpasangan Alternatif
Alternatif Rush Vitara CRV HRV Sportage Tucson X-Trail Trax Ecosport CX-5 Rush 1
Vitara 1
CRV 1
HRV 1
Sportage 1
Tuscson 1
X-Trail 1
Trax 1
Ecosport 1
CX-5 1
Alternatif Untuk Kriteria Eksterior
1. Menghitung matriks alternatif untuk kriteria eksterior berdasarkan tabel 4.2 Tabel 4.8 Matriks Alternatif Untuk Kriteria Eksterior
Eksterior Rush Vitara CRV HRV Sportage Tucson X-Trail Trax Ecosport CX-5
Rush 1 1/5 1/3 3 3 1/3 3 1/3 1/3 1/5
Vitara 5 1 3 5 7 3 7 3 3 1/3
CRV 3 1/3 1 3 3 1/3 3 1/3 1/3 1/5
HRV 1/3 1/5 1/3 1 3 1/5 3 1/3 1/3 1/7
Sportage 1/3 1/7 1/3 1/3 1 1/5 3 1/3 1/5 1/7
Tuscson 3 1/3 3 5 5 1 7 3 3 1/3
X-Trail 1/3 1/7 1/3 1/3 1/3 7 1 1/5 1/5 1/9
Trax 3 1/3 3 3 3 1/3 5 1 1/3 1/3
Ecosport 3 1/3 3 3 5 1/3 5 3 1 1/3
CX-5 5 3 5 7 7 3 9 3 3 1
2. Menghitung matriks alternatif untuk kriteria eksterior disederhanakan
Tabel 4.9 Matriks Alternatif Untuk Kriteria Eksterior Disederhanakan
Eksterior Rush Vitara CRV HRV Sportage Tucson X-Trail Trax Ecosport CX-5 Rush 1,000 0,200 0,333 3,000 3,000 0,333 3,000 0,333 0,333 0,200 Vitara 5,000 1,000 3,000 5,000 7,000 3,000 7,000 3,000 3,000 0,333