• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Hakim dalam memutus perkara hanya boleh mengambil keputusan berdasarkan alat-alat bukti yang ditentukan oleh Undang-Undang dan berdasarkan keyakinan Hakim. Hakim dalam memutus seseorang bersalah berdasar keyakinannya, keyakinan yang didasarkan kepada dasar-dasar pembuktian disertai dengan suatu kesimpulan (conclusive) yang berlandaskan kepada peraturan- peraturan pembuktian tertentu (Andi Hamzah, 2012: 253). Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) merupakan hukum pidana formil yang ditujukan untuk menggerakan dan mempertahankan hukum pidana materiil. Hukum pidana formil demikian, yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana yang menjadi acuan dalam proses beracara pidana agar bekerja dengan baik dan menghormati hak asasi manusia (Yesmil Anwar dan Adang, 2009: 64). Untuk menjatuhkan pidana kepada seorang terdakwa dapat dilakukan Hakim apabila kesalahan terdakwa telah dapat dibuktikan dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah dan keyakinan Hakim. Berdasarkan ketentuan Pasal 183 KUHAP yaitu Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali dengan sekurang-kurangnya 2 (dua) alat bukti yang sah Hakim memperoleh keyakinan. Sistem pembuktian juga memuat mengenai alat bukti yang boleh digunakan, penguraian alat bukti dan mengenai bagaimana cara menggunakan alat bukti yang digunakan (Fachrul Rozi, 2018: 24).

Sebagaimana yang diuraikan terdahulu, Pasal 184 Ayat (1) KUHAP telah menentukan secara rinci atau limitatif alat bukti yang sah menurut Undang- Undang. Menurut M Yahya Harahap, yang dinilai sebagai alat bukti dan dapat dibenarkan mempunyai kekuatan pembuktian hanya terbatas kepada alat-alat bukti itu saja, pembuktian dengan alat bukti di luar jenis alat bukti yang disebutkan pada Pasal 184 Ayat (1) tidak mempunyai nilai serta tidak mempunyai kekuatan pembuktian yang mengikat (M Yahya Harahap, 2012: 285).

Berdasarkan Pasal 184 Ayat (1) KUHAP, bahwa yang termasuk alat bukti yang

(2)

sah yaitu keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa.

Sesuai dengan ketentuan Pasal 184 Ayat (1), Undang-Undang menentukan lima jenis alat bukti yang sah. Di luar ini, tidak dapat dipergunakan sebagai alat bukti yang sah. Jika ketentuan Pasal 183 KUHAP dihubungkan dengan jenis alat bukti itu terdakwa baru dapat dijatuhi hukuman pidana, apabila kesalahannya dapat dibuktikan paling sedikit dengan dua jenis alat bukti yang disebutkan dalam Pasal 184 Ayat (1) dapat meyakinkan Hakim bahwa terdakwa pelakunya.

Sehingga pembuktian yang dapat dinilai cukup memadai untuk membuktikan kesalahan terdakwa sekurang-kurangnya dua alat bukti. Menurut M Yahya Harahap, penjumlahan dua alat bukti itu berupa keterangan dua orang saksi yang saling bersesuaian dan saling menguatkan, maupun penggabungan antara keterangan seorang saksi dengan keterangan seorang terdakwa, asal keterangan saksi dengan keterangan terdakwa jelas terdapat saling persesuaian (M Yahya Harahap, 2012:284). Namun tidak semua keterangan saksi mempunyai nilai sebagai alat bukti. Keterangan saksi yang mempunyai nilai ialah keterangan yang sesuai dengan apa yang dijelaskan Pasal 1 angka 27 KUHAP, yaitu yang saksi lihat sendiri; saksi dengar sendiri; dan saksi alami sendiri dan serta menyebut alasan dari pengetahuan itu. Namun ketentuan ini tidak berlaku mutlak, sejak dikeluarkannya Keputusan Mahkamah Konstitusi Nomor 65/PUU-VIII/2010 Pengujian Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana yang memperluas pengertian keterangan saksi “orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara yang tidak selalu ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri”.

Keterangan saksi adalah alat bukti yang disebut pertama dalam Pasal 184 KUHAP. Aturan-aturan khusus tentang saksi hanya diatur di dalam satu pasal saja yaitu Pasal 185 KUHAP, yang antara lain menjelaskna apa yang dimaksud dengan keterangan saksi, bagaimana tentang kekuatan pembuktiannya (bewijskracht) dan lain-lain (Djoko Prakoso, 1988: 49). Menurut Andi Hamzah, saksi-saksi yang diajukan biasanya terbagi tiga, yaitu yang memberatkan terdakwa (a charge)

(3)

biasanya diajukan oleh penuntut umum, meringankan terdakwa (a de charge) biasanya diajukan terdakwa atau penasihat hukumnya, dan ada pula saksi yang tidak memberatkan dan tidak meringankan mestinya saksi golongan ketiga ini ialah saksi ahli (Andi Hamzah, 2012: 64).

Kewajiban ketua sidang untuk mendengar keterangan saksi tidak terbatas terhadap saksi-saksi yang telah tercantum dalam pelimpahan berkas perkara yang telah diperiksa oleh penyidik. Pemeriksaan dan pendengaran keterangan saksi dalam persidangan meliputi seluruh saksi yang tercantum dalam berkas pelimpahan perkara. Oleh karena itu, setiap saksi yang telah diperiksa oleh penyidik dan saksi itu tercantum dalam pelimpahan berkas perkara wajib didengar keterangannya dimuka persidangan tanpa mempersoalkan apakah saksi tersebut memberatkan (a charge) atau meringankan terdakwa (a de charge), hal tersebut telah sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 160 Ayat (1) huruf c KUHAP. Ketua sidang tidak boleh menolak saksi-saksi tambahan yang diajukan penuntut umum, terdakwa, atau penasihat hukum tanpa mempersoalkan apakah saksi tambahan yang diajukan bersifat meringankan atau memberatkan.

Pengaruh saksi a de charge dalam persidangan hanya dapat dinilai oleh Hakim sendiri. Saksi a de charge adalah benar dengan digabungkan dengan keterangan saksi-saksi lainnya dan juga digabungkan dengan alat bukti lainnya (O.C Kaligis, 2006:249). Keterangan saksi a de charge yang apabila dihubungkan dengan keterangan saksi lainnya dan alat-alat bukti lainnya saling berhubungan dan menguatkan maka beban pembuktian keterangan saksi a de charge adalah sah dan dapat mempengaruhi pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan putusan kepada terdakwa. Pada dasarnya, Hakim diberikan kebebasan dalam memutuskan segala putusannya tanpa adanya interfensi atau campur tangan pihak lain. Seorang Hakim yang sangat bebas, tidak bersifat memihak dalam menjalankan tugas memutus suatu perkara di peradilan (Within the exercise of the judical function) (Oemar Seno Adji, 1980: 523).

Pengaruh saksi a de charge adalah Hakim menerima keterangan dari saksi dan menjadi bahan pertimbangan Hakim dalam memutus perkara. Namun, belum ada Undang-Undang yang lebih jelas mengenai saksi yang meringankan atau a de

(4)

charge, sehingga dalam pelaksaannya agar tidak terjadi permasalahan mengenai diajukan saksi yang meringankan atau saksi a de charge oleh terdakwa ataupun penasihat hukum terdakwa sebagai upaya melemahkan dakwaan Penuntut Umum, sehingga saksi a de charge dihadirkan dalam persidangan adalah untuk memberikan keterangan yang menguntungkan atau meringankan terdakwa sebagaimana diatur dalam ketentuan dalam Pasal 160 Ayat (1) huruf c KUHAP yang berbunyi:

“Dalam hal saksi baik yang menguntungkan maupun yang memberatkan terdakwa yang tercantum dalam surat pelimpahan perkara atau yang diminta oleh terdakwa atau penasihat hukum atau penuntut umum selama berlangsungnya sidang atau sebelum dijatuhkannya putusan, Hakim ketua sidang wajib mendengar keterangan saksi tersebut”.

Oleh karena itu, terdakwa atau penasihat hukum terdakwa berhak menghadirkan saksi a de charge, untuk mengungkapkan fakta yang bersifat membalik atau melemahkan dakwaan Penuntut Umum atau setidaknya meringankan terdakwa, untuk menegakan keadilan terdakwa berhak membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah, antara lain menghadirkan saksi a de charge, oleh karena itu harus dibuktikan kekuatan pembuktian keterangan saksi a de charge.

Mencermati kasus pada Putusan Nomor 310/Pid.Sus/2018/PN Png, para terdakwa menghadirkan saksi yang meringankan (a de charge) dalam perkara tindak pidana persetubuhan terhadap anak. Keterangan saksi a de charge tersebut menerangkan bahwa korban merupakan anak yang nakal sering keluar malam dan suka minum-minuman keras, dan saksi a de charge merupakan ketua RT di tempat tinggal korban. Keterangan saksi a de charge dimasukkan dalam pertimbangan Hakim karena ada persesuaian antara keterangan terdakwa dan keterangan saksi a de charge, sehingga Hakim berpendapat bahwa tuntutan penuntut umum terlalu berat dan majelis Hakim akan menjatuhkan pidana di bawah dari tuntutan penuntut umum. Keterangan saksi a de charge tersebut mempengaruhi hukuman penjara yang dijatuhkan terhadap terdakwa. Sehingga dalam Putusan Nomor 310/Pid.Sus/2018/PN Png, terdakwa dijatuhi hukuman penjara selama 5 (lima) tahun yang sebelumnya Penuntut Umum menuntut 6

(5)

(enam) tahun penjara. Putusan pemidanaan 5 (lima) tahun tersebut merupakan hukuman minimal khusus berdasarkan ketentuan Pasal 81 Ayat jo Pasal 76D Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji mengenai keabsahan alat bukti keterangan saksi a de charge yang digunakan Hakim untuk memutus perkara tindak pidana persetubuhan terhadap anak.

Berdasarkan hal tersebut penulis bermaksud untuk mengkaji dengan judul,

“Pertimbangan Hakim Terhadap Keterangan Saksi A De Charge dalam Memutus Perkara Tindak Pidana Persetubuhan Terhadap Anak (Studi Putusan Nomor 310/Pid.Sus/2018/PN Png)”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka penulis merumuskan pokok masalah yang akan dikaji sebagai berikut:

1. Apakah keterangan saksi a de charge dapat digunakan sebagai alat bukti yang sah dalam pembuktian tindak pidana persetubuhan terhadap anak dan telah sesuai dengan Pasal 184 Ayat (1) jo. Pasal 160 Ayat (1) huruf c KUHAP?

2. Apakah pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan putusan pidana terhadap terdakwa dengan mempertimbangkan keterangan saksi a de charge telah sesuai Pasal 183 jo. Pasal 193 Ayat (l) KUHAP?

C. Tujuan Penelitian

Setiap penelitian yang dilakukan pada dasarnya memilki sebuah tujuan yang jelas yang hendak dicapai. Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, penulis menguraikan 2 (dua) macam tujuan, yaitu tujuan objektif dan tujuan subjektif. Tujuan objektif berasal dari tujuan penelitian yang akan dikaji sedangkan tujuan subjektif merupakan tujuan yang berasal dari penulis. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk menentukan prinsip-prinsip hukum, menentukan aturan-aturan hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang sedang dihadapi (Peter Mahmud Marzuki, 2014:35). Tujuan dari penelitian

(6)

dan penulisan ini sebagai berikut:

1. Tujuan Objektif

a. Mengetahui kesesuaian keterangan saksi a de charge dapat digunakan sebagai alat bukti yang sah dalam pembuktian tindak pidana persetubuhan terhadap anak telah sesuai dengan Pasal 184 Ayat (1) jo. Pasal 160 Ayat (1) huruf c KUHAP.

b. Mengetahui kesesuaian pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan putusan pidana terhadap terdakwa mempertimbangkan keterangan saksi a de charge telah sesuai dengan Pasal 183 jo. Pasal 193 Ayat (l) KUHAP.

2. Tujuan Subjektif

a. Menambah wawasan, pengetahuan, memperdalam serta meningkatkan kemampuan penulis dibidang Ilmu Hukum khususnya Hukum Acara Pidana dalam hal pertimbangan Hakim terhadap keterangan saksi a de charge dalam memutus perkara tindak pidana persetubuhan terhadap anak.

b. Menambah kemampuan dalam menerapkan pemikiran, teori, konsep, pengetahuan dan wawasan dalam bidang Hukum Acara Pidana yang diperoleh selama masa perkuliahan guna menganalisis kasus di bidang Hukum Acara Pidana sehingga memberikan manfaat bagi diri maupun orang lain.

c. Memenuhi persyaratan akademik guna memperoleh gelar sarjana di bidang Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini diharapkan untuk memberi manfaat bagi ilmu pengetahuan dan pihak-pihak tertentu, khususnya bagi penulis, maupun bagi pembaca serta pihak-pihak lain. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoretis maupun manfaat praktis. Adapun manfaat yang diperoleh dari penulisan hukum ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Teoretis

a. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat serta kontribusi bagi

(7)

pengembangan ilmu pengetahuan di bidang Ilmu Hukum khususnya bidang Hukum Acara Pidana.

b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya bahan pengajaran, literatur dan referensi serta sebagai saran untuk memecahkan suatu permasalahan.

c. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan referensi, tambahan informasi dan acuan dalam penulisan hukum untuk tahap berikutnya.

2. Manfaat Praktis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan jawaban atas permasalahan yang sedang diteliti oleh peneliti secara benar dan bukan hanya penalaran saja sehingga sesuai dengan tujuan hukum, yaitu kepastian hukum mengenai pertimbangan Hakim terhadap keterangan saksi a de charge dalam memutus perkara tindak pidana persetubuhan terhadap anak.

b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengembangkan penalaran, membentuk pola daya pikir yang sistematis, sekaligus untuk mengetahui kemampuan penulis dalam menerapkan Ilmu Hukum yang diperoleh di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret.

c. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih pengetahuan bagi pihak-pihak yang melakukan penelitian sejenis selanjutnya.

E. Metode Penelitian

Penelitian hukum adalah suatu kegiatan know-how dalam ilmu hukum, bukan sekedar sekedar know-about. Sebagai kegiatan know-how penelitian hukum dilakukan untuk memecahkan isu hukum yang dihadapi. Dibutuhkan kemampuan untuk mengidentifikasi masalah hukum, melakukan penalaran hukum, menganalisis masalah yang dihadapi, dan kemudian memberikan pemecahan atas masalah tersebut (Peter Mahmud Marzuki, 2014: 60).

Penelitian hukum dilakukan dengan tujuan yakni memberikan perskripsi mengenai apa yang seyogianya dilakukan, bukan membuktikan kebenaran hipotesis. Perskripsi itu harus timbul dari hasil yang telah dilakukan. Mengingat

(8)

ilmu hukum merupakan ilmu terapan, penelitian hukum dalam kerangka kegiatan akademis sekalipun harus melahirkan perskripsi yang dapat diterapkan. Hanya saja, baik penelitian untuk kegiatan akademis maupun kegiatan praktisi harus dibingkai oleh moral. Oleh karena itu perskriptif yang diberikan harus koheren dengan gagasan dasar hukum yang berpangkal dari moral (Peter Mahmud Marzuki, 2014: 69-70). Metode penelitian yang digunakan penulis dalam penelitian hukum ini adalah sebagai berikut:

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian hukum ini adalah penelitian hukum normatif karena kembali pada fungsi penelitian menurut Peter Mahmud Marzuki yaitu untuk menemukan kebenaran koherensi, yaitu adalah aturan hukum sesuai dengan norma hukum dan adalah norma yang berupa perintah atau larangan itu sesuai dengan prinsip hukum, serta apakah tindakan seseorang telah sesuai dengan norma hukum atau prinsip hukum yang ada (Peter Mahmud Marzuki, 2014: 47).

Oleh karena yang dicari pada penelitian ini adalah mengenai kesesuaian antara sesuatu yang hendak diteliti dengan nilai atau ketepatan aturan atau prinsip yang hendak dijadikan referensi dan bukan bertujuan untuk mencari fakta empiris. Maka jenis penelitian hukum yang digunakan adalah penelitian hukum normatif.

2. Sifat Penelitian

Sifat penelitian hukum ini bersifat preskriptif dan terapan. Suatu hal yang membedakan ilmu hukum dan ilmu-ilmu sosial adalah ilmu hukum bukan termasuk ke dalam kategori ilmu perilaku. Ilmu hukum ini bukan merupakan ilmu deskriptif tetapi preskriptif. Objek ilmu hukum adalah koherensi antara norma hukum dan prinsip hukum, antara aturan hukum dan norma hukum, serta koherensi antara tingkah laku (act) dan bukan perilaku atau behavior individu dengan norma hukum. Dapat dikatakan bahwa titik anjak dalam mempelajari hukum adalah memahami kondisi intrinsik aturan-aturan hukum (Peter Mahmud Marzuki, 2014: 41-42).

` Suatu ilmu terapan memang hanya dapat diterapkan oleh ahlinya. Sama

(9)

halnya, yang dapat menyelesaikan masalah hukum adalah ahli hukum melalui kaidah-kaidah keilmuan hukum, ahli hukum tidak kekurangan argumentasi dalam mendukung pendapatnya, tetapi argumentasi itu tidak boleh menyimpangi sesuatu yang sudah standar dalam keilmuan hukum. Penelitian hukum harus melahirkan preskripsi yang dapat diterapkan dan harus koheren dengan gagasan dasar hukum yang berpangkal dari moral (Peter Mahmud Marzuki, 2014: 67-70).

3. Pendekatan Penelitian

Terdapat berbagai macam pendekatan di dalam penelitian hukum yang dapat digunakan untuk mendapatkan informasi dari berbagai aspek mengenai isu hukum yang sedang dikaji, melalui pendekatan tersebut akan mendapatkan informasi dari berbagai aspek mengenai isu yang sedang dicoba untuk dicari jawabannya.

Pendekatan penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus (case study). Menurut Peter Mahmud Marzuki dalam studi kasus (case study) perlu memahami ratio decidendi yaitu alasan-alasan hukum yang digunakan oleh Hakim untuk sampai kepada putusannya serta dilakukan dengan cara melakukan telaah dengan kasus yang berkaitan dengan isu yang dihadapi yang telah menjadi putusan Pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (Peter Mahmud Marzuki, 2014: 134). Penulis menggunakan case study yang dilakukan dengan cara menelaah terhadap kasus tindak pidana persetubuhan terhadap anak yaitu kasus dalam Putusan Nomor 310/Pid.Sus/2018/PN Png.

4. Jenis dan Sumber Bahan Hukum

Penelitian hukum, dikenal adanya sumber bahan hukum. Untuk memecahkan isu hukum dan sekaligus memberikan preskripsi mengenai apa yang seyogianya, diperlukan sumber-sumber penelitian. Sumber-sumber penelitian hukum dapat dibedakan menjadi sumber-sumber penelitian yang berupa bahan-bahan hukum primer dan bahan-bahan hukum sekunder, yaitu:

a. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat autoritatif,

(10)

artinya mempunyai otoritas. Bahan-bahan hukum primer terdiri dari Perundang-undangan, catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan Perundang-undangan dan putusan-putusan Hakim (Peter Mahmud Marzuki, 2014:181). Bahan hukum primer yang digunakan penulis dalam penelitian ini antara lain adalah sebagai berikut:

1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Hukum Pidana Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)

2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP)

3) Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang- Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

b. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder berupa semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi. Publikasi tentang hukum meliputi buku-buku teks, kamus-kamus hukum, jurnal-jurnal hukum dan komentar- komentar atas putusan pengadilan (Peter Mahmud Marzuki, 2014: 181).

Bahan hukum primer yang digunakan penulis dalam penelitian ini antara lain adalah sebagai berikut:

1) Makalah-makalah dalam hasil karya ilmiah para sarjana;

2) Kamus-kamus hukum;

3) Jurnal-jurnal hukum; dan

4) Bahan dari media internet dan sumber lainnya untuk mendukung penelitian ini.

5. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

Begitu isu hukum telah diterapkan, penelitian melakukan penelusuran untuk mencari bahan-bahan hukum yang relevan terhadap isu yang dihadapi (Peter Mahmud Marzuki, 2014: 237). Teknik pengumpulan bahan hukum merupakan tata cara untuk memperoleh bahan hukum dalam penelitian.

Jenis penelitian yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif, sehingga teknik pengumpulan yang digunakan adalah studi pustaka. Studi pustaka dilakukan dengan cara mengumpulkan

(11)

bahan hukum melalui membaca, mengkaji, membuat catatan dari buku-buku, peraturan perundang-undangan, dokumen dan tulisan-tulisan yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti kemudian dianlisis untuk mendapatkan jawaban atas permasalahan atau isu hukum yang hendak diteliti.

6. Teknik Analisis Bahan Hukum

Teknik analisa yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah metode silogisme dan interprestasi dengan menggunakan logika deduktif.

Logika deduktif atau sering kali disebut sebagai cara berpikir analitik mempunyai pengertian cara berpikir yang bertolak dari penegertian bahwa sesuatu yang berlaku bagi keseluruhan peristiwa atau kelompok atau jenis, berlaku juga bagi tiap-tiap unsur di dalam peristiwa kelompok atau jenis tersebut. Logika deduktif memerlukan silogisme, yaitu sebuah argumentasi yang terdiri dari tiga buah proposisi berupa pernyataan yang membenarkan atau menolak suatu gejala.

Menurut Philipus M. Hadjon sebagaimana dikutip oleh Peter Mahmud Marzuki metode deduksi sebagaimana silogisme yang diajarkan oleh Aristoteles, penggunaan metode dekduktif berpangkal dari pengajuan premis minor (pernyataan bersifat umum). Kemudian diajukan premis minor (bersifat khusus). Dari kedua premis tersebut kemudian ditarik suatu kesimpulan atau conclusion. Di dalam logika silogistik untuk penalaran hukum yang bersifat premis mayor adalah aturan hukum, sedangkan premis minornya adalah fakta hukum (Peter Mahmud Marzuki, 2014: 89-90). Jadi dapat disimpulkan bahwa logika deduktif atau pengelolaan bahan hukum dengan cara deduktif yaitu menjelaskan suatu hal yang bersifat umum kemudian menariknya menjadi kesimpulan yang lebih khusus.

Premis Mayor dalam penelitian ini adalah Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana dan Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, premis minornya adalah fakta hukum dalam Putusan Nomor 310/Pid.Sus/2018/PN Png. Kemudian dari premis mayor dan premis minor

(12)

saling dihubungkan dapat ditarik konklusi bahwa terhadap keterangan saksi a de charge dipertimbangkan Hakim dan para terdakwa dijatuhi pidana penjara minimal khusus dari pasal yang didakwakan Penuntut Umum dan lebih ringan dari tuntutan Penuntut Umum. Keyakinan Hakim tersebut mempertimbangkan adanya alat bukti keterangan saksi (korban), alat bukti surat (visum et repertum, fotocopy ijazah, fotocopy akta kelahiran) dan adanya persesuaian antara keterangan saksi a de charge dengan keterangan para terdakwa. Hakim telah memperoleh keyakinan bahwa para terdakwa bersalah sesuai dakwaan Primair Penuntut Umum memenuhi unsur-unsur Pasal 81 Ayat (1) jo. Pasal 76 huruf d Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo. Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. Berdasarkan fakta-fakta yang telah terungkap di persidangan, maka Majelis Hakim menyatakan terdakwa I Dimas Hasbi als Cewok Bin Untung, terdakwa II Zainal Arifin Bin Sanuri, terdakwa III Agam Hadi Saputro Bin Suryanto telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana melakukan kekerasan terhadap anak untuk melakukan persetubuhan dengannya. Menjatuhkan pidana kepada para terdakwa pidana penjara masing-masing selama 5 (lima) Tahun dan denda masing-masing sebesar Rp. 5.000.000.- (lima juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar maka diganti dengan pidana kurungan selama 3 (tiga) bulan. Keterangan saksi a de charge yang diperoleh dalam pemeriksaan telah memenuhi syarat 184 (1) KUHAP, sehingga dari keterangan saksi a de charge mempunyai kekuatan pumbuktian karena keterangan- keterangan saksi- saksi a de charge merupakan salah satu alat bukti yang sah, yaitu saksi-saksi telah memberikan keterangan yang di bawah sumpah atau telah disumpah sebelum memberikan keterangan. Kemudian apa yang saksi- saksi nyatakan secara lisan langsung di persidangan merupakan keterangan mengenai apa yang saksi dengar sendiri dan lihat sendiri dengan menyebutkan alasan pengetahuannya terkait peristiwa pidana yang didakwakan kepada terdakwa.

(13)

F. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan hukum diperlukan untuk memberikan gambaran, penjabaran maupu pembahasan secara menyeluruh mengenai pembahasan yang akan dirumuskan sesuai kaidah atau aturan baku penulisan hukum, maka penulis menyiapkan suatu sistematika penulisan hukum, sistematika penulisan hukum terbagi dalam 4 (empat) bab yang tiap-tiap bab terbagi dalam sub-sub bagian yang dimaksudkan untuk memudahkan pemahaman terhadap keseluruhan hasil pemelitian ini. Adapun sistematika penulisan hukum ini adalah sebagai berikut

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini penulis menguraikan mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan penulisan hukum ini.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini penulis menguraikan tentang landasan teori berdasarkan literatur-literatur yang berkaitan dengan penulisan hukum ini.

Kerangka teori tersebut meliputi pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan putusan, pembuktian menggunakan alat-alat bukti yang sah, pengaturan persyaratan saksi dalam persidangan, tinjauan tentang saksi a de charge, tindak pidana persetubuhan terhadap anak. Diakhiri dengan kerangka pemikiran yang menggambarkan alur pemikiran dalam penelitian ini.

BAB III : HASIL PENELITIAN

Bab ini penulis menguraikan mengenai pembahasan dan hasil yang diperoleh dari proses meneliti. Berdasarkan rumusan masalah yang diteliti, terdapat hal pokok permasalahan yang dibahas dalam bab ini, yaitu kesesuaian keterangan saksi a de charge sebagai alat bukti yang sah dalam pembuktian tindak pidana persetubuhan terhadap anak dengan Pasal 184 ayat (1) jo.

Pasal 160 Ayat (1) huruf c KUHAP dan kesesuaian

(14)

pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan putusan pidana terhadap terdakwa berdasarkan keterangan saksi a de charge dengan Pasal 183 jo. Pasal 193 Ayat (1) KUHAP.

BAB IV : PENUTUP

Bab ini menguraikan simpulan secara singkat yang diperoleh dari keseluruhan hasil pembahasan dan jawaban atas rumusan masalah yang diteliti serta saran-saran yang dapat penulis kemukakan kepada para pihak yang terkait dengan bahasan penulisan hukum ini.

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(15)

15

Referensi

Dokumen terkait

Berangkat dari masalah yang ditemukan, penulis mengadakan penelitian dengan metode studi pustaka, observasi, perancangan, instalasi, uji coba serta implementasi untuk menemukan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu pemaparan cuaca ( weathering ) terhadap karakteristik komposit HDPE–sampah organik berupa kekuatan bending dan

Fungsi speaker ini adalah mengubah gelombang listrik menjadi getaran suara.proses pengubahan gelombag listrik/electromagnet menjadi gelombang suara terjadi karna

underwear rules ini memiliki aturan sederhana dimana anak tidak boleh disentuh oleh orang lain pada bagian tubuhnya yang ditutupi pakaian dalam (underwear ) anak dan anak

Pada tahap pertama ini kajian difokuskan pada kajian yang sifatnya linguistis antropologis untuk mengetahui : bentuk teks atau naskah yang memuat bentuk

Dalam kaitannya dengan penelitian ini maka respons yang dimaksudkan di sini adalah tanggapan yang disertai aktivitas nyata para ulama dayah Darussa‟adah dalam

Adapun tujuan kami menyususn makalah ini, di samping untuk memenuhi Adapun tujuan kami menyususn makalah ini, di samping untuk memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah Analisis